Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang
dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa,
usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang
dilandasi oleh UUD 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Depdiknas (2005: 34) bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata
pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi
individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan
keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk
berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa PKn bertujuan
mengembangkan potensi individu warga negara, dengan demikian maka
seorang guru PKn haruslah menjadi guru yang berkualitas dan profesional,
sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan PKn itu sendiri tidak tercapai.
Secara garis besar mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3 dimensi
yaitu:
1. Dimensi Pengetahuan Kewarganegaraan (Civics Knowledge) yang
mencakup bidang politik, hukum dan moral.
2. Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skills) meliputi
keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Dimensi Nilai-nilai Kewarganegaraan (Civics Values) mencakup antara
lain percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur.
(Depdiknas 2003 : 4)
Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa dalam mata pelajaran
Kewarganegaraan seorang siswa bukan saja menerima pelajaran berupa
pengetahuan, tetapi pada diri siswa juga harus berkembang sikap,
keterampilan dan nilai-nilai. Sesuai dengan Depdiknas (2005 : 33) yang
menyatakan bahwa tujuan PKn untuk setiap jenjang pendidikan yaitu
mengembangkan kecerdasan warga negara yang diwujudkan melalui
pemahaman, keterampilan sosial dan intelektuan, serta berprestasi dalam
memecahkan masalah di lingkungannya.
Page 1 of 32

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, maka guru


berupaya melalui kualitas pembelajaran yang dikelolanya, upaya ini bisa
dicapai jika siswa mau belajar. Dalam belajar inilah guru berusaha
mengarahkan dan membentuk sikap serta perilaku siswa sebagai mana yang
dikehendaki dalam pembelajaran PKn.
Berdasar uraian di atas bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan guru
melakakukan berbagai upaya baik itu dalam bentuk penerapan strategi
pembelajaran, model pembelajaran yang digunakan ataupun hal-hal
pendukung lainnya yang diaplikasikan guru dalam kegiatan pembelajaran
PKn di sekolah dasar.
Berangkat dari hal tersebut observer tertarik untuk melakukan kegiatan
observasi

terhadap

kegiatan

pembelajaran

pembelajaran

pendidikan

kewarganegaraan kelas III dan kleas IV Sekolah Dasar Negeri 175


Pekanbaru, kegiatan apa saja yang muncul dalam kegiatan pembelajaran PKn
baik kegiatan awal, inti dan akhir, sehingga observer mengetahui apa kegiatan
yang muncul, apa strategi yang digunakan dalam pembelajaran PKn, apa
model yang digunakan dalam pembelajarn PKn.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam kegiatan
observasi adalah apa problematika dan kelebihan kegiatan pembelajaran
mata pelajaran PKn SD kelas III dan IV di Sekolah Dasar Negeri 175
Pekanbaru?

1.3

Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan dari kegiatan observasi adalah
mengetahui kelebihan dan problematika kegiatan pembelajaran PKn serta
bagaimana solusi pemecahan problematika pada mata pelajaran PKn kelas III

1.4

dan kelas IV Sekolah Dasar Negeri 175 Pekanbaru.


Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan, terdapat manfaat berdasar hasil
observasi yang diperuntukkan kepada mahasiswa, guru, siswa dan sekolah :
a) Manfaat Bagi Mahasiswa :
1) Mahasiswa dapat mengetahui apa problematika yang sering muncul
dalam kegiatan pembelajaran PKn SD.
2) Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana strategi dan model
pembelajaran pada mata pelajaran PKn SD.
Page 2 of 32

3) Mahasiswa dapat menemukan inovasi-inovasi pendidikan yang dapat


digunakan dalam kegiatan pembelajaran PKn SD.
b) Manfaat Bagi Guru :
1) Guru dapat mengetahui metode pembelajaran apa yang paling cocok
untuk diterapkan dalam pembelajaran PKn SD.
2) Guru dapat mengetahui solusi dari pemecahan problematika dari
kegiatan pembelajaran PKn SD
3) Guru dapat mengetahui apa kesulitan yang dialami oleh siswa.
c) Manfaat Bagi Siswa :
1) Siswa dapat memahami materi dengan mudah dengan penggunaan
model pembelajaran yang cocok dengan karakteristiknya.
2) Siswa dapat menjawab kesulitan dalam pembelajaran PKn SD.
d) Manfaat Bagi Sekolah :
1) Sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan serta meningkatkan
profesionalitas guru.
2) Sekolah mengetahui apa problematika serta bagaimana solusi untuk
memecahkan problematika pembelajaran PKn.

Page 3 of 32

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Desain Pembelajaran PKn
Menurut Eraut (1991:315) istilah disain pembelajaran atau instructional
design biasanya merujuk pada disain materi pembelajaran yang disusun oleh
sebuah tim yang dapat melibatkan guru atau tidak perlu melibatkan guru yang
akan melaksanakan pembelajaran tersebut. Artinya, bahwa pengembangan
disain pembelajaran dapat menjadi tugas para pakar pembelajaran yang
diharapkan akan membantu/mempermudah para guru dalam mengembangkan
dan melaksanakan proses pembelajaran.
Kontribusi disiplin ilmu pada pengembangan desain pembelajaran PKn,
sangat penting untuk memahami, mangkaji, dan menganalisis situasi.
Sehingga dari prosess manganilisis situasi diharapkan akan
kemampuan sebagai berikut:
1) Dapat menganalisis faktor

eksternal

dan

internal

memiliki

yang

perlu

dipertimbangkan dalam proses penyusunan desain pembelajaran.


Setelah kita mengetahui paradigm PKn dan pengembangan materi PKn
merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu atau disebut
interdisipliner dan multidomensional serta apa tujuan dan fungsinya.
Apabila diklasifikasikan (secara sederhana), faktor-faktor tersebut
dibagiatau dibedakan atas faktor eksternal dan faktor internal.
2) Dapat menganalisis disiplin ilmu pendukung yang banyak berpengaruh
dalam penyusunan desain pembelajaran.
Analisis situasi biasanya dilakukan sebelum proses pengembangan
kurikulum. Artinya, selama proses mengembangkan kurikulum, guru
dituntut agar menyadaridan mempertimbangkan tentang situasi yang
sedang terjadi atau berubah di sekitarnya. Laurie Brady (1990)
menegaskan bahwa analisis situasidiperlukan untuk menentukan
efektifitas penerapan kurikulum yang baru.
Sockett (1976) memberikan saran-saran dengan menekankan pentingnya
analisis situasidalam pengembangan kurikulum, yaitu :
a) Guru seyogianya melakukan suatu transaksidengan siswa tentang
apa yang akan dilakukan dalam proses belajar mengajar.
b) Guru
hendaknya
secara
terus-menerus
mengevaluasidan
mempertahankan suasana belajar di kelas.
Page 4 of 32

c) Guru hendaknya mendekatkan proses belajar kearah situasi nyata


dan kemungkinan perubahan situasitersebut.
Skillbeck (1984) membagi dua faktor yang dapat menggambarkan situasi
sebagai bahan analisis guru yaitu :
1) Faktor-faktor eksternal meliputi :
a) Perubahan sosial-budaya dan harapan masyarakat
Laurie Brady (1990) menyatakan Apabila sekolah ingin
berfungsi sebagai cermin masyarakat maka sekolah-sekolah harus
memperhatikan perubahan sosial-budaya pada saat menyusun
kurikulum.
b) Tuntutan dan tantangan sistem pendidikan
Pada sistem pendidikan Indonesia Mendiknas

Wardiman

Djojonegoro menitik beratkan perlunya peningkatan kualitas


sumber daya manusia melalui kebijakan link and match. Ada
empat

topik

kebijakan

yang

ditempuh,

yakni

relevansi,

pemerataan, efisiensi dan efektifitas. Keempat hal ini hendaknya


dijadikan sebagai rambu-rambu oleh guru dalam mendesain
pembelajaran baik dalam menyusun program (materi pelajaran)
maupun dalam menentukan desain pembelajaran seperti aspek
metode, media, sumber dan evaluasi.
c) Perubahan mata pelajaran yang akan diajarkan
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuaidengan
kebutuhan

atau

tuntutan

masyarakat.

Dengan

demikian,

perubahan mata pelajaran merupakan proses penyesuaian yang


dilakukan oleh guru dalam menjawab tuntutan masyarakat.
d) Kontribusidarisistem dukungan guru
Hakekat dari sistem dukungan guru mungkin beragam tergantung
pada peningkatan profesionalisme guru selain itu adalah sumbersumber belajar yang dapat mendukung terhadap proses belajar
mengajar. Bahan belajar yang sekaligus menjadi sumber belajar
terdiri atas: bahan audio-visual (misalnya pesawat televisi), bukubuku profesional, peragaan dan alat peraga.
e) Sumber masukan bagi sekolah
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, bahwa Pendanaan pendidikan menjadi
tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah,

Page 5 of 32

dan masyarakat. Di Indonesia, nampaknya tanggung jawab


sekolah masih lebih besar dibebankan kepada pihak pemerintah
dan orang tua siswa. Idealnya tentu saja harus ada kesadaran dari
semua pihak bahwa maju mundurnya sekolah atau baik tidaknya
sekolah akan sangat tergantung kepada tiga pihak diatas.
2) Faktor-faktor internal, meliputi:
a) Siswa meliputi aspek bakat, kecakapan dan kebutuhannya
Siswa memiliki bakat, kecakapan dan kebutuhan yang berbedabeda. Kita juga mengetahui dengan ciri guru profesional yang
pertama, ialah guru harus mengenal peserta didik secara
mendalam. Pembelajaran untuk tiga domain tersebut akan sulit
tercapai apabila guru tidak mengenal siswanya secara mendalam.
Aspek-aspek tentang siswa sebagai bahan analisis faktor internal
dapat digolongkan berdasarkan :
1) Karakteristik sekolah, jenjang dan kelasnya.
2) Kemajuan/prestasi belajarnya di sekolah
3) Perkembangan fisik, seperti keterampilan

motoriknya,

kebutuhan fisik dan kesehatan


4) Perkembangan emosional dan sosial, misalnya bagaimana
hubungan antar sesama siswa, antara siswa dengan guru dan
dengan orang tua.
5) Perkembangan intelektual,

misalnya

kesiapan

belajar,

kecakapan, tingkat perkembangan kognitif, bakat khusus, dan


pengalaman.
6) Karakteristik personal, misalnya kepribadian, karakter,
perkembangan moral, nilaidan sikap, motivasi, aspirasi, rasa
percaya diri, kecenderungan sikap anti-sosial dan pro-sosial
serta perbedaan prilaku. Aspek-aspek inilah yang perlu
mendapat

perhatian/

pertimbangan

merancang/mengembangkan

pembelajaran

guru
dari

dalam
faktor

internal khususnya yang berkaitan dengan faktor siswa.


b) Guru, Laurie Brady (1990) mengemukakan beberapa karakteristik
kemampuan guru yang harus mendapat perhatian pada saat
menyusun desain pembelajaran, yaitu :
1) Kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri guru. Dalam
penggunaan metode mengajar, misalnya, ada guru yang
Page 6 of 32

mahir menggunakan metode diskusi namun kurang mahir


dalam berceramah. Kemahiran dan kekurangan ini hendaknya
disadaripada saat mendesain pembelajaran sehingga guru
perlu mengurangi penggunaan metode ceramah.
2) Ketertarikan guru. Kekuatan kecakapan guru akan bervariasi
sesuai dengan hobidan ketertarikannya pada suatu obyek.
3) Harapan guru. Guru memiliki harapan yang berbeda
darisiswa yang berbeda. Harapan guru terhadap siswa yang
pandai akan lebih besar dari pada harapannya terhadap siswa
yang kurang pandai.
4) Sikap guru terhadap

pengembangan

dan

inovasi

pembelajaran. Tidak semua guru memiliki sikap inovatif


terhadap upaya peningkatan mutu pembelajaran atau
pendidikan.
5) Gaya mengajar. Sikap

ingin

maju

dari

guru

akan

mempengaruhi pemilihan pengalaman belajar dalam proses


perencanaan pembelajaran. Ada guru yang lebih memusatkan
perhatiannya pada gaya mengajar demokaratis namun ada
yang lebih tertarik dengan gaya mengajar otoriter dan laissez
faire.
6) Evaluasi diri guru sendiri. Banyak guru profesional yang
selalu mengevaluasi kemampuannya baik oleh diri sendiri
maupun oleh orang lain.
7) Peran guru. Peran guru dalam kegiatan pengembangan
kurikulum seperti melalui forum Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) perlu mendapat pertimbangan dalam
proses penyusunan desain pembelajaran. Dalam forum
MGMP, idealnya guru akan mendapat banyak pengalaman
sebagaibahan untuk analisis situasi dari faktor internal.
c) Etos kerja sekolah dan struktur politik
Ethos sekolah. Istilah ethos sering digunakan untuk
menggambarkan iklim, atmosfir, sifat sekolah sebagai suatu
organisasi. Miles (1975) menyarankan sejumlah pendekatan
dalam menciptakan iklim organisasi yang sehat antara lain dengan
cara mengkaji diri (self-study) dan menekankan saling hubungan

Page 7 of 32

dalam suasana kelompok dari pada suasana individual yang


terisolir. Dengan cara/pendekatan ini maka diharapkan ethos
sekolah yang dipertimbangkan selama proses penyusunan desain
pembelajaran akan memberikan masukan positif terhadap
peningkatan kualitas analisis situasi.
d) Sumber-sumber bahan pembelajaran
Pekerjaan guru dalam penyusunan desain pembelajaran perlu juga
mempertimbangkan bahan-bahan pelajaran, peralatan peralatan
dan semua fasilitas yang ada di sekolah. Kelangkaan sumbersumber belajar ini sering menjadi penghambat dalam proses
penyusunan desain pembelajaran namun sebaliknya kelengkapan
sumber pelajaran akan lebih mempermudah bagi guru dalam
mendesain pembelajaran.
e) Masalah-masalah dan kekurangan-kekurangan yang dirasakan
dalam kurikulum yang berlaku.
Adanya perubahan terhadap kurikulum yang berlaku karena
adanya kekurangan atau masalah merupakan upaya inovasi dalam
pembelajaran. Namun perlu disadari bahwa masih ada masalah
atau hambatan dalam upaya inovasipendidikan. Laurie Brady
(1990) mengemukakan bahwa sering inovasimengalamikegagalan
karena:
1) rendahnya tingkat pemahaman guru terhadap inovasi;
2) rendahnya tingkat pemahaman guru atas peran barunya yang
dituntut oleh inovasi;
3) rendahnya keahlian guru dalam memenuhiperan barunya;
4) rendahnya sumber-sumber pelajaran yang diperlukan;
5) rendahnya
komunikasidisekolah
(kesempatan
untuk
melakukan umpan balik);
6) organisasisekolah yang sudah tidak sesuaidengan tuntutan
inovasi.
Tugas pengembangan materi pembelajaran sebagai aspek penting
dalam pengembangan desain pembelajaran PKn di Indonesia,
khususnya pasca berlakunya Permendiknas Nomor 22 tahun 2006
tentang

Standar

Isiadalah

tugas

satuan

pendidikan.

Melaluipanduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Page 8 of 32

yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, guru


memilikikewenangan yang lebih luas dalam pengembangan
kurikulum termasuk mengembangkan desain pembelajaran. Ada
tiga langkah yang perlu dipertimbangkan oleh guru dalam
menyusun

desain

pembelajaran

sebagai

bagian

daritugas

pengembangan kurikulum disatuan pendidikan, ialah:


1) Mengkaji dan menentukan Standar Kompetensi
2) Mengkaji dan menentukan Kompetensi Dasar
3) Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
2.2 Model Pembelajaran PKn
Menurut Suparman (1997), proses pembelajaran yang baik adalah proses
pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri
dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Lebih
lanjut dikemukakan bahwa model proses pembelajaran ini disebut
pembelajaran interaktif yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) adanya variasikegiatan klasikal, kelompok, dan perorangan
2) keterlibatan mental baik pikiran maupun perasaan
3) guru lebih berperan sebagai fasilitator, narasumber, manajer kelas yang
demokratis
4) menerapkan pola komunikasibanyak arah
5) suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang dan tetap terkendali
oleh tujuan
6) potensial dapat menghasilkan dampak instruksional dan dampak
pengiring lebih efektif
7) dapat digunakan didalam dan/atau diluar kelas/ruangan.
Ada tiga klasifikasi model pembelajaran interaktif, meliputi:
1) model berbagi informasi;
2) model belajar melalui pengalaman;
3) model pemecahan masalah. Tiga klasifikasi model pembelajaran
interaktif ini terdiri atas:
Dalam rangka sosialisasiKTSP, Departemen Pendidikan Nasional (2006)
membagitiga jenis model pembelajaran, yakni:
1) Model Pembelajaran Langsung atau Direct Instruction (DI)
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang berpusat
kepada guru sehingga lebih mengutamakan pada penyampaian

Page 9 of 32

pengetahuan dengan target hasil belajar pengetahuan deklaratif


sederhana. Meskipun demikian, untuk mencapai tujuan yang maksimal,
model pembelajaran ini perlu perencanaan yang matang dengan
penguasaan bahan materi pembelajaran oleh guru yang mendalam.
Model pembelajaran langsung dapat dilaksanakan melalui beberapa fase
sebagai berikut:
Fase 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Fase 2: Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Fase 3: Membimbing pelatihan
Fase 4: Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Fase 5: Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan
penerapan
Tugas guru:
a) Menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya
pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
b) Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan
informasi tahap demi tahap.
c) Merencanakan dan memberibimbingan pelatihan awal.
d) Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik,
memberiumpan.
e) Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan
perhatian khusus pada penerapan kepada situasilebih kompleks
dalam kehidupan sehari hari.
2) Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning (CL)
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
dilandasi oleh teori konstruktivisme dengan pendekatan masyarakat
belajar (learning community), berpusat kepada siswa dengan target hasil
belajar akademik dan keterampilan sosial. Model ini menuntut adanya
pengelolaan suasana kelas yang demokratis dan peran aktif siswa dalam
pembelajaran. Oleh karena itu, peran guru melalui model pembelajaran
ini hendaknya berupaya lebih banyak melibatkan siswa dalam
pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan melalui beberapa fase
sebagai berikut:
Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase 2: Menyajikan informasi
Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kelompok
belajar
Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Page 10 of 32

Fase 5: Evaluasi
Fase 6: Memberikan penghargaan
Tugas guru:
a) Menyampaikan semua tujuan

yang

ingin

dicapai

selama

pembelajaran dan memotivasi siswa belajar.


b) Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau
lewat bahan bacaan.
c) Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi
secara efisien.
d) Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
e) Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/
meminta kelompok mempresentasikan hasil kerja.
f) Menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.
3) Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem-Based Instruction
(PBI)
Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang
dilandasi oleh teorikonstruktivisme dengan pendekatan inkuiri, berpusat
kepada siswa dengan target hasil belajar pemecahan masalah (authentic)
dan menjadi pebelajar yang mandiri. Model inimenuntut adanya
pengelolaan suasana kelas yang demokratis dan peran aktif siswa dalam
pembelajaran. Oleh karena itu, peran guru melalui model pembelajaran
ini hendaknya berupaya lebih banyak melibatkan siswa dalam
pembelajaran secara terbuka, demokratis, dan memilikikebebasan
berpendapat.
Model pembelajaran berbasis masalah dapat dilaksanakan melalui
beberapa fase sebagaiberikut:
Fase 1: Orientasisiswa pada masalah.
Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar.
Fase 3: Membimbing penyelidikan secara individual dan kelompok.
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasiproses pemecahan masalah.
Tugas guru:
a) Menjelaskan tujuan, logistik yg dibutuhkan.
b) Memotivasisiswa terlibat aktif dalam pemecahan masalah yg dipilih.
c) Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungandengan masalah tersbeut.

Page 11 of 32

d) Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasiyang sesuai,


melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.
e) Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yg
sesuaisepertilaporan, model, dan berbagitugas dengan teman
f) Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang

telah

dipelajari/meminta kelompok presentasi hasil kerja.


Model pembelajaran dengan pendekatan inkuiri pada hakekatnya sejalan
dengan gagasan dari John Dewey tentang prinsip-prinsip pembelajaran
interaktif. Keberhasilan pembelajaran demokrasi dalam PKn sebagai suatu
seni akan ditentukan oleh prinsip-prinsip pembelajaran interaktif model John
Dewey, yakni:
a) Menghormatidan penuh perhatian kepada orang lain
b) Berpikir kreatif
c) Menghasilkan sejumlah solusi tentang masalah-masalah bersama
d) Berusaha menerapkan solusi-solusi tersebut
Untuk mengadakan suatu proses pembelajaran, terlebih dahulu guru perlu
mempertimbangkan sejumlah kemampuan dasar (core competencies) untuk
setiap dimensiatau aspek-aspek diatas. Kemampuan dasar yang dimaksud
adalah standar kompetensidan kompetensidasar sebagaimana yang ditetapkan
dalam Standar Isi. Untuk menerapkan model pembelajaran inkuiri tentang
konsep demokrasi misalnya, seorang guru dapat membuka dahulu dokumen
standar isi, misalnya, Kelas II Semester 2 tentang sikap demokratis,
sebagaiberikut.
Veldhuis (1998) mengemukakan bahwa kemampuan dasar yang sering
disebut pula minimal package ditentukan oleh:
a) kebutuhan individu untuk memecahkan isu-isu dan masalah-masalah
sosial dan politik yang mereka sedang dan akan hadapi;
b) isu-isu dan masalah-masalah yang telah menjadi topik dan agenda
publik yang penting.
Ada dua faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyelenggaraan
pembelajaran demokrasi, yakni :
1) Situasi lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung yang
meliputi:
a) Jenis sekolah
b) Jenis pendidikan
c) Masyarakat tetangga

Page 12 of 32

d) Kelompok kepentingan
e) Partaipolitik
f) Asosiasiatau perkumpulan dimasyarakat
2) Karakteristik sosial, ekonomidan budaya peserta didik yang meliputi:
a) Karakteristik individu, seperti usia dan jenis kelamin
b) Karakteristik sosial individu, status sosial ekonomi (pendapatan,
pekerjaan), tempat tinggal (perkotaan/ perdesaan)
c) Karakteristik budaya: tingkat pendidikan, nasionalitas, sejarah,
agama, etnis.
Langkah-langkah yang dapat dikembangkan oleh guru untuk mengadakan
proses pembelajaran demokrasi, sebagai berikut: Merumuskan tujuan,
Menyajikan kata-kata (istilah) yang perlu diketahui, Menyajikan ide-ide yang
perlu dipelajari, Memecahkan masalah, Menerapkan kemampuan yang telah
dikuasai.

Page 13 of 32

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Waktu, Tempat dan Subjek Pelaksanaan Observasi
Kegiatan observasi tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang dilakukan di Sekolah Dasar
Negeri 175 Pekanbaru, yaitu di kelas III dan IV pada tanggal 22 Maret 2014
dan 26 Maret 2014.
Subjek kegiatan observasi yang pertama adalah kelas IV Sekolah Dasar
Negeri 175 Pekanbaru, dengan jumlah siswa adalah 24 orang, 17 siswa lakilaki dan 7 siswa perempuan. Sedangkan subjek observasi kedua adalah kelas
III Sekolah Dasar Negeri 175 Pekanbaru, dengan jumlah siswa adalah 32
orang, 20 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.
3.2 Kegiatan Observasi Pembelajaran PKn SD Kelas IV
Dalam observasi dalam proses pembelajaran PKn pada kelas IV ada beberapa
kegiatan pembelajaran yang muncul dalam proses belajar-mengajar, yaitu :
1) Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan Pendahuluan merupakan bagian integral yang tidak dapat
dipisahkan dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Kegiatan
pendahuluan pada dasarnya merupakan kegiatan yang harus ditempuh
guru dan siswa pada setiap kali pelaksanaan sebuah pembelajaran. Fungsi
kegiatan pendahuluan terutama adalah untuk menciptakan suasana awal
pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti
proses pembelajaran dengan baik.
Dalam kegiatan observasi dalam pembelajaran PKn pada kelas IV,
kegiatan pendahuluan yang muncul adalah :

Page 14 of 32

No
1

Gambar

Kegiatan
Guru mengkondisikan siswa
sebelum

memasuki

kelas

dengan membiasakan berbaris


rapi serta bersalaman satu
persatu
2

kemudian

siswa

masuk ke kelas secara tertib.


Guru memberikan salam,
kemudian berdoa bersama
anak-anak dan guru menyapa
anak

dengan

nada

bersemangat dan gembira.


3

Guru memberikan pertanyaan


sebagai

appersepsi,

yang

kemudian guru memberikan


motivasi kepada siswa, dan
menyampaikan

tema

dan

tujuan kegiatan pembelajaran.


2) Kegiatan Inti
kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan
pengalaman dan kemampuan siswa secara terprogram yang dilaksanakan
dalam durasi waktu tertentu. Guru perlu mengupayakan bagaimana
caranya supaya siswa dapat mengoptimalkan kegiatan belajarnya.
Melalui kegiatan inti pembelajaran siswa tidak hanya diharapkan
memiliki kemampuan yang merupakan dampak instruksional (langsung
berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang dirancang sesuai kurikulum)
tetapi juga memiliki sikap positif terhadap bahan pelajaran (sebagai
dampak pengiring dari kegiatan pembelajaran).

Page 15 of 32

No
1

Gambar
Guru

Keterangan
menginformasikan

materi

tentang

globalisasi,

yang kemudian guru bersamasama

dengan

siswa

mempelajari tentang pengaruh


globalisasi
2

terhadap

alat

transportasi dan komunikasi.


Guru mengajukan pertanyaan
untuk menyebut contoh alat
transportasi, dan komunikasi.
Kemudian siswa menjawab
secara bergiliran. Setelah itu
guru dan siswa mempelajari
apa

dampak

negatif

positif

tentang

dan

globalisasi

serta apa sikap kita terhadap


globalisasi.

Guru membagi siswa menjadi


beberapa

kelompok,

kemudian guru membagikan


LKS dan selanjutnya siswa
mengerjakan

soal

evaluasi

dan memaparkan hasil diskusi


yang ada di LKS.
3) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dalam

pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan

sebagai kegiatan untuk menutup semua rangkaian kegiatan pembelajaran.


Kegiatan ini juga mengandung makna sebagai kegiatan untuk
memantapkan pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar dan bahan
Page 16 of 32

pembelajaran yang telah dipelajarinya, serta mengetahui keberhasilan


pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dan dijalani
oleh siswa dan guru. Kegiatan yang biasa dilakukan guru dalam kegiatan
akhir ini adalah memberikan tes, baik lisan maupun tertulis. Berdasarkan
hasil kegiatan akhir (meninjau kembali penguasaan siswa dan

atau

melaksanakan penilaian).
No
1

Gambar

Keterangan
Guru bersama anak-anak untuk
menarik

kesimpulan

dan

meluruskan miskonsepsi, serta


memberiakan
sebagai

tugas
tindak

rumah
lanjut

pembelajaran.
2

Guru

siswa

menutup

pelajaran

dengan

berdoa

bersama,

kemudian

persatu

dan

siswa

satu-

bersalaman

keluar ruang kelas.


3.3 Problematika Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IV
Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran PKn SD di kelas IV, dari
pengamatan kami pada porses pembelajaran pendidikan PKn SD muncul
beberapa problematika yang dialami oleh peserta didik dan guru, yaitu :
1. Guru merasa kesulitan untuk menentukan metode apa yang paling tepat
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran PKn. Hal ini dikarenakan
metode yang ada terlalu kaku sehingga tidak sesuai dengan yang
dibutuhkan serta tidak sesuai dengan kondisi realita peserta didik,
sehingga yang terjadi adalah siswa tidak dapat memehami materi apa
yang disampaikan guru, hal ini dikarenakan guru

merasa kesulitan

bagaimana menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan metode


pembelajaran.
2. Guru kesulitan untuk membuat desain pembelajaran, hal ini disebabkan
karena guru belum dapat mengalisa situasi.

Page 17 of 32

3. Guru sulit untuk membuat atau menggunakan media dalam proses


pembelajaran PKn, hal ini disebabkan karena materi yang disampaikan
banyak yang berbentuk sikap atau penanaman nilai.
4. Siswa merasa kesulitan untuk menyampaikan ide, gagasan atau argumen
kedalam kalimat pada saat proses pembelajaran berlangsung.
5. Siswa merasa kesulitan terhadap materi yang memiliki cakupan yang
sangat luas, sehingga siswa tidak mampu mencapai indikator yang telah
ditetapkan.

Siswa

juga

merasa

kebingungan

terhadap

metode

pembelajaran yang digunakan guru. Hal ini dikarenakan ketidak sesuaian


dengan kebutuhan dan kondisi realita peserta didik.
6. Siswa mengeluhkan terlalu banyak materi yang harus dihafal atau
dikuasi.
3.4 Solusi

Problematika

Pembelajaran

Pendidikan

Kewarganegaraan

Sekolah Dasar Kelas IV


Berkenaan dengan permasalahan yang ditemukan pada proses pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan SD pada kelas IV Sekolah Dasar Negeri 175
Pekanbaru, ada beberapa solusi menyelesaikan problematika yang ada, yaitu :
1. Guru memahami dulu apa yang dimaksud dengan model pembelajaran
dan yang paling penting adalah kemampuan menganalisa situasi siswa,
karen jika guru tidak dapat menganalisa situasi maka sulit bagi guru
untuk mengetahui model pembelajaran apa yang paling cocok dengan
anak. Selain itu guru juga harus melakukan pembaharuan dalam
menggunakan model pembelajaran yang awalnya hanya konvensional
harus dirubah dengan menggunakan model pembelajaran yang terbaru
dengan harapan siswa akan menjadi lebih aktif dan dapat menemukan
sendiri sehingga pengkontruksian informawis dapat bertahan lama. Salah
satu alternatif yang dapat digunakan adalah : CTL, Koopertif, PBL,
Inkuiri, Discovery, dll.
2. Guru harus mengakaji dulu apa yang harus diperhatikan dalam membuat
desain pembelajaran terutama yang berkaitan kdengan siswa, karena
dengan kita dapat mengetahui situaasi siswa maka mudah bagi guru
untuk membuat desain pembelajaran yang jitu.
3. Guru dapat menggunakan media video yang berisikan perilaku atau
contoh peristiwa yang tujuan utamanya adalah menanamkan nilai.

Page 18 of 32

4. Dalam mengatasi kesulitan anak yang sulit untuk mengungkapkan ide


atau gagasanya, yaitu guru harus membiasakan anak untuk aktif
berbicara misalkan dengan sering mengajak diskusi, berbicara, menjawab
pertanyaan atau mengajukan pertanyaan sehingga anak akan mudah
untuk menyampaikan idenya karena anak sudah terbiasa sebelumnya,
selain itu peran dari model pembelajaran juga menentukan apakah anak
akan aktif atau sebaliknya, jika guru masih menggunakan model
pembelajaran konvensional maka yang ada hanya anak akan pasif
mendengarkan penjelasan dari guru saja, sebaliknya jika guru
menggunakan model yang merangsang anak untuk aktif terlibat
didalamnya maka anak akan menjadi lebih aktif baik dari segi kognitif,
afektif maupun psikomotornya.
5. Dalam permasalahan terlalu luasnya cakupan materi pendidikan
kewarganegaraan PKn, guru dapat mencari strategi pembelajaran atau
cara yang paling lebih efektif agar siswa dapat dengan mudah memahami
apa yang guru sampaikan, selain itu jika siswa merasa kebingungan
dengan model yang guru terapkan guru harus memahami bahwa yang
terpenting dalam menerapkan kegiatan pembelajaran adalah antara guru
dan siswa harus merasa nyaman dengan model yang diterapkan.
6. Dalam permasalahan siswa yang menganggap terlalu banyak materi PKn
dan terlalu banyak materi yang dihafal, untuk hal ini guru dapat membuat
rangkuman materi yang diajarkan dan guru juga dapat mengaitkan materi
anak dengan kehidupan sehari-hari, sehinngga anak lebih mengerti materi
yang diajarkan karena materi tidak asing bagi siswa sehingga mudah
dicerna siswa.
3.5 Kegiatan Observasi Pembelajaran PKn SD Kelas III
Pada pelaksanaan kegiatan observasi pada proses pembelajaran PKn pada
kelas III ada beberapa kegiatan pembelajaran yang muncul dalam proses
belajar-mengajar, yaitu :
1) Kegiatan Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan di kelas III pada mata pelajaran PKn SD,
tidah berbeda jauh dengan kegiatan yang muncul di pembelajaran PKn
SD di kelas IV, adapun kegiatan pendahuluan yang muncul pada
pembelajaran PKn adalah :
Page 19 of 32

No
1

Gambar

Kegiatan
Tidak jauh berbeda dengan
kelas IV, dikelas III juga Guru
mengkondisikan

siswa

sebelum

kelas

memasuki

dengan membiasakan berbaris


rapi serta bersalaman satu
persatu

kemudian

siswa

masuk ke dalam kelas secara


tertib.
Setelah

semuanya

kedalam

kelas

masuk
Guru

memberikan salam, kemudian


berdoa bersama anak-anak
dan

guru

menyapa

anak

dengan nada bersemangat dan


gembira.
Guru memberikan pertanyaan

sebagai

appersepsi,

yang

kemudian guru memberikan


motivasi kepada siswa, dan
menyampaikan

tema

dan

tujuan kegiatan pembelajaran.


3) Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti dalam pembelajaran ini juga tidak terlalu berbeda
jauh dengan kegiatan inti yang seperti biasa, adapun kegiatan inti yang
muncul berdasarkan hasil observasi pada kegiatan pembelajaran PKn
kelas III adalah :
No

Gambar

Keterangan

Page 20 of 32

Dalam kegiatan ini

Guru

menginformasikan

materi

yang kemudian guru bersama


siswa mempelajari materi,
2

Guru

mengadakan

tanya

jawab seputar materi yang


disampaikan.

4) Kegiatan Akhir
Pada kegiatan akhir dari proses pembelajaran PKn SD muncul beberapa
kegiatan seperti :
No
1

Gambar

Keterangan
Guru bersama anak-anak untuk
menarik

kesimpulan

dan

meluruskan miskonsepsi, serta


memberiakan
sebagai
2

tugas

rumah

tindak

lanjut

pembelajaran.
Guru dan siswa

menutup

pelajaran

dengan

bersama,

kemudian

persatu

siswa

berdoa
satu-

bersalaman

keluar ruang kelas.


3.6 Problematika Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas III
Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran PKn SD di kelas III,
muncul beberapa problematika yang dialami oleh peserta didik dan guru,
yaitu :
1. Kurang aktifnya siswa dalam proses belajar mengajar hal ini dikarenakan
faktor guru yang menggunakan model pembalajaran konvensional
sehingga siswa hanya terduduk diam mendengarkan apa yang
disampaiakan guru.
Page 21 of 32

2. Guru merasa kesulitan untuk menentukan metode apa yang paling tepat
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran PKn. Hal ini dikarenakan
siswa kelas III belum mengetahui betul apakah model itu cocok untuk dia
atau tidak. Disamping itu guru kesulitan untuk membuat desain
pembelajaran, hal ini disebabkan karena guru belum dapat mengalisa
situasi.
3. Siswa merasa kesulitan terhadap materi yang memiliki cakupan yang
sangat luas, sehingga siswa tidak mampu mencapai indikator yang telah
ditetapkan. Siswa mengeluhkan terlalu banyak materi yang harus dihafal
atau dikuasi.
3.7 Solusi

Problematika

Pembelajaran

Pendidikan

Kewarganegaraan

Sekolah Dasar Kelas III


Berkenaan dengan permasalahan yang ditemukan pada proses pembelajaran
pendidikan kewarganegaraan SD pada kelas III Sekolah Dasar Negeri 175
Pekanbaru, ada beberapa solusi menyelesaikan problematika yang ada, yaitu :
1. Guru perlu mengetahui bahwa guru hanya berfungsi sebagai fasilitator,
siswa yang harus aktif dalam kegiatan belajar. Dalam permasalahan ini
guru dapat menggunakan model pembelajarn yang bisa menjadikan anak
lebih aktif dalam pembelajaran salah satunya adalah CTL, Model
pembelajaran interaktif, CBSA, dll.
2. Dalam menentukan model ataupun desain pembelajaran, guru terlebih
dahulu harus bisa mengalisa situasi siswa, yang mana dengan guru yang
dapat mengalisa situasi siswa maka guru akan tahu kunci dari masingmasing siswa, hal ini nantinya akan menopang keberhasilan dari
penggunakan model dan desain pembelaran yang diterapkan dalam
kegiatan pembelajaran PKn SD.
3. Untuk permasalahan materi yang terlalu luas dan daya tangkap anak
rendah,

guru

diperbolehkan

membuat

rangkuman

materi

serta

mengkaitkan kegiatan belajara dengan kehidupan sehari-hari yang


nantinya anaka tidak akan merasakan bahwa materi terlalu luas dan
banyak.
Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan pada mata pelajaran
pendidikan kewarganegaraan SD kelas III dan IV di Sekolah Dasar Negeri
175 Pekanbaru, kita mengetahui bahwa masih banyak problematika dalam

Page 22 of 32

proses pembelajaran yang secara tidak langsung mempengaruhi hasil belajara


siswa. Di sisi lain kita juga mengetahui bahwa masih banyak guru yang
menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga siswa tidak dapat
berkembang dan bekerja aktif sehingga siswa cenderung pasif menunggu dari
pa yang diberikan oleh guru.

Page 23 of 32

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Dari hasil observasi pada proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
SD di kelas III dan kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 175 Pekanbaru, kita
mengetahui bahwa terdapat problematika pada proses belajar mengajar,
antara lain yaitu :
Problematika yang muncul pada proses pembelajaran PKn di kelas IV,
sebagai berikut :
1. Guru merasa kesulitan untuk menentukan metode apa yang paling tepat
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran PKn. Hal ini dikarenakan
metode yang ada terlalu kaku sehingga tidak sesuai dengan yang
dibutuhkan serta tidak sesuai dengan kondisi realita peserta didik,
sehingga yang terjadi adalah siswa tidak dapat memehami materi apa
yang disampaikan guru, hal ini dikarenakan guru merasa kesulitan
bagaimana menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan metode
pembelajaran.
2. Guru kesulitan untuk membuat desain pembelajaran, hal ini disebabkan
karena guru belum dapat mengalisa situasi.
3. Guru sulit untuk membuat atau menggunakan media dalam proses
pembelajaran PKn, hal ini disebabkan karena materi yang disampaikan
banyak yang berbentuk sikap atau penanaman nilai.
4. Siswa merasa kesulitan untuk menyampaikan ide, gagasan atau
argumen kedalam kalimat pada saat proses pembelajaran berlangsung.
5. Siswa merasa kesulitan terhadap materi yang memiliki cakupan yang
sangat luas, sehingga siswa tidak mampu mencapai indikator yang telah
ditetapkan.

Siswa

juga merasa

kebingungan

terhadap

metode

pembelajaran yang digunakan guru. Hal ini dikarenakan ketidak


sesuaian dengan kebutuhan dan kondisi realita peserta didik.
6. Siswa mengeluhkan terlalu banyak materi yang harus dihafal atau
dikuasi.
Adapun solusi dari problematika yang muncul adalah sebagai berikut :
1. Guru memahami dulu apa yang dimaksud dengan model pembelajaran
dan yang paling penting adalah kemampuan menganalisa situasi siswa,

Page 24 of 32

karen jika guru tidak dapat menganalisa situasi maka sulit bagi guru
untuk mengetahui model pembelajaran apa yang paling cocok dengan
anak. Selain itu guru juga harus melakukan pembaharuan dalam
menggunakan model pembelajaran yang awalnya hanya konvensional
harus dirubah dengan menggunakan model pembelajaran yang terbaru
dengan harapan siswa akan menjadi lebih aktif dan dapat menemukan
sendiri sehingga pengkontruksian informawis dapat bertahan lama.
Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah : CTL, Koopertif,
PBL, Inkuiri, Discovery, dll.
2. Guru harus mengakaji dulu apa yang harus diperhatikan dalam
membuat desain pembelajaran terutama yang berkaitan kdengan siswa,
karena dengan kita dapat mengetahui situaasi siswa maka mudah bagi
guru untuk membuat desain pembelajaran yang jitu.
3. Guru dapat menggunakan media video yang berisikan perilaku atau
contoh peristiwa yang tujuan utamanya adalah menanamkan nilai.
4. Dalam mengatasi kesulitan anak yang sulit untuk mengungkapkan ide
atau gagasanya, yaitu guru harus membiasakan anak untuk aktif
berbicara misalkan dengan sering mengajak diskusi, berbicara,
menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan sehingga anak akan
mudah untuk menyampaikan idenya karena anak sudah terbiasa
sebelumnya, selain itu peran dari model pembelajaran juga menentukan
apakah anak akan aktif atau sebaliknya, jika guru masih menggunakan
model pembelajaran konvensional maka yang ada hanya anak akan
pasif mendengarkan penjelasan dari guru saja, sebaliknya jika guru
menggunakan model yang merangsang anak untuk aktif terlibat
didalamnya maka anak akan menjadi lebih aktif baik dari segi kognitif,
afektif maupun psikomotornya.
5. Dalam permasalahan terlalu luasnya cakupan materi pendidikan
kewarganegaraan PKn, guru dapat mencari strategi pembelajaran atau
cara yang paling lebih efektif agar siswa dapat dengan mudah
memahami apa yang guru sampaikan, selain itu jika siswa merasa
kebingungan dengan model yang guru terapkan guru harus memahami
bahwa yang terpenting dalam menerapkan kegiatan pembelajaran

Page 25 of 32

adalah antara guru dan siswa harus merasa nyaman dengan model yang
diterapkan.
6. Dalam permasalahan siswa yang menganggap terlalu banyak materi
PKn dan terlalu banyak materi yang dihafal, untuk hal ini guru dapat
membuat rangkuman materi yang diajarkan dan guru juga dapat
mengaitkan materi anak dengan kehidupan sehari-hari, sehinngga anak
lebih mengerti materi yang diajarkan karena materi tidak asing bagi
siswa sehingga mudah dicerna siswa.
Problematika yang muncul pada proses pembelajaran PKn SD pada kelas
III, adalah :
1. Kurang aktifnya siswa dalam proses belajar mengajar hal ini
dikarenakan faktor guru yang menggunakan model pembalajaran
konvensional sehingga siswa hanya terduduk diam mendengarkan apa
yang disampaiakan guru.
2. Guru merasa kesulitan untuk menentukan metode apa yang paling tepat
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran PKn. Hal ini dikarenakan
siswa kelas III belum mengetahui betul apakah model itu cocok untuk
dia atau tidak. Disamping itu guru kesulitan untuk membuat desain
pembelajaran, hal ini disebabkan karena guru belum dapat mengalisa
situasi.
3. Siswa merasa kesulitan terhadap materi yang memiliki cakupan yang
sangat luas, sehingga siswa tidak mampu mencapai indikator yang telah
ditetapkan. Siswa mengeluhkan terlalu banyak materi yang harus
dihafal atau dikuasi.
Adapun solusi dari problematika yang muncul adalah sebagai berikut :
1. Guru perlu mengetahui bahwa guru hanya berfungsi sebagai fasilitator,
siswa yang harus aktif dalam kegiatan belajar. Dalam permasalahan ini
guru dapat menggunakan model pembelajarn yang bisa menjadikan
anak lebih aktif dalam pembelajaran salah satunya adalah CTL, Model
pembelajaran interaktif, CBSA, dll.
2. Dalam menentukan model ataupun desain pembelajaran, guru terlebih
dahulu harus bisa mengalisa situasi siswa, yang mana dengan guru yang
dapat mengalisa situasi siswa maka guru akan tahu kunci dari masingmasing siswa, hal ini nantinya akan menopang keberhasilan dari
Page 26 of 32

penggunakan model dan desain pembelaran yang diterapkan dalam


kegiatan pembelajaran PKn SD.
3. Untuk permasalahan materi yang terlalu luas dan daya tangkap anak
rendah, guru diperbolehkan membuat rangkuman materi serta
mengkaitkan kegiatan belajara dengan kehidupan sehari-hari yang
nantinya anaka tidak akan merasakan bahwa materi terlalu luas dan
banyak.
4.2

Saran
Berdasarkan hasil observasi di atas, sebaiknya dalam kegiatan pembelajaran
harus :
1. Guru tidak lagi menggunakan model pembelajaran konvensional,
sehingga siswa dapat menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2. Guru sebaikanya menggunakan media dalam mengajar sehingga siswa
lebih tertarik dalam mengikuti kegiatan belajara.
3. Guru sebaikanya mencari solusi dari permasalahan siswa, misalnya
siswa

sulit

untuk

mengungkapkan

idenya,

maka

guru

dapat

membiasakan siswa-siswanya untuk bertanya jawab sehingga anak


terbiasa berbicara.
4. Guru harus dapat menganalisa situasi agar guru dapat mengetahui kunci
bagaimana penyampaian yang disampaikan gru benar-benar sampai
pada anak.
5. Dalam setiap pertemuan hendaknya guru memberikan kegiatan tindak
lanjut yang tujuannya agar anak terbiasa dan bertambah lama informasi
yang diperoleh ketika belajar di sekolah.

Page 27 of 32

DAFTAR PUSTAKA
Sapriya. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Direktoral Tinggi Pendidikan
Islam; Jakarta.
Irsyadi,

2011. Penerapan

model

pembelajaran.

http://karya-

ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/13842. Diakses tanggal 5


April 2014.
Irsyadi,

2011. Penerapan

model

pembelajaran.

http://karya-

ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/13842. Diakses tanggal 5


April 2014.
Kornelius,

(2012). Penerapan

metode

kelompok

interaktif.

http://pendidikannegeriku.wordpress.com/2012/04/21/. Diakses tanggal


5 April 2014.
Mulyana,

A.

2012.

Model

dan

desain

pembelajaran.

http://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/model-desainpembelajaran-.html. Diakses tanggal 5 April 2014.

Page 28 of 32

LAMPIRAN
GAMBAR AKTIFITASBERBARIS DILUAR KELAS SEBELUM MASUK
KE DALAM KELAS

GAMBAR AKTIFITAS BERDOA BERSAMA

Page 29 of 32

GAMBAR GURU MEMBERIKAN APPERSEPSI DAN MEMBERI


MOTIVASI KEPADA SISWA

GAMBAR AKTIFITAS GURU MENYAMPAI TUJUAN DAN MATERI


YANG AKAN DI AJARKAN

GAMBAR AKTIFITAS TANYA JAWAB SISWA DAN GURU

Page 30 of 32

GAMBAR AKTIFITAS SISWA YANG SEDANG MENDENGARKAN


PENJELASAN MATERI DARI GURU

GAMBAR AKTIFITAS SISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN


EVALUASI YANG DIBERIKAN GURU

Page 31 of 32

GAMBAR AKTIFITAS SISWA YANG SEDANG MENDENGARKAN


PENJELASAN MATERI DARI GURU

Page 32 of 32