Anda di halaman 1dari 13

1.

DEFINISI DIARE
Diare adalah buang air besar atau defekasi dengan tinja berbentuk cair atau

setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya dan
terkadang lebih dari 3 kali sehari. Diare dibagi dalam diare akut dan diare
kronis

(Wawan,

2013;

Adyanastri,

2012).

Buang

air

besar

encer

tersebutdapat/tanpa disertai lendir dan darah (Zein et al,., 2004).


Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari
14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare
yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan Virus,
Bakteri, dan Parasit (Zein et al,., 2004).

2.

EPIDEMIOLOGI
Menurut Zein (2004) diare akut merupakan masalah umum ditemukan

diseluruh dunia. Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga


dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter, sementara di beberapa
rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat
peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah
sakit.
Di negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun
sedangkan di negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar
200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap
tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun
dengan mortalitas 3-4 juta pertahun. Bila angka itu diterapkan di Indonesia, setiap
tahun sekitar 100 juta episode diare pada orang dewasa per tahun.
Dari laporan surveilan terpadu tahun 1989 jumlah kasus diare didapatkan
13,3 % di Puskesmas, di rumah sakit didapat 0,45% pada penderita rawat inap
dan 0,05 % pasien rawat jalan. Penyebab utama disentri di Indonesia adalah
Shigella,

Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, danEntamoeba

histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadangkadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan
Enteroinvasive E.coli ( EIEC). Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang
untuk mendekati pasien diare akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau
minuman terkontaminasi, berpergian, penggunaan antibiotik, HIV positif atau
AIDS, merupakan petunjuk penting dalam

mengidentifikasi pasien beresiko

tinggi untuk diare infeksi.

3.

PENYEBAB
Menurut Sinthamurniwaty (2006) secara klinis penyebab diare dapat

dikelompokkan dalam golongan 6 besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan


ataupun klinis adalah diare yang

disebabkan infeksi dan keracunan. Untuk

mengenal penyebab diare yang disebabkan infeksi dan keracunan adalah sebagai
berikut:
Infeksi :
Bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio, Bacillus Cereus,
Clostridium

perfringens,

Staphilococ

Usaurfus,

Camfylobacter,

Aeromonas)
Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)
Parasit (Protozoa : Entamuba

Histolytica,

Giardia

Lambia,

Balantidium Coli, Crypto Sparidium. Cacing perut : Ascaris, Trichuris,


Strongyloides, Blastissistis

Huminis. Bacilus Cereus, Clostridium

Perfringens)
Keracunan :
Keracunan bahan-bahan kimia
Keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi : 1) Jazad renik,
Algae Ikan, 2) Buah-buahan, Sayur-sayuran

4.

PENULARAN
Penularan diare terjadi karena kontak dengan tinja yang terinfeksi secara

langsung, seperti :
Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah
dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi lebih sering
memasukkan tangan, mainan, atau apapun kedalam mulutnya. Karena virus
ini dapat bertahan di permukaan udara sampai beberapa hari.
Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan
benar.
Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih

5.

PATOFISIOLOGI
Menurut Adyanastri (2012) diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih

patofisiologi sebagai berikut:


Osmolaritas intraluminal yang meninggi, disebut diare osmotik;
sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare sekretorik;
malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak;
Defek sistem pertukaran anion atau transpot elektrolit aktif di enterosit;
Motilitas dan waktu transit usus abnormal;
gangguan permeabilitas usus;
Inflamasi dinding usus, disebut diare inflamatorik;
Infeksi dinding usus, disebut diare infeksi.

Diare osmotik disebabkan oleh peningkatan tekanan osmotikintralumen


usus halus yang disebabkan oleh obat -obatan atau zat kimia yang
hiperosmotik (MgSO4, Mg(OH)2, malabsorbsi umum, dan defek dalam absorbsi
mukosa usus misal pada defisiensi disararidase, malabsorbsi glukosa/galaktosa
(Wawan, 2013).
Diare sekretorik disebabkan oleh meningkatnya sekresi air maupun
elektrolit dari usus, menurunnya absorbsi. Yang khas pada diare ini yaitu
secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare
tipe

ini akan

tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum.

Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi
Vibrio cholerae, atau Escherichia coli,Yang khas pada diare tipe sekretorik secara
klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Penyebab
dari diare ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera,
atau Eschersia colli. Malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak: diare tipe
ini didapatkan pada gangguan pembentukan atau produksi micelle empedu dan
penyakit-penyakit saluran bilier hati (Wawan, 2013).
Defek sistem pertukaran anion/transpor elektrolit aktif di enterosit; diare
tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA + K+ ATP
ase di enterosit dan diabsorbsi Na+ dan air yang abnormal (Adyanastri, 2012).
Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan
hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi
yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas antara lain: diabetes
melitus, pasca vagotomi, hipertiroid. Gangguan permeabilitas usus: diare tipe
ini

disebabkan

permeabilitas

usus

yang

abnormal

disebabkan

adanya

kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus. Inflamasi


dinding

usus

(diare

inflamatorik):

diare

tipe

ini

disebabkan

adanya

kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi produksi


mukus

yang berlebihan

dan

eksudasi air

gangguan absorbsi air-elektrolit.

dan elektrolit ke dalam lumen,

Inflamasi mukosa

usus

halus

dapat

disebabkan infeksi (disentri Shigella) atau noninfeksi (kolitis ulseratif dan

penyakit Chron) . Diare infeksi; infeksi oleh bakteri merupakan penyebab


tersering dari diare. Dilihat dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri
dibagi atas

non invasif (tidak merusak mukosa) dan invasif (merusak

mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi


oleh bakteri tersebut diare toksigenik. Contoh diare toksigenik adalah kolera.
Enterotoksin yang dihasilkan kuman Vibrio cholera atau eltor merupakan protein
yang dapat menempel pada epitel usus, yang

lalu membentuk adenosin

monofosfat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi


aktif anion klorida yang diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium.
Mekanisme absorbsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak
terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air,
natrium, ion, kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorbsi ion
natrium

(diiringi

oleh

air,

ion

kalium

dan

ion bikarbonat,

klorida.

kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang


diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus (Adyanastri, 2012).

6.

GAMBARAN KLINIS
Menurut Zein (2004) diare akut karena infeksi dapat disertaikeadaan

muntah-muntah dan/atau demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang


perut. Diare yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang
adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang
mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa
asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang merasa haus,
berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulangpipi menonjol,
turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan
deplesi air yang isotonik. Karena kehilangan bikarbonas, perbandingan bikarbonas
berkurang,

yang

mengakibatkan

penurunan

pH

darah.

Penurunanini

akanmerangsang pusat pernapasan sehingga frekwensi nafas lebih cepat dan lebih
dalam(kussmaul).

Reaksi

ini

adalah

usaha

tubuh

untuk

mengeluarkan

asamkarbonas agar pHdapat naik kembali normal. Pada keadaan asidosis

metabolik yang tidak dikompensasi, bikarbonat standard juga rendah, pCO2


normal dan base excesssangat negatif.
Gangguan

kardiovaskular

beruparenjatan dengan

pada

hipovolemik

yang

berat

dapat

tanda-tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah

menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, ujung-ujung
ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Karena kehilangan kaliumpada diare akut
juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan
perfusi ginjal menurun dan akan timbul anuria. Bila keadaan ini tidak segera
diatasi akan timbul penyulit berupa nekrosis tubulus ginjal akut, yang berarti pada
saat tersebut kita menghadapi gagal ginjal akut. Bila keadaan asidosis metabolik
menjadi lebih berat, akanterjadi kepincangan pembagian darah dengan pemusatan
yang lebih banyak dalamsirkulasi paru-paru. Observasi ini penting karena dapat
menyebabkan edema paru pada pasien yang menerimarehidrasi cairan intravena
tanpa alkali.

7.

DIAGNOSIS
Menurut Wawan (2013) Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik

tergantung pada penyebab penyakit dasarnya. Keluhan yang terpenting adalah


buang air besar dengan bentuk tinja cair atau encer 3 kali atau lebih dalam 24
jam. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Dehidrasi dapat
timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan muntah,
terutama pada anak kecil. Dehidrasi dapat bermanifestasi sebagai rasa haus
yang meningkat, berkurangnya jumlah buang air kecil dengan warna urin gelap,
tidak mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. Pada keadaan berat dapat
mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan

pusing kepala. Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi atas tiga
tingkatan:
Dehidrasi ringan (hilang cairan 2 3% BB): gambaran klinisnya turgor
kurang, suara serak, pasien belum jatuh dalam presyok.
Dehidrasi sedang (hilang cairan 5 8% BB): turgor buruk, suara serak,
pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cep at, napas cepat dan dalam.
Dehidrasi berat (hilang cairan 8 10% BB): tanda dehidrasi sedang
ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis.

Pemeriksaan fisik
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat

berguna dalam menentukan beratnya diare dari pada menentukan penyebab diare.
Status volume dinilai dengan

memperhatikan

perubahan

ortostatik

pada

tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh, dan tanda toksisitas. Pemeriksaan
abdomen yang seksama merupakan hal yang penting.

Pemeriksaan penunjang
Pada pasien yang mengalami dehidrasi berat atau toksisitas berat atau

diare berlangsung

lebih

dari

beberapa

hari,

diperlukan

pemeriksaan

penunjang. Pemeriksaannya antara lain pemeriksaan darah tepi lengkap


(hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit serum,
ureum

dan

kreatinin,

immunosorbent

pemeriksaan

assay (ELISA)

tinja,

pemeriksaan

mendeteksi

giardiasis dan

Enzym-linked
tes

serologi

amebiasis, dan foto x-ray abdomen. Pasien dengan diare karena virus,
biasanya mempunyai jumlah dan hitung jenis leukosit yang normal atau
limfositosis. Pasien dengan infeksi bakteri terutama bakteri yang invasif ke
mukosa,

memiliki leukositosis

dengan

kelebihan

darah

putih

muda.

Neutropenia dapat timbul pada salmonellosis. Ureum dan kreatinin diperiksa


untuk mengetahui adanya kekurangan volume cairan dan mineral tubuh.
Pemeriksaan tinja dilakukan untuk melihat adanya leukosit dalam tinja yang
menunjukkan adanya infeksi bakteri, adanya telur cacing dan parasit dewasa.

Pasien

yang telah mendapatkan

pengobatan antibiotik dalam tiga bulan

sebelumnya atau yang mengalami diare di rumah sakit sebaiknya diperiksa


tinja

untuk pengukuran

toksin clostridium

difficile. Rektoskopi

atau

sigmoidoskopi perlu dipertimbangkan pada pasien-pasien yang toksik, pasien


dengan diare berdarah atau pasien dengan diare akut persisten. Pada sebagian
besar pasien, sigmoidoskopi mungkin adekuat sebagai pemeriksaan awal. Pada
pasien dengan AIDS yang mengalami diare, kolonoskopi dipertimbangkan
karena kemungkinan penyebab infeksi atau limfoma di daerah kolon kanan.
Biopsi mukosa sebaiknya dilakukan juga jika mukosa terlihat inflamasi berat
(Wawan, 2013)

8.

PENATALAKSANAAN

Penggantian Cairan dan elektrolit


Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi yang

adekuat dan keseimbangan elektrolit selamaepisode akut. Ini dilakukan dengan


rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali yang tidak
dapat minumatau yang terkena diare hebat yang memerlukan hidrasi intavena
yang membahayakan jiwa. Idealnya, cairan rehidrasi oralharus terdiri dari 3,5 g
Natriumklorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20 g
glukosa per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalampaket-paket
yang mudah disiapkan dengan mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara
komersial tidak ada, cairan rehidrasi oralpengganti dapat dibuat dengan
menambahkan sendok teh garam, sendok teh baking soda, dan 2 4 sendok
makan gulaper liter air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk
mengganti kalium. Pasien harus minumcairan tersebut sebanyak mungkin sejak
mereka merasa haus pertama kalinya.
Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik seperti cairan saline
normal

atau

laktat

Ringer

harus

diberikan

dengan

suplementasi

kaliumsebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus dimonitor dengan

baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, dan


penyesuaian infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi
oral sesegera mungkin (Zein et al,., 2004).

Anti biotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut

infeksi,

karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa

pemberian anti biotik. Pemberian antibiotikdi indikasikan pada : Pasiendengan


gejala dan tanda diare infeksi seperti demam,feses berdarah,, leukosit pada feses,
mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan
jiwa padadiare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan, tetapi terapi antibiotik
spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman (Zein et al,., 2004).

Obat anti diare

Kelompok antisekresi selektif


Terobosan terbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas
racecadotrilyang bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim

enkephalina

sesehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal. Perbaikan fungsi


akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga keseimbangan cairan dapat
dikembalikan secara normal. Di Indonesia

saat ini tersedia di bawah

namahidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti diare yang dapat
pula digunakan lebih aman pada anak (Zein et al,., 2004).
Kelompok opiat
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl serta
kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil).Penggunaan kodein
adalah15-60mg 3x sehari, loperamid 2 4 mg/ 3 4x sehari dan lomotil 5mg 3
4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi,
peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan
mengurangi frekwensi diare. Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini
cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare

akut dengan gejala demam dan sindromdisentri obat ini tidak dianjurkan (Zein et
al,., 2004).
Kelompok absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau smektit
diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyeap bahan infeksius
atau toksin-toksin. Melalui efek tersebut maka sel mukosa ususterhindar kontak
langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit (Zein et al,.,
2004).
Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta,

Psyllium,

Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidisdan Catechu dapat membentuk kolloid


dengan cairandalamlumen usus dan akan mengurangi frekwensi dan konsistensi
feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit.
Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari dilarutkan dalamair atau diberikan
dalambentuk kapsul atau tablet (Zein et al,., 2004).
Probiotik
Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillusdan Bifidobacteriaatau
Saccharomyces

boulardii, bila mengalamipeningkatan jumlahnya di saluran

cerna akan

memiliki efek yang positifkarenaberkompetisi untuk nutrisi

danreseptor

saluran

cerna.

Syarat

penggunaan

dan

keberhasilan

mengurangi/menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat


(Zein et al,., 2004).

Obat antimikroba.
Pengobatan empirik tidak dianjurkan pada semua pasien. Pengobatan

empirik diindikasikan pada pasien-pasien yang diduga mengalami infeksi


bakteri invasif, diare turis travelers diarrhea) atau imunosupresif (Adyanastri,
2012).

9.

KOMPLIKASI
Menurut Zein (2004) kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan

komplikasi utama, terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut
karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock
hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah
ke hipokalemia dan asidosis metabolik.
Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga
syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul
Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ.
Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat
sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal. Haemolitycuremic Syndrome
(HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC. Pasien dengan
HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14 hari
setelah diare. Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan
penggunaan obat anti diare, tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS
masih kontroversi.
Sindrom Guillain Barre, suatu demielinasi polineuropati akut, adalah
merupakan komplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik, khususnya setelah
infeksi C. Jejuni. Dari pasien dengan Guillain Barre, 20 40 % nya menderita
infeksi C. Jejuni beberapa minggu sebelumnya. Biasanya pasien menderita
kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis untuk mengaktifkan otot
pernafasan. Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain
Barretetap belum diketahui. Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu
setelah penyakit diare karena Campylobakter, Shigella, Salmonella,atauYersinia
spp.

10.

PROGNOSIS
Dengan penggantian Cairan yang adekuat,perawatan yang mendukung, dan

terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat

baik dengan

morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan

penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut
usia. Di Amerika Serikat, mortalits berhubungan dengan diare infeksius < 1,0 %.
Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2 % yang berhubungan
dengan sindromuremik hemolitik (Zein et al,., 2004).

11.

PENGENDALIAN
Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya

dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering
mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selamamengolah
makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan
ternak harus terjaga dari kotoran manusia (Zein et al,., 2004).
Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus
diberikan perhatian khusus. Minumair, air yang digunakan untuk membersihkan
makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.
Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang
diambil

dari

danau

atau

air,

harus

direbus

dahulu

beberapa

menit

sebelumdikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan


untuk tidak menelan air (Zein et al,., 2004).
Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang
bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelumdikonsumsi. Limbah manusia
atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buahbuahandan sayuran. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya
produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC
terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang
dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak (Anonim,
2010).
Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi
efektivitas dan ketersediaanvaksin sangat terbatas.Pada saatini, vaksin yang

tersedia adalah untuk V. colera, dan demamtipoid. Vaksin kolera parenteral kini
tidakbegitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin
oralkolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin
tipoid parenteral yang lamahanya 70 % efektif dan sering memberikan efek
samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya
memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin
tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama4 kali
dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya (Anonim, 2010).