Anda di halaman 1dari 12

A Penatalaksanaan dan Prognosis

1 Asesmen Geriatri
Asesmen Geriatri adalah suatu proses pendekatan multidisiplin untuk menilai
aspek medik, fungsional, psikososial dan ekonomi penderita usia lanjut dalam rangka
menyusun rencana program pengobatan dan pemeliharaan kesehatan yang
a
b

rasional. Asesmen Geriatrik ada 2 macam yaitu :


Asesmen geriatrik administratif
Asesmen geriatrik klinik
Mengingat sifat dan karakteristik penderita usia lanjut seperti, maka
penanganannya harus bersifat holistik, yaitu:
a Penegakan diagnosis: berbeda dengan tata cara diagnosis yang dilaksanakan pada
golongan usia lain, penegakan diagnosis pada penderita usia lanjut dilaksanakan
dengan tata cara khusus yang disebut dengan asesmen geriatrik. Cara ini
merupakan suatu analisis multidimensional dan sebaiknya dilakukan oleh suatu
b

tim geriatrik.
Penatalaksanaan penderita: penatalaksanaan penderita juga dilaksanakan oleh
suatu tim multidisipliner yang bekerja secara interdisipliner dan disebut sebagai
"tim geriatri". Hal ini perlu mengingat semua aspek penyakit (fisik-psikis), sosialekonomi, dan lingkungan harus mendapat perhatian yang sama. Susunan dan
besar tim bisa berbeda-beda tergantung pada tingkatan pelayanan. Di tingkat
pelayanan dasar, hanya diperlukan tim "inti" yang terdiri dari dokter, perawat, dan

tenaga sosiomedik.
Pelayanan kesehatan vertikal dan horisontal: aspek holistik dari pelayanan
geriatri harus tercermin dari pemberian pelayanan vertikal, yaitu pelayanan yang
diberikan dari Puskesmas sampai ke pusat rujukan geriatri tertinggi, yaitu di
rumah sakit provinsi. Pelayanan kesehatan horizontal adalah pelayanan kesehatan
yang diberikan merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan menyeluruh.
Dengan demikian, ada kerjasama lintas sektoral dengan bidang kesejahteraan

lain, misalnya agama, pendidikan/kebudayaan, olah raga, dan sosial.


Jenis pelayanan kesehatan: sesuai dengan batasan geriatri seperti tersebut di atas,
maka pelayanan kesehatan yang diberikan harus meliputi aspek promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitasi dengan memperhatikan aspek psiko-sosial serta

a
b

lingkungan.
Tugas masing-masing anggota tim adalah sebagai berikut:
Asesmen lingkungan/sosial: petugas sosio-medik
Asesmen fisik: dokter/perawat.

Asesmen psikis: dokter/perawat/psikolog-psikogeriatris.


Asesmen fungsional/disabilitas: dokter/terapis rehabilitasi.
Asesmen psikologik: dokter-psikolog/psikogeriatri.
Dengan tata cara asesmen geriatric yang terarah dan terpola, maka kemungkinan

c
d
e

terjadinya "mis/under diagnosis" yang sering didapatkan pada praktik geriatri dapat
dihindari atau dieliminasi sekecil mungkin.

Pelaksanaan Asesmen Geriatri


a

Anamnesis
1 Identitas penderita
2 Anamnesis tentang obat
3 Penilaian sistem
Perlu dilakukan juga allo-anamnesis dari orang/keluarga yang merawatnya
sehari-hari, meliputi:
1 Ananmnesi tentang kebiasaan yang merugikan kesehatan
2 Anamnesis tentang berbagai gangguan yang didapat
3 Riwayat tentang problema utama geriatri (sindrom geriatri)
Pemeriksaan fisik
1 Pemeriksaan vital sign dengan pemeriksaan tekanan darah dalam keadaan
tidur, duduk, dan berdiri masing-masing selang 1-2 menit untuk melihat
2

kemungkinan terdapatnya hipotensi ortostatik.


Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem
a Pemeriksaan saraf kepala
b Pemeriksaan panca indera, saluran nafas atas, gigi-mulut
c Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis
d Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung dan seterusnya sampai pada

pemeriksaan ekstremitas, refleks-refleks, kulit-integumen.


c Pemeriksaan tambahan
1 Foto toraks, EKG
2 Laboratorium: darah/urin/feses rutin, gula darah, lipid, fungsi hati, fungsi
ginjal, fungsi tiroid (T3, T4, TSH), kadar serum B6, B12.
Pemeriksaan fungsi
1 Aktivitas hidup sehari-hari (AHS dasar)
2 Aktivitas hidup sehari-hari instrumental (AHS instrumental)
3 Kemampuan mental dan kognitif
e Asesmen lingkungan
f Daftar masalah
d

(Martono, 2010)

2
3

Penatalaksanaan
Prognosis

Diagnosis Banding

A. Jatuh dan Fraktur Pada Geriatri


1. Perubahan pada proses menua yang berkaitan dengan instabilitas dan jatuh
a. Perubahan kontrol postural
Proses menua mengakibatkan perubahan pada kontrol postural yang mungkin
memegang peranan penting pada sebagian besar kejadian jatuh. Pada lansia terjadi
perubahan komponen dari kapasitas biomekanik meliputi latensi mioelektrik yang
memanjang, waktu untuk bereaksi yang memanjang, input proprioseptif yang berkurang,
lingkup gerak sendi yang menurun, kekuatan otot yang menurun, perubahan postur
tubuh, ayunan postural yang meningkat, dapat meningkatkan prevalensi kejadian jatuh
pada lansia.
b. Perubahan gaya berjalan
Pada umumnya, lansia tidak dapat mengangkat kakinya cukup tinggi sehingga
cenderung mudah terantuk. Pada lansia laki-laki, postur tubuh membungkuk dengan
kedua kaki melebar dan langkah pendek-pendek. Pada lansia perempuan, kedua kaki
menyempit dengan gaya jalan bergoyang-goyang. Selain itu, pada lansia dibutuhkan
waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan satu siklus berjalan. Hal ini dapat
meningkatkan risiko jatuh sebesar lima kali lipat.
c. Peningkatan prevalensi kondisi patologis yang terkait dengan instabilitas
Penyakit sendi degeneratif terutama vertebra servikal leher, lumbosakral, dan
ekstremitas bawah, dapat menimbulkan rasa nyeri, sendi tidak stabil, kelemahan otot,
dan gangguan neurologis. Fraktur panggul dan femur yang baru menyembuh dapat
mengakibatkan gaya berjalan yang tidak normal dan kurang mantap. Strok yang
menyebabkan kelemahan otot dan defisit sensorik dapat menyebabkan instabilitas.
Berkurangnya input sensorik pada neuropati diabetik dan neuropati perifer lainnya,
gangguan penglihatan, dan ganggguan pendengaran mengakibatkan berkurangnya isyarat
dari lingkungan yang berperan dalam kestabilan. Penyakit lain yang sering dialami oleh
usia lanjut, seperti penyakit Parkinson dan penyakit jantung dapat mengakibatkan
instabilitas dan jatuh pula.
d. Peningkatan prevalensi demensia
Gangguan fungsi kognitif dapat mengakibatkan seseorang berjalan-jalan
(wandering) ke tempat atau lingkungan yang tidak aman dan memudahkan untuk jatuh.
2. Faktor Risiko Jatuh pada Geriatri
a. Faktor risiko intrinsik
1) Faktor intrinsik lokal

Faktor risiko intrinsik lokal yang dapat menyebabkan jatuh pada geriatri antara
lain osteoarthritis pada genu atau vertebra lumbal, gangguan pendengaran dan
penglihatan, gangguan alat keseimbangan, dan kelemahan musculus quadriceps
femoris.
2). Faktor intrinsik sistemik
Faktor risiko intrinsik sistemik yang dapat menyebabkan jatuh adalah berbagai
penyakit yang dapat memicu gangguan keseimbangan dan jatuh seperti PPOK,
pneumonia, infark miokard akut, infeksi saluran kemih, hiponatremia, hipoglikemia,
hiperglikemia, hipoksia, stroke, dan transient iskemik attack (TIA).
Penyakit kardiovaskuler dan neurologis, dapat berkaitan dengan jatuh. Stenosis
aorta dapat menyebabkan sinkop dan jatuh pada lansia. Beberapa pasien memiliki
baroreseptor karotis yang sensitif dan rentan mengalami sinkop karena refleks tonus
vagal yang meningkat akibat batuk, mengedan atau berkemih sehingga terjadi
bradikardi atau hipotensi. Stroke akut dapat menyebabkan jatuh atau memberikan
gejala jatuh. TIA sirkulasi anterior dapat menyebabkan kelemahan unilateral dan meicu
jatuh.
b. Faktor risiko ekstrinsik
Faktor risiko ekstrinsik merupakan faktor-faktor lingkungan yang memudahkan
lansia jatuh seperti pencahayaan yang kurang, lantai yang licin, tidak rata, dan basah,
tangga yang tidak aman, tidak ada tempat berpegangan, dan benda-benda yang
berserakan di lantai. Selain faktor ekstrinsik tersebut, konsumsi obat-obatan juga
merupakan salah satu faktor risiko ekstrinsik. Golongan obat diuretik dapat
menimbulkan keinginan untuk buang air kecil terus-menerus sehingga harus sering ke
kamar mandi sehingga meningkatkan faktor risiko jatuh. Obat-obat sedatif dan
antipsikotik juga dapat menyebabkan kantuk dan kurang waspada sehingga
meningkatkan risiko jatuh. Selain obat-obat golongan diuretik, sedatif dan antipsikotik,
obat-obat antihipertensi, antidepresi trisiklik, dan hipoglikemi juga dapat meningkatkan
faktor risiko jatuh.

3. Penyebab Jatuh pada Geriatri


a. Kecelakaan
Kecelakaan yang dimaksud adalah kecelakaan murni seperti terantuk, terpeleset,
dan lain-lain yang mengakibatkan jatuh. Kecelakaan biasanya disebabkan interaksi
antara bahaya di lingkungan dan faktor yang meningkatkan kerentanan.
b. Sinkop
Sinkop atau kehilangan kesadaran mendadak dapat disebabkan respons
vasovagal, gangguan kardiovaskuler, gangguan neurologis akut, emboli paru, dan
gangguan metabolit.
c. Drop attacks
Drop attacks merupakan kelemahan otot tungkai bawah mendadak yang
menyebabkan jatuh tanpa kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut sering kali dikaitkan
dengan insufisiensi vertebrobasiler yang dipicu oleh perubahan posisi kepala.
d. Hipotensi ortostatik
Sekitar 10-20% lansia mengalami hipotensi ortostatik yang sebagian besar tidak
bergejala. Beberapa kondisi dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yang yang berat
sehingga memicu timbulnya jatuh. Kondisi-kondisi tersebut antara lain curah jantung
yang rendah, disfungsi otonom (akibat diabetes mellitus), gangguan aliran balik vena,
tirah baring lama, serta beberapa obat.
e. Dizziness dan atau vertigo
Dizziness atau rasa tidak stabil merupakan keluhan yang sering diutarakan oleh
lansia yang mengalami jatuh. Vertigo pada pasien geriatric biasanya dikaitkan dengan
kelainan telinga bagian dalam, penyakit Meniere, dan benign paroxysmal positional
vertigo.

f. Obat-obatan
Obat-obatan yang dapat menyebabkan jatuh antara lain diuretika, antihipertensi,
antidepresi trisiklik, sedatif, antipsikotik, hipoglikemia, dan alkohol.
g. Proses penyakit
Kejadian jatuh biasanya dikaitkan dengan proses penyakit akut pada sistem
kardiovaskuler dan neurologis.
h. Idiopatik
Jatuh pada lansia yang tidak dapat diidentifikasi penyebabnya termasuk ke
dalam golongan ini.
4. Penatalaksanaan Jatuh dan Fraktur pada Geriatri
a. Prinsip penatalaksanaan jatuh pada geriatri
1) Mengkaji dan mengobati trauma fisik akibat jatuh
2) Mengobati berbagai kondisi yang mendasari instabilitas dan jatuh
3) Memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara berjalan, menguatkan
otot, penggunaan alat bantu.
4) Mengubah agar lingkungan lebih aman seperti pencahayaan yang cukup, lantai yang
tidak licin, dan lain-lain)
5) Latihan fisik seperti senam tai chi.
b. Penatalaksanaan medis fraktur
Tujuan utama penanganan fraktu pada geriatri adalah mengembalikan pasien
pada kondisi sebelum terjadi fraktur. Pada geriatri yang mengalami fraktur, perlu
dilakukan operasi dan mobilisasi dini. Tetapi jika terdapat penyakit penyerta seperti
riwayat infark miokard akut yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
operasi, operasi perlu ditunda sampai risiko tersebut berkurang dan dapat ditangani.
Mobilisasi dini diperlukan untuk mencegah komplikasi akibat tirah baring lama. Obatobatan yang dikonsumsi pasien perlu dievaluasi dan hentikan penggunaan obat yang
tidak efektif. Untuk mengurangi nyeri pasien, dapat diberikan parasetamol 500 mg
sampai maksimal 3000 mg per hari. Jika tidak adekuat, dapat ditambah kodein 10 mg.
untuk nyeri yang sangat, terutama pada penderita osteoporosis, dapat diberikan
kalsitonin 50-100 injeksi subkutan malam hari. Golongan narkotik sebaiknya tidak
digunakan untuk mengurangi nyeri karena dapat menyebabkan delirium pada geriatri.
B. Diabetes Melitus (DM) pada Lanjut Usia
Prevalensi DM pada lanjut usia cenderung meningkat, hal ini dikarenakan DM pada
lanjut usia bersifat muktifaktorial yang dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Umur
ternyata merupakan salah satu faktor yang bersifat mandiri dalam pengaruhnya terhadap
perubahan toleransi tubuh terhadap glukosa. Umumnya pasien diabetes dewasa 90%
termasuk diabetes tipe 2. Dari jumlah tersebut dikatakan 50% adalah pasien berumur > 60
tahun.

Untuk menentukan diabetes usia lanjut baru timbul pada saat tua, pendekatan selalu
dimulai dari anamnesis, yaitu tidak adanya gejala klasik seperti poliuri, polidipsi atau
polifagi. Demikian pula gejala komplikasi seperti neuropati, retinopati dan sebagainya,
umumnya bias dengan perubahan fisik karena proses menua, oleh karena itu memerlukan
konfirasi pemeriksaan fisik, kalau perlu pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik,
pasien diabetes yang timbul pada usia lanjut kebanyakan tidak ditemukan adanya kelainankelainan yang sehubungan dengan diabetes seperti misalnya kaki diabetik, serta tumbuhnya
jamur pada tempat-tempat tertentu.
Kriteria diagnosis DM dapat mengacu pada rekomendasi ADA (American Diabetes
Association) yang tidak menunjukkan adanya pertimbangan spesifik umur. Diagnosis DM
dibuat setelah dua kali pemeriksaan gula darah puasa > 126 mg/dl (dengan sebelumnya puasa
paling sedikit 8 jam). Pasien perlu dipastikan tidak dalam kondisi infeksi aktif atau sakit akut
dalam pemeriksaan ini. Atau gula darah acak > 200 mg/dl dengan gejala-gejala diabetes.
Pengukuran hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) tidak direkomendasikan sebagai alat
diagnostik, tetapi dipakai secara luas untuk memantau efektifitas pengobatan.
Penampilan klinis DM pada lanjut usia
Berbagai perubahan karena proses menua dapat mempengaruhi penampilan klinis DM
pada lanjut usia. Gejalanya dapat sangat tidak khas dan menyelinap. Dikatakan paling sedikit
separuh dari populasi lanjut usia tidak tahu bahwa mereka terkena DM. Keluhan tradisional
dari hiperglikemia seperti polidipsi dan poliuria sering tidak jelas, karena penurunan respon
haus dan peningkatan nilai ambang ginjal untuk pengeluaran glukosa urin. Penurunan berat
badan, kelelahan dan kencing malam hari dianggap hal yang biasa pada lanjut usia, berakibat
tertundanya deteksi adanya DM. Penampilan klinis seperti dehidrasi, konfusio, inkontinentia
dan komplikasi-komplikasi yang berkaitan DM merupakan gejala-gejala yang tampak.
Komplikasi mikrovaskuler seperti neuropati dapat berupa kesulitan untuk bangkit dari
kursi atau menaiki tangga. Pandangan yang kabur atau diplopia juga dapat dikeluhkan, akibat
mononeuropati yang mengenai syaraf kranialis yang mengatur okulomotorik.
Proteinuria tanpa adanya infeksi, harus dicari kemungkinan adanya DM.Infeksi khusus
yang sering berkaitan dengan DM, lebih banyak dijumpai pada lanjut usia antara lain otitis
eksterna maligna dan kandidiasis urogenital. Sebaliknya adanya penyakit-penyakit akut
seperti bronkopneumoni, infark miokard atau stroke dapat meningkatkan kadar glukosa

sehingga berakibat tercapainya kriteria diagnosis DM, pada mereka yang telah ada
peningkatan kadar intoleransi glukosa. Beberapa gejala unik yang dapat terjadi pada
penderita lanjut usia antara lain adalah: neuropati diabetika dengan kaheksia, neuropati
diabetic akut, amiotropi, otitis eksterna maligna, nekrosis papilaris dari ginjal dan
osteoporosis.
Bila terlambat diketahui adanya penyakit diabetes pada lanjut usia, penderita mungkin
sudah dalam keadaan status dekompensasi dari sistem metabolik seperti hiperglikemi,
hiperosmolaritas, sindroma non ketotik atau ketoasidosis diabetik. Penderita juga dapat
dijumpai gejala-helaja hipoglikemi, yang biasanya disebabkan oleh obat-obat antidiabetik.
Penampilan klinis hipoglikemia yang khas tampak sebagai perubahan status mental dan status
neurologi seperti penurunan fungsi kognitif, konfusio, kjang, diaphoresis dan bradikadi.
Keadaan yang menyertai hiperglikemi seperti hiponatremia (pseudohiponatremi),
kondisi dehidrasi dan hipomagnesia (akibat diuresis osmotik) dapat juga terjadi. Profil lipid
pada umunya menunjukkan peningkatan trigliserid, penurunan HDL sedangkan LDL
kolesterol tidak selalu meningkat tetapi terisi oleh small dense LDL yang lebih banyak, yang
lebih aterogenik.

Patofisiologi DM pada Lanjut Usia


Patofisiologi DM pada usia lanjut belum dapat diterangkan seluruhnya, namun
didasarkan atas faktor-faktor yang muncul oleh perubahan proses menuanya sendiri. Faktorfaktor tersebut antara lain perubahan komposisi tubuh, menurunnya aktifitas fisik, perubahan
life style, faktor perubahan neurohormonal khusunya penurunan kadar DHES dan IGF-1
plasma, serta meningkatnya stres oksidatif. Pada usia lanjut diduga terjadi age related
metabolic adaptation, oleh karena itu munculnya diabetes pada usia lanjut kemungkinan
karena aged related insulin resistance atau aged related insulin inefficiency sebagai hasil dari
preserved insulin action despite age.3
Berbagai faktor yang mengganggu homeostasis glukosa antara lain faktor genetik,
lingkungan dan nutrisi. Berdasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi proses menua,
yaitu faktor intrinsik yang terdiri atas faktor genetikdan biologik serta faktor ekstrinsik seperti
faktor gaya hidup, lingkungan, kultur dan sosial ekonomi, maka timbulnya DM pada lanjut
usia bersifat muktifaktorial yang dapat mempengaruhi baik sekresi insulin maupun aksi
insulin pada jaringan sasaran.
Faktor risiko diabetes melitus akibat proses menua:

Penurunan aktifitas fisik


Peningkatan lemak
Efek penuaan pada kerja insulin
Obat-obatan
Genetik
Penyakit lain yang ada
Efek penuaan pada sel
Perubahan progresif metabolisme karbohidrat pada lanjut usia meliputi perubahan

pelepasan insulin yang dipengaruhi glukosa dan hambatan pelepasan glukosa yang
diperantarai insulin. Besarnya penurunan sekresi insulin lebih tampak pada respon pemberian
glukosa secara oral dibandingkan dengan pemberian intravena. Perubahan metabolisme
karbohidrat ini antara lain berupa hilangnya fase pertama pelepsan insulin. Pada lanjut usia
sering terjadi hiperglikemia (kadar glukosa darah >200 mg/dl) pada 2 jam setelah
pembebanan glukosa dengan kadar gula darah puasa normal (<126 mg/dl) yang disebut
Isolated Postchallenge Hyperglikemia (IPH).
C. Hipertensi pada Usia Lanjut

Usia lanjut merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskular
lainnya. Pada orang lanjut usia, jenis hipertensi yang sering terjadi adalah hipertensi sistolik.
Hal itu karena tekanan darah sistolik (TDS) meningkat sesuai dengan peningkatan usia.
Berbeda dengan peningkatan tekanan darah diastolik (TDD) yang seiring peningkatan TDS
hanya sampai usia 55 tahun dan kemudian menurun karena proses kekakuan arteri akibat
aterosklerosis. Sekitar usia 60 tahun, dua pertiga pasien hipertensi menderita hipertensi
sistolik terisolasi (HST) sedangkan di atas 75 tahun tiga perempat pasien mempunyai
hipertensi sistolik.
Hipertensi sistolik terisolasi didefinisikan sebagai TDS 140 mHg dengan TDD 90
mmHg, diakibatkan oleh kehilangan elastisitas arteri karena proses menua. Kekakuan aorta
akan meningkatkan TDS dan pengurangan volume aorta, yang pada akhirnya akan
menurunkan TDD. Semakin besar perbedaan TDS dan TDD semakin besar risiko
kardiovaskuler. Tekanan nadi yang meningkat pada usia lanjut dengan HTS berkaitan dengan
besarnya kerusakan pada organ target seperti jantung, otot, dan ginjal.
Pada usia lanjut, hasil pengobatan tidak hanya diukur oleh keberhasilan penurunan
tekanan darah pada morbiditas dan mortalitas kardiovaskular, tetapi juga oleh berbagai hal
seperti efek terhadap diabetes, pencegahan demensia atau penurunan kognitif, dan
pengaruhnya terhadap indeks massa tubuh (IMT atau obesitas). Pasien DM mempunyai risiko
kardiovaskuler yang lebih besar dibandingkan tanpa DM. Sedangkan untuk masalah indeks
massa tubuhm diketahui bahwa pasien hipertensi yang gemuk mempunyai prognosis baik
dibandingkan yang kurus. Penurunan kognitif atau demensia bisa didapatkan pada hipertensi
kronik. Keadaan ini terjadi karena penyempitan dan sklerosis arteri kecil di daerah
subkortikal, yang mengakibatkan hipoperfusi, kehilangan autoregulasi, penurunan sawar
otak, dan pada akhirnya terjadi proses demielinisasi, mikroinfark, dan penurunan kognitif.
Pengelolaan hipertensi pada dasarnya sama pada setiap tingkat usia kecuali adanya
perbedaan seperti yang dibicarakan di atas. Direkomendasikan tekanan darah dapat mencapai
kurang dari 140/90 mmHg. Pada pasien DM, sasaran tekanan darah adalah kurang dari
130/85 mmHg, sedangkan pada gagal jantung atau ginjal, sasaran yang dicapai adalah TD
paling rendah yang dapat ditolerir.
D. Osteoarthritis (OA)
Osteoarthritis adalah penyakit sendi degenarif yang berkembang lambat, progresif, dan
menyebabkan kerusakan kartilago sendi. Karakteristik penyakit ini antara lain menipisnya

tulang rawan sendi secara progresif disertai pembentukan tulang baru pada trabekula
subkondral dan terbentuknya tulang rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit).
Secara histopatologik, proses OA ditandai dengan menipisnya rawan sendi disertai
pertumbuhan dan remodeling tulang di sekitarnya (bony overgrowth) diikuti dengan atrofi
dan destruksi tulang di sekitarnya. Beberapa faktor risiko OA adalah
1. Umur: jarang pada usia < 40 tahun dan tersering usia > 60 tahun.
2. Jenis kelamin: wanita (khususnya mengenai banyak sendi dan sendi lutut), laki-laki
(biasanya pada sendi pinggul, pergelangan tangan, dan leher) dan setelah menopause lebih
sering pada wanita dibanding laki-laki.
3. Suku bangsa: orang kaukasoid lebih sering terkena daripada orang asia dan kulit hitam;
orang Indian lebih sering dari orang kulit putih.
Klasifikasi osteoartritis menurut etiologinya:
1. Osteoartritis primer: kausanya tidak diketahui (idiopatik)
2. Osteoartritis sekunder: pekerjaan dan olahraga (tekanan berlebih, obesitas (beban tubuh
berlebih), usia lanjut (proses penuaan), gangguan endokrin (menopause), cedera sendi)
(inflamasi), genetik, kelainan pertumbuhan.
Manifestasi klinis osteoartritis antar lain nyeri sendi, hambatan gerak (keterbatasan
range of motion), krepitasi (rasa gemeretak akibat gesekan kedua permukaan sendi saat
digerakkan), pembengkakan sendi, perubahan gaya berjalan. Diagnosis OA dapat ditegakkan
melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan
dalam penegakkan diagnosis OA antara lain:
1. Fisik: terdapat gambaran gejala klinis seperti yang disebut di atas.
2. Radiologis: terdapat gambaran penyempitan celah sendi asimetris, peningkatan densitas
(sklerosis) tulang subkondral, kista tulang, osteofit pada tepi sendi, dan perubahan struktur
anatomi sendi
3. Laboratorium darah: pemeriksaan darah tepi dan imunologis (ANA, faktor rematoid dan
komplemen) dalam keadaan normal. Namun, jika terjadi peradangan akan terlihat
penurunan viskositas, pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan sel radang dan
protein.
Gejala klinis pada OA, di antaranya nyeri sendi, hambatan gerak (keterbatasan range of
motion), krepitasi (rasa gemeretak akibat gesekan kedua permukaan sendi saat digerakkan),

pembengkakan sendi, kaku pagi, tanda-tanda radang (kalor, dolor, tumor, rubor, finctio laesa),
deformitas sendi, perubahan gaya berjalan.