Anda di halaman 1dari 47

Tugas Pencegahan

Pencemaran
RINGKASAN MATERI BAB 8
Pertumbuhan Bakteri
Kinetika Pada Pertumbuhan
Bakteri
Pengolahan Secara Biologi
KELOMPOK 4
FAJRI MUHAMMAD
HAFIDZ AL RASYID
KAMELIYA HANI MILLATI
Departemen Teknik Kimia
Universitas Indonesia
Depok

Dosen Pengaja
Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, M.Eng

Asisten Dosen
Galih Mer

Ringkasan Bab 8

Pertumbuhan Bakteri
Kinetika Pada Pertumbuhan
Bakteri
Pengolahan Secara Biologi

PERTUMBUHAN
BAKTERI
KAMELIYA HANI MILLATI

1.1. Struktur Bakteri

Pertumbuhan
Bakteri

1.2. Bentuk Bakteri


1.3. Pertumbuhan Bakteri
1.4. Kecepatan Pertumbuhan Bakteri
1.5. Metode Pengukuran Pertumbuhan
Bakteri
1.6. Fase Pertumbuhan Bakteri
1.7. Faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Bakteri

1.1. Struktur Bakteri

1. Kapsul
. Lapisan terluar dari bakteri
. Kapsul (glikoprotein), lendir
(air dan polisakarida)
. Kapsul (bakteri parasite dan
patogen)
. Lendir (bakteri saproba)

2. Dinding Sel
. Mempertahankan bentuk dan
sebagai pelindung
. Dinding sel: peptidoglikan
. Bakteri gram positif dan negatif
3. Membran Plasma
. Pembungkus sitoplasma yang
selektif permeable
. Membran plasma: fosfolipid dan
protein
4. DNA
. DNA kromosom dan DNA
nonkromosom
5. Ribosom
. Organel kecil dalam sitoplasma
untuk sintesis protein
. Ribosom: protein dan RNA
6. Sitoplsma
. Cairan koloid tempat terjadinya
reaksi metabolisme sel
. Sitoplasma: molekul organik
seperti lemak, protein,
karbohidrat, dan garam mineral,
enzim, DNA, klorosom, dan
ribosom

Ciri Utama Bakteri


1. Multiseluler
2. Prokariotik
3. Tidak memiliki
klorofil
4. Ukuran tubuh 0.12
ratusan micron
dengan rata rata
1- micron
5. Dapat hidup di
lingkungan ekstrim

1.2. Bentuk Bakteri

Biodegradasi
Plastik

Biodegradasi Air
Buangan

Biodegradasi
Minyak Buangan

Methylococcus
capsulatus

Nitrobacter sp,
Nitrosomonas sp,
Pseudomonas sp,
Beggiota sp

Pseudomonas sp

Menghancurkan
plastik

Pengolahan
limbah cair

Minyak sebagai
sumber makanan

1.3. Pertumbuhan Bakteri

Seksu
Aseksu
al
al

Pemindahan sedikit materi genetic dari suatu bakteri ke bakteri lainnya


Pemindahan materi genetic melalui perantara/vector seperti virus
Pemindahan materi genetic dengan kontak langsung melalui jembatan sitoplasma

1.4. Kecepatan Pertumbuhan Bakteri

mbuhan: Meningkatnya jumlah sel atau massa sel


u generasi : Waktu yang diperlukan untuk membelah diri dari satu sel menjadi dua sel sempurna
ling time
: Waktu yang diperlukan oleh sejumlah sel aau massa sel menjadi dua kali jumlah atau massa sel semula

1.5. Metode Pengukuran Pertumbuhan Bakteri

1.6. Fase Pertumbuhan Bakteri


FASE LAG
Fase ketika bakteri beradaptasi dengan
lingkungan dan mulai bertambah sedikit demi
sedikit
FASE LOGARITMIK
Fase ketika pertumbuhan bakteri berlangsung
paling cepat.
FASE STASIONER
Fase
ketika
jumlah
bakteri
yang
berkembangbiak sama dngan jumlah bakteri
yang mati
FASE KEMATIAN
Fase ketika jumlah bakter yang mati semakin
banyak sehingga melebihi jumlah bakteri yang
berkembangbiak
http://

www.professorcrista.com/files/animations/posted_animations/bac_growth_cur

7. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

KINETIKA PADA
PERTUMBUHAN
BAKTERI
FAJRI MUHAMMAD

2.1. Persamaan Umum Laju Pertumbuhan


Sel

2.2. Parameter Laju Pertumbuhan


Y koefisien yield pada sel yang didefiniskan sebagai laju
produksi atau pembentukan biomass per unit dari substrat (mg
VSS/mg COD)
Kd laju kerusakan endogen atau jumlah sel yang hilang atau
rusak selama terjadinya respirasi endogen per unti per satuan
waktu ( 1/day)
max laju pertumbuhan spesifik maksimum
Ks konstanta pada persamaan Monod. Disamakan dengan
konsentrasi pada substrat dimana sama dengan max

2.3. Perhitungan Laju Pertumbuhan Sel


Persamaan Monod

rg = laju pertumbuhan sel


(g/dm3s)
= laju pertumbuhan spesifik
s-1
Cc = konsentrasi sel (g/dm3)

Laju
pertumbuhan
=
laju pertumbuhan spesifik
max

spesifik maksimum (s-1)


Ks = konstanta pada
persamaan Monod (g/dm3)
Cs = konsentrasi substrat
(g/dm3)

2.4. Efek Metabolisme Endogin


Efek Metabolisme Endogin
Laju pertumbuhan bakteri harus mempertimbangkan efek Endogin
(mati dan saling memakan). Faktor endogin dapat diformulasikan
sbb :
rd = -kdX
Hubungan dengan laju pertumbuhan bakteri dapat didefinisikan:

2.5. Efek Temperatur


Tinggi rendahnya suhu akan meningkatkan laju pertumbuhan
dan banyaknya jumlah sel, tergantung dari jenis sel atau
mikroba
Bakteri Thermofilik adalah bakteri yang akan tumbuh secara
efektif dan baik pada suhu tinggi
Tinggi atau rendahnya suhu juga dapat menghambat atau
mematikan pertumbuan sel

2.5. Efek Temperatur

2.5. Efek Temperatur


Untuk mengukur laju reaksi pada temperature tertentu,
digunakan persamaan:
rT = r20 (T-20)
rT = laju reaksi pada ToC
r20 = laju reaksi pada 20oC
= koefisien aktivitas temperatur (tergantung tipe pengolahan)
T = temperatur oC

2.6. Yield
Untuk mengetahui konsumsi dari substrat, sel yang terbentuk,
dan produk yang terbentuk maka dapat diketahui dengan
mengetahui nilai Yield.
Yield adalah rasio massa atau mol produk yang dibentuk untuk
massa atau mol reaktan yang dikonsumsi
Untuk menghitung jumlah yield , maka
Yield = (Produk Akhir)/(Reaktan yg diumpankan ke
reaktor) x 100%

2.6. Yield
Perolehan sebuah produk P terhadap reaktan A (YP/A) dapat
dinyatakan sebagai:

2.7. Perhitungan Growth Yield


Hubungan antara pertumbuhan sel mikroba dan konsumsi
substrat dinyatakan dengan:
X =Xt Xo
Yx/s = s = (st so)
Dimana X adalah kenaikan jumlah biomassa sebagai akibat
digunakannya substrat sebanyak s

2.8. Neraca Massa Laju Pertumbuhan Sel


Neraca massa sel pada CSTR

Neraca massa substrat pada CSTR

2.8. Neraca Massa Laju Pertumbuhan Sel


Neraca massa sel pada Batch
Untuk sistem Batch, tidak terdapat aliran masuk dan keluar
secara kontinyu, dimana v = v0 = 0, dimana neraca massa
adalah:

Untuk laju pengurangan substrat, -r, neraca masa hasil


konsumsi substrat oleh pertumbuhan sel adalah:

Pada pertumbuhan sel fase stasioner, konsumsi substrat dan


pertumbuhan sel stabil, maka neraca massa pembentukan sel
adalah:
Untuk pembentukan produk, rp, dapat dihubungkan dengan
pembentukan sel, dimana neraca massa yang terjadi adalah

PENGOLAHAN
SECARA BIOLOGI
HAFIDZ AL RASYID

Biological Treatment Processes


Pengolahan limbah secara biologi yaitu pengolahan (treatment) air
limbah
dengan
mendaya
gunakan
mikroorganisme
untuk
mendekomposisi bahan-bahan organik yang terkandung dalam air
limbah menjadi bahan yang kurang menimbulkan potensi bahaya
(misalnya keracunan, kematian biotik akibat penurunan DO, maupun
kerusakan ekosistem).
Secara umum tujuan serta manfaat pengolahan air limbah secara
biologi yaitu sebagai berikut :
Degradasi (penguraian) bahan organik
Transformasi zat organik menjadi zat yang kurang berbahaya
Nitrifikasi/Denitrifikasi
Menggunakan kembali zat organik dalam air limbah (misalnya gas
metana).

Anaerob Process
Pengolahan air limbah secara biologi anaerob merupakan pengolahan
air limbah dengan mikroorganisme tanpa injeksi udara/oksigen
kedalam proses pengolahan. Pengolahan air limbah secara biologi
anaerob bertujuan untuk merombak bahan organic dalam air limbah
menjadi bahan yang lebih sederhana yang tidak berbahaya.

Pada proses pengolahan secara biologi anaerob terjadi empat


tahapan proses yang terlibat diantaranya :
Proses hydrolysis : suatu proses yang memecah molekul organic
komplek menjadi molekul organic yang sederhana
Proses Acidogenisis : suatu proses yang merubah molekul organic
sederhana menjadi asam lemak
Proses Acetogenisis : suatu proses yang merubah asam lemak
menjadi asam asetat dan terbentuk gas-gas seperti gas H2, CO2,
NH4 dan S
Proses Methanogenisis : suatu proses yang merubah asam asetat
dan gas-gas yang dihasilkan pada proses acetogenisis menjadi
gas methane CH4 dan CO2

Aerob tersuspensi

Pada tangki digester dilengkapi dengan pengaduk


yang
bertujuan
untuk
mensuspensikan
mikroorganisme dalam digester. Pada bagian atas
tangki terdapat lubang (man hole) agar manusia
bisa masuk kedalam tangki digester untuk
maintenance (pemeliharaan) dan juga lubang kecil
untuk pengukuran tekanan didalam tangki
digester.
Gambar Tangki Digester

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi


anaerob

dengan

model

pertumbuhan

mikroorganisme

tersuspensi seperti berikut:

a. Pembiakan mikroorganisme dalam tangki digester.


b.

Gambar Operasional pengolahan air limbah


secara biologi anaerob tersuspensi

Alirkan air limbah kedalam tangki digester, besarnya


aliran air limbah diatur sesuai dengan waktu tiinggal
dalam tangki digester

c. Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan


dihasilkan gas-gas seperti CH4, CO2 dan NH3, gas-gas ini
akan memberikan tekanan pada tangki. Dalam rangka
mengatasi tekanan gas-gas tersebut, maka dibutuhkan
pengeluaran gas-gas tersebut secara kontinyu
d. Air limbah yang telah diolah, dialirkan kedalam tangki
clarifier yang bertujuan untuk memisahkan antara air
limbah hasil pengolahan dengan mikroorganismenya

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan model pertumbuhan
mikroorganisme melekat seperti berikut :
Pembiakan mikroorganisme dalam media trickling fliter, pembiakan mikroorganisme dilakukan
dengan mengalirkan mikroorganisme kedalam trickiling filter melalui distributor.
Alirkan air limbah kedalam trickling filter melalui distributor, pastikan aliran air limbah mengenai
media porous secara merata agar terjadi kontak antara air limbah dengan mikroorganismenya.
Air limbah yang telah berkontak dengan mikroorganisme akan keluar melalui bagian bawah
trickling filter, aliran air akan mengandung mikroorganisme dalam jumlah yang kecil,
mikroorganisme ini dipisahkan dalam tangki clarifier dan dialirkan kembali ke dalam trickling
filter, sedangkan air limbah hasil pengolahan akan mengalir secara over flow dari bagian atas
tangki clarifier.
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4, CO2, NH3,
gas-gas ini dikeluarkan dari bagian atas tangki trickling filter.
Gas-gas yang dihasilkan pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti CH4 dan
CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Anaerob Process
Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)
Pengolahan air limbah dengan metode pertumbuhan tersuspensi
(suspended growth) umumnya diaplikasikan sebagai Proses
Lumpur Aktif.

Langkah operasional lumpur aktif sebagai berikut :


Pembiakan mikroorganisme.
Air limbah yang telah terkondisi sesuai lingkungan mikroorganisme (pH normal dan
temperatur lingkungan serta kandungan logam berat kecil) dipompa dialirkan menuju
tangki aerasi.
Air limbah yang tercampur dengan mikroorganisme pada tangki aerasi akan keluar dari
tangki aerasi menuju tangki clarifier.
Mikroorganisme yang keluar dari bagian bawah clarifier, sebagian besar dipompa dan
dialirkan kembali ke tangki aerasi untuk proses berikutnya, dan sebagian kecil dibuang.
Mikroorganisme yang terbuang dari clarifier perlu dilakukan pengelolaan lebih lanjut
sehingga tidak mencemari lingkungan.

Model Kontak-Stabilisasi (Contact-Stabilization)


Model ini merupakan pengolahan air limbah secara biologi aerob.
Pengembangan model kontak-stabilisasi ini diharapkan dapat
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengolahan air limbah
secara biologi aerob, yaitu waktu proses pengolahan yang lebih
pendek dan hasil pengolahan air limbahnya yang maksimal.

Gambar Model Kontak-Stabilisasi

Model Kolam Oksidasi (oxidation Ditch)


Pada model ini tangki proses dibuat berkelok-kelok, dan proses
aerasi tidak dilakukan injeksi oksigen/udara secara langsung
melainkan mempergunakan rotor sejenis baling-baling. Rotor ini
berputar dan pada saat berputar air limbah akan berkontak
dengan udara. Air limbah dipompa dialirkan kedalam kolam
oksidasi, pada kolam oksidasi air limbah bercampur dengan
mikroorganimse berputar, panjang lintasan putaran tergantung
pada waktu kontak yang dibutuhkan.

Kolam Besar Aerasi (Aerated lagoons)


Pengolahan air limbah secara biologi aerob dengan model
Aerated lagoons (basins) membutuhkan luas lahan yang cukup
besar, hal ini dilakukan mengingat jumlah air limbah yang akan
dilakukan pengolahan sangat besar. Pada model ini dapat terjadi
2 (dua) proses yaitu aerob dan fakultatif.

Aplikasi Proses Pengolahan Biologi


Menurunkan senyawa organik karbon
Nitrifikasi
Denitrifikasi
Menurunkan senyawa fosfor
Stabilisasi limbah cair
Transformasi zat organik menjadi zat yang kurang berbahaya
Menggunakan kembali zat organik dalam air limbah (misalnya gas
metana).

Istilah-Istilah Pada Pengolahan Biologi


Anoxic Denitrification / Denitrifikasi Anaerob : nitrogen dari senyawa Nitrat dikonversi menjadi gas Nitrogen
tanpa oksigen
Biological nutrient removal : penghilangan senyawa nitrogen dan fosfor dalam proses pengolahan biologi
Facultative Process : proses pengolahan biologi dimana organisme berperan pada kondisi ada oksigen atau pun
tidak ada oksigen
Carbonaceous BOD removal : konsersi senyawa organik karbon pada limbah cair menjadi jaringan sel dan
berbagai gas, dapat diasumsikan Nitrogen dalam berbagai bentuk dikonversi menjadi amonia
Nitrification : amonia dikonversi menjadi nitrit kemudian dikonversi lagi menjadi nitrat
Denitrification : nitrat dikonversi menjadi nitrogen dan produk gas lainnya
Substrate : menandakan senyawa organik/nutrisi yang akan dikonversi selama proses pengolahan biologi atau
yang menjadi pembatas pada proses pengolahan biologi
Suspended-Growth Processes : mikroorganisme berperan untuk mengkonversi senyawa organik menjadi gas
/jaringan sel keberadaanya di air berupa suspensi.

KESIMPULAN

1. Bakteri dapat tumbuh atau berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner (paling umum)
dan seksual dengan rekombinasi genetik.
2. Pertumbuhan bakteri terbagi menjadi 4 fase yaitu fase lag, fase logaritmik, fase stasioner, dan fase
kematian.
3. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah nutrisi, suhu, pH, kandungan air, dan
kandungan oksigen.
4. Persamaan monod digunakan dalammenentukan laju pertumbuhan sel
5. Metabolisme endogen dan suhu mempengaruhi pertumbuhan sel
6. Laju pertumbuhan sel dapat dihitung dengan neraca massa menggunakan perhitungan yield sehingga
diketahui jumlah biomassa yang didapat dan diperoleh laju pertumbuhan sel
7. Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder,
pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa
dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.
8. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat
dibedakan menjadi dua jenis:
Proses Aerob, yang berlangsung dengan adanya oksigen
Proses Anaerob, tanpa adanya oksigen.
9. Sebagian besar pengolahan air limbah secara biologi menggunakan sistem aerob [dengan injeksi oksigen],
hal itu dikarenakan proses penguraian berjalan lebih cepat, biaya operasional relative murah, serta tidak
menimbulkan hasil sampingan yang berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA

Berlanga B (1998). Process, formula and installation for the


treatment and sterilization of biological, solid, liquid, ferrous
metallic, non-ferrous metallic, toxic and dangerous hospital
waste material. United States Patent : 5,820,541.
Christiani (2002). Pemanfaatan substrat padat untuk imobilisasi
sel lumpur aktif. Buletin Keslingmas.
Fogler (2006). Chemical
Pearson Eduaction.

Reaction

Engineering

4th

Edition.

Hermansyah, Heri (2015). PPT Kuliah: Bacterial Growth, Kinetics


in Bacterial Growth, and Biological Process Treatment.
Universitas Indonesia Depok.
Sumarsih, Sri (2003). Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar. UPN
Veteran Yogyakarta.