Anda di halaman 1dari 16

Kekerasan dalam rumah tangga

( kdrt )

Kelompok 2 :
A.Nur Setyawati Dwi.S
70300114027

Nursuhada
70300114051

Mirnawati Jufri

Sri Eka Wardani


70300114060

Tyas Widya Ningsih

703001140

703001140

Anwar
703001140

PRODI KEPERAWATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR


TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA

PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Catatan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya .
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya
makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Makassar , Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar. ...i
Daftar isi..ii
BAB I PENDAHULUAN......1
1.1.
1.2.
1.3.

LatarBelakang...1
Rumusan Masalah.2
Tujuan2

BAB II PEMBAHASAN3
A. Pengertian KDRT3
B. Bentuk-bentuk KDRT.3
C.
Faktor Penyebab KDRT..6
D.
Dampak KDRT...7
E.
Penanggulangan KDRT..8
F.
Perlindungan Bagi Korban KDRT.9
BAB III PENUTUP.12
A.
B.

Kesimpulan...12
Penutup.12

DAFTAR PUSTAKA...13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh
sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota
keluarga. Keluarga memerlukan organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai
tokoh penting yang memimpin keluarga disamping beberapa anggota keluarga lainnya.
Anggota keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang
memiliki hubungan yang sangat baik. Hubungan baik ini ditandai dengan adanya keserasian
dalam hubungan timbal balik antar semua anggota/individu dalam keluarga. Sebuah keluarga
disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan
tidak adanya konflik, ketegangan, kekecewaan dan kepuasan terhadap keadaan (fisik, mental,
emosi dan sosial) seluruh anggota keluarga. Keluarga disebut disharmonis apabila terjadi
sebaliknya.
Ketegangan maupun konflik antara suami dan istri maupun orang tua dengan anak
merupakan hal yang wajar dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Tidak ada rumah
tangga yang berjalan tanpa konflik namun konflik dalam rumah tangga bukanlah sesuatu
yang menakutkan. Hampir semua keluarga pernah mengalaminya. Yang mejadi berbeda
adalah bagaimana cara mengatasi dan menyelesaikan hal tersebut.
Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Apabila
masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan
pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan, kepribadian dan
pengendalian emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam
keluarga. Penyelesaian konflik secara sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga
tidak mengedepankan kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi
yang sama-sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar.
Disisi lain, apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering
terjadi dalam keluarga.
Penyelesaian masalah dilakukan dengan marah yang berlebih-lebihan, hentakan-hentakan
fisik sebagai pelampiasan kemarahan, teriakan dan makian maupun ekspresi wajah

menyeramkan. Terkadang muncul perilaku seperti menyerang, memaksa, mengancam atau


melakukan kekerasan fisik. Perilaku seperti ini dapat dikatakan pada tindakan kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) yang diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama
perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.
1.2. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari makalah di atas adalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ?


Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ?
Apakah faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga ?
Apakah dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga ?
Bagaimana cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga ?
Apakah perlindungan bagi korban KDRT?

1.3. TUJUAN
Tujuan dari rumusan masalah di atas yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menjelaskan yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga.


Menjelaskan apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Menjelaskan faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Menjelaskan apa saja dampak Kekerasan dalam rumah tangga
Menjelaskan cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Menjekaskan perlindungan bagi korban KDRT.

BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
KDRT adalah singkatan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Pengertian KDRT
dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah

Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.Atau
KDRT adalah situasi yang sering terjadi dalam ruang lingkup keluarga. Ruang lingkup
keluarga yang dimaksud antara lain:
1. Suami, isteri, dan anak
2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud
nomor 1 karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian,
yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
3. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.
2. BENTUK-BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
A. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka
berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar,
memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan
rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan
nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya.
B. Kekerasan psikologis / emosional
Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan
ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak
berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan,
komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari
dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak.
C. Kekerasan seksual
Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan
batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak
memperhatikan kepuasan pihak istri.
Kekerasan seksual berat, berupa:

1. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual,
mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa
muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.
2. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak
menghendaki.
3. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau
menyakitkan.
4. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau
tujuan tertentu.
5. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan
korban yang seharusnya dilindungi.
6. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang
menimbulkan sakit, luka,atau cedera.
Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti
komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non
verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang
meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan
dan atau menghina korban. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat
dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.
D. Kekerasan ekonomi
Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal
menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari
kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri.
Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian
lewat sarana ekonomi berupa:
Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.
Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya.

Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau

memanipulasi harta benda korban.


Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan
korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan
dasarnya.
3. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
1. Kurangnya komunikasi antara suami dan istri.
Komunikasi dalam keluarga merupakan factor yang menentukan keharmonisan keluarga .
Kesetaraan dalam komunikasi tampaknya dipengaruhi pula oleh penguasaan sumber
ekonomi,sosial,dan budaya yang melingkupi keluarga .Kebiasaan suami yang suka main perintah
menimbulkan kekesalan pada istri, sehingga memunculkan respons dalam percakapan yang
seringkali mengakibatkan pemukulan terhadap istri . perbedaan pendapat terhadap suatu pokok
persoalan keluarga yang mengakibatkan pemukulan terhadap istri .
2.Tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga
Antara suami-istri sering terjadi percekcokan dan perselisihan yang terus-menerus berlangsung.
Sehingga dalam perselisihan tersebut seringkali menyebabkan suami menjadi marah dan sering
menyakiti dan memukuli istri
3. Kesalahan Istri
Ketidakpatuhan istri terhadap suami , seperti terlalu mudah cemburu, melalaikan pekerjaan
rumah Tangga, Hal seperti ini menimbulkan terjadinya tindak kekerasan terhadap istri . Sehingga
pihak suami meyakini melakukan tindak kekerasan terhadap istri adalah dibenarkan . hal ini
diyakini juga oleh pihak istri . sehingga apabila mereka mengalami tindak kekerasan dan
suaminya akan cenderung tidak membantah, diam dan hanya menangis.
4. Ketidakmampuan suami secara ekonomi.

Kurangnya rasa tanggung jawab akan kebutuhan rumah tangga, tidak member nafkah pada istri,
tidak mempunyai pekerjaan/pengangguran . Hal ini dapat memicu terjadinya tindak kekerasan .
karena istri sering menuntu kebutuhannya terpenuhi
5. Adanya perselingkuhan yang dilakukan suami
Pada saat diketahui istri, si istri menuntut pemuntusan denga suami, akan tetapi hal yang
memang telah dilakukan sang suami di dasarkan pada ikatan perkawinan yang telah ada . Yang
tertutup oleh egoism Suami menjadikan pemukulan terhadap istri .
6. Pengaruh minuman keras
Setelah suami pulang dari acara kumpul-kumpul dank arena ajakan teman serta pengaruh
lingkungan sekitar , biasanya mereka pulang dengan keadaaan mabuk . Istri yang menasehati
agar jangan minum karena tidak baik untuk kesehatannya langsung dipukul . Walaupun
pemukulan tersebut dilakukan tanpa sadar dan karena pengaruh minuman serta karena sang
suami sudah mabuk berat.
7. Akibat adanya kawin paksa dari pihak keluarga.
Adanya Kawin paksa dengan pasangan yang dipilih oleh orang tua juga kerap memicu terjadinya
kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga . Pernikahan yang dipaksakan tersebut
menyebabkan tidak adanya landasan cinta yang kuat , sehingga suami dan istri tidak memiliki
rasa kepercayaan yang besar terhadap pasangannya yang akhirnya mengakibatkan sering
terjadinya pertengkaran dan pemukulan oleh sang suami .
4. DAMPAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Dampak kekerasan yang dialami oleh istri dapat menimbulkan akibat secara kejiwaan
seperti kecemasan, murung, setres, minder, kehilangan percaya kepada suami, menyalahkan diri
sendiri dan sebagainya. Akibat secara fisik seperti memar, patah tulang, cacat fisik, gangguan
menstruasi, kerusakan rahim, keguguran, terjangkit penyakit menular, penyakit-penyakit
psikomatis bahkan kematian.
Dampak psikologis lainnya akibat kekerasan yang berulang dan dilakukan oleh orang yang
memiliki hubungan intim dengan korban adalah jatuhnya harga diri dan konsep diri korban (ia
akan melihat diri negatif banyak menyalahkan diri) maupun depresi dan bentuk-bentuk gangguan

lain sebagai akibat dan bertumpuknya tekanan, kekecewaan dan kemarahan yang tidak dapat
diungkapkan.
Penderitaan akibat penganiayaan dalam rumah tangga tidak terbatas pada istri saja, tetapi
menimpa pada anak-anak juga. Anak-anak bisa mengalami penganiayaan secara langsung atau
merasakan penderitaan akibat menyaksikan penganiayaan yang dialami ibunya, paling tidak
setengah dari anak-anak yang hidup di dalam rumah tangga yang di dalamnya terjadi kekerasan
juga mengalami perlakuan kejam. Sebagian besar diperlakukan kejam secara fisik, sebagian lagi
secara emosional maupun seksual.
Kehadiran anak dirumah tidak membuat laki-laki atau suami tidak menganiaya istrinya.
Bahkan banyak kasus, lelaki penganiaya memaksa anaknya menyaksikan pemukulan
ibunya. Sebagian menggunakan perbuatan itu sebagai cara tambahan untuk menyiksa dan
menghina pasangannya.
Menyaksikan kekerasan merupakan pengalaman yang sangat traumatis bagi anak-anak,
mereka sering kali diam terpaku, ketakutan, dan tidak mampu berbuat sesuatu ketika sang
ayah menyiksa ibunya sebagian berusaha menghentikan tindakan sang ayah atau meminta
bantuan orang lain.
Menurut data yang terkumpul dari seluruh dunia anak-anak yang sudah besar akhirnya
membunuh ayahnya setelah bertahun-tahun tidak bisa membantu ibunya yang
diperlakukan kejam. Selain terjadi dampak pada istri, bisa juga kekerasan yang terjadi
dalam rumah tangga dialami oleh anak. Diantara ciri-ciri anak yang menyaksikan atau
mengalami KDRT adalah:
a. Sering gugup
b. Suka menyendiri
c. Cemas
d. Sering ngompol
e. Gelisah
f. Gagap
g. Sering menderita gangguan perut
h. Sakit kepala dan asma
i. Kejam pada binatang
j. Ketika bermain meniru bahasa dan prilaku kejam
k. Suka memukul teman.
l. Menjadi sasaran penganiayaan akibat kemarahan orang tuanya.
Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan pelajaran pada anak bahwa kekejaman
dalam bentuk penganiayaan adalah bagian yang wajar dari sebuah kehidupan. Anak akan

belajar bahwa cara menghadapi tekanan adalah dengan melakukan kekerasan.


Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan anak sesuatu yang biasa dan
baik-baik saja. KDRT memberikan pelajaran pada anak laki-laki untuk tidak
menghormati kaum perempuan.

5. CARA PENANGGULANGAN KDRT


Untuk menghindari terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga, diperlukan cara-cara
penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga, antara lain:
a.
Perlunya keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada
agamanya sehingga Kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi dan dapat diatasi dengan
baik dan penuh kesabaran.
b. Harus tercipta kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga, karena didalam
agama itu mengajarkan tentang kasih sayang terhadap ibu, bapak, saudara, dan orang
lain. Sehingga antara anggota keluarga dapat saling mengahargai setiap pendapat yang
ada.
c.
Harus adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri, agar tercipta sebuah
rumah tangga yang rukun dan harmonis. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada
keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak, itu juga bisa menjadi pemicu
timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.
d. Butuh rasa saling percaya, pengertian, saling menghargai dan sebagainya antar
anggota keluarga. Sehingga rumah tangga dilandasi dengan rasa saling percaya. Jika
sudah ada rasa saling percaya, maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Jika
tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih
dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan.
e.
Seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam
keluarga, sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim,
sehingga kekurangan ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan baik.

6. PERLINDUNGAN BAGI KORBAN KDRT


Korban KDRT atau bahkan lembaga pemberi perlindungan itu sendiri belum tentu
memahami bagaimana perlindungan itu didapatkan dan bagaimana diberikan. Bagi
korban yang status soseknya lebih tinggi atau institusi dan lembaga yang tugas dan
fungsinya selaku penegak hukum, tentu persoalan mendapatkan dan atau memberikan
perlindungan itu bukanlah masalah. Tetapi bagi institusi dan lembaga di luar itu, perlu
mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup serta akreditasi selaku institusi
dan lembaga pemberi perlindungan terhadap korban KDRT.
UU PKDRT secara selektif membedakan fungsi perlindungan dengan fungsi pelayanan.
Artinya tidak semua institusi dan lembaga itu dapat memberikan perlindungan apalagi
melakukan tindakan hukum dalam rangka pemberian sanksi kepada pelaku.
Perlindungan oleh institusi dan lembaga non-penegak hukum lebih bersifat pemberian
pelayanan konsultasi, mediasi, pendampingan dan rehabilitasi. Artinya tidak sampai
kepada litigasi. Tetapi walaupun demikian, peran masing-masing institusi dan lembaga
itu sangatlah penting dalam upaya mencegah dan menghapus tindak KDRT.
Selain itu, UU PKDRT juga membagi perlindungan itu menjadi perlindungan yang
bersifat sementara dan perlindungan dengan penetapan pengadilan serta pelayanan.
Perlindungan dan pelayanan diberikan oleh institusi dan lembaga sesuai tugas dan
fungsinya masing-masing:
1. Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan sementara yang diberikan paling
lama 7 (tujuh) hari, dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan perlindungan,
kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
Perlindungan sementara oleh kepolisian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan tenaga
kesehatan, sosial, relawan pendamping dan pembimbing rohani untuk mendampingi
korban. Pelayanan terhadap korban KDRT ini harus menggunakan ruang pelayanan
khusus di kantor kepolisian dengan sistem dan mekanisme kerja sama program
pelayanan yang mudah diakses oleh korban.Pemerintah dan masyarakat perlu segera
membangun rumah aman (shelter) untuk menampung, melayani dan
mengisolasi korban dari pelaku KDRT. Sejalan dengan itu, kepolisian sesuai tugas dan

kewenangannya dapat melakukan penyelidikan, penangkapan dan penahanan dengan


bukti permulaan yang cukup dan disertai dengan perintah penahanan terhadap pelaku
KDRT. Bahkan kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan tanpa surat
perintah terhadap pelanggaran perintah perlindungan, artinya surat penangkapan dan
penahanan itu dapat diberikan setelah 1 X 24 jam.
2. Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk konsultasi hukum, melakukan
mediasi dan negosiasi di antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga pelaku
(mediasi), dan mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan
dalam sidang pengadilan (litigasi), melakukan koordinasi dengan sesama penegak
hukum, relawan pendamping, dan pekerja sosial (kerja sama dan kemitraan).
3. Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam bentuk perintah
perlindungan yang diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. Pengadilan
dapat melakukan penahanan dengan surat perintah penahanan terhadap pelaku KDRT
selama 30 (tiga puluh) hari apabila pelaku tersebut melakukan pelanggaran atas
pernyataan yang ditandatanganinya mengenai kesanggupan untuk memenuhi perintah
perlindungan dari pengadilan. Pengadilan juga dapat memberikan perlindungan tambahan
atas pertimbangan bahaya yang mungkin timbul terhadap korban.
4. Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama dalam upaya pemberian
sanksi terhadap pelaku KDRT. Tenaga kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan
laporan tertulis hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas permintaan
penyidik kepolisian atau membuat surat keterangan medis lainnya yang mempunyai
kekuatan hukum sebagai alat bukti.
2. Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk konseling untuk menguatkan dan
memberi rasa aman bagi korban, memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk
mendapatkan perlindungan, serta mengantarkan koordinasi dengan institusi dan lembaga
terkait.
6. Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban mengenai hak-hak korban

untuk mendapatkan seorang atau beberapa relawan pendamping, mendampingi korban


memaparkan secara objektif tindak KDRT yang dialaminya pada tingkat penyidikan,
penuntutan dan pemeriksaan pengadilan, mendengarkan dan memberikan penguatan
secara psikologis dan fisik kepada korban.
7. Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan untuk memberikan penjelasan mengenai
hak, kewajiban dan memberikan penguatan iman dan takwa kepada korban.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang
No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,
memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum dalam lingkup rumah tangga.
2. Adapun bentuk kekerasan dalam KDRT yaitu : kekerasan fisik , kekerasan
psikologis/emosional , kekerasan seksual ,dan kekerasan ekonomi .
3. Secara umum, faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga yaitu : Kurangnya
komunikasi antara suami dan istri, Tidak ada keharmonisan dalam rumah
tangga,kesalahan istri , Ketidakmampuan suami secara ekonomi, adanya
perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, pengaruh minuman keras dan Akibat
adanya kawin paksa dari pihak keluarga.
4. Adapun Dampak kekerasan yang dialami oleh istri dapat menimbulkan akibat
secara kejiwaan seperti kecemasan, murung, setres, minder, kehilangan percaya
kepada suami, menyalahkan diri sendiri dan sebagainya.
5. Adapun cara penanggulangan KDRT yaitu meningkatkan keimanan, membina
komunikasi yang baik antara suami dan istri dan membina rasa saling percaya .
6. Adapun perlindungan pada korban KDRT yaitu lebih bersifat pemberian
pelayanan konsultasi, mediasi, pendampingan dan rehabilitasi.
B. SARAN
Demikian yang dapat kami jelaskan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga
semoga bemanfaat bagi pembaca dan dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan-kekurangan, oleh karena itu kami senantiasa menerima saran dan kritik
yang sifatnya membangun.

DAFTAR PUSTAKA
Kekerasan dalam Rumah Tangga ( http://midwifejaniezt.blogspot.com/2012/12/makalahkdrt.html )
Kenapa Laki-Laki Melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)?
(http://www.erwinmiradi.com/kenapa-laki-l... #erwinmiradi.com )
ENI PURWANINGSIH,2008 , FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAN
TERHADAP PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA

Anda mungkin juga menyukai