Anda di halaman 1dari 11

PERANAN DAN FUNGSI ASAM NUKLEAT

Bukti Keagungan Tuhan


Asam Nukleat (Nucleic acid) merupakan substansi yang sungguh amat
sangat penting. Asam ini terdapat pada hampir setiap sel tubuh kita. Perlu
diketahui, tubuh kita tersusun atas ribuan, jutaan bahkan miliaran sel.
Asam nukleat ini terletak dalam kromosom yang ada pada inti sel. Asam
nukleat terdiri atas 2 jenis: DNA(Deoxiribo Nucleic Acid) dan RNA(Ribonucleic
Acid). Secara umum, keduanya tersusun dari 3 bahan:
1.

Deoxiribose/ gula pentosat

2.

fosfat

3.

Basa nitrogen
a. Pirimidin. Ada 2 macam: Timin (T)(pada DNA)- Urasil(U)(pada
RNA) dan Cytosin (C)
b. Purin. Juga 2 macam: Adenin(A) dan Guanin(G).

Kedua asam nukleat ini mempunyai peran yang sangat penting bagi kita
(dan semua organisme). Peran tersebut antara lain:
1.Sebagai penentu hereditas (faktor sifat keturunan)
DNA/ADN mempunyai andil sangat besar dalam mewariskan sifat. Sebab,
DNA (juga RNA Genetik) mempunyai kode khusus untuk tiap sifat. Misal:

pada manusia kode/gen B (sifatnya dominan) menunjukkan sifat gigi

coklat. Sedangkan gigi normal oleh huruf b (resesif)


pada bunga sifat merah dilambangkan dengan M; putih m.
pada Drosophila melanogaster (lalat buah) Cu menunjukkan sayap
normal;cu sayap keriput(tak bisa terbang).
Dan masih sangat banyak lagi kode lainnya. Oya... wajib Anda ketahui,

kode huruf tersebut merupakan kesepakatan para ahli. Di dalam kromosom tidak
terdapat/tercantum huruf-huruf tersebut!
Sebagai contoh adalah persilangan ercis (Pisum sativum) batang tinggi dan
batang pendek (masih ingat dengan pelajaran biologi saat kelas 3 SMP?). Jika gen

(boleh juga disebut gamet) T (dominan)menunjukkan sifat batang tinggi, maka


batang pendek ditunjukkan oleh gen t(resesif).
P(Parental/induk):
Gamet :

TT

><

tt
t

Batang tinggi

batang pendek

F1(fillial)
Keturunan pertama:

Tt (batang tinggi)

Jika
F2:

F1

><

F1

Tt

><

Tt

Menghasilkan
25% (kemungkinan) TT (batang tinggi)
50% Tt (batang tinggi)
25% tt (batang pendek)
2. Sebagai sintesis protein (asam amino)
Asam nukleat yang tersusun atas basa nitrogen tersebut dapat membentuk
protein. Misal susunan kode pada rantai/pita antisense DNA adalah
ATG GGC CTA TCG. Protein yang akan disintesa adalah AUG GGC GUA ACG.
Maka asam amino yang dihasilkan adalah AUG menunjukkan kode untuk protein
Metionin, GGC adalah Glisin, GUA adalah Valin, dan ACG adalah Threonin
Sungguh betapa Maha Agungnya Allah. Dalam satu molekul yang
ukurannya sangat kecil itu terdapat miliaran informasi genetik/sifat. Informasi
tersebut meliputi seluruh karakter/watak, ciri-ciri tubuh sampai organ-organ
dalamnya, secara lengkap dan detail. Kalau saja informasi dalam satu molekul
tersebut kita tulis di atas kertas, butuh jutaan lembar.Informasi dengan jumlah luar
biasa banyaknya hanya tersimpan pada satu kromosom.Kromosom berada
dalam inti sel. Sel mempunyai organel selain inti(nukleus), yaitu: membran
sel,ribosom, lisosom,RE,vakuola dan mitokondria. Pada hewan ditambah
sentriol.Tumbuhan,dinding sel dan plastid.

Semua informasi sejumlah sangat banyaknya itu tersimpan hanya dalam


satu sel. Demikian kompleksnya. Ini merupakan hal yang sudah diprogram.
Perlu diketahui, susunan basa-basa yang kemudian menjadi ribuan asam amino
dan memunculkan kehidupan tersebut hanya terbentuk melalui proses
khusus,yang kita belum mampu menjangkaunya. Hanya Allah yang Maha
Mengetahui segala hal dan Maha Luas ilmu-Nya. Ilmu yang kita miliki belum
seberapa dibandingkan ilmu Allah. Subhanallahi Akbar!
1. Pengertian Asam Nukleat
Asam nukleat (bahasa Inggris: nucleic acid) adalah makromolekul
biokimia yang kompleks, berbobot molekul tinggi, dan tersusun atas rantai
nukleotida yang mengandung informasi genetik. Asam nukleat sering dinamakan
juga polinukleotida karena tersusun dari sejumlah molekul nukleotida sebagai
monomernya. Tiap nukleotida mempunyai struktur yang terdiri atas gugus fosfat,
gula pentosa, dan basa nitrogen atau basa nukleotida (basa N).
Asam nukleat yang paling umum adalah Asam deoksiribonukleat (DNA)
and Asam ribonukleat (RNA). Asam nukleat ditemukan pada semua sel hidup
serta pada virus. Asam nukleat dinamai demikian karena keberadaan umumnya di
dalam inti (nukleus) sel. Asam nukleat merupakan biopolimer, dan monomer
penyusunnya adalah nukleotida. Setiap nukleotida terdiri dari tiga komponen,
yaitu sebuah basa nitrogen heterosiklik (purin atau pirimidin), sebuah gula
pentosa, dan sebuah gugus fosfat. Jenis asam nukleat dibedakan oleh jenis gula
yang terdapat pada rantai asam nukleat tersebut (misalnya, DNA atau asam
deoksiribonukleat mengandung 2-deoksiribosa). Selain itu, basa nitrogen yang
ditemukan pada kedua jenis asam nukleat tersebut memiliki perbedaan: adenin,
sitosin, dan guanin dapat ditemukan pada RNA maupun DNA, sedangkan timin
dapat ditemukan hanya pada DNA dan urasil dapat ditemukan hanya pada RNA.
Pemahaman dari asam nukleat sangat bermanfaat dalam mendasari
pemahaman biokimia terutama dalam hal genetika. Asam nukleat tersusun dari
lebih dari satu nukleotida. Nukleotida merupakan ikatan ester antara nekleosida
dengan fosfat.

Sedangkan nukleosida sendiri merupakan ikatan beta-N-glikosidik,


dimana purin dan pirimidin memiliki ikatan gula dengan nitrogen. Dengan kata
lain nukleosida merupakan nukleotida yang tidak terphosporilasi (tidak berikatan
dengan phosphat). Secara awam, nukleosida merupakan ikatan antara gula dan
basa nitrogen. Pada ADP maupun ATP phospat saling berikatan dengan ikatan
anhidrid asam.
Gula terbagi menjadi dua tipe yaitu ribonukloesida dan dioksi
ribonukleosida. Pada ribonukleosida, ikatan nitrogen terjadi di D-ribosa,
sedangkan pada dioksiribonukleosida, ikatan N terjadi di 2-deoksi-D-ribosa.
Basa nitrogen dalam asam nukleat terdiri dari macam yaitu basa purin dan
basa pirimidin. Basa purin memiliki adenin dan guanin. Sedangkan basa pirimidin
memiliki sitosin, timin (pada DNA), dan Urasil (pada RNA).
2. Nukleosida dan nukleotida
Penomoran posisi atom C pada cincin gula dilakukan menggunakan tanda
aksen (1, 2, dan seterusnya), sekedar untuk membedakannya dengan penomoran
posisi pada cincin basa. Posisi 1 pada gula akan berikatan dengan posisi 9 (N-9)
pada basa purin atau posisi 1 (N-1) pada basa pirimidin melalui ikatan glikosidik
atau glikosilik (Gambar 2.2). Kompleks gula-basa ini dinamakan nukleosida.
Di atas telah disinggung bahwa asam nukleat tersusun dari monomermonomer berupa nukleotida, yang masing-masing terdiri atas sebuah gugus fosfat,
sebuah gula pentosa, dan sebuah basa N. Dengan demikian, setiap nukleotida pada
asam nukleat dapat dilihat sebagai nukleosida monofosfat. Namun, pengertian
nukleotida secara umum sebenarnya adalah nukleosida dengan sebuah atau lebih
gugus fosfat. Sebagai contoh, molekul ATP (adenosin trifosfat) adalah nukleotida
yang merupakan nukleosida dengan tiga gugus fosfat.
Jika gula pentosanya adalah ribosa seperti halnya pada RNA, maka
nukleosidanya dapat berupa adenosin, guanosin, sitidin, dan uridin. Begitu pula,
nukleotidanya akan ada empat macam, yaitu adenosin monofosfat, guanosin
monofosfat, sitidin monofosfat, dan uridin monofosfat. Sementara itu, jika gula
pentosanya adalah deoksiribosa seperti halnya pada DNA, maka (2-

deoksiribo)nukleosidanya

terdiri

atas

deoksiadenosin,

deoksiguanosin,

deoksisitidin, dan deoksitimidin.


3. Ikatan fosfodiester
Selain ikatan glikosidik yang menghubungkan gula pentosa dengan basa
N, pada asam nukleat terdapat pula ikatan kovalen melalui gugus fosfat yang
menghubungkan antara gugus hidroksil (OH) pada posisi 5 gula pentosa dan
gugus hidroksil pada posisi 3 gula pentosa nukleotida berikutnya. Ikatan ini
dinamakan ikatan fosfodiester karena secara kimia gugus fosfat berada dalam
bentuk diester (Gambar 2.2).
Gambar 2.2. Ikatan fosfodiester dan ikatan glikosidik pada asam nukleat
Oleh karena ikatan fosfodiester menghubungkan gula pada suatu
nukleotida dengan gula pada nukleotida berikutnya, maka ikatan ini sekaligus
menghubungkan kedua nukleotida yang berurutan tersebut. Dengan demikian,
akan terbentuk suatu rantai polinukleotida yang masing-masing nukleotidanya
satu sama lain dihubungkan oleh ikatan fosfodiester.
Kecuali yang berbentuk sirkuler, seperti halnya pada kromosom dan
plasmid bakteri, rantai polinukleotida memiliki dua ujung. Salah satu ujungnya
berupa gugus fosfat yang terikat pada posisi 5 gula pentosa. Oleh karena itu,
ujung ini dinamakan ujung P atau ujung 5. Ujung yang lainnya berupa gugus
hidroksil yang terikat pada posisi 3 gula pentosa sehingga ujung ini dinamakan
ujung OH atau ujung 3. Adanya ujung-ujung tersebut menjadikan rantai
polinukleotida linier mempunyai arah tertentu.
Pada pH netral adanya gugus fosfat akan menyebabkan asam nukleat
bermuatan negatif. Inilah alasan pemberian nama asam kepada molekul
polinukleotida

meskipun

di

dalamnya

juga

terdapat

banyak

basa

N.

Kenyataannya, asam nukleat memang merupakan anion asam kuat atau


merupakan polimer yang sangat bermuatan negatif.

4. Sekuens asam nukleat


Telah dikatakan di atas bahwa urutan basa N akan menentukan spesifisitas
suatu molekul asam nukleat sehingga biasanya kita menggambarkan suatu
molekul asam nukleat cukup dengan menuliskan urutan basa (sekuens)-nya saja.
Selanjutnya, dalam penulisan sekuens asam nukleat ada kebiasaan untuk
menempatkan ujung 5 di sebelah kiri atau ujung 3 di sebelah kanan. Sebagai
contoh, suatu sekuens DNA dapat dituliskan 5-ATGACCTGAAAC-3 atau suatu
sekuens RNA dituliskan 5-GGUCUGAAUG-3.
Jadi, spesifisitas suatu asam nukleat selain ditentukan oleh sekuens
basanya, juga harus dilihat dari arah pembacaannya. Dua asam nukleat yang
memiliki sekuens sama tidak berarti keduanya sama jika pembacaan sekuens
tersebut dilakukan dari arah yang berlawanan (yang satu 5 3, sedangkan yang
lain 3 5).
A. DNA
DNA merupakan polimer yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu
gugus fosfat, gula deoksiribosa, dan basa nitrogen. Sebuah unit monomer DNA
yang terdiri dari ketiga komponen tersebut dinamakan nukleotida, sehingga DNA
tergolong sebagai polinukleotida.
Rantai DNA memiliki lebar 22-24 , sementara panjang satu unit
nukleotida 3,3 . Walaupun unit monomer ini sangatlah kecil, DNA dapat
memiliki jutaan nukleotida yang terangkai seperti rantai. Misalnya, kromosom
terbesar pada manusia terdiri atas 220 juta nukleotida.
Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus fosfat dan gula yang
berselang-seling. Gula pada DNA adalah gula pentosa (berkarbon lima), yaitu 2deoksiribosa. Dua gugus gula terhubung dengan fosfat melalui ikatan fosfodiester
antara atom karbon ketiga pada cincin satu gula dan atom karbon kelima pada
gula lainnya. Salah satu perbedaan utama DNA dan RNA adalah gula
penyusunnya; gula RNA adalah ribosa.
DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur heliks ganda.
Pada struktur heliks ganda, orientasi rantai nukleotida pada satu untai berlawanan

dengan orientasi nukleotida untai lainnya. Hal ini disebut sebagai antiparalel.
Masing-masing untai terdiri dari rangka utama, sebagai struktur utama, dan basa
nitrogen, yang berinteraksi dengan untai DNA satunya pada heliks. Kedua untai
pada heliks ganda DNA disatukan oleh ikatan hidrogen antara basa-basa yang
terdapat pada kedua untai tersebut. Empat basa yang ditemukan pada DNA adalah
adenin (dilambangkan A), sitosin (C, dari cytosine), guanin (G), dan timin (T).
Adenin berikatan hidrogen dengan timin, sedangkan guanin berikatan dengan
sitosin.
1. Struktur tangga berpilin (double helix) DNA
Dua orang ilmuwan, J.D.Watson dan F.H.C.Crick, mengajukan model
struktur molekul DNA yang hingga kini sangat diyakini kebenarannya dan
dijadikan dasar dalam berbagai teknik yang berkaitan dengan manipulasi DNA.
Model tersebut dikenal sebagai tangga berplilin (double helix). Secara alami DNA
pada umumnya mempunyai struktur molekul tangga berpilin ini.
Model tangga berpilin menggambarkan struktur molekul DNA sebagai dua
rantai polinukleotida yang saling memilin membentuk spiral dengan arah pilinan
ke kanan. Fosfat dan gula pada masing-masing rantai menghadap ke arah luar
sumbu pilinan, sedangkan basa N menghadap ke arah dalam sumbu pilinan
dengan susunan yang sangat khas sebagai pasangan pasangan basa antara kedua
rantai. Dalam hal ini, basa A pada satu rantai akan berpasangan dengan basa T
pada rantai lainnya, sedangkan basa G berpasangan dengan basa C. Pasanganpasangan basa ini dihubungkan oleh ikatan hidrogen yang lemah (nonkovalen).
Basa A dan T dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap dua, sedangkan basa G
dan C dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap tiga. Adanya ikatan hidrogen
tersebut menjadikan kedua rantai polinukleotida terikat satu sama lain dan saling
komplementer. Artinya, begitu sekuens basa pada salah satu rantai diketahui,
maka sekuens pada rantai yang lainnya dapat ditentukan.
Oleh karena basa bisiklik selalu berpasangan dengan basa monosiklik,
maka jarak antara kedua rantai polinukleotida di sepanjang molekul DNA akan
selalu tetap. Dengan perkataan lain, kedua rantai tersebut sejajar. Akan tetapi, jika
rantai yang satu dibaca dari arah 5 ke 3, maka rantai pasangannya dibaca dari

arah 3 ke 5. Jadi, kedua rantai tersebut sejajar tetapi berlawanan arah


(antiparalel)
2. Fungsi DNA sebagai Materi Genetik
DNA sebagai materi genetik pada sebagian besar organisme harus dapat
menjalankan tiga macam fungsi pokok berikut ini.
DNA harus mampu menyimpan informasi genetik dan dengan tepat dapat
meneruskan informasi tersebut dari tetua kepada keturunannya, dari generasi
ke generasi. Fungsi ini merupakan fungsi genotipik, yang dilaksanakan melalui
replikasi. Inilah materi yang akan dibahas di dalam bab ini.
DNA harus mengatur perkembangan fenotipe organisme. Artinya, materi
genetik harus mengarahkan pertumbuhan dan diferensiasi organisme mulai dari
zigot hingga individu dewasa. Fungsi ini merupakan fungsi fenotipik, yang
dilaksanakan melalui ekspresi gen (Bab V hingga Bab VII).
DNA sewaktu-waktu harus dapat mengalami perubahan sehingga organisme
yang bersangkutan akan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang
berubah. Tanpa perubahan semacam ini, evolusi tidak akan pernah
berlangsung. Fungsi ini merupakan fungsi evolusioner, yang dilaksanakan
melalui peristiwa mutasi (Bab VIII).
3. Prinsip Dasar Transkripsi
Telah dijelaskan sebelumnya fungsi dasar kedua yang harus dijalankan
oleh DNA sebagai materi genetik adalah fungsi fenotipik. Artinya, DNA harus
mampu mengatur pertumbuhan dan diferensiasi individu organisme sehingga
dihasilkan suatu fenotipe tertentu. Fungsi ini dilaksanakan melalui ekspresi gen,
yang tahap pertamanya adalah proses transkripsi, yaitu perubahan urutan basa
molekul DNA menjadi urutan basa molekul RNA. Dengan perkataan lain,
transkripsi merupakan proses sintesis RNA menggunakan salah satu untai molekul
DNA sebagai cetakan (templat)nya.
Transkripsi

mempunyai

ciri-ciri

kimiawi

yang

serupa

dengan

sintesis/replikasi DNA, yaitu


Adanya sumber basa nitrogen berupa nukleosida trifosfat. Bedanya dengan
sumber basa untuk sintesis DNA hanyalah pada molekul gula pentosanya

yang tidak berupa deoksiribosa tetapi ribosa dan tidak adanya basa timin
tetapi digantikan oleh urasil. Jadi, keempat nukleosida trifosfat yang
diperlukan adalah adenosin trifosfat (ATP), guanosin trifosfat (GTP), sitidin
trifosfat (CTP), dan uridin trifosfat (UTP).
Adanya untai molekul DNA sebagai cetakan. Dalam hal ini hanya salah satu
di antara kedua untai DNA yang akan berfungsi sebagai cetakan bagi sintesis
molekul RNA. Untai DNA ini mempunyai urutan basa yang komplementer
dengan urutan basa RNA hasil transkripsinya, dan disebut sebagai pita
antisens. Sementara itu, untai DNA pasangannya, yang mempunyai urutan
basa sama dengan urutan basa RNA, disebut sebagai pita sens. Meskipun
demikian, sebenarnya transkripsi pada umumnya tidak terjadi pada urutan
basa di sepanjang salah satu untai DNA. Jadi, bisa saja urutan basa yang
ditranskripsi terdapat berselang-seling di antara kedua untai DNA.
Sintesis berlangsung dengan arah 5 3 seperti halnya arah sintesis DNA.
Gugus 3- OH pada suatu nukleotida bereaksi dengan gugus 5- trifosfat pada
nukleotida

berikutnya

menghasilkan

ikatan

fosofodiester

dengan

membebaskan dua atom pirofosfat anorganik (PPi). Reaksi ini jelas sama
dengan reaksi polimerisasi DNA. Hanya saja enzim yang bekerja bukannya
DNA polimerase, melainkan RNA polimerase. Perbedaan yang sangat nyata
di antara kedua enzim ini terletak pada kemampuan enzim RNA polimerase
untuk melakukan inisiasi sintesis RNA tanpa adanya molekul primer.
Secara garis besar transkripsi berlangsung dalam empat tahap, yaitu
pengenalan promoter, inisiasi, elongasi, dan teminasi. Masing-masing tahap akan
dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

B. RNA
Asam ribonukleat (bahasa Inggris:ribonucleic acid, RNA) senyawa yang
merupakan bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetik.
Dalam dogma pokok (central dogma) genetika molekular, RNA menjadi perantara

antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan
dalam bentuk protein.
Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang
tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat,
satu gugus gula ribosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun
dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus
gula ribosa dari nukleotida yang lain.
Perbedaan RNA dengan DNA terletak pada satu gugus hidroksil tambahan
pada cincin gula ribosa (sehingga dinamakan ribosa). Basa nitrogen pada RNA
sama dengan DNA, kecuali basa timin pada DNA diganti dengan urasil pada
RNA. Jadi tetap ada empat pilihan: adenin, guanin, sitosin, atau urasil untuk suatu
nukleotida.
Selain itu, bentuk konformasi RNA tidak berupa pilin ganda sebagaimana
DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan fungsinya.
a. Tipe RNA
RNA hadir di alam dalam berbagai macam/tipe. Sebagai bahan genetik,
RNA berwujud sepasang pita (Inggris double-stranded RNA, dsRNA). Genetika
molekular klasik mengajarkan adanya tiga tipe RNA yang terlibat dalam proses
sintesis protein:
1. RNA-kurir (bahasa Inggris: messenger-RNA, mRNA),
2. RNA-ribosom (bahasa Inggris: ribosomal-RNA, rRNA),
3. RNA-transfer (bahasa Inggris: transfer-RNA, tRNA).
Struktur mRNA dikatakan sebagai struktur primer, sedangkan struktur
tRNA dan rRNA dikatakan sebagai struktur sekunder. Perbedaan di antara ketiga
struktur molekul RNA tersebut berkaitan dengan perbedaan fungsinya masingmasing
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 diketahui bahwa RNA hadir
dalam berbagai macam bentuk dan terlibat dalam proses pascatranslasi. Dalam
pengaturan ekspresi genetik orang sekarang mengenal RNA-mikro (miRNA) yang
terlibat dalam "peredaman gen" atau gene silencing dan small-interfering RNA
(siRNA) yang terlibat dalam proses pertahanan terhadap serangan virus.

b. Fungsi RNA
Pada sekelompok virus (misalnya bakteriofag), RNA merupakan bahan
genetik. Ia berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik, sebagaimana DNA
pada organisme hidup lain. Ketika virus ini menyerang sel hidup, RNA yang
dibawanya masuk ke sitoplasma sel korban, yang kemudian ditranslasi oleh sel
inang untuk menghasilkan virus-virus baru.
Namun demikian, peran penting RNA terletak pada fungsinya sebagai
perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik karena ini
berlaku untuk semua organisme hidup. Dalam peran ini, RNA diproduksi sebagai
salinan kode urutan basa nitrogen DNA dalam proses transkripsi. Kode urutan
basa ini tersusun dalam bentuk 'triplet', tiga urutan basa N, yang dikenal dengan
nama kodon. Setiap kodon berelasi dengan satu asam amino (atau kode untuk
berhenti), monomer yang menyusun protein. Lihat ekspresi genetik untuk
keterangan lebih lanjut.
Penelitian mutakhir atas fungsi RNA menunjukkan bukti yang mendukung
atas teori 'dunia RNA', yang menyatakan bahwa pada awal proses evolusi, RNA
merupakan bahan genetik universal sebelum organisme hidup memakai DNA.
Tidak seperti DNA, molekul RNA pada umumnya berupa untai tunggal
sehingga tidak memiliki struktur tangga berpilin. Namun, modifikasi struktur juga
terjadi akibat terbentuknya ikatan hidrogen di dalam untai tunggal itu sendiri
(intramolekuler).
Dengan adanya modifikasi struktur molekul RNA, kita mengenal tiga
macam RNA, yaitu RNA duta atau messenger RNA (mRNA), RNA pemindah atau
transfer RNA (tRNA), dan RNA ribosomal (rRNA). Struktur mRNA dikatakan
sebagai struktur primer, sedangkan struktur tRNA dan rRNA dikatakan sebagai
struktur sekunder. Perbedaan di antara ketiga struktur molekul RNA tersebut
berkaitan dengan perbedaan fungsinya masing-masing.