Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TENTANG AUTISME

Tugas ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

Disusun oleh :
Bella Seba Sirojul Umah

(K3314008/Kelas B)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat saya panjatkan kepada Allah SWT seru sekalian alam, karena
berkat limpahan rahmat, inayah, taufik, dan hidayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah tentang Manajemen Pendidikan ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah tentang manajemen pendidikan ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, referensi dalam memperdalam ilmu tentang
manajemen pendidikan. Rangkuman bahan kuliah ini disusun dalam rangka untuk
melaksanakan tugas dari Ibu Sri Yamtinah selaku dosen pengampu mata kuliah
Perkembangan Peserta Didik
Besar harapan saya agar kiranya makalah tentang Manjemen Pendidikan ini
membantu menambah pengetahuan dan pengalaman terutama bagi penyusun dan bagi
para pembaca. Saya menyadari bahwa penyajian makalah tentang Manajemen Pendidikan
ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran diharapkan untuk memperbaiki bahan
rangkuman di masa mendatang dapat lebih baik.
Dalam penyajian Makalah tentang Autisme ini dengan segala kekurangannya saya
mohon maaf, semoga dapat berguna bagi para pembaca. Terima kasih.

Surakarta , 18 April 2015


Penyusun,

Bella Seba Sirojul Umah


K3314008

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................................................2
BAB I........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.........................................................................................................................4
Latar Belakang.............................................................................................................................4
Rumusan Masalah.........................................................................................................................5
Tujuan........................................................................................................................................5
BAB II.......................................................................................................................................6
PEMBAHASAN...........................................................................................................................6
2.1.Pengertian Manajemen Pendidikan...............................................................................................6
2.1.1.
Definisi Manajemen..........................................................................................................6
2.1.2.
Definisi Pendidikan..........................................................................................................6
2.1.3.
Definisi Manajemen Pendidikan...........................................................................................8
2.2 Tujuan Belajar Manajemen Pendidikan.........................................................................................9
2.3.Fungsi Manajemen Pendidikan..................................................................................................10
2.4.Ruang Lingkup manajemen......................................................................................................11
2. Pelaksanaan Manajemen Pendidikan..........................................................................................11
Pandangan terhadap manajemen pendidikan......................................................................................13
BAB III....................................................................................................................................14
PENUTUP................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tidak ada anak manusia yang diciptakan sama satu dengan lainnya.
Mereka berbeda antara sama lain, meski terkadang terdapat hubungan darah, namun tetap
saja masih terdapat perbedaan. Tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki kekurangan.
Semua manusia, pastilah memiliki kekurangan baik fisik maupun intelektual. Tidak ada satu
pun anak yang ingin dilahirkan di dunia ini dengan menyandang kalainan maupun memliki
kecacatan. Bila boleh memilih, anak ingin dilahirkan berotak seperti Einstein, berakhlak
sepeti nabi Muhammad SAW, berwajah tampan seperti artis korea Lee Min Ho, berbadan
bagus seperti layaknya binaragawan. Tidak ada orang tua yang menghendaki kelahiran
anaknya menyandang kecacatan. Bila boleh memilih orang tua ingin anaknya lahir sempurna.
Kelahiran seorang anak berkbutuhan khusus tidak mengenal apakah mereka dari keluarga
kaya, kkeluarga berpendidikan, keluarga miskin, keluarga yang taat beragama atau tidak.
Semua manusia memiliki kemungkinan untuk memiliki keturunan yang tidak sempurna.
Seorang psikiatri anak mengatakan kelainan jiwa anak antara 5-10% dari populasi anak. Data
Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa penyandnag autis yang mengikuti
pendidikan layanan khusus di seluruh Indonesia termasuk lima besar dari seluruh peserta
sekolah khusus. Jumlah terbesar adalah penyandang tuna grahita sebanyak 40.000 peserta,
tunarungu sebanyak 19100 peserta,penyandang tunanetra 3200 peserta,tunadaksa 1920
peserta ,dan autis sebanyak 1750 peserta. (hariankompas.on-line.com) Gangguan
perkembangan dibagi menjadi dua yaitu spesifik dan prevasif/menyeluruh. Autisme termasuk
dalam kategori gangguan perkembangan pervasive/menyeluruh. Dimana mereka mengalami
gangguan baik fisik, mental maupun intelektualnya. Anak autis membutuhkan sarana dan
pelayanan edukasi yang khusus, sehingga dibutuhkan sarana edukasi serta terapi khusus yang
dapat memberikan pendidikan serta penanganan yang tepat bagi anak-anak tersebut. Dalam
hal ini, peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak, sehingga ia
mampu berkembang lebih mandiri layaknya anak normal lainnya dalam memenuhi
kebutuhannya.

Rumusan Masalah
1) Apakah pengertian autism itu?
2) Bagaimana tanda-tanda anak yang mengalami autism?
3) Bagaimana cara merawat anak yang mengalami autism?
4) Bagaimana peran orang tua untuk mendukung perkembangan anak yang mengalami
autism?
Tujuan
1.
2.
3.
4.

Memahami pengertian autism


Memahami tanda-tanda anak yang mengalami autism
Memahami bagaimana cara merawat anak yang mengalami autism
Memahami peran orang tua untuk mendukung perkembangan anak yang
mengalami autism

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Autism
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu aut
yang berarti diri sendiri dan ism yang secara tidak langsung menyatakan orientasi
atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat didefinisikan sebagai kondisi
seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen
dkk, 1998). Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindak
dengan minat pada orang lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka.
Ini, tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka.
Autis pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oleh
seorang psikiatris Amerika yang bernama Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak
yang memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi
dengan individu lain dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga
perilakunya
tampak
seperti
hidup
dalam
dunianya
sendiri.
Autis
merupakan
suatu
gangguan
perkembangan
yang
kompleks
yang
berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada
sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada
sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari
kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsifungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling).
Autis jugs dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis
(systematic reasoning). Dalam suatu analisis microsociological tentang logika
pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen,
1998), orang autis memiliki kekurangan pada cretive induction atau membuat
penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus (minor)
menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus
dari premis-premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis-premis umum pada
kesimpulan khusus, kuat. (Trevarthen, 1998).
DSM IV (Diagnpstic Statistical Manual yang dikembangkan oleh para psikiater
dari Amerika) mendefinisikan anak autis sebagai berikut:
1. Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok a, b dan c, meliputi sekurang-kurangnya:
satu item dari kelompok a, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok b, sekurangkurangnya satu item dari kelompok
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua diantara
berikut:
1) Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku non verbal seperti, kontak mata,
ekspresi muka, sikap tubuh, bahasa tubuh lainnya yang mengatur interaksi sosial
2) Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya atau teman yang
sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
3) Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara spontan dengan
6

orang lain (seperti; kurang 2 tampak adanya perilaku memperlihatkan, membawa atau
menunjuk objek yang menjadi minatnya).
4) Ketidakampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal balik.
b. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit satu dari yang
berikut:
1) Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama sekali tidak (bukan disertai dengan
mencoba untuk mengkompensasikannya melalui cara-cara komunikasi alternatif seperti
gerakan tubuh atau lainnya)
2) Bagi individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau
memelihara suatu percakapan dengan yang lain
3) Pemakaian bahasa yang stereotipe atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh
(idiosyncantric)
4) Cara bermain kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara spontan,
kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya
c. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitive, dan stereotype seperti yang ditunjukkan oleh
paling tidak satu dari yang berikut:
1) Keasikan dengan satu atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam
intensitas maupun dalam fokusnya.
2) Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas atau ritual yang khusus, atau yang tidak
memiliki manfaat.
3) perilaku motorik yang stereotip dan berulang-ulang (seperti : memukul-mukulkan atau
menggerakgerakkan tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya, atau menggerakkan
seluruh tubuhnya).
4) Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda (object).
2. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia tiga tahun seperti yang ditunjukkan
oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal.
3. Sebaiknya tidak dikelompokkan ke dalam Rett Disorder, Childhood Integrative Disorder, atu
Asperger Syndrom. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak autis yaitu anak-anak
yang mengalami kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak
fungsi-fungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling)
yang terjadi sebelum umur tiga tahun dengan dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif
dalam interaksi sosial, komunikasi dan terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana
mereka memerlukan layanan pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.
2.2 Tanda-Tanda Autism

1. Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan


Douglas (1963;13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai
berikut :
1. Memprioritaskan tujuan diatas kepentingan pribadi dan kepentingan dan kepentingan
mekanisme kerja
2. Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab
3. Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifatsifat dan kemampuannya
4. Mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia
5. Relativitas nilai-nilai
Prinsip-prinsip diatas memiliki esensi bahwa manajemen dalam ilmu dan praktiknya
harus memperhatikan tujuan, orang-orang, tugas-tugas, dan nilai-nilai. Tujuan dirumuskan
dengan arah organisasi, tuntunan zaman, dan nilai-nilai yang berlaku. Tujuan suatu organisasi
dapat dijabarkan dalam bentuk visi, misi, dan sasaran-sasaran. Ketiga bentuk tujuan itu harus
dirumuskan dalam satu kekuatan tim yang memiliki komitmen terhadap kemajuan dan masa
depan organisasi.
Drucker (1954) melalui MBO (Management By Objective) memberikan gagasan prinsip
manajemen berdasarkan sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencenaan. Penerapan
pada manajemen pendidikan adalah bahwa kepala dinas memimpin tim yang beranggotakan
unsur pejabat dan fungsional dinas, dan lebih baik terdapat stakeholders untuk merumuskan
visi, misi dan objektif dinas pendidikan.
Pada tingkat sekolah, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, siswa, orang tua siswa,
masyarakat, dan stakeholders duduk bersama membahas rencana strategis sekolah dengan
mengembangkan tujuh langkah MBO yaitu:
1. Menentukan hasil akhir apa yang ingin dicapai sekolah
2. Menganalisis apakah hasil akhir itu berkaitan dnegan tujuan sekolah
3. Berunding menetapkan sasaran-sasaran yang dibutuhkan
4. Menetapkan kegiatan apa yang tepat untuk mencapai sasaran
5. Menyusun tugas-tugas untuk mempermudah mencapai sasaran
6. Menentukan batas-batas pekerjaaan dan jenis pengarahan yang akan dipergunakan oleh
atasan
7. Lakukan monitoring dan buat laporan
Untuk menjamin keberhasilan sebuah usaha maka manajemen haruslah dilaksanakan
berdasarkan dalil-dalil umum manajemen atau yang lebih dikenal sebagai prinsip-prinsip
manajemen .
Dari sekian banyak prinsip manajemen yang dapat diajarkan dan dipelajari oleh seorang
calon manajer , diantaranya yang terpenting adalah :
1. Prinsip Pembagian kerja
Dalam pembagian kerja perlu diperhatikan penempatan orang-orang yang sesuai dengan
keahlian , pengalaman, kondisi fisik dan mentalnya. Tujuan pembagian kerja adalah agar
dengan usaha yang sama dapat diperoleh hasil kerjaa yang terbaik . Pembagian kerja
dapat membantu pemusatan tujuan, disamping juga merupakan alat terbaik untuk
memanfaatkan individu-individu dan kelompok orang sesuai dengan bidang keahliannya
masing-masing.
2. Prinsip Wewenang dan Tanggung Jawab
Wewenang adalah hak memberikan perintah-perintah dan kekuasan meminta
8

kepatuhan dari yang diperintah . Ada dua jenis wewenang , kepandaian, pengalaman,
nilai moral , kesanggupan memimpin dan sebagainya, kedua wewenang resmi yang
diterima dari instansi yang lebih tinggi. Wewenang resmi yang diperoleh dari atasan tidak
akan mendukung tugas-tugas sesorang, jika tidak diimbangi dengan wewenang pribadi.
Tanggung jawab adalah tugas dan fungsi-fungsi atau kewajiban yang harus dilakukan
oleh seorang petugas. Untuk melaksanakan tugas atau tanggung jawab ini kepadanya
harus diberikan wewenang, agar kepatuhan dapat diberikan kepada bawahan dan sangsi
dapat diberikan kepada bawahan yang tidak memberikan kepatuhan.
3. Prinsip Tertib dan Disiplin
Sebuah usaha yang dilakukan dengan tertib dan disiplin akan dapat meningkatkan
kualitas kerja, dan peningkatan kualitas kerja akan pula menaikkan mutu hasil kerja
sebuah usaha. Hakekat dari kepatuhan adalah disiplin , yakni melakukan apa yang sudah
disetujui bersama antara pimpinan dan petugas atau para pekerja, baik persetujuan yang
tertulis, lsan maupun yang berupa peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan.
4. Prinsip Kesatuan Komando
Jika perintah datang dari hanya satu sumber , maka setiap orang juga akan tahu
kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang telah diberkan
kepadanya.
5. Prinsip semangat kesatuan
Sebuah usaha bersama , setiap orang harus memiliki jiwa kesatuan, merasa senasib
sepenanggungan , dari yang paling atas sampai yang palng bawah . Sebab dengan adanya
semangat kesatuan yang teguh maka setiap orang akan bekerja dengan senang dan
memudahkan timbulnya inisiatif dan prakarsa untuk memajukan usaha.
6. Prinsip Keadilan dan Kejujuran
Kejujuran dituntut agar masing-masing orang bekerja pertama-tama untuk
kepentingan bersama dari usaha yang dilakukan dan bukan mendahului kepentingan
pribadi.
Objek Kajian Manajemen pendidikan
Objek atau sumber daya yang menjadi kajian dalam manajemen pendidikan ada tujuh ,
yaitu :
Man
Man atau manusia adalah unsur terpenting yang perlu dikelola dalam manajemen
pendidikan, pengelolaan yang biasa dilakukan misalnya dengan mengorganisasikan
manusia dengan melihat apa yang menjadi keahlian orang tersebut.
Money
Money atau uang dimaksudkan untuk mengelola pemdanaan atau pembiayaan secara
efisien sehingga tidak terjadi pemborosan dalam suatu lembaga pendidikan.
Materials
Materials atau bahan materi merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam
manajemen pendidikan, melalui pengelolaan material maka bisa terbentuk kurikulum
yang berisi panduan dasar untuk mentranfer ilmu dari guru ke siswa.
Method
Pengelolaan metode juga harus dilakukan dengan baik, metode yang digunakan untuk
9

mengajar guru di sekolah satu dengan guru di sekolah lain tidak sama karena tergantung
pada kesiapan siswa yang diajar.
Machines
Pengelolaan mesin bertujuan untuk dapat mengelola mesin yang digunakan untuk
mendukung proses belajar mengajar supaya dapat digunakan sebaik mungkin dan tidak
cepat mengalami kerusakan, untuk orang yang mengelola mesin biasanya harus orang
yang benar-benar tau cara merawat mesin tersebut dengan baik.
Market
Market atau pasar adalah salah satu kunci yang menentukan sekolah atau lembaga
pendidikan tersebut menjadi lembaga pendidikan yang besar atau kecil, pasar yang
dimaksud adalah masyarakat secara luas, sasaran yang dituju adalah masyarakat yang
berniat menyekolahkan putra putri mereka.
Minutes
Minutes atau waktu perlu dikelola dengan baik karena waktu belajar peserta didik di
sekolah sangat terbatas, sehingga perlu pengelolaan yang baik supaya waktu belajar
mengajar menjadi lebih efisien.
2.2 Tujuan Belajar Manajemen Pendidikan
1. Mengetahui permasalahan dalam rangka percepatan penuntasan Wajar 9 tahun
2. Menyusun rencana dan merumuskan tujuan
3. Mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman dalam
perencanaan
4. Sebagai acuan dalam penetapan anggaran pendidikan
5. Sebagai alat pengendalian dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan
khususnya dalam percepatan Wajar 9 tahun.
Efisien dalam menggunakan sumber daya.
Dengan mempelajari manajemen pendidikan dengan baik, diharapkan seseorang dapat
mengelola sumber daya secara efisien, misalnya sumber daya yang berupa pembiayaan,
waktu dan lain sebagainya.
Efektif dalam pencapaian tujuan.
Dengan mempelajari manajemen pendidikan secara berkesinambungan dan secara
sungguh-sungguh, diharapkan seseorang dapat mengefektifkanproses dan sumber daya yang
dikelola untuk mencapai tujuan dengan optimal.
Bermuara pada tujuan pendidikan.
Tujuan manajemen pendidikan tidak akan lepas dari tujuan pendidikan nasional, yaitu
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
10

menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Mendukung kegiatan pendidikan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.
Manajemen pendidikan juga mendukung dan memfasilitasi kegiatan pendidikan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan pendidikan yang didukung dengan
manajemen pendidikan yang baik, akan mendapatkan hasil yang baik sehingga tujuan
pendidikan yang ditargetkan dapat tercapai.

2.3.Fungsi Manajemen Pendidikan


Fungsi manajemen pendidikan adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan
melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam
melaksanakan kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Dalam
Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya.
Menurut George R. Terry, fungsi manajemen ada empat yaitu fungsi perencanaan
(planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pelaksanaan (actuating) dan fungsi
pengendalian (controlling).
Pada umumnya ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu
fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pelaksanaan
(actuating) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat
pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis
diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil
manajemen yang maksimal.
1.

2.

3.

4.

Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber
yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara
keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Perencanaan juga dapat
didefinisikan sebagai prosespenyusunan tujuan dan sasaran organisasi serta penyusunan
peta kerja yang memperlihatkan cara pencapaian tujuan dan sasaran tersebut.
Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar
menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer
dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi. Pengorganisasian adalah proses
penghimpunan SDM, modal dan peralatan, dengan cara yang paling efektif untuk
mencapai tujuan upaya pemaduan sumber daya.
Pelaksanaan (actuating) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan
usaha. Pelaksanaan adalah proses penggerakan orang-orang untuk melakukan kegiatan
pencapaian tujuan sehingga terwujud efisiensi proses dan efektivitas hasil kerja.
Pengendalian (controlling) adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar
yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
11

Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan,diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target
yang pendidikan yang dihadapi. Pengendalian dapat didefinisikan sebagai proses
pemberian balikan dan tindak lanjut pembandingan antara hasil yang dicapai dengan
rencana yang telah ditetapkan dan tindakan penyesuaian apabila terdapat penyimpangan.
2.4.Ruang Lingkup manajemen
Ruang lingkup dari manajemen pendidikan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu :
Menurut Wilayah Kerja, Menurut Objek garapan, dan Menurut Fungsi Kegiatan, menurut
pelaksana.
Menurut Wilayah kerja, ruang lingkupnya meliputi : Manajemen seluruh negara,
manajemen satu propinsi, manajemen satu unit kerja, dan manajemen kelas. Sistem
pendidikan di Negara Republik Indonesia adalah sistem sentralisasi. Kebijaksanaan
pendidikan dilakukan oleh pemerintah pusat yang berkedudukan di Jakarta sebagau ibukota
negara. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan pejabat yang memikul
tanggungjawab kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan diseluruh negara.
Menurut Objek garapan, ruang lingkupnya meliputi : Manajemen siswa, manajemen
ketenaga pendidikan, manajemen sarana-prasarana, manajemen tata laksana pendidikan,
manajemen pembiayaan dan manajemen humas.Yang dimaksud dengan obyek garaan
manajemen pendidikan dalam uraian ini adalah semua jenis kegiatan manajemen yang
sec]ara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam kegiatan mendidik.Sebagai titik pusat
pandangan adalah kegiatan mendidik di sekolah.Namun karena kegiatan di sekolah tersebut
tidak dapat dipisahkan dari jalur-jalur lingkungan formal maupun non formal, maka tentu
saja juga dibahas lingkup sistem pendidikan sampai ke tingkat pusat.
Menurut Fungsi Kegiatan, ruang lingkupnya meliputi : Merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengko-munikasikan, mengawasi
atau mengevaluasi. Dalam definisi manajemen terdapat istilah rangkaian kegiatan yang
dilakukan pertama sampai kepada hal yang dilakukan terakhir. Orang lain sering menyebut
urutan kegiatan ini adalah fungsi administrasi.
Menurut pelaksana, dalam lingkungan kelas, guru adalah administrator , guru hanya
melaksanakan kegiatan manajemen.Dilingkungan sekolah ,kepala sekolah adalah

administrator ,dengan pengertian bahwa manajemen adalah pengelolaan ,manajemen ,


maka kepala sekolah bertindak sebagai manajer di sekolah yang dipimpinnya.

12

2.

Pelaksanaan Manajemen Pendidikan


Berikut merupakan gambar dari sistem manajemen pendidikan

13

Pandangan terhadap manajemen pendidikan


Untuk mengkaji lebih dalam tentang manajemen khususnya manajemen pendidikan
perlu disampaikan pandangan tentang manajemen khususnya manajemen pendidikan:
a. Manajemen sebagai suatu sistem
Manajemen dipandang sebagai suatu kerangka kerja yang terdiri dari berbagai
bagian yang saling berhubungan yang diarahkan dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi.
b. Manajemen sebagai suatu proses
Manajemen sebagai rangkaian tahapan kegiatan yang diarahkan pada pencapaian
tujuan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manajemn sebagai
suatu proses dapat dipelajari dari fungsi-fungsi manajemen yang dilaksanakan
oleh manajer.
c. Manajemen sebagai proses pemecahan masalah
Proses manajemen dalam praktiknya dapa dikaji dari proses pemecahan masalah
yang dilaksanakan oleh semua bagian/komponen yang ada dalam organisasi.

14

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen Pendidikan sebagai suatu Proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan pengawasan dalam mengelola sumber daya yang berupa man, money, materials, method,
machines, market, minute dan information untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien
dalam bidang pendidikan. Dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia lebih.
Saran
Sebagai mahasiswa yang tidak terlepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan
dan bidang keilmuan. Kita seharusnya dapat mempelajari Ilmu Manajemen dengan baik. Hal
ini bertujuan supaya kita dapat mengatur, mengorganisasikan, mengarahkan dan
mengendalikan segala sesuatu yang kita pimpin.

15

DAFTAR PUSTAKA
Rohman, Muhammad. 2012. Manajemen Pendidikan. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya
Daryanto.2013.Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di sekolah.Jakarta:Gava Media
www.kompasiana.com/post/read/669760/3/pentingnya-manajemen-pendidikan-di-institusipendidikan-html
Arti Manajemen. (online) http://ielmy.wordpress.com/other/definisi-manajemen/. Diakses pada
tanggal 18 April 2015
Manajemen : Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen.
deska.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 18 April 2015

(online)

http://kherysu

Manajemen Pendidikan. (online) http://www.rumahafid.com. Diakses pada tanggal 18 April


2015
Pengertian
Manajemen
dan
Fungsi
Manajemen.
(online)
http://www.ilmumu.com/pengetahuan/pengertian-manajemen-dan-fungsi-manajemen/.
Diakses pada tanggal 18 April 2015
Pengertian
Manajemen
dan
Fungsinya.
(online)
http://fachruramadhan.blogspot
.com/2012/04/pengertian-manajemen-dan-fungsi nya.html. Diakses pada tanggal 18 April
2015
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/17/pengertian-fungsi-dan-ruang-lingkupmanajemen-pendidikan/
https://www.academia.edu/10033461/TUGAS_MATAKULIAH_MANAJEMEN_PENDIDIKA
N_MAKALAH_KONSEP_DEFINISI_DAN_KOMPONEN_DALAM_MANAJEMEN_PE
NDIDIKAN_PROGRAM_STUDI_PENDIDIKAN_TEKNIK_ELEKTRONIKA

16