Anda di halaman 1dari 40

BAB 1

Konsep Ketuhanan dalam Islam


Topik ini berisi pembahasan tentang masalah keimanan dan pengkajian kembali
dalam masalah tersebut. Sebagian aspek keimanan mendapat perhatian dan
pengkajian yang begitu intensif, sehingga mudah didapat di tengah masyarakat.
Aspek yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah aspek kejiwaan dan nilai. Aspek ini
belum mendapat perhatian seperti perhatian terhadap aspek lainnya. Kecintaan
kepada Allah, ikhlas beramal hanya karena Allah, serta mengabdikan diri dan tawakal
sepenuhnya kepada-Nya, merupakan nilai keutamaan yang perlu diperhatikan dan
harus diutamakan dalam menyempurnakan cabang-cabang keimanan.
Sesungguhnya amalan lahiriah berupa ibadah mahdhah dan muamalah tidak
akan mencapai kesempurnaan, kecuali jika didasari dan diramu dengan nilai
keutamaan tersebut. Sebab nilai-nilai tersebut senantiasa mengalir dalam hati dan
tertuang dalam setiap gerak serta perilaku keseharian.
Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah dan
pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus. Jika tidak pandai
membina jiwa generasi mendatang, dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam
nalar pikir dan akal budi mereka, maka mereka tidak akan selamat dari pengaruh
negatif pendidikan modern. Mungkin mereka merasa ada yang kurang dalam sisi
spiritualitasnya dan berusaha menyempurnakan dari sumber-sumber lain. Bila ini
terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar pintu spiritualitas yang terbuka tidak
diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spiritualitas Islam.
Seorang muslim yang paripurna adalah yang nalar dan hatinya bersinar,
pandangan akal dan hatinya tajam, akal pikir dan nuraninya berpadu dalam
berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia, sehingga sulit diterka mana
yang lebih dahulu berperan kejujuran jiwanya atau kebenaran akalnya. Sifat
kesempurnaan ini merupakan karakter Islam, yaitu agama yang membangun
kemurnian akidah atas dasar kejernihan akal dan membentuk pola pikir teologis yang
menyerupai bidang-bidang ilmu eksakta, karena dalam segi akidah, Islam hanya
menerima hal-hal yang menurut ukuran akal sehat dapat diterima sebagai ajaran
akidah yang benar dan lurus.
Pilar akal dan rasionalitas dalam akidah Islam tercermin dalam aturan muamalat
dan dalam memberikan solusi serta terapi bagi persoalan yang dihadapi. Selain itu
Islam adalah agama ibadah. Ajaran tentang ibadah didasarkan atas kesucian hati yang

dipenuhi dengan keikhlasan, cinta, serta dibersihkan dari dorongan hawa nafsu,
egoisme, dan sikap ingin menang sendiri. Agama seseorang tidak sempurna, jika
kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan
ketajaman nalar. Pentingnya akal bagi iman ibarat pentingnya mata bagi orang yang
sedang berjalan.

Siapakah Tuhan itu?


Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan Tuhan, dalam al-Quran dipakai
untuk menyatakan berbagai objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia,
misalnya dalam surat al-Furqan ayat 43.
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya ?
Dalam surat al-Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh Firaun untuk
dirinya sendiri:
Dan Firaun berkata: Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan
bagimu selain aku.
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa
mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun
benda nyata (Firaun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam
al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna:
ilaahaini), dan banyak (jama: aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin.
Untuk dapat mengerti tentang definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika
al-Quran adalah sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya.
Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya
yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan
atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan
bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya,
merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat
berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakkal kepadanya untuk
kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan
ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin,
1989: 56).
Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dipahami, bahwa Tuhan itu bisa
berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak

mungkin atheis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika al-Quran setiap
manusia pasti mempunyai sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, orangorang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi
atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat Laa illaha illaa Allah. Susunan kalimat
tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu tidak ada Tuhan, kemudian baru diikuti
dengan suatu penegasan melainkan Allah. Hal itu berarti bahwa seorang muslim
harus membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam
hatinya hanya satu Tuhan yang bernama Allah.

A. Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan


1.

Pemikiran Barat

Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep


yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun
batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam
literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan
adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat
menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller,
kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock, dan Jevens.
Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah
sebagai berikut:
a.

Dinamisme

Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya
kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh
tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada
yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada
pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti mana (Melanesia), tuah
(Melayu), dan syakti (India). Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat atau
diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang
misterius. Meskipun mana tidak dapat diindera, tetapi ia dapat dirasakan
pengaruhnya.
b.

Animisme

Di samping kepercayaan dinamisme, masyarakat primitif juga mempercayai


adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik,
mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif
sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang
selalu hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang, serta mempunyai kebutuhankebutuhan. Roh akan senang apabila kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan
ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus

menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan advis dukun adalah salah
satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.
c. Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan,
karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang
lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai
dengan bidangnya. Ada Dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang
membidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.
d.

Henoteisme

Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan.


Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin
mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat
menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang
disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain.
kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan tingkat
Nasional).
e. Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam
monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat
internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga
paham yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh
Max Muller dan EB. Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang
menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan
bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orangorang Kristen. Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang Agung dan sifatsifat yang khas terhadap Tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada wujud
yang lain.
Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-angsur golongan
evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya sarjana-sarjana agama terutama di Eropa
Barat mulai menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori baru untuk
memahami sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa ide tentang Tuhan tidak datang
secara evolusi, tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kesimpulan tersebut diambil
berdasarkan pada penyelidikan bermacam-macam kepercayaan yang dimiliki oleh
kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan bukti-bukti bahwa
asal-usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme
adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan. (Zaglul Yusuf, 1993: 26-37).
2.

Pemikiran Umat Islam


Dikalangan umat Islam terdapat polemik dalam masalah ketuhanan. Satu

kelompok berpegang teguh dengan Jabariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa
Tuhan mempunyai kekuatan mutlah yang menjadi penentu segalanya. Di lain pihak
ada yang berpegang pada doktrin Qodariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa
manusialah yang menentukan nasibnya. Polemik dalam masalah ketuhanan di
kalangan umat Islam pernah menimbulkan suatu dis-integrasi (perpecahan) umat
Islam, yang cukup menyedihkan. Peristiwa al-mihnah yaitu pembantaian terhadap
para tokoh Jabariah oleh penguasa Qadariah pada zaman khalifah al-Makmun
(Dinasti Abbasiah). Munculnya faham Jabariah dan Qadariah berkaitan erat dengan
masalah politik umat Islam setelah Rasulullah Muhammad meninggal. Sebagai
kepala pemerintahaan, Abu Bakar Siddiq secara aklamasi formal diangkat sebagai
pelanjut Rasulullah. Berikutnya digantikan oleh Umar Ibnu Al-Khattab, Usman dan
Ali.
Embrio ketegangan politik sebenarnya sudah ada sejak khalifah Abu Bakar, yaitu
persaingan segitiga antara sekompok orang Anshar (pribumi Madinah), sekelompok
orang Muhajirin yang fanatik dengan garis keturunan Abdul Muthalib (fanatisme
Ali), dan kelompok mayoritas yang mendukung kepemimpinan Abu Bakar. Pada
periode kepemimpinan Abu Bakar dan Umar gejolak politik tidak muncul, karena
sikap khalifah yang tegas, sehingga kelompok oposisi tidak diberikan kesempatan
melakukan gerakannya.
Ketika khalifah dipegang oleh Usman Ibn Affan (khalifa ke 3), ketegangan politik
menjadi terbuka. Sistem nepotisme yang diterapkan oleh penguasa (wazir) pada masa
khalifah Usman menjadi penyebab adanya reaksi negatif dari kalangan warga Abdul
Muthalib. Akibatnya terjadi ketegangan,yang menyebabkan Usman sebagai khalifah
terbunuh. Ketegangan semakin bergejolak pada khalifah berikutnya, yaitu Ali Ibn Abi
Thalib. Dendam yang dikumandangkan dalam bentuk slogan bahwa darah harus
dibalas dengan darah, menjadi motto bagi kalangan oposisi di bawah kepemimpinan
Muawiyah bin Abi Sufyan. Pertempuran antara dua kubu tidak terhindarkan. Untuk
menghindari perpecahan, antara dua kubu yang berselisih mengadakan perjanjian
damai. Nampaknya bagi kelompok Muawiyah, perjanjian damai hanyalah merupakan
strategi untuk memenangkan pertempuran. Amru bin Ash sebagai diplomat
Muawiyah mengungkapkan penilaian sepihak. Pihak Ali yang paling bersalah,
sementara pihaknya tidak bersalah. Akibat perjanjian itu pihak Ali (sebagai penguasa
resmi) tersudut. Setelah dirasakan oleh pihak Ali bahwa perjanjian itu merugikan
pihaknya, di kalangan pendukung Ali terbelah menjadi dua kelompok, yaitu :
kelompok yang tetap setia kepada Ali, dan kelompok yang menyatakan keluar, namun
tidak mau bergabung dengan Muawiyah. Kelompok pertama disebut dengan
kelompok SYIAH, dan kelompok kedua disebut dengan KHAWARIJ. Dengan

demikian umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok politik, yaitu: 1) Kelompok
Muawiyah (Sunni), 2) Kelompok Syiah, dan 3) Kelompok Khawarij.
Untuk memenangkan kelompok dalam menghadapi oposisinya, mereka tidak segansegan menggunakan konsep asasi. Kelompok yang satu sampai mengkafirkan
kelompok lainnya. Menurut Khawarij semua pihak yang terlibat perjanjian damai
baik pihak Muawiyah maupun pihak Ali dinyatakan kafir. Pihak Muawiyah dikatakan
kafir karena menentang pemerintah, sedangkan pihak Ali dikatakan kafir karena tidak
bersikap tegas terhadap para pemberontak, berarti tidak menetapkan hukum
berdasarkan ketentuan Allah. Mereka mengkafirkan Ali dan para pendukungknya,
berdasarkan Al-Quran Surat Al-Maidah (5) : 44


Siapa yang tidak menegakkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan
Allah (Al-Quran), maka mereka dalah orang-orang kafir.

Munculnya doktrin saling mengkafirkan antara satu kelompok dengan kelompok lain
membuat pertanyaan besar bagi kalangan cendikiawan. Pada suatu mimbar akademik
(pengajian) muncul pertanyaan dari peserta pengajian kepada gurunya yaitu Hasan
Al-Bashry. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan adanya perbedaan pendapat
tentang orang yang berbuat dosa besar. Sebagian pendapat mengatakan bahwa
mereka itu adalah mukmin, sedangkan pendapat lain mengatakan kafir. Para pelaku
politik yang terlibat tahkim perjanjian antara pihak Ali dan pihak Muawiyah, mereka
dinilai sebagai pelaku dosa besar. Alasan yang mengatakan mereka itu mukmin
beralasan bahwa iman itu letaknya di hati, sedangkan orang lain tidak ada yang
mengetahui hati seseorang kecuali Allah. Sedangkan pendapat lainnya mengatakan
bahwa iman itu bukan hanya di hati melainkan berwujud dalam bentuk ucapan dan
perbuatan. Berarti orang yang melakukan dosa besar dia adalah bukan mukmin.
Kalau mereka bukan mukmin berarti mereka kafir.
Sebelum guru besarnya memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang dimajukan
tentang dosa besar tersebut, seorang peserta pengajian yang bernama Wasil ibnu Atha
mengajukan jawaban, bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan kafir
melainkan diantara keduanya. Hasan Al-Bashry sebagai pembina pengajian tersebut
memeberikan komentar, terhadap jawaban Wasil. Komentarnya bahwa pelaku dosa
besar termasuk yang terlibat dalam perjanjian damai termasuk kelompok fasik. Wasil
membantah komentar gurunya itu, karena orang yang fasik lebih hina dimata Allah
ketimbang orang yang kafir. Akibat polemik tersebut Wasil bersama beberapa orang
yang sependapat dengannya memisahkan diri dari kelompok pengajian Hasal AlBashry. Peserta pengajian yang tetap bergabung bersama Hasan Al-Bashry
mengatakan, Itazala Wasil anna. (Wasil telah memisahkan diri dari kelompok

kita.) Dari kata-kata inilah Wasil dan pendukungnya disebut kelompok


MUKTAZILAH. (Lebih jelasnya lihat Harun Nasution dalam Teologi Islam).
Kelompok Muktazilah mengajukan konsep-konsep yang bertentangan dengan konsep
yang diajukan golongan Murjiah (aliran teologi yang diakui oleh penguasa politik
pada waktu itu, yaitu Sunni. Berarti Muktazilah sebagai kelompok penentang arus).
Doktrin Muktazilah terkenal dengan lima azas (ushul al-khamsah) yaitu:
1. meniadakan (menafikan) sifat-sifat Tuhan dan menetapkan zat-Nya
2. Janji dan ancaman Tuhan (al-waad dan al-waid)
3. Keadilan Tuhan (al-adalah)
4. Al-Manzilah baina al-manzilatain (posisi diatara dua posisi)
5. Amar Maruf dan Nahi Munkar.
Dari lima azas tersebut menurut Muktazilah Tuhan terikat dengan kewajibankewajiban. Tuhan wajib memenuhi janjinya. Ia berkewajiban memasukkan orang
yang baik ke surga dan wajib memasukkan orang yang jahat ke neraka, dan
kewajiban-kewajiban lain. Pandangan-pandangan kelompok ini menempatkan akal
manusia dalam posisi yang kuat. Sebab itu kelompok ini dimasukkan ke dalam
kelompok teologi rasional dengan sebutan Qadariah.
Sebaliknya, aliran teologi tradisional (Jabariah) berpendapat bahwa Tuhan
mempunyai sifat (sifat 20, sifat 13, dan maha sifat). Ia maha kuasa, memiliki
kehendak mutlak. Kehendak Tuhan tidak terikat dengan apapun. Karena itu ia
mungkin saja menempatkan orang yang baik ke dalam neraka dan sebaliknya
mungkin pula ia menempatkan orang jahat ke dalam surga, kalau Ia menghendaki.
Dari faham Jabariah inilah ilmu-ilmu kebatinan berkembang di sebagaian umat Islam.

3. Konsep Ketuhanan dalam Islam


Istilah Tuhan dalam sebutan Al-Quran digunakan kata ilaahun, yaitu setiap yang
menjadi penggerak atau motivator, sehingga dikagumi dan dipatuhi oleh manusia.
Orang yang mematuhinya di sebut abdun (hamba). Kata ilaah (tuhan) di dalam AlQuran konotasinya ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain Allah. Subjektif
(hawa nafsu) dapat menjadi ilah (tuhan). Benda-benda seperti : patung, pohon,
binatang, dan lain-lain dapat pula berperan sebagai ilah. Demikianlah seperti
dikemukakan pada surat Al-Baqarah (2) : 165, sebagai berikut:

Diantara manusia ada yang bertuhan kepada selain Allah, sebagai


tandingan terhadap Allah. Mereka mencintai tuhannya itu sebagaimana
mencintai Allah.

Sebelum turun Al-Quran dikalangan masyarakat Arab telah menganut konsep tauhid
(monoteisme). Allah sebagai Tuhan mereka. Hal ini diketahui dari ungkapanungkapan yang mereka cetuskan, baik dalam doa maupun acara-acara ritual. Abu
Thalib, ketika memberikan khutbah nikah Nabi Muhammad dengan Khadijah (sekitar
15 tahun sebelum turunya Al-Quran) ia mengungkapkan kata-kata Alhamdulillah.
(Lihat Al-Wasith,hal 29). Adanya nama Abdullah (hamba Allah) telah lazim dipakai
di kalangan masyarakat Arab sebelum turunnya Al-Quran. Keyakinan akan adanya
Allah, kemaha besaran Allah, kekuasaan Allah dan lain-lain, telah mantap. Dari
kenyataan tersebut timbul pertanyaan apakah konsep ketuhanan yang dibawakan Nabi
Muhammad? Pertanyaan ini muncul karena Nabi Muhammad dalam mendakwahkan
konsep ilahiyah mendapat tantangan keras dari kalangan masyarakat. Jika konsep
ketuhanan yang dibawa Muhammad sama dengan konsep ketuhanan yang mereka
yakini tentu tidak demikian kejadiannya.
Pengakuan mereka bahwa Allah sebagai pencipta semesta alam dikemukakan dalam
Al-Quran surat Al-Ankabut (29) ayat 61 sebagai berikut;


Jika kepada mereka ditanyakan, Siapa yang menciptakan lagit dan bumi,
dan menundukkan matahari dan bulan? Mereka pasti akan menjawab
Allah.

Dengan demikian seseorang yang mempercayai adanya Allah, belum tentu berarti
orang itu beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Seseorang baru laik dinyatakan
bertuhan kepada Allah jika ia telah memenuhi segala yang dimaui oleh Allah. Atas
dasar itu inti konsep ketuhanan Yang Maha Esa dalam Islam adalah memerankan
ajaran Allah yaitu Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan berperan bukan
sekedar Pencipta, melainkan juga pengatur alam semesta.
Pernyataan lugas dan sederhana cermin manusia bertuhan Allah sebagaimana
dinyatakan dalam surat Al-Ikhlas. Kalimat syahadat adalah pernyataan lain sebagai
jawaban atas perintah yang dijaukan pada surat Al-Ikhlas tersebut. Ringkasnya jika
Allah yang harus terbayang dalam kesadaran manusia yang bertuhan Allah adalah

disamping Allah sebagai Zat, juga Al-Quran sebagai ajaran serta Rasullullah sebagai
Uswah hasanah

BAB 2
Hakekat Manusia Menurut Pandangan Islam
Penciptaan manusia terdiri dari bentuk jasmani yang bersifat kongkrit, juga
disertai pemberian sebagian Ruh ciptaan Allah swt yang bersifat abstrak. Manusia
dicirikan oleh sebuah intelegensi sentral atau total bukan sekedar parsial atau
pinggiran. Manusia dicirikan oleh kemampuan mengasihi dan ketulusan, bukan
sekedar refles-refleks egoistis. Sedangkan, binatang, tidak mengetahui apa-apa diluar
dunia inderawi, meskipun barangkali memiliki kepekaan tentang yang sakral.[4]
Manusia perlu mengenali hakekat dirinya, agar akal yang digunakannya untuk
menguasai alam dan jagad raya yang maha luas dikendalikan oleh iman, sehingga
mampu mengenali ke-Maha Pekasaan Allah dalam mencipta dan mengendalikan
kehidupan ciptaanNya. Dalam memahami ayat-ayat Allah dalam kesadaran akan
hakekat dirinya, manusia menjadi mampu memberi arti dan makna hidupnya, yang
harus diisi dengan patuh dan taat pada perintah-perintah dan berusaha menjauhi
larangan-larangan Allah. Berikut adalah hakekat manusia menurut pandangan Islam:
1.

Manusia adalah Makhluk Ciptaan Allah SWT.


Hakekat pertama ini berlaku umum bagi seluruh jagat raya dan isinya
yang bersifat baru, sebagai ciptaan Allah SWT di luar alam yang disebut
akhirat. Alam ciptaan meupakan alam nyata yang konkrit, sedang alam
akhirat merupakan ciptaan yang ghaib, kecuali Allah SWT yang bersifat
ghaib bukan ciptaan, yang ada karena adanya sendiri.[5]
Firman Allah SWT mengenai penciptaan manusia dalam Q.S. Al-Hajj ayat
5:


Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian

dari setetes air mani menjadi segumpal darah, menjadi segumpal daging
yang diberi bentuk dan yang tidak berbentuk, untuk Kami perlihatkan
kekuasaan Tuhanmu.
Firman tersebut menjelaskan pada manusia tentang asal muasal
dirinya, bahwa hanya manusia pertama Nabi Adam AS yang diciptakan
langsung dari tanah, sedang istrinya diciptakan dari satu bagian tubuh
suaminya. Setelah itu semua manusia berikutnya diciptakan melalui
perantaraan seorang ibu dan dari seorang ayah, yang dimulai dari setetes
air mani yang dipertemukan dengan sel telur di dalam rahim.
Hakikat pertama ini berlaku pada umumnya manusia di seluruh jagad
raya sebagai ciptaan Allah diluar alam yang disebut akhirat. Alam ciptaan
merupakan alam nyata yang konkrit sedangkan alam akhirat merupakan
ciptaan yang ghaib kecuali Allah yang bersifat ghaib bukan ciptaan yang
ada karena dirinya sendiri.
2.

Kemandirian dan Kebersamaan (Individualitas dan Sosialita).


Kemanunggalan tubuh dan jiwa yang diciptakan Allah SWT ,
merupakan satu diri individu yang berbeda dengan yang lain. setiap
manusia dari individu memiliki jati diri masing - masing. Jati diri tersebut
merupakan aspek dari fisik dan psikis di dalam kesatuan. Setiap individu
mengalami perkembangan dan berusah untuk mengenali jati dirinya
sehingga mereka menyadari bahwa jati diri mereka berbeda dengan yang
lain. Firman Allah dalam Q.S. Al-Araf 189:

Dialah yang menciptakanmu dari satu diri
Firman tersebut jelas menyatakan bahwa sebagai satu diri (individu)
dalam merealisasikan dirinya melalui kehidupan, ternyata diantaranya
terdapat manusia yang mampu mensyukurinya dan menjadi beriman.
Di dalam sabda Rasulullah SAW menjelaskan petunjuk tentang cara

mewujudkan sosialitas yang diridhoiNya, diantara hadist tersebut


mengatakan:
Seorang dari kamu tidak beriman sebelum mencintai kawannya
seperti mencintai dirinya sendiri (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Senyummu kepada kawan adalah sedekah (Diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban dan Baihaqi)
Kebersamaan (sosialitas) hanya akan terwujud jika dalam
keterhubungan itu manusia mampu saling menempatkan sebagai subyek,
untuk memungkinkannya menjalin hubungan manusiawi yang efektif,
sebagai hubungan yang disukai dan diridhai Allah SWT.[6] Selain itu
manusia merupakan suatu kaum (masyarakat) dalam menjalani hidup
bersama dan berhadapan dengan kaum (masyarakat) yang lain. Manusia
dalam perspektif agama Islam juga harus menyadari bahwa pemeluk
agama Islam adalah bersaudara satu dengan yang lain.[7]
3. Manusia Merupakan Makhluk yang Terbatas.
Manusia memiliki kebebasan dalam mewujudkan diri (self
realization), baik sebagai satu diri (individu) maupun sebagai makhluk
social, terrnyata tidak dapat melepaskan diri dari berbagai keterikatan yang
membatasinya. Keterikatan atau keterbatasan itu merupakan hakikat
manusia yang melekat dan dibawa sejak manusia diciptakan Allah SWT.
Keterbatasan itu berbentuk tuntutan memikul tanggung jawab yang lebih
berat daripada makhluk-makhluk lainnya. Tanggung jawab yang paling
asasi sudah dipikulkan ke pundak manusia pada saat berada dalam proses
penciptaan setiap anak cucu Adam berupa janji atau kesaksian akan
menjalani hidup di dalam fitrah beragama tauhid. Firman Allah Q.S. AlAraf ayat 172 sebagai berikut:

Dan ingat lah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian jiwa mereka,
Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul Engkau Tuhan
kami dan kami bersaksi.
Kesaksian tersebut merupakan sumpah yang mengikat atau membatasi
manusia sebagai individu bahwa didalam kehidupannya tidak akan

menyembah selain Allah SWT. Bersaksi akan menjadi manusia yang


bertaqwa pada Allah SWT. Manusia tidak bebas menyembah sesuatu
selain Allah SWT, yang sebagai perbuatan syirik dan kufur hanya akan
mengantarkannya menjadi makhluk yang terkutuk dan dimurkaiNya.[8]

BAB 3
KEIMANAN DAN KETAQWAAN

A. Pengartian Iman
Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja aminayamanu-amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya
menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya
kepada Allah dan selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam
sikap kesehariannya tidak mencerminkan ketaatan atau kepatuhan (taqwa) kepada
yang telah dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan
karena adanya keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia
adalah Allah dan dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Dalam surat al-Baqarah 165 dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang
yang amat sangat cinta kepada Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu
beriman kepada Allah berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu alQuran dan Sunnah Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi
kehendak orang yang beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk
mengorbankan segalanya dan kalau perlu mempertaruhkan nyawa.
Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan
keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal
perbuatan (Al-Iimaanu aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani waamalun bil
arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati,
ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap
hidup atau gaya hidup.
Istilah iman dalam al-Quran selalu dirangkaikan dengan kata lain yang
memberikan corak dan warna tentang sesuatu yang diimani, seperti dalam surat anNisa: 51 yang dikaitkan dengan jibti (kebatinan/idealisme) dan thaghut
(realita/naturalisme). Sedangkan dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata
bathil, yaitu walladziina aamanuu bil baathili. Bhatil berarti tidak benar menurut
Allah. Dalam surat lain iman dirangkaikan dengan kata kaafir atau dengan kata Allah.
Sementara dalam al-Baqarah: 4, iman dirangkaikan dengan kata ajaran yang

diturunkan Allah (yuminuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qablika).
Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam al-Quran,
mengandung arti positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan
kata Allah atau dengan ajarannya, dikatakan sebagai iman haq. Sedangkan yang
dikaitkan dengan selainnya, disebut iman bathil.
B. Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Quran disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya,
melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena
itu lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan
seorang muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan
kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai
dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan,
melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam
perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia
merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal.
Seseorang dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya.
Apabila ia berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai
sebagai amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak berakidah, maka
segala amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan
bernilai dalam pendengaran manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat dengan
segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang
muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran
Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
C. Proses Terbentuknya Iman
Spermatozoa dan ovum yang diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan
yang digariskan ajaran Allah, merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar
makanan yang dimakan berasal dari rezeki yang halalan thayyiban. Pandangan dan
sikap hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis yang
dikandungnya. Ibu yang mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka secara
tidak langsung pandangan dan sikap hidup suami juga berpengaruh secara psikologis
terhadap bayi yang sedang dikandung. Oleh karena itu jika seseorang menginginkan
anaknya kelak menjadi mukmin yang muttaqin, maka suami isteri hendaknya
berpandangan dan bersikap sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang

intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih
iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian
seseorang, baik yang datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan,
maupun lingkungan termasuk benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan
lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik
yang disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang.
Tingkah laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan
teladan bagi anak-anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk akan ditiru anakanaknya. Jangan diharapkan anak berperilaku baik, apabila orang tuanya selalu
melakukan perbuatan yang tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, Setiap anak,
lahir membawa fitrah. Orang tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut menjadi
Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan proses
perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah
adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak
mengenal ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.
Seseorang yang menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka
ajaran Allah harus diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu
dari tingkat verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi
mukmin, jika kepada mereka tidak diperkenalkan al-Quran.
Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan,
karena tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang.
Seorang anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah
dan menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang
dan terampil dalam melaksanakan ajaran-ajaran Allah.
Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat
dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang menampak saja. Di
dalamnya tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi
kecuali secara tidak langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang diduga
dapat menggambarkan sikap mental tersebut); bahkan secara tidak langsung itu
adakalanya cukup sulit menarik kesimpulan yang teliti. Di dalam tulisan ini
dipergunakan istilah tingkah laku dalam arti luas dan dikaitkan dengan nilai-nilai
hidup, yakni seperangkat nilai yang diterima oleh manusia sebagai nilai yang penting
dalam kehidupan yaitu iman. Yang dituju adalah tingkah laku yang merupakan
perwujudan nilai-nilai hidup tertentu, yang disebut tingkah laku terpola.
Dalam keadaan tertentu sifat, arah, dan intensitas tingkah laku dapat dipengaruhi
melalui satu campur tangan secara langsung, yakni dalam bentuk intervensi terhadap
interaksi yang terjadi.
Dalam hal ini dijelaskan beberapa prinsip dengan mengemukakan implikasi
metodologiknya :

1. Prinsip pembinaan berkesinambungan


Proses pembentukan iman adalah suatu proses yang panjang, terus menerus, dan
tidak berkesudahan. Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan orang semakin
lama semakin mampu bersikap selektif. Implikasinya ialah diperlukan motivasi sejak
kecil dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu penting mengarahkan proses
motivasi, agar dapat membuat tingkah laku lebih terarah dan selektif dalam
menghadapi nilai-nilai hidup yang patut diterima atau yang seharusnya ditolak.
2. Prinsip internalisasi dan individuasi
Sesuatu nilai hidup antara lain iman dapat lebih mantap terjelma dalam bentuk
tingkah laku tertentu, apabila anak didik diberi kesempatan untuk menghayatinya
melalui satu peristiwa internalisasi (yakni usaha menerima nilai sebagai bagian dari
sikap mentalnya) dan individuasi (yakni usaha menempatkan nilai serasi dengan sifat
kepribadiannya). Melalui pengalaman penghayatan pribadi, ia bergerak menuju satu
penjelmaan dan perwujudan nilai dalam diri manusia secara lebih wajar dan
alamiah, dibandingkan bilamana nilai itu langsung diperkenalkan dalam bentuk
utuh, yakni bilamana nilai tersebut langsung ditanamkan kepada anak didik sebagai
satu produk akhir semata-mata. Prinsip ini menekankan pentingnya mempelajari iman
sebagai proses (internalisasi dan indidivuasi). Implikasi metodologiknya ialah bahwa
pendekatan untuk membentuk tingkah laku yang mewujudkan nilai-nilai iman tidak
dapat hanya mengutamakan nilai-nilai itu dalam bentuk jadi, tetapi juga harus
mementingkan proses dan cara pengenalan nilai hidup tersebut. Dari sudut anak
didik, hal ini berarti bahwa seyogianya anak didik mendapat kesempatan sebaikbaiknya mengalami proses tersebut sebagai peristiwa pengalaman pribadi, agar
melalui pengalaman-pengalaman itu terjadi kristalisasi nilai iman.
3. Prinsip sosialisasi
Pada umumnya nilai-nilai hidup baru benar-benar mempunyai arti, bila telah
memperoleh dimensi sosial. Oleh karena itu satu bentuk tingkah laku terpola baru
teruji secara tuntas bilamana sudah diterima secara sosial. Implikasi metodologiknya
ialah bahwa usaha pembentukan tingkah laku mewujudkan nilai iman hendaknya
tidak diukur keberhasilannya terbatas pada tingkat individual (yaitu dengan hanya
memperhatikan kemampuan-kemampuan seseorang dalam kedudukannya sebagai
individu), tetapi perlu mengutamakan penilaian dalam kaitan kehidupan interaksi
sosial (proses sosialisasi) orang tersebut. Pada tingkat akhir harus terjadi proses
sosialisasi tingkah laku, sebagai kelengkapan proses individuasi, karena nilai iman
yang diwujudkan ke dalam tingkah laku selalu mempunyai dimensi sosial.
4. Prinsip konsistensi dan koherensi
Nilai iman lebih mudah tumbuh terakselerasi, apabila sejak semula ditangani
secara konsisten yaitu secara tetap dan konsekwen, serta secara koheren, yaitu tanpa
mengandung pertentangan antara nilai yang satu dengan nilai lainnya. Implikasi
metodologiknya adalah bahwa usaha yang dikembangkan untuk mempercepat
tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya selalu konsisten
dan koheren. Alasannya, caranya, dan konsekwensinya dapat dihayati dalam sifat dan

bentuk yang jelas dan terpola serta tidak berubah-ubah tanpa arah. Pendekatan
demikian berarti bahwa setiap langkah yang terdahulu akan mendukung serta
memperkuat langkah-langkah berikutnya. Apabila pendekatan yang konsisten dan
koheren sudah nampak, maka dapat diharapkan bahwa proses pembentukan tingkah
laku dapat berlangsung lebih lancar dan lebih cepat, karena kerangka pola tingkah
laku sudah tercipta.
5. Prinsip integrasi
Hakekat kehidupan sebagai totalitas, senantiasa menghadapkan setiap orang
pada problematik kehidupan yang menuntut pendekatan yang luas dan menyeluruh.
Jarang sekali fenomena kehidupan yang berdiri sendiri. Begitu pula dengan setiap
bentuk nilai hidup yang berdimensi sosial. Oleh karena itu tingkah laku yang
dihubungkan dengan nilai iman tidak dapat dibentuk terpisah-pisah. Makin integral
pendekatan seseorang terhadap kehidupan, makin fungsional pula hubungan setiap
bentuk tingkah laku yang berhubungan dengan nilai iman yang dipelajari. Implikasi
metodologiknya ialah agar nilai iman hendaknya dapat dipelajari seseorang tidak
sebagai ilmu dan ketrampilan tingkah laku yang terpisah-pisah, tetapi melalui
pendekatan yang integratif, dalam kaitan problematik kehidupan yang nyata.
D. Tanda-tanda Orang Beriman
Al-Quran menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:
1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah
tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Quran, maka
bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (al-Anfal: 2). Dia akan
berusaha memahami ayat yang tidak dia pahami sebelumnya.
2. Senantiasa tawakkal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah,
diiringi dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut
Sunnah Rasul (Ali Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at-Taubah: 52,
Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-Taghabun: 13).
3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya (alAnfal: 3 dan al-Muminun: 2, 7). Bagaimanapun sibuknya, kalau sudah masuk
waktu shalat, dia segera shalat untuk membina kualitas imannya.
4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan al-Mukminun: 4). Hal
ini dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang dinafkahkan di jalan
Allah merupakan upaya pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi ketimpangan
antara yang kaya dengan yang miskin.
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (alMukminun: 3, 5). Perkataan yang bermanfaat atau yang baik adalah yang
berstandar ilmu Allah, yaitu al-Quran menurut Sunnah Rasulullah.
6. Memelihara amanah dan menempati janji (al-Mukminun: 6). Seorang mumin
tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah dan menepati janji.
7.

Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (al-Anfal: 74). Berjihad di jalan

Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah, baik dengan


harta benda yang dimiliki maupun dengan nyawa.
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (an-Nur: 62). Sikap
seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang mukmin, orang yang
berpandangan dengan ajaran Allah dan Sunnah Rasul.
Akidah Islam sebagai keyakinan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi
kehidupan seorang muslim. Abu Ala Maududi menyebutkan tanda orang beriman
sebagai berikut:
1.

Menjauhkan diri dari pandangan yang sempit dan picik.

2.

Mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri.

3.

Mempunyai sifat rendah hati dan khidmat.

4.

Senantiasa jujur dan adil.

5. Tidak bersifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan
situasi.
6.

Mempunyai pendirian yang teguh, kesabaran, ketabahan, dan optimisme.

7. Mempunyai sifat ksatria, semangat dan berani, tidak gentar menghadapi


resiko, bahkan tidak takut kepada maut.
8.

Mempunyai sikap hidup damai dan ridha.

9.

Patuh, taat, dan disiplin menjalankan peraturan Ilahi.


(A. Toto Suryana AF, et.al, 1996 : 69).

E. Korelasi Keimanan dan Ketakwaan


Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi
dua, yaitu tauhid teoritis (tauhid rububiyyah) dan tauhid praktis (tauhid uluhiyyah).
Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan
keesaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan
berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep
tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas
bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan
amal ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat
Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengartian
tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah.
Dengan kata lain, tidak ada yang disembah selain Allah, atau yang berhak disembah
hanyalah Allah semata dan menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala
gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengartian beriman

kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan
Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan
perbuatan, tidak dapat dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara sampurna.
Dalam pandangan Islam, yang dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid
yang tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan praktis kehidupan manusia seharihari. Dengan kata lain, harus ada kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan
tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan sehari-hari secara murni dan
konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep
dan pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian
bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengartian yakin dan percaya kepada
Allah melalui fikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan
mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman
dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu
allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian
diikuti dengan mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala
larangan-Nya.
Problematika, Tantangan, dan Resiko dalam Kehidupan Modern
Di antara problematika dalam kehidupan modern adalah masalah sosial-budaya
yang sudah established, sehingga sulit sekali memperbaikinya.
Berbicara tentang masalah sosial budaya berarti berbicara tentang masalah alam
pikiran dan realitas hidup masyarakat. Alam pikiran bangsa Indonesia adalah
majemuk (pluralistik), sehingga pergaulan hidupnya selalu dipenuhi oleh konflik baik
sesama orang Islam maupun orang Islam dengan non-Islam.
Pada millenium ketiga, bangsa Indonesia dimungkinkan sebagai masyarakat
yang antara satu dengan lainnya saling bermusuhan. Hal itu digambarkan oleh Ali
Imran: 103, sebagai kehidupan yang terlibat dalam wujud saling bermusuhan (idz
kuntum adaaan), yaitu suatu wujud kehidupan yang berada pada ancaman
kehancuran.
Adopsi modernisme (westernisme), kendatipun tidak secara total, yang dilakukan
bangsa Indonesia selama ini, telah menempatkan bangsa Indonesia menjadi bangsa
yang semi naturalis. Di sisi lain, diadopsinya idealisme juga telah menjadikan bangsa
Indonesia menjadi pengkhayal. Adanya tarik menarik antara kekuatan idealisme dan
naturalisme menjadikan bangsa Indonesia bersikap tidak menentu. Oleh karena itu,
kehidupannya selalu terombang-ambing oleh isme-isme tersebut.
Secara ekonomi bangsa Indonesia semakin tambah terpuruk. Hal ini karena
diadopsinya sistem kapitalisme dan melahirkan korupsi besar-besaran. Sedangkan di
bidang politik, selalu muncul konflik di antara partai dan semakin jauhnya anggota
parlemen dengan nilai-nilai qurani, karena pragmatis dan oportunis.

Di bidang sosial banyak muncul masalah. Berbagai tindakan kriminal sering


terjadi dan pelanggaran terhadap norma-norma bisa dilakukan oleh anggota
masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi adalah tindakan penyalahgunaan NARKOBA
oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, serta masyarakat. Di samping itu masih terdapat
bermacam-macam masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dalam kehidupan
modern.
Persoalan itu muncul, karena wawasan ilmunya salah, sedang ilmu merupakan
roh yang menggerakkan dan mewarnai budaya. Hal itu menjadi tantangan yang amat
berat dan dapat menimbulkan tekanan kejiwaan, karena kalau masuk dalam
kehidupan seperti itu, maka akan melahirkan risiko yang besar.
Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai persoalan di atas, perlu
diadakan revolusi pandangan. Dalam kaitan ini, iman dan taqwa yang dapat berperan
menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan modern tersebut.
2. Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan
Modern
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini
dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
a. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau
Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat
mencegahnya. Sebaliknya, jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada
satu kekuatanpun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan
keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan
sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian bendabenda kramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan
sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat al-Fatihah ayat
1-7.
b. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak di
antara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut
menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan
Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah:
Di mana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun
kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (an-Nisa 4: 78).
c. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, karena kepentingan

penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip,


menjual kehormatan, bermuka dua, menjilat, dan memperbudak diri, karena
kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah:
Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata. (lauh mahfud). (Hud,
11: 6).
d. Iman memberikan ketentraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, serta digoncang oleh keraguan dan
kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tentram
(mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan firman Allah:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (arRad, 13: 28).
Seorang yang beriman tidak pernah ragu pada keyakinannya terhadap Qadla dan
Qadar. Dia mengetahui dan meyakini seyakin-yakinnya bahwa Qadla dan Qadar
Allah telah tertulis di dalam kitab.
Qadar adalah apa yang dapat dijangkau oleh kemauan dan iradah manusia. Allah telah
menciptakan manusia serta dilengkapi dengan nikmat berupa akal dan perasaan.
Melalui akal dan iradahnya, manusia dapat berbuat berbagai hal dalam batas iradah
yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Di luar batas kemampuan iradah manusia, Qadla dan Qadar Allahlah yang berlaku.
Orang-orang yang selalu hidup dalam lingkungan keimanan, hatinya selalu tenang
dan pribadinya selalu terang dan mantap. Allah memberi ketenangan dalam jiwanya
dan ia selalu mendapat pertolongan dan kemenangan. Inilah nikmat yang
dianugerahkan Allah kepada hambaNya yang mukmin dan anugerah Allah berupa nur
Ilahi ini diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya.
Orang mukmin mengetahui bahwa mati adalah satu kepastian. Oleh sebab itu dia
tidak takut menghadapi kematian, bahkan dia menunggu kematian. Hal ini diyakini
sepenuhnya selama hayat dikandung badan. Keberanian selalu mendampingi hati
seorang mukmin.
Seorang mukmin yang dalam hidupnya mengalami atau menghadapi masalah, baik
materi, kejiwaan, atau kemasyarakatan, mungkin masalah itu terasa berat untuk
ditanggulangi. Tetapi dekatnya dengan Allah dan rasa tawakkal atau penyerahan diri
yang bulat kepada Allah, serta iman dengan Qadla dan Qadar dapat meringankan
pengaruh tekanan yang berat. Dalam keadaan yang seperti ini, kalau seorang beriman
ditimpa malapetaka, ia akan bersabar dan memohon rahmat kepada yang memiliki
segala rahmat. Dengan demikian ketenangan akan meliputi hati mukmin. Dia yakin
bahwa Allah akan mengabulkan doanya, meneguhkan hatinya, serta memberikan
kemenangan. (ar-Raad 28, al-Fath 4).

Kalau Allah telah menurunkan ketenangan dalam hati, maka hati menjadi mantap,
segala krisis dapat dilalui, keseimbangan hormon tetap mantap, dan keserasian
kimiawi tubuh berjalan dengan wajar. Dalam keadaan demikian segala penderitaan
dan tekanan jiwa akan berganti dengan perasaan bahagia dan ketenangan.
e. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan
kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman
Allah :
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya, akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (an-Nahl, 16: 97).
f. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa
pamrih, kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan
apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia
senantiasa berpedoman pada firman Allah:
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam. (al-Anaam, 6: 162)
g. Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing
dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang
beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman
Allah:
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah
orang-orang yang beruntung. (al-Baqarah, 2: 5).
h. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh
manusia mukmin dipengaruhi oleh iman.
Hal itu karena semua gerak dan kegiatan manusia, baik yang dipengaruhi oleh
kemauan seperti makan, minum, berdiri, melihat dan berfikir, maupun yang tidak
dipengaruhi kemauan seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah
tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh.
Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses bio-kimia ini bekerja di bawah
perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang
diproduksi oleh kelenjar hipofise, yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan
keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa
manusia semenjak ia masih berbentuk zygot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman
mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan

akhlak manusia.
Jika karena pengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perobahan
fisiologis tubuh (keseimbangan hormon terganggu), seperti takut, marah, putus asa,
dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh karena itu
orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern,
seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker.
Sebaliknya jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas
moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak
pernah ingat kepada Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh
kepanikan dan ketakutan.
Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan kimia
lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi
tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi
akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh
manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan
psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan
hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang
mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat
terdiri dari orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman,
tentram, damai, dan sejahtera

BAB 4
Implementasi Iman Dan Taqwa
1.

Pemantapan Iman dan Taqwa


Masa depan ditentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang

dominan. Generasi pelopor penyumbang dibidang pemikiran (aqliyah), dan


pembaruan (inovator), perlu dibentuk di era pembangunan.
Keunggulan generasi pelopor akan di ukur ditengah masyarakat dengan
pengetahuan dan pemahaman (identifikasi) permasalahan yang dihadapi umat,

dengan equalisasi mengarah kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti).


Keunggulan ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan.
Pentingnya menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama dalam
menatap kedepan.
Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam
perilaku seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi. Usaha kearah
pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan,
pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan
pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang. Political action berkenaan
pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses
pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam
pembangunan bangsa itu sendiri.
2.

Melemahnya Jati Diri


Kelemahan mendasar ditengah perkembangan zaman adalah melemahnya

jati diri, dan kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama yang menjadi anutan
bangsa. Isolasi diri karena tidak berkemampuan menguasai bahasa dunia (politik,
ekonomi, sosial, budaya, iptek), berujung dengan hilangnya percaya diri. Kurangnya
kemampuan dalam penguasaan teknologi dasar yang akan menopang perekonomian
bangsa, dipertajam oleh kurangnya minat menuntut ilmu, menjadikan isolasi diri
masyarakat bertambah tertutup. Kondisi ini akan menjauhkan peran serta di erakesejagatan (globalisasi), dan akhirnya membuka peluang menjadi anak jajahan di
negeri sendiri.
Sosialisasi pembinaan jati diri bangsa mesti disejalankan dengan
pengokohan lembaga keluarga (extended family), dan peran serta masyarakat pro
aktif menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat, di masyarakat Minangkabau
adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah). Setiap generasi yang di
lahirkan dalam satu rumpun bangsa wajar tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan
pro-aktif menopang pembangunan bangsa.
Melibatkan generasi muda secara aktif menguatkan jalinan hubungan

timbal balik antara masyarakat serumpun di desa dalam tata kehidupan sehari-hari.
Aktifitas ini mendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab, di
samping antisipasi lahirnya generasi lemah.

3.

Arus Globalisasi
Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua

puluh satu ditemui lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
pesat. Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses
menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.
Era globalisasi adalah era perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit
seakan tanpa batas.
Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan jarak satu
sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Arus globalisasi juga menggeser
pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat
industri dan perdagangan modern.
Arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik memerlukan penyesuaian
kadar agar arus kesejagatan tidak mencabut generasi dari akar budaya bangsanya.
Sebaliknya arus kesejagatan mesti di rancang bisa merobah apa yang tidak di
kehendaki.
Membiarkan

diri

terbawa

arus

deras

perubahan

sejagat

tanpa

memperhitungkan jati diri akan menyisakan malapetaka. Globalisasi menyisakan


banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik, tatanan, sistim, perebutan
kesempatan menyangkut banyak aspek kehidupan kemanusiaan.
Globalisasi juga menjanjikan harapan dan kemajuan. Setiap Muslim harus
arif dalam menangkap setiap pergeseran dan tanda-tanda perubahan zaman. Kejelian
dalam menangkap ruh zaman (zeitgeist) mampu men- jaring peluang-peluang yang
ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. Diantara yang menjanjikan itu adalah

pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pesatnya pertumbuhan ekonomi menjadi alat


untuk menciptakan kemakmuran masyarakat.
4.

Paradigma Tauhid
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi abid,

hamba yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas, berkemampuan melaksanakan
ajaran syariy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, untuk menjadi
manusia mandiri (self help), sesuai dengan eksistensi manusia itu di jadikan.
Manusia pengabdi (abid) adalah manusia yang tumbuh dengan Akidah
Islamiah yang kokoh. Akidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul
Islam, dan titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim.
Akidah adalah keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing dengan
kebimbangan, membentuk manusia dengan watak patuh dan ketaatan yang menjadi
bukti penyerahan total kepada Allah. Akidah menuntun hati manusia kepada
pembenaran kekuasaan Allah secara absolut. Tuntunan Akidah membimbing hati
manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul
Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.
Apabila Akidah tauhid telah hilang, dapat dipastikan akan lahir prilaku
fatalistis dengan hanya menyerah kepada nasib sambil bersikap apatis dan pesimis.
Sikap negatif ini adalah virus berbahaya bagi individu pelopor penggerak
pembangunan. Keyakinan tauhid secara hakiki menyimpan kekuatan besar berbentuk
energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Problematika, Tantangan dan Resiko Dalam


Kehidupan Modern
Problem-problem manusia dalam kehidupan modern adalah munculnya

dampak negatif (residu), mulai dari berbagai penemuan teknologi yang berdampak
terjadinya pencemaran lingkungan, rusaknya habitat hewan maupun tumbuhan,
munculnya beberapa penyakit, sehingga belum lagi dalam peningkatan yang makro
yaitu berlobangnya lapisan ozon dan penasan global akibat akibat rumah kaca.
Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena
begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan
dunia ini sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai
wujud pembentukan diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan
lebih sering lagi setiap khatib pada hari jumat atau shalat hari raya selalu
menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa
dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang
diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).
Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap
muslim. Signifikansi taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi
pembeda dengan umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah
refleksi iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti
binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap
taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana beriman
kepada Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara sederhana
adalah percaya, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara manusia
dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah mengucapkan dua
kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya dengan bertaqwa
dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dan
dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan kesibukannya
atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai pembatasan
berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi
agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka
orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih
rendah dari binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut
manusia dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa

sebagai wujud implementasi dari keimanannya.


Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang
aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang
muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan
menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan
sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupan modern yang serba
mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalam kehidupan umat
islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapi sangat
menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurang
mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam terdahulu
yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang cukup
mendukung kualitas iman seseorang.
Adanya kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikirakirakan serta adanya kehidupan setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek
vital yang harus digapai dalam kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai
untuk bertaqwa adalah dengan mulai melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga
pandangan, serta melatih diri untuk terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi
segala laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Imam
Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah imtitsalu
awamrillahi wajtinabinnawahih, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi
segala laranganya.
Beberapa problem yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya:
Problem dalam Hal Ekonomi
Semakin lama manusia semakin menganggap bahwa dirinya merupakan
homo economicus, yaitu merupakan makhluk yang memenuhi kebutuhan hidupnya
dan melupakan dirinya sebagai homo religious yang erat dengan kaidah kaidah
moral. Ekonomi kapitalisme materialisme yang menyatakan bahwa berkorban sekecil
kecilnya dengan menghasilkan keuntungan yang sebesar besarnya telah membuat
manusia menjadi makhluk konsumtif yang egois dan serakah.

Problem dalam Bidang Moral


Pada hakikatnya Globalisasi adalah sama halnya dengan Westernisasi. Ini
tidak lain hanyalah kata lain dari penanaman nilai nilai Barat yang menginginkan
lepasnya ikatan ikatan nilai moralitas agama yang menyebabkan manusia Indonesia
pada khususnya selalu berkiblat kepada dunia Barat dan menjadikannya sebagai
suatu symbol dan tolok ukur suatu kemajuan.
Problem dalam Bidang Agama
Tantangan agama dalam kehidupan modern ini lebih dihadapkan kepada
faham Sekulerisme yang menyatakan bahwa urusan dunia hendaknya dipisahkan dari
urusan agama. Hal yang demikian akan menimbulkan apa yang disebut dengan split
personality di mana seseorang bisa berkepribadian ganda. Misal pada saat yang sama
seorang yang rajin beribadah juga bisa menjadi seorang koruptor.
Problem dalam Bidang Keilmuan
Masalah yang paling kritis dalam bidang keilmuan adalah pada corak
kepemikirannya yang pada kehidupan modern ini adalah menganut faham positivisme
dimana tolok ukur kebenaran yang rasional, empiris, eksperimental, dan terukur lebih
ditekankan. Dengan kata lain sesuatu dikatakan benar apabila telah memenuhi criteria
ini. Tentu apabila direnungkan kembali hal ini tidak seluruhnya dapat digunakan
untuk menguji kebenaran agama yang kadang kala kita harus menerima
kebenarannya dengan menggunakan keimanan yang tidak begitu poluler di kalangan
ilmuwan ilmuwan karena keterbatasan rasio manusia dalam memahaminya.
Perbedaan metodologi yang lain bahwa dalam keilmuan dikenal istilah
falsifikasi. Artinya setiap saat kebenaran yang sudah diterima dapat gugur ketika ada
penemuan baru yang lebih akurat. Sangat jauh dan bertolak belakang dengan bidang
keagamaan.Jika anda tidak salah lihat, maka akan banyak anda temukan banyak
ilmuwan yang telah menganut faham atheis (tidak percaya adanya tuhan) akibat dari
masalah masalah dalam bidang keilmuan yang telah tersebut di atas.
Pengaruh Modernisasi dalam Kehidupan Islam

Dalam abad teknologi ultra moderen sekarang ini, manusia telah


diruntuhkan eksistensinya sampai ketingkat mesin akibat pengaruh morenisasi. Roh
dan kemuliaan manusia telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah mesin yang
dikendalikan oleh kepentingan financial untuk menuruti arus hidup yang materialistis
dan

sekuler.

Martabat

manusia

berangsur-angsur

telah

dihancurkan

dan

kedudukannya benar-benar telah direndahkan. Modernisai adalah merupakan gerakan


yang telah dan sedang dilakukan oleh Negara-negara Barat Sekuler untuk secara
sadar atau tidak, akan menggiring kita pada kehancuran peradaban. Tak sedikit dari
orang-orang Islam yang secara perlahan-lahan menjadi lupa akan tujuan hidupnya,
yang semestinya untuk ibadah, berbalik menjadi malas ibadah dan lupa akan Tuhan
yang telah memberikannya kehidupan. Akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi
banyak manusia khususnya umat Islam yang lupa bahwa sesungguhnya ia diciptakan
bukanlah sekedar ada, namun ada tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah
SWT.
Kondisi diatas meluaskan segala hal dalam aspek kehidupan manusia.
Sehingga tidak mengherankan ketika batas-batas moral, etika dan nilai-nilai
tradisional

juga

terlampaui.

Modernisasi

yang

berladangkan

diatas

sosial

kemasyarakatan ini juga tidak bisa mengelak dari pergeseran negatif akibat
modernisasi itu sendiri. Peningkatan intensitas dan kapasitan kehidupan serta
peradaban manusia dengan berbagai turunannya itu juga meningkatan konstelasi
sosial kemasyarakatan baik pada level individu ataupun level kolektif. Moralitas,
etika dan nilai-nilai terkocok ulang menuju keseimbangan baru searah dengan laju
modernisasi. Pegerakan ini tentu saja mengguncang perspektif individu dan kolektif
dalam tatanan kemasyarakatan yang telaha ada selama ini.
Perubahan

kepercayaan,

pemikiran,

kebudayaan,

dan

peradaban

merupakan prasyarat bagi perubahan ekonomi, politik, dan sebagainya. Itulah


sebabnya, ketika masyarakat modern tak dapat mengakomodasikan apa yang tersedia
di lingkungannya, mereka memilih alternatif atau model dari negara imperialis yang
menjadi pusat-pusat kekuatan dunia. Secara politis, mereka berlindung pada negaranegara tersebut. Terbukalah kemungkinan konfrontasi antara kekuatan eksternal

dengan kekuatan internal (kekuatan Islam) bila Islam hendak ditampilkan sebagai
kekuatan nyata. Morernisasi bagi umat Islam tidak perlu diributkan, diterima ataupun
ditolak, namun yang paling penting dari semua adalah seberapa besar peran Islam
dalam menata umat manusia menuju tatanan dunia baru yang lebih maju dan
beradab. Bagi kita semua, ada atau tidaknya istilah modernisasi dan globalisasi tidak
menjadi masalah, yang penting ajaran Islam sudah benar-benar diterima secara
global, secara mendunia oleh segenap umat manusia, diterapkan dalam kehidupan
masing-masing pribadi, dalam berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
Sebagai umat Islam hendaknya nilai modern jangan kita ukur dari
modernnya pakaiannya, perhiasan dan penampilan. Namun modern bagi umat Islam
adalah modern dari segi pemikiran, tingkah laku, pergaulan, ilmu pengetahuan,
teknologi, ekonomi, sosial budaya, politik dan keamanan yang dijiwai akhlakul
karimah, dan disertai terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dalam
naungan ridha Allah SWT.

BAB 5
MASYARAKAT MADANI DAN
KESEJAHTERAAN UMAT
Konsep Masyarakat Madani
Konsep masyarakat madani merupakan penerjemahan atau pengislaman
konsep civil society. Orang yang pertama kali mengungkapkan istilah ini adalah
Anwar Ibrahim dan dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan
civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat
Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap sebagai
legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society dalam masyarakat
muslim modern.

Makna Civil Society Masyarakat sipil adalah terjemahan dari civil society.
Konsep civil society lahir dan berkembang dari sejarah pergumulan masyarakat.
Cicero adalah orang Barat yang pertama kali menggunakan kata societies civilis
dalam filsafat politiknya. Konsep civil society pertama kali dipahami sebagai negara
(state). Secara historis, istilah civil society berakar dari pemikir Montesque, JJ.
Rousseau, John Locke, dan Hubbes. Ketiga orang ini mulai menata suatu bangunan
masyarakat sipil yang mampu mencairkan otoritarian kekuasaan monarchi-absolut
dan ortodoksi gereja (Larry Diamond, 2003: 278).
Antara Masyarakat Madani dan Civil Society sebagaimana yang telah
dikemukakan di atas, masyarakat madani adalah istilah yang dilahirkan untuk
menerjemahkan konsep di luar menjadi Islami. Menilik dari subtansi civil society
lalu membandingkannya dengan tatanan masyarakat Madinah yang dijadikan
pembenaran atas pembentukan civil society di masyarakat Muslim modern akan
ditemukan persamaan sekaligus perbedaan di antara keduanya.
Perbedaan lain antara civil society dan masyarakat madani adalah civil society
merupakan buah modernitas, sedangkan modernitas adalah buah dari gerakan
Renaisans; gerakan masyarakat sekuler yang meminggirkan Tuhan. Sehingga civil
society mempunyai moral-transendental yang rapuh karena meninggalkan Tuhan.
Sedangkan masyarakat madani lahir dari dalam buaian dan asuhan petunjuk Tuhan.
Dari alasan ini Maarif mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah masyarakat
yang terbuka, egalitar, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral transendental
yang bersumber dari wahyu Allah (A. Syafii Maarif, 2004: 84).
Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki banyak
arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa
Inggris, ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi
dari masyarakat militer. Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani
sering digunakan untuk menjelaskan the sphere of voluntary activity which takes
place outside of government and the market. Merujuk pada Bahmueller (1997).
2.1.1 Pengertian Masyarakat Madani

Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai


kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya
dalam Q.S. Saba ayat 15:
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman
mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka
dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan
bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan
(Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.
2.1.2 Masyarakat Madani Dalam Sejarah
Ada dua masyarakat madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai masyarakat
madani, yaitu:
1) Masyarakat Saba, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.
2) Masyarakat Madinah setelah terjadi traktat, perjanjjian Madinah antara
Rasullullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama
Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian Madinah berisi
kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling menolong, menciptakan
kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Quran sebagai konstitusi,
menjadikan Rasullullah SAW sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap
keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk
memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
2.1.3 Karakteristik Masyarakat Madani
Ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya:
1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam
masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
2. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi
dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

3. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara


dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.
4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan
organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap
keputusan-keputusan pemerintah.
5. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim
totaliter.
6. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu
mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
7. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan
berbagai ragam perspektif.
8. Bertuhan, artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama,
yang mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan
yang mengatur kehidupan sosial.
9. Damai, artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun
secara kelompok menghormati pihak lain secara adil.
10. Tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat
mengurangi kebebasannya.
11. Toleran, artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan
oleh Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas
pihak lain yang berbeda tersebut.
12. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.
13. Berperadaban tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki kecintaan
terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk
umat manusia.
14. Berakhlak mulia.

Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah
sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan
kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya
bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di
wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali
jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah onsep yang cair
yang dibentuk dari poses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus.
Bila kita kaji, masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai
masyarakat madani, maka ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi
masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintahan demokratis)
yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat
sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil
resilience).
Apabila diurai, dua kriteria tersebut menjadi tujuh prasyarat masyarakat madani sbb:
1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam
masyarakat.
2. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (socail capital)
yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan
dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.
3. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain
terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial.
4. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga
swadayauntuk terlibat dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan
kebijakan publik dapat dikembangkan.
5. Adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap
saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan.
6. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga

ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.
7.

Adanya

jaminan,

kepastian

dan

kepercayaan

antara

jaringan-jaringan

kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar


mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya.
Tanpa prasyarat tesebut maka masyarakat madani hanya akan berhenti pada jargon.
Masyarakat madani akan terjerumus pada masyarakat sipilisme yang sempit yang
tidak ubahnya dengan faham militerisme yang anti demokrasi dan sering melanggar
hak azasi manusia. Dengan kata lain, ada beberapa rambu-rambu yang perlu
diwaspadai dalam proses mewujudkan masyarakat madani (lihat DuBois dan Milley,
1992).
Rambu-rambu tersebut dapat menjadi jebakan yang menggiring masyarakat menjadi
sebuah entitas yang bertolak belakang dengan semangat negara-bangsa:
1. Sentralisme versus lokalisme. Masyarakat pada mulanya ingin mengganti prototipe
pemerintahan yang sentralisme dengan desentralisme. Namun yang terjadi kemudian
malah terjebak ke dalam faham lokalisme yang mengagungkan mitos-mitos
kedaerahan tanpa memperhatikan prinsip nasionalisme, meritokrasi dan keadilan
sosial.
2. Pluralisme versus rasisme. Pluralisme menunjuk pada saling penghormatan antara
berbagai kelompok dalam masyarakat dan penghormatan kaum mayoritas terhadap
minoritas dan sebaliknya, yang memungkinkan mereka mengekspresikan kebudayaan
mereka tanpa prasangka dan permusuhan. Ketimbang berupaya untuk mengeliminasi
karakter etnis, pluralisme budaya berjuang untuk memelihara integritas budaya.
Pluralisme menghindari penyeragaman. Karena, seperti kata Kleden (2000:5),
penyeragaman adalah kekerasan terhadap perbedaan, pemerkosaan terhadap bakat
dan terhadap potensi manusia.
Sebaliknya, rasisme merupakan sebuah ideologi yang membenarkan dominasi satu
kelompok ras tertentu terhadap kelompok lainnya. Rasisme sering diberi legitimasi
oleh suatu klaim bahwa suatu ras minoritas secara genetik dan budaya lebih inferior

dari ras yang dominan. Diskriminasi ras memiliki tiga tingkatan: individual,
organisasional, dan struktural. Pada tingkat individu, diskriminasi ras berwujud sikap
dan perilaku prasangka. Pada tingkat organisasi, diskriminasi ras terlihat manakala
kebijakan, aturan dan perundang-undangan hanya menguntungkan kelompok tertentu
saja. Secara struktural, diskriminasi ras dapat dilacak manakala satu lembaga sosial
memberikan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan terhadap lembaga
lainnya.
3. Elitisme dan communalisme. Elitisme merujuk pada pemujaan yang berlebihan
terhadap strata atau kelas sosial berdasarkan kekayaan, kekuasaan dan prestise.
Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kelas sosial tinggi kemudian
dianggap berhak menentukan potensi-potensi orang lain dalam menjangkau sumbersumber atau mencapai kesempatan-kesempatan yang ada dalam masyarakat.
Konsep Masyarakat Madani semula dimunculkan sebagai jawaban atas usulan untuk
meletakkan peran agama ke dalam suatu masyarakat Multikultural. Multikultural
merupakan produk dari proses demokratisasi di negeri ini yang sedang berlangsung
terus menerus yang kemudian memunculkan ide pluralistik dan implikasinya
kesetaraan hak individual. Perlu kita pahami, perbincangan seputar Masyarakat
Madani sudah ada sejak tahun 1990-an, akan tetapi sampai saat ini, masyarakat
Madani lebih diterjemahkan sebagai masyarakat sipil oleh beberapa pakar Sosiologi.
Untuk lebih jelasnya, kita perlu menganalisa secara historis kemunculan masyarakat
Madani dan kemunculan istilah masyarakat Sipil, agar lebih akurat membahas tentang
peran agama dalam membangun masyarakat bangsa.
Masyarakat Sipil adalah terjemahan dari istilah Inggris Civil Society yang
mengambil dari bahasa Latin civilas societas. Secara historis karya Adam
Ferguson merupakan salah satu titik asal penggunaan ungkapan masyarakat
sipil (civil society), yang kemudian diterjemahkan sebagai masyarakat Madani.
Gagasan masyarakat sipil merupakan tujuan utama dalam membongkar
masyarakat Marxis. Masyarakat sipil menampilkan dirinya sebagai daerah
kepentingan diri individual dan pemenuhan maksud-maksud pribadi secara

bebas, dan merupakan bagian dari masyarakat yang menentang struktur politik
(dalam konteks tatanan sosial) atau berbeda dari negara. Masyarakat sipil,
memiliki dua bidang yang berlainan yaitu bidang politik (juga moral) dan
bidang sosial ekonomi yang secara moral netral dan instumental (lih.
Gellner:1996).
Seperti Durkheim, pusat perhatian Ferguson adalah pembagian kerja
dalam masyarakat, dia melihat bahwa konsekuensi sosio-politis dari pembagian
kerja jauh lebih penting dibanding konsekuensi ekonominya. Ferguson
melupakan kemakmuran sebagai landasan berpartisipasi. Dia juga tidak
mempertimbangkan peranan agama ketika menguraikan saling mempengaruhi
antara dua partisipan tersebut (masyarakat komersial dan masyarakat perang),
padahal dia memasukan kebajikan di dalam konsep masyarakatnya. Masyarakat
sipil dalam pengertian yang lebih sempit ialah bagian dari masyarakat yang
menentang struktur politik dalam konteks tatanan sosial di mana pemisahan
seperti ini telah terjadi dan mungkin.
Selanjutnya sebagai pembanding, Ferguson mengambil masyarakat feodal,
dimana perbandingan di antara keduanya adalah, pada masyarakat feodal strata
politik dan ekonomi jelas terlihat bahkan dijamin secara hukum dan ritual, tidak
ada pemisahan hanya ada satu tatanan sosial, politik dan ekonomi yang saling
memperkuat satu sama lain. Posisi seperti ini tidak mungkin lagi terjadi pada
masyarakat komersial. Kekhawatiran Ferguson selanjutnya adalah apabila
masyarakat perang digantikan dengan masyarakat komersial, maka negara
menjadi lemah dari serangan musuh. Secara tidak disadari Ferguson
menggemakan ahli teori peradaban, yaitu Ibnu Khaldun yang mengemukakan
spesialisme mengatomisasi mereka dan menghalangi kesatupaduan yang
merupakan syarat bagi efektifnya politik dan militer. Di dalam masyarakat Ibnu
Khaldun militer masih memiliki peran dan berfungsi sebagai penjaga keamanan
negara, maka tidak pernah ada dan tidak mungkin ada bagi dunianya,
masyarakat sipil.

Pada kenyataannya, apabila kita konsekuen dengan menggunakan


masyarakat Madani sebagai padanan dari Masyarakat Sipil, maka secara historis
kita lebih mudah secara langsung me-refer kepada masyarakatnya Ibnu
Khaldun. Deskripsi masyarakatnya justru banyak mengandung muatan-muatan
moral-spiritual dan mengunakan agama sebagai landasan analisisnya. Pada
kenyataannya masyarakat sipil tidak sama dengan masyarakat Madani.
Masyarakat Madani merujuk kepada sebuah masyarakat dan negara yang diatur
oleh hukum agama, sedangkan masyarakat sipil merujuk kepada komponen di
luar negara. Syed Farid Alatas seorang sosiolog sepakat dengan Syed M. Al
Naquib Al Attas (berbeda dengan para sosiolog umumnya), menyatakan bahwa
faham masyarakat Madani tidak sama dengan faham masyarakat Sipil. Istilah
Madani, Madinah (kota) dan din (diterjemahkan sebagai agama) semuanya
didasarkan dari akar kata dyn. Kenyataan bahwa nama kota Yathrib berubah
menjadi Medinah bermakna di sanalah din berlaku (lih. Alatas, 2001:7). Secara
historispun masyarakat Sipil dan masyarakat Madani tidak memiliki hubungan
sama sekali. Masyarakat Madani bermula dari perjuangan Nabi Muhammad
SAW menghadapi kondisi jahiliyyah masyarakat Arab Quraisy di Mekkah.
Beliau memperjuangkan kedaulatan, agar ummatnya leluasa menjalankan
syariat agama di bawah suatu perlindungan hukum.
Masyarakat madani sejatinya bukanlah konsep yang ekslusif dan
dipandang sebagai dokumen usang. Ia merupakan konsep yang senantiasa hidup
dan dapat berkembang dalam setiap ruang dan waktu. Mengingat landasan dan
motivasi utama dalam masyarakat madani adalah Alquran.
Meski Alquran tidak menyebutkan secara langsung bentuk masyarakat
yang ideal namun tetap memberikan arahan atau petunjuk mengenai prinsipprinsip dasar dan pilar-pilar yang terkandung dalam sebuah masyarakat yang
baik. Secara faktual, sebagai cerminan masyarakat yang ideal kita dapat
meneladani perjuangan rasulullah mendirikan dan menumbuhkembangkan
konsep masyarakat madani di Madinah.

Prinsip terciptanya masyarakat madani bermula sejak hijrahnya Nabi


Muhammad Saw. beserta para pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal tersebut
terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan penyelamatan akidah
dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan cita-cita membentuk yang
madaniyyah (beradab).
Selang dua tahun pascahijrah atau tepatnya 624 M, setelah Rasulullah
mempelajari karakteristik dan struktur masyarakat di Madinah yang cukup
plural, beliau kemudian melakukan beberapa perubahan sosial. Salah satu di
antaranya adalah mengikat perjanjian solidaritas untuk membangun dan
mempertahankan sistem sosial yang baru. Sebuah ikatan perjanjian antara
berbagai suku, ras, dan etnis seperti Bani Qainuqa, Bani Auf, Bani al-Najjar dan
lainnya yang beragam saat itu, juga termasuk Yahudi dan Nasrani.
Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga karakteristik dasar dalam
masyarakat madani. Pertama, diakuinya semangat pluralisme. Artinya,
pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan
sehingga mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi dalam
pandangan Alquran. Pluralitas juga pada dasarnya merupakan ketentuan Allah
SWT (sunnatullah), sebagaimana tertuang dalam Alquran surat Al-Hujurat (49)
ayat 13.
Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati (given) dalam
kehidupan. Dalam ajaran Islam, pluralisme merupakan karunia Allah yang
bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif dan dinamis. Ia
(pluralitas) juga merupakan sumber dan motivator terwujudnya vividitas
kreativitas (penggambaran yang hidup) yang terancam keberadaannya jika tidak
terdapat perbedaan (Muhammad Imarah:1999).
Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita adalah sebuah peradaban
yang kosmopolit akan tercipta manakala umat Islam memiliki sikap inklusif dan
mempunyai kemampuan (ability) menyesuaikan diri terhadap lingkungan
sekitar. Namun, dengan catatan identitas sejati atas parameter-parameter

autentik agama tetap terjaga.


Kedua, adalah tingginya sikap toleransi (tasamuh). Baik terhadap saudara
sesama Muslim maupun terhadap saudara non-Muslim. Secara sederhana
toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai
pendapat dan pendirian orang lain.
Senada dengan hal itu, Quraish Shihab (2000) menyatakan bahwa tujuan
Islam tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah
agama. Namun juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya hak
hidup, berdampingan seiring dan saling menghormati satu sama lain.
Sebagaimana hal itu pernah dicontohkan Rasulullah Saw. di Madinah.
Setidaknya landasan normatif dari sikap toleransi dapat kita tilik dalam firman
Allah yang termaktub dalam surat Al-Anam ayat 108.
Ketiga, adalah tegaknya prinsip demokrasi atau dalam dunia Islam lebih
dikenal dengan istilah musyawarah. Terlepas dari perdebatan mengenai
perbedaan konsep demokrasi dengan musyawarah, saya memandang dalam arti
membatasi hanya pada wilayah terminologi saja, tidak lebih. Mengingat di
dalam Alquran juga terdapat nilai-nilai demokrasi (surat As-Syura:38, surat AlMujadilah:11).
Ketiga prinsip dasar setidaknya menjadi refleksi bagi kita yang
menginginkan terwujudnya sebuah tatanan sosial masyarakat madani dalam
konteks hari ini. Paling tidak hal tersebut menjadi modal dasar untuk
mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan.