Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN OBSTRUKSI USUS

A. Konsep Dasar Obstruksi Usus


1. Definisi
Obstruksi usus terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya
aliran isi usus ke depan, tetapi peristaltiknya normal (Reeves J. C, 2001)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus (Sylvia, 1995).
Obstruksi usus didefinisikan sebagai sumbatan bagi jalan distal isi usus
(Subaston, 1995)
2. Etiologi
Obstruksi usus pada umumnya diklasifikasikan sebagai :
2.1 Obstruksi Mekanik
Obstruksi usus mekanik mempengaruhi kekuatan dinding usus, disebabkan oleh :
2.1.1

Perlekatan Biasanya terjadi akibat dari pembedahan abdomen sebelumnya,


lengkung usus, menjadi melekat pada area yang sembuh secara lembut atau

2.1.2

pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen.


Intususepsi Salah satu bagian dari usus menyusup ke dalam bagian lain
yang ada di bawahnya, invaginasi / pemendekan usus oleh gerakan satu

2.1.3

segmen dari usus ke tempat lain, akibatnya terjadi penyempitan lumen usus.
Volvulus Perputaran yang saling mengunci, usus yang terpelintir, akibatnya
lumen usus menjadi tersumbat, gas dan cairan berkumpul dalam usus yang

2.1.4

terjebak.
Hernia Masuknya usus ke dalam kantung hernia melewati lubang hernia,
akibat lemahnya kelemahan muscular abdomen, peningkatan teanan intra
abdominal, akibatnya aliran usus mungkin tersumbat total dan aliran darah

2.1.5

ke area tersebut dapat juga tersumbat.


Tumor Tumor yang ada dalam dinding usus meluas ke lumen usus atau
tumor di luar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus. Akibatnya
lumen usus menjadi tersumbat sebagian, bila tumor tidak diangkat
mengakibatkan obstruksi lengkap.

2.2 Obstruksi usus non mekanik


2.2.1 Peritonitis
Disfungsi motilitas gastro intestinal sebagai akibat tidak normalnya
peristaltik usus.

2.2.2

Ileus paralitik akibat dari proses pembedahan dimana visera abdomen

2.2.3

tersentuh.
Atoni usus dan peregangan gastro intestinal sering timbul menyertai

berbagai kondisi traumatik, terutama setelah fraktur tulang belakang.


2.2.4 Terjepitnya batu empedu di dalam usus.
3. Patofisiologi
Secara normal 7 sampai 8 liter cairan kaya elektrolit dari sekresi oleh usus
dan kebanyakan direabsorbsi. Bila usus tersumbat akumulasi, isi usus, cairan dan gas
akan terjadi di daerah atas usus yang mengalami obstruksi, hal ini akan
menimbulkan distensi. Bila cairan ini tertahan terus-menerus akan terjadi refluks
muntah yang akan menyebabkan dehidrasi. Distensi menyebabkan distensi
sementara peristaltik saat usus berusaha mendorong material melalui area tersumbat.
Dalam beberapa jam peningkatan peristaltik berakhir dan usus menjadi flacid.
Dengan peningkatan distensi, tekanan dalam lumen usus meningkat, menyebabkan
penurunan tekanan kapiler vena dan arteri. Hal ini akan menyebabkan iskemia,
nekrosis dan akhirnya ruptur dinding usus, yang dapat menyebabkan pelepasan
bakteri dan toksin dari usus ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik yang dapat
mengakibatkan peritonitis dan septikemia.
4. Manifestasi Klinis
Semakin tinggi letak penyumbatan, maka semakin cepat terjadi dehidrasi.
4.1 Obstruksi usus halus
4.1.1 Nyeri
Biasanya tidak nyata seperti pada ileus paralitik, walaupun abdomen
mungkin sensitif (nyeri bila ditekan). Nyeri biasanya menyerupai kejang,
4.1.2
4.1.3
4.1.4
4.1.5
4.1.6

datangnya bergelombang dan biasanya terletak pada umbilikus.


Muntah (sering muncul, frekuensinya bervariasi tergantung letak obstruksi)
Konstipasi absolut
Peregangan abdomen / distensi abdomen (semakin ke bawah semakin jelas)
Feses dan flatus dapat keluar pada permulaan obstruksi usus halus
Tanda-tanda dehidrasi : haus terus-menerus, mengantuk, malaise umum dan

lidah serta membran mukosa menjadi pecah).


4.2 Obstruksi Usus Besar
Obstruksi usus besar berbeda secara klinis dari obstruksi usus halus.
Dalam hal ini gejala terjadi dan berlanjut relatiflambat, manifestasi yang timbul
pada obstruksi usus besar yaitu :
4.2.1
4.2.2
4.2.3
4.2.4

Konstipasi
Abdomen menjadi sangat distensi
Kram dan nyeri abdomen bawah
Muntah fekal

4.2.5
4.2.6

Dehidrasi (tingkatan tergantung letak penyumbatan)


Suara usus besar pada mulanya mungkin pertanda hiperaktif proksimal

dari obstruksi, kemudian mengalami penurunan.


4.2.7 Syok
5. Pemeriksaan Diagnostik
5.1 Sinar X
Menunjukkan adanya kuantitas abnormal dari gas dan cairan usus.
5.2 Pemeriksaan radiogram abdomen (Untuk menegakkan diagnosis obstruksi usus)
Pada obstruksi usus halus ditandai adanya udara di usus halus, sedangkan pada
obstruksi usus besar menunjukkan adanya udara dalam kolon.
5.3 Radiogram Barium
Untuk mengetahui tempat obstruksi
5.4 Proktosigmoidoskopi
Membantu menentukan penyebab obstruksi bila di dalam kolon
6. Penatalaksanaan
6.1 Tindakan Medis
6.1.1 Dekompresi usus melalui selang usus halus / NGT untuk mengurangi
6.1.2

muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen.


Terapi intravena diperlukan untuk mengganti kekurangan cairan, natrium

klorida dan kalium.


6.1.3 Selang rektal digunakan untuk dekompresi area yang ada di bawah usus
6.1.4 Kolonoskopi untuk membuka iritan dan dekompresi usus.
6.2 Apabila kondisi klien tidak bereson terhadap tindakan medis,maka diperlukan
tindakan pembedahan. Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan
organ-organ vital berfungsi secara memuaskan.
6.2.1 Reseksi bedah : untuk mengangkat penyebab obstruksi
6.2.2 Kolonostomi sementara / permanen
6.2.3 Sokostomi : pembukaan secara bedah yang dibuat pada seikum.
6.3 Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit.perawatan luka abdomen dan pemberian kalori yang cukup serta perlu
diingat pasien dengan pasca bedah, usus masih dalam kecelakaan.
7. Komplikasi
7.1 Syok hipovolemik
7.2 Peritonitis
7.3 Septikemia
B. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Obstruksi Usus
1.1 Pengkajian
1.1.1 Data biografi (nama, umur, alamat, pekerjaan, jenis kelamin)
1.1.2 Cairan
Gejala
: muntah banyak dengan materi fekal, berbau
Tanda
: membran mukosa kering, turgor kulit tidak elastis
1.1.3 Ketidaknyamanan / nyeri
Gejala
: flatus (-), konstipasi
Tanda
: wajah klien tegang, tampak meringis, distensi abdomen

1.1.4

Eliminasi
Gejala
: flatus (-), konstipasi
Tanda
: distensi abdomen, penurunan bising (dari hiperaktif

ke

hipoaktif), feses (-), tergantung letak obstruksi, jika ada feses hanya sedikit
1.1.5
1.1.6

(berbentuk pensil).
Aktivitas
Gejala
: kelemahan
Tanda
: kesulitan ambulasi
Sirkulasi
Tanda
: takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok)

1.2 Diagnosa Keperawatan


1.2.1 Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d output berlebih
1.2.2 Nyeri b.d distensi abdomen
1.2.3 Konstipasi b.d mal absorbsi usus
1.2.4 Resti infeksi b.d ruptur usus.
1.2.5 Ansietas b.d kurang pengetahuan tentang penyakit, pemeriksan diagnosa
dn tindakannya.
1.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Defisit Volume Cairan
Berhubungan dengan:
- Kehilangan volume cairan secara aktif
- Kegagalan mekanisme pengaturan
DS :
- Haus
DO:
- Penurunan turgor kulit/lidah
- Membran mukosa/kulit kering
- Peningkatan denyut nadi, penurunan
tekanan darah, penurunan
volume/tekanan nadi
- Pengisian vena menurun
- Perubahan status mental
- Konsentrasi urine meningkat
- Temperatur tubuh meningkat
- Kehilangan berat badan secara tiba-tiba
- Penurunan urine output
- HMT meningkat
- Kelemahan

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
NOC:
Fluid balance
Hydration
Nutritional Status : Food and
Fluid Intake
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama.. defisit volume
cairan teratasi dengan kriteria hasil:
Mempertahankan urine output
sesuai dengan usia dan BB, BJ
urine normal,
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh
dalam batas normal
Tidak ada tanda tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak
ada rasa haus yang berlebihan
Orientasi terhadap waktu dan
tempat baik
Jumlah dan irama pernapasan
dalam batas normal
Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas
normal
pH urin dalam batas normal
Intake oral dan intravena adekuat

Intervensi
NIC :

Pertahankan catatan intake dan output yang akurat


Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa,
nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika
diperlukan
Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan
(BUN , Hmt , osmolalitas urin, albumin, total protein )
Monitor vital sign setiap 15menit 1 jam
Kolaborasi pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan oral
Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50
100cc/jam)
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul
meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output setiap 8 jam

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Nyeri akut berhubungan dengan:
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,
psikologis), kerusakan jaringan
-

DS:
Laporan secara verbal
DO:
Posisi untuk menahan nyeri

Tingkah laku berhati-hati


Gangguan tidur (mata sayu, tampak
capek, sulit atau gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri

Fokus menyempit (penurunan


persepsi waktu, kerusakan proses
berpikir, penurunan interaksi dengan

orang dan lingkungan)


Tingkah laku distraksi, contoh : jalanjalan, menemui orang lain dan/atau

aktivitas, aktivitas berulang-ulang)


Respon autonom (seperti diaphoresis,
perubahan tekanan darah, perubahan

nafas, nadi dan dilatasi pupil)


Perubahan autonomic dalam tonus
otot (mungkin dalam rentang dari
lemah ke kaku)
Tingkah laku ekspresif (contoh :
gelisah, merintih, menangis, waspada,
iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu makan dan
minum

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

NOC :
NIC :

Pain Level,

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk

pain control,
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi

comfort level
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Setelah
dilakukan
tinfakan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
keperawatan selama . Pasien tidak
mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
Mampu mengontrol nyeri (tahu
suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
penyebab
nyeri,
mampu
Kurangi faktor presipitasi nyeri
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
nyeri, mencari bantuan)

Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala,


Melaporkan bahwa nyeri berkurang
relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
dengan menggunakan manajemen
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ...
nyeri

Tingkatkan istirahat
Mampu mengenali nyeri (skala,
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
intensitas, frekuensi dan tanda
berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi
nyeri)
ketidaknyamanan dari prosedur
Menyatakan rasa nyaman setelah
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
nyeri berkurang
analgesik pertama kali
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Konstipasi berhubungan dengan


Fungsi:kelemahan otot abdominal,
Aktivitas fisik tidak mencukupi
o Perilaku defekasi tidak teratur
o Perubahan lingkungan
o Toileting tidak adekuat: posisi defekasi,
privasi
o Psikologis: depresi, stress emosi,
gangguan mental
o Farmakologi: antasid, antikolinergis,
antikonvulsan, antidepresan, kalsium
karbonat,diuretik, besi, overdosis laksatif,
NSAID, opiat, sedatif.
o Mekanis: ketidakseimbangan elektrolit,
hemoroid, gangguan neurologis, obesitas,
obstruksi pasca bedah, abses rektum,
tumor
o Fisiologis: perubahan pola makan dan
jenis makanan, penurunan motilitas
gastrointestnal, dehidrasi, intake serat dan
cairan kurang, perilaku makan yang buruk
DS:
Nyeri perut
Ketegangan perut
Anoreksia
Perasaan tekanan pada rektum
Nyeri kepala
Peningkatan tekanan abdominal
Mual
Defekasi dengan nyeri
DO:
Feses dengan darah segar
Perubahan pola BAB
Feses berwarna gelap
Penurunan frekuensi BAB
Penurunan volume feses
Distensi abdomen
Feses keras
Bising usus hipo/hiperaktif
Teraba massa abdomen atau rektal
Perkusi tumpul
Sering flatus
Muntah
o

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :
- Prosedur Infasif
- Kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan
- Malnutrisi
- Peningkatan paparan lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Tidak adekuat pertahanan sekunder
(penurunan Hb, Leukopenia,
penekanan respon inflamasi)
- Penyakit kronik
- Imunosupresi
- Malnutrisi
- Pertahan primer tidak adekuat (kerusakan
kulit, trauma jaringan, gangguan
peristaltik)

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Ansietas berhubungan dengan
Faktor keturunan, Krisis situasional,
Stress, perubahan status kesehatan,
ancaman kematian, perubahan konsep
diri, kurang pengetahuan dan
hospitalisasi
-

DO/DS:
Insomnia
Kontak mata kurang
Kurang istirahat
Berfokus pada diri sendiri
Iritabilitas
Takut
Nyeri perut
Penurunan TD dan denyut nadi
Diare, mual, kelelahan
Gangguan tidur
Gemetar

NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama pasien tidak
mengalami infeksi dengan kriteria
hasil:
Klien bebas dari tanda dan gejala
infeksi
Menunjukkan kemampuan untuk
mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas
normal
Menunjukkan perilaku hidup
sehat
Status imun, gastrointestinal,
genitourinaria
dalam
batas
normal

NIC :
Pertahankan teknik aseptif
Batasi pengunjung bila perlu
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
umum
Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik:.................................
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Pertahankan teknik isolasi k/p
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

NOC :
Kontrol kecemasan
Koping
Setelah dilakukan asuhan selama
klien kecemasan teratasi
dgn kriteria hasil:
Klien mampu mengidentifikasi
dan mengungkapkan gejala
cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan
dan
menunjukkan tehnik untuk
mengontol cemas
Vital sign dalam batas normal
Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

NIC :
Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

Gunakan pendekatan yang menenangkan

Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku


pasien

Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan


selama prosedur

Temani pasien untuk memberikan keamanan dan


mengurangi takut

Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,


tindakan prognosis

Libatkan keluarga untuk mendampingi klien

Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik


relaksasi

Dengarkan dengan penuh perhatian

Identifikasi tingkat kecemasan

Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan


kecemasan

Anoreksia, mulut kering


Peningkatan TD, denyut nadi, RR
Kesulitan bernafas
Bingung
Bloking dalam pembicaraan
Sulit berkonsentrasi

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,


ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat anti cemas:........