Anda di halaman 1dari 37

Oleh : Purwanto,S.Si, M.

Kom

POPULASI & SAMPEL


Populasi

Purwanto,S.Si, M.Kom

Sampel

Populasi merupakan suatu


wilayah generalisasi yang terdiri
atas obyek/subyek yang
mempunyai karakteristik tertentu
dan mempunyai kesempatan
yang sama untuk dipilih menjadi
anggota sampel.
Sampel merupakan bagian kecil
dari suatu populasi
Sampling adalah cara
pengambilan sampel

FILOSOFI
Alasan pemakaian sampel,
hakekatnya adalah
PEMAKAIAN
SAMPEL

untuk memperkecil kekeliruan generalisasi dari


sampel ke populasi
Data yang dipergunakan dalam suatu penelitian
belum tentu merupakan keseluruhan dari suatu
populasi karena beberapa kendala :kendala biaya,
kendala waktu, kendala tenaga, polulasi yang tidak
terdefinisikan

Purwanto,S.Si, M.Kom

SYARAT SAMPEL
Sampel yang baik dapat mewakili sebanyak

mungkin karakteristik populasi


Sampel sampel harus valid bisa mengukur
sesuatu yang seharusnya diukur.
Akurasi atau ketepatan tingkat ketidakadaan
bias (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain
makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam
sampel, makin akurat sampel tersebut
Presisi memiliki tingkat presisi estimasi
Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana
estimasi kita dengan karakteristik populasi.
Purwanto,S.Si, M.Kom

LANGKAH

Purwanto,S.Si, M.Kom

PENENTUAN JUMLAH
SAMPEL
(Jika jumlah populasi
diketahui)

Purwanto,S.Si, M.Kom

RUMUS SLOVIN
Contoh :

Kita akan meneliti pengaruh upah terhadap semangat


kerja pada karyawan PT. AlfaMedika. Di dalam PT
tersebut terdapat 130 orang karyawan. Dengan tingkat
kesalahan pengambilan sampel sebesar 5%, berapa
jumlah sampel minimal yang harus diambil ?

Purwanto,S.Si, M.Kom

TABEL KREJCIE
Krejcie melakukan perhitungan ukuran sampel berdasarkan

tingkat kesalahan 5%, sehingga sampel yang diperoleh


mempunyai tingkat kepercayaan 95% terhadap populasi.
Contoh :
Jika jumlah populasi = 100 maka jumlah sampel yang harus

diambil =80
Jika jumlah populasi = 1000 maka jumlah sampel yang harus
diambil =278

Makin besar jumlah ukuran populasi maka makin kecil

prosentasi sampelnya.

Purwanto,S.Si, M.Kom

Purwanto,S.Si, M.Kom

PENENTUAN JUMLAH
SAMPEL
(Jika jumlah populasi tidak
diketahui)

Purwanto,S.Si, M.Kom

10

DESKRIPSI KATEGORIK
Contoh :

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui


prevalensi diare di Desa X. Diketahui bahwa
prevaensi diare dari penelitian sebelumnya adalah
20%. Bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%
dan presisi (kesalahan yang masih dapat diterima)
sebesar 5%. Tentukanlah berapa besar sampel
yang diperlukan?

Purwanto,S.Si, M.Kom

11

DESKRIPSI KATEGORIK
Rumus :

Z
d

pq

Dimana:
n = jumlah sampel ; = alpha = tingkat kesalahan ;
Z =
deviat baku alpha ; p = proporsi kategori variabel yang diteliti ;
q = 1 p ; d = presisi
, d nilainya ditetapkan oleh peneliti
Z nilainya dilihat pada tabel Z
p nilainya berdasarkan penelitian sebelumnya,
namun jika tidak ada p = 50%
Purwanto,S.Si, M.Kom

12

CONTOH

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui prevalensi diare di Desa X.


Diketahui bahwa prevaensi diare dari penelitian sebelumnya adalah 20%.
Bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5% dan presisi (kesalahan yang
masih dapat diterima) sebesar 5%. Tentukanlah berapa besar sampel yang
diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,96 (dua arah)


d = 5%=0,05
p = 20% = 0,2 q = 1 0,2 = 0,8
sehingga

Z
d

Purwanto,S.Si, M.Kom

2
2

pq

1,96 0,2 0,8

245,86
2

0,052

13

DESKRIPSI NUMERIK
Contoh :

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui ratarata kadar hemoglobin pada ibu hamil di
Kabupaten Y. Diketahui berdasarkan dari
penelitian sebelumnya rata-rata dan standard
deviasi kadar hemoglobin pada ibu hamil adalah
104 g/dl. Bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar
5% dan presisi (kesalahan yang masih dapat
diterima) sebesar 1. Tentukanlah berapa besar
sampel yang diperlukan?

Purwanto,S.Si, M.Kom

14

DESKRIPSI NUMERIK
Rumus :

Z s
n

Dimana:
n = jumlah sampel ; = alpha = tingkat kesalahan ;
Z =
deviat baku alpha ; s = standard deviasi variabel yang diteliti;
d = presisi
, d nilainya ditetapkan oleh peneliti
Z nilainya dilihat pada tabel Z
s nilainya berdasarkan penelitian sebelumnya,
namun jika tidak ada lakukan penelitian awal
Purwanto,S.Si, M.Kom

15

CONTOH
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui rata-rata kadar hemoglobin pada ibu
hamil di Kabupaten Y. Diketahui berdasarkan dari penelitian sebelumnya rata-rata
dan standard deviasi kadar hemoglobin pada ibu hamil adalah 104 g/dl. Bila
ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5% dan presisi (kesalahan yang masih dapat
diterima) sebesar 1. Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,96 (dua arah)


d=1
s=4
sehingga

Z s
n

d
Purwanto,S.Si, M.Kom

1,96 4

62
16

ANALITIS KATEGORIK TIDAK


BERPASANGAN
Contoh :
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui
apakah terdapat perbedaan kesembuhan antara
obat A (standar) dengan obat B. Untuk menetukan
besar sampel, peneliti menetapkan selisih proporsi
kesembuhan obat A dengan obat B bermakna jika
selisihnya 20%. Diketahui bahwa tingkat
kesembuhan pada obat A adalah 70%. Bila
ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan
tipe II sebesar 20%, dengan hipotesis satu arah.
Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Purwanto,S.Si, M.Kom

17

ANALITIS KATEGORIK TIDAK


Rumus :
BERPASANGAN
Z 2 pq Z

n1 n 2

p1 q1 p 2 q 2

p1 p 2

Dimana:
n1 = jumlah sampel kel.1; n2 = jumlah sampel kel.2 ;
= alpha = tingkat kesalahan I; = beta= tingkat kesalahan II;
Z = deviat baku alpha ; Z = deviat baku beta;
p2 = proporsi pd kelompok yg sudah diketahui nilainya; q2=1-p2;
p1 = proporsi pd kelompok yg nilainya mrp judgement peneliti; q1=1-p1;
p1-p2 = selisih proporsi minimal yg dianggap bermakna;
p = proporsi total = (p1+p2)/2; q = 1 - p
Purwanto,S.Si, M.Kom

18

ANALITIS KATEGORIK TIDAK


Rumus :
BERPASANGAN
Z 2 pq Z

n1 n 2

p1 q1 p 2 q 2

p1 p 2

Dimana:
p2 nilainya berasal dari penelitian sebelumnya
,, p1-p2 nilainya ditetapkan oleh peneliti
Z, Z nilainya dari tabel Z

Purwanto,S.Si, M.Kom

19

CONTOH
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan
kesembuhan antara obat A (standar) dengan obat B. Untuk menetukan besar
sampel, peneliti menetapkan selisih proporsi kesembuhan obat A dengan
obat B bermakna jika selisihnya 20%. Diketahui bahwa tingkat kesembuhan
pada obat A adalah 70%. Bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%,
kesalahan tipe II sebesar 20%, dengan hipotesis satu arah. Tentukanlah
berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,64 (satu arah)


Z 2 pq Z p1 q1 p 2 q 2
= 20%=0,2 Z = 0,84
n1 n2

p1 p 2
p2 = 70% = 0,7 q2 = 0,3

p1 p2 = 20% = 0,2 p1 = 0,9 p=0,8


sehingga

1,64 2 0,8 0,2 0,84 0,9 0,1 0,7 0,3


n1 n2
2

0
,
2

Purwanto,S.Si, M.Kom

49
20

ANALITIS KATEGORIK
BERPASANGAN
Contoh :
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan antara panjanan terhadap bising
dengan tuli. Peneliti menggunakan design kasus
kontrol berpasangan. Untuk menetapkan jumlah
sampel, peneliti menetapkan bahwa perbedaan
proporsi yang dianggap bermakna adalah 25%,
dengan diskordan = 0,3. bila ditetapkan kesalahan
tipe I sebesar 5%, kesalahan tipe II sesesar 20%,
dengan hipotesis dua arah. Tentukanlah berapa
besar sampel yang diperlukan?
Purwanto,S.Si, M.Kom

21

ANALITIS KATEGORIK
BERPASANGAN
Rumus :

n n2

Dimana:
1

Z
2

p1 p 2

n1 = jumlah sampel kel.1 ; n2 = jumlah sampel kel.2 ;


= alpha = tingkat kesalahan I; = beta= tingkat kesalahan II;
Z = deviat baku alpha ; Z = deviat baku beta;
p1-p2 = selisih proporsi minimal yg dianggap bermakna;
= besarnya ketidak sesuaian (diskordan)
Z , Z nilainya dari tabel Z
, , p1-p2, nilainya ditetapkan oleh peneliti
Purwanto,S.Si, M.Kom

22

CONTOH
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara
panjanan terhadap bising dengan tuli. Peneliti menggunakan design kasus kontrol
berpasangan. Untuk menetapkan jumlah sampel, peneliti menetapkan bahwa
perbedaan proporsi yang dianggap bermakna adalah 25%, dengan diskordan = 0,3.
bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan tipe II sesesar 20%, dengan
hipotesis dua arah. Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,96 (dua arah)


= 20%=0,2 Z = 0,84
p1 p2 = 25% = 0,25
= 0,3
sehingga

n1 n 2
Purwanto,S.Si, M.Kom

Z
2

p1 p 2

1,96 0,84 0,3


2
0,25
2

38
23

ANALITIS NUMERIK TIDAK


BERPASANGAN
Contoh :
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui
perbedaan kadar placenta growth factor (PGF) antara
ibu hamil normal dengan ibu hamil yang mengalami
preeklampsia. Diketahui bahwa rata-rata PGF pada
wanita hamil sebesar 11040 ng/ml. Bila ditetapkan
kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan tipe II
sesesar 10%, dengan hipotesis satu arah, dan
perbedaan rata-rata minimal yang dianggap
bermakna adalah 20. Tentukanlah berapa besar
sampel yang diperlukan?
Purwanto,S.Si, M.Kom

24

ANALITIS NUMERIK TIDAK


BERPASANGAN
Rumus :

Z Z s

Dimana:
n1 n2 2
x1 x 2

n1 = jumlah sampel kel.1 ; n2 = jumlah sampel kel.2 ;


= alpha = tingkat kesalahan I; = beta= tingkat kesalahan II;
Z = deviat baku alpha ; Z = deviat baku beta;
x1-x2 = selisih rata-rata minimal yg dianggap bermakna;
s = standard deviasi gabungan

Z , Z nilainya dari tabel Z


, , p1-p2 nilainya ditetapkan oleh peneliti
s nilainya dari penelitian sebelumnya, jk tdk lakukan peneitian25awal

Purwanto,S.Si, M.Kom

CONTOH

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar placenta growth factor
(PGF) antara ibu hamil normal dengan ibu hamil yang mengalami preeklampsia.
Diketahui bahwa rata-rata PGF pada wanita hamil sebesar 11040 ng/ml. Bila
ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan tipe II sesesar 10%, dengan
hipotesis satu arah, dan perbedaan rata-rata minimal yang dianggap bermakna adalah
20. Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,64 (satu arah)


= 10%=0,1 Z = 1,28
s = 40
x1-x2 = 20
sehingga

n1 n2 2

Purwanto,S.Si, M.Kom

Z s

x1 x 2

1,64 1,28 40
2

20

69

26

ANALITIS NUMERIK BERPASANGAN


Contoh :

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui


perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah 2
minggu suplementasi Fe pada ibu hamil trisemester 2.
diketahui bahwa kadar hemoglobin ibu hamil adalah
102 g/dl. Bila ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%,
kesalahan tipe II sesesar 10%, dengan hipotesis satu
arah, dan perbedaan rata-rata minimal yang dianggap
bermakna adalah 2 g/dl. Berdasarkan penelitian
sebelumnya selisih standard deviasi adalah 4 g/dl.
Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Purwanto,S.Si, M.Kom

27

ANALITIS NUMERIK BERPASANGAN


Rumus :

Z Z s

Dimana:
n1 n2
x1 x 2

n1 = jumlah sampel kel.1 ; n2 = jumlah sampel kel.2 ;


= alpha = tingkat kesalahan I; = beta= tingkat kesalahan II;
Z = deviat baku alpha ; Z = deviat baku beta;
x1-x2 = selisih rata-rata minimal yg dianggap bermakna;
s = standard deviasi dari selisih antar kelompok

Z , Z nilainya dari tabel Z


, , p1-p2 nilainya ditetapkan oleh peneliti
s nilainya dari penelitian sebelumnya, jk tdk lakukan peneitian28awal

Purwanto,S.Si, M.Kom

CONTOH
Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin sebelum
dan sesudah 2 minggu suplementasi Fe pada ibu hamil trisemester 2. diketahui
bahwa kadar hemoglobin ibu hamil adalah 102 g/dl. Bila ditetapkan kesalahan tipe
I sebesar 5%, kesalahan tipe II sesesar 10%, dengan hipotesis satu arah, dan
perbedaan rata-rata minimal yang dianggap bermakna adalah 2 g/dl. Berdasarkan
penelitian sebelumnya selisih standard deviasi adalah 4 g/dl. Tentukanlah berapa
besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,64 (satu arah)


= 10%=0,1 Z = 1,28
s=4
x1-x2 = 2
sehingga

Z Z s

n1 n2
x1 x 2
Purwanto,S.Si, M.Kom

1,64 1,28 4

35
29

ANALITIS KORELATIF
Contoh :

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui korelasi


kadar vitamin D dengan densitas tulang.
Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui
besarnya korelasi keduanya adalah 0,4. Bila
ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan
tipe II sesesar 10%, dengan hipotesis satu arah.
Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?

Purwanto,S.Si, M.Kom

30

ANALITIS KORELATIF
Rumus :

Z Z
1 1 r

ln
2 1 r

Dimana:

n = jumlah sampel;
= alpha = tingkat kesalahan I; = beta= tingkat kesalahan II;
Z = deviat baku alpha ; Z = deviat baku beta;
r = nilai korelasi varibel yang diteliti
Z , Z nilainya dari tabel Z
, , p1-p2 nilainya ditetapkan oleh peneliti
31
r nilainya
Purwanto,S.Si,
M.Komdari penelitian sebelumnya, jk tdk lakukan peneitian awal

CONTOH

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui korelasi kadar vitamin D


dengan densitas tulang. Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui
besarnya korelasi keduanya adalah 0,4. Bila ditetapkan kesalahan tipe I
sebesar 5%, kesalahan tipe II sesesar 10%, dengan hipotesis satu arah.
Tentukanlah berapa besar sampel yang diperlukan?
Jawab :

= 5%=0,05 Z = 1,64 (satu arah)


= 10%=0,1 Z = 1,28
r = 0,4
sehingga

Purwanto,S.Si, M.Kom

Z Z
1 1 r

ln
2 1 r

1,64 1,28
1 1 0,4
ln

2 1 0,4

3 51

32

PENENTUAN JUMLAH
SAMPEL
(Versi Lain)

Purwanto,S.Si, M.Kom

33

GAY & DIEHL


Jumlah sampel untuk :
Penelitian deskriptif, sampelnya 10% dari populasi
Penelitian korelasional, paling sedikit 30 elemen
populasi
Penelitian perbandingan kausal, 30 elemen per
kelompok
Penelitian eksperimen 15 elemen per kelompok
(Gay dan Diehl, 1992)

Purwanto,S.Si, M.Kom

34

ROSCOE
Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992) memberikan
pedoman penentuan jumlah sampel sebagai berikut :
1. Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen
2. Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel
(laki/perempuan, SD/SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum
subsampel harus 30
3. Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi
multivariate) ukuran sampel harus beberapa kali lebih
besar (10 kali) dari jumlah variable yang akan dianalisis.
4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan
pengendalian yang ketat, ukuran sampel bisa antara 10
s/d 20 elemen.

Purwanto,S.Si, M.Kom

35

Purwanto,S.Si, M.Kom

36

Tabel Z

= 5% (satu arah) Z1- = Z1-0,05 = Z0,95 = 1,64


= 5% (dua arah) Z1- /2 = Z1-0,025 = Z0,975 = 1,96
Purwanto,S.Si, M.Kom

37