Anda di halaman 1dari 7

AFASIA

A. Pendahuluan

B. Definisi Afasia

C. Klasifikasi Afasia
1. Afasia Broca
Cirinya: afasia ini paling sering dijumpai, gejala utamanya adalah kesulitan
dalam bertutur.
Jenis afasia

Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia Broca

Tidak lancar

Nama lain dari afasia broca: afasia motoris, afasia ekspresif, afasia
motoris eferen. Afasia ini bisa muncul sebagai afasia akut, tetapi juga dapat
berkembang dari afasia global dalam jangka waktu beberapa bulan atau
tahunan. Afasia ini disebabkan oleh GPDO, peradangan, tumor, trauma.
Lokasi kerusakan untuk afasia broca adalah di daerah fronto-parietal
di hemisfer kiri (daerah suprasylvis, baik operkulum maupun insula).
Bicara spontan afasia ini tidak lancar dan ditandai oleh adanya
agramatisme (gangguan dalam gramatika yang memperlihatkan pengurangan
dan penyederhanaan betuk-bentuk gramatika). Jadi, kemampuan untuk
mengutarakan hubungan gramatikal terganggu. Pasien juga mengalami
kesulitan fonemis (ia membuat kesulitan fonemis karena representasi intern
fonem-fonem itu terganggu. Oleh karena itu dia menggunakan parafasia literal
(menggunakan kata yang bunyinya mirip dengan kata yang dimaksud).
Gangguan lain yang menyertai afasia broca, antara lain; apraksia bukofasial,
apraksia ideomotoris, hemiplegia anggota tubuh bagian kanan. Tidak jarang
penderita tipe afasia ini mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan
gerakan otot bibir dan lidah (apraksia oral).
Prognosisnya tergantung dari berbagai faktor. Umumnya dapat dikatakan,
bahwa apabila pemahaman auditif pada mulanya cukup baik, perbaikan

diperkirakan akan cepat. Apabila kemampuan menulis dari semula hampir


normal tanpa agramatisme, maka prognosisnya baik sekali.
2. Afasia Wernicke
Cirinya:
Jenis afasia

Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia Wernick Lancar


Nama lain: afasia sensoris, afasia reseptif, afasia akustis.
Lokas kerusakan: bagian posterior girus temporal atas di hemisfer kiri.
Penyebabnya: berbeda-beda, jika karena GPDO (Gangguan Peredaran Darah
Otak) penyebab yang paling banyak adalah karena emboli, yakni di daerah
arteri serebri media inferior kiri. Bicaranya lancar, mengalami parafasia
verbal, terjadi paragramatisme, logorea (banjir kata). Awalnya pasien afasia
wernicke tidak sadar akan kesalahan-kesalahannya dalam berbicara, tetapi
setelah ia sadar akan kesalahannya, dia akan mencari kata yang tepat dan
bicaranya akan lebih pelan. Pemahaman auditif sangat terganggu dan sepadan
dengan gangguan yang terdapat pada berbicara spontan. Meniru ucapan juga
buruk yang ditandai adanya parafasia literal dan parafasia verbal. Kemampuan
menulis sama dengan bicara spontan. Gangguan lain yang menyertai yaitu
hemianopsia, sindrom Gerstmann, depresif.
Prognosisnya tergantung dari banyak faktor seperti parahnya afasia, gangguan
penyerta lain, usia, lingkungan atau keluarga.
3. Afasia Konduksi
Cirinya: tipe ini mempunyai ciri khas kemampuan modalitas bahasa untuk
pengulangan yang buruk.
Jenis afasia
Kelancaran perkataan
Meniru Pemahaman
Afasia Konduksi
Lancar
+
Nama lain: afasia aferen motoris, afasia sentral.
Tempat kerusakan: bagian posterior fasikulus arkuatus di hemisfer kiri.
Penyebab juga bermacam-macam, jika karena GPDO (Gangguan Peredaran
Darah Otak) biasanya adanya emboli di arteri serebri media kiri.
Bicara spontan hampir normal, tetapi tersendat-sendat karena berusaha
mencari kata yang tepat dan berusaha memperbaiki parafasia literal dan
verbalnya. Pemahaman auditif dalam situasi bahasa sehari-hari normal, tetapi
bila dites ditemukan gangguan dalam hubungan gramatikal yang lebih
kompleks. Membaca pemahaman hampir sama dengan pemahaman
auditifnya. Kemampuan untuk pengulangan pada pasien biasanya terganggu
oleh adanya kesulitan dalam memproduksi kata.
Gangguan lain: apraksia verbal, apraksia bukofasial, apraksia ideomotoris,
sindrom Gerstmann, dysprosodi.

4. Afasia Global
Cirinya:
Jenis afasia

Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia Global Tidak lancar


Pada afasia total atau global semua aspek bahasa sangat terganggu.
Lokasi kerusakan: bagian-bagian besar daerah fronto-temporo-parietal
perisylvis di hemisfer kiri.
Penyebabnya yang paling sering adalah adanya penyumbatan bagian
terdepan arteri serebri media kiri, bisa juga karena tumor atau perdarahan
besar. Biasanya diawali dengan koma. Bicara spontan tidak lancar,
pemahaman auditif sangat terganggu. Meniru ucapan, membaca bersuara dan
menulis tidak dapat dilakukan.
Gangguan penyertanya: hemiplegia anggota tubuh bagian kanan,
hemianopsia, hemianestesia. Jika setelah atau tanpa terapi, pemahaman pasien
ini membaik maka afasia global ini dapat berubah menjadi afasia broca.
5. Afasia Transkortikal Motoris
Cirinya:
Jenis afasia
Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia TKM
Tidak lancar
+
+
Nama lain: afasia dinamis, sindrom isolasi anterior
Tempat kerusakan: di daerah frontal hemisfer kiri atau di daerah yang
berbatasan langsung dengan daerah broca (di depan atau di belakangnya) atau
di dalam daerah premotoris medial atau superior.
Penyebab: traum, tumor, peradangan, GPDO. Kadang dianggap
sebagai ketidakmampuan untuk mengalihkan pikiran ke dalam kalimat.
Bicaranya seperti gagap. Antara bicara spontan dan meniru ucapan tidak
begitu menonjol. Pasien dapat mengulang suku kata atau kalimat pendek,
tetapi pada kalimat yang lebih panjang timbul perseverasi. Penemuan dan
penamaan kata terganggu. Pemahaman bahasa lisan dan tulisan cukup baik.
Kebanyakan pasien ini menderita hemiplegia sebelah kanan.
6. Afasi Transkortikal Sensoris
Cirinya:
Jenis afasia
Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia TKS
Lancar
+
Tempat kerusakan: daerah temporo-parieto-oksipital di hemisfer kiri.
Penyebabnya: bisa karena tumor, trauma, GPDO.
Bicara spontan lancar, pemahaman auditif terganggu pada taraf pengaitan
bunyi dan arti. Pemberian nama terganggu, membaca bersuara dapat

dilakukan, tetapi membaca tanpa suara sama atau bahkan lebih buruk daripada
pemahaman auditif. Kemampuan menulis sama dengan atau lebih buruk dari
pada kemampuan bicaranya.
Gangguan lain: sindrom Gerstmann, apraksia konstruktif, apraksia ideatoris.
Perbedaan yang mendasar antara afasia TKS dengan demensia adalah adanya
parafasia. Sedangkan pada demensia tidak ditemukannya parafasia.
7. Afasia Transkortikal Campuran
Cirinya:
Jenis afasia
Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia TKC
Tidak lancar
+
Nama lain: isolasi daerah bicara.
Lokasi kerusakan: daerah-daerah besar korteks asosiasi anterior dan posterior,
tetapi daerah perisylvis tidak terkena.
Penyebab: GPDO, anoksia (misalnya karena keracunan karbon monoksida).
Bicara spontan hampir tidak ada, kecuali ucapan singkat. Kalimat terbuka
diteruskan secara automatis, tanpa adanya pemahaman. Pemahaman
terganggu. Membaca dan menulis tidak mungkin dilakukan.
Gangguan lain: hemiplegia dan hemianopsia (kehilangan lapang pandang
sebelah).
8. Afasia Anomis
Cirinya:
Jenis afasia

Kelancaran perkataan

Meniru

Pemahaman

Afasia Anomis
Lancar
+
+
Nama lain: afasia nominal.
Anomia sering dianggap sinonim dengan afasia anomis, padahal sebenarnya
berbeda. Anomia adalah sebuah gejala kesulitan menemukan kata (wordfinding difficulty), sedangkan afasia anomis adalah tipe sindrom afasia dengan
gejala utamanya anomia.
Afasia ini mula-mula dapat merupakan afasia anomis, tetapi juga dapat
menjadi afasia anomis dari sindrom afasia lain yang lebih parah. Afasia ini
biasanya berkembang dari salah satu afasia posterior dan karena itu tempat
kerusakannya biasanya daerah temporal, temporo-parietal atau temporooksipital di hemisfer kiri.
Penyebabnya: GPDO, tumor, trauma, abses, ensefalitis, penyakit degeneratif.
Pada afasia ini yang terganggu adalah penemuan dan penamaan kata, terutama
kata isi yang jarang dipakai, baik pada saat bicara maupun menulis.
Pemahaman bahasa lisan dan tulis (membaca) baik.

D. Gejala Afasia
Gejala afasia
Tipe Afasia

Pembicaraan Komprehensia Repetisi

Broca

Tidak lancar, Tetap baik


butuh
banyak
usaha dalam
berbicara,
kurangnya
suku kata,
kurangnya
output
namun dapat
mencetuskan
ide

Terganggu Kelemahan
Frontal
pada
tangan suprasylvian
dan
wajah
bagian kanan

Wernicke

Lancar, fasih Sangat


berbicara,
terganggu
artikulasi
baik,
tapi
tanpa arti

Tidak
Hemi- atau
dapat
quadrantanopia,
dilakukan tidak ada
paresis

Konduksi

Lancar

Tidak
Biasanya tidak Supramarginal
dapat
dapat dilakukan gyrus
atau
dilakukan
insula

Global

Sedikit,
Sangat
tidak lancar terganggu

Baik

Transkortikal Tidak lancar Baik

Gejala
yang Lokasi lesi
berkaitan

Temporal,
infrasylvian
termasuk girus
angular
dan
supramarginal

Tidak
Hemiplegia
dapat
dilakukan

Sebagian
besar
perisylvian
atau
lesi
terpisah pada
frontal
dan
temporal

Sangat

Anterior atau

Bervariasi

Tipe Afasia

Pembicaraan Komprehensia Repetisi

motorik

baik

Transkortikal Lancar
sensori

Tuli
murni

Gejala
yang Lokasi lesi
berkaitan

Tidak dapat Sangat


dilakukan
baik
seperti halnya
pada
Wernicke

kata Sedikit
Terganggu
parafasik
atau normal

superior
Broca
Bervariasi

area

Area di sekitar
Wernicke

Terganggu Quadrantanopia Bilateral (atau


atau tidak ada bagian kiri
sama sekali
saja) bagian
tengah
superior
temporal
gyrus

Buta
kata Normal tapi Normal
murni
tidak dapat
(aleksia
bersuara
tanpa
keras
agrafia)

Normal

Mutisme
Tak bersuara Normal
kata (afemia) tapi mampu
menulis

Tidak ada Tidak ada

Sebagian dari
area Broca

Anomic
afasia

Normal

Lobus
temporalis
bagian dalam

Kesulitan
mencari
kata-kata

Normal

E. Penyebab Afasia
Beberapa penyebab masalah termasuk:
1. Stroke (alasan paling umum)

Hemianopia
Girus
kanan;
tidak kalkarina dan
dapat membaca girus angularis
tulisan tangan
sendiri

Bervariasi

2. Pukulan yang kuat ke kepala


3. Luka tembak
4. Cedera kepala lain
5. Tumor otak
6. Infeksi otak
7. Penyakit lain dari otak
Sumber: http://omedicine.info/id/aphasia.html
Umumnya, penyakit afasia timbul akibat lobus frontal dan temporal yang ada dalam
otak, khususnya pada sisi kiri otak, mengalami penyusutan (atrofi). Hal ini akan
mempengaruhi pusat bahasa yang ada dalam otak. Jaringan parut dan protein yang
abnormal juga dapat terjadi. Selain itu, penyakit afasia juga dapat muncul akibat otak
mengalami kerusakan karena cedera pada kepala, penyakit stroke, tumor, infeksi,
penyumbatan, dan pecahnya pembuluh darah di otak. Akibatnya, suplai darah pada
otak akan terganggu dan menyebabkan sel otak mati. Selain itu, area bahasa yang ada
pada otak juga akan mengalami kerusakan. Tak hanya itu saja, ada beberapa faktor
lain yang dapat menjadi faktor penyebab timbulnya penyakit afasia, yakni:
1. Mutasi gen tertentu
Mutasi gen langka telah dikaitkan dengan penyakit afasia. Jika ada dari
keluarga Anda yang menderita penyakit ini, Anda lebih mungkin untuk
mengembangkan dan juga mengalaminya.
2. Penyakit yang menyebabkan ketidakmampuan belajar
Orang yang mengalami masalah memori, misalnya tidak mampu belajar
akibat penyakit tertentu, terutama disleksia, akan berisiko lebih tinggi
mengalami penyakit afasia. Sebab, hal itu juga mempengaruhi daerah bahasa
dalam otak.
http://health.liputan6.com/read/671788/afasia-gangguan-pada-otak-yangmerusak-kemampuan-berbahasa

F. Penanganan Afasia
G. Simpulan
Daftar Pustaka