Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah


Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan makhluk hidup atau
makhluk hidup yang telah mati, meliputi kotoran hewan, seresah, sampah, dan berbagai
produk antara dari organisme hidup (Sumekto, 2006). Pupuk organik dapat berbentuk
padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Pupuk organik ada beberapa macam, yaitu pupuk kandang, pupuk hijau, bokashi, dan
kompos (Purwendro dan Nurhidayat, 2007). Menurut Jedeng, (2011) secara fisik bahan
organik berperan dalam : merangsang granulasi, menurunkan flastisitas dan kohesi,
memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya tahan tanah dalam menahan air sehingga
drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil, selain itu
dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas mikroganisme tanah. Pupuk organik
mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Pupuk organik bersifat bulky
dengan kandungan hara makro dan mikro sehingga diperlukan dalam jumlah banyak.
Salah satu jenis pupuk organik adalah pupuk kandang. Salah satu jenis pupuk organik
adalah pupuk kandang. Menurut Supardi, (2011) bahwa pupuk kandang memiliki sifat
yang alami dan tidak merusak tanah, menyediakan unsur makro (nitrogen, fosfor, kalium,
kalsium, dan belerang) dan mikro (besi, seng, boron, kobalt, dan molibdenium).
Supardi (2011) Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari campuran
kotoran ternak dan urine serta sisa-sisa makanan yang tidak dihabiskan dan umumnya
berasal dari ternak sapi, ayam, kerbau, kuda babi dan kambing. Selain itu pupuk kandang
berfungsi untuk meningkatkan daya menahan air, aktivitas mikrobiologi tanah, nilai
kapasitas tukar kation dan memperbaiki struktur tanah. Menurut Parnata, (2004) pupuk

kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:


1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara
perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk
yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.
2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan
mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang
berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam.
Menurut Supardi (2011) pengaruh pemberian pupuk kandang secara tidak langsung
memudahkan tanah untuk menyerap air. Selain itu juga menambahkan bahwa pupuk
1

kandang mempunyai beberapa manfaat dari penggunaannya pada tanaman. Pupuk


kandang dapat menyediakan unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Ca, Mg, S, Na, Fe,
Cu, Mo). Daya ikat ionnya tinggi sehingga akan mengefektifkan penggunaan pupuk
anorganik dengan meminimalkan kehilangan pupuk anorganik akibat penguapan atau
tercuci oleh hujan. Selain itu, penggunaan pupuk kandang dapat mendukung
pertumbuhan tanaman karena struktur tanah sebagai media tumbuh tanaman dapat
diperbaiki. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk
alternatif untuk mempertahankan produksi tanaman.
Salah satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah
kambing. Kotoran kambing mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara
bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi). Proses ini terjadi secara bertahap
dengan melepaskan bahan organik yang sederhana untuk pertumbuhan tanaman. Feses
kambing mengandung sedikit air sehingga mudah diurai (Puspitasari, 2011).
Selajutnya Puspitasari juga menjelaskan bahwa kotoran kambing bisa di
manfaatkan sebagai pupuk organik dianjurkan dikomposkan dahulu hingga matang. Ciriciri kotoran kambing yang telah matang suhunya dingin,kering dan relatif sudah tidak
bau. Tekstur dari kotoran kambing adalah khas, karena berbentuk butiranbutiran yang
agak sukar dipecah secara fisik sehingga sangat berpengaruh pada proses dekomposisi
dan proses penyediaan haranya, nilai rasio C/N pupuk kambing umumnya masih diatas
30. Pupuk yang baik harus mempunyai rasio C/N < 20, sehingga pupuk kambing lebih
baik bila dikomposkan terlebih dahulu. Kadar air pupuk kandang kambing lebih rendah.
Kandungan hara pupuk kandang kambing mengandung K (kalium) yang relative lebih
tinggi dari pupuk kandang lainnya. Sementara kadar N dan P hampir sama dengan pupuk
kandang lainnya. Selain unsur hara makro, kotoran kambing juga menyediakan unsurunsur mikro seperti Mn, Zn dan Cu yang dibutuhkan oleh tanaman.
Proses pengomposan terbagi menjadi dua yaitu aerob dan anaerob. Dalam proses
pengomposan peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua
mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang
mengandung karbon. Proses pengomposan secara aerob, lebih cepat dibanding anaerob
dan waktu yang diperlukan tergantung beberapa faktor, antara lain : ukuran partikel bahan
kompos, C/N rasio bahan kompos, keberadaan udara (keadaan aerobik), dan kelembaban.
Kompos yang sudah matang diindikasikan oleh suhu yang konstan, serta memiliki ciri
dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum
memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan.
2

Semakin kecil ukuran bahan, proses pengomposan akan lebih cepat dan lebih baik
karena mikroorganisme lebih mudah beraktivitas pada bahan yang lembut daripada bahan
dengan ukuran yang lebih besar. Ukuran bahan yang dianjurkan pada pengomposan
aerobik antara 1-7,5 cm. Sedangkan pada pengomposan anaerobik, sangat dianjurkan
untuk menghancurkan bahan selumatlumatnya sehingga menyerupai bubur atau lumpur.
Hal ini untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri dan mempermudah
pencampuran bahan (Yuwono, 2006).
Dari pokok masalah di atas maka penulis merancang sebuah mesin yang dapat
mampu menghancurkan kotoran kambing agar penggunaan kotoran kambing lebih efektif
dan lebih sempurna dalam pengomposanya dan penggunaannya sebagai bahan dasar
pupuk organik.
1.2.

Rumusan Masalah
Rancangan mesin penghancur kotoran kambing dapat diambil rumusan masalah
sebagai berikut:
1) Bagaimana mendesain dan merancang mesin penghancur kotoran kambing?
2) Bagaimana perawatan mesin penghancur kotoran kambing tersebut?

1.3.

Batasan Masalah
Agar permasalahan yang dibahas dapat mengarah pada sasaranya, maka penulis
membatasi pada bagian utama yang menunjang alat ini sebagai berikut:
1) Merancang konstruksi rangka menggunakan las listrik dan mur-baut, serta
menggunakan belt dan puli untuk sistem pemindah daya.
2) Melakukan perawatan & perbaikan.

1.4.

Tujuan dan Manfaat


Dari rumusan masalah yang telah ada maka tujuan dari pembuatan alat ini adalah:
1. Memudahkan petani untuk menghancurkan kotoran kambing sebagai bahan dasar
pupuk organik.
Untuk manfaat yang dapat di ambil adalah:
1. Agar dengan adanya mesin ini pemanfaatan kotoran kambing dapat dengan optimal
dalam pemakaianya sebagai pupuk.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.

Tinjauan Pustaka

1. Pupuk

Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia
atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman Hidayati
(2013). Menurut Supardi (2011) pupuk merupakan bahan yang mengandung sejumlah
nutrisi yang diperlukan bagi tanaman. Pemupukan adalah upaya pemberian nutrisi
kepada tanaman guna menunjang kelangsungan hidupnya. Pupuk dapat dibuat dari
bahan organik ataupun anorganik. Pemberian pupuk perlu memperhatikan kebutuhan
tumbuhan, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan atau terlalu
sedikit karena dapat membahayakan tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah
ataupun disemprotkan ke daun. Sejak zaman purba sampai saat ini pupuk organik
diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Hidayati
(2013) juga menuturkan bahwa pupuk dibedakan menjadi dua yaitu pupuk organik dan
pupuk anorganik. Pupuk anorganik terdiri dari pupuk kimia seperti pupuk urea, pupuk
super fosfat, pupuk kalium, pupuk amoniak dan yang lainnya. Pupuk organik terdiri
dari berbagai macam pupuk hijau, hasil buangan dari binatang serta kotoran binatang
atau ternak (kotoran sapi, babi, ayam dan lain-lain).
Penggunaan pupuk kimia secara berkelanjutan menyebabkan pengerasan tanah.
Kerasnya tanah disebabkan oleh penumpukan sisa atau residu pupuk kimia, yang
berakibat tanah sulit terurai. Sifat bahan kimia adalah relatif lebih sulit terurai atau
hancur dibandingkan dengan bahan organik. Menurut Supardi (2011) semakin
kerasnya tanah dapat mengakibatkan :
1. Penggunaan konsentrasi pupuk lebih tinggi untuk mendapat hasil sama dengan hasil
panen sebelumnya.
2. Tanaman semakin sulit menyerap unsur hara.
3. Proses penyebaran perakaran dan aerasi (pernafasan) akar terganggu berakibat akar
tidak dapat berfungsi optimal dan pada gilirannya akan menurunkan kemampuan
produksi tanaman tersebut.
Penambahan bahan organik dalam tanah lebih kuat pengaruhnya kearah
perbaikan fisik tanah dan bukan khusus untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah
menurut Jedeng (2011). Lebih lanjut telah dijelaskan secara fisik bahan organik
berperan

dalam

merangsang

granulasi,

menurunkan

flastisitas

dan

kohesi,

memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya tahan tanah dalam menahan air
sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil,
selain itu dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas mikroganisme tanah. Bahan
organik yang dibenamkan dalam tanah akan mengalami penguraian menjadi bentuk
4

bentuk

sederhana

menghasilkan

CO2

oleh

mikroorganisme.

Proses

penguraian

tersebut

akan

dan air, sedangkan senyawa nitrat akan terbentuk setelah

melelui nitrifikasi. Sumber utama bahan organik adalah sisa tanaman yang
dikembalikan ke dalam tanah dan pupuk organik.
2. Pupuk kandang
Supardi (2011) Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari campuran
kotoran ternak dan urine serta sisa-sisa makanan yang tidak dihabiskan dan umumnya
berasal dari ternak sapi, ayam, kerbau, kuda babi dan kambing. Pupuk kandang adalah
pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan
untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti
kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga
bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urin) hewan Parnata, (2004).
Kotoran ternak menurut Hidayati (2013) merupakan sisa hasil metabolisme dari
ternak yang tidak dapat dimanfaatkan lagi oleh ternak. Kotoran ternak dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena kotoran ternak memiliki komposisi
kandungan unsur-unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Selain itu,
kotoran ternak juga memiliki asal usul hayati dan mengandung bahan organik yang
terurai.
Lebih lanjut Parnata, (2004) menjelaskan bahwa pupuk kandang terdiri dari dua
bagian, yaitu:
1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara
perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk
yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.
2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan
mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang
berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam.
Menurut Supardi (2011) bahwa pupuk kandang memiliki sifat yang alami dan
tidak merusak tanah, menyediakan unsur makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan
belerang) dan mikro (besi, seng, boron, kobalt, dan molibdenium). Selain itu pupuk
kandang berfungsi untuk meningkatkan daya menahan air, aktivitas mikrobiologi
tanah, nilai kapasitas tukar kation dan memperbaiki struktur tanah.

Selanjutnya Supardi (2011), pupuk kandang mempunyai beberapa manfaat dari


penggunaannya pada tanaman. Pupuk kandang dapat menyediakan unsur hara makro
(N, P, K) dan Mikro (Ca, Mg, S, Na, Fe, Cu, Mo). Daya ikat ionnya tinggi sehingga
akan mengefektifkan penggunaan pupuk anorganik dengan meminimalkan kehilangan
pupuk anorganik akibat penguapan atau tercuci oleh hujan. Selain itu, penggunaan
pupuk kandang dapat mendukung pertumbuhan tanaman karena struktur tanah sebagai
media tumbuh tanaman dapat diperbaiki. Menurutnya pengaruh pemberian pupuk
kandang secara tidak langsung memudahkan tanah untuk menyerap air.
3. Pupuk kandang kambing
Pupuk kandang kambing merupakan pupuk berasal dari hasil dekomposisi
kotoran kambing baik itu berbentuk padat maupun cair. Unsur hara dalam pupuk
kandang kambing sangat bervariasi tergantung pada jenis pakan yang diberikan dan
cara penyimpanan pupuk kandang tersebut. Umumnya pupuk kandang kambing

mengandung :

H
( 2 O)

68%, (N) 0,95%,

O) 0,35%, dan

( K 2 O)

1,00%

menurut tabel 1 Hidayati (2013).


4. Alat penghancur
Perabot seukuran meja makan mini (panjang 1,6 meter, tinggi 1,35 meter, lebar
0,9 (meter) itu berfungsi menghancurkan sampah organik-organik seperti batang,
daun, dan ranting menjadi lebih halus. Hasil olahan lalu dijadikan pupuk kompos.
Cara kerja mesin ini seperti mesin penggiling: memotong, mengaduk-aduk, dan
mengubah timbunan sampah dedaunan menjadi material organik yang halus.
Berpuluh-puluh kilogram tumpukan sampah dedaunan dapat segera disulap menjadi
bubur serat dalam hitungan menit.
Mesin pencacah bahan baku dalam pembuatan kompos ada beberapa model yakni:
1. Model MPO-100 dilengkapi dengan penggerak (electic motor/listrik 2-3 kw atau
atau mesin tempel 5-7 Hp) yang berkapasitas produksi sekitar 1 ton/hari.
2. Model MPO-500 dilengkapi dengan penggerak (eletric motor/listrik 10 kw atau
mesin tempel 12-16 Hp) yang berkapasitas produksi 3-5 ton/hari.

3. Model MPO-1000 dilengkapi dengan penggerak (electric motor/listrik 15 kw atau


mesin tempel 20-22 Hp) yang berkapasitas produksi 7-10 ton/hari (Sofian, 2006).
Mesin pencacah sampah plastik terdiri da ri 5 bagian utama yaitu rangka, unit

masukan material, unit pencacah, unit penyaluran hasil caca han, dan sistem penerusan
daya. Sedangkan kebutuhan daya dihitung sesuai dengan beban yang ditimbulkan dari
unit pencacah. Rangka utama terbuat dari besi siku 40mm x 40mm dan b esi plat sebagai
landasan. Unit masukan material terbuat dari besi plat tebal 2mm yang disatukan

dengan penutup unit pencacah dengan pengikatan yang dapat dilepas pasang agar
proses bongkar pasang dapat dilakukan dengan mudah. Unit pencacah terdiri dari
pisau putar dan pisau tetap. Pisau putar terdiri dari 6 buah pisau cacah dengan ukuran
170mm x 70mm x 8mm yang dipasang pada poros penggerak menyatu dengan pelat
dudukan pisau putar. Pisau tetap terdiri dari 4 buah pisau cacah dengan ukuran 170mm
x 40mm x 10mm yang diikat pada dudukan pisau dinding cover. Mesin pencacah
sampah plastik yang dibuat menggunakan sistim menggunting dengan konstruksi alat
potong terdiri dari 6 pisau putar dan 4 pisau tetap yang diikat pada dinding cover.
Mesin ini dioperasikan dengan menggunakan motor listrik dengan menggunakan
elemen transmisi puli dan sabuk. Hasil dari mesin ini berupa serpihan kecil dengan
ukuran 10-15mm dan dalam waktu 1 jam, mesin dapat mencacah sampah plastik
sebanyak 20 kg (Robert Napitupulu, M.Subkhan, Lestary Dwi Nita) 2011.
2.2. Rancang Bangun Mesin Penghancur Kotoran Kambing
A. Motor listrik
Motor listrik adalah mesin yang mengubah energi listrik mrnjadi energi
mekanik. Dapat berupa motor arus searah maupun arus bolakbalik. Alat ini bias
disebut juga sebagai generator atau dinamo karena dapat mengubah energi mekanin
menjadi energi listrik. Motor listrik arus searah mengubah energi listik menjadi energi
mekanis beruka putaran yang akan di gunakan sebagai pemutar peralatan produksi.
Motor listrik berfungsi sebagai pengubah energi listrik menjadi energi mekanik.
Pada konstruksinya mesin terbuat dari dua buah katub magnet yang terdiri dari lilitan
jangkar (gulungan) yang terbuat dari lilitan kawat baja. Motor listrik sendiri di
bedakan menjadi dua yaitu motor listrik searah dan motor listrik bolakbalik.
Daya motor yaitu suatu ukuran menentukan performa motor. Sedangkan
rumusan untuk menghitung besarnya daya motor adalah :
2. .N .T
P=
(Khurmi 1980 : hal 107)
60

Dimana :

P = Daya yang di pindahkan (Watt)


N = Putaran Motor (rpm)
T = Momen Torsi (Nm)
= 3.14

B. Poros
Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang bulat
di mana terpasang elemenelemen seperti roda gigi (gear), pulley, flyell, engkol,
sprocket dan elemen pemindah lainya. Poros bisa menerima beban lenturan, beban
tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri atau berupa gabungan
satu dengan lainnya (shigley , 1983).
1. Macam-macam poros
Pembagian poros untuk meneruskan daya dikelasifiasikan berdasarkan
pembebanannya sebagai berikut :
a. Poros trasmisi
Poros trasmisi lebih dikenal dengan sebuah shaft. Shaft akan mengalami
beban puntir berulang, beban lentur berganti ataupun kedua-duanya. Pada shaft,
daya dapat di trans misikan melalui gear, pulley, sprocket rantai, dll.
b. Poros spindle
Poros spindle adalah poros trasmisi yang relatif pendek, misalnya pada
poros utama mesin perkakas dimana beban utama adalah beban puntiran.
c. Poros gandar
Poros gandar adalah poros yang dipasang diantara roda-roda kereta barang.
Poros gandar tidak mendapat beban puntir dan hanya mendapat beban lentur.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung poros dengan pembebanan momen
puntir antara lain :
1. Daya rencana (Pd ) .(kW)
Pd =f c . P (Kiyokatsu, S. 1979, hal 7)
Dimana :

P = Daya yang di transmisikan (kW)


fc
= Faktor koreksi
Pd

= Daya (kW)

2. Momen puntir
Jika momen puntir :
2. . n1
T
.(
)
1000
60
(Kiyokatsu, S. 1979, hal 7)
Pd =
120

Sehingga,
T =9.74 x 10 5 .
Dimana :

Pd
n1
T = Momen rencana (kg/mm)
n1
= Putaran motor (rpm)

3. Tegangan geser yang diijinkan


B
a=
Sf 1 . Sf 2 .(Sularso, 1991 hal.8)
Dimana :

Sf 2

= Faktor keamanan

= Tegangan geser yang dijinkan (kg/mm)

4. Diameter poros
5.1

. Kt . Cb. T
a
(Kiyokatsu, S.1991, hal 8)
D s=
Dimana :

Ds

= Diameter poros (mm)

Kt

= Faktor pembebanan secara halus

Cb

= Faktor pembebanan lentur

= Tegangan geser yang dijinkan (kg/mm)

C. Puli
Puli berfungsi sebagai meneruskan daya untuk memutar poros yang satu ke
poros yang lain di hubungkan dengan menggunakan sabuk (belt) atau tali. Untuk
kecepetan tergantung pada perbandingan diameter puli yang di gunakan.
Perbandingan kecepatan pada puli berbanding terbalik dengan diameter puli
seperti persamaan di bawah ini :
D1 N 2
=
D2 N 1 (Khurmi, 2002 hal: 619)
Dimana :

D = Diameter puli (mm)


N = Kecepatan putaran puli (rpm)

D. Sabuk / belt
Sabuk adalah salah satu bagian dari elemen mesi yang dapat mentrasmisikan
daya, dimana sabuk di hubungkan dengan puli yang berada di poros.
Sabuk / belt di klasifikasikan menjadi 3 adalah :
9

1. Flat belt
Belt ini digunakan untuk mentrasmisikan daya dari satu puli ke puli yang lainya
dengan jarak tidak lebih dari 10 m
2. Cercolar belt/rope
Belt ini digunakan untuk mentrasmisikan daya dari satu puli lain dengan jarak lebih
dari 5 m
3. Van belt (sabuk V)
Sabuk jenis ini untuk mentrasmisikan daya dimana jarak dari kedua puli dekat

Gambar : 1.1. Dimesi Belt (Sumber : Sularso & Kiyokatsu S., 2004)
Untuk menghitung panjang sabuk (L) :
d
sin 2 D p
L= ( 2 ) +2C 1
+ ( +2 )
2
2
2

2C + ( d p + D p ) + ( d pD p ) 2C sin2
2

1
2C + ( d p + D p ) +
( d D p ) ......( Sularso,1979 hal 170 )
2
4C p

Dimana :

L = Panjang sabuk V yang digunakan (mm)


Dp

= Diameter puli besar (mm)

dp

= Diameter puli kecil (mm)

= Sudut singgung ( )
C = Panjang antar poros puli (mm)
10

Untuk menghitung kecepatan sabuk :


V=

. d p .n 1
60 x 1000 ..(Sularso,1991:166)
Dimana: V
dp
n1

= kecepatan puli (m/s)


= diameter puli kecil(mm)
= putaran puli kecil (rpm)

E. Bantalan
Bantalan adalah bagian dari elemen mesin yang memegang peran cukup
penting. Bantalan berguna untuk menumpu poros dan memberi kemungkinan poros
dapat berputar bersamanya atau berputar padanya tanpa mengalami gesekan. Bantalan
dapat dikasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a. Bantalan luncur (sliding cotact bearing)
Bantalan ini akan tarjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena
permukaan poros ditumpu oleh bantalan.
b. Bantalan gelinding (rolling contact bearing)
Bantalan akan terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan bagian
yang diam dengan elemen gelinding seperti roll maupun peluru.
Ditinjau dari keadaan beban pada bantalan dapat juga di bedakan :
1. Bantalan radial
Gaya tekan bekerja arah radial (tegak lurus sumbu).
2. Bantalan aksial
Arah beban bantalan sejajar dengan sumbu poros.
3. Bantalan aksial-radial (bantalan gelinding khusus)
Bantalan ini mampu menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu
poros.
Fungsi bantalan gelinding adalah gesekan kecil, sedikit memerlukan pelumasan,
tetapi banyak konsumen lebih memilih bantalan luncur dalam hal tertentu karena
bantalan ini dapat lebih tahan terhadap gaya-gaya kejutan, gaya sentifugal dan putaran
tinggi.
Beban rata-rata bila putara tetap dapat di hitung menggunakan rumus :
Pm= p a 1. p + a2 . p2p + a n . p np .....(S Kiyokatsu Suga, 2004 Hal 138)
p
1

Dimana P = 3 bantalan bola dan

percobaan, sedangkan harga

10
3

10
3

untuk bantalan roll. Harga P = 3 di peroleh dari

ditetapkan atas dasar studi oleh banyak peneliti.

Misalkan :
11

Lh atau Ln > Lha .............................................( S Kiyokatsu Suga, 2004 hal 147)

Dimana :

Lh

= Umur nominal andalan (jam)

Ln

= Andalan umur (jam)

Lha = Umur bantalan (jam)

F. Rangka
Rangka merupakan bagian dari mesin yang berfungsi sebagai penahan dari
seluh komponen-komponen dari mesin. Berikut ini langkah-langkah perakitan rangka :
1 Pengurangan volume bahan
Pengurangan volume bahan merupakan langkah pembentukan bahan bakal yang
akan menjadi komponen yang akan digunakan untuk suatu produk yang akan di
buat. Contoh dari pengurangan volume bahan sebagai berikut :
a Pemotongan logam
b Pengeboran pada logam
c Penggerindaan
d Pengikiran
2 Proses penyambungan
Produk yang terdiri dari dua atau lebih bagian memerlukan suatu proses
penyambungan (Djaprie,1985 hal.8)
a Pengelasan
Mengelas adalah menyambung

dua bagian logam dengan cara

memanaskan sampai suhu lebur dengan memakai bahan pengisi atau tanpa
bahan pengisi. Proses pengelasan adalah proses penyambungan logam dengan
menggunakan energi panas. Sambungan las mempunyai tingkat kerapatan yang
baik serta mempunyai kekuatan sambungan yang memadai.
Sambungan las dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Tegangan geser yang terjadi
f s=

P
2.t . I

f t=

p .e .3. 2
t . I2

Dimana :

fs

= Tegangan geser (kg/ cm

ft

= Tegangan tarik (kg/ cm

)
)
12

P = Beban tarik (kg)


I = Panjang lasan (cm)
T = Tebal penampang plat (cm)
Untuk menghitung tegangan geser maksimum dan tegangan tarik maksimum:

Tegangan geser maksimum :


1
f s(maks) = f t 2 + 4 f s2
2

Tegangan tarik maksimum :


f 1
f t(maks) = b + f t 2 + 4 f s2
2 2

Penyambungan dengan mur-baut


Penyambungan mur-baut adalah alat yang penting dalam suatu rangkaian
mesin. Penyambungan dengan mur-baut dilakukan pada dua atau lebih bagian
mesin yang bertujuan untuk memudahkan dalam bongkat maupun pasang alat
tersebut. Untuk pemilihan mur-baut harus dilakukan dengan teliti untuk
mendapatkan ukuran beban yang diterimanya sebagai usaha untuk mencegah
terjadinya kerusakan pada rangkaian mesin. Sambungan ini dapat di gunakan pada
motor listrik, bantalan, puli, dan lainya.

Proses finising
Finising adalah proses yang dilakukan pada tahap terakhir untuk
mendapatkan benda yang memiliki bentuk halus, rapih, serta menghasilkan lapisan
pelindung.
a. Pengamplasan
Pengamplasan adalah proses berfungsi untuk membersihkan dan
memperhalus benda kerja untuk mendapatkan bentuk yang halus, licin, dan rapi.
Pengamplasan biasa dilakukan manual dan dengan mesin tergantung dengan
penggunaanya.
b. Pendempulan
Pendempulan dilakukan untuk menutupi celah-celah yang ada akibat
proses pengerjaan agar tertutup rata permukaan yang bercelah. Proses ini
dilakukan setelah alat jadi dan sebelum pengecatan.
13

c. Pengecatan
Pengecatan adalah proses terakhir dari suatu alat yang di buat. Proses ini
adalah melapisi alat dengan menggunakan cat berwarna bermanfaat untuk
mengurangi korosi, menghasilkan penampilan yang menarik, mempunyai nilai
estetika dll.
5

Menghitung reaksi tumpu


Pada pembebanan reaksi tumpuan di titik A, yaitu
yaitu

RB

RA

dan reaksi di titik B,

. Gaya-gaya reaksi dapat ditenkan dangan mengunakan syarat

kesetimbangan gaya yaitu:

Gambar : 1.2. Reaksi tumpu beban berbagi rata


Sumber : Prof. Soedarto, 2000 hal. 35
Dimana :

R = Berat beban terbagi rata pada pusat beratnya


L = Panjang beban terbagi rata

1. Untuk mencari momen di titik A


MB=0
Gaya dimomenkan di titik B sama dengan nol
1
RB . L=R . . L
2
1
W . L. . L
2
RB =
L

14

1
RB = .W . L ....(Prof. Soedarto, 2000 hal.
2
36)
2. Untuk mencari momen di titik B
MA=0
Gaya dimomenkan di titik A sama dengan nol
R A =RR B
1
R A =R W . L
2
1
R A =W . L W . L
2
1
R A = .W . L .....(Prof. Soedarto, 2000 hal. 36)
2
3. Mencari gaya lintang
Dengan syat kesetimbangan , jumlah gaya vertical sama dengan nol :
Di titik A, DA = RA, di titik x
D x =R AR+ R B
4. Menghitung momen lentur
Momen maksimum terjadi di tengah batang (L), momen pada ujung batang :
L = 0, MA = MB = 0
Jadi momen di titik x :
1
M max= . ( R A . L )(RL2) (S. Ttimoshenko 1989, hal. 112)
2

BAB III
METODELOGI PERANCANGAN
3.1.

Diagram alir

Mulai

15

Studi Literatur

Studi Lapangan
Sketsa Pembuatan Alat
Perhitungan
Pembahasan

Tidak

Pengujian Mesin

Pengambilan Data

Pengolahan Data

Pembahasan

Kesimpulan dan Saran


Selesai

3.2.

Prosedur perancangan dan penelitian


Langkah-langkah dalam perencanaan dan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Mempersiapkan gambar kerja


2. Mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat komponen yang akan dibuat
3. Mempersiapkan komponen yang akan dibeli langsung dipasaran yang diperlukan
4. Melakukan perakitan mesin
5. Melakukan uji mesin
16

6. Pengambilan data
7. Pengolahan data hasil penelitian
3.3.

Parameter penelitian

Daya rencana (Pd) dalam Kw

Momen puntir (kg mm)

Kapasitas produksi (kg/jam)

3.4.

Spesifikasi Mesin dan Alat

a. Spesifikasi mesin yang digunakan :


1. Motor
Tipe

: jxjc 46

Daya motor

: 0,25 hp, 1 phase

Tegangan motor : 220 v


Putaran motor

: 1500 rpm

b. Alat yang akan digunakan

Alat ukur yang diperlukan

Material benda kerja

Gergaji Besi

Las Listrik

Mesin Bubut

Mesin Gurdi

Mesin Gerinda Tangan

Gunting Plat

Palu

Kikir

3.5.

Tempat Pembuatan dan Penelitian


Tempat yang digunakan untuk membuat alat adalah Bengkel permesinan. Untuk
tempat pengujian mesin di bengkel Universitas Surakarta.

3.6.

Proses Pembuatan Mesim Penghancur Kotoran Kambing


N
O

Operasi kerja

Mesin

yang Waktu pengerjaan (menit)

digunakan
17

1.

Kerangka
Potong bahan besi siku Mesin gergaji potong
50x50 panjang 500 mm
2 biji, panjang 300 mm
2 biji, panjang 200 mm
2 biji, panjang 280 mm
7 biji, panjang 600 mm
2 biji.

Gerinda sisi yang


tajam

Las seperti gambar

Gerinda bekas las

2.

Poros putar
Potong bahan poros

Mesin gergaji potong

dengan panjang 280


mm dan bubut rata

Mesin bubut

seperti gambar serta


bor

pada

ujungnya

Mesin bor

untuk baut pulli dan


betu gerida.
3.

Cover batu gerinda +


cerobong masuk dan

4.

keluar
Potong plat besi 200
mm, las dan bor sesuai

Gunting plat, las listrik,


mesin Bor.

dengan gambar

3.7. Jadwal perancangan

No
1

Jadwal
rancangan

Mei 2014 `
1 2 3 4

Waktu / bulan
Juni 2014
Juli 2014
Agustus 2014
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Desain &gambar
18

2
3
4
5
6

Proposal
Pembuatan alat
Pengujian
pelaporan
seminar

BAB IV
METODE PERANCANGAN
4.1 Perhitungan Dan Perencanaan
A. Motor listrik
Dengan pertimbangan kinerja mesin agar berfungsi dengan maksimal dan
ketersediaan motor listrik di pasaran, maka motor yang digunakan adalah motor
dengan daya Hp.
Spesifikasi motor listrik yang digunakan:
a. P = Hp, 1 phase
19

b. N = 1500 rpm
c. Tegangan = 110/220V
B. Poros
Putaran motor (n)
= 1500 rpm
1 HP
= 0,736 kW
Daya (p)
= 0,25 HP = 0,25 x 0,736 = 0,184 kW
Faktor koreksi (Fc)
=2
1. Daya rencana (Pd)(Kw)
Pd =f c x P
Pd =2 x 0,184
Pd =0,638 kW
2. Momen rencana

T
Torsi pada poros motor ( 1)

T 1 =9.74 x 105 .

Pd
n1

T 1 =9.74 x 105 .

0,638
=414,27(kg . mm)
1500

T
Torsi pada poros motor ( 2)

T 2 =9.74 x 105 .
5

T 2 =9.74 x 10 .

Pd
n2
0,638
=621,4(kg . mm)
1000

3. Tegangan geser yang diijinkan


Sf 1 =6

; Karena bahan poros S-C 37 ;

a=

B
Sf 1 . Sf 2

a=

37
37
=
6 x 3 18

a =2,055

B=37

kg
mm

kg
mm

4. Diameter Poros
20

50

150

80

RHA

RHB

RVA
WV 2

WH = 2,055

RVB
WV 1

= 0,5

= 2,7

Momen yang terjadi pada setiap titik horizontal


MA = 0
-(RHB.150) - (

WH 1

. 50) + (

WH 2

. 230) = 0

-RHB . 150 - (2,055 . 50) + (2.055 . 230) = 0


-RHB . 150 102,75 + 472,65 = 0
RHB=

369,9
=2,466 kg
150

FH = 0
RAH + RHB -

WH 1

WH 2

=0

RAH + 2.466 2,055 2,055 = 0


RAH =

4,11
=1,66 kg
2,466

Momen yang terjadi pada setiap titik horizontal


MC =
MA = -

WH 1
WH 1

.0=0
. 50

= - 2,055 . 50 = 102,75 kgmm


MB = -

WH 1

. 200 + RAH . 150

= - (2,055 . 200) + 1,66 . 150


= - 411 + 249 = -162 kgmm
MD = -

WH 1

. 280 + (RAH . 230) + (RBH . 80)

= - (2,055 . 280) + (1,66 . 230) + (2,466 . 80)


= 3,68 kgmm
21

Momen yangterjadi pada setiap titik vartikal


MB = 0
-(RVB.150) + (

WV 1

WV 2

. 230) - (

. 50) = 0

-RVB . 150 + (2,7 . 230) - (0,5. 50) = 0


-(RVB . 150) + (621 25) = 0
RVB=

596
=3,97 kg
150

FV = 0
WV 1

RAV + RVB RAV =

WV 1

WV 2

WV 2

=0

- RVB= 0

RAV = 0,5 + 2,7 - 3,97 = 0


RAV =0,5+2,73,97=0,77 kg

Momen yang terjadi pada setiap titik horizontal


MC =
MA = -

WV 2

.0=0

WV 2

. 50

= -0,5. 50 = - 25 kgmm
MB = -

WV 2

. 200 + RAV . 150

= - (0,5 . 200) + 0,77 . 150


= - 100 + 33 = - 215,5 kgmm
MD = -

WV 2

. 280 + (RAV . 230) + (RVB . 80)

= - (0,5 . 280) + (0,77 . 230) + (3,97 . 80)


= 0,5 kgmm
C. Perhitungan sabuk dan puli
Daya (p)
= 0,25 HP = 0,25 x 0,75 = 0,1875 Kw
Putaran motor (n)
= 1500 rpm
Penampang sabuk V type A
d
Diameter puli ( p ) = 95 mm
22

D1 3
=
D2 2

Untuk perbandingan putaran :

D
1. Diameter puli pada poros putar ( p )
Putaran poros

D1 N 2
=
D2 N 1

D1
=i
D2
n2=n1 x

1500

1
i

1
3
2

3
Dp= .95=142,5mm
2
Sudut 34
L0=9,2

W = 11,95
K 0=8

K = 4,5
E = 15

F = 10

dk =dp+2 K=95+2 x 4,5=104 mm


Dk = Dp + 2K = 142,5 + 2 x 4,5 =151,5 mm
5
5
db= ds 1+10= x 12+10=30mm
3
3
5
5
Db= ds 2+10= x 14 +10=33,33 mm
3
3
2. Kecepatan sabuk V
. d p .n 1
V=
60 x 1000
V=

3,14 . 9,5 .1500


60 x 1000

V =7,5
C=

m
s

dk + Dk 104+151,5
=
=127,75 mm
2
2

3. Panjang Keliling Sabuk V

1
L=2 C+ ( d p + D p ) +
( d D p )
2
4C p
2.127,75+

3,14
1
( 95+142,5 ) +
( 142,595 )
2
4 . 127,75
23

632,790 mm
Jadi karena panjang sabuk yang digunakan yang ada dipasaran adalah L = 660 mm
4. Menentukan jarak sumbu poros
b+ b28 (Dpdp)
C=
8
Dimana :
b=2 L3,14( Dpdp)
2.6603,14(142,595)
574,25 mm

Maka :
574,25+ (574,25)28(142,595)
C=
8
141,570 mm
5. Sudut Kontak
57 ( Dpdp)
=180
C
=180

57 (142,595)
141,570

=160,875

24

BAB V
PERBAIKAN DAN PERAWATAN
5.1.

Perbaikan
Perbaikan yang diperlukan dalam mesin penghancur kotoran kambing adalah :
1. Cepat mengganti komponen apabila terjadi kerusakan agar tidak membahayakan
komponen yang lainnya.
2. Selalu mengganti dengan suku cadang yang standart

5.2.

Perawatan
Aadapun perawatan yang diperlukan dalam mesin penghancur kotoran kambing adalah :
1. Selalu mengecek setiap bagian mesin sebelum diguakan.
2. Selalu membersihkan setiap bagian mesin setelah digunakan berproduksi.
3. Cek Bantalan dan diberi pelumas supaya memperpanjang dari bantalan tersebut.
4. Mesin harus bekerja sesuai dengan kemampuannya dan kapasitasnya dalam
memproduksi.

25

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasi perancangan didapat :
1. Alat yang dirancang adalah alat penghancur kotoran kambing dengan mekanisme
penggerak motor 0,25 hp, terdiri dari 2 buah piringan gerinda setatis dan dinamis
sehingga proses penghancuran kotoran kambing lebih cepat. Alat penghancur kotoran
kambing ini dirancang untuk mempermudah petani menghancurkan kotoran kambing
sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik. Hasil uji keseragaman data, kecukupan
data dan perhitungan nilai persentil, dapat ditentukan ukuran rangka alat dengan tinggi
90 cm, lebar 28 cm dan panjang rangka 60 cm.
6.2. Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan dan pengembangan perancangan selanjutnya,
yaitu:
1. Peneliti selanjutnya disarankan merancang alat penghancur kotoran kambing
menggunakan mata pisau untuk penghancurnya karena terkadang banyak sekali
kotoran kambing yang bercampur dengan benda-benda keras seperti kayu, karena
dengan menggunakan batu gerinda sangan tidak mungkin dalam penghancurannya.

26

DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, E., 2013. kandungan fosfor rasio C/N dan ph pupuk cair hasil fermentasi
kotoran berbagai ternak dengan starter stardec. Skripsi : ikip pgri semarang fakultas
pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam program studi pendidikan biologi

Jedeng, I.W., 2011. Pengaruh jenis dan dosis pupuk organik Terhadap pertumbuhan
dan hasil Ubi jalar (ipomoea batatas (l.) Lamb.) Var. Lokal ungu. Tesis : program studi
pertanian lahan kering. Program pascasarjana Universitas udayana Denpasar

Khurmi .R.S Gupta.J.K. Macune design. Eurada publishing House. New delhi : 1980

Parnata, A.S., (2004). Pupuk Organik Cair. Jakarta : PT Agromedia Pustaka

Shigley. Mechanikal Enjineering Design. English : 1983

Sularso, Kiyokatsu S. Dasar Perancanaan Dan Pemilihan Elemen mesin. Pradya


Paramita Jakarta : 1979

Supardi, A., 2011. Aplikasi

pupuk cair hasil fermentasi kotoran padat kambing

terhadap pertumbuhan tanaman sawi (brassica juncea ) sebagai pengembangan materi


mata kuliah fisiologi tumbuhan. Sekripsi: Program Studi Pendidikan Biologi fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan Universitas muhammadiyah Surakarta.

27

Anda mungkin juga menyukai