Anda di halaman 1dari 2

Catatan

Minggu

Jagal manusia
Slobodan Milosevic diadili. Berapa darah dan air mata ditumpahkan, tak bisa dibilang. Adakah jagal
juga bersemayam di seputar Jember-Bondowoso ? Sejarah tak pernah menulis lurus, sering bengkok, sering
dilurus-luruskan. Minakjinggo misalnya, dalam pementasan cerita rakyat Janger- yang digemari, ia
preman yang tergila-gila Kenconowungu. Sangar, buas, pembrontak. Tapi tanyakan Minakjinggo pada
Banyuwangi asli, ia satriya yang tidak ingin Mojopahit runtuh karena dipimpin wanita. Ia pahlawan,
pejuang teguh yang dikalahkan dengan licik.
Slobodan si Jagal balkan, juga punya banyak pecinta. Hitler, meski lebih setengah abad lalu, masih
banyak dipuja Neo-nazi yang plontos dan bersemangat menyepaki orang-orang Asia yang hendak
mengisap madu negerinya. Kalau Suara rakyat, suara Tuhan , pertanyaannya : Rakyat yang mana ?
Rakyat yang jumlahnya lebih banyak ?
Malam 5 Maret 1953 Stalin mati. Orang tenggelam dalam tangis mengenang jasanya. Sepuluh tahun
lalu ribuan tentara siap mati Untuk Stalin di garis depan Finlandia. Ia dipuja sebagai pemenang PD II,
menekuk Jerman di medan perang Rusia, bahkan masuk sampai ke jantung Berlin. Kematiannya membuat
dunia hening, Uni Sovyet terhenyak, kehidupan berhenti berdetak. Esoknya orang berduyun-duyun seperti
banjir ke lapangan Trubnaya, disana jenazah di semayamkan. Yevtushenko, penyair itu masih 20 tahun. Ia
melihat orang tumpah berdesak-desak, keinginannya : Melihat keranda Stalin. Gelombang lautan manusia
berayun. Stalin mati dan kaku jadi mesin penggeraknya. Panser penjaga keranda tak bisa beringsut, di
gencet tenaga dan teriakan dari segala penjuru. Semesta manusia seperti deru bertenaga besar membentur
apa saja. Dipinggiran orang memekik karena tulang remuk ditekan ke tembok, di tengah ada yang sesak
dan patah dalam lelah. Yang kalah mati terinjak-injak. Tak sedikit wanita terkoyak-koyak, ada darah
bercecer di aspal, ada daging terkelupas di truk tentara. Saat pulang Yevtushenko ditanya, apakah ia
melihat keranda Stalin, jawabnya, Gelombang kerumunan, itulah Stalin.
Tiga tahun kemudian Stalin bukan hanya dilupakan, tapi dicemooh, malah diludahi. Padahal ia diam di
kuburan. Selang 40 tahun patungnya dirobohkan, namanya di injak. Suara rakyat itu, suara ketika Stalin
mati atau tiga tahun sesudahnya, atau masa kini ? Apa yang tersisa, orang Rusia bilang, Tak ada. Mereka
bangga berkata seperti Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak, Kami bukan soviet, kami orang Rusia.
Stalin, Hitler dan Slobodan punya keberuntungan : Ia aktor sejarah. Tapi pahit. Ada masa di anggap
mulia, ada masa dicincang habis-habisan. Kita di negeri yang jauh bernama Indonesia, termangu-mangu,
heran. Kenapa ada manusia tanpa sadar sering menyembah orang lain. Mungkin cinta, mungkin terpesona,
di anggap turunan dewa dengan getaran wibawa, bicara, atau senyumnya seperti Monalisa.
Sejarah juga sudah berusaha bercerita dengan baik, yang disebut penguasa bukan cuma sosok manusia.
Bisa juga sebuah ideologi. Perancis sekitar abad 18 memasukkan ke keranjang ketololan -bukan
cendekiawan- bila tidak menganut materialisme. Jangan ada campur tangan agama (gereja) untuk urusan
astronomi, matematika, dan fisika. Urusan dunia, urusan kaisar, bukan urusan Tuhan. Cucu Materialisme
bernama Komunis lantas menjadi penguasa, dimulai revolusi Bolsyewik sampai menjelang tahun 2000.
Mau tak mau, siapapun Stalin dengan Sovietnya, Slobodan dengan Serbianya- adalah bagian dari
sejarah, antara yang dipuja dengan pemuja. Hari ini yang dipuja begitu beragam, ada pemuja Stalin,
kapitalisme, sosialisme, Amerika, demokrasi, Madona, Rambo, gemerlap uang dan persenjataan.
Sialan. Pertanyaan itu juga pantas untuk kita, yang juga bagian dari sejarah meski bukan pemeran
utama-. Siapa yang kita puja, mengapa dipuja ? Sambil menoleh kanan kiri, menggaruk kepala tak gatal,

ada jawaban sepotong-sepotong, berikutnya ling-lung. Tepat, karena kita memang tak tahu apa-apa. Kita
cuma ikut-ikutan doang. Memuja bersama membatunya pikiran dan hati, dengan mata buta. Jangan-jangan
yang kita puja hari ini, jagal manusia juga. Kalaupun tidak mengucurkan darah, ia menyembelih akal, hati
dan pikiran kita.
Akhirnya disadari, manusia secara fitri harus menggantungkan dirinya pada sesuatu yang lebih besar,
lebih agung, yang akan memberi kenyamanan di masa kini dan di masa mendatang. Persoalannya, kemana
sembah ini harus di persembahkan ? Kepada semacam Stalin, atau kepada produk hasil olah pikirnya ?
Menyembah dan memuja manusia ?
Tentukan segera, karena mati tak pernah ingkar janji. Mungkin setahun, mungkin tiga puluh tahun, tapi
bisa jadi : Semenit lagi.