Anda di halaman 1dari 12

Askep Hepatitis B

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang mengalami nekrosis berupa bercak difus yang
mempengaruhi seluruh sel asinus hati dan merusak arsitekstur hati (Morgan, 2009. Hal 209).
Hepatitis B adalah proses nekroinflamatorik pada hati yang terjadi secara akut disebabkan
oleh infeksi VHB (Soewignjo, 2008. Hal 35).
Hepatitis B adalah salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya, Penyakit ini
disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan
hati akut atau menahun (Tambayong, 2000. Hal 145).
2. Etiologi
Menurut Morgan (2009. Hal 214) penyebab hepatitis virus B adalah penggunaan obat
obatan per IV, hubungan seksual via anus, hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi,
pajanan dari tempat kerja, resipien transfuse darah, pasien analisis, berhubungan dekat dengan
individu yang terinfeksi (suami-istri-anak).
3. Patofisiologi
HBV B memiliki masa tunas yang lama, antara 1 dan 7 bulan dengan awitan rata rata 1-2
bulan. Stadium akut dari suatu infeksi aktif dapat berlangsung sampai 2 bulan. Sekitar 5-10%
orang dewasa yang terjangkit HBV akan mengalami hepatitis kronis dan terus mengalami
peradangan hati selama lebih dari 6 bulan. Hepatitis kronis dapat bersifat progresif lambat atau
fulminan, yang menyebabkan nekrosis hati, sirosis, gagal hati, dan kematian. Individu yang

terinfeksi HBV juga dapat menjadi pembawa yang menetap sehingga dapat menularkan penyakit
nya tanpa memperlihatkan gejala sakit. Individu yang terinfeksi selama masa bayi dan memiliki
daya tanggap imun rendah terutama cenderung menjadi pembawa (Corwin, 2009. Hal 667).
4. Manifestasi Klinis
Setelah masa inkubasi berakhir, akan terjadi gejala prodmoral yang dapat berupa anoreksia,
mual, muntah, mialgia, altralgia, atau coryza berkisar selama 1-2 minggu. fase ini disusul dengan
fase ikterik yang ditandai dengan timbulnya ikterus dan berkurangnya keluhan keluhan
prodmoral. Pada saat itu, hepar teraba dan nyeri tekan. Dapat timbul limfadenopati dan
splenomenggali. Kadang kadang terdapat tanda tanda kolestasis yang disertai ikterus
berkepanjangan serta gatal gatal. Setelah fase ikterik yang berlangsung selama beberapa minggu,
penderita masuk kedalam fase penyembuhan. Selama masa penyembuhan gejala gejala
konstitusional menghilang tetapi hepatomenggali masih tetap ada dan kelainan kelianan biokimia
masih tampak. Penyembuhan sempurna terjadi berkisar 1-2 bulan tetapi dapat mencapai 4 bulan
(Soewignjo, 2008. Hal 37).
5. Penatalaksanaan
Menurut Baughman, D. (2000. Hal 209) penatalaksanaan pada klien dengan hepatitis B
adalah sebagai berikut : percobaan klinis dengan interferon telah menunjukkan hasil yang
menjanjikan, tirah baring dan pembatasan aktivitas sampai perbesaran hati dan perbesaran hepar
dan peningkatan billirubin serum serta enzim enzim hepar telah hilang, pertahankan nutrisi yang
adekuat; batasi protein ketika kemampuan hepar untuk memetabolisme protein mengalami
kerusakan, berikan antasida, beladona, dan antiemetik untuk dyspepsia serta malaise umum;
hindari semua pemberian obat bila terjadi muntah, masa penyembuhan dapat lama dan masa
pemulihan membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan, berikan dorongan untuk melakukan aktivitas
secara bertahap setelah ikterik hilang dengan sempurna, pikirkan dampak psikologis dari
perjalanan perjalanan penyakit yang panjang, libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
dan aktivitas pasien.
6. Pemeriksaan laboratorium

Pada hepatitis B akut, AST dan ALT sudah mulai mengalami peningkatan pada fase
prodromal. Tingginya kadar AST dan ALT tidak mempunyai korelasi dengan derajat kerusakan
sel hati. Nilai tertinggi AST dan ALT berkisar antara 400-4000 IU tetapi kadang-kadang
didapatkan nilai yang lebih tinggi lagi. Kadar billirubin berkisar antara 5-10 mg%. kadar
billirubin sering kali menigkat walaupun sudah terjadi penurunan AST dan ALT. kadar billirubin
lebih dari 6 mg% dan menetap biasanya biasanya disertai oleh penyakit yang berat. Pengukuran
waktu protrombin (PTT) penting karena panjangnya PTT sering merupakan gambaran tentang
parahnya penyakit (Soewgnjo, S. 2008. Hal 38).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Menurut Doengoes (2000. Hal 535-543) konsep dasar asuhan keperawatan pada klien
dengan hepatitis yang meliputi pengkajian, dignosa keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
a. Aktivitas : Kelemahan, Kelelahan, Malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi ( hiperbilirubin berat ), Ikterik pada sclera, kulit, membran mukosa
c. Eliminasi
Gejala : Urine gelap, Diare/konstipasi, feses warna tanah liat. Adanya/berulangnya hemodialisa.
d. Makanan dan Cairan
Gejala : Anoreksia, Berat badan menurun, Mual dan muntah, Peningkatan oedema,
Tanda : Asites/Acites
e. Neurosensori
Peka terhadap rangsang, Cenderung tidur, Letarg, Asteriksis
f. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, Nyeri tekan pada kuadran kanan, Mialgia, Atralgia, Sakit kepala, Gatal
( pruritus ).

Tanda : otot tegang, gelisah.


g. Pernapasan
Tidak minat/enggan merokok (perokok).
h. Keamanan,
Gejala : adanya transfuse darah.
Tanda : Demam, Urtikaria, Lesi makulopopuler, Eritemia, Splenomegali, Pembesaran nodus
servikal posterior
i. Seksualitas : Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan
j. Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala : riwayat diketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri atau toksin ( makanan
terkontaminasi, air, jarum, alat bedah atau darah); pembawa (simptamatik atau asimptomatik);
adanya prosedur bedah dengan anestasi haloten; terpajan pada kimia toksin, obat resep.
Pertimbangan rencana pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dalam tugas pemeliharaan
dan pengaturan rumah.
k. Pemeriksaan diagnostik
Tes fungsi hati : Abnormal (410 kali dari normal). Catatan : merupakan batasan nilai untuk
membedakan hepatitis virus dari non-virus.
AST ( SGOT)SGPT ) : Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikteri
kemudian tampak menurun.
Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim
hati) atau mengakibatkan perdarahan.
Leucopenia : Trombositopenia mungkin ada (splenomegali).
Deferensial darah lengkap : luckositosis, monositosis, limfosit atipikal. Dan sel plasma.
Alkali fosfatase : agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
Fases : warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati).
Albumin serum : menurun.
Gula darah : hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati).

Anti HAVI,gM : positif pada tipe A.


HbsAG : Dapat positif (tipe B) atau negative (tipe A). Catatan : merupakan diagnostik sebelum
terjadi gejala klinis.
Masa protrombin : mungkin memanjang (disfungsi hati).
Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin
berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
Tes ekskresi BSP : Kadar darah meningkat.
Biopsi hati : Menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
Skan hati : Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.
Urinalisa : Peninggian kadar bilirubin ; protein/hematuria dapat terjadi.
2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
a.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan kekuatan/ketahanan;


nyeri, mengalami keterbatasan aktivitas; depresi ditandai dengan laporan kelemaha, penurunan
kekuatan otot, menolak untuk bergerak.
Tujuan : Klien menunjukkan perbaikan terhadap aktifitas
Kriteria hasil : menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
Intervesi :
Tingkatkan

tirah

baring,

ciptakan

lingkunga

yang

tenang.

Rasional : Meningkatkan ketenangan istirahat dan menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan.
Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik. Rasional :meningkatkan fungsi
pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan
jaringan.
Tingkatkan aktivitas sesuai denga toleransi. Rasional : tirah baring lama dapat menurunkan
kemampuan.
Dorong teknik manajemen stres, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi,
berikan aktivitas hiburan yang tepat. Rasional : meningkatkan relaksasi dan peningatan energy.

Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati. Rasional :menunjukkan
kurangnya resolusi penyakit, memerlukan istirahat lanjut.
Berikan

antidote

atau

bantu

dalam

prosedur

sesuai

indikasi,

tergantung

pada

pemanjanan. Rasional : membuang agen penyebab pada hepatitis toksit dapat membatasi derajat
kerusakan jaringan.
Berikan obat sesuai indikasi: sedative, agen anti ansietas. Rasional : membantu dalam
manajemen kebutuhan tidur.
Awasi kadar enzim hati. Rasional : membantu menentukan kadar aktivitas tepat sebagai
peningkatan premature pada potensial resiko berulang.
b. Perubahan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan

kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik, anoreksia, mual/ muntah, gangguan
absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan peristaltic usus, empedu tertahan.
Ditandai dengan enggan makan/kurang minat terhadap makanan, gangguan sensasi pengecap,
nyeri abdomen/kram, penurunan berat badan, tonus otot buruk.
Tujuan

Klien

menunjukkan

status

nutrisi

yang

adekuat.

Kriteria hasil : menunjukkan prilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan berat badan
yang sesuai.
Intervensi
Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan
tawarkan makan pagi paling besar. Rasional : makan banyak sulit untuk mengatur kalau pasien
anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari.
Berikan perawatan mulut sebelum makan. Rasional : menghilangkan rasa tak enak dapat
meningkatkan napsu makan.
Anjurkan makan pada posisi duduk tegak. Rasional : menurunkan rasa penuh pada abdomen dan
dapat meningkatkan pemasukan.
Dorong

pemasukan

sari

jeruk,

minuman

karbonat

dan

pemen

berat

hari.Rasional : bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna.

sepanjang

Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai dengan kebutuhan
pasien, dengan memasukkan lemak dan protein sesuai toleransi. Rasional : berguna dalam
membuat program diet untuk memenuhi kebutuhna individu.
Awasi glukosa dara. Hiper glikemia/hipoglikemia dapat terjadi, memerlukan perubahan diet
pemberian insulin.
Berikan obat sesuai toleransi, contoh antasida (Mylanta). Kerja pada asam gaster, dapat
menurunkan iritasi/resiko perdarahan.
Berikan vitamin contoh B complek. Rasional : Memperbaiki kekurangan dan membantu proses
penyembuhan.
Berikan terapi steroid contoh prednisone. Rasional : steroid di indikasikan karena meningkatkan
resiko berulang/terjadinya hepatitis kronis pada pasien dengan hepatitis kronis.
Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila diperlukan. Rasional : mungkin perlu
untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan/gejala memanjang.
c.

Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang berlebihan melalui
muntah dan diare, perpindahan area ketiga, ganggauan proses pembekuan.
Tujuan : Klien akan menunjukkan status cairan adekuat.
Kriteria hasil : mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, turgor kulit
baik, pengisisan perifer, nadi perifer kuat, dan haluaran urin individu sesuai.
Intervensi
Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui
usus, contoh muntah dan diare. Rasional : diare dapat berhubungan dengan respon terhadap
infeksi dan mungkin terjadi sebagai masalah yang lebih serius dari obstruksi aliran darah portal.
Kaji

tanda

vital,

nadi

perifer,

pengisian

kapiler,

turgor

kulit,

dan

membrane

mukosa.Rasional : indicator volume sirkulasi/perfusi.


Periksa asites atau pembentukan odema. Rasional : menurunkan kemungkinan perdarahan
kedalam jaringan.

Observasi tanda perdarahan. Rasional : kadar protrombin meurun dan waktu koagulasi
memanjang bila apsorbsi vit K terganggu pada traktus GI dan sintesis protombin menurun.
Awasi nilai laboratorium, HB, HT, Na albumin, dan waktu pembekuan. Rasional : menunjukkan
hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan odema.
Berikan cairan IV biasanya (glukosa), elektrolit. Rasional : memberikan cairan dan penggantian
cairan elektrolit.
d. Situasional harga diri rendah berhubungan dengan gejala jengkel/marah, terkurung/isolasi, sakit
lama/periode penyembuhan ditandai dengan peryntaan perubahan pola hidup, perasaan negatif
terhadap tubuh.
Tujuan : mempertahankan harga diri klien pada tingkat stabil.
Kriteria hasil : mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi diri negate,
menyatakan penerimaan diri, dan lamanya penyembuhan, mengakui diri sebagai orang berguna,
bertanggung jawab atas diri sendiri.
Intervensi :
kontrak

dengan

pasien

mengenai

waktu

untuk

mendengarkan

tentang

diskusi

perasaan/masalah. Rasional : penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.


Kesepmpatan untuk mengeksprsikan persaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih
mengontrol situasi.
Hindari membuat penilaian moral tentang pola hidup (penggunaan alkohol/praktik
sexual). Rasional : pasien merasa marah/ kesal dan menyalahkan diri; penilaian dari orang lain
akan merusak harga diri lebih lanjut.
Anjurkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energy. Rasional : mampukan pasien untuk
menggunakan waktu dan energy pada cara yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan
cemas dan depresi.
Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau merah hitam dari pada kuning atau
hijau. Rasional : menignkatkan penampilan, karena kulit kuning diperjelas oleh warna
kuning/hijau.

e.

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, malnutrisi,
kurang pengetauan untuk menghindari pemajanan pada pathogen.
Tujuan : infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : menyatakan pemahaman penyebab individu/faktor resiko.
Intervensi
Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernapasan seusai kebijakan rumah sakit;
termasuk cuci tangan efektif. Rasional : mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
Awasi/batasi pengunjung sesuai indikasi. Rasional : pasien terpajan terhadap proses infeksi
(khususnya respiratorus) potensial resiko komplikasi sekunder.
Jelaskan prosedur isolasi pada pasien/orang terdekat. Rasional : pemahaman alasan untuk
perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.
Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG, vaksin hepatitis B (recombivax
HB, engerik-B) melalui departemen dan dokter keluarga. Efektif dalam mencegah virus hepatitis
pada orang yang terpajan, tergantung tipe hepatitis dan periode inkubasi.
Berikan obat sesuai indikasi : anti virus. Rasional : berguna pada pengobatan hepatitis aktiv
kronis.
Berikan obat sesuai indikasi : inter feron allva 2 B. Rasional : efektif pada pengebotan penyakit
hati sehubungan dengan HCV.
Anti biotic tepat untuk agen pencegah (contoh, gram negatif, bakteri anerob) atau proses
sekunder. Rasional : pengobatan hepatitis bacterial, atau untuk mencegah/membatasi infeksi
sekunder.

f.

Resiko tinggi terhadap kerusakan jaringan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia :
akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Tujuan : kerusakan jaringan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : menunjukkan jaringan kulit/kulit utuh, bebas ekskoriasi, melaporkan tak
adanya/penurunan pruritus/lecet.
Intervensi

Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji, hindari sabun alkali dan berikan
minyak kelamin sesuai indikasi. Rasional : mencegah kulit kering berlebihan dan menberikan
penghilangan gatal.
Anjurkan menggunakan kuku kuku jari untuk menggaruk bila tidak terkontrol. Pertahankan
kuku jari terpotong pendek pada pasien koma atau selama jam tidur.Rasional : menurunkan
potensial cedera kulit.
Berikan masase pada waktu tidur. Rasional : bermanfaatdalam meningkatkan tidur dengan
menurunkan iritasi kulit.
Hindari komentar tentang penampilan pasien. Rasional : meminimalkan stress psikologis
sehubungan dengan perubahan kulit.
Antihistamin

contohnya

metdilazin

tacaryl

di

fenhidrasi

( Benadryl ). Rasional :menghilangkan gatal catatan gunakan terus menerus pada penyakit
hepatic berat.
Antilipemik contohnya kolestramin ( questran ). Rasional : mungkin digunakanuntuk asam
empedu pada usus dan mencegah absorsinya.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurang terpajan/mengingat; salah interprestasi informasi, tak mengenal sumber
informasi.
Tujuan kebutuhan belajar klien terpenuhi.
kriteria hasil : menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
Intervensi
kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan / prognosis kemungkinan pilihan
pengobatan. Rasional : mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan / salah informasi dan
menberikan kesempatan untuk informasi tambahan sesuai keperluan.
berikan informasi khusus tentang pencegahan / penularan penyakit. Contoh kontak yang
memerlukan gama globulin masalah pribadi tak perlu dibagi, tekankan cuci tangan dan sanitasi
pakaian , cuci piring, dan fasilitasi kamar mandi bila enzim hati masih tinggi. Hindari kontak

intim seperti ciuman, kontak seksual dan terpajan pada infeksi khususnya infeksi saluran
pernafasan ( ISK ). Rasional : kebutuhan / rekomendasi akan bervariasi karna tipe hepatitis
( agen penyebab ) dan situasi individu.
rencanakan memulai aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat adekuat. Diskusikan
pembatasan mengangkat berat dan latihan keras / olahraga. Rasional :ini tak perlu untuk
menunggu sampai billirubin serum kembali normal untuk memulai aktivitas ( memerlukan waktu
2 bulan ). Tetapi aktivitas keras perlu dibatasi sampai hati kembali ke ukuran normal.
bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih. Rasional : aktivitas yang dapat dinikmati akan
menbantu pasien menghindari pemusutan pada penyembuhan panjang.
dorong kesenambungan diet seimbang. Rasional : meningkatkan kesehatan umum dan
meningkatkan proses penyembuhan / regenerasi jaringan.
identifikasi cara untuk menpertahankan fungsi usus biasanya. Contohnya masukan cairan
adekuat / diet serat, aktivitas / latihan sedang sesuai toleransi. Rasional :penurunan tingkat
aktivitas, perubahan pada pemasukan makanan / cairan dan motilitas usus dapat mengakibat
kontisipasi.
diskusikan efek samping dan bahaya minun obat yang dijual bebas / diresapkan contohnya
asetaminofen. Aspirin sulfonamid, beberapa anestetik dan perlunya melaporkan ke pemberi
perawatan tentang diagnose. Rasional : beberapa obat merupakan toksik untuk hati : banyaknya
obat lain dimeyabolisme oleh hati dan harus dihindari pada penyakit hati berat karna
menyebabkan efek kumulatif toksik / hepatitis kronis.
diskusikan pembatasan donatur darah. Rasional : mencegah penyebaran penyakit infeksi,
kebanyakkan undang undang Negara bagian menerima donor yang menpunyai riwayat
berbagai tipe hepatitis.
tekankan

pentingnya

mengavaluasi

pemeriksaan

fisik

dan

evaluasi

laboratorium.Rasional : proses penyakit dapat memakan waktu berbulan bulan untuk menbaik,
bila gejala ada lebih lama dari 6 bulan biopsy hati diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis
kronis.

kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 12 bulan minimum atau lebih lama sesuai
toleransi individu. Rasional : meningkatkan iritasi hepatic dan menpengaruhi pemulihan.
3. Implementasi
Menurut Carpenito, (2009, hal 57). komponen implementasi dalam proses keperawatan
mencakup penerapan ketrampilan yang diperlukan untuk mengimplentasikan intervensi
keperawatan. Ketrempilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi biasanya
berfokus pada
a. Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien.
b. Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau memantau status
masalah yang telah ada
c. Member pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan pengetahuan yang baru
tentang kesehatannya atau penatalaksanaan gangguan.
d. Membantu klien membuat keptusan tentang layanan kesehatannya sendiri .
e. Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk mendapatkan
pengarahan yang tepat.
f. Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau menyelesaikan
masalah kesehatan.
g. Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri
h. Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan
identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan
evaluasi perawat harusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respons
terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang
dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil
(Hidayat, A, 2008. hal; 124).
http://keperawatansite.blogspot.com/2012/09/askep-hepatitis-b_1268.html

Anda mungkin juga menyukai