Anda di halaman 1dari 31

GANGGUAN PERTUMBUHAN

PADA STRUKTUR DENTIN

Pembimbing:
Drg Taqwa Dalimunthe Sp. KGA
Oleh:
1.
Siti Aishah (08-129)
2.
Vidyavati (08-130)
3.
Looi Yuet Ching (08-133)

Dentinogenesis Pembentukan & Maturasi


Dentin

Dentinogenesis pembentukan &


maturasi dentin
Tahap Bell

Differensiasi sel papilla

Odontoblas
Tahap bell sel odontoblasSel Odontoblas
produksi kolagen
berdifferensiasi dari sel papilla
dan matriks
dental
ubah predentin
dentin
Dentinogenesis terdiri

2 Fase
dari 2 fase:
Dentonogenesis

1. Sintesa & sekresi


matriks organik
2. Mineralisai matriks
dentin

1. Sintesa &
sekresi matriks
Gangguan
organik
pertumbuhan

2. Mineralisai
matriks dentin
perkembangan
dentin
dentinogenesis
imperfekta & dentin
displaisa

Dentin

Dentinogenesis Imperfekta
Gangguan pembentukan dentin karena kerusakan
matriks predentin yang mengakibatkan dentin & sirkum
pulpa tidak terbentuk atau tidak teratur
Bersifat herediter
Frekwensi: 1 dari 8000 kelahiran autosomal
dominan

DENTINOGENESIS
IMPERFEKTA

ETIOLOGI & PATOGENESIS


Etiologi utama herediter diturunkan secara
autosomal dominan
Manifestasi DI periode perkembangan
histodiferensiasi gigi
Proses maturasi dentin : vesikel matriks sel
odontoblas muncul terjadi defisiensi
fosfoprotein kalsifikasi terganggu

GAMBARAN KLINIS
& RADIOLOGIS
DENTINOGENESIS
IMPERFEKTA

TIPE I (Dentinogenesis
Imperfekta

Tipe II (Dentin Opalescent


Herediter)

Tipe III (Tipe Brandywine)

Dentin Displasia
Kelainan pembentukan dentin melibatkan sirkum pulpa dentin &
morfologi akar
Diturunkan sebagai suatu sifat gen autosomal yang dominan &
memberi dampak pada dentin & morfologi akar gigi.

Etiologi : Mutasi gen sialophosphoprotein dentin


Penyakit ini adalah langka (1:100.000)
Klasifikasi : Dentin displasia tipe I & dentin displasia tipe II {Shields
(1973)}

DD tipe I (Dentin displasia radikular/ Rootless teeth)


Mahkota gigi : Warna kebiruan atau kecoklatan yang translusen pada bagian
servikal.

Ukuran akar : Pendek


Akibat ketidak teraturan pembentukan dentin pada akar.
Variasi ukuran akar & pulpa terjadi berdasarkan waktu terjadinya ketidak
teraturan pembentukan dentin.
Pembentukan dentin dini : Akar pendek/ tidak ada & pulpa (-)
Pembentukan dentin lambat : Akar pendek & kamar pulpa bentuk crescent
Pulpa
Gigi sulung : Pulpa obliterasi sebelum gigi susu erupsi.
Gigi permanen : Obliterasi saluran akar & kamar pulpa bervariasi.
Periapikal
Gigi susu & permanen : Ada lesi periapikal akibat karies sekunder / ada
paparan sisa pulpa dalam dentin yang rusak secara spontan.

DD tipe II (Dentin displasia koronal)

Gigi sulung :
Warna gigi : Coklat atau kuning kebiruan.
Terjadi obliterasi pulpa

Gigi permanen :
Warna gigi : Normal atau sedikit
berwarna kekuningan.
Ukuran akar : Normal
Kamar pulpa : Berbentuk "thistle
tube , ada batu pulpa
Saluran akar : Obliterasi
Periapikal : Tidak ada gambaran
radiolusensi (Lesi)

Perawatan
Tujuan : Menghilangkan sumber infeksi /sakit, mengembalikan
estetik & melindungi gigi posterior dari keausan.
Perawatannya bervariasi (usia pasien, tingkat keparahan,
keluhan utama)

Perawatan

Preventif

Restoratif

Endodontik

Oklusi

Perawatan
Preventif
Identifikasi Awal &
Intervensi
- Menghindari
konsekuensi

Pemeriksaan Berkala
- Mengidentifikasi gigi yang butuh
perawatan

Kesehatan Periodontal
- Penyingkiran kalkulus, penggunaan
obat kumur

Sensitivitas Gigi
- Aplikasi fluor & agen
desensitisasi

Perawatan
Restoratif

- Meminimalkan risiko fraktur


enamel

Gigi Tiruan
- Untuk kasus kehilangan struktur gigi
mahkota yang parah dan kehilangan
dimensi vertikal

Bleaching
- Memperbaiki warna
gigi

Veneer
- Meningkatkan estetik gigi
anterior

Perawatan
Endodontik

Perawatan Saluran Akar


- terbukanya pulpa karena keausan mahkota
yang luas

Pemeriksaan Radiografi
Berkala yang
- Abses periapikal
multiple

Perawatan
Ortodontik
Evaluasi

- Maloklusi klas III


- Crossbite posterior
- Openbite

Prognosis
Tergantung
pada

Usia ditegakkan diagnosa,


kecepatan dan kualitas
perawatan
Memaksimal
kan

Estetik dan
pengembalian
fungsi

Meminimalk
an

Defisit gizi
dan gangguan
psikososial

LAPORAN KASUS
Seorang pria (33 tahun) datang ke Departemen
Penyakit Mulut dan Radiologi di PDM Dental College
and Research Institute, India
Keluhan utama anaknya
(3 tahun)
Gigi diskolorisasi
Gigi berukuran kecil sejak
lahir
Ingin
Pemeriksaan
medis
gigi tersebut direstorasi
Riwayat keluarga

(tes darah & radiografi seluruh


tubuh)

anak

Kelainan sistemik atau gejala


khusus osteogenesis
imperfekta

Tidak menunjukkan
adanya penyakit pada
ibu &adik

tidak
ditemukan

Wawancara &
Pemeriksaan Klinis (Ayah)
Mempunyai gigi
diskolorisasi
Gigi berukuran kecil sejak
lahir

Gigi 36 Tes perkusi (+),


dijumpai gambaran radiolusensi
periapikal
Orthopantomogram (OPG)
Mahkota berukuran lebih kecil
Akar bulbous
Penyempitan servikal prominan +
obliterasi saluran akar
Gigi 36 diekstraksi Tidak dapat
direstorasi lagi

Pemeriksaan Intraoral
Anak
Diskolorisasi gigi
Tidak mobiliti
Tidak ada keluhan saat
perkusi
Gigi RA / RB
Atrisi cusp bukal
Kehilangan lapisan
gigi molar sulung
enamel
anak
terpaparnya lapisan
dentin

Gambaran Radiografi
Ukuran mahkota gigi yang lebih
kecil
Obliterasi kamar pulpa

DISKUSI
Tantangan
Terbesar
Kerapuhan ekstrim
Retensi
gigi
Keluhan pasien
Gigi tidak estetik
Nyeri
Abses gigi kronis
Penurunan ketinggian vertikal
Diagnosa dan
perawatan intervensi
dini

memban
tu

Prognosis &
rehabilitasi
kasus

Gigi
Permanen
direstorasi
Mahkota
porselen
jaket

GTC atau
GTSL

Shafer et al
Retensi pada restorasi
diragukan
Berkurangnya
kuantitas dan kualitas
dentin

Overdentur
e atau
implan

Restorasi intrakoronal
Kontraindik
asi

Risiko fraktur pada


enamel

Perawatan
Anak
Oral
Profilaksis
Memberikan
instruksi
kebersihan mulut
Pengaplikasi fluor
topikal

membantu
mencegah lesi
karies di masa
dewasa

Restorasi
Veneer komposit
gigi anterior RA/RB
untuk
mengembalikan
estetik
Pre-fabrikasi mahkota
stainless steel
gigi molar sulung
RA/RB
sebagai tindakan
preventif

Konseling
Diet
menghindari
makanan
keras

DAFTAR PUSTAKA
1. Kumar GS.Orbans Oral Histology and Embryology.12 th ed.
India: Elsevier, 2011:96-113
2. Sapir S, Shapira J. Dentinogenesis imperfecta: an early
treatment strategy. AAPD 2001; 23:3
3. Annonymus. Dentinogenesis imperfecta and dentine dysplasia.
http://stjosephlitreview.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
(12 Desember 2014)
4. Annonymus. www.gopixpic.com (12 Desember 2014)
5. Barron MJ, McDonnell ST, MacKie I,Dixon MJ. Hereditary dentine
disorders: dentinogenesis imperfecta and dentine dysplasia.
OJRD 2008; 3:31
6. Council on clinical affairs. Guildline on dental management of
heritable dental development anomalies. AAPD 2013;36(6):2649
7. Neeti B. Dentinogenesis imperfecta: A hereditary
developmental disturbance of dentin. IJPN 2010; 13:1

SEKIAN, TERIMA KASIH