Anda di halaman 1dari 6

I.2.

Dislokasi Posterior
Dislokasi posterior lebih jarang terjadi, jumlahnya kurang dari 2% dari semua dislokasi
sekitar bahu dan biasanya disebabkan karena trauma langsung pada sendi bahu dalam
keadaan rotasi interna.
1.2.1. MEKANISME CEDERA
Gaya tak langsung yang menyebabkan rotasi internal dan aduksi yang nyata harus sangat kuat
untuk dapat menyebabkan dislokasi. Keadaan ini paling sering terjadi selama ayan atau
kejang-kejang, atau karena sengatan listrik
1.2.2. GAMBARAN KLINIS
Diagnosis sering terlewat sebagian karena mengandalkan sinar-X anteroposterior saja (yang
dapat tampak seperti normal) dan sebagian karena mereka yang menangani pasien tidak
memikirkan hal itu. Sebenarnya terdapat beberapa tanda klinik yang sangat jelas. Lengan
tetap pada rotasi medial dan terkunci pada posisi itu. Bagian depan bahu tampak rata dengan
korakoid yang menonjol, tetapi pembengkakan dapat menyembunyikan deformitas ini; tetapi
bila dilihat dari atas, pergeseran posterior biasanya terlihat.
Ditemukan adanya nyeri tekan serta benjolan di bagian belakang sendi.
1.2.3. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Dalam film anteroposterior, kaput humerus karena berotasi ke medial, bentuknya tampak
abnormal (seperti bola lampu) dan agak jauh dari fossa glenoid (tanda glenoid kosong). Film
lateral sangat diperlukan; film ini akan menunjukkan subluksasi atau dislokasi posterior dan
kadang-kadang menunjukkan lekukan pada aspek anterior kaput humerus. Fraktur pada leher
humerus kadang-kadang disertai komplikasi dislokasi posterior.
Ditemukan adanya tanda khas berupa light bulb karena adanya rotasi interna humerus.
Pada kasus yang sukar, CT bermanfaat.
I.2.4. PENATALAKSANAAN
Dislokasi akut direduksi (biasanya di bawah anestesi umum) dengan menarik lengan
sementara bahu pada posisi abduksi; biarkan beberapa menit agar kaput humerus lepas dan
kemudian lengan dengan pelan-pelan diputar ke lateral sementara kaput humerus didorong ke
depan. Kalau reduksi terasa stabil, lengan diimobilisasi dalam kain gendongan; kalau tidak,
bahu dipertahankan berabduksi lebar-lebar dan dirotasi ke lateral dalam spika gips selama 3
minggu. Gerakan bahu diperoleh kembali melalui latihan aktif.
I.2.5. KOMPLIKASI
a. Dislokasi yang tak direduksi
Sekurang-kurangnya setengah dari pasien dengan dislokasi posterior tak mendapat reduksi
ketika pertama ditemukan. Kadang-kadang sudah terlewat beberapa minggu atau beberapa
bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Secara khas pasien mempertahankan lengan berotasi
internal; dia tidak dapat mengabduksi lengan lebih dari 70 80 derajat, dan kalau
mengangkat lengan yang terentang ke depan, dia tidak dapat memutar telapak tangan ke atas.
Kalau pasien itu muda, atau merasa tak nyaman dan dislokasi belum lama terjadi (katakanlah
baru 8 minggu), reduksi terbuka diindikasikan. Melalui pendekatan posterior, dilakukan
perbaikan dan pemendekan kapsul.
Dislokasi belakangan, terutama pada manula, terbaik dibiarkan, tetapi dianjurkan melakukan
gerakan.

b. Dislokasi atau subluksasi berulang


Ketidakstabilan posterior yang kronis pada bahu.
Dislokasi rekuren posterior
Dislokasi rekuren posterior lebih jarang ditemukan dan juga memerlukan tindakan operasi.
o
o

Dislokasi posterior
Lebih jarang ditemukan
Trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna
Gambaran klinis dislokasi posterior
Terasa nyeri tekan serta benjolan dibagian belakang sendi. Tanda khas berupa light bulb
karena adanya rotasi interna humerus.
Dislokasi Congenital
Congenital dislocation berhubungan dengan congenital deformities
Dislokasi Traumatic
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di
sekitar sendi.
Dislokasi Traumatic
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di
sekitar sendi.
Dislokasi kronik
Dislokasi berulang, terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian
depan leher glenoid.
Fraktur Disloksi
Komplikasi lanjut
Kekakuan sendi bahu: Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu,
terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral ,yang secara
otomatis membatasi Abduks.

PENYEBAB DISLOKASI
Dari segi Etiologi, Dislokasi disebabkan oleh:
1. Cedera olah raga
Olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga
yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket
dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena
secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
2.

Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga seperti benturan keras pada sendi saat
kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi
3. Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
4. Patologis : terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital
penghubung tulang

Dari segi Patofisiologi,


Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong
kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian
posterolateral kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke
bawah dan menimbulkan luksasio erekta [dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu
jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid]
PENANGANAN DISLOKASI
Pertolongan pertama :
Hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter, kecuali dalam keadaan terpaksa dimana di
tempat kejadian tidak ada dokter yang terdekat, barulah kita berikan pertolongan pertama
yaitu reposisi.
Reposisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Metode Stimson (lihat gambar)
metode ini sangat baik. Caranya penderita dibaringkan tertelungkup sambil bagian lengannya
yang mengalami dislokasi, keluar dari tepi tempat tidur, menggantung ke bawah. Kemudian
diberikan beban yang diikatkan pada lengan bawah dan pergelangan tangan, biasanya dengan
dumbbell dengan berat tergantung dari kekuatan otot si penderita. Si penderita disuruh rileks
untuk beberapa jam, kemudian bonggol sendi akan masuk dengan sendirinya.
Gambar 2. Cara reposisi dislokasi bahu dengan metode Stimson
2. Penderita dibaringkan terlentang di lantai. Si penolong duduk pada sisi sendi yang lepas. Kaki
si penolong menjulur lurus ke dada si penderita, lengan yang lepas sendinya ditarik dengan
kedua tangan penolong dengan tenaga yang eras dan kuat, sehingga berbunyi klik, ini
berarti bonggol sendi masuk kembali.
Reduksi dengan menarik lengan ke depan secara hati-hati dan rotasi eksternal, serta
imobilisasi selama 3-6 minggu
Teknik Hennipen
Secara perlahan dielevasikan sehingga bengkol sendi masuk ke dalam mangkok
sendi.pasien duduk atau tidur dengan posisi 45o, siku pasien ditahan oleh tangan kanan
penolong dan tangan kiri penolong melakukan rotasi kearahluar(eksternal) sampai 90o dengan
lembut dan perlahan, jika korban merasa nyeri, rotasi eksternal sementara dihentikan sampai
terjadi relaksasi otot, kemudian dilanjutkan. Sesudah seraksasi eksternal mencapai 90o maka
reposisi akan terjadi, jika reposisi tidak terjadi, maka............
Program rehabilitasi
Penanganan dislokasi pada sendi bahu dapat dilakukan dengan melakukan program
rehabilitasi. Program Rehabilitasi secara umum terbagi menjadi Nonoperatif Manajemen dan
Operatif manajemen.
a. Non operatif Rehabilatation
Penanganan rehabilitasi non operatif bertujuan untuk mengoptimalkan stabilisasi sendi
bahu,sebab komplikasi dislokasi berulang banyak terjadi.Menghindari maneuver yang
bersifat provokativ dan penguatan otot secara hati-hati merupakan komponen penting dalam
program rehabilitasi.
Minggu 0-2.Hindari provokatif posisi, termasuk eksternal rotasi,Abduksi,dan
Distrak.Immobilisasi tergantung umur
kurang dari 20 tahun 3-4 minggu
20-30 tahun 2-3 minggu
Lebih dari 30- 10 hari sampai 2 minggu.
Lebih dari 40 tahun 3-5 hari

Program dilanjutkan secara bertahap untuk pemulihan fungsi sesuai prosedur rehabilitasi
yang telah ditetapkan.
b. Operatif Treatment
Tujuan utama rehabilitasi adalah
Menjaga integritas stabilitasi bedah kore
Memulihkan ROM fungsional secara full
Meningkatkan stabilitas Dynamik
Kembali aktivitas yang tak dibatasi dan olahraga
Diagnosa Fisioterapi
Gangguan fungsional Bahu akibat post Dislokasi Anterior bahu. Pemerikasaan tambahan
spesifik
Problematik Fisioterapi
a. Nyeri gerak
b. Keterbatasan ROM
c. Kelemahan otot
d. Gangguan ADL
e. Advance Aktivitas/Atlet
Tujuan Fisioterapi
Jangka pendek
a. Mengurangi Nyeri gerak
b. Meningkatkan ROM
c. Meningkatkan kekuatan otot
d. Meningkatkan fungsi ADL
e. Memperbaiki power,endurance dan persiapan aktivitas normal
Jangka panjang
Meningkatkan aktifitas fisik dan kemampuan fungsional pasien.

Terdapat beberapa hormon yang mengatur pembuatan dan proses keluarnya air susu anda.
Yang perlu anda ketahui, keluarnya air susu adalah hasil kerja keras Ibu dan bayi. Berikut
adalah hormon yang membantu produksi hingga keluarnya air susu anda yang mengandung
zat-zat yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.
1. Prolaktin.
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar pituitari di dalam otak yang bertanggung jawab untuk
pembuatan air susu anda. Kadar hormon prolaktin ini akan semakin banyak seiring dengan
seringnya bayi menyusu.
2. Oksitosin.
Hormon ini menyebabkan otot-otot kecil di sekitar payudara memeras air susu melalui
kelenjar air susu. Kelenjar air susu ini memperbesar puting sebagai jalan keluarnya air susu
ke mulut bayi. Selain itu, hormon oksitosin juga menyebabkan otot-otot uterus berkontraksi
selama proses persalinan hingga proses persalinan berakhir. Sebelum proses persalinan,
hormon ini membantu bayi keluar dari rahim Ibu kemudian setelah persalinan hormon
oksitosin membantu rahim kembali ke ukurannya semula dan membantu mengurangi
pendarahan pasca persalinan.
3. Kedua hormon prolaktin dan oksitosin membantu meningkatkan ikatan emosional Ibu dan
bayi.

Hormone pubertas wanita


Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon
(gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan,
yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak
perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua
jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan
Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone.
Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis
seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem
reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai
berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik
lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka
akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia
remaja.

Menurut sridianti

1) FSH (Follicle Stimulating Hormone), yaitu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar
hipofisis. Hormon FSH ini berfungsi dalam proses pembentukan dan pematangan
spermatozoa yang dikenal sebagai spermatogenesis dan ovum yang dikenal sebagai
oogenesis. Di samping itu, FSH juga merangsang produksi hormon testoseron pada pria dan
estrogen pada wanita.
2) LH (Luteinizing Hormone). Hormon ini juga dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon
ini dapat merangsang proses pembentukan badan kuning atau korpus luteum di dalam
ovarium, setelah terjadi poses ovulasi (pelepasan sel telur).
3) Testoseron, yaitu hormon yang dihasilkan testis dan berperan dalam spermatogenesis dan
penampakan ciri-ciri kelamin sekunder pada pria.
4) Estrogen. Hormon ini dihasilkan oleh folikel graaf di dalam ovarium. Hormon ini berperan
alam oogenesis dan penampakan ciri-ciri kelamin sekunder pada wanita. Di samping itu,
hormon ini juga berperan untuk merangsang produksi LH dan menghambat produksi FSH.
5) Progesteron. Hormon ini dihasilkan oleh badan kuning atau korpus luteum di dalam
ovarium. Berperan dalam proses pembentukan lapisan endometrium pada dinding rahim
untuk menerima ovum yang telah dibuahi. Pada saat terjadi kehamilan, progesteron bersamasama dengan hormon estrogen menjaga agar endometrium tetap mengalami pertumbuhan,
membentuk plasenta, menahan agar otot uterus tidak berkontraksi, dan merangsang kelenjar
susu memproduksi ASI.
6) Oksitosin. Hormon ini dihasilkan oleh hipofisis. Peranannya, yaitu pada proses kelahiran,
untuk merangsang kontraksi awal dari otot uterus.
7) Relaksin. Hormon ini dihasilkan oleh plasenta, berperan untuk merangsang relaksasi
ligamen pelvis pada proses kelahiran.
8) Laktogen, dihasilkan oleh kelenjar hipofisis yang bersama-sama dengan progesteron
merangsang pembentukan air susu.