Anda di halaman 1dari 3

Fungi adalah organisme kemoheterotrof yang memerlukan senyawa organik

untuk nutrisinya. Bila sumber nutrisi tersebut diperoleh dari bahan organik mati,
maka fungi tersebut bersifat saprofit. (Pratiwi, 2008). Kapang adalah fungi
multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada makanan mudah
dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya
mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk
berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus
(jamak = thalli) yang tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut hifa
( tunggal = hypha, jamak = hyphae). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal
= mycelium, Jamak = mycelia) (Pelczar,2001).ISOLASIIII Setelah mikroba
ditumbuhkan pada media agar tabung maupun cawan dan setelah inkubasi akan terlihat
pertumbuhan bakteri dengan berbagai macam bentuk, ukuran, sifat, dan berbagai ciri khas
yang lain. Ciri-ciri ini akan mengarahkan ke sifat-sifat mikroba tersebut pada media
pertumbuhan, sehingga pengamatan morfologi ini sangat penting untuk diperhatikan
(Schiegel, 1996). Pembuatan preparat kapang dengan metode slide culture dapat
menghasilkan preparat kapang dengan struktur yang lebih lengkap dan utuh bila
dibandingkan dengan preparat sederhana. Preparat denga metode slide culture dibuat dengan
cara menumbuhkan kapang pada medium yang diletakkan pada kaca benda sehingga
diperoleh struktur kapang yang utuh dan lengkap dengan semua bagian tubuh kapang, YG
dapat digunakan untuk mendeskripsi dan mengidentifikasi kapang (Hastuti, 2007).
Secara morfologis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya menggunakan
mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klasifikasi dapat ditentukan, secara visual jamur
dilihat seperti kapas atau benang berwarna/tidak berwarna yang disebabkan karena adanya
miselia dan spora. Miselia terbentuk dengan adanya nifa, baik yang bersepta atau tidak
bersepta. Jamur terbagi menjadi beberapa familia antara lain Moniliaceae (aspergillus,
phenicilium, trichothecium, geotrichum, monilia, sporatrichum, botrytis, dll), dematiaceae
(cladosporium, helminthosporium, dll). Dan tuberculariaceae (fusarium) (Kusnadi, 2003).

Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida. Polisakarida


merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida yang dihubungkan
dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau
cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel.
Kemampuan untuk memanfaatkan gula atau unsur yang berhubungan dengan konfigurasi
yang berbeda dari glukosa merupakan hasil kemampuan organisme untuk mengubah substrat
menjadi perantara-perantara sebagai jalur untuk fermentasi glukosa (Sukarminah, 2010).
Kemampuan untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa, dan dekstrin karena
mempunyai enzim amilase. Amilum tidak dapat langsung digunakan, sehingga bakteri harus
menghidrolisis amilum terlebih dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke dalam sel
(Sukarminah, 2010).

Fungsi uji positif hidrolisis amilum pada bakteri ditandai dengan tampaknya area jernih di
sekitar pertumbuhan bakteri yang digoreskan. Adanya daerah jernih tersebut disebabkan
eksoenzim dan organisme menghidrolisis amilum dalam medium agar. Fungi atau bakteri
memproduksi -amilase sehingga mampu menguraikan amilum dengan eksoenzim amilolitik
tersebut amat luas antara mikroorganisme, diantaranya bakteri Bacillus macerans, Bacillus
polimexa,

dan

Bacillus

subtilis

(Sukarminah,

2010).

Indikator yang digunakan pada uji amilolitik ini adalah yodium. Yodium 1% diteteskan tepat
di atas koloni. Tujuan penetasan larutan yodium 1% diberikan untuk membuktikkan apakah
bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri amilolitik. Pati yang tidak terhidrolisis akan
membentuk warna biru dengan yodium yang menunjukkan tidak terdapatnya enzim amilase
yang dihasilkan oleh bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang terhidrolisis di sekeliling
koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase. Warna jernih
tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada
bakteri. Menurut Fardiaz (1992) warna jernih atau bening pada sekeliling bakteri setelah

ditambahkan iodium disebabkan karena amilum tidak dapat bereaksi lama dengan iodium.
Areal berwarna coklat kemerahan di sekeliling koloni menunjukkan hidrolisis sebagian
terhadap pati.