Anda di halaman 1dari 118

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SAMPAH

MENJADI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH


(PLTSa) DI KOTA BOGOR

Oleh
SITI ADE FATIMAH
A14105607

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN
SITI ADE FATIMAH. Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah Menjadi
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Bogor. Dibawah Bimbingan.
DWI RACHMINA.
Sampah telah menjadi masalah utama di kota-kota besar Indonesia. Pada
tahun 2020, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat
lima kali lipat. Berdasarkan hasil survei rata-rata buangan sampah kota di Indonesia
adalah 0,5 per-kapita per-hari. Dengan mengalikan data tersebut dengan jumlah
penduduk dibeberapa kota di Indonesia maka dapat diketahui perkiraan potensi
sampah kota di Indonesia, yaitu sekitar 100.000 ton/hari. Saat ini Teknik
pengelolaan untuk sampah di kota-kota di Indonesia masih dilakukan secara
konvensional, yaitu metode open dumping (tumpukan) dan sanitary landfill
(timbunan). Pada prakteknya pengelolaan sampah secara konvensional di TPA
menimbulkan beberapa permasalahan. Melihat realita tersebut mendorong para ahli
untuk mengupayakan penyelesaian dalam menangani permasalahan sampah
perkotaan, salah satunya adalah membuat solusi bahwa sampah bisa jadi sumber
energi listrik atau Waste to Energy atau yang lebih dikenal dengan PLTSa
(Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Pengolahan sampah kota menjadi energi
listrik sudah lama dilakukan beberapa negara seperti di Republik Rakyat China
(RRC) dan Singapura. Berdasarkan perhitungan, dari 190 ton atau 760 m3 sampah
kota per-hari akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 800 kwh. Dari
pembakaran itu, selain menghasilkan energi listrik, juga memperkecil volume
sampah kiriman sampai 95 persen.
Hal yang sama terjadi di Kota Bogor. Masalah penyempitan lahan TPA
akibat dari meningkatnya jumlah sampah di Kota Bogor. Biaya sosial yang harus
dibayarkan akibat adanya pencemaran lingkungan serta adanya biaya operasional
yang tinggi dari penanganan sampah yang tetap harus dibayarkan pemkot Bogor
sehingga, pembangunan PLTSa yang berlokasi di kawasan TPA menjadi
pertimbangan bagi DLHK untuk mendirikan PLTSa. Unit usaha ini memiliki tujuan
pokok memanfaatkan sumber daya sampah yang ada di Kota Bogor. Salah satu
langkah yang dilakukan DLHK adalah dengan pengajuan dana sebesar Rp 30 miliar
yang diambil dari dana yang sudah dicadangkan dalam APBD. Adanya biaya
investasi yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan untuk proyek tersebut,
menyebabkan pembangunan PLTSa harus diuji kelayakannya. Berdasarkan uraian
di atas maka perumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah
Apakah Proyek PLTSa ditinjau dari aspek teknis, aspek pasar dan aspek
manajemen layak untuk dilaksanakan serta? Apakah Proyek PLTSa ditinjau dari
aspek finansial layak untuk dilaksanakan dan perubahan apasaja yang
mempengaruhi kondisi kelayakan? Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah: 1) Menganalisis kelayakan proyek PLTSa ditinjau dari aspek
teknis, aspek pasar dan aspek manajemen serta, 2) Menganalisis kelayakan proyek
PLTSa ditinjau aspek finansial dan 3) Menganalisis kepekaan pembangunan PLTSa
yang mempengaruhi kondisi kelayakan. Informasi-informasi dari hasil penelitian
ini menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya. Studi kelayakan ini dilakukan
untuk menilai kemungkinan dibangunnya PLTSa sebagai bahan bakar ditinjau

aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen, dan aspek finansial serta analisis
switching value
Penelitian dilakukan di kota Bogor, dengan spesifikasi tempat terkait data
penelitian yaitu TPA Galuga, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-November 2008. Jenis data yang
digunakan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dari hasil wawancara dengan Koordinator dari tim pelaksanaan Studi
Kelayakan PLTSa Kota Bandung untuk rekomendasi pembangunan PLTSa Kota
Bogor. Data sekunder diperoleh dari Laporan yang dibuat pada tahun 2007-2008
mengenai Hasil Studi PLTSa Kota Bandung dan PLTSa Kabupaten Bandung,
modul DLHK tentang Penanganan Penataan Sarana dan Prasarana TPA Galuga.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai pelaksanaan
pengolahan sampah kota seperti aspek teknis, aspek pasar serta aspek manajemen.
Sedang analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis kelayakan finansial
pembangunan PLTSa yang diolah dengan Software Microsoft Excel. Analisis
finansial dibagi menjadi dua skenario yaitu, skenario I PLTSa dikelola oleh DLHK
dan biaya investasi berasal dari dana hibah APBD Kota Bogor sedangkan untuk
skenario II PLTSa merupakan bisnis murni dan modal investasi berasal dari modal
pinjaman Bank. Kriteria investasi digunakan beberapa indikator kelayakan investasi
yaitu: Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost
Ratio (B/C Ratio), Payback Period (PBP), Analisis Switching Value.
Potensi Pendapatan Retribusi Kota Bogor adalah 60 persen dari pelayanan
Profil Retribusi. Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui
tiga tahapan kegiatan, yakni : pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir/
pengolahan. Berdasarkan jenis sampah kota yang terangkut pada tahun 2007, maka
dapat dibedakan sampah organik antara 73 persen dengan komponen lain yaitu
kertas karton dan kaca (gelas) 6 persen, plastik 11 persen, potongan kayu dan
limbah tanaman 1 persen, besi, logam dll 2 persen, sisa bahan konstruksi bangunan
2 persen serta lain-lain 5 persen. Teknis operasional pengelolaan sampah di TPA
Galuga dilakukan sebagai berikut : sampah yang diangkut dari sumber timbunan
dengan menggunakan kendaraan dump truk dan armroll berkapasitas 6 m3, sampah
dibuang dalam suatu titik dalam lokasi TPA.
Hasil analisis deskriptif untuk aspek teknis diketahui PLTSa berlokasi di
TPA Galuga, input 250 ton sampah kota dengan output listrik 1.600 kwh per-hari.
Pengelolaan PLTSa dilakukan oleh PT X. PT X merupakan coorporate social
responsibility (CSR) yang digulirkan PT. PLN, PDAM Tirta Pakuan dan DLHK
Kota Bogor. Kebutuhan tenaga kerja 347 orang dengan total biaya investasi Rp 50.
347.703.000. Analisis aspek pasar, untuk produk, harga, promosi dan distribusi PT
X bekerja sama dengan PT PLN dengan harga Rp 500 per-kwh. Analisis Aspek
Finansial pada skenario I menunjukan nilai NPV Rp 10.781.436.315,13 (negatif)
IRR 3,02 persen, B/C Ratio 0,55 dan PBP 72,41 tahun sedangkan untuk skenario II
menunjukan nilai NPV Rp 1.660.445.113,55, IRR 17,78 persen, B/C Ratio1,10 dan
PBP 4,52 tahun. Komponen yang paling berpengaruh pada PLTSa untuk analisis
Switching Value adalah biaya variabel, harga penjualan listrik dan pendapatan
retribusi/tipping fee pada masing-masing skenario. Pada skenario masing-masing
menunjukan nilai 2,44 ; 13,96 ; 150,73 sedangkan untuk skenario II menunjukan

nilai 4,31 ; 6,70 ; 2,25, nilai tersebut menunjukan skenario II yang paling peka
terhadap perubahan
PLTSa termasuk kedalam kajian agribisnis karena input yang diolah 72
persen diantaranya merupakan bagian dari limbah pertanian. Berdasarkan analisis
kelayakan usaha PLTSa untuk dua skenario dapat disimpulkan sebagai berikut :
Aspek Teknis, Aspek Pasar, Aspek Manajemen PLTSa PT X layak untuk
dilaksanakan. Dari segi Aspek Finansial karena komponen biaya investasi dan
biaya operasional sangat mahal sehingga pada skenario I, PLTSa tidak layak,
sedangkan untuk skenario II PLTSa dapat dilaksanakan. Berdasarkan analisis
Switching Value PLTSa pada skenario I, hal yang memungkinkan agar PLTSa
dapat diusahakan apabila harga jual naikan dari Rp 500 menjadi 569,79 perkwh
(13,96 persen), sedangkan untuk skenario II agar PLTSa tetap dapat diusahakan
tidak boleh adanya kenaikan biaya variabel melebihi 4,31 persen. Peranan
pemerintah kota, DPRD dan instansi terkait lainnya sangat menentukan
keberhasilan PLTSa dan lebih baik lagi apabila PLTSa mendapat dukungan dari
perbankan daerah ataupun perbankan nasional. Faktor teknis: Cara-cara
pelaksanaan pembangunan, perjanjian kerjasama, dan pengoperasian PLTSa
haruslah dibuat mekanisme yang jelas, terutama peranan dan tanggung jawab
DLHK, PDAM Tirta Pakuan, PT PLN dan Departemen PU sebagai institusi publik
agar terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat yang lebih baik.

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI


PEMBANGIT LISTRIK TENAGA SAMPAH (PLTSa) DI KOTA BOGOR

Oleh
SITI ADE FATIMAH
A14105607

Skripsi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

Judul Skripsi

: Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah Menjadi


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Bogor

Nama

: Siti Ade Fatimah

NRP

: A14105607

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Dwi Rachmina, MSi


NIP. 131918503

Mengetahui
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr


NIP. 131124019

Tanggal lulus :

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN SKRIPSI SAYA YANG BERJUDUL


ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH (PLTSa) DI KOTA BOGOR
BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG
DITUNJANG OLEH LITELATUR-LITELATUR PENELITIAN ILMIAH
SEBELUMNYA DAN SUDAH SAYA CANTUMKAN DALAM TINJAUAN
PUSTAKA DAN DAFTAR PUSTAKA. SKRIPSI SAYA BELUM PERNAH
DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN
TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Januari 2009


SITI ADE FATIMAH
A14105607

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 14 September 1983 dari


pasangan Burhanudin dan Malihah. Penulis merupakan anak ke empat dari lima
bersaudara.
Penulis mengawali pendidikannya di Taman Kanak kanak AT-Tazimiah
di Kota Bandung pada tahun 1987. Pendidikan sekolah dasar di SDN Cigondewah
IV di Kota Bandung pada tahun 1989 sampai dengan tahun1995. Pendidikan
tingkat menengah pertama dilalui di SLTPN 25 Bandung pada tahun 1995 sampai
dengan tahun 1998. Pendidikan menengah umum diselesaikan pada tahun 2001 di
SMUN 13 Bandung. Pada tahun 2002 penulis diterima di Program Studi Teknologi
Industri Pakan, Jurusan Ilmu Nutrisi danTeknologi Pakan, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor.
Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa program studi sarjana
ektensi Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor. Penulis selama kuliah
menjadi tenaga pengajar (les privat) seluruh bidang studi untuk tingkat SD pada
tahun 2006-2007, kemudian penulis menjadi tenaga pengajar di SMP-SMA INSAN
KAMIL dan sebagai tim marketing PT. UTHB tahun 2007-2008. Selain itu, penulis
aktif pada kelompok relawan peduli anak jalanan SAVANA yang dipelopori
mahasiswa ektensi MAB di Kelurahan Ciheuleut Bogor.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Skripsi ini merupakan hasil karya penulis untuk memenuhi persyaratan untuk
memperoleh gelar sarjana pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah
Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Bogor berisikan
mengenai kriteria yang mendukung layak atau tidaknya proyek untuk dilaksanakan.
Skripsi ini memuat serangkaian aspek aspek penunjang kelayakan, seperti aspek
pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek finansial.
Penulis sudah mengupayakan pembuatan skripsi ini dengan sepenuhnya
untuk menjadi sempurna. Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Bogor, Januari 2009

Penulis

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena segala
rahmat dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan
skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang sudah memberikan
dukungan moril maupun materil, dorongan semangat, bimbingan, sumbnagan
pemikiran dan lain lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan terimakasih kepada :
1. Ir. Dwi Rachmina, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan arahan selama penulisan skripsi.
2. Dr. Ir. Ari D. Pasek sebagai narasumber dari LPPM-ITB untuk informasi
PLTSa dan masukan beliau sampai penulisan skripsi mendekati sempurna.
3. Heri Agus Suherman, SE sebagai narasumber dari DLHK Kota Bogor dan
masukan beliau sampai penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.
4. Ir. Popong Nurhayari, MM selaku dosen penguji pada saat sidang yang telah
memberi masukan dan arahan dalam penulisan skripsi akhir.
5. Tintin Sarianti, SP, MM selaku dosen Komisi Pendidikan pada saat sidang
yang telah memberi masukan dan arahan dalam penulisan skripsi akhir.
6. Ir. Burhanudin, MM selaku dosen evaluator pada saat kolokium yang telah
memberi masukan dan arahan dalam penulisan proposal penelitian.
7. Kedua orang tua yang selalu memberikan motivasi dan doa selama ini.
8. Uum Sumiyati selaku pembahas pada saat seminar yang telah memberi
masukan.

9. Tementeman yang bersamasama berjuang di Ekstensi MAB (Siska, Cici,


Nova, Wawan, Jaman, Jayin, Yoga, Solihin) serta temantemen kuliah
(Dewi, Fajar Tio, Sari, Baban, Restu, Sudar, Ubay, Mira, Sari dan Edo).
Teman-teman (Ari Fajar, Arif Rifai) yang telah banyak membantu dari
mulai konsep sampai kepada mekanisme yang harus ada yang tidak
terpikirkan oleh penulis dalam skripsi ini.
10. Teman-teman di Mexindo X : Wati yang sudah berbaik hati menyediakan
printer dan prasaran lain sampai penulis menyelesaikan skripsi ini, Teh
Ritme, Alfi dan Mirun yang telah banyak membantu dari mulai konsep
sampai kepada mekanisme yang harus ada yang tidak terpikirkan oleh
penulis dalam skripsi ini serta adik-adik (Yeffi, Lia, Dinot, Lheez, Le-ha,
Mae, Dio, Ardinal dan Tandang) atas support yang diberikan kapada
penulis.
11. Seluruh staf pengajar dan tata usaha Program Sarjana Ekstensi Manajemen
Agribisnis (Mba Nur, Mba Rahmi, Mba Maya, Kang Aji dan Kang Agus)
yang membantu administrasi selama masa perkuliahan berlangsung.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................. i
DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... vii
I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................
1.2 Perumusan Masalah............................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian...........................................................
1.4 Ruang Lingkup Penelitian..................................................................

1
4
7
7

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengelolaan Sampah Kota..................................................................
2.2 Pengelolaan Sampah di Luar Negri....................................................
2.3 Pengelolaan Sampah di Indonesia......................................................
2.4 Pengolahan Sampah Menjadi Tenaga Listrik.....................................
2.5 Kajian Empiris....................................................................................
2.5.1 Pengelolaan Sampah di Kota Bogor.........................................
2.5.2 Studi Kelayakan Usaha.............................................................

8
9
11
14
16
16
18

III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1 Kaitan PLTSa dengan Agribisnis.................................................
3.2 Analisis proyek....................................................................................
3.2.1 Aspek Teknis.............................................................................
3.2.2 Aspek Pasar...............................................................................
3.2.3 Aspek Manajemen.....................................................................
3.3 Teori Manfaat dan Biaya....................................................................
3.4 Analisis Finansial...............................................................................
3.5 Kriteria Analisis Kelayakan Investasi................................................
3.5.1 Net Present Value (NPV)..........................................................
3.5.2 Internal Rate of Return (IRR)...................................................
3.5.3 Net Benefit Cost(Net B/C).........................................................
3.5.4 Payback Period.........................................................................
3.6 Switching Value..................................................................................
3.7 Kerangka Pemikiran Operasional.......................................................

20
21
22
23
23
23
24
25
25
25
26
26
26
27

IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian..............................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data.......................................................................
4.3 Metoda Pengolahan dan Analisis Data...............................................
4.4 Analisis Aspek Teknis........................................................................

29
29
29
30

4.5 Analisis Aspek Pasar.........................................................................


4.6 Analisis Aspek Manajemen................................................................
4.7 Analisis Aspek Finansial....................................................................
4.7.1 Net Present Value (NPV)..........................................................
4.7.2 Internal Rate of Return (IRR)...................................................
4.7.3 Net Benefit Cost(Net B/C Ratio)...............................................
4.7.4 Payback Period.........................................................................
4.7.5 Analisis Switching Value..........................................................
4.7.6 Asumsi Dasar............................................................................

30
31
31
31
32
33
34
35
35

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


5.1 Kota Bogor......................................................................................... 38
5.2 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan......................................... 39
5.3 TPA Galuga........................................................................................ 40
VI EVALUASI ASPEK-ASPEK STUDI KELAYAKAN
6.1 Aspek Teknis......................................................................................
6.1.1 Pengolahan Sampah Saat Pembangunan Infrastruktur PLTSa.
6.1.2 Tahapan Persiapan....................................................................
6.1.3 Penentuan Lokasi pabrik...........................................................
6.1.4 Teknologi Proses dan Peralatan................................................
6.1.5 Kapasitas Produksi....................................................................
6.2 Analisis Aspek Manajemen................................................................
6.3 Analisis Aspek Pasar..........................................................................
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
7.1 Analisis Kelayakan Usaha PLTSa Skenario I....................................
7.1.1 Arus Manfaat (Inflow)...............................................................
7.1.1.1 Penjualan Listrik..........................................................
7.1.1.2 Penjualan Debu............................................................
7.1.1.3 Retribusi Sampah.........................................................
7.1.1.4 Subsidi APBD Kota Bogor..........................................
7.1.1.5 Nilai Sisa......................................................................
7.1.2 Arus Biaya (Outflow)................................................................
7.1.2.1 Biaya Investasi.............................................................
7.1.2.1.1 Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi...
7.1.2.1.2 Biaya Investasi Konstruksi Pabrik dan
Transmisi Listrik...........................................
7.1.2.1.3 Biaya Pra-Investasi Unit Usaha PLTSa........
7.1.2.2 Biaya Operasional........................................................
7.1.2.2.1 Biaya Tetap....................................................
7.1.2.2.2 Biaya Variabel...............................................
7.1.3 Kelayakan Finansial Usaha PLTSa Skenario II...........
7.2 Analisis Kelayakan Usaha PLTSa Skenario II...................................
7.2.1 Arus Manfaat (Inflow)...............................................................
7.2.1.1 Penjualan Listrik..........................................................
7.2.1.2 Penjualan Debu............................................................
7.2.1.3 Tipping Fee/Public Service..........................................

43
44
45
49
50
55
58
61
65
65
65
66
68
69
70
71
72
72
73
74
75
75
78
79
80
81
81
82
82

7.2.1.4 Modal Pinjaman Bank..................................................


7.2.1.5 Nilai Sisa......................................................................
7.2.2 Arus Biaya (Outflow)................................................................
7.2.2.1 Biaya Investasi.............................................................
7.2.2.1.1 Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi...
7.2.2.1.2 Biaya Investasi Konstruksi Pabrik dan
Transmisi Listrik...........................................
7.2.2.1.3 Biaya Pra-Investasi dari Unit Usaha PLTSa.
7.2.2.2 Biaya Operasional .......................................................
7.2.2.2.1 Biaya Tetap....................................................
7.2.2.2.2 Biaya Variabel...............................................
7.2.2.3 Biaya Angsuran Pinjaman...........................................
7.2.2.4 Pajak Penghasilan Usaha............................................
7.2.3 Kelayakan Finansial Usaha PLTSa Skenario II........................
7.3 Perbandingan Hasil Analisis Kelayakan Finansial Kedua Skenario. .
7.4 Analisis Switching value.....................................................................
7.4.1 Analisis Switching value Pada PLTSa Skenario I.....................
7.4.2 Analisis Switching value Pada PLTSa Skenario II...................
7.5 Perbandingan Analisis Switching value Pada Kedua Skenario..........

83
84
84
85
85
85
86
86
86
87
87
88
89
90
91
91
92
93

VIII KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan................................................................................. 95
8.2 Saran.............................................................................. 96
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 97
LAMPIRAN ............................................................................................

99

DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1.

Komposisi Rata-Rata Sampah Berdasarkan Survey National Urban


Depelopment Strategy (NUDS) Tahun 1987..........................................

2.

Potensi Sampah Di Beberapa Kota Di Sekitar DKI Jakarta Tahun 2005

3.

Timbunan Sampah Kota Bogor Tahun 2005-2007..............................

1
2
4

4.

Kontribusi Retribusi Pelayanan Kebersihan Terhadap Biaya Operasional


DLHK Tahun 2004-2007........................................................................ 6

5.

Cakupan Luasan Wilayah Pelayanan DLHK Tahun 2005-2007.......... 40

6.

Rekapitulasi Sarana Penunjang Pengelolaan Sampah Kota Bogor


Tahun 2007............................................................................................. 42

7.

Kebutuhan Tenaga Kerja PLTSa PT X Kota Bogor Tahun 2009........ 58

8.

Proyeksi Pendapatan Listrik PLTSa PT X Kota Bogor Tahun 2009... 66

9.

Proyeksi Pendapatan Debu PLTSa PT X Kota Bogor Tahun 2009..... 67

10.

Proyeksi Nilai Retribusi Sampah Kota Bogor Tahun 2009................ 68

11.

Proyeksi Pendapatan PLTSa Kota Bogor Tahun 2009........................ 69

12.

Nilai Sisa Investasi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009........................... 71

13.

Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi PLTSa Kota Bogor


Tahun 2009.............................................................................................. 73

14.

Biaya Investasi Konstruksi Pabrik Dan Transmisi Listrik PLTSa


Kota Bogor Tahun 2009.......................................................................... 73

15.

Biaya Pra-Investasi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009........................... 74

16.

Biaya Re-Investasi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009(dalam juta rupiah)

17.

Rincian Biaya Tetap untuk Tenaga Kerja PLTSa Kota Bogor


Tahun 2009.............................................................................................. 76

18.

Rincian Biaya Tetap untuk Overhead Pabrik, Kantor dan Kendaraan


PLTSa Kota Bogor Tahun 2009.............................................................. 77

19.

Rincian Biaya Variabel PLTSa Kota Bogor Tahun 2009.................... 78

20.

Perubahan Biaya Operasional PLTSa Kota Bogor Selama Proyek


Tahun 2009.............................................................................................. 79

21.

Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor Tahun 2009............ 80

22.

Proyeksi Pendapatan Tipping Fee Tahunan PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
.............................................................................................................. 83

23.

Pembayaran Angsuran Pinjaman PLTSa Kota Bogor Tahun 2009..... 88

24.

Proyeksi Pembayaran Pajak PLTSa Kota Bogor Tahun 2009............. 89

25.

Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor Tahun 2009............ 90

26.

Perbandingan Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor


Tahun 2009 Pada Kedua Skenario.......................................................... 91

75

27.

Switching Value Unit Usaha PLTSa Kota Bogor Tahun 2009 Skenario I 92

28.

Switching Value PLTSa Kota Bogor Tahun 2009 Skenario II............. 93

29.

Perbandingan Switching Value Pltsa Kota Bogor Tahun


2009 Pada Kedua Skenario.................................................................... 93

30.

Rincian Komponen Biaya Investasi Bangunan PLTSa PT X Kota Bogor 88

31.

Rincian Komponen Biaya Investasi Tranmisi Listrik PLTSa PT X


Kota Bogor.............................................................................................. 89

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Mata Rantai Sub Sistem Agribisnis.

21

2. Kerangka Operasional Penelitian............................................................ 28


3. Flowchart Analisis Aspek Teknis......................................................... 30
4. Flowchart Analisis Aspek Manajemen.................................................. 31
5. Skema Pengolahan Sampah pada Saat Pembangunan Infrastruktur
PLTSa.. 44
6. Skematik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah...................................... 46
7. Skema Urutan Proses Pada PLTSa yang dirancang............................... 48
8. Lokasi TPA dan layout PLTSa Galuga 49
9. Pola Pengangkutan Sampah Kota Bogor. 56
10.Stuktur Organisasi PT X.......................................................................... 59
11.PLTSa di Negara-Negara Maju............................................................... 99\

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1.

Rincian Komponen Biaya Investasi Bangunan PLTSa PT X


Kota Bogor.......................................................................................... 100

2.

Rincian Komponen Biaya Investasi Tranmisi listrik PLTSa PT X


Kota Bogor.......................................................................................... 101

3.

Chash Flow Skenario I........................................................................ 102

4.

Chash Flow Skenario II....................................................................... 103

5.

SV-Kenaikan Harga Penjualan Skenario I.......................................... 104

6. SV-Penurunan Harga Penjualan Skenario II.......................................... 105


7. SV-Penurunan Biaya Variabel Skenario I............................................. 106
8. SV-Kenaikan Biaya Variabel Skenario II.............................................. 107
9. SV-Kenaikan Pendapatan Retribusi Skenario I..................................... 108
10. SV-Penurunan Pendapatan Tipping Fee Skenario II............................. 109
11. Gambar PLTSa Luar Nergri................................................................... 110

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sampah telah menjadi masalah utama di kota-kota besar Indonesia. Pada


tahun 2020, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat
lima kali lipat, diantaranya sumber sampah yang terbanyak berasal dari pemukiman
dan pasar tradisional. Berdasarkan survey di Jakarta, Bogor, Bandung, dan
Surabaya pada tahun 1987, komposisi sampah rata-rata yang ada di kota-kota
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi Rata-rata Sampah Berdasarkan Survey National Urban
Development Strategy (NUDS) Tahun 1987
Uraian
Satuan
Jumlah
Volume sampah

lt/kap/hr

2-2,5

Berat sampah
Kerapatan
Kadar Air

kg/kap/hr
kg/m3
%

0,5
200-300
65-75

Sampah organic
%
75-95
Sumber : (NUDS, 2003) dalam Mengelola Sampah Kota Tahun 2007
Berdasarkan hasil survey yang dipublikasikan oleh National Urban
Development Strategy (NUDS, 2003) dalam Sudrajat (2007) rata-rata buangan
sampah kota di Indonesia adalah 0,5 per-kapita per-hari dengan mengalikan data
tersebut dengan jumlah penduduk dibeberapa kota di Indonesia maka dapat
diketahui perkiraan potensi sampah kota di Indonesia, yaitu sekitar 100.000
ton/hari. Adapun data potensi sampah kota di beberapa kota di sekitar DKI Jakarta
dapat di lihat pada Tabel 2. Saat ini Teknik pengelolaan untuk sampah di kota-kota
di Indonesia masih dilakukan secara konvensional, yaitu metode open dumping
(tumpukan) dan sanitary landfill (timbunan), pada metode tumpukan sampah
dibiarkan ditumpuk dilokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sedangkan untuk
metode timbunan sampah yang dibuang ke TPA, setelah sampah ditumpuk
kemudian sampah ditimbun dengan tanah.

Tabel 2 Potensi Sampah di Beberapa Kota di Sekitar DKI Jakarta Tahun


2005
No
Kota
Jumlah Penduduk
Potensi Sampah Kota
(jiwa)*
(ton/hari)
1 Jakarta
8.489.910
4.244,96
2 Depok
1.373.860
686,93
3 Tangerang
1.466.596
733,30
4 Bekasi
577.958
288,98
5 Bogor
844.778
422,39
6 Kab. Bogor
4.100.934
2050,47
7 Kab. Sukabumi
2.224.993
1112,50
8 Sukabumi
287.760
143,88
9 Cianjur
2.098.644
1049,32
Sumber
: Hasil Olahan Penulis berdasarkan pendekatan NUDS Tahun 2000
Keterangan : * Sumber Survey Sosial Ekonomi Daerah, BPS Tahun 2005
Pada prakteknya pengelolaan sampah secara konvensional di TPA
menimbulkan beberapa permasalahan seperti: (a) Kebutuhan lahan TPA yang cepat
meningkat akibat tidak dilakukannya proses reduksi volume sampah secara efektif,
(b) Berbagai permasalahan lingkungan dan kesehatan, mulai dari yang teringan
seperti bau yang menyengat hingga potensi sebaran penyakit di daerah sekitar
TPA1, (c) Teknik reduksi konvensional dengan cara dibakar langsung memberikan
dampak buruk ke atmosfer berupa polusi gas-gas rumah kaca dan gas beracun
lainnya. Selain itu yang paling dirugikan dan yang selama ini tidak dirasakan oleh
masyarakat adalah telah dikeluarkannya milyaran rupiah untuk membuat TPA dan
ratusan juta untuk pengelolaanya2. Melihat realita tersebut mendorong para ahli
untuk mengupayakan penyelesaian dalam menangani permasalahan sampah
perkotaan, salah satunya adalah membuat solusi bahwa sampah bisa jadi sumber

Ratusan Warga Blokade Jalan ke TPA Galuga. http:www.tempointeraktif.com. (8 Agustus 2008)

Dede Susanti. Pemkot Bogor Tetap Buang Sampah ke TPA Galuga : jumlah/besaran retribusi
untuk tahun pertama yakni mulai 25 Juli 2008 hingga 24 Juli 2009, sebesar Rp 315.000.000. http://
mediaindonesia.com. (27 Juli 2008)

energi listrik atau Waste to Energy atau yang lebih dikenal dengan PLTSa
(Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).
Pengolahan sampah kota menjadi energi listrik sudah lama dilakukan
beberapa negara terutama di belahan Eropa dan di Asia seperti Republik Rakyat
China (RRC) dan Singapura. Dengan teknik yang ramah lingkungan PLTSa dapat
berfungsi sebagai TPA. Berdasarkan perhitungan, dari 190 ton sampah atau 760 m3
sampah per hari akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 800 kwh3. Dari
pembakaran itu, selain menghasilkan energi listrik, juga memperkecil volume
sampah kiriman.
PLTSa dengan bahan bakar sampah merupakan salah satu pilihan strategis
dalam menanggulangi masalah sampah kota, karena selain berpotensi mengurangi
volume sampah secara lebih efektif, juga menghasilkan output berupa energi listrik.
Listrik ini akan membantu atau meringankan beban PLN dalam penyediaan listrik
bagi masyarakat. Saat ini Bandung sebagai ibukota Jawa Barat merencanakan
pembangunan PLTSa di wilayah Gedebage, Bandung Timur.

Namun, karena

lokasi pembangunan PLTSa berada di tengah kota banyak warga sekitar yang
menolak rencana tersebut. Proyek ini kemudian dihibahkan kepada Pemerintah
Kabupaten Bandung dengan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani 25 Juli
2007 lalu dengan nomor Pemkab Bandung: 671.2/II-DLH/2007 PLTSa tersebut
akan dibangun di TPA Babakan, Kecamatan Ciparay.
Hal yang sama terjadi di Kota Bogor sebagai salah satu bagian dari daerah
Jawa Barat yang berbatasan dengan Jakarta. Kota Bogor mengalami perkembangan
yang cukup pesat, baik dalam hal pertambahan penduduk/pemukiman juga
3

Tim Sosialisasi PLTSa Kota Bandung (BAPPEDA, BPLH, PD Kebersihan, PT. BRIL, Tim FS dan
AMDAL PLTSa ITB). PLTSa-Solusi Masalah Sampah Kota Bandung. (www.bandung.go.id)

percepatan roda ekonomi yang semuanya berhubungan langsung dengan


pertambahan sampah yang harus di tangani oleh kota Bogor. Pada Tabel 3 dapat
dilihat jumlah sampah di Kota Bogor selalu mengalami peningkatan disetiap
tahunnya. Pada tahun 2006 ke 2007 dengan luasan yang sama mengalami kenaikan
yaitu 5 m3/hari. Hal tersebut apabila tidak diimbangi dengan peningkatan prasarana
dan sarana penunjang dalam pengelolaan sampah, tidak menutup kemungkinan
timbulnya permasalahan baru, baik dari segi kebersihan lingkungan maupun
gangguan kualitas kesehatan masyarakat, sehingga pengelolaan sampah di TPA
Kota Bogor menjadi sangat penting.
Tabel 3 Timbunan Sampah Kota Bogor Tahun 2005-2007
Luas
Jumlah
Timbunan
Timbunan
Tahun
Wilayah
Penduduk
Sampah (m3/hr)
Sampah (m3/th)
2005
8.060
827.181
1.985
724.525
2006
8.177
852.762
2.205
551.305
2007
8.177
879.136
2.210
806.650
Sumber : Dinas lingkungan Hidup dan Kebersihan (2007).
1.2 Perumusan Masalah
Bogor sebagai sebuah kota yang terus berkembang, volume sampah kota
yang dihasilkan berkorelasi langsung dengan jumlah dan taraf hidup penduduk,
sehingga hal tersebut akan menjadi masalah serius bila tidak ditangani secara tepat
dan jumlah sampah yang terbuang adalah 2210 m3 per-hari. Pengelolaan sampah
saat ini menggunakan metode tumpukan terkontrol. Luas lahan TPA Galuga adalah
13,6 ha dengan luasan lahan efektif untuk pemusnahan dan pengelolaan sampah
hanya 9,8 ha. Apabila terjadi peningkatan populasi sampah menjadi 30 persen,
maka umur teknis penggunaan TPA hanya sampai tahun 2013.

Pada tahun 2005 Kota Bogor dinyatakan sebagai kota besar terkotor
bersama Bandar Lampung dan Batam4 berdasarkan penilaian Kementrian
Lingkungan Hidup yang didasarkan kepada lima kriteria yang salah satunya cara
penanganan sampah di TPA. Permasalahan TPA lain yang timbul yaitu
pemblokadean sekitar empat kilometer dari TPA Galuga oleh warga Desa Cijujung,
Kecamatan Cibungbulang. Hal ini disebabkan belasan hektar sawah dan empangan
warga rusak akibat pencemaran dari air lindi (limbah sampah) yang berasal dari
TPA. Sumur-sumur sudah tercemar dan banyak warga yang menderita gatal, hal
tersebut menjadi biaya sosial dan lingkungan yang harus dibayar oleh pemerintah
Kota menjadi pertimbangan Pemkot Bogor untuk memperbaiki cara pengelolaan
sampah di TPA.
Saat ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) sebagai institusi
yang bertanggung jawab terhadap pengelolan sampah kota hanya mampu melayani
sekitar 60 persen dari keseluruhan sampah di Kota Bogor. Biaya operasional
penanganan sampah kota yang ditangani masih disubsidi dari APBD Kota Bogor
(Tabel 4) hal tersebut akan menjadi beban bagi pemerintah kota. Rata-rata
kontribusi retribusi terhadap pelayanan kebersihan selama empat tahun kebelakang
adalah 23,59 persen dan biaya operasional yang harus dikeluarkan DLHK sebesar
Rp. 13.330.044.540, dengan nilai subsidi yang harus di keluarkan dari APBD
sebesar Rp 10,413,699,629 di setiap tahunnya.
Tabel 4 Kontribusi Retribusi Pelayanan Kebersihan Terhadap Biaya
Operasional DLHK tahun 2004-2007
Tahun
Biaya Operasional
Retribusi
Persentase (%)
2003
6.359.300.900
2.000.026.350
31,45
2004
9.160.158.000
2.542.720.160
27,76
2005
15.551.432.800
2.836.788.000
18,24
4

http://www.tempointeraktif.com. (19 Maret 2008)

2006
17.641.613.000
3.624.600.000
2007
17.937.718.000
3.577.590.045
Rata-rata
13.330.044.540
2.916.344.911
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (2007)

20,55
19,94
23,59

Masalah penyempitan lahan TPA seiring dengan meningkatnya jumlah


sampah di Kota Bogor, biaya sosial yang harus dibayarkan akibat adanya
pencemaran lingkungan serta adanya biaya operasional penanganan sampah yang
tetap harus dikeluarkan. Pembangunan PLTSa yang berlokasi di kawasan TPA
menjadi pertimbangan bagi DLHK untuk mendirikan PLTSa sebagai unit usaha
dengan tujuan pokok

memanfaatkan sumber daya sampah yang ada di Kota

Bogor. Salah satu langkah yang dilakukan DLHK adalah dengan pengajuan dana
sebesar Rp 30 miliar5 yang diambil dari dana yang sudah dicadangkan dalam
APBD. Namun, apakah dengan anggaran untuk proyek PLTSa layak untuk
dilaksanakan atau PLTSa harus menjadi suatu entitas bisnis murni di Kota Bogor.
Adanya biaya investasi yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan untuk
proyek tersebut, menyebabkan pembangunan PLTSa harus diuji kelayakannya
untuk mengetahui apakah memang usaha tersebut memberikan keuntungan,
Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah yang akan dibahas pada
penelitian ini adalah Apakah Proyek PLTSa ditinjau dari aspek teknis, aspek pasar,
aspek manajemen dan layak untuk dilaksanakan? Apakah Proyek PLTSa ditinjau
dari aspek finansial layak untuk dilaksanakan dan perubahan apakah yang
mempengaruhi kondisi kelayakan finansial tersebut?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

http://www.republika.com. (19 Maret 2008)

1) Menganalisis kelayakan proyek PLTSa ditinjau dari aspek teknis, aspek pasar
dan aspek manajemen.
2) Menganalisis kelayakan proyek PLTSa ditinjau dari aspek finansial.
3) Menganalisis kepekaan proyek PLTSa yang mempengaruhi kondisi kelayakan.
Informasi-informasi dari hasil penelitian ini menjadi referensi untuk
penelitian selanjutnya serta diharapkan memberikan solusi bagi permasalahan yang
terjadi, memberikan gambaran setiap permasalahan sebagai peluang untuk
menghasilkan output untuk menunjang program agribisnis.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Studi kelayakan ini dilakukan untuk menilai kemungkinan dibangunnya
PLTSa sebagai bahan bakar ditinjau aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen,
dan aspek finansial serta analisis switching value sebagai bahan kajian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengelolaan Sampah Kota


Semua sampah dapat dikelola baik secara direduce, reuse dan recycle.

Tentunya mendesak pihak industri untuk menggunakan bahan kimia recycle,


harganya menjadi mahal. metode reduce tidak akan mengurangi sampah melainkan

hanya menunda siklusnya saja. Pengelolaan sampah pada dasarnya mencakup lima
aspek. Lima aspek itu adalah mencegah pada sumbernya (pollution prevention),
mengurangi jumlah sampah (waste minimation), mendaur ulang (recycling),
mengolah yang tidak dapat didaur ulang (treatment) dan membuang (disposal).
Untuk prinsip pertama hingga ketiga, berkaitan erat dengan kultur masyarakat
sedangkan prinsip keempat dan kelima berkaitan dengan teknologi (Pasek, 2007).
Model pengelolaan sampah di Indonesia (Sudradjat, 2007) ada dua macam,
yaitu urugan dan tumpukan. Model pertama merupakan cara yang paling sederhana
yaitu sampah dibuang di lembah atau cekungan tanpa memberikan perlakuan, yaitu
untuk kota yang volume sampahnya tidak begitu besar. Sedangkan untuk model
pengelolaan sampah dengan tumpukan dilengkapi dengan unit saluran air untuk
buangan, pengelolaan air untuk buangan (leachatte) dan pembakaran akses gas
metan (flare). Model seperti ini sudah memenuhi persyaratan lingkungan dan
banyak diterapkan di kota-kota besar, namun sayang model tumpukan ini tidak
lengkap tergantung dari kondisi keuangan dan kepedulian pejabat daerah setempat
akan kesehatan lingkungan dan masyarakat.

2.2

Pengelolaan Sampah di Luar Negri


Menurut Sudrajat (2007) model pengelolan sampah di luar negri seperti

yang dilakukan oleh negara-negara di Eropa, Australia dan Jepang. Mereka sedang
bekerja ke arah suatu target yaitu pengurangan timbunan sampah sebanyak 75
persen, yaitu fokus pada 3R (reduce, recyle dan reuse). Pengelolaan sampah sudah
dimulai di rumah tangga, yaitu dengan memisahkan sampah organik dan sampah

anorganik, kantong sampah terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang, warna
kantung sampah dapat dibedakan antara sampah organik dan anorganik. Sampah
organik dibawa oleh truk yang memiliki drum berputar dilengkapi pisau pencacah
dan mikroba perombak bahan organik.
Menurut Pasek (2007) PLTSa di Amerika Basic Energy adalah perusahaan
di Marco Island, Florida, yang memiliki lisensi penggunaan teknologi boiler
BASIC yang diklaim telah digunakan di Amerika, Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Teknologi ini dapat memanfaatkan sampah mulai dari sampah rumah tangga,
sampah medis hingga sampah industri, sebagai bahan bakar boiler yang dapat
digunakan untuk menjalankan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Proyek
terbaru Basic Energy terdapat di Nanhai, Cina yang selesai dibangun tahun 2002,
dan di Shunde, Cina yang selesai dibangun tahun 2004. Ukuran pabrik yang
dibangun di Shunde berkapasitas 600 ton per hari sampah rumah tangga,
menggunakan dua sistem berkapasitas 300 ton per hari.
Ongkos kapital untuk pembangunan pabrik pengolah sampah penghasil
listrik (PLTSa) berukuran 1200 ton/hari diperkirakan mencapai 550 juta yuan (78,7
juta US$), sehingga dapat diperkirakan bahwa untuk kapasitas 600 ton/hari, ongkos
kapital yang diperlukan berkisar antara 40 hingga 50 juta US$, hal ini berarti
ongkos kapital per kW listrik yang dihasilkan (diperkirakan listrik yang dihasilkan
10 MW) adalah US$ 40005000 per kw dengan komponen terbesar (hampir
mencapai 50 persen) adalah sistem pembakar.
Teknologi dari Keppler Seghers berpusat di Belgia, namun demikian
perusahaan ini telah mendirikan PLTSa di Cina, Korea, Italia, dan di negaranya
sendiri Belgia. Teknologi mutakhir dari Keppel Seghers digunakan pada PLTSa di

Tuas South Singapura. Data-data yang diperoleh pada plant ini adalah: sampah
yang digunakan adalah Sampah Kota, dengan kandungan air sampah segar
sebanyak 60 persen, Pre-treatment yang dilakukan sampah dibiarkan dan diadukaduk dalam bungker selama 35 hari. Perkiraan Nilai kalor setelah pre-treatment
adalah 1000-1400 kcal/kg dengan output listrik yang dihasilkan sebesar 24 MW.
Total nilai investasi

yang dilakukan 570.000.000 Yuan, dengan temperatur

pembakaran lebih dari 850oC dan waktu start up : 20 jam, lindi yang dihasilkan :
20 persen dari kapasitas sampah. PLTSa di Cina dipelopori oleh dua perusahaan
yaitu Hangzhou Boiler dan Hangzhou New Century Energy Environmental
Protection Engineering, Co. Ltd. Sistem tungku pembakaran dirancang agar
sampah teraduk-aduk pada tungku sambil terbakar pada temperatur 850-960oC,
sampah dibiarkan pada temperatur tersebut selama lebih dari dua detik, hal ini
dilakukan untuk menguraikan dioksin.
Menurut Sudrajat (2007) pengelolaan sampah di Malaysia dengan
timbunan, hal tersebut tidak jauh berbeda seperti yang dilakukan di Indonesia.
Sementara pengelolaan sampah di Singapura memiliki manajemen yang rapi dan
diolah dengan teknologi tinggi yang dimanfaatkan untuk membuat pulau. Singapura
memiliki sistem pembakaran sampah dengan teknologi sistem kontrol digital di
lokasi tertutup. Dengan pembakaran tersebut, diperoleh panas untuk menggerakan
turbin dan pembangkit listrik. Tempat pembakaran hanya mengkonsumsi 20 persen
dari energi listrik yang dihasilkan dan sisanya 80 persen di jual.
2.3

Pengelolaan Sampah di Indonesia


Menurut Sudrajat (2007) Kota DKI Jakarta memiliki lokasi TPA di daerah

Bantar Gebang- Bekasi.

Model pengelolaan sampah dengan teknik Activated

sludge system (danau yang diberi aerasi dengan pengaduk bertenaga besar). Dalam
pelaksanaannya Pemda Jakarta membayar Royalty fee kepada Pemda Bekasi Rp 60
juta/ton sampah. Tujuan ASC agar terhindar dari bau, pemandangan yang tidak
sedap, dan kemunculan penyakit kulit dan para-paru. Namun, pada tahun 2005
penduduk sekitar TPA terserang penyakit dermatitis sebanyak 2.710 orang.
Pemisahan material organik dilakukan oleh pemulung terbukti efektif mengatasi
permasalahan sampah serta menjadi sentra ekonomi. Permasalahan lain adalah
volume sampah semakin meningkat dan tidak bisa ditampung oleh areal yang ada.
Bandung memiliki lokasi di banyak TPA, seperti Beberapa daerah sempat
dijadikan TPA (yaitu Jelekong, Cicabe, Cikubang, dan yang terakhir Sarimukti),
namun semuanya hanya bersifat sementara karena keterbatasan kapasitas lahan.
Pada awalnya setelah tragedi longsoran sampah di TPA Leuwigajah pada tahun
2004, Pemkot Bandung sudah merencanakan pengelolaan sampah dengan cara
pembakaran untuk menghasilkan listrik, namun karena permasalahan tempat yang
masih mendapat penolakan dari masyarakat Gedebage, proyek tersebut di hibahkan
ke Pemkab Bandung. PLTSa merupakan proses pembakaran pada tungku pemanas
air dengan tujuan memanfaatkan uap air untuk menggerakan turbin, Teknologi
PLTSa mirip dengan teknologi PLTU pada umumnya, perbedaan hanya pada
sistem tungku pembakarannya. Berdasarkan studi yang dilakukan Tim LPPM ITB,
PLTSa dapat dikembangan di Indonesia, dengan alasan sebagai berikut:
1) Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (WTE) dengan teknologi yang moderen
telah banyak digunakan di negara-negara Asia Tenggara, Asia, Eropa, dan
Amerika. Sampah Kota Bogor memliki karakter yang relatif sama dengan

sampah Kota Bandung sehingga sampah tersebut dapat dijadikan bahan bakar
untuk pembangkit listrik (PLTSa).
2) Teknologi PLTSa yang digunakan pada umumnya sudah dilengkapi dengan
pengolahan emisi gas buang, dan limbah lainnya beserta sistem monitoringnya,
sehingga tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Sistem kendali pembakaran
dan sistem pengolahan gas buang yang digunakan di PLTSa menghilangkan
secara signifikan dampak-dampak buruk terhadap lingkungan. Oleh sebab itu
PLTSa berikutnya bisa diletakan di daerah kota dekat dengan sumber
sampahnya seperti yang ada dilakukan di Singapura, kota-kota di Cina dan
Eropa.
3) Agar tidak mencemari lingkungannya emisi dan limbah dari PLTSa Bogor

harus memenuhi baku mutu emisi dan effluent. Apabila belum ada ketentuan
dari Pemerintah Indonesia mengenai hal tersebut, maka dapat digunakan baku
mutu yang digunakan di Cina, Amerika atau Eropa.
4) Teknologi PLTSa yang tersedia mempunyai Teknologi yang dapat membakar

sampah Bogor yang berkadar air tinggi (70-80 persen), dan benilai kalor rendah
(800 kkal/kg), pada suhu antara 850oC sampai 900oC sesuai dengan yang
persyaratan untuk memusnahkan gas beracun seperti dioksin.
5) Sampah kota Bogor yang dapat ditangani oleh DLHK Kota Bogor dan dapat
dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Kota (PLTSa) adalah
sebanyak 250 ton/hari. Jumlah tersebut merupakan jumlah sampah yang telah
dikurangi dengan sampah yang diambil oleh pemulung, pakan ternak dan
industri kompos (jumlah netto).

6) Proses pemisahan dan pengambilan beberapa komponen sampah sudah


dilakukan oleh pemulung sejak ditingkat rumah, di tingkat RW dan di TPS.
Sebagian besar jenis plastik, kertas, logam, pipa PVC dan bahan-bahan lain
yang masih mempunyai nilai ekonomi akan tereliminasi dari sampah yang akan
digunakan di PLTSa. Dengan demikian sebagian besar sampah yang akan
digunakan di PLTSa adalah sampah organik dengan potensi racun yang relatif
lebih rendah.
7) Pengaturan jenis komponen yang dikirim ke PLTSa dapat lebih dikendalikan
dengan meningkatkan aktivitas 3 R di tingkat RW dan TPS, sehingga sampah
yang dikirim ke PLTSa mempunyai potensi racun yang lebih rendah lagi. Hasil
pembakaran

dapat

memenuhi

persyaratan

emisi

gas

buang

yang

aman/memenuhi standar emisi Indonesia. Berdasarkan hal-hal tersebut secara


umum dari tinjauan Teknologi dapat disimpulkan Teknologi PLTSa adalah
layak untuk digunakan sebagai pemusnah sampah kota Bogor dan kota-kota
lainnya di Indonesia.
Menurut Sudrajat (2007) Kota Surabaya memiliki TPA di daerah Sukolilo
dan Sidoharjo, dalam pengelolaan sampahnya dinas kebersihan dari Pemkot
Surabaya memiliki unit Incinerator

(mesin pembakar dari Inggris). Pada

kenyataanya di TPA Sukolilo, aplikasi Incinerator kurang sesuai karena kadar air
sampah di Indonesia sangat tinggi (lebih dari 80 persen). Untuk TPA Sidoharjo,
dalam pengelolaannya di TPA tersebut Salinitasnya telah

menghambat kerja

aktivitas kerja mikroba, air buangan dapat mengotori/merusak perairan terdekat.


Pengelolaan sampah untuk kota Solo, sampah yang terkumpul di alokasikan
ke TPA Mojosongo yang memiliki model tumpukan, sampah yang telah menjadi

kompos dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat. Hewan ternak yang


dilepas di areal TPA, pada tahun 1995 mencapai 1000 ekor. Di setiap pagi puluhan
truk-truk parkir di sepanjang TPA untuk mengagkut kaleng, alumunium, besi,
plastik dan kertas/karton. Yogyakarta memiliki tumpukan yang dilengkapi dengan
unit pengolahan sampah masinal (mesin) yang dikelola oleh Pemda setempat.
Bogor memiliki TPA yang berlokasi di Desa Galuga, model yang dipilih adalah
dengan tumpukan. Curah hujan yang tinggi, menyebabkan pembusukan berjalan
lambat Incinerator dari Prancis mengalami kegagalan seperti di Surabaya. Untuk
kota seperti Kuningan, Sumedang, Garut, Ciamis dan Tasikmalaya sistem
pengelolaan sampahnya hanya dengan urugan, dimana sampah yang terkumpul di
buang ke lembah.
2.4

Pengolahan Sampah Menjadi Tenaga Listrik (PLTSa)


Nilai konversi sampah menjadi energi menurut Sudrajat (2006), setiap ton

sampah organik (40-60 persen) menghasilkan 140-200 m3 biogas dengan


kandungan metan (CH4) 55 persen sama dengan 250-300 kwh listrik. Sedangkan
potensi sampah organik kota bogor berdasarkan penelitian Puslitbang Hasil Hutan
(1990) dengan menggunakan teknologi Draco, seluruh sampah kota bogor pada
tahun 2001 menghasilkan listrik sebesar 22.750 kwh atau sekitar satu MW.
Teknologi pembakaran (Incinerator) dihasilkan produk samping

berupa

logam bekas (skrap) dan uap yang dapat dikonversikan menjadi energi
listrik. Keuntungan lainnya dari penggunaan alat ini adalah dapat mengurangi
volume sampah 75-80 persen dari sumber sampah tanpa proses pemilahan,
abu atau terak dari sisa pembakaran cukup kering dan bebas dari pembusukan dan
langsung dapat dibawa ke tempat penimbunan untuk lahan kosong, rawa

ataupun

daerah rendah sebagai bahan pengurug, dan pada instalasi yang

cukup besar

dengan kapasitas 300 ton/hari dapat dilengkapi

pembangkit listrik
dapat dimanfaatkan

dengan

sehingga energi listrik (96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan


untuk menekan biaya proses (Dinas Kebersihan DKI

Jakarta, 1985)6.
Menurut Pasek, (2007) PLTSa adalah suatu teknologi pengolahan sampah
dengan cara dibakar pada temperatur konstan 850-900oC yang dilengkapi boiler
dan kemudian disalurkan ke pengolah lindi yang semuanya dibuat kedap air.
Teknologi PLTSa memenuhi salah satu 1R dan konsep pemusnahan sampah 4 R
yaitu recovery. Sisa pembakaran berupa abu dan debu terbang akan ditampung dan
diproses dengan sisa gas bakar akan melalui serangkaian pemrosesan pengolahan
gas buang. Sisa pembakaran berupa abu dan debu terbang sebesar 20 persen dari
berat atau 5 persen dari volume sampah basah. Abu dan debu akan digunakan
sebagai material untuk membuat jalan dan fly ash (debu terbang) digunakan sebagai
bahan campuran bagi material bangunan misalnya campuran semen atau batako.
Alat pembakar atau incinerator telah digunakan lebih dari 30 tahun yang
lalu, pembakaran dilakukan di atas temperatur 850 oC dan dilengkapi dengan
pengolahan gas racun sehingga kadar dioksin dan gas beracun lainnya yang
teremisi ke udara lebih rendah dari PLTU Batu bara. Sampah akan terbakar tanpa
bantuan bahan bakar tambahan. Namun, tungku pembakaran dilengkapi dengan
burner berbahan bakar minyak. Pada keadaan normal, burner hanya beroperasi
pada waktu start up dan shut down. Setelah digunakan lebih dari 20 tahun diseluruh
dunia belum ada korban pencemaran dioksin dan gas beracun lainnya.
6

Clara Tiwow, et al. Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS07). Program pasca sarjana/S3. IPB.
http ://www.ipb.ic.(4 April 2008)

2.5 Kajian Empiris


2.5.1 Pengelolaan Sampah di Kota Bogor
Kajian empiris mengenai pengelolaan sampah di Kota bogor telah banyak
dibuat diantaranya oleh Aida, Mujahidawati, Qomariyah dan Yudianto. Intisari dari
para penulis tersebut sebagai berikut:
1) Mujahidawati (2005), Penelitian yang diambil berjudul Pengembangan Model
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dengan Pengomposan di Kota Bogor.
Tujuan dari penelitiannya adalah rekayasa model pengelolaan sampah rumah
tangga di tiga kategori pemukiman di Kota Bogor, merancang paket komputer
sebagai prototipe penunjang keputusan untuk pendirian usaha daur ulang
sampah rumah tangga untuk produksi kompos dan menilai kelayakan usaha
yang meliputi peramalan dan analisis finansial.
2) Qomariyah (2005), meneliti tentang Analisis Willingness to Pay (WTP) dan
Willingness to Accept (WTA) Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah
(Kasus TPA Galuga, Cibungbulang, Bogor. Tujuan dari penelitiannya adalah
untuk mengidentifikasi karakteristik masyarakat Kota Bogor dan masyarakat
Galuga serta presepsi masyarakat kota Bogor terhadap keberadaan sampah dan
masyarakat Galuga terhadap keberadaan TPA, mengidentifikasi faktor-faktor
yang mempengaruhi kesediaaan dan ketidaksediaan masyarakat Kota Bogor
dalam membayar retribusi kebersihan dan masyarakat Galuga dalam menerima
kompensasi, mengestimasi besarnya WTP masyarakat Kota Bogor terhadap
peningkatan retribusi kebersihan dan WTA masyarakat Galuga terhadap
penerimaan kompensasi dengan pendekatan Contingent Valuation Method
(VCM). Kesimpulan dari penelitiaanya adalah : Besarnya nilai rata-rata WTP

Rp 4.577,78 per-bulan, sedangkan berdasarkan WTA adalah Rp 3.572.500,00


perbulan.
3) Yudiyanto (2007), meneliti tantang Analisis Sistem Pengelolaan Sampah
Pemukiman di Kota Bogor. Tujuan dari penelitiannya adalah merumuskan
skenario strategi pengelolaan sampah pemukiman di Kota Bogor, yang dimulai
dengan melakukan analisis kondisi sistem pengelolaan sampah pemukiman saat
ini dan mengidentifikasi faktor-faktor strategis penting masa depan dalam
pengembangan sistem tersebut. Alat analisis yang digunakan adalah analisis
prilaku rumah tangga dengan menggunakan t-student, Mann-Wihtney dan
korelasi Rank Spearmans serta analisis prospektif. Hasil dari penelitian adalah
faktor tingkat pendapatan masyarakat memberikan pengaruh yang nyata
terhadap prilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman.
Penelitian yang dilakukan memiliki beberapa persamaan dan perbedaan
dengan penelitian terdahulu. Penelitian yang dilakukan memiliki persamaan dengan
penelitian terdahulu berupa produk yang dikaji yaitu sampah secara umum (sampah
Kota Bogor) namun, output akhir yang dihasilkan berupa listrik adalah mata rantai
akhir dalam pengelolaan sampah dengan memanfaatkan teknologi yang paling baru
yang diterapkan di Indonesia.

2.5.2

Studi Kelayakan Usaha


Kajian empiris mengenai studi kelayakan seperti dalam Aida (1996),

Ratnawati (2002), Rohmawati (2007), Oktawidya (2008) pada masing-masing


penelitian menganalisis aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, serta analisis
terhadap aspek finansial.

Aida (1996), penelitian yang diambil berjudul Usaha Pemanfatan Barang


Bekas dari Sampah dan Pengaruhnya Terhadap Pengelolaan Sampah di Kotamadya
Bogor (Studi Kasus TPA Gunung Batu). Tujuan penelitiannya adalah mempelajari
aktivitas pemulung dan besarnya pengaruh aktivitas tersebut terhadap kualitas dan
kuantitas sampah serta mengidentifikasi kemungkinan pengembangan usaha
melalui bisnis barang bekas. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif
dan analisis kelayakan (Break Even Point). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
aktivitas yang dilakukan oleh pemulung meliputi aktifitas mengumpulkan barang
bekas dari sampah, menyeleksi dan menjualnya ke penampung serta melakukan
aktifitas sehari-hari. Net B/C rasio sebesar 1,86, berarti usaha pemanfaatan barang
bekas dari sampah mempunyai peluang yang layak untuk dikembangkan.
Hasil analisis untuk aspek teknis

dalam penelitian Ratnawati (2002),

Rohmawati (2007) dan Oktawidya (2008) dinyatakan layak karena seperti menurut
Husnan dan Suwarsono (2000) suatu kelayakan usaha secara teknis dikatakan layak
apabila, teknologi proses dapat dilaksanakan, bahan baku tersedia serta lokasi
cocok dengan produk yang dihasilkan. Untuk aspek pasar, keberadaan konsumen di
sekitar lokasi usaha menjadikan aspek pasar layak. Untuk aspek manajemen,
masing-masing penelitian dikatakan memiliki stuktur organisasi yang sederhana,
hal ini karena pada masing-masing bagian memiliki kewenangan untuk mengambil
keputusan. Sedangkan untuk aspek finansial pada masing-masing usaha sudah
layak, karena biaya investasi dan operasional dapat tertutupi dari produk yang
dihasilkan.
Penelitian yang dilakukan memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu
berupa analisis fiansial, analisa terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek

manajemen dan yang membedakan adalah produk yang dikaji oleh penulis berupa
produk sampah sebagai produk publik, sehingga ada kemungkinan campur tangan
pemerintah agar usaha yang diteliti penulis menjadi layak diusahakan.

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kaitan PLTSa dengan Agribisnis
Agribisnis adalah semua kegiatan di sektor pertanian dimulai dari
penyediaan sarana produksi, proses produksi, penanganan pasca panen/pengolahan,

dan pemasaran, sehingga produk tersebut sampai ke konsumen. Hal ini menjadikan
Agribisnis sebagai suatu sistem karena merupakan lima perangkat unsur yang
secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Berdasarkan
uraian diatas PLTSa termasuk kedalam Agribisnis, hal ini didasari karena sampah
kota sebagai input PLTSa terdiri dari sampah organik dengan komposisi antara
75-95 persen.
Pada sistem agribisnis PLTSa berada pada subsistem hilir karena input yang
diolah pada PLTSa berasal dari output sampingan dari usaha tani (sampah organik).
PLTSa juga dapat dikatakan sebagai agroindustri karena PLTSa merupakan industri
pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah)
dari produk pertanian walaupun dalam hal ini produk pertanian yang diolah
merupakan output sampingan (sampah organik). PLTSa menghasilkan produk
sampingan berupa debu. Pada sektor pertanian debu dapat dijadikan sebagai media
tanam, sehingga dalam subsistem agribisnis debu dapat dijadikan sarana penunjang
pertanian. Hal ini menjadikan debu sebagai bagian dari subsistem hulu dalam
sistem agribisnis.
Seperti pada subsistem agribisnis yang lain, PLTSa membutuhkan sarana
penunjang.

Subsistem

Penunjang

pada

PLTSa

diantaranya

adalah

Perbankan/perkreditan, Penyuluhan Agribisnis, Infrastruktur agribisnis, BUMN,


Swasta, Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, Transportasi dan
Kebijakan Pemerintah.
Keberadaan PLTSa dalam agribisnis merupakan backward linkage dari
usahatani atau industri PLTSa muncul karena input dari PLTSa mempergunakan
hasil produksi budidaya/industri sebelumnya. Output utama dari PLTSa adalah

listrik dan output sampingan berupa debu. Output listrik tidak berperan dalam
agroindustri secara langsung. Namun, apabila output debu dapat dimanfaatkan
sebagai media tanam bagi pertanian sekitar maka PLTSa dapat disebut Forward
linkage dari usahatani, melihat hal tersebut PLTSa memiliki interaksi dua arah
dalam agribisnis. Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat dilihat
pada Gambar 1 diataranya adalah sebagai berikut :

Penyediaan
Sarana Produksi

Limbah
Pertanian

Pengolahan Limbah Pertanian


menjadi PLTSa

Pemasaran
Listrik dan
Debu

Sarana Penunjang :
Bank, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Transportasi, Pasar dan
Pelaturan Pemerintah

Gambar 1. Mata Rantai atau Subsistem Agribisnis


3.2 Analisis Proyek
Alasan dilakukan analisis terhadap proyek adalah untuk melihat atau
menilai manfaat yang diperoleh akibat

adanya biaya yang dikeluarkan dan

membandingkan dengan situasi tanpa proyek. Dari analisa tersebut dapat diketahui
apakah proyek tersebut layak dilaksanakan atau mempertahankan kegiatan yang
biasa berjalan tersebut. Proyek menurut Gray et al (1992) adalah suatu kegiatan
yang direncanakan dan dilaksakan dalam satu bentuk kesatuan dengan
mempergunakan sumber-sumber untuk memperoleh manfaat berupa penambahan
kesempatan kerja atau perbaikan suatu sistem. Sedangkan menurut Gittinger
(1986), proyek pertanian didefinisikan suatu kegiatan investasi dibidang pertanian
yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang kapital yang dapat

menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode waktu. Dan


membagi

aspek-aspek

penilaian

proyek,

diataranya

aspek

teknis,

aspek

institusional-organisasi-manejerial, aspek pasar, aspek finansial dan aspek ekonomi.


Analisis terhadap aspek finansial dilakukan untuk melihat apakah proyek
tersebut mampu memenuhi kewajiban finansial ke dalam dan ke luar perusahaan
serta dapat mendatangkan keuntungan yang layak bagi perusahaan atau pemiliknya
(Husnan dan Suwarsono, 2000). Dalam aspek finansial ditentukan jumlah dana
modal tetap dan modal awal kerja yang dibutuhkan, stuktur permodalan, pinjaman
yang diharapkan dan persyaratan serta kemampuan proyek memenuhi kewajiban
finansial. Semua aspek tersebut harus dipertimbangkan secara bersama-sama untuk
menentukan manfaat-manfaat yang diperoleh dari suatu investasi. Secara umum
aspek-aspek tersebut adalah :
3.2.1

Aspek Teknis
Aspek

teknis

merupakan

aspek

yang

berkenaan

dengan

proses

pembangunan proyek secara teknis dan operasi setelah proyek tersebut selesai
dibangun (Husnan dan Suwarsono, 2000). Aspek tesebut menyangkut kaitan antara
faktor produksi input dan hasil produksi (output) yang akan menguji hubungan
teknis dalam suatu proyek, sehingga dapat diidentifikasi perbedaan yang ada dalam
informasi yang harus dipenuhi baik sebelum maupun sesudah perencanaan proyek
atau pada tahap awal pelaksanaan proyek.
3.2.2

Aspek Pasar
Analisis terhadap aspek pasar menurut Husnan dan Suwarsono (2000)

ditujukan untuk mendapatkan gambaran mengenai jumlah pasar potensial yang

tersedia dan dalam jumlah pangsa pasar yang dapat diserap proyek tersebut dimasa
datang dan strategi pemasaran yang digunkan untuk mencapai pangsa pasar yang
telah ditetapkan. Analisis aspek pasar menurut Gittinger (1989) terdiri dari rencana
pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang
dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek.
3.2.3 Aspek Manajemen
Menurut Kadariyah dan Karlina (1976), analisis terhadap aspek manajemen
dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan staf dalam
melaksanakan proyek. Dalam aspek ini perlu di kaji stuktur organisasi yang sesuai
dengan proyek yang direncanakan sehingga diketahui jumlah kebutuhan, kualifikasi
dan deskripsi tugas individu uantuk mengelola proyek.
3.3 Teori Manfaat dan Biaya
Dalam suatu analisis finansial, biaya yang umumnya digunakan adalah
biaya langsung yaitu biaya operasional, biaya investas dan biaya lainnya. Manfaat
lebih berupa nilai produksi total, pinjaman, nilai sisa, dan pendapatan lainnya.
Secara umum menurut Gittinger (1989), analisis biaya manfaat merupkan suatu
analisis yang ditujukan untuk melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan dan
manfaat yang akan diterima pada suatu kegiatan ekonomi. Analisis ini dapat
membantu dalam pengambilan keputusan mengenai pengalokasian sumber daya
yang langka. Menurut Kadariah dan Karlina (1999), manfaat dapat dibagi menjadi
tiga bagian yaitu :
1) Manfaat langsung (direct benefit) yang diperoleh dari adanya kenaikan nilai
output, fisik, dan penurunan biaya.

2) Manfaat tidak langsung (indirect benefit) yang disebabkan oleh adanya proyek
tersebut biasanya dirasakan oleh orang tertentu serta masyarakat berupa adanya
efek ganda, skala ekonomi yang lebih besar dan adanya dynamic secondary
effect, misalnya perubahan dalam produktivitas tenaga kerja.
3) Manfaat yang tidak dapat dilihat dan sulit dinilai dengan uang (intangible
effect), misalnya perbaikan lingkungan hidup.
3.4 Analisis Finansial
Analisis finansial merupakan analisis manfaat biaya yang berpusat pada
hasil pada modal yang ditanamkan pada proyek dan merupakan penerimaan
langsung bagi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam mengsukseskan proyek
tersebut (Kadariah dan Karlina, 1976). Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk
melihat suatu hasil kegiatan investasi. Sehingga perlu diperhatikan hasil dari modal
yang tertanam dalam proyek.
Analisis

finansial

didasarkan

pada

keadaan

sebenarnya

dengan

menggunakan data harga yang ditemukan di lapangan. Dengan mengetahui hasil


analisis finansial, para pembuat keputusan dapat melihat apa yang terjadi pada
proyek dalam keadaan yang sebenarnya dan para pembuat keputusan juga dapat
segera melakukan penyesuaian apabila proyek berjalan menyimpang dari rencana
semula. Salah satu cara untuk melihat kelayakan dari analisis finansial adalah
dengan menggunakan metode cash flow analysis (Gittinger, 1986). Cash flow
anlysis dilakukan setelah komponen-komponennya ditentukan dan diperoleh
nilainya. Komponen tersebut dikelompokan dalam dua bagian yaitu penghasilan
atau manfaat dan komponen biaya.

3.5 Kriteria Analisis Kelayakan Investasi


Studi kelayakan investasi adalah penelitian tentang dapat atau tidaknya
suatu proyek investasi dilaksananakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono,
2000). Studi kelayakan investasi diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah,
terutama bagi perekonomian nasional sehingga dapat menambah devisa dan
perluasan kesempatan kerja. Kriteria-kriteria yang digunakan dalam melakukan
suatu evaluasi terhadat investasi proyek adalah Net Presen Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Payback Period.
3.5.1

Net Present Value (NPV)


NPV adalah metode untuk menghitung selisih antara nilai sekarang

investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional


maupun internal cash flow) dimasa yang akan datang (Husnan dan Suwarsono,
2000). Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat
bunga yang dianggap relevan. Proyek dianggap layak apabila nilai NPV lebih besar
atau sama dengan nol, yang berarti proyek tersebut minimal telah mengembalikan
sebesar opportunity cost faktor produksi modal.
3.5.2

Internal Rate of Return (IRR)


IRR adalah tingkat bunga yang apabila dipergunakan untuk mendiskontokan

seluruh kas masuk pada tahun-tahun operasi proyek akan menghasilkan jumlah kas
yang sama dengan investasi proyek (Kadariah dan Karlina, 1976). Proyek dikatakan
layak apabila IRR lebih besar dari tingkat diskonto yang dianggap relevan dan
dinyatakan tidak layak apabila IRR lebih kecil dari tingkat diskonto.
3.5.3

Net Benefit Cost (Net B/C)

Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah present value yang
poisitif dengan jumlah present value yang negatif, artinya metode ini berguna untuk
menghitung antara nilai penerimaan-penerimaan kas sekarang dengan nilai
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Proyek dikatakan
layak jika Net B/C lebih besar dari satu dan tidak layak jika Net B/C lebih kecil dari
satu. Jika Net B/C sama dengan satu maka keputusan diserahkan kepada pihak
manajemen.
3.5.4

Payback Period
Payback period yaitu penilaian kelayakan investasi dengan mengukur

jangka waktu pengembalian investasi. Semakin cepat waktu pengembalian


investasi, maka semakin baik untuk diusahakan.
3.6 Switching Value
Suatu proyek pada dasarnya menghadapi suatu ketidakpastian karena
dipengaruhi perubahan-perubahan, baik dari sisi penerimaan atau pengeluaran yang
akhirnya akan mempengaruhi tingkat kelayakan proyek.
Suatu variasi dari analisis sensitivitas adalah nilai pengganti (switching
value). Menurut Gittinger (1986), pengujian ini dilakukan sampai dicapai tingkat
minimum dimana proyek dapat dilaksanakan dengan menentukan berapa besarnya
proporsi manfaat yang akan turun akibat manfaat bersih sekarang menjadi nol
(NPV=0). NPV sama dengan nol akan membuat IRR sama dengan tingkat suku
bunga dan Net B/C sama dengan satu. Analisis dilakukan pada perubahan harga
input dan output yang terdiri dari empat perubahan harga, yaitu: 1) Penurunan

harga output. 2) Kenaikan biaya total. 3) Kenaikan biaya investasi. 4) Kenaikan


biaya operasional.
3.6

Kerangka Pemikiran Operasional


Perkembangan kota Bogor mendorong pertumbuhan penduduk dan

perkembangan industri serta pembangunan fasilitas pendukung kota. Total jumlah


sampah Kota Bogor yang terbuang 2.210 m3 dengan komposisi 75-95 persen
adalah sampah organik. Dampak perkembangan tersebut adalah adanya masalah
penyempitan lahan TPA seiring dengan meningkatnya jumlah sampah di Kota
Bogor. Biaya sosial yang harus dibayarkan akibat adanya pencemaran lingkungan
serta adanya biaya operasional penanganan sampah yang tetap harus dikeluarkan
sehingga, pembangunan PLTSa yang berlokasi di kawasan TPA menjadi
pertimbangan bagi DLHK untuk mendirikan PT X.
PT X sebagai unit usaha dengan tujuan pokok memanfaatkan sumber daya
sampah yang ada di Kota Bogor. Salah satu langkah yang dilakukan DLHK adalah
dengan pengajuan dana sebesar Rp 30 miliar7 yang diambil dari dana yang sudah
dicadangkan dalam APBD. Namun, apakah dengan anggaran untuk proyek PLTSa
layak untuk dilaksanakan atau PT X harus menjadi suatu entitas bisnis murni di
Kota Bogor.
Adanya biaya investasi yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan untuk
proyek tersebut, menyebabkan pembangunan PLTSa harus diuji kelayakannya.
Apakah memang usaha tersebut memberikan keuntungkan bagi Kota Bogor.
Analisis kriteria investasi sangat penting untuk melihat kelayakan pelaksanaan
pembangunan PLTSa. Aspek-aspek kelayakan dipaparkan secara deskriptif untuk
7

http://www.republika.com. (19 Maret 2008)

mendukung kelayakan proyek. Aspek-aspek tersebut antara lain aspek teknis, aspek
pasar, aspek manajemen dan aspek finansial di analisis kuantitatif. Dengan
demikian dapat dilihat secara keseluruhan pengelolaan sampah dengan adanya
pembangunan PLTSa, apakah proyek tersebut layak atau tidak dilaksanakan.
Analisis swicthing value dilakukan untuk melihat sejauh mana kepekaan proyek,
jika terjadi perubahan terhadap komponen biaya dan manfaat. Kerangka pemikiran
operasional dapat dilihat pada Gambar 2.
Volume sampah Kota Bogor 2.210 m3/hr :
- Biaya operasional terlalu tinggi
- Penyempitan lahan TPA
- Pencemaran lingkungan dan kesehatan

Pembangunan
PLTSa
Aspek: Teknis, Pasar, Manajemen dan Finansial
(NPV, IRR, Net B/C, Pay Back Priod)
serta Swiching Value

Analisis Kelayakan Usaha

Tidak Layak

Layak

Rekomendasi

Gambar 2. Kerangka Operasional Penelitian


Keterangan :
------- Ruang Lingkup Penelitian
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1

Lokasi dan waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di kota Bogor, dengan spesifikasi tempat terkait data


penelitian yaitu TPA Galuga, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Pemilihan lokasi secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa
DLHK salah satu institusi yang mempunyai peluang untuk membuat unit usaha,
dengan harapan output yang dihasilkan dapat mengurangi biaya operasional.
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-November 2008.

4.2

Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data

sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan Koordinator dari tim
pelaksanaan Studi Kelayakan PLTSa Kota Bandung untuk rekomendasi
pembangunan PLTSa Kota Bogor. Data sekunder diperoleh dari Laporan yang
dibuat pada tahun 2007-2008 diantaranya diterbitkan oleh LPPM ITB mengenai
Hasil Studi PLTSa Kota Bandung dan PLTSa Kabupaten Bandung, modul DLHK
tentang Penanganan Penataan Sarana dan Prasarana TPA Galuga Kota Bogor serta
penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan yang
berhubungan dengan Pengolahan Sampah dan PLTSa, baik itu data kualitatif
ataupun kuantitatif seperti biaya investasi maupun biaya operasional.
4.3

Metoda Pengolahan dan Analisis Data


Data dan informasi yang telah dikumpulkan, diolah dengan bantuan

komputer. Data dan informasi dikelompokan terlebih dahulu ke dalam komponen


arus biaya dan manfaat, disajikan dalam bentuk tabulasi yang digunakan untuk
mengklasifikasikan data yang ada serta untuk mempermudah proses analisis data.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai pelaksanaan


pengolahan sampah kota seperti aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen serta
aspek sosial. Sedang analisisi kuantitatif digunakan untuk menganalisis kelayakan
finansial pembangunan PLTSa yang diolah dengan Software Microsoft Excel.
4.4

Analisis Aspek Teknis


Aspek teknis dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran

mengenai pemilihan lokasi, kapasitas produksi, pemilihan teknologi proses dan


peralatan, Penentuan kapasitas produksi disesuaikan berdasarkan jumlah sampah
kota sebagai bahan baku. Penggunaan mesin dan peralatan disesuikan dengan
teknologi proses yang dipilih. Analisis ini dapat dilihat pada Gambar 2.

Pemilihan
lokasi sesuai
dengan TPA

Informasi
mengenai
teknologi
yang ada

Pemilihan teknologi
proses, bentuk instalasi
dan peralatan yang
paling optimal serta
memungkinkan

Penentuan
kapasitas
produksi

Gambar 3. Flowchart Analisis Aspek Teknis

4.5

Analisis Aspek Pasar


Analisis yang dilakukan pada aspek ini adalah menganalisis potensi pasar

listrik dan hasil ikutannya berupa abu, karena yang dihasilkan merupakan
kebutuhan pokok masyarakat perkotaan, analisis potensi pasar dengan bauran
pemasaran yang ada seperti Product, Price, Place, Promotion dan Distribution.
4.6

Analisis Aspek Manajemen


Kajian terhadap manajemen meliputi pemilihan bentuk perusahaan untuk

unit usaha DLHK (Perusahaan X) dan stuktur organisasi yang sesuai, kebutuhan

tenaga kerja serta deskripsi tugas masing-masing jabatan. Analisis dapat dilihat
pada Gambar 3.
- Tujuan perusahaan
- Perkiraan investasi
- Data Kapasitas Produksi
- Teknologi proses yang digunakan

Bentuk
usaha yang
dipilih

Membuat kebutuhan
tenaga kerja, job
descriptions serta
spesifikasi kerja

Menyusun
Stuktur
organisasi

Gambar 4. Flowchart Analisis Aspek Manajemen


4.7

Analisis Aspek Finansial


Penerapan kelayakan investasi dilakukan dengan membandingkan antara

besarnya biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diterima dalam suatu proyek
investasi untuk jangka waktu tertentu. Analisis investasi dilakukan dengan terlebih
dahulu menyusun aliran tunai. Dalam analisis finansial diperlukan kriteria investasi
yang digunakan untuk melihat kelayakan suatu usaha. Sebagai kriteria investasi
digunakan beberapa indikator kelayakan investasi yaitu: Net Present Value (NPV),
Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Payback Period,
Analisis Switching Value.
4.7.1

Net Present Value (NPV)


Net Present Value (NPV) dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus

pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi (Husnan dan Suwasono, 2000). NPV
menunjukan keuntungan yang akan diperoleh selama umur investasi, merupakan
jumlah nilai penerimaan arus tunai pada waktu sekarang dikurangi dengan biaya

yang dikeluarkan selama waktu tertentu, rumus yang digunakan dalam perhitungan
NPV adalah sebagai berikut :

NVP =

Bt Ct

(1 + i )
t= 0

Sumber : Gittinger, 1986


Keterangan

:
Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t
Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t
n = Umur ekonomis proyek
i = Tingkat suku bunga (%)
t = Tahun investasi (t=0,1,2.....n)

dalam metode NPV terdapat tiga kriteria kelayakan investasi, yaitu :


1) NPV > 0, arttinya secara finansial usaha layak dilaksanakan karena manfaat
yang diperoleh lebih besar dari biaya.
2) NPV = 0, artinya secara finansial usaha sulit dilaksanakan karena manfaat
yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan.
3) NPV < 0, artinya secara finansial usaha tidak layak untuk dilaksanakan
karena manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan.
4.7.2

Internal Rate of Return (IRR)


IRR adalah nilai discount rate yang memuat NPV dari suatu proyek sama

dengan nol, Internal Rate of Return adalah tingkat rata-rata keuntungan tahunan
dinyatakan dalam persen (Gittinger, 1986). Pada saat nilai IRR lebih besar dari nilai
diskonto yang berlaku, maka proyek layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika

nilai IRR lebih kecil dari nilai diskonto maka proyek tersebut tidak layak untuk
dilaksanakan.
Rumus yang digunakan dalam menghitung IRR adalah sebagai berikut :

IRR = i1 + ( i2 i1 )

NVP1
NVP1 NVP2

Sumber : Gittinger, 1986


Keterangan :
NPV1 = NPV yang bernilai positif
NPV2 = NPV yang bernilai negatif

4.7.3

i1

= Tingkat bunga yang menghasilkan NPV1

i2

= Tingkat bunga yang menghasilkan NPV2

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio)


Net B/C ratio merupakan angka perbandingan antara nilai arus manfaat

sekarang dibagi dengan nilai arus biaya sekarang. Rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut :
n

Net B

Bt Ct

(1 + i )
B C
(1 + i )
t

t= 0
n

t= 0

> 0
< 0

Sumber : Gittinger, 1986


Keterangan :
Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t
Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t
n = Umur ekonomis proyek
i = Tingkat suku bunga (%)

t = Tahun investasi (t=0,1,2.....n)


Angka tersebut menunjukan tingkat besarnya manfaat pada setiap tambahan
biaya sebesar satu satuan uang. Kriteria yang digunakan untuk pemilihan ukuran
Net B/C ratio dari manfaat proyek adalah memilih semua proyek yang nilai B/C
rationya sebesar satu atau lebih, jika manfaat diskontonya pada tingkat biaya
opportunitis capital (Gittinger, 1986) tetapi jika nilai net B/C ratio<1, maka proyek
tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.
4.7.4

Payback Period
Payback period merupakan jangka waktu periode yang dibutuhkan untuk

membayar kembali semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan di dalam investasi


suatu proyek. Semakin cepat waktu pengembalian, maka semakin baik proyek
tersebut untuk diusahakan. Namun, analisis payback period memiliki kelemahan
karena mengabaikan nilai uang terhadap waktu (present value) dan tidak
memperhitungkan periode setelah payback period. Secara sistimatis dapat
dirumuskan sebagai berikut :

P=

I
Ab

Sumber : Gittinger, 1986


Keterangan :
P = Jumlah waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal
I = Biaya investasi
Ab = Benefit bersih setiap tahun

4.7.5

Analisis Switching Value

Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar


perubahan pada nilai penjualan dan biaya variabel yang akan dihasilkan.
Keuntungan normal yaitu NPV sama dengan nol atau mendekati, IRR sama dengan
tingkat suku bunga berlaku dan Net B/C sama dengan satu.
Variabel yang akan dianalisis dengan switching value merupakan variabel
yang dianggap signifikan dalam proyek. Adapun variabel-variabel yang dimaksud
anara lain, biaya variabel dari PLTSa, sehingga dengan analisis ini akan dicari
tingkat harga penjualan minimum dan peningkatan biaya maksimum agar proyek
masih dapat dikatakan layak. Penggunaan variabel analisis tersebut didasarkan pada
konversi harga input yang sebenarnya sebagai bagian dari komponen biaya. Oleh
karena itu akan dilihat perubahan nilai penjualan minimum dan biaya variabel,
apakah masih memenuhi kriteria umum kelayakan investasi atau tidak.
4.7.6

Asumsi Dasar
Pada pembangunan PLTSa, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan

menggunakan modal yang berasal dari dana cadangan yang diambil dari APBD
Kota Bogor. Harga yang gunakan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian,
yaitu pada bulan Mei sampai dengan November 2008. Berikut asumsi dasar yang
digunakan untuk perhitungan kelayakan finansial proyek adalah sebagai berikut :
1)

Pada skenario I sumber modal berasal dari dana subsidi APBD Kota Bogor
sebesar 50 miliyar, sehingga suku bunga yang digunakan tujuh persen adalah
suku bunga deposito Tingkat suku bunga yang digunakan adalah (sesuai
dengan tingkat suku bunga untuk simpanan deposito BI tahun 2008).

2)

Pada skenario II modal berasal dari pinjaman sehingga suku bunga yang
digunakan sebesar 17 persen (sesuai dengan tingkat suku bunga untuk
pinjaman BI tahun 2008).

3)

Pada skenario I Pengelola PLTSa adalah PT. X, adalah unit usaha yang berada
dibawah koordinasi DLHK Kota Bogor, sedangkan untuk skenario II PT X
merupakan unit entitas bisnis murni

4)

Harga seluruh peralatan dan biaya-biaya pada analisis ini bersumber dari
survey lapang kepada pihak LPPM ITB dan hasil olahan penulis.

5)

Umur ekonomis proyek ditetapkan 25 tahun, berdasarkan umur ekonomis dari


bangunan dan boiler sebagai komponen utama PLTSa.

6)

Dalam satu bulan diasumsikan 30 hari dan setahun terdiri dari 12 bulan.

7)

Tanah tidak diperhitungkan dalam analisis ini, karena tanah yang digunakan
milik Pemkot Bogor.

8)

Nominal reinvestasi sama seperti investasi ditahun ke-satu.

9)

Bahan baku dari PLTSa adalah seluruh sampah yang dihasilkan Kota Bogor.
Jumlah keseluruhan sampah adalah 250 ton (60 persen dari total sampah
yang terangkut. Karena sebelumnya sampah organik telah dimanfaatkan pihak
swasta sebagai bahan baku pembuatan kompos dan pakan hijauan ternak.

10) Teknologi yang digunakan untuk PLTSa Kota Bogor adalah meniru PLTSa
Taichang Xienxin Refuse Inceneratio, dalam pelaksanaanya melibatkan PT.
PLN-Jasa Produksi (JP) PLTU untuk manufaktur dan perawatan mesin. PT
Dinamika Energitama Nusantara untuk manufaktur komponen PLTU, PT
Nusantara Turbin dan Propulsi untuk manufaktur turbin, PT Pindad untuk

menufaktur generator serta Tredio Engeneering untuk manufaktur sistem


kendali.
11) Harga sampah dianggap nol dan perhitungan produksi PLTSa dalam penelitian
ini diasumsikan dilakukan diawal proses dan seterusnya sama.
12) Skenario I, pendapatan berasal dari penjualan listrik, debu, retribusi sampah.
Sedangkan pendapatan pada skenario II tidak ada retribusi sampah melainkan
tipping fee.
13) Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap dan
biaya variabel diasumsikan dikeluarkan pada tahun ke- 1, biaya operasional
dan biaya variabel mengalami kenaikan 10 persen per dua tahun.
14) Harga jual output PLTSa adalah arus listrik, sehingga harga yang ditetapkan
adalah sesuai tarif ketetapan PT. PLN yaitu 500 rupiah per-kwh. Tarif listrik
akan dinaikan 30 persen per lima tahun sekali, untuk debu didasarkan pada
harga pasir pasang/rit sedangkan retribusi didasarkan pada biaya operasional
pengolahan sampah. Produk yang dihasilkan diasumsikan dijual seluruhnya,
untuk output listrik dijual kepada PT. PLN, sebagai mitra usaha.
15) Perhitungan pajak melalui analisis rugi laba berdasarkan undang-undang No.
17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan badan usaha, adapun besarnya nilai
pajak sebagai berikut : rugi tidak dikenakan pajak, kurang dari 50 juta
dikenakan pajak 10 persen, antara 50-100 juta dikenakan pajak 10 persen,
ditambah selisih pendapatan setelah dikurangi 50 juta dikenakan pajak 15
persen, lebih dari 100 juta dikenakan pajak 10 persen, ditambah 50 juta
dikenakan pajak 15 persen, ditambah selisih pendapatan setelah dikurangi 100
juta dikenakan pajak 30 persen.

BAB V
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1

Kota Bogor
Kota Bogor terletak di antara 106,4oBT dan 6,3oLS

serta mempunyai

ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibu
kota kurang lebih 56 km. Kota Bogor mempunyai luas wilayah 11.850 ha atau
118,50 km2, terdiri atas 6 Kecamatan, 68 Kelurahan, 701 RW dan 3113 RT dengan
jumlah penduduk 866.660 Jiwa. Kecamatan yang ada di Kota Bogor yaitu :
Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan Bogor Tengah,
Kecamatan Boogor Barat, Kecamatan Bogor Timur dan Tanah Sereal.
Secara administrasi wilayah Kota Bogor berbatasan dengan wilayah
Kecamatan di Kabupaten Bogor sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan
Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Bojong Gede, dan Kecamatan Kemang
Kabupaten Bogor. Sebelah Barat Kota Bogor berbatasan dengan Kecamatan
Kemang, dan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Sebelah Timur berbatasan
dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi, dan sebelah Selatan berbatasan
dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor.
Di Kota Bogor mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh
dibawah permukaan dataran, yaitu: Ciliwung, Cisadane, sebagai dua sungai besar
dan tujuh anak sungai. Secara keseluruhan anak-anak sungai yang ada membentuk
aliran paraler-sub paralel sehingga mempercepat waktu debit puncak (time to pak)
pada sungai Ciliwung dan Cisadane. Pada umumnya aliran sungai tersebut
dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Bogor serta sumber air minum bagi perusahan
daerah.

Menurut data sensus penduduk tahun 2006 jumlah penduduk kota bogor
pada akhir tahun sebanyak 879.138 jiwa, terdiri dari 444.508 jiwa laki-laki dan
434.630 jiwa perempuan dengan laju pertumbuhan (LPP) sebesar 2,81 persen.
Kenaikan tersebut diduga karena adanya faktor-faktor penarik, antara lain semakin
banyaknya fasilitas sosial-ekonomi, juga merupakan kota penyangga Jakarta
sebagai Ibu Kota Negara. Sehingga menarik para pendatang untuk tinggal di Kota
Bogor. Dengan mempertimbangkan Kota Bogor sebagai kota jasa serta
keterbatasan lahan yang ada dan keterbatasan daya dukung lingkungan alam, maka
untuk memperhitungkan proyeksi penduduk dirancang dengan laju pertumbuhan
pertahun sebesar 3,56 persen.
5.2

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)


Berdasarkan UPTD TPA Unit Kerja Subdin KPP Keuangan Potensi

Pendapatan Retribusi 60 persen dari pelayanan profil retribusi. Adapun cakupan


pelayanan meliputi wilayah Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Utara, Bogor
Selatan, Bogor Tengah dan Tanah Sereal. Secara umum pengelolaan sampah di
perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni : pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan akhir/pengolahan. Tahapan kegiatan tersebut
merupakan suatu sistem, sehingga masing-masing tahapan dapat disebut sebagai
sub sistem. Sarana Pengangkutan yang digunakan berupa Dum Truck kapasitas 6
m3 sebanyak 39 unit dan Arm Roll 6 unit tingkat dengan ritasi 2 rit.
Pelayanan sampah Kota Bogor yang dilaksanakan oleh DLHK dari tahun ke
tahun dapat dikatakan membaik, hal ini terbukti dari wilayah yang terlayani dari
tahun 2002-2007 semakin meningkat walaupun wilayah di Kota Bogor belum

seluruhnya terlayani pengangkutan sampahnya. Persentase peningkatan pelayanan


DLHK dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Cakupan Luasan Wilayah Pelayanan DLHK Tahun 2005-2007
Volume
Luasan
Tahun
%
3
(ha)
(m /hr)
m3/thn
2005
8.060
68
1.985
2006
8117
68,5
2.205
2007
8177
69
2.210
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (2008)

724.525
551.305
806.650

Berdasarkan jenis sampah yang terangkut pada tahun 2007, maka dapat
dibedakan sampah organik antara 73 persen dengan komponen lain yaitu kertas
karton dan kaca (gelas) 6 persen, plastik 11 persen, potongan kayu dan limbah
tanaman 1 persen, besi, logam 2 persen, sisa bahan konstruksi bangunan 2 persen
serta lain-lain 5 persen.
5.3

TPA Galuga
Desa Galuga terletak di Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor Jawa

Barat, jarak tempuh dari pusat pemerintahan desa/kelurahan ke ibukota kecamatan


3km/ jam, jarak ke ibukota kabupaten 24 km/2 jam dan jarak ke ibukota propinsi
120km/4 jam. Desa Galuga memiliki luas wilayah 175.090 ha, terdiri atas dua
perkampungan yaitu kampung Lalamping dan kampung Sinarjaya. Desa Galuga
terdiri atas 5 RW dan 13 RT, dengan jumlah penduduk sebanyak 123.862 jiwa.
Secara administrasi Desa Galuga berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:
Sebelah utara berbatasan dengan Desa Cijunjung, sebelah selatan berbatasan
dengan Desa Cemplang sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Leuwiliang
sebelah timur berbatasan dengan Desa Dukuh

Secara geografis Desa Galuga memiliki ketinggian 250 m di atas permukaan


laut, curah hujan rata-rata sekitar 236 mm/tahun dan keadaan suhu rata-rata 270C.
Dengan pertimbangan geografis dan kondisi tempat luas yang mendukung, pada
tahun 1987 Pemerintah Kotamadya Bogor bekerjasama dengan pemerintah daerah
Kabupaten Bogor mendirikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Galuga
sebagai pengganti TPA Rancamaya yang sudah tidak beroperasi lagi. Penggunaan
lahan untuk TPA sampah galuga sudah sesuai dengan rencana tataruang Kabupaten
Bogor

tahun

2002

dan

diperkuat

oleh

keputusan

Bupati

Bogor

No:

591/131/kpts/Huk/2002 tentang lokasi untuk tempat pembuangan akhir (TPA).


Pada awal pembangunan TPA di Desa Galuga, masyarakat kurang
menerima keberadaan TPA tersebut, tetapi pada akhirnya keberadaan TPA
dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat sebagai ladang mata pencaharian mereka
sebagai pemulung

dengan pendapatan perkapita 20.000 - 30.000 rupiah/hari.

Sampai saat ini sekitar 200 orang dengan mata pencaharian sebagai pemulung yang
berasal dari Kp. Lalamping, Cibogor. Untuk pembinaan masyarakat dilakukan oleh
dinas/LSM Paguyuban Tumaritis. Aktifitas pengolahan sampah yang ada di TPA
terdiri dari komposting dengan jumlah produksi 20 ton/hari. Bentuk kompensasi
yang diberikan oleh DLHK kepada masyarakat sekitar berupa fasilitas air bersih,
pelayanan kesehatan dan perbaikan jalan. Jumlah penduduk Desa Galuga tahun
2007 berdasarkan hasil registrasi Kecamatan Cibungbulang adalah sebanyak 5.353
jiwa terdiri dari 2.752 laki-laki dan 2.601 perempuan.
Teknis operasional pengelolaan sampah di TPA Galuga dilakukan sebagai
berikut : sampah yang diangkut dari sumber timbunan dengan menggunakan
kendaraan dump truk dan armroll berkapasitas 6 m3, dibuang dalam suatu titik

dalam lokasi TPA sesuai instruksi dan petunjuk petugas TPA. Kemudian didorong
dan dipadatkan dengan menggunakan bulldozer. Selanjutnya pada periode tertentu
seharusnya ditutup dengan mengunakan tanah merah dengan menggunakan
excavator sampai mencapai ketebalan 10 cm. sampai dengan kurang lebih enam
minggu, sampah akan mengalami pembusukan alami sehingga lokasi dimana
sampah yang tertimbun mengalami stagnasi, sehingga dapat dipergunakan kembali
hingga mencapai ketinggian tertentu ( 4 meter).
Tabel 6 Rekapitulasi Sarana Penunjang Pengelolaan Sampah Kota Bogor
Tahun 2007.
No
Uraian
Satuan
2007
1
Cakupan wilayah layanan kebersihan
ha
8177
3
2
Timbunan sampah perhari
m
2.210
3
Volume sampah yang terangkut (69%)
m3
1.515
4
Petugas kebersihan lapangan
orang
568
5
Alat pengankut Sampah:
- Motor sampah
Unit
5
- Dumptruck
64
- Armroll
30
- Kijang pick up
6
- Minibus
2
- Truk tangki air
1
- Truk tinja
4
- Sepeda motor
16
- Container
100
- Gerobak sampah
68
- Bulldozer
2
- Whellloader
1
- Excavator
1
- Truk loader
1
- Backhoe loade
2
6

Prasarana pengelola sampah :


- Tranper depo*
- TPS
7
Lahan TPA
Sumber : DLHK Kota Bogor (2008)

unit
ha

9
400
9,6

BAB VI
EVALUASI ASPEK-ASPEK STUDI KELAYAKAN
Keberadaan PLTSa Kota Bogor menjadi alternatif penanggulangan
permasalahan sampah Kota Bogor. Walaupun, pembangunan unit usaha PLTSa
membutuhkan biaya investasi yang sangat tinggi karena teknologi yang digunakan
bernilai mahal termasuk biaya operasionalnya. Keberlangsungan PLTSa di negaranegara maju (Gambar dapat dilihat pada Lampiran 11) mendapatkan subsidi di
setiap periode produksinya yaitu berupa tipping fee sebagai biaya public service
yang diambil dari biaya operasional dibagi input sampah yang diolah.
Sama halnya dengan PLTSa Kota Bogor, ada dua alternatif pemasukan
tambahan agar PLTSa tetap dapat beroperasi diataranya pemasukan dari tipping fee
seperti yang terjadi di negara-negara maju atau

pendapatan retribusi sampah.

Beberapa poin penting yang akan dievaluasi terkait dengan keberadaan PLTSa Kota
Bogor adalah : 1) Pengolahan sampah saat pembangunan infrastuktur PLTSa dan
manfaat yang diperoleh dari pengolahan sampah menjadi PLTSa yang akan dibahas
pada aspek teknis. 2) Mekanisme retribusi sampah dan tipping fee Kota Bogor yang
akan dibahas di aspek manajemen. 3) Penetapan harga jual listrik ke PLN dan
peluang pasar debu yang akan dibahas pada aspek pasar.
6.1

Aspek Teknis
Aspek teknis dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran

mengenai kapasitas produksi, pemilihan teknologi proses dan peralatan. Penentuan


kapasitas produksi disesuaikan berdasarkan jumlah bahan baku yang tersedia,
sedangkan untuk pemilihan teknoligi proses dan peralatan disesuaikan dengan dana
yang dimiliki penggagas usaha.

6.1.1

Pengolahan Sampah Saat Pembangunan Infrastuktur PLTSa


Pembangunan PLTSa membutuhkan waktu sekitar dua tahun lamanya.

Perlakuan terhadap sampah Kota Bogor selama jeda waktu sampai pabrik
beroperasi yaitu dengan melakukan open dumping, skema pengelolaan sampah
pada saat pembangunan Pabrik PLTSa dapat dilihat pada Gambar 5.

(1)

(2)

Gambar 5. Skema Pengolahan Sampah Pada Saat Pembangunan Infrastuktur


PLTSa
Sumber : //http:wikimapia.org dan Hasil Olahan Penulis
Pengolahan sampah dengan sistem open dumping yaitu sampah yang
diangkut dari sumber timbunan dengan menggunakan kendaraan dump truk dan
armroll berkapasitas 6 m3, dibuang dalam suatu titik dalam lokasi TPA sesuai
instruksi dan petunjuk petugas TPA. Kemudian didorong dan dipadatkan dengan
menggunakan bulldozer. Selanjutnya pada periode tertentu seharusnya ditutup
dengan mengunakan tanah merah dengan menggunakan excavator sampai
mencapai ketebalan 10 cm. Sampai dengan kurang lebih enam minggu, sampah
akan mengalami pembusukan alami sehingga lokasi dimana sampah yang tertimbun

mengalami stagnasi, sehingga dapat dipergunakan kembali hingga mencapai


ketinggian tertentu ( 4 meter).
Pada Gambar 5 dapat dilihat, saat pembangunan infrastuktur PLTSa kotak
(1) membutuhkan lahan seluas 5.000 m3, sedangkan luasan lahan TPA Galuga
adalah 13 ha. Jadi selama pembangunan tersebut sampah Kota Bogor diolah sama
seperti perlakuan sebelumnya. Kegiatan tersebut dapat dilakukan disekitar kotak
(2). Seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam waktu enam minggu, sampah akan
mengalami pembusukan alami sehingga lokasi dimana sampah yang tertimbun
mengalami

stagnasi,

begitupula

untuk

kondisi

sampah-sampah

diperiode

sebelumnya. Maka setelah PLTSa beroperasi pada kotak (2) akan dibuat dranase
berbentuk taman hijau.
6.1.2

Tahapan Persiapan
Pengelola PLTSa memulai melakukan pekerjaan melalui tahapan-tahapan,

dimana tahapan pertama adalah penyiapan lahan lima hektar dari 13,6 hektar yang
tersedia. Lahan tersebut adalah lahan yang sudah ada, yaitu berupa kavling siap
bangun. Selanjutnya, mobilisasi tenaga kerja untuk membangun PLTSa, mobilisasi
peralatan berat, konstruksi, pembersihan lahan, penyiapan lahan, pemasangan
pondasi, mobilisasi bahan bangunan, mobilisasi peralatan PLTSa, instalasi PLTSa,
dan pelepasan tenaga kerja kontruksi. Setelah tahapan dilakukan, PLTSa akan diuji
coba

dahulu

sebelum

benar-benar

layak

dioperasikan,

tahapan

tersebut

membutuhkan waktu dua tahun.


PLTSa yang dirancang direncanakan harus mempunyai kriteria sebagai
berikut :

1) Mampu membakar sampah dengan tidak menuntut kapasitas dan performasi


nyata yang terlalu tinggi.
2) Hasil pembakaran dapat memenuhi persyaratan emisi gas buang yang
aman/memenuhi standar emisi Indonesia.
3) Dapat dibangun dengan anggaran yang tersedia.
4) Layout dan jenis sistem ditentukan berdasarkan daya dukung kondisi lapangan
dan dana yang tersedia (dapat dilihat pada Gambar 6).

Gambar 6. Skematik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah


Sumber : LPPM ITB dan Hasil Olaan Penulis
Kriteria PLTSa yang disebutkan sebelumnya mempertimbangkan sistem
penampungan dan penirisan sampah dalam bungker dan pengambilan dan
pencacahan sampah dengan graber seperti pada PLTSa besar tidak dapat
diimplementasikan pada PLTSa yang dirancang. Oleh sebab itu, sistem penerimaan,
proses penirisan, dan pencacahan dilakukan dengan sistem yang sesuai dengan
kondisi yang ada. Proses pemisahan dan pengambilan beberapa komponen sampah

sudah dilakukan oleh pemulung sejak ditingkat rumah, di tingkat RW dan di TPS.
Sebagian besar jenis plastik, kertas, logam, pipa PVC dan bahan-bahan lain yang
masih mempunyai nilai ekonomi akan tereliminasi dari sampah yang akan
digunakan di PLTSa. Dengan demikian sebagian besar sampah yang akan
digunakan di PLTSa adalah sampah organik dengan potensi racun yang relatif lebih
rendah
Sampah dari truk dituangkan dalam teras penerimaan (A) (lihat Gambar 4
dan 6). Dalam teras ini, pemulung diperkenankan untuk mengambil komponen
sampah yang masih bermanfaat dan bernilai uang. Dalam melakukan kegiatannya
diharapkan pemulung dapat mengambil sebanyak-banyaknya logam, kaca, dan
komponen lainnya yang tidak dapat dijadikan bahan bakar atau berbahaya apabila
dibakar. Disamping itu, proses pengambilan komponen yang berharga diharapkan
dapat merobek-robek bongkahan sampah yang masih terbungkus plastik. Sampah
yang tersisa akan diangkut oleh doser/loader ke hopper pencacah. Sampah hasil
pencacahan kemudian ditiriskan di teras penirisan. Proses perataan sampah di lantai
teras penirisan dilakukan dengan doser/loader. Setelah dibiarkan beberapa hari,
sampah yang sudah agak kering diangkut kembali oleh doser/loader dan
dimasukkan ke hopper conveyor untuk selanjutnya dibawa konveyor ke dalam
hopper tungku (B).
Sampah kemudian dimasukkan secara perlahan oleh sistem pengumpan ke
dalam tungku. Untuk PLTSa yang direncanakan tungku yang digunakan haruslah
dari jenis grated stoker (Martin Stoker atau modifikasinya) agar sampah dapat
terbakar dengan merata pada temperatur di atas 7000C, agar dioksin dapat terurai.

Abu hasil pembakaran akan dikeluarkan sebagai bottom ash setelah disemprot
dengan air untuk menurunkan temperaturnya.
Panas yang dihasilkan dari pembakaran sampah akan digunakan untuk
menjaga temperatur pembakaran dan menguapkan gas-gas volatil selain untuk
menghasilkan gas panas untuk menguapkan air di boiler. Gas-gas volatil yang
dihasilkan mempunyai temperatur yang tinggi akan terbakar pada bagian atas
tungku ketika udara sekunder disemprotkan. Temperatur pembakaran berkisar di
atas 9000C sehingga seluruh gas volatil dan gas-gas yang berbahaya dapat terurai.
Berdasarkan kriteria diatas maka disusun rencana proses umum PLTSa, hal
ini ditunjukan secara skematik pada Gambar 7.

Sampah

Alat Pengangkut

Pencacahan

Teras Penirisan
Konveyor + Pengeringan

Listrik
Generator

Balance Of
Plant

Sistem Pengolahan Air


Ketel

Tungku
Boiler + Heat
Recovery System

Turbin Uap

Cerobong

Sistem Pengolahan
Gas Buang

Gambar 7. Skema Urutan Proses Pada PLTSa yang dirancang


Sumber : LPPM ITB dan Hasil Olahan Penulis
Setelah melewati superheater gas akan memasuki deretan pipa boiler (C),
panasnya akan diserap untuk menguapkan air. Sebagian abu akan terendapkan
dalam pipa-pipa ini dan dikeluarkan sebagai boiler ash. Gas kemudian akan
memasuk scrubber yang dilengkapi dengan penyemprot air kapur untuk
menghilangkan gas-gas asam dan debu. Kemudian gas yang keluar dilewatkan pada

kantong-kantong karbon aktif untuk menghilangkan gas beracun, sebelum akhirnya


disaring di airbag filter dan dibuang ke cerobong. Untuk mengalirkan gas ini
digunakan induced fan. Pada bagian (C) output akhir berupa debu dihasilkan.
6.1.3 Penentuanan Lokasi Pabrik.
Pengolahan sampah menjadi energi listrik menempati lokasi yang sama
dengan tempat pembuangan akhir (TPA). Lokasi yang digunakan merupakan
keseluruhan areal TPA Galuga, Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor Jawa
Barat. Lokasi TPA dan Layout PLTSa dapat dilihat pada Gambar 8.

(3)

(2)

C
(4)

A
(1)

Gambar 8. Lokasi TPA dan Layout PLTSa Galuga


Sumber : //http:wikimapia.org dan Hasil Olahan Penulis
Pada Gambar 8. dapat di lihat truk-truk sampah datang pada lokasi (1),
kemudian di turunkan di lokasi A, kegiatan yang berlangsung sama dengan yang
ada pada Gambar 4 dan 5. Lokasi B adalah awal pemrosesan pengolahan sampah
dari mulai sampah ditiriskan sampai sampah dibakar. Lokasi C proses perubahan

dari uap menjadi listrik kemudian listrik di transmisikan ke tian-tiang PLN terdekat
yaitu sepanjang lokasi (3) dan di lokasi C tempat penggolahan gas buang serta
tempat pengeluaran debu. Lokasi (2) adalah tempat pengolahan air lindi dan (4)
adalah kantor administrasi PLTSa.
Lokasi PLTSa di kawasan TPA Galuga dipilih karena PLTSa sebenarnya
lebih berfungsi sebagai pabrik pemusnah sampah dari pada pembangkit listrik. TPA
Galuga paling ideal untuk proyek PLTa Kota Bogor selain dari letak bahan baku
utama, sumberdaya seperti air dan kondisi udara, faktor utama yang paling
menukung adalah karena PLTSa merupakan industri pengolahan sampah yang
paling baru di Indonesia. Hal ini untuk menghindari penolakan akibat adanya
kekhawatiran warga sekitar terhadap polusi dari pembakaran sampah seperti yang
terjadi di Kota Bandung. Sampai saat ini terdapat 400 orang yang sudah menetap
dan bermata pencaharian sebagai pemulung di TPA Galuga maka, apabila lokasi
TPA dipindah tempatkan kemungkinan yang terjadi adalah para pelung tersebut
harus ikut pindah tempat atau mereka tetap di kawasan TPA Galuga dengan kondisi
kesejahtraan yang lebih buruk.
6.1.4

Teknologi Proses dan Peralatan


Produksi sampah Kota Bogor yang akan diolah adalah 250 ton dengan kadar

air sekitar 60 persen. Kadar air yang tinggi ini membuat nilai kalor sampah Kota
Bogor menjadi sangat rendah, oleh sebab itu sampah tersebut harus dikurangi kadar
airnya sebesar 50 persen dengan cara meniriskan didalam bungker selama tiga atau
lima hari. Temperatur pembakaran antara 850-9000C. apabila temperatur terlalu
rendah maka akan terbentuk dioksin sedangkan apabila temperatur terlalu tinggi
maka akan terbentuk NOx.

Pada tahapan pelaksanaannya PLTSa akan melibatkan PT. PLN-Jasa


Produksi (JP) PLTU untuk manufaktur dan perawatan mesin. PT Dinamika
Energitama Nusantara untuk manufaktur komponen PLTU, PT Nusantara turbin
dan propulsi untuk manufaktur turbin, PT Pindad untuk manufaktur generator serta
Tredio Engeneering untuk manufaktur sistem kendali.
Komponen utama dari PLTSa terdiri dari bungker sampah serta sistem
penanganan sampah, tungku pembakaran, sistem utama pembangkit listrik dan
sistem penanganan gas buang. Peralatan yang digunakan pada pembangkit listrik
ini adalah Boiler sebagai media yang menghasilkan uap untuk menggerakan
Turbine dan dihubungkan dengan Generator untuk menghasilkan tenaga listrik.
Spesifikasi PLTSa yang dirancang memiliki kemampuan untuk membakar
sampah dengan kapasitas 250 ton sampah kota perhari, dengan kandungan air
minimal 60 persen sehingga sampah sebelum dibakar ditiriskan terlebih dahulu
antara tiga sampai lima hari. Jumlah boiler dan turbin masing-masing satu unit,
output listrik yang dihasilkan 1600 kwh, untuk pemakaian sendiri 20 persen dan 10
persen kemungkinanan hilang saat proses produksi. Biaya investasi (tidak termasuk
lahan) Rp 50. 347.703.000. Waktu start up antara tiga sampai delapan jam, dengan
bantuan bahan bakar solar 300 liter/jam/unit. Debu yang dihasilkan lima persen dari
volume atau 20 persen dari berat sampah awal. Luas area minimum yang
dibutuhkan adalah 5.000 m3. Kebutuhan air tambahan untuk boiler dan kondensor
10 persen, CaO 2,5 kg/ton sampah yang diolah, asetilen 0,05 m3/ton dan karbon
aktif 21 kg/ton.
Terdapat lima prinsip dasar dalam pengoperasian PLTSa, diantaranya
adalah :

1) Sampah dari TPS diangkut oleh truk-truk pengangkut sampah ke PLTSa. Truk
yang tiba akan ditimbang terlebih dahulu sebelum membuang sampah ke dalam
bungker sampah. Truk kosong yang keluar dari PLTSa juga ditimbang agar
diketahui berat bersih sampah yang dibuang ke dalam bungker berdinding
beton. Ruang bongkar sampah ini merupakan ruangan tertutup, dan udara dalam
ruangan diisap oleh kipas udara sehingga bau sampah tidak menyebar keluar
ruangan tetapi terisap kipas udara dan selanjutnya disalurkan ke tungku
pembakaran. Hal ini akan membuat udara disekitar lokasi pemusnah sampah
tidak berbau. Dimensi bungker harus dapat menampung kebutuhan sampah lima
sampai 10 hari. Sampah di dalam bungker yang masih basah, dibiarkan selama
tiga sampai lima hari untuk mengurangi kadar air permukaan. Selama
didiamkan sampah secara rutin di pindah-pindahkan untuk mengurangi kadar
airnya. Sampah yang sudah didiamkan beberapa hari ini mempunyai nilai kalor
antara 800 sampai dengan 1400 kkal/kg dan kadar air 5060 persen.
2) Sampah yang sudah mengering ini kemudian diangkut ke tungku pembakaran
dengan grabber yang terpasang pada overhead traveling crane, dan
dikendalikan dari jarak jauh dari ruang kendali. Sampah dari grabber
dijatuhkan sedikit demi sedikit ke dalam hopper tungku, sampah kemudian
memasuki tungku pembakaran sedikit demi sedikit melalui mekanisme
pemasukan sampah pada tungku. Tungku pembakaran dirancang khusus agar
sampah dapat terbakar pada temperatur tinggi (antara 850900oC) dalam waktu
yang cukup lama sehingga seluruh sampah dapat terbakar sesempurna mungkin
dan dapat menghilangkan gas-gas beracun yang terbentuk seperti dioksin dan
furan. Untuk mencapai suhu pembakaran yang tinggi tersebut, pada saat awal

(start) diperlukan bahan bakar pembantu seperti minyak bakar, gas atau batu
bara. Setelah dicapai suhu yang diinginkan, sampah diharapkan dapat terbakar
dengan sendirinya. Sisa pembakaran berupa abu bawah (Bottom Ash)
dikeluarkan secara otomatik dan dikumpulkan sebelum diangkut untuk
dimanfaatkan lebih lanjut.
3) Gas panas hasil pembakaran kemudian dimanfaatkan untuk menguapkan air
yang berada dalam pipa-pipa ketel (boiler). Saluran gas panas dari tungku diatur
sedemikian rupa sehingga temperatur gas panas ketika mengenai boiler tidak
terlalu tinggi. Demikian juga tekanan dan temperatur uap di dalam pipa diatur
sedemikian rupa sehingga perbedaan temperatur antara gas panas dan uap air
tidak menyebabkan pengembunan gas di pipa-pipa boiler yang dapat
menyebabkan korosi. Untuk menghilangkan kerak biasanya pipa-pipa boiler ini
dilengkapi dengan penyemprot gas asitilen.
4) Uap bertemperatur dan bertekanan tinggi yang dihasilkan digunakan untuk
memutar turbin yang terhubung dengan generator pembangkit listrik. Jumlah air
yang diperlukan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik ini bergantung
kepada karakteristik turbin yang digunakan8. Namun demikian, uap yang
dihasilkan tidak langsung di buang tetapi diembunkan di kondensor, dan
dialirkan kembali ke ketel. Meskipun air disirkulasikan kembali, biasanya
diperlukan penambahan air ketel sebesar 1015 persen untuk mengkompensasi
kebocoran uap yang terjadi.

Pemusnah sampah buatan Sotec GmbH Jerman, dengan kapasitas 8 MW memerlukan sirkulasi air
sebanyak 16 ton/jam setara dengan 4,4 lt/detik. Pemusnah sampah di Nanshan, Shenzen China,
untuk menghasilkan 12 MW listrik dari uap bertekanan 40 bar 400oC diperlukan sirkulasi air
sebanyak 64 ton/jam (18 lt/detik).

5) Setelah panasnya dimanfaatkan untuk membangkitkan uap gas hasil


pembakaran dialirkan ke pengolah gas buang untuk menghilangkan gas-gas
asam seperti SOx, HCl, NOx, logam berat, dioksin dll. Untuk keperluan
tersebut pabrik pemusnah sampah yang dibangun di Singapura dan Cina
menggunakan wet srubber yang dikombinasi dengan tambahan batu kapur, dan
partikel karbon aktif. Gas bertemperatur rendah yang keluar dari alat
penghilang gas asam kemudian dilewatkan penyaring debu. Penyaring debu
dapat berupa penyaring biasa (fabric filter atau airbag) saja atau dikombinasi
dengan electrostatic precipitator (EP). Pabrik pemusnah sampah di Eropa
biasanya menggunakan EP, sedangkan yang di China dan Singapura hanya
menggunakan penyaring biasa. Abu yang tertangkap oleh alat-alat ini biasa
disebut sebagai abu terbang (fly ash). Abu terbang ini dapat dimanfaatkan untuk
keperluan yang sama seperti abu bawah (bottom ash).
Dengan peralatan yang relatif sederhana ini gas-gas beracun yang
disebutkan diatas dapat diturunkan di bawah baku mutu pencemaran udara yang
ditetapkan di negara-negara tersebut. Pabrik pemusnah sampah di Eropa yang
mempunyai baku mutu yang lebih ketat biasanya mempunyai peralatan pengolah
gas buang yang lebih lengkap. Di samping peralatan yang disebutkan sebelumnya
system pengolahan gas buangnya dilengkapi dengan katalis penghilang NOx dan
penghilang dioxin. Abu bawah (bottom ash), merupakan abu sisa pembakaran
sampah di tungku sedangkan Abu terbang dapat dimanfaatkan untuk keperluan
yang sama seperti bottom ash9. Abu terbang dari hasil pembakaran sampah baik
untuk digunakan sebagai penstabil tanah lunak, kekuatan lempung yang diberi abu
9

Peneliti dari Nanyang Technological University di Singapura (Kwan-Yeow Show et al) dalam
laporan proyek PLTSa Geude Bage, Bandung.

terbang ini naik 75 kali lipat. Disamping itu tanah juga mempunyai sifat-sifat
drainase yang lebih baik, indeks plastisitas dan kompresibilitas menurun masingmasing 69 dan 23 persen.
Singapura memanfaatkan abu terbang dan abu bawah hasil pembakaran
sampah untuk mengurug satu pulau buatan (Semakau Island). Apabila abu bawah
dan abu terbang tidak dimanfaatkan, maka harus disediakan tempat pembuangan
abu. Namun demikian, jumlah yang harus dibuang ke TPA, jauh lebih sedikit dari
pada jumlah sampah asalnya (lima persen volume atau 20 persen berat). Melihat
kondisi tersebut dimasa depan debu PLTSa dapat dijadikan sebagai alternatif
penaggulangan banjir. Pada sektor agribisnis debu juga dapat dijadikan sebagai
media tanam, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
efektivitas debu tersebut. Apabila penelitian ini berhasil maka keberadaan PLTSa
memiliki interaksi dua arah dalam sistem agribisnis.
6.1.5

Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk

mencapai keuntungan yang optimal. Keuntungan ini dipengaruhi oleh faktor


ekternal, yaitu pangsa pasar yang mungkin diraih, sedangkan faktor internal yaitu
usaha-usaha pemasaran yang dilakukan serta variabel-variabel teknik yang
berkaiatan langsung dengan proses produksi. Penentuan kapasitas produksi juga
dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku dan teknologi proses yang dipilih.
Jumlah sampah Kota Bogor yang terangkut adalah 69 persen dari
keseluruhan sampah yang ada yaitu sekitar 1.515 m3 dimana sampah yang terangkut
pada masing-masing sumber adalah dari 71 persen sampah pemukiman, sampah
pasar 68 persen, 67 persen pusat perdagangan, 67 persen penyapuan jalan, 69

persen industri dan sumber lain 32 persen. Komponen utama sampah Kota Bogor
terdiri dari 75-95 persen sampah organik yang berasal dari konsumsi produkproduk pertanian seperti buah, sayur dan daging. Berdasarkan hasil survei NUDS
dalam Sudrajat (2007) tingkat kerapatan sampah pe-m3 adalah 250 kg, sehingga
sampah yang akan diolah (1.515 m3 X 250 kg) : 1.000 kg/ton adalah 378,75 ton.
Setelah dikurangi 25,44 persen sampah oleh pemulung dan 10 ton organik yang
telah dimanfaatkan oleh peternak dan petani untuk keperluan kompos, maka jumlah
sampah yang tersisa adalah 254,09 ton.
Pola pengumpulan sampah Kota Bogor dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Pola Pengangkutan Sampah Kota Bogor


Sumber : //http:www.kotabandung.org
Sampah yang berasal dari sapuan jalan, pasar, fasilitas umum dan
pemukiman diangkut oleh petugas masing-masing daerah ke tempat pembuangan
sementara (TPS), kemudian dari TPS diangkut ke TPA kemudian proses
pengolahan sampah dilakukan di TPA. Alat angkut yang digunakan pada saat
penyapuan jalan menggunakan mobil pick-up sebanyak 5 unit, alat angkut dari TPS
ke TPA menggunakan dump-truck sebanyak 63 unit. Saat pengangutan dari lokasi

(A) ke lokasi (B) membutuhkan satu unit alat berat yaitu excavator atau bulldozer.
Kapasitas produksi PLTSa Galuga berdasarkan jumlah sampah yaitu sekitar 250 ton
per hari sampah Kota Bogor di tampung di TPA Galuga, dengan spesifikasi yang
dirancang PLTSa Galuga mampu menghasilkan listrik sebesar 1600 kwh.
Sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih dilakukan secara konservatif
dimana seluruh sampah dibuang begitu saja tanpa dilakukan pemisahan antara
sampah organik, anorganik, dan sampah beracun. Kondisi tersebut menjadikan
keberadaan PLTSa menjadi sangat penting terutama sebagai penyelesaian dari
permasalahan sampah yang ada di Kota Bogor. Input dari PLTSa adalah sampah
Kota Bogor 95 persen di antaranya berupa sampah organik yang berasal dari
pemukiman dan pasar tradisional. Keberadaan PLTSa mampu menggurangi sampah
sampai 95 persen dari volume awal kemudian dengan adanya pengolahan gas
buang, PLTSa mempu meredam efek rumah kaca (pemanasan global) yang
diakibatkan oleh gas CH4 yang dihasilkan dari pembusukan sampah-sampah
organik dan gas NOX yang mengakibatkan hujan asam serta dioksin (zat penyebab
kanker) yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara konvensional. Namun,
untuk menilai seberapa besar manfaat dari keberadaan PLTSa harus diteliti lebih
lanjut dengan analisis kelayakan ekonomi atau menganalisis aspek sosial dan
lingkungan.

6.2 Analisis Aspek Manajemen


Pengelolaan PLTSa dilakukan oleh PT X, yang merupakan unit usaha
dibawah kordinasi DLHK kota Bogor, untuk kegiatan operasional PT X

membutuhkan SDM sesuai dengan keahlian dalam menjalankan perusahan. Adapun


kebutuhan tenaga kerja PT. X dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Kebutuhan Tenaga Kerja PLTSa PT X Kota Bogor Tahun 2009
Uraian
Plant Manager
Asst Manager
Supervisor
Adm. Keuangan dan Umum
Teknisi dan Operator
Driver
Security
Helper
Total Keseluruhan Tenaga Kerja

Kebutuhan ( orang)
1
1
2
1
6
71
4
261
347

Pada aspek manajemen suatu perusahaan membutuhkan stuktur organisasi,


analisis dan deskripsi pekerjaan. PT. X merupakan program coorporate social
responsibility (CSR) yang digulirkan PT. PLN, PDAM Tirta Pakuan dan DLHK
Kota Bogor. Perusahan ini memiliki tujuan untuk mengolah sampah menjadi
sumber energi atau Waste to Energy dimana investasi yang disiapkan bernilai Rp
50. 347.703.000 dengan kapasitas produksi 250 ton sampah per hari. Teknologi
pengolahan sampah mengadaptasi dari PLTSa dari luar negri berupa penggabungan
peralatan boiler, turbin dan generator yang dilengkapi dengan alat pengolahan
limbah cair dan udara.
Total kebutuhan tenaga kerja berdasarkan Gambar 4 dan 7, untuk teknisi
dan operator sebanyak 6 orang yang menempati posisi penimbangan sampah,
penirisan sampah, proses pembakaran sampah, sistem transmisi listrik, pengolahan
gas buang dan debu serta pengolahan air lindi. Security ditempatkan di pintu masuk
sebanyak dua orang, pintu keluar satu orang dan kantor satu orang. Driver yang

diperlukan adalah 5 orang untuk sopir pick-up, 63 orang untuk sopir dump-truck
dan satu orang untuk sopir excavator/bulldozer dan dua orang untuk sopir cadangan
serta satu orang untu sopir operasional kantor. Helper yang diperlukan sebanyak
261 orang, masing-masing dibutuhkan satu orang untuk kuli angkut pada masingmasing armada pick-up, empat orang pada masing-masing armada dump-truck dan
dua orang untuk juru bantu di lokasi (A), satu orang untuk juru bantu di lokasi (B)
serta satu oarang sebagai office boy di kantor.
Stuktural organisasi PT X dibuat untuk memudahkan menjalankan
operasional PLTSa dapat dilihat pada Gambar 10.

Plant Manager
Asst. Manager

Teknik & Operasi

Adm.Keuangan&Umum
m

Driver, Security dan Helper


Gambar 10. Stuktur Organisasi PT X.
Sumber : LPPM ITB
Pengalokasian tenaga kerja tersebut harus dilakukan secara efisien dan
efektif dimana penempatan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan harus sesuai
dengan beban kerja, sehingga diperlukan motivasi dan dorongan yang tinggi agar
dapat memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan. Kajian kebutuhan
tenaga kerja PT X harus sesuai dengan deskripsi tugas pada masing-masing jabatan.
Tingkat pendidikan minimal untuk Plant Manager dan Assistent Manager adalah
master yang memahami pengelolaan industri, untuk Teknisi adalah sarjana dan

Administrasi adalah diploma, sedang untuk driver sampai kepada Helper adalah
SMU dan SMP.
Proyek PLTSa membutuhkan biaya investasi yang sangat tinggi karena
teknologi yang digunakan bernilai mahal termasuk biaya operasionalnya. Dua
alternatif mekanisme pemasukan tambahan agar PLTSa Kota Bogor tetap dapat
beroperasi diataranya pemasukan dari tipping fee seperti yang terjadi di negaranegara maju atau retribusi sampah melalui mekanisme yang sudah ada. Potensi
retribusi sampah di Kota Bogor sangat tinggi, namun mekanisme pengelolaannya
belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan pengambilan retribusi dilakukan
oleh institusi lain.
Berdasarkan hasil wawancara dengan DLHK, mekanisme pengambilan
retribusi dilakukan oleh PDAM Tirta Pakuan untuk masyarakat yang menggunakan
jasa PDAM, sedangkan untuk masyarakat yang tidak memanfaatkan jasa PDAM,
mekanisme pengambilan retribusi dilakukan oleh dispenda (dinas pendapatan
daerah). DLHK sendiri mendapatkan laporan pendapatan retribusi tidak terperinci,
sehingga berapa potensi retribusi sampah sebenarnya tidak diketahui.
Mulai tahun 2009, DLHK akan merumuskan mekanisme pengambilan
retribusi sampah dan pelaksanaan pengambilan retribusi tersebut akan dilakukan
oleh DLHK langsung. Apabila mekanisme tersebut berjalan, maka APBD yang
biasa digunakan untuk membiayai operasional DLHK dapat digunakan untuk
membiayai program pemerintah yang lainnya.
6.3

Analisis Aspek Pasar


Analisis yang dilakukan pada aspek ini adalah menganalisis potensi pasar

berdasarkan adanya kelangkaan sumber energi fosil dan memanfaatan sumber daya

yang ada serta strategi bauran pemasaran yang ada (product, price, distribution dan
promotion). Untuk produk, harga, promosi dan distribusi PT X bekerja sama
dengan PT PLN karena output PLTSa yang dihasilkan adalah berupa sumber energi
listrik, listrik sudah menjadi kebutuhan pokok bagi semua kalangan, sehingga untuk
konsumen listrik PLTSa adalah pelanggan dari PLN, terutama yang berada
disekitar proyek PLTSa. Harga tarif listrik sesuai dengan yang ditetapkan PT. PLN
yaitu 500 rupiah/kwh, untuk pelaksanaan distribusi dan promosi PT. X bekerjasama
dengan PT. PLN.
Total kapasitas pembangkit listrik di Indonesia saat ini sekitar 30 ribu MW,
86 persen dikuasai oleh PLN sementara sisanya dikelola oleh perusahaan listrik
swasta. Sementara itu kebutuhan listrik akan terus meningkat sejalan dengan
pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan perekonomian bangsa. Angka
pertumbuhan kebutuhan listrik diprediksi sekitar tujuh sampai delapan persen
hingga tahun 2015 mendatang. Meskipun demikian, saat ini tingkat elektrifikasi
Indonesia baru sekitar 54 persen, artinya ada sekitar 46 persen masyarakat
Indonesia yang belum menikmati listrik10, melihat kondisi demikian PLTSa di Desa
Galuga dengan kapasitas 1,6 MW menjadi alternatif pensuplay listrik PT. PLN
terutama untuk Kota Bogor dan sekitarnya, sedangkan menurut data dari Profil
Pemerintah Kota Bogor kebutuhan listrik untuk Kota Bogor adalah 116.005 kwh11,
sedangkan target Kota Bogor ingin mensuplai listrik sampai 448.000 kwh sehingga

10

http://aryanugraha.wordpress.com/2006/07/25/pemadaman-listrik-pln-dan-crash-program/16
September 2008
11

http:// www.kotabogor.go.id. Profil Pemerintah Kota Bogor-Rencana Pembanguna Infrastuktur.


(14 Januari2009).

keberadaan PLTSa mampu menyediakan 0,27 persen dari target yang direncanakan
Pemkot Bogor.
Penetapan harga jual listrik PLTSa berdasarkan harga tarif dasar yang
ditetapkan PLN. Skenario I akan layak apabila harga jual listrik dinaikan sampai
batas minimal 13,96 persen yaitu dari harga jual awal Rp 500 per-kwh listrik
menjadi Rp 569,79. Hal ini tidak akan menjadi beban bagi masyarakat karena harga
ini diasumsikan akan tetap layak dan diterima PLN karena penetapan harga jual
listrik PLN kepada konsumen memiliki interval yang berbeda dimulai dari harga
dasar untuk pemakaian listrik dengan daya terendah sampai pada harga jual
tertinggi untuk industri. PLN melakukan subsidi silang pada masing-masing
interval tersebut, sehingga dengan menaikkan harga jual listrik PLTSa skenario I,
maka PLN tidak akan dirugikan. Listrik yang dihasilkan oleh PLTSa pasti akan
terjual seluruhnya kepada PT PLN selain karena adanya pertimbangan PLN sebagai
CSR dari PLTSa. Berdasarkan Permen ESDM No. 2 tahun 2006, pasal 2
menyatakan PLN wajib membeli listrik dari pembangkit terbarukan.
Output lain dari PLTSa adalah debu yang berasal dari abu sisa pembakaran
sampah di tungku berupa abu terbang dan abu bawah. Debu yang dihasilkan dapat
dijual ke toko-toko bangunan sebagai material pengganti pasir karena debu
berfungsi sebagai penstabil tanah lunak yang dapat meningkatkan kekuatan
lempung hingga 75 kali lipat disamping itu debu juga mempunyai sifat-sifat
drainase yang lebih baik, indeks plastisitas dan kompresibilitas menurun masingmasing 69 dan 23 persen.
Debu dihasilkan dari limbah pengolahan sampah PLTSa, jumlah produksi
debu dari PLTSa adalah 20 persen dari berat sampah yang diolah. Penetapan harga

penjualan debu disesuaikan dengan penjualan pasir yaitu per-ritasi (rit) truk. Jumlah
sampah yang diolah adalah 250 ton, debu yang dihasilkan adalah 50 ton, jika berat
berbanding volume untuk debu adalah 0,25 dan debu yang hilang adalah 10 persen
maka jumlah pasir yang dihasilkan adalah 180 m3. Nilai penjualan debu
diasumsikan 50 persen lebih rendah dari harga jual pasir pasang, hal ini didasarkan
stuktur debu PLTSa lebih halus yang menyebabkan harus ada penambahan
komponen lain agar debu masih memiliki manfaat mendekati pasir pasang yaitu Rp
250.000.
Singapura memanfaatkan abu terbang dan abu bawah hasil pembakaran
sampah untuk mengurug satu pulau buatan (Semakau Island), sehingga dimasa
depan untuk kondisi tofografi di Indonesia debu PLTSa dapat dijadikan sebagai
alternatif penaggulangan banjir. Kemudian, PLTSa dapat bermitra dengan
Departemen Pekerjaan Umum (PU). Namun, pelaksanaannya harus melalui proses
pengkajian antara PLTSa dengan Departemen PU.
Pada sektor agribisnis debu bisa dijadikan sebagai media tanam. Senyawa
yang terkandung dalam debu diataranya adalah SiO2 41,2 persen; Al2O3 12,7
persen; CaO 16,1 persen; Fe2O3 7,6 persen; Na2O 2,8 persen; MgO 1,9 persen dan
K2O 1,0 persen. Senyawa tersebut sama seperti senyawa yang terkandung dalam
tanah. Namun, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui efektivitas dari
debu tersebut.
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

Analisis kelayakan usaha PLTSa PT X di Kota Bogor bertujuan


memproyeksi anggaran yang akan mengestimasi penerimaan dan pengeluaran pada

masa yang akan datang setiap tahun. Hal tersebut dijadikan sebagai sumber
informasi mengenai kelayakan usaha yang akan dijalankan. Apabila secara finansial
usaha tersebut layak, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor pendukung
dikembangkannya PLTSa di Kota Bogor.
Analisis kelayakan usaha PT X pada penelitian ini, dibagi menjadi dua
skenario. Skenario pertama, PT X merupakan usaha pengolahan sampah dimana
keberadaan PT X di bawah koordinasi DLHK, jumlah sampah yang diolah
sebanyak 250 ton/hari, biaya investasi yang digunakan berasal dari dana hibah
APBD Kota Bogor dan tambahan pemasukan berasal dari retribusi sampah. Pada
skenario kedua PT X merupakan unit entitas bisnis murni, biaya investasi berasal
dari pinjman bank dengan waktu pengembalian selama 10 tahun, tambahan
pemasukan PLTSa berasal dari tipping fee yang harus dibayarkan pemkot sebagai
public servis untuk pengolahan sampah, kemudian pada masing-masing skenario
dilihat kepekaannya. Umur proyek untuk PLTSa ini adalah 25 tahun yang
didasarkan dari umur ekonomis bangunan. Pada kondisi dilapang, umur proyek
biasa lebih dari 25 tahun, namun untuk perhitungan Cashflow nilai uang pada setiap
tahunnya akan dikalikan dengan discount factor (DF) yang diberlakukan (untuk
skenario I menggunakan DF tujuh persen, sedangkan skenario II menggunakan DF
17 persen), setelah tahun ke-25 proyek, nilai DF akan bernilai nol sehingga
berapapun komponen akhir pada Cashflow akan bernilai nol.
7.1 Analisis Kelayakan Usaha PLTSa Skenario I
7.1.1 Arus Manfaat (Inflow)
Manfaat merupakan sesuatu yang dapat menambah pendapatan bagi usaha
dengan kata lain segala sesuatu yang diperoleh setelah adanya pengorbanan atau
biaya. Pada unit usaha PLTSa, manfaat yang diperoleh berasal dari penjualan

listrik, debu, retribusi kebersihan serta nilai sisa dari barang investasi pada saat
proyek berakhir.
7.1.1.1 Penjualan Listrik
Penetapan harga listrik berdasarkan harga tarif dasar yang ditetapkan PLN.
Nilai penjualan listrik diperoleh dari volume produksi listrik dikalikan dengan
harga jual listrik. Produksi listrik pada PLTSa adalah 1.600 kw/jam, pemakaian
listrik dari pabrik tersebut adalah 25 persen dari output perjamnya sehingga
pemakaian listrik perhari adalah 9.600 kwh dan perkiraan kehilangan listrik pada
saat proses produksi adalah 10 persen. Total produksi listrik bersih yang dapat
dijual adalah ((1.600 kwh x 24 jam) 9.600 kw per-hari) x (100 % - 10 %)) x 30
hari x 12 bulan adalah 9.331.200 kilowatt pertahun. Harga penjualan perkwh listrik
ke PLN adalah Rp 500, sehingga total nilai penjualan bersih listrik pertahun adalah
Rp 4.665.600.000.
Penjualan listrik PLTSa akan meningkat 30 persen per-lima tahunan. Hal ini
dilakukan menurut prediksi tim ahli PLTSa dari LPPM ITB dimana subsisi listrik
akan dihapus oleh pemerintah secara bertahap. Asumsi lain yang digunakan adalah
rata-rata inflasi pertahun sekitar empat persen, berarti dalam kurun waktu lima
tahun inflasi akan mencapai 20 persen. Proyeksi pendapatan per-lima tahunan
listrik dalam chashflow dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Proyeksi Pendapatan Listrik PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Tahun
HargaRp/
Rp/tahun
KeKwh
1-5
500,00
4.665.600.000,00
6-10

650,00

6.065.280.000,00

11-15

845,00

7.884.864.000,00

16-20

1.098,50

10.250.323.200,00

21-25

1.428,05

13.325.420.160,00

Dengan menaikan harga jual listrik 30 persen per-lima tahun, maka selama
lima tahun PLTSa masih mendapatkan laba penjualan sekitar 10 persen. Harga
penjualan listrik pada tahun pertama Rp 500 per-kwh sampai tahun ke-lima.
Kemudian pada tahun ke-enam sampai ke-10 mengalami kenaikan sebanyak 30
persen menjadi Rp 650 per-kwh. Penjualan ini terus bertahap sampai tahun ke-25
menjadi Rp 1.425 per-kwh.
7.1.1.2 Penjualan Debu
Debu dihasilkan dari limbah pengolahan sampah PLTSa, jumlah produksi
debu dari PLTSa adalah 20 persen dari berat sampah yang diolah. Penetapan harga
penjualan debu disesuaikan dengan penjualan pasir yaitu per-ritasi (rit) truk. Jumlah
sampah yang diolah adalah 250 ton, debu yang dihasilkan adalah 50 ton, jika berat
berbanding volume untuk debu adalah 0,25 dan debu yang hilang adalah 10 persen
maka jumlah pasir yang dihasilkan adalah 180 m3.
Jumlah debu/rit adalah 8 m3 maka jumlah debu yang akan terjual adalah
22,5 rit/hari atau 8.100 rit/tahun. Nilai penjualan debu diasumsikan 50 persen lebih
rendah dari harga jual pasir pasang, hal ini didasarkan stuktur debu PLTSa lebih
halus yang menyebabkan harus ada penambahan komponen lain agar debu masih
memiliki manfaat mendekati pasir pasang (Rp 500.000 x 50 persen) yaitu Rp
250.000, sehingga nilai penjulan debu selama satu tahun adalah Rp 2.025.000.000.
Penjualan per-ton debu akan mengalami peningkatan sebesar 30 persen dalam
rentang waktu tiga tahun sekali. Konsumen debu adalah toko-toko bangunan,
dengan asumsi pada saat PLTSa menaikan harga jual kepada PLN, PLN

melakuakan hal yang sama ke pelanggannya. apabila asumsi seluruh toko bangunan
adalah pelanggan PLN. Dengan adanya asumsi yang sama pada peningkatan
penjualan listrik, agar PLTSa tidak membebani toko-toko bangunan tersebut maka
kenaikan harga jual debu dilakukan per-tiga tahun sebesar 30 persen, sehingga
proyeksi pendapatan per-tiga tahunan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Proyeksi Pendapatan Debu PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Tahun
Harga Rp/
Rp/tahun
KeRit
1-3
250.000,00
2.025.000.000,00
4-6
325.000,00
2.632.500.000,00
7-9

422.500,00

3.422.250.000,00

10-12

549.250,00

4.448.925.000,00

13-15

714.025,00

5.783.602.500,00

16-18

928.232,50

7.518.683.250,00

19-21

1.206.702,25

9.774.288.225,00

22-24

1.568.712,93

12.706.574.692,50

25

2.039.326,80

16.518.547.100,25

Dengan menaikan harga jual debu 30 persen per-tiga tahun, maka selama
lima tahun PLTSa masih mendapatkan laba penjualan sekitar 20 persen. Harga
penjualan debu pada tahun pertama Rp 250.000 per-rit sampai tahun ke-tiga.
Kemudian pada tahun ke-empat sampai ke-enam mengalami kenaikan sebanyak 30
persen menjadi Rp 325.000 per-rit.

Penjualan ini terus naik secara bertahap

sampai tahun ke-25 menjadi Rp 2.039.326,80 per-rit.


7.1.1.3 Retribusi Sampah
PLTSa mengeluarkan biaya operasional yang cukup tinggi disetiap
periodenya. Untuk meringankan biaya operasional, maka DLHK mengambil jasa

pengelolaan sampah kepada masyarakat dengan pengambilan retribusi sampah.


Nilai retribusi kebersihan dari DLHK Kota Bogor adalah Rp 243.028.742,58
perbulan,

sedangkan pendapatan retribusi untuk satu tahun adalah

Rp

2.916.344.911. Nilai retribusi yang dimasukan kedalam cashflow didasarkan


pendapatan rata-rata retribusi sampah di DLHK selama kurun waktu lima tahun.
Proyeksi pendapatan retribusi dapat dilihat pada pada Tabel 10.
Tabel 10 Proyeksi Nilai Retribusi Sampah Kota Bogor Tahun 2009
Tahun

Biaya Operasional

Retribusi

Persentase (%)

2003

6.359.300.900

2.000.026.350

31,45

2004

9.160.158.000

2.542.720.160

27,76

2005

15.551.432.800

2.836.788.000

18,24

2006

17.641.613.000

3.624.600.000

20,55

2007

17.937.718.000

3.577.590.045

19,94

Rata-rata

13.330.044.540

2.916.344.911

23,59

Sumber : Dinas lingkungan Hidup dan Kebersihan (2007)


Pendapatan retribusi akan mengalami peningkatan sebesar 30 persen
(asumsi peningkatan taraf hidup masyarakat yang berimbas pada peningkatan
jumlah rumah dan kenaikan barang-barang konsumsi). Sehingga, hal tersebut akan
berimbas pada kenaikan pada pendapatan retribusi, dalam rentang waktu tiga tahun
sekali. Pihak yang membayar tarif retribusi diasumsikan seluruh masyarakat Kota
Bogor,

dengan

mekanisme

penarikan

retribusi

dikembalikan

pada

nota

kesepahaman yang telah ditunjuk oleh pemerintah Kota Bogor yaitu tarif
didasarkan pendekatan pemakain air PDAM, sedangkan untuk non-pelanggan
PDAM mekanisme penarikan retribusi dilakukan oleh dinas pendapatan daerah
(dispenda) Kota Bogor. Adapun rincian retribusi yang harus dibayarkan masyarakat

tidak di informasikan kepada penulis. Rata-rata pendapatan retribusi yang diterima


DLHK adalah Rp 2.916.344.911 selama lima tahun terakhir, sehingga proyeksi
pendapatan per-tiga tahunan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Proyeksi Pendapatan Retribusi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Tahun KeRp/tahun
1-3

2.916. 344.911,00

4-6

3.791.248.384.30

7-9

4.928.622.899,59

10-12

6.407.209.769,47

13-15

8.329.372.700,31

16-18

10.828.184.510,40

19-21

14.076.639.863,52

22-24

18.299.631.822,57

25

23.789.521.369,35

7.1.1.4 Subsidi APBD Kota Bogor


Pelaksanaan usaha PLTSa membutuhan biaya investasi yang sangat besar,
yaitu sebesar Rp 50.347.703.000 untuk biaya investasi diawal tahun, sehingga
dalam pelaksanaan pembangunan PLTSa membutuhkan dana sebagai modal awal
investasi. DLHK akan mengajukan dana sebesar 50 miliyar untuk perbaikan
pelayanan kebersihan dari dana cadangan APBD Kota Bogor. Dana ini di keluarkan
APBD sebagai upaya pemerintah Kota Bogor dalam penanganan permasalahan
sampah di Kota Bogor, terutama terkait dengan masalah kesehatan dan lingkungan
di lokasi TPA.
7.1.1.5 Nilai Sisa

Nilai sisa merupakan nilai di akhir proyek yang berasal dari peralatan dan
mesinmesin yang masih memiliki umur ekonomis. Nilai sisa ini terbagi menjadi
tiga komponen, yaitu nilai sisa dari investasi mesin dan sistem operasi, nilai sisa
dari investasi konstruksi pabrik dan pengolahan limbah serta nilai sisa dari investasi
transmisi listrik dan biaya pra investasi. Nilai sisa tersebut dinyatakan dalam satuan
rupiah. Pada Tabel 12. dapat diketahui untuk nilai sisa dari investasi mesin
memiliki nilai sisa sebesar Rp 1.500.000, sedangkan untuk sistem operasi tidak
memiliki nilai sisa karena sistem operasi merupakan beban biaya sertifikasi sebagai
jaminan pabrik akan beroperasi dengan baik selama periode umur proyek.
Cara perhitungan nilai sisa berdasarkan penyusutan garis lurus, contoh
perhitungan untuk mesin generator yaitu: harga per-unit generator Rp 800.000.000
dengan umur teknis 10 tahun, nilai penyusutan per-tahunnya adalah Rp
800.000.000 : 10 tahun = Rp 80.000.000. Apabila umur proyek 25 tahun maka
berdasarkan umur teknis generator akan mengalami tiga kali pembelian dan masih
memiliki umur teknis selama lima tahun, sehingga nilai sisa dari generator adalah
lima tahun dikali nilai penyusutan adalah Rp 400.000.000 begitupula untuk
perhitungan peralatan dan prasarana penunjang PLTSa lainnya. Total nilai sisa
pembangunan transmisi listrik adalah Rp 44.367.667. Total nilai sisa tersebut
diperoleh dari beban penyusutan dikali dengan sisa umur ekonomis, sedangkan
komponen-komponen investasi lain tidak mempunyai nilai karena komponen
tersebut diasumsikan habis selama proyek berlangsung.
Tabel 12 Nilai Sisa Investasi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Umur
Penyusutan
Uraian
Total Nilai
Tekni
per Tahun
s
Generator
10
800.000.000
80.000.000

Nilai Sisa
400.000.000

Fluel Handling
Supply Water
System
Total Biaya
Investasi Mesin
Tiang No.1 (tiang
awal-kabel nail)TM-11B
Tiang Tumpu
Tiang Double
Tumpu
Guy Set (stay)
lengkap untuk tiang
bulat
Konduktor Fasa
SUTM (termasuk
sagging)
Penggantian Kabel
PLN dari tiang ke
gardu
Kabel 20 Kv,
N2XSEBY 3 x 70
sqmm (tertanam)
20 kV Kabel
Tranmisi
Biaya Pemasangan
SUTM
Total Biaya
Transmisi Listrik
ke Gardu PLN
Total Biaya

15

1.800.000.000

120.000.000

600.000.000

10

1.000.000.000

100.000.000

500.000.000

23.662.000.000 1.294.480.000 1.500.000.000


15
15

19.500.000
19.500.000

1.300.000
1.300.000

6.500.000
6.500.000

15

5.200.000

346.667

1.733.333

15

6.250.000

416.667

2.083.333

15

9.000.000

600.000

3.000.000

15

3.000.000

200.000

1.000.000

15

59.653.000

3.976.867

19.884.333

15

6.000.000

400.000

2.000.000

15

5.000.000

333.333

1.666.667

133.103.000
8.873.533
44.367.667
41.347.703.000 2.361.457.533 1.544.367.667

7.1.2 Arus Biaya (Outflow)


Arus biaya (outflow) merupakan pengeluaranpengeluaran yang akan terjadi
selama usaha berlangsung. Pada unit usaha PLTSa Kota Bogor, komponen arus
biaya (outflow) terdiri dari biaya investasi yang terdiri dari biaya investasi mesin

dan sistem operasi, biaya investasi konstruksi pabrik dan transmisi listrik, biaya
pra-investasi dan operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
7.1.2.1 Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan pada awal umur proyek
secara keseluruhan. Barangbarang investasi akan habis dipakai jika umur
ekonomis dari barang tersebut telah habis waktunya. Kegiatan investasi juga dapat
dilakukan lagi jika umur ekonomis dari barang tertentu telah habis sedangkan
pelaksanaan proyek belum berakhir, kegiatan ini disebut sebagai re-investasi
peralatan, mesin, bangunan ataupun prasarana-prasarana yang mendukung kegiatan
proyek.
7.1.2.1.1

Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi

Pada Tabel 13. biaya investasi pada unit usaha PLTSa Kota Bogor
dikeluarkan pada tahun ke nol, yaitu tahun dimana sarana prasarana pabrik PLTSa
dibangun, namun output PLTSa belum dapat dihasilkan. Komponen yang paling
penting dari pembangunan unit usaha PLTSa adalah pada komponen mesin dan
sistem operasi, dapat diketahui investasi terbesar adalah pembelian mesin Broiler
Island yaitu sebesar Rp 12.720.000.000. Alat mesin pemanas air yang digunakan
untuk menghasilkan uap diperoleh dengan cara merakit sendiri dengan kemampuan
yang di disain mendekati teknologi PLTSa Taichang Xienxin Refuse Inceneration,
sehingga diharapkan alat tersebut selain memiliki kualitas yang lebih baik juga
harga per unit mesin akan lebih murah jika dibandingkan dengan memesan
langsung dari cina.

Tabel 13 Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi PLTSa Kota Bogor Tahun
2009
Uraian

Jumlah
Harga/Satuan
(satuan/unit)

Broiler Island
1
12.720.000.000
Turbine Island
1
6.342.000.000
Generator
1
800.000.000
Balance
of
Plant
1
3.000.000.000
Pengolahan Gas
Buang
1
2.300.000.000
Control
Management
System
1
1.000.000.000
Flue Handling
1
1.800.000.000
Supply
Water
System
1
1.000.000.000
Test
and
Commissioning
1
3.500.000.000
Sertifikasi
Layak Operasi
1
200.000.000.
Total Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi

7.1.2.1.2

Umur
Ekonomis
(tahun)
25
25
10

12.720.000.000
6.342.000.000
800.000.000

25

3.000.000.000

25

2.300.000.000

5
15

1.000.000.000
1.800.000.000

10

1.000.000.000

25

3.500.000.000

200.000.000
32.662.000.000

TOTAL
INVESTASI

Biaya Investasi Konstruksi Pabrik dan Transmisi Listrik

Komponen dari konstruksi pabrik terdiri dari dari empat komponen utama
yaitu bangunan utama (bungker, ruang bongkar muat dan ruang pembakaran),
Cooling Tower (ruang pendingin uap), cerobong (bangunan untuk pengolahan gas
buang), kolam penampungan untuk mengolah air lindi serta fasilitas penunjang
berupa drainase dan pagar. Komponen biaya untuk investasi konstruksi pabrik dan
transmisi listrik dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Biaya Investasi Konstruksi Pabrik dan Transmisi Listrik dari PLTSa
Tahun 2009

Uraian

Jumlah
(satuan/un
it)
1

Harga/Satua
n

Electrical
133.103.000
Construct
14.552.600.0
ion
1
00
Total Biaya Investasi Bangunan

Umur
Ekonomis
(tahun)
15
25

TOTAL
INVESTASI
133.103.000
14.552.600.000
14.685.703.000

Total biaya investasi untuk konstruksi pabrik sebesar Bagian terperinci untuk
masing-masing komponen dapat dilihat pada Lampiran 2.
7.1.2.1.3

Biaya Pra-Investasi dari Unit Usaha PLTSa

Biaya pra-investasi dikeluarkan pada saat proyek belum dibangun. Rincian


biaya dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Biaya Pra-Investasi PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Satuan
Umur
Harga/Satua
Uraian
/
Ekonomis Total Investasi
n
Jumlah
(tahun)
Biaya Konsultasi
1 Paket 1.500.000.00
1.500.000.00
Manajemen
0
10
0
1 Paket
Perizinan, Amdal , dll
500.000.000
5
500.000.000
Modal Kerja
1 Paket 1.000.000.00
1.000.000.00
Operasional
0
25
0
Total Biaya Pranvestasi
3.000.000.00
0

Biaya re-investasi yang dilakukan seperti : Control Management System,


Sertifikasi Layak Operasi, Kolam Penampungan Air, Fasilitas Penunjang,
Perizinan, Amdal, dll. Re-Investasi setiap 10 tahunan dilakukan pada mesin
generator, supplay water system dan biaya konsultasi manajemen yaitu pada tahun
ke-11 dan tahun ke-21. Total biaya re-investasi adalah sebesar Rp 17.033.103.000.
Pada unit usaha PLTSa biaya yang dikeluarkan berupa biaya konsultasi

manajemen, perizinan amdal dan modal kerja operasional. Total biaya yang
dikeluarkan sebesar Rp 3.000.000.000, dimana komponen yang paling tinggi pada
biaya konsultasi manajemen yaitu sebesar Rp 1.500.000.000. Sarana prasarana
yang ada dalam pebangunan unit usaha PLTSa memiliki umur ekonomis yang tidak
sama dengan umur proyek sehingga dilakukan re-investasi setelah umur ekonomis
alat tersebut berakhir. Rincian biaya re-investasi dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Biaya Re-Investasi PLTSA Kota Bogor Tahun 2009 (dalam juta
rupiah)
PERIODE INVESTASI
Umur
(tahun)
Uraian
Teknis
6
11
16
21
Generator
10
0
800
0
800
Control Management System
5
1.000
100
100 1.000
Fluel Handling
15
0
0
1.800
0
Supply Water System
10
0 1.000
0 1.000
Sertifikasi Layak Operasi
5
200
200
200
200
Drainase
5
250
250
250
250
Pagar
5
175
175
175
175
Tiang No.1 (tiang awal-kabel nail)TM-11B
15
0
0
19,5
0
Tiang Tumpu
15
0
0
19,5
0
Tiang Double Tumpu
15
0
0
5,2
0
Guy Set (stay) lengkap untuk tiang
bulat
15
0
0
6,25
0
Konduktor Fasa SUTM (termasuk
sagging)
15
0
0
9
0
Penggantian Kabel PLN dari tiang ke
gardu
15
0
0
3
0
Kabel 20 Kv, N2XSEBY 3 x 70
sqmm (tertanam)
15
0
0
59,653
0
20 kV Kabel Tranmisi
15
0
0
6
0
Biaya Pemasangan SUTM
15
0
0
5
0
Biaya Konsultasi Managemen
10
0 1.500
0 1.500
Perizinan, Amdal , dll
5
500
500
500
500
Total Biaya Tahun ke2.125 5.425 4.058,103 5.425
Total Biaya Re-investasi Selama Proyek
17.033,103

7.1.2.2 Biaya Operasional


Biaya operasional merupakan keseluruhan biaya yang berhubungan dengan
kegiatan operasional (produksi) dari unit usaha PLTSa. Biaya ini terbagi menjadi
dua, yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
7.1.2.2.1 Biaya Tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume
kegiatan tertentu yang tidak berpengaruh langsung pada output yang dihasilkan unit
usaha PLTSa. Dalam hal ini yang tergolong dalam biaya tetap adalah tenaga kerja,
overhead kantor dan operasional DLHK. Rincian biaya tetap untuk tenaga kerja
pada unit usaha PLTSa dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Rincian Biaya Tetap untuk Tenaga Kerja PLTSa Kota Bogor Tahun
2009
Total Biaya
Jumlah
Harga/
Tetap
Uraian
(satuan/bulan)
satuan (Rp)
(Rp/tahun)
6.000.000
72.000.000
Plant Manager
1
Asst Manager

4.000.000

48.000.000

Supervisor
Adm. Keuangan dan
Umum

2.500.000

60.000.000

1.500.000

18.000.000

Teknisi dan Operator

3.000.000

216.000.000

Driver

71

1.500.000

1.278.000.000

Security

1.500.000

72.000.000

Helper

261

1.000.000

3.132..000.000

900.000

10.800.000
4.906.800.000

Office Boy
Total Biaya Tenaga Kerja

Total kebutuhan tenaga kerja berdasarkan untuk

teknisi dan operator

sebanyak 6 orang yang menempati posisi penimbangan, penirisan, proses


pembakaran, sistem transmisi listrik, pengolahan gas buang dan debu serta

pengolahan air lindi. Security ditempatkan di pintu masuk sebanyak dua orang,
pintu keluar satu orang dan kantor satu orang. Driver yang diperlukan adalah 5
orang untuk sopir pick-up, 63 orang untuk sopir dump-truck dan satu orang untuk
sopir excavator/bulldozer dan dua orang untuk sopir cadangan serta satu orang
untuk sopir operasional kantor. Helper yang diperlukan sebanyak 261 orang,
masing-masing dibutuhkan satu orang untuk kuli angkut pada masing-masing
armada pick-up, empat orang pada masing-masing armada dump-truck dan dua
orang untuk juru bantu di lokasi tempat masuk sampah, satu orang di lokasi system
opeasi PLTSa serta satu orang sebagai office boy di kantor.
Komponen biaya tetap lainnya yaitu untuk biaya overhead pabrik, kantor
dan kendaraan dapat dilihat pada Tabel 18. Unit usaha PLTSa dalam kegiatan
operasional pengolahan sampah mengunakan mesin dengan teknologi terbaru
sehingga secara keseluruhan untuk biaya tenaga kerja termasuk kedalam biaya
tetap.
Tabel 18 Rincian Biaya Tetap untuk Overhead Pabrik, Kantor dan Kendaraan
PLTSa Kota Bogor Tahun 2009

Uraian

Satuan

Tran. Lokal dan Luar


Kota

paket/
bulan
paket/
bulan
paket/
bulan

Spare Part

paket

Pemeliharaan
Prasarana

paket

Monitoring Polutan

paket

Air yang diuapkan

m3

Air untuk Kondensor


dan Broiler

m3

Tambahan Air

m3

Alat Tulis Kantor

Jumlah

Harga(Rp)/
Satuan

Total Biaya
(Rp/tahun)

2.000.000,00

24.000.000,00

6.000.000,00

72.000.000,00

10.000.000,00

120.000.000,00

23.662.000.000,00

662.536.000,00

14.685.703.000,00

22.028.554,50

41.666.666,67

500.000.000,00

4.000,00

82.114.560,00

4.000,00

93.312.000,00

175.426.560,00

35.085.312,00

10.000.000,00

120.000.000,00

750.000,00
1
0,3 % dari Total
Investasi
50.347.703.000
Ganti oli, servis
Maintenance
paket/
dll untuk 69 pick
500.000,00
Kendaraan
bulan
up dan dump truk
Maintenance Alat
paket/ Ganti oli, servis
1.000.000,00
berat
bulan dll 2 Ekcavator
0,3 % dari Total
paket/
Asuransi 3 %
Investasi
10.350.000.000
bulan
kendaraan
Total Biaya Overhead Pabrik, Kantor dan Kendaraan

9.00.000,00

Telpon dan Fax

BBM+Oil+Mantenence
Pembinaan Instansi
(Representatif)
Asuransi Mesin dan
Bangunan 3 %

paket/
bulan
paket/
bulan
paket/
bulan

1
1
1
4% x 70% x
Investasi
Peralatan
0,5 % x 30 % x
Investasi
Bangunan
1
0,66 liter/detik x
12 bulan x 30
hari x 24 jam x
60 detik x 60
menit
2,7 m3 per jam x
24 jam x 30 hari
x 12 bulan
20 % dari Total
Kebutuhan Air
1

151.043.109,00
414.000.000,00
24.000.000,00
,
31.050.000,00
420.000.000.00

7.1.2.2.2 Biaya Variabel


Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan dimana besar biaya tersebut
sangat tergantung dari jumlah produk yang dihasilkan. Dalam penelitian ini besar
biaya variabel tergantung dari jumlah sampah yang akan diolah. Biaya variabel
pada usaha PLTSa terbagi menjadi dua, yaitu biaya variabel untuk pengolahan

sampah dan biaya variabel untuk pengangkutan sampah. Total biaya variabel pada
masing-masing komponen adalah Rp 1.170.000.000 dan Rp 5.827.500.000. Bahan
baku utama dalam unit usaha PLTSa adalah sampah, namun karena belum ada nilai
yang pasti untuk dikonversikan kedalam rupiah, maka sampah tidak termasuk
dalam komponen biaya variabel. Komponen yang menjadi biaya variabel untuk
pengolahan sampah dengan teknologi PLTSa adalah CaO, asetilen dan karbon aktif
sebagai bahan untuk mengurangi kadar polusi. Total biaya variabel yang
dibutuhkan adalah Rp 6.997.500.000 disetiap tahunnya, dengan rincian biaya
terdapat pada Tabel 19.
Tabel 19 Rincian Biaya Variabel PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Total Biaya
Satua
Harga/satua
Uraian
Kebutuhan
Variabel
n
n (Rp)
(Rp/tahun)
2,5 kg/ton sampah
CaO
Kg
per hari x 250 ton x
600,00
135.000.000,00
30 hari x 12 bulan
0,05 m3/jam x 250
Asetilen
m3
ton x 30 hari x 12
50.000,00
225.000.000,00
bulan
21 kg/ton x 250 ton
Karbon aktif
Kg
9.000,00
225.000.000,00
x 30 hari x 12 bulan
1.170.000.000,0
Total Biaya Variabel Pengolahan Sampah
0
20 liter x (1515
m3/12 m3) x 30 hari
4.999.500.000,0
BBM TPA
liter
x 12 bulan
5.500,00
0
20 liter x 5 x 30 hari
BBM TPS
liter
x 12 bulan
6.500,00
234.000.000,00
BBM Alat
300 liter x 1 x 30
Berat
liter
hari x 12 bulan
5.500,00
594.000.000,00
5.827.500.000,0
Total Biaya Variabel Pengangkutan Sampah
0
6.997.500.000,0
Total biaya Variabel
0

Pada prinsip ekonomi, pada setiap waktu akan terjadi peningkatan


kebutuhan untuk meningkatkan kepuasan, juga untuk yang lainnya sehingga biaya
operasional diasumsikan akan mengalami peningkatan 10 persen per dua tahunan.
Hal ini diambil dari asumsi rata-rata tingkat inflasi pertahun adalah empat persen,
sehingga total inflasi selama dua tahun adalah delapan persen. Dengan demikian
PLTSa memiliki cadangan dana dua persen per-dua tahun proyek.

Perubahan

peningkatan untuk biaya tetap dan variabel dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Perubahan Biaya Operasional PLTSa Kota Bogor Selama Proyek
Tahun 2009
Tahun
Total Biaya Tetap (Rp)
Total Biaya Variabel (Rp)
1-2
9.996.483.068,83
6.997.500.000,00
3-4
10.996.131.375,71
7.697.250.000,00
5-6
12.095.744.513,28
8.466.975.000,00
7-8
13.305.318.964,61
9.313.672.500,00
9-10
14.635.850.861,07
10.245.039.750,00
11-12
16.099.435.947,18
11.269.543.725,00
13-14
17.709.379.541,90
12.396.498.097,50
15-16
19.480.317.496,09
13.636.147.907,25
17-18
21.428.349.245,70
14.999.762.697,98
19-20
23.571.184.170,27
16.499.738.967,77
21-22
25.928.302.587,30
18.149.712.864,55
23-24
28.521.132.846,02
19.964.684.151,00
25
31.373.246.130,63
21.961.152.566,11
7.1.3 Kelayakan Finansial Usaha PLTSa Skenario II
Kelayakan finansial usaha PLTSa dilihat dari beberapa kriteria, yaitu NPV,
IRR, Net B/C dan Pay back Period. Pada Tabel 20. memperlihatkan hasil analisis
finansial kelayakan usaha PLTSa dengan tingkat discount rate 7 persen.
Berdasarkan Tabel 21. menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah
negatif sebesar Rp 10.781.436.315,13. Nilai ini berarti usaha PLTSa yang
dilakukan menurut nilai sekarang adalah belum menguntungkan untuk dilaksanakan

karena memberikan kerugian sebesar Rp 10.781.436.315,13 selama umur proyek


(25 tahun).
Tabel 21 Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
No
Kriteria Kelayakan
Nilai
1
NPV (Rp)
(10.781.436.315,13)
2
IRR (%)
3,02
3
Net B/C
0,55
4
Payback period
72,41
Nilai IRR usaha PLTSa yang diperoleh adalah 3,02 persen. Nilai ini berada
di atas nilai discount rate yang berlaku, yaitu 7 persen sehingga usaha PLTSa
belum memenuhi kriteria kelayakan finansial. Nilai Net B/C pada usaha tersebut
adalah 0,55 yang berarti setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan pada unit usaha
PLTSa kapasitas 250 ton akan menambah manfaat bersih sebesar Rp 0,55 atau rugi
Rp 0,45.
7.2

Analisis Kelayakan Usaha PLTSa Skenario II


Pada skenario II PT X merupakan unit entitas bisnis murni yang dengan

komponen manfaat dan biaya yang memiliki nilai yang sama seperti PLTSa
skenario I, namun poin yang akan dibahas hanya beberapa komponen inflow dan
outflow yang berbeda saja. Untuk komponen inflow harga penjualan listrik dan
debu adalah sama karena jumlah sampah yang diolah pada skenario II sama yaitu
sebanyak 250 ton/hari. Untuk komponen outflow biaya investasi dan re-investasi,
biaya operasional dan sebagainya. Sedangkan komponen yang berbeda pada subbab
inflow adalah modal investasi PLTSa PT X berasal dari pinjaman dari bank dan
tipping fee yang harus dibayar pemkot ke PLTSa sebagai public service atau
pembayaran atas jasa pengelolaan dan pengolahan sampah oleh PLTSa PT X dari

pemerintahan Kota Bogor. Untuk komponen outflow adalah adanya biaya angsuran
pinjaman yang harus dibayar PLTSa atas pinjaman modal investasi dan beban pajak
yang harus dikeluarkan dari keuntungan bersih kena pajak PT X.
7.2.1 Arus Manfaat (Inflow)
Manfaat atau inflow merupakan segala sesuatu yang dapat menambah
pendapatan bagi usaha dengan kata lain segala sesuatu yang diperoleh setelah
adanya pengorbanan atau biaya. Pada usaha PLTSa skenario II manfaat yang
diperoleh berasal dari penjualan listrik, penjualan debu, tiping fee dan pinjaman
dari bank serta nilai sisa dari barang investasi pada akhir umur proyek atau usaha
dan yang akan dijelaskan secara rinci adalah komponen tipping fee, serta pinjaman
dari bank.
7.2.1.1 Penjualan Listrik
Nilai penjualan listrik diperoleh dari volume produksi listrik dikalikan
dengan harga jual listrik. Produksi listrik pada PLTSa adalah 1.600 kw/jam,
pemakaian listrik dari pabrik tersebut adalah 25 persen dari output perjamnya
sehingga pemakaian listrik perhari adalah 9.600 kwh dan perkiraan kehilangan
listrik pada saat proses produksi adalah 10 persen. Total produksi listrik bersih yang
dapat dijual adalah ((1.600 kwh x 24 jam) 9.600 kw per-hari) x (100 % - 10 %)) x
30 hari x 12 bulan adalah 9.331.200 kilowatt pertahun. Harga penjualan perkwh
listrik ke PLN adalah Rp 500, sehingga total nilai penjualan bersih listrik pertahun
adalah RP 4.665.600.000.
Penjualan listrik PLTSa akan meningkat 30 persen per-lima tahunan. Hal ini
dilakukakan menurut prediksi peneliti dari Tim LPPM ITB subsisi listrik akan

dihapus oleh pemerintah secara bertahap. Asumsi lain yang digunakan adalah ratarata inflasi pertahun sekitar empat persen, berarti dalam kurun waktu lima tahun
inflasi akan mencapai 20 persen. Sehingga, proyeksi pendapatan per-lima tahunan
listrik dalam chashflow dapat dilihat pada Tabel 8.
7.2.1.2 Penjualan Debu
Jumlah produksi debu dari limbah PLTSa adalah 20 persen dari berat
sampah yang diolah. Penetapan harga penjualan debu disesuaikan dengan penjualan
pasir yaitu per-ritasi (rit) truk. Jumlah sampah yang diolah adalah 250 ton, debu
yang dihasilkan adalah 50 ton, jika berat berbanding volume untuk debu adalah
0,25 dan debu yang hilang adalah 10 persen maka jumlah pasir yang dihasilkan
adalah 180 m3. Jumlah debu/rit adalah 8 m3 maka jumlah debu yang akan terjual
adalah 22,5 rit/hari atau 8.100 rit/tahun. Nilai penjualan debu diasumsikan 50
persen harganya lebih rendah dari harga pasir (Rp 500.000 x 50 persen) yaitu Rp
250.000, sehingga nilai penjulan debu selama satu tahun adalah Rp 2.025.000.000.
dalam kurun waktu tiga tahunan harga penjualan debu diasumsikan naik 30 persen,
proyeksi perubahannya dapat dilihat pada Tabel 9.
7.2.1.3 Tipping Fee/Public Service
Tipping Fee/Public Service adalah Pendapatan lain yang diperoleh dari
pemerintah sebagai pembayaran jasa dari pengolahan sampah yang diambil dari
biaya pelayanan yang selama ini dibayarkan masyarakat ke DLHK yaitu dalam
bentuk penerimaan retribusi. Pendapatan tipping fee akan mengalami peningkatan
sebesar 30 persen

dalam rentang waktu tiga tahun sekali, sehingga proyeksi

pendapatan per-tiga tahunan dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Proyeksi Pendapatan Tipping Fee Tahunan PLTSa Kota Bogor


Tahun 2009
Tahun KeRp/tahun
1-3

10.800.000.000,00

4-6

14.040.000.000,00

7-9

18.252.000.000,00

10-12

23.727.600.000,00

13-15

30.845.880.000,00

16-18

40.099.644.000,00

19-21

52.129.537.200,00

22-24

67.768.398.360.00

25

88.098.917.868,00

Tipping fee didasarkan pada biaya operasional yang harus dibayarkan


institusi sebelumnya karena adanya biaya operasional pengelolaan dan pengolahan
sampah. Tipping fee yang harusnya dibayarkan PLTSa adalah Rp 136.936,67/ton
sampah yang diolah, namun karena pertimbangan biaya tipping fee yang terlalu
mahal jika dibandingkan dengan biaya operasional yang biasa dikeluarkan DLHK
sehingga penetapan tipping fee sebesar Rp 120.000/ton sampah yang diolah, hal ini
diambil dari 50 persen tipping fee yang harus dibayarkan pemkot Kota Bandung
untuk PLTSa (jumlah sampah yang diolah Kota Bogor 50 persen dari jumlah
sampah Kota Bandung).
7.2.1.4 Modal Pinjaman Bank
Pelaksanaan usaha PLTSa membutuhan biaya investasi yang sangat besar,
yaitu sebesar Rp 50.347.703.000 untuk biaya investasi diawal tahun, sehingga
dalam pelaksanaan pembangunan PLTSa membutuhkan dana sebagai modal awal
investasi. PT X akan mengajukan dana sebesar 50 miliyar untuk biaya investasi

proyek PLTSa. Pinjaman akan dibayar dengan angsuran tetap selama 10 tahun
Suku bunga yang ditetapkan adalah 17 persen yaitu bunga pinjaman di BRI tahun
2008, penjelasan lebih lanjut terdapat di komponen outflow.
7.2.1.5 Nilai Sisa
Nilai sisa merupakan nilai di akhir proyek yang berasal dari peralatan dan
mesinmesin yang masih memiliki umur ekonomis. Nilai sisa ini terbagi menjadi
tiga komponen, yaitu nilai sisa dari investasi mesin dan sistem operasi, nilai sisa
dari investasi konstruksi pabrik dan pengolahan limbah serta nilai sisa dari investasi
tranmisi listrik dan biaya pra investasi. Nilai sisa dari investasi mesin memiliki nilai
sisa sebesar Rp 1.500.000, sedangkan untuk sistem operasi tidak memiliki nilai sisa
karena sistem operasi merupakan lisensi yang harus dibayarkan kepada pemilik
sistem PLTSa yang di ambil manfaatnya oleh PLTSa PT X serta sebagai jaminan
pabrik beroperasi dengan baik. Total nilai sisa pembangunan tranmisi listrik adalah
Rp 44.367.667. Total nilai sisa tersebut diperoleh dari beban penyusutan dikali
dengan sisa umur ekonomis, sedangkan komponen-komponen investasi lain tidak
mempunyai nilai karena komponen tersebut diasumsikan habis selama proyek
berlangsung (Tabel 12).
7.2.2 Arus Biaya (Outflow)
Arus biaya (outflow) merupakan pengeluaranpengeluaran yang akan terjadi
selama usaha berlangsung. Pada unit usaha PLTSa PT X, komponen arus biaya
(outflow) terdiri dari biaya investasi yang terdiri dari biaya investasi mesin dan
sistem operasi, biaya investasi konstruksi pabrik dan transmisi listrik, biaya prainvestasi dan operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

7.2.2.1 Biaya Investasi


Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan pada awal umur proyek
secara keseluruhan. Barangbarang investasi akan habis pakai jika umur ekonomis
dari barang tersebut telah habis. Kegiatan investasi juga dapat dilakukan lagi jika
umur ekonomis dari barang tertentu telah habis, hal ini disebut sebagai reinvestasi.
7.2.2.1.1

Biaya Investasi Mesin dan Sistem operasi

Biaya investasi pada unit usaha PLTSa PT. X dikeluarkan pada tahun ke
nol, yaitu tahun dimana sarana prasarana pabrik PLTSa dibangun, namun output
PLTSa belum dapat dihasilkan. Komponen yang paling penting dari pembangunan
unit usaha PLTSa adalah pada komponen mesin dan sistem operasi, dapat diketahui
investasi terbesar adalah pembelian mesin Broiler Island yaitu sebesar Rp
12.720.000.000. Alat mesin pemanas air yang digunakan untuk menghasilkan uap
diperoleh dengan cara merakit sendiri dengan kemampuan yang disain mendekati
teknologi PLTSa Taichang Xienxin Refuse Inceneration, sehingga diharapkan alat
tersebut selain memiliki kualitas yang lebih baik juga harga per unit mesin akan
lebih murah jika dibandingkan dengan memesan langsung dari cina (dapat dilihat
pada Tabel 13).
7.2.2.1.2

Biaya Investasi Konstruksi Pabrik dan Transmisi Pabrik

Komponen dari konstruksi pabrik terdiri dari dari empat komponen utama
yaitu bangunan utama (bungker, ruang bongkar muat dan ruang pembakaran),
Cooling Tower (ruang pendingin uap), cerobong (bangunan untuk pengolahan gas
buang), kolam penampungan untuk mengolah air lindi serta fasilitas penunjang

berupa drainase dan pagar. Total biaya investasi untuk konstruksi pabrik sebesar
pada masing-masing komponen dapat dilihat pada Tabel 14 dan Lampiran 2.
7.2.2.1.3

Biaya Pra-Investasi dari Unit Usaha PLTSa

Sarana prasarana yang ada dalam pebangunan unit usaha PLTSa memiliki
umur ekonomis yang tidak sama dengan umur proyek sehingga dilakukan reinvestasi setelah umur ekonomis alat tersebut berakhir (dapat dilihat pada Tabel 15
dan 16). Biaya re-investasi yang dilakukan seperti : Control Management System,
Sertifikasi Layak Operasi, Kolam Penampungan Air, Fasilitas Penunjang,
Perizinan, Amdal, dll. Re-Investasi setiap 10 tahunan di lakukan pada mesin
generator, supplay water system dan biaya konsultasi manajemen yaitu pada tahun
ke-11 dan tahun ke-21. Total biaya re-investasi adalah sebesar Rp 17.033.103.000.
.
7.2.2.2 Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan keseluruhan biaya yang berhubungan dengan
kegiatan operasional (produksi) dari unit usaha PLTSa. Biaya ini terbagi menjadi
dua, yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
7.2.2.2.1 Biaya Tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume
kegiatan tertentu yang tidak berpengaruh langsung pada output yang dihasilkan
PLTSa. Dalam hal ini yang tergolong dalam biaya tetap adalah tenaga kerja,
overhead kantor dan operasional DLHK (dapat dilihat pada Tabel 17,18 dan 19).
Unit usaha PLTSa dalam kegiatan operasional pengolahan sampah
mengunakan mesin dengan teknologi terbaru sehingga secara keseluruhan untuk
biaya tenaga kerja termasuk kedalam biaya tetap karena jumlah tenaga kerja yang

dibutuhkan tidak mempengaruhi output yang dihasilkan. Total biaya tenaga kerja
paling tinggi ada pada tenaga bantu (helper) sebanyak Rp 4.906.00.800.
7.2.2.1.2 Biaya Variabel
Dalam penelitian ini besar biaya variabel tergantung dari jumlah sampah
yang akan diolah. Biaya variabel pada usaha PLTSa terbagi menjadi dua, yaitu
biaya variabel untuk pengolahan sampah dan biaya variabel untuk pengangkutan
sampah. Total pada biaya variabel masing-masing adalah Rp 1.170.000.000 dan Rp
5.827.500.000. Bahan baku utama dalam unit usaha PLTSa adalah sampah, namun
karena belum ada nilai yang pasti untuk dikonversikan kedalam rupiah, maka
sampah tidak termasuk dalam komponen biaya variabel. Komponen yang menjadi
biaya variabel untuk pengolahan sampah dengan teknologi PLTSa adalah CaO,
asetilen dan karbon aktif. Total biaya variabel yang dibutuhkan adalah Rp
6.997.500.000 pada setiap tahunnya (dapat dilihat pada Tabel 18 dan 19). Pada
prinsip ekonomi, pada setiap waktu akan terjadi peningkatan kebutuhan untuk
meningkatkan kepuasan, juga untuk yang lainnya sehingga biaya operasional
diasumsikan akan mengalami peningkatan 10 persen per dua tahunan (dapat dilihat
pada Tabel 20).
7.2.2.3 Biaya Angsuran Pinjaman
Analisis finansial kelayakan usaha PLTSa pada skenario II memperoleh
pinjaman modal dari bank BRI sebesar Rp 50.000.000.000. lamanya pinjaman yaitu
10 tahun, dengan bentuk pengembalian adalah angsuran tetap. Perhitungan
angsuran pinjaman pokok dan bunga pinjaman sebagai berikut :
Rumus Perhitungan Angsuran Kredit (Nilai Angsuran Tetap)

Angsuran per tahun

Pinjaman x {interest x (1 + interest)^periode}


{(1 + interest)^periode - 1}

Sedangkan rincian pijaman yang harus dibayarkan kepada pihak bank dapat dilihat
pada Tabel 23.
Tabel 23 Pembayaran Angsuran Pinjaman PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Nilai
Uraian
Satuan
Pinjaman
Rp
50.000.000.000
Jangka Waktu Angsuran
Tahun
10
Tingkat Suku Bunga
Persen
17
Capital Recovery Faktor
0,21
Angsuran Kredit per-Tahun
Rp/tahun
10.732.829.833,89
Total yang harus dibayarkan
Rp
107.328.298.338,89
7.2.2.4 Pajak Penghasilan Usaha
Besarnya pajak yang dikeluarkan tergantung dari perolehan laba PLTSa
setiap tahunnya. Rujukan perhitungan pajak penghasilan diperoleh dari laporan rugi
laba yang dapat dilihat pada Tabel 24. PLTSa baru mendapatkan pendapatan
positif ditahun ke-tujuh, sehingga mulai tahun ke tujuh PLTSa dikenakan pajak.
Jumlah pendapatan bersih yang dihasilkan PLTSa lebih besar daripada seratus juta
sehingga pajak yang dikenakan sesui ketentuan pada poin ke empat yaitu pajak
yang harus dibayarkan PLTSa kepada Pemerintah berdasarkan undang-undang No.
17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan badan usaha, lebih dari 100 juta
dikenakan pajak 10 persen, ditambah 50 juta dikenakan pajak 15 persen, ditambah
selisih pendapatan setelah dikurangi 100 juta dikenakan pajak 30 persen. Contoh
perhitungan adalah pada tahun ke-tujuh PLTSa PT X mendapatkan keuntungan
bersih Rp

3.969.174.491,31. Sehingga, pajak pertama yang harus dikeluarkan

adalah lebih dari 100 juta dikenakan pajak 10 persen dari 50 juta pertama yaitu Rp
5.000.000 ditambah 15 persen dari 50 juta kedua yaitu Rp 7.500.000. Sisanya (Rp

3.969.174.491,31 Rp 100.000.000 = Rp 3.869.172.491,31) dikali 30 persen yaitu


Rp 1.160.752.347,39. Jadi total pajak yang harus dikeluarkan adalah Rp 5.000.000
+ Rp 7.500.000 + Rp 1.160.752.347,39 = Rp 1.173.252.347,39 dan seterusnya
sama.
Tabel 24 Proyeksi Pembayaran Pajak PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
Tahun KeRp/tahun
7

1.173.252.347,39

1.465.358.680,48

1.315.013.791,19

10

3.665.559.450,55

11-12

4.137.956.922,10

13-14

6.078.391.920,31

15

5.423.394.443,34

16

9.429.685.628,34

17-18

8.709.188.403,68

19-20

12.202.290.900,40

21

12.253.018,355,20

22

17.824.362.643,45

23-24

16.865.380.837,42

25

23.053.248.425,51

7.2.3 Kelayakan Finansial Usaha PLTSa


Kelayakan finansial usaha PLTSa dilihat dari beberapa kriteria, yaitu NPV,
IRR, Net B/C dan Pay back Period. Pada Tabel 25 memperlihatkan hasil analisis
finansial kelayakan usaha PLTSa dengan tingkat discount rate 17 persen. Kriteria
kelayakan PLTSa skenario II dapat dilihat pada Tabel 25. Berdasarkan Tabel 25.
menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah Rp 1.660.445.113,55. Nilai
ini berarti usaha PLTSa yang dilakukan menurut nilai sekarang adalah

menguntungkan untuk dilaksanakan karena memberikan keuntungan sebesar Rp


1.660.445.113,55 selama umur proyek (25 tahun). Nilai IRR usaha PLTSa yang
diperoleh adalah 17,78 persen. Nilai ini berada di atas nilai discount rate yang
berlaku, yaitu 17 persen sehingga usaha PLTSa sudah memenuhi kriteria kelayakan
finansial. Nilai Net B/C pada usaha tersebut adalah 1,10, yang berarti setiap satu
rupiah biaya yang dikeluarkan pada unit usaha PLTSa kapasitas 250 ton akan
menambah manfaat bersih sebesar Rp 1,10.
Tabel 25 Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
No
Kriteria Kelayakan
Nilai
1
NPV (Rp)
1.660.445.113,55
2
IRR (%)
17,78
3
Net B/C
1,10
4
Pay Back Period
4,52
Nilai Pay Back Period pada skenario II sangat optimistik sekali dengan
jangka waktu pengembalian selama empat tahun enam bulan tujuh hari,
dibandingkan dengan nilai IRR 17,78 persen dan NPV Rp 1.660.445.113,55. Hal
ini terjadi karena Pay Back Period dihitung dari nilai net benefit sebelum dikalikan
DF, sedangkan untuk NPV dan IRR diambil dari nilai net benefit setelah dikalikan
DF sehingga menurut Husnan (2000) memiliki kelemahan dibandingkan kreteria
kelayakan finansial lainnya.
7.3 Perbandingan Hasil Analisis Kelayakan Finansial Kedua Skenario
Perbandingan hasil analisis kelayakan finansial PLTSa pada kedua skenario
betujuan untuk melihat skenario mana yang paling layak untuk dijalankan. Hal ini
dilakukan dengan cara membandingkan keempat kriteria kelayakan finansial,

seperti

NPV, IRR, Net B/C dan Pay back period pada kedua skenario.

Perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 26.


Tabel 26 Perbandingan Kriteria Kelayakan Finansial PLTSa Kota Bogor
Tahun 2009 Pada Kedua Skenario
No.
Kriteria Kelayakan
Skenario I
Skenario II
1
NPV (Rp)
(10.781.436.315,13) 1.660.445.113,55
2
IRR (%)
3,02
17,78
3
Net B/C
0,55
1,10
4
Pay back Period (tahun)
72,41
4,52
Berdasarkan Tabel 26. dapat diketahui jika dilakukan perbandingan hasil
diantara kedua skenario maka pilihan untuk mendirikan usaha terdapat pada
skenario II yang sudah memenuhi kreteria kelayakan. Hal ini dikarenakan pada
skenario I, nilai NPV, IRR, Net B/C dan Pay back period tidak memenuhi kreteria
kelayakan finansial.
7.4 Analisis Swicthing Value
Pada penelitian ini, analisis switching value yang akan dilaksanakan atau
dilakukan adalah dengan menghitung kenaikan dan penurunan maksimal yang
boleh terjadi terhadap biaya dan penjualan. Komponen yang paling berpengaruh
pada PLTSa adalah komponen biaya variabel, harga penjualan listrik dan
pendapatan retribusi/tipping fee pada masing-masing skenario.
7.4.1 Analisis Switching Value Pada PLTSa Skenario I
Berdasarkan hasil analisis kelayakan tidak memenuhi syarat untuk dapat
layak sehingga untuk analisis switching value yang dilakukan sebaliknya dari
kasus-kasus studi kelayakan yang terjadi. Dalam hal ini analisis switching value
terhadap penurunan biaya variabel dan kenaikan harga penjulan listrik serta batas

kenaikan pendapatan retribusi dapat dilihat hasilnya pada Tabel 27. Berdasarkan
Tabel 27. diketahui bahwa biaya variabel harus diturunkan sampai batas 2,44
persen agar skenario I dapat dijalankan. Jika penurunan harga untuk biaya variabel
tidak mampu melebihi persentase tersebut maka usaha tersebut pun sudah tidak
layak lagi untuk dijalankan. Kenaikan penjualan listrik dan pendapatan retribusi
mempunyai batas minimal sebesar 13,96 dan 150,73 persen. Jika kenaikan harga
penjualan listrik masih dibawah persentase tersebut maka usaha tersebut juga tidak
menjadi layak untuk dijalankan. Dari tiga komponen untuk analisis Switching
Value skenario I yang paling memungkinkan untuk ditindak lanjuti PLTSa adalah
dengan menaikan harga penjualan listrik, karena harga penjualan listrik yang telah
ditetapkan untuk PLTSa Kota Bogor Rp. 500/kwh listrik. Setelah Switching harga
jual menjadi Rp 569,79 per-kwh listrik masih memugkinkan dibandingkan dengan
menurunkan biaya variabel ataupun meningkatkan pendapatan retribusi.
Tabel 27. Switching Value Unit Usaha PLTSa Kota Bogor Tahun 2009
(Skenario I)
No
Parameter
Persentase (%)
1
Penurunan biaya variabel
2,44
2
Kenaikan harga penjualan listrik
13,96
3
Kenaikan Pendapatan Retribusi
150,73
7.4.2 Analisis Switching Value PLTSa Skenario II
Faktor yang dilihat atau digunakan dalam analisis switching value pada
penelitian ini adalah kenaikan harga untuk biaya variabel, penurunan volume
produksi listrik serta batas penurunan pendapatan tipping fee. Dari hasil analisis
yang dilakukan maka diperoleh hasil yang dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28 Switching Value PLTSa Kota Bogor Tahun 2009 Skenario II
No.
Parameter
Persentase (%)

1
2
3

Kenaikan biaya variabel


Penurunan harga penjualan listrik
Penurunan pendapatan Tipping Fee

4,31
6,70
2,25

Berdasarkan Tabel 28. dapat diketahui bahwa kenaikan untuk harga pada
biaya variabel mempunyai batas maksimal sebesar 4,31 persen. Apabila biaya
variabel mengalami kenaikan sebesar persentase tersebut maka unit usaha PLTSa
skenario II masih layak untuk dijalankan namun bila persentase kenaikannya
melebihi batas yang ada maka usaha tersebut menjadi tidak layak untuk dijalankan.
Penurunan harga penjualan listrik dan pendapatan tipping fee mempunyai batas
maksimum sebesar 6,70 dan 2,25 persen. Apabila persentase penurunan volume
produksi melebihi batas tersebut maka usaha tersebut tidak lagi layak untuk
dijalankan. Dari tiga komponen untuk analisis Switching Value skenario II yang
paling memungkinkan terjadi adalah adanya peningkatan biaya variabel. Dalam hal
ini PLTSa agar tetap dapat beroperasi harus dapat mempertahankan agar biaya
variabel kenaikannya tidak melebihi 4,31 persen.
7.5

Perbandingan Switching Value dari Kedua Skenario


Perbandingan analisis sensitivitas terhadap kedua skenario bertujuan untuk

melihat skenario yang paling peka terhadap perubahan pada variabelvariabel


analisis. Perbandingan analisis kedua skenario dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29. Perbandingan Switching Value PLTSa Pada Kedua Skenario Tahun
2009
No
Parameter
Skenario-1
Skenario-2
1
Biaya variabel
(turun) 2,44
(naik) 4,31
2
Harga jual listrik
(naik) 13,96
(turun) 6,70
3
Pendapatan retribusi/tipping fee
(naik) 150,73
(turun) 2,25

Berdasarkan Tabel 29 diketahui bahwa unit usaha PLTSa pada skenario II


akan lebih sensitif atau peka apabila dibandingkan dengan unit usaha PLTSa pada
skenario I. Batas maksimal perubahan pada skenario II lebih besar dibanding
dengan skenario I. Batas maksimal perubahanperubahan ini sangat mempengaruhi
layak atau tidak layaknya usaha tersebut untuk dilaksanakan. Pada skenario I
komponen biaya variabel yang paling peka sedangkan untuk skenario II terdapat
pada komponen pendapatan tipping fee. Namun, pada masing-masing komponen
peka pertama sangat riskan untuk direalisasikan sehingga komponen peka ke-2
yaitu meningkatkan harga jual listrik pada skenario I dan meneurunkan harga jual
listrik pada skenario II yang memungkinkan untuk diupayaka dengan melakukan
negosiasi harga jual kepada pihak PLN.

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis kelayakan usaha PLTSa untuk dua skenario dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1) Aspek Teknis, Aspek Pasar, Aspek Manajemen PLTSa Kota Bogor layak untuk
dilaksanakan. TPA Galuga paling ideal untuk lokasi PLTSa selain karena letak
bahan baku utama, sumberdaya seperti air dan kondisi udara serta untuk
menghindari penolakan akibat adanya kekhawatiran warga sekitar terhadap
polusi dari pembakaran sampah. Teknologi proses dan peralatan PLTSa dapat
disediakan dan disesuikan dengan sumberdaya yang dimiliki Kota Bogor pada
kapasitas produksi 250 ton sampah per-hari dan output sebesar 1.600 kw perjam.
2) Pada Aspek Pasar untuk Output utama, PLTSa bermitra dengan PLN sehingga
harga, promosi dan distribusi mengikuti prosedur yang ditetapkan PT PLN.
Harga jual listrik yang ditetapkan Rp 500 per-kwh.
3) Pada Aspek Manajemen PLTSa merupakan program coorporate social
responsibility (CSR) yang digulirkan PT. PLN, PDAM Tirta Pakuan dan DLHK
Kota Bogor, stuktur organisasi yang dimiliki sederhana karena ruang lingkup
kerja PLTSa dimulai dari pengumpulan sampah sampai kepada penggolahan
menjadi tenaga listik. PLTSa mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 347
orang.
4) Pada aspek finansial karena komponen biaya investasi dan biaya operasional
sangat mahal sehingga pada skenario I, PLTSa tidak layak. Hasil analisis

aspek finansial pada skenario I menunjukan nilai: NPV Rp 10.781.436.315,13


(negatif); IRR 3,02 persen; B/C Ratio 0,55 dan PBP 72,41 tahun sedangkan
untuk skenario II menunjukan nilai: NPV Rp 1.660.445.113,55; IRR 17,78
persen; B/C Ratio 1,10 dan PBP 4,52 tahun. Pada skenario II PLTSa layak
dilaksanakan karena dipengaruhi oleh tippingg fee.
5) Komponen

biaya

variabel,

harga

penjualan

listrik

dan

pendapatan

retribusi/tipping fee pada masing-masing skenario menunjukan nilai 2,44 ;


13,96 ; 150,73 sedangkan untuk skenario II menunjukan nilai 4,31 ; 6,70 ; 2,25,
nilai tersebut menunjukan skenario II yang paling peka terhadap perubahan.
8.2 Saran
Beberapa hal yang harus diperhatikan dan ditindak lanjuti agar proyek ini
berhasil direlisasikan untuk penyelesaian permasalahan sampah kota, yaitu :
1) Proyek PLTSa ini harus diteliti lebih jauh dengan menggunakan kajian dari
aspek ekonomi dan aspek sosial lingkungan.
2) Cara-cara pelaksanaan proyek dan pembiayaan, perjanjian kerjasama serta
pengoperasian PLTSa haruslah dibuat mekanisme yang jelas, terutama
peranan dan tanggung jawab masing-masing institusi publik seperti DPRD
Kota Bogor dan instansi terkait lainnya seperti DLHK, PT PLN, PDAM Tirta
Pakuan dan Departemen PU agar terwujudnya kesejahtraan sosial masyarakat
yang lebih baik.
3)

Modal investasi yang sangat tinggi pada Proyek PLTSa sehingga keberadaan
PLTSa Kota Bogor harus mendapatkan dukungan dari perbankan daerah
terutama perbankan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Aida, N. 1996. Usaha Pemanfaatan Barang Bekas dari Sampah Bekas dan
Pengaruhnya Terhadap Pengolahan Sampah di Kotamadya Bogor (Studi
Kasus TPA Galuga). Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). 2007. Laporan Hasil Survey
Tinjuan Lapang kota Bogor. Bogor.
Gittinger. 1986. Analisa Ekonomi Proyek Proyek Pertanian. Edisi Kedua. UIPress. Jakarta.
Gray, C. S, P. Sabur, L. Maspaitellla, K. dan Varley, R.C.G. 1992. Pengantar
Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Husnan, S dan Suwarsono, M. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Keempat. UPP
AMP YKPN. Yogyakarta.
Kadariah dan Karlina, L. 1976. Pengantar Evaluasi Proyek. Jilid 1. FE-UI. Jakarta.
Mujahidahwati. 2005. Pengembangan Model Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
dengan Pengomposan di Kota Bogor. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Pasek, A. D. 2007. Studi Kelayakan Pembangkit Listrik dengan Bahan Bakar
Sampah di Kota Bandung. Laporan Akhir. LPPM ITB. Bandung.
_________________ Hasil Studi Proses Pemusnah Sampah Melalui Pembangkit
Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Ringkasan. Kerjasama LPPM ITB dan PT
PLN (persero). Bandung.
Oktawidya, R. 2008. Analisis Kelayakan Usaha Franchise kebab Turki baba Rafi
(Kasus Cabang Outlet kebab Turki baba Rafi 253). Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Qomariyah, S. 2005. Analisis Willingness to Pay (WTP) dan Willingness to Accept
(WTA) Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah. (Kasus TPA Galuga,
Cibungbulang, Bogor. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rahmawati, E. 2007. Studi Kelayakan Pendirian Industri Biodiesel Terpadu dari
Jarak Pagar di kawasan Pabrik Gula Jatilujuh, Majalengka, Jawa Barat.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ratnawati, N. 2002. Analisis kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Peternakan


Sapi dan Kambing Perah di Pesantren Darul Fallah, Ciampea Bogor. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sepdianti, A. E. 2006. Prilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah (Kasus
Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Sudrajat, H. R. 2007. Mengelola Sampah Kota. Penebar Swadaya. Jakarta.
Yudiyanto. 2007. Analisis Sistem Pengelolaan Sampah Pemukiman di Kota Bogor.
Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.