Anda di halaman 1dari 6

Akibatnya Pada Pasar Tradisional

Banyaknya pembangunan mall perlu diimbangi dengan perlindungan pemerintah kepada para
pedagang pasar tradisional. Sebab, pedagang kecil semakin terancam oleh mall, karena mereka
(mall) menawarkan barang kebutuhan dengan cara ritel dengan harga murah juga lengkap
dengan banyak varian. Selain itu, suasana nyaman dan bersih tentu saja menggeser minat orang
terhadap pasar tradisional yang becek (wet market) dan pengap. Oleh karena itu, perlu penguatan
dan perlindungan terhadap aktivitas niaga perdagangan kecil pasar tradisional
Pengusaha-pengusaha kecil termasuk home industry harus berpontang-panting bersaing dengan
produk luar negeri yang banyak dijajakan di mall. Lama kelamaan, usaha ini akan kembang
kempis dan akan hancur. Rakyat kecil (PKL, pedagang asongan, pengamen, dll) akan mulai
tersingkirkan.
Selain permasalahan mata pencaharian tersebut, dari segi budaya, dengan adanya pengembangan
mall dan tergusurnya pasar tradisional, maka terkikisnya budaya lokal yaitu hubungan sosial
berupa relasi antar manusia ; antar penjual dan pembeli. Hubungan sperti ini tidak terjadi di mall,
yang terjadi hanyalah hubungan yang sifatnya ekonomis dan komersil sehingga melahirkan relasi
manusia yang anonym.
Bertambahnya titik Kemacetan
Sudah menjadi slogan bahwa kota Bogor adalah kota termacet dan kota sejuta angkot, tentunya
kaitannya dengan pembangunan mall, maka tempat-tempat pemberhentian angkot akan semakin
bertambah.
Kemacetan jangan selalu diidentikkan dengan ketidakdisiplinan sopir angkot, sebenarnya titiktitik pemberhentian yang terlalu banyak tanpa dipertimbangkan jaraknya dengan adanya
pembangunan mall.
Pembenahan masalah transportasi sangat berkaitan erat dengan kenyamanan masyarakat, baik
para pengunjung mall maupun pengguna jalan secara umum.

Berkurangnya Fasilitas Publik.

Aapabila pembangunan itu dilakukan pada fasilitas yang biasanya dipakai untuk publik, maka
tentunya akan mengurangi keberadaan fasilitas publik yang sudah bertahun-rahun dipergunakan.
Dan ini jangan sampai hanya didasarkan pada permasalahan bisnis semata.
Banyak mall yang didirikan di lahan hijau ataupun fasilitas publik yang hijau bahkan yang
seharusnya diperuntukkan sebagai wilayah atau saran pendidikan dirubah menjadi mall.
Sehingga melahirkan dampak ekologis dan sosiologis bahkan tidak ramah lingkungan terlebih
lagi seharusnya ada konversi lahan hijau untuk mengganti lahan yang digunakan sebagai
bangunan mall.

Perbandingan Dengan Daya Beli Masyarakat.


Kalau pembangunan mall dan pusat-pusat perbelanjaan dibangun hanya atas dasar bisnis dan
kepentingan ekonomi sesaat tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat setempat, tentunya
ini sudah secara tidak langsung meminggirkan masyarakat setempat Karen tidak mampu
membeli barang-barang yang dijajakan oleh mall yang notabene harganya tinggi dan tidak
terjangkau oleh masayarakat setempat.

Kebijakan dan Kontrol Yang Tidak Ketat.


Dari permasalahan di atas, sebenarnya ada titik sentral yang memang secara langsung
bertanggungjawab atas permasalahan tersebut yaitu pemerintah Daerah, karena pemkot memiliki
peran dan kewenangan dalam memberikan perizinan, oleh karena itu pemkot harus melakukan
suatu tindakan yang bisa menimbulkan sinergi untuk perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat. Jangan sampai menjamurnya mall-mall hanya sekedar menjadi monument tanpa
sejarah. bahkan monument yang bersejarah pun tak diurus dan terbengkalai.
Dalam pembangunan kota harus dibuat suatu tata aturan yang paten untuk jangka waktu lama
dan hal tersebut harus benar-benar ditaati oleh para pemegang kebijakan di pemkot, jangan
hanya karena tawaran finansial yang kesejahteraannya belum tentu dinikmati oleh masyarakat

setempat dengan serta merta diambil sebagai sebuah proyek pembangunan. Secara tidak
langsung, pemerintah menekan terhadap system ekonomi kerakyatan. Dan mengembangkan
kapitalisasi pada perekonomian rakyat.
Selain pemerintah daerah yang seakan tidak konsisten menjalankan konsep tata kota yang telah
digariskan sebelumnya, kurangnya kontrol dari para wakil rakyat yang seharusnya membela
kepentingan rakyat seharusnya menjadi sorotan. Dari berbagai permasalah pembangunan yang
keluar dari jalur Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) terlihat dibiarkan.
Perlu diingat bahwa ukuran kemajuan suatu kota tidak bisa diukur hanya melalui banyaknya
bangunan fisik. Kemajuan suatu kota ditentukan oleh masyarakatnya yang berpola fakir mapan,
egaliter dan madani, makanya rasio pembangunan fisik harus selaras dengan ruang hijau terbuka
yang sangat dibutuhkan masyarakat. Tidak perlu terlalu banyak mall dan pusat perbelanjaan
kalau memang akhirnya menimbulkan berbagai macam permasalahan jangka panjang. Jangan
sampai manusia-manusia pembangunan sekarang tergila-gila dengan bangunan-bangunan
mewah, mulai dari mall, pusat perbelanjaan ataupun lainnya.
Dampak Pembangunan Mall di Indonesia
Dampak Positif
1. Mall memberikan peningkatan pendapatan negara dalam bentuk pajak, karena adanya aktivitas
ekonomi disitu. Aktivitas ekonomi yang terjadi juga bukanlah main-main karena faktor
penggerak transaksi kaum urban yang datang ke mall sudah tentu didominasi kalangan
menengah ke atas. Sejatinya mereka bisa mengeluarkan lebih dari 100rb rupiah untuk setiap
kedatangan mereka ke pusat perbelanjaan (akumulasi dari parkir, belanja, makan dan minum,
atau kegiatan lain seperti nonton bioskop).
Ini adalah hal yang sangat menggiurkan terutama untuk pemerintah kita sebagai pendapatan
negara. Meningkatnya jumlah orang kaya di tahun 2010 ini dan memboomingnya industri kreatif
dapat turut mendongkrak psikologis manusia untuk berbelanja. Berbelanja hal-hal yang mungkin
tidak terlalu mereka butuhkan.

2. Setiap pendirian mall berarti penyerapan tenaga kerja baru. Setiap pertumbuhan ekonomi
sebesar 1% hanya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 250.000 - 300.000 orang tenaga
kerja. Masih belum bisa menutupi angka jumlah pengangguran sebanyak 10 juta orang lebih di
Indonesia. Pertanyaannya adalah, tenaga kerja manakah yang akan diserap oleh Mall? Tenaga
kerja penduduk dengan KTP DKI Jakarta? Ataukah tenaga kerja Bodetabek yang notabene akan
menambah jumlah komuter ke Ibukota?
3. Mall adalah sebuah lambang pengakuan. Pengakuan dari pihak-pihak; terutama tenant
(terlebih jika tenant berasal dari luar negeri) bahwa iklim investasi di Indonesia baik. Menurut
indeks investasi dunia, Indonesia masuk dalam peringkat 17 negara yang dapat dijadikan tempat
berinvestati. Menyusul kenaikan harga IHSG yang nyaris menembus angka 3000, adalah
indikasi-indikasi lain yang menunjukkan bahwa secara makro, negara ini memiliki fundamental
ekonomi yang kuat.
4. mall juga memberikan fasilitas dan menampung seluruh kebutuhan masyarakat kota pada
umumnya sehingga mall menjadi bangunan wajib yang ada di hampir seluruh pusat kota di
indonesia
Dampak Negatif
Pembangunan mall akhir-akhir ini semakin meningkat, seiring pertumbuhan pembangunan di
kota jakarta, ada dampak positif tapi lebih banyak negatifnya dari pertumbuhan mall tersebut.
Banyaknya mall akan juga melahirkan jurang perbedaan yang tinggi antara si kaya dan si miskin.
Sehingga si miskin makin tidak akan merasa nyaman. Selain itu dampak lain pembangunan mall
adalah warga akan semakin sulit mendapatkan ruang terbuka, seperti daerah resapan air atau
taman sehingga pada gilirannya akan menyebabkan banjir. Dampak sosial dari pembangunan
mall adalah warga akan terbius menjadi warga yang konsumtif dan menghabiskan waktunya
dimall, kalau sang warga punya kemampuan finansial yang baik untuk belanja di mall mungkin
tidak terlalu masalah, akan tetapi jika sang warga tak punya uang yang cukup, maka yang akan

terjadi adalah angka kriminalitas yang akan semakin tinggi. Seperti pencopetan, penjambretan,
perampokan dll.

Dalam konsep teori pembangunan perkotaan, yang seharusnya menjadi tempat berkumpul warga
kota adalah taman atau area terbuka, namun karena keterbatasan dana dari pemerintah daerah
untuk membangun taman baru dan perawatan taman yang telah ada maka mereka sulit
mendapatkan taman atau lahan yang enak dikunjungi. Warga kota merasakan taman yang tidak
terawat,kotor, kumuh. Ada hal menarik di balik pertumbuhan mall yang meningkat yaitu karena
warga kota kehilangan tempat untuk sekedar berkumpul maka mal-mall jadi satu-satunya tempat
untuk ajang berkumpul dan interaksi antar warga kota.
Satu lagi dampak negatif dari pertumbuhan mall adalah tersingkirnya satu persatu pasar
tradisional yang pada gilirannya mematikan aktifitas pedagang tradisional pribumi. Jumlah
pedagang tradisional semakin hari semakin berkurang akibat kalah bersaing dengan pasar
modern yang memberi kenyamanan yang lebih. Sebagai catatan dari 37 pasar tradisional yang
ada di kota bandung hanya ada dua pasar yang tingkat huniannya diatas 75%, sisanya hanya
mempunyai tingkat hunian dibawah 50%.
Menurut survei yang dilakukan di kota bandung, saat ini jumlah pedagang tradisional yang masih
giat beraktifitas adalah sekitar 9800 pedagang, jauh dibawah perkiraan tahun 2007 yang masih
sekitar 13000 pedagang yang masih aktif, berbanding terbalik dengan pertumbuhan mall.
Sepanjang tahun 2009 berdasarkan survei, jumlah pertumbuhan mall di kota bandung sekitar
31,4% . Perkembangan jumlah mall yang tak terkendali menyebabkan penurunan jumlah pasar
tradisional. Perbandingan setiap satu mall berdiri maka 100 pedagang dan warung akan gulung
tikar.

KESIMPULAN & SARAN


Sebenarnya pembangunan mall boleh dilakukan karena masyarakat pun dapat dampak positifnya
tetepi alangkah baiknya bila pembangunan mall tersebut mengikuti aturan yang ramah
lingkungan, seperti contoh biasanya pembangunan mall akan mengurangi lahan tebuka hijau,
oleh karena itu sebaiknya pengelola mall melakukan penanaman pohon disekitar area mall agar
dapat menggantikan lahan yang sudah terpakai akibat pembangunan mall.