Anda di halaman 1dari 3

Pada mei 1998, Indonesia mengalami pukulan terberat krisis ekonomi yang

menerpa asia timur. Meningkatnya inflasi dan pengangguran menciptakan


penderitaan dimana-mana. Ketidak puasan terhadap pemerintah yang lamban dan
merajalelanya korupsi juga meningkat. April 1998, segera setelah soeharto terpilih
kembali sebagai presiden mahasiswa dari berbagai universitas diseluruh tanah air
menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran. Mereka menuntut pemilu ulang dan
tindakan efektif pemerintah untuk mengatasi krisis. Inilah insiden terbaru, ketika
mahasiswa Indonesia meneriakkan aspirasi rakyat dan dipukuli karena dianggap
menimbulkan kekacauan. Universitas Trisakti 12 mei 1998, semula demonstrasi
diselenggarakan di dalam kampus sesuai anjuran apparat untuk tidak turun kejalan.
Namun mahasiswa yang jengkel dengan pengekangan, memaksa untuk
berdemonstrasi di gedung MPR dimana mereka bisa menyampaikan tuntutan
mereka langsung kepada pemerintah. Di Universitas Trisakti, tidak jauh dari gedung
MPR, mahasiswa akhirnya turun kejalan dan berhadapan dengan hujan peluru.
Andai saja kita dihidupkan di Jakarta pada mei 1998 dan menjadi mahasiswa
Trisakti, kita mungkin akan membuat sebuah kisah dramatis penuh kepedihan
hingga mungkin tangisan tanpa air mata dan dalam kepiluan yang getir. Selama
dua hari berikutnya, tragedy trisakti memicu terjadinya gelombang kerusuhan yang
menewaskan ratusan orang. Seminggu kemudian mahasiswa berhasil menduduki
gedung parlemen tanpa perlawanan yang berarti dari keamanan. Inilah hari yang
palin dinanti, Setelah gagal mendapat dukungan ulama dan tokoh masyarakat,
ditambah pengunduran diri 14 orang menterinya, Soharto mundur digantikan
wakilnya , B.J. Habibie. Bagai kemarau dalam setahun yang diguyur hujan sehari,
mahasiswa dan aktivis lainya langsung bersorak didepan gedung MPR. Mereka yang
menyaksikan televisi dirumahpun terharu dengan tangisan bahagia mendengar
kabar presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatanya.
13 Oktober 1998 pada awalnya mahasiswa bersorak atas kejatuhan Soeharto. Ini
menggugurkan mitos dirinya sebagai tonggak stabilitas nasional. Menyadari bahwa
para kroni masih berkuasa, dan militer tetap melindungi soeharto mahasiswa
beranggapan bahwa reformasi justru menjauh dari harapan. Dibawah panji-panji
dwifungsi, militer bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan didalam
negeri sekaligus pertahanan terhadap kemungkinan serangan dari luar negeri.
Sekalipun tujuanya untuk menjaga ketertiban terhadap kekerasan antarsuku dan
kerusuhan sosial, dwifungsi kemudian dijalankan sebagai sebuah mandate untuk
mendorong musuh dari dalam dan luar negeri. Semakin maraknya demonstrasi dari
berbagai kampus yang turun kejalan, apparat keamanan bereaksi secara
berlebihan. Merka mengerahkan ribuan serdadu bersenjata lengkap untuk
menghadapi demonstrasi damai mahasiswa. Dalam pandangan pihak militer, anakanak kelas menengah Indonesia ini adalah musuh Negara yang tidak bisa diatur.
Ya, Ketegangan memuncak menjelang siding MPR yang bertugas mempersiapkan
pemilihan umum. Mahasiswa menolak siding tersebut karena pesertanya berasal
dari penunjukan era soeharto. Mahasiswa menuntut suatu siding rakyat dengan
perwakilan yang teroercaya. Tanpa menggubris protes mahasiswa, pemerintah
tetap menggelar siding istimewa. Ketika tuntutan mahasiswa dan kelompok
masyarakat agar melibatkan reformis sejati dalam agenda tidak diacuhkan,
mahasiswa menjadi semakin agresif. Sepanjang siding istimewa ribuan mahasiswa

dari berbagai universitas dan juga para aktivis terus turun ke jalan. Mendekati hari
terkahir masa siding, mahasiswa yang berusaha menembus garis batas 2 kilometer
dari gedung MPR harus menghadapi pemukulan yang semakin kerap dan brutal.
Pada malam 13 November 1998 terjadi penembakan di jembatan semanggi. Suram
dan menegangkan, Inilah kisah pilu semanggi. Pembunuh, pembunuh, pembunuh,
pembunuh.. teriakan para demonstran yang tak henti-hentinya di tujukan kepada
apparat. Dalam peristiwa yang lebih berdarah daripada Tragedi Trisakti ini, apparat
menembakan peluru hampa, peluru karet, dan juga peluru tajam kearah
demonstran. Ketika malam semakin larut, tembakan makin menderas dan korban
semakin berjatuhan. Pelanggaran terbesar ham yang mungkin nanti tak akan
pernah terungkap, dalam malam yang tabu, malam penjarahan yang dilakukan para
iblis(aparat) menembaki demonstran hingga ribuan nyawa melayang tanpa ampun.
Semoga yang tidak tidur, yang maha melihat, menghukum perbuatan keji mereka.
Aparat keamanan memasuki kancah pertempuran dengan lagu-lagu mars dan
sorak-sorai yang menggema. Bagi mereka, pertempuran semanggi adalah sebuah
kemenangan yang membanggakan bagi Negara tercinta. Sepertinya, setiap korban
mahasiswa yang jatuh, meningkatakan semangat juang pasukan.
Universitas atmajaya, 18 November 1998 Ayah korban beserta keluarga korban lain
yang terima perlakuan aparat yang telah membunuh anak-anak mereka secara
membabibuta turun langsung kejalan dan ikut berdemonstrasi bergabung bersama
yang lain serta memintai pertanggung-jawaban atas perbuatan keji mereka. Prosesi
pemakaman korban sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. . .:(. Untuk
mengenang jasa mereka, teman korban yang juga seperjuangan membagikan
bunga gratis dijalanan.
Seusai sidang istimewa mahasiswa kembali turun kejalan, menuntut sidang rakyat
sejati. Salah satu keputusan sidang istimewa adalah menyelidiki kekayaan keluarga
dan kroni soeharto, serta mengadilinya, namun Habibie yang telah beberapa bulan
berkuasa tidak juga menunjukkan niatnya untuk menyelidiki kekayaan mantan
presiden itu. Mahasiswa kembali turun kejalan untuk menuntut kebenaran,
keterbukaan, dan keadilan.
24 november 1998, Revolusi..
Lets we fight until die, for our friend(mari kita bertarung sampai mati, untuk temanteman kita)
Untuk menyamarkan asal kesatuan ketika terjadi bentrokan, tentara mengganti
baret aneka warnanya dengan topi rimba. Walaupun demikian, mahasiswa masih
dapat mengenali anggota marinir karena mereka selalu menyembulkan baret merah
jambunya.
15 desember 1998 mahasiswa berekasi keras terhadap imbauan Menteri Urusan
Peranan Wanita, untuk tidak terlibat dalam demonstrasi. Dalam sebuah demonstrasi
yang seluruh pesertanya dalah perempuan Korps Polwan menunjukkan
kemampuanya yang tak kalah dengan rekan pria-nya dalam mengatasi demonstran.
Terjadi adu jotos dan saling lempar antara polwan dan demonstran perempuan.
Setelah peristiwa semanggi, strategi baru diterapkan. Perlakuan kasar terhadap
demonstran perempuan dan pemukulan perwakilan aktivis yang mencari jalan

damai dengan militer menguatkan keyakinan pimpinan mahasiswa bahwa untuk


menang mereka harus bertarung.
Beberapa minggu menjelang bulan suci Ramadan, mahasiswa turun kejalan tidak
lagi bersemangat reformasi damai, tetapi dengan pekik revolusi. Mereka sengaja
memancing konfrontasi membalas perlakuan kasar militer pada rekan mereka.
Sekalipun beberapa pimpinan mahasiswa berusaha mencegah agar bentrokan tidak
meningkat menjadi banjir darah, para demonstran kini sudah tidak terkontrol lagi.
Ditaman ria , demonstran berhasil menembus garis batas-polisi dan memukul
mundur keamanan yang dulu tak bisa dikalahkan. APARAT KEAMANAN TERKEJUT,
JELASLAH SEKARANG BAHWA MAHASISWA TAK LAGI GENTAR.!!