Anda di halaman 1dari 1998

Eng Djiauw Ong

Judul asli : Ying Zhua Wang


Karya : Zheng Zhengyin (The Ceng In)
Saduran : O KT
Sumber DJVU : Manise
Convert : Dewi KZ Editor : Rif Ryz
Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info

Jilid 1
NB : diberi _______ artinya gak kebaca, krn djvunya
kabur banget, harap maklum bukunya sudah tua banget
(Dewi KZ)
I
Pada permulaan pemerintahan Kaisar Tong Tie dari
kerajaan Ceng, disebut kalau propinsi Siamsay sedang
terancam oleh pemberontakan kaum Rambut Panjang yang
majukan dua puluh laksa jiwa serdadunya di tiga jurusan.
Tetapi Jenderal To Liong Oh telah hajar pemberontak di
kota Keng Cie Kwan hingga kawanan itu jadi terpencar dan
mengacau di sana-sini.
Halaman 4 hilang
.......sejak lama terjatuh dalam tangan pemberontak,
maka aneh, kenapa Yo Bun Hoan dianjurkan pergi
mengungsi kesana. Di sesuatu tempat pemberontak, kita
ada punya mata2, sekarang Tiong Ong tetiron hendak
rampas Kwan tiong, kenapa mata2 kita tak peroleh kabar
suatu apa? Dan pengirim surat ini ada satu penduduk biasa,
cara bagaimana ia bisa ketahui rahasia pemberontak? Pun,
cara nya ia menyebut Tiong Ong ada cara menghormat,
kenapa begitu? Terang Ong To Liong dan Yo Bun Hoan ini
ada mencuri.
Bu Siupie pandang Goan Siong. Ia lihat orang punya
mata jelilatan, romannya seperti ketakutan. Ia tetap
bersikap ramah tamah.
Aku tidak sangka, sebagai rakyat jelata, kau perhatikan
keselamatannya daerah kita kata ia. Asal ini bukannya

fitnahan, kau bakal dapat presen besar. Dimana berdiamnya


pembawa surat itu?
Dirumah penginapan Hok Seng, disebelah kiri, dekat
Tong kwan thia, sahut Goan Siong dengan cepat.
Kau memberi laporan kesini, ditangsi tentara, kenapa
kau tidak pergi pada kantor pamong praja setempat? Kian
Hun tanya pula.
Itu disebabkan aku tahu Yo Jie looya ada hartawan
disini dan dahulu ia pernah pangku pangkat, terangkan
Goan Siong. Dengan pergi pada pamong praja, aku kuatir
laporanku akan sia sia saja dan melulu membikin kawanan
polisi bisa memencet hasil. Aku tidak bermusuhan dengan
Yo Jie looya, tetapi kalau benar dia sekongkol dengan
pemberontak, kuatir aku nanti turut dapat celaka. Aku tidak
memikir uang presenan, aku tidak mau cari kesenangan
dengan tukar itu dengan jiwa lain orang
Baiklah, kata kapten muda itu Laporanmu mengenai
keselamatannya puluhan ribu jiwa rakyat, aku tak berani
ambil putusan sendiri, aku mesti laporkan terlebih jauh
kepada Kun bun. Kau jangan pergi dahulu, kau tunggu, kau
nanti bakal dapat upah besar. Lantas ia perintah satu
serdadunya Pergi kau bawa dia, jangan diganggu. Tapi,
setelah orang itu dibawa pergi, ia pesan lain serdadunya
Jaga dia baik baik, jangan kasi dia minggat Kemudian,
seorang diri, dengan naik kuda, ia pergi kemarkas besar.
Pasukan perang besar dikota Tong kwan berada dibawah
pimpinan Tee tok Gouw Tay Giap, sebawahan dari Kimcee
Taysin Liong Oh Ciangkun, pada pegangannya termasuk
juga kota Bu kwan, dan markas besarnya ditempatkan
dikaki gunung Hoa San. Diatas gunung ada didirikan
Liauw bong tay, ranggon untuk memandang ketempat jauh,
serta Hong hwee tay, perapian pertandaan. Jenderal To

sendiri berkedudukan dikota Tiang an. Gouw Teetok ada


seorang militer yang berani dan pandai, dari itu, ia telah
dapat kedudukannya yang sekarang, tetapi ia bertabeat
keras dan kejam, tak gentar membunuh orang, malah sejak
menjadi teetok, ia jadi rada gila paras ellok dan kemaruk
uang, maka asal ada orang jahat, atau anggauta
pemberontak terjatuh ditangannya, jangan harap orang itu
bisa lolos lagi, hingga kemudian orang banyak berikan ia
julukan Gouw Pok pie, siorang she Gouw tukang keset kulit
alias pemeras.
Kapan Bu Siu pie sampai di markas besar, setelah
kedatangannya dilaporkan, dia diijinkan menghadap. Dia
masuk kedalam dengan diantar Tiong kun khoa,
sekretarisnya teetok. Ia lihat markas terjaga kuat dan rapi
tetapi semua serdadu sedikitpun tak perdengarkan suara
berisik. Dari muka kemah, Gouw Teetok telah tertampak
dalam pakaian preman, tetapi ia duduk dengan angkar,
sebelah tangannya memegang hun cwee, dikiri kanannya
ada sejumlah serdadu pengiring. Bu Siupie memberi
hormat, lalu ia berdiri dipinggiran.
Bu Lauwtee, ada apa? tanya Gouw Teetok. dengan
suara ramah tamah.
Satu perkara penting, tay jin, sahut kapten muda itu,
yang terus tuturkan laporan rahasia dari Goan Siong,
sedang surat yang kedapatan ia pun persembahkan.
Pengetahuan ilmu surat dari Gouw Teetok juga ada
berbatas, melainkan separuh dari isi nya surat itu ia dapat
baca, ia melihat sebentar, terus ia letaki surat itu diatas
meja.
Yo Bun Hoan ini hartawan, tetapi ia tidak budiman
kata ia kemudian seraya kerutkan alis. Ketika untuk
pertama kali aku turut To Ciangkun datang ke mari, dia

diminta menderma uang untuk angkatan perang, dia cuma


menyokong seribu tail perak, tidak lebih, dia tidak pikir,
umpama kata pemberontak berhasil merampas kota ini,
sekalipun jiwanya, barangkali dia tak dapat tolong lagi.
Surat ini tidak menjelaskan diapunya sepakterjang sebagai
pemberontak tetapi dia toh sukar lolos dari sangkaan. Apa
sipembawa surat sudah di tangkap?
Dia belum ditangkap, tapi dia telah diawasi, sahut Bu
Kian Hun. Sekarang dia berada disebuah penginapan
didekat Tong kwan thia
Baik! Dia tak boleh dibikin lolos, kata teetok itu, yang
terus kasi perintah bunyikan tambur untuk bermusyawarat.
Maka dilain saat Bu Siupie bersama lain2 perwira, sudah
berkumpul didalam markas.
Gouw Teetok muncul setelah ia mengenakan
seragamnya. Atas ia punya perintah, Hu ciang Ciu Tek
Kong muncul didepannya, untuk terima tugas, yalan
membawa seratus serdadu, untuk pergi melakukan
penangkapan atas diri Yo Bun Hoan dan keluarga yang
bertempat tinggal di jalan Liong tam kay di Hoa im, sedang
Siupie Bu Kian Hun dapat tugas untuk tawan sipembawa
surat dihotel Hok Seng didekat Tiong kwan thia.
Kedua opsir itu terima tugas kalau Hu ciang Ciu Tek
Kong dengan seratus perajurit menuju ke Liong tam kay,
adalah Siupie Bu Kian Hun segera pulang ke Tong kwan
buat bawa dua puluh serdadu serta dua pacong atau sersan
berikut Goan Siong sijuru warta untuk pergi ke Tong kwan
thia. Belum sampai dihotel, dari jauh2 mereka sudah
dipapaki satu serdadu dalam pakaian preman, yang
ditugaskan sebagai pengawas, bahwa dari hotel Hok Seng
tak pernah ada tetamu keluar, ada juga yang baharu datang.

Bu Kian Hun terima laporan itu, setelah titahkan


mata2nya itu undurkan diri, ia maju sambil perintah dua
belas serdadunya serta satu sersan segera kurung hotel Hok
Seng, ia sendiri bersama satu sersan dan delapan perwira,
langsung masuk kedalam. Siong Goan tetap ikuti kapten
muda ini.
Orang dihotel kaget dengan kunjungan yang tiba itu,
antaranya ada yang segera melaporkan kepada pemiliknya
dan tukang uang. Tetamu pun heran.
Pemilik hotel jangan ibuk Bu Siupie kata. Kita ada
terima laporan hal menyelundupnya mata, pemberontak
kemari, bahwa dia telah memasuki penginapanmu. Coba
kau terangkan, hari ini kau ada punya berapa banyak
tetamu?
Pemilik hotel baru keluar mendengar perkataannya
kapten itu. la bersenyum dan memberi hormat, lantas
berdiri dipinggiran.
Harap tayjin ketahui, penginapanku sudah berdiri dua
puluh dua tahun selama itu aku dapat nama baik, nama
nama tetamu ada daftarnya, dari itu, silahkan tayjin periksa
daftar saja, Kata ia. Dan ia terus serahkan buku hotelnya.
Bu Siupie periksa daftar itu dilembaran tertanggal hari
itu, ia dapati dua nama, satu saudagar Ong Eng Tek dari
Hoolom, satu pula Hoa In Hong, saudagar dari An hui.
Penginapan ini apakah milik mu? kemudian ia tanya
tuan rumah. Kau she dan nama apa?
Pemilik itu sebutkan namanya, Tio Seng Hoa.
Tio Seng Hoa, tentang nama baikmu, aku tak perduli,
tapi aku datang atas titah Kun bun, untuk membikin
pemeriksaan, asal kau bisa jaga hingga mata2 itu tidak
lolos, aku nanti tolong kau, sebaliknya, apabila rahasia

bocor dan dia kabur, asal kau temahai uang sogokan awas,
jaga batok kepalamu! Kau dengar?
Seng Hoa ketakutan, ia membungkuk memanggut . Ya,
ya, ia menyahut ber ulang2.
Bu Siupie melirik kedalam, hingga ia tampak, para
tetamu yang kuatir terbawa, diam2 pergi memasuki kamar
mereka masing2.
Seng Hoa, mana kamarnya kedua tetamu yang paling
baharu?
Saudagar she Ong tinggal di kamar No. 3 Utara dan
saudagar she Hoa dikamar No. 7 Selatan, sahut pemilik
hotel itu.
Mari kita lihat! kata kapten itu kepada orang2nya, ia
sendiri pun terus bertindak kedalam.
Seng Hoa mengikuti.
Kita periksa dahulu kamar utara, Bu Kian Hun
jelaskan. Mulai kamar No.1!
Ada pemeriksaan! Seng
memberitahukan para tetamunya.

Hoa

teriaki,

untuk

Dua serdadu, dengan golok terhunus, mulai periksa


kekamar nomor satu. Sambil lihat daftar, Bu Siupie tanya
penumpang hotel dan geledah juga barangnya. Disini ia
tidak peroleh hasil, ia lantas periksa kamar nomor dua. Ia
tidak langsung periksa kamar Selatan, untuk tidak membuat
orang kaget. Dikamar nomor dua ini pun tidak ada
hasilnya. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan, sampai
dikamar nomor tujuh Selatan. Disini Goan Siong siang
pernahkan diri dibelakangnya Bu Siupie.
Ketika tuan rumah tarik daun pintu kamar No. 7 itu,
penumpangnya sudah berdiri dimuka pintu sekali.

Bu Kian Hun dapati satu pemuda umur dua puluh lebih,


mukanya putih, romannya cakap, pinggangnya ceking
tetapi dadanya lebar, sikapnya gagah, bajunya thungsha
sutera warna biru. Satu kuncir besar dan kendor meroyot
turun dibelakangnya.
Kau she apa, nama apa dan asal dari mana? siupie itu
menegur.
Aku ada saudagar she Hoa nama In Hong asal An hui,
sahut tetamu hotel itu dengan hormat, jawabannya
diberikan dengan cepat.
Tayjin, jangan kasi dia lolos! Inilah dia orangnya! tiba
kata Goan Siong dari belakangnya kapten itu.
Jangan banyak omong, aku tahu!
membentak seraya ia menoleh kebelakang.

Bu

Siupie

Kemudian ia lanjutkan menanya Kau datang dari


mana? Ada urusan apa kau datang ke kota Tong kwan ini?
Bicara!
Aku datang dari Lim hoay, untuk tengok sahabat di
Hoa im, sahut In Hong.
Sahabatmu itu rupanya orang she Yo. kata Bu Siupie
sambil tertawa dingin.
Hoa In Hong tercengang.
Hoa In Hong, kau jadinya datang dari Lim hoay?
Bagus. Siupie itu kata secara mengejek. Sudah sekian
lama Lim hoay diduduki pemberontak Rambut Panjang!
Kau datang dari sana, pasti kau tahu, kapan pemberontak
akan datang merampas kota Tong kwan ini?
Mukanya pemuda itu menjadi berubah, terang ia gusar.

Aku tidak mengerti, tayjin, kata ia. Aku ada satu


saudagar yang taat kepada undang2 negara. Mana aku tahu
pemberontak hendak rampas Tong kwan atau tidak?
Kau jangan nyangkal! Bu Siupie kata. Selagi
memasuki kota Tong kwan kau kehilangan apa?
Oh, apa tayjin dapat bekuk seorang jahat? In Hong
baliki.
Apa sangkutannya kau dengan sipenjahat? Bu Siupie
tegasi.
Duduknya hal begini, tayjin. Ketika memasuki kota,
serdadu penjaga telah periksa aku dan barang2ku. Orang
ada banyak dan berdempetan, aku alpa, penjahat telah
copet satu bungkusanku yang kecil, dalam mana ada
beberapa tail uang perak. Hilang uang ada perkara kecil
bagiku, tapi dalam bungkusan itu ada sepucuk surat yang
dititipkan padaku. Lenyapnya surat itu akan bikin aku malu
bertemu kepada penitipnya nanti. Jikalau tayjin berhasil
mendapati surat itu, tolong tayjin kembalikan padaku,
untuk tayjin punya kebaikan, aku bersukur sekali kepada
kau.
Bu Siupie tertawa dingin. Dengan begini teranglah surat
itu ada kepunyaan kau! kata ia Apa alamatnya surat itu?
Surat itu dialamatkan kepada Yo Bun Hoan di jalan
Liong tam kay di Hoa im, Tong kwan.
Mendengar jawaban itu, dengan sekonyong Bu Siupie
berseru Rantai ia!
Dan belum habis ucapannya itu, sehelai rantai sudah
menyamber kearah lehernya Hoa In Hong si tetamu hotel,
orang yang lakukan itu adalah sisersan.

In Hong kerutkan alis, akan


menyamber, terus ia tarik rantai itu.

tetapi

tangannya

Kenapa kau lancang menangkap orang? ia tanya.


Karena tertarik secara tiba2, tubuhnya sersan itu
sempoyongan, kepalanya mengenai pintu kamar, hingga ia
menjerit Aduh! Tapi segera ia membentak Binatang, kau
berani melawan?
Delapan serdadu pun segera hunus golok mereka dan
maju, untuk mengurung.
Pemberontak bernyali besar! Kau berani melawan?
demikian pun Bu Siupie membentak sambil tangannya
menuding.
In Hong gusar.
Aku ada rakyat baik apakah dosaku? tanya ia.
Kenapa aku diperlakukan sebagai orang jahat?
Kau toh datang dari sarang pemberontak? Bu Siupie
baliki. Bunyinya surat toh membuktikan kau menjunjung
kepada Tiong Ong, itu raja muda tetiron. Pasti kau nyelun
dup kemari, untuk mencari tahu rahasia, buat kau nanti jadi
penyambut pemberontak dari sebelah dalam! Apakah kau
ada satu rakyat baik2? Hm! Jangan kau menyangkal, kau
boleh adu lidahmu nanti dimarkas besar! Aku lagi jalankan
titahnya Kun bun untuk membekuk padamu! Jangan kau
bikin perlawanan, cuma2 kau bakal cari celaka sendiri!
Koa In Hong jadi sangat berduka.
Ada permusuhan apa diantara kau dan aku? tanya ia.
Kenapa kau tuduh aku sebagai pemberontak? Baik, mari
kita menghadap Kun bun! Aku mau lihat, apa dia bisa bikin
terhadap aku!

Geledah ia! merintah Bu Siupie sesudah orang


menyerah.
Sang sersan periksa tubuhnya In Hong. tetapi tidak ada
kedapatan lain bukti pelanggaran. Pemuda itu ada punya
ikat pinggang kumala Kiu liong Giok bwee, satu serdadu
ulur tangannya, akan ambil itu, tetapi In Hong egos
tubuhnya.
Kau mau apa, eh? ia tegor. Giok bwee ini berharga
seperti sebuah kota! Apakah kau hilap ?
Serdadu itu gusar, sebelah tangannya melayang kearah
muka orang.
In Hong berkelit, dengan tangan kiri ia ganjel orang
punya tangan kanan yang dipakai menyerang itu.
Jangan lancang pukul orang! ia kata.
Tapi siserdadu itu menjerit aduh! Dia pegangi
lengannya sampai dia tak bisa buka mulut lebih jauh.
Ketika ia menoleh pada Bu Siupie, pembesar itu justeru
deliki padanya, hingga terpaksa ia tutup mulut lebih jauh.
Satu serdadu, yang menggeledah kamar, dapati satu
bungkusan kecil dan panjang, ia serahkan itu pada sikapten,
apabila bungkusan itu dibuka, isinya ada beberapa potong
pakaian serta sepasang poan koan pit senjata yang mirip
dengan pit, alat tulis.
Menampak orang punya senjata yang langka, Bu Siupie
percaya orang she Hoa ini bukan orang sembarangan,
karena itu, segera ia ubah sikapnya.
Apakah kau masih punyakan lain barang? ia tanya
dengan sabar.

Cuma ini satu bungkusan, sahut In Hong. Pada


pemilik hotel ada kelebihan uangku, aku tak inginkan lagi
itu.
Uangmu tak akan kurang sedikit juga, kata tuan
rumah, yang sedari tadi berdiri bengong saja. Terus ia kata
pada satu jongosnya Pergi pada tukang uang, ambil uang
titipannya Tuan Hong ini.
Jongos itu menurut, ia undurkan diri.
Hu Siupie perintah sersannya juga menggeledah kamar
terlebih jauh.
Tidak lama jongos tadi balik bersama uangnya In Hong,
empat tail tiga chie.
Tuan Hoa, inilah uangmu, kata tuan rumah. Tentang
uang sewa kamar, tak usah kau bayar.
In Hong diam saja.
Bu Siupie perintah serdadunya simpan uang itu dalam
buntalan, kepada In Hong, ia kata Apabila sebentar
dimarkas besar dapat dibuktikan kau tidak bersalah, bisa
jadi kau akan segera dimerdekakan, maka uang ini dan
pakaianmu akan dikembalikan semua
Masih saja In Hong berdiam, ia tunduk sambil berpikir.
Siupie itu terus perintah siapkan kereta.
Tak usah tayjin cari kereta luaran, aku ada punya itu,
kata pemilik hotel, yang hendak ambil hatinya ponggawa
itu.
Bu Kian Hun manggut, tetapi dengan roman sungguh2,
ia kata Tuan, harap kau suka capekan diri sedikit, mari
kita pergi bersama

Tuan rumah kaget, hingga mukanya jadi pucat, tapi


segera ia dekati kapten itu setindak, dengan air muka
berseri, ia kata dengan roman sungguh ia berkata Tapi aku
ada punya rahasia, mari kita pergi kekantoranku, sebentar
saja, pasti tempo tayjin tak akan sampai diabaikan.
Wajahnya siupie itu tidak berubah akan tetapi kakinya
bertindak mengikuti tuan rumah ke kantorannya dia ini,
sekembalinya dari kantorannya hotel itu, tak lagi ia sebut2
akan ajak tuan rumah itu, malah, selagi kereta sudah siap,
ia kata pada In Hong Sahabat, silahkan naik kereta!
Dengan tidak bilang suatu apa, In Hong naik kekereta,
dua serdadu, dengan golok terhunus turut naik akan
dampingi ia. Sesampainya diluar, kereta diiring oleh semua
serdadu serta dua sersan nya dengan Bu Siupie duduk atas
kudanya.
Selama itu, banyak penduduk yang berkumpul untuk
menonton, hingga muka hotel menjadi ramai. Ketika kereta
diputar ke arah timur, salah satu serdadu yang apit In Hong
lihat diantara orang banyak ada satu orang yang mencurigai
mereka. Orang itu berumur enam puluh lebih, tubuhnya
kurus sekali, hingga tertampak saja sepasang matanya yang
dalam, kumis jenggotnya sudah putih semua seperti perak,
bajunya panjang dan gerombongan, terbuat dari sutera Su
coan, kancingnya kuning dan besar, kaos kakinya putih,
panjang sampai didengkul, kepalanya ditutup dengan
kopiah rumput Ma lian po yang besar, tangan kirinya
menenteng satu bungkusan warna kuning kecil.
Ia lihat orang tua itu angkat tangan kearah kereta, justru
In Hong pun menoleh kearah dia itu. Serdadu itu terkejut,
tempo ia awasi lebih jauh si orang tua, dia itu sudah
bertindak kearah barat, maka terus ia kata pada si anak
muda Sahabat, orang tua itu rupanya ada tetanggamu!
Jikalau kau kenal dia, akuilah! Walaupun kita pakai

seragam, mustahil kita tak kenal persahabatan? Apabila kau


perlu memberi kabar apa2 kepadanya, kita suka sekali
tolongi padamu
In Hong angkat kepalanya, secara tawar ia awasi serdadu
itu.
Aku tak punya kenalan disini, terima kasih untuk
kebaikan kau, sahut ia.
Hm! si serdadu perdengarkan suara dihidung, seraya ia
lirik orang tawanan itu.
Selagi kereta jalan terus, serdadu itu memandang kearah
barat, tapi sekarang si orang tua sudah tidak ada
bayang2annya jua. Karena tak ada terjadi suatu apa, ia pun
tidak tanya In Hong lebih jauh.
Selama itu, Goan Siong si pembawa kabar mengeluh
seorang diri. Ia tidak punya kuda, terpaksa ia mesti jalan
mengikuti dibelakang kereta. Ia lesu sekali, ia sampai
memikir buat nyeplos saja tetapi ia tak berani, ketika
kemudian orang sampai dimarkas besar, ia letih bukan
main.
In Hong dari atas keretanya segera lihat bagaimana
markas terjaga kuat.
Bu Siupie maju dimuka, ia nyender kepada samping
gunung, ga pintu markas, setelah itu, kereta dan
rombongannya diperkenankan masuk.
Disebelah dalam, In Hong lihat penjagaan terlebih kuat.
Ia pun saksikan tangsi, yang seperti menyender kepada
samping gunung. Diwaktu jauh lohor, disitu tidak ada
cahaya matahari, yang teraling oleh gunung yang tinggi.
Dimuka kemah sekali bersiap dua puluh serdadu panah
dan dua puluh serdadu bersenjata golok, semua berusia

diatas tiga puluh tahun, tubuhnya kekar, romannya gagah.


Dua opsir berdiri dikiri kanan pintu kemah. Dari kemah
pusat itu, dari selatan kentara, setiap lima tumbak, ada
sebuah kemah kecil, dan setiap sepulun kemah kecil ada
sebuah kemah besar, demikian seterusnya. Empat buah
lentera angin dipancarkan di setiap kemah besar dan
sepasang lentera putih disetiap kemah kecil.
Kapan kereta diberhentikan dimuka markas, disitu
muncul satu tong leng atau komandan, dan Bu Siupie yang
sudah turun dari kudanya, memberi hormat kepada
komandan itu, seraya terus tuturkan hal ditangkapnya Hoa
In Hong kemudian dia tanya Dimana orang tangkapan itu
mesti ditempatkan?
Bawa dia kedalam sini dan tunggu, tong leng itu kasi
perintah.
Bu Siupie turut titah, ia perintah In Hong diturunkan
dari kereta, bersama Goan Siong, dia dibawa kedalam
kemah. Maka itu, pemuda ini mirip dengan seekor kambing
yang diantar kemulut harimau.
-0dw0II
Kemah ada lebar, selain pembaringan, kursi meja
lengkap. Didekat pintupun ada sebuah bangku panjang. In
Hong diperintah duduk dibangku itu. Goan Siong diantap
saja, walaupun ia leluasa, ia pun likat sendirinya. Dua
serdadu menjaga dipintu.
Harap Lauwko tunggu disini, aku akan menghadap
Kun bun, buat dengar titah lebih jauh,
Silahkan,
berabe

jawab Bu Siupie, Aku

bikin

tayjin

Ah, tidak sama sekali, bilang tong leng itu, yang terus
bertindak ke dalam. Ia pergi tidak lama, lantas ia kembali,
akan kata kepada Bu Siupie itu Kun bun menitah Lauwko
kembali ke Tong kwan, untuk terus bikin penjagaan dengan
hati2. Katanya lauwko berjasa, kalau nanti perkara Yo Bun
Hoan sudah jelas, lauwko akan dapat ganjaran. Pembawa
berita ini boleh diajak pulang, Kun bun bilang, bila dia suka
bekerja untuk negara, dia boleh dikasi suatu jabatan, kalau
tidak, dia boleh dikasi presen saja.
Bu Siupie manggut.
Apakah
Kun
bun
pemeriksaan? ia tanya.

tidak

segera

melakukan

Sekarang tidak, tong leng itu manggut. Kun bun


hendak tunggu kembalinya Ciu Hu ciang. untuk membikin
pemeriksaan berbareng.
Bu Siupie memberi hormat, ia pamitan dan pergi sambil
ajak Goan Siong.
Kapan cuaca telah mulai gelap ketika itu sudah jam
enam lewat, mendekati jam tujuh lentera2 diluar dan
didalam sudah mulai dinyalakan. Satu serdadu bawakan In
Hong tiga biji kuwe moa2.
Inilah dari tong leng, kata dia. Kau lekas dahar, isi
perut dulu paling benar.
Tolong bilang terima kasih pada tong leng, In Hong
bilang.
Pemuda ini hendak legakan hati, ia jumput kuwe itu dan
dahar, tapi baru dua kali gigit, tiba2 ia merasa tak enak hati
ia terus letaki sisa kuwe nya. Itu waktu, kupingnya pun
dengar tindakan kaki kuda, yang lekas menjadi semakin
nyata. Ia duduk menghadapi pintu, dari mana ia dapat
melihat kearah luar. Tindakan kaki banyak kuda tercampur

dengan suara roda2 kereta. Untuk bisa melihat lebih nyata,


diam2 ia geser sedikit bangkunya. Ia mengawasi kejurusan
utara.
Antara patok2 pertahanan kelihatan serombongan kuda
putih, setiap empat atau lima ekor kuda, ada sebuah obor,
hingga semua obor nampaknya seperti naga api saja.
Setelah beberapa puluh kuda putih, ada empat buah kereta,
disetiap kereta, di bagian depannya, bercokol dua serdadu,
yang masing memegangi obor. Barisan itu langsung
memasuki daerah markas, hanya sesampai didalam, barisan
terpecah dua, untuk kasi empat buah kereta lewat. Barisan
itu terdiri dari serdadu2 yang bersenjata tumbak panjang
dan panah.
Dibelakang kereta, yang muatannya kelihatannya berat,
ada rombongan orang tak berseragam, yang bulu
kudanyapun campur baur, senjatanya ada golok dan thie
cio. Dipaling belakang ada tiga penunggang kuda lain, yang
ada pembesar sipil dari tingkat ketujuh. Adalah dibelakang
mereka bertiga, satu ponggawa ada diiring empat perajurit.
Dia ini adalah Hu ciang Ciu Tek Kong, siapa segera loncat
turun dari kudanya, akan memasuki kemah sambil ber lari2,
hingga sekejab saja, In Hong tak dapat lihat pula padanya.
Tapi dia muncul pula dengan lekas, akan kasi perintah
dengan pelahan pada satu orangnya, atas mana, semua
serdadu seratus jiwa lebih pada loncat turun dari kudanya
masing2, akan kurung empat buah kereta. Kuda mereka
sudah lantas ada orang2 yang tuntun pergi.
Lekas juga, penumpang kereta mulai dikasi turun.
Dari kereta pertama kelihatan turun seorang umur lima
puluh lebih, tubuhnya kurus, mukanya putih bersih, benar
ia tidak memakai topi tapi nampaknya agung. Ia pakai baju
panjang dari sutera, kaos kakinya putih. Leher dan kedua
lengannya terbelenggu.

Dari kereta ke dua muncul dua anak muda, seorang dari


usia pertengahan, dan seorang tua umur kira tujuh puluh
tahun. Orang tua ini dandan mirip bujang. Dari kedua
pemuda, yang satu berumur dua puluh lebih, yang satu lagi
baharu lima atau enam belas tahun. Yang usia pertengahan,
mukanya pucat, tubuhnya gemetaran. Adalah si orang tua
seperti bujang, yang sikapnya tenang, seperti tak terjadi
urusan apa juga.
Dari kereta ke tiga dan keempat, turun sama sekali tujuh
orang perempuan. Beda daripada semua orang lelaki, yang
terantai, semua orang perempuan ada bebas. Mereka ini
digiring kebelakang.
Diam2, In Hong mengelah napas. Ia tahu, itulah Yo Bun
Hoan serta semua anggauta keluarganya yang telah
ditawan. Ia insaf, kejadian itu ada gara2 nya. karena ia
punya keteledoran. Itu ada akibat terhilangnya ia punya
surat. Ia tidak sangka terjadi onar sangat hebat.
Tapi tadi suhu berikan tanda kepadaku, rupanya dia
kuatir aku gunai kekerasan pikir ia. Suhu telah datang, aku
percaya dia sanggup tolongi kita semua. Cuma, malu aku
akan menemui suhu dan Yo Siok hu
Maka itu, pemuda ini kerutkan alisnya.
Justeru itu, tiba2 menderulah suara tambur yang nyaring
dan berisik dimalam yang sunyi itu. Ditangsi ada banyak
serdadu, tetapi mereka taati disiplin.
Setelah tiga lintasan suara tambur, In Hong lihat
pergerakan tentara, yang terdiri dari kira2 tiga puluh
serdadu. Kecuali suara sepatu mereka. Diantara mereka ada
Liok Tong leng dengan pakaian seragamnya, Dia pesan
akan barisannya menjaga dengan hati2 atau mereka harus
tahu sendiri.

Menyusul berlalunya tong leng itu lalu terdengar satu


suara nyaring Bawa menghadap si pembawa surat nama
Hoa In Hong!
Titah ini dapat sambutan dari serdadu yang bertugas
menjagai In Hong.
Segera Hu ciang Ciu Tek Seng muncul lagi.
Kemudian si orang she Hu bersahut ia bilang. Ia
nampaknya tidak sabaran.
Baik, tayjin, sahut satu serdadu, siapa lalu hampirkan
In Hong dan berkata Sahabat baik. Mari ! Terus ia tarik
orang punya rantai.
Dalam keadaan seperti itu, In Hong menurut saja.
Sekeluarnya dari kemah, In Hong dihadapkan Ciu Hu
Tek Kong merangkap menjadi tiong kun khoa, siapa ada
bersama dua serdadu pengiring yang membawa tanglung.
Kau yang bernama Hoa In Hong ? tanya tiong kun
khoa itu seraya angkat lenteranya.
Ya, In Hong jawab.
Nah, bawa dia! hu ciang perintah pada serdadunya.
Nyata hu ciang ini ada bawa satu barisan kecil.
Dari tangannya Liok Tong leng orang sambuti rantainya
In Hong, siapa ikut orang bawa ia kemarkas, yang diwaktu
malam, terjaga semakin kuat. Tanglung dan obor pun
banyak dipasang, hingga muka markas besar jadi terang
sekali.
Markas ada punya ruangan yang besar, dimuka meja ada
lapang yang lebar. Dibelakang meja ada pin hong atau
sekosol. Dibelakang meja ada empat hu wie dengan kopiah
berunce merah dan atasnya putih, dengan golok di masing

pinggangnya. Didepan meja, berbaris dikiri dan kanan,


berbagai perwira atau bentara. Diempat penjuru ada
dipasang lentera yang kak teng dan dua buah lampu
minyak.
Hoa In Hong diperintah berdiri disebelah kiri, disebelah
kanan sudah berkumpul Yo Bun Hoan dan keluarganya.
Tidak lama, dari belakang pin hong muncul dua
pengawal, satu diantaranya terus bersuara kun bun
datang!
Semua orang segera berdiri tegak.
Gouw Teetok muncul dengar. sikapnya yang keren dan
agung, begitu lekas ia duduk, semua ponggawa memberi
hormat padanya, kemudian mereka kembali ketempat
berdiri masing2.
Dimatanya In Hong, Gouw Teetok ada beroman bengis
dan kejam, mukanyapun merah bagaikan kepiting, sepasang
alisnya gomplok, sepasang matanya bersinar bagaikan mata
harimau, dia duduk diam toh agaknya ia seperti sedang
murka.
Setelah berduduk dan melihat kertas yang terbeber diatas
meja, Teetok ini angkat pit merah dan mencoret beberapa
kali, atas mana opsir yang berdiri dibelakangnya segera
buka mulutnya Hadapkan Yo Bun Hoan, Yo See Tiong,
Yo See Hian, Yo An, Gan Bun Yan dan Hoa In Hong!
Sambil menyahut satu serdadu lakukan titah itu.
Dua anak muda, seorang tua, seorang usia pertengahan,
lantas berlutut didepan pembesar militer itu, melainkan Yo
Bun Hoan yang menjura seraya perkenalkan diri sambil
gunai sebutan boan seng, kemudian ia berdiri.

Kedua matanya Gouw Teetok terbuka lebar, tangannya


menggebrak meja, terus dipakai menuding.
Yo Bun Hoan, kau besar kepala! Dengan derajat apa
kau madap pun kunbun? Kenapa kau berani tidak
menjalankan adat peradatan? demikian ia menegor.
Dihadapan kun bun, boan seng tidak berani tidak
berlaku hormat, sahut Yo Bun Hoan, sikapnya sabar
sekali. Boanseng berasal kie jin dan dalam ujian diistana,
ada lulusan Sam goan, setelah itu beruntun boan seng
menjadi ceng tong di Lam thian, Ouwlam, di Bu tyin,
Kangsouw, dan Tan yang, kemudian lagi menjadi Souw
siang too dan Yam un su di Liang Hoay
Gouw Teetok tertawa bergelak apabila ia sudah dengar
keterangan itu, tapi segera juga ia perlihatkan tampang
muram.
Oh, kau jadinya ada Yo Kie jin! kata ia secara
mengejek. jadi aku sudah berlaku kurang hormat! Tapi
sekarang Yo Kie jin punyakan kedudukan apa dan apa
pangkatmu yang mulia?
Boanseng telah letakkan, jabatan sejak beberapa tahun
yang lalu, sahut orang she Yo itu.
Jawaban ini disambut dengan gebrakan meja oleh Teetok
itu.
Ha! kau sekarang toh ada satu rakyat jelata! kata dia.
Kenapa, menghadap pun kunbun kau berlaku begini
kurang ajar? Inilah menyatakan ditempatmu ini entah
bagaimana tak halal kau sudah bertindak! Sekarang aku
hendak ajar adat terlebih dahulu pada kau, sesudah itu
baharu aku akan periksa kau tentang sepak terjang
pemberontakanmu! Hayo, gusur dia, berikan dia empat
puluh toya!

Mukanya Yo Bun Hoan jadi merah padam, gusarnya


bukan kepalang.
Kunbun ada satu panglima perang, tugasmu adalah
membela negara dan melindungi rakyat! kata ia,
Boanseng ada satu bekas pembesar yang telah undurkan
diri, yang menjadi rakyat yang damai, maka cara
bagaimana kunbun boleh berlaku begini sewenang2? Sudah
kami ditangkap tanpa beritahukan dosa kami, sekarang pun
tanpa tanya penjelasan, boanseng hendak diperhina dengan
hukuman rangket! Bagaimana itu bisa terjadi? Boanseng
ingin tanya, boanseng sudah lakukan kedosaan apa?
Boanseng ada bekas hamba negeri, boanseng tahu aturan,
asal boanseng berdosa dan harus terima hukuman
karenanya, boanseng nanti mati tanpa penasaran! Boanseng
ingin kunbun beber boanseng punya kedosaan, untuk itu
boanseng akan bersukur tak habisnya!
Yo Bun Hoan, jangan adu mulut! Gouw Teetok
membentak. Aku hendak tanya kau, sekarang ini kota Lim
hoay berada ditangan siapa?
Menurut kabar, kota Lim hoay telah berada ditangan
kawanan pemberontak Rambut Panjang, sahut Yo Bun
Hoan selaga lugu nya.
Gouw Teetok gebrak meja.
Tepat! dia berseru. Lim hoay telah diduduki berandal
Rambut Panjang, penduduknya telah terbinasa dan kabur,
siapa tak mampu lari dan tak bisa lolos, dia tentu menyerah
dan menakluk kepada kawanan berandal itu! Tapi kau,
kenapa kau justeru hendak pergi ke Lim hoay untuk tinggal
disana? Apa maksudmu?
Yo Bun Hoan melengak bahna herannya, ia mendelong
awasi kepala perang itu.

Kunbun, apa artinya kata2 mu ini? tanya ia kemudian.


Selama beberapa tahun ini, belum pernah boanseng
meninggalkan distrik Hoa im, dari itu cara bagaimana
boanseng dapat memikir untuk pergi ke Lim hoay?
Yo Bun Hoan, kau terlalu licin! Gouw Teetok
menjerit. Kau sendiri insaf, jangan kau anggap pun
kunbun sebagai seorang dungu, yang gampang untuk
diakali! Kau menduga keliru bila kau berpikir demikian!
Jikalau kau tidak ingin menderita, lekas kau omong dengan
sebenarnya! Aku suka mengasihani kau, mengingat kau
pernah pangku pangkat, kita mesti saling menolong, aku
nanti berikan keringanan kepada kau, tapi apabila kau
hendak bikin sulit padaku, aku terpaksa, jangan kau,
mengingat kau pernah pangku. Yo Bun Hoan, sebenarnya
kaupunya sahabat kekal siapa dikota Lim hoay? Apa
pekerjaannya sahabat itu? Kau ada punya hubungan apa
dengan Lie Siu Seng? Kawanan Rambut Panjang hendak
memasuki propinsi Siamsay, dia siapkan berapa banyak
tentaranya? Kau pasti ketahui semua itu, baik kau jelaskan
padaku. Aku suka berbuat baik, aku nanti bukai jalanan
hidup untukmu. Kau pun harus merasa kasihan terhadap
beberapa laksa jiwa penduduk Kwan tiong, agar mereka
bebas dari malapetaka peperangan. Baik kau jelaskan
padaku, berapa kekuatannya Tiong ong Lie Siu Seng dan
Thio Lok Heng dan kapan mereka akan menyerbu kemari?
Jikalau kau kedudukan segala apa dengan jelas padaku,
dimuka Ciang kun, aku nanti lindungi kau. Untuk itu, ada
gampang sekali, cukup asal kau ngaku menyesal sudah
berkongkol dengan kawanan berandal Rambut Panjang dan
kau bersedia mengorbankan harta bandamu, untuk
menyokong angkatan perang negara. Dengan itu, kau bisa
tebus dosamu. Nah, Yo Bun Hoan, apa kau masih tidak
mau lekas bicara?

Kata2nya Teetok itu membuat Yo Bun Hoan terbenam


dalam kebingungan. Ia hanya insaf, ia sedang terfitnah,
bahwa ancaman hukuman dari itu baginya ada hebat luar
biasa, karena ia dituduh mempunyai sangkutan dengan
kaum pemberontak.
Kunbun, boanseng berterima kasih untuk kebaikanmu,
kata ia kemudian. Akan tetapi dengan sebenarnya
boanseng tidak jelas dengan duduknya perkara, dari itu,
bagaimana boanseng bisa bikin pengakuan?
Gouw Teetok mendelik pula.
Yo Bun Hoan, kau terlalu bandel! ia membentak.
Aku bermaksud baik terhadapmu, mengapa kau tidak
hargai itu? Kau bilang tidak tahu apa2, tetapi lihat orang
itu, kenal dia siapa?
Teetok ini tunjuk In Hong.
Bun Hoan menoleh pada si anak muda, yang ia tidak
kenal.
Boanseng tidak punya perhubungan dengan dia,
boanseng tidak kenal, ia jawab.
Gouw Teetok ada begitu murka hingga ia samber bak hie
dan pakai itu menimpuk mukanya Bun Hoan.
Kau benar bandel ! iapun berseru.
Bun Hoan berkelit, bak hie itu lewat diatas kepalanya,
terus mengenai dadanya satu serdadu algojo bermulut
seperti cecongor bebek, hingga dia ini rubuh sambil menjerit
dan terus bergulingan ditanah sambil ter aduh2
Tiong kun khoa lihat itu, ia gapaikan empat serdadu,
akan gotong keluar algojo itu.
Seluruh kemah jadi tegang karena mereka tahu, satu kali
murka, Gouw Teetok jadi beringas dan gampang sekali

dengan titahnya hukuman mati, hingga dia bisa jadi surup


dengan julukannya, situkang keset kulit.
Yo Bun Hoan juga mendongkol karena satu teetok ada
sedemikian kasar, main mendamprat orang, tapi disamping
itu ia insaf, ia sedang hadapi ancaman bahaya maut.
Biar kau ada sanak atau ipar raja, lebih dahulu aku
mesti hajar kau, baharu kita bicara! kata Gouw Teetok
dengan suara keras, saking mendongkolnya. Dan ketika
kiejin itu hendak buka mulutnya, ia mendahului Mari
orang! Rangket dia!
Dua serdadu, galak bagaikan serigala, segera loncat pada
Yo Bun Hoan, untuk cekal lengan nya dia ini.
Jangan banyak mulut! mereka membentak. Mari!
Bun Hoan segera digusur ke muka kemah, kakinya
direngkas hingga rubuh tengkurap, tubuhnya segera
ditindih, kedua tangannya sebatas pundak ditekan,
rambutnya ditarik, hingga mukanya jadi terangkat. Satu
serdadu lain sementara itu bukakan orang punya celana
sebatas paha, hingga sukar kurban itu berontak2, apapula
kedua paha itupun ditekan.
Satu algojo segera maju dengan toyanya ditangan.
Hajar! Gouw Teetok berseru apabila ia lihat orang
sudah siap sedia. Serdadu itu hampirkan Yo Bun Hoan,
disamping kiri siapa tekuk kaki kanannya didepan dan kaki
kiri deku dibelakang, begitu lakas ia ayun toyanya, cepatlah
Yo Kiejin yang lemah dan usianya sudah lanjut, dengan
tiga jurus, dagingnya terluka dan mengucurkan darah, kalau
tadinya ia masih bisa menjerit, segera ia pingsan.
Algojo hentikan toyanya apabila ia lihat orang tak sedar
akan dirinya, ia beritahukan itu kepada panglima perang
itu.

Asapi dia, lalu hajar pula, demikian titahnya Gouw


Teetok.
Perintah ini diturut tanpa banyak omong, segumpal
kertas dan rumput dinyalakan, dibawa kemukanya Yo Bun
Hoan, untuk bikin asap masuk kedalam lobang hidung,
karena itu, sebentar kemudian, kurban itu berbangkis, lalu
tersedar akan dirinya.
Gouw Teetok tetap gusar ketika orang bawa Bun Hoan
menghadap pula kepadanya.
Kau terlalu lancang! ia tegur dua serdadunya. Tapi ia
terus tanya kurbannya itu Yo Bun Hoan, kau mau
mengaku atau tidak?
Boanseng tak tahu mesti ngaku bagaimana, sahut Bun
Hoan dengan lemah.
Teetok itu tertawa dingin.
Pun kunbun telah hidup di medan perang sebelas tahun
lamanya, karenanya, dapatlah aku punyakan pangkatku
ini! berkata, ia dengan sengit, tetapi sekarang, aku tidak
mau perdulikan pula pangkatku, aku mesti dapatkan
kaupunya pengakuan! Hayo, hajar dia dengan seratus
cambuk. Aku mau lihat, dia tahan uji atau tidak!
Mendengar itu, dua anak muda yang berlutut disebelah
belakang lantas merayap maju, dengan air mata ber linang2,
mereka manggut2 kepada teetok itu, kemudian dengan
sesenggukan mereka kata Kami mohon Teetok punya
belas kasihan, dosa yang ayah kami harus dapatkan, biarlah
kami yang men anggungnya
Habis mengucap demikian, kembali mereka manggut ber
ulang2.
Apakah namamu berdua? Gouw Teetok tanya.

Dua anak muda itu sebutkan nama mereka yang dikiri,


Yo See Tiong, dan yang dikanan, Yo See Hian.
Kau berdua berniat mewakilkan ayahmu, nyatalah kau
ada anak2 yang berbakti, berkata Gouw Teetok. Akan
tetapi kau mesti ketahui, ayahmu ada punya perhubungan
dengan kaum pemberontak Rambut Panjang. Ada siapa2
saja yang suka datang ini berketahuan ! Baiklah kau berikan
keteranganmu.
Cuma sekali hakseng tidak berani dustakan Kunbun,
sahut See Tiong sambil ia manggut. Hakseng berani
pastikan ayah tidak kenal kaum pemberontak Rambut
Panjang itu. Kecuali beberapa sasterawan, yang suka datang
pasang omong dengan ayah, tidak ada orang lain lagi.
Tutup mulut! Gouw Teetok membentak. Kau orang,
ayah dan anak2, tidak ada satu yang baik! Hayo, lebih
dahulu berikan mereka masing seratus cambuk!
Sebelum titah itu dijalankan, Hoa In Hong sudah
majukan dirinya.
Kun bun, sebenarnya apakah dosanya Yo Bun Hoan?
ia tanya, Dan aku ditawan dan dibawa ketangsi ini sebagai
seorang perantaian, apakah kesalahanku? Aku mohon
Kunbun berikan penjelasan kepadaku, apabila benar aku
bersalah, walaupun binasa, aku puas!
Gouw Teetok lirik pemuda itu Apakah kau yang
bernama Hoa In Hong? tanya dia, dengan dingin.
Benar. in Hong jawab.
Dari Lim hoay kau datang ke Tong kwan untuk apa?
Teetok itu tanya.
Atas titah guruku, aku harus sampaikan surat kepada
Yo Bun Hoan.

Apa she dan namanya gurumu itu? Dia kerja apa?


Guruku adalah Ong To Liong, ia ada satu guru silat.
Tiba2, Teetok itu membentak.
Kau datang dari sarang pemberontak, kau mesti adalah
pemberontak juga! Kau, guru dan murid, ada pangku
pangkat apa dibawah perintahnya Lie Siu Seng? Kapan Lie
Siu Seng bakal majukan tentaranya ke Siamsay? Lekas kau
kasi keterangan, apabila kau berani main gila, walaupun
kau berurat tembaga dan bertulang besi, Pun kunbun nanti
hajar kau hingga tulangmu patah dan uratmu putus!
Sementara itu Yo Bun Hoan rebah dengan separuh
pingsan dan separuh sedar, sukar untuk ia geraki tubuhnya,
karena bergerak sedikit saja, ia merasakan sakit bukan
kepalang, tetapi ia tahu apa yang terjadi, ia tahu kedua
puteranya mintakan keam punan baginya, tapi kapan ia
dengar perkataannya In Hong, tanpa merasa ia mengeluh
Ah, habislah jiwaku
-0dw0III
Bun Hoan segera ingat kejadian pada sepuluh tahun
yang lalu, ketika dari Lam thian, Ouwlam, karena dinasnya
sudah cukup, dia dipindahkan ke Bu cin di propinsi Kang
sow. Dihari pertama dari berangkatnya, selagi ia singgah
dalam sebuah hotel, ia bertetangga kamar sama satu tetamu
yang sedang merintih2, hingga ia merasa kasihan dan ingin
tahu apabila ia minta jongos cari keterangan, ia dapat tahu
tetamu itu sedang sakit berat, sakitnya datang mendadak,
sedang kemarin malamnya, dia itu masih segar bugar.

Katanya tetamu itu datang sejak beberapa hari. Tetamu


itu juga tidak undang thabib dan tidak beli obat, terutama
karena uang bekalannya telah dicuri orang jahat.
Mengetahui itu semua, ia sambangi tetamu itu. Tetamu itu
berumur kurang lebih lima puluh tahun, meskipun ia
sedang sakit, ia menunjuki roman bukan orang
sembarangan, sebagaimana dandanannya pun bukan
dandanan orang tak keruan macam. Maka itu, Bun Hoan
lantas menghiburkan, ia rogo sakunya untuk berikan
pertolongan. Atas orang punya kebaikan ini, tetamu itu
perkenalkan dirinya. Ternyata dia adalah Eng jiauw ong
Ong To Liong atau Ong si Kuku Garuda, jago yang
kenamaan di Selatan dan Utara sungai Tiang Kang, sebab
kepandaian silatnya yang liehay dan hatinya mulia, gemar
tolong si miskin dan si lemah ambil berbareng satronkan si
jahat, teristimewa ia benci kaum kang ouw yang busuk dan
kejam, iapun dimusuhi hebat kaum kang ouw itu. Sebelum
ia datang dihotelnya, oleh satu musuh, ia kena dibokong
dengan senjata rahasia yang beracun. Baiknya karena
tubuhnya kuat sehingga ia masih dapat mencari hotel.
Sebenarnya ia bisa obati lukanya Itu, asal ia bisa beli obat
seharga dua puluh tail perak, apa lacur, selagi ia terluka,
penjahat sudah curi uangnya. Ia tahu tuan rumah ada
seorang rendah martabatnya, ia tidak mau banyak omong,
ia serahkan diri kepada nasib. Beruntung baginya disaat
hebat itu, datang Yo Bun Hoan, siapa sudah tolongi ia,
hingga selanjutnya mereka jadi bersahabat kekal. Sekarang,
selang sepuluh tahun, Eng Jiauw Ong telah utus muridnya
membawa surat kepada penolongnya itu. Adalah diluar
dugaan surat itu sudah menjadi bibit malapetaka!
Selagi Yo Bun Hoan anggap dia tak bakal ketolongan, In
Hong turuti darah mudanya, ia jadi sangat gusar karena
kekasarannya Gouw Teetok, dengan nyaring ia kata Kun
bun, walaupun aku datang dari Lim hoay, tak seharusnya

aku dipandang sebagai pemberontak! Guruku tinggal di Lek


tiok tong di Ceng hong po, Hoay siang. Di Hoay siang ada
sebelas desa, karena dibangunnya pasukan sukarela itu,
pemberontak Rambut Panjang tidak berani ganggu kami.
Kami penduduk Hoay siang ada punya rumah tangga,
mana kami kesudian berhubungan dengan pemberontak?
Tentang pemberontak niat terjang Kwan tiong, itu adalah
kabarannya saja, tentang kebenarannya kami tidak berani
pastikan.
Kau cuci diri bersih sekali! Gouw Teetok kata dengan
tak kurang nyaringnya.
Tapi dalam suratmu itu raja tetiron dari kaum
pemberontak kau sebut dengan sebutan Tiong Ong, itu
menyatakan bahwa kau adalah orang sebawahannya!
Apakah kau tetap menyangkal?
Itulah sebutan belaka, In Hong jawab, Guruku sudah
tua, ia menyebut secara umum saja. Aku sendiri ada satu
penduduk baik, yang tidak tahu banyak tentang sebutan.
Maka itu, harap Kun bun maklum.
Tetapi Gouw Teetok gebrak meja.
Aku tanya kau dengan baik, kau tidak mau mengaku!
berseru ia. Gusur empat orang ini keluar, hajar dahulu
setiap orangnya dua ratus cambuk! Pun kun bun tidak
hendak periksa lebih jauh pada kau, besok kau akan dibawa
kepintu kota untuk kepala anjingmu semua dikutungkan,
untuk membikin tenang hatinya penduduk kota ini!
Perintahnya Teetok itu tidak ada yang berani bantah,
maka itu, empat serdadu segera maju, untuk menggusur.
Hoa In Hong berbangkit.
Kunbun! Kau seperti hendak paksa rakyat berontak! ia
berseru.

Gouw Teetok mendongkol, tetapi ia tertawa dingin.


Kau berani berontak? ia tegaskan.
Belum berhenti suaranya Teetok itu, atau diatas kemah,
pada tenda, terdengar suara Bret! yang nyaring dan
panjang, segera muncul dari wuwungan kemah itu satu
tubuh manusia dengan cepat sekali tubuh itu sudah tancap
kaki dimejanya sipanglima perang. Sepintas lalu tubuh itu
ada dari si orang tua dengan kepala ubanan. Dia turun
dengan terbitkan samberan angin, sampai kedua lampu
diatas meja menjadi padam.
Semua serdadu pengawal dan perwira menjadi terkejut,
antaranya ada yang perdengarkan jeritan kaget.
Tapi tubuh itu sudah mencelat pula, naik keatas
bagaikan burung terbang, sekejab saja, ia sudah lenyap,
cuma apinya dari empat buah lentera yang kak teng
memain ber goyang2
Ketika semua orang peperangan hunus golok mereka,
sudah kasep, sudah terlambat.
Gouw Teetok terlihat duduk tercengang dikursinya,
matanya mendelong, mulutnya terbuka, karena iapun kaget
dan ternganga, sedang dikepalanya, kopiah kebesarannya
yang tertabur batu permata, sudah lenyap, terbang tak
bersayap, hingga sekarang ia bercokol dengan kepala
gundul bagaikan patung saja!
Kunbun! memanggil Tiong kun khoa, sang sekretaris.
Beberapa perwirapun maju mendekati, hati mereka lega
apabila mereka dapatkan sep itu tidak kurang suatu apa.
Ah! Gouw Pok pie si Tukang Keset Kulit
perdengarkan suaranya, apabila ia dengar panggilan
sekretarisnya. Baru sekarang ia sedar. Terus ia gebrak meja.

Ia dongak akan lihat lelangit kemah, kemudian ia


mengawasi semua orang disekitarnya. Sekarang sinar
matanya bercahaya pula.
Kau kaget, kun bun, berkata Sam eng Tong leng Sek
Kee Ciu. Mana kopiah kunbun?
Se konyong2, Gouw Teetok berbangkit.
Penjahat yang bernyali besar! ia berseru. Dia berani
rampas kopiahku ditempat terjaga begini kuat! Biarlah aku
serahkan jiwaku kepadanya! Dan ia berkerot gigi.
Kembali ia gebrak meja, seraya berseru Kenapa kau
semua masih berdiam saja dan tidak mau bekuk
sipenjahat?
Teguran ini membuat sedar kepada semua perwira atau
bentara. Benar2 mereka lupa bertindak. Lantas saja mereka
berpencaran.
Sek Tong leng tarik masuk satu barisan kecil untuk
menjaga, dilain pihaik ia perintah Ciu Tek Kong bikin
penggeledahan seluruh tangsi, buat cari sipenjahat. Maka
sekejab saja seluruh markas jadi bergerak, barisan2 kecil
berlarian kesegala penjuru.
Penjagaan kepada Yo Bun Hoan semuapun diperkeras,
malah batang lehernya wan gwee ini ditandalkan golok.
Sendirinya, Yo Bun Hoanpun kaget. Melainkan In Hong
yang tenang, karena ia insaf sepak terjang gurunya, seorang
tua ubanan itu, membemberi peringatan kepada Gouw
Teetok. Jikalau ia mau, ia bisa berontak akan turut gurunya
itu menyingkir, tetapi sang guru telah beri tanda untuk ia
sabar, supaya ia tidak gunakan kekerasan. Maka itu,
sebaliknya ia terus berlutut. Diam dalam hatinya ia tertawai
isi tangsi itu, yang hatinya dibikin gentar hingga mereka
lupa akan diri mereka!

Cuma satu sersan, yang kelihatannya paling sedar,


karena mendahului yang lain2, ia hunus goloknya dan
peringatkan kawannya, akan jaga pemuda itu.
Sesudah itu barulah penjagaan ditambah, semua golok
ditandalkan pada batang lehernya semua tawanan.
Gouw Teetok sudah lantas tukar kopiahnya, sekarang ia
dapat kesempatan akan mengawasi lelangit kemahnya,
yang bolong bekas digurat senjata tajam, hingga bagian
bolongnya bisa muat tubuh manusia. Ia heran, dilowongan
demikian orang bisa loncat turun dan naik, pergi datang
dengan leluasa.
Kemudian Teetok ini hampiri In Hong, apabila ia
tampak anak muda ini ada jinak bagaikan kambing gembel,
sendirinya ia tertawa dingin.
Hoa In Hong, angkat kepalamu! menitah ia.
Anak muda ini menurut, ia angkat kepalanya.
In Hong, aku keliru telah mendengar laporan fitnahan,
hingga aku telah ganggu kau dan gurumu, kejadian itu bikin
aku menyesal sekali, kata panglima ini. Aku pun tidak
tahu bahwa kau, guru dan murid, ada bangsa hiap kek.
Dengan kejadian ini, aku bukan hanya berbuat keliru
terhadap kau berdua, aku juga berbuat keliru terhadap
diriku sendiri, hingga hampir2 aku celaka jikalau tidak
gurumu berlaku baik sudah tidak ambil batok kepalaku.
Aku bersyukur terhadap gurumu itu. Sekarang aku pikir
untuk merdekakan kau semua, sebaliknya aku akan hukum
sipelapor yang memfitnah. Dimana adanya gurumu itu?
Aku ingin sekali bertemu kepadanya. Aku percaya, seorang
gagah sebagai dia akan ber______(tak terbaca)
Gou Teetok anggap dia pandai bicara, tetapi In Hong
menertawakan didalam hatinya. Karena ia tahu betul

panglima ini tengah memancing hingga ia tak sudi kasi


dirinya dilagui. Tetapi ia jawab dengan sabar.
Terima kasih untuk kebaikan kunbun, demikian
katanya.
Aku terfitnah, jikalau tayjin tolong aku, pertolongan itu
tidak nanti aku lupai selama hidupku. Tentang guruku, aku
bisa bilang, dia berada jauh di Hoay siang, mana dia bisa
dengan mendadakan datang kemari? Jikalau suhu datang
sendiri, apa perlunya dia utus aku dari tempat ribuan lie
jauhnya? Maka itu, aku mohon tayjin menyelidikinya
dengan jelas, jangan tayjin curiga tak keruan.
Gouw Teetok gusar dengan mendadak kapan ia dengar
jawaban berlaga pilon itu.
Makluk tak tahu diri! ia membentak, karena habis
kesabarannya. Kau harus ketahui siapa dirinya Gouw Tay
Giap, yang mengetahui betul seluk beluknya kaum
kangouw! Jikalau kau guru dan murid ada punya
kepandaian, keluarkanlah itu semua! Jikalau aku sampai
bikin lolos padamu, kecewa aku telah nyerbu antara rimba
peluru dan hujan anak panah!
Lantas ia menoleh pada satu serdadu disebelahnya.
Pergi panggil Kie yong eng To Tongtay Cio Leng Pek!
ia menitah.
Serdadu itu pergi belum lama, lantas muncul tongtay
yang dipanggil itu serta pasukan kecil nya.
Datangnya tongtay atau commandeur ini ada secara
kebetulan. Sebenarnya dia telah minta cuti untuk sambangi
sahabatnya di Hoa im, dia pulang malam2, justeru ia baru
pulang, malam itu juga terjadilah onar itu, maka ia bisa
segera mentaati panggilan. Memangnya ia berkewajiban
melindungi keselamatannya Gouw Teetok. Ia sudah lantas

dengar hal kekacauan dimarkas besar, tanpa perintah, ia


siapkan barisannya akan cari si orang jahat, kebetulan sekali
serdadunya teetok cari dan panggil dia.
Cio Tongtay menghadap Gouw Teetok untuk memberi
hormat, terutama ia mohon maaf, kemudian ia tanyakan
duduknya kejadian.
Gouw Teetok tidak tegor sebawahan ini, karena ia tahu,
orang sedang dalam cuti.
Kau tentu telah dengar kejadian disini, hampir saja pun
kunbun terbinasa, kata sep ini. Urusan ini aku serahkan
padamu terutama kau mesti jaga semua orang tawanan agar
satu juga tidak ada yang lolos, atau kau tidak usah
menemui aku pula!
Setelah kata begitu, panglima ini terus undurkan diri.
Cio Tongtay menjura akan antar sep itu pergi, kemudian
dengan roman keren ia awasi semua cian cong dan pa cong,
letnan dan sersan, kemudian lagi ia dekati Yo Bun Hoan
berenam, akan awasi dengan tajam pada mereka ini.
Yang mana satu Hoa In Hong dan Hoay siang yang
datang ke Tong kwan dengan bawa surat? ia tanya, dengan
suara keren.
Itulah aku, sahut In Hong ambil angkat kepalanya,
tapi begitu lekas ia lihat tongtay, ia kaget tidak terkira,
didalam hatinya ia kata Apa bisa jadi dia telah ceburkan
diri dalam tentara dan dapatkan hatinya Gouw Teetok?
Inilah aneh.
Dimatanya In Hong, Cio Leng Pek, pemimpin dari
tangsi Kie yung eng, ada satu penjahat besar yang
kenamaan dijalanan Kang lam too, yang kemudian menjadi
bajak, tapi karena bermasalah terhadap pemimpinnya, ia
kabur dan memasuki rombongan pemberontak Rambut

Panjang, hingga dia dapat kepercayaan memimpin satu


pasukan dengan kedudukan didaerah Souw siang. Disini
dia tersohor kejahatannya, kecabulannya, dan bandel
terhadap tentera negeri, dan malang melintang, hingga dia
dapat julukan Toan Bie Tio Loo youw atau si Alis Buntung.
Ong To liong tahu kejahatannya orang she Cio ini, dia
hendak membasminya, tapi justeru itu Leng Pek telah ikut
satu pemimpin lain pergi ke Hoolam, sejak mana, ia
sembunyikan diri seperti hilang saja, hingga ada yang kata
ia sudah binasa atau sudah menyerah kepada pemerintah
Ceng, kini ternyata dia benar masuk dalam kalangan tentera
Ceng dan jadi tangan kanannya Gouw Teetok. Ong To
Liong sendiri, setelah batal mencari orang kang ouw ini,
sudah pulang ke Lek tiok tong, Ceng hong po, Hoay siang,
akan dirikan barisan tentera rakyat.
Selama bekerja dibawah Gouw Teetok, lambat laun Cio
Leng Pek kumat tabiatnya, sering ia ganggu penduduk. Ia
ada orang kepercayaannya satu teetok, iapun pandai ilmu
entengkan tubuh, lari keras dan loncat tinggi, karenanya, ia
jadi bisa bergerak dengan leluasa. Kalau malam ia suka jadi
pencuri. Siapa berani tentang, ia tak kasi ampun lagi. Ia
juga berani ganggu sesama orang berpangkat, hingga orang
copot kopiahnya, atau sedikitnya surat2 pentingnya
dimusnahkan. Pelahan2 ada orang2 yang ketahui sepak
terjangnya tong tay ini, akan tetapi tak ada orang yang
berani langgar padanya, hingga ia jadi kepala besar.
Hoa In Hong tidak akan dapat kenali Toan Bie Loo
yauw jikalau ia tidak lihat orang punya alis buntung. Selagi
ia merasa heran, tongtay itu awasi ia dengan tajam.
Aha, sahabat, kau kiranya ada muridnya Hoay siang
Tay hiap Eng Jiauw Ong! kata Cio Tong tay kemudian.
Memang sudah sejak lama aku dengar nama kesohormu,
guru dan murid. Sekarang kau telah datang kemari, katanya

pun bersama2 gurumu yang terhormat, menyesal sekali aku


tidak dapat menyambutnya sendiri. Gurumu ada sebagai
naga sakti, dia datang dan pergi tak dapat di duga2, karena
itu aku semakin hargai dia! Sahabat, karena kau sudi
bertemu dengan aku, pasti sekali aku nanti layani kau
secara sungguh2.
Selagi mengucap demikian, kedua matanya bekas jago
kang ouw ini bercahaya tajam, setelah itu ia berpaling pada
orang disampingnya, orang kepercayaannya, kepada siapa
ia berbisik, entah apa yang ia bilang, hanya orang itu segera
ngeloyor keluar, tempo sebentar kemudian dia kembali, dia
ada ajak empat serdadu lain yang membawa empat
perangkat belengguan kaki dari besi. Ketika diletaki di
tanah, pesawat belengguan itu perdengarkan suara berisik.
Sahabat she Hoa! Cio Tong tay kata dengan nyaring.
Kau sekarang sedang hadapi perkara, janganlah kau bikin
suilit kepada sahabatmu! Sahabat, inilah ada aturannya
pemerintah agung, harap kau mengerti, jangan kau sesalkan
aku bahwa aku tidak pandang padamu!
Setelah mengucap demikian, tongtay ini perintah
serdadunya Nah, kau boleh mulai bekerja!
Hoa In Hong tidak jadi gentar melihat macamnya
borgalan itu, ia percaya betul, itulah bukannya rintangan
untuk ia dan gurunya. Maka itu ia angkat kepalanya, sambil
tertawa dingin ia kata Sahabat, kau boleh berbuat apa yang
kau suka! Kita ada sesama orang kang ouw, tak usah kita
banyak bicara, apa kau bikin, aku terima, Dan ia lonjorkan
kedua kakinya. Mari! Gunailah borgolan lapisan, supaya
hatimu tetap!
Cio Tongtay manggut2, ia tertawa.
Dasar muridnya satu guru yang pandai, kau tak bikin
orang berabe! kata ia.

Selama itu, borgolan kaki telah dipasang. Malah Bun


Hoan, Bun Yan dan Yo An tak terkecuali, kaki mereka
dikalak juga. Cuma See Tiong dan See Hian, yang dapat
keringanan. Setelah itu, mereka semua di bawa keluar.
Hoa In Hong lihat bagaimana penjagaan diperkeras,
golok dan panah telah disiapkan, hingga ia merasakan
bagaimana hebatnya suasana. Disana sini, rombongan
serdadu masih terus melakukan penggeledahan.
Sebentar kemudian In Hong beramai sudah dimasukkan
ke dalam sebuah kamar tahanan yang kuat, yang berpagar
balok. Disudut tembok ada lamping gunung. Disitu ada
bertumpuk rumput kering. Didekat situ pun ada empat buah
patok dengan rantai besi yang kasar. Melihat patok2 itu, In
Hong kerutkan alis.
Didalam tangsi tidak ada kamar tahanan, terpaksa kita
gunakan tempat ini untuk kurung serdadu yang bandel,
kata Cio Tongtay yang menyatakan menyesalnya, setelah
mana, ia beri tanda pada serdadunya.
Lantas In Hong berempat di cantel pada patok itu malah
ujung rantai diseluk kepada rantai dileher. Karena ini,
mereka cuma bisa duduk, sukar untuk rebahkan diri.
Diperlakukan
berkakakan.

secara

demikian

In

Hong

tertawa

Cio Toa looya, terima kasih untuk perhatianmu ini!


kata ia. Kami guru dan murid, asal napas kita masih
berjalan, pasti sekali akan balas budi kebaikan mu ini!
In Hong bicara dengan sungguh2, suaranya keras.
Cio Tongtay pun tertawa gelak.
Itulah keberuntunganku seumur hidup apabila kau,
guru dan murid, ingat budiku ini! ia bilang. Sahabat she

Hoa, aku bilang terus terang, sejak gurumu pergi cari aku di
Souw teng, aku si orang she Cio ia berhenti dengan
tiba2, ia menoleh pada beberapa serdadunya, kemudian ia
melanjutkan sudah pikir untuk mengingat baik2. Pernah
aku pikir buat kunjungi kau di Ceng hong po, sayang aku
senantiasa terhalang oleh kopiahku ini Ia tunjuk
kopiahnya, yang berarti pangkat atau jabatannya. Sampai
sebegitu jauh aku tidak punyakan kesempatan, syukur
sekarang kau telah datang kemari. Percaya, tak nanti aku
bikin kau pulang dengan tangan kosong. Nah, sahabat she
Hoa, kau sabar saja!
Kemudian tong tay ini pandang dua puteranya Yo Bun
Hoan. Mereka ini duduk merungkut di pojokan, tubuh
mereka tak bergerak sedikit juga.
Thio Kay Kah ? tongtay itu memanggil seraya ia
berpaling keluar,
Ya! sahut. satu suara, menyusul mana muncul satu pa
cong muka hitam, yang terus berdiri tegak didepannya
ponggawa itu, untuk tanya ada perintah apa.
Kau mesti jaga mereka ini! tongtay itu memberi
perintah. Jikalau mereka mencoba buron, kau boleh bunuh
mereka!
Setelah itu, Cio Tongtay undurkan dari. Diluar, empat
serdadu diperintah menjaga pintu, dan yang lainnya semua
disebar keempat penjuru untuk menjaga, mereka ini siap
dengan panah, piauw dan peluru. Thio Kay Kah, yang ada
Tauw su pa cong, dipesan lebih jauh, apabila perantaian
mencoba minggat, atau kapan ada bantuan untuk mereka,
dia mesti bertindak keras, tapi lebih dahulu berikan
pertandaan panah bersuara.
Kau jangan takut, aku yang bertanggung jawab!
tongtay itu pesan akirnya.

Dari situ, Cio Tongtay pergi ketangsi belakang dimana ia


di sambut oleh Jie su Pa cong Na Cin. Dia ini serta
sejumlah serdadunya berkewajiban menjaga tahanan orang
perempuan, yalah isteri dan anak menantunya Yo Bun
Hoan.
-0dw0IV
Cio
Tongtay
masuk
kedalam
kamar,
yang
penerangannya remeng2. Disitu ia tidak dengar lain dari
suara sesenggukan pe ahan. Tangisan itu datang dari satu
nyonya usia pertengahan serta satu nyonya muda, yang
dandan serba putih, yang duduk atas sebuah bangku.
Mereka ini berhenti menangis begitu ketahui datang nya
ponggawa itu. Mereka pun lantas seka air mata nya. Diatas
bangku dikaki tembok sebelah timur ada tujuh atau delapan
orang perempuan, tua dan muda, antaranya ada yang lagi
tungkuli dua boca umur enam atau tujuh tahun. Mereka ini
lantas pada tunduk.
Dari tembok, Cio Tongtay ambil sebuah lentera, untuk
pakai menyuluhi orang perempuan itu. Paling dahulu ia
dekati dua nyonya yang tadi menangis, yang ia suluhi
mukanya. Si nyonya muda malu, ia pelengoskan muka
kearah tembok. Si nyonya usia pertengahan diam saja
Diantara kau, yang mana ada isterinya Yo Bun Hoan?
tanya tongtay itu.
Itulah aku, Ca sie, sahut si nyonya usia pertengahan.
Ada apa, looya?
Cio Tongtay awasi nyonya ini, yang ada punya tampang
toapan, sebabat buat jadi nyonya besar.

Kau jadinya adalah nyonya rumah, kata tongtay itu.


Semua mereka ini ada kau punya apa ?
Nyonya Bun Hoan berikan keterangannya. Anggauta
keluarganya, berikut anak ada sebelas. Si nyonya tua ada ia
punya bibi, nyonya Yo Un sie, yang sudah berumur enam
puluh lebih. Satu nyonya tua lain ada Ho Hujin, ia punya
enso atau ipar. Satu nyonya muda, Lim sie, ada nyonya
mantunya Ho Hujin, yalah si nyonya yang berkabung, yang
ada satu janda, suaminya menutup mata belum lama. Satu
nona ada Yo Hong Bwee, gadisnya Yo Bun Hoan, umur
sembilan belas tahun, belum bertunangan. Nona ini ada
muridnya Cu In Taysu dari kuil Pek Tiok Am. Nona cilik
umur enam tahun ada Ceng Long, dan boca umur tujuh
tahun adalah Liong Seng, keduanya keponakannya nyonya
Yo. Yang lainnya ada babu susu, dua bujang perempuan,
satu budak perempuan.
Cio Tongtay ketarik kapan Nyonya Yo tunjuk Hong
Bwee, satu gadis yang langsing dan elok, sepasang alisnya
lentik, kedua matanya bagus dan tajam, tapi nona ini
tunduk saja. Ia dekati nona itu untuk diawasi.
Eh, nona, kau ada siocia dari Yo Bun Hoan Yo Jie
looya? ia tegasi walaupun ia sudah tahu siapa nona itu.
Sayang, ayahmu sudah kurang ber hati2, hingga dia
rembet2 kau, ibu dan anak, hingga kau mesti berada
ditempat terbuka. Tapi kau jangan takut, didepan Kun bun,
aku nanti tolong padamu, terutama untuk mengirim kau
semua pulang kerumah dimana kau bisa tinggal dengan
merdeka seperti biasa. Tentang perkara ayahmu, pe lahan2
saja aku nanti dayakan. Sekarang nona berumur berapa?
Hong Bwee tidak perdulikan orang punya maksud baik,
tubuhnya tidak bergeming, ia melainkan angkat kepalanya,
mengawasi dengan tajam.

Kau baik sekali, looya, kami bersyukur, kata ia.


Ayahku menghadapi bahaya, suit untuk ia tolong diri.
Kami, orang2 perempuan, tidak pikirkan soal mati atau
hidup, disaat rumah kami digeledah, kami sudah memikir
untuk tidak mencari hidup lagi, tetapi apabila benar looya
berkasihan kepada kami, yang terfitnah, baiklah tolongi
dahulu ayah dan kedua kandaku, jikalau mereka dapat
bebas, umpama kami tak dapat pulang dengan masih hidup,
kami tetap akan junjung budimu!
Hong Bwee bersikap tenang, pertanyaan orang tentang
usia nya, ia tidak jawab.
Cio Tongtay tertawa haha hihi.
Kebaktianmu, nona, membuat orang hormati kau, ia
bilang Nanti aku sempurnakan kebaktianmu itu. Aku
memang paling sukai nona toapan. Kau nampak nya
berumur delapan atau sembilan belas tahun sebenarnya kau
umur berapa?
Umurku telah dicatat disaat kami ditangkap, sahut
Hong Bwee, baik looya periksa saja catatan itu! Buat apa
looya tanya lagi?
Thio Tongtay ketemu batunya, sekejap ia gusar, tapi
segera ia tertawa pula.
Nona, jangan salah mengerti kata ia. Aku tanya
umurmu karena aku berkasihan terhadap kau yang berbakti,
aku berniat tolong padamu. Syukur kau ketemu aku yang
pemurah hati, apabila kau bersikap demikian terhadap kun
bun, pasti kau segera rasai akibatnya yang pahit. Nona, kau
ingin tolong ayah dan saudaramu, jangan kau
berpandangan cupat. Mari, kau ikut aku kekemahku, nanti
aku dayakan untuk tolong kau!

Hong Bwee bangun berdiri de ngan tiba2, tapi sebelum ia


serapat buka mulut, Ca sie dului ia.
Looya, kau berniat tolongi kami serumah tangga, kami
sangat bersyukur, kata nyonya ini. Satu hal baik looya
perhatikan. Kami ada dari keluarga terhormat, aturan
rumah tangga kami ada keras, anak2 perempuan kami tak
dapat langgar itu. Anakku ini ada gadis remaja, biar urusan
kami ada hebat, tak dapat dia yang mengurusnya, apabila
looya benar ingin tolong kami silahkan kau berurusan
dengan aku saja. Anakku tak dapat ikut looya, harap looya
memaafkannya.
Cio Tongtay dengar orang punya ucapan yang beralasan,
sedang sinona ada manis tetapi sikapnya dingin bagaikan
es, ia mengerti bahwa ia tak dapat mendesak lebih jauh, ia
tertawa dingin sambil berkata Aku bermaksud baik, tetapi
kau berpikir lain. Baiklah kau ketahui, apabila aku ada
kandung maksud lain, setelah kau berada dalam
genggamanku, tidak ada perlunya untuk aku berdamai
terlebih jauh dengan kau. Baiklah, lihat saja, aku ada punya
kepandaian akan bikin nona ini nanti datang padaku, itu
waktu barulah kau ketahui kepandaianku!
Kata2 ini ditutup dengan ter tawa ceriwis serta matanya
ponggawa itu tetap incar mukanya Hong Bwee, hingga
nona ini menjadi gusar.
Cio Looya, jangan kau bujuk dan gertak aku! ia kata
dengan nyaring. Kau harus ke tahui, tak dapat aku
diperhina! Kami sudah masuk kedalam jaring, mati atau
hidup, kami sudah tidak pikirkan pula! Jikalau kau ada
punya kepandaian, kau gunailah itu, aku Yo Hong Bwee
tidak nanti kerutkan alisku!
Toan Bie Loo yauw awasi si nona, ia tertawa menyengir,
lalu ia manggut2.

Nona Yo, jangan terlalu katak! kata ia kemudian,


dengan tertawa dingin. Aku bermaksud baik, sayang aku
tak dapat muka darimu, ibu dan anak. Aku harap kau
jangan desak aku hingga aku terpaksa gunai caranya orang
jahat, apabila sampai terjadi demikian, pasti sekali kau tak
akan sanggup menerimanya! Ia mendekati, ia ulur
tangannya. Kau dengar aku, nona, kau akan
beruntung.
Sementara itu, tangannya menuju orang punya pundak.
Jangan ceriwis! membentak nona itu, tangan siapa,
dua duanya diangkat naik, tangan kiri dipakai menangkis,
tangan kanan, dengan dua jari, menotok pundak dibagian
yang kosong!
Toan Bie Loo yauw terperanjat, ia kenali pukulan itu,
yang termasuk Gie kut hun kin chiu atau ilmu memisah
tulang dan memecah urat, maka lekas2 ia egos tubuhnya
kekanan sambil terus berloncat jauhnya setumbak lebih.
Dengan begitu, ia jadi sampai dimulut pintu. Disini ia putar
tubuh sambil perdengarkan tertawa iblis.
Kiranya nona ada punya kepandaian yang liehay,
maafkan aku! kata ia. Baik, Nona Yo, sampai kita
bertemu pula!
Segera tongtay itu ngeloyor pergi, tindakannya cepat
sekali.
Nona Yo mengawasi orang pergi, kemudian ia menoleh
pada ibunya, lantas ia tertawa secara dingin.
Aku tidak sangka, ibu, selagi hadapi perkara sulit ini,
kita pun ketemu orang busuk semacam dia ini! ia kata.
Nyonya Yo berduka melihat puterinya itu dihina orang
Anak yang baik, ingatlah kepada pesan gurumu, ia
bilang. Kau disuruh berlaku tenang dan sabar, tidak boleh

turuti suara hati. Kau ada punya kepandaian, buat apa kau
jerihkan itu segala manusia anjing? Ayahmu ada satu
penyinta negeri, ia sebenarnya niat bekerja lebih lama untuk
pemerintah, tetapi ia lihat suasana dalam kalangan pangreh
praja ada buruk, terpaksa ia undurkan diri. Ia kuatir nanti
nampak celaka, ia ingin jadi rakyat jelata baik2, tidak
disangka sekarang kita dapati perkara ini. Tapi aku percaya
kebaikan kita, mustahil fitnah ini tak dapat dibikin terang.
Akupun percaya gurumu nanti datang menolongi kita, dari
itu, kau bersabarlah, agar kau tidak menambah sulit
kedudukan ayahmu.
Hong Bwee tidak setujui sikap ibunya itu, tetapi ia
mengerti orang tua itu akan kesayangan atas dirinya.
Ibu jangan kuatir, aku tidak nanti berlaku sembrono, ia
menghibur. Suhu berada jauh ribuan lie, mana ia ketahui
kecelakaan kita ini? Nasib kita sekarang melainkan terserah
kepada Thian
Ibu dan anak itu bicara satu sama lain, tanpa mereka
ketahui, tempat tahanan mereka itu sudah dikurung rapat
oleh Cio Tongtay, siapa menduga si nona Yo ada tergolong
kepada Hoay Yang Pay atau muridnya Eng Jiauw Ong.
Ponggawa ini pesan jiesu pa cong jaga agar Yo Hong Bwee
tidak lolos, dan barisan penjagapun dipecah dua, satu yang
terang, satu pula yang disembunyikan.
Setelah mengatur, Cio Tong tay lantas pergi pada Gouw
Teetok, akan menjeleki Eng Jiauw Ong dan murid2nya,
dengan kata Mereka adalah penjahat2 besar yang liehay,
merekapun berkongkol dengan pemberontak Rambut
panjang, dari itu, mereka ada satu bahaya besar untuk
keselamatannya daerah Kang lam too. Ini Kawanan
pemberontak bikin sibuk tentera dan pembesar negeri,
sendirinya pembesar negeri tidak sempat perhatikan
mereka, guru dan murid, hingga mereka jadi bebas dengan

sepak terjangnya, sekarang mereka berani mengacau di


Tongkwan ini. Aku percaya, kedatangannya kemari untuk
menyambut pemberontak dari sebelah dalam, maka
beruntung sekail sang murid terjatuh ditangan kita. Terang
sudah bahwa kejahatan mereka sudah luber dan penduduk
Hoa im tak seharusnya ketimpa malapetaka. Aku percaya,
orang she Hoa itu sengaja kasi dirinya ditangkap, supaya ia
bisa lihat keadaan dalam dari kita, supaya dia percaya, dia
akan bisa buron dengan rusaki belengguan. Dia tentu tidak
sangka disini aku bekerja dibawah Kun bun, maka jangan
harap ia nanti dapat loloskan diri. Hanya karena muridnya
tak bisa lolos, mungkin guru nya tidak puas dan akan
datang pula membantu murid serta sahabat nya itu.
Kunbun ketahui hal ikwal kaum kang ouw, mereka tidak
berkelahi seperti tentera berperang, mereka ada punya cara
sendiri. Kunbun ketahui tentang aku, dari itu bisalah aku
terangkan, buat layani guru dan murid itu, tenagaku cukup,
tetapi aku sangsi apabila sang guru datang dengan
berkawan.
Sungguh sulit akan jaga orang2 tawanan sambil
berbareng mengawasi musuh2 dari luar, sedang kawanan
itu ada bangsa tidak takut kepada undang2 negara. Dan
lebih penting pula adalah tindakan melindungi Kunbun
sendiri. Maka bagaimana Kun bun pikir apabila aku minta
bantuan beberapa jago dari Rimba Persilatan, sekalian buat
gunai si murid sebagai umpan akan pancing ringkus guru
itu serta konconya? Tindakan ini ada untuk melindungi
rakyat negeri, apabila keselamatan mereka terjamin sudah
pasti mereka akan bersyukur terhadap Kunbun. Bagaimana
Kunbun pikir, aku menantikan putusan.
Dayamu ini baik Gouw Teetok manggut. Aku
memang sedang memikirkannya, karena Yo Bun Hoan ada
satu penduduk kenamaan dan sudah lama ia pangku

pangkat, mungkin ada gerakan setempat akan tolong


adanya. Dengan andalkan suratnya Ong To Liong saja,
sulit untuk lawan orang banyak, dari itu kita membutuhkan
bukti bahwa ia benar2 berkongkol dengan orang jahat.
Baiklah, kau boleh cari orang2 kosen, aku sendiri hendak
dapati pengakuannya Bun Hoan semua. Akupun mesti jaga
agar Bun Hoan tidak mampu berhubungan dengan
Ciangkun, supaya Ciangkun tidak mendahului ketahui
perkaranya ini. Kau tahu sendiri, Lauw Kiang, itu binatang
she Kiang si tua bangka, kepala pengurus rangsum, yang
berada didamping nya Ciangkun, ada musuh besarku,
apabila ia dengar hal ini, dia bisa ganggu aku. Syukur kita
yang berkuasa atas balatentara disini, hingga ada rada sulit
buat dia main gila terhadap aku. Buat cari pembantu, kau
mesti bekerja secara rahasia, sebab tindakanmu itu ada
memalukan aku apabila orang luar dapat ketahui. Mustahil
satu panglima perang tidak mampu urus satu penduduk
hartawan saja?
Cio Tongcay manggut2, ia benarkan sep itu, sesudah
berikan janjinya, ia undurkan diri, terus ia balik
kekemahnya untuk menulis surat dengan cepat, kemudian
ia bisiki dua pengiring kepercayaannya buat kasi tahu apa
yang mereka ini mesti berbuat, kepada sesuatu dari mereka
pun diserahkan sebatang lok lim cian atau panah rimba
persilatan.
Tongtay ini hendak minta bantuan suheng dan supenya,
ia unjuk bahwa ia sedang hadapi musuh2 berat, dari itu,
untuk cegah keruntuhan nama baiknya kehormatan kaum
nya ia minta suheng dan supe itu segera datang. Tanda
panahnya pun ada suatu tanda rahasia dikalangan kang
ouw, siapa terima itu, walaupun bukan sahabat, dia mesti
datang membantu, kecuali bila kemudian ternyata, pihak

lawan ada punya perkenalan dengannya dan ia boleh


mundur teratur.
Sesudah kirim dua orangnya itu, dengan bawa pengiring,
Cio Tongtay muncul pula diluar kemah, akan perhatikan
seluruh tangsi yang keadaannya tenang, karena setelah
pengeledahan tidak memberikan hasil, semua barisan
kembali ke masing2 tendanya.
Sekian lama Cio Leng Pek berdiri di muka kemah, lalu ia
manggut2 seorang diri, alisnya mengkerut. Pasukan itu ada
cukup besar dan kuat untuk orang biasa saja, namun tidak
demikian bagi orang kang ouw.
Ketika itu angin men desir2, rembulan mulai doyong ke
barat, langit sebentar terang sebentar suram. Tempo Cio
Tongtay memandang keatas ranggon alat pertandaan, tiauw
tauw, mendadakan ia menjadi kaget, hingga ia keluarkan
seruan kaget.
Cui Tiang Kui, lihat! ia serukan satu pengiringnya.
Lihat, cahaya apa itu yang berkilauan diatas tiauw tauw?
Perajurit yang dipanggil itu segera melihat keatas, tapi ia
tidak melihat nyata, ia maju beberapa tindak. Tiba2 iapun
berseru Itu toh kopiahnya Kunbun! Kenapa kopiah
Kunbun ada diatas ranggon? Mana dia saudara yang
menjaga Liauw hong tay?
Cio Tongtay lantas saja bersenyum iblis.
Kepandaian demikian macam dipertunjukkan didepan
aku! Hm! Itulah permainan kampak didepan kawan
sendiri! kata ia dengan suara sangat memandang enteng.
Coba cari tahu, siapa yang bertugas menjaga muka
tangsi ini, kemudian ia perintah Cui Tiang Kui. Kau
panggil dia, aku hendak tanya padanya.

Ciang Kui segera pergi cari Siauw khoa Bie Cin Lok,
yalan komandan jaga malam itu, kapan perwira ini telah
dihadapkan kepadanya, Cio Tongtay perlihatkan air muka
muram.
Oh, kiranya Bie Lauwhia yang giliran menjaga malam
ini! kata ia. Lauwhia, sungguh kejadian tidak disangka!
Kau, ada seorang ulung, cara bagaimana kau tidak
mengetahui saudara kita yang menjaga tiauw tauw telah
lenyap? Pastilah kau sedang repot dengan urusanmu
perseorangan! Kau sedang jalankan tugas, dari itu sebentar
kita menghadap Kunbun saja!
Bie Cin Lok terperanjat, ia segera menoleh kearah tiauw
tauw. Ketika itu cuaca makin terang. Diatas tiauw tauw
kelihatan nyata tergantungnya sebuah kopiah kopiahnya
jenderal mereka. Bukan main kagetnya komandan ini.
Aku alpa, Tongtay, tolonglah aku, ia segera memohon
kepada sep itu. Ia kaget dan takut bukan kepalang.
Setelah bisa pengaruhi komandan ini, barulah wajahnya
Cio Tongtay berubah menjadi tenang.
Bie Lauwhia, aku harap kau mengerti, kata ia dengan
sabar. Dalam hal ini, bukannya aku bersikap keras. Di
hari2 biasa, peristiwa yang terjadi tidak terlalu berarti, akan
tetapi malam ini keadaan ada lain sekali. Coba lauwhia
pikir, jikalau Kunbun ketahui ini, apa ia bisa diam saja?
Kita bekerja sama2, mustahil kita suka ganggu satu sama
lain? Sekarang bagaimana lauwhia hendak bertindak? Hari
sudah siang, umpama kata aku bisa lindungi kau, tetapi
bagaimana dengan yang lain2?
Dalam hal ini aku mengandal kepada tayjin saja, kata
Cin Lok. Aku nanti naik keranggon untuk ambil kopiah
itu, umpama penjaganya masih ada, karena orang telah
ringkus dia, aku nanti tolongi dan tanya keterangan nya.

Jikalau dia tidak ada, tidak bisa lain, terpaksa hal ini harus
dilaporkan, terserah kepada Kun bun, ia hendak, hukum
bagaimana kepadaku
Mendengar itu, Cio Tongtay bersenyum.
Lauwhia, kelihatannya kau masih tak jelas dengan
duduknya hal, kata ia. Jikalau serdadu penjaga itu ada
diatas ranggon, pasti ia sudah diringkus selama setengah
malam. Cuma satu orang bisa naik turun diranggon tiauw
tauw ini, cara bagaimana kau bisa kasi turun orang yang
sudah tidak mampu bergerak? Siapa bisa sembarang naik
keatas ranggon, akan gantung kopiah itu? Apakah kau tidak
pikir ini?
Cin Lok berdiam, nampaknya ia sangat masgul.
Melihat orang punya kesukaran itu, Cio Tongtay tertawa
dengan pelahan.
Lauwhia, kau lihat, aku nanti bantu kau! kata ia.
Cukup asal kemudian kau mengerti aku!
Sambil kata begitu, tongtay ini buka kopiahnya dan juga
juba nya, seragam untuk naik kuda, kemudian setelah
singsatkan pakaian terlebih jauh, ia dongak mengawasi
ranggon ia mundur dua tindak, sesudah mana, mendadakan
ia enjot tubuhnya. Dengan loncatan Yan cu coan in atau
Burung walet tembusi mega ia sampaikan tempat
tingginya dua tumbak setengah, lantas ia samber tangga.
Dari sini ia naik terus, tanpa gunai anak tangga, hanya
dengan manjat ditiang bagaikan kera saja gesitnya, dalam
tempo sekejap ia sudah sampai diranggon tempat serdadu
jaga dimana ia dapati serdadu itu teringkus di satu pojokan.
Bie Lauwhia, penjaga itu, ada disini! tongtay ini teriaki
Bie Cin Lok sambil melongok kebawah. Tanpa tunggu
jawaban lagi dari komandan jaga itu, yang hati nya jadi

sedikit lega, ia loncat lebih jauh, keujung ranggon, yang


mirip tiang bendera dimana kopiah teetok digantung.
Dengan tangan kiri ia peluk tiang, dengan kedua kaki ia
jepit tiang itu, dengan kedua tangan ia turunkan kopiah,
kemudian ia putar tubuhnya turun, akan gapekan Bie Cin
Lok seraya berseru Bie Lauwhia, sambuti kopiah ini!
Hati2, ini ada hadiahnya Pemerintah, jangan kau bikin
terlepas dan jatuh!
Oh, Cio Tayjin, jangan ! Cin Lok berseru, tangannya
di goyang2. Ia takut. Aku tidak sanggup menyambutinya!
Iapun terus mundur beberapa tindak.
Waktu itu cuaca sudah terang, perbuatannya Cio
Tongtay terlihat dengan nyata, maka itu, ia datangkan
kekaguman bagi siapa yang menyaksikan, sedang siapa
yang bernyali kecil, dia lantas melengos, tidak berani
mengawasi karena ngerinya. Semua orang pun berkuatir
mendengar tongtay itu hendak lemparkan turun kopiah itu,
yang ada batu permata nya yang indah dan mahal. Mereka
tidak tahu, Cio Tongtay tiuma sengaja mengucap demikian
untuk menggertak saja, supaya orang mencegah.
Kalau begitu, apa boleh buat, aku mesti pakai saja!
kata ia kemudian. Dan benar2 kopiah itu ia taroh
dikepalanya, terus ia ikat dengan keras. Untuk turun ke
ranggon, ia lepas jepitan kaki nya, tubuhnya segera
merosot. Disini ia bukakan ringkusannya serdadu penjaga,
keluarkan sumbat pada mulutnya, hingga lantasi saja dia itu
keluarkan napas kaget, terus napasnya lega, terutama akan
dapati tubuhnya tidak terluka, melainkan ia masih susah
geraki tubuh.
Dengan tidak banyak omong lagi, Cio Tongtay angkat
tubuhnya serdadu itu untuk dikempit. Ia memandang
kebawah, terus ia loncat turun, ia tidak gunai tangga seperti

diwaktu naik. Ketika ia sampai ditanah, tanpa terguling


jatuh, dengan hati2 ia letaki tubuhnya serdadu itu.
Bagus! demikian seruan pujian dari semua serdadu
dan perwira sebawahan. Semua orang kagumi tongtay yang
liehay itu, yang mukanya cuma merah sedikit.
Bie Cin Lok perintah beberapa serdadu tolongi lebih jauh
serdadu penjaga itu, kepada Cio Tongtay sendiri ia
menghaturkan terima kasih seraya puji sep ini.
Cio Tongtay lantas buka kopiahnya teetok, ia serahkan
itu pada satu serdadunya.
Itu waktu penjaga tiauw tauw sudah bisa bicara, atas
pertanyaan nya Cio Tongtay, ia tuturkan sebagai berikut.
Ketika ia berjaga kira2 jam tiga, tiba2 ia lihat ada
menyamber naik suatu bayangan bagaikan samberan
garuda. Ia tidak melihat nyata, karena cuaca gelap. Sebelum
tahu apa2, ia rasakan matanya gelap, kepala nya pusing,
tubuhnya pun kaku, maka dengan tak berdaya, dengan
gampang ia kena diringkus. Iapun tidak bisa buka mulut,
karena mulutnya segera disumbat.
Selanjutnya aku tetap tak dapat lihat dengan nyata,
kata serdadu itu seraya ia minta tongtay itu ampuni
kepadanya.
Cio Tongtay diam saja, tapi la lihat serdadu yang
berkumpul jadi semakin banyak, maka terus ia berkata pada
Bie Cin Lok Aku hendak menghadap Kunbun sekarang.
Lain kali harap lauwhia berlaku lebih hati2, agar tak ada
lain2 orang yang kerembet2
Cin Lok manggut dan mengucap terima kasih.
Cio Tongtay manggut pada semua perwira.

Marilah! kemudian ia kata pada serdadunya, seraya ia


terus bertindak kearah markas besar. Ia terus ketemui Gouw
Teetok, setelah serahkan kopiah kebesar an itu, kemudian ia
tuturkan dimana didapati kopiah itu.
Gouw Teetok puji sebawahan ini dan pesan ia untuk
perkuat dan jaga hati2 keselamatannya markas.
Cio Tongtay girang dengan pujian itu, dengan gembira ia
atur lebih jauh penjagaan.
Selanjutnya, sampai siang tidak ada terjadi apa2 lagi.
Benar seperti dugaan Gouw Teetok, siang itu ada datang
permohonan dari penduduk kenamaan dari Hoa im, yang
minta Yo Bun Hoan dimerdekakan, karena hartawan Yo ini
ada penduduk baik2. Permintaan mana ia janjikan setelah
pemeriksaan, apabila terbukti Yo Jie looya tidak bersalah, ia
akan lekas merdekakan.
Setelah berlalunya utusan penduduk, Gouw Teetok
perintah panggil Cio Tongtay menghadap.
Penduduk telah majukan permohonannya agar Yo Kie
Jien di merdekakan, bagamana sekarang? Ia tanya Kita
sudah bertindak, tak dapat kita sembarangan bebaskan dia.
Kita mesti jaga agar dia tidak berbalik menyusahkan kita.
Jangan kuatir, sahut Cio Tong tay. Orang orang
undanganku akan datang paling lambat sebentar malam
atau besok. Ia melirik kekiri dan kanan, ia dapati cuma
dua orangnya teetok, maka ia tambahkan Mereka sudah
masuk dalam jala, tidak nanti bisa lolos. Jaringpun sudah
dipasang, untuk bekuk konco2nya.
Gouw Teetok bisa legakan hati.
Aku mengandal padamu, kata ia. Aku memang ingin
tukar kopiahmu.

Cio Tongtay terima pesan itu, iapun menghaturkan


terima kasih. Ia mengerti, janjian tukar kopiah dari sep
itu berarti ia bakal dinaikkan pangkatnya. Dari markas ia
langsung pulang kekemahnya. Ia beristirahat belum lama,
satu serdadunya, Siauw khoa Bie Cin Lok, sang komandan
jaga, datang melaporkan kedatangannya seorang she Liap
dari bukit Hek Gu Nia di Lam kwan, siapa katanya ada
suheng dari tongtay itu.
Benar, dia adalah suhengku kata ia. Pergi kau undang
ia masuk. Kau bilangi Bie Siauw khoa, orang itu datang
dengan tidak ada sangkutannya dengan dia.
Sambil kata begitu, tongtay inipun berbangkit untuk
menyambut. Sang serdadu sendiri sudah bertindak pergi
dengan cepat.
Ketika Cio Tongtay sampai di tangsi kedua, ia lihat
serdadu ta di mendatangi bersama sang tetamu, yang ada
iapunya suheng Liap Siauw Ciu, maka segera ia hampiri
untuk kasi hormat padanya.
Kau baik, suheng? Kau baik sekali, kau sudah datang
dengan cepat! kata ia.
Terhadap saudara sendiri, jangan seejie, sahut Liap
Siauw Ciu, yang membalas hormat.
Kaum kitapun ada hargai kehormatan, siap sedia untuk
saling tolong, apapula kita yang terhitung saudara satu
dengan lain.
Toan Bie Loo yauw bersenyum, ia puas. Ia undang
saudara itu masuk kedalam kemahnya dimana mereka
berdua berduduk, akan ber cakap2. Ketika Siauw Ciu tanya
tentang urusannya sutee itu, adik seperguruan ini karang
cerita untuk bikin panas hatinya sang suheng.
-0dw0-

V
Seperti suheng ketahui, sepak terjangku dulu2 ada
terlalu bebas, aku senantiasa umbar napsu hati, maka
belakangan aku menyesal, aku lantas bekerja dibawah
Gouw Teetok. Adalah putusanku, akan ubah kelakuan dan
perbaiki diri. Akan tetapi Eng Jiauw Ong, ketua dari Hoay
Yang Pang, kelihatannya tidak mau beri ketika kepadaku,
tatkala ia dapat cari alamatku, ia sudah menyusul kemari
untuk bikin tamat lelakon hidupku. Dia nyatakan, karena
aku ada anggauta dari Hong Bwee Pang, tak seharusnya
aku pangku pangkat. Dia tuduh aku main gila dengan
pangkatku itu. Justeru aku sedang memikirkan daya untuk
berjaga diri dari serangan musuh, kebetulan sekali aku telah
dapati suratnya, yang jatuh ditengah jalan dan dapat
diketemukan oleh Goan Siong, seorang dari golongan kita.
Maka aku dengan Gouw Teetok sudah berhasil membekuk
muridnya Eng Jiauw Ong serta saudara angkatnya serum
ah tangga. Mereka ini sekarang ditahan didalam tangsi,
untuk diperiksa. Teetok telah serahkan mereka padaku.
Tugasku ini ada hebat, sebab Eng Jiauw Ong jadi lebih2
satronkan aku. Sudah tentu, karena tidak ada lain jalan, aku
mesti bikin penjagaan keras, aku mesti lakukan perlawanan.
Kedudukanku sulit, lantaran aku bersendirian saja. Dalam
hal ini, tak dapat digunai jumlahnya tentera. Jikalau aku
gagal, aku malu terhadap Teetok yang hargai sekali padaku.
Lebih2 aku malu terhadap kaum kita, karena aku jadi
turunkan derajat kita. Biar bagaimana, aku masih terhitung
sebagai satu anggota. Sampai sekarang piauw pouku masih
belum dihapus oleh partai kita. Maka aku jadi beranikan
hati mohon akan bantuanmu. Aku tidak ignin angkat nama
di Tong kwan ini, cukup asal aku bisa lindungi diri, supaya
aku tidak sampai kena terusir.

Demikian Cio Leng Pek atur ceritanya.


Lalu Siauw Ciu bersenyum.
Jikalau sedari dahulu kau insaf begini, tidak nanti
Siauw Hio cu dari Gwa sam tong usir kau dari Kang lam,
nyatakan sang suheng. Sebenarnya Siauw Hio cu niat
pecat kau dengan ambil pulang tanda anggauta piauw pon,
tetapi Hwee to cu Bin Tie Hun Loosu dari Gwa it tong
sudah memberi pikiran, hingga kau lolos dari ancaman
bahaya maut. Aku percaya, asal selanyutnya kau bawa diri
benar2, di Kang lam masih ada tempat untuk kau taruh
kaki.
Baru mereka bicara dari situ, tiba satu serdadu
melaporkan kedatangannya Louw Ngo ya dari Louw
keepo, Lim tong, serta dua orang lain yang tidak datang
bersama tetapi sampainya hampir berbareng yalah seorang
she Tie dan seorang she Shong dari Gie bun kauw, Liong
Bun San.
Aku girang sekali atas kedatangan mereka! kata Cio
Tongtay. Harap suheng tunggu, aku akan sambut
mereka!
Sutee ini segera berbangkit akan keluar dengan cepat, tak
lama ia sudah kembali bersama tiga tetamunya. Liap Siauw
Ciu tidak kenal dua orang yang jalan dimuka, ia hanya tahu
mereka ada anggauta tertua dari kaumnya, dan yang ketiga
adalah iapunya susiok, Thong tun wan lauw Goan Kay si
Orang Hutan. Ia kasi hormat pada sipaman guru itu, lalu
berkata pada Leng Pek Sutee, tolong kau perkenalkan aku
kepada kedua cianpwee loosu ini.
Lebih dahulu Cio Tongtay suruh keluar semua
orangnya, lalu ia undang ketiga tetamunya duduk,
kemudian baru ia jawab suhengnya, dengan bilang Su
heng, kedua loosu ini ada dari Lwee sam tong dari Pusat

kita, semua ada disebawahan Sam tong Hiocu. Ini adalah


To cu Tie Cin Hay dan ini To cu Shong Ceng. Nah kau
mintalah berkahnya jiewie loosu!
Liap Siauw Ciu menurut, ia maju untuk memberi hormat
menuruti tata hormat kaum mereka, Hong Bwee Pang
kawanan Ekor Burung Hong.
Kita semua adalah tetamu2, tak usah pakai banyak adat
per adaban berkata Tie Cin Hay. Kau mengerti aturan,
Liap Luawtee, Couwsu ya pasti akan berkahi kau!
Siauw Ciu mengasi hormat pula, baru ia berbangkit.
Cio Leng Pek juga lantas jalankan kehormatan turut cara
partainya kepada dua to cu, ketua pengemudi, kemudian
ia kata pada susioknya Su siok, mari aku ajar kenal..
Tidak usah, hiantit Leng Pek, kata Louw Goan Khay
sambil tertawa, tidak usah kau perkenalkan lagi, kita sudah
bertemu satu sama lain. Aku bukannya tergolong kaummu,
tetapi kita ada sesama orang Rimba Persilatan, hubungan
kita tidak terhitung jauh
Itu benar, kata To cu Tie Cin Kay dari Gie bun kauw.
Louw Loosu di Lim tong ada kenamaan, waktu dahulu
kita terima tugas akan siarkan cita2 kita di Barat, paling
dahulu kita telah kunjungi Louw Loosu di Louw kee po.
Kita mengandal betul bantuan loosu.
Shong Ceng pun puji jago dari Louw kee po ini, hingga
orang jadi girang.
Kemudian Louw Goan Khay minta keterangan halnya
Cio Tongtay benterok dengan Hoay Tang Pang dan Leng
Pek kembali ceritakan karangannya, hingga jago ini, yang
terniata keras adatnya, jadi gusar dengan sekejab.

Eng Jiauw Ong cuma buka perguruan silat, dia ada pit
hu yang hidup dari pertukaran kebisaannya dengan uang
murid2 nya, cara bagaimana dia berani menjagoi di Kang
lam? kata dia dengan nyaring. Kita dengan dia ada seperti
air sumur tidak ganggu air kali, kita tidak ganggu periuk
nasinya, kenapa dia sebaliknya satronkan kita? Memang
sudah lama aku dengar tentang dia, sudah aku pikir untuk
cari padanya, melulu disebabkan terlalu repot, maka aku
belum dapat ketikanya, sekarang dia datang kemari, baik
aku nanti uji dia! Leng Pek, justeru ada kedua cianpwee,
mari kita beragam, walau Eng Jiauw Ong liehay, kita harus
jaga agar kita tidak sampai dibikin jatuh merek!
Jangan kuatir, susiok, Cio Tongtay menghibur.
Apabila aku sembrono, tidak nanti aku hidup sampai
sekarang ini.
Ya, Louw Loosu, baik kau jangan ibuk, berkata,
Shong To cu. Kita berdua belum pernah ketemu tua
bangka she Ong itu, akan tetapi dengan kaum kita, dia ada
punya sangkutan. Pada sepuluh tahun yang lalu, dia pernah
rasai tok yoh so, senjata rahasia beracun dari Pauw Hio cu
dari Hok Siu Tong, sejak itu ia keram diri, rupanya ia
mendendam sakit hati. Memang adalah selayaknya, siapa
hutang, dia harus membayar, tetapi adalah selayaknya juga
bila ia cari Pauw Hio cu sendiri, tetapi dia tidak berbuat
demikian, ia satronkan siapa saja orang kita asal yang ia
ketemukan, hingga sudah tujuh atau delapan orang kita
yang rubuh ditangannya. Pauw Hio cu sudah undurkan diri
kedalam Hok Siu Tong, Gedung Bahagia, tapi dia ada
gantinya dan gantinya ini sudah niatakan, ia bersedia akan
tanggung jawab segala apa mengenai Pauw Hio cu. Kitapun
telah dapat, perkenan dari Cong to Hio cu, ketua Pusat,
apabila kita berurusan dengan pihak Hoay Yang Pang, kita
boleh bertindak sepantasnya, dan apabila dia tidak sanggup,

kita boleh undang dia kegunung Gan Tong San di Ciat kang
Selatan, dipusat kita Cap jie Lian hoan ouw di Hun sui
kwan, untuk bikin hitungan yang memutuskan. Untuk ini,
orang she Ong itu boleh dikasi tempo tiga tahun, atau kita
akan basmi kaum Hoay Yang Pang. Kita memang niat cari
dia, terniata dia berada disini, sungguh kebetulan.
Diam2 Cio Tongtay menjadi girang. Inilah kebetulan. Ia
jadi bisa dapat bantuannya ketua2 dari Hong Bwee Pang.
Niatalah orang she Ong itu cari mampusnya sendiri,
kata Lauw Goan Khay sambil manggut.
Tetapi, Leng Pek, tanya Tie Cin Hay, tangsi ini ada
tempat terlarang, apa Kunbun ketahui tentang kedatangan
kita?
Ya, Tie To cu, sahut Cio Tongtay dengan cepat,
malah Kun bun bersyukur yang ia hendak dibantui.
Puas Cin Hay dan Shong Ceng mendengar jawaban itu.
Selanjutnya mereka membicarakan lain2 hal, sampai
datang nya sang malam diwaktu mana Cio Tongtay jamu
sekalian tetamunya itu, api dikemah dipasang terang2.
Selagi orang berjamu, satu serdadu datang melaporkan
tentang kedatangannya seorang she Hauw dari puncak
Siauw In Hong dari gunung Hoa San sebelah Timur.
Apakah dia bukannya Ya heng Cian lie Hauw Ban
Hong? tanya Shong Ceng.
Mukanya Cio Tongtay bersemu merah, tapi ia lekas
menjawab.
Benar, to cu. Dia adalah muridnya supeku dan jadi
suhengku yang ke empat. Cara bagaimana to cu ketahui
dia?

Hauw Ban Hong kesohor di Barat diperbatasan Su coan


dan Simsay, jawab Gie bun To cu. Bagaimana aku tidak
mengetahuinya?
Hanya dia dari golongan lain, Leng Pek terangkan.
Nanti aku ajak dia menemui to cu beramai.
Lantas Cio Tongtay keluar untuk sambut sendiri
tetamunya itu.
Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong, si Tukang Jalan
Malam Seribu Lie, ada satu huicat atau bandit terbang di
Barat, kecuali dia pandai lari keras terutama dia pandai
mencuri, maka dia peroleh gelarannya itu, karena dia ada
dari golongan rendah, tidak heran pertanyaannya Tie Cin
Hay membikin Leng Pek jengah sendirinya.
Hauw Ban Hong ikut masuk, ia segera lihat iapunya toa
su heng Liap Siauw Ciu dan Su siok Louw Goan Khay, ia
cepat memberi hormat kepada mereka, sesudah mana iapun
kasi hormat pada kedua to cu dan diperkenalkan.
.........tak terbaca......, segera menjadi tidak senang, tetapi
Shong To cu yang bisa lihat gelagat, segera berkata pada
kawannya Su ko, sudah lama kita dengar nama besar dari
suhu ini, sekarang kita bisa bertemu dengannya, sungguh
beruntung! Ia tertawa, terus ia tambahkan pada orang she
Hauw itu Hauw Suhu, ijinkan aku bicara secara jujur. Kau
tak dapat disamai dengan suteemu, karena kau bukannya
orang kaum kita, maka apabila kau anggap kita sebagai
tertua, tak bisa kita berdiam di sini lebih lama pula
Suara itu mengandung sindiran. Akan tetapi
dikeluarkannya secara merendah, dari itu, Ban Hong pun
tertawa ketika ia menjawab Tidak demikian, Shong Loosu.
Ciong wie sedang berpesta, malah aku sudah ganggu
kegembiraan pesta ini. Biar aku menyuguhkan ciongwie

masing2 satu cawan, sebagai dendaan yang aku telah


datang terlambat
Ah, ya, kata Shong Ceng, tungkul bicara saja, alm
sampai lupa undang Hauw Suhu duduk. Nah, Leng Pek,
tolong kau ambil lagi dua poci arak, aku ingin temani Hauw
Suhu minum. Hauw Suhu, silahkan duduk!
Louw Goan Khay tidak puas dengar orang bicara saja.
Shong To cu, aku ada orang kasar, kepalaku sakit
mendengari kau main saling merendah, kata ia dengan
sungguh2. Silahkan duduk! Didepan paman gurunya, cara
bagaimana mereka berani berlaku kurang hormat?
Mukanya Hauw Ban Hong menjadi merah.
Leng Pek merasa kurang enak, ia kuatir bila orang
omong lebih jauh, bentrokan mungkin terjadi. Kebetulan
pelayan menambah arak, ia segera isikan satu cawan dan
bawa itu kepada Ban Hong.
Suheng, inilah tanda penyambutanku kepadamu, kata
ia. Kau jangan bikin susiok ibuk, silahkan duduk.
Iapun lantas persilahkan yang lain2 minum.
Liap Siauw Ciu pun turut bicara akan simpangkan
pembicaraan.
Sambil bersantap dan minum, mereka lantas bicarakan
urusan Eng Jiauw Ong.
Bicara belum lama, mendadak Hauw Ban Hong tahan
cangkirnya yang ia sudah angkat, ia dongak dengan air
muka berubah, setelah mana, dengan pelahan ia berkata
Para pundak rata, menyebut pendek, diatas lelangit mega,
ada nempel cucunya anak penglari.
Itu adalah kata2 rahasia kaum kang ouw, Sungai Telaga,
bahwa diatas kemah ada musuh, dari itu, semua menjadi

tercengang. Mereka tidak sangka bahwa baru kira2 jam dua


sudah ada musuh berani meniatroni mereka.
Gie bun To cu Tie Cin Hay segera dongak dan
membentak. Kami sudah lama menantikan sahabat,
silahkan turun, silahkan turun!
Ucapan ini belum habis dikeluarkan atau Hauw Ban
Hong, yang menekan ujung meja, sudah mencelat kepintu
kemah, akan melihat kekiri dan kanan, ketika ia hendak
loncat lebih jauh keluar, tiba2 ia tampak lompat turunnya
satu bayangan ditempat tiga kaki dari pintu kemah,
romannya sebagai satu pendeta, siapa sudah lantas
membentak Orang2 durhaka, yang tak menghormati
undang2 negara kau orang sambuti jimatku!
Tangannya bayangan itu diayun, lantas menyamber satu
cahaya terang dan putih.
Hauw Ban Hong berkelit dengan cepat, karena mana,
serangan itu mengenai cawan di atas meja pesta, hingga
beberapa cawan pecah hancur, menerbitkan suara berisik.
Louw Goan Khay semua berkelit dan Tong tunwan
lantas berseru Siapkan senjata! Kejar, jangan kasi dia
lolos
Hauw Ban Hong hendak pertontonkan kepandaiannya,
Ciongwie, aku nanti kejar dia!
Jangan kesusu! Liap Siauw Ciu mencegah. Senjata
rahasia itu kenapa seperti gulungan kertas? Mari kita lihat
dulu!
Cio Tongtay segera jumput senjata rahasia itu, yang
benar ada segulung kertas, ketika dibuka, isinya ada sebutir
bola gin cu sebesar buah lengkeng, pada itu ada satu lobang
kecil.

Eh, apakah ini? ia berseru bahna heran.


Hauw Ban Hong dan Shong Ceng kenali senjata rahasia
itu, keduanya keluarkah seruan kaget.
Niekouw tua itu satronkan kita, kita mesti lakukan
pertempuran mati atau hidup kata Shong Ceng.
Senjata rahasia apa itu, jie sutee? tanya Tie Cin Kay,
apa ini bukan kepunyaannya si tua bangka Eng Jiauw
Ong?
Inilah See bun Cit poo cu, sahut Shong Ceng. Selagi
di gunai, senjata ini perdengarkan suara pelahan dan halus.
Senjata ini cuma dipunyai oleh kaum pendeta. Bayangan
tadi mestinya ada si pendeta perempuan tua Cu In dari Pek
Tiok Am di bukit Chong Liong Nia digunung See Gak. Dia
yang biasa disebut Cu In Am cu. Aku tidak sangka dia
berkawan dengan Eng Jiauw Ong Leng Pek, apakah
bunyinya surat itu?
Cio Tongtay beber kertas bungkusan itu, yang memuat
surat, begini bunyinya :
Ketua dari See Gak Pay, yang memancarkan cahaya
Sang Buddha, dengan ini peringatkan kau sekalian bangsa
durhaka, yang berbuat se wenang2, seterimanya surat ini,
lekas kan angkat kaki dari sini, jikalau kau membandel, itu
artinya kau semua cari kemusnahan sendiri!
Tie Cin Hay jadi sangat gusar.
Bangsat kepala gundul itu sangat menghina! ia berseru.
Cara bagaimana dia berani tidak lihat mata kepada kaum
kang ouw? Aku Tie Cin Hay ingin sekali menemui ketua
See Gak Pay itu akan lihat sampai dimana keliehayannya!
Semua orang tidak puas, walaupun mereka insaf, ketua
See Gak Pay itu ada liehay. Shong Ceng pun tidak senang

dengan sikapnya Hauw Ban Hong, yang seperti hendak


saingi pihaknya.
Bagaimana liehaynya pendeta perempuan itu maka ia
demikian jumawa? kata ia. Leng Pek, pergi kau lindungi
Kun bun, kami hendak susul pendeta itu untuk adu
kepandaian padanya!
Sudah cukup, mari kita mengejar! berseru Hauw Ban
Hong. yang mendahului lompat keluar dari kemah.
Shong Ceng dan Tie Cin Hay segera menyusul keluar,
diikut oleh Liap Siauw Ciu dan Louw Goan Khay. Cio
Tongtay turut Keluar juga.
Baru Shong Ceng dan Tie Cin Hay sampai dimuka
kemah, mereka lantas dengar bunyi suitan ber ulang2,
disusul ber lari2 datangnya satu perwira rendah, yang
menyebut namanya Cio Tongtay. Segera semua orang
lantas berhenti berlari dan Leng Pek sendiri maju
memapaki.
Ada apa? ia tanya. Dikemah Kun bun ada orang
jahat! perwira Itu menjawab.
Cio Tongtay kaget bukan main.
Apa Kun bun terluka? ia bertanya dengan roman
muka berubah.
Aku tidak lihat Kun bun, aku cuma jalankan titahnya
Tiongkun hu Chang.
Perwira ini belum sempat tutup mulutnya, dari tangsi
belakang juga terdengar suitan ber ulang2.
Celaka! tongtay ini berseru.
Suitan dari belakang itu ada dari orangaku! Jangan2
penjahat merampas orang tawanan! Loosu beramai baik
lekas pergi kebelakang!

Serahkan pada kami, jangan kuatir! sahut Shong Ceng


dan Tie Cin Hay bertiga dengan Louw Goan Khay.
Liap Suheng, mari bantu aku kemarkas besar! Cio
Tongtay minta pada Siauw Ciu.
Sampai disitu, lima orang berpencar kekedua jurusan.
Kapan Cio Tongtay dan su hengnya mendekati kemah
Gouw Teetok, ia lihat kemah itu telah dikurung tentera
yang telah siap sedia dengan panah dan golok terhunus,
penjagaan ada rapat sekali. Sejumlah opsirpun siap diluar.
Tongtay ini minta suhengnya menunggu, ia hampiri
sekalian opsir itu, untuk kasi hormat pada mereka seraya
berkata Ciongwie sangat cape. Apa Kunbun tak kurang
suatu apa?
Kunbun melainkan kaget, ia tidak dapat luka apa2,
sahut satu siupie.
Hatinya tongtay ini lega, lantas saja ia bertindak
kedalam. Ia nampak kemah ada terang sekali. Beberapa
opsir melindungi Gouw Teetok, yang duduk diatas
pembaringan, sebelah tangannya menyekal hun cwee yang
sedang disedot hingga apinya perdengarkan suara. Satu
serdadu kepercayaan memegangi api huncwee dari teetok
itu.
Melihat sepnya tidak kurang suatu apa, dengan hati lega
Cio Tongtay menghampiri untuk memberi hormat.
Kapan Gouw Teetok lihat Cio Tongtay, ia kasi lihat
roman keren.
Cio Looya, kau repot betul dengan tugasmu!
menyambut ia, Aku serahkan keselamatanku kepadamu,
namun kau sedikitpun tidak memperhatikannya. Sekarang

kau baru datang, bisa bisa batok kepalanya Gouw Tay Giap
bisa dibawa pergi orang jahat!
Ditegor secara demikian, Leng Pek lantas mohon maaf.
Inilah salahku yang memandang terlalu enteng kepada
orang jahat, ia akui. Tadinya pie cit menduga, umpama
dia bernyali besar dan berani datang yuga, itu mesti terjadi
sesudah jam tiga, tidak dinyana ini kali ia datang sebelum
jam dua. Tolong Kunbun tuturkan bagaimana cara
datangnya orang jahat itu, supaya pie cit bisa usut
padanya.
Coba keluarkan itu barang permainan, kata Gouw
Teetok pnda satu orangnya. Ia bicara dengan pelahan,
seperti ogah2an.
Serdadu itu lantas jumput dari atas meja kecil sebilah
potongan pisau, panjangnya empat atau lima dim, yang
dipakai menusuk selembar kertas.
Mukanya Cio Tongtay merah ketika ia sambuti pisau itu,
ketika ia periksa halamannya, ia lihat satu huruf Wan
atau Penasaran dengan disudut kiri sebelah bawah, ada
lukisan satu kuku atau cengkeraman garuda.
Kau lihat buntungan pisau itu, kata Gouw Teetok, itu
bukan pisau kepunyaan penjahat hanya ujung potesan dari
golok nya serdadu kita. Jam dua tepat tadi, dua pengirinku
lihat satu bayangan lompat turun, melayang pesat seperti
terbangnya burung, sampai tampangnya tak keburu dilihat,
baru saja satu pengiringku cabut goloknya dan membentak,
tanpa suara apa2 dia telah kena dihajar rubuh, pengiring
yang kedua segera membacok. Penjahat itu tidak menangkis
atau berkelit, dia hanya dengan tangan kosong rampas
orang punya golok. Serdadu itu cuma rasai kebutan angin,
lantas ia jadi lemas, suaranya nya rubuh disamping pintu
kemah. Aku sedang periksa dari kemah. Aku sedang periksa

daftar rangsum ketika nampak kejadian itu, selagi aku


hendak teriaki orang, orang itu, seorang tua kurus, menjura
padaku seraya mengucap Siapa memfitnah orang baik2
sebagai orang jahat, dia terkutuk Thian dan Bumi. Lantas
tangannya melayang, satu benda putih menyamber
kearahku. Aku berkelit. Kira nya benda itu adalah
buntungan golok ini serta kertas yang tertusuknya, yang
nancap diatas meja. Segera aku menjerit, berbareng dengan
mana, orang tua itu sudah lenyap seketika. Sudah lebih dari
sepuluh tahun aku alami peperangan, ber macam2 bahaya
telah kutempuh, tapi kejadian seperti ini baru inilah
pertama kali. Kapan aku bayangkan kejadian itu, aku jerih
sendiri. Maka Leng Pek, kau pikirlah, umpama kau tidak
sanggup bekuk penjahat itu, kau omong terus terang, aku
tidak ingin jiwaku terbinasa di tangannya seorang tak
ternama!
Ucapan ini membuat muka dan kupingnya Cio Tongtay
menjadi merah.
Aku harap Kunbun jangan kuatir, kata ia, Harap
Kunbun berikan ketika padaku, pasti aku nanti serahkan
kepala penjahat itu kepada kunbun. Orang2 yang aku
undang sudah tiba, mereka akan dipencar untuk cari
penjahat itu. Sekarang aku hendak pergi kebelakang akan
lihat orang2 tawanan, sebentar aku akan berikan laporan
lengkap.
Selagi Cio Leng Pek meng ucap demikian, Hu ciang Ciu
Tek Kong bertindak masuk.
Tolong Ciu Tayjin menjaga disini, aku hendak pergi,
sebentar aku akan kembali, kata Cio Tongtay pada
panglima muda itu kepada siapa ia memberi hormat,
kemudian, setelah letaki ujung pisau diatas meja, ia berlalu
dengan cepat, bersama Liap Siauw Ciu ia menuju

kebelakang. Mereka gunai ilmu lari cepat, yaitu Keng sin


Tee ciong sut.
Tauwsu Pa cong Thio Kay Kah dan Jie su Pa cong Na
Cin, ber sama2 barisannya telah kurung tempat tahanan
dengan rapat sekali, kapan kedua pa cong lihat sepnya,
mereka lantas menyambut. Atas pertanyaan, Na Cin
berikan keterangan, walaupun pernjagaan ada kuat,
penjahat bisa naik keatas kemah dan berhasil memasuki
entah barang atau kabar apa kemudian penjahat itu lantas
menghilang pula, cepat seperti datangnya.
Tadi sahabat2 Tongtay telah datang kemari, mereka
terus menyusul kebelakang tangsi kita ini, pa cong itu
tambahkan.
Apakah kau dapat lihat macamnya penjahat itu?
Rupanya mereka masing2 ada satu pendeta dan seorang
biasa
Suheng, tolong kau bantu jaga disini, aku hendak susul
su siok beramai, kata Leng Pek pada Siauw Ciu. Pada
jam lima, pasti aku akan kembali.
Lantas tanpa tunggu jawaban, Cio Tongtay naik keatas
penjara tahanan, untuk memeriksa, dari situ ia turun
kesebelah belakang, buat susul susioknya semua.
Lekas sekali Leng Pek sampai dikaki gunung Hoa San.
Cuaca remang , karena bintang sedikit dan rembulan sudah
doyong ke Barat. Ada sulit untuk memandang ketempat
jauh. Disitupun tidak ada jalanan, ada sebuah jalanan kecil
tapi sudah tertutup pepohonan lebat. Dengan gunai ilmu
larinya sambil entengkan tubuh tongtay itu sampai dikaki
gunung sekali. Apa yang bisa terlihat tegas adalah Hong
hwee tay dan Liauw hong tay, cuma ada satu barisan kecil
ditempatkan didekatnya. Jalanan naik ada sukar akan tetapi

tongtay ini tidak hiraukan itu, ia naik dengan cepat,


melainkan napasnya memburu dan keringat nya mengucur.
Selagi mendekati ranggon, serdadu jaga menegor
Siapa? Barisan jaga itu sudah lantas mengancam dengan
panah mereka.
Aku! jawab Cio Tongtay yang perkenalkan diri.
Siauw khoa Khu Kim Pong lantas maju, akan unjuk
hormat pada tongtay ini, ia terus undang masuk kedalam
kemah, untuk disuguhi arak, akan tetapi Leng Pek
mencegah. Ta cuma minum the untuk lenyapkan dahaga.
Aku sedang dinas, kata Cio Tongtay. Apa disini ada
terlihat orang lain?
Ya, jawab Kim Pong. Ada satu serdadu kami, yang
tadi lihat orang asing, tetapi karena jaraknya jauh, ia tak
dapat melihat niata, ketika ia menghampiri, orang itu sudah
lenyap. Selama ini kami memang ada menjaga dengan
hati2. Pada dua hari yang lalu, ditempat yang jarang dilalui,
penjaga kami melihat seorang tua, yang kami duga ada
seopang pelancongan saja. Baiklah sebentar pagi kita
lakukan penggeledahan. Tongtay ada begini liehay, kalau
penjahat berada diatas gunung, tidak nanti ia bisa lolos.
Karena orang tidak tahu banyak, Cio Tongtay lantas
tinggalkan Hong hwee tay, akan pergi ketempat dimana
katanya tadi ada melihat orang asing. Disitu tidak banyak
pohon kayu besar tapi lebat dengan rumput dan oyot rotan.
Lewat dari situ baru terdapat banyak pepohonan. Ia sudah
lalui enam atau tujuh lie, ia tak menemui Cin Hay atau
Shong Ceng.
Aku bisa kesasar, pikir tongtay ini, yang takut nanti
seantero malam berada digunung itu. Ia lalu perhatikan
sekitar nya.

Tempat itu dipanggil Loan sek po, keadaannya mirip


dengan namanya, yang berarti tanjakan batu kusut.
Dikanan ada lamping gunung yang mudun, dibawahnya
mirip paso, dan dikiri ada aliran air.
Buat sesaat, Cio Tongtay sangsi untuk maju lebih jauh.
tapi kapan ia ingat, lain orang begitu sungguh2 bantui ia,
hati nya jadi mantap. Ia lihat ia sudah terpisah jauh sekali
dari Hong hwee tay, ia anggap tidak ada halangannya
untuk kasi lihat perbuatan kaum kang ouw. Maka itu terus
ia masukkan jari tangannya kedalam mulut dan
perdengarkan dua kali suara suitan. Ia percaya, kalau
kawan nya berada didekatnya, ia akan dapat jawaban.
Setelah mengulangi sampai tujuh kali, ia tidak dapat
sambutan, ia tahu disitu tidak ada kawannya.
Untuk naik keatas, Cio Tongtay hunus goloknya, ia
manjat disebelah kanan, ia babat rintangan pepohonan.
Durinya pohon cemara ada mengganggu ia, ia baret pada
mukanya dan ketusuk tangannya. Dengan susah payah
sampailah di tengah2, ia menunda akan menghilangkan
lelah tapi ia benci Eng Jiauw Ong, ia kutuk lawan itu.
Sambil mengaso, ia bunyikan pula suara suitannya dua kali.
Sekali ini ia dengar sambutan dari atas, dua kali saling
susul, suaranya kecil, terdengarnya jauh sekali Dengan
keinginan tahu, dimana ada nya kawan, ia bersuit pula,
sambil berbareng pasang kuping. Justeru itu seekor macan
tutul loncat lewat didepannya, hingga ia terkejut. Berbareng
dengan itu, ia dengar sambutan pula, tapi karena gangguan
sang harimau, ia tidak dapat perhatikan arahnya.
Kemana perginya , susiok Louw Goan Khay dan Hauw
Ban Hong? ia pikir. Mustahil mereka tak tahu, gunung
See gak Hoa San ini ada lebar ratusan lie? Kalau mereka
tidak dapat menyusul orang jahat, sudah saja, apa mungkin
mereka menyusul terus kekuil PekTiok Am?

Tiba2 ada terdengar suaranya seekor srigala. Cio


Tongtay kuatir binatang itu tubruk atau kena langgar
padanya, ia lekas berkelit kekiri, tubuhnya ia putar, siap
buat membacok. Benar sedang ia putar tubuh, sepotong
tanah menyamber mukanya, hingga ia kaget, tanahnya
hancur, matanya kelilipan. Iapun rasai mukanya sakit.
Dengan tangan kiri Cio Tong tay usap bersih mukanya,
selagi begitu, kembali satu suara srigala, disusul sama
samberan angin. Kembali ia kaget, ia paksa buka matanya,
siap untuk berkelit, tetapi sebelum ia sempat geser tubuh
atau loncat, tubuhnya seekor srigala sudah timpah ia
mengenai pundaknya, hingga ia merasakan sakit dan
badannya limbung, sampai ia mundur beberapa tindak.
Serigala itu sendiri jatuh terus, entah dari mana dia dapat
luka, dia tidak bisa bangun untuk berlari, dia cuma bisa,
gerak2i keempat kakinya me ngower2 tanah.
Segera Cio Tongtay dapati pundaknya terluka, sangat
gusarnya ia hampiri serigala itu dan membacok dengan
sengit, hingga tubuhnya binatang itu terkutung dua, bahkan
gusarnya goloknya mengenai batu juga, sampai lelatu api
muncrat kesekitarnya. Walaupun ia dapat sedikit kepuasan,
ia masih belum tahu tanah itu datangnya dari mana, dan
serigala itu asalnya terluka oleh siapa, tapi menurut dugaan,
binatang itu seperti orang lemparkan kebawah.
Itu waktu ada terdengar dua kali suitan, mendengar
mana Cio Tongtay jadi bergembira hingga melupai lukanya,
iapun bersuit untuk menyambut. Sekarang ia dapat
kepastian, disebelah atasan ia tentu ada kawannya, entah
siapa. Lalu dengan lawan duri, ia manjat naik, mendaki
bukit.
Pundak rata diatas siapa? ia tanya selagi ia hampir
sampai diatas.

Disini Hauw Ban Hong! Apa Cio Sutee disitu? jawab


suara dari atas.
Bukan main girangnya tongtay itu, ia segera dongak.
Ya ia menyawab. Ia sebenarnya hendak
menambahkan su heng akan tetapi mulutnya rapat
dengan tiba2, karena entah dari mana datangnya, selagi
mulutnya dibuka, tahu2 ada pasir yang menyamber masuk,
hingga ia jadi kaget, ia gelagapan karena pasir masuk terus
kekerongkongannya, malah ada sukar untuk muntahkan itu
sesudah mencoba beberapa kali, baru ia bisa bicara pula.
Terus ia kata Suheng, entengi kakimu! Pasir gempur
hingga aku kelilipan.
Orang diatas rupanya tidak mendengar terang, dia hanya
kata Lekas naik, sutee, ada orang permainkan kita!
Cio Tongtay segera naik, melapay antara cabang pohon
cemara. Ketika ia sampai diatas, antara suramnya cahaya
bintang dan rembulan, ia dapati saudara itupun berlepotan
lumpur, dandanannya tak keruan.
Bagaimana, suheng? Cio Tongtay tanya. Apa kau
dapat candak penjahat itu? Kemana mereka itu yang
bertiga?
Sudahlah, sutee! sahut Ban Hong dengan kecele. Aku
mengejar dengan sungguh2, aku pun kenal baik tempat ini,
selagi aku hampir menyandak, orang telah ganggu aku ber
ulang2, aku meng halang2i, hingga aku pikir dengan
bersendirian saja, sukar untuk lawan mereka, dari itu aku
tukar siasat. Aku curigai bukannya orang luar. Sutee
telah datang, mari kau saksikan sendiri
Lan Hong segera putar tubuh nya dan bertindak kearah
barat.

Tunggu, suheng! memanggil Cio Tongtay, yang


bersangsi. Lalu ia tambahkan Orang sendiri tak nanti
berhati serong Baik kau tolong membalut lukaku.
Ah, kau terluka, sutee? kata Ban Hong seraya ia balik
tubuhnya. Bagaimana caranya kau dapati luka itu?
Cio Tongtay menghampiri sampai dekat, lalu sembari
kasi dirinya ditolong, ia tuturkan pengalamannya.
Kemudian ia tanya, bagaimana sangkaan sang suheng.
Aku percaya situa bangka Eng Jiauw Ong ada
punyakan tempat sembunyi disini, Ya heng Cian lie Hauw
Ban Hong jawab. Selagi aku kejar situa bangka, ada orang
halangi aku, hingga aku jadi bercape laga malam ini. Mari
kita maju, tempat ada berbahaya, siapa bernyali kecil, tak
nanti dia berani pergi kesana
Mendengar perkataan kawan itu, Cio Tongtay tidak mau
menanya melit, ia hanya tanya, mereka hendak menuju
kemana dan apa bahayanya.
Tadi kau ambil jalan salah, sutee, kata Ban Hong. Itu
ada jalanan mati, lembah seperti paso, disitu biasa pemburu
jebak binatang liar. Kau lihatlah tanjakan tinggi itu, itu
adalah Hok Say Kong. Lewat dari situ ada Ban siong peng
yang tanahnya datar dan indah pemandangan alamnya.
Disebelah Timur daya sana ada bukit Eng Ciu Nia, yang
belakangnya berjurang dan cuma ada sebuah jembatan dari
sebatang pohon. Kapan kita lewati jembatan itu, kita akan
sampai di jurang Tek Seng Gay dilamping mana, menurut
katanya penduduk, biasa muncul dewa atau orang sakti
yang suka membuat obat atau bertapa. Tentu saja, itu ada
obrolan belaka. Yang benar adalah orang tak berani datangi
jurang itu dengan lampingnya. Disitu justeru biasa
bersembunyi orang2 jahat pemburon. Seperti pada tiga
tahun yang lalu, penjahat besar Coan thian Auw cu Phui

Hui yang kesohor di Selatan dan Utara sungai Tiang Kang,


sudah sembunyi disana dengan bawa semua harta
bendanya. Buat tiga tahun dia sembunyikan diri, sampai
penduduk katakan dia ada orang sakti, hingga ada yang
datangi Eng Ciu Kia untuk memohon berkah selamat.
Siapa seberangi Eng Ciu Kia, kalau dia tidak binasa
digegaras binatang liar, dia tentu jatuh terpeleset dan babak
belur, walaupun demikian, mereka tidak penasaran, mereka
hanya katakan mereka tak berjodo bertemu dengan dewa,
sebab dewa tak sudi menemui mereka. Tapi aku, satu kali
aku telah dapat ketemukan Phui Hui disarangnya itu,
hampir kami bentrok. Dia tidak percaya aku, dia kuatir aku
curangi padanya, setelah berikan aku dua rupa barang
berharga, dia berlalu dengan diam2 meninggalkan Tek Seng
Gay. Katanya dia sekarang berdiam di Liauw tong
Hauw Ban Hong belum tutup omongannya, tiba2 ia
keserimpat hingga tubuhnya sempoyongan dan jatuh. Cio
Congtay, dengan siapa ia jalan berendeng, turut
terserimpat, sampai dia jatuh ngusruk, mulutnya mengenai
tanah, syukur ia keburu menahan dengan kedua tangannya
hingga tak terluka parah.
Ban Hong kaget, ia lompat bangun dengan segera.
Bagaimana, sutee? tanya ia. Apakah kau terluka? Ah,
inilah aneh!
Ia segera rogo kantong kulitnya akan keluarkan bahan
api untuk menyuluhi, hingga ia lihat melintangnya sebatang
oyot rotan yang ketutupan rumput.
Kalau sedang sial, ada2 saja. kata Cio Tongtay seraya
merayap bangun, alisnya dikerutkan. Aku akan jatuh
terbanting, apabila aku tidak cepat menjaga dengan tangan
dan mukaku bakal habis terluka semua Ban Hong
sementara itu telah jumput oyot rotan itu.

Lihat, sutee, rotan ini tumbuh dilobang batu, kata ia


seraya bersenyum ewah. Niata rotan ini sengaja dipasang
untuk bikin kita terserimpati Dengan sengitnya ia
lemparkan rotan itu. Sutee telah mengarti sekarang! Mari
kita jalan terus! Kau waspadalah, barangkali masih ada lain
lelakon lagi!
Ia padamkan api dan simpan itu dalam kantongnya,
untuk jalan pula dengan Cio Tongtay bertindak
disampingnya, mereka jalan berendeng, hingga ia bisa
berbisik Kuda depan titik, awas biji hijau gelap!
Ini adalah kata2 rahasia untuk siapkan senjata rahasia.
Cio Tongtay juga curiga orang sedang permainkan dia,
segera ia sudah lantas siapkan batu Hui hong sek, sedang
Hauw Ban Hong, selagi dia simpan bahan apinya, sudah
barengi jumput keluar So cu Touw hong piauw, yang ia
genggam ditangannya. Ia jalan seperti tidak terjadi suatu
apa, ia sengaja ajak Cio Tongtay bicara, hanya diam2 ia
pasang mata dan kuping.
-0dw0VI
Selagi mendaki tanjakan Hok Say Kong, Cio Tongtay
yang telah jadi tidak sabaran, sudah tanya suhengnya
Suheng, tadi sewaktu aku ada dibawah, aku kasi tanda
suitan dari sini ada suara jawaban, apakah itu jawabannya
susiok dan kedua to cu?
Akan tetapi suheng itu tertawa dingin.
Louw Susiok? jawab dia. Aku percaya, setelah tak
berhasil mencari, dia sudah pulang ketangsi. Dan kedua to
cu, hm, kau jangan harap mereka! Oh, suteeku yang pintar

Cio Tongtay berdiam. Ia duga suheng ini justeru curigai


kedua to cu itu, Tie Cin Hay dan Shong Ceng. Ia lantas
jalan terus.
Tidak lama, sampailah mereka di Ban siong peng. Benar
selagi mereka jalan dijalanan batu antara pohon2 cemara,
Hauw Ban Hong rasai samberan angin kearah batok
kepalanya.
Celaka! ia berseru seraya ia mendek. Tidak urung
sepotong batu mengenai juga sasarannya, melainkan dia ini
tidak terluka hebat. Sebat seperti burung, ia lompat sambil
memutar tubuh, hingga ia masih bisa lihat berkelebatnya
satu bayangan tubuh ke sebelan Utara.
Binatang ! Kemana kau hendak mabur? ia berseru
seraya tangannya diayun, hingga piauw nya dengan
berkeredepan menyamber kearah bayangan itu. Berbareng
dengan itu, iapun bertoncat maju.
Dengan menerbitkan suara piauw itu nancap dibatang
pohon.
Cio Tongtaypun berlompat maju akan susul kawannya
itu.
Bagaimana, suheng? tanya ia. Belum sempat ia tutup
mulutnya diatasan kepalanya. diatas pohon, ada suara
berkeresek, hingga ia terkejut. Segera ia angkat kepala akan
melihat, tetapi justeru itu, secabang pohon jatuh menimpah
kearahnya, walaupun ia bisa berkelit, mukanya kena baret
juga.
Ada orang diatas pohon! ia berseru seraya tangannya
diayun.
Serangan itu disambut oleh suara tertawa haha haha.

Menyusul itu, Hauw Ban Hong pun menyerang dengan


sebuah piauw.
Kedua senjata menerbitkan suaranya masing2 melanggar
daun, tetapi dua2nya tidak jatuh.
Cio Leng Pek heran, namun ia merasa pasti, tidak nanti
batunya tembusi lebatnya pohon. Selagi ia ternganga, Ya
heng Cian Lie Hauw Ban Hong sudah menimpuk untuk
kedua kalinya. Tapi juga kali ini senjatanya telah kena
disambuti musuh gelap itu. Saking mendongkol, ia loncat
akan cabut piauwnya yang pertama nancap dibatang
pohon. Ia baru mencabut, segera ia mendengar seruan
Awas! Dan belum sempat ia menoleh, ia sudah rasai
samberan angin pada kupingnya, sukur ia keburu mendek.
Piauw itu sebaliknya nancap dibatang pohon tadi disusul
dengan yang kedua.
Sutee, besarkan api, rangkap cabang, aku ada punya
daya akan pergi suluhi sikunyuk ini! kata Ban Hong
kemudian. Dengan kata2 rahasia itu, ia suruh sutee nya
awasi pohon, ia sendiri hendak bikin musuh gelap itu
muncul. Setelah itu, ia cabut piauw yang nancap dipohon,
piauw mana adalah piauwnya sendiri, hingga sendirinya
diam2 ia merasa jerih juga terhadap musuh tak kelihatan
itu. Tapi ia tak sudi unjuk nyali kecil, ia enjot tubuhnya, ia
loncat kedepan seraya ia kata pula pada Cio Tongtay
Sutee, aku akan tunggu disini, pergi mutar kebelakang
pohon, lalu dari depan dan belakang, kita gunai biji hijau
kita. Aku hendak lihat, bagaimana sikunyuk nanti bisa
loloskan dirinya!
Cio Tongtay menyahuti Ya, lantas ia loncat
kebelakang pepohonan. Baru ia sampai, segera terdengar
seruan Awas! yang disusul dengan samberan angin dari
senjata rahasia. Ia kaget tetapi cepat berkelit, maka itu
serangan mana mengenai tanah, sedang satu bayangan

lewat melesat. Dengan segera ia balas menyerang dengan


batunya, yang sudah disediakan digenggaman nya. Akan
tetapi sekejab saja bayangan itu sudah lenyap.
Ada apa, sutee? tanya Hauw Ban Hong, yang
mendengar suara tadi, malah ia lompat untuk menghampiri,
hingga ia lihat Cio Tongtay sedang membungkuk buat
pungut senjata rahasia yang dipakai menyerang padanya.
Kau pungut apa?
Inilah batuku, yang orang pakai menimpuk kembali
kepada ku, sahut ponggawa itu. Aku pikir tak usah kita
mengejar lebih jauh, mari kita pulang ke tangsi, disana kita
boleh berdamai pula.
Tongtay ini tahu diri, akan tetapi Hauw Ban Hong
tertawa dingin.
Kau kenal perangiku, sutee, kata ia. Ada biasanya
bagiku tidak akan loloskan sepatuku sebelum aku sampai
ditepi kali. Aku justeru ingin ketahui sampai dimana
kepandaiannya pit hu ini yang tak sudi tampakkan diri!
Kearah mana dia pergi? Aku hendak susul padanya! Kalau
sutee hendak pulang lebih dahulu, silahkan!
Aku tidak takut, aku hanya kuatir
Cio Tongtay belum bicara habis atau kata2nya itu
terputus secara tiba2, karena tidak jauh dibelakangnya
Hauw Ban Hong, ia dengar seruan Pit hu!
Ya heng Cian lie senantiasa siap sedia, dengan gesit ia
loncat nyamping, jauhnya satu tumbak lebih, akan tetapi
Cio Tongtay, yang tidak pernah menyangka, sudah lantas
menjerit Aduh! Sebenarnya diapun berkelit tetapi batu
mendahului menyamber mukanya, hingga ia merasakan
sakit, mukanya terluka dibeberapa tempat dan terus
bengkak!

Hauw Ban Hong sudah putar tubuh dengan cepat,


hingga ia masih bisa lihat berkelebatnya satu bayangan
manusia, turun ke tanah dari sebuah pohon disebelah utara.
Ia lantas lompat mengejar, sedang pada Cio Tongtay, ia
berseru Sutee, kejar dia! Pada bayangan itu, ia serukan
Kunyuk, kau hendak lari kemana?
Cuma bersangsi sebentar, Cio Tongtaypun lari akan
susul su hengnya itu mengejar musuh. Ia sebenarnya sudah
putus asa, ia jadi jerih, tetapi lukanya yang menimbulkan
rasa sakit, membangkitkan hawa amarahnya. Kalau ia tidak
menyusul, iapun kuatir suheng itu katakan dia pengecut.
Ban siong peng adalah sebuah rimba seluas dua lie, suara
angin pun berisik, ini ada menyulitkan Tongtay itu, yang
kalah gesit dari suhengnya, maka juga, belum lama ia sudah
tak tampak lagi suhengnya itu.
Hauw Ban Hong melesat cepat luar biasa. Ilmu
loncatnya dan entengi tubuh Keng sin Tee Hiang sut
memang sudah sempurna, buat diselatan dan utara ___
Kang dan dijalan Su___ dan Siamsay, ia sudah tiada
bandingannya, akan tetapi malam ini, ia tidak berhasil
menyandak bayangan didepannya, yang tetap terpisah
belasan tumbak jauhnya dari ia, sia2 saja ___pun ia sudah
mengejar menempuh satu lie lebih. Ia sangat penasaran dan
sengit apabila ia lihat bayangan itu mencelat masuk
kedalam rimba sebelah Utara.
Kunyuk, kau hendak lenyapkan diri dalam rimba? ia
berseru. Hauw Thayya tidak akan gubris pantangan, aku
akan kejar terus padamu andai kata kau terjun kedalam
solokan jurang!
Sambil mendamprat, Ya heng Cian lie perkeras larinya,
tetapi ia sukar menyandak. Bayangan itu kemudian dari
arah Utara menikung ke Selatan. Karena membiluknya

bayangan itu, Ban Hong bisa menyusul lebih dekat. Iapun


segera dengar orang perdengarkan suitan.
Biar kau kumpul kawan, Hauw Thayya akan adu jiwa
denganmu! berseru ia. Tapi dalam hatinya, ia pikir
Mungkin dia bukannya musuh. Jikalau
dia
ada
simanusia yang aku sangka, aku hendak lihat dia ada punya
muka atau tidak untuk menghadapi aku
Bayangan itu lari terus, dari Selatan ia menikung pula ke
Utara. Beberapa kali ia lenyap, lalu tertampak pula. Ketika
Kemudian orang menikung pula kearah Selatan, hingga
keduanya jadi berada sedikit lebih dekat, tinggal enam atau
tujuh tumbak lagi, sambil berseru Ban Hong empos
semangatnya untuk loncat melesat dengan tipunya loncatan
Ceng teng sam ciauw sui atau Capung tiga kali samber
air. Dengan beberapa enjotan saja, ia telah sampai
dipohon dimana bayangan tadi menikung. Justeru itu,
bayangan itu muncul ditempat jauhnya kira2 satu tumbak.
Girang berbareng penasaran, Ban Hong loncat melesat
pula, kali ini sambil geraki goloknya, akan membacok
bebokongnya orang itu. Ia loncat dengan tipunya It hoo
chiong thian atau Seekor burung hoo serbu langit.
Adalah ia punya keinginan, akan tabas kutung orang punya
tubuh.
Bayangan itu sangat liehay, waktu serangan datang, dia
berseru, Bagus berbareng mana, kaki kirinya dienjot,
disusul sama gerakan tubuh Koay bong hoan sin atau
Ular naga jumpalitan, sedang tangannya, yang menyekal
golok Kim pwee Kim san too, dipakai membacok ujung
golok lawan!
Sebat sekali, Hauw Ban Hong tarik pulang goloknya,
buat diputar, dipakai membacok pula pundak kiri dari
bayangan itu, tetapi lawan ini berkelit sambil menangkis,
akan adu golok dengan golok tenaga lawan tenaga.

Ban Hong bisa duga, disebelah berat goloknya lawan itu


mesti bertenaga besar, dari itu, ia tidak suka benterok
gegaman dengan gegaman. Ia tarik pulang pula goloknya, ia
loncat kekanan, selagi kaki kanan nya injak tanah, kaki
kirinya di angkat, dipakai menjejak orang punya lutut kiri.
Gerakannya ada sangat cepat.
Lawan itu benar liehay, dengan gesit ia tarik pulang kaki
kirinya kebelakang, goloknya dibarengi diayun, akan babat
orang punya kaki yang dipakai menendang itu. Ia gunai
tipu babatan Bwee hoa lok tee atau Kembang bwee
rontok.
Ya heng Cian lie tidak kurang liehaynya. Sambil loncat
kekanan, ia tarik pulang kakinya yang menjejak itu,
kemudian ia putar tubuhnya dengan mendek, seraya
goloknya dipakai membabat kebawah.
Atas serangan kepada kaki itu, lawan mana loncat
berkali2 jauhnya enam atau tujuh kaki, akan tetapi Ya heng
Cian lie tidak mau mengasi hati, ia teruskan loncat, akan
menyusul dengan lain bacokan, ini kali mengarah
bebokong.
Untuk kesekian kalinya, lawan itu egos tubuhnya.
Demikian mereka bertempur, sampai tujuh atau delapan
gebrak, hingga Cio Loo yauw Cio Tongtay dapat menyusul
mereka, hanya selagi mendekati, tongtay ini berseru
Suheng, tahan dia, jangan kasi dia lolos! Aku nanti bantu
kau membekuk dia!
Menyusul seruan itu, lawan itu mencelat keluar
kalangan.
Eh! Apakah Leng Pek disana? dia menegor.
Cio Tongtay terkejut.

Suheng! berseru ia. Suheng, kenapa kau bentrok


dengan Tie Loo su?
Belum sempat Ban Hong menyambut, atau dari antara
pepohonan muncul seorang lain, yang terus tertawa
berkakakan dan kemudian kata Bukannya tempur musuh,
tetapi hanya kawan sendiri, apakah itu perbuatannya satu
sahabat kang ouw?
Cio Tongtay segera kenali, orang ini adalah Shong To
cu, dari itu ia insyaf, diantara mereka sudah terbit salah
mengerti.
Hauw Ban Hong berhentikan penyerangannya, ia geser
golok ketangan kiri, ia mundur dua tindak, tetapi ia tidak
menghaturkan maaf atau likat, hanya dengan tawar ia kata
pada To cu Tie Cin Hay Kita telah kena dipermainkan
musuh, kita telah dibikin jatuh merek! Aku mengejar
dengan mati2an, siapa nyana Tie Loo su mendadakan
muncul disini, kalau aku sampai terbinasa, aku akan jadi
setan yang penasaran!
Tie Cin Hay gusar karena orang punya lagu suara
mengejek, tetapi sebelum ia sempat buka mulut, Shong
Ceng telah dahului berkata Tie Suheng, kenapa kau
bentrok dengan Hauw Suhu? Apakah kau memangnya ada
kandung dendaman? Dan kau, Hauw Suhu, tolong kau
maafkan suhengku ini, yang tabeatnya keras. Aku harap
kaupun sudi menerangkannya, kenapa terjadi bentrokan ini
begitu ia tambahkan pada Ban Hong.
Ban Hong bungkam atas pertanyaan itu. Memang ia
yang menyerang lebih dahulu. Tapi ia tidak mau mengaku
salah.
Dalam gelap gulita, ada sukar untuk mengenali orang,
kata ia. Aku hanya tidak sangka kenapa hal ada demikian
kebetulan!

Cio Tongtay lihat suasana buruk, ia segera datang sama


tengah.
Memang, dalam gelap gulita sulit untuk kenali orang.
kata ia Ini ada kejadian salah mengerti, maka aku harap
Tie To cu dan Shong To cu sudi memandang padaku,
sukalah urusan ini dibikin habis sampai disini. sambil
mengucap demikian, iapun menjura pada kedua to cu itu,
sedang pada Ban Hong, ia memberi hormat sambil
tambahkan Suheng, kejadian malam ini, biar apa sifatnya,
semua itu tetap ada untuk siauwtee, dari itu, selagi kita ada
diantara orang sendiri, aku harap kita tidak sampai nanti
orang tertawakan!
Hauw Ban Hong merasa pasti kedua to cu itu hendak uji
dia, ia mendongkol, akan tetapi ia tak dapat umbar napsu
amarahnya, dari itu, ia jawab suteenya dengan bilang
Sutee, kau keliru. Kita ada diantara orang sendiri, mana
kita bisa terbitkan buah tertawaan lain orang?....
Cio Tongtay manggut pada suhengnya, kemudian ia
segera tanya kedua to cu itu, kemana perginya Louw Goan
Khay.
Shong Ceng pandang Ban Hong, lalu sambil tertawa
dingin ia jawab pertanyaan tongtay.
Kami kejar penjahat selama setengah malaman, maksud
kami adalah untuk lakukan pertempuran yang memutuskan
dengan mereka itu, sayang sekali, diluar dugaan, Hauw
Suhu telah halang2i kami hingga musuh bisa lolos!
Sebenarnya kami keluar berbareng dengan Louw Loo su, di
tanjakan Loan sek po kita berpisahan, Disitu kami melihat
musuh yang berjumlah dua orang. Louw Loo su susul Cu
In Am cu dari See Gak Hoa San, yang menyingkir ke Hok
Say Kong, dan kami berdua saudara kejar Eng Jiauw Ong
situa bangka. Selama itu tidak pernah kami berlalu dari Ban

siong peng. Kau datang dari Hok Houw Kong, mustahil


kau tidak ketemu Louw Loosu?
Itu berarti, seorang diri Louw Su siok memasuki daerah
musuh ini, kata Cio Tongtay dengan hati berkuatir. Bisa
jadi dia telah kena ditangan musuh!
Barangkali tidak, kata Shong Ceng. Mungkin dia
sudah pulang ketangsi Ah, kita semua kejar musuh,
tangsi menjadi kosong, mungkin kita terjebak kedalam akal
muslihat musuh, memancing harimau meninggalkan
gunungnya! Leng Pek, baik kau segera kembali ketangsi!
Tee cu sudah titahkan Liap Suheng menjagai orang2
tawanan, Cio Tongtay jawab. Apa tidak baik jiewie to cu
saja yang kembali untuk bantu Liap Suheng? Biar aku
bersama Hauw Suheng mencari terus di Eng Ciu Nia ini,
sekalian cari Louw Susiok. Umpama Louw Susiok sudah
pulang, tolonglah minta satu serdadu Kie yong peng pergi
kekaki bukit untuk melepaskan tiga batang panah nyaring,
supaya kami bisa segera kembali. Apa jiewie akur?
Ie bun To cu Shong Ceng setujui usul ini, kesatu karena
ia tahu, musuh ada liehay, kedua ia insaf, Hauw Ban Hong
ada licin sekali, hingga untuk mereka, pulang ketangsi ada
paling selamat.
Baiklah, demikian ia jawab tongtay itu. Umpama kau
ketemu dengan Louw Loo su, kau pun mesti segera
kembali. Setelah itu, tanpa pesan apa juga pada Hauw Ban
Hong, ia menoleh pada Tie Cin Hay seraya berkata
Marilah!
Tie To cu menurut, ia lantas ikut kawannya itu.
Hauw Ban Hong tertawa dingin melihat keangkuhann
Shong Ceng.
Jangan bertingkah, lihat saja nanti! kata ia.

Sabar, suheng, Cio Le Pek kata pada saudaranya itu.


Dalam segala hal, kau pandanglah aku! Kita harus bersatu
akan menghadapi musuh tangguh apabila kita bentrok lebih
dahulu, itulah bertentangan dengan maksudku mengundang
suheng
Jangan kuatir, sutee, Ba Hong bilang. Untuk kau,
biar poloku hancur luluh, aku tidak nanti mundur. Nah,
mari kita pergi ke Eng Ciu Nia, mari kita periksa Tek Seng
Gay!
Cio Tongtay tahu suheng ini berpandangan cupat, kalau
ia terus memberi nasihat, orang bisa ngambul, terpaksa ia
mengikuti menuju ke Eng Ciu Nia. Mereka berlari
sepanjang rimba dari Ban song peng. Selama itu hatinya
Cio Tongtay terus goncang, ia kuatir musuh nanti
membokong pula.
Mereka baru lari kira2 satu lie, tiba2 Hauw Ban Hong
mendek sambil berseru Awas, sutee!
Cio Tongtay segera lihat menyambernya satu benda
berkeredepan lewat diatasan kepalanya suheng itu, terus
nancap dibatang pohon sebelah kiri mereka.
Ban Hong sendiri, setelah mendek, terus loncat kesebelan
kanan.
Ketika Leng Pek cabut senjata rahasia itu, ia kenali itu
ialah piauwnya Ban Hong. Ia terus nasukkan itu kedalam
sakunya.
Ban Hong terus cari penyerang yang bokong ia, tetapi ia
tak ketemui siapa juga.
Suheng itu masih hendak mencari tapi Cio Tongtay
teriaki dia. Suheng, musuh ada ditempat gelap, kita
ditempat terang, inilah berbahaya! Mari lekas keluar dari

Ban siong peng ini. Musuh tidak mau muncul, kita jangan
layani padanya, bisa2 kita terjebak!...
Baru Leng Pek tutup mulutnya atau dari sebelah kiri ia
dengar Awas!
Kedua suheng dan sutee ini terkejut, belum sempat
mereka berkelit, baru saja hendak berpaling, pundaknya
masing2 sudah kena tertimpuk batu, benar mereka tidak
terluka parah tetapi merasakan sakit sekali, hingga menjadi
sangat gusar. Disaat mereka hendak loncat mengejar,
kembali mendengar seruan Awas!
Sekali ini suara datang dari arah kiri. Keduanya segera
berkelit dengan loncat kekiri dan kanan, dari mana, dua
potong batu lantas menyerang tanah.
Dalam murka dan mendongkolnya Ban Hong segera
mendamprat. tetapi serangan lalu datang ber tubi2, ketika ia
mencaci terus, batupun me nyambar2 tak putus2nya, hingga
Ya leng Cian lie menjadi repot, tidak perduli ia ada sangat
gesit kekiri ia loncat, kekiri datang serangan, kekanan ia
berkelit, kekanan batu menyamber.
Menampak demikian, Cio Thongtay dekati suheng itu,
untuk bisiki buat mereka lekas2 angkat kaki dari Ban siong
peng.
Jangan kasi diri kita dipermainkan tida perlunya
demikian tongtay berkata.
Hauw Ban Hong juga mengerti bahwa musuh asyik
permainkan dia, percuma ia melayani terus secara
demikian, dari itu, ia turut pikirannya suteenya itu. Dengan
loncatan pesat, bagaikan capung menyamber air, keduanya
loncat mundur akan undurkan diri dari rimba itu. Ketika
mereka sampai di mulut Timur, Ban Hong dapati suteenya
ketinggalan, ia hentikan berlari untuk menantikan.

Cio Leng Pek lihat tempat di sekitarnya masih tanah


pegunungan, tetapi disini ia bisa keluarkan helaan napas
lega.
Suheng, apakah ini dia Eng Ciu Nia? kemudian ia
bertanya Ban Hong tertawa.
Sutee, mari ikut aku! kata ia, yang terus loncat akan
mendaki bukit.
Sambil berloncatan, Cio Tongtay ikuti jejak suhengnya
itu.
Tidak lama sesampainya diatas, jalanan mulai menurun,
disini mereka jalan terus sampai mereka nanjak pula
kesebuah bukit yang tinggi, yang keadaannya berbahaya.
Hati2, sutee, jalanan
peringatkan Leng Pek.

disini buruk,

Ban

Hong

Jalanan ada sangat sukar dan berbahaya, tidak perduli


mereka pandai loncat pesat, dua saudara seperguruan ini
toh mesti keluarkan banyak tenaga. Cio Tongtay menyesal
ia sudah ikut mendaki gunung ini, tetapi ia tidak utarakan
itu. Jalananpun licin, siapa terpeleset, dia bisa celaka.
Masih berapa jauh lagi, su heng? Cio Tongtay tanya.
Eng Ciu Nia ini benar2 berbahaya. Kalau disini ada
musuh yang bokong kita, untuk berkelitpun sukar sekali.
Lebih baik kita kembali
Ban Hong berhentikan tindakannya, ia menoleh.
Kau pangku pangkat, sutee, kau terlalu biasa dengan
penghidupan senang, ia bilang. Kau tak tahan letih, beda
daripada kami, orang kang ouw yang biasa menghadapi
ancaman bencana. Tempat ini masih tidak seberapa. Lihat
disana, itulah Tek Seng Gay. Belum sampai disana, mana
kita bisa kembali? Mari, jangan putus asa! Hati2 bila

sebentar kita jalan mudun, dibawah sana ada guha yang


kita hendak datangi.
Cio Tongtay jadi masgul, dengan terpaksa ia ikuti suheng
itu, ia diam saja.
Tidak lama mereka sampai di sebuah tanjakan, Menuruti
pesan saudaranya, Cio Tongtay berlaku waspada. Iapun
perhatikan tempat disekitarnya. Cahaya suram dari
rembulan membuat mereka tak dapat melihat tegas.
Puncaknya tinggi, penuh dengan pohon oyot. Jurang atau
lembah, tidak tertampak berapa dalamnya, tetapi kearah
situ mereka mesti jalan turun. Setelah berjalan belasan
tumbak tatkala Ban Hong berkata Sutee kau ambil jejakku,
jangan ibuk Tongtay ini berhentikan tindakannya, ia
mengawasi kedepan. Segera ia dapat anggapan, suhengnya
ada terlalu sembrono. Bukankah tempat itu ada berbahaya
sekali dan musuh mereka ada liehay?
Disebelah depan mereka adalah Tek Seng Gay, untuk
menyeberang kesana, dijurang itu melintang sebuah pohon
panjang nya enam atau tujuh kaki. Itu adalah jembatan
satu2 nya. Tida terlihat niata, pohon itu tumb rebah
sendirinya atau orang sengaja lintangi disitu. Dan tanpa
Keng kang sut, tak nanti orang bisa jalan atas jembatai
istimewa itu.
Lihat, sutee, itulah Tek Seng Gay, kata Hauw Ban
Hong selagi adiknya seperguruan berdiri bingung. Tanpa
memasuki guha harimau, mana kita bisa dapat anak
macan? Umpama nyalimu tak cukup besar, sutee, kau baik
berdiam disini, membantu aku memasang mata saja. Aku
sendiri dengan gampang akan seberangi jembatan ini!
Kau benar, suheng, sahut Cio Tongtay. Ini ada jalan
satu2nya, jalanan ini perlu dijaga, Baiklah, aku menantikan
disini

Ya heng Cian lie bersenyum.


Baik, sutee, sahut ia Nah, kau lihat aku!
Hauw Ban Hong segera pentang kedua tangannya, ia
enjot tubuhnya, sekejab saja ia sudah, mencelat naik keatas
batang pohon itu, baru ia jalan tiga atau empat tindak, tiba2
ada terdengar suara berkeresek diujung seberang.
Awas, suheng! berseru Cio Tongtay, yang dengar
suara itu, seperti patahnya cabang2 pohon.
Baru kata2 ini dikeluarkan suara nyaring bagaikan
guntur segera terdengar dari jatuhnya batu besar jembatan
pohon itu. Dilain pihak, Ban Hong sudah loncat mun dur,
kembali ketempat dari mana tadi ia berlompat, didekatnya
Cio Leng Pek.
-0dw0VII
Toan Bie Loo yauw dan Ya heng Cian lie menjadi
terkejut sekali, tidak perduli mereka ada penjahat2 besar
yang nyalinya luhur. Mereka lihat jembatan itu rubuh,
sebelahnya nungging kedalam jurang, hingga tidak ada lain
jalan lagi akan seberangi Tek Seng Gay.
Sungguh hebat, suheng, kata Toan Bie Cio Loo yauw.
Kalau kau telah maju lagi satu tindak, barangkali kau
sudah ter___ dalam jurang ini! Aku anggap paling baik kita
pulang dahulu akan pikir lagi bagaimana baiknya
Houw Ban Hong tidak suka mengalah, walaupun ia tahu
yang__
sudah tidak berdaya, tetapi sebelum ia sahuti
sutee itu, tiba2 ia dengar suara tertawa mengejek dari
seberang, tertawa yang niata dalam malam yang sunyi

senyap. Dilain pihak, ia tak takut musuh. Terpaksa, ia tidak


tanggapi buka mulutnya untuk mencaci atau mengutuk.
Benar disaat suheng dan sutee ini hendak undurkan diri,
mereka dengar suara rintihan atau keluhan, ditempat
jauhnya empat atau lima tindak, ditepi jurang itu. Mau atau
tidak, mereka menyangka kepada suaranya hantu, hingga
mereka tak sudi untuk memperhatikan nya. Tapi,
sedangnya mereka mau angkat kaki, kembali rintihan itu
terdengar pula.
Ah, sutee kata Ban Hong. Kau dengar tidak? Pasti
itu bukannya musuh Mari kita lihat.
Cio Tongtaypun curiga. Maka keduanya dengan hati2
bertindak, untuk cari suara itu, atau lebih benar, orang yang
merintih. Mereka turun dengan hati2.
Kembali terdengar suara itu, sekarang rintihan ter aduh2
yang pelahan sekali, beberapa kali.
Turun sedikit lebih jauh, Cio Tongtay kena injak oyot
rotan yang besar, kebetulan Ban Hong telah sulut
sumbunya, api cian lie hwee, ia segera berkata Mari
suheng, coba suluhi, apa ini!
Ban Hong menyuluhi dengan segera, dan segera juga ia
melihat seorang sedang tergantung. Cio Leng Pek juga turut
dapat melihat.
Apakah Louw Susiok disana? tanya Cio Tongtay, yang
ada kaget dan giris.
Jawaban terdengar dari bawah, tetapi saking pelahan,
tidak terdengar apa katanya.
Ban Hong serahkan apinya pada Cio Tongtay, ia
mencoba menarik oyot rotan itu, ia dapat keniataan rotan
itu kuat.

Kalau perlu, sutee, kau bantu aku, kata ia kemudian.


Kita mesti angkat dengan pe lahan2, tidak boleh
digentak.
Kalau begitu, lebih baik kita mengangkat berdua
berbareng, kata Cio Tongtay.
Ban Hong memang sangsi ia kuat angkat orang itu, ia
tidak mau mengaku tak kuat, sekarang suteenya tawarkan
bantuan, ia terima itu dengan girang.
Baik, mari kita mengangkat bersama! kata ia. Hanya
orang itu, entah Louw Susiok atau bukan Lalu ia
melongok kebawah, akan menyerukan Sahabat, kau
berpegangan keras , kita hendak tolongi padamu!
Setelah itu, berdua mereka pegang ujung oyot, lalu
mereka menarik dengan hati2. Keduanya kuatir sekali oyot
itu nanti terputus ditengah jalan. Mereka sendiri perlu
tancap kaki dengan kuat. Dengan susah payah, akirnya
mereka dapat angkat orang itu, mereka sendiri letih bukan
main.
Cio Tongtay nyalakan pula apinya, akan suluhi orang
itu.
Ah suheng, benar2 Louw Susiok! ia berseru. Tentu ia
terluka oleh musuh!...
Sabar, sutee, Ban Hong kata. Nampaknya dia tidak
terluka hebat, kalau musuh serang dia, barangkali dia sudah
terbinasa lebih dahulu
Ban Hong periksa orang punya tubuh, benar2 ia, tidak
dapatkan luka parah kecuali baret2, sedang napasnya masih
bekerja. Maka itu, ia terus loloskan rotan yang melibat pada
tubuhnya sampai keleher.

Louw Goan Khay rebah tidak berdaya, sampai orang


telah uruti dadanya, kemudian ia perdengarkan satu suara,
terus sadar akan dirinya. Leng Pek pun ber ulang2
memanggil paman gurunya itu.
Aku percaya aku akan binasa, tidak dinyana kau berdua
dapat menolongi aku, kata ia kemudian dengan lemah,
setelah ia keluarkan elahan napas lega. Aku seperti orang
yang menjelma untuk kedua kalinya
Apa susiok tidak terluka? tanya Ban Hong. Kita perlu
lekas berlalu dari sini.
Dengan bantuannya keponakan murid ini, Goan Khay
berduduk. Ia melihat kekiri dan kanan, lalu ia menghela
napas pula.
Aku tidak terluka parah, kalau kau bantui aku
berbangkit, aku bisa geraki kaki tanganku, kata ia.
Ban Hong manggut, ia terus menoleh pada kawannya.
Sutee, tempat ini terlalu sempit, berkata ia. Coba kau
kutungi oyot itu, kau naik keatas, aku nanti gendong susiok,
kau menarik dari atas untuk bantui aku mendaki.
Hatinya Leng Pek lega melihat suheng itu tenang, ia
menurut. Ia kutungi rotan dan naik keatas, sesampainya
ditempat rata, ia cekal itu dengan keras.
Dibawah, Ban Hong gendong susioknya, atas satu tanda,
ia melapay naik. Sebentar saja mereka sudah sampai diatas.
Disini Louw Goan Khay geraki kaki dan tangannya akan
bikin darahnya mengalir, dari itu, sebentar kemudian, ia
sudah bisa bergerak dengan leluasa.
Marilah! mengajak Ban liong, yang terus cekal
goloknya akan buka jalan.
Cio Tongtay mengikuti sambil pimpin paman gurunya.

Mereka meninggalkan Eng Ciu Nia. Dengan lekas


mereka sampai dijalanan gunung Ban long peng. Lagi
setengah lie, mereka akan sampai di Ban long peng. Disini
jalanan banyak lingkarannya, tetapi pohon sedikit, tak
dapat orang sembunyi disitu. Disini mereka singgah dahulu.
Sebenarnya, su siok, apa yang sudah terjadi pada
dirimu? kemudian tanya Cio Tongtay, juga Hauw Ban
Hong, yang ingin ketahui pengalamannya su siok itu.
Tong tun wan mengelah untuk melegakan napasnya.
Aku telah habis. kata ia Seumurku belum pernah
aku rubuh sebagai ini Ia mengelah pula, lantas ia
tuturkan apa yang terjadi atas dirinya.
Tong tun wan, si orang hutan, sulah ber hari2 sampai di
Ban long peng, dimulut sebelah Timur. Ia asing dengan
tanah pegunungan itu, ia toh coba lintasi rimba. Ia maju
belum jauh, ia lalu dengar suara tertawa pelahan. Ia
bukannya seorang sabar, tindakannya pun berat melulu
karena sampokan angin, tindakannya itu tidak terdengar
niata. Ia maju dengan ber indap2, sambil pasang kuping. Ia
umpatkan diri antara pepohonan.
Ong Suheng, demikian ia dengar, aku ada punya
urusan dikuilku, aku hendak pulang, besok saja kita
bertemu pula.
Silahkan pulang, am cu! ia dengar satu suara lain,
yang berat Dua kunyuk itu mirip dengan hantu penasaran,
apabila tidak diberikan hajaran, mereka tentu belum mau
sudah! Aku hendak main2 dengan kedua kunyuk itu akan
lewati malam yang senggang ini!
Louw Goan Khay duga pasti, dua orang itu adalah Cu In
Loo nie dan Eng Jiauw Ong. Ia mendongkol. Ia memikir
untuk mendahului memberi hajaran. Maka ia segera maju

sambil berlompat, hingga ia lihat dua bayangan melesat


kekiri dan kanan, keluar rimba. Tak sabar lagi ia menyerang
dengan dua batang panah tangannya kearah mereka
masing2.
Bagus! demikian ia dengar. Dua bayangan itu lenyap,
lenyap juga sepasang panahnya. Justeru ia sedangnya
berdiri bingung, ia dengar seruan Awas. Ia segera
berkelit, tapi tidak urung batu2 halus mengenai tubuhnya,
dan walaupun batunya kecil, namun hebat mengenai badan.
Batu itu seperti menembusi bajunya mengenai daging. Ia
merasakan sakit dan panas dikulit dan daging. Saking
mendongkol, ia mencaci. Tapi baru ia buka mulutnya, atau
pasir menyamber masuk, hingga ia gelagapan. Dengan
susah payah ia muntahkan itu.
Suheng, binatang ini bermulut kotor, kau serahkan dia
padaku! ia dengar suaranya si nie kouw, pendeta
perempuan, yang tua.
Dalam murkanya, Goan Khay lompat maju, ia
menyerang dengan panah tangannya ber ulang2, lalu ia siap
dengan goloknya.
Antara sinar remeng kelihaian satu kepala gundul, siapa
berseru Binatang, bukannya kau kabur pulang, kau cari
jalan kematian! mari!
Bukan kepalang mendongkol nya Tong tun wan, tetapi ia
sudah obral habis panah tangan niat terpaksa ia lompat
maju dengan bacokannya.
Pendeta itu loncat lari, sampai dimulut Timur dari
rimba. Disini ia berhenti dan menggape.
Kepala gundul, jangan bertingkah! berseru Louw
Goan Khay. Louw Ngo thayya nanti adu jiwa
denganmu!

Goan Khay mengejar terus. Pendeta itu lari, ia seperti


sebentar lenyap dan sebentar timbul, karena ia berlari antara
pepohonan. Ia mendaki Eng Ciu Nia, lawannya mengejar
terus, saban2 sambil mendamprat. Ia tidak balas mencaci,
sebaliknya, saban2 ia menimpuk dengan potongan tanah,
hingga ia menambahkan kemendongkolan orang, matanya
Goan Khay jadi merah menyala. Belum pernah orang she
Louw ini dapat penghinaan secara demikian. Selama
bercokol di Louw kee po, Tong kwan, dimana ia jadi
tukang tadah dan tukang keram orang2 jahat, ia biasa
menitah berbagai sebawahannya, belum pernah ia
mendapat malu, maka sekarang, ia jadi seperti nekat, ia
mengejar terus terus sampai di depan jurang yang
menghadapi Tek Seng Gay.
Disitu, diantara jarak beberapa tumbak, tiba2 sipendeta
perempuan berhenti berlari dan mutar tubuh, ia menuding
sera membentak Manusia terkutuk sampai ditempat
kematian nya kau masih belum insaf! Apa kau benar2
mencari kematianmu?
Ngo thayya tidak memikir hidup pula, dia mau adu
jiwa dengan kau! ada jawabann Louw Goan Khay selagi ia
mendatangi, tanpa ia hentikan tindakannya, malah
sebaliknya berlompat jauh dengan loncat Beng houw cut
tong atau Harimau galak keluar dari guha, goloknya
diayun begitu lekas ia sudah sampai didepan sipendeta
sekali.
Si niekouw tua berkelit ke samping akan elahkan
bacokan berbareng dengan itu, tangan kanannya diangkat,
tiga jarinya telunjuk, tengah dan manisnya dikerjakan,
untuk menangkis, dan tangan kirinya menyusul, menyabet
lengan kanan dari penyerangnya itu. Oleh karena gerakan
berbareng, Goan Khay tidak keburu tarik pulang
tangannya. lengannya itu kena di sabet, sampai ia

merasakan begitu sakit, tanpa merasa goloknya terlepas dari


cekalan, lengannya itu kesemutan dan sakit sekali.
Tubuhnya juga sempoyongan, karena dorongan tangan
kanan niekouw itu.
Segala tembaga bobrok dan besi karatan dipakai
membacok orang! pendeta itu mengejek, ketika ia jemput
golok musuh dan potes itu menjadi patah dua, kedua
potongannya terus dilempar kesolokan!
Sebenarnya Cu In Am cu tidak berhenti sampai disitu,
sedangkan lawannya tidak berdaya ____ dan tercengang ia
____ mencelat kedepan orang ___ ___ tangannya diulur
kedepan dan mulutnya perdengarkan seruan Binatang, kau
berhati luhur?
_____ Goan Khay bertubuh _____ dan ____, tetapi
ditangannya si pendeta perempuan, ia mirip seperti seekor
anak____, bajunya kena dijambak _____
ia mampu
berdaya, terus ____ di angkat untuk diayun. Katanya tiba2
Jangan lepas tanganmu, suheng. Aku membutuhkan
kunyuk itu! demikian satu suara the______
Sebelum Goan Khay tahu apa2, ___ benda menyamber
mengarah lehernya dengan kedua lengannyapun terpelintir
kebelakang, hingga ia jadi semakin tidak berdaya, ia
melainkan membiarkan tubuhnya diangkat dan kupinnya
dengar Biarlah dia turun kebawah untuk mengicipi hawa
sejuk!
Dan benar2 ia terlempar kebawah, kemudian tegantung.
Ia rasakan kedua matanya gelap, tetapi ia masih dengar
perkataan Orang she Louw, malam ini aku ampuni jiwa
anjingmu, tetapi kau mesti menantikan disini, sampai ada
kawanmu yang datang kemari! Apabila kau mencoba
berontak, kau akan tercemplung kedalam solokan jurang,

kau pasti mampus! Maka itu, kau hendak hidup atau binasa
terserah kepada dirimu sendiri!
Setelah itu, suasana jadi sangat sunyi.
Apa yang terjadi atas dirinya membuat Goan Khay
pingsan, kemudian ia sedar, tetapi ia lelah bukan main. Ia
terbelenggu dan tergantung pada oyot rotan, ia tidak berani
berkutik, kuatir tubuhnya terlepas dari ikatan dan jatuh,
dari itu, ia cuma bisa merintih dan mengeluh. Ia kaget atas
suara nyaring bagaikan guntur, dari rubuhnya jembatan
batang pohon. Setelah itu, ia tahu yang ia sudah ditolongi
kawan. Keterangannya ini membikin dua2 keponakan
murid itu menjadi kaget, Cio Tongtay sendiri sampai
merasa jerih.
Sudah, susiok, jangan kau pikirkan pula kejadian itu,
kemudian tongtay ini menghibur. Buat satu budiman,
membalas dendam dalam sepuluh tahun masih belum
terlambat! Lihat saja kelak, siapa yang akan peroleh
kemenangan terakir! Sekarang, mari kita pulang dahulu!
Goan Khay tidak bilang suatu apa, ia jadi lemah tidak
berdaya, ia antap Leng Pek terus pepayang ia, untuk pulang
ketangsi. Ia insya bahwa musuhnya. ada sangat liehay.
Dengan sebenarnya, Eng Jiauw Ong Ong To Liong telah
peroleh kemajuan, karena ia bertekad bulat untuk mencari
balas terhadap musuhnya, yang bokong ia dengan senjata
rahasia beracun. Sejak ditolongi Yo Bun Hoan, sambil
turuti nasihatnya orang she Yo itu, ia seperti keram diri
dikampung halamannya sendiri, dusun Lek tiok tong di
Ceng hong po, Koay siang. Pernah ia keluar dari desanya,
tetapi secara diam2, dan segala perbuatannya itu ia sangkal
iapun lewati tempo senggangnya dengan terima murid,
yang ia berikan pendidikan. Adalah setelah muncul

pemberontakan kaum Rambut Panjang, ia tidak bisa


sembunyikan diri lebih jauh.
Bertetangga dengan Ceng hong po, semuanya ada
sebelas dusun. Daerah ini terancam bahaya sepak terjang
kaum pemberontak. Untuk tolong mereka, Ong To Liong
tidak bisa diam saja. Demikian ia kumpulkan murid2 Hoay
Yang Pang, kaumnya sendiri, persatukan mereka, ia
kumpulkan uang akan ongkosi pendiriannya satu pasukan
sukarela. Ia berhasil dengan pendiriannya ini, ia atur
pembelaan hingga sebelas desa menjadi terjaga kuat, sampai
kawanan perusuh jerih sendiri nya, tidak berani datang
mengganggu. Sebaliknya, secara diam2 Eng Jiauw Ong
suka satroni markas pemberontak untuk cari rahasia. Paling
akir ini, ia dapat tahu pemberontak niat serbu propinsi
Siamsay. Ia ingat Yo Bun Hoan, penolongnya, yang tinggal
di Hoa im, ia kuatir penolong itu jadi korban serbuan,
karena ia tidak bisa bawa pasukannya untuk menolong, ia
jadi kirim Hoa In Hong, murid kepalanya, untuk bawa surat
guna ajak orang she Yo itu mengungsi ke Hoay siang. Baru
muridnya berangkat, lalu pada malamnya ia dengar rahasia
lain, yalah hal pemberontak sudah mulai bergerak, hingga
ia jadi sangat berkuatir. Ia tahu, untuk bela diri sendiri, Hoa
In Hong akan punya kesanggupan, tapi buat lindungi Yo
Bun Hoan serumah tangga, itulah sulit, mak ia ambil
putusan akan pergi sendiri. Ia datang secara kebetulan,
karena In Hong mendapat susah, merembet pada Bun Hoa
dan keluarga, yang jadi korban pembalasannya Goan Siong,
sedang Gouw Teetok menggunai ketikanya akan
lampiaskan dendamnya. Selagi ia cari hotel, lihat In Hong
ditawan, dari itu ia beri tanda untuk muridnya bersabar. Ia
sudah lantas ketahui duduknya kejadian, sebab alpanya
simurid. Ia gantikan muridnya ambil kamar dikota Hok
Seng, disini ia mencari keterangan terlebih jauh.

Demikian malam itu, selama Yo Bun Hoan diperiksa


denga bengis, Eng Jiauw Ong nyerbu masuk kedalam
kemah, akan berikan ancaman pada teetok yang busuk
hatinya itu, yang niat peras Bun Hoan. Apa yang jago Hoay
siang ini belum tahu adalah ditangsinya teetok itu ada satu
penjahat besar, yang berselimut pangkat tongtay yang
satronkan ia.
Sehabis naik diranggon. dimama ia gantung kopiahnya
Gouw Tee tok, Eng Jiauw Ong keluar dari daerah tangsi,
selagi jalan, ia rasai samberan angin luar biasa apabila ia
loncat menoleh, tampak berkelebatnya satu bayangan. Ia
jadi heran, terutama untuk kegesitan bayangan itu selagi
mereka terpisah hanya lima atau enam tumbak, segera ia
mengejar akan menyusul. Ke___annya, ia heran bukan
main. Ia pandai Keng kang sut, tapi ia tak dapat candak
bayangan yang lenyap dalam sekeyap, sia2 saja ia mencari
nya. ___ hal ini, kalau tadinya ia akan mondok dihotel Hok
Seng, ia segera ubah itu. Ia memikir hendak pergi ke Hoa
San, yang lebih dekat dengan tangsi tentara. Begitu ia putari
tangsi, ia menuju ke Tek Seng Gay. Tempat asing itu
dahulu ia pernah datangi satu kali. Baru saja ia sampai
segera tampak mele___ satu bayangan, cepat seperti sampai
ia tak bisa bedakan bayangan itu ada manusia atau ____
alas.
___! ia pikir. Dengan kepandaianku sudah dua atau
tiga puluh tahun aku malang melintang didunya kang ouw,
tetapi semalam ini, dua kali aku menemui hal aneh!
Apakah sekali ini aku mesti turun merek di Tong kwan ini
?
Tanpa bersangsi, Eng Jiauw Ong loncat ke batang pohon
melintang ditengah jurang, lalu ia berjalan dengan ____ngi
tubuh dengan ilmu Hui Siauw Leng po Keng kang Keng
ut. Karena kedua tangan di gerak2i mirip dengan burung

terbang. Dengan cepat ia telah sampai diseberang dimana


terus saja ia mendaki tanjakan, hingga sampai di puncaknya
Tek Seng Gay, yang luasnya cuma sebelas atau dua belas
tumbak dimana ada tumbuh pohon dan rumput dan
batu___ rata.
Dari sini Eng Jiauw Ong memandang ke Hong hwee tay
dimana ada cahaya api kelak kelik, sedang diarah tangsi
tentera, yang panjang, api nampaknya sebentar lenyap
sebentar timbul. Markas besar tak kelihatan tegas.
Kemudian ia bertindak akan cari tempat beristirahat. Ia
ingat disitu ada dua guha yang masing2 ada cukup besar
untuk pernahkan dirinya. Ia baru jalan dua tiga tumbak,
lantas ia jadi heran dan curiga. Rumput dan pepohonan
disitu seperti bekas ditebangi, hingga disitu tertampak
jalanan batu yang bersih. Ia hentikan tindakannya, akan
mengawasi jalanan itu dan kiri kanannya.
Mesti ada orang berdiam, disini, ia men duga2. Lalu ia
bertindak maju sambil pasang mata dan kuping.
Lagi satu tumbak, ditengah jalan ada berdiri tanah
munjul, jalanan jadi terbagi dua. Ia ambil jalanan sebelah
kiri. Ia baru jalan dua tiga tindak, tiba ia dengar bentakan
Penyerang panglima perang, kau hendak sembunyikan diri
disini? Hayolah kau berurusan dengan pengadilan!
-0dw0VIII
Sebagai seorang yang berpengalaman dan nyalinya besar,
Eng Jiauw Ong tidak takut, tetapi ia loncat kepinggir, akan
melindung pada sebuah pohon besar, sambil berbuat begitu,
ia memandang ketempat dari mana suara datang, akan

terus menegur. Siapa itu yang bicara besar? Apakah kau


tidak kenal aku?
Tapi teguran itu dapat jawaban yang berupa suara
tertawa, dari satu orang bertubuh kurus dan kepala gundul,
yang berjuba suci, tangannya menyekal kebutan, berdiri
diatas tanah munjul itu. Orang itu segera berkata Eng
Jiauw Ong, kau masih berani banyak tingkah? Kau tidak
tahu diri! Bukankah muridmu berada dalam tangan orang,
sampaipun muridku si Hong Bwee turut kerembet
karenanya?
Aku justeru hendak cari kau buat bikin
perhitungan!
Eng Jiauw Ong telah lantas lihat niata orang itu, ia
tertawa terbahak .
Ah, Cu In Am cu, kau bikin aku kaget, kata ia.
Silahkan turun. Aku tahu, kau memang ingin aku bayar
kaul, supaya kau bisa bikin aku ngodol saku.
Dan ia tertawa pula ketika ia maju menghamparkan.
Orang beribadat itu memang ada Cu In Am cu dari Pek
Tiok Am dibukit Chong Long Nia Hoa San. Dialah yang
terkenal sebagai Khong bun Lie hiap, atau pendeta
perempuan yang kosen. Atas perkataannya Ong To Liong,
terus ia loncat turun, akan hampiri tetamunya itu yang
segera mengasi hormat padanya.
Sejak perpisahan kita di Bu Tong San, tujuh tahun telah
lewat, berkata Eng Jiauw Ong. Niata Am cu bisa bawa
diri hingga peroleh kepandaian istimewa, hingga tadi dua
kali aku tak kenali kau! Ada urusan apa Am cu datang
kemari?
Cu In tertawa, Kau sudah ketahui, jangan kau ber pura2
saja2 kata ia Bukankah tadi aku telah kasi tahu bahwa
muridku telah teraniaya olehmu? Kau mesti kembalikan

muridku secara baik, baru aku mau mengerti, jikalau tidak,


tidak tunggu sampai Gouw Ko pie keset kulitmu, aku akan
bikin si garuda tak mampu terbang pulang ke Hoay siang.
Ah, Am cu, jangan kau main2! kata Eng Jiauw Ong
pula sambil tertawa. Siapa muridmu itu?
Aku tidak main2, sahut Cu In dengan sungguh2.
Muridmu bikin hilang suratnya, ia rembet2 Yo Bun Hoan
sekeluarga, diantara mereka ini, ada satu muridku, murid
perempuan
Eng Jiauw Ong heran.
Dengari sebenarnya, aku tidak tahu, kata ia, yang pun
ber sungguh2. Apakah Am cu pun baru sampai malam ini
dilembah ini? Ini ada tempat pesiarku cuma sudah enam
atau tujuh tahun, tidak pernah aku datang kemari. Melihat
tempat ini dirawat, apakah Am cu biasa pesiar kemari?
Niekouw tua itu tertawa.
Tadinya aku sangka kau ada tuan ke dua dari Tek Seng
Gay, tapi melihat sikapmu, yang agak nya heran, aku
lepaskan sangkaanku itu, kata ia. Nah mari kesini,
supaya kau tidak kehujanan dan kedinginan!
Cu In putar tubuhnya tanpa tunggu jawaban, dari itu,
Eng Jiauw Ong terus ikuti dia, hingga dibelakang tanah
munjul itu, ia lihat sebuah rumah batu, ada pintunya, ada
jendelanya, kelihatannya terawat baik.
Am cu, orang berilmu siapa tinggal disini? tanya ia
dengan heran. Apa kita tidak berbuat lancang memasuki
tempat ini?
Kembali pendeta itu tertawa.
Aku tidak nyana Eng Jiauw Ong yang biasa malang
melintang didunya kang ouw kenal tata hormat sampai

begini, sahut ia. Jangan kuatir, mari masuk. Jikalau tuan


rumah takut menemui kau, pasti dia sudah kabur sedari
siang.
Cu In hampirkan pintu, untuk terus dibuka. Ruangan
dalam sangat gelap, tapi begitu lekas pendeta ini masuk,
cahaya api segera berkelebat. Maka itu, setelah ia bertindak
masuk, Eng Jiauw Ong bisa lihat ruangan yang terawat
baik, cuma mejanya dari batu begitupun dua buah kursinya.
Bagian dalam ada teraling dengan selembar kere rumput.
Kapan kere itu disingkap, Eng Jiauw Ong lihat ruangan
diterangi pelita. Pembaringan terbuat dari rotan. Didepan
jendela ada meja kayu diatas mana pula sebuah tehkoan
dan sebuah cangkir. Dekat tembok ada sebuah kwali
tembaga.
Lihat, Ong suheng, apa tempat ini bukan terlebih baik
daripada udara terbuka? kata Cu In sambil bersenyum,
suaranya sekarang ada tenang sekali.
Ong To Liong puas dengan orang punya perubahan
sikap.
Memang, Am cu, ia menjawab dengan cepat. Tapi ini
tempat siapakah?
Silahkan duduk dahulu, nanti aku kasi keterangan,
pendeta itu mengundang.
Eng Jiauw Ong menurut, ia berduduk.
Sebenarnya ini ada tempat kediamannya supeku, ketua
dari Hoa San Pay, kata Cu In setelah ia duduk. Disini
supe yalankan semacam ilmu, lamanya seribu hari, baru
sebulan berselang, ia berlalu dari sini, hingga sekarang
suheng adalah yang dapati tempat istirahat yang indah
ini

Eng Jiauw Ong menjura pada pendeta itu.


Oh, kiranya ini ada tempat kediamannya ketua dari
Hoa San Pay? kata ia. Sayang aku tak dapat menemui
Twie In Kiam kek, maka itu, kepada Am cu saja aku
haturkan terima kasihku.
Tapi tak cukup dengan ucapan terima kasihmu saja,
Cu In bilang. Setelah aku carikan kau tempat ini, kau
mesti loloskan muridku dari bahaya! Bagaimana kau
hendak berdaya? Muridku paling benci Gouw Ko pie, awas
apabila ia sampai dapat celaka!
Sabar, Am cu. Aku masih belum tahu yang mana satu
muridmu itu?
Nanti aku kasikan keteranganku. Sejak guruku serahkan
Pek Tiok Am kepadaku, seharus nya aku sudah tutup pintu,
tak boleh aku terima murid lagi. Thian Hui Cu, murid
kepalaku, sudah buka rumah perguruan, tidak selayaknya
aku ambil satu susiok untuk murid2nya itu. Tapi Yo Bun
Hoan Yo Jie looya, ketika ia pangku jabatannya di Lan
thian, Ouwlam, dia sudah lindungi nama baiknya kaum
kita cabang Selatan, dia sudah tolongi lima murid cabang
itu, maka juga Couwsu Tie Sian Taysu, yang sudah
mangkat, sudah wajibkan kita membalas budi pada
keluarga Yo itu, yang katanya selang lagi lima belas tahun,
bakal nampak bahaya. Di antara keluarga Yo, cuma nona
Hong Bwee yang punyakan tulang baik, dari itu, dialah
yang aku ambil sebagai murid. Selama sepuluh tahun, ia
telah bisa terima berbagai pelajaranku. Baru sebulan
berselang, aku nasihatkan muridku akan ajak ayahnya
pesiar. Yo Jie looya perlihatkan air muka berubah, itu ada
alamat jelek, tetapi ia tidak sudi pesiar, sekalipun untuk
seratus hari. Dasar takdir tak dapat dilawan, aku telah
datang terlambat, sekarang keluarga Yo kerembet oleh
kealpaan murid mu. Dengan kepandaiannya, Hong Bwee

bisa loloskan diri dari tangannya Gouw Teetok, tetapi ia


berbakti, ia mandah ditawan bersama, ia tidak mau lakukan
tindakan diluar garis. Hatiku lega melihat kau datang
menyusul, hanya dari sepak terjangmu terhadap Gouw
Teetok, aku dapat keniataan kau belum tahu bahwa
dibawahannya teetok itu ada satu penjahat besar yang
liehay dan licin, malah dia ada orang nya Hong Bwee Pang.
Aku sudah tengok muridku, aku telah berikan tiga butir
obat untuk Yo Jie looya, setelah itu, aku ikuti kau datang
kemari. Ong Suheng, sekarang aku ingin ketahui,
bagaimana kau hendak bekerja.
Benar, Am cu, aku tidak ketahui Nona Hong Bwee
adalah muridmu, kata Ong To Lio Akupun tidak sangka,
muridku sudah berlaku alpa hingga terbit bencana ini.
Bahwa aku telah ancam Gouw Teetok, disebabkan aku
percaya, sedianya dia akan malui Yo Jie looya yang ada
bekas pembesar kenamaan dan penduduk sini tentunya
akan bantu padanya. Tapi Am cu bilang, Gouw Teetok
punya sebawahan yang lieh inilah lain. Sebenamya, siapak
penjahat itu?
Dahulu dia cukup terkenal Kanglam, sahut Cu In.
adalah orang Hong Bwee Pang dan dikenal sebagai Toan
Cio Loo yauw, disini, dengan pangkat tongtay, ia jadi kaki
tangannya Gouw Teetok, yang sangat percaya padanya.
Ong To Liong terkejut mendengar nama itu.
Oh, dianya? kata ia.
Apakah suheng kenal dia itu? Cu In tanya.
Eng Jiauw Ong manggut Aku tidak sangka sekarang dia
pimpin pasukan perang! Bukan melainkan aku kenal dia
malah dia ada bekas roh gentayangan dibawah tanganku.
Dahulu ia telah lakukan kejahatan melewati batas, aku
hendak singkam padanya, dia buron dari Kanglam,katanya

ke Utara. Kabarnya dia bersumpah akan rubuhkan Hoay


Yang Pay. Aku tidak sangka sekarang dia jadi tongtay dan
jadi juga orang kepercayaannya Gouw Teetok. Kalau tiada
keterangan Am cu ini, aku bisa gagal. Sekarang aku pikir
akan kasi nasihat pada Gouw Teetok, apabila ia
membandel, apa boleh buat, aku nanti ambil sikap keras.
Tapi Am cu, kau tidak boleh yauhkan diri, kau harus bantu
aku.
Dasar kau, guru dan murid, senang aku berdiam diri
dikuilku, kau siram aku dengan air kotor. Aku
penasaran!...
Walaupun ia mengucap demikian, Cu In tertawa,
Dengan memandang muka Buddha yang mulia, Am cu
harus bantu aku, To Long mendesak.
Memang tak dapat aku nonton saja, berkata pendeta
itu kemudian, tetapi bila ada terjadi sesuatu atas diri murid
ku, aku cuma tahu kau seorang!
Jangan kuatir, Am cu. Bila aku gagal, aku juga malu
bertemu dengan saudaraku, Yo Jie looya itu.
Baiklah, sampai besok malam. kata pendeta itu.
Apabila kau haus, suheng, disamping ada tempat air dan
per____, hanya airnya mesti di ambil dari dalam jurang.
Cu In lantas pamitan, untuk pulang ke Pek Tiok Am.
Sejak itu, Ong To Liong tem____an diri di Tek Seng
Gay. Demikian dimalam kedua, bersama Cu In Am cu, ia
pergi beri peringatan pada Gouw Tee tok. Ia pun pesan Yo
Bun Hoan muridnya, untuk bersabar. Hong Bwee juga
dapat nasihat dari gurunya untuk turut bersabar dan berlaku
tenang kapan ia___ Hoay siang Tayhiap tengah berdaya
akan tolongi mereka. Disebelah itu, Eng Jiauw Ong dengar
hal Cio Tongtay sedang minta bantuan, malah mereka tahu

baik siapa adanya Shong Ceng, Tie Cin Hay dan Hauw Ban
Hong, dari itu mereka bersepakat untuk berikan hajaran
pada beberapa pembantu itu, hingga telah terjadi Louw
Goan Khay kena di gantung
Seberlalunya Cio Tongtay bertiga, Eng Jiauw Ong dan
Cu In Am cu berkumpul di Tek Seng Gay. Jago dari Hoay
siang utarakan kepuasannya sudah permainkan Leng Pek
dan kawan2 nya.
Jangan terlalu bergirang, suheng, kata si niekouw tua.
Tongtay she Cio kita tak usah kuatirkan, begitu juga Louw
Goan Khay si sisa mampus, tidak demikian dengan Ie bun
To cu Shong Ceng dan Hauw Ban Hong, kedua mereka ada
licin dan cerdik sekali, mereka mirip dengan kala, mereka
tidak boleh dipandang enteng.
Niekouw ini berpemandangan jauh dan benar sekali apa
yang ia kuatirkan, tetapi Eng Jiauw Ong tidak jerih.
Buat bicara terus terang, ketika dulu aku dibokong si
orang she Pauw, itulah terang karena kepandaianku yang
tidak sempurna, ia bilang, akan tetapi, walaupun
demikian aku tak gentar, justeru sekarang ada orang Hong
Bwee Pang dalam urusan kita ini, aku semakin ingin tahu
kesudahannya
Benarlah apa yang orang kang ouw bilang bahwa kau si
tua bangka ada bertabeat aneh! kata Cu In. Baru aku
peringatkan kau untuk waspada, kau sudah naik darah. Aku
tidak perduli kau gentar atau tidak terhadap Hong Bwee
Pang, tetapi aku hendak tanya kau, sekarang kau hendak
bertindak bagaimana? Kau harus lekas tolong! muridku
lolos dari mulut harimau!
Jangan sangka aku turuti saja tabeatku, Am cu, sahut
Eng Jiauw Ong. Dalam satu hal aku hendak mohon
bantuanmu.

Tetapi kau harus mengerti, sudah sejak lama aku


utamakan agama, aku tidak hendak bentrok dengan siapa
juga, Cu In jelaskan. Didepan sang Buddha aku telah
sumpah akan pantang membunuh, dari itu jangan kau
paksa aku
Aku mengerti, Am cu, tetapi permintaanku adalah lain.
Aku niat pergi ke Tiang an, disini aku mohon Am cu sudi
lindungi Yo Bun Hoan untuk satu dua hari. Aku janji,
dalam tempo tiga hari, aku nanti kembalikan muridmu
dengan tak kurang suatu apa. Maukah Am cu bantu aku?
Aku memang tahu tak nanti kau beri ampun padaku!
pendeta itu tertawa. Kau serahkan pikulan seribu kati
kepada pundakku, kau sendiri kabur ke Tiang an! Sunglap
apa kau hendak pertunjukkan disana? Jikalau aku gagal,
kau bisa persalahkan aku! Tidak, kau pergilah minta
bantuan lain orang.
Eng Jiauw Ong berbangkit, ia menjurah.
Biar bagaimana, aku minta Am cu bantu aku, ia kata.
Aku ingin, selama dua malam Am cu goda mereka, nanti
di hari ketiga, aku pulang, aku percaya, penasarannya
saudara Yo akan dapat dilampiaskan.
Apakah dayamu itu? Kau perlu kasi keterangan padaku,
supaya aku tambah pengetahuan.
Untuk sementara jangan Am cu menanya. Sebenarnya,
aku sendiri masih belum pasti. Baiklah Am cu terbenam
dahulu selama dua hari.
Cu Im Am cu tertawa, Sudah, masa bodo kau! kata ia
akirnya. Kau tentu berniat permainkan Thie Bian
Ciangkun sijenderal muka besi. Mudah2an kau berhasil,
supaya kita tak usah perdalam permusuhan kita dengan
kawanan kurcaci itu.

Am cu baru menerka separuh, kata Eng Jiauw Ong


yang juga tertawa. Obat yang aku jual dalam cupu2ku ini,
sebelum aku buka tutupnya, tak nanti Am cu ketahui!
Aku tunggui kau tiga hari, Cu In memotong. Apabila
kau ayal2an dan disini terjadi perubahan, aku tidak
tanggung jawab!
Tidak nanti aku bikin gagal, Am cu. Am cu sudah
menyanggupi, aku tidak mau lambat2am malam ini juga
aku hendak berangkat. Aku harap sebelum matahari
muncul aku sudah sampai di Hoa im, agar sebentar malam
aku bisa sampai di Tiang an.
Baik, Ong Suheng. Moga2 kau berhasil!
Eng Jiauw Ong memberi hormat, lantas ia undurkan diri,
akan meninggalkan Tek Seng Cay. Ia melalui perjalanan
dengan cepat sekali Ia sudah sampai di Hoa im sebelum
fajar. Ia jalan terus. Selagi matahari silam, ia sudah
seberangi Lam sui. Sehabis bersantap dan menghilangkan
letih, diwaktu magrib, ia lanjutkan perjalanannya. Begitu
cuaca gelap, ia berlari dengan gunai Ya heng sut. Ia berhasil
menyampaikan Tiang an malam itu. Dikota ini, segera ia
satroni tangsi tentera. Ia memutari itu untuk bisa loncat
naik keatas tembok kota, tempat mana di jaga rapi, serdadu
ronda mundar mandir, kentongan atau gembrengnya
berbunyi dengan beraturan. Didalam kota, jalan2 besarpun
dirondai. Maka itu, untuk satroni Ciangkunhu, gedung atau
markas yenderal, cabang atas dari Hoay siang ini mesti
berlaku hati2 dan gesit. Walaupun pintu markas ditutup
tapi penjagaan ada rapat sekali. Untuk keluar masuk, orang
gunai kedua pintu samping yang kecil.
Untuk penerangan, kecuali lentera Khie su hong, ada di
pancar juga lentera gantung.

Naik diatas wuwungan rumah penduduk disebelah


Timur, Eng Jiauw Ong awasi Ciang kun hu, kemudian ia
memutar ke belakang dimana ada tembok tinggi tak satu
tumbak. Dikaki tembok ini tidak ada serdadu jaga, ada juga
serdadu2 ronda dari tangsi Seng siu eng. Menantikan
sampai serdadu ronda lewat, ia loncat naik keatas tembok,
dari situ memasuki pekarangan Ciangkun hu.
-0dw0IX
Didalam ruangan ada yang terang dan gelap, penjagaan
kuat, akan tetapi dengan tidak menghiraukan itu dan
dengan ber hati2 Eng Jiauw Ong masuk terus, menuju
keruangan Barat daya. Dipojok sini, ia hampiri sebuah
rumah kecil, dimana dua orang asyik bicara. Ia mendekam
diatas genteng, untuk pasang mata sambil mendengarkan.
Jangan padamkan api, kata salah seorang. Sebelum
jam empat, Ciangkun tidak nanti masuk tidur. Ciangkun
asyik bicara kepada Lauw Su ya, yang ia sayangi. Kiang
Tayjin, tokpan bagian rangsum, juga bakal datang lagi.
Ah, kerjaan berat, kata yang lain. Sejak ikuti Ciang
kun dari kota raja, sampai sekarang ini aku belum dapat
hasil suatu apa.
Kau gila ingin dapat pangkat, kata pula yang pertama.
Jangan putus asa, atau kau nanti jadi gila. Kabarnya
kawanan Rambut Panjang niat serbu Siam say, kalau Ciang
kun peroleh kemenangan, maksudmu mungkin akan
tercapai. Aku nanti dayakan agar Lauw Suya sudi tolong
padamu.

Jangan goda aku, sahabat! Dikampung halamanku aku


tak punya hongsui yang bagus, aku tak berani mengharap
terlalu tinggi. Air sudah matang, nah, pergilah kau bawa!
Eh, siapa main2 denganmu?
Benar2, aku nanti
mintakan bantuannya Lauw Suya. Kau sendiri mesti baiki
Lauw Suya, aku bisa bicara lebih leluasa. Sekarang
sediakan tehku, sebentar aku datang pula.
Kalau kau benar suka tolong aku, aku tidak nanti lupai
budimu, kata kawan itu.
Kau jangan kuatir, kata si sahabat, yang sambil
tertawa lantas berlalu.
Eng Jiauw Ong lihat orang ada bawa dua cawan, ia
perhatikan tujuan orang itu, lantas ia coba mengikuti dari
atas genteng. Ia sampai dipintu model bulan, ia lihat sebuah
taman. Dengan selembar genteng, ia menimpuk kedalam
taman itu. tapi ia tak lihat gerakan suatu apa. Itu berarti
disitu tidak ada pengawal. Maka ia merayap ke payon
untuk loncat turun kebawah. Sambil berindap2 ia menuju
kepintu gedung.
Dari dalam ada cahaya api yang tidak begitu terang, api
itu teraling pintu angin. Eng Jiauw Ong tarik daun pintu
pelahan2, ia lekas2 nyelusup masuk. Disitu ada kain tirai
pintu, tapi ia lekas cari tempat untuk sembunyikan diri. Ia
kuatir nanti kepergok. Ia loncat naik keatas balok yang
melintang diatas ruangan itu, hingga dari situ ia bisa
mengawasi keruangan Timur.
Di dalam kamar ada meja pat sian to dengan kursi thay
su ie, yang teralas tatakan bersulam, dan sebuah meja tulis
lengkap dengan perabotannya. Pembaringan berada diarah
Timur, disamping pembaringan itu ada satu meja kecil
dengan pelbagai kitab serta sebuah ciaktay, tempat tancap
lilin, yang apinya menyala. Penerangan lainnya adalah

enam ciaktay dengan masing bercagak tiga, hingga lilinya


jadi ada delapan belas batang, hingga ruangan jadi terang
sekali.
Pada kedua ujung pembaringan ada berduduk masing2
satu orang yang satu berumur kira2 empat puluh tahun,
mukanya putih, romannya cakap, yang lain, yang duduk
dikanan, berusia lima puluh lebih, sepasang alisnya
gomplok, kedua matanya dalam, hidungnya bangir, mulut
nya lebar, kumisnya pendek. Ia ini nampaknya keren.
Ong To Liong menduga yang dikiri itu ada Lauw Su ya,
dan yang dikanan Ciangkun To Liong Oh. Mengawasi
jenderal itu ia percaya orang ada jujur dan gagah.
To Ciangkun sedang hisap cui hun.
Yu Tong, kenapa It Ciauw masih belum datang?
demikian terdengar jenderal itu. Banyak yang aku hendak
katakan kepadanya. Kita ada sahabat2 kekal, kita boleh
omong terus terang. Ada orang bilang, selamanya aku
lindungi It Ciauw. Aku anggap itu ada kata2nya bangsa
siauw jin, manusia rendah. It Ciauw bantu banyak padaku,
sebaliknya aku merasa aku perlakukan dia tak selayaknya.
Kau tahu sendiri, sejak keluar perang, kita lakoni perjalanan
ribuan lie, tapi selama itu, It Ciauw atur pengangkutan
rangsum dengan sempurna. Bukankah rangsum ada yiwa
tentara? Coba lihat lain2 pasukan penindas perusuh, karena
rangsumnya tidak terjaga baik, mereka kalut sendirinya. It
Ciauw jalankan tugas dengan baik, sebaliknya aku belum
tunjang ia secara melewati batas, kalau ia dengar orang
punya jelasan itu, bisa jadi ia berkecil hati. Aku biasa bawa
sikapku sendiri, nanti aku tunjang dia, aku tak perdulikan
apa lain orang bilang!
Tong ong benar, berkata Luiw Suya dengan cepat,
Kang Lian heng ingat budimu, pula ia hendak balas itu

dengan ___ setia. Memang omongan orang luar tidak usah


dibuat perhatian.
Baru saja Suya itu berhenti bicara, segera satu serdadu
pengawal datang melaporkan kedatangan Kang Tayjin,
Liang siang cie Toh pan, pengurus rangsum tentara.
Undang dia masuk! To ciangkun segera menitah.
Serdadu itu undurkan diri, dan sebentar kemudian
datang bersama satu pembesar umur kurang lebih lima
puluh tahun, mukanya kurus, romannya mirip dengan
kutu buku, jubanya bersih sekali dan rapi. Didepan Ciang
kun, dia sudah lantas memberi hormat.
Lauw Su ya berbangkit untuk memberi hormat setelah
tokpan itu selesai menghormati To ciang kun. Ia memanggil
It Ciauw dan tokpan itu membalas dengan lian heng.
Kemudian ___ itu mengalah tempat duduk, ia sendiri
pindah kekursi meja teh depan jendela.
It Ciauw, ber sama2 Yu Tong aku justeru harap2
kedatanganmu, kata To Ciangkun, yang mulai bicara.
Selama beberapa hari ini, kau lebih repot pula. Bagaimana
dengan tugasmu itu? Apa bantuan rangsum dari Su coan
sudah tiba? Katanya pemberontak hendak, serbu Siamsay
dengan dua puluh laksa serdadu, aku tak percaya jumlah
itu, aku menduga cuma tujuh atau delapan laksa, namun
mereka tak dapat dipandang enteng. Aku harap kau
perlukan mengirim rangsum ke Kim siauw kwan, agar
mereka tidak sampai keputusan bahan makanan. Hanya
mengenai Gouw Tay Giap aku dengar ia ada sedikit
jumawa dan penduduk Siamsay telah diperas hingga rakyat
jadi gelisah dan penasaran. Apabila kabar itu benar adanya,
aku mesti tegor padanya, jikalau aku tunggu sampai lain
orang serang ia, sedikitnya aku bakal ke rembet2.
Kiang It Ciauw menjura.

Tentang tugasku, harap Keng lian Tayjin jangan buat


kuatir, kata ia. Aku insaf kewajibanku, aku ingat budi
kebaikan tayjin, tidak nanti aku men sia2kannya. Rangsum
dari Su coan sudah tiba. Rangsum untuk Kim siauw kwan,
buat Tee su tin dan Tee gouw tin, masing2 sudah diambil
oleh Touwsu Tek Kek Touw dan Siupie Phang Po Kok.
Mengenai Gouw Teetok, baik tayjin bersikap sabar karena
sekarang ada disaat membutuhkan tenaga, sedang ia ada
gagah. Pie cit sendiri tidak setujui dia tetapi pie cit tidak
ingin tanam bibit permusuhan. Karena sepak terjangnya itu,
nanti juga dia ketemu pakunya..
To Liong Oh manggut.
Selama ini pandanganmu
Ciauw, katanya.

banyak bertambah, It

Itulah berkat pimpinan tay jin, sahut sebawahan itu.


Baru berkata sampai disitu, Kiang It Ciauw tunda
perkataannya lebih jauh, ia melengak, lalu ia menoleh,
karena disitu ada datang satu opsir, sehabis memberi
hormat pada Jenderal To, opsir itu segera berikan laporan
nya Dari kota raja ada datang utusan yang membawa surat
penting dari Kun kee Taysin, ia diantar oleh Tintay Louw
Tayjin dan Hu ciang Gok Tayjin.
To Ciangkun pun melengak, Lhuw Yu Tong tidak
terkecuali. Tapi jenderal ini lekas jadi tenang pula, sambil
perintah pengawalnya untuk layani dia salin pakaian, ia
perintah opsir itu minta Louw Tayjin temani utusan
diruangan tamu. Setelah itu ia lalu undurkan diri. It Ciauw
sudah menuju ruangan tamu, empat diri tetapi mereka
dititah menanti saja, maka mereka mengantar hanya sampai
diluar.
Dilain saat, To Ciangkun sudah menuju ruangan tamu,
empat pengiringnya membawa penerangan tanglung.

Menggunai saat kamar kosong. Eng Jiauw Ong turun


dari tempat ia bersembunyi, untuk letaki sepotong surat
diatas meja, yang ia tekan ujungnya dengan dua jari, lalu ia
tindikan dengan tindian dari kuning kemudian ia pasang
mata pula.
It Ciauw dan Yu Tong sudah lantas ada pengawal yang
sedang minum teh. Tapi ketika mereka balik kedalam dan
Yu Tong lihat surat dimeja, ia terperanjat.
It ong, lihat, surat apakah ini? ia berseru.
It Ciauw pun terkejut.
Eh, dari mana datangnya ini ? kata ia, yang terus
menghampiri hingga ia lihat alamatnya. YoCiangkun.
Betul heran! Kau jangan ganggu, kita tunggu sampai
baliknya Ciangkun.
Heran, nyatakan Yu Tong. Meja ada begini keras,
kenapa surat ini bisa ditekan hingga melesak? Kapan
kejadiannya ? Kita toh tidak pernah berlalu jauh dari sini?
Selagi dua orang ini ter heran2 To Ciangkun sudah
kembali sehabis menemui tetamu, ia lantas disambut dan
diundang duduk.
It Ciauw ingin ketahui dahulu kabar dari kota raja, dari
It ___ ia tidak lantas beritahukan tentang surat yang
datangnya aneh itu, ia hanya tanya, kabar apa yang utusan
bawa. Ia pun tambahkan Apakah Gouw Loo tiong tong
memesan sesuatu untu Kengliak Tayjin bersiap?
To Ciangkun manggut2. Kau benar cerdik, sahut ia,
Kau menduga benar sebagian nya. Ada satu menteri
penasehat yang sudah adukan Teetok Gouw Tay Giap,
yang dituduh sudah main gila dengan rangsum tentara dan
memeras rakyat, disebelah keras sikapnya meminta
tunjangan, dia pun gila paras cantik. Sama sekali ada

belasan ____, hingga Sri Baginda menjadi gusar, hingga


perintah mendadak dikeluarkan untuk segera periksa teetok
itu, baiknya ada beberapa menteri lain yang memberi saran
untuk berlaku sabar terutama mengingat teetok____ ada
seorang peperangan yang gagah dan berjasa, sedang
sekarang ada disaat peperangan, tenaga dan kepandaian
sangat di butuhkan. Demikian akirnya, Lauw Loo
tiongtong minta suka _____ soal Gouw Teetok itu. Loo
tiongtong pun tidak berani ambil tindakan tegas, umpama
dengan kirim utusan langsung untuk membikin
pemeriksaan, di____ Gouw Teetok gusar dan melawan, dari
itu diambil putusan untuk mewajibkan aku mem___
penyelidikan dengan teliti, apabila tuduhan terbukti benar,
____ ditugaskan akan kurangi ke_____nnya Gouw Teetok
sedikit
demi sedikit. Umpama Gouw Teetok benar
bersalah, sedikitnya ___ ada turut menanggung ja____.aku
dipesan untuk berilaku jujur dan adil. Lebih lanjut aku
dipesan untuk perhatikan gerak geriknya lain2 pasukan
pemberontak, untuk bisa menghadapi mereka. Lihat, It
Ciauw, ___ Tong, apakah ini bukannya ____ sulit?
Selagi mengucap demikian, ___ Tong Oh memandang
kelain _______, dari itu ia heran tempo mendapat lihat surat
diujung ______.
___, kenapa surat itu tertu___? Tentu ada pelayan yang
main gila! kata ia,
Harap Keng liak tidak persalahkan pelayan, berkata
Kiang It Ciauw. Coba Keng liak perhatikan dengan
seksama dan periksa surat itu, nanti Keng liak dapat tahu,
surat itu bukannya surat sembarangan.
To Ciangkun berbangkit akan hampiri meja itu. Ia
keluarkan seruan heran apabila ia sudah lihat dari dekat. Ia
ulur tangannya akan cabut itu, tetapi surat tidak terangkat
apabila ia mencabut untuk kedua kali nya, dengan gunakan

tenaga, baru surat dapat diangkat Ia periksa alamatnya lalu


ia buka sampulnya, ia baca bunyinya seperti berikut :
Ciangkun yang mulia!
Ciangkun memimpin angkatan perang Kerajaan, untuk
menindas pemberontak, guna menolong rakyat agar mereka
hidup aman dan damai, untuk itu rakyat bersukur kepada
Ciangkun. Akan tetapi tidak demikian dengan Teetok
Gouw Tay Giap. Teetok ini tak hargai kecintaan Ciangkun
terhadap rakyat, dia menyalani budi negara, selama
memerintah di Tong kwan, dia berbuat sewenang dia peras
rakyat, hingga rakyat jadi mengeluh dan penasaran.
Tentang kejahatannya Teetok itu, rakyat semua
mengetahuinya.
Paling belakang ini, Gouw Teetok sudah celakai Yo Bun
Hoan. penduduk kenamaan dari Hoa im. Yo Bun Hoan itu
ada penduduk baik, terpelajar dan hidup berbahagia, dan
untuk belasan tahun ia pernah pangku pangkat dengan adil
dan bijaksana, selama belakangan ini, ia hidup sebagai
rakyat jelata yang damai. Tentang orang she Yo ini,
Ciangkun pun tentu telah mendengarnya. Tetapi sekarang
Gouw Teetok tak dapat peras dia, dia difitnah bersekongkol
dengan pemberontak, dia telah ditawan, guna dapati
pengakuannya dia dikompes, hingga tubuhnya terluka,
keadaannya payah. Sebagai satu anak sekolahan, ia
bertubuh lemah, mana ia sanggup lawan siksaan?
Aku ada seorang rakyat jelata, akupun penasaran atas
kekejamannya Gouw Teetok itu, sedang dilain pihak, Bun
Hoan adalah orang dari siapa aku ada berhutang budi. Aku
tidak mau bertindak sembarangan, dari itu dengan jalan ini
aku mohon keadilan Ciangkun. Tentang duduknya hal
Ciangkun bisa tanya sembarang orang. Aku harap
Ciangkun bertindak lekas, karena Gouw Teetok sudah

bersiap sedia menggunai kekerasan, akan berangus mulut


orang dengan jalan perampasan jiwa rakyat yang lemah.
Berbareng dengan ini, aku hendak beritahukan hal yang
berikut :
Aku mengerti sedikit ilmu silat, aku biasa merantau,
kebetulan saja aku dengar hal kaum pemberontak hendak
serbu propinsi Siamsay. Kaum pemberontak jerih terhadap
Ciangkun, sengaja mereka siarkan berita hendak meluruk
ke Tongkwan, Bun kwan dan Keng cie kwan, tetapi
sebenarnya, dengan maju secara diam2, dengan menyamar
sebagai rakyat jelata, mereka menyeberang ke Han kok
kwan dan Hong leng touw, akan bergabung diri dengan
kawanan penjahat yang mengeram digunung Bu Tee San
dan kawanan Hong Bwee Pang didaerah le bun. Mereka
mengacau didalam, untuk memecah perhatian. Jikalau
mereka sampai berhasil, celakalah rakyat negeri. Maka itu,
dengan jalan ini, aku mohon perhatian yang sungguh2 dari
Ciangkun.
Surat itu dibubuhi tanda tangannya Ong Too Liong.
Selagi To Ciangkun membaca, Kiang It Ciauw dan
Lauw Yu Tong berdiri diam saja, kemudian jenderal ini
menoleh pada kedua sebawahannya itu.
Kau baca surat ini, kata ia, kemudian kita nanti
berdamai.
It Ciauw sambuti surat itu, selagi ia baca
Tong, To Ciangkun pergi kekursinya akan
dengan alis dikerutkan. Berdua merekapun
dan sampulnya. Kemudian, Kiang Tayjin
didepannya jenderal itu.

bersama Yu
duduk diam
periksa surat
letaki surat

Duduklah, kata To Ciangkun seraya pandang dua


orang itu. Kita mesti berpikir, supaya kita tidak sampai
digunai sebagai senjata oleh orang jahat.
Ciangkun benar, dua sebawahan itu manggut.
Kapan kau ketahui adanya surat ini? To Ciangkun
tanya.
Jangan heran atas ketulusan ku. Kenapa tidak lantas
kau beritahukan aku perihal adanya surat ini? Sedikitnya
kita bisa susul pembawa surat
Kedua sebawahan itu berbangkit.
Ada selayaknya saja Keng liak tegur kita, kata It
Ciauw, yang terus tuturkan bagaimana mereka dapati surat
itu. Karena datangnya surat secara luar biasa, kita percaya,
pengirimnya musti ada orang luar biasa juga, jadi sia2 saja
apabila kita susul padanya. Ketika Keng liak kembali, kita
tidak ingin bikin kau kaget atau bingung, umpama Kang
liak tidak lihat sendiri surat itu, kami toh akan beritahukan
juga. Harap Keng liak maaf kan kami untuk sikap kami ini
Jangan kau salah anggapan, aku tidak curigai kau
berdua, kata sep itu. Aku menanyakan karena aku kuatir
ada pengawal kita yang main gila karena mereka kena
dilagui orang luar.
Aku percaya semua orang kita ada setia, Yu Tong
bilang.
Apa yang aneh, It Ciauw bilang, kita cuma berdiri
sebentar didepan pintu sehabis antar Keng liak keluar, cepat
luar biasa, orang telah masuk dan letaki suratnya itu.
Jenderal itu manggut.
Kau benar, ia kata. Bunyi surat itu sangat kebetulan.
Memang sikapnya Gouw Tay Giap tidak memuaskan. Yo

Bun Hoan ada bekas pembesar yang setia, jujur dan adil,
iapun termasuk hartawan, pasti dia tidak akan lakukan
perbuatan gelo seperti dituduhkan. Tapi bunyinya surat ada
mengenai juga rahasia militer. Kelihatan sipengirim surat
agaknya hendak unjuk kegagahannya dan kepandaiannya
ketika ia sampaikan suratnya ini.
Pie cit anggap, bunyinya surat lebih baik dipercaya
daripada tidak, utarakan Kiang It Ciauw apabila ia lihat
sep itu agak sangsi. Umpama si pengirim surat memfitnah
dan ia hendak gunai tangan kita untuk membinasakan
musuhnya, kita juga masih bisa melakukan penyelidikan
dengan waspada. Perihal keburukkannya Gouw Teetok, itu
sudah terang, apabila Keng liak ayal bertindak, mungkin
Keng liak akan kena te rembet2. Sungguh kecewa dan hebat
apabila Yo Bun Hoan dan keluarganya yang jumlahnya
beberapa puluh jiwa mesti terbinasa ditangan Gouw Tay
Giap. Percuma saja andaikata kemudian perkara dapat
dibikin terang tetapi mereka itu sudah berada didunya baka.
Kenapa kita tidak mau menolong selagi sekarang masih ada
ketikanya? Kita urus dahulu perkara Yo Bun Hoan ini,
apabila duduknya benar seperti bunyinya surat ini, rahasia
militer itu juga tentu benar adanya. Perihal si pengirim
surat, pie cit anggap dia ada seorang gagah dan setia. Baik
Keng liak kirim utusan yang pandai ke Tong kwan, akan
minta Yo Bun Hoan semua, supaya perkaranya bisa
diperiksa disini. Kita mesti jaga, umpama Gouw Teetok
curiga, tidak sampai ia mendahului menjatuhkan hukuman
mati pada Yo Bun Hoan. Untuk itu, lebih dahulu kita mesti
lihat semua terdakwa, supaya Gouw Teetok tidak sempat
berbuat apa2. Bagaimana pikiran Keng liak Tayjin akan
indakan ini?
Kata2nya Kiang It Ciauw ini membuat lenyap semua
kesangsiannya To Ciangkun.

Baiklah, kita boleh bertindak menurut saranmu itu, ia


nyatakan. Kemudian ia menoleh pada Lauw Suya seraya
terus berkata Tolong kau bikin surat2 yang perlu, kau
minta Hu ciang Tiat An Thay yang pergi ke Tong kwan
bersama sejumlah barisannya. Bilang, bila ada satu jiwa saja
dari keluarganya Yo Bun Hoan yang lolos, dia akan
diperlakukan sebagai sudah makan sogokan! Dapatkah Tiat
Hu ciang tunaikan tugasnya ini?
Keng liak Tayjin sudah pilih orang yang tepat. berkata
Kiang It Ciauw. Tiat Hu ciang ada cerdik, dia tentu bisa
layani Gouw Teetok, sedang pangkatnya, yang tidak lebih
bawah seberapa, pasti akan bikin Gouw Teetok tidak berani
main gila terhadapnya.
To Ciangkun puas, ia tetapkan tindakannya itu.
Kemudian, selagi ia salin pakaian, Lauw Yu Tong
selesaikan surat2nya. Pada jam tiga lewat, Tiat Hu ciang
telah datang menghadap untuk terima titah, ia dipesan
bagaimana harus lindungi keluarga Yo, setelah mana, ia
berangkat bersama satu barisan serdadu berkuda. Setelah
itu, dua2 Kiang It Ciauw dan Lauw Yu Tong juga pamitan
dari sep mereka akan kembali ke masing2 kamarnya,
diruangan sebel Timur. Diluar markas, masi pengiringnya,
dengan lentera tangan menyambut mereka, untuk iringi
mereka pulang.
Satu pelayan sudah lantas antar To Ciangkun kekamar
tidurnya, tapi sebelum ia kembali untuk rapikan kantoran,
selagi kantoran sepi, Eng Jiauw Ong sudah loncat turun
dari tempat ia bersembunyi, ia jemput pit atas meja, pit
yang masih basah, untuk dibawa loncat naik keatas pin,
segera disitu ia menulis enam belas huruf yang berarti
Kambing sudah lolos dari mulut harimau, sahabat baikku
telah terbebas dari penasarannya, maka budi besar ini satu
waktu akan dibalas. Sebagai tanda tangan, ia menulis

Hoay siang, Eng Jiauw Ong. Sehabis itu, ia loncat turun


pula apabila ia sudah taruh pit ditempatnya, ia bertindak
pergi. Justeru ia dengar tindakan kaki, mengilang dengan
cepat.
Diatas genteng dari rumahnya salah satu penduduk, Eng
Jiauw Ong beristirahat sebentar. Ia lihat terangnya
rembulan, ia dengar suara kentongan. Itu waktu sudah jam
empat lewat. Ia puas dengan tindakannya itu, ia percaya To
Ciangkun bakal tolong Yo Bun Hoan. Mengenai Yo Bun
Hoan sendiri, ia puas, sebab ia percaya, Cu In Am cu tentu
bisa lindungi orang she Yo itu.
Ketika sudah terang tanah, Eng Jiauw Ong jalan keliling
kota Tiang an, untuk perhatikan bekas kota raja yang tua
ini. Ia tidak perlu salin pakaian lagi, karena untuk keluar
malam, ia tetap pakai thungsha, pakaian yang panjang.
Untuk setengah harian ia berdiam dikota itu, sesudah itu, ia
menuju ke Tong kwan. Sama sekali ia tidak sangka, di Tong
kwan sudah terjadi perobahan hebat, yang oleh Cu In Am
cupun sampai tidak dinyana sama sekali.
-0dw0X
Eng Jiauw Ong sampai di Tong kwan pada jam tiga
lewat, langsung ia menuju ke Tek Seng lay, untuk lihat Cu
In Am cu, guna dengar hal keadaan. Ketika ia keluar dari
Ban siong , tiba2 ada satu bayangan berkelebat
dihadapannya. Segera ia lompat kesamping untuk luputkan
diri, sambil ia menegur Siapa?
Bagus permainanmu ya? demikian suara jawaban,
yang di susul oleh tertawa menghina.
Dimana kau telah sembunyikan mereka berdua?

Jago Hoay siang itu terperanjat. Ia lantas kenali Cu In


Am cu, tetapi ia heran atas pertanyaan itu.
Terima kasih untuk bantuanmu Am cu, kata ia, yang
terus memberi hormat. Tapi aku tidak mengerti
pertanyaanmu ini. Apakah telah terjadi suatu peristiwa?
Tolong am cu kasi keterangan padaku.
Sekarang adalah si niekouw yang menjadi heran agak
nya.
Apakah ini berarti suheng baru saja kembali dari Tiang
an ? ia balik tanya, Ah, aneh! Siapa yang sudah tolongi
dua boca itu?
Eng Jiauw Ong melengak.
Dengan sebenarnya baru saja aku sampai! kata ia.
Aku menuju langsung kemari untuk segera menemui am
cu! Tak punya kesempatan aku tengok anak itu! Apa
mungkin Hong Bwee dan In Hong sudah lolos dari tangsi
tentera? Inilah aneh! Harap am cu kasi keterangan padaku.
Cu In percaya Eng Jiauw Ong tidak main2, karena itu, ia
jadi semakin heran.
Kalau begitu, inilah hebat, suheng! kata ia, Setelah
itu hari kita berpisahan, aku kembali ke Pek Tiok Am, akan
didik murid2ku seperti biasa, setelah magerib baru aku pergi
ketangsi. Aku memasuki tangsi dipermulaan jam dua.
Begitu sampai, aku heran, karena penjagaan ada luar biasa
keras, seperti orang siap sedia untuk menjaga serbuan besar.
Aku menduga Toan Bie Cio Loo yauw ada undang orang
pandai untuk bantu ia. Untukku penjagaan itu tidak berarti.
Bergantian dengan ilmu Ceng teng Sam ciauw sui dan Yan
cu Hui in ciong, aku menuju kekemah tahanan. Paling
dahulu aku tengok keluarga Yo, disini tidak ada yang
kurang kecuali muridku Hong Bwee. Aku masih belum

curiga, aku terus pergi ketempat tahanan lelaki. Disini pun


semua terdakwa ada, kecuali muridmu. Aku masih
menduga dan percaya, Gouw Ko pie sedang memeriksa
mereka berdua, dari itu aku pergi kemar kas, kekemahnya.
Teetok itu sedang bersidang, didampingi oleh Toan Bie Cio
Loo yauw. Rupa nya mereka dapat tahu pemberontak bakal
datang menyerbu, dari itu, teetok ini sudah atur penjagaan
terlebih jauh. Setelah memberikan titah nya, Gouw teetok
kata pada tongtay itu Bagaimana, apa kau sudah cari tahu
dimana adanya dua boca tahanan itu. Jikalau aku bukannya
percaya kau, niscaya aku sangka kaulah yang kasi lolos
mereka. Kau jaga mereka kuat sekali, toh mereka lenyap.
Inilah aku tidak mengerti. Jika begini adanya, jiwaku tentu
tak dapat dilindungi lagi! Sekarang aku kasi tempo tiga hari
untuk kau cari kedua terdakwa itu sambil berbareng tawan
culiknya, apabila kau alpa, jangan sesalkan aku nanti!
Aku awasi sikapnya Toan Bie Loo yauw, ia kelihatan
tetap keren, sedikitpun tak tertampak gusar. Dalam hal ini,
pie cit mohon kemurahan hati Kun bun, ia jawab. Selagi
menghadapi musuh2 berbahaya, tidak nanti aku berlaku
alpa. Kemarin malam pie cit susul penjahat bersama susiok
dan suhengku sampai kira2 jam lima fajar baru kita
kembali. Pie citpun dapat bantuannya dua tertua she Tie
dan Shong. Malah ditengah jalan, pie cit juga bertemu
dengan su couw, Thian kong chiu Bin Tie, serta dua murid
nya, yang kebetulan lewat disini dan kedua tertua Tie dan
Shong telah undang dia ketangsi Kie yong eng dimana kami
duduk pasang omong. Bicara belum lama kepada su couw,
aku pergi kebelakang akan periksa sekali terdakwa, tetapi
entah kapan dua terdakwa satu lelaki dan satu perempuan
telah lenyap sedang serdadu2 penjaga, tidak satu yang
ketahui. Turut pemeriksaanku, mereka dibawa pergi dengan
jalan dari atas. Aku telah periksa keras semua terdakwa,
pengakuan mereka ada serupa, yalan sebelum fajar, tiba2

ada mengepul asap hijau. Ketika itu, yang masih belum


tidur adalah budak Yo An, Hou In Hong dan Yo See Tiong,
putera sulung dari Yo Bun Hoan Mereka ini dapat cium bau
luar biasa, ketika mereka hendak buka mulut, lantas mereka
tak sadar akan diri mereka. Yang lain2 yang sedang tidur,
tentu saja tak tahu suatu apa. Adalah setelah terang tanah,
tempo mereka semua tersedar, mereka lihat terhilangnya
anak muda itu. Demikianpun kejadian dengan lenyapnya si
nona.
Dibawah penjagaan keras, penjahat bisa tolongi sepasang
anak muda itu, pie cit duga itu ada kerjaannya Eng Jiauw
Ong yang suka malang melintang didunya kang ouw, serta
niekouw bangsat yang tua dari See Gak. Maka itu, dengan
lantas pie cit perintah selidiki Eng Jiauw Ong. Sekarang ini,
orang2 itu masih belum kembali. Tentu saja pie cit tak
dapat lolos dari tanggung jawab, dari itu pie cit mohon Kun
bun beri tempo satu atau dua hari untuk pie cit cari orang2
jahat itu serta kedua anak muda itu. Kedua tertua Tie dan
Shong datang untuk bantu pie cit, tapi mereka ada. punya
urusan sangat penting, dengan mendadak mereka telah
berangkat ke Kanglam. Mengenai kabaran bahwa
pemberontak hendak nyerbu dari tiga jurusan, kedua tertua
itu bilang, kabar itu benar adanya. Jumlah pemberontak ada
belasan laksa jiwa. Tapi mereka tidak cuma akan maju dari
tiga jurusan, lebih dahulu daripada itu, mereka sudah kirim
beberapa ribu pelopor dengan menyamar untk melusup
masuk kedalam daerah kita, guna menyambut dari dalam.
Dari itu, harap Kun bun tidak sampai tersesat oleh kabar2
angin dan jangan pandang enteng tenaga pemberontak,
ielah baik sebelum pemberontak turun tangan, Kun bun
mendahului mengatur penjagaan yang kuat. Tie dan Shong
Loo su tidak mau berikan keterangannya ini lebih siang,
mereka kuatir nanti disangka mengharapkan pahala saja,

dari itu, sesudah hendak berangkat, baru mereka minta pie


cit yang menyampaikannya.
Mendengar keterangan itu, Couw Teetok girang bukan
kepalang, nampaknya ia puas betul. Ia telah puji kedua
orang she Tie dan Shong itu, sedang Cio Tongtay dipesan
untuk jaga keras sekali semua orang tahanan. Aku bingung
mendengar omongannya tongtay itu. Dari omongan mana,
terang murid2 kita bukan lenyap terculik mereka, aku
percaya adalah kau yang sudah tolongi mereka. Kembali
aku lakukan penyelidikan. Aku lihat penjahat yang kita
gantung dijurang, tetapi yang lain2nya tidak ada bersama
dia. Lantas aku paksa pergi ketangsi belakang, ketempat
tahanan, akan ketemui Nyonya Yo, keterangannya adalah
sama dengan keterangannya Cio Tongtay tentang
lenyapnya Hong Bwee. Selagi aku undurkan diri dari
tempat tahanan, ada orang bokong aku dengan senjata
rahasia. Aku tolong diri dengan sambut senjata rahasia itu,
sebatang panah dengan bulu burung putih dan kepala
ular2an. Kau tahu, suheng, di pihak Utara tidak ada orang
yang gunai senjata semacam itu. Aku ingat melainkan Soat
San Jie Siu yang dahulu menjagoi di Su coan Tengah yang
mengerti semacam senjata. Mereka berdua sudah berusia
tinggi, katanya mereka sudah undurkan diri dan cuci
tangan, entah mereka masih hidup atau sudah meninggal
dunya, tetapi aku percaya, penyerangku itu mesti ada murid
dari salah satu dari mereka. Aku tidak mau bikin tercemar
nama Hoay Yang Pang, diwaktu berlalu, aku betulkan
genteng yang aku buka seperti sediakala. Adalah niatku,
akan hadapi penyerang gelap itu, tetapi dia tidak mau
muncul, cuma seratus lebih serdadu Kie yong peng dari Cio
Tongtay yang hujani aku dengan anak panah. Aku tidak
mau layani segala serdadu, sambil putar pedangku, Tin hay
Hok pookiam, aku singkirkan diri. Karena kedua anak itu
agaknya bukan musuh yang menculiknya, mereka tentu

ditolong oleh kaum kita, dari itu terpaksa aku pulang


dahulu ke Tek Seng Gay. Tapi sekarang ternyata, suheng
tidak tolongi mereka, inilah aneh. Bagaimana aku tak jadi
ibuk?
Ong Too Liong kerutkan alis, agaknya ia masgul sekali.
Benar aneh! niatakan ia. Aku kuatirkan anak2 itu! Aku
heran, kenapa am cu kena disesatkan. Coba pikir, mana ada
kaum kita yang biasa gunai asap obat pules Bong han hio?
Aku lebih percaya mereka berdua sudah terjatuh kedalam
tangannya orang2 jahat!...
Lantas Eng Jiauw Ong tuturkan bagaimana ia sudah
datangi Ciangkun hu hingga kejadian Ciangkun To Liong
Oh kirim Hu ciang Tiat An Thay pergi ketangsi Gouw
Teetok untuk jemput Keluarga Yo, guna perkara itu
diperiksa di Tiang an.
Baru aku berhasil disana, tidak tersangka disini telah
terjadi perubahan, nyatakan Ong Too Liong kemudian.
Aku percaya Toan Bie Cio Loo yauw sudah dapati
bantuan lain untuk tempur kita secara menggelap, maka,
Am cu, haruslah kau bantu aku. Mari kita pergi pula
ketangsi besar melakukan penyelidikan. Aku duga Tiat Hu
ciangkun juga akan sudah sampai, disana kita nanti lihat,
dia bisa atau tidak menjemput semua orang. Umpama
keluarga Yo sudah lolos dari mulut harimau, kita toh harus
lindungi ia disepanjang jalan. Aku kuatir musuh belum puas
dan mereka nanti mencegatnya. Tidakkah Am cu pun
memikir demikian?
Cu In Am cu gusar ketika ia berkata buat empat puluh
tahun pin nie sudah malang melintang, dengan andalkan
pedangku ini, pernah aku damaikan berbagai keruwetan,
aku tidak nyana disini orang telah permainkan aku! Jikalau
aku tidak kasi rasa pedang Tin hay Hok po kiam ini, orang
tidak akan ketahui liehaynya si niekouw tua dari See Gak!

Aku percaya, dalam keadaan seperti ini Pou sat pun tidak
akan persalahkan yang aku langgar pantangan membunuh.
Berangkat, suheng, aku ingin lihat tingkah lakunya
kawanan manusia rendah itu!
Baik, am cu! jawab Eng Jiauw Ong, yang lihat orang
telah jadi gusar. Ia tidak banyak omong lagi, terus ia
berjalan.
Dengan Ya heng sut, ilmu lari malam, mereka tinggalkan
rimba Ban siong peng akan turun dari bukit, buat menuju
ketangsi besar dari tentera negara. Tangsi itu terbenam
dalam gelap gulita. Selagi mereka mendekati suatu ujung,
Ser, ser, empat atau lima batang panah menyamber kearah
mereka, hingga mereka perlu lekas berkelit. Mereka
mengerti, tangsi itu terjaga kuat. Tapi mereka tidak
perdulikan itu, dengan, memutar sedikit, dengan ber hati2,
mereka toh bisa sampaikan tempat tahanan. Dari arah
depan, mereka lihat bagaimana kerasnya penjagaan.
Dengan gesit mereka pergi ke belakang tangsi, lalu
dengan Yan cu Hui in ciong atau Walet terbang
kawan, mereka bisa panjat wuwungan kemah markas. Eng
Jiauw Ong hendak lantas gunai jari tangannya, yang
kuatnya bagaikan kuku garuda, akan robek tenda, tetapi Cu
In segera mencegah.
Disini ada murid2nya Soat San Jie Siu, jangan
sembrono, menasihatkan pendeta perempuan ini.
Sekarang bukan ketikanya untuk layani mereka.
Lalu, dengan pedangnya yang tajam, niekow ini tusuk
tenda, untuk membuat dua lobang untuk mereka mengintai
masing2. Mereka saling membelakangi, hingga berbareng
mereka bisa pasang mata keempat penjuru, untuk berjaga.
Didalam kemah sedang dibikin pertemuan. Gouw
Teetok tidak duduk atas kursi kebesarannya, hanya disitu

ada ditambah dua buah kursi dengan mana Teetok itu


sambut tetamunya sebagai tetamu yang dihormati. Tetamu
itu adalah Hu ciang Tiat An Thay, siapa, dari kopiahnya,
terniata ada calon Teetok, hingga dengan Gouw Teetok,
tingkatnya tidak beda jauh. Terang To Ciangkun kirim
utusannya ini, agar si utusan bisa bicara dengan leluasa
dengan Gouw Ko pie si tukang peras, supaya situkang peras
ini tidak berani memandang enteng, kecuali dia mau
melawan tidak nanti Gouw Teetok berani tidak serahkan
orang2 tawanan kepada utusan ini. Kelihatannya Tiat Hu
ciang sudah sampai sekian lama dan orang2 tawanan sudah
siap untuk diserahkan. Teetok itu menerangkan hal
lenyapnya dua tahanan, yang ia katakan mesti diculik oleh
semacam hui cat, bangsat terbang, yang liehay, yang tidak
dapat dilawan oleh pasukan tentera, Teetok ini usulkan hu
ciang itu pulang lebih dahulu, agar ia sendiri yang antar
orang tahnnan itu, yang perlu perlindungan kuat.
Harap Kun bun tidak salah mengerti, kata Tiat Hu
ciang, yang bisa bicara. Penjahat memang liehay, didalam
tangsi, dia berani rampas persakitan, tetapi walau demikian,
karena mereka bukannya tahanan2 penting, tidak apa. Aku
tidak berani bikin kau berabe, aku sanggup iringi mereka
itu.
Bicara sampai disitu, ada datang laporan bahwa semua
tahanan sudah berada diluar, atas mana Gouw Teetok
serukan Bawa mereka masuk! Maka diantara teguran
nyaring dan berisiknya rantai borgolan kesitu digiring
masuk sejumlah orang tahanan, lelaki dan perempuan,
dengan roman mereka lesu dan berpakaian kucel.
Tiat Hu ciang ada seseorang peperangan ulung, yang
hatinya keras, akan tetapi, memandang orang2 tawanan ini,
ia merasa berkasihan. Lekas2 ia periksa daftar. Semua

tahanan ada delapan belas jiwa, lenyap dua tinggal enam


belas.
Kun bun Tayjln, kata Tiat Hu ciang kemudian, dalam
perkara ini ada juruwarta she Gouw apakah diapun telah
dipanggil menghadap? Dia seorang yang berjasa, Keng liak
tayjin berniat berikan pujian padanya?
Dia berada pada Hu ___ sahut Gouw Teetok ___
sudah berangkat sekian lama, barangkali tidak lama lagi
dan bakal sampai..
-oo0dw0ooJilid ke 2
NB : diberi _______ artinya gak kebaca, krn djvunya
kabur banget, harap maklum bukunya sudah tua banget
(Dewi KZ)
Teetok ini baharu berhenti bicara atau datang laporan hal
sampainya Goan Siong.
Bawa dia masuk! Tiat Hu ciang menitah.
Goan Siong dibawa masuk dengan ia tidak berani angkat
kepala, baharu dua tindak, ia sudah tekuk lutut, tetapi Tiat
Hu ciang, yang awas, sudah lantas lihat roman orang yang
tak mengasih.
Apakah kau yang bernama Goan Siong? "
Dengan suara
membenarkan.

tidak

tegas,

pemberi

warta

itu

Bagus! kata hu ciang itu. Kau berjasa sudah


mendapati rahasianya Yo Bun Hoan berkongkol dengan
pemberontak, kau harus diberi ganjaran, sekarang kau turut

ke Tiang an, satu kali Keng liak Tayjin sukai kau, pasti kau
akan peroleh pangkat!
Goan Siong tidak berani menjawab, ia melainkan
manggut2.
Nah, mundurlah! kata Tiat Hu ciang sambil tertawa,
sesudah mana, ia berkata pada Gouw Teetok Keng liak
Tayjin menitah cepat, aku tidak berani abaikan itu, kalau
kereta sudah siap, aku ingin berangkat sekarang juga.
Kenapa demikian kesusu, lauw hia? kata Gouw
Teetok. Diwaktu malam begini, bagaimana orang2 jahat
bisa diberangkatkan? Jalanan ada terlalu berbahaya. Baik
lauw hia menunda sampai besok pagi.
Menyesal tidak bisa, Kun bun, menjawab Tiat Hu
ciang, yang tahu teetok ini cerdik dan ia kuatir orang
majukan banyak alasan lain lagi. Tabiatnya Keng liak
Tayjin keras, aku lebih suka menempuh bahaya ditengah
jalan daripada ayal2an, aku akan dapat susah apabila aku
lewat lewatkan batas tempo yang diberikan.
Melihat demikian, Gouw Teetok perintah siapkan kereta
untuk orang2 tahanan, setelah itu Tiat Hu ciang berbangkit
memberi hormat untuk pamitan.
Gouw Teetok membalas hormat, ia hendak mengantar.
Baiklah Yo Bun Hoan dan kedua anaknya dimuatkan
dalam sebuah kereta, mereka adalah terdakwa2 yang
utama, Teetok ini berikan nasihat. Mereka itu telah
sekongkol dengan pemberontak!
Terima kasih, kun bun, kata Tiat Hu ciang. Barisanku
adalah barisan pilihan, aku percaya aku sanggup
melindungi mereka.

Melihat orang ada cerdik dan keras sikapnya, Gouw


Teetok tidak ber kata2 lebih jauh, ketika ia mengantar
sampai didepan pintu, Tiat Hu ciang minta dengan hormat
untuk dia tidak mengantar lebih jauh lagi. Tadinya teetok
ini mau mengantar pula tetapi Cio Tongtay tarik ujung
bajunya, hingga ia hentikan tindakannya Tiat Hu ciang
tidak lihat kejadian itu, tetapi Eng Jiauw Ong dan Cu In
Am cu diatas mereka, melihat dengan tegas.
Cio Tongtay lantas berbisik pada Gouw Teetok, siapa
terus unjuk roman gusar, kemudian dengan kerutkan alis, ia
kata dengan pelahan Sebentar kita bicara didalam.
Sampai disitu, teetok ini perintah semua opsir balik
ketempatnya masing2, sekarang markas hanya terjaga oleh
delapan serdadu pengawal.
Eng Jiauw Ong kutik Cu In, buat diajak turun
kebelakang tangsi, disini mereka berdamai sebentar, lantas
mereka berpencar kekiri dan kanan, untuk maju kedepan.
Selagi Eng Jiauw Ong lewat ditangsi ketiga, dari samping
kirinya ada angin menyamber. Ia terkejut, segera loncat
kekanan, memutar diri untuk bersiap. Ia segera lihat
sepasang Jit goat lun, yang bersinar hijau, menyamber
kearahnya. Dengan Pa Ong gie kah atau Couw Pa Ong
membuka juba perang, ia berkelit, berbareng sambil mutar,
dua jari tangan kanannya menyamber iga kanan
sipenyerang, menotok jalan darah Thian kie hiat.
Penyerang gelap itu berkelit kekiri, sepasang senjatanya
di pakai mengiringi, kemudian sambil angkat kaki kanan,
tangan kanannya, dengan Pek ho liang cie atau Burung
ho putih membuka sayap, hajar bahu kanan dari lawan.
Melihat serangan senjata, Eng Jiauw Ong tarik
tangannya seraya tubuhnya berkisar kekiri, sambil
mengegos, tangan kirinya, dengan jari Kim kong cie,

mencari orang punya jalan darah Lo ji hiat, yang berada


di bawah pundak kanan.
Dengan Koay bong hoan sin, atau Ular naga
jumpalitan, nyerang itu bebaskan diri, lalu dengan Tok
coa sim hiat atau Ular berbisa mencari lobang, ia putar
diri, tangan kirinya terus menyamber kebawah. tubuhnya
membarengi berdongko sedikit.
Melihat musuh liehay, Eng Jiauw Ong melesat jauh
hampir dua tumbak. Baharu ia menaruh kaki, atau dari
arah belakangnya terdengar samberan panah tangan. Ia
lekas egosi dirinya. Berbareng dengan itu, ia dengar seruan
Jangan main kampak didepan kawan! yang disusul oleh
menyambernya suatu sinar putih, hingga kedua senjata
bentrok, menerbitkan suari dan jatuh berbareng ketanah.
Menyusul itu, Cu In Am cu lompat kedepannya Eng
Jiauw Ong, akan tetapi, belum sempat mereka bicara, dari
tempat dua tiga tumbak jauhnya mereka dengar tertawa
mengejek disusul kata2 Baharu aku belajar kenal dengan
kepandaiannya Eng Jiauw Ong si tua bangka, tidak di
sangka2, nikow tua dari See Gak juga datang membantu
meramaikan! Baiklah! Dengan panahku Diang cie Coa
tauw Pek ie cian sebagai ganti surut undangan, aku undang
kau berdua datang ke Cap jie Lam hoan ouw dimana
dengan hormat aku menantikan! Sekarang maaf, tak dapat
aku menemani lama2!...
Eh, bu beng siauw cut juga berani bertingkah! Eng
Jinuw Ong berseru. Kasi tahulah namamu!
Jawaban tidak ada, musuh entah telah pergi kemana,
tapi suara itu menyebabkan muncul nya serdadu jaga serta
kawan nya.
Siapa? mereka menegor.

Jangan layani segala serdadu! kata Cu In. Suheng,


mari!
Pendeta itu loncat kekiri, Eng Jiauw Ong turut dia
setelah ia jemput dua potong senjata rahasia yang terletak
ditanah, Mereka pergi ketangsi depan, baharu melewati dua
tangsi, mereka sudah lihat api terang2, maka Cu In ajak
sahabatnya menyingkir ketempat gelap. Dari sini mereka
pasang mata, mereka lihat Tiat Hu ciang tilik orang tahanan
dikasi naik kedalam enam buah kereta, yang dua ada kereta
keledai tertutup. Yo Bun Hoan naik dikereta ketiga, baharu
saja ia diantar naik oleh serdadunya Gouw Teetok, dengan
cepat satu serdadu merabah tenda biru dibagian belakang,
atas mana tenda itu memperlihatkan warna putih kapur,
sekalipun dari jauh, nyata kelihatannya. Tidak ada orang
lain yang perhatikan itu.
Suheng, kau lihat, bukan? Cu In berbisik. Terang
Gouw Teetok menyerahkan orang tahanan dengan
terpaksa, dia tidak puas. Mestinya dia ada berniat jahat, kita
mesti waspada!
Eng Jiauw Ong manggut.
Am cu benar. Karena dia tidak puas, kita mesti
menguntit rombongan ini, untuk mencegah onar!
Sebentar kemudian enam buah kereta sudah berjalan,
barisannya Tiat Hu ciang mengiringi disekitarnya Tiat Hu
ciang sendiri jalan disebelah belakang. Dua puluh batang
obor menerangi sang malam.
Dibelakang sebuah kereta, Goan Siong berjalan dengan
menunggang kuda. ia dijaga keras, Ia rupanya tidak bisa
naik kuda baharu beberapa tindak, ia suda rubuh, hingga ia
mesti ditolong dan akhirnya dikasi naik atas kereta terakhir,
hingga ia jadi berkumpul dengan orang2 tawanan.

Dengan satu tanda, Cu In dan Ong Too Liong keluar


dari kalangan tangsi. Ketika itu ada kurang lebih jam
empat. Melihat dari tangsi itu sehingga di Tong kwan thia
ada penjagaan tentera rapat, Eng Jiauw Ong berdua tidak
kuatir penjahat turun tangan disitu dari itu dengan jalan
mutar, mereka melewati, terus sampai di Sin hoa ek dimana
ada sebuah rimba.
Mari kita beristirahat disini, berkata Eng Jiauw Ong
pada kawannya. Umpama orang jahat hendak turun
tangan, itu mesti dilakukan selewatnya kota Hoa im. Di
Selatan sungai Wie Hoo, di Utara Siauw kee tay, ada gili2
Lok hun tee. Itu ada jalanan penting untuk Tiang an, itu
tempat berbahaya. Rupanya Tiat Hu ciang bisa duga Gouw
Tee tok tidak puas, sehingga dia tidak mau bertambat
sampai besok pagi. Kelihatannya, asal rombongan ini bisa
sampai di Lim tong, bahaya akan sudah lewat.
Akupun percaya, Gouw Teetok tidak akan berani turun
tangan secara terang2an dan yang bakal bekerja juga mesti
ada oran2nya yang berani mati, sahut Cu In. Aku harap
suheng jangan alpa, keretanya Yo sie cu telah ditandai,
rupanya dia arahi orang she Yo ini. Baik kita menantikan di
Lok hun tee saja.
Sabar, am cu, kata Eng Jiauw Ong. Terpisahnya kita
dari sini dengan Siauw kee tay ada tiga atau empat puluh
lie, Tiat Hu ciang sendiri jalan di jalan umum dimana ada
penjagaan, sebaliknya, dengan kita ambil jalan dari Sin hoo
ek, walaupun jalanannya sukar, kita bisa hematkan
beberapa belas lie. Umpama orangnya Gouw Teetok
menyusul, mereka akan mengambil jalanan kita juga kita
tak usah kuatir mereka nanti lolos dari pengawasan kita.
Aku hanya pikirkan musuh kita tadi didalam tangsi.
Dengan senjata Jit goat lun, dia nampaknya liehay, ketika
dia gunai senjata rahasia, syukur am cu talangi aku dengan

am cu punya Seebun Cit po cu hingga serangannya itu jadi


gagal. Aku telah pungut dua senjata itu. Aku tidak mengerti
adalah ucapannya dengan dua batang panah tangannya ia
undang kita, katanya ia menantikan dientah apa Cio kee
ouw Tempat apa itu?
Suheng keliru dengar, Cu In bilang. Dia bukan sebut
Cio kee ouw hanya Cap jie Lian hoan ouw. Apa suheng
kenal nama itu di Kanglam? Buat di lamsay, aku tahu pasti,
tidak ada. Dan tidak ada juga dilima Piopinsi Utara
Oh, dia sebut Cap jie Lian hoan ouw? mengulangi Eng
Jiauw Ong. Terang sekali kawanan itu memusuhi kita.
Lian hoan ouw berada di Kanglam. Sejak aku
mengasingkan diri di Hoay siang, aku gelap mengenai
Hong Bwee Pang, rupanya dari Eng Yu San di Kang souw,
pusat itu telah dipindahkan ketempat tersebut. Menurut apa
yang aku dengar, Hong Bwee Pang telali dibangunkan pula
oleh ketua dari Lwee sam tong atau ketua Liong Tauw To
cu turunan yang ke empat, yang gabungkan juga
rombongan Cui Auw Pang dari hulu Tiang Kang. Untuk
kepalai Thian Hong Tong, Ceng Loan Tong dan Kim
Tiauw Tong, yalah Lwee sam tong, mereka pilih anggauta
yang paling liehay ilmu silatnya, sedang mereka yang
tergolong tua, yang tidak usah bertugas sesuatu lagi,
dihormati didalam Hok Siu Tong dimana mereka hidup
merdeka seperti terpuja, malah musuh besarku kabarnya
sudah masuk dalam Hok Siu Tong itu.
(Hok Siu Tong berarti gedung dari rejeki besar dan usia
panjang, bahagia, Thian Hong Tong gedung dari burung
Hong, Ceng Loan Tong gedung dari burung Loan Hijau,
dan Kim Tiauw Tong gedung Garuda Emas )
-odwo-

XI
Dimana kiranya letaknya Cap jie Lian hoan houw itu?
Cu In tanya.
Tempat itu ada sangat rahasia, mungkin ada didaerah
___ Tong San di Ciat kang __ sahut Eng Jiauw Ong
Setelah mendirikan tentera sukarela di Hoay siang, aku tak
punya kesempatan untuk merantau lagi.
Aku percaya, lawan kita tadi ada salah satu orang kosen
dari Hong Hwee Pang.
Sembari kata begitu, Eng Jiauw Ong mengeluarkan dua
senjata rahasia, See bun Cit poocu, ia serahkan itu pada Cu
In, sedangkan panah tangan ia periksa sendiri.
Am cu, panah ini aneh macamnya, kata ia kemudian,
Aku percaya ini adalah panah Coa Tauw Pek ie cian dari
rombongannya Soat San Jie Siu itu.
Coa Tauw Pek ie cian berarti panah berbulu putih
berkepala Ular.
Cu In juga keluarkan sebatang panah dari sakunya, yang
panjangnya empat dim, bedanya daripada panah biasa,
ialah kepala nya lebih lebar sedikit dan ekornya
ditambahkan bulu putih, tapi panah yang dipungut Eng
Jiauw Ong, ujung panahnya bercagak, cagaknya tiga dim
dan tajam bagaikan jarum.
Am cu, kata Eng Jiauw Ong akhirnya, tidak perduli
orang yang punya panah ini benci kita secara macam apa,
karena senjata ini, dia ada sangat jahat. Aku sumpah, aku
mesti singkirkan dia untuk kebahagiaannya dunya kang
ouw, dan aku belum mau sudah sebelum dia dapat
kusingkirkan dari dunya.

Panah tangan itu, panah istimewa dari Soat San Jie Siu.
Dua si jelek dari gunung Soat San, ada lebih besar sedikit
dari panah biasa, perlengkapannya adalah dua cagak
sebagai jarum, yang dikeram didalam lobangnya, bisa
digerakkan dengan semacam pesawat, diwaktu digunai, dua
cagak itu lantas melesat ke luar, apabila mengenai tubuh,
panah itu tak dapat dicabut, daging si korban mesti
dipotong atau dibelek, maka siapa terkena itu, dia mesti
terbinasa atau bercacat, jadi jahatnya mirip dengan panah
beracun. Inilah yang membuat Eng Jiauw Ong sangat usar.
Oleh karena mereka dapat menciptakan panah liehay itu,
dua saudara dari Soat San itu dibuat iri oleh sesama orang
kang ouw, tetapi mereka biasa bekerja di perbatasan Su
coan saja, mereka tidak pergi kepedalaman, dan bila bukan
terancam bahaya, atau tidak ketemu musuh, mereka tidak
gunakan senjatanya itu. Ada dibilang, kepandaian itu tidak
diwariskan pada murid atau sesama kaumnya, tetapi
sekarang terbukti, di Tong kwan ada orang menggunakan
itu.
Jangan gusar, suheng! kata Cu Ih sambil tertawa. Di
dunya kang ouw ini masih ada orang2 yang terlebih jahat
daripada Soat San Jie Siu. Mana kita sanggup mengurus
mereka semua? Untuk memusuhi orang2 sebangsa mereka,
kitapun harus waspada. Mungkin dia adalah Thian kong
chiu Bin Tie seperti katanya Toan Bie Cio Loo yauw. Kalau
benar, dia memang liehay, dia melebihi Cio Tongtay dan
sedereknya. Apabila kita ketemu pula padanya, tak boleh
kita gampang2 biarkan dia lolos. Nah. simpanlah panah ini,
kita anggap ini sebagai surat undangan saja!
Eng Jiauw Ong simpan panah itu.
Kita sudah sia2kan tempo di sini, mari kita berangkat,
kata ia. Tak dapat orang jahat mendahului kita.

Cu In manggut.
Benar, kata ia.
Keduanya lantas berangkat, menuju ke Siauw kee tay.
Cu In jalan didepan, karena ia lebih kenal keadaan disini.
Sesudah melaui tujuh atau delapan lie, diarah Barat daya
terdengar anjing menyalak.
Itulah Siauw kee tay, suheng, kata sipendeta wanita.
Diwaktu malam gelap gelita dan sunyi senyap. kecuali
peronda, tidak ada orang lain lalu lintas disana, sekarang
ada suara anjing rupanya Tiat Hu cian sudah sampai
disana. Selewatnya Siau kee tay, orang mulai memasuki
daerah berbahaya, selanyutnya di sepanjang jalan, dalam
dua tiga lie, rumah penduduk terpencil jauh satu dengan
lain. Maka kita lekasan pergi kesana.
Eng Jiauw Ony, menurut turut bertindak lebih pesat.
Lagi setengah lie, mereka lihat suatu dusun dimana
tampak cahaya api, dan ketika mendekati lebih jauh,
mereka mendengar tindakan kaki kuda dan terputarnya
roda2 kererta yang berisik. Jadi benar rombongan nya Tiat
Hu ciang sudah sampai didusun itu. Itupun menyatakan
keberaniannya si opsir, yang sekalipun dijalan raya, toh
jalan nya cepat sekali.
Cu In Am cu sudah langsung memasuki dusun dari
depan, ia hanya mengajak Engg Jiauw Ong jalan memutar
ke selatan, dengan begitu, kawannya ini jadi mengetahui,
bahwa dusun itu besar, sebab sesudah jaiui satu lie, baharu
mereka sampai dimulut Selatan itu.
Lewatnya tentera negeri menyebabkan anjing menyalak
memecah kesunyian sang malam yang gelap juga jadi
terang dengan banyak obor. Selewatnya barisan itu
kesunyian datang pula. Sekarang, dimulut dusun ada

muncul belasan chungteng, suatu tanda disitu ada barisan


sukarela. Jadi Eng Jiauw Ong percaya penjahat tidak nanti
berani turun tangan disitu.
dari sini Cu In berdua menguntit barisan Tiat Hu ciang.
Mereka berkumpul diantara semak belukar yang sunyi,
_____gak kebaca dewi kz________
sampai kesana. Tempat ini pada seratus tahun yang lalu
melupakan lembah cabang sungai Wie Sui, karena musim
kering hebat, aliran digeser ke Selatan, maka itu, tempat ini
jadi kering, penuh pasir, tanahnya kurus. Maka selanjutnya,
ini adalah tempat selulup timbulnya orang2 jahat. Mari
kita lombai pasukan tentera, supaya kita bisa lihat disebelah
depan.
Cu In melesat, kawannya mengikuti.
Nah, itulah dia Lok hun tee, suheng! kata sipendeta,
sesudah mereka lari sekian lama seraya ia menunjuk
kedepan.
Eng Jiauw Ong mengawasi Kedepan, benar2 ia melihat
suatu tempat yang seram. Rumput tingginya empat lima
kaki. Waktu itu musim kering, kalau dimusim hujan, pasti
rumput jadi lebih tebal, tanah berlumpur dalam, dan kuda
kereta akan sukar lewat disitu.
Tempat yang surup dengan namanya, kata Eng Jiauw
Ong. Lok hun berarti roh runtuh. Pantas ini jadi tempat
ngeramnya kawanan penjahat. Berapa jauh akan sampai
dijalan besar? Apa disebelah depan ada rawa atau empang
dimana orang bisa umpatkan diri?
Tanpa kau tanya, aku memang hendak menerangkan,
suheng, sahut nikow itu. Gili2 Lok hun tee ini
panjangnya seratus lie lebih, terus sampai di tepi yang
baharu dari sungai Wie Hoo. Diujung, sepanahan lebar

nya, terdapat tempat berlumpur dalam, siapa kejeblos


disitu, dia tak akan bisa meloloskan diri, kecuali ada yang
menol.onginya Maka harap suheng awas, itu ada jebakan
alam yang berbahaya sekali
Terima kasih, am cu, kata Eng Jiauw Ong. Mari kita
maju
St! Cu In memotong, selagi kawannya belum bicara
habis.
Disebelah depan kelihatan rumput ber goyang2, lalu dua
atau tiga bayangan tertampak melesat kearah Barat laut.
Ong Suheng, nyata tidak sia2 perjalanan kita ini, Cu In
berbisik. Benar2 orang telah menguntit. Mari kita lindungi
kereta.
Eng Jiauw Ong manggut, lantas ia ikuti pendeta itu,
yang sudah mulai lari.
Dalam tempo pendek mereka lihat tegas rombongannya
Tiat Hu ciang yang berjalan dengan pelahan2. Mereka ini
tidak berani jalan cepat2, walaupun mereka menggunai
obor, maklum diwaktu malam.
Eng Jiauw Ong mengasih tanda pada Cu In Am cu, lalu
ia mendahului pergi kesemak sebelah Timur untuk melihat
tempat. Ia pun periksa gili2 sebelah Barat, yang tempatnya
lebih berbahaya lagi, ada pohon2 merambat yang bisa bikin
kaki terserimpat.
Disini keadaan ada tenang, itulah tanda bahwa disitu
tidak ada orang jahat. Tapi selagi Eng Jiauw Ong
memasang kuping, tiba2 ia mendengar suara sedikit nyaring
diatasan kepalanya, lalu dua buah uang tang chie hijau
jatuh didekatnya. Ia kenali itu adalah Chee hu toan sin,
yalan isyarat dari See Gak Pay. Cara melepas tangchie itu
memakai ilmu melepas Wan yho piauw, hingga ditengah

udara kedua tangchie benterok satu pada lain dan


menerbitkan suara dan diyatuh. Itulah berarti, bahwa si
nikow telah menyusul dan melihat sipenjahat itu.
Cepat sekali Eng Jiauw Ong berdongko. Dibelakang ia,
dua tiga tumbak jauhnya, ia lihat berkelebatnya dua
bayangan, gerakannya sangat gesit, sekejab saja mereka
sudah pergi belasan tumbak jauh nya.
Dengan gerakan seekor burung hoo menyerbu langit,
Eng Jiauw Ong coba menyusul, tetapi Cu In disebelah
Barat memanggil ia, maka ia menggabungkan diri dengan
nikow itu.
Dua penjahat datang kemari, aku kuatir kita bentrok
diluar keinginan kita, maka itu aku beri tanda padamu,
suheng, kata pendeta itu. Kita mesti jaga agar mereka
tidak lihat kita dan nanti menyingkir karenanya.
Kelihatannya jumlah mereka ada lima atau enam orang,
dari itu, kita jangan alpa. Kitapun mesti jaga supaya mereka
tak sampai berhasil. Lihat, Tiat Hu ciang sedang
mendatangi, mari kita sembunyi!
Eng Jiauw Ong manggut, ia terus ikuti nikow itu buat
mengumpat.
Rombongannya Tiat Hu ciang mendatangi bagaikan
naga api, tindakan kaki kuda, bunyinya roda2 kereta,
kedengaran nyata. Dari tempat sedikit jauh, serdadu
pengiring tidak kelihatan nyata, karena mengepulnya debu.
Dari tempat sembunyinya, Cu In dan Eng Jiauw Ong bisa
mengawasi dengan merdeka.
Enam buah kereta diiringi dua pasukan depan dan
belakang, dan Tiat Hu ciang, diatas kudanya, jalan
disebelah belakang.

Setelah rombongan lewat, Eng Jiauw Ong berdua lantas


menguntit.
Orang berjalan dengan tenang, ketika separuhnya Lok
hun tee telah dilewati, tiba2 terdengar suitan disebelah
depan. Dua bayangan lompat melesat kearah gili2, disusul
dua kali suitan lain, yang kembali diikuti oleh melayangnya
lagi dua bayangan dari arah Timur.
Am cu, saatnya sudah tiba. Eng Jiauw Ong
menyerukan Cu In, sambil ia sendiri segera keluar dari
tempat sernbunyinya dengan satu loncataan tinggi dan jauh,
maka dilain saat, ia sudah berada diatasnya kereta yang
pertama.
Cu In, yang tidak kurang sebatnya, sudah loncat naik ke
kereta ke empat, disaat dua penjahat sedang mendekati
kereta tersebut.
Disebelah Timur, dua penjahat telah perdengarkan suara
tekebur, katanya Kamu tahulah diri dan menyingkir dari
sini! Kita cuma mencari Keluarga Yo untuk membikin
perhitungan! Jikalau kau sayang jiwa, lekas pergi!
Sesaat itu bukan main kaget nya, serdadu pengiring.
Dua penjahat, masing2 dengan sebatang golok tebal dan
tumbak tiga belas buku, maju dari kiri dan kanan,
menghampiri kereta ke empat.
Diatas setiap kereta ada dua serdadu. Dua serdadu dari
kereta ke empat itu melihat orang datang, mereka segera
menghunus golok. Ketika tumbak menikam, satu serdadu
berkelit, seraya membarengi membacok. Penyerang itu
berkelit kekanan, dengan tangan kiri ia balas membarengi
menyamber lengan orang untuk terus dibetot keras sambil ia
berseru Pergilah kau!

Lengan serdadu itu kena ditarik, tanpa berdaya tubuhnya


terjatuh kebawah.
Disebelah kanan kereta, penjahat yang satunya juga
mulai menyerang. Goloknya dapat ditangkis, sampai lelatu
apinya meletik, kemudian batang lehernya kesamber,
sampai ia kaget bukan main, hampir ia rubuh sebagai
korban. Ia tidak sangka yang ia sudah berhadapan dengan
Cu In Am cu.
Penjahat yang sebelah kiri, yang sudah maju pula, segera
serang nikow itu dengan tumbak nya, ia menikam perut.
Cu In bersenyum ewa, dengan pedangnya, dari bawah Ia
menyamber pula keatas, akan babat kutung gegaman
musuh. Penjahat itu liehay, ia cepat tarik tumbaknya, yang
ia tidak mau adu dengan pedang, sebaliknya, ia hendak
menikam pula.
Binatang! berseru nikow tua itu Berbareng dengan itu,
keledai terdengar meringkik keras, lalu kereta mengusruk
kedepan, semua rodanya berhenti memutar dengan tiba2.
Cu In menoleh kedepan, ke situ ia segera berlompat.
Nyata penjahat yang bersenjatakan golok, yang tadi
ditangkis si nikow, sudah maju untuk membacok keledai,
hingga keledai roboh dan keretanya mengusruk. Saking
gusar. Cu In serang penjahat ini.
Nyata penjahat ini licik. Ia lihat ujung pedang
mengancam iga kirinya, ia loncat berkelit kekanan, untuk
terus lari. Selagi serangannya gagal, kaki kiri Cu In sudah
menginjak tanah, karena itu, sambil berseru Kau hendak
lari kemana? ia loncat pula sambil menyamber dengan
pedangnya.
Penjahat itu kaget, ia menjerit, tubuhnya rubuh disemak,
percuma saja ia berkelit, kopiahnya kena dipapas, mengenai

rambut nya dan sedikit kulit kepalanya. yang terus


mengucurkan darah.
Ketika itu, penjahat yang bertumbak sudah lompat maju,
akan membarengi menusuk si orang suci. Ia menyerang
sambil menolongi kawannya.
Sambil lompat kesamping kereta, Cu In egosi tubuhnya
dari tikaman, tetapi dari samping ia membabat lengan
kanan musuh.
Penjahat itu gesit, ia tarik lengannya sambil loncat
menyingkir. Tapi si pendeta desak ia dengan satu tikaman
pada pinggangnya. Ia repot, ia kempeskan perutnya,
tubuhnya sedikit melengkung, terus ia berlompat mundur,
tetapi tidak urung ujung pedang telah merobek bajunya,
hingga saking kaget, ia jatuh terlentang.
Ketika Cu In Am cu tarik pedangnya, ujung senjata itu
berlepotan darah.
Waktu itu, semua kereta telah berhenti berjalan, para
serdadu menjadi kaget dan menerbitkan suara berisik.
Tiat Hu ciang berada dibelakang, karena jalanan sempit,
ia sukar maju, dari itu, ber ulang2 ia serukan Minggir!
Minggir! Dengan putar goloknya, ia maju.
Cu In Am cu sudah loncat naik pula keatas kereta, ia
menoleh kearah Eng Jiauw Ong, hingga ia dapati kawan
itu, dengan sebelah kanan mengempit satu tubuh orang,
sedang berlompat naik keatas sebuah kereta untuk
menghampirkan.
Tadinya Cu In hendak tanya kawan itu, tetapi Eng Jiauw
Ong mendahului berseru Tiat Tayjin, awas belakangmu.
Kemudian, setelah sampai dikereta ke tiga, ia lempar tubuh
yang ia kempit kekereta ke empat sambil ia serukan

kawannya Am cu, lindungi kereta, aku nanti singkirkan


jahanam itu! Dan segera ia loncat kebelakang.
Cu In berpaling dengan cepat, dari itu ia melihat satu
tubuh mencelat dari tempat gelap itulah tubuh yang
membuat Eng Jiauw Ong berseru.
Rombongan serdadu menduga
beruntun mereka melepaskan panah.

pada

orang

jahat,

Gerakannya penjahat itu terlambat, karena ia mesti


menyingkir dari panah, karena ini, Tiat Hu ciang keburu
geser kudanya. Karena ini juga, Eng Jiauw Ong keburu
mendekati melihat orang itu berusia tigapuluh lebih,
tubuhnya kecil dan jangkung, senjatanya sebatang toya
Hong liong lang, romannya bengis.
________________ maju, ia _____ dengan totokan pada
hu ciang itu.
Melihat gerakan orang itu Eng Jiauw Ong tahu, musuh
ini ada liehay, dari itu, jadi kuatir buat Tiat Hu ciang. Ia
lompat kearah kiri orang itu, sembari membentak. Awas!
Tangan kirinya menyamber lengan kanannya orang itu.
Penjahat itu berkelit kekiri tubuhnya sedikit berdongko,
lalu dengan toyanya ia menyerung kaki kiri musuhnya. Ia
benar2 ada gesit sekali.
Eng Jiauw Ong berkelit sampai mengasih toya lewat,
setelah itu merangsek. Tangan kananya di majukan dengan
dua jari ia mengancam sepasang mata musuh, tapi sambil
lompat jumpalitan, musuh itu mundur dengan cepat, untuk
kemudian, dengan menyerang kebawah, bagaikan angin
musim rontok ____ daun kering, ia menyapu kakinya Eng
Jiauw Ong.
Eng Jiauw Ong enjot tubuh nya akan lompat nyamping
selagi lawan itu membarengi ____ juga, maju kedepan.

untuk memutar tubuhnya,


punggungnya Eng Jiauw Ong.

guna

terus

menghajar

Itu ada gerakan gesit dan berbahaya, Eng Jiauw Ong bisa
duga itu, maka ia lekas berbalik seraya egosi sedikit
tubuhnya. Ia menggunai gerakan _____ soan cauw atau
Burung ___ memutari sarang. membabat demikian, iapun
_____ Tiat Hu ciang _____ Disini ada Cu In Am cu
membantui kau melindungi kereta, pergi kau lihat lain
bagian! Kemudian, bergerak terus, ia majukan sebelah
kaki, tangannya menyamber dada. Ia menggunai tipu
serangan Kim pa louw jiauw atau Macan tutul emas
memperlihatkan kuku.
Penjahat itu mencoba berkelit kekanan, akan tetapi
serangan angin dari tangan itu sudah mendahului sampai.
Memang biasa nya, angin dari serangannya satu ahli, sudah
terasa dimuka lima dim sebelum sampainya tangan pada
sasaran. Karena ini, cepat2 dia mengangkat toyanya akan
menghajar lengan kanan orang.
Eng Jiauw Ong tarik pulang tangan kanannya, sebagai
ganti nya ia majukan tangan kiri, dengan dua jari telunjuk
dan tengah, ia mencari jalan darah Kwan goan hiat
Dalam kalangan Siauw Lim Pay, ilmu pukulan ini
dinamakan Sut pay chiu atau Membuang tugu, sedang
dalam Hoay Yang Pay disebut Tok coa sim hiat chiu atau
Ular berbisa mencari lobang.
Penjahat itu tidak berani menangkis, ia berkelit sambil
lompat mundur. Dengan demikian, mereka berdua jadi
bertempur seru.
Tiat Hu ciang sudah lantas hampiri Cu In Am cu untuk
memberi hormat, buat minta keterangan perihal nikow ini
dan kawannya yang sedang melawan penjahat. Kapan ia
diberitahukan siapa adanya mereka, ia jadi girang berbareng

bersukur sekali. Setelah itu ia bertanya apa yang harus


dilakukan.
Menuruti Cu In, kereta yang rubuh lantas diangkat
dengan keledainya yang terluka ditukar. Penjahat yang
rubuh ditangan nya Eng Jiauw Ong, yang kena ditotok,
diangkat naik kedalam kereta. Kemudian, dengan Cu In
yang melindungi, mereka terus melanjutkan perjaianan ke
Wie Hoo.
Eng Jiauw Ong lihat bagaimana rombongan sudah
berangkat, ia berhati lega, maka itu dengan pikiran terpusat
ia terus melayani musuhnya, siapa sebaliknya jadi malu
sendirinya, karena usahanya sudah gagal. Ia rupanya malu
pulang untuk menemui ketuanya dengan tangan kosong,
dari itu, dalam murka ia berkelahi dengan sengit. Ia
merangsek dengan tipu tipu pukulan Pek Wan Chio atau
Tumbak Lutung Putih, yang terdiri dari tiga puluh enam
jurus, hingga samberan angin toyanya jadi men deru2.
Untuk melayani rangsekan itu, Eng Jiauw Ong
menggunai Co Kut Hun Kin Chiu atau ilmu pukulan
Memecah tulang membagi urat, yang terdiri dari tujuh
puluh dua jalan dan antaranya, tiga puluh enam untuk
menotok jalan darah, hingga, tak perduli Hong liong pang
bagaimana berbahaya, musuh tidak bisa berbuat banyak,
malah di jurus dua puluh lebih dia mulai kewalahan,
permainan toyanya makin lambat.
Ketika Eng Jiauw Ong menyerang dengan Kim hong
hie lui atau Tawon ceking permainkan pusuh bunga,
tangan kanannya mencari jalan darah dipundak, penjahat
itu dengan bengis membarengi menghajar kepala musuh,
bagian pilingan sebelah kanan.
Melihat serangan pembalasan itu, Eng Jiauw Ong
berkelit seraya tarik pulang tangan kanannya, dilain pihak

tangan kirinya membarengi maju, akan menabas pundak


kiri musuh itu. Dia ini tidak menangkis, sebaliknya, dengan
tarik pulang toyanya ia terus menyodok perut. Atas ini, jago
Hoay siang lompat tinggi, mencelat mundur satu tumbak
lebih.
Menampak demikian, musuhpun luncat mundur,
jauhnya dua tiga tumbak, setelah mana, ia putar tubuh
untuk terus lari ke arah Selatan. Rupanya ini adalah ketika
baik untuk mundur teratur.
Tikus, kau hendak lari? Eng Jiauw Ong berseru seraya
ia enjot tubuhnya lompat maju, untuk mengejar.
Sekejap saja Eng Jiauw Ong telah dekati, musuh tinggal
lagi setumbak lebih, diwaktu mana, dengan se konyong2
musuh itu balik tubuhnya dan sebelah tangannya terayun,
disusul dengan menyambernya sebuah benda yang
berkeredepan.
Ha, kau berani menggunai kepandaianmu semacam
ini? berseru pula Eng Jiauw Ong, yang sambil miringkan
kepalanya, sodorkan tangannya yang kiri, hingga senjata
rahasia musuh, sebatang piauw, kena ia sambuti.
Nah, kau rasakan ini! tertawa simusuh secara
menghina, membarengi mana, lima biji sinar terang
menyamber dari tangannya, dalam bentuk lukisan bunga
Kwee.
Eng Jiauw Ong segera kenali, itu adalah lima batang
jarum beracun Bwee hoa Toat beng ciam, dari itu,
menggunakan kegesitan tubuhnya, ia pentang ke dua
tangannya dan lompat nyamping lima tumbak. Ia
menggunai tipu Kauw yan hoan in atau Walet cerdik
membaliki awan. Tapi begitu kedua kakinya menginjak
tanah, ia teruskan mencelat ke arah musuh itu. Ia gusar
sekali, sebab musuhnya menggunai senjata beracun, yang

panjangnya tiga dim dan bercagak. Semua lima batang


jarum tadi jatuh ketanah. Jarum ini lebih berbahaya
daripada panah Coa tauw Pek ie cian dari Soat San Jie
Siu, disimpannya dalam bumbung yang berlobang lima,
menyamber nya ketiga jurusan atas, tengah dan bawah dua
kesamping, kiri dan kanan, hingga sulit untuk dielakkan.
Senjata rahasia biasa bisa dielakkan dengan Tiat poan
kio, gerakan rebah melintang bagaikan jembatan besi, tapi
jarum ini meminta kepesatan dan lompatan jauh.
Pemiliknya jarum ini mestinya sebat, tetapi guna mencegah
dia keburu mengisi bumbungnya, Eng Jiauw Ong segera
merangsek dengan loncatan Pat pouw kan siam atau
Delapan tindak mengejar tonggeret.
Penjahat itu kaget benar2 apabila menyaksikan musuh
tak dapat dirubuhkan dengan jarumnya, karena ia tidak
sempat mengisinya pula, ia segera putar tubuhnya dan
berlari.
Sisa Hian Touw Koan! Eng Jiauw Ong menyerukan.
Kau masih mengganas, kau hendak lari kemana?
Dengan loncatannya, yang pesat dan jauh. Eng Jiauw
Ong dapat menyandak, setelah datang dekat, ia ulur sebelah
tangannya dalam gerakan Kim liong tam jiauw atau
Naga emas mengulur cengkeramannya. menyengkeram
bebokong. Cepat sekali ujung jarinya telah menyentu baju.
Pukulan dari Hoay Yang Pay mirip dengan kata2 Tidak
penuh, tidak luber, sekali luber, tentu meluap, jadi seperti
pukulan Siauw thian chee atau Bintang kecil dari
Siauw Lim Pay.
Dalam saat yang genting itu, mendadak ada senjata
rahasia menyamber dari samping.
Bagus! berseru jago dari Hoay siang sambil berkelit
seraya tangan kanannya diulurkan untuk dengan dua

jarinya menjepit senjata rahasia itu sebatang panah sedang


tangan kirinya melanjutkan serangannya pada bebokong
musuh.
Musuh ini coba membuang diri nya, tapi tidak urung ia
seloyongan kasamping kiri sampai beberapa tindak.
Menyusul itu, dari arah Barat, terdengar dua kali suara
suitan, atas mana, penjahat ini segera berlari kejurusan itu.
Eng Jiauw Ong sangat mendongkol. Serangan gelap itu
mengganggu ia, karena gerakan nya sedikit lambat, musuh
luput dari bahaya. Dalam murkanya, ia loncat lebih jauh,
untuk mengejar. Justeru itu dari dalam semak2 ia
mendengar tertawa menghina dibarangi dengan kata2 Ong
Too Liong, jangan jumawa. Malam ini aku ada urusan, aku
tak dapat melayani terus pada mu! Tapi Cap jie Lian hoan
ouw ada tempat kuburanmu, kau ingatlah ini, tua bangka!
Inilah perjanjian dari kematian, apabila itu tak ditepati, tak
hapus!
Menyusul itu terdengar berisik nya suara pepohonan
rumput terlanggar, lalu sunyi senyap.
Eng Jiauw Ong tertawa menghina seraya terus berkata
Kawanan tikus! Belum pernah Eng Jiauw Ong melanggar
janji! Percuma aku menjadi ketua Hoay Yang Pang jikalau
tak mampu aku membasmi sarangmu! Kawanan jahanam,
baiklah, kau boleh hidup lagi lebih lama beberapa hari!
Sehabis berkata demikian, jago Hoay Yang ini lalu ambil
jalannya untuk menyusul rombongan Tiat Hu ciang, akan
tetapi belum ia sempat bertindak, dengan satu loncatan, Cu
In Am cu telah sampai didepannya, hingga ia terkejut.
Bagaimana, am cu? tanya ia. Apakah ada terjadi
sesuatu? Ia heran karena pendeta ini kembali cepat sekali.
-odwo-

XII
Tak kurang suatu apa, suheng, jawabannya nikow itu.
Rombongannya Tiat Hu ciang sudah menyeberangi sungai
Wie Hoo dimana mereka disambut oleh dua cham ciang
serta dua ratus serdadu berkuda, yang dikirim oleh To
Ciangkun untuk menjemput sedang dengan titahnya
jenderal itu, tertera disepanjang jalan diwajibkan bantu
melindungi. Siupie dari Jie lim ek juga sudah menyambut
bersama barisannya dan ajak Tiat Hu ciang singgah
diposnya, hingga disana rombongan itu dapat beristirahat.
Aku anggap mereka sudah selamat, dari itu, aku lekas
kembali akan tengok suheng. Apa disini sudah beres?
Terima kasih, am cu. Aku tak punya guna, aku bikin
kawanan kurcaci itu lolos, Eng Jiauw Ong akui. Am cu,
kita sedang menghadapi musuh2 tanggu, entah berapa
jumlahnya. Di luar sangkaanku, Hong Bwee Pang telah
bangkit dengan kekuatan baru. Kecuali murid2nya Soat San
Jie Siu, diantara merekapun ada sisa2 muridnya Sin heng Ie
su Sian Siu, itu ok too, imam busuk, dari kuil Hian Touw
Koan digunung Houw Gee San.
Suheng, bukankah Sian Siu itu telah terbinasa diujung
pedang Sam cay kiam dari Thian Lam Kiam kek? Cu In
tanya. Murid2nya sudah buyar, kawanan Hian Touw
Koan sudah tak disebut2 lagi dalam dunya kang ouw, cara
bagaimana suheng bisa sebut2 pula dia itu?
Aku tidak kenal kawanan itu, aku hanya dapatkan
barang buktinya saja, sahut Eng Jiauw Ong. Mari, am cu,
coba lihat, ini ada buktinya atau bukan?
Eng Jiauw Ong bertindak ke arah Utara, tempat
pertempuran tadi, disitu ia membungkukkan tubuhnya akan
memungut sebatang jarum Bwee hoa Toat beng ciam.

Lihat ini, am cu. Apakah senjata ini ada dua di Selatan


dan Utara sungai besar?
Cu In menyambuti dan periksa jarum itu dibawah sinar
puteri malam.
Benar2 suheng berpandangan luas, memuji ia.
Memang senjata ini kepunyaan kawanan dari Hian Touw
Koan. Tetapi suheng barangkali lupa kepada penjahat besar
yang malang melintang di Utara, yalah Ya eng cu Touw
Eng si burung malam. Dia pernah menggunai jarum ini,
hingga dia dibekuk oleh To Cie Taysu, supehku dari See
Gak Pay. Ketika itu dia dipaksa keluarkan senjata
rahasianya, dia dipaksa bersumpah tidak akan menggunai
pula senjatanya yang liehay itu, sesudah mana dia
diampunkan dan dibebaskan. Saking malu, Touw Eng
menyingkir dari dunya kang ouw, dia pergi ke Liauw tong
sampai sekarang sudah lebih sepuluh tahun, dia belum
pernah pulang, maka itu, aku sangsi apa bukannya dia yang
telah kembali. Hanya diantara jarum kedua kaum itu ada
sedikit perbedaannya. Ini bukan jarumnya Touw Eng.
Jarumnya si Burung Malam lebih indah buatannya. Karena
kawanan dari Hian Touw Koan muncul pula, mungkin
Touw Eng pun turut serta dengan mereka itu.
Am cu luas pengetahuan nya, aku malu karenanya,
berkata Eng Jiauw Ong.
Suheng cuma puji aku, Cu In bilang. Sekarang mari
kita bicara tentang murid2 kita, entah bagaimana nasibnya.
Aku tidak percaya mereka ditakdirkan usia pendek, tapi
beda dengan In Hong, yang ada seorang anak lelaki, aku
kuatirkan Hong Bwee, seorang gadis remaja dan dari
keluarga terhormat. Aku malu bertemu dengan keluarga Yo
apabila terjadi suatu apa atas diri nya. Aku ingin tolong
muridku itu, bagaimana pikiran suheng sekarang?

Nampaknya urusan ini sulit, Eng Jiauw Ong akui.


Disini tidak lagi ada urusan perseorangan hanya mengenai
permusuhan Hong Bwee Pang dengan Hoay Yang Pang.
Teranglah sudah, dengan mengguna! murid2 kita, orang
hendak pancing aku memasuki Cap jie Lian hoan ouw,
sarang nya itu. Aku percaya, In Hong dan Hong Bwee
sudah diculik dan dibawa lari ke Kanglam, hingga kita perlu
menyusul ke sana. Sekarang mari kita pergi ke Jie lim ek,
sebelum Tiat Hu ciang berangkat, kita mesti bisa korek
keterangan dari mulutnya penjahat yang terbekuk, untuk
mengetahui dimana adanya murid kita sekarang. Aku
percaya, dengan mengingat budi kita, Tiat Hu ciang akan
mengijinkan kita periksa penjahat itu.
Cu In Am cu setujui pikiran ini, ia lalu ikuti Eng Jiauw
Ong berangkat ke Jie lim ek. Mereka sampai dengan lekas.
Lantas mereka menyeberang. Baharu mereka turun
kejembatan, tiba2 Cu In Am cu merandek, Dengar,
suheng, ia berbisik. Apa mungkin perahu berlayar
dimalam seperti ini?
Eng Jiauw Ong hentikan tindakannya dan pasang
kuping. Ia dengar suara air tergayu, jauhnya dari mereka
beberap tumbak disebelah Barat jembatan. Ketika ia
mengawasi, samar ia tampak dua buah perahu kecil sedang
memutari tikungan dan dikepala perahu, yang madap ke
Utara, ada beberapa titik api mirip dengan bintang kecil.
Tanpa merasa, ia keluarkan seman tertahan.
Suheng, mereka pasti bukan orang2 baik. Cu In
berkata.
Malah mereka adalah satru kita! Eng Jiauw Ong
tambah kan. Jikalau mataku tidak lamur, itulah kendaraan
airnya Hong Bwee Pang. Lihat, dikepala perahunya ada api
hio yang dinamai Hio tin. Entah siapa yang jadi
pemimpinnya. Am cu, mari kita kuntit mereka!

Tunggu, suheng, Cu In mencegah. Lihat arah Jie lim


ek! Kenapa ada asap mengepul disana dan suara riuh juga?
Ong Too Liong memandang ke Utara, ia lihat asap yang
disebutkan.
Itulah asap, ia bilang. Kalau itu asap kebakaran,
apinya mesti terlihat. Kenapa melainkan asaypnya saja
yang terlihat?
Aku berkuatir buat Jie lim ek, Cu In menyatakan.
Perahunya Hong Bwee Pang ada dimana saja, jangan kita
sia2kan tempo, mari kita lihat keperhentian disana!
Eng Jiauw Ong menyatakan akur, maka itu, urunglah
mereka menguntit perahu tadi, keduanya ber lari2 kearah
perhentian Jie lim ek. Baharu saja mereka sampai dimulut
dusun, dari tempat gelap muncul sebarisan serdadu, yang
menegor Siapa?
Eng Jiauw Ong dan Cu In berhenti berlari, mereka
perkenalkan diri.
Barisan itu dikepalai oleh satu siauw khoa atau letnan
sebawahannya Tiat Hu ciang.
Oh, jiewie tayhiap, kata letnan itu. Tayjin kita
memang sedang mengharap jiewie. Kalau jiewie ada disini,
penjahat niscaya tidak akan peroleh hasil! Silahkan jiewie
itu kami.
Apakah penjahat telah menyerbu pula? tanya Cu In.
Benar, sahut letnan itu. Mereka menolongi kawannya
yang telah terbekuk. Mereka menggunai tipu bersuara di
Timur dan menyerang di Barat. Mulanya mereka melepas
api dibelakang, ketika kami pergi untuk memadamkan,
mereka menyerang tempat tahanan, setelah melukai dua
serdadu jaga, mereka melarikan konconya. Tiat Tayjin

sangat gusar hingga


menanggung jawab.

dia

mestikan

semua

barisan

Eng Jiauw Ong mendongkol dan menyesal bukan main,


jadi sia2 jeri payahnya untuk mengorek keterangannya
kedua penjahat itu.
Aku tidak sangka penjahat mendahului kita, kata ia
pada Cu In. Terang sekali mereka menguntit kita dan
turun tangan selagi kita tidak bersiap sedia. Am cu, musuh
tangguh, tak dapat tidak kita mesti segera menuju ke Cap jie
Lian hoan ouw akan mencari ketua mereka!
Sabar, suheng. Cu In berkata. Looya ini bilang, Tiat
Tayjin ingin menemui kita, mari kita menghadap dahulu
padanya. Kita boleh sekalian melihat keadaan disana.
Eng Jiauw Ong tidak ingin tentangi pendeta ini, maka
letnan itu lantas pimpin mereka masuk kedalam dusun Jie
lim ek besar, dijalan besar ada banyak tokonya, tetapi ketika
itu orang sudah pada tidur, cuma orang2nya Tiat Hu ciang
yang jalan meronda. Pesanggerahan sendiri terang
benderang dengan banyak lentera dan obor.
Sesampainya dipintu gedung, letnan itu permisi akan
masuk lebih dahulu, untuk memberi kabar, kemudian ia
kembali dengan cepat seraya bilang Tiat Hu ciang
mengundang kedua tetamu ini.
Didalam, Tiat Hu ciang sambut tetamunya dengan
hormat dan mengundang duduk, iapun terus tanya alamat
mereka, katanya sesampainya di Tiang an, ia hendak
melaporkan pada To Ciangkun, agar mereka ini diberi
tanda jasa.
Terima kasih tayjin, itulah kami tidak harap, Eng
Jiauw Ong bilang. Ia kata ia ada seorang merdeka dan Cu
In seorang suci. Kami tidak punya rejeki untuk menerima

jasa dari negara. Apa yang kita harap adalah agar Tayjin
tolong bikin terang penasarannya Yo Bun Koan sekeluarga
agar nama baiknya dapat dipulihkan, dengan begitu mereka
akan bersyukur.
Tiat Hu ciang lalu menanyakan, penjahat ada dari
golongan mana, dan kenapa mereka memusuhi Yo Bun
Hoan.
Diantara penjahat dan Yo Bun Hoan tidak ada
permusuhan. Disini hanya menyelip tangan busuk dari
manusia rendah, menerangkan Eng Jiauw Ong. Ini
adalah apa yang dinamakan balas membalas. Tentang
sebabnya, sulit untuk Tayjin mengetahui jelas, tapi
terangnya, murid kami masing2 sudah terjatuh kedalam
tanga kawanan itu, kami hendak menolonginya. Entah
bagaimana kesudahannya nanti. Kami datang kemari
dengan niat mengorek keterangan dari mulut penjahat yang
terbekuk, aku tidak sangka, penjahat itu telah dapat
ditolong konconya. Tayjin, untuk pergi ke Tiang an, apa
tayjin masih membutuhkan kami?
Kalau murid jiewie berada ditangan penjahat, paling
benar adalah jiewie tolongi dahulu mereka, kata Tiat Hu
ciang. Untuk tugasku, aku akan menjaga dengan hati2.
Aku malu karena lolosnya orang2 tawanan itu. Mengenai
Gouw Ko pie, aku percaya dia tidak akan bisa berbuat
suatu apa andai kata dia tak puas.
Mendengar jawaban itu, Eng Jiauw Ong lantas
berpamitan. Tapi Cu In Am cu minta ijin akan ketemui
keluarga Yo. Tiat Hu ciang tidak berkeberatan, malah ia
sendiri yang antar dua orang itu pergi ketempat tahanan di
kamar samping. Dengan kebaikannya hu ciang itu, semua
orang tawanan dapat rawatan baik.

Eng Jiauw Ong hiburi saudara angkat itu. Ia pesan,


umpama di Tiang an saudara ini peroleh kemerdekaannya,
jangan dia terus pulang ke Hoa im, hanya baik menantikan
di Tiang an, sampai ia datang menyambut, untuk ber sama2
pergi ke Hoay siang.
Bun Hoan mengucap terima kasih kepada jago Hoay
siang ini, Cu In Am cu sendiri menemui Nyonya Yo
dengan merasa malu, ia menghibur dan bersumpah akan
menolongi Hong Bwee.
Mereka berdua tidak banyak bicara pula, hanya mereka
lantas pamitan. Kepada Tiat Hu ciang diminta bantuan
akan merawat dan memperlakukan dengan baik keluarga
Yo itu, atas mana, panglima itu memberikan kesanggupan
nya. Kemudian mereka berpisahan.
Tempo Eng Jiauw Ong dan Cu In keluar dari gedung
perhentian, hari sudah mulai terang, dari itu lekas2 mereka
berlalu dari Jie lim ek, untuk menyeberangi pula sungai Wie
Sui.
Bagaimana, suheng? tanya Cu In ditengah jalan.
Tak dapat kita bertambat pula, sahut Ong Too Liong.
Sekarang aku hendak kembali ke Tek Seng Gay, buat
ambil buntalanku, lalu aku hendak pergi ke Bun hiang,
Hoolam, dan Han Kok kwan, untuk cari suteeku dan satu
muridku, agar mereka memberitahukan para anggauta
Hoay Yang Pay, untuk mereka semua berkumpul di Lek
Tiok Tong, Ceng hong po, Hoay siang. Maksudku adalah
akan dalam satu rombongan menuju ke Cap jie Lian hoan
ouw, untuk melakukan pertempuran yang memutuskan
dengan orang2 Hong Bwee Pang. Am cu, walaupun murid2
kita tidak tewas jiwanya, asal mereka terluka sedikit saja,
tidak nanti aku mau mengerti. Apakah Am cu bersedia
untuk berangkat ber sama2 aku?

Dalam keadaan seperti sekarang, sudah pasti aku akan


membantu kau, suheng, sahut nikow itu Jangankan
mengenai murid See Gak Pay, walaupun tidak, aku pasti
akan membantu juga. Malah aku pikir akan menolong
mereka sebelum mereka keburu dibawa masuk kedalam
sarang mereka. Kita memang mesti penuhi undangan
mereka. Hanya sekarang, kupun perlu pulang dahulu ke
Pek Tiok Am. Suheng, apakah suteemu itu Siok beng Sin Ie
Ban Liu Tong dari Kwie in pe dikaki bukit Kian San di Han
ok kwan?
Benar, am cu, Eng Jiauw Ong manggut. Apakah am
cu kenal dia?
Tidak saja aku kenal, malah kami bersanak, sahut
pendeta perempuan itu. Muridku Yang ke enam adalah
anak angkatnya Ban Liu Tong. Mengenai ini, nanti saja aku
terangkan padamu, atau kalau nanti kau ketemu suteemu,
dia akan menjelaskannya. Sekarang begini Suheng hendak
pergi ke Han kok kwan, pergilah. Aku hendak pulang ke
Pek Tiok Am, dari sana aku akan menyusul langsung
ketempat suteemu itu. Umpama aku terlambat, suheng
boleh berangkat duluan, aku akan usul kau di Ceng hong
po.
Kau sudi bantu aku, am cu, terima kasih! menyatakan
Eng Jiauw Ong. Baik am cu berangkat hari ini juga, aku
mengharap sangat bantuanmu.
Jangan kuatir, suheng, aku tak akan bikin gagal.
Keduanya lalu berlari, menuju kekaki gunung Hoa San
See Gak.
Kita sudah ber lari2 seantero malam, apa tidak baik am
cu singgah sebentar di Tek Seng Gay?

Aku tidak letih, melainkan hatiku tidak tenteram, aku


kuatir dikuilku ada terjadi apa, sahut Cu In. Mari kita
ambil jalan puncak Tiat Pit Hong, yang terlebih dekat.
Tak pernah am cu beristirahat , memang mungkin
hatimu tidak tenteram, Ong Too Liong menghibur. Baik
am cu jangan curiga, mustahil ada orang berani main gila di
Pek Tiok Am
Siapa tahu? Kadang2 bisa terjadi segala apa
Mereka ber lari2 ber sama2, memotong jalan. Diwaktu
pagi demikian, dengan angin halus, pemandangan alam ada
menarik hati. Dengan melewati Eng Ciu Nia, keduanya
menuju ke Tek Seng Gay. Begitu lekas memasuki rumah
guhanya, tampangnya si Kuku Garuda menjadi berubah.
Lihat, am cu, kemanapun si penjahat telah datang juga
Memang, diatas meja ada selembar kertas, yang bisa
diduga dari siapa datangnya.
Eng Jiauw Ong membaca ber sama2 Cu In Am cu.
Surat itu berbunyi :
Orang tua dari Hoay siang, Pendeta perempuan dari
See Gak!
Lekas kau berdua berangkat, untuk pertemuan kita,
untuk kau membereskan perhitungan, supaya tak usah aku
menjemput lagi!
Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, cuma ditandai
dengan tanda merah (kamkie) serta lukisan seekor garuda
bundar.
Lihat, mereka begini mendesak dan memandang hina
kepadaku! kata Eng Jiauw Ong dalam mendongkolnya.
Walau Cap jie Lian hoan ouw itu gunung golok dan

rimba2 pedang, akupun akan satroni juga! Am cu, silahkan


kembali kekuilmu, aku hendak berangkat sekarang juga!
Baik, suheng, silahkan kau pergi! sahut Cu In Am cu,
yang sendirinya berkuatir untuk kuilnya. Ia percaya, semua
muridnya akan taati pesanannya, tidak terkecuali adik
seperguruan nya, Leng Hong Hiap lie Liok Tiauw Cin yang
tabeatnya keras, walaupun dia sudah mensucikan diri dua
belas tahun lamanya, dia tetap paling benci akan kejahatan.
Begitu ia pamitan dari Ong Too Liong yang antar ia sampai
dibawah Tek Seng Gay, lalu dengan ambil jalan Tiat Pit
Hong, ia menuju pulang. Eng Jiauw Ong sendiri lekas
kembali kerumah guhanya, akan merapihkan buntalannya,
sesudah itu, ia berangkat meninggalkan Tek Seng Gay.
Tujuan dari Eng Jiauw Ong ialah distrik Bun hiang
dipropinsi Hoolam dimana ada sebuah dusun Tiat gu
chung. Namanya saja desa, tetapi disana hidup dua ribu
lebih keluarga, yang semua mengutamakan pertenunan,
hingga tidak ada bebuah rumahpun dimana tidak ada
pesawat pemintal. Karena itu, sering datang saudagar dari
lain tempat, yang memborong kain tenun buatan Tiat gu
chung ini.
Penduduk terutama dari Tiat gu chung adalah dua
keluarga Su touw dan To mereka datang mengungsi dari
Kanglam karena gangguan huru hara, seterusnya turun
temurun mereka bertinggal didesa ini, bertani sambil
menenun. Daerah belukar luasnya lima ratus bauw, mereka
buka menjadi perkebunan murbei. Disitu ada kedapatan
orang dari beberapa she lain, tetapi semua mereka ini ada
sanak saudara dari dua keluarga tersebut.
Sampai pada masa terakhir ini, chungcu atau ketua
dusun itu ialah Su touw Kun, dan hu chungcu, ketua muda,
ialah To Bouw Cian, ke dua2nya sudah berusia lanjut.

Dimasa mudanya, Su touw Kun pernah belajar silat, dari


bahagian keras, Ngekang. Ilmu itu bisa merusak tubuh
apabila keliru diyakinkannya, maka itu, Su touw Kun tidak
wariskan itu, tidak pada anaknya, juga tidak pada lain
orang. Ia mempunyai dua anak lelaki, Kiong dan Kiam.
Kiong rajin belajar surat dan bercocok tanam, ia membantui
kedua chungcu Kiam dikirim kepada Eng Jiauw Ong, untuk
belajar silat bahagian dalam, Lwee kang. Ia sangat rajin,
selama dua belas tahun, ia telah peroleh kemajuan, hingga
gurunya sangat sayang padanya dan didik ia sungguh2.
Saudarasnya seperguruan pun menghormati ia. Setelah
pulang kedusunnya, dengan tentu2 setiap tahun ia kunjungi
gurunya beberapa kali.
Su touw Kun tahu Eng Jiauw Ong liehay dan budiman,
ia mengerti, yang anaknya di sayang guru itu, saking
menghargai, ia juga pernah kunjungi jago Hoay siang itu
kepada siapa ia menjanjikan bantuan uang tak berbatas,
asalkan itu untuk kebaikan umum. Karena ini, Eng Jiauw
Ong jadi suka bersahabat kepada petani hartawan dan
mulia itu, hingga asal ia pergi ke Utara, sudah tentu ia
mampir di Tiat gu chung. Demikian juga kali ini, untuk
mati hidupnya Hoay Yang Pay, ia datang untuk tengok
muridnya, Su touw Kiam, agar murid ini suka membantu
ia.
Begitu memasuki dusun, kupingnya Eng Jiauw Ong
lantas mendengar suara ramai dari pesawat tenun, karena
penduduk yang rajin dan damai itu, seperti biasanya,
bekerja dengan giat dan tenang, walaupun negara sedang
hadapi pemberontakan.
Su touw Chungcu berada didalam rumah, ketika ia
diwartakan kedatangannya Eng Jiauw Ong. Segera ia
keluar menyambut dan mengundang tetamunya berduduk

diruang tetamu, setelah perintah orang menyuguhkan air


teh, iapun perintah bujang panggil puteranya.
Loo suhu sedang pimpin pasukan sukarela di Hoay
siang, bagaimana loo suhu sekarang punya kesempatan
berkunjung kemari? tanya tuan rumah. Apa mungkin ada
urusan penting lain?
Sejak keamanan terganggu, memang aku tidak punya
kesempatan lagi untuk pesiar, sahut Eng Jiauw Ong,
tetapi sekarang ada satu urusan yang memaksa aku
meninggalkan kampung halamanku. Ia tuturkan peristiwa
keluarga Yo.
Kami kenal Yo Jie looya itu, kata Su touw Kun. Dia
memang jujur dan mulia hatinya, malah beberapa tahun
yang lampau dia pernah menolong kami dengan uangnya,
selagi kami diserang musim kemarau. Kenapa dermawan
sebagai ia bisa alami kecelakaan itu?
Itulah sebab dia terfitnah, menerangkan Eng D yiauw
Ong Loo chungcu jangan kuatir, aku percaya dia akan
dapat pulang kemerdekaannya.
Eng Jiauw Ong tuturkan ikhtiarnya bersama Cu In Am
cu, untuk tolong hartawan yang dermawan itu.
Gouw Ko pie ada ____ jahatnya, kekuasaannyapun
semakian besarnya, apa loo suhu tidak pikir untuk
singkirkan dia ? tanya tuan rumah.
Eng Jiauw Ong tidak sampai hati mendengar pertanyaan
itu, ia mengerti inilah disebabkan chungcu itu sangat
membenci kejahatan.
Untuk sementara ini tak dapat kita bersikap keras
kepada nya, ia menerangkan perkaranya saudara Yo
masih __ apabila ia terbinasa. Masalahpun akan bertambah.
Sekarang pun negara membutuhkan tenaga orang

peperangan yang pandai, tenaganya teetok itu masih perlu


untuk meng _____ pemberontak. Terpaksa_____ sikap
lemah, harap chungcu tidak mentertawai aku.
Tetapi loo suhu benar, kata Su touw Kun. Dalam
keadaan sulit seperti sekarang, kita harus sabar. Harap loo
suhu tidak berkecil hati atas katakku tadi.
Eng Jiauw Ong bersenyum.
Justeru itu Su touw Kiam datang untuk segera kasih
hormat pada gurunya.
Oh, suhu datang! katanya Eng Jiauw Ong girang
melihat murid itu sehat walafiat.
Jangan pakai banyak adat peradatan, kata guru ini.
Kau bikin apa saja sekarang?
Apakah ayah belum omong pada suhu?
Ayahmu bicarakan saja urusanku, sehingga ia belum
sempat bicarakan tentang kau.
Sebenarnya, dengan pengunjukannya To Pe hu, aku
sedang melatih barisan penduduk, Su touw Kiam
menerangkan. Sukur, sampai sebegitu jauh kami tak
kurang suatu apa. Dan suhu, ada urusan apa suhu datang
ke Utara ini untuk mengunjungi sahabat atau ada urusan
lain?
Ada urusan, muridku, sahut Eng Jiauw Ong, yang
kembali tuturkan halnya keluarga Yo. Sampai sekarang,
toa suheng mu masih berada dalam tangan musuh.
Su touw Kiam kaget berbareng gusar.
Kita kaum Hoay Yang Pay berlaku jujur, tetapi Hong
Bwee Pang memusuhi kita secara begini, jikalau kita tidak
lakukan pertempuran yang memutuskan, dia pasti akan

terus menghinakan kita! kata ia. Suhu, aku bersedia akan


ikut suhu untuk menolongi toa suheng.
Aku memang sudah mengambil putusan akan
menempur Hong Bwee Pang sampai diakhirnya! Eng
Jiauw Ong beritahukan murid nya. Setelah kejadian ini,
tak dapat kedua golongan hidup ber sama2, Hong Bwee
Pang tangguh, banyak cabang dari Rimba Hijau masuk
dalam rombongannya, dari itu, kita mesti mengumpul
tenaga, aku ingin kaum kita semua berkumpul di Ceng
hong po. Kita akan dibantu oleh See Gak Pay. Kaum kita
terpencar luas, ada sukar untuk lekas mengumpulkan
mereka, dari itu, apa kau bersedia akan iringi aku pergi
kepada Susiok mu, Ban Liu Tong di Kwie in po? Aku ingin
ber sama2 susiokmu itu menghadapi musuh. Biarlah
susiokmu membantu mengirim surat kepada sekalian kaum
kita.
Sebelum Su touw Kiam menyahuti, ayahnya sudah
mendahului.
Aku harap loo suhu jangan berlaku sungkan! kata
ketua Tiat gu chung. Anakku adalah muridmu, ia telah
menerima budi besar, sudah selayaknya ia membantu loo
suhu, tidak perduli badan nya mesti hancur lebur. Pergi lu
suhu ajak si Kiam! Umpama Ban Loosu kekurangan orang,
untuk dikirim keberbagai tempat, disini aku punya banyak
anak2 yang bisa membantu.
Kau baik sekali, chungcu, terima kasih, kata Eng
Jiauw Ong yang bersukur sekali. Biar lain kali saja aku
terima bantuanmu terlebih jauh. Sekarang adalah cukup
asal Kiam turut aku
Selagi mereka bicara sampai disitu, datang laporan
bahwa To Siauw chungcu datang untuk suatu urusan
penting.

-odwoXIII
Nanti aku ketemui padanya, kata Su touw Kiam
sambil berbangkit. Tentu ada urusan penting mengenai
dusun kita.
To Yong bukan orang lain, baik silahkan dia masuk
saja, sang ayah berkata.
Anak itu menurut, ia lantas keluar, akan sebentar
kemudian balik bersama satu pemuda umur kurang lebih
dua puluh tahun, romannya cakap dan gagah, siapa lantas
memberi hormat pada tuan rumah, baharu pada tetamunya.
Eng Jiauw Ong membalas hormat seraya mengundang
To Lauwtee, silahkan duduk!
Duduk, hiantit, Ong Loosu ada orang sendiri, Su touw
Kun berkata. Ada urusan apa sampai hiantit perlukan
datang kemari?
Barusan saja kami terima laporan dari saudara kami
yang menjaga disungai sebelah utara dusun kita ini, sahut
To Yong, putera dari To Bouw Cian. Saudari itu bilang,
tadi pagi kira2 jam lima, dari arah Hong leng louw ada
datang dua buah perahu nelayan dari Kanglam, yang minta
berlabuh dipelabuhan pedalaman, tetapi karena tidak ada
orang yang ladeni mereka, kesudahannya mereka singgah
diselat Teng ji wan, tempat belukar dan sunyi, setengah lie
dari sungai kita. Disana, jangankan kendaraan air berlabuh,
orang yang lalu lintas juga tidak ada. Peronda kita heran, ia
mendekati untuk melihat, akan tetapi anak2 kedua perahu
itu sudah tolak perahunya kepinggir seraya antara nya ada
yang memberitahukan, katanya diperahu mereka ada orang
sakit, karena pelabuhan ramai, mereka terpaksa berhenti

disitu, ditempat sunyi. Mereka pun menjauhkan perahu


mereka agar tidak kebentur lain perahu, kuatir sisakit kaget.
Saudaraku Tiong, walaupun adanya keterangan ini, masih
ingin tahu, ia terus mendekati sampai empat atau lima
tumbak. Atas itu, kedua perahu itu tidak berdiam lebih
lama lagi, setelah memasang empat atau lima batang hio,
mereka angkat jangkar. Anak buah mereka ada lebih
daripada sepuluh orang. Mereka tidak menggayu cepat,
mereka hanya berlayar pelahan2. Perahu kita terus
mengikuti. Toako pikir, asal kedua perahu itu sudah keluar
dari daerah kita, ia tak mau memperdulikannya lagi. Toako
tidak kuatir mereka itu lakukan apa2 yang melanggar
undang2, kalau perlu bantuan, dia bisa segera bunyikan
gembreng dan lepas panah nyaring. Disekitar kita ada
orang2 ronda, yang bisa segera datang atas tanda bahaya.
Luas sungai kita cuma dua tiga lie, akan tetapi jalannya
berbelit2, hingga jauhnya ada tujuh atau delapan lie, maka
itu, sampai terang tanah, baharu kedua perahu itu sampai
diselat Toh lim wan. Sesampainya disitu, dari hulu
kelihatan tiga buah perahu kecil mendatangi, lalu kedua
perahu itu dengan pesat menghampirinya, hingga mereka
bertemu ditengah2 kali. Kelihatannya kedua pihak bicara
satu dengan lain, setelah mana, api hio di kedua perahu
disingkirkan, dibuang kedalam kali. Sesudah itu, dua buah
perahu kecil ikuti kedua perahu nelayan, jalannya pelahan,
tetapi perahu kecil yang ketiga, yang empat orang
penggapunya, digayu pesat sekali kearah perahu kita.
Setelah datang dekat, nampaknya perahu itu berniat kurang
baik, rupanya dia hendak terjang perahu kita, maka Toako
lantas suruh anak buahnya siapkan gala. Benar benar
perahu kecil itu datang menerjang, dan terjangan tak dapat
dielakkan. Perahu kita terbalik, Toako dan dua kawannya
kecebur keair. Mereka bisa berenang, mereka lantas
berenang ke gili2. Perahu kecil itu juga terbalik, anak

buahnya lenyap, entah mati kelelap atau mereka lari sambil


berenang selulup Dua perahu nelayan berlabuh ditempat
setengah lie jauhnya, disana ada sebuah kereta kuda,
rupanya untuk menyambut. karena dari kedua perahu
digotong naik dua rupa barang berat dinaikkan kekereta,
sesudah mana kereta itu di jalankan, ada lima atau enam
penunggang kuda yang mengiringi menuju kearah Sam
Siauw San. Toako perintah orang jagai perahu yang kelebu
itu, ia sendiri pulang kerumah perkumpulan kita untuk salin
pakaian. Ayah tidak ada dirumah, ia belum kembali dari
Teng kee chung sebab aku tidak berani bertindak sendiri,
dari itu aku mohon pertimbangan loope. Apa perlu kita
kejar dua perahu nelayan itu untuk tahan mereka, guna
dengar keterangannya kenapa mereka terjang perahu kita?
Su touw Kun hendak jawab keponakan itu, tetapi Eng
Jiauw Ong mendului memotong ia dengan menanya, kali
di Utara Tiat gu chung itu, yang mengalir dari Hong leng
touw, apa bukan aliran dari sungai Hong Hoo?
Benar, sahut tuan rumah. Aliran itu menuju langsung
ke Shoatang.
Jadinya, dan Bun hiang untuk menuju ke An hui,
dengan jalan air, apa bukan orang mesti ikuti sungai Hong
Hoo? Eng Jiauw Ong tanya pula.
Itu benar, hanya terlalu memutar dan jauh, terangkan
tian, orang akan menghemat dua ambil jalan air dan darat
bergantian, orang akan hematkan dua atau tiga ratus lie.
Apa Ong Loosu ketahui kendaraan air siapa itu?
Menurut dugaanku, itu mesti ada siorang jahat. Baiklah
chungcu tidak sia2kan tenaga dan tempo akan kejar
mereka. Umpama dapat disusul, kedua perahu itu mesti ada
perahu2 kosong, tidak ada buktinya untuk menahan

mereka. Umpama tadi nya mereka tidak didekati, tidak


nanti mereka bentur perahu di sini
Menurut sangkaan Loosu itu. mereka jadinya ada
orang2 Hong Bwee Pang dari Gan Tong San? Su touw
Kun bertanya pula.
Aku menduga demikian. Dikepala perahu ada
dipasangi hio, adalah isyarat kawanan itu. Itulah hio tin,
yang mesti dipasang setiap dilakukan perjalanan malam,
dengan begitu mereka saling mengenali dan ketahui juga
perahu berada dibawahan tong atau to yang mana. Orang
luar melainkan mengetahui nya, tapi tak dapat
membedakannya. Aku percaya betul, dalam perjalanan ini,
disetiap tempat, mereka mesti dan pasti dapat sambutan
sesama kawan, dan benda yang mereka angkut mestinya
ada kedua murid kita untuk dibawa ke Ciatkang Selatan.
Didarat mereka ambil jalan perbatasan kedua gunung Lam
Siauw San dan Kian San__ Eng leng hu mereka akan
seberangi sungai Lok Sui, akan lintasi kaki gunung Barat
dari Hong San, untuk mengikuti aliran sungai Bun Hoo dan
Hoay __ memasuki daerah An hui. Sekarang silahkan
chungcu pesan untuk jaga saja keselamatan desa, jangan
usil urusan lain. Kawanan itu punya orang orang disegala
tempat, mereka berpengaruh, maka itu paling benar orang
menyingkirkan perselisihan terhadap mereka.
Mendengar demikian, Su touw Kun lantas minta To
Yong pulang akan menitahkan To Tiong se__ pulang
perahu mereka yang karam, dan perahu penyerbupun di
simpan, supaya kemudian penjagan diperkeras.
Kalau nanti ayahmu pulang, beritahukan hal datangnya
Ong lusu dan minta ayahmu suka datang kemari, ketua
Tiat gu Chung menambahkan.

To Yong menurut,
mengundurkan diri.

ia

memberi

hormat

untuk

Setelah itu, Su touw Kun menjamu tetamunya.


Sebentar siapkan pauwhok, Eng Jiauw Ong pesan
muridnya, supaya besok fajar kita bisa lantas berangkat ke
Kwie in po kepada susiokmu, untuk segera berangkat ke
Kanglam. Aku percaya penjahat ambil jalan air,
disepanjang jalan mesti ada kawan2 nya untuk ber jaga2,
kalau2 kita melakukan perampasan ditengah jalan. Cu In
Am cu pun akan menyamper ke Kwie in po untuk bekerja
sama dengan kita.
Su touw Kiam memberitahukan gurunya, bahwa ia bisa
berangkat sembarang waktu, ia harap guru itu tak usah
kuatir.
Adalah niatku akan minta loosu berdiam disini sedikit
nya buat beberapa hari, kata Su touw Kun kemudian.
Tetapi urusan demikian mendesaknya, biarlah lain kali
saja, apabila loosu datang pula ke Tiongciu, kita nanti
berkumpul lebih lama
Chungcu manis budi, lain kali pasti aku akan mampir
pula, Eng Jiauw Ong memberikan kepastian.
Perjamuan dilanjutkan dalam kegembiraan, dan Eng
Jiauw Ong tenggak arak hingga ia agak sinting. Su touw
Kiam heran melihat sikap gurunya itu, yang biasanya paling
keras perbataskan diri. Didalam Hoay Yang Pay, arak tidak
dilarang, tetapi siguru menasihatkan murid nya akan ingat
diri. Pernah satu kali di Ceng hong po, murid ini melihat
gurunya sinting, tapi belum pernah melihat kedua kalinya,
sampai malam ini. Ia insyaf keruwetan pikiran sang guru,
hingga sekali ini, arak hendak dipakai untuk menghiburkan
diri. Ia jadi sangsi. Ia niat cegah gurunya, agar besok tidak

sampai gagal, tetapi ia kuatir guru itu balik tegur ia. Ia


berdiam karena kesangsiannya.
Untuk kesekian kalinya, Eng Jiauw Ong mengangkat
cawannya, tetapi segera ia tercengang, karena diluar dengan
tiba2, ia mendengar suara seperti uang tangchie jatuh
ditanah.
Apakah chungcu dengar? tanya ia sambil berbangkit.
Itulah chee hu toan sin. Pasti Cu In Taysu dari Pek Tiok
Am sudah sampai. Nanti siauwtee sambut dia.
Su touw Kun dan puteranya juga mendengar suara itu,
maka itu, sambil manggut mereka berbangkit, terus mereka
ikuti jago Hoay siang itu bertindak keluar. Tuan rumah
yang tua lalu mendahului tetamunya.
Tayhiap dari See Gak suka hinakan diri dengan datang
ke gubukku ini, tak pantas untuk aku tak menyambutnya,
maka, Ong Loosu, pelahan sedikit, kasilah aku sendiri yang
sambut padanya, agar aku tidak berlaku kurang hormat,
kata ia.
Sesampainya dimuka pintu, cuma dengan pentang
sedikit daun pintu, Su touw Kun sudah lantas mencelat
keluar.
Eng Jiauw Ong lihat itu, ia terperanjat, ia kuatir orang
diluar nanti salah mengerti, maka ia segera menyusul.
Diluar, dibawah payon, tuan rumah hendak loncat
kegenteng, tapi ia segera mencegah.
Sesama orang sendiri, tak usah chungcu pakai banyak
adat peradatan, kata ia. Pasti sekali Cu In Taysu tidak
berani terima kehormatanmu ini.
Mendengar cegahan itu, Su touw Kun merandek, atas
mana, dari atas genteng, mereka dengar perkataan Tee cu
adalah Siu Hui, yang bersama guruku malam2 berkunjung

kemari, ke satu akan tengok Ong Loosu dari Hoay siang, ke


dua untuk menghormat Su touw Chung cu. Guruku
sekarang ada di pintu luar, aku sendiri diperintah untuk
mengabarkan lebih dahulu.
Begitu suara berhenti, lalu disusul dengan berkelebatan
turun satu bayangan manusia.
Tuan rumah tertawa. Benar2 See Gak Taysu kenal adat
sopan santun! kata ia. Mari kita menyambut!
Eng Jiauw Ong manggut, ia mengikuti dengan hati lega.
Tadinya ia kuatir tuan rumah ini hendak coba2 Cu In Am
cu, yang dianggap berlaku kurang hormat sudah memasuki
rumah orang secara diam2. Iapun kagumi tuan rumah, yang
sudah lanjut usianya, tetapi semangatnya masih ber kobar2.
Sebegitu jauh tuan rumah berlaku sa ngat manis budi
kepadanya, itu menandakan bagaimana besar orang hargai
ia.
Su touw Kiam pun perintah empat bujang lantas
nnenyalakan tanglung (tengloleng) untuk mengiringi
mereka, yang menuju pintu pekarangan, dan ketika pintu
dipentang, ialah yang mendahului keluar.
Tepat dimuka pintu ada berdiri satu pendeta perempuan,
yang sudah berusia lanjut, dengan jubanya yang
gerombongan, di lehernya ada bergantung kalung dari
seratus delapan biji tasbe pou tee liam cu dan
dibebokongnya menggemblok sebang pedang yang
runcenya warna kuning, heng uy atau __nye turun ke
pundaknya, romannya alim dan tenang, dikiri dan
kanannya berdiri empat muridnya, jubanya serupa,
seseorangnya masing2 ada menggentol sebuah pauwhok.
Satu dari dua yang berdiri didepan, usianya kira2 lima atau
enam belas tahun, ia membawa permadani rumput untuk
duduk bersamedhi, dan yang satunya, umur kurang lebih

duapuluh tahun, memegang sebatang hong pian san,


senjatanya sang guru. Dua yang dibelakang, umurnya lebih
kurang tiga puluh tahun, juga masing2 ada membekal
pedang.
Dengan cepat Su touw Kiam maju memberi hormat
sambil memperkenalkan diri sebagai wakil ayah dan
gurunya, kemudian ia bertindak kepinggir.
Jangan pakai banyak adat peradatan, siauw chungcu,
kata Cu In yang balas hormat itu.
Eng Jiauw Ong dan Su touw Kun sudah lantas sampai,
yang pertama mendahului maju didepan, sembari memberi
hormat ia kata Am cu datang luar biasa lekas. Aku tadinya
sangka kita akan bertemu di Kwie in po. Ini dan Su touw
Chungcu __pangeni am cu, ia merasa beruntung dengan
pertemuan ini. Ia menunjuk Su touw Kun.
Tuan rumah maju, akan hunjuk hormatnya.
am cu. bukan kepalang girangku atas kunjungan am cu
ini, kata tuan rumah itu. Am cu ada pendeta suci, tertua
dari Rimba Persilatan, dan pedang Tin hay Hok po kiam
telah menggetarkan See Gak, itulah sebab yang bikin aku
ingin lebih siang menemuinya, beruntung sekali malam ini
am cu telah berkunjung kemari!
Cu In Taysu membalas hormat.
Harap loo chungcu tidak terlalu memuji pin nie, kata
ia. Namaku terangkat karena kebaikan budinya para tertua
Rimba Persilatan, sebaliknya kegagahan loo chungcu
sendiri sudah termasyhur tetapi loo chungcu bisa
kendalikan diri, menjauhi segala kerewelan, sebaliknya pin
nie walaupun jadi pengikut sang Buddha, pin nie tidak bisa
menyamainya, pin nie malu sendiri. Pin nie pun mohon
maaf yang pin nie telah datang mengganggu malam ini.

Am cu terlalu sungkan, kata tuan rumah. Tak dapat


kita bicara sambil berdiri saja, silahkan am cu masuk
kedalam gubukku.
Sama2 orang Rimba Persilatan, tidak usah kita terlalu
sungkan, kata Eng Jiauw Ong Am cu, silahkan Semua
murid mudapun kusilahkan masuk.
Keduanya tuan rumuh, ayah dan anak, serta Eng Jiauw
Ong minggir, untuk persalahkan kelima tetamu masuk,
empat bujang membawa tengloleng jalan dikiri dan kanan.
Mereka pergi ke thia (ruangan) dimana sisa makanan telah
dibersihkan. Dua batang lilin yang besar menerangi
ruangan itu.
Atas undangan tuan rumah, Cu In Am cu lalu berduduk
dan empat muridnya berdiri disampingnya, karena mereka
ini tidak berani berduduk, walaupun tuan rumah telah
mengundangnya.
Kapan Su touw Kun sebagai tuan rumah sudah duduk,
Cu In perintah empat muridnya hunjuk hormat mereka,
juga terhadap Eng Jiauw Ong. Murid yang termuda adalah
Siu Seng, murid nomor tujuh.
Segera juga orang telah mulai pasang omong, sesudah
mana, tuan rumah baharulah kagumi nikow tua itu, yang
manis budi. Eng Jiauw Ong pun tanya, kenapa nikow itu
bisa menyusul demikian cepatnya
Inilah
karena
kawanan
kurcaci
itu
sangat
menjemukan, sahut Cu In dengan sengit Selagi aku tidak
ada dikuil, orang2 mereka sudah datang dengan diam2 dan
melepas api, terang mereka ingin bakar musna tempat
bernaungku itu. Syukur suteeku Ham Cin Taysu, yang
menjaga ruangan Koan Im Tong, siang2 telah mengetahui
itu, sembari ia perintah murid2ku padamkan api, ia sendiri
kejar orang orang jahat itu. dua antaranya kena dilukai. Api

berhasil dipadamkan setelah ruangan kitab dibelakang jadi


kurban. Demikianpun lima kamar makan. Beruntung api
belum sempat memusnakan ruangan suci Sian tong. Ham
Cin Sutee sangat gusar hingga ia sumpah hendak
membasmi kawanan itu. Aku pulang terlambat, dari itu aku
sendiri tidak dapat susul lagi orang2 jahat itu. Belum pernah
ada orang berani ganggu Pek Tiok Am, karena itu, aku
sumpah akan membalas sakit hati. Dengan menyerahkan
pembetulan kuil kepada Ham Cin Sutee, aku bisa lantas
ajak murid ku menyusul kemari, karena aku percaya, kau
masih berada disini. Ditengah jalan tadi, pin nie telah
bertemu dengan Kim too Thong Cin Wie, piauwsu
kenamaan dari Utara. Menurut Thong Piauwsu ini, ketika
ia sampai di perhentian Hoa louw ek, disebelah Barat
penyeberangan Hong leng touw, ia telah lihat serombongan
orang yang mencurigai, ia perintah orangnya pasang mata,
kemudian ternyata mereka itu bukan membuntuti Thong
Piauwsu, hanya mereka bawa dua daging hidup. Katanya,
dimana saja mereka sampai, mereka itu disambut oleh
konco2 mereka. Mereka itu menuju Eng leng hu. Thong
Piauwsu tidak hendak mencari permusuhan, ia biarkan
mereka itu. Aku duga rombongan itu adalah musuh2 kita
yang melarikan murid2 kita. Aku pikir mereka mesti dicegat
sebelum mereka keburu sampai kesarangnya, dari itu,
umpama suheng sudah tidak punya urusan apa2 lagi, mari
kita lekas pergi ke Kwie in po, untuk mengatur orang2
kita.
Dengan daging hidup diartikan orang2 culikan.
Eng Jiauw Ong jadi sangat gusar, hingga ia mencelat
bangun.
Sabar, tuan rumah mencegah. Biar bagaimana,
baiklah besok pagi baharu loosu beramai berangkat.

Tuan rumah perintah lekas sajikan barang makanan


ciacay, untuk kelima tetamunya yang baru, dan Eng Jiauw
Ong diminta turut menemani bersantap, ia bersama
anaknya pun turut dahar juga.
Karena ini, orang bersantap sampai fajar menyingsing.
Setelah itu, Eng Jiauw Ong bersama Cu In dan murid2nya
duduk bersemedhi, akan tunggui sang waktu, dan tuan
rumah serta orang2nya pada rebahkan diri. Selang dua jam,
sesudah semua cuci muka dan dandan, minum teh dan
makan kue2, kedua pihak lantas ambil selamat berpisah. Su
touw Kiam pun pamitan dari ayahnya.
Demikian tujuh orang itu melakukan perjalanan dengan
cepat, apa lagi matahari mulai doyong ke barat, mereka
sudah sampai di kaki gunung Kian San, yang bagus
pemandangan alamnya, dan sepepanjang jalan tertampak
pohon2 murbei, jie, liu dan cemara. Untuk naik, ada sebuah
jalanan untuk orang atau orang berkuda, tapi kereta tak
dapat naik sama sekali. Diatas itu ada tanah datar luas kira2
setengah lie. Itulah mulut jalanan untuk memasuki sie in
po, dimana ada tembok yang tingginya setumbak setengah
atau lebih.
Semua rumah dibuat dari batu, wuwungannya hijau
dengan rumput halus, hingga dari kejauhan
kelihatannya tak mirip dengan rumah, sedang diwaktu
lohor, awan atau kabutpun seperti menutupi desa itu. Hati
orang gembira apabila sudah melihat tempat yang indah itu.
Apakah Am cu pernah datang ke Kwie in po? tanya
Eng Jiauw Ong selagi mereka mendaki kaki gunung.
Inilah untuk pertama kalinya, sahut Cu In. Tapi
sudah sejak lama pin nie dengar Kwie in po ada sebuah
tempat indah dari Kian San dan sejak Siok beng Sin Ie
bertempat disini, kabarnya segala apa telah diperbaiki

hingga mirip dengan See gwa Toh Wan, itu dunya


bertaman bunga toh menurut dongengan. Kwie in po
seperti juga Tiat gu chung ada tempat2 yang sudah sekian
lama pin nie niat kunjungi, sayang sampai sebegitu jauh
belum ada ketikanya.
Am cu, Eng Jiauw Ong menerangkan, Kwie in po ini
memang terjadi, separuh wajar dan separuh buatan
manusia. Suteeku Ban Liu Tong lah yang dapat pikiran,
untuk memperbaikinya. Kecuali ilmu silat, Liu Tong juga
mempelajari ilmu obat2an dan nujum, dan karena otaknya
yang cerdik, ia mengerti segala macam senjata rahasia.
Kwie in po ini, siang orang bisa lihat tegas, tetapi kapan
sang malam sampai, bagi orang, asing, sulit untuk
memasukinya, atau orang akan tersesat didalam dusun atau
dilembah atau selat, sukar untuk mencari rumahnya suteeku
itu. Inilah sebabnya, kenapa selama berdiam disini, Ban
Sutee belum pernah mengalami gangguan.
Selagi bicara, mereka sampai dimuka jalanan, untuk
hampirkan pintu dusun, jalanan naik ada dari batu dan
lebar. Dari sini, memandang keatas, kearah pintu, tidak
kelihatan orang atau orang yang menjaga pintu itu.
Lihat, am cu, pintu yang dipentang lebar2 itu, kata
Eng Jiauw Ong pada kawan sejalannya. Tidakkah ini
mirip dengan pintu masuk dari kebanyakan dusun? Selama
kita berdiri disini, mengawasi saja keatas, penduduk desa
tidak akan perdulikan kita, akan tetapi begitu lekas kita
mendakinya, segera kita akan hadapi penjaga yang
bersenjatakan panah peluru.
Apakah mereka bisa lihat tegas atau bedakan umpama
yang datang ada orang sendiri? Cu In tanya. Jaraknya
ada cukup jauh. Apakah itu tidak membahayakan kawan
sendiri?

Am cu tanyakan hal yang sewajarnya, sahut Eng


Jiauw Ong. Untuk itu Ban Sutee sudah siap. Dia
mempunyai pesawat Bong wan tong, keker buatan orang
Biauw, yang ia telah perbaiki, hingga dengan itu ia bisa
lihat tegas orang ditempat yang jauh nya satu lie. Dengan
pesawat itu, ia tak pernah keliru melihat orang. Harap am
cu tunggu sebentar, aku hendak memanggil orang.
Eng Jiauw Ong bertindak di tangga. Ia baharu naik lima
tindak, segera dari atas terdengar mengaungnya panah
nyaring, disusul oleh munculnya lima penjaga dimuka pintu
sekali, antara siapa lantas ada yang menegur. Siapa itu
dibawah? Untuk naik keatas, harus kau perkenalkan diri,
atau kami nanti melepas anak panah!
Tolong kau beritahukan Ban Po cu, Ong Too Liong
dari Lek Tiok Tong, Ceng hong po, datang berkunjung,
Eng Jiauw Ong menjawab dengan cepat.
Silahkan tuan menantikan, kami akan segera
menyampaikan kabar! demikian suara diatas, yang
berubah sikapnya, kemudian satu diantara mereka segera
mengundurkan diri. Setelah itu, seekor burung dara putih
kelihatan terbang naik, menuju kepedalaman dusun itu.
Lihat, am cu, kata Eng Jiauw Ong. Penjagaan ada
demikian rupa, orang luar tak dapat sembarang masuk
kemari. Burung dara itu adalah pembawa berita. Rumahnya
ketua dusun ini masih ada setengah lie dari pintu ini.
Dengan perantaraan burung, warta bisa dikirim dan
diterima dengan cepat.
Perkataannya Eng Jiauw Ong ternyata benar, karena
cepat sekali seekor burung dara abu2 telah terbang datang,
akan turun dimuka pintu, menyusul itu penjaga2 pintu itu
lantas bertindak turun. Sesampainya didepan Eng Jiauw
Ong, mereka memberi hormat sambil mengatakan

Maafkan kami, orang2 yang mempunyai mata tetapi tidak


kenali tetamu yang mulia. Po cu kami mengundang loosu
masuk, po cu akan segera keluar sendiri untuk
menyambut.
Kita ada diantara orang sendiri, jangan seejie, kata
Eng Jiauw Ong sambil manggut, setelah mana, ia
mengundang Cu In Am cu mengikuti ia.
Chungteng itu segera jalan didepan, untuk memimpin.
Begitu lekas sudah sampai di atas, Cu In segera melihat
suatu tanah datar yang lebar serta rumah penduduknya
yang bikin ia kagum, karena barisan rumah itu merupakan
sebagai Pat tin touw, barisan atau tin nya Cu kat Liang.
Semua rumah dibuat dari batu, tinggi dan besar, teratur
rapi, itulah Pat kwa, atau Pat mui, yang bisa berubah
menjadi enam puluh empat kwa atau mui (pintu).
Mereka berjalan belum lama, lalu dari sebelah depan,
dari tikungan jalanan, muncul serombongan orang, melihat
siapa Eng Jiauw Ong segera menunjuk seraya berkata pada
sipendeta perempuan tua Lihat, amcu, orang dengan baju
kuning itu adalah Ban Sutee.
Cu In segera kenali orang yang ditunjuk itu, yang
tubuhnya berimbang dengan tubuhnya Eng Jiauw Ong,
melainkan sedikit kurus, sepasang alisnya yang gomplok
menaungi sepasang mata yang tajam seperti mata burung
hong, dahinya lebar, kumis nya hitam, kepalanya rada
gundul, thungshanya yang kuning ada memakai kancing
tembaga, kaos kakinya putih, sepatunya biru. Dia menyekal
sebatang kipas bambu, nampaknya agung. Dia diiringi oleh
dua chungteng serta dua pemuda, yang masing2 berusia
kurang lebih sembilanbelas dan empat belas tahun.
Sebentar saja Ban Liu Tong sudah datang dekat, segera
ia memberi hormat pada Eng Jiauw Ong seraya berkata

Suheng, harap maaf kan aku, yang lambat menyambut.


Dengan sebenarnya aku tidak ketahui kedatangan suheng
ini.
Jangan seejie, sutee, Eng Jiauw Ong membalas
hormat. Mari aku perkenalkan kau kepada See Gak Lie
hiap Cu In Am cu dari Pek Tiok Ain di bukit Chong Liong
Nia dari pegunungan See Gak Hoa San. Dan ini adalah ke
empat muridnya.
Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong, si Tabib Malaikat, pun
sudah lantas memberi hormat pada nikow tua itu seraya
berkata dengan merendah See Gak Tay hiap, selamat
datang! Kunjunganmu ini membuat gunungku Kian San
menjadi bercahaya! Silahkan am cu memasuki gubukku,
disana aku nanti memberi hormat pula kepadamu.
Dengan merangkapkan
membalas hormat.

kedua

tangannya,

Cu

In

Ban Po cu, justeru pin nie adalah yang kagumi kau


untuk bugeemu yang liehay dan kepandaian ketabibanmu
yang luhur hingga kau sangat ternama, terutama untuk
kebaikan budimu terhadap umum. Sudah lama pin nie niat
mengunjungi, maka sekarang pin nie girang sekali Ong Tay
hiap telah pimpin aku datang kemari. Memang pin nie ingin
sekali saksikan dusunmu ini. Nah, silahkan, po cu!
Selagi tuan rumah merendahkan diri, Su touw Kiam dan
empat muridnya Cu In maju untuk memberi hormat pada
mereka.
Sutee, kemudian Eng Jiauw Ong kata pada adiknya
seperguruan, walaupun am cu seorang suci tetapi ia gagah
dan mulia, tentang ini, sutee pasti sudah ketahui, karena itu
tak usah sutee pakai terlalu banyak adat peradatan. Mari
kita berlaku seperti biasa saja.

Ban Liu Tong bersenyum. Setelah pesan orangnya akan


tutup pintu dan jangan ijinkan orang luar sembarang
masuk, ia terus undang tetamu2nya berjalan menuju
kerumahnya.
Ketika itu, Kwie in po telah terbenam dalam cuaca
magrib Tidak jauh dari situ, mereka menghadapi empat
buah jalan besar, yang rupanya mirip satu dengan lain.
Disini Ban Liu Tong mengambil jalan yang paling kiri. Dari
tikungan lantas muncul dua chungteng dengan masing2
membawa sebuah lentera besar dengan tiga huruf Kwie In
Po. Mereka berdiri dengan tegak bagaikan patung2.
Cu In Am cu melihat jalanan tidak lempang, karena ia
sedang bertindak kearah Barat laut, atau garis Kian kwa
dari Pat kwa. Ia berjalan terus tanpa ber kata2.
Selagi jagat remeng2, rombongan ini sampai dimuka
sederetan rumah batu yang besar dengan pintu pekarangan
dari kayu hitam. Jalanan disinipun terbagi empat. Rumah2
semua serupa, tapi semua pintunya tertutup, hingga suasana
sunyi senyap.
Ban Liu Tong menuju ke arah yang Cu In Am cu kenali
sebagai arah kham kiong atau khay mui, pintu buka.
Baharu mereka memasuki pintu, entah dari sebelah mana
datang nya, tahu2 muncul dua chungteng lain, yang
masing2 membawa lentera juga. Lewat tidak jauh dari situ,
kembali ada jalan perapatan. Dari sini mereka berjalan
sebentar ke Timur sebentar ke Barat. Eng Jiauw Ong pernah
datang kemari, ia tidak kagum dan Cu In, yang mengerti
Pat kwa, pun sewajarnya saja. Sembari jalan mereka bicara
sambil ter tawa
Sebentar lagi sampailah mereka kepusat Kwie in po,
sekeluarnya dari sebuah jalan atau gang, mereka segera
melihat suatu pekarangan yang luas, didelapan penjuru

mana masing2 ada dua chungteng serta masing2 juga


lenteranya.
Diantara cahaya lentera, kelihatan nyata rumahnya Ban
Liu Tong, yang letaknya ditanah lebarnya beberapa bauw,
yang terkurung dengan tembok besar, berpintu diempat
penjurunya, disetiap pintu dipasangi lentera khie su hong
dan terjaga oleh empat chungteng. Bentuknya rumah itu
luar biasa, apapula dipandang di waktu malam.
Tuan rumah segera mengundang para tetamunya
berduduk diruangan tamu, yang perabotannya sangat
sederhana tetapi bersih. Satu chungteng sudah lantas
muncul dengan membawa air teh.
Segera juga murid ke enam dari Cu In Am cu yalah Siu
Yan hampirkan tuan rumah untuk memberi hormat sambil
berlutut, seraya berkata Sudah lama anak tidak datang
menjenguk, sekarang anak lihat gie hu sehat walafiat,
hatiku girang sekali.
Eng Jiauw Ong heran melihat muridnya nikow tua dari
See Gak itu memanggil suteenya dengan sebutan gie hu,
ayah angkat. Benar Cu In pernah me nyebut2 hal itu, akan
tetapi duduk nya hal yang benar ia belum ketahui.
-o0dw0oXIV
Cie In, bangun, berkata Ban Liu Tong. Kau telah
mengikut am cu, yang memimpin kau kepada Pou sat dan
sang Buddha, dengan am cu yang berilmu tinggi dan
menjadi pemimpin dari See Gak Pay, kau harus bisa
membawa diri, agar dibelakang hari kau memperoleh
kemajuan, supaya setelah insaf, kau bisa bebaskan dirimu,
hidup merdeka dan tenteram. Dengan kau bisa berdiri

sendiri, aku siorang tua pasti akan merasa lega hati. Jangan
kau lihat saja tubuhku yang kurus, aku sebenarnya masih
akan hidup untuk sekian tahun pula. Oleh karena itu, tak
usah kau pikirkan aku. Sekarang kau tengah mengikut su pe
dan su humu, ini adalah diluar garis, maka dilain kali,
cukup setahun sekali kau menyambangi aku disini. Setiap
waktu aku kangan kepadamu, aku sendiri bisa tengok kau
di Pek Tiok Am. Aku melarang kau mengabaikan
pelajaranmu melulu karena kau ingin menyambangi aku.
Kau ingat ini?
Liap Cie In berbangkit, kedua matanya merah kemudian
ia tunduk ketika ia berkata Anak akan turut pesan gie hu,
tidak nanti anak melanggar ajaran suhu. Malah anak
bersukur kepada suhu, yang sudah merawat dan mendidik
padaku. Melainkan anak tetap tak bisa melupai gie hu, lari
itu, apabila ada ketikanya, anak harap sudilah gie hu
melihat aku.
Mendengar itu, Ban Liu Tom menunjukkan roman
masgul, suatu tanda ia sangat terharu.
Eng Jiauw Ong pun turut terharu melihat kecintaan
diantara ayah dan anak itu, sedang mereka adalah ayah dan
anak angkat saja.
Oh mie to hud! Siancay siancay! Cu In memuji.
Amcu, kata Liu Tong kemudian, aku bersukur yang Am
cu sudah sudi menerima anak ini dan merawat serta
mendidiknya. Kasihan Cie In, ia ini seorang anak yatim
piatu. Aku nanti ingat baik2 budi am cu ini.
Po cu, kenapa kau berlaku begini seejie? berkata
pendeta itu. Persahabatan kita bukannya persahabatan
orang biasa saja Siu Yan mempunyai bakat baik ilmu
silatnya juga sudah mempunyai dasar, dengan sedikit
menunjukan dia telah berhasil. Aku harapkan dia kelak

dapat memajukan See Gak Pay, supaya dia menjadi


akhliwaris dari Pek Tiok Am.
Semua itu mengandal kepada belas kasihan am cu saja,
Liu Tong bilang. Kemudian ia menoleh pada saudara nya
seperguruan, ia berniat menanyakan suheng itu datang ber
sama2 Cu In Am cu, mungkin ada suatu urusan, tapi
justeru itu datang satu orangnya yang memberitahukan
barang santapan sudah disajikan dikamar Timur, maka ia
batallah menanyakan, ia terus mengundang tetamunya
untuk bersantap.
Marilah! kata ia, yang terus pimpin Cu In dan Eng
Jiauw Ong, yang lalu berbangkit mengikuti dengan diturut
oleh murid2 mereka.
Kamar Timur, kamar tetamu, besar, tetapi perabotannya
sederhana. Disitu telah diatur empat buah meja, dua
antaranya menghadapi pintu. Satu meja untuk barang
santapan biasa, satu meja pula untuk makanan cia cay. Cu
In Taysu pantang tetapi Eng Jiauw Ong tidak. Tapi
pemisahan ini tidak mengurangkan kegembiraan mereka.
Sutee, tanya Eng Jiauw Ong tengah berminum,
waktu kapan kau ambil anak angkat ini, kenapa aku tidak
tahu?
Eng Jiauw Ong tanya tentang Siu Yan atau Cie In.
Sudah lama suheng asingkan diri di Ceng hong po,
sudah pasti suheng tak tahu apa yang terjadi denganku
disini, sahut sang adik seperguruan. Enam atau tujuh
tahun sejak aku tinggal di Kwie in po ini, aku berhasil
membikin tempatku ini jadi seperti adanya sekarang.
Adalah niatku akan tinggal dengan tenteram sambil
mendidik murid, untuk tidak campur lagi urusan umum
yang memusingkan kepala, sayang ada muridku, yang
bocorkan hal aku mengerti ilmu ketabiban, hingga tempatku

ini jadi tidak tenteram pula, selalu ada orang orang sakit
yang datang minta pertolongan. Selain tolong periksa
penyakit, apabila orang itu miskin, aku suka mengamal obat
juga, aku suka menderma, hanya dari hartawan2 kikir dan
kejam, aku suka minta jumlah yang besar. Kalau orang
jahat, aku tidak suka tolongi sama sekali. Pada tiga tahun
yang lalu aku telah menolong seorang hartawan she Kan
didustai Cio khauw ek, enam puluh lie dari sini. Dia
bernama Kan Hong, berharta sejak tiga turunan. Dalam
usia kira lima puluh tahun, ia baharu dapati satu anak lelaki
yang berpenyakitan sampai umur lima belas tahun, boca itu
tak dapat berdiri, karena kakinya sangat lemah. Kan Hong
sudah pakai banyak tabib dan obat, semua itu tidak
menolong. Ia jadi sangat berduka, karena itu bisa
memutuskan turunannya, sehingga ia lepas kata ia suka
serahkan semua hartanya asal anaknya itu sembuh.
Baharulah kemudian ada orang pujikan aku kepadanya dan
ia lantas mengundang aku. Aku telah obati anak hartawan
itu, setelah aku selidiki si hartawan adalah seorang berhati
murah. Anak itu jadi lemah tubuhnya sejak dalam
kandungan, karena bibit tua dan kurang penjagaan diri dari
ibu nya dan kemudian, setelah terlahir, dapat pertolongan
tabib2 tak tepat. Untuk menolong anak itu, aku mesti
menggunakan tempo dan apa yang aku bisa. Justeru karena
aku menolong keluarga ini, aku jadi bertemu dengan
anakku Cie Im.
Untuk setengah bulan, aku berdiam di Cio khauw ek, di
hari ke enam belas, malamnya, aku mesti mengobati
dengan tusukan jarum. Untuk itu aku minta sebuah kamar
tersendiri, lengkap dengan persediaannya, dan beberapa
bujang mesti menanti diluar kamar, siap sedia bagi segala
titahku. Terutama aku larang orang terbitkan suara berisik,
untuk tidak mengganggu pemusatan perhatianku orang
mesti tunggu aku panggil atau ijinkam baharu orang boleh

bicara denganku. Juga tak seorangpun boleh masuk


kedalam kamar kecuali dengan perkenanku.
Kan Hong demikian ceritanya Ban Liu Tong terlebih
jauh, taati segala permintaan dan larangan itu. Cuma dua
bujang membantui Liu Tong, akan memegangi kedua
lengan dan kakinya sisakit, untuk bikin sisakit tak mampu
bergerak, andaikata dia berontak sebab kesakitan.
Cara pengobatan istimewa itu telah, berhasil dilakukan,
boleh dibilang si sakit bisa lantas mengaraki kedua kaki dan
tangannya, tetapi selagi Ban Liu Tong pesan kedua bujang,
bagaimana mereka harus menjaga dan merawat selanjutnya
pada majikan muda itu, tiba2 terdengarlah suara berisik
disebelah Barat dan suara genteng pecah terdengar nyata.
Liu Tong kerutkan alisnya. Disaat itu, ia masih belum
boleh segera tinggal pergi si sakit itu. Ia sekarang
mendengar dampratan dan bentakan, seperti orang saling
maki dibarengi dengan suara pertempuran. Ia ingin melihat
tetapi tidak bisa.
Suara apa itu? ia tanya kedua pembantunya.
Rupanya kejadian dekat sekali. Apa itu perampokan atau
polisi sedang mengepung penjahat?
Bujang Kan Hok hendak menjawab, atau majikan nya
segera bertindak masuk kedalam kamar. Kan Hong
semenjak tadi berdiri menantikan diluar jendela, ia hendak
masuk, ia kuatir mengganggu si tabib, hatinya sendiri
tegang bukan main, ia berlega hati kapan ia lihat anaknya
bisa geeraki kaki tangannya.
Ayah, kakiku telah bisa digeraki! kata sang anak, yang
mendahului ayahnya. Cuma aku merasakan sangat
sakit.

Tahan saja, anak, ayah itu menghibur. Ban Loosu


adalah penolongmu, dia pasti akan menolong terus
padamu. Sabarlah.
Jangan kuatir, puteramu akan sembuh, Ban Liu Tong
berkata. Biar dia tahan sakit sedikit, sebentar darahnya
akan jalan dengan rapi. Suara berisik apa itu di Barat?
Hampir pikiranku terganggu oleh karenanya, itulah pasti
pertempuran hebat. Apa tak ada orang yang mencampur
tahu?
Kan Hong menggelengkan kepala, ia batuk batuk.
Harap jangan tanyakan itu, loosu, ia menjawab.
Itulah lelakon balas membalas dikalangan kang ouw,
sangat kejam dan hebat, bulu roma bisa berdiri oleh
karenanya
Selagi Ban Liu Tong hendak bertanya pula, ia lihat
cahaya api dari jendela, hingga ia jadi kaget sekali.
Itulah api! kata ia. Kebakaran!
Kan Hong pun kaget, hingga ia banting kaki.
Celaka! ia berseru. Inilah yang aku kualirkan dan
sekarang benar2 kejadian! Rumahnya Liap Piauwsu
kebakaran
Tapi tiba2 ia berhenti, karena segera ia ingat anaknya.
yang tak boleh kaget. Lekas2 ia tambahkan Tapi tidak apa
dengan rumah kita, api itu terpisahnya sebuah gang, api tak
akan merembet kemari. Kemudian ia teruskan pada si
tabib Loosu, berapa lama lagi kau baharu boleh keluar?
Nanti aku temani kau me lihat2 kesebelah.
Walaupun ia bicara dengan sabar, Kan Hong sebenarnya
bingung.

Sekarang sudah boleh, Liu Tong jawab. Mari kita


lihat.
Ia pesan pula Kan Hok berdua, lantas ia ajak tuan rumah
pergi kepekarangan dari mana tertampak api sudah
berkobar besar, asapnya mengepul naik, suara senjata
beradu masih terdengar ber ulang2.
Kalau api tidak segera padam, rumahku bisa kerembet,
kata Kan Hong. Nampaknya nama besar dari Liap
Piauwsu akan runtuh.
Jangan kuatir, tuan, kata Liu Tong, sesudah ia
perhatikan api. Angin meniup dari arah Barat daya, tidak
mudah api menyamber kemari. Kau sebut Liap Piauwsu,
apakah dia Seng chiu Pek Wan Liap Kun, piauwsu tua
kenamaan disungai Tiang Kang Selatan dan Utara, dijalan
darat dan air, yang benderanya berlukiskan lutung putih?
Benar, Liap Kun Loopiauw su si Lutung Putih, Kan
Hong menjawab. Apakah loosu kenal padanya?
Aku cuma pernah ketemu satu kali, Liu Tong
menjawab, tetapi dengan salah seorang saudara
seperguruanku, dia ada bersahabat rapat. Aku ingin ketahui
duduknya hal, tak dapat dia dibiarkan dicelakai orang.
Kan Hong terperanjat.
Itulah berbahaya, loosu, kata ia, dengan maksud
mencegah. Aku ada tetangganya Liap Piauwsu, mengenai
halnya ini aku tahu juga. Sudah sekian lama Liap Piauwsu
mengundurkan diri, ia hidup dengan damai di rumahnya,
tapi katanya dahulu ia pernah bermusuhan dengan Heng
San Ngo ok. Karena permusuhan itu, ia mengundurkan
diri. Sebenarnya ia senantiasa ber jaga2, ia kuatirkan
pembalasan sakit hati, tapi sekarang, selang tiga tahun,
kekuatirannya itu terbukti. Inilah pasti Heng San Ngo ok

yang datang. Buat apa loosu campur urusan mereka?


Permusuhan dikalangan kang ouw memang tak habis2nya.
Bagaimana dengan anakku? Biar rumahku terbakar habis,
asalkan anakku ketolongan
Ketika itu api berkobar semakin besar dan luas.
Tuan, jangan kuatirkan anakmu, Liu Tong menghibur.
Sekarang pergi kau titahkan semua orangmu berkumpul,
akan menyiapkan gala dan air guna menjaga api, jangan
kau campur tahu urusan disebelah itu, aku percaya
penjahatpun tidak nanti mengganggu kau. Kau sendiri
baiklah kawani anakmu.
Setelah mengucap demikian, dengan tidak membuka lagi
bajunya yang panjang, tabib ini loncat keatas genteng
sebelah Barat, dari situ ia melihat nyata rumahnya Liap
Piauwsu, yang sedang dimakan api didua penjuru, sama
sekali tidak ada orang yang menolongi, hingga ayam jago
merah bisa bekerja dengan leluasa. Cuma dibagian lengah,
yang masih utuh, tetapi toh sedang terancam bahaya.
Untuk menyaksikan terlebih jauh, Ban Liu Tong loncat
ke tembok pekarangan. Disini, amarahnya naik. Karena ia
lihat, dikiri dan kanan, orang mulai membakar pula.
Dengan begitu jadi yelaslah, diempat penjuru ada orang2
jahat, antara siapa pun ada yang siap sambil
menyembunyikan diri.
Dengan lompatan It hoo ciong thian - Burung ho
menyerbu langit, Ban Liu Tong melompat ke sebelah
Timur, menyusul mana, tiga atau empat batang panah
menyamber ia, tetapi sambil tertawa ia bisa elakkan itu. Ia
sampai disebagian wuwungan dimana ia segera
menyaksikan pemandangan yang hebat.
Diluar pintu angin ada dua tubuh rebah, yang satu sudah
jadi mayat, yang satu lagi sedang mencoba merayap

bangun. Disitu darah berlumuran. Disebelah dalam, lagi


satu tubuh rebah tak berkutik. Dan dipekarangan dalam,
yang lebar, empat orang dengan pakaian malam tengah
mengurung seorang perempuan muda, siapa nampaknya
sudah lelah, permainan goloknya kendor, sudah terdesak.
Sahabat2, dengar! ia berseru, dengan hati tak puas.
Orang2 kang ouw yang kosen mengepung satu wanita,
sungguh bukan perbuatan terhormat! Sahabat2, tunggu
dulu, aku si orang she Ban yang bodoh ingin mendamaikan
kamu kedua fihak. Maukah kamu mengabulkan
permintaanku?
Salah satu pengurung meloncat keluar seraya
mendongak untuk melihat dan berkata Siapa berhutang,
dia mesti membayar, inilah urusan kami, orang luar tak
dapat mencampurinya! Sahabat, silahkan minggir! Atau
kapan kau ingin mendapat bagian, silahkan turun!
Sahabat2, aku Ban Liu Tong dari Kwie in po, dari
gunung Kian San! tabib itu perkenalkan diri. Walaupun
di antara kau ada permusuhan hebat, tetapi keluarga Liap
Piauw su telah banyak terbinasa, aku harap kau tidak
membasmi sampai di akar2nya! Lagipun bukan perbuatan
gagah akan main ke royok2an terhadap satu nona! Dengar
sahabat2, berhentilah bertempur. Umpama kata kau tak
sudi mengindahkan padaku, harap kau jangan menganggap
aku tidak memakai aturan lagi!
Selagi mereka berbicara, sinona telah kehabisan tenaga,
goloknya satu penjahat, yang mendesak ber ulang2, sudah
mampir dipundaknya, akan tetapi sukur, sambil menjerit, ia
sempat juga berlompat, hingga ia terluka tak parah.
Menampak demikian, Ban Liu Tong enjot tubuhnya,
akan meloncat turun. Ia jatuh didepan si nona, siapa sudah
membalik tubuh, karena penyerangnya susul ia untuk

diserang terlebih jauh. Maka itu, sambil putar tubuh, tabib


ini sampok lengannya orang itu, berbareng mana, tangan
kiri nya, dengan dua jari, menotok kearah pundak kanan. Ia
menggunai tipu pukulan Sian jin cie louw atau Dewa
menunjukkan jalan, dan sasarannya adalah jalan darah
Coan sim hiat.
Penjahat itu mencoba mengegosi diri, tidak urung ia
kena tertotok juga, berbareng merasa gatal, goloknya
terlepas dari cekalan, tubuhnya sempoyongan, kearah satu
kawannya, yang lantas menyanggapinya.
Ie Seng, Ngo tee, tahan! berseru penjahat yang
pertama kapan ia saksikan kejadian itu. Lalu ia bersiap
dengan sepasang tumbak Kee jiauw piauw, ia hadapi orang
asing itu kepada siapa ia terus menegur Orang she Ban,
apakah kau sanak atau sahabatnya siorang she Liap? Kau
malang ditengah, apakah kau tahu duduknya permusuhan
kita? Orang she Ban, kau orang kang ouw, kau pasti
mengerti aturan. Permusuhan kami tak dapat dihabiskan
dengan cara lain kecuali ini, dari itu, baiklah kau mundur!
Kecewa kalau kau tetap mau mencampurinya!
Ban Liu Tong bersenyum ewa mendengar nasihat itu.
-o0dw0oXV
Perhatikan, jangan berkisar jauh dari aku! kata tabib
dari Kwie in po pada sinona, sesudah mana, ia mengawasi
penjahat itu, yang bicara dengan lidah Kang lam. Ia kata
Kau benar, sahabat, aku memang belum tahu duduknya
persengketaan kau kedua pihak. Apakah kau sudi
perkenalkan diri terlebih dahulu?

Aku adalah Co tee Giam Ong Siang Cun Yang dari


Heng San, sahut penjahat itu, yang mau perkenalkan diri.
Kami terdiri dari lima saudara, aku yang bodoh menjadi
yang tertua. Sahabat, kau toh punyakan pendengaran,
bukan?
Kiranya kau Siang To cu dari Keng San Ngo gie,
maafkan aku! berkata Ban Liu Tong. Sebagai murid
Hoay Yang Pay, selama berdiam di Ceng hong po, Hoay
siang, sudah lama aku mendengar nama besar dari Heng
San Ngo gie, yang kenal persahabatan, hanya sejak keluar
dari perguruan dan tinggal di Tiong ciu belasan tahun, aku
tak pernah mendengar pula tentang kamu berlima. Siang To
cu, bagaimana duduknya hal? Kau sekarang bersikap
membasmi, itu bukan biasanya perbuatanmu dulu2.
Sudikah kau memberikan keterangan padaku? Tentang
nona ini, ia tambahkan, seraya menunjuk nona itu, dia
bukan sanak, bukan sahabatku, malah she dan namanya
pun aku tidak tahu, baharu tadi saja satu sahabatku
memberitahukannya. Jangan kuatir sahabat, aku yang
berani campur tahu, berani juga menanggung jawab nya.
Tidak nanti nona ini kabur dan menghilang, atau aku nanti
memikul tanggungan!
Penjahat itu tertawa dingin.
Pantas kau berani campur tahu urusannya siorang she
Liap, kiranya kau Tay hiap Ban Liu Tong dari Hoay Yang
Pay! berkata ia yang menyebut orang dengan tay hiap atau
pendekar. Benar kita belum pernah ketemu satu dengan
lain, tetapi aku sudah mendengar akan namamu. Aku
berlima saudara biasa disebut Ngo ok, akan tetapi Ban Tay
hiap sebut kami Ngo gie, kami tak berani terima itu. Benar
kita dipanggil Ngo ok, akan tetapi apabila perbuatan kami
tak kenal peri kemanusiaan, sudah pasti kami tak mampu
tancap kaki di Kanglam, oleh karena itu, kami tidak

perdulikan tentang sebutan kaum kang ouw itu terhadap


kami. Mengenai piauwsu she Liap ini, aku bisa terangkan,
tidak biasanya ia ambil jalan Kang lam, tetapi satu kali ia
mencobanya, ia sudah melanggar kebiasaan kami. Dia
lewat tanpa lebih dahulu berkunjung kepada kami, juga
tanpa mengirim karcis nama. Tak berduli orang kenamaan
bagaimana besar nya, caranya itu tak dapat kami terima.
Ban Tay hiap, kita kaum kang ouw tak boleh jatuh merek,
biarpun orang berkepala tiga dan bertangan enam, kita tak
jerih padanya. Maka jikalau kami takut melanggar iring2an
piauwnya, sudah pasti dari siang2 kami sudah mesti
mengundurkan diri. Demikian kami sudah turun tangan.
Ketika itu, si orang she Liap sendiri tidak mengantar piauw,
ia hanya tugaskan kepada tiga orangnya. Pada kedua pihak
ada orang2 yang terluka. Sebab bukan siorang she Liap
sendiri yang mengantar piauw, kami sudah pikir untuk
memberikan muka, asalkan dia datang sendiri memintanya,
kami suka kembalikan piauw rampasan itu, untuk lindungi
namanya kejadiannya justeru diluar dugaan kami. Dihari
ketiga, orang she Liap itu datang ke Heng San, bukan
meminta pulang piauw secara aturan, sebaliknya dia
hendak pengaruhi kami. Dia bilang dia tidak mengantar
piauw sendiri itu hari, kebetulan dia sakit, sebba piauw
mesti sampai pada hari yang dijanjikan, dia membiarkan
tiga wakilnya berangkat terus, ia sendiri singgah ditengah
jalan, tetapi dia sudah merencanakan, dia nanti menyusul
akan berkunjung ke Heng San untuk meminjam jalanan.
Dia persalahkan kami turun tangan melulu untuk rubuhkan
dia. Dia nyatakan, apabila kami ingin perbaiki kesalahan
kami, kami berlima mesti mengantar sendiri piauw itu ke
tempat tujuan, supaya nama baik nya dipulihkan, agar
selanjutnya kedua pihak menjadi sahabat2, tetapi dia
mengancam, kalau tidak, peraduan kepandaian saja lah
yang mesti memberi putusan. Coba pikir Ban Tay hiap,

mana kami bisa terima baik syarat itu? Nama kami di Heng
San bukan namanya boca cilik, yang boleh tidak usah
diperdulikan. Begitulah kami berbentrok. Orang she Liap
itu benar liehay, aku punya Jie tee Cin Thong dan Sha tee
Touw Liong binasa dibawah senjata rahasianya, piauw
beruntun. Adikku ke empat, Siauw Cee Coan, rubuh
dengan bercacat. Karena kami kalah, kami tak
membutuhkan lagi sarang kami, kami melepas api dan
mengangkat kaki. Bersama adik yang kelima, Hwee kap cu
Kim Kay Tay, serta lain2 saudara, dengan membawa
adikku ke empat yang kakinya bercacat, kami lari
bersembunyi di rumah sahabat dikaki gunung. Disana
adikku sekalian berobat. Kami telah bersumpah untuk
membalas sakit hati. Kemudian kami mendengar kabar,
karena piauwnya musnah terbakar, orang she Liap itu mesti
mengganti delapan ribu tail lebih, hingga ia rudin dan
perusahaannya ditutup, ia menyingkir ke Utara. Tetapi
kami berhasil mencari dia, maka malam ini kami datang
untuk melaksanakan pembalasan. Didepan rohnya
saudara2ku aku sudah sumpah, sebelum keluarga Liap
terbasmi habis, kami tidak mau sudah, dari itu, Ban Tay
hiap niscaya bisa menganggap kami bukan nya terlalu
kejam!
Ban Liu Tong manggut untuk keterangan itu. Ia mengerti
yang orang pun tidak sudi disebut Ngo gie,-lima orang
gagah yang berbudi, sebab julukan mereka Ngo ok berarti
Lima orang jahat, dan julukan ini, mereka terima dengan
baik.
Siang To cu, tindakanmu menuntut balas ini adalah
tindakannya orang kang ouw sejati, kata ia, tetapi
sekarang keluarga Liap telah terbinasa dan musna, itu
artinya maksudmu sudah tercapai, sudah cukup pokok dan
bunganya, dari Itu, buat apa to cu masih maui jiwanya

nona lemah ini? Aku anggap kau keterlaluan. Aku minta,


sukalah kiranya kau mengampuni nona ini, dengan begitu,
aku jadi terima budimu
Siang Cun Yang belum menjawab, atau saudaranya yang
kelima, Hwee kap cu Kim Kay Tay si Burung Dara Api,
sudah maju kedepannya, akan membentak tabib itu Siapa
membunuh, dia mesti membayar dengan jiwa! Siapa
berhutang uang, dia mesti melunaskannya! Maka itu, orang
she Ban, kenapa kau usilan! Aku nasihatkan padamu, lekas
kau ambil jalanmu sendiri, jikalau kau tidak sudi meladeni,
janganlah kau sesalkan aku bahwa aku tidak kenal
sahabat! Kemudian, tanpa tunggu jawaban, adik ini
berkata pada saudaranya yang tuaan Toako, api telah di
lepas sempurna, kita jangan ayal2an pula disini!
Ban Liu Tong memandang orang yang berbicara secara
jumawa itu yang tubuhnya kate dan kecil, mukanya kuning,
hidungnya bengkok bagaikan paruh burung elang, matanya
bagaikan mata alap2 romannya sangat licik, pakaian
malamnya biru, tangan kirinya menyekal golok berujung
lancip. Yang paling menarik perhatian adalah bebokongnya
dimana ada tergendol sebuah bumbung hitam sebesar
mangkok dan panjangnya dua kaki lebih. Tapi Liu Tong
kenali, itu adalah Ouw yan Pun hwee tong atau bumbung
api, semacam senjata rahasia yang liehay. Jika orang
mengegosi tubuh dan tangan dipakai menarik tali
pesawatnya bumbugan itu akan menyemprotkan api dan
asap sejauh dua tumbak lebih, hingga sulit akan orang
menyelamatkan diri, karena pakaiannya pasti akan
kesamber dan terbakar, hingga tubuhnya bisa ke tambus.
Maka itu, pastilah dia ini yang sudah membakar rumahnya
Liap Kun itu. Meskipun orang memiliki senjata yang liehay
itu, tetapi Liu Tong toh tidak jerih.

Kim To cu, jangan kau terlalu galak! kata tabib ini


sambil tertawa dingin. Baik kau ketahui, selama hidup,
aku Ban Liu Tong paling gemar mencampuri urusan se
wenang2, karena urusan dikolong langit wajiblah manusia
yang mengurusnya! Kini To cu, oleh karena aku sudah
muncul disini, aku minta sukalah kau dan para saudaramu
memberi sedikit muka kepadaku, setelah itu, dengan segera
akan ku undurkan dirimu dari sini Liap Piauwtauw telah
menyalakan api dengan apa ia membakar dirinya, ia
mencari bencana sendiri, sekarang ia terima bagiannya.
Dari kau berlima saudara, telah terbinasa dan terluka tiga
orang, sekarang kau telah bakar rumah nya Liap Piauwsu,
kau telah bunuh piauwsu itu dan sekeluarga nya, kecuali ini
satu nona yang lemah, bagaimana kau tega akan binasakan
juga padanya?
Aku anggap, itu adalah perbuatan
keterlaluan! Kim To cu, jangan menganggap, dengan
membinasakan nona ini, tak nanti ada orang lagi yang
menuntut balas kepadamu, itulah neliru! Dia masih
mempunyai keluarga, sanak saudaranya! Kim cu, aku
sudah bicara cukup, sekarang tinggal terserah kepadamu,
apabila kau tetap tidak sudi melepas budi, nah, aku terpaksa
hendak berlalu saja.
Kim Kay Tay jadi sangat rusar, ia berlompat maju sambil
berdongko sedikit, lalu ia menarik tali pesawat bumbung
rahasia dengan tangan kirinya, atas mana, dengan satu
suara ser! ser! api dan asap melesat keluar dari dalam
bumbungnya, menyamber kepada si tabib dari Kwie in po.
Ban Liu Tong memang waspada, begitu ia melihat orang
mengayakkan tubuh, ia tolak tubuhnya sinona, yang berada
disamping, sambil berbuat demikian, ia sendiri dengan
pesat berlompat ke samping si Burung Dara Api. Begitu
kaki kanannya menginjak tanah dan kaki kirinya menyusul,
ke dua tangannya dibuka dalam gerakan Kim tiauw thian

cie atau Garuda emas pentang sayap. Tangan kanannya,


dengan terbuka, menyerang iga kanan manusia ganas itu.
Kim Kay Tay kaget melihat serangan apinya tak berhasil,
ia insaf musuh benar liehay, selagi ia bersiap untuk
menyerang buat ke dua kalinya, Ban Liu Tong sudah
mendesak ia, terpaksa ia berkelit dan dengan goloknya
menabas tangan musuh. Ia telah menggunakan ilmu Tauw
ta kim ciong atau Merubuhkan lonceng emas
Ban Liu Tong kelit tangannya hingga lolos dari tabasan,
akan tetapi ia tidak menarik pulang, dengan sebat ia
membaliki, hingga tak ampun lagi dua jarinya lantas
menotok kena nadi musuh, dijalan darah kiok tie hiat
hingga berbareng tangannya beku, goloknya Kim Kay Tay
terlepas sendiri dari cekalannya. Saking kagetnya, si Burung
Darah Api berlompat untuk menyingkir.
Kau hendak lari kemana? Ban Liu Tong membentak
sambil lompat mengejar, tangan kirinya turut menyamber.
Kim Kay Tay terlambat, atau ia kalah gesit, tangannya Ban
Liu Tong mengenai punggungnya tepat pada bumbung,
yang ternyata bukan terbuat dari bambu, hanya dari besi,
dengan begitu bumbung api itu tidak menjadi rusak, tetapi
Kim Kay Tay sendiri rubuh mengusruk empat lima tindak,
mukanya menciurn tanah, hingga muka itu berlumuran
darah.
Cu tee Giam Ong Siang Cun Yang, si Raja Akherat
Setempat, berlompat maju, akan menolong adik angkatnya
itu, disebelah ia, kawan dan orang nya hendak serbu Ban
Liu Tong. Ia lihat ini, lekas ia, serukan Kawan kawan,
tahan! Aku hendak bersahabat dengan sahabat she Ban ini!
Ia insaf bahwa musuh tak dapat dilawan lagi, walaupun dia
bersendirian dan bertangan kosong. Kemudian, sambil
manggut pada musuh itu, ia berkata Orang she Ban, aku

Siang Cun Yang ingin berbuat kebaikan, supaya kau puas.


Nah, pergilah kau bawa orang itu!
Dalam tempo tiga tahun, aku dan saudaraku ini akan
kembali ke Heng San, untuk tancap kaki pula disana,
dengan begitu, apa bila turunan ini hendak menuntut balas,
segala waktu kami bersedia untuk menantikan! Nah,
persilakanlah!
Siok beng Sin Ie tertawa terbahak .
Bagus! kata ia. Kau sudi mengalah, aku berterima
kasih. Baiklah Siang To cu ketahui, setelah nona Liap ini
lolos dari malapetaka, tak tentu dalam tempo tiga atau lima
tahun, pasti dia akan menuntut balas untuk seluruh
keluarganya ini! Ini ada janji kita, jangan kita buat
menyesal! Aku telah mencampuri urusan ini, aku tahu
bahwa aku telah membakar diri, tetapi sebagai laki2, aku
berani bertanggung jawab, maka jikalau kau niat mencari
aku di Ceng hong po, kau akan kecewa, sebab sekarang aku
bertempat di Kwie in po dikaki gunung Kian San. Disana,
To cu aku menantikan dengan hormat atas kedatanganmu
sekalian
Setelah berkata begitu, Ban Liu Tong lompat kesamping
si nona, pundak siapa berlumuran darah, walaupun nona
itu mengkerutkan alis, tangan kirinya tetap memegang
goloknya, kedua baris giginya dirapatkan keras satu dengan
lain, rupanya dia menahan sakit berbareng menahan juga
amarahnya.
Nona, mari ikut aku! kata tabib she Ban ini.
In jin, pundakku terluka, tak dapat aku ikut kau, nona
itu menyahut, dengan suara sedih. Aku berterima kasih
kepadamu, yang sudah
mencegah
orang
jahat
membinasakan aku. Sudah cukup pertolongan in jin, maka

selanjutnya, baik in jin biarkan aku.. Dengan sebutan in


jin.-tuan penolong-nyata si nona ingat budi orang.
Ban Liu Tong menduga nona ini hendak berbuat nekat,
akan terjun kedalam api yang masih ber kobar2. Pasti ia tak
mengijinkan itu. Maka dengan sikap sungguh ia mengawasi
nona itu, akan dengan sungguh2 juga ia berkata Anak, kau
ada turunan se mengga2nya dari keluarga Liap, jangan kau
lupa akan sakit hatimu ini, yang mesti dibalas! Aku telah
berusia lanjut, apakah kau likat? Mari, aku gendong kau,
untuk berlalu dari lautan api ini! Untuk mati atau hidupmu,
nanti kita damaikan pula!
Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban,
Ban Liu Tong samber tubuhnya si nona untuk digendong,
kemudian Liu Tong berpaling pada Siang Cun Yang.
Sahabat2, maafkan aku, tak dapat aku menemani
lama! kata ia, yang terus saja putar tubuhnya, untuk
meloncat naik ke atas rumah. Di Timur, api berkobar
sangat hebatnya, dari itu, ia menuju ke Timur laut,
menjauhkan diri dari api. Untuk sampai ditempat selamat,
ia mesti menunjukkan kegesitan dan kecelian matanya,
karena beberapa kali orang2 jahat menyerang ia dengan
anak panah secara menggelap, tapi sebaliknya, ia tak sudi
meladeni mereka itu.
Sesampainya keluar daerah berbahaya, Ban Liu Tong
tidak langsung menuju kerumah keluarga Kan, hanya
dengan sengaja ia berlari jauh dengan jalan memutar. Ia
mengerti, apabila ia pulang langsung dan penjahat
menguntitnya, itu bisa mendatangkan ancaman bencana
bagi keluarga itu. Hanya ia bikin orang kaget ketika tahu2 ia
loncat turun dari atas genteng diantara orang nya keluarga
itu, yang sedang bersiap2 akan mencegah menjalarnya api.

Jangan kaget, jangan berisik! ia kata pada semua orang


itu. Mustahil kau tidak kenali aku tabib yang menolongi
majikan mudamu?
Segera semua orang kenali tabib ini, baharu mereka
hendak menanyakan atau tabib itu sudah mendahului, lari
kedalam rumah, hingga ia mengejutkan berbareng
menggirangkan pada Kan Hong, yang tengah meng harap2
kembalinya. Ia sebetulnya hendak minta keterangan, akan
tetapi Liu Tong menegah ia dengan berkata Jangan berisik,
mari kita bicara didalam!
Ban Liu Tong lalu masuk ke kamar, dimana ia turunkan
si nona diatas sebuah kursi. Segera ia periksa lukanya
sinona. Si nona sendiri tak ingat akan dirinya, matanya
rapat, mulutnya terkancing, wajahnya biru pucat. Karena ia
terluka dan harus lompat turun naik dan ber lari2an, tidak
heran apabila ia pingsan.
Loosu, siapa nona ini? akhirnya Kan Hong menanya.
Apa dia yang dapat ditolong dari tangan orang jahat?
Sebentar kita bicara, sahut Liu Tong sambil goyang
kepala. Tolong kau perintah orang lekas mengambil air
panas!
Kan Hong lantas suruh bujangnya mengambil air yang
diminta. Liu Tong sendiri terus meloloskan golok dari
cekalannya si nona., dan dari sakunya ia keluarkan sebotol
obat, yalan pil Cit po hoan hun tan, ia ambil tiga butir obat
itu.
Kau bantui aku, ia kata pada tuan rumah, sedang
tubuhnya si nona ia benarkan supaya bisa berduduk dengan
betul. Sebagai orang tua, kita jangan pantang lagi. Anak
ini harus dikasihani, dia mesti ditolong. Kau pegangi kedua
tangannya, aku hendak menusuk ia,

Kan Hong menurut, tak lagi ia perdulikan lam lie siu


siu put cin yalah larangan perempuan dan lelaki
berpegangan tangan. Begitulah ia cekal kedua tangan
sinona menurut ajarannya tabib itu.
Ban Liu Tong letakkan obatnya diatas meja, ia ambil dua
batang jarum dari tempat obatnya, dengan itu ia tusuk
bergantian jari telunjuk dan tengah dari si nona. Ia bekerja
secara sehat dan gapah. Dengan siap tiga butir obat
ditangannya, ia awasi muka nona itu, ketika dengan tiba si
nona menjerit Aduh! ia membarengi menyuapi pil itu
kedalam mulut orang.
Nona, telan obat ini! ia berkata. Lantas ia bawa
cangkir air kemulutnya nona itu.
Dengan jeritannya itu, si nona telah sedar, ketika ia
geraki ke dua tangannya, ia tidak bisa angkat itu apabila ia
melihat, ia dapat kedua tangan nya sedang dipegangi.
Nona, telan obat itu! Liu Tong kata pula.
Tanpa kata apa si nona cegluk air, dengan apa ia telan
tiga butir pil itu dengan sekaligus.
Bagus, tuan, kata Liu Tong pada tuan rumah. Aku
percaya obatku akan berhasil!
Selagi tabib ini berkata, si nona menggeraki tubuhnya, ia
enak, kemudian ia memuntahkan lendir, sesudah mana,
kembali ia mengeluh Aduh! Ketika ia mengangkat kepala
dan membuka mata nya. Tiba2 ia menangis.
Jangan bersusah hati nona. San Liu Tong menghibur.
Apa benar kau tinggal seorang diri? Kau harus ingat sakit
hatimu, inilah tanggung jawabmu yang berat. Jangan
bersikap sebagai nona yang lemah Keraskanlah hatimu!
Nona itu seka air matanya lalu ia berbangkit.

Terima kasih, kata ia setelah ia memberi hormat pada


penolongnya dan tuan rumah, she dan nama siapa ia terus
tanyakan.
Jangan pakai adat peradatan, nona, sahut Ban Liu
Tong, yang perkenalkan dirinya. Aku datang kemari untuk
mengobati puteranya Kan Loosianseng ini, kebetulan aku
melihat kau terancam bahaya, aku lantas menolongi.
Semua penjahat itu adalah orang Rimba Hijau dari Kang
lam, maka itu, tak dapat kau berdiam lama disini, kau mesti
menyingkir kerumah sanak atau sahabatmu, agar
dikemudian hari bisa berdaya untuk menuntut balas.
Nona itu menangis.
Aku tidak tahu kemana aku mesti menyingkir, kata ia.
Ayah dan ibuku, encie dan adikku lelaki, juga tiga murid
ayah, telah terbinasa di tangan musuh. Satu paman
angkatku telah terluka hebat, ia rupanya bisa juga
meloloskan diri, tapi entah sesampainya dia diluar,
mungkin ia mati karena lukanya itu. Kami bukan penduduk
asal tempat ini, di Cio khaw ek ini kami tinggal
menumpang. Kampung halaman kami ada di Chongciu,
Titlee. Kami semua sudah dua puluh tahun lebih belum
pernah pulang ke kampung asal kami, dari itu sukar untuk
aku ketahui sanak disana masih ada atau tidak. Maka itu,
loope, aku sangat berterima kasih karena pertolonganmu
ini. Ayah dan ibu semua, yang sudah menutup mata, pasti
akan bersyukur juga pada loope. Aku bisa mencuri hidup
untuk menuntut balas, tetapi dengan kepandaianku ini, apa
aku bisa bikin? Hal pembalasan ini baik di bicarakan
belakangan saja, sekarang aku hendak mohon loope tolong
urus tulang2 ayah ku semua, sesudah penguburan, aku
ingin mencari sebuah kuil, dimana aku bisa cukuri
rambutku untuk menjadi nikow. Asal Thian menaruh belas

kasihan padaku, mesti ada satu hari dimana akan mampu


menuntut balas!
Setelah berkata begitu, nona Liap ini menangis tersedu.
Dua2 tuan rumah dan tetamu nya jadi sangat terharu.
Nona, kau jangan terlalu bersedih, kata Kan Hong.
Mendengar katamu, kau jadinya batang kara dan tak
punya tempat untuk berlindung, oleh sebab itu, apabila kau
tidak buat celaan, aku si orang tani baik kau tinggal disini
saja, meski aku tidak berharta besar, namun untuk
penambahan satu mulut, bagiku tidak ada artinya. Sudikah
kau tinggal disini?
Nona Ce In hendak jawab tuan rumah itu, tetapi Ban Liu
Tong mendului ia.
Kau baik hati, tuan, tetapi kau tidak dapat menolong
nona ini menurut kehendakmu itu, kata ia Kau tidak tahu
siapa musuh2 nya keluarga Liap! Mereka itu adalah Heng
San Ngo ok. Benar sekarang mereka dari lima tinggal
berdua, akan tetapi mereka punya banyak kawan sesama
kaum kang ouw, yang ke banyakkan adalah penjahat besar.
Mereka itupun telah bertekad akan membabat rumput
sambil menyabut akarnya, apamau mereka telah ketemu
aku, maka bisalah dimengerti, yang mereka tidak puas.
Jikalau si nona tinggal disini, tidak saja dia tak dapat
dilindungi, bahkan kau sendiri akan turut juga ke rembet2!
Kan Hong ternganga.
Ban Loope benar, kata Cie In seraya kerutkan dahi.
Aku sebatang kara, terbinasapun tidak apa, tapi aku tidak
ingin loope sampai celaka karena aku. Baiklah aku
bertindak seperti apa yang telah kupikir.
Sabar nona, Liu Tong berkata Tidak biasanya aku
bekerja ada kepala tanpa ekor! Mustahil aku bisa

membiarkan kau terjatuh pula kedalam tangannya orang2


jahat itu? Kalau itu sampai terjadi, kecewa aku hidup
didunya ini! Sekarang mari kuobati dahulu lukamu, baharu
nanti kita bermupakatan pula.
Kan Hong mupakat, si nona pun manggut, maka Liu
Tong segera mengambil obat bubuk untuk obati lukanya si
nona, sesudah mana, luka itupun dibalutlah dengan rapi.
Kau lihat, nona, aku bukan seorang muda lagi, dari itu,
kau harus percaya aku, kata si tabib kemudian. Kau
masih terancam bahaya, kau perlu lekas menyingkir dari
sini, malah perihal tulangnya ayah dan ibumu semua, baik
kau minta pertolongan Kan Loope ini. Mari kau turut aku
pergi ke Kwie in po. Aku tidak punya anak lelaki atau
perempuan, apabila kau setuju, aku suka ambil kau sebagai
anakku. Umpama kawanan penjahat tidak puas, aku nanti
lindungi kau, aku hendak lihat, apa mereka bisa bikin!
Cie In ada seorang cerdik, segera ia berlutut didepan
tabib itu.
Aku telah ditolong dari mulut harimau, sekarang aku
hendak dipungut sebagai anak, oh, aku tidak mampu
membalas budimu ini. Mudah2an dilain penitisan aku
dapat melakukan itu! kata ia seraya menjurah terus.
Bagus, anak! kata Ban Liu Tong dengan gembira.
Aku nanti lakukan segala apa, untuk meladeni orang2
jahat guna melindungi dikau! Sekarang bangunlah, kita
perlu bicara terlebih jauh.
Cie In bcrbangkit, ia berdiri dipinggiran.
Cie In, kau puterinya satu piauwsu, aku juga dari
kalangan persilatan, karena itu, tak seharusnya kita
memakai terlalu banyak adat peradatan, kata Liu Tong.
Nah, kau duduklah.

Nona itu menurut, ia memberi hormat dan lantas duduk.


Sekarang coba kau tuturkan tentang permusuhan
ayahmu dengan Heng San Ngo ok, kemudian si tabib
meminta.
Cie in tuturkan duduknya
keterangannya Siang Cun Yang.

hal, menurut

seperti

Kalau demikian, bisa dimengerti yang ayahmu tak


puas, kata Liu Tong. Sekarang aku sudah menolong kau,
Siang Cun Yang pasti mendendam sakit hati, malah
tentulah, sebelum kau sempat mencari padanya, dia akan
mendahului mencari aku dan kau. Kau jangan takut, aku
nanti lindungi padamu. Ancaman musuh itu yang membuat
aku tidak setuju kau berdiam sama Kan Loope disini. Tidak
apa apabila Kan Loope cuma urus tulang2 nya ayah ibumu
sekalian. Dengan turut aku ke Kwie in po, kau akan terjaga
baik. Disana, semua orangku tidak punya anggauta
keluarga. Tapi kau tidak bisa tinggal selamanya denganku,
aku akan kirim kau pada Cu In Am cu dikuil Pek Tiok Am
dibukit Chong Liong Nia di See Gak, dipuncak Siang thian
tee. Aku nanti dayakan supaya kau diterima sebagai murid.
Cu In Am cu ada ketua dari See Gak Pay, dia liehay asal
kau belajar rajin, kau pasti akan berhasil menuntut balas.
Selama kau belajar silat, andai kata penjahat tahu
alamatmu, tidak nanti dia berani datangi Pek Tiok Am
untuk main gila. Tidakkah ini sempurna?
Cie In bisa berpikir, ia setujui saran itu. Ia baharu belajar
enam atau tujuh tahun dari ayahnya, apabila ia bisa
mengikuti Cu In, ia tentu akan peroleh kemajuan.
Demikian ia berikan persetujuannya.
Baik, anak, kata Ban Liu Tong, yang terus meminta
Kan Hong pesan agar semua orang suka simpan rahasia,
kalau hal bocor, keluarga Kan akan terancam bahaya.

Setelah itu, Liu Tong pergi melihat puteranya tuan


rumah.
Bagus, jangan kuatir, kata ia. Lagi tiga hari dia akan
bisa jalan. Selanjutnya, ia cuma mesti rawat diri.
Siok beng Sin Ie lalu memberikan obat pula, untuk
dimakan dihari2 berikutnya.
Paling akhir, Liu Tong melongok ke Barat dimana api
sudah mulai kurangan berkobarnya, sedang di Timur, sang
fajar mulai menyingsing.
Tolong berikan si nona satu kamar dimana ia bisa
beristirahat, Liu Tong minta pada tuan rumah. Besok
sore aku nanti mengajak dia perg!
Kan Hong menurut, ia sediakan kamar untuk Nona Liap
itu.
Baharu keesoknya pagi banyak orang berani datang
dekat rumahnya Liap Piauwsu, akan melihat bekas
kebakaran dan padamkan sisa api, dan Kan Hong segera
menghadap pada pembesar negeri, buat nyatakan ia suka
urus semua kurban. Pembesar negeri cuma bikin
pemeriksaan dan dengar beberapa tetangga, lantas perkara
ditinggal diam. Pendakwa pun tidak ada. Pengakuan
tetangga bahwa itu adalah perbuatan musuh mencari balas.
Kan Hong suka berbuat amal dengan alasan ia berkaul,
karena anaknya sembuh dari sakitnya yang lama dan hebat.
Setelah sang sore datang, Siok beng Sin Ie, si Tabib
Penyambung Jiwa, pamitan dari keluarga Kan, dengan ajak
Cie In ia pulang ke Kwie in po.
Adalah dugaan dari Ban Liu Tong, musuh bakal datang
mencari balas, apa yang ia tidak sangka adalah musuh

datangnya secara luar biasa cepat, adalah baharu dimalam


ketiga sejak ia pulang!
-o0dw0oXVI
Musuh yang datang terdiri dari tiga orang kepalanya
adalah Siang Cun Yang. Dua yang lain ada Moa tauw kwie
Sie Cin Kepala Hantu, dan Tok pa Sam Siang Khouw Goat
Beng, jago Tunggal, bajak dari Lam ciong. Mereka semua
pandai lompat tinggi dan lari keras, tetapi setelah memasuki
Kwie in po, mereka kelabakan. Kalau wuwungan rumah
ditanami rumput dan pohon bunga, dibawah ada lubang2
jebakan dan pesawat2 rahasia, panah dan gaetan.
Beruntung Khouw Goat Beng itu seorang ulung,
pengalamannya menyebabkan ia mengerti sedikit tentang
Pat kwa, ketika mereka memasuki pintu Mati ia yang
mencoba mengajak keluar dua kawannya itu. Setelah dua
putaran, dia dapat mencari pintu Hidup tetapi Sie Cin
ketinggalan, dengan terpaksa, ia ajak Cun Yang
menyingkir.
Tanpa pertempuran. Ban Liu Tong dapat bekuk Sie Cin,
kapan ia ketahui musuh liehay, ia perintah coba mengejar,
tetapi Goat Beng dan Cun Yang dapat lolos juga setelah
beberapa kali mereka diserang orang tersembunyi, hingga
mereka kabur terus dengan terpaksa tinggalkan kawan.
Ban Liu Tong tidak kompes Sie Cin, dia ini cuma dihina,
lalu dilepaskan.
Hatinya Cie In tenteram ketika ia dapat tahu musuh tak
dapat serbu Kwie in po, ia bersyukur kepada ayah
angkatnya itu. Kemudian, setelah lukanya sembuh, ia
belajar silat dibawah pimpinan ayah pungut itu. Ini terjadi

terutama karena keinginan dari Liu Tong, agar nanti Cu In


Am cu tidak terlalu memandang enteng.
Selang sebulan lebih. Ban Liu Tong pergi ke Cio khauw
ek pada Kan Hong, dari siapa ia peroleh keterangan,
jenazah Liap Piauwsu semua sudah dirawat dan dikubur
dengan baik, hingga hatinya menjadi lega, sepulangnya ia
lantas memberi keterangan pada Cie In agar hatinya si anak
tenteram. Selang beberapa hari, ia antar anak pungut itu ke
Pek Tiok Am.
Apabila Cu In sudah ketahui jelas siapa si nona, ia
nyatakan suka terima ketitipan si nona, yang ia ambil
sebagai muridnya, hanya ia mencegah keinginannya Cie In
akan mencukuri rambut untuk jadi pendeta perempuan.
Biarlah kau tetap jadi muridku orang biasa, kata ia,
yang terus berikan ia nama Siu Yan.
Cie In mempunyai bakat baik, ia belajar dengan rajin,
hingga ia disayang gurunya dan diberikan pimpinan
sungguh2.
Cu In sering memberi nasihat pada muridnya ini tentang
karma, Cie In insaf itu, akan tetapi ia tak dapat cegah kalau
diam2 ia suka menangis sendirian, kapan ia teringat
malapetaka keluarganya, sedang budinya Ban Liu Tong, si
ayah angkat, ia tidak bisa melupai, hingga sering terjadi
setiap tiga atau lima bulan, ia mohon perkenan pergi
kunjungi ayah angkat itu di Kwie in po.
Kapan Ban Liu Tong ketahui sifat anak pungut itu,
untuk cegah Cie In datang pula padanya, dia melarang anak
itu datang lagi, sebaliknya dia sendiri yang setiap tiga atau
lima bulan datang berkunjung ke Pek Tiok Am. Dengan ini
ia ingin cegah anak itu pecah perhatiannya dan menjadi
abaikan ilmu silatnya, sedang ia berkehendak agar anak ini
lekas pandai. Dengan Cie In liehay, tidak saja ia tak dapat

dibokong musuhnya, bahkan sembarang waktu ia bisa


menuntut balas.
Kalau tadinya Ban Liu Tong bebas sepenuh penuhnya,
setelah mempunyai anak angkat, pikirannya sering tertarik
kepada anak itu.
Demikianlah halnya Siu Yan, begitu ia akhirkan
ceriteranya kepada suhengnya mengenai Siu Yan menjadi
anak angkatnya. Aku memang tidak bisa lepaskan dia,
tetapi untuk menuntut balasnya ia mesti mengandal pada
dirinya sendiri. Aku percaya, am cu juga tidak akan biarkan
ia bertindak sendiri sebelumnya ia sempurnakan ilmu
silatnya.
Eng Jiauw Ong kagum, tetapi karena itu waktu mereka
sudah dahar cukup, perjamuan ditutup, mereka kembali
keruang tetamu dimana mereka duduk sambil hadapi teh.
Kau datang ke Tiong ciu bersama am cu, suheng,
apakah ada urusan penting? Liu Tong tanya saudaranya.
Ya, suheng itu membenarkan.
Urusan sering istimewa dan bencana tak dapat di
duga2, begitulah aku telah bikin runtuh pamornya Hoay
Yang Pay!...
Ban Liu Tong terperanjat, ia heran. Ia mengawasi
suheng itu.
Tidak tunggu sampai sutee itu mengajukan pertanyaan,
Eng Jiauw Ong lantas tuturkan duduknya hal serta utarakan
maksud kedatangannya bersama Cu In Am cu itu. Ia mulai
dari ia niat tolong Yo Bun Hoan, sampai muridnya bikin
hilang surat, hingga mereka itu ditangkap, sampai akhirnya
mereka bentrok kepada Hong Bwee Pang, sebab In Hong
dan Hong Bwee diculik.

Suheng, am cu, itulah terlalu, kata Siok beng Sin Ie


dengan gusar. Hong Bwee Pang demikian menantang, tak
per duli Cap jie Lian hoan ouw ada gunung golok dan
rimba pedang, kita mesti datangi untuk mencobanya! Cuma
kita harus waspada. Aku dengar, sejak di bangunkannya
pula, rombongan itu sudah menjadi kuat sekali, sarangnya
berbahaya, anggautanya banyak penjahat lihay dari hulu
dan hilir Sugai Besar. Kita mesti jaga agar nama kedua
kaum kita tidak sampai runtuh. Sekarang bagaimana am cu
niat bertindak?
Pin nie pun sudah ambil ketetapan akan tempur
rombongan itu, sahut Cu In Am cu. Sebenarnya, dalam
usiaku yang lanjut ini, aku ingin utamakan kitab suci dan
lewatkan saat2 senggang dengan murid2ku, tetapi
kenyataan menentang cita2 ku itu. Adalah satu hinaan
untuk See Gak Pay, yang muridku kena diculik, namun
untuk sementara ini, aku belum pikir suatu apa. Barangkali
suheng dapat menolong aku untuk memikirkannya.
Adalah kenyataan, panglima perang mesti cerdik,
bukan sela manya harus gagah, dan tentera mesti terdidik,
bukan mesti jumlahnya saja yang besar, berkata Ban Liu
Tong. Bicara hal tenaga, tenaga kita sudah cukup. Pedang
am cu Tin hay Hok po kiam dan senjata rahasia See bun Cit
poo cu tidak ada tandingannya dan Ong Suheng punya Cit
cap jie sie Co kut Hun kin ciang serta Eng jiauwlat sukar
dapat lawannya, tetapi semua itu tak dapat digunakan
secara sembrono disarang musuh di Hun cui kwan,
pegunungan Gan Tong San, Ciatkang Selatan. Maka untuk
sementara ini, harus kita kumpulkan semua anggauta kaum
kita. Am cu ada punya beberapa cian pwee yang liehay,
kenapa am cu tidak hendak undang mereka untuk minta
bantuannya?

Cu In tidak puas mendengar hal kekuatannya Hong


Bwee Pang, tetapi ia hargai kejujurannya tabib ini.
Ban Loosu benar juga, kata ia. Siapa jumawa, dia
mesti rubuh. Apa Ban Loosu ketahui siapakah pemimpin
utama dari Hong Bwee Pang dan sebenarnya ada berapa
pemimpin besarnya?
Buat di Kang lam, Hong Bwee Pang telah tancap
pengaruh untuk banyak tahun, Ban Liu Tong
menerangkan. Asal mulanya, gerakan mereka di Hokkian,
baharu pe lahan2 meluas ke Tiang Kang, atas dan bawah.
Pusat pertama berada di Tay wan, lalu diadakan pula di
Eng Yu San, Kang souw. Ketuanya, Liong tauw Loo
tauwcu, adalah Siauw Hio cu yang sekarang mengepalai
Gwa Sam Tong, tiga rombongan luar. Dia adalah Sui siang
Gin Liong Siauw Cun si Naga Perak. Dulu, rombongan di
Kanglam itu telah diubrak abrik oleh Liang Kang Congtok
yang pakai tenaga tergabung dari tentera darat dan air serta
sebelas piauwsu dari Kanglam, hingga mereka buyar.
Kemudian salah satu ketua dari Hokkian, yalah Thian Lam
It souw Bu Wie Yang, si Orang Tua dari Selatan, telah
datang ke Kanglam dimana ia bangunkan pula
rombongannnya itu, ia hidupkan Lwee Sam Tong, tiga
rombongan dalam, dengan Siauw Cun diangkat jadi hio cu
dari Gwa Sam Tong. Bu Wie Yang itu, asal Rimba hijau,
cabang atas kenamaan dari Selatan, tubuhnya sangat enteng
dan gesit bagaikan burung walet, katanya ia bisa
berloncatan diantara tihang2 layar diatas puluhan perahu,
sedang senjatanya ada sebatang tumbak Kiu hap Bu sie So
cu chio yang katanya dia dapatkan dari seorang berilmu
tetapi ia jadikan sebagai ilmu kepandaiannya sendiri yang
istimewa. Di sebelahnya gagah, ia sangat yerdik. dari itu, ia
bisa mempengaruhi banyak orang. Dibawah asuhannya Bu
Wie Yang ini, Hong Bwee Pang menjadi maju, sampai

anggauta2nya meluas ke Utara, terutama diair, mesti ada


konconya. Semua orang Rimba Hijau, yang tidak mampu
berdiri sendiri, masuk partai ini. Pusatnya sendiri, Cap jie
Lian hoan ouw, ada satu tempat luar biasa. Mulanya itu
ada satu muara dikaki gunung Gan Tong San, setelah
diduduki, Bu Wie Yang perbaiki itu, hingga sekarang
merupakan sarang yang terahasia dan berbahaya. Hal ini
aku ketahui dari satu sahabat piauwsu dari Ciatkang
Selatan, yang sekarang ini sudah mengundurkan diri,
dendengarnyapun secara kebetulan. Maka itu, amcu, perlu
kita mengundang beberapa sahabat untuk bantu kita.
Oh mie to hud! Siancay, siancay! Cu In memuji.
Jadinya Thian Lam it souw Bu Wie Yang yang menjadi
kepala, pantaslah Hong Bwee Pang sangat kurang ajar! Ban
Loosu, kita tak harus terlalu berkuatir. Namanya tua
bangka itu sudah lama pin nie dengar, tumbaknya memang
liehay, dengan itu ia menjagoi di Selatan. Sebenarnnya dia
tidak punya hubungan dengan daerah kita, aku tidak sangka
dia sekarang pimpin Hong Bwee Pang. Ban Loosu benar
juga, kita tidak boleh terlalu berbesar hati, dari itu aku pikir,
baiklah kita undang Keng Tim Su thay dari kuil Ceng Lian
Am di Kong Seng San serta To Cie Taysu dari gereja Tiat
Hud Sie di Hong tek kwan diperbatasan Hoolam dan
Shoasay. Umpama kedua su heng itu tidak sanggup datang
sendiri, biar mereka utus beberapa muridnya. Untuk ini
melainkan aku ingin minta Ban Loosu kirim orang untuk
menyampaikan surat kita.
Itulah perkara gampang, am cu boleh serahkan
padaku, sahut Ban Liu Tong yang nyatakan setuju.
Ketika itu kere disingkap, lalu muncul tiga anak muda.
yang pertama umur kurang lebih dua puluh tahun,
tubuhnya langsing, parasnya cakap dan keren, gerakannya
gesit, yang ke dua kurus, kecil dan kate, umurnya kira dua

puluh juga, dan yang ke tiga, yang jalan paling belakang,


tubuhnya kate dampak, mukanya hitam, alisnya gomplok
dan matanya besar, pundaknya lebar, pinggangnya kekar,
dadanya berotot, benar ia gemuk tetapi dagingnya pasak, air
mukanya nampak mesem saja, Yang jangkung terus
mengasi hormat pada tuan rumah seraya berkata Suhu,
kita sudah bereskan urusan di Louw kee kauw, Su gan
kauw Gu Cit sudah angkat kaki, ia telah berjanji tak akan
kembali ke Louw kee kauw. Kami tidak bersikap
keterlaluan padanya, melainkan sebelah kupingnya dipapas
setengah, untuk tanda mata bagi penduduk Louw kee kauw.
Penduduk telah berjanji, asal dia datang pula, mereka akan
memberi kabar pada kita.
Ban Liu Tong manggut.
Baik, kata ia. Sekarang uiyak dua saudaramu
mengasi hormat kepada supemu ini dan su thay!
Eng Jiauw Ong kenali murid pada suteenya, Ciok Bin
Ciam, dan murid kedua, Kee Pin, tetapi ia tidak kenal
pemuda muka hitmu itu, yang ia belum pernah lihat.
Dengan dikepalai oleh Bin Ciam, tiga murid itu maju
untuk jalankan kehormatan seraya si murid kepala kata
Supe, sudah berapa tahun supe tak pernah datang kemari.
Supe tentu kenal Kee Sutee itu, tetapi tidak demikian sutee
Coh Heng ini, yang belajar belum cukup tiga tahun.
Kemudian ia teruskan pada sutee gemuk itu Sutee, inilah
untuk pertama kali kau bertemu dengan supe, hayo kau
berlutut!
Dengan matanya yang besar dan bundar, Coh Heng
mengawasi Eng Jiauw Ong, kemudian ia berpaling pada
gurunya sambil berkata Suhu, apa benar aku mesti
berlutut? Aku kuatir su heng permainkan aku
Ban Liu Tong tertawa.

Mustahil supemu ini supe yang palsu? menyahut guru


ini.
Lekas beri hormatmu, nanti su pemu gusar
Mendengar mana Coh Heng segera jatuhkan diri, ketika
ia manggut2, kepalanya sampai bentur batu dengan keras
hinggaia rabah dengan tangannya terus ia bangun pula.
Menampak demikian, semua orang tertawa.
Coh Heng sendiri nampak jengah, tetapi suhenguya
berkata, mengapa kau tidak jalankan adat peradatan
kepada su thay
Sudah, tak usah! Cu In Am cu mencegah.
Bin Ciam dan Kee Pin memberi hormat kepada nikow
tua itu, mereka memberi hormat juga kepada muridnya Eng
Jiauw Ong dan murid2 nya pendeta perempuan itu.
Suheng, am cu, harap tidak pandang dia sebagai murid
biasa saja, kata Ban Liu Tong kemudian sambil menunjuk
si sembrono itu. Dia adalah murid yang disayang dari Hui
Sian Siansu dari Siauw Lim Sie. Siansu telah mendapat
tugas dikirim ke Hokkian, akan kepalai ruangan Lo Han
Tong dari Siauw Lim Sie disana, karena itu, ia tidak bisa
bawa muridnya ini, maka ia antar kemari dititipkan padaku,
hingga dia menjadi murid angkatku. Dia tidak mencukur
rambutnya, sedang aturan Siauw Lim Sie ada keras, dengan
diantap tinggal di Siauw Lim Sie, dia menjadi tidak ada
yang mengurus. Maka itu, aku mesti merawat dia. Ia
sembrono tetapi ia jujur dan tenaga nya besar sekali. Siansu
ingin berikan ia pelajaran, tetapi badannya terlalu berat,
terpaksa ia diberikan saja pelajaran melatih tubuh Ie Kin
Keng dan Pat Toan Kim. Ia tak bisa melompat tinggi dan
jauh. Aku sendiri melanjutkan berikan ia pelajaran
kekuatan saja.

Cu In awasi anak muda itu, lalu sambil tertawa ia kata


pada Ban Liu Tong Ban Loosu, kau mesti didik anak ini
baik2. Jangan menganggap dia kurang kecerdikan, dia
sebenarnya berbakat baik dan rejekinya besar, dalam hal
mana, lain2 muridmu tak dapat menyamainya.
Memang juga, siapa jujur dan tolol, ia besar rejekinya,
kata Eng Jiauw Ong, yang terus menanya Liu Tong,
dimana berdiamnya berbagai murid dari Hoay Yang Pay, ia
minta daftarnya dan supaya sutee itu lekas kirimkan surat
pada mereka, agar mereka segera berkumpul di Ceng hong
po.
Ban Liu Tong mengambil kertas, akan mencatat
namaanya, ketika ia serahkan itu pada Eng Jiauw Ong,
alamat ada sebelas. Suheng ini lalu tambahkan empat nama
lagi. Dari semua alamat itu, kecuali tiga orang, yang
lainnya adalah murid2 dari angkatan kedua dan ketiga.
Sutee, sang suheng kata kemudian, Yan tiauw Siang
Hiap serta Thiat So Toojin, ketiga suheng itu, ada bagaikan
burung2 hoo liar, dan usianyapun sudah lanjut, aku rasa
mereka tidak nanti suka munculkan diri lagi. Tidakkah
kaupun menganggap demikian?
Memang aku percaya mereka belum tentu suka muncul
pula, sahut Ban Liu Tong, akan tetapi urusan ada begini
besar, mereka harus diberitahukan juga, karena merekapun
berusia lebih tinggi, kalau tidak, kita nanti bisa
dipersalahkan dan ditegur. Tak usah kita mengharap
mereka membantu kita, cukup asal mereka ketahui saja.
Eng Jiauw Ong anggap itu benar.
Baiklah, pergi sutee tulis suratnya, ia kata.
Ban Liu Tong sendiri menulis untuk ketiga suheng itu,
buat yang lainnya ia perintah Bin Ciam dan saudara2nya

saja. Semua surat itu dibubuhi tanda tangannya Eng Jiauw


Ong, sebagai ciang bun jin, ahliwaris Hoay Yang Pay, yang
memegang pimpinan. Cap pun terbuat dari emas dan
merupakan seekor garuda yang pentang sayap. Siapa
menerima surat itu, tak perduli mereka berada ditempat
bagaimana jauh, mereka mesti datang, atau mereka akan
melanggar aturan dan akan dipersalahkan sudah tidak
hormati ketuanya.
Demikian lima belas pucuk surat telah disiapkan, lalu
bersama dua suratnya Cu In Am cu untuk Keng Tim Su
thay di Ceng Lian Am dan To Cie Taysu di Tiat Hud Sie,
semua itu dikumpul oleh Ban Liu Tong, siapa sebaliknya
segera kirim dua muridnya, yalan Ciok Bin Ciam dan Kee
Pin, untuk disampaikan kepada alamatnya masing2.
Mereka ini mesti berangkat dengan menunggang kuda, dan
Bin Ciam diwajibkan membawa dua belas diantaranya.
Paling dulu surat di antar ke Hoolam, dari sana akan
diminta pertolongan lain2 saudara. Kee Pin terutama untuk
mengirim surat2nya Cu In An cu. Untuk Yan tiauw Siang
Hiap, sepasang jago dari Yan Tiauw, dan Tiat Toojin, surat
mesti disampaikan sendiri oleh Ciok Bin Ciam. Setelah
selesaikan tugasnya, kedua murid itu mesti menuju
langsung ke Ceng hong po.
Demikian dua murid itu, yang berangkat dengan lantas.
Seberangkatnya dua murid itu, Ban Liu Tong hendak
perintah menyiapkan kamar untuk sekalian tamu, agar
besok fajar mereka ini bisa berangkat juga, justeru itu, kere
disingkap dan seorang umur kurang lebih tiga puluh tahun
bertindak masuk. Dia ini dandan dengan ringkas,
dibelakangnya masih tergendol satu buntalan kuning, dan
muka nya masih kotor dengan debu.
Eng Jiauw Ong dan Cu In lantas kenali orang ini, ialah
Thio Hie, murid ketiga dari Ban Liu Tong. Dia berumur

lebih tua satu dua tahun daripada Ciok Bin Ciam, tetapi dia
menjadi sutee, itulah disebabkan dia datang belajar
belakangan, sesudah dia belajar pada lain guru. Dikalangan
persilatan, runtunan murid ada menurut siapa datang
terlebih dahulu. Ber sama2 Ciok Bin Ciam, Thio Hie ini
adalah tangan kanan dari guru mereka, Namanya Ban Liu
Tong sudah mengundurkan diri, namun diam2 ia suka
melepas murid2nya merantau untuk berbuat kebaikan. Dan
Thio Hie ini, dimatanya Eng Jiauw Ong dan Cu In, pasti
baharu saja melakukan suatu tugas, hanya mengenal hal ini,
mereka tutup mulut.
Thio Hie memberi hormat pada nya, lalu ia kata Tee cu
telah berhasil menemui Siang ciang Tin Kwan see Sin Loo
piauwsu di Hoo kee ouw, Ceng liong tin, setelah membaca
surat suhu, tanpa sangsi lagi ia berjanji akan bertindak
menuruti suhu. Katanya, sedang tiga hari pasti ia akan
memberi kabar balasan.
Ban Liu Tong manggut.
Bagus, kata ia. Aku percaya, Sien Loo piauwsu pasti
akan membantu kita. Ia mengawasi muridnya itu, terus ia
tanya Melihat romanmu, kau agaknya ada hadapi sesuatu
diluar dugaan, benarkah?
Suhu, kata sang murid, yang balas tanya, See Gak
Pay didaerah Hoolam dan Siamsay, apa benar berada
dibawah pimpinan Am cu dari Pek Tiok Am di Hoa San?
Apa? kata sang guru, dengan air muka muram. Aku
menanya kau menghadapi sesuatu apa, kenapa kau tanya
halnya pimpinan Am cu? Kau berbuat tidak hormat!
Bukan begitu, suhu, terangkan sang murid. Apa yang
aku alami ada aneh sekali. Apakah murid Am cu ada yang
pakai nama Hong?

Benar, Eng Jiauw Ong dului suteenya menjawab. Dia


bernama Hong Bwee, tetapi ini ada namanya sendiri, nama
dikuil adalah Siu Beng. Apakah kau ketemu dia?
Oh, kiranya murid ke lima Am cu, Siu Beng Suheng
bernama Hong Bwee! berkata Thio Hie. Kalau begitu,
pasti suheng sedang terancam bahaya. Teecu ada punya
serupa barang, silahkan suhu dan Am cu periksa.
Thio Hie rogo sakunya, akan keluarkan sepotong kertas,
yang sudah lecak tak keruan, panjang dan lebarnya enam
atau tujuh dim pesegi, itu bukannya kertas tulis yang biasa.
Ban Liu Tong menyambuti kertas itu, ia dapati tidak ada
huruf nya, karena itu ada kertas bungkus, tetapi ia ada
seorang berpengalaman, ia membawa kertas itu ke depan
api, segera ia mengawasi dengan tajam. Maka sekarang ia
dapatkan, kertas itu penuh dengan tusukan jarum, apabila
sudah di perdatai, kelihatan petaan huruf. Ia terus
pahamkan berbagai peta itu hingga akhirnya ia dapat baca,
sebagai berikut Untuk suhu di See Gak. Kawanan penculik
menuju ke Kanglam, mereka ambil jalan darat dan air
bergantian, penjagaannya sangat keras. Kadang2 mereka
gunai obat tidur. Murid dan saudara In tak dapat
meloloskan diri. Harap suhu lekas menolong. Hong Bwee.
Setelah membaca habis, Liu Tong keluarkan seruan
tertahan.
Am cu, suheng, inilah surat rahasia dari Hong Bwee,
surat yang terjatuh kedalam tangan muridku, kata ia
kepada tetamu dan suhengnya. Coba lihat ini.
Cu In biasanya tenang, tetapi kali ini air mukanya
berubah, ber sama2 Eng Jiauw Ong ia menghampiri meja
akan membaca surat rahasia itu, yang ia beber dihadapan
api.

Cara bagaimana kau men dapatkannya surat ini?


kemudian nikow tua itu tanya Thio Hie. Apa kau dapat itu
dari Hong Bwee sendiri? Apakah kau dapat melihat
Suhengmu In Hong? Omong terus terang, jangan ada yang
kau sembunyikan!
Thio Hie insaf pentingnya urusan, ia tidak berani
sembunyikan suatu apa. Ia lantas memberikan
keterangannya.
Untuk satu urusan kepada Sien Wie Pang, piauwsu
terkenal di Kwan see, yang mendapat gelaran Siang ciang
Tin Kwan see, yang tinggal di Ho kee ouw, Ceng liong tin.
Ban Liu Tong titahkan muridnya membawa sepucuk surat.
Dulunya, piauwsu itu ada tersohor tetapi belakangan, ia
telah mengundurkan diri. Ketika urusan selesai, waktu itu
sudah jam dua lewat Sien Piauwsu meminta Thio Hie
menginap satu malam dirumahnya, agar perjalanan pulang
bisa dilakukan besok pagi, tetapi Thio Hie tidak berani
abaikan tugasnya, ia pamitan dan berangkat pulang malam
juga.
Malam itu sunyi, bulanpun sudah doyong ke Barat,
bintang bintang banyak, tetapi Thio Hie justeru gembira
dengan suasana itu, ia melakukan perjalanan dengan gunai
ya heng sut. Dari Ceng liong tin, ditempat terbuka, ia
menuju ke Yo kee chung, Walaupun ia lari keras,
tindakannya tidak menerbitkan suara. Ketiga ia sampai
dimuka tikungan dari gunung Siauw San, tiba2 ia dengar
berisiknya tindakan kaki disebelah depan. Ia heran. Ia
menduga, kalau bukannya rombongan piauwsu, itu mesti
ada orang kang ouw juga. Ia berhenti berlari, ia sembunyi
disebuah pohon, matanya mengawasi.
Sebentar saja antara suara tindakan ramai, kelihatan
serombongan dari tujuh orang, yang mengiringi sebuah
kereta. Dijalanan sukar seperti itu, kereta jalan pelahan

sekali. Enam orang berpakaian ringkas serta membawa


golok dipinggang mansing2. Orang ke tujuh, yang berkumis
berewokan dan bajunya thungsha jalan paling belakang.
Dua orang, yang berjalan didepan, bicara satu sama lain,
tetapi suara nya rupanya tidak terdengar oleh pemimpinnya
dibelakang itu.
Hio cu terlalu berhati2, dia jadi bikin kita susah,
demikian yang satu, dengan suara menggerutu. Dengan
terus jalan diair, jalanan ada lebih ringan. Mustahil dengan
adanya kita beramai, si bibit bisa lolos? Justeru dengan
berjalan cara ini, aku kuatir, sebelum sampai dipusat, bisa
terbit onar
Jangan kau menggerutu, kata yang ke dua. Aku
percaya, bukannya tanpa alasan yang Hio cu berlaku
demikian hati2. Selama sebelum keluar dari Hoolam, tiga
kali kita telah menerima pemberitaan dari pusat Barat,
katanya sejak kita mulai berangkat, orang telah mulai susul
kita, bahwa jumlahnya mereka tidak sedikit. Liong Tauw
Pang cu sendiri, dengan surat cepat telah titahkan setiap to
cu di tempat2 yang dilalui untuk bantu melindungi. Bila
tidak penting, tidak nanti dikirim segala pemberitaan dan
pesan itu. Biar bagaimana, dua bibit ini tak dapat dibikin
lolos. Asal kita sudah lewati gunung Siauw San ini, Hong
To cu akan menyambut kita dengan perahunya..
Karena orang lewat didekatnya, Thio Hie dengar
pembicaraan itu, tetapi ia antap orang lewati ia. Ia hanya
heran dengan kata itu. Kata bibit membuat ia menduga
pada orang culikan. Maka, untuk mencari tahu, ia lalu
menguntit.
-o0dw0oXVII

Rombongan itu menuju kesebuah dusun kecil, mereka


berhenti didepan satu rumah penginapan. Thio Hie terus
mengikuti, ia melihat orang ribut mulut kepada jongos,
sampai si pemimpin datang sama tengah, katanya Kami
bukan mau merampas, buat apa banyak mulut? Kami
dahar, kami sewa kamar, kami membayar! Jangan main
gila terhadap kami!
Lalu muncul tuan rumah, yang memberi tahu bahwa
sebenarnya kamar habis, tinggal dua, disebelah depan, tentu
tak cukup untuk mereka beramai.
Kalau kamar penuh, bilang penuh! kata si pemimpin.
Biar kami pakai dua kamar itu, seadanya saja!
Tuan rumah perintah pentang pintu pekarangan, akan
memberi kereta masuk.
Begitu pintu ditutup, Thio Hie memutar kebelakang
dimana ia naik keatas genteng. Ia masih sempat melihat
orang kerumuni kereta dari mana mereka keluarkan dua
bungkusan panjang, yang mereka gotong masuk. Jongos
nampaknya heran tetapi ia ditegur Kau jangan heran, kami
sedang jalankan tugas! Jangan banyak omong, jangan usil!
Jongos itu berdiam, ia melayani seperti biasa, tetapi ia
sudah menduga mereka ini mestinya orang jahat atau
saudagar busuk.
Thio Hie melihat kamar cuma sepuluh, enam di Timur.
Dua yang dipakai rombongan itu berada di Utara, dua2
kamarnya kecil dan kate, belakangnya tidak ada jendelanya.
Ia merasa sulit. Diam2 ia meringkaskan pakaiannya. Ia
menunggu sampai orang duduk bersantap, ia meloncat
turun. Ia menghampiri jendela, ia mengintai antara lobang
jendela, hingga ia bisa melihat nyata.

Lima orang duduk memutari meja, si pemimpin duduk


madap kedepan, dia cuma mengicipi arak, tetapi yang
lainnya menenggak dengan rakus. Dipembaringan ada dua
orang, yang rebah nyender separuh duduk. Mereka
terbelenggu kaki tangan, terang mereka ada satu lelaki dan
satu perempuan, tetapi mukanya tidak tertampak nyata,
rambut mereka awut2an. Dua orang dengan golok ditangan
menjaga mereka itu. Thio Hie segera dengar, satu orang
berkata Sahabat, kapan kau ingin dahar atau minum,
bilang saja, kami tak dapat layani terus padamu. Kau
berdua juga mesti tahu diri, supaya kau tidak sampai
tersiksa!
Salah seorang tawanan mengangkat kepalanya, ia kata
dengan berani Jikalau kau hendak bunuh Hoa Jie thayya,
segera lakukan itu, tetapi jangan menghinakan kami, itu ada
perbuatan satu pithu! Atau kita nanti damprat padamu!
Kau sudah terjatuh kedalam tangannya tuan2 besar,
jangan kau banyak tingkah! kata orang ke dua, yang lebih
muda. Ingat, mati atau hidup, kau ada ditangan kita! Apa
kau ingin tahu rasa?
Jangan berisik, kata si orang yang terlebih tua yang
muncul sambil singkap muilie, kemudian ia teruskan pada
dua orang tawanannya Kau ada murid2nya ahli2 silat,
pasti kau mengerti bahwa siapa berhutang, dia mesti
membayar, maka itu, jangan sesalkan kami, karena sebagai
orang2 titahan, kami mesti berlaku begini rupa kepada kau
berdua. Asal kau jangan memikir yang tidak tidak, tidak
nanti kami ganggu kau berdua. Umpama kau berniat juga,
tidak nanti kau mampu loloskan diri, maka janganlah
mencari! Kemudian, ia menoleh pada dua kawannya
Bawa barang makanan kemari!
Salah satu dari dua penjaga itu, yang tubuhnya tinggi,
lantas pergi keluar, akan sebentar kemudian dia kembali

membawa barang makanan dan air minum, sedang


kawannya diperintah kendorkan belengguannya kedua
orang tawanan itu.
Kau daharlah, kata sipemimpin dengan manis budi
Mengapa kau tidak hendak lekas habiskan saja jiwa kami?
tanya siorang tawanan lelaki, dengan sengit. Apa ini
bukan berarti kau akan tinggalkan bibit bencana? Satu kali
kami lolos, kita tidak akan kenal kasihan2 lagi!
Thio Hie percaya, omongan itu ada untuk bikin orang
gusar, tetapi pemimpin itu tetap tenang, ia hanya kata pada
dua penjaga itu Sekarang pergi kau dahar, dan mewakili
kau menjaga mereka ini. Jangan kau minum banyak2.
Cee To cu, baik kau dahar dahulu, biar kami yang terus
jagai mereka, kata dua orang itu.
Tetapi orang yang dipanggil Cee cu itu menggeleng
gelengkan kepala.
Kita berada ditengah jalan, aturan kita perlu tetap
diperhatikan, kata dia. Pergi kau dahar! Sebentar kau
boleh bergiliran.
Dua orang itu tidak berkata apa2 pula, mereka berlalu.
Thio Hie telah menantikan sekian lama, ia ibuk
sendirinya. Ia pun belum lihat tegas romannya dua orang
tawanan itu. Ia bisa bongkar jendela, tetapi orang berjumlah
besar, ia tidak mau berlaku sembrono. Tiba tiba ia dengar
tindakan kaki, lantas ia bersembunyi ditempat gelap. Ia
lantas lihat satu jongos datang bawa air matang, untuk
kamar Timur. Ketika jongos itu keluar pula, selagi ia
tundak hampiri jendela pula, mendadak ada suara diatas
genteng, lalu satu bayangan berkelebat. Ia sembunyi terus,
ia pasang mata.

Bayangan itu, diatas kamar Barat, celingukan kebawah,


lalu dia meloncat turun akan menghampiri pintu kamar si
orang2 jahat, kemana dia lantas masuk. Lekas2 Thio Hie
mengikuti, untuk mengintai di celah2 pintu.
Orang yang baharu datang itu berumur kurang lebih tiga
puluh tahun, romannya sangat licin dan kejam, pakaiannya
ya heng ie biru, di bebokongnya tergendol golok,
dipinggangnya ada tergantung sebuah kantong. Dia bicara
kepada orang2 jahat itu, yang rupanya tidak kenal baik
padanya, karena semua siap sedia dengan senjatanya.
Saudara2, aku datang atas titah Hong To cu, kata ia
itu.
Dari See louw Cong to, Pusat Barat, kami terima warta
bahwa Cee To cu sedang antar dua biji bibit, maka itu.
Dia belum bicara habis, atau tiba2 si pemimpin muncul.
Oh, Cio Sutee! kata dia.
Sudah berapa tahun kita tak bertemu. Aku percaya kau
banyak senang mengikuti Hong To cu. Silahkan duduk.
To cu, kita bukannya sahabat2 baharu, jangan seejie
kata orang baru itu. Aku datang untuk menyambut. Hong
To cu telah menerima kabar dari pusat bahwa musuh sudah
mengumpulkan kawan untuk tempur kita, bahwa mereka
sedang menyusul, maka kita diperintah menyambut. Aku
adalah juruwarta. Hong To cu sudah atur dua puluh orang
untuk menyambut diperbatasan.
Thio Hie cerdik, dengan datangnya Cee To cu ini, ia
tahu bahwa kamar tahanan kosong, maka lekas2 ia menuju
kesana. Dari jendela ia melihat si anak muda sedang
minum dan si nona sedang tunduk. Ia angkat daun jendela
atas untuk melongok kedalam tetapi orang didalam dengar
suara, walaupun pelahan, kedua nya angkat kepala dan

mengawasi. Ia seperti mengenali pemuda itu, tetapi ia


melihat kurang tegas, maka ia lekas gerak geraki tangan
kanannya akan menanya, mereka itu bisa lolos atau tidak.
Ia belum dapat d yawaban, atau ia dengar suaranya si
penjahat Jangan alpa, pergi tengok!
Thio Hie niat undurkan diri atau ia tampak, si nona
menimpuk kearah dia, dengan sebuah bola putih kecil,
ketika ia kelit, benda itu jatuh keluar jendela. Lekas ia
turunkan daun jendela, ia jemput bola itu, terus ia
menyingkir, karena ia dengar tindakan kaki. Untuk periksa
bola kertas itu, ia keluar dari pondokan, ia pergi ketempat
sepi dimana ia nyalakan api cian lie hwee. Ia tidak lihat
huruf2 kapan ia beber gulungan kertas itu, adalah setelah ia
membulak balik didepan api, ia terperanjat akan melihat
titik2 lobang yang merupakan surat, terutama alamatnya,
untuk See Gak Pay. Segera ia membaca, sampai ia mengerti
bunyinya surat rahasia itu.
Aku tak dapat menolong mereka, tetapi baik aku coba
mencari keterangan lebih jauh, pikir ia kemudian. Karena
ini, ia kembali kepondokan. Ia hampirkan tembok Timur, ia
berloncat naik keatas genteng, benar waktu ia hendak
berloncat turun kedalam pekarangan, ia mendengar
samberan angin dari samping kiri, golok dan orang datang
dengan berbareng. Dalam kaget ia berkelit, ia terus totok
orang punya jalan darah sam lie hiat dari tangan kanan
yang menyekal golok.
Penyerang itu berkelit, atas mana Thio Hie segera hunus
pedangnya, tetapi, belum sampai pedang tercabut semua,
dari belakang kembali datang serangan, dengan ruyung
lemas cit ciatpian. Sambil kelit kekanan, Thio Hie teruskan
mencabut pedangnya, dengan apa ia balas menikam iga kiri
musuh. Ia bisa bergerak gesit sekali.

Penyerang dari belakang itu menggeser kaki kiri, disusul


geseran kaki kanan, dengan begitu ia bisa tangkis tusukan
pedang. Tetapi Thio Hie, yang loncat kekanan, terus
mengangkat kaki kirinya menjejak lutut kiri orang itu. Ia
mendapat hasil, hanya jejakan nya tidak mengenai jitu,
karena sambil jatuhkan diri kebawah genteng, penjahat itu
mengenai tanah seraya berdiri dengan kedua kakinya, cuma
sebab sebelah kakinya sakit, ia toh rubuh celentang, hingga
ruyungnya mengenai tanah dan menerbitkan suara,
membuat kaget orang2 didalam.
Siapa? begitu menanya tiga atau empat suara.
Ada orang jahat! ada jawaban penjahat diatas genteng.
Thio Hie ibuk juga, karena segera ia dikurung tiga
musuh. Iapun dituduh sebagai penjahat. Ia tidak mau
bertempur lama, ia menggertak dengan serangan, lalu ia
lompat nyeplos, lari keluar pekarangan. Ia dikejar, tetapi ia
ada sangat gesit, ia dapat melenyapkan diri, sesudah mana,
lekas2 dan terus ia lari pulang ke Kwie in po. Ketika ia
akhir nya sampai, penjaga pintu beritahukan ia hal
kedatangannya Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu serta
rombongan, maka ia cepat masuk untuk menemui.
Demikian ia serahkan surat rahasia dan tuturkan
pengalaman nya.
Dua2 parasnya Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu jadi
berubah.
Penderitaannya In Hong dan Hong Bwee adalah karena
salahku seorang, nyatakan jago Hoay Siang itu. Kawanan
itu baharu melewati gunung Siauw San, jaraknya dari sini
belum ada seratus lie, tak dapat mereka itu dikasi pergi lebih
jauh! Biar bagaimana In Hong berdua mesti ditolong! Sutee,
baik kau berangkat belakangan ber sama2 Am cu, aku
hendak berangkat sekarang!

Eng Jiauw Ong segera berbangkit akan menjemput


buntalan nya.
"Sabar, suheng! Ban Liu Tong mencegah. Kita telah
mendapat tahu dimana adanya orang2 jahat itu. memang
tak dapat kita berayal pula, tetapi kalau kita hendak
berangkat, marilah ber sama2! Aku lihat, kita bisa
menangguhkan keberangkatan sebentar lagi. Umpama
suheng dapat candak mereka, diwaktu siang hari, tak bisa
suheng serta turun tangan. Aku percaya, In Hong berdua
tak dalam bahaya langsung. Terang sudah penjahat culik In
Hong dan Hong Bwee untuk pancing atau paksa kita
datangi sarang mereka. Aturan dari Hong Bwee Pang ada
bengis, dimana telah ada pesan akan lindungi In Hong
berdua, fidak nanti mereka diperlakukan kasar atau kejam.
Atau pasti In Hong dan Hong Bwee akan bela dirinya.
Maka biarlah aku mengatur dulu sebentar disini, sebentar
fajar baharu kita berangkat.
Eng Jiauw Ong bisa dibikin sabar, begitu juga Cu In Am
cu.
Ban Liu Tong lantas pergi ke thia besar dimana ia
menghimpunkan orang2nya, disatu pihak orang pasang api
terang2, dilain pihak, kentongan hong kong in poan telah
dipalu hingga suaranya mengaung beberapa lie. Siapa
dengar tanda ini, biar bagaimana repot, orang mesti datang
berkumpul.
Dalam tempo yang lekas, kumpullah orang penting dari
Kwie in po, Ban Liu Tong lantas tuturkan kepada mereka
itu adanya persengketaan dengan Hong Bwee Pang, hingga
sebagai orang Hoay Yang Pay, ia mesti ikut suhengnya,
dari itu ia memesan, selama kepergiannya ia minta semua
orang menjaga dengan waspada, semua mesti taat pada
wakilnya yaitu Thio Hie, murid nya yang kedua. Ia berjanji
akan kembali dalam tempo satu atau setengah bulan.

Dengan adanya Thio Jie ya sebagai wakil, pocu boleh


pergi dengan hati Yega! demikian orang banyak
memberikan janji nya.
Cukup dengan tindakannya itu. Ban Liu Tong bubarkan
himpunan. Selama itu sudah jam lima. Guru ini pesan pula
Thio Hie, setelah itu, ia kembali keruangan Barat. Iapun
perintah lekas sediakan barang makanan dan teh, untuk
mengisi perut bersama kedua tetamunya.
Mari kita berangkat, kata Siok beng Sin Ie kemudian,
sesudah mereka dahar cukup.
Justeru itu, Coh Heng menghalang didepan gurunya, ia
nyatakan ingin ikut. Ia tidak mau disuruh terdiam dirumah
dibawah kendalian jie suhengnya. Ia kata ia mau turut
kemana guru nya pergi. Sia2 saja Liu Tong memberi
keterangan dan nasihat. Biasanya ia dengar kata tetapi kali
ini, ia membandal. Selagi sang guru kewalahan, Cu In Am
cu nyatakan baik murid itu diajak, benar dia tak mengerti
ilmu entengi tubuh tetapi dia bertenaga besar, sedikitnya
murid ini boleh diperintah bawa buntalan dan disuruh
suruh.
Siapa tahu bila ia ada guna nya? nyatakan si nikow
tua terlebih jauh. Dengan begitu, mereka juga tak usah
membuang tempo dengan membujuki si tolo! itu.
Diakhirnya Ban Liu Tong mengajak muridnya
meninggalkan Kwie in po, akan turun dari gunung Kian
San. Maka itu, rombongan mereka jadi berjumlah sembilan
orang. Mereka memotong jalan menuju ke Siauw San.
Mereka jalan selagi cuaca fajar remang2, pada jam Sin sie,
kira2 jam tujuh atau jam delapan, mereka sudah sampai di
Tan kee tun, mendekati jalan besar umum. Mereka sudah
lalui empat puluh lie lebih.

Jumlah kita besar juga, untuk singkirkan kecurigaan,


baik kita jalan berpencar, Eng Jiauw Ong mengusulkan
pada su teenya.
Suheng benar, setujui Siok beng Sin Ie, cuma kita tak
dapat berpisah terlalu jauh. Kapan sebentar kita sampai
diluar batas Siauw San, hari tentu masih siang, Thio Hie
bilang, disana ada dua rumah penginapan, kita baik
mengambil satu pondokan saja, asal datangnya saling
susul.
Cu In pun setuju, maka antas mereka berpecah dua,
yalah si nikow bersama murid2 nya, dan Eng Jiauw Ong
bersama Ban Liu Tong serta murid nya mereka ini. Cu In
jalan lebih dahulu.
Pada jam Sien sie, tiga atau empat lohor, mereka sudah
mulai melihat dusun diluar batas gunung Siauw San.
Menurut Thio Hie disebelah Timur ada penginapan Kit
Seng dan di Selatan Hok Goan. Cu In dapat mencari
dengan gampang hotel yang pertama itu kemana ia menuju
langsung. Sebelum ia mengambil tempat, ia sengaja tanya
dahulu pelayan, disitu ada kamar yang bersih atau tidak, ia
minta melihat semua kamar, hingga ia dapat kenyataan,
kawanan Hong Bwee Pang masih belum berangkat,
keretanya pun masih ada. Diam2 ia bersyukur, tetapi juga ia
kagum untuk nyali besar penjahat itu, yang tidak lekas2
berangkat walaupun tadi malam ada terjadi peristiwa.
Diam2 Cu In titahkan Siu Hui pergi papaki Eng Jiauw
Ong, untuk suruh kawan itu menginap saja dihotel Hok
Goan, supaya mereka itu tak usah ketemu dengan pihak
penjahat, agar mereka tak sampai dapat dikenali.
Selagi pelayan datang dengan air teh, Cu In Am cu
menanya pelayan itu tentang kereta diluar kepunyaan hotel

atau tetamu. Ia kata ia berniat menyewa kereta untuk


lanjutkan perjalanannya.
Pelayan itu berikan keterangan bahwa kereta itu adalah
kepuyaan tetamu2nya dari kamar Timur.
Mereka berjumlah enam atau tujuh orang, sebuah
kereta mana cukup?
Jumlah mereka memang besar, sahut si pelayan.
Rupanya mereka ada dari pihak kepolisian, kereta itu ada
untuk dua orang diantaranya
Apa dua orang itu ada orang2 sakit?
mereka? tanya Cu In.

Berapa umur

Pelayan itu menggeleng kepala.


Mereka itu datang tadi malam, sahut ia. Mereka
sudah berdiam disini satu malam dan satu hari, tetapi
sampai sekarang ini, belum pernah aku mendapat lihat dua
orang itu. Kami dilarang masuk kedalam kamarnya dua
orang itu.
Pelayan ini tidak dapat berbicara lobih jauh, karena
pihak sana terdengar memanggil padanya. Tetapi apa yang
dia katakan sudah cukup akan menguatkan dugaannya Cu
In Am cu bahwa rombongan itu adalah kawanan penjahat
yang dimaksudkan.
Tidak lama, Siu Hui telah kembali, akan bawa balasan
kabar dari Eng Jiauw Ong dan Kan Liu Tong dengan siapa
ia bertemu sendiri. Mereka itu menjanji akan datang
selewat nya jam dua dan Cu In diminta pasang mata,
dikuati musuh yang licin itu nanti bisa gunai daya untuk
meloloskan diri.
Cu In pun pesan murid2nya berlaku waspada pula.

Sorenya, sehabis waktunya dahar, sesudah tak terlalu


banyak orang keluar masuk, Siu Yan bertindak keluar
kamar. Dijalanan kedapur ia melihat pelayan membawa
tehkoan. Dikamar Timur ia melihat bayangan dari banyak
orang. Di dua kamar penjahat, yang apinya lemah, keadaan
ada sunyi sekali. Ia heran. Selagi ia memandang kepayon,
ia melihat selembar kertas ter tiup2 angin. Ia jadi semakin
heran. Ia tidak melihat orang disitu, ia segera maju akan
menghampirkan, lalu sambil mengenjot tubuh ia jambret
kertas itu. Selagi turun, ia sekalian melongok kedalam
kamar. Untuk kagetnya, ia mendapati kamar kosong! Tak
ayal lagi ia lekas kembali kekamarnya sendiri.
Cu In sedang duduk bersamedhi kapan ia tampak roman
aneh dari muridnya yang keenam itu.
Ada apa, Siu Yan? ia mendahului menanya.
Rupanya orang2 jahat sudah lolos! sahut Siu Yan
dengan romannya tegang.
Apa? tanya sang guru. Bagaimana kau ketahui itu?
Kamar mereka kosong! Tee cu dapati surat ini dipayon
kamarnya, entah apa bunyinya, karena tee cu belum baca,
jawab murid itu sambil segera angsurkan sepotong kertas
itu.
Cu In menyambuti dengan cepat, hingga ia bisa lantas
membaca Kepada Nikow tua dari See Gak Pay! Sudah
lama kami menantikan, tetapi tak juga kau datang, maka,
selamat tinggal!
Nanti disebelah depan saja kita bertemu pula!
Bukan main murkanya pendeta wanita ini, hingga ia
lempar surat itu.

Didepan kita, penjahat gunai kelicinannya, aku malu


bertemu dengan Ong dan Ban Supemu! kata ia pada
murid2nya. Lekas siap, mari kita susul mereka itu! Lalu
ia tambahkan pada Siu Seng, muridnya yang kedua Lekas
kau pergi kehotel Hok Goan akan beritahukan kedua
supemu untuk mereka segera berangkat! Bilang kita akan
bertemu di Liong hoa!
Siu Seng menurut, ia lantas berangkat.
Cu In panggil pelayan, dengan alasan ada urusan penting
ia lakukan pembayaran, lalu ia ajak murid2nya berangkat.
Dijalan besar, dimana memang tak banyak toko atau
warung, semua pintu sudah ditutup, dan yang berlalu lintas
tinggal satu atau dua orang. Maka itu, empat orang ini
lantas gunai ya heng sut. Sang guru masih gusar, ia sampai
melupai muridnya, ia lari demikian pesat hingga tiga
muridnya ketinggalan. Setelah enam lie, Siu Yan dan Siu
Hui berada setengah lie dibelakang dan Siu Sian, murid
ketiga, dengan susah payah, dapat juga menyandak
gurunya.
Nikow ini menduga, penjahat itu tentu menyangka ia
akan lantas menyusul. Ia percaya, mereka pasti akan
mengambil jalan air di Timur Daya kota Eng leng, bahwa
jalan pertama yang diambil ada jalan perhentian Ang touw
ek. Maka iapun mengambil jurusan ini. Disini jalanan ada
belukar atau ladang kaoliang, di ladang, jalanan banyak
cabang nya, keadaannya sangat sepi. Maka selagi
perhatikan jurusan, pendeta ini tak berlari lagi.
Mana mereka? ia tanya Siu Sian, selagi murid ini
dekati ia. Ia maksudkan dua murid2nya yang lain.
Kedua sutee ketinggalan, sahut Siu Sian.
Cu In hendak menanya pula ketika dengan tiba2 ia
mengebut tangannya sambil loncat kedalam ladang,

perbuatan mana diturut oleh muridnya, kemudaan mereka


melihat, setengah panahan diauhnya disebelah kiri mereka,
ada dua bayangan lari melesat. Baharu keduanya hendak
munculkan diri, atau Siu Yan berseru dengan tertahan
Masih ada, suhu!...."
Benar saja, lagi dua bayangan melesat lewat.
Mari kita kejar! Cu In kata pada muridnya. sambil ia
mendahului meloncat keliri, kejalan yang diambil empat
bayangan itu.
Siu Sian susul gurunya. Ia menduga empat orang itu
tentu orang2 dari Rimba Hijau.
Cu In Am cu niat mencegat, dari jalanan kecil itu ia
menuju ke Timur.
Empat bayangan itu rupa2nya ada orang2 Rimba Hijau
yang liehay, mereka baharu saja menikung dan lari terus
kearah Timur itu.
-o0dw0oXVIII
Orang seperti main kejar2an. Selagi pendeta dari See
Gak Pay mengejar terus, empat bayangan didepan itu,
muncul dan lenyap saling bergantian, lalu lenyap dan
muncul pula. Dibelakang pendeta ini menyusul beruntun
ketiga muridnya, Siu Seng dan Siu Yan ketinggalan
dibelakang Siu Sian.
Mereka tetap berada ditanah ladang, dimana kadang2
ada gubuk untuk petani meneduh. Selagi Cu In dan Siu
Sian lewati sebuah gubuk, mendadak dari atas itu melesat
turun satu bayangan, turun disebelah depan mereka.

Gesit luar biasa, Cu In lompat kesamping kiri, dan Siu


Sian, tanpa pengunjukan lagi, melesat kekanan. Inilah
kebiasaan orang yang berjalan malam, untuk tidak berada
berkumpul. Cu In sudah lantas rogo tiga batang See bun Cit
poo cu, muridnya pun bersiap seperti Cu In juga.
Apakah am cu disana? tiba terdengar pertanyaan,
selagi kedua pendeta itu hendak geraki tangan mereka
masing2.
Oh, Ban Loo su! berseru Cu In, yang batal dengan
penyerangannya. Ia kenali suara itu, yang berat.
Su siok! memanggil Siu Sian, yang pun sudah lantas
simpan senjata rahasianya.
Siauw suhu! berkata Liu Tong kepada murid pendeta
itu.
Am cu! ia teruskan pada Cun. Eh, mana lagi dua
murid Am cu?
Cu In kerutkan dahi, agak nya dia likat. Dia bukan jawab
tabib itu, ia hanya kata Sudah ia puluh tahun pin nie
andalkan pedangku, belum pernah aku gagal, siapa sangka
malam ini aku kena dipermainkan oleh segala tikus!
Sebenarnya malu aku akan menemui Ban Loo su
Selagi Ban Liu Tong merasa heran, pendeta ini tuturkan
hal lolosnya kawanan penjahat, hingga ia mesti menyusul
dengan segera, hingga dua muridnya ketinggalan jauh
dibelakang.
Pin nie sangka kawanan itu menuju ke Ang touw po,
maka pin nie menyusul kemari, tetapi mereka telah
mendahului lewat, Cu In tambahkan. Baharu saja mereka
itu lenyap didepan kita. Pin nie tidak sangka Ban Loosu
telah dapat menyusul kemari. Apakah loosu ada menemui
suatu apa ditengah jalan?

Dalam hal ini, kekeliruan kita adalah karena kita


pandang enteng kepada musuh, sahut Siok beng Sin Ie, si
Tabib Malaikat Penyambung Jiwa. Diluar sangkaan,
didalam rombongan mereka ada orang yang liehay. Ketika
kita terima kabar dari Siu Seng, kita berangkat dengan
segera. Baharu kita meninggalkan tempat mondok, atau kita
lantas melihat musuh. Dengan cerdik, mereka mencoba
memisah kita berdua, hingga kita masing2 mengejar
sendiri2. Kita sudah pesan Siu Seng untuk ajak Su touw
Kiam dan Coh Heng menuju langsung ke Ang touw po, kita
larang mereka melayani musuh. Musuh itu menyingkir
kedalam ladang yang lebat. Inilah sebabnya kita jadi
bertemu disini. Menurut penglihatanku, am cu, orang
hendak bikin kita menyasar jalan, orang sengaja hendak
perlambat kita. Disini cuma ada jalanan kearah Timur,
tidak kearah Selatan. Maju lebih jauh, kita akan sampai di
Gie yang, kotanya. Penjahat membawa dua mangsanya,
tidak nanti mereka mengambil jalan raya dimana mereka
bisa tarik perhatian umum. Konconya Hong Bwee Pang
tersebar dipelbagai tempat tetapi umumnya lebih banyak
dipihak air. Juga diair ada lebih gampang buat mereka
memapak atau menyambut. Sekarang mari kita menuju ke
Ang touw po akan gabungkan diri dengan Ong Suheng, dari
sana kita pergi ke Liong hoa. Aku pikir kita baik berpecah
dua akan ambil jalan darat dan air dengan berbareng.
Bagaimana pikiran am cu?
Ban Loo su benar, sahut Cu In. Barusan kita kena di
permainkan, aku tidak puas sekali, maka mari kita maju
dahulu akan melihat daerah ladang ini, yang luas. Kalau
disini ada jalanan cabang, penjahat mestinya telah ambil
itu. Kita mesti ketahui kemana mereka menuju, atau disini
mereka mempunyai tempat persinggahan. Aku percaya
mereka menyingkir terus ke Timur. Silahkan Ban Loo su

berangkat lebih dahulu, disana tolong tunggui pin nie. Atau


barangkali loo su ingin ikut bersama dulu.
Melihat sikap orang itu, Ban Liu Tong jadi kagum, ia
tidak berani mencegah.
Baiklah, am cu, kata ia. Mari kita berangkat!
Tanpa sungkan lagi Cu In enjot tubuhnya, akan
berloncat, perbuatan mana ditelad oleh Ban Liu Tong.
Maka itu, Siu Sian pun turut ber lari2 akan menyusul,
mengikuti.
Sampai kira2 satu lie, mereka tidak melihat jalanan
cagak. Dua lie kemudian, mereka dapati ladang kacang
serta dua tiga bidang tanaman sayur, yang hidup dari air
sumur. Disini Cu In kendorkan larinya, untuk bisa melihat
kesegala penjuru. Ladang ada sangat luas, melainkan diarak
Timur tertampak gundukan tanah tinggi.
Lihat loosu, tanah ladang yang luas ini, kata Cu In.
Gundukan tanah di Timur itu rupanya ada gunung Liang
Seng San. Selewatnya batas gunung itu ada dusun Han seng
tin. Apa bisa jadi mereka sudah pergi kegunung itu? Mari
kita pergi ke sana, barangkali di Han seng tin kita tak akan
kecele
Mari, am cu! Ban Liu Tong menyatakan setuju.
Mungkin penjahat singgah disana.
Tempat ini rada terbuka, kita harus lekasan, pendeta
itu bilang.
Ban Liu Tong manggut, lantas ia mengikuti nikow itu
membuka tindakan pesat.
Siu Sian mengikuti terus tanpa ia berani campur bicara.
Mereka menuju ke Timur, selewatnya tiga empat lie
mereka sampai disebuah bukit yang tinggi. Itu adalah

gunung Liang Seng San, dijurusan Barat laut. Mereka


hampirkan kaki bukit. Disini ada rumah2 penduduk tetapi
tidak merupakan kampung. Berdampingan dengan lamping
gunung ada belasan rumah, yang terbenam dalam
kesunyiannya ang malam. Rumah itu nampaknya tak
pantas untuk jadi sarang penjahat. Maju lebih jauh, Cu In
menghampiri sebuah pekarangan luas yang dilingkungi
tembok yang tingginya setumbak lebih, buatannya kekar,
yang kelihatannya tidak surup, sebab letaknya ditempat
sedemikian sunyinya.
Untuk mendekati, Liu Tong mengajak Cu In dan
muridnya berpencaran.
Tiba2 disudut Barat daya ada satu bayangan berkelebat
kearah Selatan. Dijurusan itu ada tanah tinggi, yang sampai
pada ladang rata. Liu Tong ingin memberi tanda pada Cu
In, akan tetapi pendeta itu sudah mendahului mengumpat
didalam semak. Ia pikir akan terbicara dengan Siu Sian,
yang sedang menghampiri padanya, tetapi murid nikow ini
pun sudah lantas berbisik Guru minta supe kejar penjahat
itu.
Mengerti yang Cu In pun telah melihat bayangan itu, Liu
Tong lak ayal lagi loncat menyusul. Dibelakang ia Siu Sian
membuntuti.
Orang tadi berlari kearah Barat daya, jauhnya tiga
panahan, ia masuk kedalam ladang lebat, sedetik ia
menerbitkan berisiknya suara dedaunan, lalu sunyi senyap.
Sudahlah, supe, kita jangan menuysul terus! terdengar
suara nya Siu Sian. Didaerah ini ada beberapa orang kang
ouw, mereka nanti mungkin ketemu musuh kita, maka kita
jangan mem buang2 tempo disini. Mari kita kembali ke
Liong hoa ek supaya orang disaana tak usah ibuk
mengharap kita!

Suaranya murid Cu in ini ada keras, lantas ia putar tubuh


untuk berlalu, ber sama2 saudaranya Eng Jiauw Ong.
Ketika sudah jalan sedikit jauh dan mendekati sebuah
pohon besar, tiba2 satu orang kelihatan loncat turun sambil
melayang, kakinya menginjak tanah dengan tanpa bersuara.
Siapa? menegur Liu Tong, yang ber sama2 Siu Sian
berloncat menyamping.
Aku, loosu, sahut suaranya Cu In. Kita telah terlihat
oleh musuh!
Apakah am cu tahu dimana sembunyinya musuh? Liu
Tong bertanya.
Ya, sahut nikow itu. Penjahat tadi cuma memancing
loosu dan muridku, untuk menyimpangkan sasaran kamu
berdua. Dia sembunyi ditempat belukar, lalu dengan diam2
dia jalan memutar, akan kembali ketembok besar itu. Aku
naik ketempat tinggi, dengan begitu aku jadi bisa melihat
gerak geriknya. Tembok itu pasti ada sarang mereka. Aku
percaya mereka duga kita telah pergi ke Ang touw ek.
Bagaimana bila kita selidiki gedungnya itu?
Kitapun telah duga permainan gila dari penjahat ini,
maka tadi kita berpura pura balik, menerangkan Liu Tong.
Kita harus waspada, mereka cerdik sekali. Aku percaya,
ini bukanlah pusat mereka, ini sekedar cabang saja
Cu In manggut, ia menoleh pada muridnya yang ke tiga.
Kita hendak selidiki sarang penjahat itu, hati2, didepan
su pe jangan kau banyak tingkah, ia memesan.
Jangan kuatir, suhu, didepan supe aku tak berani main
gila, sahut Siu Sian.
Kembali guru itu manggut.

Nah, loosu, mari kita selidiki dahulu sekengnya tembok


itu, lalu kita berkumpul dibelakang ia mengajak.
Liu Tong setuju, ia menganggukkan kepala.
Kalau begitu, perkenankanlah aku jalan duluan, kata
Cu In.
Nikow ini berpengalaman tapi ia beradat keras, maka itu
ia mau berjalan lebih dahulu, karena mana, Liu Tong jadi
mengambil jalan sebelah Barat.
Tembok itu letaknya dikaki atau lembah Selatan dari
Liang Seng San. Waktu itu rombongannya Cu In berada
disebelah atas, maka untuk menghampiri, mereka mesti
jalan mudun. Ketiganya telah menunjukkan keentengan
dan kegesitan tubuh mereka. Mereka tak menghiraukan
jalanan banyak batu dan pepohonan yang sukar.
Bagaimana? tanya Cu In, yang sampat lebih dulu
dibelakang. Loosu melihat apa2?
Mereka telah berkumpul pula dalam tempo yang pendek.
Tidak apa2, am cu. Bagaimana dengan am cu sendiri?
Liu Tong baliki.
Aku melihat tiga jebakan, yang tak dapat dipakai
mengabui kita, sahut Cu In. Tapi itupun membuktikan
kelicinan mereka.
Ya, mereka liehay sekali, kata Liu Tong. Lihat saja
carauya mereka mendirikan tempat ini serta diaturnya
berbagai pohon. Dibelakang sana ada pekarangan untuk
berlatih silat. Lihat itu lima rumah disebelah Utara dengan
pohon2 siong dan pek serta jalannya yang rapi. Dari kamar
kecil di Selatan itu tampak cahaya api tapi kamamya
sunyi
Cu In Am cu menganggukkan kepala.

Mari kita coba lihat, kata ia.


Silahkan, Am cu.
Cu In loncat naik ke tembok akan lompat turun kedalam,
akan menghampiri rumah yang mereka persoalkan.
Didalam tembok itu terdapat pekarangan luas serta
beberapa rumah, jadi bukan melainkan sebuah gedung
besar saja. Dari luarnya tembok pekarangan itu kelihatan
seperti temboknya sebuah gedung.
Liu Tong dan Siu Sian mengikuti nikow tua itu. Mereka
pisahkan diri satu dengan lain jauhnya setumbak lebih.
Mereka melihat nyata satu pekarangan yang luas, tempat
yang banyak pepohonan nya dan lapangan latihan silat.
Diujung Barat daya lapangan itu ada sebuah rumah dari
mana keluar cahaya api.
Liu Tong menyambit dengan sebuah batu kedalam
kebun, ia tak mendengar sambutan apa2, maka ia terus
loncat turun akan menghampiri rumah itu, sebuah rumah
batu kecil tetapi kekar. Jendela kayu, yang kecil, teraling
dengan kertas minyak.
Mendekati jendela itu, Liu Tong mendengar suara napas
menggerus. Ketika ia tolak pintu angin, yang melainkan
dirapatkan, dari dalam semerbak baunya arak. Ia
mengawasi ruangan dalam yang kotor, lantainya pun
teralas rumput.
Didepan pintu terdapat dua buah gelang dengan
rantainya masing2, dan didekat gelang ada tergantung
sebuah cambuk kulit. Meja kecil terletak dekat jendela,
ditatas meja terdapat sebuah lampu yang apinya menyala.
Disitu pun terdapat sisa makanan berikut piring dan
mengkoknya serta dua poci arak, yang sudah terguling.
Seorang yang rupanya mabuk arak, terlihat berbaring
terlentang dengan sebelah kaki tertekuk.

Liu Tong pentang daun pintu, ia menoleh pada Cu In


sambil memanggut.
Nikow itu menghampiri, baharu melongok atau ia sudah
mundur pula. Ia rupanya tak tahan akan baunya arak.
Liu Tong pun merapatkan pintu akan mengikuti nikow
itu. Mereka menyingkir jauh dari kamar tersebut.
Rupanya itulah tempat tahanan orang, Liu Tong
mengutarakan sangkaannya. Sayang setan pemabokan itu
tak dibereskan.
Baik kita lihat kedepan, Cu In bilang. Kita mesti
belajar kenal dengan orang2 Rimba Hijau disini
Liu Tong menyahuti Ya lantas ia mengikuti lebih jauh.
Segera mereka mendekati sebuah rumah dengan lima
ruangan, mereka berkumpul didepan pintu pojok. Disini
Liu Tong mencoba berkelebat, ia tidak mendapati akibat
apa2. Lalu ia menolak daun pintu, akan bertindak masuk.
Tapi segera satu bayangan besar, lompat menubruk
padanya. Itulah seekor anjing galak, yang biasa menyerang
tanpa menyalak lagi.
Siok beng Sin Ie tidak kaget atau takut, sambil berkelit ke
kanan, ia ulur sebelah tangannya akan menyamber satu
kaki dari anjing itu, sedang tangan yang lain nya menimpa
kepalanya anjing itu. Hampir tak bersuara kepala binatang
itu hancur, tubuh anjing itu rubuh tanpa bernyawa lagi.
Justeru itu, diantara suara menyalak yang keras, seekor
anjing lain, yang terlebih besar, menubruk dari belakangnya
Liu Tong. Tabib ini berlompat kesamping, ia berniat balas
menyerang, tetapi Cu In mendahului membabat dengan
pedangnya, hingga tubuh binatang itu kutung dua dalam
tempo sekejapan mata!

Setelah itu, mereka loncat akan mengumpatkan diri,


karena kuatir ada penjahat yang keluar dan melihat mereka.
Kemudian ternyata, mereka bersembunyi dengan sia2,
berhubung disitu rupanya tidak ada orang kecuali dua ekor
anjing itu. Maka itu, mereka lantas loncat naik kepayon
rumah.
Ketika itu, sinar api kelihatan disebelah depan, dibagian
Selatan. Mereka menuju kesana. Sambil bersembunyi,
mereka melongok kedalam sebuah pekarangan yang, luas,
dimana, antara cahaya api yang terang, mereka melihat
sebuah rumah dengan lima ruangan atau kamar, yang
dibuat dari tembok, yang wuwungannya dibuat dari pada
batu, buatannya kekar, bentuknya luar biasa. Ruangan
tengah ada tinggi sekali, untuk menghampiri itu orang mesti
jalan ditangga batu. Di muka rumah pun ada jalanan
istimewa yang disebarkan batu disitu setiap lima kaki, ada
sebatang tiang dengan lenteranya dari kertas. Jalanan itu
belasan tumbak panjangnya, batasnya ada sebuah pintu
model bulan.
Waktu itu, dua orang kelihatan berjalan dijalanan
istimewa itu.
Di tangga rumah besar ada berdiri empat orang lelaki,
semua bertubuh tinggi besar, masing2 menyekal sebatang
golok, yang mestinya dicekal dengan dua tangan.
Ditangga rumah besar tampak bersatu kate dan satu
jangkung, mengenakan pakaian malam dengan golok
dibebokong masing2. Pada bebokong mereka juga ada satu
bungkusan besar. Ketika mereka berbicara dengan empat
orang itu rupanya pengawal keempat orang itu lantas
berpencar kedua samping, untuk mengasih mereka lewat,
akan bertindak naik dan masuk kedalam.

Ban Liu Tong dan Cu In Am cu dengan berani


menghampiri rumah besar itu, untuk bisa menyaksikan
lebih jauh. Mereka mengintai.
Dimuka thia tergantung sebuah sero, yang sudah
digulung naik, maka disitu kelihatan sebuah meja pat sian
toh serta kursi thay su ie. Perabotan lainnya tidak ada. Api
datangnya dari lilin atas ciaktay bersusun tiga.
Dikursi sebelah kiri berduduk seorang perempuan umur
kurang lebih tiga puluh tahun. Kulit mukanya kehitam
hitaman, tetapi romannya manis dan menarik hati. Ia
berpakaian serba hijau dan ringkas, kepalanyapun di
bungkus dengan ikat kepala hijau juga. Melihat rupanya, ia
seperti baharu pulang dari suatu perjalanan. Beberapa orang
lelaki datang pada nyonya ini akan memberi laporan, suara
mereka tidak terdengar nyata, hanya kemudian, yang
terakhir membuka sebuah bungkusan didepan nyonya itu.
Isinya bungkusan adalah rupa2 barang perhiasan permata
dan uang, separuh dari itu dipisahkan, dibiarkan didepan si
nyonya, yang lainnya dibungkus pula dan dibawa pergi
keluar.
Cu In dan Liu Tong segera mengerti, nyonya muda itu
ada kepala penjahat, dan dia sedang terima bagian.
Mestinya nyonya itu liehay, kalau tidak, tidak nanti dia
sanggup kendalikan kawanan penjahat lelaki itu. Mereka
hanya belum pernah dengar hal penjahat perempuan ini di
daerah Hoolam.
Kawanan penjahat itu sama sekali ada belasan. Setelah
selesai upacara pembagian harta itu dan ia sudah pesan
salah satu kawannya, si nyonya menguap, ia bangun
berdiri, atas mana, semua kawan itu pada mengundurkan
diri, ada yang ke depan, ada yang keruang Timur dan Barat.

Sesudah berada sendirian, nyonya itu jalan mundar


mandir, kemudian ia mengangkat tangan kepada empat
orang yang menjaga dimuka pintu seraya berkata Bawa
buah Nirwana itu kekamar Timur dan jaga baik2 dan titik
anak itu giring kekamar belakang, aku hendak periksa
padanya!
Empat orang itu masuk kedalam, akan sebentar
kemudian keluar lagi sambil menggiring dua orang, yang
diantara terangnya api nyata adalah Siu Seng, murid kedua
dari Cu In Am cu, dan Su touw Kiam, muridnya su heng
dari Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong. Jadi adalah mereka ini
yang dalam kata rahasia kang ouw disebut buah Nirwana
dan titik anak. Keadaannya mereka mirip dengan orang
sedang mabok atau layap2, seperti tak sadar akan dirinya.
Dengan separuh dipayang mereka dibawa turan keundakan
tangga batu.
Cu In Am cu jadi begitu murka, hingga ia sudah lantas
merabah pedangnya.
Sabar, berbisik Liu Tong, yang melihat kegusaran
kawannya itu. Kita ada disini, kita kuatirkan apa lagi?
Baik kita lihat dulu, apa yang penjahat perempuan itu
hendak berbuat
Cu In dapat dibikin sabar, maka bersama ketua dari
Kwie in po ia terus pasang mata.
Nyonya muda itu mengikuti keempat orangnya itu.
Baiknya mereka mengambil jalan pintu Timur, Liu
Tong berbisik jikalau mereka mengambil jalan Barat, pasti
mereka akan melihat bangkainya dua ekor anjing itu
Setelah berkata begitu. Liu Tong gerakkan tubuhnya
akan mulai menguntit.

Tentulah Ciu kwie Laliw Sam si Setan Pemabokan


sudah mabok pula! tiba2 si nyonya muda berkata pada
keempat orangnya. Lihat, kenapa sudah begini malam, dia
tidak melepaskan Toa Hek dan Jie Hek? Setan itu mau
mencari mampus, dia coba membikin aku gusar, nanti dia
tak dapat kuampuni lagi!
Liu Tong dan Cu In menduga Lauw Sam tentulah orang
yang tadi rebah mabok arak, dan Toa Hek serta Jie Hek
adalah namanya kedua anjing besar itu.
Siu Seng telah dimasukkan kedalam sebuah kamar kecil
di pojokan, dua penjahat mengikuti padanya, dan dua
penjahat yang lain, membawa terus Su touw Kiam kekamar
atas, yang sekarang sudah terang dengan cahaya lampu.
Dari sini dua penjahat itu keluar pula, dan si nyonya muda
terus masuk kedalam.
Dengan mengentengi tubuh, Ban Liu Tong meloncat
turun kedalam pekarangan, ia hampiri jendela. Segera ia
mendengar suara air dituang, hingga ia merandek. Ia ada
satu laki2, malah ia ada jago Hoay Yang Pay, cara
bagaimana ia bisa mengintip orang perempuan? Maka ia
lekas menggapaikan Cu In, yang bantu memasang mata.
Cu In yang melihat isyarat itu, lalu meloncat turun.
Liu Tong menunjuk ke kamar, nikow itu mengarti, ia
maju ke jendela.
Selagi Siok beng Sin Ie hendak loncat naik kegenteng,
akan menggantikan si pendeta wanita, ia melihat satu
bayangan berkelebat diatas kamar Barat, maka itu, ia
mencelat kesebelah Timur, hingga ia melihat bayangan itu
sedang mendekam dipinggiran wuwungan. Ia menduga
bahwa bayangan itu bukannya musuh, akan tetapi ia ingin
dapat kepastian. Ia berlompatan akan mengambil jalan
memutar, sampai ia datang dekat dibelakang bayangan itu.

Disaat ia hendak menerjang, tiba2 bayangan itu berdiri,


sambil memutar ia berkata Su
St! Liu Tong memberi tanda sebelum orang itu sempat
mengeluarkan kata2
pe.
Bayangan itu adalah Siu Sian, yang bertindak dengan
hati2 sekali menurut pesan gurunya, dari itu, sampai waktu
itu dia baharu sampai disitu.
Liu Tong pesan nona ini memasang mata, ia sendiri terus
meloncat turun akan menghampiri Cu In, siapa sudah
mengintai kedalam. Ia menunjuk kekamar. Nikow tua itu
goyang kepala terhadapnya, tapi setelah itu, ia
melambaikan tangan dan menunjuk kejendela. Liu Tong
mengarti isyarat itu, ia lalu mendekati jendela itu akan
mengintai. Cu In sudah pecahkan kertas jendela dari mana
tadi ia melihat kedalam. Baharu. Liu Tong melihat, atau ia
jadi sangat gusar, hingga ia menoleh pada si nikow, untuk
memberi tanda akan turun tangan. Tapi mendahului ia, Cu
In sudah loncat kesebelan Timur dimana ada jalanan gang.
Diam2 Liu Tong kagumi nikow tua itu.
Terang dia tak hendak membikin malu aku maka dia
menyerahkan tugas ini kepadaku, pikir tabib ini.
Memang, akulah yang mesti mengurus keponakan
muridku. Apakah yang membuat jago Kwie in po ini
menjadi demikian gusar itu?
Didalam kamar, perempuan muda tadi telah bersanggul
dengan rapi, mukanya dipupuri, alisnya disipat, bibirnya
dimerahi. Dia telah mengenakan baju pendek yang sepan,
potongannya ramping, citanya halus. Sepasang kakinya
ditutup dengan kasut yang melengkung. Dengan tubuhnya
yang langsing, perempuan itu sesungguh nya dapat
menggiurkan hati orang.

Su touw Kiam berduduk dikursi dengan tetap layap2.


Maka dengan air teh dingin yang dimasukkan kedalam
mulutnya, perempuan itu menyembur mukanya, sesudah
mana, selang sekian lama, dengan saputangannya dia
menyekai muka orang yang basah itu.
Tidak heran, menampak
amarahnya Siok beng Sin Ie.

demikian,

meluaplah

-o0dw0oXIX
Disaat si Tabib Malaikat Penyambune Jiwa hendak
menggunakan pedangnya, tiba2 ia teringat, pemuda itu
adalah murid kesayangan dari suhengnya, maka ia pikir,
baik ia bersabar, akan melihat sikap mereka itu. Maka ia
lantas mengintai terus.
Semburan air tadi membuat Su touw Kiam sadar, kapan
ia melekkan matanya, ia memandang ke sekitarnya, suatu
tempat atau kamar yang asing baginya, hingga ia segera
kerutkan dahinya. Ia pun lantas mengawasi si juwita.
Oh, kawanan iblis! se konyong2 ia membentak.
Dengan jalan curang kau tawan aku, pasti aku tidak puas!
Kau sesumbar tak mau hidup sama2 Hoay Yang Pay,
apabila itu benar, dan kau punya nyali, hayo habiskan
jiwaku! Jikalau kau berani menghina aku, terpaksa aku
nanti mengucapkan kata2 kasar!
Nyonya itu tidak gusar, ia malah cenderungkan
tubuhnya, dengan sebelah tangan menunjang meja, dengan
tangan kanan ia memegang pundak si anak muda.
Kelihatan sekali bagaimana kecentilannya perempuan
itu. Ia hendak berbicara tatkala tahu dengan menggerakkan

pundaknya, si anak muda membikin tangannya terpeleset,


tak menekan pundaknya lagi
Ah! dia berseru. Kau begini muda, kenapa kau tak
sabaran? Jangan tidak tahu diri, nanti aku gusar. Aku
justeru sayangi kau yang masih muda tetapi sudah punya
bugee liehay. Malam ini hampir kau sia2kan jiwamu,
syukur aku keburu sampai Kau niscaya tidak tahu siapa
itu orang yang paling belakang menempur padamu! Dia
adalah Twie hun souw Hong Lun Hong Cit ya yang
namanya telah menggetarkan setengah negara Barat dan
Utara. Kau telah memasuki dunya Rimba Persilatan, kau
mestinya ketahui namanya si oranng tua Pengejar Roh itu.
Ada berapa lawannya Twie Hun houw, yang pernah luput
dari tangannya? Rupanya keluargamu itu bijaksana maka
aku keburu sampai dan berhasil merampas kau dari mulut
harimau! Aku telah tolongi orang, mustahil aku tak lupat
pembalasan baik daripada nya? Kau toh orang baik2,
bukan? Jangan kuatir, anak, aku tidak berniat mencelakai
dikau, aku cuma ingin menanyakan kau dan kau menjawab
secara baik, pastilah nanti akan kumerdekakan kau
berdua
Sudah, jangan
memotong.

banyak

bacot!

Su

touw Kiam

Jikalau kau benar berniat menolong aku sejak kau ambil


aku dari tangannya si bangsat tua, kau sudah mesti
melepaskan belengguanku ini, dengan berbuat demikian,
kau melepas budi kepadaku, tetapi buktinya sekarang kau
tidak membunuh aku, kau juga tidak memerdekakan aku!
Apakah maksudmu itu? Kau bawa aku kemari, tempat
apakah ini? Sekarang sudah tengah malam, apa perlunya
kau menemui aku? Apakah kau tidak tahu adat istiadat,
yang melarang lelaki dan perempuan lancang berpegangan
tangan? Seharusnya kau tahu akan harga diri sendiri!

Kaupun pisahkan aku dengan sucieku, kau kandung


maksud apa?
Nona itu tertawa cekikikan.
Kau jujur sekali! berkata ia. Makin kau jujur, makin
aku suka padamu! Kau mengerti, kita tidak kenal satu pada
lain tetapi aku kasihan kepadamu, itulah sebabnya aku
menolongi kau dari tangannya Hong Cit ya. Bugee mu
liehay, tak dapat aku berlaku sembrono, sebelumnya aku
merdekakan kamu berdua, lebih dahulu aku mesti ketahui
tentang dirimu. Kau she dan nama apa? Apakah gurumu itu
bukan Eng Jiauw Ong, ciangbunjin dari Hoay Yang Pay?
Su touw Kiam bersenyum ewa. Tapi ia sudah pikir, akan
ber hati2. Ia sangsikan perempuan ini berhati baik.
Apabila kau benar bermaksud baik, aku telah sia2kan
kebaikanmu itu, ia kata. Sebagai laki2 aku tak pernah
mengubah nama. Aku Su touw Kiam. Aku bukan muridnya
Eng Jiauw Ong, aku adalah muridnya Siok beng Sin Ie Ban
Liu Tong dari Kwie in po. Dan Siu Seng adalah sucie ku,
muridnya Cu In Am cu dari See Gak Pay. Kau rupanya
orangnya Hong Bwee Pang. bukan?
Mendengar keterangan pemuda itu, air mukanya si nona
jadi berubah, tapi lekas juga ia mendapat pulang ketabahan
hatinya. Ia meng angguk2 kan kepalanya.
Tidak kecewa kau jadi muridnya guru silat ternama,
anak, kata ia. Aku sudah duga kau hukan orang
sembarangan, sekarang terbukti benar dugaanku itu. Kau
berani omong terus terang, aku tak ingin mendustakan
dikau. Benar aku anggauta dari Hong Bwee Pang. Aku
adalah pengurus rangsum dari Cap jie cie Cong to bahagian
Barat. Kita bermusuhan satu dengan lain, karena Hoay
Yang Pay dan See Gak Pay adalah satru mati hidup daii
Hong Bwee Pang. Akupun sudah terima pemberitahuan

rahasia dari ketua, Cong to Liong Tauw Hio cu, bahwa asal
kami hadapi musuh, kami mesti binasakan, tak satu boleh
ditinggal hidup. Demikian kau, sesudah kau terjatuh
kedalam tanganku, jangan harap kau bisa hidup lebih lama
pula. Akan tetapi aku Lie touw hu Liok Cit Nio paling suka
pemuda2 jujur dan gagah. Rupanya kau berjodo dengan
aku. Selama ini, bukan sedikit musuh musuhnya Hong
Bwee Pang telah kubinasakan, kalau tidak sebagai seorang
perempuan, mana aku bisa peroleh gelaranku? Tapi malam
ini aku hendak menyimpang dari tugasku, aku ingin
melindungi jiwa kamu berdua. Sayang bila kau mati
kecewa! Kau tentu ada punya orang tua dirumahmu yang
dengan susah payah pernah rawat kau sampai menjadi
besar. Bagaimana luka hatinya mereka itu? Baik kau
renungkan, apa perlunya aku melanggar bahaya dengan
menolongi dikau? Selama merantau, aku tetap bersendirian
saja, tanpa senderan, maka sekarang pertemuan kita ada
sebagai pertemuan yang ditakdirkan sejak penitisan
terdahulu. Asal kau suka hidup ber sama2 aku, badai
bagaimana besarpun aku berani hadapinya, kau akan bebas
benar2. Asal kau tak ubah hatimu, aku nanti cuci tangan
untuk mengikuti dikau! Bagaimana? Sepatah kata dari kau,
sudah cukup!
Cis! Su touw Kiam berludah. Kau seorang
perempuan, kenapa kau begitu tak tahu malu? Aku satu
laki2, bagaimana aku bisa berlaku demikian hina dina? Baik
kau lantas habiskan jiwaku, kalau aku mengeluh, aku
bukannya muridnya satu pendekar!
Liok Cit Nio si Jagal Wanita, sebagaimana itu ada arti
nama julukannya Lie touw hu, tidak gusar, malah dia
tertawa haha hihi.
Kalau kau muridnya satu pendekar, jangan kau berlaku
kasar, kata ia. Satu laki2 mesti bersifat laki2, menjadi

seorang terhormat. Kita tidak kenal satu pada lain, aku


telah menolong dikau dari mulut harimau, seharusnya kau
ingat budi, mesti kau balas itu, maka kenapa sekarang kau
begini bo ceng? Jangan kau bikin hatiku tawar, jangan kau
bangkitkan hati srigalaku, itu artinya kau sia2kan jiwamu,
sayang sekali! Baik kau dengar nasihatku, mari kita bersatu
padu, pada saat ini juga aku akan cuci tangan akan kembali
kejalan benar, tidak nanti aku tersesat pula. Didepan
Tayhiap Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong aku nanti
bersumpah, aku akan bakar piauw pouku, sebagai tanda
aku keluar dari Hong Bwee Pang dan selanjutnya
menyerahkan jiwa kepada kau dan gurumu! Kau mengerti
sekarang, anak? Tindakanku ini berarti berkhianat kepada
perkumpulan, aku jadinya telah bersalah besar, salah tak
berampun, hingga sesuatu anggauta Hong Bwee Pang
adalah musuhku. Lihat, dengan begini, apa bisa berlaku
curang kepadamu? Tapi janganlah kau pandang terlalu hina
kepadaku, Liok Cit Nio, aku melainkan tersesat satu kali,
karena aku tak ketemu orang baik2, apa lacur aku berkawan
kepada manusia2 rendah, hingga namaku busuk, tapi
sekarang aku hendak mengubah cara hidupku, aku akan
menyerahkan diri kepadamu, umpama karena ini aku mesti
binasa, akupun akan mati dengan mata meram!...
Su touv Kiam mengkerutkan dahinya.
Kau boleh mengoce sesukamu, hatiku tak akan
berubah, ia bilang dengan sengit. Baiklah kau mengambil
lain pikiran. Hong Bwee Pang dengan aku tak dapat hidup
bersama, satu kali aku dapat pulang kemerdekaanku, aku
tak akan punya rasa kasihan lagi! Kau nampaknya ber
sungguh2 kau harus dikasihani, tetapi baiklah kau berlaku
cerdik. Bagiku dimerdekakan atau tidak, adalah urusan
kecil. Sekarang guruku belum ketahui kejadian atas diriku
ini, satu kali ia dapat kabar, pasti ia akan datang menolong,

walaupun kau berjumlah banyak, namun dalam segebrakan


saja kau akan habis dibasmi! Perbuatan buruk seperti kau
ingin aku lakukan, sayang aku tak dapat dan tak berani
lakukan. Kaum Hoay Yang Pay ada punya aturan yang
keras, hukuman kaumku untuk kecabulan adalah kematian,
tak sudi aku melanggar aturan yang dijunjung tinggi itu.
Maka, ubahlah maksud hatimu! Batang leherku bisa
dikutungi, semangatku tak dapat ditindas, dari itu,
terserahlah kepada dikau!
Diam2 Liu Tong manggut2 dengan rasa kagum. Tidak
kecewa Hoay Yang Pay punya murid demikian
bersemangat. Iapun kagumi orang punya kecerdikan sudah
menyangkal sebagai muridnya Eng Jiauw Ong. Ia mengerti,
keponakan murid itu berniat mengelakkan kemurkaannya si
manis itu.
Jangan kau terlalu menghina aku, terdengar si cantik
berkata pula. Memang aku bukan lagi gadis umur belasan
tahun, yang suci murni, tetapi aku bukannya tak tahu malu,
aku mau berlaku terus terang kepada kau. Aku menyesal
atas kesesatanku, sekarang aku ingin perbaiki diri, untuk itu
aku butuhkan seorang yang bisa jadi senderan atau
pelindungku. Kau harus mengerti, satu kali aku cuci tangan,
bukannya tak ada orang yang maui jiwaku. Aku toh
sebatang kara. Dari itu, ingin aku hidup bersama dikau,
supaya kau bisa melindungi aku. Apakah kau niat bikin aku
putus asa? Aku telah janji akan merdekakan dikau, pasti
aku akan lakukan itu, tapi kau sendiri jangan permainkan
aku, sotelah aku bukakan belengguanmu, lantas kau tinggal
kabur padaku
Dengan
tinggalkan
aku,
kau
bukannya murid dari satu pendekar.
Su touw Kiam pandang perempuan itu.
Aku bukannya seorang yang tidak sayang diri, kata ia,
jikalau kau demikian baik budi, tak bisa aku tak terima itu.

Tapi satu hal harus dijanjikan dahulu. Apabila benar2 kau


hendak ubah penghidupanmu, kau mesti turut aku pergi ke
Kwie in po akan menemui guruku, kepadanya kau mesti
menyerahkan piauw pou Kong Bwee Pang sambil tuturkan
cita2 mu, apabila guruku ketahui kesungguhan hatimu,
tidak nanti dia tidak bantu kau meluputkan diri dari tangan
iblis. Kata nya satu laki2 ada seumpama kaburnya empat
ekor kuda yang tak dapat dikekang, demikianpun aku.
Apabila kau tidak percaya aku, jangan melepaskan aku,
sebaliknya kalau kau percaya, tidak nanti aku
mencemarkan nama guruku.
Sehabis berkata. Souw tonw Kiam tundukkan kepalanya
Liok Cit Nio mengawasi pemuda itu, ia rapatkan kedua
bibirnya, hingga ia perlihatkan senyuman iblis. Ia bertindak
kebelakang orang, untuk bukakan belengguan.
Su touw Kiam berbangkit untuk menggerak gerikkan
kaki dan tangannya, agar darahnya dapat mengalir pula
seperti biasa, kemudian ia berduduk pula.
Ban Liu Tong bingung juga menyaksikan sikapnya
keponakan murid itu, ia sekarang mengatakan orang tolol,
karena mustahil keponakan murid ini tidak insaf akan
kelicinannya perempuan itu. Siapa bisa percaya perempuan
rendah itu benar2 sudah berbalik pikiran?
Satu kali kau rubuh, kau akun menyeinarkan namauya
Hoay Yang Pang. pikir ia pula. Pasti kita akan
dipandang rendah oleh Cu In Am cu.
Mengintip lebih jauh, Ban Liu Tong melihat Liok Cit
Nio menuang air teh panas dimeja didepan jendela, yang
mana ia suguhkan pada si pemuda.
Pemuda gagah, marilah minum dulu, kata dia dengan
manis. Sudah setengah malaman kau terbelenggu, hayo
kau segarkan diri, nanti kita bicara pula.

Dengan roman sungguh2, dengan mata tajam. Su touw


Kiam awasi perempuan itu.
Cukup, tidak usah kau layani aku, kata ia seraya
menolak cawan teh diatas meja.
Liok Cit Nio tertawa, ia tolak pula cawan itu didekatkan
kepada Su touw Kiam.
Nampaknya kau belum percaya aku, kata ia. Apa kau
kuatir teh ini dicampurkan obat tidur? Kau keliru menduga!
Untuk membunuh dikau, apa aku mesti tunggu sampai
sekarang ini? Baiklah aku minum lebih dahulu, untuk
tetapkan hatimu.
Ia benar2 angkat cawan itu dan cegluk isinya, sesudah
mana, cawan itu ia letakkan kembali diatas meja. Ia berbuat
demikian sambil tertawa geli.
Su touw Kiam merasa sangat dahaga, terpaksa ia jemput
cawan itu dan minum kering isinya.
Liok Cit Nio bersenyum, lalu dari lemari ia keluarkan
buah2an serta arak dan sayur yang sudah dingin.
Apa artinya ini? tanya Su louw Kiam sambil
berbangkit, romannya sungguh2. Bukankah kita sudah
berjanji? Sudah selengah malaman aku keluar, masih aku
belum pulang, pasti guruku bakal mencari aku, maka
apabila kau benar hendak mengubah kelakuan, jangan kau
tunggu sampai guruku itu atau kawan2nya dapat menyusul
kemari, aku bisa celaka, kau juga. Mereka tak puas akan
melihat laga lagu kita ini yang tak selayaknya! Mari kita
berangkat! Sekarang sebelum fajar ada saatnya untuk kita
kita berlalu. Jikalau kau ragu2, maafkan aku, tak dapat aku
temani kau lebih lama!
Cit Nio seperti tidak perdulikan omongan orang, ia terus
mensajikan makanan dan atur cawan arak, ia sediakan dua

pasang sumpit, kemudian ia duduk berhadapan dengan


anak muda itu.
Su touw Siauwhiap, kenapa kau tidak sabaran? kata ia
sambil bersenyum. Hayolah duduk! Umpama kelakuanku
tak selayaknya, kau harus minta keterangan dahulu, kenapa
kau seperti hendak menutup jalan? Kau dengar dahulu aku,
sesudah itu, umpama kata kau hendak pergi juga, aku tak
akan mencegahnya. Jangan kau menghinakan kepadaku.
Jangan kau kuatir, aku niat menolong dikau, mustahil aku
hendak mencelakai padamu?
Su touw Kiam yang didesak, terpaksa ia duduk pula, tapi
sambil berpikir. Ia telah mengambil putusan, jikalau orang
menggunai kekerasan, ia akan membalas keras. Dari itu,
iapun. pikirkan jalan mana ia mesti ambil untuk menyingkir
dari rumah itu.
Liok Cit Nio menuang arak dalam dua cawan.
Aku harap kau jangan curigai aku, kata ia kemudian,
Jikalau kau sudah dengar aku, kau pasti bisa memberi
maaf atau maklum. Kau harus bersabar. Disini, dirumahku,
aku tidak takut apa juga. Kampungku ini disebut Liok kee
po. Jangan kau pandang rendah padaku, walaupun aku
hidup sebatang kara. Didaerah Liang Seng San ini. semua
anggauta Hong Bwee Pang tidak berani main gila terhadap
diriku, tidak sekalipun si tua bangka musuhmu itu, Twie
hun souw Hong Lun, ketua bahagian Barat, walaupun
kedudukannya terlebih tinggi daripada kedudukanku.
Hanya aku mesti jaga mereka yang masih menyintai Hong
Bwee Pang, apabila mereka tahu aku hendak menyuci
tangan, mereka bisa bocorkan rahasiaku atau membokong
aku. Dari itu, perlu aku siap sedia, akan mengatur dahulu.
Mengenai pihakmu, tidak aku pandang enteng kepada
mereka. Aku percaya, walaupun aku pernah tersesat, Ban
Loosu, umpamanya, pasti sudi memaafkan padaku. Orang2

gagah biasa menolong siapa yang lemah dan kesasar. Coba


ada yang tolong angkat, niscaya dari siang aku sudah
mencuci tangan. Sekarang ada ketikanya buat aku
mengangkat diri dari laut pahit getir, aku sangat girang dan
bersyukur kepada diriku sendiri! Siauw hiap, jangan kau
tertawai aku! Selewatnya malam ini, aku akan berubah
menjadi seorang yang lain! Seharusnya aku cukuri
rambutku akan masuk dalam kelenteng, tetapi aku ingin
iringi orang2 gagah buat menolong si lemah dan tindas si
jahat, dengan begitu, barangkali aku dapat menebus segala
dosaku. Kau mirip dengan Koan Im Taysu, yang menolong
mengangkat aku dari pecomberan, dari itu kau harus kasih
selamat padaku!
Biar bagaimana, mulai kuranganlah kebenciannya Su
touw Kiam terhadap si nona.
Cit Nio, jangan kau mendesak aku, ia bilang.
Seharusnya aku minum untuk kehormatanmu, tetapi aku
mesti junjung pantangan rumah perguruanku yang
melarang minum arak diluaran, maka itu aku cuma bisa
berbuat begini saja.
Ia angkat cawan untuk hanya ditempelkan dimulutnya
saja, kemudian dengan cepat ia letakkan pula cawannya
diatas meja.
Cit Nio melirik dengan mata nya yang tajam.
Kau terlalu! kata ia, dengan aleman. Bagaimana, satu
cawan saja kau tidak sudi keringi! Kau bikin lenyap
kegembiraanku! Apabila kau tidak sanggup minum arak ini,
nanti aku tukar dengan yang enteng
Liok Cit Nio menyuguhi arak In tin louw, yang
warnanya hijau, sekarang ia tukar itu dengan yang
warnanya merah, dar satu botol yang isinya tinggal
setengah.

Inilah anggur yang manis! kata ia. Ini adalah anggur


yang disediakan untuk orang yang tak biasa minum arak,
baunya wangi, sarinya manis, tenaga mabuk nya tak ada.
Jikalau kau menolak lagi, teranglah kau mendustakan aku,
apabila itu benar, baik sekarang siang2 kau bunuh aku, tak
usah sampai aku pergi ke Kwie in po untuk mengantarkan
jiwa secara sia sia!
Cit Nio kerutkan alis, nampaknya ia masgul, tetapi ia
jemput cawan didepannya Su touw Kiam dan keringkan
isinya, untuk ia tuangkan anggur kedalam cawan kosong
itu.
Siauw hiap, inilah arak tanda nya aku cuci tangan dari
Rimba Hijau. kata ia, seraya menyodor kan itu. Terserah
kepadamu, kau hendak minum atau tidak, aku tidak hendak
memaksa. Kita tak dapat mensia2kan tempo lagi, mari kita
minum satu dua cawan, supaya kita bisa segera angkat kaki
dari tempat buruk ini. Iapun segera mengangkat
cawannya.
Su touw Kiam anggap, jikalau ia ayalan, perempuan itu
bakal gerecoki ia lebih lama pula, maka ia angkat cawannya
sambil tertawa dan kata Baiklah, Cit Nio. Aku pujikan
sejak saat ini kau akan dihormati oleh kaum Rimba
Persilatan! Lalu ia tenggak habis anggurnya itu.
Liok Cit Nio tertawa, kelihatan ia girang sekali. Tapi ia
isikan pula cawannya Su touw Kiam.
Cit Nio, jam berapa kau hendak berangkat? Su touw
Kiam tanya Kita tak dapat ber ayal2an, lak lama lagi
segera akan terang tanah!
Jangan kesusu, anak muda, tawa si nona. Kita akan
berangkat sebelumnya terang tanah! Mari minum dulu!

Su touw Kiam cegluk cawan yang ke dua itu, karena ia


rasakan, cawan yang pertama benar2 tidak punya rasa arak.
Kembali Cit Nio isikan cawan yang ke tiga, setelah
minum ini, baharu Su touw Kiam merasakan hawa panas,
hingga ia jadi curiga. Ia lihat mukanya Cit Nio mulai
bersemu merah pada dua belah pipinya, sedang kedua
matanya yang celi, mengawasi ia. Tiba2, diluar
keinginanya, datanglah rasa kasihan terhadap perempuan
ini. Kupingnya ia rasakan seperti berbunyi, hatinya ber
debar2.
Menampak orang mengawasi ia, dengan sumpit
ditangannya, Cit Nio ketok tangan orang. Akhirnya kau
toh minum juga! kata ia.
-o0dw0oXX
Mukanya Su touw Kiam menjadi bersemu merah juga,
kedua matanya seperti hendak meram saja. Ia hendak
pedayakan nona didepannya, siapa tahu si nona itu terlebih
licin, dia telah memberikan sipemuda itu minum anggur
yang mengandung obat. Dia ia berbangkit, tetapi segera ia
duduk pula
Cit Nio letakkan sumpitnya, ia mendekati kesamping si
anak muda, sambil me rabah2 pundak orang.
Kau keras hati anak, tetapi sekarang kau mesti
mendengar apa kataku. kata ia dengan manis.
Su touw Kiam hendak menggerakkan tubuhnya buat
menyingkirkan tangan dipundaknya, tetapi ternyata ia
sudah tidak punya kekuatan lagi, ia duduk tegak, bagaikah
orang lupa ingatan.

Cit Nio menoleh kekamar, lalu ia selusupkan kepalanya


keketiak kirinya Su touw Kiam seraya sebelah tangannya
dikasi turun, diturunkan, agaknya ia hendak pondong tubuh
orang.
Disaat yang genting itu, Ban Liu Tong yang sedari tadi
terus memasang mata, tidak berayal lagi, dengan sebelah
tangannya ia mendobrak jendela hingga terpentang dengan
menerbitkan suara gedubrakan.
Perempuan cabul! ia membentak. Kau
permainkan murid Hoay Yang Pay!

berani

Menyusul serangan pada jendela itu, kamar jadi gelap


dengan tiba2, dan secara enteng kedengaran tindakan kaki
yang pesat.
Ban Liu Tong tahu, jalan keluar melainkan jendela
belakang, dimana diatas ada Siu Sian yang menjaga, ia tak
kuatir orang bisa meloloskan diri, tapi selagi ia hendak
bergerak lebih jauh, tiba tiba berkelebat bayangan diatas
kepalanya.
Siapa? ia menegur, ia menyangka pada musuh.
Ban Loosu, inilah aku, itulah ada jawaban dari atas.
Segera Cu In Am cu loncat turun, diikuti oleh Siu Seng.
Bagus, am cu, kau bisa sekalian membantu aku, kata
Liu Tong.
Aku baharu saja menolongi muridku, kata pendeta itu.
Loosu belum bekerja? Ia tidak tunggu jawaban, ia terus
titahkan muridnya Pergi kau gantikan sumoaymu!
Tanpa berkata apa2 Siu Seng meloncat keatas untuk
memanggil Siu Sian, tempat siapa ia gantikan, sedang adik
seperguruan itu loncat turun kepada gurunya.

Keluarkan liu hong tan (peluru bahan peledak!) Cu In


perintah muridnya ini.
Siu Sian turut titah itu, ia keluarkan serupa barang
bundar sebesar biji toh, yang ia serahkan pada gurunya.
Ban Loosu. kita jangan kasih orang main gila lagi! kata
nikow tua ini, yang terus menghampiri jendela, yang tadi
didobrak Liu Tong, kedalam mana ia menimpuk. Ketika
terdengar suara membeletok, segera terlihat api menyala,
ruangan jadi terang. Tapi Cit Nio dan Su touw Kiam telah
lenyap dua2nya.
Ban Loosu, benar2 kau kena dipermainkan! kata ketua
See Gak Pay itu. Jangan kau percaya muilie itu,
perempuan cabul itu tentunya sudah menghilang dari situ.
Kata2 ini disusul dengan terhunusnya pedang Tin hay
Hok po kiam, dengan pedang mana Cu In Am cu berlompat
masuk melalui jendela.
Ban Liu Tong, yang sangat gusar, turut berlompat masuk
juga.
Karena liu hong tan mengenai sasarannya, maka apinya
menyala terus.
Cu In Am cu yang biasa memperlihatkan wajah welas
asih, sekarang nampaknya keren sekali.
Waspada, loosu! kata ia yang terus maju kemuilie,
tetapi ia berlompat kesamping kiri.
Ban Liu Tong mengerti, iapun bertindak kesamping.
Cepat sekali Cu In telah menahas muilie, hingga kain
penutup pintu itu lantas sapat dan jatuh, hingga disitu
kelihatan sebuah pintu yang kecil, dimana ada cahaya
terang, dari dalam mana pun menyamber keluar bau wangi
semerbak dari pupur dan yancie.

Dengan berani, dengan pedang nya didepan, Cu In


melongok kedalam kamar, yang sudah kosong, disitu
melainkan ketinggalan bau harum itu. Teranglah sudah, itu
adalah kamarnya Lie touw hu Liok Cit Nio.
Lihat, loosu, benar2 dia sudah kabur! kata pendeta
wanita itu. Ia bertindak masuk dengan diikuti kawannya.
Berbeda dengan diluar, kamar itu diperaboti lengkap dan
indah, tepat untuk jadi kamarnya satu nona remaja, hanya
yang aneh, tidak ketahuan dari mana si penghuni rumah
mengambil jalan untuk menyingkir dari situ. Maka itu, Liu
Tong berdua coba melakukan pemeriksaan. Luasnya
kamarpun cuma setumbak lebih persegi.
Mungkin ada rahasianya dikaca itu, kata Liu Tong
kemudian seraya menunjuk cermin yang tergantung
ditembok, dikiri kanan mana terapit sepasang ciak tay yang
dibuat dari kayu yang terukir burungan ho dan menjangan.
Sebatang lilin menyala terang sekali Dibawahan cermin itu
terdapat meja kecil, atas mana penuh dengan pupur dan
lain alat bersolek.
Mungkin. sahut Cu In sesudah ia mengawasi dengan
teliti.
Ban Liu Tong menghampiri cermin itu, ia tarik meja
untuk digeser kesamping, kemudian ia tekan ciaktays kiri, ia
menarik, tapi ciaktay itu tidak bergeming, maka ia tarik
yang kanan, yang juga melekat keras, maka ia terus tarik
pula yang kiri. Menyusul satu suara menjeblak yang keras,
cermin itu, yang besar, lantas berkisar, memperlihatkan
dibelakangnya suatu pintu rahasia!
Karena pintu itu gelap, Cu In Am cu mengambil lilin,
untuk dipakai menyuluhi.

Dalam kamar itu terdapat beberapa buah koper dan


sebuah pintu tembusan, yang dipalang dengan besi berat.
Tidak salah, siluman itu tentunya mabur dari sini, kata
Cu In.
Siok beng Sin Ie cekal palangan besi itu, ia mesti
menggunakan tenaga untuk menarik itu, sampai pintunya
terpentang. Dibawah terangnya lilin, kelihatan ditembok
dilukiskan gambar. Tapi, belum mereka sempat masuk,
tiba2 mereka mendengar suara suitan berturut2 dan
dibelakang mereka. Siu Sian pun muncul.
Ban Susiok, orang jahat sedang bergerak, mereka
rupanya hendak ___ ___! Berkata si nona.
Itulah terlebih baik lagi, sahut Ban Liu Tong Kita jadi
tak usah bercapai lelah akan mencari mereka!
Siu Sian mengarti, perlawanan mesti diberikan, maka ia
kembali keluar.
Liu Tong bertindak keluar ber sama2 Cu In, ia ambil
pintu rahasia itu yang menembus ke belakang, kekebun,
yang mestinya telah diambil oleh Liok Cit Nio.
Sesampainya diluar, mereka tidak lihat suatu apa, hanya
mereka dengar suara berisik didepan.
Dengan loncat naik ketembok, Ban Liu Tong lihat Siu
Sian asyik pasang mata diatas wuwungan.
Cu In pun segera loncat naik kepayon, berbareng dengan
mana ia tampak berkelebatnya tiga atau empat bayangan,
semua dengan pakaian malam, dan gerakannya gesit.
Diatas genteng, mereka itu saling bersuit akan beri tanda
satu pada lain, menyusul mana, dibawah kelihatan kira2
dua puluh kawanan penjahat.

Am cu, baik kita jangan tunggu waktu lagi! Liu Tong


serukan kawannya.
Mereka terlalu busuk, pin nie pun tidak bisa berbuat
lain, sahut Cu In Am cu. Ia terus loncat kesebelah Barat.
Liu Tong segera loncat kesebelah Timur. Karena musuh2
pun datang dari kedua jurusan itu.
-ooo0dw0oooJilid 3
Cu In melihat dua orang yang tak tertampak jelas
wajahnya, mereka itu masing2 bersenjatakan sebuah golok
dan ruyung berbuku tiga belas, ia segera serang orang yang
menyekal golok itu, dengan menggunakan tipu Peh coa
touw sin atau Ular putih memuntahkan bisa.
Musuh itu melindungi diri dengan menangkis keatas,
akan tetapi niekouw tua itu menggunakan akal, selagi
pedangnya ditangkis, pedang itu ia teruskan membabat iga
kanan musuhnya yang memegang ruyung. Sekali ini, ia
menggunakan tipu Pek ho liang cie atau Burung ho
putih pentang sayap.
Orang yang diserang itu loncat kekiri, sambil meloncat,
ruyungnya dipakai menghajar pedang dari atas kebawah,
mengenai dengan jitu hingga menerbitkan suara nyaring.
Menyusul mana, kawannya yang bersenjata golokpun turut
menyerang. Serangan golok datang dari samping kanan.
Justeru Cu In memang bermaksud supaya pedangnya.
kena dihajar musuh, hingga ia bisa, sambil berloncat
bagaikan ular naga jumpalitan, Koay bong hoan sin,
pedangnya yang terpental diteruskan diputar, kemudian
dengan gerakan Uy liong coan sin atau Naga kuning

memutar tubuh disusul dengan Hek houw kian bwee


atau Harimau hitam melingkari ekor, cepat bagaikan
kilat, pedangnya membacok musuh yang bergegaman golok
itu.
Penjahat itu kaget, ia berkelit, tapi tidak urung ikat
kepalanya kena juga terbabat, berikut segumpal rambutnya,
hingga saking gentar hatinya, ia lantas loncat jauh untuk
terus lari menyingkir.
Cu In sedang tarik pulang pedangnya, untuk menghadapi
musuh yang ke dua, tatkala tahu2 dua musuh datang
menerjang ia dari belakang, anginnya serangan orang yang
pertama, sepasang gaetan, mendahului ujung senjatanya.
Gerakannya itu sangal gesit. Tidak tunggu sampai melihat
tegas kepada musuh, ia berkelit dengan gerakannya
tonggeret melepaskan kulit, Kim sian toat kok, pedangnya
dipakai menyampok. Kedua senjata segera beradu keras,
mengeluarkan lelatu api. Si penyerang jadi kaget, hingga
senjatanya, sepasang gaetan cagak, kutung dua2nya!
Musuh yang ke dua, yalah yang memegang golok, sudah
lantas membacok bebokongnya si pendeta perempuan.
Kembali Cu In Am cu berkelit, sambil menggerakkan
tangannya untuk membabat pula musuh ini, akan tetapi
sebelum ia dapat kesempatan, mendadak dibelakang si
penjahat berkelebat satu bayangan yang berseru Turunlah
kau! yang disusul dengan suara keras mengenai bebokong,
atas mana si penjahat mengeluarkan jeritan tertahan,
tubuhnya terpelanting jatuh kebawah.
Apa celaka, goloknya penjahat ini justeru mengenai
kawannya yang bersenjata gaetan cagak, hingga dia inipun
rubuh, keduanya terus tergelincir jatuh ketanah.
Segera Cu In dapat kenyataan, bahwa penyerang yang
dari belakang itu adalah Siu Sian.

Dibawah rumah, kawanan penjahat sudah lantas kabur


dengan bawa pergi pemimpin2nya yang terluka, karena
mereka tidak punya semangat lagi untuk membikin
perlawanan lebih jauh.
Dipihak lain, Ban Liu Tong yang meloncat kesebelah
Timur, sudah lantas berhadapan dengan seorang yang
bergegaman cit ciat pian, ruyung berbuku tujuh, siapa
segera menerjang karena melihat si tabib bertangan kosong.
Hei tikus, kau, kau berani turun tangan? Liu Tong
membentak. Tapi sambil membentak ia melejit kesamping,
tangan kiri nya diulur, untuk menangkap ruyung musuh itu,
tangan kanannya menyusul menyerang pada jalan darah
hoa kay hiat, maka tidak ampun lagi penjahat itu
terpelanting rubuh, dari belakang wuwungan, tubuhnya
tergelincir jatuh ketanah.
Disebelah belakang musuh yang rubuh ini, ada dua
kawannya, mereka itu merandek apabila mereka
menyaksikan dalam tempo sekejab kawannya kena
dirubuhkan. Satu diantara mereka ini, yang menyekal
golok, sudah lantas merabah kedalam sebuah kantong, kulit
manjangan dipinggangnya.
Liu Tong tidak perdulikan musuh ini, ia terus menerjang
kepada musuh yang satunya, yang memegang siang kauwsepasang gaetan. Dia ini loncat maju juga, sedikit
kesamping, dari mana dengan sepasang gaetannya itu ia
menggaet kebawah. Ia bergerak dalam tipu sapuan Tiat gu
keng tee atau Kerbau besi meluku tanah.
Dengui gerakan Coan in ___ goat atau Menembus
awan untuk mengambil rembulan, Ban Liu Tong
berlompat, ia mengenjot dengan ujung kaki kanannya
sambil kaki kirinya terangkat, hingga ia dapat melewati
kepalanya penyerang itu. Dan dengan begini, segera ia

sampai didepan musuhnya yang bersenjatakan golok, yang


telah merogo piauw untuk membokong. Dia ini terperanjat,
lantaran dia tidak menyangka, bahwa diatas genteng,
musuhnya berani berloncat demikian tinggi dan jauhnya.
Demikianlah, selagi orang hendak mengayun tangannya,
Liu Tong telah sampai, tangannya diulurkan, telunjuknya
segera mengenai lengan kanan musuh itu, hingga
tangannya kesemutan, piauwnya terlepas dan jatuh
kegenteng dengan menerbitkan suara. Bahna takut,
penjahat itu niat berlari, tapi sudah kasip. Kaki kiri jago
Kwie in po sudah mendahului terangkat, membentur
kempolan nya, maka tidak ampun lagi dia jatuh mengusruk,
terus berguling jatuh ketanah.
Penjahat yang menggunai siang kauw maju menyerang,
ia berani dan menganggap ia dapat mendesak musuh.
Ban Liu Tong tahu satu musuh ini tidak menyingkir, ia
hendak menghampirinya, tetapi orang telah mendului
menyerang ia, ia lantas tarik pulang tangannya membarengi
menyerang dengan tipu pukulan In liong san hian atau
naga mega memperlihatkan diri tiga kali. Justeru itu, ada
orang yang mendahului ia. Dibelakang penjahat itu satu
bayangan berkelebat menyamber, gerakannya sangat gesit,
baharu si penjahat hendak memutar tubuh, tangannya
orang itu sudah mengenai jalan darah kinceng hiat si
penjahat, hingga kontan kedua lengannya bergemetar,
kesemutan, kedua gaetannya terlepas sendirinya dan jatuh.
Sesudah itu, dengan gesit bayangan itu samber leher baju
bagian belakang si penjahat, tangan kirinya menyamber
tubuh, hingga dilain saat, tubuhnya si penjahat sudah
terangkat naik?
Ini satu pula! bayangan itu berseru, kedua tangannya
bergerak, maka tubuh musuh yang besar itu lantas
terlempar empat tumbak jauhnya, jatuh kebawah sekali,

dimana terdapat kawansnya yang sedang mengangkat


konconya yang rubuh untuk dibawa kabur, hingga mereka
kena tertimpa!
Ban Liu Tong, begitu juga Cu In Am cu segera dapat
kenyataan, bayangan yang baharu datang ini, yang
tenaganya demikian besar, ada Eng Jiauw Ong sendiri,
siapa dari Ang touw po telah menyusul terus sampai di Liok
kee po ini, hingga mereka bertiga jadi berkumpul menjadi
satu.
Tentu saja disaat demikian mereka tak sempat untuk
berbicara banyak.
Bagus kau datang, suheng! berseru Ban Liu Tong.
Kita memang hendak basmi kawanan kurcaci ini untuk
mencegah mereka jadi ancaman bencana dikemudian hari
Sutee, baharu saja aku bicara pada Siu Seng, sahut
Eng Jiauw Ong. Apa si Kiam masih ditangan musuh?
Dia dibawa lari si perempuan cabul, kita sedang
mencarinya, Liu Tong menjawab.
Selagi suheng dan sutee itu berbicara, Cu In Am cu
sudah loncat turun, akan menghampiri sebuah pintu model
bulan. Ia tidak mau mendekati suhung dan sutee yang
sedang gusar itu. Ia percaya, dalam keadaan seperti itu, dua
saudara itu tak akan berlaku kasihan2 lagi, sedang ia sendiri
tak lupa akan cita2 yang berpokok welas asih.
Justeru itu, satu penjahat, dari samping, lari kearah pintu
rembulan itu.
Binatang, kau hendak lari ke mana? Cu In membentak
seraya lompat maju untuk mengejar.

Penjahat itu kaget, ia menoleh, tetapi si niekouw sudah


sampai dibelakangnya. Ia lantas balikkan badan untuk
mendahului membacok.
Cu In melihat serangan itu, lalu ia pergunakan
pedangnya untuk mengetok golok musuh, hingga golok itu
terlepas dari cekalan, jatuh ke tanah. Sesudah itu, ujung
pedang terus menyamber kekepala.
Dalam kagetnya, penjahat itu berdongko, terus ia kabur.
Ia tidak duga, bahwa penyerangnya hanya menggunakan
tipu, serangan untuk gertakan belaka. Menyusul gertakan
itu, tubuhnya niekouw itu melesat kedepan, sebelah
tangannya diulur, lalu satu totokan In liong tam jiauw
(Naga awan mengulur kuku) mengenai jalan darah yang
kwan hiat musuh itu, pada tiga belas bukuh tulang
bebokong nya, maka tak ampun lagi, dia ini menjerit
tertahan, tubuhnya terkulai dan dengan sendirinya rubuh
ketanah, jatuh duduk.
Menyusul itu, Cu In serukan Ban Liu Tong Ban Loosu,
jangan habiskan jiwanya! Dia perlu ditanya keterangannya,
untuk ketahui halnya si penjahat perempuan!
Ketika itu, Siok beng Sin Ie telah berlompat mendatangi.
Ketika Cu In menoleh, ia dapati Eng Jiauw Ong sedang
menyerbu musuh, cepat sekali dia telah rubuhkan tiga atau
empat penjahat. Tidak tempo lagi ia loncat kepada jago
Hoay siang itu.
Suheng, sudilah pandang muka pin nie, ia berseru
untuk mencegah. Harap mereka dikasih tinggal hidup.!
Eng Jiauw Ong menghentikan serangannya dengan
lantas.
Baiklah, am cu, ia menyahuti.

Atas itu, niekouw dari See Gak Pay berseru pada


kawanan penjahat Kau ada sangat jahat, sebenarnya sukar
untuk mengampuni kau sekalian, tetapi karena mengingat
kepada kemurahan hati Sang Buddha, sekarang aku
bukakan suatu jalan hidup untuk kau semua! Aku harap
selanjut nya kau mengubah cara hidupmu, jikalau tidak,
walaupun sekarang kau terluput dari tangan kami, tetapi
nanti ada kutukannya Thian! Nah, pergilah bawa
kawan2mu yang telah terluka!
Kawanan itu sedang bingung. kata2nya Cu In
merupakan satu keampunan umum bagi mereka, tidak ayal
lagi mereka kabur sambil bawa kawan2 mereka yang rubuh
sebagai kurban.
Eng Jiauw Ong sudah geledah tetapi ia tak berhasil
mendapati Liok Cit Nio atau muridnya, begitu juga Siu
Seng dan Siu Sian mencarinya dengan sia2. Liok kee po
telah jadi kosong dari manusia. Disitu tidak ada lain
penjahat kecuali kurban totokannya Cu In Am cu sendiri.
Ban Liu Tong berdiri diam bersama niekouw dari See
Gak Pay itu.
Sutee, tidak disangka kita kena dipermainkan orang2
jahat, kata Eng Jiauw Ong pada adiknya seperguruan.
Dengan bikin lolos penjahat perempuan itu, bagaimana
kita punya muka untuk muncul pula didalam kalangan
kang ouw? Lalu ia lanjutkan pada Cu In Amcu Am cu,
kita orang orang Rimba Persilatan tak layaknya berlaku
telengas, akan tetapi malam ini kita telah kena didesak, kita
tak dapat bersabar lagi. Penjahat itu mesti dikompes!
Sabar, Ong Suheng, jawab Cu In selagi Liu Tong
belum bilang apa2. Pin nie juga tak akan gampang
lepaskan penjahat ini.

Cu In menoleh pada dua muridnya, yang menjaga diatas


genteng Timur dan Barat, ia gapekan mereka turun,
sesudah mana, ia kata Gubuk kejahatan ini tak dapat
ditinggal tetap utuh, pergi cari bahan api untuk
membakarnya.
Siu Seng dan Siu Yan lantas pergi kebelakang untuk cari
rumput kering, kemudian dengan tak cari api lagi, mereka
nyalakan liu hong tan, maka di lain saat, dengan
menyalanya peluru api itu, mereka mulai membakar
jendela, juga pintu rembulan yang terbuat dari kayu. Tak
terlalu lama, jalanan keluar telah tertutup api melulahan
dari Timur dan Barat. Ketika api merembet kethia besar,
suara ledakan sering terdengar, suaranya ramai dan keras.
Bagaimana dengan penjahat itu, amcu? Liu Tong
tanya.
Pin nie punya daya, sahut pendeta itu, yang terus kata
pada orang tawanannya Pin nie adalah murid Sang
Buddha, dengan kemurahan hatiNya, ingin pin nie kasi
ampun padamu. Lihat api, yang sudah berkobar di empat
penjuru itu, itu artinya jiwamu berada ditanganku!
Sekarang bilang padaku, dimana sembunyinya Liok Cit
Nio? Jikalau kau omong dengan jujur, pin nie nanti ajak
kau menyingkir dari ancaman api ini, jikalau kau mendusta,
jangan sesalkan pin nie kejam, kau akan terpendam didalam
tempat kebakaran ini! Ketahui olehmu, murid2nya Sang
Buddha tidak pernah bicara main2, maka sekarang,
diantara hidup dan mati, kau pilihlah! Jangan kau ayapan,
kelak kau menyesal sudah kasip. Penjahat ketahui niekouw
ini liehay, disitu pun ada Eng Jiauw Ong dan Ban Liu
Tong, yang romannya keren, serta murid2nya si niekouw,
yang ber jaga2, ia mengerti tak nanti ia bisa loloskan diri.
Kenapa aku tidak mau omong terus terang? pikirnya.
Perbuatannya Cit Nio pun bertentangan dengan aturan

kaum kang ouw, dia menyalani aturan kaum sendiri, cuma


karena ia peroleh bantuan dari dalam, dia dapat abui
matanya Liong Tauw Hio cu di Gan Ton San, tidak ada
orang yang berani ganggu dia atau bocorkan rahasianya,
hingga dia jadi sangat merdeka. Lambat laun dia akan
dapat kutukannya. Maka aku tidak berkhianat jikalau aku
membuka rahasianya ini
Setelah memikir demikian, ia kata pada Cu In Am cu
Am cu, aku Louw Bouw Thian bukan bangsa takut mati,
kalau sekarang aku bicara, bukannya aku tentangi aturan
kaumku. Sebenarnya Lie To cu Lie touw hoo Liok Cit Nio
ini, to cu dari Barat, adalah perempuan cabul, kelakuannya
yang buruk itu menodai juga kaum Hong Bweo Pang.
Sebetulnya aturan kita keras, setahun sekali, Cong to coo,
ketua Pusat, bikin pemeriksaan kelakuannya hio cu dari
cabang, secara diam diam atau berterang, dan yang
ditugaskan adalah hio cu dari Lwie Sam Tong atau Gwa
Sam Tong, yang berkuasa untuk segera memberi hukuman
ditempat. Liok Cit Nio licin menjaga diri, kecuali rumahnya
ini, dia punya tempat rahasia dipuncak Sin Lie Hong
digunung Lyang Seng San, maka itu, dia sekarang pasti
sudah kabur kesarangnya itu. Ada sukar untuk sampaikan
puncak itu, baik siang terutama malam. Tidak ada jalanan
untuk sampai disana. Jauhnya dari sini tiga atau empat lie.
Melainkan dengan ambil jalan dari belakang gedung ini,
ada satu jalanan kecil yang memotong. Itu adalah suatu
jalanan rahasia, untuk itu, orang harus ikuti pepohonan
yang liu yang baharu ditanam. Ada beberapa solokan atau
jurang yang mesti dilalui, tapi disitu dipasangkan jembatan
papan. Siapa keliru ambil jalan, dia tentu akan terjerumus
kedalam jurang. Sesudah sampai dipuncak, segera akan
tertampak sebuah kuil kecil.

Hm! tiba2 Cu In memotong, sampai si penjahat kaget


dan berhenti dengan tiba.
Bicara terus! pendeta itu kata. Asal kau mendusta,
lihat api yang sudah berkobar besar itu! Kalau kau ayal2an,
kau nanti menyesal!
Bouw Thian pun lihat api, yang sudah berkobar2. Ia
insaf, tak dapat ia main gila.
Kuil itu dinamakan Liok sie Ceng Siu Am, ia lalu
melanjutkan. itu berarti kuil perseorangan, kemana tak
dapat orang datang bersujut dan orangpun ditamparnya.
Penjaga kuil ada satu nyonya tua, yang matanya tinggal
sebelah, dan dua budak perempuan. Jikalau ada orang
lelaki disana, apabila orang itu bukannya pemuda cakap
yang menjadi kurban penculikan, tentu ada orang2 kaum
sendiri yang biasa main gila dengannya. Demikianlah apa
yang aku tahu.
Orang durhaka! kata Cu In dengan sengit. Satu
tempat suci dia jadikan tempat kotor, dia harus
disingkirkan!
Lantas niekouw ini tanya pikirannya kedua kawannya,
Dia pasti tak berani dustakan kita, kata Eng Jiauw Ong
yang bersama2 Ban Liu Tong telah perhatikan orang she
Louw ini. Mereka percaya orang bicara dari hal yang benar.
Sekarang, sudah jauh malam, mari kita berangkat.
Pendeta itu manggut. Ban Loosu, tolong kau bawa
binatang ini, ia minta pada Liu Tong. Ia lihat api sudah
mengurung mereka.
Siok beng Sin Ie belum menyahuti atau Ong Too Liong
sudah mendahului. Ia totok orang pada dua jalan darah
hwee yang hiat dan jalan darah khie hay hiat. Totokan yang
belakangan ini untuk merdekakan Bouw Thian dari

totokannya Cu In Am cu tadi, hingga darahnya jadi bisa


mengalir pula seperti biasa.
Mari kita berangkat! kata ia seraya menyambar orang
punya lengan kiri, untuk angkat tubuhnya. sedang tangan
kirinya dipakai menyingkap ujung bajunya sendiri, sesudah
mana, ia berloncat naik. Kelihatannya Bouw Thian
terangkat secara enteng sekali.
Ban Liu Tong susul suheng itu, ia sendiri diikuti oleh Cu
In, yang kembali diiring kedua muridnya.
Mereka menuju keujung Barat daya kemana api belum
merembet, mereka turun diluar tembok pekarangan. Disitu
kedapatan beberapa rumah lain.
Semua ini tak ada gunanya, habiskan saja, kata Cu In
kepada dua muridnya.
Siu Seng dan Siu Sian menurut, dengan cepat mereka
bakar rumah2 itu, kemudian mereka susul guru mereka.
Ditempat sedikit jauh mereka singgah, dari situ mereka
tampak api merajalela.
Disini Eng Jiauw Ong lepaskan Bouw Thian.
Kau kelihatannya sudah menyesal, disini kami buktikan
janji kami, ia kata pada penjahat itu. Sekarang kau boleh
pergi.
Bukan main lega hatinya Louw Bouw Thian, hingga
liangsimnya terbangun.
Hiapkek sekalian ada welas asih, biar aku satu penjahat,
aku toh punya hati, kata ia, maka apabila ada ketikanya,
pasti aku nanti balas budi kebaikan ini.
Ia lantas paykui, setelah itu, ia lari menghilang ditempat
gelap.

Eng Jiauw Ong beramai memutari rumahnya Liok Cit


Nio, mereka baru berjalan tak seberapa jauh dibelakang
kebun, tiba2 mereka mendengar jeritan ditempat tak jauh
dimana tadi Bouw Thian menghilang. Mereka seperti kenali
suaranya penjahat tadi.
Eng Jiauw Ong segera loncat kearah jeritan itu, lekas
sekali ia sampai diujung pepohonan lebat. Segera, pada
sebuah pohon, ia tampak Bouw Thian gedang senderkan
diri, tubuhnya gemetaran, tangan kirinya memegangi
sebatang piauw, tangan kanannya mengusap2 paha kirinya.
Diapun terdengar mengeluh To cu, biarpun tee cu bernyali
besar, tak nanti tee cu berani berkhianat. Sebenarnya aku
tidak tahu kemana perginya Liok Cit Nio. Tadi aku sebut2
puncak Sin Lie Hong, itu ada ocean belaka, aku mengucap
demikian karena terpaksa. Benar2 aku tak tahu Cit Nio
pergi kesana atau tidak Harap to cu ampuni aku.
Louw Bouw Thian bicara terhadap satu orang yang
berdiri setumbak lebih jauhnya dari dia. Orang itu berumur
kurang lebih enam puluh tahun, kumis jenggotnya
berewokan, hingga mukanya tak terlihat nyata, tapi
tangannya yang kiri menyekal sebatang golok besar.
Binatang! dia berseru, tangan kanannya menuding.
Kau berani berkhianat! Kau takut mampus! Bagaimana
kau berani jual Hong Bwee Pang? Kau ada punya berapa
batok kepala?
To cu, jikalau aku dusta, aku akan terima pembalasan
hebat. Bouw Thian kata pula, Bouw Thian, jangan kau
ngoce. membentak pula orang tua itu. Cit Loo cu tak
percaya sumpah! Apakah kau ingin tunggu sampai aku
turun tangan?
Didesak demikian, Louw Bouw Thian jadi nekat, sambil
angkat piauw ditangan kirinya, ia kata dengan nyaring

Kematian atau kehidupan ada jalannya, dasar aku tak


mesti binasa didalam api berkobar2, aku mesti mampus
diujung piauw, beginilah nasibku! Hong Lun, kau jadi to cu
tetapi kau tidak adil, maka dengan binasa ditanganmu, aku
tak puas! Hong Lun, didepan mu ada satu perempuan centil
dan cabul, yang merusak, nama Hong Bwee Pang, kau
lepaskan dia, kau tak berani menghukum nya, kau cuma
bisa tindas kami yang lemah! Hong Lun, baiklah, aku
nantikan kau di Kota lblis!...
Setelah mengucap demikian, Bouw Thian angkat lebih
tinggi piauw ditangannya, rupanya dia hendak tikam
kepalanya sendiri.
Melihat demikian, Eng Jiauw Ong menoleh pada dua
kawannya, ynng sudah hampirkan dia.
Pergi lekas ke Sin Lie Hong, urusan disini serahkan
padaku! kata ia sambil tangannya diulaskan, sesudah
mana, ia berlompat kearah orang2 jahat itu sambil ia
berseru kepada si orang tua Bandit, apakah kau seorang
sahabat kang ouw? Dalam usia tuamu ini, bagaimana kau
bisa antap perempuan hina dina mengganas? Kenapa kau
justeru hinakan orang yang lemah?
Terkejut Hong Lun, si orang tua, tahu ada datang orang
tak dikenal yang mencampuri urusannya. Dilain pihak,
Bouw Thian kenali orang yang bebaskan ia dari kematian,
hingga legalah hatinya akan dapat pertolongan pula.
XXI
Twie hun souw Hong Lun si orang tua Pengejar Roh
adalah to cu atau ketua dari See Louw Cong to, pusat
bagian Barat, dari Hong Bwee Pang. Dia ke sohor buat
keganasannya, tabeatnya keras dan jumawa. Dia baharu
saja terima tugas dari pusat umum untuk menyambut Ie
bun To cu Tie Cin Hay dan Shong Ceng yang sedang antar

kedua kurban penculikan mereka, yalah murid murid dari


Hoay Yang Pay dan See Gak pay. Berhubung dengan
tugasnya ini, ia sudah lantas bekerja. Pertama2 ia
kumpulkan semua orang2 sebawahannya, yang terdiri dari
cap sha to atau tiga belas cabang to, untuk wajibkan mereka
siap sedia, akan sembarang waktu sambut dan bantu Tie
Cin Hay dan Shong Ceng. Karena ada kekuatiran pihak
musuh nanti mengejar atau merampas, semua to cu
mendapat pesan supaya berlaku waspada.
Demikian sudah terjadi, tatkala kedua kurban sudah
diantar sampai didusun dimulut gunung Siauw San, pihak
Hong Bwee Pang mendapat tahu ada musuh yang susul
mereka, atas mana Hong Lun sudah lantas bersiap. Ia
sendiri pun ingin mencoba menemui jago2 dari Hoay Yang
Pay. Begitulah ketika Thio Hie bisa lolos, Hong Lun lantas
atur persiapannya. Ia telah tinggalkan suratnya dihotel Kit
Seng itu. Ia atur tujuh rombongan orangnya, yang dipencar
di Ang touw po dan jalanan ke Liang Seng San, ke Han
seng tin. Ia hendak bikin musuhrnya tersesat jalan.
Dalam ikhtiarnya ini, Hong Lun peroleh hasil. Hal ini
sudah terjadi disebabkan terutama pihak pengejar berjumlah
sedikit dan tidak kenal baik letak dari pegunungan itu,
hingga Eng Jiauw Ong sendiri kena disasarkan.
Hong Lun girang mengetahui pengejar terbagi empat
rombongan. Ketika ia terima laporan hal tiga murid musuh
sedang menuju kejalanan Liang Seng San, ia sendiri pimpin
sejumlah orangnya akan bekuk lebih dahulu tiga musuh itu,
untuk bikin malu pada Hoay Yang Pay dan See Gak Pay.
Rombongan murid Hoay Yang Pay dan See Gak Pay
yang dimaksudkan itu adalah Su touw Kiam dan Coh Heng
bersama Siu Seng, murid nomor dua dari Cu In Tay su.
Diantara mereka ini, Su touw Kiam ada yang paling liehay,
tetapi dia telah dipesan oleh gurunya untuk tidak usilan

ditengah perjalanan, supaya mereka bisa lekas sampai di


Ang touw po untuk berkumpul. Mereka ini berjaian tanpa
mengetahui, bahwa pihak musuh maui mereka. Mereka
tidak mau usilan tapi musuh justeru usilan terhadap
mereka. Musuh anggap mereka hendak mensatrukan pihak
Hong Bwee Pang.
Dengan cerdik Hong Lun perintah orangnya sasarkan Su
touw Kiam bertiga kejalan cabang arah Han seng tin itu ada
bagian belakang dari Liang Seng San yang sunyi, disitu ada
sawah2 yang berdamping dengan rimba2, jalanan cuma ada
jalanan kecil untuk petani.
Su touw Kiam sudah lantas lihat beberapa bayangan
berkelebat disebelah depan dan lenyap, ia jadi tidak senang,
ia penasaran. Ia memang bernyali besar dan percaya benar
bugeenya, ia tak sudi mundur. Ia tidak puas ketika Siu Seng
bilang, biarkan saja musuh, yang harus diserahkan kepada
guru mereka.
Tapi mereka berada didepan mata, mustahil dia
dibiarkan saja? kata muridnya Eng Jiauw Ong itu. Siapa
tahu, karena ini, kita akan dapat tahu dimana soa heng kita
disembunyikannya. Ah percaya penjahat punya sarang di
sini
Siu Seng tidak berani menentangi terus, sedang Coh
Heng siap sedia akan iringi suheng itu Begitulah, karena
mereka mencoba mencari beberapa bayangan itu, dengan
sendirinya merekalah yang lantas kena dikurung musuh.
Orang2nya Hong Lun itu berjumlah tiga belas dan
semuanya punya kegesitan, merekapun pandang ringan
pada tiga musuh itu, setelah mengurung, mereka segera
mulai dengan penyerangan mereka. Baharu satu gebrakan
dua diantaranya segera menjadi korban pedangnya Su touw
Kiam dan Siu Seng. Melihat demikian, Hong Lun jadi

gusar, maka ia hunus golok Kimpwee too dan terjang Su


touw Kiam. Dengan goloknya itu, ia telah melatih diri
untuk dua puluh tahun lebih, tetapi, berhadapan dengan Su
touw Kiam, ia sukar berbuat apa apa, karena keduanya
berimbang.
Coh Heng kena dikurung tujuh atau delapan musuh,
benar ia bertenaga besar tapi gerakan kaki tangannya
lambat, belum lama, goloknya kena disampok hingga
terlepas.
Su touw Kiam berkelahi sambil saban2 perhatikan
kawan itu, maka itu, ia lantas dapat lihat golok orang kena
dibikin terlepas, ia jadi kaget, dengan gertakan serangan
terhadap Hong Lun, terus ia loncat mundur, akan
hampirkan kawannya, guna bantu kawan ini.
Coh Heng sendiri tidak gentar walaupun goloknya sudah
kena dibikin terlepas dari cekalannya, sebaliknya musuh
jadi pandang dia ter lebih2 tak mata. Begitulah satu musuh
loncat membacok mengarah pundaknya. Ia tidak berkelit, ia
malah maju akan mendahului, dengan tangan kiri ia tahan
turunnya golok, dengan tangan kanan ia gempur tubuh
musuh, atas mana penyerang itu terdampar mundur empat
lima tindak dan rubuh dengan pingsan. Apa lacur iapun
kena injak tanah ceglok, tubuhnya sendiri turut ngusruk,
terus jatuh.
Adalah disaat itu, Su touw Kiam loncat untuk bantu
kawannya. Ia sudah gertak Hong Lun, tetapi ia tidak tahu,
jago Hong Bwee Pang itu liehay sekali, selagi ia balik tubuh
dan loncat, orang telah berlompat akan susul ia, dengan
satu dupakan, ia kena dibikin jatuh ngusruk, sebelum ia
sempat berdaya, beberapa penjahat tubruk ia, hingga
sebentar saja ia kena ringkus.

Sekarang adalah Siu Seng, yang kena dikepung. Ia


berkepandaian tidak lemah, tapi ia dirangsak hebat, Hong
Lun sendiri turut turun tangan, maka selang tidak lama,
setelah tenaga nya berkurang, ia kena dirubuhkan, hingga
iapun teringkus sebagai Su touw Kiam.
Disaat itu, Lie touwhu Liok Cit Nio, si Jagal Wanita,
datang untuk berikan bantuannya, dia lantas minta dua
orang tawanan itu diserahkan padanya, untuk diperiksa di
Liok kee po, guna mengetahui rencana pertolongannya Eng
Jiauw Ong, Hong Lun tanpa ayal lagi luluskan permintaan
itu. Demikian, Su touw Kiam dan Siu Seng telah dibawa ke
Liok kee po.
Cit Nio ada penggemar pelesiran, begitu melihat
kegantengannya Su touw Kiam, ia jadi ketarik, tidak
sia2kan tempo lagi ia mencoba curi hatinya si anak muda,
dengan akal ia loloh pemuda itu dengan anggur yang di
campuri obat untuk membangunkan napsu birahi. Dalam
sepak terjangnya ini, ia leluasa, karena semua
sebawahannya tunduk padanya dan tak ada yang berani
membuka rahasia.
Sebenarnya Hong Lun tahu siapa adanya Liok Cit Nio,
ia melainkan tidak menyangka, dalam tempo pendek nona
itu bisa main gila. Ia sedang menghadapi Eng Jiauw Ong, ia
jadi perlu pusatkan perhatian kepada musuhnya yang
tangguh itu.
Coh Heng telah terlepas dari tangannya orang jahat.
Ketika ia rubuh, sehabisnya Su touw Kiam dan Siu Seng
ditawan, ia pun dicari, tetapi ia tak dapat diketemukan. Ia
telah terjatuh kedalam tempat yang berair, dan berlumpur,
yang penuh dengan rumput tinggi, syukur lumpurnya tidak
dalam, rupanya air ngembeng disitu bekas turun hujan.
Penjahat mundur sendirinya ketika mereka injak lumpur

dan dalam gelap gulita, tidak lihat musuh itu. Maka itu si
sembrono ini jadi terluput dari bahaya.
Hong Lun masih mencari Eng Jiauw Ong dengan sia2,
maka ia terus menuju ke Liok kee po. Ia pisahkan diri
belum ada satu jam, ia tidak sangka cape lelahnya telah
disia2kan Cit Nio. Ketika ia sampai dirumahnya Cit Nio, ia
tampak api sedang berkobar hebat, hingga ia jadi kaget. Ia
tidak bisa berbuat suatu apa, karena ia tidak bisa serbu api.
Selagi ia mengawasi, antara cahaya api, ia lihat satu orang,
yalah Louw Bouw Thian, sedang diajak bicara oleh musuh.
Ia menduga apa yang dibicarakan, tentulah orang itu
sedang dikompes, sebelum ia sempat pikir bagaimana ia
mesti hadapi musuh, ia lihat Bouw Thian dimerdekakan,
maka ia tetapkan dugaan nya. Segera ia menyusul, ia bisa
lari pesat, cepat sekali ia sudah datang dekat.
Hei, tahan! Apakah kau ialah saudara Louw? ia tanya
sambil diam2 ia siapkan sebatang piauw.
Bouw Thian dengar teguran dari pihaknya, ia merandek
dan menoleh. Inilah ada apa yang Hong Lun inginkan,
tangannya terayun, piauwnya melesat. Bouw Thian kaget,
ia mencoba berkelit, tetapi piauw mengenai paha kirinya,
sambil menjerit, tubuhnya sempoyongan, kemudian sambil
menahan sakit ia cabut senjata rahasia itu, hingga darah nya
muncrat keluar. Ia menyender dipohoh, ia tak dapat lari
lagi. Ia jerih bukan main, karena ia kenali Hong Lun. Tapi
ia menyangkal, untuk coba bebaskan diri, kemudian ia kata
To cu, hak apa kau punya untuk binasakan aku? Biar kau
ada hio cu dari pusat umum, tak dapat kau sembarang
bunuh kawan sendiri!
Bouw Thian omong dari hal yang benar. Untuk
kesalahan yang ia perbuat, Hong Lun tak berhak untuk
lantas menghukumnya untuk itu to cu ini mesti adakan

himpunan dulu. Hukuman juga mesti dijalankan oleh to cu


yang bersangkutan sendiri.
Kau sudah berkhianat, Bouw Thian, kau masih banyak
omong? kata ia sambil tertawa menyindir. Kau telah jual
Hong Bwee Pang, kau mesti dihukum picis, sekarang aku
hendak bikin kau mati utuh, apakah itu bukan karena
kemurahan hatiku? Hayo, kau bunuh diri atau aku yang
turun tangan! Jangan mainkan tempo, atau aku terpaksa
akan belek perut mu!
Bouw Thian sengit, dari jerih ia jadi nekat.
Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, mana bisa aku
mengharapkan pula jiwaku! kata ia. Ia kertek gigi. Hong
Lun, di neraka saja kita bertemu pula! Sebagai setan aku tak
akan berikan ampun padamu!
Demikian ada kata2 yang terakhir. Tapi ia belum
harusnya terbinasa, disaat genting itu, Eng Jiauw Ong
datang. Ketua dari Hoay Yang Pay ini segera serukan
Louw Bouw Thian, apabila kau benar hendak ubah diri,
lekas pergi ke Lek Tiok Tong di Ceng hong po, Hoay
siang!
Bouw Thian cerdik, maka dengan menahan sakit ia
lantas kabur.
Sebelum Hong Lun sempat berbuat apa2 karena ia
tercengang atas datangnya musuh, Eng Jiauw Ong telah
hadapi ia dan kata Sayang dalam usiamu ini, kau tidak
bisa menimbang, kau tak dapat bedakan antara kejahatan
dan kebaikan! Mana kau berhak menjadi enghiong dalam
kalangan kang ouw? . Lekas kau serahkan perempuan cabul
itu padaku! Aku adalah Ong Too Liong, aku sungkan
tanam bibit permusuhan, tetapi jikalau kau tidak dengar
nasihat, kematian sudah ada dihadapanmu sekarang!

Eng Jiauw Ong, tua bangka! Hong Lun balas


membentak sambil menuding. Kau terlalu andalkan
bugeemu, kau terlalu jumawa, hingga kau tak lihat mata
lagi pada dunya! Justeru saat kematianmulah yang telah
berada didepan mata! Aku, Twie hun souw Hong Lun,
sudah lama nantikan kau! Hayolah kau terima
kebinasaanmu!
Sahabat, jangan kau adu lidah! kata Eng Jiauw Ong
sambil bersenyum ewah. Mari, dibawah tangan kita, kita
memberikan keputusan!
Setelah mengucap, Ong Too Liong maju mendekati.
Jikalau Hong Lun hormati aturan kaum kang ouw, dia
mesti segera letaki goloknya, atau sedikitnya dia mesti
tanya, apa pihak lawan bersedia tangan kosong lawan
senjata tajam, dengan majukan pertanyaan, dia tak akan
hilang muka dan dapat keuntungan menang diatas angin.
Tapi ia kandung maksud jelek, keras keinginannya akan
rubuhkan musuh ini, guna angkat namanya sendiri, dari itu,
tanpa kata apa2 ia pun maju, dengan goloknya ia
membacok dada!
Eng Jiauw Ong nyamping ke kiri, dengan lantas ia totok
jalan darah kiok tie hiat dari tangan kanannya lawan.
Bacokannya Hong Lun ada bacokan gertakan tapi bisa
diteruskan apabila musuh kena digertak, ia memang licin
sekali, sekarang dia lihat dia diserang, segera ia menyabet
balik dengan babatan Chong liong kwie hay atau Naga
pulang kelaut. Karena ia menyamber sambil mendek, ia
mengarah kedua kaki musuh.
Dengan loncatan enjotan Cin pou lian hoan atau
Maju beruntun2, Eng Jiauw Ong mencelat tinggi dan
jauh kebelakang penyerangnya itu, disini ia putar tubuh
seraya sebelah tangannya menyamber bahu kanan musuh.

Hong Lun insaf ancaman bahaya begitu lekas ia


membabat tempat kosong, segera ia terus mendekam lebih
rendah seraya putar tubuhnya, kaki kirinya di majukan, lalu
sambil memutar, ujung goloknya ditikamkan ke perut
lawan, serangan siapa pun tak mengenai sasarannya.
Eng Jiauw Ong elakkan diri sambil berlompat kekiri
dalam gerakan ular naga jumpalitan Koay bong hoan sin,
dengan begitu, ia pernahkan diri dibelakang disebelah
kanan lawan, hingga leluasa ia untuk hajar bebokong
bagian kanan musuhnya itu.
Tua Bangka, pergilah! ia berseru selagi lima jarinya
mengenai sasarannya.
Hong Lun pandai ilmu lemas dan keras, meskipun
ia tidak melatih ilmu weduk Tiat pou san-Baju cita besi
tidak sembarang tenaga kepalan mampu lukai padanya,
akan tetapi sekali ini ia menghadapi ketua dari Hoay Yang
Pay, ia mendapat lawan yang tangguh. Pun, orang punya
kegesitan ia tak dapat lawan, jikalau tidak, pasti ia keburu
berkelit atau menangkis. Begitulah, menyusul sampainya
tangan musuh, ia keluarkan jeritan tertahan, tubuhnya
sempoyongan, hampir saja ia jatuh ngusruk. Ia pun rasai
kepala dan hatinya berhawa panas.
Hm tua bangka! Eng Jiauw Ong kata sambil tertawa.
Dengan kepandaian macam ini kau berani malang
melintang didunya kang ouw, memandang enteng kepada
siapa juga? Pergilah, aku ampunkan jiwamu!
Keringat dijidatnya Hong Lun menetes turun, ia
mendongkol bukan kepalang.
Presenanmu ini, sampai mati pun aku tak akan
lupakan! kata dia sambil menyengir. Dibelakang hari kita
nanti bertemu pula!...

Tanpa tunggu jawaban lagi pemimpin Hong Bwee Pang


itu putar tubuhnya, untuk berlalu dengan cepat diantara
tanah ladang.
Eng Jiauw Ong antap orang pergi, ia lebih pikirkan
muridnya, maka segera ia kembali ke Liok kee po akan
tengok Liu Tong dan Cu In Am cu.
Ia lihat bagaimana api masih berkobar2, ia tidak
dapatkan kawan nya, maka, percaya kawan nya itu sudah
pergi ke Sin Lie Hong, ia lantas menyusul. Ia berlari dengan
cepat dengan gunai ilmu lari keras Keng kang Tee ciong sut,
tapi sambil lari ia berbareng memasang mata dan telinga. Ia
perhatikan tanda rahasia jalanan, dari itu, ia tidak tersesat
jalan. Dalam tempo yang cepat ia sampai dipuncak Sin Lie
Hong, puncak Malaikat Perempuan. Ia dapatkan banyak
pohon kayu besar, yang daun dan cabang nya menerbitkan
suara berisik karena tiupannya sang angin.
Dari tempat dimana ia berhenti, Eng Jiauw Oiig lihat
jauh sepanahan didepannya ada puncak belasan tumbak
lebih tinggi, kebetulan disana ada tertampak beberapa
bayangan, ia segera menghampirkan. Ia belum tahu
bayangan itu ada pihaknya atau bukan, ia berlaku hati2.
Disaat ia hendak perhatikan orang punya wajah muka,
tiba2 datang pertanyaan dari pinggiran Ong Supe disitu?
Siapa? Eng Jiauw Ong balik menegur sambil
menoleh. Pertanyaan itu datang dari pepohonan lebat
Supe, aku Siu Sian datang memapak, sahut suara yang di
tegor, yang sudah lantas muncul, yalah muridnya Cu In Am
cu.
Bagaimana, apa belum dapat ketemui kuil itu? tanya
Eng Jiauw Ong.
Sudah, supe, itulah disana, diseberang, sahut Siu Sian.
Supe lihat itu solokan yang lebar, guruku dan Ban Loosu

bisa lewat disitu dengan leluasa, aku tidak. Untuk seberangi


itu, disini ada jembatannya tetapi tadi, waktu Liok Cit Nio
sampai disini, dia telah angkat keseberang, maka Ban
Loosu mesti pasang dahulu, untuk aku lewat. Tadi Ban
Loosu lihat samar2 pada supe, untuk menegasi dan
memapakinya dia perintah aku. Rupanya supe berhasil
singkirkan penjahat tua tadi?
Aku telah lukai dan antap dia kabur, jawab Eng Jiauw
Ong. Dia adalah Twie hun souw Hong Lun.
Setelah kata begitu, Eng Jiauw Ong ajak murid pendeta
itu pergi nyeberang. Jembatan, yang dipanggil jembatan
terbang terbuat dari potongan2 papan, yang disambung dan
dipasang kepada dua helai rantai besi. Diseberang, mereka
lantas disambut Cu In dan Liu Tong.
Apa suheng sudah singkirkan kepala penjahat itu? Cu
In Am cu tanya.
Dia telah dilukai dan dilepas pergi, sahut Eng Jiauw
Ong seraya ia berikan keterangannya perihal Hong Lun.
Lihat licinnya Lie touw hu Liok Cit Nio, suheng, kata
Cu In kemudian. Melihat pengaturannya disini terang dia
telah melakukan kebusukan bukan baru saja. Coba tidak
ada itu penjahat she Louw, tidak dapat kita cari sarangnya
perempuan cabul ini.
Eng Jiauw Ong manggut untuk membenarkan niekouw
itu.
Sekarang mari kita pergi ke kuilnya perempuan busuk
itu,
Liu Tong mengajak Tempat ini ini ada asing bagi kita,
kita menanti jaga supaya dia tak terlolos lagi.
Cu In manggut.

Marilah! ia menjawab.
Berlima mereka maju. Kepentingan membikin mereka
tak perhatikan pula empat murid mereka, yang ketinggalan
dibelakang. Mereka bertindak dengan cepat. Cepat mereka
mendekati sebuah tembok pekarangan merah yang
dikurung pepohonan yangliu. Luas pekarangan ada kira2
satu bauw.
Baik kita masuk dengan berpencar, Liu Tong usulkan
kepada suhengnya.
Baik kita pecah tiga saja, Cu In nyatakan. Biar Siu
Seng dan Siu Sian ber jaga2 diluar. Kita sendiri akan
berkumpul di ruangan siantong.
Eng Jiauw Ong mupakat, maka mereka lantas
berpisahan Cu In ke belakang, Too Liong ke Timur, dan
Liu Tong ke Barat. Dengan pedang ditangan masing2 Siu
Seng dan Siu Sian memasang mata diluar bio.
Dengan pedang ditangannya Cu In Am cu loncat naik ke
tembok. Dari sini ia memandang kedalam Kuil itu punya
taman bunga. Pekarangan dalam sangat sunyi. Dengan
potongan puing ia menimpuk ke tanah. baharulah ia loncat
turun. Ia jalan di antara pohon2 bunga, sampai di ujung
taman dimana ada sebuah pintu berdaun dua. Disini pun
keadaan sunyi sekali. Dengan pelahan daun pintu ditolak
terbuka, memperlihatkan sebuah kuil yang terdiri dari
beberapa kamar atau ruangan kecil.
Pertama ia hadapi sebuah kamar seperti dapur. Di ujung
kamar ini, dari sebuah kamar kecil, menyorot sinar terang ,
kamar lainnya gelap petang.
Dengan mengentengi tindakannya, Cu In hampirkan
kamar im, untuk pasang kuping. Ia dengar suara yang
pelahan sekali. Segera ia mengintai di jendela. Kamar itu

diperlengkapi satu pembaringan kayu, sebuah kursi, sebuah


meja atas mana ada satu pelita. Pembaringan dan kursi
sudah bobrok. Diatas pembaringan duduk numprah seorang
perempuan tua yang berumur kira2 tujuh puluh tahun,
rambutnya sudah putih semua, kulitnya keriputan. Ia pakai
pakaian biru. Ia duduk sambil tunduk tapi mulutnya kemak
kemik, karena tangannya buat main rantai biji tasbe, terang
ia sedang liamkeng.
Ketua dari See Gak Pay terhibur melihat orang sujut
kepada agama, terutama orang berada ditempat buruk itu.
Ia merasa beruntung tidak sembrono turun tangan. Ia
percaya, dia itu adalah bujang tuanya Liok Cit Nio yang
matanya picak sebelah.
Selagi Cu In hendak putar tubuhnya untuk lihat lain
kamar, ia dengar tindakan kaki diujung pintu pojok. Segera
ia loncat naik keatas rumah. Lantas ia lihat satu anak
perempuan umur empat atau Iima belas tahun, yang
rambutnya terkepang dua, memakai celana dan baju pendek
yang sepan, tangannya menadah nenampan.
Baharu sampai dimuka jendela nona itu sudah
perdengarkan suaranya Eh, picak, kenapa kau padamkan
api didapur? Apakah kau hendak cari mampus lagi?
Si nyonya tua, dari dalam kamar, sudah lantas
menyahuti Apa? Api padam? Aku tidak tiup itu!
Barangkali minyaknya kering. Nona Eng, jangan berisik,
berbuatlah baik pada si picak
. Nanti aku nyalakan
pula api itu.
Jangan kau ngaco! menegur si nona, yang agaknya
mendongkol. Memangnya siapa yang kurang berbuat baik
terhadapmu? Jika tidak saban2 aku yang lindungi dirimu,
tentu Cit Nio sudah peliahrakan kau kepada anjing! Jangan
kau berpura alim dan sujut, setiap hari liamkeng saja, entah

siapa yang kau sebenarnya caci maki! Kau bersujut, sebelah


matamu picak, nanti dua2 matamu lenyap penerangannya!
Ketungkulan ngoce, nona itu meleng, hampir saja
nenampan nya terbalik, lekas2 ia jalan terus.
Si nyonya tua sudah lantas muncul dengan pelita di
tangannya, ia jalan dengan pelahan, mulutnya terus
memain Ohmie too hud! Entah dulunya aku berbuat jahat
apa, di ini penjelmaan aku bersengsara begini macam Eh,
Nona Eng, tunggu, aku toh hendak ambilkan api untuk
kau Disana tidak ada bahan api, sia2 kau mencari dengan
rapa repe.
Justeru itu, si nona keluar pula dari dapur kemana tadi ia
sudah lantas masuk.
Tua bangka harus mampus ia mendumel. Nyata,
hatimu pun picak! Bahan api tidak ada tapi di perapian,
baranya masih ada
Dia keluar dengan sebuah teh koan kecil yang terisi air
mendidih, dia dekati si nene. Dia ternyata berhati kejam,
tahu2 ia kucurkan air panas di tangannya nene itu.
Aduh! si nene menjerit, kaget dan sakitnya bukan
main, hingga pelitanya lantas terlepas dan jatuh. Oh, nona
Eng, kau keterlaluan kata ia kemudian, seraya usut2
tangannya. Kau tahu, Sang Buddha ada maha suci, kau
nanti dapat kutukannya Suaranya ada lemah sekali,
tandanya ia sangat bersedih.
Tapi si nona bersenyum dingin.
Apa, kutukan? Aku tak percaya! kata ia. Sang
Buddha tak punya kesempatan untuk dengarkan oceanmu,
akan perhatikan urusan tak keruan
Dan ia ngeloyor pergi sambil tertawa puas.

Cu In memuji.
Kau terlalu, nona kecil, kata ia dalam hatinya. Kau
sangat menghina pada orang2 yang beragama
Lantas ia loncat turun pula.
Nene itu, sambil menangis pelahan, bertindak dengan
sukar, karena pelitanya padam.
Orang bersengsara, tahan, kata Cu In, yang muncul
dengan tiba2 didepan orang.
Nene itu kaget, hingga ia keluarkan seruan tertahan. Ia
ada sangat bersusah hati, hingga timbul pikiran pendeknya
untuk bunuh diri saja. Ia mundur tapi kakinya lemas, ia
lantas rubuh, syukur si niekouw tua itu buru pegang
tubuhnya.
Kau jangan takut, Cu In menghibur. Aku berkasihan
terhadapmu yang tersiksa, aku akan wakilkan Thian
menjalankan hukuman bagi yang berdosa. Lie touwhu ada
sangat jahat, dia bakal segera terima pembalasannya. Disini
dua butir obat, yang satu kau minum, yang satu pula untuk
kau pakai mengobati lukamu bekas kebakar, kau akan lekas
sembuh.
Niekouw ini merogo sakunya, benar2 ia membagi dua
butir pil.
Entah kau dewi apa sudah mengasihani aku kata
nyonya tua itu dengan sangat bersyukur.
Sudah, jangan omong saja, pergi kau obati lukamu,
kata Cu In, yang terus berlalu dari situ. Ia naik keatas
genteng, ia pergi ketengah, baharu ia sampai, dari arah
Timur loncat naik satu orang, yang ia kenali adalah Ban Liu
Tong.

Kenapa am cu baharu sampai? Kenapa kau terlambat?


Siok beng Sin Ie dului menanya, dengan suara pelahan.
Aku terhalang oleh si nene picak, sahut Cu In, yang
ceritakan pengalamannya dikamar dapur.
Aku telah masuk bersama Ong Suheng, kata Liu Tong.
Syukur kita tidak percaya sepenuhnya pada penjahat she
Louw itu. Lie touwhu lari kemari tak bersendirian, ia bawa
empat konco nya. Hal ini diketahui oleh Ong Suheng,
semua mereka itu telah dibereskan. Boca itu kejam sekali,
dia harus diajar adat. Suheng titahkan aku pasang mata
disini, aku mesti dengar pertandaan dari suheng.
Jadinya Su touw hiantit tidak dalam bahaya? Cu In
tanya.
Liu Tong manggut.
Kalau begitu, silahkan loosu tetap menjaga disini, kata
pula Cu In, yang terus maju ke depan, hingga ia melihat
tiga kamar disebelah Utara, ada jalanan di Timur dan Barat.
Disamping tembok pekarangan ada satu kamar kecil.
Cahaya api terlihat terang dikamar Utara itu. Ia pergi
kearah utara itu, hingga ia tampak Eng Jiauw Ong sedang
mengintai dijendela. Ia loncat menghampiri.
Eng Jiauw Ong dengar suara, biar bagaimana pelahan
sekalipun. Ia menoleh. Melihat niekouw itu, ia menggape.
Ketika Cu In sudah datang dekat, ia menunjuk kejendela.
Cu In hampirkan jendela, ia membuat satu lobang, lalu ia
mengintai kedalam. Bukan mayn gusarnya, apabila ia lihat
pemandangan didalam kamar itu.
Itulah kamarnya Liok Cit Nio. Namanya saja tempat itu
kuil, tapi kuil melainkan apa yang kelihatan dari luar, untuk
pelabi saja. Didalam, kamar ini ada indah luar biasa,

begitupun
bantalnya.

pembaringannya

kelambunya,

sprei

dan

Diatas pembaringan yang indah itu, Su touw Kiam rebah


dengan hanya pakaian dalam. Dua budak pegangi padanya,
dia seperti kehabisan tenaga melawannya. Si nona, yang si
nene panggil nona Eng sebenarnya bernama Hong Eng
sedang siapkan dua bantal kepala sulam, Liok Cit Nio
sendiri sedang bersolek dimuka kaca dimeja rias. Cahaya
api datangnya dari lilin merah.
Selagi Cit Nio tidak melihat, Hong Eng main mata
kepada satu pelayan lain, ia tunjuk Cit Nio, ia tunjuk Su
touw Kiam, kemudian ia tunjuk jidatnya sendiri,
tingkahnya sangat centil. Kawannya itu layani ia beraksi.
Tiba2 Cit Nio menoleh, sepasang alisnya berdiri dengan
segera. Ia pun jemput sebilah pisau belati dari dalam laci
meja.
Budak mau mampus, kau berani main gila? ia
membentak. Apakah kau juga ingin rasai daging gangsa
kayangan? Baik, baik, besok aku nanti presen kau masing2
dua bacokan, berikut si tua picak, aku nanti lemparkan
kesolokan gunung!
Kedua budak itu kaget, kedua nya lantas banting diri,
untuk tekuk lutut.
Tidak, kami tidak berani main gila kata mereka, yang
ketakutan bukan kepalang. Hari ini ada Nio punya hari
kegirangan, mustahil kami berani kurang ajar? Harap Nio
ampuni kami. Jikalau kami dibunuh, siapa nanti rawati
Nio? Hari ini ada hari baik, tak berani kami menangis.
Ampunilah, Nio. Sekarang sudah hampir jam lima,
silahkan Nio beristirahat. Harap Nio tidak marahi kami
lebih jauh.

Baik, sekali ini aku kasi ampun pada kau sekalian, kata
ia. Jikalau kau berani kurang ajar lagi, paling dulu aku
nanti korek kedua biji matamu berdua supaya kau jadi
seperti si picak! Ia menguap, ia lempangkan pinggangnya.
He, apalagi kau hendak tunggu? Lekas pergi.
Terima kasih, Nio, kata kedua budak itu, yang berlalu
dengan cepat sesudah mereka memberi hormat.
Cit Nio bertindak kepembaringan, akan awasi Su touw
Kiam, muka siapa tidak kelihatan tedas, karena sinar api
kealingan kelambu, dari itu, dia singkap kelambu itu.
Sesudah ini, ia awasi orang punya muka, lalu ia
membungkuk, kepalanya dikasi turun. Terang ia sangat
tergiur dan ingin mencium pipi orang
Eng Jiauw Ong telah menyaksikan sekian lama, ia kaget
menampak sikapnya Cit Nio. Sejak tadi memang hatinya
sudah panas. Ia tahu, Su touw Kiam berada dibawah
pengaruh semacam obat pules, tidak heran muridnya itu
jadi tidak berdaya. Ia mengerti, nama Hoay Yang Pay akan
ternoda jikalau perempuan cabul ini berhasil mengganggu
muridnya itu. Cu In sendiri sudah hunus pedangnya bahna
jemu dan mendongkolnya. Maka itu, ia lantas membentak
Perempuan busuk, keluar kau untuk terima binasa!
Bentakan itu disusul oleh gerakan tangan yang kuat pada
daun jendela, hingga diantara suara nyaring, daun jendela
itu rusak dan terbuka.
Puas rupanya nona itu mendengar orang punya ratapan,
ia lemparkan pisaunya keatas meja, dari hidungnya keluar
suara menghina.
Perempuan celaka, kau tak akan lolos pula! Cu In pun
membentak.
XXII

Kagetnya Liok Cit Nio bukan alang kepalang karena


tegoran yang hebat itu. Ia telah mengharap sangat akan
memiliki Su touw Kiam yang cakap dan gagah. Di Liok kee
po ia sudah gagal, ia rela meninggalkan rumahnya hangus
terbakar. Ia merasa pasti dibelakang hari ia akan sanggup
berdirikan pula gedungnya itu, karena ia punya simpanan
uang dan barang permata, yang ia sembunyikan ditempat
yang selamat. Ia kabur dengan gendol Su touw Kiam,
bersama ia ada turut empat konconya. Ia menyingkir ke Sin
Lie Hong, puncak dimana ia ada punya gedung yang
terahasia. Ia tidak nyana bahwa musuh, ketahui sarangnya
ini. Ia kaget tetapi ia tidak jerih, ia malah sangat gusar
karena gangguan itu, sambil kertak gigi ia meloncat kemeja
akan menyamber pisaunya tadi, dengan itu ia kembali
kepembaringan. Ia jadi nekat, hingga ia berniat
membinasakan saja Su touw Kiam supaya kalau ia toh tak
bisa lolos, ia nanti binasa bersama si kekasih itu
Disaat Cit Nio ayun pisaunya, tiba2 dikolong
pembaringan terdengar suara gedebukan, dari pembaringan
yang terbentur keras, lalu dari ujung situ muncul seorang
serba hitam, yang pakaiannya penuh lumpur, hingga dia
mirip dengan satu hantu. Dia ini pun segera membentak
Perempuan celaka!
Cit Nio kaget dan tercengang. Ini adalah hal yang ia
tidak sangka sangka.
Orang tak dikenal itu menyamber tehkoan teh diatas
meja, dengan mana ia menyambit si perempuan cabul.
Dalam kagetnya, Cit Nio masih bisa menggunai
pisaunya untuk menangkis, hingga tehkoan pecah dan
airnya berhamburan, mengenai ia sendiri, juga mengenai
mukanya Su touw Kiam. Tapi ia mengerti bahaya, ia tak
tahu dalam kamar itu ada berapa musuh, maka tidak

bersangsi lagi, ia loncat kepintu. Karena kesusu, ia sampai


tak sempat memadamkan api.
Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu sudah lantas kenali
orang yang muncul dari kolong pembaringan, ialah Coh
Heng si sembrono, siapa itu waktu sudah lantas hampirkan
Su touw Kiam, untuk diangkat tubuhnya dan di gendong,
untuk ia bawa lari.
Eng Jiauw Ong melihat orang itu tak bersenjata,
sedangkan tangannya memegangi Su touw Kiam Apabila
kesomplok dengan Cit Nio, si sembrono ini bisa celaka, dari
itu, sambil mendobrak jendela ia berseru Coh Heng, mari
sini!
Coh Heng mendengar panggilan itu, ia putar tubuhnya
akan lari kejendela, kemana ia meloncat untuk mabur
keluar, tetapi ia sudah tidak ingat jendela rendah, ia
menjerit Aduh! ketika kepalanya membentur balok
jendela sebelah atas, hingga ia mundur pula dengan
kesakitan.
Tunduk! berseru Eng Jiauw Ong, yang lihat sepak
terjangnya si sembrono itu, sesudah mana, ia ulur
tangannya akan cekal lengan kanan orang, untuk ditarik
keluar.
Sesampainya diluar, Coh Heng letaki tubuh suhengnya
itu, kemudian ia meng usut2 kepalanya.
Hampir aku mampus kata ia.
Waktu itu, sambil berseru Kemana kau hendak lari?
Cu In Am cu telah kejar Liok Cit Nio.
Tidak ada niatan bagi si Jagal Wanita untuk melayani
bertempur, tetapi orang punya lompatan ada gesit luar
biasa, ia sudah lantas kecandak, maka, mau atau tidak, ia

putar tubuh nya, terus ia serang niekouw tua itu secara


sengit sekali.
Cu In menangkis sambil teruskan menikam dada musuh
begitu lekas ia dapat elakkan tikaman lawan, pedangnya
berkelebat berkeredepan bagaikan halilintar.
Dalam ibuknya Liok Cit Nio menangkis, lalu dengan
nekat, ia bikin perlawanan. Tapi ia seperti kena dilibat
pendeta perempuan itu, yang gunai ilmu pedang Sha cap
lak ciu Thian kong kiam, yang terdiri dari tiga puluh enam
jurus.
Ketika itu, Ban Liu Tong diatas genteng dan Eng Jiauw
Ong dibawah, sama bersiap. Siok beng Sin Ie tahu pasti,
suhengnya tak akan sudi layani bertempur dengan seorang
perempuan, ia pun percaya perempuan cabul itu tak akan
dapat meloloskan dirinya. Ia sendiripun sama sungkannya
untuk melayaninya.
Pada jurus ke tujuh, Liok Cit Nio serang Cu In Am cu
dengan tipu pukulan Ciauw hu bun louw atau Tukang
kayu menanyakan jalan, atas mana, niekouw tua itu tarik
pedangnya kebawah, untuk diputar keluar, untuk segera
dipakai membabat lengan lawan itu.
Gerakan ini ada cepat luar biasa, sampai sia2 saja Liok
Cit Nio segera tarik pulang senjatanya, tidak urung
pisaunya itu kena tersampok keras hingga terlepas dari
cekalan dan jatuh ketanah sambil menerbitkan suara berisik.
Berbareng dengan terlepasnya pisaunya itu, Cit Nio lompat
jauhnya satu tumbak lebih, akan jauhkan diri dari musuh
yang liehay itu.
Dengan lompatan jumpalitan Auw cu hoan sin atau
burung elang membalik badan, Cit Nio ayun tangannya,
atas mana, jarum rahasia Cit seng Touw kut ciam jarum

tujuh bintang yang menembuskan tulang sudah lantas


menyamber kearah musuhnya.
Walaupun Cu In Am cu sedang mengejar, ia masih bisa
lihat bergeraknya pundak musuh, menyangka pada senjata
rahasia, ia mendahului doyongkan tubuh kesamping untuk
berkelit.
Senjata rahasia dari si Jagal Wanita merupakan
bumbung yang muat tujuh batang jarum, yang ada pesawat
rahasianya, apabila ditarik, jarum itu bisa melesat keluar
menyamber, saling susul menurut kehendak hati. Karena
halusnya jarum, suara menyambernyapun tidak ada.
Demikianlah serangan itu, karena Cu In mendahului
berkelit, jarum yang ke satu telah dapat dikasi lewat dengan
begitu saja, dan yang ke dua, yang diarahkan kedada,
dipukul jatuh dengan sampokan pedang.
Tatkala Cit Nio hendak gunai jarum yang ke tiga, hal itu
telah membuat Ban Liu Tong jadi gusar sekali, hingga ia
sudah lantas menyerang dengan peluru nya, Kauw kang
Liong gan cu, sambil ia berseru Orang cabul, awas!
Jarang sekali Siok beng Sin Ie gunai senjata rahasianya
ini. Ia baharu gunai apabila keadaan sangat mendesak atau
berbahaya. Pun kali ini ia bukan serang langsung si
perempuan centil, hanya ia hajar bumbung jarumnya
perempuan itu.
Liok Cit Nio hampir menjerit karena peluru itu, yang
mengenai jitu, telah mengenai juga ujung jarinya, hingga ia
merasakan sangat sakit. Ia mengerti bahaya, ia hendak
lantas melarikan diri. Sementara itu Cu In, yang telah dapat
ketika, sudah mencelat kesamping musuh.
Binatang, kau masih berniat lari? menegor pendeta ini
dengan bentakannya.

Lie touw hu Liok Cit Nio insaf, tak dapat lagi ia


menyingkirkan diri, maka segera ia buang kebelakang
kedua tangannya, seraya hadapi lawannya ia kata
Niekouw tua, lekaslah kau habiskan jiwanya nyonya mu!
Cu In Am cu mengharapkan keterangan, tak ingin dia
segera habiskan jiwa orang. Tapi untuk bikin orang tidak
berdaya, sebaliknya daripada membabat atau menikam, ia
menendang dengan tiba2.
Cit Nio rubuh bergulingan, setelah mana, ia ditubruk,
terus di belenggu dengan angkinnya sendiri yang niekouw
tua itu loloskan dari pinggangnya. Ia diam saja, ia manda.
Ban Liu Tong loncat turun dari genteng, bersama Eng
Jiauw Ong ia hampirkan ketua dari See Gak Pay itu.
Didalam masih ada dua budak buruk, berkata Cu In.
Mari kita masuk untuk sekalian dengar keterangan
mereka.
Ban Liu Tong sudah lantas masuk kedalam kamar, yang
sekarang telah jadi gelap, karena tak tahu kapan padamnya
api. Karena itu, Eng Jiauw Ong ambil ciaktay yang ada
lilinnya, buat disulut dan dibawa masuk kedalam.
Cu In Amcu bertindak kedalam seraya menenteng
tubuhnya Cit Nio.
Coh Heng, dengan Su touw Kiam dipundaknya, ikuti
gurunya. Ia tidak mau lantas turunkan suhengnya, yang ia
kuatir nanti di bokong orang jahat. Su touw Kiam telah
sedar karena tersiram air teh, cuma kepalanya masih
dirasakan berat, matanya pun seperti lamur. Adalah setelah
ia diturunkan ke kursi, baharu ia dapat beristirahat.
Dua budak itu lenyap, tentu mereka kabur, kata Cu In
pada Eng Jiauw Ong.

Mereka ada bangsa budak, biar mereka kabur, jawab


Ong Too Liong.
Tapi Hong Eng kelewat kejam, aku niat hajar adat pada
nya, bilang si niekouw tua.
Eng Jiauw Ong tidak bilang apa , ia hanya pergi uruti Su
touw Kiam dengan ilmu mengurut jalan darah Twie hiat
Kwee kiong hoat, guna perbaiki jalannya darah diseluruh
tubuh.
Perempuan busuk, Ban Liu Tong tegur Cit Nio,
kenapa musnah perasaan perikemanusianmu, hingga lupa
kau pada malu? Kau telah tertawan sekarang, apabila kau
masih memikir hidup, lekas kau beritahukan dimana
sembunyinya kedua murid kami yang konco2mu telah
culik. Asal kau omong terus terang, kami nanti merdekakan
kau, tetapi jikalau kau berlaku licik, kau tak akan dapat
ampun lagi. Silahkan kau pilih, hidup atau mati!
Cit Nio berniat menjawab, akan tetapi sebelum ia buka
mulutnya, terdengarlah jeritan Tolong! dari arah
belakang kuil itu, atas mana Eng Jiauw Ong sudah lantas
mencelat keluar rumah, untuk melihat kesekitar nya, hingga
ia tampak cahaya api yang ber kobar2.
Am cu! kata ia seraya melongok kedalam, disini
masih ada sisa penjahat, mereka telah lepas api dibelakang.
Nanti aku lihat!
Suheng, lihat juga si nyonya tua yang picak, Cu In
pesan. Jagalah supaya dia tak jadi korban api!
Eng Jiauw Ong menyahuti, sesudah mana, ia loncat naik
keatas genteng.
Ban Loosu, kata Cu In kemudian pada Ban Liu Tiong,
aku ingat pada empat penjahat yang tertawan Ong
Suheng, jangan2 mereka bisa kabur.

Benar, Am cu, nanti aku lihat! sahut Siok beng Sin Ie,
yang pun segera berlalu dari kamar itu, untuk pergi
kedepan.
Ketika itu Su touw Kiam, yang sudah mulai terang
ingatannya, merasa malu akan dirinya sendiri. Didekatnya,
ia lihat suteenya, Coh Heng, yang macamnya tidak karuan,
karena saudara ini masih berlepotan lumpur.
Sutee, kata ia, leherku kering sekali, tolong kau cari
air dibelakang, sekalian kau bersihkan mukamu
Coh Heng menoleh kemuka kaca, ia lantas tertawa
sendirinya. Maka lekas ia lari keluar akan cari sebuah
tehkoan teh, sehabis kasi Su touw Kiam minum, iapun terus
cuci mukanya.
Hampir berbareng dengan itu, Cu In dengar tindakan
kaki yang berat diatas genteng. Ia, percaya itu bukannya
tindakan dari Ong Too Liong atau Ban Liu Tong, maka
dengan diam2 ia geser tubuh kesamping pintu, sambil
bergerak, dengan ujung pedang ia padamkan lilin. Ia pasang
mata.
Dari dua penjuru genteng, Timur dan Barat, muncul
masing2 seorang dengan pakaian malam hitam, mereka
loncat turun ketanah, selagi menghampirkan kamar, satu
diantaranya segera berseru He, Cu In, kepala gundul, lekas
keluar untuk terima binasa!
Kawanan kurcaci! berseru ketua See Gak Pay sambil
ia loncat keluar.
Dua penjahat itu, yang bersenjatakan golok, sudah lantas
maju, menyerang dengan berbareng, akan tetapi, setelah si
pendeta bikin perlawanan, mereka berlaku licik, mereka
tidak mau berhadapan akan bentur senjata dengan senjata,
terang sudah bahwa mereka hendak mengganggu saja.

Cu In Am cu telah pikir untuk tidak ingin menaruh belas


kasihan lagi, akan tetapi kapan ia telah saksikan caranya
orang berkelahi, ia segera insaf bahwa musuh sedang
pancing dirinya, dalam mendongkolnya, ia teriaki Coh
Heng Coh Heng, jagalah itu penjahat perempuan!
Teriakan ini disusul dengan munculnya satu orang dari
tembok Barat, cepat sekali ia ini lari kejendela, begitu ia
sampai, tangannya diayun kearah kamar, menembusi
jendela, menyusul mana, terdengarlah seruannya Coh Heng
si sembrono Kurang ajar!
Satu suara nyaring adalah susulannya tangan diayun itu,
dengan menerbitkan suara berisik, tehkoan dan cawan
diatas meja pecah berhamburan.
Menyusul lebih jauh, sebuah bangku melesat keluar
jendela.
Orang diluar itu, satu penjahat, egos tubuhnya, hingga
bangku jatuh ketanah dan ambruk.
Pada itu waktu, Cu In Am cu sudah berhasil melukai
lengan kiri dari salah satu lawan nya.
Dari luar tembok Timur, dengan tiba tiba terdengar dua
kali suara suitan, pelahan tetapi nyata, atas mana,
penyerangnya, Coh Heng melesat ketembok Barat, untuk
angkat kaki.
Si penjahat yuga satunya, lawannya Cu In, yang
tubuhnya jangkung, juga loncat naik kegenteng Timur
sambil ia berseru sendiri nya Nirwana ikat tangan, para
pundak rata tuntun hidup!
Itulah kata2 rahasia yang berarti si niekouw liehay, baik
mereka kabur.

Cu In mendongkol bukan main, segera ia geser


pedangnya ketangan kiri dan tangan kanannya merogo
kantong rahasia nya, akan keluarkan tiga butir peluru Su
bun Cit poo cu, sambil menyerang ia berseru Kawanan
kurcaci, jagalah!
Orang2 jahat itu tahu mereka hendak dibokong dengan
senjata rahasia, dari itu, lekas2 mereka siap akan tolong diri
dengan tangkisan, tapi pelurunya si niekouw sudah samber
musuhnya, peluru pertama lewat diselang kangan kanan,
tapi yang kedua dan ketiga, masing2 mengenai iga kanan
dan pundak, maka sambil menjerit, musuh itu rubuh,
goloknya terlepas, ia jatuh terbanting terus pingsan.
Berbareng dengan itu, didalam kamar, Coh Heng
berteriak Celaka! Si bangsat perempuan kabur! Dia lari
dari jendela.
Cu In dengar itu, kemurkaannya jadi bertambah2, selagi
ia hendak bertindak, Eng Jiauw Ong datang padanya seraya
terus berkata Benar2 penjahat sudah membakar
dibelakang, aku terlambat karena hendak tolongi si
perempuan tua dan picak, tetapi rumah disini terdiri dari
tembok semua, api tak akan merembet luas. Bagaimana
disini?
Kawanan kurcaci berlaku sangat licik, si penjahat
perempuan pun lolos, Cu In kasi tahu. Mereka tentu
belum kabur jauh, mari kita cari mereka! Ia lalu teruskan
pada Coh Heng Coh Heng, jaga baik suhengmu! Kalau
sebentar gurumu kembali, minta dia jangan berlalu dari sini,
kami akan segera kembali! Suheng, mari! akhirnya ia ajak
kawannya.
Tanpa bersangsi, Eng Jiauw Ong loncat akan ikuti
pendeta itu, yang sudah lantas loncat naik ketembok Timur.
Dengan cepat mereka sudah sampai diluar kuil dimana

mereka lantas memandang kesekitarnya. Di saat mereka


hendak maju lebih jauh, tiba dari sebelah kiri muncul satu
orang. Tapi mereka tidak terkejut, karena segera mereka
kenali Siok beng Sin Ie.
Kau dari mana, sutee? tanya Eng Jiauw Ong.
Kita berlaku murah hati, siapa tahu itu jadi bibit
bencana, sahut Ban Liu Tong. Empat tawanan kita dapat
ditolong oleh kawan mereka, ketika aku mencari keluar,
aku lihat satu bayangan lari ke Barat, aku mengejar sampai
satu lie lebih, dia lenyap entah kemana. Jalanan disitu
buntu dengan jurang yang dalam. Bagaimana disini?
Si perempuan cabul pun lolos, sahut Eng Jiauw Ong.
Pergi sutee tanya Coh Heng, kau akan ketahui
bagaimana duduknya. Harap sutee jangan berlalu lagi dari
kamar.
Tolong loosu tengok satu penjahat, yang telah terluka,
Cu In pesan. Kami pergi untuk lekas kembali.
Lalu, cepat sekali, pendeta ini lari kearah Timur, maka
itu, Ong Too Liong lari menyusul. Ban Liu Tong pun lantas
masuk kedalam.
Cu In berdua Eng Jiauw Ong lari ke Timur jauhnya dua
tiga panahan, mereka mendaki sebuah puncak yang lebat
dengan pepohonan, rumput dan akar2, karena itu, sukar
mereka melihat ketempat jauh. Angin demikian keras,
suaranya terdengar nyata antara pepohonan. Setelah maju
lebih jauh, mereka tampak dua bayangan, tidak tempo lagi,
mereka mengejar. Selagi mendekati, mereka lihat dua
bayangan itu terjun kebawah dan lenyap!
Suheng, lekas! berseru Cu In kepada kawannya, ia
sendiri segera loncat dengan sangat pesat, untuk menyusul.

Tanpa menyahuti lagi, Eng Jiauw Ong pun melesat


bagaikan anak panah.
Tatkala mereka sampai ditempat dimana dua bayangan
lenyap, mereka dapatkan itu adalah sebuah jurang dimana
ada air mengalir, tempat jalannya air dari beberapa sumber
diatas gunung. Mereka tak lihat tempat untuk loncat turun,
mereka heran, dari itu mereka memasang mata dengan
tajam. Akhirnya mereka dapati sebuah batu besar pada
mana ada tertambat sepotong tali yang panjang, yang masih
bergoyang2. Karena disitu masih bergelayutan turun satu
orang.
Dibawah jurang, diatas solokan yang merupakan kali
kecil itu, ada sebuah perahu kecil.
Perempuan busuk, kau masih ingin lari? membentak
Cu In Am cu, yang loncat kebatu besar itu seraya masukkan
pedangnya kedalam sarung, karena ia berniat menyusul
turun.
Orang didadung itu rupanya menduga pasti ada orang
kejar dia, tidak tunggu sampai di ujung tambang, ia sudah
mendahului lepas cekalannya, hingga tubuhnya jatuh
kedalam perahu. Ia jatuh dengan berdiri tegak, karena ia
sengaja loncat turun. Segera setelah injak perahu, dia
dongak dan berkata dengan nyaring Niekouw tua Cu In
dan tua bangka Ong Too Liong, kau punya Liok Cit
Naynay nantikan kau di Cap jie Lian hoan ouw. Selama
aku masih bernapas, pasti aku akan mencari balas!....
Menyusul penutupnya kata2 itu, kendaraan air mulai
bergerak, air muncrat karena bergerak2nya penggayu.
Perempuan durhaka, kau masih berjumawa? berseru
Eng Jiauw Ong yang dalam murka nya sudah loncat kebatu
besar dan mendahului Cu In untuk mengangkatnya, akan

lemparkan itu kedalam jurang, guna timpuk Liok Cit Nio


atau perahunya.
XXIII
Suara menjebur hebat sekali segera terdengar, air kali
kecil pun muncrat dan bergelombang, akan tetapi perahu
melesat luar biasa cepat, dia lolos dari timpukan, melainkan
tubuhnya saja yang bergoncangan keras disebarkan air kali
jadi bergelombang hebat, air masuk dan hampir perahu
karam. Karena ini, tak banyak omong lagi, Cit Nio kabur
terus akan meninggalkan Sin Lie Hong.
Samar2 Eng Jiauw Ong lihat Cit Nio ada bersama dua
budaknya serta satu konconya lelaki. Ia segera awasi
sekitarnya untuk cari jalan, guna mengejar lebih jauh.
Sudah, suheng, Cu In mencegah. Dia cerdik, dia lolos
dari tangan kita, tapi dia sangat jahat, akhirnya dia bakal
terima bagiannya! Diapun undang kita ke Cap jie Lian hoan
ouw, biar disana saja kita nanti bertemu dengannya.
Eng Jiauw Ong dapat dibikin sabar, ia manggut.
Mari! mengajak Cu In.
Mereka undurkan diri. Selagi mendekati kuil, mereka
lihat Ban Liu Tong sedang menantikan diatas genteng
depan. Menampak mereka, sutee itu segera loncat turun
untuk menemui.
Perempuan busuk itu tak dapat disusul? tanya ia.
Ya, dia terlolos, sahut Eng Jiauw Ong, yang beri
keterangan pada suteenya itu.
Pintu kuil telah dibuka, bertiga mereka bertindak
kedalam.
Liok Cit Nio sangat cerdik dan bugeenya pun baik,
sayang dia tersesat, kata Liu Tong pada Cu In. Kalau dia

berada di jalan benar, pasti dia bisa berbuat kebaikan untuk


umum. Lain kali kita mesti waspada untuk tak kasi ketika
untuk dirinya lolos pula.
Itu benar, nyata kan Eng Jiauw Ong.
Sesampainya didalam. mereka lihat penjahat y ang
tertawan, yang lukanya hebat dikaki, walaupun tidak
dijaga, tak nanti dia bisa kabur, tapi. Coh Heng, dengan
goloknya si penjahat ditangannya, menjaga keras, matanya
beringas, bahna bencinya. Su touw Kiam, yang sudah dapat
pulang kesegarannya, temani su tee itu.
Cukup, Coh Heng! kata Eng Jiauw Ong, yang kuatir si
sembrono menyerang.
Kita ini bangsa laki laki, walaupun tugas kita adalah
menyingkirkan manusia jahat tapi dia ini sudah tak
berdaya, jangan kita perhina dia, Liu Tong kata pada
muridnya. Kau dengar aku atau aku nanti kembalikan kau
ke Kwie in po!
Coh Heng diam, lantas ia berlalu.
Mukanya Su touw Kiam merah sendirinya, bahna likat
dan malu, begitu lekas lihat gurunya bertiga sudah
berduduk, ia maju untuk berlutut, terus ia berkata Suhu,
aku tak berguna, aku telah membuat malu kepada suhu,
sekarang didepan susiok dan Am cu, harap suhu hukum
padaku.
Eng Jiauw Ong tidak gusari muridnya itu, yang tak
tergoda paras elok dan mulut bermadu, tapi ia kata Kau
bisa jaga diri, itulah bagus, aku hanya tidak mengerti, kau
bukannya tak berpengalaman, kenapa kau kasi dirimu
dijebak? Kesalahan mu adalah kau sudah turuti darah
panasmu. Aku toh sudah pesan untuk kau menuju ke Ang
touw po, guna berkumpul disana, kenapa kau layani Twie

hun souw Hong Lun, ketua bagian Barat dari Hong Bwee
Pang? Kenapa kau tidak dengar cegahan nya su ciemu Siu
Seng? Hong Lun gagah, dia pun licin dan kejam, mana kau
bisa layani dia? Kau gagal, kau cari bahaya sendiri, apabila
sampai Siu Seng dan Coh Heng turut dapat susah, apa kau
tak malu menemui Am cu dan susiokmu?
Benar, suhu, itulah kekeliruanku, Su touw Kiam akui.
Baiklah dengan menurut aturan kaum kita, suhu beri
hukuman padaku.
Sudah suheng, berkata Cu In sebelum Ong Too Liong
sahuti muridnya. Si Kiam ini ada satu laki2, dia harus
dihargai. Bahwa dia kena dipermainkan Liok Cit Nio, itu
disebabkan dia masih terlalu muda dan perempuan itu
sangat licin. Aku percaya selanjutnya dia akan menjaga
dirinya sebaik2nya.
Kau baik, Am cu, aku suka maafkan dia, kata Ong
Too Liong. Kiam, lekas kau haturkan terima kasih pada
Am cu.
Su touw Kiam menurut, ia kasi hormat pada Cu In, lalu
pada Liu Tong juga. Paman ini juga berikan ia nasihat.
Kemudian, ia undurkan diri.
Setelah itu, Cu In menoleh pada Coh Heng, ia lantas
tersenyum.
Si sembrono itu sudah cuci muka akan tetapi
pakaiannya, walaupun sudah kering, masih kotor dengan
lumpur, hingga dia kelihatannya lucu.
Ban Loosu bagaimana caranya Co Hiantit bisa sampai
di tempat rahasia ini? Ia tanya. Benar2 aneh! Sudahkah
loosu tanyakan keterangannya?
Aku belum keburu tanya dia, Am cu, sahut Liu Tong
sambil ia lirik muridnya. Kemudian, dengan roman keren,

ia tanya muridnya itu Kenapa kau jadi begini seperti


hantu? Siapa ajak kau datang kemari?
Inilah karena kebetulan, suhu, sahut murid itu, yang
lalu tuturkan hal ikhwalnya.
Dia kaget karena terbebes didalam lumpur. Senjatanya
pun hilang. Ia telah lantas sampaikan tempat setumbak
lebih, dari itu, penjahat tak dapat cari dia. Ia pun tidak
berani hadapi musuhnya. Ia jalan sejalan jalannya saja,
sampai ia berada dibelakang Liok kee po. Ia sampai
menyusul kembalinya Liok Cit Nio kekuilnya itu, karena
Cit Nio sedang kumpulkan empat orangnya, yang dipasang
disekitar rumah, tak ada orang yang pergoki ia. Malah ia
bisa dengar titahnya Cit Nio pada dua orangnya untuk
bawa pergi Su touw Kiam, serta yang dua lagi dititahkan
entah ambil barang apa didalam rumah. Dua yang
belakangan ini dititah menyusul ke Sin Lie Hong.
Dengan berani tetapi hati2 Coh Heng ikuti perempuan
cabul itu. Syukur buat dia, walaupun tindakan kakinya
berat tetapi hembusan keras dari sang angin sarukan itu. Ia
saksikan orang nyeberang dijembatan tali. Diwaktu
nyeberang, Cit Nio sendiri yang gendong Su touw Kiam,
karena dua konconya ngeri. Tadinya Cit Nio hendak
perintah angkat jembatan itu tetapi dua konconya
mencegah dengan bilang, taruh kata musuh dapat
menyusul, tak nanti musuh berani mendaki puncak, atau
musuh bakal kecemplung didalam jurang sebelum mereka
dapat cari jembatan istimewa itu. Karena ini, sesudah orang
lewat, Coh Heng lintasi jembatan itu. Hampir ia kejeblos
dan terjatuh. Sesampainya dikuil, dengan berhati2 ia masuk
sampai disebuah kamar dimana ada dua budak perempuan.
Ia mengintai di jendela. Ia mengilar bukan main ketika ia
lihat air teh, karena ia sedang berdahaga sangat. Selagi ia

mengintai, ia dengar suara panggilan Hong Eng, lekas


ambil lampu!
Itulah Lie touwhu yang datang bersama dua konconya,
yang gendong Su touw Kiam.
Cit Nio datang! demikian sahut salah satu budak,
tetapi dua nya segera lari keluar untuk berlomba
menyambut.
Justru dua budak itu keluar, Coh Heng dengan berani
masuk kedalam kamar itu. Lebih dahulu ia samber dua
cawan teh, tapi dua cawan tidak cukup, ia gelogoki tehkoan
yang airnya masih panas, hingga ia kelabakan sendirinya. Ia
tak sempat menyingkir tempo Lie touwhu mendatangi,
disitu tidak ada tempat sembunyi, terpaksa ia menyelusup
masuk kekolong pembaringan, hingga kepalanya kena
kebentur. Disitu pun ia mesti mendekam dengan menahan
napas. Karena begini, ia sekalian dapat beristirahat.
Begitulah ia lihat Su touw Kiam dibawa masuk, diletaki
diatas pembaringan, dan dua penjahat tadi diperintah
angkuti barang.
Kedua budak perempuan hendak sediakan air teh untuk
Cit Nio. Mereka heran mendapati air teh habis semua.
Mereka diam saja, mereka tidak berani saling tanya.
Kemudian yang satu nya pergi ambil air panas, untuk seduh
teh pula.
Selama itu, Cit Nio telah bersolek, Su touw Kiam dijaga
keras, selagi sang tempo lewat. Coh Heng terus mendekam,
sampai saatnya sampainya Eng Jiauw Ong beramai dan si
Kuku Garuda sudah tembrak jendela, maka disaat itu,
muncullah Coh Heng. Kalau tidak ada dia, Su touw Kiam
akan terbinasa atau sedikitnya pun terluka.
Demikian penuturannya Coh Heng, mendengar mana,
Ban Liu Tong anggap muridnya ini berjasa.

Su touw Kiam menghaturkan terima kasih pada ini sutee


penolong.
Mari kita berangkat! Cu In mengajak. Tempat ini tak
ada pentingnya, baik dibumihanguskan saja!
Bagaimana dengan si nene picak dan si penjahat? Liu
Tong tanya.
Si penjahat ada sisa mampus, kita antap dia diluar kuil
mati atau hidup terserah padanya, bilang Eng Jiauw Ong.
Si nyonya tua bersih hatinya, walaupun dia berdiam
disarang penjahat, dia mesti ditolong. Bagaimana pikiran
amcu?
Suheng benar, Cu In niatakan setuju. Liok Cit Nio
ada ketua cabang, disini mesti banyak simpanannya, baik
kita menggeledah dahulu, supaya apabila kita berhasil, kita
bisa gunai hartanya untuk umum.
Memang, hartanya itu tak harusnya termusnah disini,
nyatakan Liu Tong.
Tak usah mencari susah2, su peh, Coh Heng turut
bicara.
Tadi aku lihat penjahat bawa masuk satu koper berat,
barangkali itulah ada harta benda nya.
Mungkin kau benar, Liu Tong kata.
Cu In percaya, Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong
sungkan geledah kamar orang perempuan, maka ia sendiri
yang masuki kamarnya Cit Nio. Ia berhasil mendapati
koper yang disebutkan di pojokan, tingginya dua kaki,
panjangnya enam kaki, terkunci rapat, agaknya berat. Ia
babat kunci itu, kapan ia telah buka tutupnya, ia dapatkan
uang emas dan perak sejumlah empat atau lima ribu tail.

Ketika ia geledah seluruh kamar, ia dapati emas seribu tail,


hingga ia menggeleng kepala, ia kerutkan alis.
Tak dapat kita bawa harta ini. Bagaimana suheng pikir?
ia tanya Ong Too Liong.
Baiklah kita bawa dahulu ke Ang touw po, disana kita
pikir pula, Eng Jiauw Ong jawab.
Cu In dan Liu Tong setuju, maka harta itu dibungkus,
disuruh Coh Heng yang bertenaga kuat yang memikul, Su
touw Kiam bantui bawa uang emas yang seribu tail.
Diwaktu bertindak keluar, Liu Tong angkat tubuhnya si
penjahat terluka, untuk diturunkan di pinggiran pepohonan
lebat. Ia kata terhadapnya Turut sepantasnya, kau mesti
dilempar kedalam jurang, tetapi aku murah hati, maka aku
tinggal kau disini. Bila sebentar api berkobar, koncomu
tentu bakal datang kemari, kau akan ketolongan, apabila
kau bisa ubah hatimu, dibelakang hari mungkin kau
selamat, jikalau tidak, umpama kau bertemu kami pula,
pasti kau tak dapat ampun lagi! Aku adalah Ban Liu Tong.
Kau ada Sin Ie Ban Tay hiap dari Kian San, aku kenal
kau, kata si penjahat sambil merintih. Tayhiap, aku minta
kau berbuat baik, ialah dengan segera habiskan jiwaku, agar
aku tak menderita terlebih jauh. Lihat kaki kananku ini,
umpama kata dapat disembuhkan, tetap aku akan bercacat.
Aku adalah Teng Liong, dengan habiskan jiwaku, aku nanti
ingat kebaikanmu.
Ketika itu Cu In Amcu telah muncul bersama si nene
picak dan Ong Too Liong yang sudah lepaskan api, mulai
dari ruangan tengah. Antara cahaya terang. Ban Liu Tong
lihat orang punya luka2 yang parah, pakaian berlepotan
darah dan keadaannya menyedihkan, timbullah hati kasih
nya.

Kau bilang kau kenal aku, kalau begitu, kau niscaya


ketahui kemurahan hatiku, ia bilang. Kau tentu juga
ketahui bagaimana aku benci akan kejahatan! Biasanya,
orang semacam kau tak nanti dapat ampun dari aku, tetapi
ucapanmu ada menggeraki hatiku. Sekarang sumpahlah
kau bahwa dibelakang hari kau akan ubah hatimu untuk
jadi orang baik2, nanti aku obati lukamu, supaya kau tidak
bercacat.
Tetapi, Ban Tay hiap, sahut Teng Liong itu. Sebagai
orang kang ouw, tayhiap niscaya ketahui aturan dari Hong
Bwee Pang, yang melarang pengkhianatan atau orang yang
akan cari bencana sendirinya. Walaupun demikian, aku
ingin ubah cara hidupku, mungkin aku dapat kebebasan.
Jikalau tayhiap benar sudi obati aku, aku tak nanti lupa
akan budimu, apabila aku berbuat jahat pula, biar aku
binasa dengan tiada tempat untuk kubur mayatku!
Baiklah, sahut Liu Tong, yang terus menoleh pada Cu
In, yang berdiri dibelakangnya sambil bersenyum dan
manggut2, kemudian niekouw ini memuji Omie toohud!
Siancay, sian cay, Ban Loosu juga hendak menyeberangi
umat.
Kebetulan, am cu, kata Liu Tong. Tolong kau
dermakan dua butir pil Kiu coan Tan see, aku nanti
sambung tulang2 nya, supaya dia sembuh dan tuntut
penghidupan lurus.
Kau pemurah, loosu, aku bersedia akan bantu kau,
sahut niekouw itu, yang lantas rogo sakunya akan
keluarkan dua biji obat pulungnya.
Ban Liu Tong sambuti obat itu sambil mengucap terima
kasih, kemudian ia dekati si penjahat.
Inilah obat tan see dari Cu In Am cu dari Pek Tiok Am
dari See Gak, kata ia. Kau mamah dan telan ini, untuk

obati lukamu, untuk ringankan penderitaanmu. Sayang aku


tak bekal obatku.
Sambil rebah. Teng Liong sambuti obat itu.
Aku melainkan bisa bersyukur, kata ia, yang terus
masukan obat kedalam mulutnya.
Liu Tong buka orang punya celana dibagian kaki akan
periksa tulangnya, yang telah patah.
Kau tahanlah sakit, kata ia. Obatnya am cu bisa
bantu ringankan sakitmu.
Aku dapat menahan sakit, tayhiap, sahut Teng Liong.
Liu Tong segera bekerja, lebih dahulu ia totok dua jalan
darah hoan tiauw hia dan hok touw hiat, guna tunda
jalannya darah, lalu ia mulai mengurut, akan sambung
tulang yang patah. Benar2 Teng Liong tidak terlalu tersiksa,
ia menahan sakit. Sesudah itu, tabib ini bungkus luka itu,
akan diakhirnya menotok pula, mengalirkan darah didua
jalan yang tadi ditutup. Setelah ini, baharu penjahat itu
merasakan sakit, tetapi dia tak menghiraukannya.
Siok beng Sin Ie dongak kelangit, akan perhatikan sang
waktu, lantas ia rogo sakunya mengeluarkan kira2 dua
puluh tail perak, yang ia letaki dipinggiran.
Lukamu akan sembuh, asal kau rawat baik2, ia bilang.
Kau membutuhkan tempo lebih lama dari biasanya.
Selama empat puluh sembilan hari, jangan buka libatan ini.
Umpama dihari ke tiga puluh kau merasa gatal, antap saja,
jangan kau garuk, jangan juga buka, kau cuma boleh
tumbuki pe lahan2. Ingat ini, jangan kau langgar pesan ku,
atau kau bakal bercacat, itu waktu jangan kau sesalkan aku!
Ini uang kau boleh pakai untuk belanja. Selewatnya empat
puluh sembilan hari, kau akan sembuh betul, tapi ingat,
jangan dipakai bertenaga kuat2, selewatnya seratus hari,

baharu tidak ada halangannya lagi. Asal selanjutnya kau


hidup halal, tak sia2lah yang aku telah tolongi dirimu!
Selama itu, ayam jago merah telah mengamuk hebat
rumahnya si Jagal Wanita, api berkobar, asap ber gulung2
naik, angin membantu banyak.
Sarangnya Liok Cit Nio telah musnah, Ban Loosu pun
telah berbuat baik, maka sekarang marilah kita berangkat,
berkata Cu In Am cu, yang awasi api.
Kau memuji, am cu, kata Liu Tong sambil bersenyum.
Marilah!
Eng Jiauw Ong pun setuju.
Rombongan ini segera berjalan dengan Cu In jalan
didepan dengan Su touw Kiam dan Coh Heng mengiringi
sambil mereka ini bawa hartanya Liok Cit Nio.
Siu Seng dan Siu Sian telah ber jaga2 dijembatan tali,
lama mereka menantikan, belum juga mereka lihat guru
mereka kembali, sebaliknya mereka tampak api me nyala2,
hingga mereka berkuatir. Disitu pun mereka telah jagai satu
penjahat yang dapat dibekuk, yang mereka tak berani
lancang berikan hukuman. Syukur akhirnya mereka lihat
rombongan gurunya, maka mereka lantas menyambut.
Tempat ini penting, maka bersama sumoay aku
menjaga di sini, Siu Seng berikan laporan nya. Kami
anggap tidak ada perlunya akan bantu suhu beramai disana.
Kami menjaga sambil bersembunyi. Tadi, sebelum api
berkobar, dua penjahat datang kemari, tidak ayal lagi kami
serang mereka. Dua2 mereka ada sangat gesit, terpaksa
kami presen mereka dengan panah wan yho cian. Dia ini
terluka paha kirinya, ia tunjuk si penjahat yang rebah
didekatnya, tetapi kawannya bisa lolos. Terserah kepada
suhu untuk memberikan putusan.

Nanti aku lihat dulu, dia ini penjahat yang lolos atau
yang baru, kata Cu In.
Siu Seng dan Siu Sian segera gusur orang tangkapannya
kedepan guru mereka. Dia terbelenggu dan mulutnya
tersumbat, hingga napasnya hanya keluar dari hidungnya.
Benar dia adalah penjahat yang lolos dari puncak, kata
Cu In sesudah ia mengawasi. Coba buka sumbatan
mulutnya!
Siu Sian lakukan titah guru nya itu.
Penjahat itu lepas napasnya, lalu ia awasi dengan bengis
pada Siu Seng berdua.
Kami berbuat baik dan ampunkan jiwa anjingmu, kata
Too Liong dengan bengis, tapi kau tak kenal kapok, untuk
kedua kalinya, kau satrukan kami. Sekarang kau telah
tertawan pula apa kau hendak bilang? Jikalau kau ingin
hidup, bilanglah dimana adanya Hong Loan serta dua
murid kami yang kau culik.
Harap kau tak usah capekan lidah kata penjahat itu
kapan ia telah awasi Eng Jiauw Ong.
Aku adalah anggota Hong Bwee Pang, dibagian Barat
ini aku bekerja bukan baharu setengah atau satu tahun, tak
dapat aku bicara. Terserah padamu, kau hendak habiskan
jiwaku atau tidak.
Tidak dinyana, dia besar nyali nya, kata Too Liong
pada Cu In. Apa baik kita beri ampun padanya?
Aku akur, sahut Cu In, Kita memang tak perlu
ayal2an. Lalu ia kata pada si penjahat Orang durhaka, pin
nie suka ampuni kau, tapi sejak hari ini, jangan kau duduki
pula daerah Liang Seng San ini, jikalau kau bandel,

sepulangnya dari Kang lam nanti, kau tak akan dapat


ampun pula.
Kemudian, dengan tak tunggu jawaban lagi, mereka
berangkat. Sekarang ini Eng Jiauw Ong gantikan Coh Heng
membawa bungkusan uang, dan Cu In gendong si nene
picak. Untuk manjat tinggi. Ban Liu Tong saban2 bantui
muridnya yang tak mengerti ilmu entengi tubuh. Mereka
mesti ambil jalan balik ke Liok kee po, mereka sampai
disana sesudah fajar menyingsing. Sarangnya Cit Nio telah
musnah jadi abu. Karena rombongan mereka bisa
datangkan kecurigaan orang, Eng Jiauw Ong menuju ke
Ang touw po dengan ambil jalan kecil. Mereka sampai pada
jam Sin sie,-jam tujuh atau delapan pagi, dengan lantas
mereka disambut Siu Yan, yang sedari tadi sudah langak
longok diluar kampung meng harap2 guru nya.
Ah, suhu, kenapa sampai begini waktu baharu sampai?
tanya murid ini. Ber sama2 su moay Siu Hui aku
menantikan dengan pikiran tak tenang. Aku berdua jalan
berpisahan, terus sampai disini. Suhu menyebut hotel Hok
Lay tapi penginapan itu penuh, kami ambil saja Hok An,
kami menantikan sampai terang tanah tadi, suhu belum
kembali, untuk mencegah suhu menuju langsung ke Hok
Lay, maka aku telah berdamai dengan Siu Hui untuk
menantikan di sini.
Cu In manggut.
Mari! kata ia.
Ketika itu, Cu In jalan didepan, Ong Too Liong dan Ban
Liu Tong menyusul, dibelakang sekali Su touw Kiam dan
Coh Heng bersama Siu Seng dan Siu Sian yang iringi si
nene picak.
Hotel Hok An berada disebelah Selatan Ang touw po,
disuatu jalanan yang panjang, disana Siu Hui murid

ketujuh, sudah menantikan. Maka akhirnya ber sama2


mereka masuk kedalam dimana Siu Yan telah sewa tiga
buah kamar.
Segera paling dahulu mereka bersihkan muka, untuk
bersantap dan minum, terutama paling dulu si picak
diberikan suguhan, kemudian dia ditanya she dan nama nya
dan asal tempatnya, apa dia masih punyakan sanak.
Kami ada dalam perjalanan, tak bisa kami selalu bawa2
kau, Cu In kasi tahu.
Jikalau aku tak bersendirian, tak nanti aku bersengsara
sedemikian ini, sahut si nene yang menghela napas.
Anakku, Co Tin, kena dipedayakan penjahat, dia jadi
anggota dari Tee cit to, to ke tujuh dibagian Barat ini.
Pernah aku nasihatkan padanya untuk ubah haluan, tapi dia
tersesat, maka kemudian, dia kena ditangkap pembesar
negeri dan dijatuhi hukuman mati, kepalanya dikutungi.
Hilanglah tunjanganku, aku jadi sangat berduka, aku
menangis setiap hari, sampai mataku sakit dan tak bisa
melihat. Selama itu, ada kata2 tak sedap yang aku ucapkan,
maka orang lantas kurung aku secara diam2. Hong Lun si
tua bangka itu sangat busuk, dia serahkan aku pada Lie
touwhu Liok Cit Nio, siapa perlakukan aku dengan bengis
dan kejam. Beberapa kali aku coba habiskan nyawa sendiri,
saban2 gagal. Rupanya belum habis waktunya siksaan bagi
diriku. Seterusnya aku memuja Sang Buddha, untuk mohon
dibebaskan, baharu sekarang aku bisa lolos. Aku punya satu
keponakan, Lim namanya, hidupnya sebagai tukang
perahu, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ia pergi ke Su
coan, sampai sekarang ia belum kembali, ada yang kata dia
mati kelelap, ada yang bilang dia tinggal berumah tangga di
Kanglam, maka tak bisa aku cari dia. Kalau kalian ____
pula baik titipkan saja aku disalah satu kuil untuk disana
aku lewatkan hari2ku yang terakhir.

Kalau begitu, gampang, kata Liu Tong. Kita titipkan


sejumlah uang, agar dia dapat diterima dengan baik.
Dan bila nanti kita kembali, aku berniat ajak dia ke Pek
Tiok Am, Cu In nyatakan.
Jongos yang kebetulan datang kepada mereka, lantas
ditanya apa di Ang touw po ada kuil.
Ada, ialah Pek In Am di Timur, dua lie jauhnya dari
ini, sahut jongos itu.
Cu In lantas bertindak. Ia panggil tuan rumah, buat
minta tolong carikan kereta sewaan, untuk antar si nene ke
Pek In Am. Ia bawa uang dua ratus tail, untuk menderma
kepada kuil itu. Niekouw dari Pek In Am suka ke
tumpangan si nene, malah dia ini boleh tak usah kerja apa2
ke cuali liamkeng saja.
Sepulangnya dari kuil, Cu In berdamai untuk berdiam
seharian di Ang touw po, buat di hari ke dua baharu
berangkat. Karena ini, disebelah empat muridnya, ia ambil
sebuah kamar sendiri dimana ia bisa duduk bersemedhi
dengan merdeka.
Ong Too Liong dan Ban Liu Tong dapat sebuah kamar
tapi misah pembaringan, sedang Su touw Kiam tidur
bersama Coh Heng.
Selagi beristirahat, Too Liong beritahukan Liu Tong, tak
leluasa untuk mereka bawa harta besar, dari itu ia usulkan,
harta itu dikirim atau ditukar jadi emas lempengan.
Lebih baik kita bawa ke Ceng hong po, Liu Tong
sarankan. Urusan kita dengan Hong Bwee Pang entah
bagaimana akhirnya. Di Gie yang tentu ada bank besar,
disana kita tukarkan harta ini.
Too Liong setujui pikiran ini.

Selagi suheng dan sutee ini bicara, Cu In datang pada


mereka. Baharu Eng Jiauw Ong hendak mengundang si
niekouw duduk, tiba2 ia dengar suara orang bicara
dipekarangan, suaranya berlidah Hoolam. Ia heran, ia
lantas hampirkan pintu untuk melihat. Ia memang selalu
bercuriga. Ia mengintai dicela pintu.
XXIV
Orang berlidah Hoolam itu memakai celana dan baju
biru, bajunya pendek, kancingnya putih, baju dalamnya
biru juga, diatasan sepatunya ada kaos kaki putih.
Dipundaknya ada sepotong ukuran dengan tiga huruf hitam
Sam Hoay Tong. Ia memegang saputangan putih dengan
apa tak hentinya ia sekah keringat dikepalanya. Dilihat dari
romannya, dia mirip satu petani.
Cu In dan Liu Tong lihat kawannya mengintai dengan
asyik, merekapun menghampirkan akan turut melihat.
Orang itu bicara kepada satu jongos, dia tanya tentang
kawannya ambil kamar yang mana, jongos bilang
dihotelnya tak ada orang tani, tetapi orang ini tidak
percaya.
Mereka ada saudagar2 beras, mereka datang ke Ang
touw po ini untuk menjual beras. Aku habis menagih, aku
datang belakangan. Mereka itu katanya ambil kamar
tengah.
Benar2 disini tidak ada saudagar beras, kata si jongos.
Ada juga, tetamu kamar tengah, delapan atau sembilan
orang, diantaranya ada orany suci.
Agaknya orang itu mau memaksa masuk kedalam, tapi
mendengar keterangan hal adanya pendeta, ia merandek.
Aku keliru, kalau begitu, kata ia. Pantas tadi aku lihat
satu nie

Sudah, sahabat! memotong si jongos. Aku tukang


layani tetamu, aku sedang tak sempat, pergi kau cari dilain
penginapan saja.
Iapun tolak tubuh orang.
Petani itu menahan diri, matanya terbuka lebar.
Eh, kau usir aku? tanya ia. Apa kesini orang cuma
boleh datang untuk menginap saja, tetapi tidak boleh
mencari orang? Kau sedang repot tapi aku toh tidak seret2
kakimu? Kau toh boleh jalan sendiri? Kau mencurigai, aku
sukar percaya kau. Biar aku masuk, untuk periksa sendiri.
Toh aku tidak langgar undang2!
Petani ini mau bertindak masuk, tapi satu pelayah lain
hampirkan Ia.
Sahabat, jangan kau jail, katanya Kami sudah kasi
keterangan, habis kau mau apa? Aku harap kau jangan
bikin kami pusing, nanti.
Apa? Kau berani hajar aku? petani itu tanya, matanya
terbelalak. Aku tak percaya!
Kau tidak percaya? kata satu jongos lain, yang
usianya muda, berbareng dengan mana, kepalannya
mampir dipundak orang.
Ah! berseru si petani, ukurannya tersempar jatuh.
Kau benar2 berani pukul orang? Kurang ajar!
Dia lantas gulung kuncirnya.
Karena Ini, beberapa tetamu lain datang berkerumun.
Kuasa hotel kuatir terjadi onar, ia segera datang sama
tengah.
Lauw Sam, jangan kurang ajar! ia menegur. Kami ini
orang berusaha, jangan kamu berlaku galak.

Kurang ajar! petani itu berseru pula, sikapnya


perongosan.
Ong Too Liong, dalam kamar nya, tertawa sendirinya.
Binatang itu datang untuk kita, kata ia. Kalau kita tak
perlihat diri, dia tentu tak akan puas!
Ia terus tolak pintu.
Dia sedang panggil harimau keluar dari guhanya, Liu
Tong bilang. Baik kita sengaja tak berikan dia kepuasan,
Jangan keluar, suheng.
Tapi kita justeru kuatirkan ikan tidak makan umpan!
Cu In tertawa. Ong Suheng, pergi keluar, supaya tuan
rumah penginapan tidak ketimpa bencana!
Too Liong bersenyum, terus ia tolak daun pintu dan
bertindak keluar.
Petani itu mundur karena cegahannya kuasa hotel, ia
jemput ukurannya, tapi kapan ia lihat Too Liong, ia
mengawasi, lalu la kata pada si jongos Jangan bertingkah,
boca! Kau berani menghina orang tani, kau tak punya mata!
Tunggu saja, nanti datang saat kegirangan kau.
Setelah mengucap demikian, petani itu berlalu, hingga
sekalian tetamu lainnya pada tertawa geli, malah ada yang
mengatakan dia besar gertak kecil nyali.
Lauw Sam lihat Ong Too Liong, sambil tertawa ia kata
Tuan lihat lagaknya dia itu, apabila aku tidak mencegah,
tentu dia bakal masuk kekamar tuan untuk mengadu biru!
Setelah digebuk pundaknya, dia lantas pergi, apa itu bukan
lagak saja?
Oh, dia datang untuk kami? Too Liong tegaskan.
Sayang dia sudah lantas pergi! Nah, pergilah, jangan kau
repoti diri. Dia datang entah dengan maksud apa

Jago Hoay siang lantas kembali kekamarnya.


Lihat, am cu, mataku toh tidak lamur? kata ia pada
Cu In.
Tetapi, suhu, aku tidak lihat dia mencurigai.. kata
Su touw Kiam.
Memang tidak, kecuali setelah kau meneliti, jawab
sang guru. Dengan sendirinya, dia telah buka rahasia.
Penyamarannya ada sempurna, tapi caranya dia berdiri,
menyatakan dia bukan petani. Itu ada cara berdiri diatas
perahu. Didarat, diatas tanah, dia tak dapat ubah itu. Dia
mengaku orang tani tapi mukanya bersih, tak ada debunya
sedikit juga.
Baharu sekarang Su touw Kiam kagumi gurunya.
Dia berayali besar, dia menyebalkan, kata Liu Tong.
Aku lihat, dasar kita yang terlalu murah hati, hingga
mereka jadi menengil. Perlu kita ajar adat pada mereka
supaya mereka jerih!
Aku lihat, kalau bukan konconya Liok Cit Nio, dia
mesti ada orangnya Hong Lun, kemudian Eng Jiauw Ong
utarakan sangkaannya. Hong Lun telah terluka, tidak
nanti dia datang sendiri. Baik sebentar malam kita lihat,
orang macam apa yang hendak datang kemari untuk men
coba2 perlihatkan kepandaiannya.
Pada waktu magerib, dengan diikuti oleh suteenya, Eng
Jiauw Ong keluar dari hotel, akan lihat keletakan
penginapan itu. Di Selatan ada jalan umum, ditiga penjuru
lainnya ada banyak tetangga. Mereka pun menduga2, dari
arah mana orang jahat akan datang. Mereka perhatikan
pekarangan hotel dan seluruhnya hotel, bagian luar dan
dalamnya, sampai jendela2 pelbagai kamar. Mereka tahu,

hotel ada punya empat peronda tapi karena keadaan aman,


mereka itu kerjanya alpa, dan si kuasapun mengantapinya.
Itu waktu, dari empat jongos, dua berdiam diluar akan
sambut tetamu, dua didalam melayani sekalian penumpang.
Tuan rumah tidak perhatikan jago2 Hoay Yang Pay akan
penyelidikannya itu.
Ketika kedua saudara kembali kekamar, api sudah
dipasang. Su touw Kiam dan Coh Heng sudah tidur
nyenyak, malah si sembrono menggeros keras. Cu In Am cu
sudah kembali kekamarnya sendiri. Adalah Siu Yan, atau
Liap Cie In, baharu saja peras kering pakaiannya Coh Heng
yang dia tolong cucikan. Dia likat melihat supe dan ayah
angkat itu, sendirinya kedua pipi nya bersemu merah,
sambil tunduk ia mau bertindak keluar.
Siu Yan, kata Ong Too Liong sambil duduk, aku
senang melihat kelakuanmu ini. Begini caranya kita kaum
kang ouw, yang jujur dan putih bersih. Kita memang mesti
saling tolong. Coh Heng polos, aku sayang padanya, dia
pun yatim piatu seperti kau, pantas kau berkasihan
terhadapnya. Dia tolol, dia memang membutuhkan
bantuan, tidak demikian dengan Su touw Kiam, yang sudah
lulus dari perguruan dan bisa bawa dirinya. Kau tak usah
malu2, kita ada diantara orang sendiri, asal kita berlaku
jujur dan terhormat, tidak ada halangannya. Aturan dari am
cu ada keras tetapi diapun tidak akan persalahkan kau.
Tidakkah demikian, sutee?
Kau benar, suheng, sahut Liu Tong. Aku memang
benci siapa yang berbuat salah. Kita kaum Rimba Persilatan
mesti jujur. Siu Yan pergi kau lihat gurumu, apabila dia
sedang senggang, minta dia datang ke mari, kita hendak
bicara.

Siu Yan kemudian sambil menyahuti Ya lalu


undurkan diri, akan undang gurunya. Didalam hatinya ia
janji Aku mesti lebih hati2 lain kali. Ia berkasihan
terhadap Coh Heng, yang tingkah polanya membuat orang
gemar bergaul dengannya. Ia me nyesal perbuatannya itu
kepergok oleh supe dan ayah angkat nya. Ia insaf,
walaupun belum cukuri rambut, ia ada muridnya Sang
Buddha, dari itu, ia harus sujut pada agamanya. Ia harap
bisa lekas kembali ke Pek Tiok Am, untuk bersujut terus,
agar ia tak usah bertemu pula dengan si sembrono itu, yang
terhitung suteenya. Ia masih terlalu hijau, hingga ia belum
insaf tentang karma, perihal jodoh.
Ketika Siu Yan sampai dikamarnya, gurunya sedang
bersamedi tapi guru itu sudah lantas buka mata dan
mendahului tanya, apa supenya sudah kembali.
Ya, suhu, malah supe mengundang, barangkali ada
urusan penting, ia jawab.
Cu In manggut, ia berbangkit, terus ia pergi kekamarnya
Eng Jiauw Ong dimana Too Liong tuturkan ia perihal
keletakannya hotel itu.
Bagaimana sikap kita kalau sebentar mereka benar2
muncul? kemudian jago Hoay siang itu tanya. Apa baik
kita habiskan mereka atau bekuk saja untuk diperiksa dan
kemudian baharu hukum mereka?
Mengingat kejahatan mereka yang tak kenal kapok,
membinasakan mereka berarti kita tolongi rakyat
menyingkirkan satu bibit bencana, sahut Cu In, akan
tetapi selama ini pin nie makin insaf, pembunuhan berarti
kedosaan, itu ada bertentangan dengan Thian, maka pin nie
anggap, beri peringatan saja ada terlebih baik. Dengan
begini kitapun luputkan hotel ini dari bergelatakannya
pelbagi mayat. Kita baik kuntit mereka, untuk cari kedua

murid kita. Umpama kata malam ini mereka tidak datang,


besok pagi2 kita mesti segera berangkat. Tidakkah begini
lebih baik?
Am cu benar, sahut Liu Tong, hanya sayang,
kawanan ini rasanya tak dapat diperbaiki lagi, kekejaman
mereka sudah jadi suatu kebiasaan. Karena sukar untuk kita
korek keterangan dari mulutnya, mereka mesti dikasi tahu
rasa, supaya mereka ketahui keliehayan kita.
Kita boleh ajar adat pada mereka, asal kita harus jaga
agar tuan rumah tak terembet2, Eng Jiauw Ong
peringatkan.
Sampai disitu, datang waktu nya bersantap. Cu In
undurkan diri untuk dahar bersama empat muridnya,
karena mereka cia cay, sehabisnya bersantap, ia suruh
murid2nya itu beristirahat dan pesan jangan campur urusan
melayani orang jahat, kemudian ia sendiri kembali pada
Eng Jiauw Ong dan Siok beng Sin Ie, Dengan lewatnya
sang waktu, hotelpun pelahan2 menjadi semakin sunyi.
Pada jam satu, Eng. Jiauw Ong pergi melihat5 hingga ia
dapat kenyataan kebanyakan penumpang sudah tidur dan
hotel ada gelap. Sekembali kekamarnya, ia tanya
bagaimana mereka harus bersikap, sebab musuh belum
datang, pun tak tahu berapa jumlahnya, dan musuhpun
lebih waspada.
Baik kita kecilkan penerangan dan ber pura2 tidur, Liu
Tong usulkan. Kita pun harus jaga agar mereka tak kabur
siang siang.
Cu In setuju, juga Liu Tong. Cu In lantas balik kekamar
nya, akan suruh murid2nya siapkan senjata mereka
dibawah bantal, tetapi dipesan, tanpa titah mereka tak boleh
campur tangan, kemudian ia kecilkan api hingga kamarnya
jadi remang2.

Nah, mengaso kau sekalian, kata ia akhirnya.


Selama itu sudah jam dua tiga perempat.
Dikamarnya Eng Jiauw Ong, jago Hoay siang ini dan
suteenya pun sudah siap. Su touw Kiam dan Coh Heng
diperintah rebah dengan siap sedia, api telah dikecilkan,
mereka sendiri turut rebahkan diri, tapi Liu Tong awasi
kedua jendela dan Too Liong kejurusan pintu.
Itu waktu, hotel telah terbenam dalam kesunyian
seantero nya.
Pada kira2 jam tiga, Liu Tong dengar suara berkelisik
diluar, dari itu, bersama suhengnya ia siap benar2.
Cepat sekali terdengar suara orang loncat turun, disusul
oleh suara pelahan dijendela, tandar nya kertas jendela
dipecahkan dan orang berdaya akan korek daun jendela.
Dengan tubuh tak berkutik, Liu Tong pasang mata,
hingga ia bisa lihat satu tubuh mencelat masuk dari jendela,
gerakannya gesit bagai burung walet. Itu ada gerakan
Kauw yan coan lim atau Burung walet terbang
menembusi rimba. Rupanya penjahat itu liehay,
sesampainya didalam, dia terus mendekam.
Pasti dia punya dua tiga kawan lagi diluar.
Eng Jiauw Ong telah dapat lihat penjahat itu, walaupun
Liu Tong kutik ia. Karena api suram, sukar akan lihat nyata
wajah mukanya orang itu, cuma dengan samar2 dia itu
tertampak menghunus senjata.
Masih saja suheng dan sutee itu berdiam.
Penjahat itu hampirkan pintu, untuk singkirkan
palangannya dan mementang daunnya, atas mana
masuklah satu penjahat lain, yang tubuhnya sedikit lebih
besar, senjatanya entah senjata apa. Penjahat yang ke tiga

menyusul masuk tapi ia dicegah oleh penjahat yang masuk


dari jendela. Kemudian, berdua mereka bertindak
kepembaringan. Sekarang ternyata, penjahat yang ke dua
bergegaman poan koan pit. Rupanya mereka tidak
mengarah jiwa, ketika mereka menyerang, senjata mereka
menuju ke bawah.
Segeralah terdengar suara nyaring, dari senjata mengenai
pembaringan, hingga kedua penyerang itu jadi terperanjat.
Mereka sudah serang tempat tidur yang kosong. Suara
nyaring itu disusul oleh tertawa geli di atasan kepala mereka
serta satu seruan disebelah belakang Awas!
Penjahat yang menyekal poan koan pit kaget sampai ia
berseru dalam hatinya, segera ia meloncat kejurusan jendela
dimana ia lalu memutar tubuh untuk bersiap menyerang
musuh apabila musuh kejar ia, tapi orang telah dahului
menekan pundaknya tanpa ia dapat lihat orang itu.
Pundak rata, musuh berabe, tuntun hidup! berseru
penjahat yang satunya. Ia beri tanda musuh liehay,
menyingkir saja. Tapi suaranya disusul dengan bentakan
Kemana kau hendak kabur? serta samberan angin,
hingga ia lantas berlompat kedepan. Ketika ia sampai
dimuka pintu, dari kirinya menyamber serangan poan koan
pit, hingga ia jadi lebih kaget tapi segera ia berseru,
Pundak rata, aku! Ia segera terus lari keluar, disusul oleh
kawannya itu, yang hampir serang orang sendiri.
Ketika penjahat yang bergegaman golok ini sampai
diluar, baharu kakinya injak lantai, satu bayangan serang
mukanya. Saking terkejut, ia mundur pula. Serangan hebat
tetapi diapun gesit. Tapi dia mundur secara mendadak, dan
dibelakangnya, kawannya sedang susul ia, tidak tempo lagi
mereka saling tabrak, hampir dua2nya rubuh celentang.
Segera mereka memecah diri kekiri dan kanan, tapi mereka
tercengang, karena penyerangnya lenyap entah kemana.

Berbareng dengan itu, dari kamarnya si pendeta wanita,


menyusul terpentangnya daun pintu, satu tubuh loncat
keluar. Dia memakai ya heng ie, pakaian malam warna
hijau, sama seperti dua yang memasuki kamarnya Eng
Jiauw Ong. Dia ini pegang tumbak pendek di tangan kiri,
rupanya tangan kanannya telah terluka. Bertiga mereka
loncat naik keatas genteng.
Kim To cu, bagaimana? tanya orang dengan poan
koan pit.
Aku rubuh, sahut orang dengan tumbak pendek itu.
Tiba2, dari arah depan, datang satu bayangan lain, yang
terus berkata Para pundak rata, baca pendek saja, diluar
dapur ada mendatangi cucu kuku garuda!
Itulah tanda supaya mereka jangan omong terlalu
banyak, katanya ada orang polisi.
Benar saja, suara kentongan segera terdengar, disusul
dengan ramainya banyak tindakan kaki. Sebab itu adalah
barisan suka rela dari dusun To tong ek, yang sedang
meronda dan lewat disitu.
Kawanan itu jerih terhadap hamba negeri, mereka pun
insaf musuh ada liehay, tidak ayal lagi, mereka saling
memberi tanda untuk angkat kaki, sesudah mana, mereka
berpencar kedua jurusan.
Yang bersenjatakah poan koan pit bersama kawan peng
awasnya, ber sama2 loncat kebelakang. Tiba2 diwuwungan
muncul satu orang seraya tangannya diayun dan mulutnya
serukan.
Turunlah! Menyusul itu, satu benda hitam menyamber
yang pertama.

Mereka berada dekat satu dengan lain, penjahat itu


segera berkelit, tapi serangan cepat luar biasa, pipinya yang
kiri kena juga terserang, sambil menerbitkan suara nyaring,
benda itu terus jatuh. Sekarang baharu ketahuan, itu adalah
selembar genteng. Biar itu bukannya piauw, toh akibatnya
ada memberikan rasa sakit yang hebat, maka walaupun si
penjahat mencoba perbaiki dirinya, tidak urung dia menjadi
limbung, dia jatuh kepayon, terus kebawah.
Penjahat satunya, yang memegang golok, loncat
kewuwungan, untuk serang si penyerang gelap.
Diantara suara tertawa mengejek, orang yang diserang
itu lompat nyamping, hingga golok musuh membacok
tempat kosong, setelah itu, dengan tangan kiri ia tabas
tangan kanan musuh. Dia adalah Ban Liu Tong.
Penjahat itu tarik pulang tangannya, tapi ia dirangsek,
tangannya Siok beng Sin Ie me nyamber2, ia pun gesit, ia
berkelit, tapi toh ujung jari penyerang nya tak dapat
dihalau, maka tak dapat tidak ia rubuh juga, terus jatuh
ketanah. Beruntung baginya, tidak sampai tubuhnya
terbanting, kawannya yang jatuh duluan, sanggapi dirinya.
Dua penjahat yang lain juga dapat serangan sedang,
mereka dapat loloskan diri, mereka kabur kearah Barat.
Penjahat dengan poan koan pit itu menjadi sangat
mendongkol, sebab pipinya mendatangkan rasa ngentak
sekali, untuk menyingkir, iapun loncat ke Barat, tapi apa
lacur ia bersomplokan dengan satu kawannya, keduanya
saling
berbentur
keras,
keduanya
lantas
jatuh
bergelindingan, hingga, suaranya jadi berisik sekali, hal
mana membikin tetamu2 pada tersedar dari tidurnya.
Hei, Lauw Sam! demikian suara memanggil. Coba
lihat, apa itu? Rupanya ada orang di atas genteng!...

Orang2 ronda sudah lewat jauh, kawanan penjahat jadi


tak takut lagi. Begitulah penjahat dengan poan koan pit,
yang gusar, telah berseru Hei, diam, jangan usilan! Ini
bukan urusanmu! Siapa tidak sayang jiwanya, hayo keluar!
Ancaman itu membikin semua tetamu bungkam.
Penjahat itu, serta kawannya, loncat keujung Barat daya,
ketika mereka sampai didepan, dengan niatan loncat turun
kejalan besar, mendadak datang serangan dari kiri dan
kanan serangan dua potong genteng. Keduanya berkelit
sambil mendek, membikin serangan mengenai genteng
dilain sebelah.
Selagi penjahat dengan poan koan pit itu hendak bangun
berdiri, lagi2 serangan datang, alat penyerang itu
berkeredepan. Ia kaget, ia berkelit pula, tapi terlambat,
bungkusan kepalanya terbabat berikut rambutnya. Ia kaget
bukan main. Justeru itu, ia dengar bentakan Kau
turunlah! Seperti orang dengar kata, ia rubuh karena
dupakan, tubuhnya jatuh ketanah.
Sementara itu penjahat yang kedua, tak sempat
perhatikan musuh, ia sudah loncat ke Barat, untuk angkat
kaki. Ia sampai di rumah tetangga, yalah rumah bertembok
tanah. Dari pekarangan dalam rumah itu ada menyorot
cahaya api. Ia heran, ia lantas memperhatikannya. Ketika ia
dengar suara mesin menggiling, ia lantas mendapat tahu,
itulah tukang tauwhu, yang biasa bekerja sebelum fajar,
maka hatinya jadi lega. Disitu tak ada orang yang dibuat
takut. Begitu ia lari lebih jauh, sampai disebuah tembok
tinggi dan besar. Selagi ia berloncat, ia dengar angin
menyamber dari belakangnya, disusul sama bentakan
Orang busuk, kau hendak lari kemana? Lalu cahaya
pedang berkelebat berkilauan!

Untuk tolong diri, penjahat ini mendek, kemudian


dengan goloknya ia balas menyerang dengan babatan
kebawah. Ia gunai tipu Poat co sim coa atau
menggeprak rumput untuk cari ular.
Pihak lawan Itu adalah Cu In Am cu. Dengan
pedangnya niekouw ini menyerang kebawah, dengan
tipunya Hian niauw wah see atau Burung hitam
menggurat pasir. Dan pedang Tin hay HoK po kiam
berhasil memapas golok musuh itu, sesudah mana, dia
teruskan menyerang terlebih jauh, pada pinggangnya
penjahat itu.
Serangan pedang datang dari arah Barat kearah Timur,
dari itu, arah menyingkir dari si penjahat melainkan Timur
sejurus, karena serangan itu sangat cepat, dia bingung,
ketika dia paksa lompat berkelit, kakinya tak dapat
menginjak benar, tidak ampun lagi dia terpeleset, terus
jatuh kebawah. Lacur baginya, dia jatuh kedalam kandang
babi, tapi untungnya dia kena timpa sangat riuh.
Bahna kaget dan kesakitan, babi itu berguwik keras, lalu
kawan2nya, tiga empat ekor, turut berbunyi, hingga
suaranya jadi sangat berisik.
Meskipun ia tidak terluka karena jatuhnya itu, penjahat
ini toh mendongkol, ia terguling diantara kotoran babi,
yang bau nya sedap luar biasa, membikin ia hendak
muntah ugar, dan babi itu pun serobot ia, hingga ia repot
membela diri, sebab ia sudah tidak mempunyai senjata.
Besok ialah hari pasar di Ang touw po, itulah sebabnya
kenapa situkang tauwhu kerja malam. Dia ada seorang tua,
hidup berdua isterinya yang sudah agak tua. Mereka kaget
mendengar suara babi. Tukang tauwhu itu kuatir babinya
kabur, ia lantas keluar sambil bawa pelita dan sepotong

gala. Ia baharu sampai dipekarangan, atau pintu


kandangnya rubuh dan satu bayangan loncat melesat.
Celaka! dia menjerit, Babi jadi siluman! Babiku habis
kabur!
Saking kaget, pelitanya terlepas dan jatuh.
Sang isteri kaget, dia memburu keluar. Api dinyalakan
pula. Ketika mereka lihat babi mereka tidak hilang, hati
mereka lega. Tapi mereka tetap tidak mengerti, siapa yang
kabur dari dalam kandang itu.
Si penjahat sendiri sudah kabur pula keatas genteng.
Cu In sudah bikin orang keder, ia tidak mengejar, ia
hanya kembali kehotel. Ia dapati penginapan ini sunyi,
walaupun tuan rumah dan semua tetamu lainnya
mengetahui mereka telah didatangi orang jahat. Ia pun
percaya, kawannya sudah pancing musuh berlalu dari hotel
itu. Ia pergi lihat Su touw Kiam dan Coh Heng serta empat
muridnya mereka diam dikamarnya masing dengan siap
sedia, tidak ada yang lancang berkisar.
Kau semua tetap diam, ia pesan semua murid itu.
Kemudian ia keluar pula, setelah pasang kuping, ia menuju
kearah Timur, keluar hotel, hingga ia tampak, digenteng
tetangga, beberapa bayangan sedang melesat pergi datang.
Tidak tempo lagi ia pergi kesana.
Itulah Siok beng Sin Ie dan Eng Jiauw Ong yang sedang
layani tiga penjahat diatas genteng sebuah paberik celup
atau tenun, dan ketika Cu In sampai, penjahat yang ke
empat, yang rupanya sudah terluka, sedang merayap
ditembok kate di sebelah Tenggara, untuk singkirkan diri. Ia
lihat penjahat itu, ia antap orang kabur.

Ban Liu Tong lihat datangnya si niekouw, ia lompat


untuk menghampirkan dengan tinggalkan tiga musuhnya.
Ia tanya apa lawan2nya pendeta ini sudah pergi.
Aku telah beri ajaran sedikit pada mereka, Cu In
jawab.
Kalau begitu, mari bantu aku bereskan tiga tikus itu,
Liu Tong kata. Hati2 sedikit, mereka biasa gunai senjata
rahasia.
Cu In tertawa dingin.
Mereka sudah seperti dalam kurungan, mereka masih
hendak banyak tingkah? katanya. Biarlah mereka tahu
rasa!
XXV
Lihat! kata pula Cu In. Dua penjahat itu hendak
kabur kearah Baratdaya!
Liu Tong segera menoleh, hingga ia lihat penjahat yang
dimuka, yang bersenjatakan pedang song bun kiam, sedang
berlompat ke Selatan, maka ia segera loncat mengejar untuk
merintangi. Ia sampai justeru di belakangnya orang itu.
Awas! ia berseru seraya tangan kirinya dipakai
menyerang.
Penjahat itu tahu ada orang mengejar, ia melesat kekiri,
lalu sambil putar tubuh, ia babat tangan yang menyerang
bebokongnya. Ia sangat ebat.
Liu Tong bergerak dengan serangan ancaman, yang bisa
diteruskan menjadi benar2. Melihat orang siap, lekas2 ia
tarik pulang tangannya, untuk diganti dengan tangan
kanan, dengan dua jari nya, menuju kepada kedua biji mata
musuh. Ia gunai tipu Kim Liong tam jiauw atau Naga
emas mengulur cengkeraman.

Penjahat itu berkelit, pedangnya ditarik, untuk dipakai


membabat pula dengan gerakan Hoo lip kee kun atau
Burung hoo di antara kumpulan ayam. Tapi Liu Tong
pun mengegoskan tubuhnya untuk selamatkan diri, ia
begitu gesit, hingga lawannya heran dan kaget, tak ayal lagi
dia memutar tubuh untuk lari pula. Disaat orang memutar
tubuh, Liu Tong lompat seraya pentang kedua tangannya
dalam gerakan Kim peng tian cie atau Garuda emas
pentang sayap, lalu tangan kanannya mendahului
menyamber kaki kanan. Masih penjahat itu coba angkat
kakinya, dari itu, dia kena diserang tidak telak, meski
demikian, dia jatuh terguling di tanah ia masih mencoba
untuk berdiri, apa lacur, ia merasakan sangat sakit, hingga
terpaksa ia rubuh pula.
Itu waktu Cu In telah desak penjahat yang lainnya, sia2
penjahat ini bikin perlawanan, terpaksa dia lari, memutar
antara para2, tetapi untuk lari juga dia kalah pesat, dalam
ibuknya dia masih tidak sudi menyerah.
Apakah tetap kau berniat kabur? Cu In membentak.
Lekas letaki senjatamu, baharu aku sudi kasi kau lolos!
Niekouw tua, apakah kau buta? penjahat itu
mendamprat, terang ia sangat gusar. Apakah kau sangka
To cu Ciong In dari Han shia seorang yang takut mampus?

Selagi mendamprat, penjahat itu loncat ke para2, sambil


jumpalitan tangannya diayun, lalu dua batang piauw
menyamber pada kedua pilingannya Cu In.
Ha, mainkan kampak didepan akhli! mengejek si
pendeta sambil tertawa dingin. Kau berani gunai senjata
rahasia?
Diantara suara nyaring, ketua See Gag Pay menyampok
jatuh yang pertama dan sambuti piauw yang kedua, piauw

mana dengan satu gerakan tangan, ia pakai balas


menimpuk. Inilah gerakan yang sangat sebat, hingga si
penjahat menjadi kaget dan ibuk, apapula ia baharu saja
habis menyerang. Melulu dengan membungkukkan
tubuhnya, ia dapat luputkan dirinya.
Akan tetapi niekouw dari Pek Tiok Am tidak berhenti
sampai disitu, baharu ia menimpuk, atau tangannya sudah
rogo sebutir pelurunya, sambil berseru ia susul serangannya.
Sekarang tidak ampun lagi, to cu dari Han shia itu kena
terserang bahunya yang kanan, senjatanya terlepas, terlepas
juga cekalannya pada para2, hingga tubuhnya jatuh dengan
kepala terlebih dahulu . Asal kepalanya itu sampai dibawah,
pasti pecahlah dia.
Rubuhnya penjahat ini dapat dilihat oleh penjahat yang
dijatuhkan Ban Liu Tong. Dia juga bukan penjahat
sembarang an, dia adalah to cu dari Soan hoo, bernama Liu
Som. Namanya saja dia ada sebawahannya Hong Lun,
sebenarnya dengan Ciong In dan sep itu ada saudara2
angkat. Dia tersohor dengan pedangnya song bun kiam. Dia
kaget melihat saudaranya terancam bahaya maut, tidak ada
jalan lain, walaupun sendirinya terluka, ia paksakan
berloncat kearah saudara itu, selagi tubuh saudara itu
sampai, ia menyanggapi sambil mendorong. Secara begini,
selagi ia tidak ketindihan, jatuhnya saudara itupun tidak
parah, hanya kebetulan sekali, dia jatuh masuk kedalam
sebuah jambangan yang terisi air celupan warna merah tua,
hingga menerbitkan suara berkeceburan keras, dia nyungsap
dalam air, hingga dia gelagapan. Menampak demikian, lagi
sekali Liu Som maju, akan balikkan jambangan itu, hingga
airnya mengalir keluar. Secara demikian Ciong In tidak
sampai mati engap, dia hanya pingsan. Tak ayal lagi Liu
Som samber tubuh kawannya buat dipanggul, untuk dibawa
kabur.

Benar disaat Soan ho to cu putar tubuhnya, disebelah


belakang ia terdengar suara jatuh, yang tercebur keras,
hingga ia ter peranjat .
Itulah lain kawannya yang layani Eng Jiauw Ong, yang
kena dirubuhkan, ketua Hoay Yang Pay itu sampai dia
kecemplung ke dalam jambangan celupan hijau! Beruntung
penjahat ini jatuh berdiri, hingga dia tak usah minum air
celupan seperti kawannya, dia melainkan mandi.
Pundak, rata, apa anak angin anak selaksa? Liu Som
cepat tanya. Itulah kata2 rahasia, yang tanya, kawan itu apa
she Ma. Itulah sebab ia tidak segera kenali sikawan, yang
telah jadi hariman hijau, karena dia berlepotan sampai
pada seluruh mukanya.
Liu Jieko, akulah Ma Liong Jiang, dia menjawab.
Aku rubuh! Bagaimana dengan Ciong To cu?
Tidak apa2, ia cuma pingsan, sahut Liu Som,
terus dongak, akan hadapi musuhsnya seraya
Pemimpin2 dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay,
telah rubuh di tanganmu, tetapi lain waktu kita
bertemu pula!

yang
kata
kami
akan

Ong Too Liong tertawa dingin ketika ia menjawab Aku


kasi keringanan padamu dari angkatan rendah! Lekas kau
semua menggelinding pergi!
Liu Som diam, sambil menggendong Ciong In, dia
bertindak kepintu, sebelah tangannya pegangi pedangnya.
Ia dupak daun pintu. Keadaan ada gelap, ia nyalakan api,
sambil serahkan itu pada Ma Liong Jiang, ia kata Ma To
cu, tolong kau jalan didepan!
Ma Liong Jiang jalan di muka, terus sampai diluar
pekarangan, sampai disitu, mereka menyingkir dengan
cepat.

Selama itu Ban Liu Ton mengawasi, untuk cegah orang


jahat itu mengadakan gangguan.
Ong Too Liong pun loncat turun dari genteng, ia
hampirkan tuan rumah yang sedang ketakutan dan
sembunyi dikamar kerja nya.
Mari, jangan takut, ia menghibur. Semua penjahat
sudah pergi. Kau nyalakan api, aku hendak bicara. Kami ini
orang polisi
Dengan hati belum tenteram benar, tuan rumah muncul.
Ia sudah lantas nyalakan api.
Eng Jiauw Ong beri tanda akan Liu Tong undurkan diri,
seorang diri ia ketemui tuan rumah itu, ia terus kata
Jangan takut, kau tidak dalam bahaya. Disini ada lima tail
perak, untuk ganti dua jambanganmu. Kami orang orang
polisi dari Shoatang, yang sedang kuntit penjahat. Semua
penjahat telah terluka, sengaja aku lepas mereka, agar kami
bisa kuntit mereka sampai disarangnya, untuk bekuk
mereka semua. Aku ingin kau jangan bocorkan rahasia ini,
umpama pembesar disini ketahui kejadian ini, kau bisa
dapat susah.
Tuan rumah itu tak mau terima uang penggantian tapi
Too Liong lemparkan uangnya dan terus berlalu, akan susul
suteenya dan Cu In, yang sudah kembali kekamar mereka,
malah berdua mereka sedang bicara.
Tatkala itu kira2 sudah jam lima.
Malam ini kita dapat getarkan nyali penjahat, kata ia
semasuknya kedalam kamar. Dan dua yang kecebur dalam
jambangan akan tarik perhatiannya Hong Bwee Pang, Liu
Tong tambahkan.
Mereka bersenyum untuk hasilnya mereka itu.

Su touw Kiam dan Coh Heng muncul, juga Siu Seng,


akan tanyakan keterangan, kemudaan mereka pun tertawa.
Jangan anggap lucu cara kita ini, kata Cu In Am cu.
Semua penjahat yang tadi datang bukan orang2
sembarangan, dua antaranya liehay sekali, jikalau kau
memandang enteng, kau bisa rugi sendiri.
Tapi, am cu, Too Liong memotong, Kita telah tarik
perhatian semua orang disini, baik kita berangkat
selekasnya, kita bersihkan tubuh nanti saja tengah hari
ditempat perhentian.
Itu benar. Baik rombonganku jalan lebih dahulu,
nyatakan Cu In. Untuk singkirkan kecurigaan, kita harus
jalan berpencaran.
Baiklah, asal disepanjang jalan kita jangan putus
hubungan, kata Eng Jiauw Ong.
Lebih baik lagi, dimana kita sampai, kita tinggalkan
tanda ditembok. Ban Liu Tong usulkan. Dengan begitu,
gampang untuk kita saling mencari.
Cu In manggut lantas ia titahkan Siu Seng siap, sedang
Eng Jiauw Ong perintah Su touw Kiam rapikan buntalan,
mereka berdua pun rapikan dandanannya masing2.
Sebentar kemudian, sekalian tetamu lainnya telah pada
keluar dari kamar masing2. Tuan rumah sudah lantas
datangi tetamunya yang berombongan itu, dengan niat
minta keterangan, akan tetapi kapan mereka saksikan Eng
Jiauw Ong semua berdandan dengan rapi, seperti tidak ada
kejadian suatu apa, ia urung menanya. Eng Jiauw Ong pun
minta perhitungan, untuk ia segera bayar.
Kita niat berangkat sekarang, kata jago Hoay siang itu.

Kenapa begitu kesusu? tanya tuan rumah. Kami


gedang masak air.
Kami ada urusan penting, kami perlu berangkat dengan
segera! kata Liu Tong dengan keren.
Melihat demikian, tuan rumah itu segera undurkan diri.
Biar pin nie berangkat lebih dahulu, kata Cu In
seberlalu nya tuan rumah.
Silahkan, am cu, sahut Too Liong.
Maka pendeta itu, diiring oleh empat muridnya, sudah
lantas keluar dari hotel Hok An itu, akan menuju ke Liong
hoa tin, untuk dari sana menuju lebih jauh ke Gie yang.
Sebentar kemudian, sehabis melakukan pembayaran,
Eng Jiauw Ong dan rombongannya pun mulai berangkat.
Diwaktu pagi demikian, jalanan masih sepi, yang
tertampak adalah beberapa petani.
Eng Jiauw Ong keluar dari Ang touw po dengan ambil
jalan besar ditepi kiri dan kanan mereka melihat
pemandangan yang menyegarkan mata dari sawah ladang
dan pepohonan lainnya. Ketika mereka sampai di Han seng
tin, sudah jam sembilan atau sepuluh. Sejak pagi sekali,
mereka belum mengisi perut, maka disini mereka singgah
untuk bersantap, kemudian mereka mencari sebuah bank
untuk tukarkan uang mereka. Setelah meninggalkan Han
eng tin, Coh Heng merasa sangat gembira, karena ia tak
usah lagi menggendol2 barang berat.
Mendekati magerib mereka sampai di Gie yang, untuk
lewatkan sang malam. Su touw Kiam diperintah cari Cu In
diberbagai hotel dan kuil, tetapi pendeta itu tidak
kedapatan. Besoknya pagi2 perjalanan dilanjutkan. Selama
dalam perjalanan, tidak pernah Eng Jiauw Ong mendapat

dengar tentang orang2 jahat. Tak pernah mereka berani


ayal2 an. Sesudah melewati sungai Ie Sui, mereka mampir
disebuah desa, dari situ mereka menuju ke Siong koan arah
Utara, atau selatannya Ie yang koan, yalah jalanan
perbatasan kedua gunung Hok Gu San dan Gwa Hong San,
untuk potong jalan ke Selatan Lu ciu. Disini pun orang bisa
mengambil jalan air di sungai Lu Hoo, untuk masuk ke
propinsi An hui.
Ketika Eng Jiauw Ong sampai di Kay san kauw, yalah
perbatasan kedua gunung itu, yang merupakan mulut
jalanan, waktu mana sudah jam tujuh atau delapan malam.
Tadi mereka sudah mengaso, dari itu, merekn berjalan
malam2. Eng Jiauw On pun ingin sekali ketahui halnya
rombongan Cu In Am cu.
Baharu mereka memasuki jalan gunung satu lie lebih,
bersiurlah angin gunung yang keras. Benar mereka bisa lihat
jalanan tetapi Ban Liu Tong usulkan untuk cari tempat
mondok. Tabib ini kuatirkan turun hujan, mereka tak bekal
pakaian untuk melindungi diri.
Apakah tak baik kita kembali saja? kata Su touw
Kiam.
Satu anak muda begini kecil hati! kata Eng Jiauw Ong.
Siapa memasuki dunya kang ouw, dia mesti berani
kehujanan, berani tahan lapar dan dahaga, siapa tak
sanggup menderita, dia baik diam dirumah menjadi kongcu
yasia saja!
Su touw Kiam bungkam, dia sebenarnya bukan takut
kepada hujan, dia hanya menyarankan.
Coh Heng jerih pada supe itu, yang ia kuatir nanti jadi
gusar, maka ia tarik suhengnya.

Kenapa jadi tolol, suheng? kata ia, setelah mereka


pisahkan diri setumbak lebih. Apakah kau tidak lihat
wajah supe? Supe sedang ibuki Hoa Suheng. Kau baik
jangan banyak omong. Kalau hujan, kita cari saja
pepohonan lebat atau guha. Untuk dahar, jangan takut!
dan ia segera tepuk2 buntalannya Disini aku punya
bekalan dua kati mo mo! Buat aku, aku tak takuti apa juga,
kecuali sang lapar, maka aku senantiasa siap makanan!
Kau benar, sutee, Su touw Kiam manggut. Memang
suhu sedang pikirkan toasuheng. Tapi, kenapa aku tak tahu
kau bekal mo mo?
Coh Heng tertawa geli.
Aku berlaku hati2! Apabila supe ketahui ini, dia bisa
katakan aku si gentong nasi!
Mereka berhenti berbicara sampai disitu, karena mereka
dengar suara tindakan kaki guru dan paman mereka, yang
sudah dapat menyusul mereka.
Jalan lekasan, kata Ban Liu Tong pada Su touw Kiam.
Gurumu sedang ibuki toasu hengmu. Kita mesti keluar
dari mulut jalanan ini sebelum hujan turun!
Baharu Liu Tong tutup mulutnya atau Eng Jiauw Ong
sudah dului mereka, tindakannya terbuka lebar, maka sang
sutee sudah lantas susul dia. Su touw Kiam dan Coh Heng
pun menyusul.
Angin meniup makin keras, langit lantas menjadi gelap
sekali, diantara kilat2 berkelebatan, guntur pun men
dengung2. Sukar untuk melihat jalanan, maka sang kilat
membantu juga kepada rombongan ini.
Bagi Too Liong dan Liu Tong, tak sukar akan lewati
jalanan gunung ini, tetapi mereka mesti rem sedikit

tindakannya, karena dibelakang mereka ada Coh Heng. Si


sembrono ini sudah lantas ter sengal2, ia kewalahan
mengikuti dengan ber lari2 keras.
Selagi mendekati mulut jalanan, sudah mulai gerimis.
Too Liong didepan sudah lantas keluar dari mulut
jalanan, selagi ia jalan terus, samar2 ia dengar suara orang
bicara dipepohonan ditepi jalan. Ia heran, ia lantas loncat
untuk melihat, kebetulan kilat berkeredep, tapi disitu tidak
ada orang.
Liu Tong lihat tingkahnya sang suheng, ia segera
menghampirkan, tapi suheng itu dului dekati ia.
Ada apa, suheng? ia tanya.
Tidak apa2, sahut sang su heng. Sebentar saja kita
bicara
Jalan lebih jauh, Eng Jiauw Ong berlaku waspada.
Hujan tidak lantas membesar, walaupun demikian,
ketika mereka sampai di Kian hoo tian, tak jauh dari mulut
jalan, pakaian mereka sudah kuyup. Disini tidak ada
pondokan, terpaksa mereka mesti jalan lebih jauh, sampai
di Sam koan ek dimana ada sebuah hotel, Hauw Kee Tiam
im manya. Diwaktu begitu, pintu hotel sudah ditutup
sebelah. Selagi mereka sampai dimuka pintu, kebetulan satu
jongos muncul.
Oh, tuan2 kehujanan! Berapa jumlahnya tuan2? dia
tanya.
Kami berempat. Lekas tunjukkan kamar, pakaian kami
basah semua, kata Eng Jiauw Ong.
Sayang, kamar besar tidak ada. Ada juga kamar kecil di
sebelah Timur. Inipun kebetulan itu ada kamarnya

majikanku, dia pulang kerumahnya, kamar nya jadi kosong,


kamar lainnya tidak ada lagi
Sudah, jangan omong saja, Liu Tong memotong.
Lekas ajak kami kedalam. Lihat, kami telah kuyup
semua.
Baik, tuan sahut jongos, yang lihat orang tak
senang. Ia segera cari lentera, kemudian ia mengundang.
Silahkan tuan2 turut aku. Iapun segera berjalan didepan,
sambil berkata pula Bukannya aku banyak omong, tuan,
tetapi aku ingin kau lihat dahulu kamarnya, cocok atau
tidak. Hujan besar, kalau tidak cocok dan tuan kebasahan,
habis bagaimana? Bukankah lebih baik bicara dahulu biar
jelas, tuan2?
Too Liong dan Liu Tong diam, tak sudi mereka layani
jongos yang licik itu. Su touw Kiam pun mendongkol tapi
ia tahan sabar, kalau ia bertindak, ia kuatir nanti ditegur
gurunya. Maka ia hendak tunggu ketikanya. Tapi Coh
Heng si sembrono ternyata cerdik. Dalam mendongkolnya,
dia mendapat akal. Tiba2 ia ngusruk, seperti orang
terpeleset, mulutnya pun berteriak Ayoh! Karena
ngusruk, dengan pundak kanan ia bentur si jongos. Dia ini
menjerit, tubuhnya rubuh tengkurap. Tapi Coh Heng pun
terus rubuh, ia tindihi badannya si jongos, kedua lengannya
dipakai menekan ke dua iganya jongos itu.
Jongos itu mengeluh kesakitan, benar mukanya tidak
besot, tapi mulutnya toh mencium tanah.
Aduh, aduh, lututku sakit Coh Heng ber pura2.
Suheng, tolong banguni aku.
Aku terpeleset jatuh
sampai aku kena tubruk orang
Aduh, tuan, kau tindih aku si jongos pun mengeluh.
Su touw Kiam lekas angkat bangun suteenya itu.

Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong bisa menduga


kenakalannya si sembrono, tetapi mereka diam saja.
Mengapa kau tak ber hati2? demikian Liu Tong
menegur, dengan ber pura2.
Jongos itu tidak bisa berbuat apa apa.
Eh, Tan Jie, kau kenapa? tanya satu jongos lain, yang
datang dengan lentera ditangannya.
Aku lacur, baiknya aku tidak ketindihan sampai
mampus! sahut kawan.ini.
Ah, kau jenaka, kata sang sahabat, yang datang dekat
dan menyuluhi. Masa kau memakai yancie? ... Lekas
kau cuci.
Kasihan kau, sahabat, Too Liong kata sambil tertawa.
Tan Jie diam saja, ia ngeloyor pergi, maka kawannya
yang gantikan ia antar semua tetamunya kekamar yang
disebutkan, kamar Selatan, yang berada di sudut Tenggara,
kamarnya benar kecil, pembaringannya cuma satu tapi
sprenya cukup bersih. Kamar itu ada lampunya, yang
apinya kelak kelik, tapi jongos besarkan api itu.
Berempat mereka lantas buka baju untuk salin, dan
jongos pergi buat ambil air teh panas.
Coh Heng, lain kali jangan kau terburu napsu, Liu
Tong tegur muridnya. Jongos itu menyebalkan, dia harus
diajar adat, tetapi kau mesti sabar
Liu Tong tidak teruskan perkataannya karena jongos
sudah lantas kembali.
Coh Heng diam saja, ia melainkan tertawa didalam hati.
Su touw Kiam pun geli seperti sutee itu.

Suheng, jikalau aku tidak hajar lantas padanya, aku


tidak puas, kata Coh Heng dengan pelahan, selagi ia dekati
Su touw Kiam, hatiku bisa meledak.
Kau cerdik, sutee, kata sang suheng, dengan pelahan
juga. Aku memang sedang memikirkan dengan cara
bagaimana aku bisa ajar adat padanya. Sekarang dia tahu
rasa!
Itu waktu, angin dingin menghembus kedalam.
Hawa disini dingin sekali, kata Liu Tong sambil
kerutkan dahi. Kalau orang biasa, dia bisa jatuh sakit
karenanya. Kita perlu minum sedikit arak untuk lawan
hawa dingin ini.
Eng Jiauw Ong setuju, dia manggut.
Benar, katanya.
Jongos berlalu sehabis bawa teh, tapi ia lekas kembali.
Hawa disini dingin sekali, apa tuan tuan ingin minum
arak? dia tanya.
Apa kau punya arak Hoa tiauw? Too Liong balik
tanya.
Hotel kami kecil, tuan, mana kami bisa sediakan
banyak macam arak? kata jdngos itu sambil tertawa.
Kami tak punya arak dari Kanglam. Tapi arak kaoliang
kami buatan sendiri di Utara. Tuan2 coba saja dahulu,
umpama tidak cocok, biar tak usah tuan2 bayar. Aku nanti,
sediakan beberapa rupa makanannya
Kau bawalah, kata Liu Tong. Kami bukannya orang2
hartawan, kami bisa dahar sembarangan. Bagaimana
dengan kawanmu yang jatuh itu? Bilang padanya aku nanti
kasi presen padanya.

Tidak apa, tuan, sahut jongos itu sambil tertawa. Dia


tak hati2, dia tidak boleh sesalkan orang. Sembari
bersenyum, dia undurkan diri.
Lihat, sutee, kata Eng Jiauw Ong. Lihat dua jongos
itu, yang satu terlalu licik, yang lain terlalu ramah
tamah.
Aku lihat dua2nya tak pantas jadi jongos, utarakan Liu
Tong. Yang pertama terlalu licin, dan dia ini manisnya
seperti gula, ada tersimpan golok dalam tertawanya
Tidak apa, kita toh tidak akan singgah lama disini,
nyata kan Eng Jiauw Ong. Bagaimana sutee lihat hotel ini?

Aku percaya ini bukannya hotel yang benar, jawab


Siok beng Sin Ie.
Mereka tidak bicara terus, karena jongos telah datang
bersama barang makanan, malah Tan Jie membantui. Dia
ini tidak bilang suatu apa, dia pandang Coh Heng sebentar,
lantas dia berlalu pula.
Eng Jiauw Ong lihat empat rupa santapan yang
nampaknya bersih. Ia geser lampu kemeja makan sambil ia
kata pada Su touw Kiam Bukankah kau hendak
kebelakang? Pergi kau minta pelayan ini antarkan kau!
Nanti aku antarkan. kata si jongos.
Su touw Kiam heran mendengar kata2 gurunya itu, tapi
ia segera ikut keluar, karena ia duga sikap gurunya itu mesti
ada sebabnya.
Sehabis buang air kecil, Su touw Kiam lekas kembali
kekamar, si jongos terus kedapur. Ia dapati gurunya dan
pamannya sedang mulai dahar, Coh Heng menemani

mereka. Untuk ia pun telah disediakan tempat, mang kok


dan sumpitnya.
Suheng, kali ini suhu mengadakan kecualian, kata Coh
Heng. Kita diijinkan minum satu cawan tetapi tak boleh
yang ke dua. Jangan kuatir, supe sudah cobai, makanan
dan arak tak ada penyakitnya. Mendengar itu, Ban Liu
Tong deliki muridnya.
Banyak mulut! guru ini menegur.
Su touw Kiam mengerti sebabnya kenapa tadi gurunya
suruh ia keluar, nyata gurunya itu cari ketika akan periksa
semua makanan, ada racunnya atau tidak. Memang,
ditempat demikian orang mesti waspada. Ia diam saja atas
kata2nya sang sutee.
Coh Heng dan Su touw Kiam duduk berhadapan,
didepannya yang belakangan ini ada jendela belakang,
tingginya kira2 sependirian orang, jerujinya tidak ada,
kertas jendelanya banyak yang berlobang. Selagi Su touw
Kiam angkat kepalanya, dengan tak di sengaja ia lihat sinar
mata di satu lobang, hingga ia jadi curiga. Dengan tiba2 ia
tekan meja, ia enjot tubuhnya, hingga ia mencelat kejendela
itu. Menyusul lebih jauh, ia tolak daun jendela, ia ulur
sebelah tangannya, untuk segera melongok keluar.
XXVI
Jendela itu, yang pernahnya pun dibelakang hotel,
menghadapi jalan umum, menghadapi juga kali. Keadaan
diluar jendela ada gelap, melainkan ditepi kali, atas
beberapa kendaraan air, ada cahaya api. Kecuali suara
hujan, suasana ada sunyi. Tak seorangpun kedapatan
didekat jendela itu.
Ada apa? Eng Jiauw Ong tanya melihat sikap
muridnya.

Selagi Su touw Kiam rapatkan daun jendela, jongos


masuk dengan sepiring mo mo yang masih panas, ia lantas
saja sahuti gurunya Jendela ini tidak dikunci, angin keras
sekali. Lalu ia kembali kekursinya.
Jongos itu letaki piring seperti tak terjadi suatu apa,
hanya kemudian, ia kata Harap tuan2 waspada terhadap
jendela ini, yang hadapi jalan umum. Disini kami tak berani
alpa, malah majikanpun berhati2 dengan pakaiannnya dan
lainanya barang
Kami tidak punya barang apa2, tidak apa, kata Liu
Tong, yang perhatikan wajah orang. Mo mo ini cukup,
kalau ada, tambah bubur saja.
Menyesal, tuan, bubur sudah habis. Kami berniat
membikin sup, tapi kecap dan minyaknya kebetulan habis
juga, disini tidak ada tempat untuk membelinya. Nanti aku
tambah air teh saja
Ia berlalu, setelah mengucap demikian.
Apakah ada orang mengintai? tanya Liu Tong pada
Su touw Kam seberlalunya si jongos.
Aku tidak berani pastikan tapi aku seperti lihat mata
yang mengintai, sahut sang murid keponakan. Aku
berlaku cepat tetapi diluar tak ada orang. Di luar sana ada
tepi kali. Boleh jadi ada orang yang kebetulan lewat
saja.
Mendengar itu, Eng Jiauw Ong lalu tuturkan hal suara
orang ditengah jalan tadi.
Mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian di Ang
touw po, utarakan Liu Tong. Karena mereka tak puas
dan datang kemari untuk menuntut balas. Cukup asal kita
waspada.

Tidak lama mereka habis dahar, Eng Jiauw Ong dan Ban
Liu Tong melongok dijendela.
Ketika jongos masuk untuk bebenah, dia tidak bawa air
teh. Lain orang bisa tahan sabar, tidak si sembrono.
Eh, mana air? Apa kau hendak bikin kami mati
kehausan? ia menegor.
Sabar, tuan, air akan segera matang, sahut jongos itu.
Adalah kapan sebentar lagi ia muncul pula, jongos itu
baharu bawa air teh, yang masih sangat panas, hingga
untuk minum itu Coh Heng mesti sekali tiup sekali irup.
Sekali tuang, air teh itu dituang sampai empat lima cangkir.
Kemudian lagi kedua jongos muncul untuk pasang
papan didepan jendela, buat dijadikan pembaringan
darurat, dipasangi kasur dan spreinya.
Selagi Su touw Kiam suguhkan teh untuk guru dan
pamannya, Coh Heng telah mengirup habis satu cawan,
selagi ia mulai dengan cawan yang ke dua, ia baharu angkat
cawan kemulutnya, tiba ia letaki pula cawan itu, ia rasakan
kepalanya pusing dan matanya kekunangan.
Suhu, kepalaku sakit aku hendak tidur lebih dahulu,
kata ia. Dengan tindakan limbung ia pergi kepembaringan
darurat itu, untuk segera rebahkan diri.
Lihat, suheng, kata Liu Tong pada Too Liong. Lihat
boca itu, satu kali dia tenggak arak, lantas dia tak kenal
aturan lagi! Kewalahan aku mendidik padanya
Dia polos, itulah bagus, Eng Jiauw Ong bilang. Aku
suka anak sebagai dia. Baik kau tak pusingkan diri dengan
urusan kecil ini.
Eng Jiauw Ong baru mengangkat cawannya, buat
dibawa kemulutnya. Segera ia dapat cium bau semerbak.

Tidak dinyana, sutee, disini ada teh sewangi ini, kata


ia. Ia terus antar cawan kemulutnya. Baharu ia hendak
minum, tiba ia dengar suara prang dan bruk dan
ayoh saling susul, datangnya dari arah pintu. Ia dan
saudaranya terperanjat. Segera ia letaki cawannya dan
loncat kepintu, yang daunnya ia terus pentang, sambil ia
tanya Siapa?
Didepan pintu kamat , si jongos rebah terguling, sebuah
tehkoan teh pecah hancur, airnya melulahan, airnya masih
panas.
Sial betul, entah barang apa nyangkut dikakiku, kata
jongos itu seraya merayap bangun, akan terus usut2
kakinya. Hari ini toh bukan hari jelek
Tuan2,
aku
datang untuk tambahkan air teh, sekarang tehkoannya
pecah, aku tak dapat tambah lagi
Tidak apa, kau boleh pergi, air sudah cukup, kata Liu
Tong, yang pandang jongos itu.
Tanpa kata apa2 jongos itu angkati beling dan pergi.
Sampai itu waktu hujan masih turun terus.
Setelah tutup pintu, Liu Tong kata pada suhengnya
Jongos itu kesandung, itulah aneh! Tanah toh rata dan
tidak licin walaupun hujan dan kakinya jongos basah.
Bukankah ia jalan pelahan2?
Ong Too Liong kerutkan dahi, sebelum ia menyahuti, ia
tengok muridnya.
Lihat suheng sutee itu! kata dia. Kenapa hari ini
mereka letih sekali dan bisa tidur demikian nyenyak secara
gampang? Tidakkah ada apa2 yang mencurigai disini?
Mari kita minum, habis kita padamkan api dan beristirahat.
Kita pasang kuping, sebentar jam tiga salah satu keluar

untuk cari tahu Liu Tong pun bercuriga, tetapi ia tidak


utarakan itu.
Eng Jiauw Ong angkat cawannya, tapi air sudah dingin,
ia tambahkan separuh dengan air dari tehkoan, yang
separuhnya ia angsurkan pada suteenya. Ketika ia hendak
mengirup, tiba2 ia dengar suara dari luar jendela Ah
Sayang, sayang Satu enghiong mesti rubuh ditangannya
satu manusia rendah Nah, minumlah!
Liu Tong dengar itu, sembari dengan cepat letaki cawan
teh, dengan tangan yang lain, dengan samberan angin, ia
padamkan api, lantas tubuhnya mencelat kejendela. Ia tidak
perdengarkan suara apa juga, ia terus mengintai keluar.
Malam tetap gelap, suasana tetap tenang.
Selagi sang sutee loncat ke jendela, Too Liong mencelat
kepintu yang ia segera tarik, untuk dibuka dengan pelahan2,
setelah itu, ia loncat keluar dimana ia tak lihat suatu apa,
maka terus ia loncat naik ke genteng. Dari sini ia
mengawasi kesekitarnya. Empat penjuru gelap petang dan
sunyi senyap, cuma sang hujan masih mengericik.
Melainkan dari tepi kali, dari dua tiga perahu nelayan,
kelihatan sinar api kelak kelik.
Sutee! jago Hoay siang memanggil dengan pelahan,
apabila ia tak melihat adik seperguruannya keluar.
Ya, suheng, sahut Liu
menghampirkan. Ada apa?

Tong,

yang

terus

Aku tak lihat suatu apa.


Lantas keduanya kembali, Liu Tong segera nyalakan api.
Sutee, tanya Too Liong sambil seka air hujan, Musuh
atau sahabat kita orang yang tadi sindirkan kita itu?

Dugaanku dia bukan musuh, karena dua kali dia telah


peringatkan kita, jawab Liu Tong. Dia pun gesit sekali.
Aku loncat sebelum ia tutup mulutnya tapi ia bisa
menghilang dengan cepat luar biasa. Mungkin pihak tuan
rumah hendak celakai kita! Bukankah kita sudah cukup ber
hati2? Arak dan makanan bersih semua. Segala racun tak
nanti, luput dari kita. Ada bubuk Cu ngo Kie hun san yang
liehay tapi sekarang tidak ada yang mampu bikin itu, ada
juga orangnya tetapi dia tidak berada disini hanya ditanah
daerah bangsa Biauw. Pembuat bubuk racun itu ialah Kie
In Giam dibukit Cit Seng Nia, karena sangat jahatnya, dia
mati celaka. Semua warisan obatnya jatuh ditangan
muridnya, Ciu Yong namanya. Dia ini bermusuh dengan
banyak orang kang ouw, dia kabur ketanah Biauw. Disini ia
dihargai orang Biauw karena obat2annya itu. Ia tidak gunai
Cu ngo Kie hun san buat celakai orang, hanya ia pakai
meracuni binatang alas, kalau racun dicampuri sedikit pada
barang makanan, umpan, ada binatang liar yang tak mati
dan gampang ditangkap. Katanya Ciu Yong hidup senang
ditempat perantauan itu. Apakah benar sekarang ada
semacam obat itu disini? Apa kita tidak keliru dengar?
Aku kira tidak, sahut Eng Jiauw Ong, yang kembali
mengawasi kekedua anak muda, hingga timbul
kecurigaanna. Su touw Kiam ada rapi dan resik, dia tidur
dengan tak buka pakaian, juga dia tidak lolosi sepatunya
yang ada lumpurnya, itulah aneh.
Ah, sutee, mungkin ada penyakitnya pada air teh! kata
ia tiba2.
Liu Tong tidak menyahuti. hanya ia melompat pada Su
touw Kiam, tubuh siapa ia tolak, sampai dua kali, tapi
pemuda itu tidak jua terbangun, tidurnya sangat nyenyak
rupanya.

Mungkin kau benar, suheng, baharu ia sahuti


saudaranya, ke mudian.
Eng Jiauw Ong hampirkan muridnya, ia angkat tubuh
muridnya, buat mukanya dihadapkan kepada api.
Masih Su touw Kiam tidak mendusi, kedua matanya
tertutup rapat, mukanya sedikit panas, bibirnya kering. Ia di
goyang2, ia di panggil2, dia tetap tidur.
Dari kerutkan dahi, Eng Jiauw Ong jadi gusar.
Liu Tong ambil cawan tehnya yang ia belum minum, ia
irup sedikit buat dikemu, lalu ia sembur mukanya Su touw
Kiam, tubuh siapa terus direbahkan pula, mukanya yang
basah lantas disekai, kemudian, dengan teh dingin, yang
dibasahi pada saputangan, ia dinginkan dada orang, yang
kancing bajunya dibuka.
Secara begini, selang sedikit lama, baharulah Su touw
Kiam tersedar, setelah berbangkis, ia buka kedua matanya.
Ia heran melihat guru dan paman gurunya berdiri
didepannya. Ketika ia hendak buka mulut, gurunya dahului
Pelahan! Ia terkejut, ia berbangkit untuk duduk, hingga
saputangan basah didadanya, jatuh.
Liu Tong lantas tolong! Coh Heng yang mukanya pun
disembur dan dadanya dikompres, selama mana, Eng Jiauw
Ong tuturkan muridnya perihal musuh gelap yang sudah
bikin suheng dan sutee itu tak sadar akan dirinya.
Hampir kita celaka, tambahkan sang guru. Jikalau
bukan konconya Hong Bwee Pang, hotel ini mesti ada hotel
gelap.
Su touw Kiam jadi sangat gusar, ia loncat bangun.

Mereka gagal ber ulang2, namun mereka tak kenal


kapok, satu kali lagi tak dapat kita bikin mereka lolos! kata
ia.
Ketika itu, Coh Heng pun tersedar, karena dia s
embrono, siang Liu Tong cegah dia buka mulut, tapi
ketika ia ketahui duduknya hal, bahna gusar, dia
berjingkrak, terus ia ajak guru nya cari tuan rumah atau
jongosnya. Dia kata ingin membakar hotel itu.
Sabar, Su touw Kiam membujuk seraya ia tarik adik
itu kesamping.
Coh Heng suka dengar suheng ini, ia lalu duduk
menjublek.
Bagaimana, suheng, Liu Tong tanya saudaranya.
Kita cari mereka atau kita tunggu saja?
Eng Jiauw Ong ada mendongkol. Tak usah kita tunggu,
kita cari saja, ada jawabannya.
Aku ingin belajar kenal dengan rombongan ini!
Baik, mari kita siap, kita bereskan mereka siang2, agar
tak berabe! menyatakan Siok beng Sui Ie.
Kedua saudara ini lantas rapikan pakaian mereka.
Kau perlu diam disini jaga bungkusan kita, Eng Ji auw
Ong pesan muridnya. Kau kecilkan api itu.
Lalu berdua saudara ini bertindak keluar dengan hati2.
Hujan rintik, angin bersiur malam ada gelap, suasana
pun sunyi. Dua saudara ini loncat naik kegenteng, untuk
pergi ke depan. itu waktu ada kira2 jam tiga, semua tetamu
lainnya sudah pada beristirahat. Dari sebuah jendela ada
molos cahaya api. Disebelah situ ada kantorannya pemilik
hotel.

Ban Liu Tong loncat turun, akan hampirkan jendela dan


Too Liong hampirkan pintu. Ketika Liu Tong hendak
pecahkan kertas jendela untuk mengintai, ia dengar helaan
napas disebelah atas kepalanya. Ia terkejut. Dengan tiba2,
dengan gerakan Pat pou kan siam atau Delapan tindak
menguber tonggeret, ia mencelat keatas genteng sebelah
Barat, akan tengok orang yang keluarkan suara napas itu.
XXVII
Begitu lekas ia sampai diatas genteng dimana ia pasang
matanya, Siok beng Sin Ie menjadi jengah sendirinya. Dia
telah bergerak dengan luar biasa gesitnya. Dia pun ada
murid terpandai dari Hoay Yang Pay, dengan suhengnya
kepandaiannya ada berimbang, didunya kang ouw, sukar
ada tandingannya, akan tetapi satu kali ini, sejak turun
gunung, berulang2 dia menghadapi lawan2 yang liehay.
Demikian malam ini, ia telah berhadapan dengan seorang
yang tak dikenal, yang liehay sekali. Bukankah ia dengar
helaan napas? Kenapa orang itu bisa lenyap demikian
cepat? Ia Insyaf tak ada gunanya untuk cari orang itu,
maka ia segera melompat turun pula akan hampir kan
saudaranya. Suhengnya pun justeru gapekan dia seraya
tangannya menunjuk kearah Timur, dipojok tembok. Maka
berdua mereka menuju kesana, untuk berkumpul dipojok
itu.
Aneh disini, sutee, kata suheng itu. Kita jangan kasi
diri kita dipermainkan. Dia berhenti dengan tiba2. Liu
Tong hendak tanya saudaranya itu untuk minta penegasan,
atau segera lengan kanannya di kutik oleh suhengnya, maka
ia urungkan niatnya. Menyusul itu, ia melihat daun pintu
dibuka, lalu ditutup pula. Daun pintu itu tak memberikan
suara sama sekali. Lalu tertampak, dalam gelap gulita,
seorang bertindak secara enteng menuju kebelakang.
Dua saudara ini, dengan ber indap2, lantas menguntit.

Orang itu ada satu jongos, dia menuju kekamar


tetamunya ini, dia hampirkan jendela, akan mengintai dari
celah2 kertas jendela yang dia pecahkan. Agaknya dia
kaget, dengan ter gesa2 dia lari kepojok Timur selatan.
Rupanya dia bersangsi kapan dia telah berdongak keatas,
mengawasi tembok. Terang sudah, dia tak punya
kepandaian loncat tinggi yang sempurna. Tapi dia toh
mencoba. Ketika dia berlompat, cuma kedua tangannya
bisa jambret ujung tembok. Selagi hujan, tembok itu licin,
kedua tangannya terlepas, tidak ampun lagi ia jatuh
numprah ditanah yang becek, tak dapat ia tahan tubuhnya
ia terus celentang.
Hampir saja Too Liong berdua tak tahan untuk tidak
tertawa geli.
Apa yang si jongos lihat didalam kamar ada hal
menggirangkan hatinya. Api didalam kamar ada remeng,
karena Su touw Kiam telah bikin kecil sekali. Pemuda ini
bersama suteenya. turunkan kelambu, keduanya rebahkan
diri, ber pura2 sudah tidur. Jongos itu tidak berani
memasuki kamar, tapi ia percaya betul semua tetamunya
sudah rubuh, maka, rupanya, untuk bisa lekas mengasi
kabar pada majikannya, ia undurkan diri secara tersipu2.
Lacur baginya, dia ambil jalan ditembok pojok itu, hingga
dia mesti jatuh dari tembok.
Su touw Kiam telah loncat kesamping jendela ketika ia
lihat orang tidak intai ia terlebih jauh, Coh Heng pun susul
ia, maka keduanya dapat tahu jongos itu rubuh celentang.
Kiam bisa tahan hati untuk tidak tertawa, tidak demikian
dengan Heng, dia ini cekikikan, suhengnya segera bekap
mulutnya, hingga tertawanya jadi terhahan.
Jongos itu jatuh kesakitan, ia tak dengar suara tertawa
tertahan didalam kamar itu. Ia sendiri tidak berani menjerit
kesakitan. Setelah berdiam sekian lama akan menahan

sakit, ia merayap bangun. Urung dia naik di tembok, dia


bertindak balik dengan pelahan.
Liu Tong heran. Jongos itu ada orang hotel, kenapa dia
tidak ambil pintu hanya tembok tinggi? Ia niat tanyakan
kesangsiannya ini pada suhengnya, tetapi Too Liong sudah
lantas meloncat naik kegenteng akan menguntit si jongos.
Jongos itu pergi kekaki tembok dimana ada bertumpuk
barang2 rosokan perahu antaranya selembar papan lantai,
dia bawa ini ketembok Baratdaya, senderkan berdiri dipojok
tembok dimana ada genteng rumah yang kate, dengan cara
ini dia manjat, dari sini dia merayap ke depan, terus
kesebelan Timur, mutar ketembok. Disini, cuma bersangsi
sesaat, dia loncat turun keluar pekarangan, akan terus lari
dijalanan menuju ke tepi kali.
Dua saudara itu menyusul, akan mengikuti dari
kejauhan.
Liu Tong gunai ketika ini akan minta keterangan dari
suhengnya. apa yang si suheng lihat di kantomya pemilik
hotel.
Kamar ada remeng2 tetapi bisa jugalah aku melihat,
Too Liong terangkan pada suteenya. Meja ada rapi,
tandanya orang telah beres memasuki buku. Dua orang
rebah dipembaringan, yang satunya, kakinya turun
kebawah. Satu jongos, yalah jongos ini, tuang air teh
dicangkir kedalam tempolong, kemudian ia angkat
tubuhnya pemilik hotel untuk dibenarkan. Dia periksa buku
dan laci uang. Aku tadinya sangka dia hendak mencuri, tapi
kesudahannya, dia tidak ambil apa juga. Dia buat main
sebatang anak kunci, alisnya mengkerut, kemudian dia
letaki pula anak kunci itu. Dia pun geledah sakunya dua
orang, yang tidur nyenyak, dia tak peroleh apa2.
Sehabisnya kecilkan lampu, dia keluar dari kamar, akan

terus mengintai kamar kita. Herannya adalah dia tidak mau


keluar dengan ambil jalan pintu. Terang dia bukannya
jongos tulen, dia mesti ada orang Hong Bwee Pang. Tidak
cuma kita, juga tuan rumah dan jongosnya dia racuni
dengan obat tidur. Rupanya dia tak dapat cari kuncinya
pintu depan. Dia cerdik, sayang dia tak mampu loncat
tinggi, dan kebetulan hujan dan tembok licin.
Liu Tong manggut2. Ia girang yang ia tidak sampai turun
tangan terhadap orang hotel.
Selama itu mereka sudah menguntit sampai ditepi kali,
terus sampai belasan lie jauhnya dari pelabuhan. itu ada
tikungan kali dimana ada dua buah perahu kecil untuk
melayari sungai besar, dua2 perahu terang apinya,
dikepalanya perahu ada dipancar tengloleng kertas minyak
yang ada tutupnya untuk lawan hujan. Tengloleng itu
dipancar disebelah kiri.
Pasti mencurigai yang kedua perahu berlabuh bukan di
pelabuhan, hanya ditempat yang pinggiran kalinya mudun
dan licin. Kearah dua perahu itu si jongos menuju.
Didekat situ ada tanah munjul, Too Liong dan Liu Tong
sembunyikan diri ditanah munjul itu untuk mengintai terus.
Walaupun malam ada gelap, tapi dengan bantuan cahaya
api, mereka ini bisa melihat cukup nyata.
Berdiri ditepi kali, jongos tetiron itu rogo sakunya, atau
sebentar saja, ia telah nyalakan api dari coa lian, atau
sumbu kertasnya. Lalu dari kedua perahu, muncul masing2
satu orang.
Apa tuan hendak sewa perahu? tanya orang dari
perahu pertama.
Ya, aku hendak sewa perahu yang bisa ikuti angin dan
air, sahut si jongos.

Berapa jumlah penumpang dan barangnya? orang


diperahu tanya pula.
Orangnya tiga, barangnya dua belas macam, jawab si
jongos.
Untuk perjalanan berapa jauh? tukang perahu tanya
lagi.
Untuk dua belas hari.
Setelah mana, si jongos lalu simpan apinya, dan suasana
jadi sunyi pula. Didarat dan diperahu, dua pihak bungkam.
Cuma diperahu, orang pasang papan dan menunjang galah
kejen, untuk si jongos turun keperahu yang kesatu. Kedua
perahu lantas ber goyang2, seperti orang bergerak kekepala
perahu ke satu itu.
Pembicaraan itu mesti ada pembicaraan rahasia, maka,
untuk mendapat kepastian, Too Liong ajak Liu Tong turun
keperahu. Untuk ini, keduanya lari ketepi dengan ilmu
entengi tubuh. Mereka janji akan naik seorang satu perahu,
agar musuh tah ketahui mereka. Musuh ada bangsa kang
ouw, berkelisik sedikit, mereka bisa engah atau curiga.
Ketika Eng Jiauw Ong melompat keperahu, ia cuma
terbitkan goncangan sangat pelahan, terus ia sembunyi
kebelakang perahu. Ia naiki perahu yang ke dua.
Liu Tong, dengan loncatan Yan cu Hui in ciong atau
Burung walet terbang keudara, naiki perahu ke satu, akan
terus sembunyi dibawah jendela Beruntung buat ia,
disinipun semua penghuni sudah berada didalam. Malah ia
dengar suara orang bicara keras, seperti sedang berselisih.
Orang ini berlidah Hang ciu, tapi sebentar saja, amarahnya
agak reda, dengan sabar ia kata, rupanya pada seorang lain,
katanya Gui Loo suhu, bukannya aku pastikan tetapi
kelihatan urusan bisa gagal juga. Apa tak baik kita sabar

sedikit? Dia toh tak bakal lolos! Urusan dihotel Hauw Kee
Tiam ini, mesti kita yang turun tangan sendiri, aku kuatir
gagal. Coba tegasi padanya, apa benar2 dua orang itu rubuh
oleh obat pules?
Liu Tong basahkan telunjuk nya, untuk pecahkan kertas
jendela.
Ketika itu, Too liong datang pada suteenya ini, karena
diperahu ke dua dia cuma lihat beberapa anak buah sedang
tidur bergeletakan. Ia masih sempat dengar suaranya si
orang Hang ciu itu. Ia mengintai dari jendela kanan.
Perahu itu muat tujuh atau delapan orang, yang duduk
atau berdiri, keadaannya bersih. Ketika itu seorang umur
kurang lebih lima puluh tahun, awasi seorang dengan alis
halus dan mata seperti tikus, tubuhnya kurus, seraya kata
Ouw To cu, kau benar, aku lihat, kerjanya Song Loo jie ini
rada cerobo. Ia lantas awasi si jongos dan kata dengan
bengis Song Loojie, hayo bicara biar terang! Dua orang tua
itu rubuh atau tidak? Kau tahu aturan kita, kau tidak boleh
main gila. Kau tahu siapa adanya dua tua bangka itu, kita
tak boleh gagal!
Song Jie, si jongos, menyahuti dengan ragu2 Semua
mereka telah minum obat pules, cuma si orang tua
belakangan dan lebih sedikit rupanya. Tadi aku intai
mereka, mereka sudah pada rebah. Aku hanya tidak berani
masuk kekamar mereka untuk memeriksa dengan pasti.
Atas kealpaanku ini, harap to cu maafkan aku
Dengar, apakah aku tak menduga benar? kata si Ouw
Tocu sambil tertawa dingin. Lalu ia teruskan pada satu
anak muda Sayang, kita gagal, ketika baik ini telah dibikin
lolos. Kita sudah keprak rumput untuk usir ular, maka
sukarlah untuk cari lain ketika!

Dasar urusan kita sangat mendesak, sampaipun kita tak


sempat mengatur orang, kata si anak muda. To cu, kita
harus sampai dilobang dapur untuk menghadap dengan dia,
boleh jadi, turut dugaan tee cu, mereka sudah tidak
terkena.
Itu adalah kata2 rahasia bahwa baik mereka pergi
kehotel untuk menyaksikan.
Ah, Siauw Cun, kecewa kau dapat julukan Siauw Thio
Liang-si Thio Liang Kecil! sahut Ouw To cu itu. Obat ti
dur itu tak bisa gagal, karena itu ada obat paling manjur
kepunyaan istimewa dari Kok Hio cu dari Ceng Loa Tong!
Asal obat itu mengenai tenggorokan, tak perduli orang
bagaimana kosen belum dia berjalan lima tindak, dia mesti
sudah kacau ingatannya dan tak sadar akan dirinya.
Song Loo jie bilang, dia sudah intai, api separuh padam,
terang orang tak sempat apa2, kepalanya pusing, mereka
lantas tidur
Si anak muda itu nampaknya jengah.
Ya, inilah tee cu tak pikir, ia akui. Dan bagaimana
sekarang?
Ouw To cu itu pandang semua kawannya.
Sekarang, tak perduli bagaimana, kita mesti pergi
kehotel untuk hadapi mereka! kata ia dengan bersemangat.
Kawanan itu lantas jadi bernapsu semuanya, mereka
mengepal2 tangan.
Justeru itu Ouw To cu idapkan tangannya, kemudian ia
tanya Siapa diluar?
Aku! Aku terlambat. sahut suara diluar. Apakah
ciongwie loosu sudah berhasil?
Pintu disingkap dan seorang bertindak masuk.

Eng Jiauw Ong dan suteenya segera kenali See hoo to cu


Ma Liong Jiang yang kecebur di celupan hijau dibengkel
tenun di Ang touw po. Dia rupanya baharu dapat susul
kawannya ini.
Ketika dia kabur dari Ang touw po, Liong Jiang kembali
pada Hong Lun untuk tuturkan kegagalan mereka. Bukan
kepalang gusarnya ketua bagian Barat dari Hong Bwee
Pang ini. Itu waktu dia sedang sakit, napasnya sesak bekas
hajarannya Eng Jiauw Ong, dia sedang berlenggak dan
rubuh diatas pembaringannya.
Liong Jiang malu sendirinya, begitu juga Soan hu to cu
Liu Som dan Han shia to cu Ciong In, yang pulang dengan
membawa luka. Repot mereka untuk angkat bangun
tubuhnya ketua itu, untuk disadarkan.
Selang sekian lama, Twie hun souw si Orang tua
Pengejar Roh ingat akan dirinya.
Hong To cu, sabar, Liong Jiang menghibur. Sekarang
perlu to cu rawat diri dahulu.
Aku malu, kata Hong Lun. Hoay Yang Pay dan See
Gak Pay telah perhina kita rombongan See louw Cap jie
louw Cong to tidak ada satu diantara kita yang dapat cuci
itu, untuk melampiaskan penasaran, dari itu mana aku ada
punya muka untuk menemui Liong Tauw Pang cu? Pikirku
baik sekarang kita pulangkan piauw pou kita untuk minta
Pang cu tugaskan lain orang mengepalai Cap jie louw
Congto ini Kita mesti jaga agar Hong Bwee Pang tak
mendapat malu!
Wajahnya Ma liong Jiang berubah, dari jengah dia jadi
gusar.
Hong To cu! dia berseru, Kita ada pemimpin2 dari
Hong Bwee Pang, terhadap musuh2 kita, kita mesti bikin

perlawanan mati2an, dari hal kalah atau menang itu ada


urusan lain! Sukar kita memastikan itu! Karena sesuatu
orang ada punya kepandaiannya masing2, yang ada batas2
nya. Tidak ada aturan perkumpulan kita yang menentukan,
menang atau kalah kita mesti kembalikan piauw pou! Hong
To cu jikalau kau malu untuk taruh kaki lebih lama diantara
kita, terserah padamu, kami tak dapat mencegahnya! Tapi
Ma Liong Jiang ada lain, aku bukan bangsa tak tahu malu,
yang puas menerima penghinaan, aku nanti keluarkan
antero tenagaku akan layani Eng Jiauw Ong dan ni kouw
tua dari See Gak Pay! Apabila mereka belum keluar dai
daearh Hoolam, aku nanti susul mereka untuk pertempuran
yang memutuskan! Asal jiwaku masih belum putus, aku
akan berdaya terus! Nah, Hong To cu, sampai ketemu
pula!
Tanpa tunggu jawaban, Ma Liong Jiang putar tubuhnya
dan berlalu.
Hong Lun ternganga melihat sikapnya kawan itu.
Dalam rombongannya Ini, Hong Lun bukan hanya lebih
tua usia nya, iapun ada anggota lama dan lebih tinggi juga
kedudukannya, dari itu, ia mendongkol bukan main atas
sikapnya See hoo tocu itu. Tapi ia sedang sakit, ia tidak bisa
berbuat lain daripada antap orang pergi. Syukur disitu ada
Liu Som dan Ciong In, yang coba sabarkan dan hiburkan
padanya.
Ma Liong Jiang telah tinggalkan Liang Seng San.
Memangnya ia tidak puas terhadap Hong Lun, sekarang
ada ketikanya untuk ia tinggal pergi pada ketua itu. Dia
anggap bathinnya Twie hun souw tidak bersih, dia sangka
to cu itu main gila dengan Liok Cit Nio, tapi karena orang
ada berkedudukan lebih tinggi dan bugeenya liehay, dia
diam saja, Hong Lun gagal di Sin Lie Hong, dia panggil
kumpul bala bantuan, sebagai kemestian Liong Jiang taati

panggilan itu. Diluar sangkaan mereka, di Ang touw po pun


mereka gagal. Iapun tidak sangka, dalam mendongkolnya
Hong Lun keluarkan kata yang menyakiti hati itu.
Seberlalunya dari depan Hong Lun, dia kembali
keperahunya sendiri. Kebetulan sekali rombongannya habis
menjual garam gelap, yang mereka namakan see see cu atau
anak pasir. Kemudian ia mengundang Liu Som dan
Ciong In. Mereka bersihkan diri, dan Ciong In pun diobati.
Justru itu mereka menerima kabar bahwa dari Cong to,
pusat umum di Hun cui kwan, Gan Tong San, ada dikirim
dua rombongan petugas ke Hoo lam Selatan, untuk
melakukan penyelidikan suatu urusan penting.
Inilah kebetulan, pikir Liong Jiang. Bila ada
ketikanya, aku nanti tempelkan kouwyoh pada Hong Lun si
tua bangka! Walau dia tidak rubuh, asal dia kurang
kepercayaan, sudah lumayan!
Nyata to cu ini benci sangat pada Twie hun souw.
Dihari itu juga, sampailah rombongan petugas yang
kedua, yang mampir dipusat See hoo congto, anggota nya
ada dari Gwa Sam Tong dari Pusat Umum, antaranya
selain Guw To cu pun ada paman gurunya, Gui Cin Pang.
Kalau Ouw To cu ada ketua kehakiman, adalah Gui To cu
ketua urusan piauw pou, tanda bukti keanggotaan. Melihat
mereka ini, Liong Jiang tahu bahwa mesti ada anggota yang
melanggar aturan, yang kesalahannya tak berampun.
Diam2 ia terperanjat. Walaupun ia tahu bahwa ia tidak
mempunyai dosa, namun ia kuatir ada salah satu orangnya
yang main gila, jikalau itu benar, ia sedikitnya mesti ke
rembet2.
Liong Jiang telah ketemui berbagai ketua itu, untuk
haturkan hormat kepada mereka, kemudian ketika datang
saatnya Gui Cin Pang berada seorang diri didalam

perahunya, diam2 ia tanya paman gurunya, untuk urusan


apa mereka itu keluar ber sama2.
Ada satu anggota kita yang sudah lakukan pelanggaran
hebat, yang buron ke Kanglam, paman guru itu terangkan.
Pendakwa ada seorang anggota kita juga, untuk mana dia
bisa ajukan bukti. Yang paling menyebalkan, anggota itu
sudah lancang pakai namanya Hio cu, untuk dirikan
rombongan sendiri dan membuat piauw pou palsu dengan
apa ia terima murid2, untuk memperdayakan uangnya
murid2 itu. Pendakwa atau penuduhnya ini adalah musuh
besarnya, sebab ia telah bunuh isteri dan anaknya
pendakwa itu. Musuh ini dengan mati2an berani masuk
kedalam Lwee Sam Tong untuk menghadap Liong Tauw
Hio cu, guna ajukan pengaduan atau dakwaannya.
Musuhnya sudah pikir, hampir tak ada harapan, yang ia
akan bisa keluar pula dari Cap ji Lian hoan ouw. Dia telah
nyatakan pada Hio cu, dari tujuh rupa dakwaannya, asal
ada satu fitnahan, dia bersedia akan tubuhnya dicingcang
hancur. Tapi dia pun hunjuk, dia sudah pesan ibunya yang
telah berusia delapan puluh tahun, ibu yang sudah janji,
asal dalam tempo tiga bulan, ibu ini tak dengar kabar hal
kebinasaannya, itu, dia minta si ibu menghadap pada
congtok dari Liang Kang, guna beber semua rahasianya
Hong Bwee Pang, untuk minta pasukan tentera negeri pergi
basmi perkumpulan rahasia ini, katanya dia bersedia akan
terbinasa ber sama2 kumpulannya itu.
Hio cu gusar bukan main apabila ia telah dengar
pengaduan itu, disatu pihak dia perintah tahan pendakwa
ini, dilain pihak dia segera perintah mencari anggauta yang
didakwa itu sambil menyelidiki segala perbuatannya.
Hasilnya penyelidikan membuktikan, benar tertuduh
bersalah besar dan mesti dapat bagian hukuman mati.
Hanya entah bagaimana jalannya, rahasia bocor, terdakwa

itu ketahui penyelidikannya Hio cu, dia lantas mendahului


buron. Tentu saja buronnya itu membuat Hio cu menjadi
semakin gusar, hingga Hio cu ambil tindakannya yang
terakhir, yalah dia telah menghimpunkan satu rapat besar
istimewa, sampaipun semua hio cu. yang telah undurkan
diri dalam Hok Siu Tong, Ruang Kebahagiaan, turut hadir
juga. Setelah pasang hio, bersembahyang, Liong Tauw Hio
cu lantas umumkan dosanya anggauta yang murtad itu,
kemudian dia angkat sumpah, jikalau anggauta itu tak
terhukum menurut aturan perkumpulan, dia hendak
bubarkan Hong Bwee Pang. Diapun sumpah, apabila tak
jalankan aturan dan sumpah ini, dia bersedia akan dikutuk
Thian. Karena ini, semua orang, sahabatnya anggota yang
berdosa itu, tidak berani buka mulut untuk melindungi atau
mohonkan keringanan. Demikianlah kami bertujuh telah
ditugaskan untuk cari dan tangkap anggauta berdosa itu
dengan diberikan hak, dimana saja bila kami dapat tangkap
dia itu, disitu juga mesti diadakan pemeriksaan dan
umumkan kedosaannya, setelah itu segera jalankan
hukumannya tanpa ampun lagi. Hukumannya adalah
hukuman memecah tubuh, lalu sesuatu dari kami mesti
bawa sepotong dari tubuhnya, yang harus dipakaikan obat,
supaya tidak jadi rusak. Tubuh itu mesti diperlihatkan
sebagai bukti pada Hio cu, sesudah mana, semua tubuh
akan disembahyangi dan dibakar menjadi abu.
Gui Cin Pang berikan keterangan jelas pada keponakan
murid itu, akan tetapi dia tidak mau sebutkan she dan
namanya anggauta yang berdosa itu.
Ma Liong Jiang tidak berani menanyakan lebih jauh,
karena ia insyaf, dalam perkara besar itu kalau, ia turut
dicurigai, ia sendiri bisa dapat susah.

Bila kiranya anggauta itu akan dapat dibekuk! ia


tanya. Jikalau dia buron kepedalaman, apakah itu tidak
akan menerbitkan kesulitan?
Gui Cin Pang tertawa dingin.
Sekarang ini dia jangan harap bisa buron pula! katanya
dengan pasti. Tadinya dia sedang diselidiki, maka dia bisa
angkat kaki, sekarang kedosaannya sudah terbukti maka dia
dicari dengan sungguh. Titah2 disampaikan kecuali dengan
jalan atau perantaraan burung2 darah juga dengan perahu2
cepat, titah2 itu di sampaikan ketujuh puluh empat lo
dilima propinsi Utara, kepada cabang2 besar dan kecil.
Semua anggauta Hong Bwee Pang, dalam tempo seratus
hari dilarang meninggalkan pusatnya masing2, malah
dilarang juga melangkah keluar sedikitpun dari Ban Lie
Tiang Shia. Paling belakang ini, Pusat Umum juga telah
mengirim berita cepat Tiat coan pay dengan mana
dititahkan, untuk sejumlah anggauta Hong Bwee Pang pergi
berkumpul di Kang lam, siapa membandal, dia diancam
hukuman mati. Maka dalam satu bulan ini, berbagai tempat
penting didaerah Tembok Besar sudah terjaga kuat, hingga
tak gampang lagi akan si ang gauta yang berdosa itu bisa
loloskan diri.
Setelah memberikan keterangannya itu, Gui Cin Pang
balik menanya keadaan dalam See iouw Cap jie to, pusat
bagian Barat, atas mana Ma Liong Jiang berikan
laporannya dengan diantaranya dia beber lelakonnya Hong
Lun serta Lie touwhu Liok Cit Nio.
Eng Jiauw Ong itu, tua bangka dari Hoay Yang Pay,
memang Hehay, kata Gui Cin Pang. Liong Tauw Hio cu
pun sudah ambil putusan akan laku kan pertempuran yang
memutuskan. Maka titah pesan telah disampaikan kepada
semua ang gota, siapa saja bisa mencemarkan namanya tua
bangka Ong Too Liong itu, dia akan diberikan hadiah

besar, dan siapa yang tidak sanggup melawan, dia mesti


bisa pancing si tua bangka datang ke Cap jie Lian hoan
ouw, untuk Hio cu sendiri yang tempur padanya. Siapa
tidak sanggup melawan, dia mesti mundur teratur.
Mengenai Liok Cit Nio, dia memang ada memalui. Dan
mengenai Hong Lun si tua bangka, baik kau sabar, dia
sekarang ada orang andalan Pusat Umum, kita belum dapat
berbuat sesuatu apa terhadapnya, tunggu saja sampai
datang saat yang baik nanti
Sebenarnya tee cu datang kemari dengan pengharapan
su siok membantu padaku, kata Ma Liong Jiang. Adalah
ha rapanku, selagi Eng Jiauw Ong belum keluar dari
Hoolam ini, susiok nanti melayani dia, untuk sinarkan pula
muka terangku, agar tua bangka she Hong itu tidak
pandang rendah pula kepadaku, maka sayang sekali, su siok
juteru sedang menjalankan tugas berat. Tentu saja tee cu
tidak berani minta suatu apa kepada susiok. Malu tee cu
akan taruh kaki lebih lama di See hoo ini.
Kau sabarlah, Cin Pang bilang. Sebenarnya akupun
ingin menemui ketua dari Hoay Yang Pay itu. Jikalau nanti
sudah selesai tugasku, kau kirim orangmu kepadaku, kau
jelaskan dimana adanya Eng Jiauw Ong, nanti kita cari dia
untuk turun tangan.
Liong Jiang girang, ia meng ucap terima kasih. Ia segera
mengundurkan diri akaa pencar orang2 nya keempat
penjuru, akan cari tahu dimana beradanya Eng Jiauw Ong.
Dan ketua Hoay Yang Pay itu telah dapat diketemukan
dijalanan Kay san kauw, terus dia dikuntit sampai di Kian
hoo tian, sampai dihotel Hauw Kee Tiam. Si penguntit
girang, karena didalam rumah penginapan itu dia ada
punya kawan sesama anggota Hong Bwee Pang, yang
menyamar jadi jongos.

Sejak Tiam lam It Souw Bu Wie Yang bangunkan pula


Hong Bwee Pang, dengan mengadakan Lwee Sam Tong
atau Tiga, Gedung Dalam, dia telah tambah segala
kekurangan, dia memperluas sepak terjangnya, demikian
kalau dulu dia cuma main diair, sekarang juga didarat,
dengan pentang sayap sampai di rumah penginapan.
Song Jie adalah jongos yang menjadi anggota Hong
Bwee Pang itu, dia lalu dipesan, akan pasang mata terhadap
Eng Jiauw Ong dan rombongannya, si penguntit sendiri
segera pulang untuk memberi laporan kepada Ma Liong
Jiang. Ketua ini girang berbareng masgul. Girang karena ia
ketahui dimana adanya musuh, masgul sebab ia tak dapat
turun tangan sendiri, paman gurunya sedang repot.
Diwaktu mahgerib itu, selagi ia dalam ke ibukan, ia lihat
pamannya pulang dengan air muka terang, tidak tempo lagi
ia berikan kisikannya perihal laporannya mata2nya.
Barangkali malam ini kita bisa turun tangan, berkata
Cin Pang kemudian, sesudah ia berdiam sekian lamanya.
Pertemuan ini dilakukan diatas perahunya Cin Pang,
siapa terua berbangkit seraya berkata pula Mari kita
ketemui yang lain2 untuk berdamai, barangkali mereka
dapat setujui kita dan suka bekerja sama.
Paman ini ajak keponakarnya itu pergi keperahu besar
dimana ada tiga to cu kepada siapa, menuruti aturan, Liong
Jiang memberi hormat, setelah pamannya duduk, ia berdiri
dipinggiran.
Ouw Loosu, kata Gui Cin Pang, kedatangan kita ke
Kang lam ini ada kebetulan sekali. Di luar dugaan, disini
pihak kita sudah kebenterok dengan Hoay Yang Pay. Ie bun
to cu Tie dan Shong Loosu sudah culik muridnya Eng
Jiauw Ong, untuk dibawa kepusat kita. Karena ini, semua
orang kita disini telah mesti turun tangan. Bukankah Hio cu

pun telah keluarkan titah akan lawan musuh atau, kalau


tidak bisa, pancing musuh datang kepusat kita? Dalam hal
ini, See Gak Pay ada tersangkut paut, karena mana, kita
jadi tambah satu musuh tangguh, Tie Cin Hay dan Shong
Ceng sangat cerdik, aku tidak mengerti kenapa dia
menambah permusuhan.
Orang yang dipanggil Ouw Tocu itu kerutkan dahi, ia
lirik Liong Jiang.
Semasa baharu sampai dipe batasan Hoolam-Anhui,
aku telah dengar hal itu, sahut ia kemudian. Sekarang ini
urusan kita masih belum selesai, kita tidak mempunyai
kelebihan tempo untuk urus juga itu. Tapi Gui Loosu, apa
yang sudah terjadi diantara Hoay Yang Pay dengan orang2
kita dari bahagian Barat ini?
Gui Cin Pang tuturkan bentrokan yang sudah terjadi
sebegitu jauh.
Jikalau tugasku di Barat ini, tak bisa aku antapkan Liok
Cit Nio dengan sepakterjangnya itu, nyatakan Ouw To cu
ke mudian. Sekarang Cit Nio sudah kabur, tapi kita seperti
telah pinjam tenaganya pihak Hoay Yang Pay, sebenarnya
aku kurang setuju. Hong Lun ada terpercaya, iapun cukup
tangguh, sayang dia biarkan saja Cit Nio beraksi. Asal dia
mau, dia sebenarnya dapat mencegahnya. Kalau nanti aku
sudah pulang ke Cap jie Lian hoan ouw, aku akan bertindak
untuk beri peringatan pada Hong Lun, supaya dia rem
sedikit gerak geriknya terlebih jauh.
XXVIII
Loosu benar, Cin Pang kata pada rekannya itu. Liong
Tauw Pang cu telah adakan aturan keras, untuk kita jaga
kehormatan, agar musuh tak dapat cela kita. Aku tidak
sangka, masih saja ada anggauta2 kita yang main gila.
Mengenai Eng Jiauw Ong, aku anggap, sedikitnya dia mesti

dikasi rasa. Menurut Liong Jiang, sekarang dia masih


belum berlalu dari daerah ini, aku pikir untuk tidak kasi
lewat ketika yang baik ini. Tentang halnya Liok Cit Nio dan
Hong Lun, biar kita serahkan mereka pada undang2 kita.
Bagaimana Ouw Loosu pikir apabila kita mencoba bikin
agar Hoay Yang Pay tidak pandang hina lebih jauh pada
pihak kita?
Sebenarnya aku pun ingin menemui Eng Jiauw Ong,
kata orang she Ouw ini, sesudah dia berdiam sekian lama.
Tapi urusan kita masih belum selesai, orang kita juga tidak
cukup, mana kita punyakan kelebihan tempo untuk layani
dia?
Aku rasa tenaga kita cukup juga, Cin Pang bilang.
Turut penyelidikan, pihak See Gak Pay belum menyertai
pihak Hoay Yang Pay ini, itu artinya kita kurangan satu
lawan yang tanggu. Sekarang Eng Jiauw Ong singgah di
penginapan Hauw Kee Tiam di Kian hoo tian, yang tak
terpisah jauh dari sini, disana ada satu orang kita, apabila
kita bisa turun tangan, kita jadi mendapat keringanan
banyak. Aku pikir, apabila tugas kita selesai sebelum jam
dua, kita bisa terus berangkat kehotel itu, kita bisa kerja
disana kira2 jam tiga. Bagaimana to cu pikir?
Orang she Ouw itu bukannya tak sudi mengangkat
namanya dibagian Barat ini, tetapi dia sangsi. Dia tahu
benar Eng Jiauw Ong sangat kesohor untuk kepandaiannya
Sha cap lak louw Sin ciang, tidak mudah untuk dilayaninya.
Akan tetapi sekarang Cin Pang desak ia, ia malu untuk
menolak terus menerus, dia tak Ingin sahabat ini
memandang rendah padanya. Selagi ia belum sempat jawab
Cin Pang, Tocu Nio Hong, yang berada di antaranya,
campur bicara.
Ouw Loo su, kata rekan Ini, jikalau Eng Jiauw Ong
ada di Kian hoo tian, ini ada saatnya yang baik untuk kita

turun tangan. Bukankah didalam dapur api itu ada orang


kita? Bukankah loosu sendiri ada bekal obat tidur dari Kok
Hio cu dari Ceng Loan Tong? Inilah satu keringanan!
Kenapa kita tidak mau gunakan obat itu untuk rubuhkan
Eng Jiauw Ong? Jikalau kita pakai obatnya, Kok Hio cu
tidak akan tegur kita. Disini pun ada mengenai urusan
kaum kita.
Heng tong To cu Ouw Can lantas saja tertawa.
Jikalau kau tidak timbulkan, sahabatku, hampir aku
lewatkan ketika yang baik ini! berkata ia. Memang obat
ini diperuntukkan kaum Hoay Yang Pay. Beruntung adalah
si niekouw tua dari See Gak Pay, dia bisa lolos! Lalu ia
tambahkan pada Ma Liong Jiang Sebentar sebelum jam
tiga, bila kita sudah selesaikan tugas kita, bukannya tidak
cukup, malah kita kelebihan orang untuk dipakai.
Sebenarnya beruntung bagimu. Kalau orang yang kami cari
tidak berada didalam daerahmu, datang saja kesini pun
kami tak sudi. Karena kami kekurangan orang, sebentar kau
harus membantunya. Ini ada urusan penting sekali, yang
tak dapat dicampuri sembarang orang. Aku harap, pada
kurang lebih jam tiga, tugas kami akan sudah selesai, lantas
kita bekerja di Kian hoo tian. Orangmu itu, si orang she
Song, mesti cerdik dan pandai bekerja.
Jangan kuatir, Ouw Loosu, jawab Liong Jiang.
Orangku itu tak punya kepandaian akan tetapi dia pandai
bicara dan cerdik.
Baiklah, Ouw Can manggut Terus ia merogo sakunya
akan keluarkan satu lopa2 Pie yan nu, yang tingginya hanya
satu dim lebih, sebesar jari tangan, sambil menyerahkahnya
pada See hoo to cu, dia berkata. Simpan ini baik2, inilah
obat pemberiannya Kok Hio cu dari Lwee Sam Tong.
Untuk kesempurnaannya tugas kita, kita mengandal pada
obat ini. Kau tahu sepuluh aturan suci dari perkumpulan

kita. Siapa juga bisa masuk menjadi anggauta, asal ada


orang perantaraannya, tetapi dipantang keras kita
memasukkan bangsa kemaruk paras elok. Dan ada dilarang
keras untuk kita sembarang gunai obat pules semacam ini.
Kok Hio cu sendiri dapatkan obat ini dari tangannya
seorang kang ouw murtad, sudah lama dia simpan saja,
belum pernah dia pakai, tetapi sekarang perkara ada besar
sekali, sampai Liong Tauw Pang cu bersumpah akan
singkirkan orang yang tersangkut, dan Kok Hio cu sendiri
kuatirkan orang kembali lolos, terpaksa dia gunai obatnya
ini. Diapun memberikan sangat sedikit kepadaku, yang
dipesan untuk menyimpan nya dengan baik2, malah aku
dipesan juga, bila masih bisa dengan jalan lain, tak boleh
aku gunai ini. Tapi sekarang biarlah kita pakai. Pesanlah
orangmu, jang air dia mencampuri ini didalam arak, sayur,
mie atau nasi, karena orang kang ouw pandai tak dapat
diabui, dia mesti campur didalam air teh. Orangmu itu
sudah berjasa asal dia dapat rubuhkan musuh kita itu,
setelah itu dia boleh berlepas tangan, karena kita akan pergi
kehotelnya untuk rampungkan pekerjaan selanjutnya.
Umpama kita terlambat, atau dia bekerja lebih cepat, dia
mesti segera mengasi kabar pada kita. Diwaktu malam,
pasti aku akan kirim perahu untuk menantikan dia. Nah,
pergi kau gunai perahu cepat buat berikan titahmu, setelah
itu, kau lekas kembali padaku.
Liong Jiang sambuti obat, dia terima pesan itu, lantas dia
undurkan diri. Dengan perahu cepat ia kembali ke Kian hoo
tian. Ia tidak berani datang sendiri kehotel, ia utus orang
untuk memanggil Song Jie, kepada siapa obat mana
diberikan sambil menerangkan cara pakainya, seraya
anggota ini dipesan wanti2 mesti bekerja hati2.
Song Jie terima obat itu, ia berikan janjinya.

Setelah mana, Ma Liong Jiang lantas kembali


kepusatnya, pada rombonganhya Ouw Can. Ia sampai
diwaktu mahgerib, selagi orang baharu habis bersantap.
Lekas kau siapkan dua buah perahu cepat, Heng tong
To cu kasi perintah. Kau sediakan hio, lilin dan ciaktay
lengkap. Dua perahuku sendiri, seberangkatnya kami, mesti
menantikan didekat pelabuhan Kian hoo tian. Pesan supaya
jangan pasang hio tin, agar orang tak mengenali perahu
kaum kita. Kau mesti pilih anak buah yang pandai, kita
hendak bekerja malam, kita tak boleh gagal.
Liong Jiang berikan janjinya tanpa ia berani tanya
perahu hendak dipakai pergi kemana. Dia pun perintah dua
perahunya ketua itu mesti pergi kearah yang dipesan.
Ketika sudah berangkat, rombongannya Ouw Can terdiri
dari enam orang. Sebenarnya dia berombongan bertujuh,
akan tetapi dua kawannya belum sampai. Diantara
perbekalan lilin dan lain2, Nio To cu pun bawa satu
bungkusan yang nampaknya berat. Bungkusan itu sangat
menarik perhatiannya Liong Jiang, tetapi siapa diam saja.
Ia merasa seram sendirinya melihat wajah orang yang
muram semua. Dengan membungkam dia jalan disisi
paman gurunya.
Kapan perahu sampai ditikungan yang bercabang, anak
perahu tanya, mereka harus menuju kemana.
Ke kaki Hok Gu San, berlabuh di Cit seng tong! ada
jawaban atau titahnya Ouw Can, si ketua pengadilan.
Dengan gesit, anak buah perahu gayu kendaraannya
kearah Barat Selatan.
Malam itu hujan rincik2, langit ada gelap, bintang2 tak
bercahaya. Disitupun tidak ada perahu lainnya, tidak ada
sekalipun yang sedang berlabuh. Tetapi anak buah perahu

rombongan ini pandai sekali, suara gayuan mereka adalah


se mengga2 suara yang memecah kesunyian sang malam
gelap petang itu.
See hoo tocu Ma Liong Jiang memasang mata kearah
depan tetapi ia tak lihat apa juga. Adalah setelah mendekati
Cit seng tong, segera ia ingat bahwa per nah dahulu dia
mendatangi tempat itu, suatu dusun mencil dan kecil,
penduduknya, selain belasan nelayan, adalah kuli2 parit
dari gunung Hok Gu San. Disitu ada enam atau tujuh
rumah hina serta satu sarang judi yang laku sekali, karena
tengkulak2 ikan dan kuli2 parit, pemimpinnya juga, yang
tak tahu bagaimana harus gunai uangnya, suka lewatkan
tempo dengan pelesiran adu peruntungan, hingga disitu pun
ada hidup golongan buaya darat, yang tuntut penghidupan
secara mengacau, hingga sering terjadi kegaduhan dirumah
judi itu.
Dengan merasa terkejut, Liong Jiang duga, tentulah
anggota murtad dari Hong Bwee Pang yang hendak
ditawan itu, sedang sembunyikan diri di dusun mencil ini.
Segera Ouw To cu perintah perahu dihentikan ditepi lagi
sepanahan dari Cit seng tong tempat yang sangat sunyi,
disitu perahu mesti menantikan, diantara hujan rintik2
mereka mendarat dan berjalan dijalanan yang sukar.
Mereka gendol semua bekalan Ouw Can berjalan dimuka.
Hawapun dingin sekali.
Jalan jauhnya setengah lie, mereka sampai disebuah kuil
tua yang tidak terlihat dari jauh, sesudah dekat, baharulah
tertampak tegas. Disitu segera muncul satu orang.
Dari dalam rombongan lantas muncul dua orang, ialah
dua dari Gak yang Sam Niauw atau Tiga burung dari Gak
yang, Mereka adalah Tong Hoo Couw dan Liok Hong

Ctu. Mereka hampirkan orang dari kuil itu, untuk memberi


tanda rahasia.
Nyata orang kuil itu adalah Coan In Yan cu Lauw Cong,
termuda dari Gak yang Sam Niauw, yang bertugas secara
rahasia di Cit seng tong.
Kau telah kembali, Lauw Loo sam, apa kabar? tanya
Ouw Can setelah iapun menghampirkan.
Urusan berjalan lancar, sahut Lauw Cong. Siauw
chee coa Ciauw Soat Go, si Ular Hijau, dan ibunya, terima
baik usul kita dan mereka berjanji akan bekerja dengan
sempurna. Mereka cuma minta kita siapkan banyak orang,
yang mesti segera turun tangan apabila mereka sudah
memberi tanda. Mereka cuma minta supaya mereka sendiri
bebas dari marah bahaya. Mereka kuatir, kalau dia keburu
sadar dari pengaruh arak, dia nanti mengganas.
Kemudian Lauw Cong mengundang masuk.
Sekarang Liong Jiang bisa lihat, itu adalah kuil melaikat
gunung, sebuah kuil yang tak terurus, sampaipun patungnya
tak dapat dikenali, melainkan sebuah mejanya, yang masih
utuh. Di pojok Timur, tembok pun sudah gempur.
Penerangan adalah sebatang lilin yang ditancap diatas meja,
pelelehan lilinnya sudah bertumpuk. Itupun menyatakan
Lauw Tong berdiam disitu sudah cukup lama.
Gui Cin Pang perintah Liong Jiang lantas atur lilin dan
lain2 untuk bersembahyang, dan Ouw Can titahkan Liok
Hong Ciu keluarkan Sin cie dari Kay San Couw su, pendiri
kumpulan, diatas meja sembahyang itu, ia sendiri yang
menaruhnya dengan hati2. Karena sin cie dibungkus kertas
merah, Liong Jiang tidak tahu sin cie siapa adanya itu.
Setelah meletaki sin cie, Ouw Can berbisik kepada Gui
Cin Pang, sesudah itu, ia kata pada Liong Jiang Kau

berdiam disini jagai ruangan suci ini. Kau harus insaf,


malam ini adalah malam yang Hong Bwee Pang kita
hendak jalankan aturan rumah tangganya, untuk menjaga
nama baik kita. Kau sendiri harus hormati undang2 kita,
maka janganlah kau berani sembarangan berkisar dari sini!
Lalu, tanpa tunggu jawaban, Ouw Can ajak
rombongannya keluar dari kuil itu akan pergi ke Cit seng
tong.
Liong Jiang menjublek menunggui San Sin Bio, kuil
malaikat gunung, yang penuh debu itu. Sejak ia memasuki
Hong Bwee Pang, cuma satu kali ia pernah saksikan
upacara, ketika ia disumpah sebagai anggauta. Dan selama
menjadi anggauta, ia tak tahu couwsu apa yang mereka
puja. Sekarang ada ketikanya buat ia mendapat tahu, asal
dia mau bentet sin cie diatas meja abu itu. Tapi ia tidak
berani berbuat demikian. Dia takut terhadap Heng tong
tocu Ouw Can, ketua pengadilan itu, yang licin dan
telengas.
Dia tugaskan aku menjaga disini, siapa tahu apabila
diapun pasang orang untuk intai aku? demikian ia pikir.
Karena ini, ia buang pikiran untuk lihat sin cie itu, ia
siapkan goloknya dan menjaga dengan sungguh disebelah
dalam pintu, setindakpun ia tak berani berkisar.
Kira2 satu jam telah berselang. Sang hujan masih terus
turun rintik2 dan angin dingin menghembus kedalam
berulang2, membuat api berkelak kelik, saban2 hampir
padam. Satu kali, ketika api jadi demikian kecil, Liong
Jiang lompat mengham pirkan seraya ia ulur tangannya,
maksudnya untuk alingi api itu, guna cegah jangan sampai
padam. Tapi baharu ia ulur tangannya, atau satu bayangan
melesat masuk dari luar, gerakannya gesit luar biasa,
sekejab saja bayangan itu telah sampai dibelakanguya. Ia

kaget dan curiga, segera ia loncat kesamping kiri, menyusul


mana, sebelah tangannya dipakai menyerang.
Bayangan itu segera berkelit kekanan.
Ma Loosu, aku! ia perdengarkan suara.
Siapa? tanya Liong Jiang, yang urungkan
serangannya. Sambil berbuat demikian ia pun awasi
bayangan itu, hingga ia kenali Siauw Thio Liang Siauw
Cun. Ia jadi tidak puas, di dalam hatinya ia kata Kau
keterlaluan, sahabat. Benar aku ada to cu cabang tetapi
dengan kau, kedudukanku ada berimbang, disini aku ada
sebagai ketua, kenapa kau begini tak memandang mata
kepadaku? Karena mendongkol, ia terus kata Sungguh
kau liehay, Siauw Loosu! Tapi kau berada ditempat gelap,
aku ditempat terang, maka kau pasti telah lihat jelas sekali,
aku bukannya tak berani tak taati pesan dari Ouw Loo cian
pwee! Kenapa kau muncul secara demikian mendadak
dibelakangku? Bagaimana bila aku keliru menyerang kau,
karena salah anggap kau sebagai lawan? Bagaimana kalau
aku salah tangan dan kena lukai kau? Pastilah walaupun
aku ada punya seratus mulut, tak bisa aku bela diri!
Tidakkah demikian, loosu?
Siauw Cun merah, muka dan kupingnya karena teguran
tajam itu. Memang ia ditugaskan Ouw Cari untuk tilik Ma
Liong Jiang tetapi ia sudah terburu napsu. Tetapi lekas2 ia
mencoba perbaiki diri.
Jangan curigai aku Ma Loosu, kata ia dengan sabar.
Memang akuv datang masuk secara sangat kesusu, hingga
kau jadi sangsikan aku. Harap loosu ketahui bahwa kita ada
sesama orang Hong Bwee Pang, yang hidup atau mati.
mesti bersama, tak dapat kita saling mencurigai, biar
bagaimana sedikit juga. Aku datang untuk bersiap sedia,

semua loosuhu sudah berhasil dengan usahanya, segera


mereka akan kembali!
Ma Liong Jiang kasi dengar suara dihidung, ia tidak
menjawab.
Siauw Cun insaf atas kekeliruannya.
Ma Loosu, tahukah kau, siapa yang malam ini telah
lakukan pelanggaran demikian besar hingga dia mesti
dihukum mati? tanya ia, dengan suara manis. Aku ada
satu tauwbak kecil bahagian luar, mana aku berani lancang
mencampur tahu urusan termasuk rahasia dari Pusat
Umum? Liong Jiang baliki, sikapnya acuh tak acuh.
Sekarang si orang jahat sudah kena ditawan, tak usah
lagi kita takut akan bocorkan rahasia, kata Siauw Cun
sambil bersenyum. Jikalau aku sebutkan namanya dia itu,
mungkin Ma Loosu pun ketahui dia. Anggauta yang
lakukan pelanggaran hebat ini, yang menyebabkan dia
terancam bahaya kematian, adalah Siang tauw niauw Kiang
Kian Houw.
Ah. Liong Jiang berseru tanpa sengaja. Bagaimana
Siang tauw niauw Kiang Kian Houw bisa lakukan semacam
pelanggaran? Loo suhu ini semasa di Kanglam sudah
pernah lakukan usaha2 besar untuk kaum kita, ketika dia
mengetuai kaum Rimba Hijau dipermukaan air, namanya
sangat kesohor, dibawah kendalinya sendiri dia ada punya
empat puluh lebih perahu cepat yang memakai bendera
Burung Terbang. Ketika dia baharu masuk dalam Hong
Bwee Pang, karena dia ada punya demikian banyak perahu,
dia dianggap berjasa dan Liong Tauw Pang cu kita ada
sangat hargai padanya, hingga dia telah di hadiahkan
sebuah Tiat coan pay istimewa. Dengan tunjukkan tanda
rahasia itu, dimana saja dia sampai, Kiang Kian Houw
berhak menitahkan sesuatu anggauta setempat, hingga

didalam kaum kita, dia adalah salah seorang dengan


kedudukan luar biasa. Memang, ketika aku mulai membuat
anjuran di Barat sini, aku dengar orang cerita, Kiang Kian
Houw ada melakukan suatu apa hingga Liong Tauw Pang
cu tarik pulang Tiat coan pay nya itu, atas mana katanya
dia mulai kendalikan dirinya sendiri, maka aneh, kenapa
sekarang dia berdosa besar Inilah aneh....
Tidak ada yang aneh, Ma Loosu, berkata Siauw Cun.
Jikalau Kiang Kian Houw tahu diri, tidak nanti terjadi
seperti hari ini. Dia memang bertabeat aneh, dia terlalu
mengagulkan diri sendiri, sesudah Liong Tauw Pang cu
berikan dia nasihat, dia justeru semakin jadi binal, dia
justeru melakukan segala apa yang dilarang kaum kita.
Terang dia mencoba merusaki aturan2 kita, untuk melihat
apa kita bisa bikin terhadapnya. Sayang kepandaian dan
kecerdikannya Kiang Kian Houw, dia tak kenal baik
sifatnya Liong Tauw Pang cu. Pang cu kita ada tegas, dia
tak tahu takut, dia berani lakukan segala apa, kata2nya
mesti diwujudkan, maka itu, mana Pang cu bisa
membiarkan anggotanya yang melanggar undang2 yang
berbuat dengan merusak nama baik Hong Bwee Pang?
Begitulah, dalam murka nya, Liong Tauw Pang cu sudah
ambil putusan akan hukum anggota yang murtad dan
berkhianat itu. Lihat, Ma Loosu, apa Kian Houw bukan
cari matinya sendiri?
Liong Jiang mangut.
Itulah beralasan, kata dia.
Jikalau Kiang Loosu tahu diri, tidak nanti menjadi
begini rupa. Tapi dia gagah, dia bukan orang sembarangan,
untuk tawan dia pasti sulit sekali
Dia sudah masuk perangkap, tak nanti dia bisa lolos
pula, tidak ada halangannya bila aku bercerita sekarang.

Siauw Cun menjawab pula. Kiang Kian Houw penggemar


paras elok. Dia tahu yang kaum kita tak akan mengantap
padanya, dia kabur dari Kanglam, dan umpatkan diri
disekitar Cit seng tong ini. Kalau dia terus bersembunyi,
tidak gampang untuk cari dia, mungkin dia dapat
menyingkir kelain tempat pula. Apamau dia tidak bisa
buang kegemarannya itu. Disini dia telah kangkangi Siauw
chee coa Ciauw Soat Go, satu bunga latar yang kesohor,
keduanya katanya ada sangat menyinta satu dengan lain,
hinga tak dapat mereka tak menikah, adalah karena
berdiamnya dia dirumah hina, dia dapat diendus oleh salah
satu saudara kita, hingga kesudahan nya Ouw Loosu
datang kemari. Kebetulan Kiang Kian Houw sedang gila
perempuan, Ouw Loosu tidak sia2kan ketika yang baik ini.
Ibunya Ciauw Soat Go telah dipanggil datang, dia ini
dibujuk berbareng diancam, untuk bekerja bersama.
Kami ada orang2 polisi rahasia dari Kang leng hu,
Kanglam, begitu Ouw Loosu gertak perempuan tua itu,
kami sedang cari satu penjahat besar yang sudah lakukan
dua puluh lebih perkara jiwa, yang telah bisa bongkar
perijara dan buron kemari, malah kami tahu, dia sembunyi
dirumahmu. Kau tahu, dengan begini, kau bisa terbawa2,
tetapi kamipun insaf, dengan pekerjaanmu ini, kau cuma
tahu layani siapa yang banyak uangnya, dari itu, kami pikir
untuk tolong padamu, hanya untuk ini kau sebaliknya harus
berbuat suatu apa juga untuk kamu ketahui olehmu, kau
mesti bisa simpan rahasia, apabila, penjahat. itu kabur
sebelum dia ditawan, kaulah bertanggung jawab, kau bakal
didakwa berkonco dan sembunyikan orang jahat, bahwa
kau telah makan sogokan, hingga kau bakal ditangkap juga!
Jikalau kau dibekuk, perhatikanlah kepalamu!
Kaget bahtauw itu mendengar ancaman itu, maka dia
sudah lantas berjanji akan berikan bantuannya. Maka itu

Ouw Loosu lantas mengajarkan dia bagaimana mesti


bertindak, supaya penjahat besar itu bisa ditangkap.
Siauw chee coa Ciauw Soat Go, si Ular Hijau, sudah
sumpah akan menikah dengan Kiang Kian Houw,
sebenarnya dia mengharapi kekayaannya orang she Kiang
itu, sekarang dia dapat tahu bahwa dia bakal terbawa2, dia
bisa mendapat susah, dengan lantas dia ubah pikiran. Dia
bersedia akan bantu Ouw Loosu, yang dikiranya benar ada
dari pihak polisi. Begitulah, dengan berlaga, dia semakin
hunjuk cintanya pada Kian Houw, dia kasi tahu bahwa dia
sudah dapat perkenan dari ibunya untuk nikah orang she
Kiang ini, untuk kemudian tuntut penghidupan putih
bersih. Untuk ini, ia kata ia hendak adakan perjamuan, ia
ingin berkaul, sebab tadinya ia menyangka, ia bakal tidak
mampu, angkat diri dari dalam pecomberan. Kiang Kian
Houw percaya kekasihnya ini, ia setujui perjamuan itu, ia
yang perintahkan siapkan meja perjamuan, yang istimewa.
Selama makan minum, Ciauw Soat Go keluarkan semua
kepandaiannya, akan bikin Kian Houw lupa daratan.
Dalam keadaan seperti itu, Ouw Loosu tidak berani
memakai obat tidur dari Kok Hio cu, dia kuatir Soat Go
sembrono atau Kian Houw yang cerdik curiga, apabila
sampai Kian Houw bisa lolos, selanjut nya akan sangat
sukar untuk cari pula padanya. Dasar takaran kejahatannya
sudah luber, Kian Houw kena dilagui oleh Soat Go, ia kena
diloloh hingga lupa daratan, hingga dengan gampang sekali
ia kena diringkus. Tadi masih siang, Ouw Loosu tidak
berani sembarang angkut orang tawanan itu, dia kuatir
dicurigai orang luar, maka itu dia menunggu sampai
sekarang. Ouw Loosu mengambil jalan mutar untuk sampai
kemari.
Mendengar sampai disitu, redalah kemendongkolannya
Ma Liong Jiang. Ia jadi mau percaya, orang bukan

ditugaskan istimewa untuk intai dia, bahwa orang benar


telah datang secara tergesa2 sekali, untuk sampai terlebih
dahulu.
Benar saja, tidak berselang lama, diluar terdengar
tindakan kaki.
Sudah datang! Siauw Cun kata seperti berseru, segera
ia bertindak keluar dengan terburu, sedang Liong Jiang pun
mengikuti
Sesampainya
diluar,
mereka
melihat
serombongan orang sedang mendatangi. Keduanya lantas
berdiri menantikan dikiri dan kanan pintu.
Dari rombongan yang sedang mendatangi itu, sekonyong
satu orang mencelat keluar, cepat sekali dia telah sampai
didepannya Siauw Cun dan Liong Jiang berdua, hingga dia
dikenali sebagai Coan in Yan cu Lauw Cong, salah satu
dari Gak yang Sam Niauw.
Sudah siap? dia tanya Siauw Cun. Akan tetapi tanpa
tunggu jawaban lagi, ia lari terus kedalam. Cepat luar biasa
ia sudah lantas lari keluar pula, terus kepada rombongannya
tanpa dia menoleh kekanan kiri.
Sungguh Ouw To cu yang licin! kata Liong Jiang
didalam hatinya. Dia tugaskan aku, untuk menjaga disini,
tapi dia tak percaya padaku. Terhadap orang demikian licin,
aku mesti waspada
Selagi to cu she Ma ini berpikir, rombongan itu sudah
sampai didepannya. Yang bertindak terdepan adalah Gak
yang Sam Niauw dengan goloknya ditangan masing2, lalu
Kui Liong Tek yang tubuhnya jangkung dan tenaganya
besar, dibebokongnya, menggendol Siang tauw niauw
Kiang Kian Houw. Dibelakang dia ini ada si ketua she
Ouw. Gui Cin Pang jalan paling belakang dengan dikiri
kanannya mengiringi dua anggota. Rombongan ini
langsung masuk ke dalam kuil.

Ma Liong Jiang dan Siauw Cun mengikuti dipaling


belakang, ketika mereka sampai didalam, Siang tauw niauw
Kiang Kian Houw, si Burung Kepala Dua, sudah diletaki
didepan meja sembahyang. Dia dikeredongi kain putih
dibagian atas, terang sekali dia terbelenggu sebagaimana
kedua kakinya dilibat dengan tambang yang kuat.
Agaknya Kian Houw sudah sadar akan tetapi dia tak
dapat bergerak.
XXIX
Tidak lama, menyusul suara tindakan kaki yang ramai,
muncul empat anggota, yang menghadap pada Heng tong
To cu Ouw Can, untuk menanya hendak diberikan tugas
apa lagi.
Selagi kau tancap .bendera di Cit seng tong, ada apa2
yang mencurigai atau tidak? Ouw Can tanya.
Jangan kuatir, to cu, sahut salah satu anggota. Kami
bekerja secara luar biasa bersih nya. Kecuali apa yang
terjadi dirumahnya Siauw Chee Coa, diseluruh Cit seng
tong ini kami tak meninggalkan bekas2 apapun juga.
Nampaknya to cu itu puas, air mukanya pun terang
sekali. Dengan matanya yang tajam ia pandang seluruh
ruangan, kemudian ia awasi empat anggota itu dan berkata
Kau sekalian masih harus berikan tenagamu!
Kemudian ia kata pada dua pengiringnya Disini tak ada
lagi tugasmu, pergi lekas kembali keperahu untuk menjaga
disana!
Dua orang itu memberi hormat dan terus undurkan diri.
Ouw Can awasi pula empat anggotanya dan kata Untuk
pergi ke Go Gu San masih ada sebuah jalan terang dan dua
jalan gelap. Jalan terang itu ialah arah Selatan tempat

perhentian perahu kita. Disana ada sebuah jalan yang


nembus kepusat Kian hoo tian. Pergi kau kesana dan
memecah diri untuk pasang mata. Apabila kau lihat ada
orang Rimba Hijau, pancinglah mereka ke Cit seng tong,
jangan ijinkan mereka menuju kesekitar kuil San Sin Bio
ini. Apabila ada orang datang dekat, mereka bisa lihat
cahaya api disini dan bisa mendatangkan kecurigaan
mereka. Jagalah agar tak seorangpun juga dapat
melihatnya, apabila kau alpa, ingat aturan kita yang keras!
Empat anggota itu terima tugas ini, mereka lantas
mengundurkan diri.
Diam2 Liong Jiang merasa puas, karena ia tak dapat
tugas. Ia ketahui, semua enam anggota tadi adalah mereka
yang dari rombongan permukaan air. Dengan demikian ia
jadi dapat ketika untuk saksikan pemeriksaan dan akan lihat
hukuman entah hukuman apa bakal di jalankan. Ia baharu
kegirangan sendiri atau Ouw To cu menoleh padanya.
Ma To cu, berkata ketua pengadilan itu, Kita hendak
lakukan pemeriksaan, disini tidak ada tugas untukmu,
karena Liong Tauw Pang cu cuma tugaskan kami bertujuh
saudara. Disana ada satu tempat lagi, yang belum terjaga
ialah tanjakan Too Kho Nia di Selatan kuil ini, jauh nya
sepanahan. Dari atas tanjakan itu, orang bisa mengawasi
keseluruh Go Gu San, bila ada musuh disana, pasti dia
akan menuju kemari. Kita sedang jalankan aturan kita, tak
dapat kita mengijinkan orang luar menyaksikannya, dari
itu, silahkan to cu pergi menjaga disana.
Liong Jiang mendongkol mendengar kata2 itu, karena
terang dia tetap dicurigai walaupun dia ada satu to cu,
tetapi sebelum ia sempat menjawab, Gui Cin Pang sudah
kedipi mata padanya, lantaran mana, ia bersabar.

Baik, to cu, ia menyahut dengan terpaksa. Dengan


menahan sabar sebisa2 ia segera undurkan diri, akan pergi
ketempat yang ditunjuk, yang ia dapati benar ada satu
tempat penting, karena ketika ia mendaki tanjakan, ia bisa
lihat seluruh Go Gu San.
Malam itu ada gelap, hujan gerimis.
Selagi Liong Jiang menoleh kearah San Sin Bio, disudut
Timur selatan kuil itu, ditembok yang gempur, ia tampak
cahaya api. Kecuali sinar itu, ia tak lihat suatu apa, akan
tetapi, hatinya berpikir.
Disana ada tembok gempur, kenapa aku tidak mau
pergi ke sana untuk mengintai? demikian ia tanya dirinya
sendiri.
Aku ingin
hukuman

saksikan

jalannya

pemeriksaan

dan

To cu ini ambil putusan dengan cepat, akan tetapi


sebelum menuju ke San Sin Bio, lebih dahulu ia jalan
memutari daerah penjagaannya itu, apabila ia tidak
dapatkan apa2 yang mencurigai, terus ia menuju kekuil. Ia
mengambil jalanan yang sukar, rumputnya lebat, batunya
banyak yang berantakan. Dia tidak menghampiri tembok
yang gempur, ia hanya pergi kelain sebelah dari mana ia
bisa memandang kesebelah dalam. Untuk kepuasannya, ia
bisa melihat keruangan sin cie dimana orang berkumpul.
Ruangan malaikat gunung itu ada terang sekali, karena
dipasangnya beberapa batang lilin besar. Ouw Can berdiri
didepan, Gak yang Sam Niauw dikanan, dan Gui Cin Pang
bersama Kui Liong Tek dan Siauw Cun di sebelah bawah,
berbaris. Dimuka meja, Kiang Kian Houw bertekuk lutut,
kedua tangannya ditelikung, matanya madap kedalam. Dia
tidak memakai baju. Kecuali angin, kuil ada sangat sunyi.

Karena Ini, walaupun kurang tedas, suara dari ruangan suci


itu dapat terdengar juga.
Liong Jiang memasang mata dan kupingnya.
Segala apa yang kau telah perbuat baik kau akui, supaya
kau tidak usah membikin kita berabe, demikian antaranya
terdengar suaranya Ouw Can, yang rupanya sudah lantas
mulai dengan pemeriksaannya.
Ouw Can, janganlah kau jadi si rase dengan gertakan
macannya, jawab Kiang Kian Houw, yang sudah tidak
berdaya. Teranglah sudah, bahwa sekarang orang tawanan
ini telah sedar benar. Satu laki2 mesti berani tanggung
jawab atas semua perbuatannya. Aku tidak perlu bilang
apa2 lagi, kau boleh hukum aku menurut bunyinya aturan
Hong Bwee Bang!
Kiang Kian Houw! Ouw Can membentak. Didalam
Hong Bwee Pang kau ada satu laki2, maka itu, jangan kau
bikin aku banyak pusing! Kau bukannya anggota baru, kau
tahu sendiri, dari sepuluh aturan besar kita, lima adalah tak
berampun, tiga adalah pantangan. Kau sedang diperiksa,
maka kau harus berikan segala pengakuan, jangan kau
tunggu sampai kami terpaksa korek keterangan dengan
jalan kompesan, itu artinya, sebelumnya binasa, kau mesti
menderita siksaan itu bukan caranya satu laki!
Salah satu dari Gak yang Sam Niauw balingkan
goloknya.
Kiang Lauwtee, kau lihat ini! kata dia. Jikalau kau
berani main gila, lebih dahulu aku nanti kasi rasa dengan
ini!
Salah satu Burung dari Gak yang ini ada Coan in Yan cu
Lauw Cong, si Walet Tembusi Mega, terhadap dia, Kiang
Kian Houw tertawa dingin, tertawa mengejek.

Orang she Lauw, jangan kau banyak laga dihadapannya


Kiang Jie thayya! ia berkata. Ketika dahulu aku masuk
menjadi anggota Hong Bwee Pang, kau masih belum
mendapat nomor! Apa yang aku lakukan, kau tahu, ada
berharga untuk beberapa bacokan, dari itu, sampai sekarang
ini, aku sudah hidup cukup! Dengan apa yang aku lakukan,
walaupun aku tidak sebutkan, terang tak dapat aku hidup
lebih lama, demikian juga apabila aku tuturkan semua,
karena jiwaku tetap satu! Maka Lauw Cong, terhadap aku,
jangan kau bertingkah!
Kata2 itu tajam sekali, karenanya, kupingnya Lauw
Cong menjadi merah, hingga ia sodorkan ujungnya
goloknya.
Fui! Kian Houw meludahi si Walet itu. Kau berani
langgar aturan untuk menjalankan hukuman sesukamu
sendiri? Terangkah kau kurang terdidik! Jikalau tanpa
titahnya Ouw Loosu kau berani ganggu satu saja jari
tanganku, dan Kiang Jie thayya terima siksaan hebat, tak
sepatah pengkuanku kau akan terima! Kau harus mengarti,
pada semua perbuatanku itu, kaupun ada turut terhitung
didalamnya!
Lauw Cong menjadi bertambah malu, dengan terpaksa ia
masukkan goloknya kedalam serangkanya. Ia insaf bahwa
ia sudah bersikap keliru, karena turut aturan, selama
pemeriksaan, orang tak diperbolehkan mendahului hakim.
Pun dengan perbuatannya itu, ia sudah berlaku lewat batas,
sebab biar bagaimana, terdakwa adalah bekas rekan nya,
tak pantas dia keterlaluan, apalagi dia ada anggota lebih
muda. Lacurnya bagi Kian Houw, dia sudah langgar
aturan.
Gui Cin Pang tidak puas dengan perbuatannya Lauw
Cong, tetapi ia lebih tak senang kepada sikapnya Ouw Can
si ketua pengadilan itu. Memang hakim ini ada sangat licik

dan licin. Kenapa dia diam saja selagi Lauw Cong tak bisa
turun dari panggung? Semestinya, siang2 dia sudah cegah
sikapnya Lauw Cong itu. Tapi dia menonton saja! Apakah
yang dia pikirkan dalam hatinya? Ia pun tampak wajah
orang yang suram, tanda dari kelicinan. Maka diakhirnya
tak dapat ia menahan sabar.
Lauw To cu, mengapa kau terburu2 tak keruan? ia
lalu kata pada satu Gak yang Sam Niauw itu. Apakah kau
kuatir terdakwa akan dapat loloskan dirinya? Sekarang ini
Ouw To cu sedang wakili Liong Tauw Pang cu melakukan
pemeriksaan, jangan kita berpandangan cupat terhadap
terdakwa yang sudah insaf dirinya bakal binasa. Silahkan
tocu undurkan diri.
Dengan muka masih merah dan mendongkol sangat,
Lauw Cong mundur ketempat asalnya. Kata2 nya rekan itu
memberi alasan untuk ia undurkan diri.
Baharulah sekarang, Ouw Can perdengarkan suaranya.
Kiang Kian Houw! ia membentak. Kau langgar
aturan, kau berdosa besar, masih berani kau berlaku
jumawa?
Apakah kau pandang hina pada golokku?
Apakah kau anggap golokku tidak tajam? Tahukah bahwa
kau sudah melanggar tujuh rupa pantangan?
Ouw To cu, baik kau kurangkan kata2mu! Kiang Kian
Houw jawab. Aku merasa bahwa aku telah langgar
belasan undang2 kita, tetapi kau mengatakan cuma tujuh,
aku tak akui itu!
Ouw Can tertawa dingin.
Baiklah, sahut ia. Sekarang aku hendak tanya kau.
Kenapa kau lepaskan tugasmu sebagai kepala latihan di
Lian hoan ouw? Kenapa kau meninggalkan Pusat Umum?

Kenapa kau justeru pergi kecabang Sam hun kong dan


disana kau persulit perahu2 dari Pusat Umum?
Itulah sebab aku anggap kau semua kawanan boca yang
tak punya kepandaian berarti! sahut Kian Houw. Kau
sekalian tak punya derajat untuk memegang kekuasaan
besar! Sejak itu aku telah mengambil putusan akan
menunjukkan kepadamu, siapa yang ada punya kepandaian
dan siapa yang tak mampu!
Kau ada jadi to cu, kau langgar aturan, inilah kesalahan
mu yang pertama! kata Ouw Can, yang tak perdulikan
ejekan. Catatlah ini! ia menitah sambil menoleh pada Kui
Liong Tek, yang mendapat tugas tukang catat pengakuan.
Kui Liong Tek memang sudah siap, ia lantas jalankan
pitnya.
Jadi kaulah itu orang yang dahulu bocorkan rahasia
kepada Eng Jiauw Ong hingga empat puluh lebih
saudara2kita terima kebinasaannya bersama dua belas
perahu kita yang muat pasir putih?
Tidak salah! Malah kau masih beruntung,
tentara
negeri masih belum keburu geledah gunung, sedang
sebenarnya aku berniat
memasuki sarangmu untuk
bunuh mampus pada kau semua rombongan rase dan
anjing, untuk bangunkan Hong Bwee Pang!
Hm, satu laki2! Jadinya kau juga yang lakukan
kejabatan dan kekejaman di Sam hoan kong dimana ada
terjadi tiga perkara perkosaan diberikuti pembunuhan, yang
sangat memalukan Hong Bwee Pang! Benar kah?
Benar!
Nah, kau kurangilah penasarannya saudara2 yang kau
jual hingga mereka hilang jiwanya! Kau telah binasakan

satu keluarga tua dan muda, kau telah kangkangi orang


punya anak gadis remaja, benarkah?
Ah, kau terlalu rewel! bentak Kiang Kian Houw.
Lekas kau keluarkan putusanmu!
Kau tak dapat tancap kaki di Sam hun kong, kau buron
ke sekitarnya Souwciu dan Yang ciu, lalu disana dengan
berani kau dirikan Hong Bwee Pang palsu, kau bikin piauw
pou tiruan, kau siarkan ajaran sesat untuk pedayakan uang
orang, kau pun obral rahasianya Hong Bwee Pang.
Bukankah semua itu ada perbuatanmu?
Tidak salah! Tapi itu belum semuanya! sahut Kiang
Kian Houw dengan berani. Kalau kau tidak tanyakan itu
semua akupun tak sudi menyebutkannya!
Kau catat semua ini, kata Ouw Can pada Kui Liong
Tek. Orang she Kiang ini benar ada laki2 sejati! Bawalah
perbal itu kehadapannya, untuk dia bubuhi tanda
tangannya!
Kui Liong Tek menurut, ia bawa catatannya berikut
bakhie somplak kedepannya Kian Houw untuk dibubuhi,
bukan dengan alat tulis, hanya dicap dengan cap tangan dan
kaki.
Ouw Can
kedepannya.

periksa

cap

itu,

yang

telah

dibawa

Kiang Kian Houw, tanya dia, kau sudah langgar


tujuh aturan, tahukah kau hukuman apa kau bakal dapat?
Tak lebih tak kurang hukuman mati dengan memecah
tubuh menjadi tujuh! sahut Kian Houw dengan
sewajarnya saja. Loo Ouw, aku tahu, akan sia2 aku
mohon suatu apa kepadamu, aku satu laki2 sejati, aku
berani berbuat, aku berani bertanggung jawab akibatnya,
ada kepala mesti ada ekornya, sampai pada waktunya aku

tak mundur setindak juga! Sekarang kau jangan pusing lagi,


serahkan golok padaku, nanti aku habiskan jiwaku sendiri!
Ouw Can tertawa dingin.
Aturan perkumpulan bukannya permainan belaka!
kata ia. Jikalau kau diijinkan bunuh diri, kita semua seperti
juga mengabui ketua kita, kita bisa dituduh tidak adil
menjalankan pemeriksaan. Kau harus mengarti, aku si
orang she Ouw adalah orang paling jujur! Kau sudah
langgar tujuh macam aturan, kau mesti jalankan tujuh
macam hukuman, supaya kau bisa dibuat contoh oleh
sekalian saudara2 kita. Jikalau aku turuti kau, maka nanti
boleh terjadi, boleh kita puas lakukan pelbagai kejahatan,
hukuman nya toh melainkan satu kali mati. Dalam
perkumpulan kita, tak ijinkan adanya semacam kejahatan,
yang ada sesuka hati sendiri. Kau lakukan semacam
kejahaatan, kau mesti terima semacam hukuman,
perhitungan mesti di lakukan dengan jelas, satu per satu,
jadi tidak ada sisanya, tak ada kehutangan. Nah, Kiang
Kian Houw, kau terimalah hukuman mu didepan
Couwsu!
Lantas hakim ini berpaling pada Siauw Cun dan
memerintah Loloskan kedua tangannya!
Dengan lantas, dengan goloknya Siauw Cun tabas
tambang pengikatnya Kian Kouw, hingga kedua tangannya
dia ini bisa di pentang, digeraki.
Segera juga, dengan nyaring, Ouw Can kata pada
terdakwa itu Kiang Kian Houw, kau mengertilah! Kalau
sekarang kau masih memikir untuk hidup, itu artinya kau
cari mati sendiri. Tengok aku bertujuh saudara, apa yang
kami cekal dan apa yang ada ditubuh masing2! Kau lihat!
Lantas ketua ini menunjuk pada saudara2nya.

Kiang Kian Houw coba memandang tujuh to cu itu, ia


nampak kecuali senjata tajam ditangan sebelah,
ditangannya yang lain, mereka masing2 siap sedia juga
berbagai senjata rahasia. Jadi umpama kata dia mencoba
menyerang atau lari, tak dapat ia lolos dari berbagai senjata
itu.
Dengan tunduk, kau cuma terima hukuman tujuh kali!
Ouw Can menyambungkan, tetapi apabila kau coba bikin
perlawanan kau akan merasai bacokan seratus golok atau
sedikitnya sembilan puluh sembilan kali! Atau pertama2
saja aku menjadi ketua pengadilan!
Kiang Kian Houw tidak lagi kelihatan kepala besar
seperti tadi2nya.
Ouw To cu, Kiang Kian Houw bukannya bangsa yang
tak tahu malu, kata ia sambil manggut.
Aku tadinya percaya, biarlah aku terima budimu untuk
dilain penitisan, siapa tahu kau sebenarnya ada demikian
busuk dan kejam, baharulah sekarang terbukti tepatnya
julukanmu Tiat sim Ouw Can si Hati Besi! Inilah rupanya
disebabkan pembalasan untukku sudah tiba saatnya
.
Sekarang kau boleh lakukan apa yang kau suka!
Kian Houw turunkan kedua lengannya, tak mau dia
gerak2i itu, akan perbaiki jalan darahnya.
Ketika itu, kecuali Ouw Can, semua enam pasang mata
dari to cu lainnya tak ada satu yang berkesip. Mereka
semua tahu, walaupun Siang Tauw Niauw telah
terbelenggu kakinya, namun Ilmu silatnya sesungguhnya
ada sangat liehay, jikalau mereka bertarung satu sama satu,
sekalipun Ouw Can sendiri, dia tak akan menang diatas
angin.

Ouw Can sudah lantas jemput segabung hio, yang ia


terus sulut diapi lilin, mulutnya kemak kemik, entah apa
yang diucapkan, kemudian segabung hio itu tigakali ia
angkat dan kibaskan kemuka sin cie, sesudah mana, dengan
tiba2 ia banting ke lantai, hingga apinya muncrat meletik
keempat penjuru dan asapnya mengepul. Gerakannya ini
disusul dengan bentakannya yang nyaring Pengkhianat
Kiang Kian Houw, terimalah hukuman yang ke lima.
ditabas sebelah lenganmu!
Belum sampai Ouw Can tutup mulutnya, Coan in Yan
cu Lauw Cong sudah loncat kebelakang nya Kiang Kian
Houw dan tabas sebelah tangannya orang itu. Kiang Kian
Houw menjerit, tapi ia ada sangat kuat. Ia loncat kearah
Lauw Cong dan ulur sebelah tangannya yang masih utuh.
Lauw Cong berkelit, tapi ia kalah sebet, sehingga jari2
tangannya Siang tauw niauw mampir dan nancap pada
punduknya.
Melihat adik angkatnya dalam bahaya, ketua Gak yang
Sam Niauw, Tong Hoo Couw, jadi sangat kaget dan loncat
maju sembari membabat kutung lengannya Kiang Kian
Houw, yang sesudah keluarkan jeritan, lantas rubuh
pingsan. Dilain pihak, Lauw Cong juga rubuh dengan
pundak berlumuran darah dan ditolong oleh kawannya.
Setelah Kiang Kian Houw sedar lagi, Heng tong Tocu
perintah diyalankan terus hukuman, yaitu membacok
tubuhnya Kiang Kian Houw jadi tujuh potong. Sesudah
beres, Ouw Can lantas pasang hio lagi.
Kita tengok kepada Ma Liong Jiang yang menonton dari
tempat persembunyiannya.
Ma Liong Jiang ceburkan diri dalam dunya kang ouw
sejak umur sembilan belas tahun, baharu pada lima tahun
yang lalu, ia masuk jadi anggota Hong Bwee Pang,

pengalamannya sudah banyak, hebat dan tidak hebat, tetapi


pemandangan malam ini adalah pengalamannya yang
pertama yang terhebat. Maka, mau atau tidak, ia jadi jemu
sendirinya terhadap Hong Bwee Pang.
Liong Jiang sedang terbengong ketika angin dingin
samber ia, hingga ia sadar dengan tiba2, ia bergidik. Ia
sedang jalankan tugas, tapi ia ketungkulan nonton,
sekarang orang lain sudah selesaikan kewajibannya, ia
masih berdiri menjublek disitu! Bagaimana apabila ia
dipergoki Ouw Can, to cu yang telengas itu? Maka tidak
tempo lagi ia putar tubuhnya, ia berlari2 dijalan yang sukar
itu, untuk balik ketempat penjagaannya. Beruntung ia
sampai dengan tak kurang suatu apa, hatinya lega bukan
main.
Berdiri ditempat tinggi, Liong Jiang mengawasi kearah
kuil. Ia tak dapat lihat bentuknya kuil, yang terlihat
hanyalah sinar api yang molos dari tembok yang gempur.
Api masih ada terang penghuni kuilpun masih ada. Ia tidak
mengerti mengapa, sesudah tugas selesai, rombongannya
Ouw Can masih belum angkat kaki. Bukankah urusan, di
Kian hoo tian ada penting dan tak dapat diabaikan?
Bagaimana apabila urusan itu sampai gagal? Ia ibuk
sendirinya, ia ada seorang sebawahan, ia tak bisa banyak
bicara. Ia pun tidak berani tinggalkan tempat penjagaannya
itu kecuali dengan perkenannya Ouw Can. Terus ia
mengawasi kekuil, sampai sinar api mulai suram.
Tiba2.
Ma To cu! demikian satu suara.
Suara itu tidak terlalu keras, akan tetapi Liong Jiang
sedang menjublek, ia kaget sampai ia mengeluarkan
keringat dingin, akan tetapi ia masih ingat untuk loncat
setumbak lebih sesudah mana ia berpaling.

Siapa? ia menegur. Aku Co Sam, to cu, sahut suara


orang yang baharu datang itu.
Untuk apa kau datang kemari? Liong Jiang tanya
pula, hatinya tetap kembali.
Aku diperintah Ouw To cu untuk beritahukan pada to
cu bahwa semua loosu sudah berangkat lebih dahulu, a dari
itu to cu dititahkan kau pergi kekuil San Sin Bio guna
benahi semua barang sembahyang, sesudah mana to cu
dipesan untuk menyusul lekas ke Kian hoo tian, Co Sam
menerangkan.
Liong Jiang mendongkol mendengar keterangan atau
titah itu.
Kenapa semua sudah lantas berangkat? kata ia pada
anggota itu. Kenapa orang tak bisa menantikan aku untuk
sesaat saja? Kalau kau tidak datang kemari, tentulah aku
akan menunggu disini seantero malam!
Tentang itu aku tidak tahu suatu apa, sahut Co Sam.
Baiklah sekarang to cu lekas pergi kekuil, untuk kemudian
menyusul mereka.
Baik, mari kita pergi! kata Liong Jiang yang masih
mendeluh.
-oo0dw0ooJilid 4
Maaf, silahkan to cu pergi sendiri jawab Co Sam. Aku
masih bertugas untuk pergi ke sungai di Liu sie tun untuk
menitahkan penjaga2 disanapun berangkat pulang. Ouw To
cu pun larang aku pergi kekuil, dari itu aku tidak. berani
langgar titah Nah, aku berangkat, to cu!
Dan anggota ini segera menghilang ditempat gelap.

Dengan terpaksa, Liong Jiang pergi kekuil, yang telah


jadi kosong, disana tinggal sisa dua batang lilin, karena
yang lainnya sudah padam semua. Yang ada inipun
berkelak kelik antara siuran angin, nampaknya segera akan
padam juga. Suasana sungguh menyeramkan walaupun
Liong Jiang ada seorang kang ouw ulung. Didepan
matanya segera berbayang kejadian hebat tadi. Ia sungkan
masuk kedalam kuil, tetapi ia telah dapat tugas, atau ia
akan langgar perintah, maka mau atau tidak, dengan kertek
gigi ia bertindak masuk. Apabila ia takut masuk, ia juga
akan ditertawai kawannya.
Diatas meja terletak alat sembahyang, berikut kertas
merah penutup sin cie. Suasana sungguh menyeramkan,
hatinya. Liong Jiang menjadi gentar, hingga ia jadi ingat
kepada saitan. Hatinya tengah berkebat kebit, tiba datang
siuran angin yang memadamkan lilin sebelah kiri hingga ia
terperanjat.
Apakah Ouw To cu mestikan aku singkirkan segala
bekas2 ini, yang tak dapat dilihat oleh orang luar? Laong
Jiang beragu sendiri. Lilin tinggal sebatang, baiklah aku
besarkan yang satu lagi
Dan ia mengolah sumbuh lilin itu. Kemudian ia
berdongak memandang keatas. Langit2 kuil itu ada rendah.
Ia bebenah dengan cepat, ia tumpuk semua puntung lilin,
juga kertas lainnya, yang tak diperlukan lagi, setelah mana,
ia sulut itu semua, hingga api lantas berkobar besar,
membikin ruangan itu jadi sangat terang. Sesudah itu, ia
gendol bungkusannya, ia bertindak keluar dengan cepat.
Ketika ia sampai diluar pekarangan dimana ia menoleh, ia
melihat api masih menyala besar. Api masih tertampak
ketika ia sudah mendekati tepi sungai, asap kelihatan nyata
mengepul keluar. Ia lantas jalan terus sampai ditepi sungai
dimana ia melihat sebuah perahu kecil, yang memakai

tengloleng kaumnya sendiri, tetapi setelah ia memberi tanda


bukan orangnya sendiri yang sahuti ia. Dua anak buah yang
layani ia bicara, rupa nya mereka ada dari Soan hoo. Nyata
itu adalah perahu yang diperintah menantikannya.
Sungguh semua to cu itu, licin sekali, pikir Liong Jiang
Anehnya, kenapa Gui Susiok terus bungkam, tak
sedikitpun dia mau perhatikan aku?
Ia mengikut perahu kecil ini untuk pergi ke Kian hoo
tian, ketika ia lewat di See hoo, ia mampir untuk salin
pakaian, karena ini, tempo ia sampai di Kian hoo tian, ia
terlambat. Ia ingin melihat, ia tidak langsung pergi kekedua
perahu dengan tempel perahu kecilnya itu. Ia mendarat, ia
suruh perahu itu kembali, kemudian ia hampirkan kedua
perahu. Ia berlaku hati2. Pertama ia naik keperahu yang
dibelakang, disini tidak ada orang, tidak juga bungkusan
mayatnya Kiang Kian Houw, ia lalu pergi keperahu yang ke
dua. Ia tidak dapat pergoki Eng Jiauw Ong dan Ban Liu
Tong, karena mereka ini telah dahului melihat dia dan
lantas umpatkan diri, kemudian mereka mengintai pula
sesudah dia masuk kedalam perahu akan menghadap Ouw
Can, hingga dua jago Hoay siang itu kenali, dia adalah
pecundang mereka.
Aku terlambat. Apakah ciong wie loosu sudah
berhasil? demikian ia tanya. Ia anggap, karena ia ditinggal,
orang tentu sengaja dahului ia untuk tawan musuh2 dihotel,
supaya mereka bisa agulkan diri didepannya.
Ouw Can awasi ketua cabang ini. Ia tidak menjawab.
Adalah loci Cin Pang, yang kuatir Hong tong Tocu itu
gusar, terus kala pada keponakan muridnya. Kami masih
belum bekerja kamipun sampai disini belum lama, karena
tadi, ditengah jalan, mendapat sedikit kelambatan. Kau
lihat, bukankah Ouw To cu sedang dengar laporannya Song
Jie? Kita perlu keterangan, obat pules sudah digunai atau

belum, atau apakah rahasia kita tidak bocor. Bagus kau


telah kembali. Sekarang marilah kita berangkat sama2....
Cin Pang menganggap, dengan campur bicara, ia sudah
redakan suasana. Akan tetapi, justeru ia baharu tutup
mulutnya, atau Ouw Can telah menegur Liong Jiang.
Kau seharusnya sudah kembali siang2! demikian
teguran itu.
Liong Jiang terkejut sampai mukanya menjadi bersemu
merah dengan tiba2. Ia menyangka bahwa ia telah
dipergoki ketika tadi ia mengintai dahulu keperahu yang
dibelakang. Tapi ia mengerti, ia sebenarnya tidak
membuang tempo lama, maka ia tenangkan diri.
Aku kembali langsung dari Cit seng tong, ia jawab.
Hm, Ouw Can perdengarkan pula suaranya, sesudah
mana, ia berbisik terhadap Gui Cin Pang, yang duduk
disampingnya, di meja dekat pembaringan. Iapun
mengangkat cawan teh untuk cegluk airnya. Ia duduk
disebelah kiri, tubuhnya miring, mukanya hadapi jendela
kanan diluar mana justeru Ban Liu Tong sedang mengintai.
Liu Tong anggap biasa saja yang Ouw Can berbisik
kepada Cin Pang, akan tetapi ia tampak perubahan air
muka orang, ia curiga. Iapun lihat, diam2 orang she Ouw
itu tunjuk dua jari tangannya terhadap kawannya itu.
Celaka, rupanya tua bangka ini telah dapat pergoki
aku....
Liu Tong menduga.
Segera lebih jauh ia tampak Ouw Can kedipi Cin Pang,
tangan kirinya yang memegang cawan teh digeser, untuk
alingi tangan kanannya, yang bergerak ke pinggangnya
dimana ada tergantung sebuah kantong kulit.

Celaka, dia mau gunai. senjata rahasia! pikir Liu Tong.


Entah suheng sudah engah atau belum, aku mesti beri
tanda padanya....
XXX
Selagi jago Kwie in po ini berpikir, dalam sedetik saja
Ouw Can sudah bergerak.
Awas! dia berseru seraya tangannya terayun.
Heng tong To cu dari Hong Bwee Pang ini menyerang
dengan peluru besi, tiat tan wan, serangannya disusul
dengan menyambernya panah tangan dari Gui Cin Pang,
yang bergerak tak kalah sebatnya. Ke dua2 senjata rahasia
itu mengarah kelobang jendela jendela kiri dan kanan.
Siok beng Sin Ie luput dari serangan karena ia sudah
siap. Ia tidak mencelat kedarat, iapun tidak naik ketihang
layar, disebelah itu, sebelum mengasi tanda pada
suhengnya, ia tidak mau tempur dahulu musuh2nya itu.
Maka itu, ia mengundurkan diri kebelakang perahu,
kebuntut
perahu, akan
menyembunyikan
dirinya
dipenggayu kemudi. Sambil bersembunyi ia pikirkan
suhengnya. Ia merasa pasti suheng itupun luput dari
bencana seperti ia, karena ia dengar nyata, dua2 senjata
rahasia jatuh keair.
Segeralah perahu bergerak itulah tanda musuh sudah
beraksi. Beberapa orang keluar saling susul, sesuatunya ada
membawa senjata masing2. Mereka mulai mencari musuh2
mereka, antaranya ada yang memeriksa wuwungan gubuk
perahu.

Ouw Can dan Gui Cin Pang pergi keperahu kedua


setelah mereka selesai geledah perahu pertama. Disini pun
mereka tidak peroleh hasil.
Bagaimana, Gui To cu? ketua pengadilan itu tanya.
Aku percaya kita tak kena dirubuhkan, karena aku telah
melihat nyata orang intai kita. Memang anu sudah
menduga tentang kedatangan musuh kita ini. Bukankah
tadi, ketika Ma To cu baharu sampai, aku sudah lantas
tegur dia bahwa dia seharusnya sudah sampai siang2? Tapi
Ma To cu bilang bahwa dia baharu saja sampai.
Sebelumnya Ma To cu datang, aku rasakan perahu miring
sedikit, kalau aku sudah berdiam saja, aku kuatir aku
menduga keliru. Sekarang ternyata benar ada musuh telah
datang kemari. Musuh itu liehay, jikalau tidak, tidak nanti
dia, atau mereka, luput dari senjata kita. Mereka selamat,
inilah aneh! Sungguh aku sangsi ada orang demikian gesit.
Jangan malam, ini kita bakal rubuh di Kian hoo tian....
Selagi berkata demikian, Ouw Can sudah kembali
kedalam perahunya dan duduk sambil jatuhkan diri, ia ada
uring2an.
Semua orang sudah berkumpul pula didalam, karena
penggeledahan mereka berhasil nihil.
Sekarang Ma Liong Jiang lihat tegas, diantara mereka
tidak ada Gak yang Sam Niauw. tidak ada juga bungkusan
besar dari mayatnya Kiang Kian Houw, dari itu ia percaya
tiga orang itu mestinya ada punya tugas lain atau mereka
telah ditempatkan disuatu tempat terpisah. Kembali ia insaf
kelicinannya Ouw Can. Ia anggap lebih baik ia bungkam
terus, karena ada sangat berbahaya akan berurusan kepada
ketua pengadilan yang licik itu.
Setelah itu, Ouw Can lanjut kan pertanyaannya kepada
Song Jie. Ia tanya ada berapa jumlah musuh dihotel.

Sama sekali empat, dua tua dua muda, sahut Song Jie.
Dari yang tua, yang satu adalah Eng Jiauw Ong, ketua
dari Hoay Yang Pay, dan yang satu lagi lagi she Ban, entah
apa namanya. Kedua pemuda adalah murid nya mereka ini.
Pergilah, disini sudah tidak ada urusan bagimu, kata
Ouw
Can
sambil
menggoyangkan
tangannya.
Sekembalinya kau ke hotel, jangan kau hunjukkan roman
bingung atau kuatir, berlaku secara biasa saja, kau tetap
awasi gerak geriknya dua orang tua itu.
Song Jie undurkan diri dengan cepat, benar hatinya lega,
tetapi ia masgul. Ia takut berdiri didepannya ketua
pengadilan itu, yang wajahnya menyeramkan. Ia kembali
kehotelnya dengan ambil jalan kecil yang tadi.
Ouw Loosu, baik kita tak usah perdulikan tadi kita
berhadapan dengan musuh atau bukan, berkata Gui Cin
Pang. Kita sudah ambil ketetapan akan menemui
pemimpin dari Hoy Yang Pay, marilah kita lekas pergi ke
Hauw Kee Tiam untuk dapatkan kepastian.
Ouw Can ada tidak puas, hatinyapun tidak tenteram.
Tidak salah lagi bahwa tadi ada orang mengintai mereka
tetapi ia heran, serangannya tidak berhasil dan orang bisa
menghilang demikian cepat, bekas2nya pun tidak ada.
Menurut kalangan Rimba Persilatan, teranglah sudah
bahwa dia bukannya tandingan orang tak terlihat itu, dan
sudah selayaknya dia mesti tahu diri dan mundur
sendirinya. Akan tetapi sekarang dia ada didepannya Gui
Cin Pang dan Ma Liong Jiang, ia malu untuk mundur
teratur.
Baiklah! akhirnya ia jawab. Sebenarnya urusan kita
ada sangat penting, apabila kita ayal2an, bukti kepercayaan
kita nanti jadi rusak. Sehabisnya menemu tua bangka Eng
Jiauw Ong itu di Hauw Kee Tiam, kita mesti segera

berangkat pulang. Satu kali barang bukti kita rusak, tak bisa
kita memberi bukti lainnya lagi!
Jawaban itu ada bagaikan titah, maka semua orang
lantas rapikan dandanan mereka. Orang pakai bungkusan
kepala kain minyak, juga pakaian dalam, pakaian luar
adalah cita biasa.
Begitu lekas orang selesai dandan, Ouw Can menitahkan
Ma Liong Jiang pergi memanggil empat anak buahnya
untuk ia berikan titahnya. Dia sebenarnya telah dapat
pinjam sebuah perahu lain, yang memuat Lauw Cong yang
terluka, dan Tong Hoo Couw dan Liok Hong Ciu, yang
membawa mayatnya Kiang Kian Houw. Gak yang Sam
Niauw itu diperintah berangkat lebih dahulu, mereka
dipesan, siang singgah, malam berlayar, nanti ia sendiri
sehabis nya hadapi Eng Jianw Ong, akan menyusul terus, ia
percaya ia akan dapat menyandak, untuk nanti mereka
berangkat sama2 pulang ke Gan Tong San. Maka itu, disitu
ditinggal cuma empat anak buah.
Adalah aturan dari Hong Bwee Pang, jikalau si
pemimpin
sedang
bicara, anak buahnya
mesti
mengundurkan diri, mereka dilarang mengintai atau
mencuri dengar, atau kalau satu anggota diperintah
menjaga, kecuali dengan pesanan, dia tak boleh tinggalkan
tempat penjagaannya. Demikian kali ini, empat anak buah
itu diperintah mengaso diperahu kedua, dibelakang perahu.
Ouw Can senantiasa berlaku waspada, apapula ia sedang
hadapi musuh2 istimewa.
Liong Jiang terima perintah nya Ouw Can, dari luar
perahu ia memanggil anak buah, untuk mereka bawa air
teh, akan tetapi, dua kali ia memanggil, ia tidak dapat
jawaban, hingga ia jadi mendongkol.

Kurang ajar anak buah ini! kata dia, Pasti mereka


sudah pada tidur!
Ia pergi kebelakang perahu. Penerangan masih menyala,
akan tetapi perahu itu kosong.
Ah, tentu mereka pergi keperahu belakang, pikir ia,
yang terus pergi keperahu yang kedua, sembari memasuki
perahu itu ia kembali memanggil2. Tetap ia tidak peroleh
penyahutan, hingga ia sampai dibelakang perahu dimana ia
dapatkan empat anak buahnya sedang rebah teringkus
dengan mulut tersumbat, hingga bukan kepalang kaget dan
heran nya.
Ouw Loosu, lekas kemari! ia berteriak.
Teriakan itu dapat, didengar nyata, Ouw Can beramai
segera lari mendatangi. Merekapun terperanjat ketika
melihat konco mereka itu mati kutunya.
Siapa ringkus kau? tanya Ouw Can setelah ia
menyingkirkan sumbatan pada mulutnya masing2.
Tiga anak buah tidak tahu apa2, katanya tiba2 mereka
merasa ada yang totok, lantas mereka rubuh pingsan, tapi
yang ksempat masih bisa lihat bahwa penyerang mereka
ada satu imam tua.
Aneh, pikir Ouw Can. Demikian juga anggapan yang
lain. Disini mereka bukan berhadapan dengan Eng Jiauw
Ong. Jadi ada satu musuh lain, yang liehay. Mereka pada
berdiri bengong dengan pikiran kusut.
Ban Liu Tong umpatkan diri dikemudi sehabisnya dia
diserang dengan senjata rahasia, selagi sembunyi, ia terus
pikirkan Eng Jiauw Ong, karena terus ia tidak lihat suheng
itu. Ketika Ouw Can semua kembali kedalam perahu, ia
pergi kedepan. Di sinipun suheng itu tidak ada. Maka ia
terus loncat kedarat akan mencari disitu. Ia memandang

kesekitarnya, terutama ke arah Barat utara. Ia lari kearah ini


kapan ia tampak satu bayangan berkelebat keluar dari balik
pohon yangliu. Ia pun perdengarkan suara suitan jari
tangan yang dimasukkan kedalam mulut. Ia dapat jawaban
yang serupa. Segera ia lari lebih cepat untuk
menghampirkan. Bertemulah ia kepada suhengnya. Lantas
mereka berkumpul disemak yang lebat, untuk pasang
omong.
Eng Jiauw Ong sedang mengintai dijendela kiri apabila
ia saksikan sikap mencurigai dari ouw Can, selagi ia niat
memberi kisikan pada Ban Liu Tong, ia merasa ada kebutan
enteng pada pundaknya. Ditempat sempit seperti itu, ia
tidak bisa berkelit sambil jauhkan diri, terpaksa ia gunai
Koay bong hoan in atau Ular naga jumpalitan dan
Kim liong tam jiauw atau Naga emas ulur
cengkeraman, untuk melindungi diri. Atas ini, ia tampak
satu bayangan mirip dengan hembusan gulungan asap
hitam, melesat ke tepi, jauhnya empat tumbak lebih.
Ia heran tetapi dengan It hoo ciong thian, bagaikan
burung hoo serbu langit, iapun lompat menyusul akan kejar
orang itu, yang lari terus. Dia ada punya peryakinan empat
puluh tahun lebih, ia tidak dapat susul bayangan itu. Dilain
pihak, sehabisnya dia lompat, panah tangan dari dalam
perahu telah samber ia, ia dengar jatuhnya senjata itu, tentu
saja ia lolos dari ancaman bencana itu. Mengertilah ia
bahwa bayangan itu sudah lindungi ia secara istimewa. Tak
sempat ia kembali ke perahu akan tengok saudaranya,
segera ia susul bayangan itu. Ia masuk ketempat lebat
walaupun ia ingat pribahasa kaum kang ouw, pantangan
untuk mengejar masuk kedalam rimba. Ia jadi lebih berani,
karena ia tak sangsi lagi bahwa bayangan itu bukanlah
musuh. Tapi sia2 saja ia mengejar, ia mencari, bayangan itu
lenyap terus.

Pasti dia ada seorang dari angkatan tertua, bu lim cian


pwse, ia menduga2. Sayang Cu In Am cu tidak ada
disini, kalau dia ada, dia pasti dapat mengenalinya.
Ia menoleh kebelakang, ia dapatkan bahwa ia sudah
terpisah jauh dari perahu, maka tidak bersangsi2 lagi ia
perdengarkan suaranya yang nyaring Tay hiap tidak
dikenal, aku Ong Too Liong sangat bersyukur untuk
bantuan mu, maka tolong kau perlihatkan diri!
Tidak ada jawaban. untuk pertanyaan itu, sang malam
tetap sunyi.
Percaya bahwa orang tak ingin menemui ia, Ong Too
Liong putar tubuhnya buat kembali keperahu, untuk cari
suteenya. Baharu ia keluar dari tempat lebat, atau dari
sampingnya ia dengar suara nyaring dari seorang tua
Ketua dari Hoay Yang Pay, Hong Bwee dan In Hong
masih berada ditangan penjahat, jangan kau pandang
musuh terlalu enteng, jangan kau memperdalam
permusuhan! Ketahuilah, urusan di Cap jie Lian hoan ouw
ada sangat sulit, dari itu kau mesti berhati2! Nah, sampai di
Ceng hong po!
Selagi orang bicara, Eng Jiauw Ong segera menoleh,
rasanya suara itu tak jauh dari ia, tapi setelah menoleh,
suara itu terpisah jauh, seperti naik di atas pohon, lantas
lenyap. Ia sudah lantas loncat menyusul sambil berseru
Loo cianpwse, tunggu dahulu, aku hendak bicara! Sia2
saja, ia tak dapat menyandak, tidak perduli ia ada sangat
gesit dan ia telah gunai antero kepandaiannya mengentengi
tubuh. Ia lihat orang lari ketepi kali dan lompat keair, untuk
menghilang diseberang.
Jago Hoay siang ini mengerti bahwa orang sudah gunai
Teng peng touw sui atau ilmu berlari2 diatas air, ilmu
mana, dalam golongan Lam Pay dan Pak Pay, Selatan dan

Utara, sudah jarang sekali ada yang mengerti. Karena ini, ia


lantas menduga, orang liehay itu mesti salah satu Keng Tim
Suthay dari See Gak Pay serta To Cie Taysu dari Hong tek
kwan atau Yan tiauw Siang Hiap dan Tiat So Toojin dari
pihaknya. Hal ini membikin ia girang karena nanti diwaktu
memasuki Cap jie Lian hoan ouw, dia bakal dapat
bantuannya orang pandai. Karena ini, segera ia keluar dari
rimba akan kembali keperahu. Justeru itu, ia dengar suitan
dari Ban Liu Tong, ia lantas hampirkan sutee itu, hingga
mereka jadi berkumpul, dengan keduanya bisa saling
menuturkan pengalamannya masing2. Liu Tong pun girang
mengetahui hal munculnya orang pandai tak dikenal itu.
Setelah mana, keduanya kembali keperahu musuh, untuk
berikan pengajaran, agar musuh tidak berani pandang
enteng pada mereka. Dalam suasana sunyi mereka naik
keperahu yang kedua. Mereka lihat, cahaya api, dengan
begitu, mereka lihat juga empat anak buah yang teringkus
dan mulut tersumbat. Mereka bisa duga, itu adalah hasil
kerjaan nya si orang pandai tadi, yang rupanya datang
kesitu selagi mereka berdua pasang omong didalam rimba.
Liu Tong ingin dengar keterangannya anak2 buah itu, ia
minta suhengnya pergi keluar, untuk ber jaga2, tetapi belum
sempat ia menanya, ia sudah dengar suara panggilan ber
ulang2. Itulah panggilan Ma Liong Jiang. Lekas2 keduanya
mengumpatkan diri seraya memasang mata. Mereka kenali
Liong Jiang. Dan, sesudah to cu she Ma ini teriaki Ouw
Can, mereka lihat munculnya Heng tong To cu itu bersama
rombongannya.
Begitulah Ouw Can, yang merasakan dirinya paling
malu, karena dihadapannya Ma Liong Jiang ia nampak
kejadian aneh dan hebat itu.

Kau jaga disini, akhirnya ketua pengadilan ini pesan


anak buahnya itu. Apabila ada terjadi suatu apa, segera
kau berikan tanda!
Ia percaya, karena letaknya Hauw Kee Tiam tak terlalu
jauh dari perahunya ini, dari sana mereka bisa dengar
apabila datang pertandaan dari sini.
Setelah itu, dengan bererot, mereka keluar dari perahu
kedua ini. Begitu lekas mereka memandang kearah perahu
mereka, perahu yang pertama, mereka tercengang dan
kaget, akan akhirnya Ouw Can membanting2 kaki.
Dari jendela perahu kelihatan asap mengepul dan api
berkobar2.
Oh, pit hu celaka, dia berani bakar perahuku! dia
menjerit.
Ia mengenjot diri akan loncat kedepan, hingga ia tampak
nyata, api memakan jendela kiri dan kanan dan minyak
terbakar memberi bau nyata.
Siauw Thio Liang Siauw Cun, yang lompat menyusul,
sudah lantas mencari ember untuk siram api yang sedang
menyala2 itu. Dengan empat atau lima kali seblok, jendela
kiri dapat dipadamkan, sedang dikanan, empat anak buah
adalah yang bekerja, karena mereka ada anak2 perahu,
mereka bisa bekerja dengan sebat.
Setelah Ouw Can semua masuk kedalam perahu, mereka
dapatkan pembaringan berikut kasur dan sepreinya pada
hangus terbakar dan sisanya, basah, dan lantai perahu
penuh minyak dan air. Ia mengarti, diwaktu hujan begitu,
musuh tentu tahu api sukar berkobar, dari itu, telah
digunakan minyak dan lilin sebagai umpan.
Ketua pengadilan Hong Bwee Pang ini melotot dan
kertek gigi.

Kebakaran itu ada hasil buah pikiran dan kerjaannya


Ban Liu Tong, sedang Eng Jiauw Ong tadinya kurang
setuju, suheng ini hendak taati pesan penolong nya untuk
tidak perdalam permusuhan, tetapi Liu Tong sangat jemu
karena orang telah gunai bong han yoh, hingga hampir2 dia
ruhuh ditangan rombongan manusia keji itu.
Selagi orang repot padamkan api, Ban Liu Tong
sembunyikan diri diatas tihang layar dan Eng Jiauw Ong
umpatkan diri disamping perahu.
Bahna gusar dan ibuknya, rombongan Ouw Can sampai
lupakan kebiasaan yang mesti dilakukan disaat serupa itu,
yalan memecah kawan, sebagian buat padamkna api
sebagian pula untuk cari musuh. Mereka justeru repot dan
akhirnya kumpul didalam, maka dua musuh mereka jadi
bisa bekerja dengan leluasa.
Dengan tangannya, Eng Jiauw Ong menunjuk pada Ban
Liu Tong, lalu ia menunjuk lebih jauh keperahu ke dua,
kemudian ia sendiri melompat keperahu yang ke dua itu.
Perbuatan ini diturut segera oleh sang sutee.
Siok beng Sin Ie telah berkeputusan akan musnahkan
kendaraan air musuh ini. Ia masuk ke dalam, ia tidak dapati
bahan api, maka ia kata pada saudaranya Suheng, tunggu
sebentar, aku hendak cari serupa barang! Dan terus ia
pergi keluar, kebelakang perahu. Disini ia dapatkan
setahang minyak moa yu, beberapa batang lilin dan lainnya,
yang mudah terbakar, ia bawa itu kembali kedalam perahu,
minyaknya lantas ia tuang, diatasnya ia tumpuk! ker tas,
sesudah mana, ia nyalakan Ulin. Secara demikian, api ber
kobar dengan cepat, mereka sendiri lantas lari keluar, loncat
ke darat dimana mereka cari tempat sembunyi masing2
untuk menonton.

Sekali ini, api benar besar, sekejab saja jendela kiri dan
kanan kena dirembet terbakar.
Ouw Can mendongkol dan gusar bukan kepalang karena
perahunya dibakar.
Ouw Loosu, berkata Ma Liong Jiang, melihat
kejadian ini, terang Eng Jiauw Ong sedang tantang kita!
Aku percaya, bong han yoh kita sudah tidak mempan
terhadap musuh, sekarang mereka tentu berada dekat kita.
Biarlah anak2 yang mengurus perahu ini, mari kita
mendarat untuk cari mereka, apabila mereka tidak ada
disini, kita terus pergi ke Hauw Kee Tiam! Pasti sekali
malam ini tak dapat kita berdiri ber sama2 musuh kita
itu!....
Baharu Liong Jiang berkata sampai disitu atau satu anak
buah, yang pergi keluar untuk timba air, berseru Loosu
semua, lekas keluar! Lihat, perahu keduapun terbakar!
Ouw Can merasakan diri seperti disamber petir,
kupingnya seperti ketulian, sampai hampir saja kedua
kakinya tak dapat menahan tubuhnya, karena ia hampir
pingsan. Ia senderkan diri akan pusatkan pikirannya. Tapi
segera, juga ia banting2 kaki.
Ah, aku Ouw Can harus mampus! kata ia kemudian.
Kenapa aku jadi begini tolol? Mengapa aku tidak mencari
musuh sebaliknya membiarkan dia ber ulang2 membakar
perahu? Oh, Gui Loo su, kita telah rubuh, sayang kita
pernah hidup banyak tahun dalam dunya kang ouw....
Selagi mengucap demikian, Ouw Can lihat Ma Liong
Jiang yang mau bertindak keluar, ia lantas menegur Ma To
cu, kau hendak bikin apa? Mengapa kau masih diam saja
disini, apa yang mesti ditunggui?

Liong Jiang mendongkol mendengar teguran itu, teguran


yang ia anggap tak tahu malu. Ia insaf benar2 ketua
pengadilan Hong Bwee Pang ini cuma licik tetapi
kepandaiannya tidak seberapa. Buktinya sekarang pihak
Hoay Yang Pay telah perhina padanya tetapi dia tak
berjaya. Karena ini, ia pikir tak berguna ia ladeni padanya.
Maka ia terus bertindak keluar, hingga ia lihat perahu yang
sedang diamuk api, gemuruh suara merotok dari bambu
yang terbakar, dari papan yang meletak, asappun
bergulung2, tetapi sukar, lantas mumbul naik, karena hujan
gerimis.
Mengikuti Ouw Can, Gui Cin Pang, Kui Liong Tek dan
Siauw Cun sudah berdiri diluar perahu. Kui Liong Tek
berniat memutari perahu untuk cari musuh, tapi Siauw Cun
mencegah.
Percuma, loosu, kata Siauw Thio Liang. Ouw Loosu,
benar atau tidak dugaanku, sekarang ini, kalau musuh tidak
sedang sembunyi didarat, pasti mereka sudah kembali
kehotel mereka? Maka menurut aku tidak perlu kita
perdulikan lagi perahu kita ini, akan mengikuti pepatah
biarlah, dia datang dari sungai, kesungai dia pergi! Sekarang
marilah kita mendarat, akan tempur orang2 Hoay Yang Pay
itu! Akur, loosu?
Bagus, kau benar! Ouw Can jawab. Tak dapat aku
berdiri ber sama2 lagi dengan Eng Jiauw Ong si tua bangka
itu! Lantas ia teriaki anak buahnya Biarkan perahu yang
ke dua itu terbakar musnah, sekarang kau jaga saja perahu
ini!
Setelah mengucap demikian, segera ketua pengadilan ini
loncat kedarat, perbuatan mana diturut oleh kawan2nya.

Perahu yang terbakar telah terbakar terus, walaupun


demikian, cahaya apinya tak dapat menerangi seluruh tepi
kali.
Liong Jiang berada dibelakang tapi segera ia melompat
ke depan.
Susiok, kata ia pada paman gurunya, untuk pergi ke
Hauw Kee Tiam, mari aku yang tunjukkan jalan!
Kau kenal baik tempat ini, kau boleh jalan didepan,
kata Cin Pang. Sesampainya didekat hotel sebentar, jangan
kau sembrono. Disini adalah Ouw Loosu yang pegang
pimpinan, kau mesti dengar perintah! Kau ngerti?
Cin Pang ucapkan kata2 itu lebih banyak ditujukan
kepada Ouw Can. Ia tidak puas terhadap kawannya ini,
karena sampai begitu jauh, dia dapat kenyataan orang tidak
hargai dan tak perdulikan pada Liong Jiang Heng tong tocu
itu terlalu berkepala besar dan bawa karap sendiri, hingga
Cin Pang sebagai pamannya Liong Jiang, tidak dilihat mata
sama sekali.
Ya, susiok! jawab Liong Jiang atas nasihat paman
guru itu, kata2 mana ia mengerti dimaksudkan kepada
siapa.
Ouw Can sedang berpikir keras, meskipun ia dengar
ucapan nya Gui Cin Pang itu tetapi perhatian itu tidak
mendapat perhatiannya. Ia jalan terus, menuju kehotel
Hauw Kee Tiam.
Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong tunggu sampai orang
sudah jalan belasan tumbak, dengan lilin satu tanda, berdua
mereka lantas menguntit. Begitu lekas sudah mendekati
hotel, mereka berpencar pula, dengan bantuannya rumah2
penduduk tetangganya hotel, mereka coba mendahului
diluar tahu rombongan musuh itu.

Tak akan gampang2 kau sekalian memasuki hotel.


kata Liu Tong dalam hatinya, sesudah ia mendekati jendela
hotel nya kira2 enam atau tujuh tumbak. Ia lihat dikiri dan
kanannya ada rumah2 penduduk yang tak rata tinggi
rendahnya, didekat kali ada sawah ladang. Rumah2
penduduk itu tak teratur berbaris.
Dari atas rumah penduduk, dimana ia sembunyikan diri,
Liu Tong melihat Ma Liong Jiang jalan dimuka, lalu Siauw
Cun, yang ke tiga Ouw Cun, dibelakang ia, Kui Liong Tek,
baharu Gui Cin Pang. Jarak mereka satu dengan lain ada
dua tindak kira2, kecuali Cin Pang yang terpisahnya sedikit
jauh.
Loosu semua, lihat disana, itulah hotel Hauw Kee
Tiam! kata Ma Liong Jiang selagi ia mendekati hotel
tersebut, tangan nya menunjuk kedepan.
Liong Jiang bicara selagi mereka jalan terus, mendadak
Siauw Cun merandek dan mundur satu tindak.
Gerakan ini tidak disangka2 Ouw Cun, diapun merandek
dengan tiba, jikalau tidak, pasti dia kena dilanggar.
He, apa ini? ia menegor dengan mendongkol.
Kata2 itu disusul satu samberan angin dari samping.
Karena kaget, Ouw Can keluarkan seruan tertahan
sambil ia berkelit mundur, senjata rahasia lewat dipipinya.
Selagi ia berkelit, dari kanan menyamber angin yang lain.
Ini kali dia sempat menangkis dengan goloknya, hingga
serangan dapat dirintangi, senjata penyerang jatuh ketanah.
Nyata itu bukannya senjata rahasia.
Bukan kepalang mendongkolnya Ouw Can.

Eh. sahabat! ia menegur. Cara bagaimana kau berani


permainkan Ouw Jie thayya? Apakah begini caranya satu
sahabat? ....
Teguran tidak dapat jawaban, hanya dari belakang ada
datang dua samberan angin. Ouw Can berkelit, walaupun
tanah ada licin. Ia sebenarnya gesit, akan tetapi serangan
ada hebat, pundak kanannya menjadi sasaran, diantara
suara nyaring, ia merasakan sangat sakit. Tapi itu bukannya
senjata rahasia, hanya batu bata atau genteng. Dalam
murkanya, dan kuatir kawan2nya tertawai ia, ia loncat
kearah rumah dari mana ia duga serangan datang.
Karena musuh membokong, empat kawannya Ouw Can
lantas pencarkan diri.
Selagi Ouw Can sampai didepan sebuah rumah, Cin
Pang lihat satu bayangan, dari samping melesat
kebelakangnya ketua pengadilan itu, ia tadinya hendak
memberi peringatan, akan tetapi kapan ia mengingat
kejumawaannya kawan itu, ia lantas berdiam saja. Tapi
bayangan itu tidak menyerang, dia hanya loncat naik
kesebuah rumah.
Menampak demikian, Cin Pang susul kawan itu.
Ouw Loosu, apakah kau lihat barusan satu bayangan
lewat disini? ia tanya.
Ya, satu bayangan tetapi dia sangat gesit, sahut Ouw
Can, dengan suara tak sewajarnya.
Cin Pang tahu pasti, orang tak lihat bayangan itu, bahwa
orang mendustakan ia.
Mari kita pergi ke Hauw Kee Tiam! ia mengajak.
Ouw Can hendak menjawab, atau

Bangsat, awas! demikian satu suara, yang datang dari


kanan jauhnya belasan tindak, dari mana menyamber suatu
benda hitam, entah benda apa.
Ouw Can lompat minggir, tangannya kiri ambil golok
dari tangan kanan, ia siapkan peluru besinya, justeru benda
itu jatuh didekat ia, ia loncat untuk mengejar. Begitulah ia
lihat satu bayangan, yang loncat ke belakang rumah, maka
ia lantas menyusul.
Kemana kau hendak pergi? ia membentak seraya
tangannya diayun, hingga dua buah peluru melesat saling
susul.
Tapi serangan itu dapat jawaban tertawa terbahak2.
Aha, mainkan kampak didepan ahli? demikian suara
mengejek. Kau berani adu kepandaian senjata rahasia
dengan loosu? Nah, ini aku bayar pulang!
Ouw Can tidak lihat musuh, tahu2 dua pelurunya telah
menyamber ia, kemuka dan perut, menyambernya
berbareng. Melihat samberan senjata rahasia itu, terang
sipenyerang ada lebih lie hay.
Dengan goloknya, golok Thian kong Pek cui too, Ouw
Can sampok jatuh kedua pelurunya itu. Ia jadi sangat
jengah, tapi karena gusar, ia serukan Siauw Cun Malam
ini aku mesti dapatkan keputusan dengan tua bangka dari
Hoay siang, siapa mampus siapa hidup, kalau tidak, tak
mau aku berhenti! Siapa takut mampus dan sayang jiwanya,
lekas dia kembali keperahu, jangan dia rubuh dengan
kecewa disini!....
Siauw Cun, juga Liong Jiang dan Kui Liong Tek, tahu
ketua pengadilan itu telah menjadi kulap, tanpa kata apa

mereka bergerak maju, akan kurung rumah diatas mana


musuh berada.
Gui Cin Pang pun mengerti komarahanriya Ouw Can,
yang dua kali kena dipermainkan,ia pun turut maju, tetapi
sambil ia berkata Memang, loosu, jikalau kita tidak
mundur, kita mesti maju! Hayolah loosu kita cari musuh
kita ini !
Kata2 itu tajam. tetapi Ouw Can tidak dengar, dia hanya
meloncat terus, naik keatas rumah, sedang Cin Pang maju
dari sebelah Barat. Siauw Cun pun terlihat, dari Timur
menuju ke Utara.
Ouw Can menuju kewuwungan Barat, dari situ ia turun
kepayon, untuk mencari musuh, baharu ia sampai atau satu
bayangan loncat ketembok disampingnya dimana bayangan
itu berdiri dengan Kim kse tok lip atau Ayam emas
berdiri dengan sebelah kaki.
Eh, penjahat yang tak tahu malu, kau masih tidak mau
datang untuk terima binasa? demikian orang itu mengejek.
Jikalau kau masih mendesak, ingatlah, jangan katakan
kami keterlaluan!
Ouw Can ada sangat murka, ia mendongkol sekali
karena musuh bermain kucing2an, tetapi sekarang ia lihat
orang perlihatkan diri, ia puas.
Kau main sembunyi saja, kau adalah bangsa pit hu! ia
berseru. Malam ini jikalau aku tak kasi rasa dengan
golokku, kau niscaya belum kenal kepada Ouw Jiethayya!
Menyusul kata2nya itu, Ouw Can loncat turun ketanah.
Ia ada cerdik untuk tidak bertempur diatas genteng yang
licin dengan air hujan, dari situ baharulah ia hendak
hampirkan musuh. Baharu ia hendak loncat pula, atau
dengan tiba jendelanya dari rumah itu menjeblak terbuka

sambil terbitkan suara keras, disusul dengan bentakan


Bangsat busuk, kau hendak kabur kemana? Lalu serupa
benda melayang menyamber kearah ia.
Dengan gesit Ouw Can egoskan diri. Ia terluput dari
serangan, tetapi benda itu jatuh di tanah didekat ia sambil
perdengarkan suara nyaring, menyusul mana, air muncrat
dan pecahan nya terbang berhamburan.
Ternyatalah itu ada sebuah paso air kencing, maka juga
air kotoran itu muncrat mengenai orang Hong Bwee Pang
itu muka, kepala dan pakaiannya, hingga segera ia
mencium bau harum semerbak
Sial! berteriak Heng tong tocu ini. Kemudian ia
mendamprat Pit hu, kau cari mampus! Jie thayyamu toh
tidak cari kau? Awas, sebentar aku nanti bikin perhitungan
denganmu!
Orang yang berdiri ditembok tertawa ter bahak2.
Orang didalam, satu petani, juga tidak takut. Dia sangka
Ouw Can ada penjahat. Dia kata dengan nyaring Bangsat,
kau berani banyak laga? Jikalau tidak dihajar adat, mana
kau tahu keliehayanku! Eh, Loo Ho, Siauw Sam cu, hayo
siapkan senjatamu, mari kita bekuk bangsat bau ini!
Petani itu perdengarkan suara nyaring, dia telah
menyebabkan terbangunnya beberapa tetangga, mereka itu
lantas pada berikan pehyahutan mereka.
Ouw Can mendongkol bukan kepalang.
Ah, binatang ini mesti dimampusi terlebih dahulu!
pikir ia bahna gemasnya.
Orang
ditembok itu
rupanya
bisa
menduga
kemarahannya ketua Hong Bwee Pang ini, ia lantas berseru
Eh, to cu dari Hong Bwee Pang, kenapa kau layani segala

petani yang tak tahu hitam atau putih? Bukankah kau yang
mencari susah sendiri? Mari, mari! Disini bukan tempat
bertempur, mari keluar!
Ucapan itu disusul oleh gerakannya orang itu, yang
bertindak ke Barat selatan.
Ouw Can telah ditantang, dengan terpaksa ia tinggalkan
si petani, ia menyusul.
Siauw Cun dan Liong Jiang masih sadar bahwa
melayani petani tak ada gunanya, cuma2 kemerdekaan
mereka jadi terbatas, dari itu mereka puas melihat orang,
berlalu dari tembok, lalu mereka pun menyusul.
Susul, jangan kasi dia lolos! Siauw Cun menganjurkan.
Juga Cin Pang dan Liong Tek turut mengejar.
Tidak jauh dari situ ada satu tempat tanpa rumah,
sebuah kuburan besar menghalangi didepan mereka,
diseputarnya ada pohon2 siong, cui dan pek.
Tembok kuburan ada luas, tinggi empat kaki lebih. Si
penantang itu lompat masuk kedalam tembok itu.
Ouw Can anggap tempat pekuburan itu cocok sekali
untuk pertempuran.
Gui To cu, mari kita masuk dari pintu depan, ia kata
pada Gui Cin Pang. Biar yang lain2 panjat tembok
disekitarnya. Kita mesti cegah musuh keburu bersiap
sedia!
Ouw Can lantas mutar akan pergi kedepan, hingga ia
lihat sebuah pintu yang tinggi dan besar dengan papan
merek putih dengan huruf2 hitam, dalam gelap hurufnya
tak dapat dibaca. Ke duanya segera loncat naik keatas
pintu, akan memandang kedalam.

Jalanan ada diapit dengan kuda2an batu, dilihat diwaktu


malam, keadaannya sangat seram. Bukan melainkan Ouw
Can, juga Cin Pang turut ragu2. Jikalau musuh umpatkan
diri, ada sulit dan berbahaya untuk mereka.
Selagi mereka sangsi, dari belakang sebuah anak2an batu
terdengar suara tertawa mengejek, lantas satu bayangan
berkelebat keluar, bayangan mana pergi ke jalanan terapit
pohon, disitu ia tertawa pula, sambil terus berkata Kenapa
jiewie sungkan sekali? Apakah kau kuatir tuan rumah hantu
disini tak akan sambut kau sekalian? Mari, aku telah
wakilkan kau memberi kabar pada tuan rumah hantu, yang
ijinkan kau dan kawan2mu masuk. Hayolah! Mustahil kau
hendak tunggu datangnya wakil yang resmi? Jikalau jiewie
ayal2an. maaf, aku mesti pergi....
Bukan main mendelunya Ouw Can dipermainkan secara
demikian, sampai dia bungkam.
Pit hu, jangan bertingka! Mari aku antar kau masuk ke
liang kubur! berseru Gui Cin Pang sambil lompat turun,
akan hampirkan musuh itu.
Ouw Can sudah lantas perdengarkan suitan, lantas iapun
loncat turun akan susul kawan nya.
Liong Jiang, Liong Tek dan Siauw Cun dengar,
pertandaan itu, mereka lantas muncul.
Jalanan dipekarangan dalam itu tidak becek atau
berlumpur, karena diampar batu halus, malah sehabis
kehujanan, makin leluasa orang berjalan disitu. Jalanan itu
buntu tercegat kuburannya, yang besar dan lebar, didepan
mana, didepan bongpay, ada meja abunya. Adalah
sesampainya didepan bongpay, musuh itu loncat naik
kemeja untuk terus duduk numprah, bagaikan patung saja.

Heng tong To cu Ouw Can dan Piauw pou To cu Gui


Cin Pang adalah orang2 kang ouw atau loklim ulung,
menampak sikap musuh itu mereka merandek, tapi mereka
mengawasi dengan siap sedia.
Eh, apakah kau Eng Jiauw Ong dari Hoay siang? Ouw
Can tanya dengan bengis. Jikalau kau benar ada ketua
Hoay Yang Pay, sudah selayaknya kau bertindak secara
laki2, tidak seperti sekarang main sembunyi, main senjata
rahasia, untuk menghina orang! Aku tidak puas
dipermainkan olehmu!
Orang diatas meja kuburan itu tertawa ter bahak2.
Oh, rombongan mahluk tak kenal aturan! ia kata
dengan nyaring. Kau semua cuma lihat lain orang hitam,
tidak melihat diri sendiri hitam juga! Kenapa kau tidak mau
akui diri sendiri tak punya guna hingga kau membikin malu
Hong Bwee Pang sendiri? Mengapa kau katai orang lain
main secara gelap? Terang sudah, kau semua ada punya
mata tanpa bijinya hingga mirip dengan si buta! Mustahil
Hoay siang Tay hiap kesudian berpandangan cupat seperti
kau kawanan maling tikus pencuri anjing, yang sangat
rendah hina dina? Jikalau kau sekalian benar hendak bikin
beres perhitunganmu dengan Hoay Yang Pay, seharushya
sejak meninggalkan surat di See Gak Hoa San, kau
nantikan saja pihak Hoay Yang Pay datang untuk
memenuhi janji, kenapa juga sebaliknya kau culik murid2
kami? Itulah perbuatan sangat buruk! Kenapa kau gunai
bong han yoh untuk sapu bersih pada kami? Tapi perbuatan
hina itu tak dapat lolos dari matanya ketua Hoay Yang Pay!
Sepantasnya, sesudah gagal, kau mesti lekas angkat kaki,
tapi sekarang kau berani datang kemari! Sekali lagi aku
peringatkan, lekas kau berlalu, kau bukanlah tandingan
kami! Biar urusan kita diurus oleh ketua dengan ketua! Kau
sendiri, bangsa tak tahu malu, cuma2 saja akan bikin turun

derajatnya Hong Bwee Pang! Nah, siapa tak tahu mampus,


marilah maju. mari!
Dihina secara demikian, dua2 Ouw Can dan Gui Cin
Pang murka sekali.
Kau ngaco belo! Ouw Tocde membentak. Tocumu
cuma mau ketemu! si tua bangka Eng Jiauw Ong, ketua
dari Hoay Yang Pay, aku tak sudi layani orang tak punya
nama! Jikalau kau benar orang Hoay Yang Pay,
beritahukan namamu!
Oh, jadinya kau tidak kenal aku si orang tua? orang itu
tertawa besar pula. Aku adalah Siok beng Sin Ie Ban Liu
Tong dari Kwie in po digunung Kian San! Kau tentu
ketahui, aku dapat menolong orang tapi juga dapat
mencelakai orangl Aku biasa sambung jiwa orang, tetapi
sekarang aku inginkan jiwamu sekalian! Sekarang aku telah
berikan keterangan, biar sebentar kau jadi setan yang insaf
keburukan diri sendiri!
Mengetahui orang itu ada Ban Liu Tong, Gui Cin Pang
insaf bahwa mereka sedang hadapi kesulitan, akan tetapi
melihat orang bertangan kosong, ia anggap ia toh menang
diatas angin.
Ouw Can sendiri percaya, dengan goloknya ia akan
sanggup melayaninya.
Gui Cin Pang anggap ia mesti tak sia2kan tempo. Ia
menduga bahwa, Eng Jiauw Ong mesti ada bersama
suteenya itu, maka kalau sampai ia tunggu munculnya jago
Hoay siang ketua Hoay Yang Pay, sulit kedudukan mereka.
Dari itu, mendahului Ouw Can, ia lompat maju.
Ban Liu Tong, jangan banyak tingkah! ia membentak.
Lihat Gui Loosu nanti kirim kau pulang!

Ucapan ini belum habis dikeluarkan atau golok sudah


menyamber, karena pemimpin Hong Bwee Pang ini telah
taruh kakinya ditempat sejauh empat kaki dari lawan.
Bacokannya adalah apa yang dinamai Tan hong tiauw
yang atau Burung hong menghadapi matahari.
Ketika bacokan sampai, Liu Tong berkelit kepinggir, dari
mana tangan kanannya, dengan gerakan Sian jin cie louw
atau Dewa menunjukkan jalan, sudah barengi menyerang
batok kepala musuh.
Cin Pang lihat bacokannya tidak memberi hasil, lekas2 ia
pun egos tubuhnya, sambil berbuat demikian, goloknya
ditarik pulang, terus dipakai membabat iga kiri, karena
iapun berkelit kekanan.
Cepat sekali, Liu Tong loncat jauhnya enam tujuh kaki.
Sambil lompat maju karena mana, Ma Liong Jiang pun
loncat dan Kui Liong Tek terpaksa memburu. Sambil
mendekati, Siauw Cun berseru Jiewie Loosu, serahkan si
tua bangka she Ban itu kepadaku untuk dibikin beres!
Siauw Cun cuma beraksi saja dengan kata2nya itu,
karena di lain saat, bertiga mereka kepung Ban Liu Tong.
Biar bagaimana, repot juga Siok beng Sin Ie melayani
lima musuh yang tanggu dan nekat itu, tetapi ia tidak keder,
Ia belum keteter, namun sebagai seorang yang sehat
pikirannya, ia insaf ia ada terancam bahaya. Lima golok itu
ada liehay dan ketika itu ada diwaktu malam yang gelap.
Terpaksa, disemailah kegesitan istimewa, ia berlaku sangat
awas dan waspada.
Untung bagi Liu Tong, walaupun lima musuh kepung ia
dengan sengit, mereka sendiripun berlaku sangat waspada,
mereka kuatir kesalahan kena serang kawan sendiri.

Pertempuran berjalan terus dengan seru sampai tiba2,


ditempat jauhnya lima tumbak, dari pohon siong, ada
terdengar itu suara nyaring dan panjang, yang disusul
dengan teguran. Kawanan rase, gerombolanan anjing, ada
berapa besar jumlahmu hingga kau andalkan jumlahmu
yang banyak itu? Tapi aku tidak takut, aku nanti bikin beres
kau semua!
Kata2 itu lantas disusul dengan melayang turunnya satu
tubuh, yang sesampainya ditanah tidak menerbitkan suara
apa juga. Itu ada suatu bukti dari entengnya tubuh atau
liehay nya ilmu Keng sin sut dari orang ini.
Menampak demikian, orang2 Hong Bwee Pang itu
terkejut sendirinya, malah Kui Liong Tek menjadi alpa,
ayal gerakannya, hingga nadinya kena disamber Liu Tong,
hingga goloknya terlepas dan terlempar jauh setumbak
lebih, mengenai satu boneka batu disamping mereka. Tidak
tempo lagi, ia loncat kesamping, untuk singkirkan diri.
Tikus, kau hendak lari kemana? demikian satu
bentakan, yang mendengung dikupingnya orang she Kui
ini. Selagi kaki nya baharu saja menginjak tanah, selagi ia
kaget, sebelah kakinya telah kena dibentur, hingga segera ia
rubuh, sesudah mana, ia rasakan orang mengangkat
tubuhnya laksana entengnya ssekor anak ayam. Iapun
lantas dengar orang itu berteriak Sambutlah! Ia rasakan
tubuhnya melayang, ia rubuh, tetapi segera ia berdiri pula,
hanya sebelum ia tahu apa2, ada orang gencet pinggangnya
kiri dan kanan, seraya ia dibentak Boca, kau rebahlah,
supaya ibumu tak usah hajar padamu!
Suara itu ada nyaring sekali. Lantas ia rubuh pula, rebah,
kedua tangannya telah ditelikung. Selama itu, tak pernah ia
memperoleh kesempatan akan lihat roman nya orang yang
bikin ia tidak berdaya. Ia pun merasa sangat malu. Baiknya

disitu tidak ada anak buahnya, yang saksikan rubuhnya itu.


Ia tidak terluka, tetapi ia mati kutu.
Hal 222 259 hilang
Setelah itu, orang yang baharu loncat turun dan atas
pohon itu, terdengar pula suaranya. Kawanan penjahat
yang tidak sayang jiwa, berhentilah dahulu sebentar! Ban
Sutee, berlakulah murah hati terhadap mereka! Aku niat
bicara dahulu dengan mereka ini !
Baik, sahut Liu Tong tanpa bersangsi, sambil
melompat mundur, keluar dari kepungan musuh2nya. Ia
mencelat dengan lewati kepalanya empat musuh itu, terus
ia berdiri disamping su hengnya.
Ouw Can berempat sudah lantas berkumpul menjadi
satu. Nampaknya wajah mereka ada tegang. Mereka
memasang mata kepada orang yang suaranya keren itu.
Itu waktu hujan sudah berhenti, mega mendung telah
mulai buyar, hingga samar2 kelihatan bulan sisir, yang
masih memain antara sang awan. Dengan begini, mereka
yang bermata awas, bisa melihat dengan cukup tegas.
Satu tumbak lebih jauhnya dari mereka, Ouw Can
berempat lihat satu orang tua yang tubuh nya kurus tetapi
sikapnya gagah dan bengis, tangan kirinya dibelakang,
tangan kanannya mengurut kumis.
Cuwie loosu, ini dia Eng Jiauw Ong ketua dari Hoay
Yang Pay! Ma Liong Jiang paling dahulu keluarkan
suaranya, apabila ia telah melihat tegas.
Ouw Can bertiga mengawasi terus, hati mereka keder.
Bukankah melawan satu Ban Liu Tong saja. yang menjadi
sutee mereka sudah kewalahan? Tak lagi mereka bersikap
garang sebagai semula.

Siapa yang menjadi kepala diantara kau? Ong Too


Liong tanya.
Itulah aku, Ouw Can, sahut Heng tong tocu Hong
Bwee Pang dengan terpaksa. Ong Too Liong, kau
melainkan satu guru silat di Lek Tiok Tong, di Ceng hong
po, Hoay siang, cara bagaimana kau berani musuhkan kita
kaum Hong Bwee Pang? Tahukah kau, siapa di dunya kang
ouw yang berani main gila terhadap kami? Ada berapa yang
telah mati karena memusuhi Hong Bwee Pang? Kau dengar
nasihatku si orang she Ouw, mari kau turut aku kepusatku,
untuk menemui ketua kami guna selesaikan perselisihan,
supaya selanjutnya kedua pihak hidup akur, tidak lagi saling
menyusahkan. Jikalau kau tetap berkepala besar, Hoay
Yang Pay jangan harap, bisa tancap kaki pula didalam
dunya kang ouw!
Eng Jiauw Ong tertawa dingin.
Ouw Can, kau pandai bicara! kata ia. Teranglah kau
keliru mengenal aku si orang she Ong! Sejak aku pimpin
Hoay Yang Pay, aku melainkan tahu urus kaumku sendiri.
Dengan menuruti azas kaumku, kami masuk dalam dunya
kang ouw untuk singkirkan sikuat dan jahat, guna tolong
silemah bercelaka. Perselisihanku dengan Hong Bwee Pang
ada mengenai diriku sendiri, itu ada urusan perseorangan,
maka jikalau Hong Bwee Pang ada satu laki dia mesti bikin
perhitungan denganku seorang, jangan dia berlaku hina
dina dengan culik murid2 kami! Kau semua berlaku
demikian busuk, mana aku mau mengerti? Baharu aku
ambil putusan akan pergi ke Cap jie Lian hoan ouw untuk
menegurnya, pihakmu sendiri telah ganggu kami
disepanjang jalan, kau berlaku curang sekali! Maka itu aku
hendak beri ajaran kepada kau sekalian! Kau ada kaum
Kang ouw, seharusnya kau insaf dan mundur sendiri, tetapi
kau tidak berbuat demikian bahkan dengan tak tahu malu

kau membabi buta mempersulit dan memperbahaya kami.


Rupanya karena kami tak sudi melayaninya, kau menjadi
olokan dan anggap kami dapat dipermainkan. Dihotel
hauw Kee Tiam kau sudah pertunjukkan sesuatu yang
meruntuhkan nama Hong Bwee Pang, sungguh sayang .
Ouw Can, jangan kau berlaga gila lebih jauh, dengan
kepandaian yang kau punyai, kau bukannya tandinganku!
Aku tidak mau basmi kau, aku sudah loloskan jiwamu
berlima, pergilah kau pulang untuk memberi laporan
kepada Liong Tauw Pang cu, supaya pemimpinmu itu siap
sedia dengan gunung golok dan kwali mendidih! Bilang
Ong Too Liong nanti pergi kesana, guna lakukan
pertempuran yang memutuskan, mati atau hidup! Bilang
juga apabila kedua murid kami terganggu selembar saja
rambu nya, kami nanti injak Hong Bwee Pang menjadi
tanah rata! Demikian pesanku. Andai kata kau masih
penasaran dan ingin mencoba2 aku, persilahkan, mari,
mari! kau boleh rasakan daging nya sepasang tangan
kosongku ini!
Gui Cin Pang jadi sangat gusar mendengar perkataan
menghina itu.
Eng Jiauw Ong, apa kepandaianmu maka kau berani
demikian terkebur? ia menegur. Aku Gui Cin Pang tidak
puas! Mari kita coba2!
To cu ini sudah lantas bertindak maju.
Kembali Eng Jiauw Ong tertawa, secara menghina.
Kau berani menantang aku untuk bertempur? kata ia.
Kau ada punya kepandaian apa? Tunggu sebentar!
Jago Hoay siang ini memutar tubuh akan hampirkan
patung batu besar disampingnya. Ia berdiri dibelakang
patung itu, dengan tangan kanan ia cekal lehernya, dengan
tangan kiri ia angkat bagian bawahnya. Bangun! ia

berseru. Dan patung itu, yang beratnya lima atau enam


ratus kati, ia bawa jalan dengan cepat beberapa tindak
sebelum ia kembali ditempat asalnya, sesudah mana, ia
berseru Sambutilah! Menyusul itu, ia melemparkan
patung itu, sampai jauhnya satu tumbak lebih. Ketika
patung itu sampai ditanah, dengan perdengarkan suara
keras, dia jatuh nancap, berdiri seperti asalnya.
Cin Pang bertiga melongo, mereka kagum dan kaget.
Tidak dinyana orang tua kurus itu ada punya tenaga
bagaikan raksasa.
Ong Too Liong, malam ini kami rubuh ditanganmu,
akhir nya Ouw Can akui. Baik, kami nanti tunggu kau di
Cap jie Lian hoan ouw!
Heng tong tocu ini terus putar tubuhnya, dengan niat
angkat kaki.
Jangan kesusu! kata Eng Jiauw Ong sambil tertawa
terbahak2. Cukup asal kau semua tahu keliehayanku!
Disini masih ada dua koncomu, mustahil kau inginkan kita
yang antar mereka ke Cap jie Lian hoan ouw? Justeru
akulah yang ingin berangkat lebih dahulu. Sampaikan
kepada ketuamu bahwa aku si orang she Ong bakal sampai
di pusatmu, lamanya setengah bulan, sedikitnya sepuluh
hari, disana aku nanti terima pengajaran.
Setelah berkata demikian, jago Hoay siang ini putar
tubuh, akan gapekan Liu Tong Sutee, kita bakal segera
bertemu dengan Thian lam It Souw Bu Wie Yang, ketua
dari Hong Bwee Pang, maka mari kita jangan layani segala
mereka ini!
Eng Jiauw Ong bertindak ketempat gelap antara
pepohonan, saudaranya ikuti dia, disana mereka
menghilang.

XXXII
Dengan air muka merah padam bahna malunya, Ouw
Can saling mengawasi dengan kawan2nya, tetapi segera ia
hampirkan Kui Liong Tek, yang rebah ditanah dengan
kedua tangannya tertelikung kebelakang.
Siauw Cun dan Ma Liong Jiang lantas kasi bangun
kawan itu, yang belengguannya terus diloloskan.
Kui Liong Tek menghela napas, lalu ia pandang Ouw
Can semua dengan muka merah.
Kita telah dirubuhkan secara begini, mana kita ada
muka akan berdiri terus didalam Hong Bwee Pang? kata ia
dengan sangat mendongkol. Sakit hati ini mesti dibalas!
Sekarang ini aku hendak merantau, untuk sembunyikan
diri, she dan nama, guna cari pelajaran lebih sempurna!
Jikalau aku tidak mampu rubuhkan Eng Jiauw Ong, tak
mau aku menemui pula kawan2 sesama kaum kang ouw!
Sabar, Kui To cu, berkata Gui Cin Pang. Bukannya
kita tidak bersemangat dan tak tahu malu, tetapi kekalahan
kita ini bukan disebabkan kita tidak tahu diri. Hoay Yang
Pay itu sudah menjagoi dikalangan Rimba Persilatan di
Selatan dan Utara sungai Besar, lebih2 selama yang
belakangan ini. Eng Jiauw Ong itu telah punyakan latihan
kepandaian empatpuluh tahun lebih, tidak heran apabila ia
tak dapat sembarangan dilawan. Kita kalah, tak usah kita
malu. Kitapun telah dapat pesan dari Pusat Umum, apabila
kita bukannya tandingan, kita diharuskan memancing dia
datang ke Cap jie Lian hoan ouw. Tugas ini kita sudah
jalankan. Bukankah Eng Jiauw Ong bersedia akan datang
kepusat kita? Sekarang kita mesti lekas pulang untuk
memberi laporan supaya Pang cu bisa bersiap sedia. Biarlah
disana kita cari ketika untuk lampiaskan dendaman ini,

untuk mencuci malu. Sekarang kita ada diantara rekan


sendiri, tidak ada anak buah kita, aku percaya kejadian ini
tidak akan teruwar keluar. Tidakkah demikian, Kui To cu?
Liong Tek manggut.
Baiklah, Gui To cu, aku suka turut kata2mu, to cu ini
jawab. Sekarang perlu kita lekas pulang, supaya kita tidak
ketinggalan oleh Eng Jiauw Ong.
Jangan kuatir, Kui Loo su, Siauw Cun menghibur.
Pusat kita bukannya pusat umum, umpama kata mereka
mendahului sampai, tak nanti gampang2 mereka mampu
lantas mencari ketemu....
Selagi Siauw Cun mengucap demikian, mendadak
mereka dengar suara ah ah uh uh dari atas pohon terpisah
lima tindak dari mereka, hingga mereka semua menjadi
heran.
Siapa? Cin Pang tanya dengan bentakannya.
Pertanyaan itu sia2, tidak ada yang sahuti.
Cin Pang ber sama2 Siauw Cun dan Liong Jiang segera
maju menghampirkan, Ouw Can susul mereka. Liong Tek
menjemput goloknya, untuk menghampirkan juga.
Siapa? kembali mereka menanya. Dua kali mereka
mengulangi, tetapi tidak ada jawaban.
Setelah datang lebih dekat dan mengawasi, mereka lihat
satu orang tergantung dengan tertelikung dan mulutnya
tersumbat.
Ouw Loosu, berkata Siauw Cun, tadi Eng Jiauw Ong
sebut dua orang kita, yang satu tentu dimaksudkan Kui
Loosu, maka yang lainnya mesti dia ini, hanya entah dia
siapa. Nanti aku lihat Tapi hati2, pesan Ouw Can yang

mengangguk menyatakan setuju. Iapun hargai kepandaian


mengentengi tubuh dari Siauw Thio Liang.
Siauw Cun tancap goloknya dibebokong, ia bertindak
kebawa pohon, apabila ia sudah mengawasi sekian lama, ia
enjot tubuhnya akan loncat naik akan hampirkan orang
tergantung itu siapa benar tertelikung kedua kaki dan
tangannya, tetapi tubuhnya tidak digantung, dia hanya
diletaki melintang diatas sebuah cabang, umpama dia geraki
badannya, dia bisa terpeleset dan jatuh!
Hebat, kata Siauw Cun dalam hatinya. Tapi ia masih
belum bisa lihat tegas mukanya orang itu. Ia coba
menginjak cabang yang kuat, ia lantas mendekati
kesamping orang itu.
Jangan bergerak, aku Siauw Cun hendak tolong kau,
kata ia seraya ia tepuk bebokongnya orang itu. Tapi ia lebih
dahulu cabut sumbatan mulut, hingga orang itu bisa
mengeluarkan napas lega, lalu ia menjerit.
Oh, Siauw To cu! kemudian kata ia lekas tolongi aku,
aku tak kuat, pinggangku bisa patah!....
Rupanya dia sudah cukup lama terpanggang diatas
cabang itu dimana ia tidak berani bergerak.
Oh, kau Song Jie! kata Siauw Cun, yang kenali suara
nya orang itu.
Dilain saat, jongos tetiron itu sudah dikasi turun.
Melihat dia, Ouw Can merasa malu.
Apa sudah terjadi dengan kau? to cu ini tanya.
Ketika aku pulang, aku masuk kedalam pekarangan
dengan panjat tembok seperti waktu keluarnya, Song Jie
terangkan.

Belum sampai aku loncat sampai ditanah atau ada


orang yang sanggapi aku, aku tertawan tanpa bisa melawan,
kemudian aku dibawa kedalam kamar dimana si hitam
ringkus aku, mulutku disumbat. Eng Jiauw Ong lantas
suruh murid2nya bebenah, aku dibawa kekantor kuasa.
Entah apa yang dia lakukan disitu, aku cuma dengar suara
semburan air dari mulut. Rupanya dia tolongi orang yang
kena dibikin pules obat tidur. Dengan lekas Eng Jiauw Ong
keluar pula, aku dikempit, samar2 aku dengar aku diancam
ketika aku dibawa naik keatas pohon, katanya sebentar
akan ada orang tolongi aku. Aku dilarang bergerak, atau
aku akan jatuh mampus. Dari separuh pingsan, aku sadar.
Bukan main sakitnya dadaku karena mesti melintang diatas
cabang, itulah siksaan hebat, sukur loosu keburu datang,
jikalau tidak, akhirnya aku bakal jatuh sendiri....
Inilah bukti Couwsu kita lindungi kau, kata Ouw Can.
Lain kali kau mesti bekerja lebih keras untuk Ma To cu
mu!
Liong Jiang menderu sekali, ingin ia tabas tubuhnya
sebawahan itu, supaya orang tidak perhina padanya, karena
Ouw Can berkata dengan maksud menyindir. Ia sendiri
tidak berani berbentrok dengan tocu itu.
Minggir kau! ia bentak Song Jie. Kaulah yang bikin
kita gagal!
Song Jie ketakutan, ia pergi kebelakang mereka.
Liong Tek lihat suasana jelek. Hal sudah terjadi,
siapapun tak dapat disesalkan, ia maju sama tengah.
Sekarang sudah mulai terang tanah, mari kita kembali
keperahu kita!
Ouw Can menurut, mereka lantas berangkat, tetapi Ma
Liong Jiang bawa Song Jie kepusatnya sendiri, karena Ouw

Can beramai terus berangkat pulang ke Cap jie Lian hoan


ouw, agar Eng Jiauw Ong tidak dului mereka.
Benar seperti katanya Song Jie, Eng Jiauw Ong sudah
bebenah, karena dia tidak berniat kembali kehotelnya,
sehabis bersama Liu Tong gertak rombongannya Ouw Can,
ia ajak Su touw Kiam dan Coh Heng meninggalkan Kian
hoo tian, ketika terang tanah, mereka sudah lakukan
perjalanan dua puluh lie lebih, mereka telah sampai di Liok
lie po di Co hoo wan. Cuaca itu waktu ada terang. Mereka
sudah pikir akan singgah untuk sarapan pagi, selagi jalan
untuk cari hotel, tiba Liu Tong senggol suhengnya seraya
berbisik Lihat, suheng, bukankah am cu ada disini?
Too Liong ikuti tujuan mata nya sang sutee. Dijalan
besar sebelah Timur, ditembok satu hotel dia lihat tulisan
huruf in awan.
Benar, itu ada tanda dari am cu, Eng Jiauw Ong
manggut.
Mungkin dia sudah berangkat, ke Barat selatan....
Liu Tong mengawasi, sekarang ia melihat, guratan
terakhir ada menuju kearah yang disebutkan suheng Itu.
Tanpa perhatian, orang tak akan dapat artikan guratan itu.
Suheng awas sekali, aku kalah, sutee ini mengakui.
Sekarang perlu kita tanya, kapan berangkatnya dia.
Eng Jiauw Ong setuju, ia anggukkan kepala. Maka
berempat mereka hampirkan hotel itu, yang pakai merek
Hok Bouw. Satu jongos menyambut mereka, mereka
diantarkan kesebuah kamar yang besar dimana paling
dahulu mereka disuguhi teh kemudian nasi.
Apa disini ada menumpang ruang beribadat? tanya
Too Liong selagi jongos atur barang hidangan.

Pelayan itu tercengang.


Oh, oh, apa jiewie ada Ong Loosu dan Ban Loosu? ia
balik tanya.
Cara bagaimana kau ketahui she kita? Too Liong
menegasi.
Oh, benar2 orang sendiri! yongos ini berkata pula,
seperti pada dirinya sendiri. Loosuhu aku masih belum
berangkat, nanti ku undang ia datang kemari.
Tanpa tunggu jawaban, jongos itu berlari kedalam.
Jiauw Ong dan Ban Liu Tong menjadi heran, hingga
timbul kecurigaan mereka. Tanda diluar bukankah
menyatakan pendeta wanita itu sudah berangkat? Kenapa
dia masih belum pergi? Tetapi toh dengan hati bimbang
mereka menantikan juga.
Jongos itu kembali dengan cepat, tetapi romannya tak
bergembira sebagai tadi, ia nampak nya menyesal dan
heran. Segera ia kata Tooya tadi ada aneh sekali! Dia
bilang dia hendak nantikan loosu berdua, tetapi baharu saja
dia telah berangkat pergi! Bagaimana jiewie loosu kenal
padanya? ....
Apa? Liu Tong memotong. Kau sebut too ya? Yang
aku maksudkan adalah satu su thay yang telah berusia
lanjut. Kenapa kau sebut2 too ya?
Tetapi, sutee, Eng Jiauw Ong turut bicara, too ya itu
tentunya kenal kita. Jikalau tidak, cara bagaimana dia
ketahui she kita? Lalu ia mengawasi jongos itu akan tanya
Ada satu su thay bersama empat muridnya perempuan,
adakah mereka itu singgah disini?
Jongos itu mengangguk. Benar mereka pun singgah
disini, tetapi mereka berangkat kemarin, ia kasi tahu.

Anehnya, jiewie loosu tanyakan su thay itu, dia sendiri tak


menanyakan tentang jiewie, jiewie tidak cari si too ya, dia
justeru bilang terang2 bahwa dia telah berjanji kepada
jiewie untuk satu pertemuan! Tidakkah ini aneh sekali?
Kau tak usah menjadi heran, Too Liong berkata pada
si pelayan Kami datang untuk pasang hio guna membayar
kaul, ketemu gunung kami menghormat, ketemui kuil kami
bersujud, tidak aneh apabila kami kenal banyak orang
beribadat. Apa bisa jadi tooya yang kau sebutkan tadi ada
Tan Tooya dari Pek In Koan di Go Gu San?
Bukan, loosu, sahut jongos itu sambil menggeleng
kepala. Jangan loosu katakan aku banyak mulut, tooya itu
bilang dia sedang mengembara, tetapi dimataku dia adalah
satu imam melarat sekali, yang hidupnya dari turunan tak
seberapa. Dari kepala sampai dikakinya, dia tak punya
barang berharga satu atau dua tail, kecuali pedangnya, yang
barangkali laku buat tiga sampai lima tail perak. Kalau dia
tidak punya pedangnya itu, barangkali kami tidak berani
ijinkan dia singgah, karena dikewatirkan dia dahar tidak
kuat membayar. Dia datang tadi baharu saja terang tanah,
lantas dia minta air dan barang makanan, untuk bersantap
dan minum. Baru saja aku tanya majikan tentang uang
pembayarannya imam itu, atau jiewie datang, maka aku
lantas sambut diyewie. Dia baharu saja pergi dengan
meninggalkan uang dua tail lebih. Coba pikir, apa tooya itu
tidak aneh?
Kalau begitu, benarlah dia! Eng Jiauw Ong kata pada
Liu Tong. Kemudian dia tanya jongos Berapa usianya
tooya itu?
Barangkali enam puluh tahun kurang lebih. Dia kurus
sekali tetapi jangkung, tubuhnya kekar dan romannya
bersemangat, malah makannya pun kuat, sebab dia dahar
habis makanan untuk tiga orang muda!

Dia tidak hutang, bagus, Eng Jiauw Ong bilang.


Kami yang alpa, kami lupa kepada janjinya itu. Pergi kau
layani lain tetamu.
Jongos itu undurkan diri, setelah mana, Liu Tong kata
pada suteenya Dugaanku imam itu mestinya Cianpwse
Tiat So Tu jin dari Liu Sian Koan, Tay San.
Memang, memang dia, Too Liong benarkan.
Disepanjang jalan dia kuntit kita, tak perduli hujan
gerimis, senantiasa dia kisiki kita, sampai dia suruh kita
bersabar.
Sampai sekarang ini dia masih saja jenaka dan aneh
kelakuannya, tak pernah berobah, Liu Tong kata.
Sekarang, suheng, tak dapat kita ayal2an, kita mesti lekas
sampai di Ceng hong po. Bukankah dia bilang dia hendak
nantikan kita dirumahmu? Tak boleh kita bikin dia
menunggu terlalu lama!
Eng Jiauw Ong manggut. Karena itu waktu Cu In Am cu
juga sudah berangkat.
Sehabis dahar, mereka beristirahat sebentar, lantas
mereka melanjutkan perjalanan. Ditengah jalan mereka
masgul. Selama itu tak pernah mereka dapat dengar tentang
In Hong dan Hong Bwee. Ketika mereka memasuki
propinsi An hui, masih mereka tidak peroleh hasil, kecuali
dengar kabar bahwa kedua murid itu tak kurang suatu apa.
Kawanan penculik ada sangat cerdik, saban2 mereka
sesatkan jalan.
Pada suatu hari di Bong shia koan, disebuah hotel, ada
kedapatan tanda rahasia dari Cu In Am cu. Itu ada bukti
bahwa pendeta wanita itu pasti sudah sampai di Ceng hong
po. Dida lam hotel dimana mereka singgah, mereka juga
dapati surat peninggalan dari Tiat So Toojin, yang menulis
Hoay siang Siang hiap, lekas pulang ke Lek Tiok Tong

kumpulkan tenaga buat pergi ke Tap jie Lian hoan ouw,


untuk tolong Hong Bwee dan In Hong. Terkabar
rombongan yang kau pecundangi di Hoo lam sudah
kembali kesarang mereka untuk atur tipu daya guna
mencari balas, maka itu harus kau waspada.
Too Liong dan Liu Tong kagum dan berterima kasih.
Terang sekali imam tua itu senantiasa dampingi mereka.
Karena ini, lekas2 mereka meninggalkan kota Hong shia
koan, seberangi sungai Siauw Hoo, untuk dari Utara Keng
san koan menembusi Hoay wan, lintasi Pang pou, menuju
langsung ke Hoay siang. Perjalanan ini ada sukar.
Disepanjang jalan, kalau tidak ada tentera pemberontak,
tentu ada pasukan pemerintah Boan. Tapi dengan tak suatu
halangan, mereka sampai juga di Lek Tiok Tong, di rumah
mereka. Sejak didepan, sudah lantas ada hiang yong, yalah
serdadu desa sukarela, yang mengabarkan sampainya
mereka ke kong so, kantor pusat dari Lek Tiok Tong.
Kapan Eng Jiauw Ong dan rombongannya sudah lewati
kali pelindung desa, mereka disambut sambil berdiri rapi
oleh barisan hiang yong yang menjaga disitu.
Ban Liu Tong lihat desa telah terjaga lebih sempurna
daripada waktu ia datang paling belakang. Lek Tiok Tong
dan Ceng hong po sebenarnya ada dua desa yang
dipersatukan. Di Lek Tiok Tong ada kebun bambu yang
luas nya beberapa ratus bauw, yang menghasilkan bambu,
maka itu, seputar desa ditutup dengan pagar bambu. Pintu
ada dua, ada diberdirikan empat tiauw tauw. ranggon besar
pengintai, serta dua belas keng lauw, ranggon peronda. Kali
pelindung ada mengitari desa, airnya dialirkan dari sungai
Hoay, airnyapun dipakai buat bercucuk tanam, maka
sebelas kampung yang tergabung dalamnya, ada subur
tanah ladangnya. Maka, selagi negara ada kalut, Ceng hong
po sendiri ada aman dan makmur.

Kagum Liu Tong terhadap suhengnya, yang pandai


mengatur desanya.
Untuk sampai ke kongso, ada satu jalan yang panjang
dan lebar, dikedua tepinya ada ditanami pohon bambu, dan
disepanjang jalan, saban2 ada serdadu desa yang menjaga.
Sesudah jalan setengah lie, empat hiang yong menyambut
untuk talangi Su touw Kiam dan Coh Heng menggendol
pauwhok mereka. Dari sini, jalan jadi banyak
pengkolannya, kekiri dan kanan, hingga bisa menyebabkan
orang kebelingar atau kesasar. Selewatnya jalan rahasia ini,
baharu orang sampai disatu tempat terbuka, yang lebar.
Disitu berdiri kongso dimana pekarangan ada ditanami
pelbagai pohon bunga, rumputnya rata dan terawat.
Kongso inipun terkurung pagar bambu. Pintu pekarangan
dijaga dua chung teng.
Selagi bertindak masuk kedalam pekarangan, belasan
orang keluar menyambut. Eng Jiauw Ong melihat, kecuali
orang sendiri, pun ada tujuh tetamu, yang termasuk
undangan, yang telah tiba terlebih dahulu.
Semua orang sendiri, didalam saja kita jalankan
kehormatan, kata Eng Jiauw Ong.
Demikian orang memasuki kongso.
Wakil ketua, po cu dari Ceng hong po, Cie Too Hoo,
sudah lantas berkata Suheng, seharusnya paling lambat
kau sampai kemarin malam, tapi baharu hari ini kau tiba,
dari itu, tadi malam sia sia saja kami menanti dalam
kekuatiran. Kalau hari ini kau tidak sampai juga, pasti kami
akan pimpin satu pasukan akan menyusulnya diperjalanan.
Apakah kau terhalang ditengah jalan?
Menyesal aku bikin kau berkuatir, sutee sahut Eng
Jiauw Ong. Sebenarnya juga, disepanjang jalan orang2

Hong Bwee Pang telah ganggu kami. Sebentar aku nanti


tuturkan semua.
Eng Jiauw Ong ingin ketemui dahulu satu per satu
tetamu2nya, yang telah memenuhi undangannya, yalan
Tiong ciu Kiamkek Ciong Gam, guru silat Wie Siu Bin dan
Kim Jiang dari Ek pak, Utara, piauwsu Hauw Tay dari
Shoatang Se latan, dua dari Cse Sui Sam kiat Phang Yok
Buri dan Phang Yok Siu, dan Kim too souw Khu Beng dari
Siong San. Mereka inipun inginkan keterangan perihal
diculiknya In Hong dan Hong Bwee.
Sehabisnya suguhan teh, Cie Too Hoo tanya, mana dia
Cu In Am cu dari See Gak Pay, yang katanya datang
bersama.
Turut rencana dia mesti sampai terlebih dahulu satu
hari, sahut Eng Jiauw Ong. Entah kenapa, dia
terbelakang. Apa tak bisa jadi, sutee, mereka terhalang? ia
tanya Ban Liu Tong.
Aku percaya am cu bukan terhalang, dia mesti ada
punya kan urusan lain. sahut Liu Tong. Ada berbahaya
kalau penjahat berani rintangi am cu.
Ketika itu, dengan saling susul ada datang orang2 tua
sebelas desa, untuk menemui ketua mereka, yang katanya
telah kembali, dari itu repot Ong Too Liong
menyambutnya, iapun sekalian tanya keadaannya masing2.
Seberlalunya semua tetua itu, Cie Too Hoo jamu Too
Liong dan Liu Tong. Selagi bersantap, Eng Jiauw Ong
gunai kesempatan akan tuturkan sebab musabab dari
bentrokan dengan pihak Hong Bwee Pang.
XXXIII

Mereka keterlaluan, kata Kim too souw Khu Beng


yang menjadi gusar. Aku tahu benar, kita pihak Hoay
Yang Pay bisa bawa diri. Kalau toh kita bentrok dengan
orang jahat, ada biasa saja, tapi tindakan mereka sangat
hina. Aku lihat, mak sud sebenarnya dari Hong Bwee Pang
adalah untuk menjagoi sendiri di Kanglam .....
Baharu Khu Beng bicara sampai disitu, datang satu
chung teng yang mengabarkan tiba nya Sin Piauwsu, hingga
Too Liong dan Liu Tong jadi tercengang.
Aiya! seru mereka. Sin Loo enghiong sudah berusia
lanjut, dia tak hiraukan usianya dan jalan yang jauh, dia
memerlukan datang, sedang dia bukannya kaum kita,
sungguh ia mulia. Mari kita sambut padanya!
Keduanya bangkit, diturut oleh yang lain lain, yang
kebanyakan kenal piauwsu she Sin itu, yalah Siang ciang
Tin Kwan see Sin wie Pang, sahabat kekal dari Mau Liu
Tong, yang sebagai piawsu, namanya kesohor di Liauw
tong.
Ya, dia harus dihargai, nyatakan Ciong Gam dan
Hauw Tay.
Semua lantas bertindak keluar, baharu sampai
ditikungan, mereka sudah berpapasan dengan piauwsu tua
itu, yang diiring dua thung teng, sedang dibelakangnya ada
ikut satu anak muda yang bawa pauwhoknya.
Sin Loo enghiong, sungguh tak berani kami menerima
kunyungan ini! berseru Too Liong dan Liu Tong yang
maju dimuka untuk beri hormat mereka. Sedang Liu Tong
menambahkan Lauwko, sungguh kau baik sekali, aku
sangat berterima kasih !
Kita ada sahabat2, jangan ssejie! sahut jago tua itu,
yang membalas hormat. Jikalau aku tidak pergi

berkunjung ke Kwie in po, pasti aku tak tahu yang Ban


Lauwtee telah berangkat kemari. Dari Thio Hie pun aku
ketahui halnya persengketaan Hong Bwee Pang. Kenapa
lauwtee tidak beritahukan aku tentang perselisihan itu? Ah
lauwtee, kau harus didenda!...
Dan ia bersenyum.
Sebelum Liu Tong menyahuti, Eng Jiauw Ong
mendahulukan ajar kenal tetamunya ini dengan Ciong Gam
bertujuh, setelah mana, Sin Wie Pang pun suruh anak muda
pengikutnya, yang ada muridnya, Hui thian Giok niauw
Hang Lim, hunjuk hormat pada semua orang.
Eng Jiauw Ong lantas undang semua orang masuk akan
ambil tempat duduk.
Diam2 Tiong ciu Kiamkek Ciong Gam pandang piauwsu
tua ini, yang umurnya sudah lebih daripada enam puluh
tahun, rambut dan kumis jenggotnya sudah putih semua,
akan tetapi roman nya masih gagah, tubuhnya tinggi dan
kekar, kulit mukanya masih bersemu merah, sepasang
matanya tajam.
Selagi minum teh, piauwsu tua ini lihat meja perjamuan.
Ciongwie jinheng, nyatalah aku datang bukan pada
saatnya, berkata ia. Ciongwie sedang bersantap, aku telah
mengganggunya, aku menyesal sekali. Jikalau ciongwie
memandang kepadaku, silahkan duduk dan dahar terus,
jangan sungkan2
Ia bicara sambil berbangkit.
Sin Jieko, apabila jieko tidak mencela, silahkan kau
duduk bersama, Liu Tong mengundang. Kita ada sama2
orang Rimba Persilatan, jangan see jie. Biarlah inipun

menjadi perjamuan untuk jieko, supaya kita leluasa


bercakap2.
Cie Too Hoo sudah lantas perintah chungteng siapkan
dua meja hidangan yang baharu.
Sebenarnya kita berdua sudah dahar, Wie Pang kata.
Jangan ssejie, loo enghiong, mari kita dahar bersama,
Too Liong memohon.
Wie Pang mengucap terima kasih, ia lantas ambil tempat
duduknya.
Too Liong segera suguhkan arak, sedang barang
makanan sudah mulai disajikan pula.
Kedatanganku ini, ke satu untuk kerukunan kaum kita,
kedua ada suatu hal yang aku ingin sampaikan pada Ong
Suheng, Wie Pang kata kemudian. Tentang diriku, Ban
Loosu ketahui baik sekali. Aku mengerti silat sedikit sekali,
kalau toh aku bisa hidup dalam perusahaan piauw, semua
itu karena bantuannya sahabat2. Dengan segala kumpulan
rahasia aku tidak punya perhubungan sama sekali, adalah
setelah dengar keterangan muridnya Ban Loosu perihal
Hong Bwee Pang, aku baharu ingat bahwa aku sebenarnya
ada sangkut pautnya.
Mendengar demikian, semua orang tercengang.
Ciongwie, perlu aku bicara, untuk tidak menerbitkan
salah mengerti, Sin Wie Pang melanjutkan. Sudah sekian
lama aku undurkan diri, adalah maksudku untuk
beristirahat guna bebaskan diri dari segala kesulitan. Tapi
tetap aku masih punyakan sahabat2. Pada tahun yang
sudah, satu sahabatku di Kanglam ada omong tentang
munculnya satu orang kang ouw luar biasa, yang dipanggil
Thian lam It Souw Bu Wie Yang, yang sudah bangunkan
pula Hong Bwee Pang dengan berkedudukan di Cap jie

Lian hoan ouw. Nama itu mengingatkan aku kepada


muridnya susiokku. Tempo aku selidiki lebih jauh, nyata
dia benar adalah suhengku. Selama belajar silat, kami
jarang bertemu satu dengan lain, dalam satu tahun, ketika
bertemunya cuma satu atau dua kali. Setelah sama2 keluar
dari perguruan, kami jadi seperti putus hubungan, suheng
itu berdiam di Selatan, aku di Utara dimana aku ikuti dua
sahabat. Untuk belasan tahun aku berdiam didaerah
Shoatang dan Shoasay serta Hong Hoo Selatan, baharu
setelah berumur tiga pululi enam tahun, aku buka Hin Seng
Piauw Kiok di Kauw pak. Selama tiga puluh tahun, tidak
pernah aku bertemu suhengku itu. Seperti aku sudah
terangkan, baharu sejak tahun yang lalu aku dengar Bu
Suheng telah kepalai Hong Bwee Pang. Aku tidak bisa
berbuat suatu apa tetapi aku sayangi sepak terjang nya
suheng itu. Aku mengerti, semakin besar gerakannya,
semakin besar juga bencana yang mengancam padanya.
Aku berdiam saja karena aku tahu suheng itu berkepala
besar dan jumawa, dia sangat cerdik, kepandaiannya jauh
melebihi aku, umpama aku nasihati padanya, pasti dia
bakal perhina aku, mungkin dia tak sudi aku sutee
kepadaku. Aku anggap tak perlu aku ambil tindakan yang
toh tak akan ada faedahnya. Tapi sekarang ada lain. Dia
bentrok kepada Hoay Yang Pay, sedang Ban suheng adalah
sahabatku. Tak dapat aku berdiam saja. Tapi aku
berkedudukan serba salah, tak dapat aku bantu salah satu
pihak. Maka diakhirnya aku henti, ku ambil satu jalan,
ingin aku mengakurkan kedua pihak. Pertempuran berarti
kerugian untuk kedua pihak. Dalam hal ini, tidak ada salah
satu pihak yang dapat pengaruhi aku, sebagaimana aku
datang kemari atas suka sendiri. Dengan bertindak begini
juga aku tidak dapat duga bagamana akan hasilnya dan
bagaimana akibatnya nanti.

Too Liong dan Liu Tong berbangkit, mereka menjura


pada piauwsu tua itu.
Sungguh loo piauwsu baik sekali. kata Eng Jiauw Ong.
Apa juga akibatnya tindakan loo piauwsu ini, kami tetap
anggap itu sebagai budi besar, yang tak akan kami lupakan.
Umpama loo piauwsu berhasil, kami nanti akur saja, kami
tak akan mempersulit pada loo piauwsu.
Lauwko boleh percaya, kami pasti akan turut lauwko,
Liu Tong pun berikan kepastian. Memang, seperti kata
lauwko barusan, Hong Bwee Pang ada galak sekali.
Lauwko, tidak nanti aku lupakan budi kau ini.
Mendengar demikian, Sin Wie Pang yadi puas sekali.
Harap jiewie loosu tidak bicara tentang budi, kata ia.
Bagiku cukup asal jangan ada ucapan bahwa aku
melindung suheng seperguruanku. Maksudku yang utama
adalah agar persennketaan hebat dapat disingkirkan.
Ciong Gam puji piauwsu tua ini.
Loo piauwsu, kemudian ia tambahkan, Apa kau suka
beritahukan dimana letaknya Cap jie Lian hoan ouw itu.
Pernah aku tanya kedua suteeku, mereka pun tidak tahu.
Daerah Gan Tong San di Ciatkang Selatan ada luas sekali,
tak ada orang dapat sampaikan pusat umum dari Hong
Bwee Pang itu.
Ditanya demikian, mukanya Sin Piauwsu menjadi
merah.
Ciong Loosu, pertanyaan kau ini mirip dimajukan
kepada seorang buta, ia menyahut. Dengan sebenarnya,
aku sendiri tidak tahu keletakannya Cap jie Lian hoan ouw,
cuma orang bilang, itu berada didekat Hun cui kwan. Nanti
saja, sesudah aku dapat mencari, aku kirim muridku ini
untuk menyampaikan kabar pada loosu semua.

Loo piauwsu, tak dapat kau berbuat demikian, Ciong


Gam mencegah. Itulah berbahaya bagimu.
Ya, lauwko, tak dapat kau berbuat demikian, Liu Tong
sambungkan. Aku percaya, sepak terjangmu ini akan
mencurigai Bu Wie Yang. Sebelum nya, kau tidak pernah
cari dia, mendadakan ada urusan kami, kau datang
kepadanya, jikalau itu ditambah dengan datangnya
muridmu kepada kami, pasti kau akan dicurigai sebagai
pengkhianat, hingga bisa terjadi kau akan bentrok padanya.
Biarkanlah kami sendiri yang cari sarangnya itu. Kami akan
tunggu saja hasilnya ikhtiar lauwko, setelah itu, kami nanti
timbang tindakan apa kami akan ambil lebih jauh.
Sin Wie Pang anggap Liu Tong benar, ia tidak memaksa.
Mereka lalu bersantap sampai perjamuan ditutup, selagi
mereka duduk berkumpul lebih jauh, Too Liong minta
perkenan untuk undurkan dirikatanya untuk meronda. Liu
Tong diminta wakilkan ia kawani semua tetamu. Itu waktu
sudah dipermulaan jam Yu sie, jam lima atau enam
magerib.
Tapi Sin Wie Pang beranggapan lain, ia justeru minta
perkenan akan boleh turut meronda, katanya untuk dapat
melihat Lek Tiok Tong yang tersohor, yang sudah lama ia
dengar. Ini ada ketikanya yang baik.
Ah, loo piauwsu memuji saja, Too Liong merendah.
Tempatku ini ada satu desa yang sepi, melihat desa ini
pasti loo piauwsu akan tertawa. Melulu untuk menjaga
keselamatan diri, aku telah coba mengatur penjagaan.
Jikalau ada kekurangannya, harap loo piauwsu suka
berikan pengunjukan kepadaku.
LiuTong tertawa.

Sebenarnya kau berdua saling bersungkan, kata dia.


Sekarang begini saja, aku undang semua untuk sama2
melihat, agar apabila ada sesuatu kekurangan, biarlah
semua tetamu kita yang terhormat suka mengubahnya.
Too Liong manggut.
Begitu paling baik, kata ia, yang terus undang semua
tetamunya.
Maka semua orang lantas ber yangkit, semua pergi
keluar mengikuti tuan rumah, yang membuka jalan.
Segera orang lihat tegas rimba pohon bambu yang teratur
rapi, hingga nama dusun itu cocok dengan keadaannya.
Lek tiok pun berarti bambu. Ada tempat2, jangan kata
waktu malam, waktu siang pun tak dapat diinjak orang
asing, karena di situ ditancapi pelatok2 bambu runcing
mirip dengan Bwee hoa chung atau pelatok bunga
bwee-pelatok untuk adu silat. Orang asing pun gampang
tersasar disitu.
Lapangan luas itu adalah untuk belajar silat atau belajar
baris, lebarnya dua puluh bauw lebih, dimana sedia segala
macam alat senjata, setiap habis latihan, tentu lantas
dibersihkan, seperti itu waktu, ada empat chungteng sedang
bebenah. Disini segala apa teratur rapi demikianpun dalam
hal keangkatan ciang bun jin, ahli waris atau ketua kaum.
Menurut tingkatan, derajatnya Tiongciu Kiamkek Ciong
Gam ada seimbang dengan Ong Too Liong, dia ada pernah
suheng, tetapi toh Too Liong yang mengetuai Hoay Yang
Pay. Inilah sebab Hoay Yang Pay mengadakan aturan,
ahliwaris diangkat bukan karena dia ada murid pertama
atau tertua, hanya menurut pilihan umum, asal dia
berkepandaian liehay dan disukai. Tiongciu Kiamkek ada
lebih liehay, tapi ia tawar dengan penghidupan, walaupun
benar ia gemar sekali merantau dimana banyak yang ia

telah lakukan. Sudah lama dia tidak pernah pulang ke Hoay


siang, tapi sekarang ia kagum menampak pengaturannya
Eng Jiauw Ong, diam2 ia puji sutee ini.
Dari lapangan latihan itu, orang pergi kegudang umum
dari Lek Tiok Tong. Gudang ini ambil tempat lebih luas,
terjaga lebih sempurna, jauh dari segala pendirian, guna
cegah bahaya api. Gudang terdiri dari dua puluh empat
ruang besar dan kekar buatannya. Kecuali beras dan padi,
disitupun disimpan ikan dan daging, sayuran dan lainnya
bahan makanan teman nasi, untuk keperluan sebelas
kampung, persediaannya cukup untuk tiga tahun, umpama
kata ada bahaya kering, air bah dan perang. Di sekitar
gudang ada lagi gudang pelbagai alat senjata, antaranya
bengkel persenjataan, hingga orang tak usah beli senjata
dari luar.
Sesudah orang meninjau, Eng Jiauw Ong minta dengan
sangat agar semua itu tidak diuwarkan kepada orang luar,
kesatu untuk jaga pihak musuh berdengki, kedua agar
pemerintah tidak curiya dan menduga Lek Tiok Tong
bersiap untuk pemberontakan.
Akupun ada kekuatiran bagi Kwie in po, Ban Liu Tong
tambahkan. Maka disana aku selalu berlaku waspada.
Kami bekerja untuk keselamatan tempat sendiri lain tidak.
Kau benar, sutee, kau harus bisa jaga diri, kata Siong
San Kim too souw Khu Beng yang menjadi toa suheng.
Kemudian Too Liong mengantar akan melihat2 rumah
tinggal dari delapan hiangthio, tetua delapan kampung,
yang berada dibelakang gudang, jauhnya sepanahan lebih.
Tempat ini ada tenang, sekitarnya ada pohon murbei, yang
diusahakan. Lainnya adalah sawah2, kebun buah2an dan
sayuran, untuk memenuhi kebutuhan prenduduk.

Sebelum sampai dikali pelindung desa, ada lagi selapis


pagar bambu dengan pelatoknya yang tajam, dengan kawat
bajanya yang kasar. Semua pelatok itu dipasang menurut
usul dan Tiat So Toojin. Benar pagar kuat tetapi sesuatu
orang yang mengerti ilmu entengi tubuh bisa loncati itu,
maka dipasangi pelatok untuk menjaga. Sebagai penambah,
banyak kelenengan di bandulkan disitu, hingga siapa
nyelusup masuk, dia akan langgar kelenengan , yang
suaranya menjadi pertandaan ada bahaya. Diluar pagar
bambu juga ada dipasangkan pelbagai gaetan untuk
penjagaan, dipasangnya secara rahasia sehingga sukar
orang melihatnya, siapa sembrono, tahu2 dia akan sudah
tergaet.
Demikian Eng Jiauw Ong antar tetamunya, sambil
saban2 memberikan keterangan, sesudah mana, karena
berbareng iapun sudah selesai meronda, ia ajak
rombongannya kembali ke kongso.
Demikian kuat penjagaan Eng Jiauw Ong toh masih ada
orang liehay, yang bisa nyelusup masuk
XXXIV
Sesampainya di kongso, penerangan telah dinyalakan.
Semua lantas duduk berkumpul pula akan menghadapi air
teh sambil pasang omong. Kemudian Hu po cu Cie Too
Hoo undang sekalian tetamu duduk bersantap.
Eng Jiauw Ong utarakan pada Siong San Kim too souw
Khu Beng dan Tiongciu Kiam kek Ciong Gam tentang
nyatannya lekas pergi ke Cap jie Lian hoan ouw.
Baiklah kita tunggu lagi satu hari, Ciong Gam
nyatakan. Dihari ketiga, ada datang lagi lain orang atau
tidak, kita boleh lantas berangkat.

Eng Jiauw Ong setujui saran ini.


Habis bersantap, orang duduk pula, pasang omong
sampai jam dua, sesudah mana, semua undurkan diri untuk
beristirahat. Cie Too Hoo telah sediakan tempat
untuk
semua tetamunya itu.
Malam itu Cie Too Hoo yang menilik perondaan,
meskipun suhengnya sudah pulang, karena ia anggap
suheng itu perlu beristirahat. Tadinya Eng Jiauw Ong
hendak pegang pula tugas nya, tetapi sang sutee desak ia,
hingga ia suka mengalah.
Eng Jiauw Ong ambil tempat ber sama2 Khu Beng dan
Sin Wie Pang, diruangan kecil dibelakang. Itulah sebuah
rumah dengan tiga buah kamar, pekarangannya ditanami
banyak pohon bunga, kamarnya terperabot sederhana tetapi
bersih dan terawat baik. Kursi meja semua terbuat dari
bambu. Ketiga kamar berhubungan satu dengan lain. Di
ujung Timur ada ruangan kitab, yang menembus pada
sebuah pintu kecil. Itulah pintu kamarnya tuan rumah.
Sin Wie Pang puji rumah ini, tapi Eng Jiauw Ong
merendahkan diri.
Untuk kedua tetamu telah disediakan dua pembaringan
lain, satu ditaruh dibawah jendela Barat, satu lagi dibawah
jendela Utara. Dimeja telah disediakan air teh.
Itu waktu sudah jam dua lewat, Eng Jiauw Ong minta
Sin Wie Pang tidur dipembaringan nya didalam kamar, ia
sendiri bersama Khu Beng, sang toa suheng, tidur
dipembaringan Barat dan Utara itu. Mulanya Wie Pang
menampik tapi tuan rumah desak ia, hingga ia bersyukur
sekali untuk manis budinya tuan rumah ini, ketua dari
Hoay Yang Pay, hingga ia pikir ia mesti kerja sungguh akan
mengakuri kedua pihak.

Oleh karena ia letih bekas perjalanan jauh, tak lama


kemudian Wie Pang sudah tidur nyenyak. Eng Jiauw Ong
dan Khu Beng tidur belakangan, sesudah mereka
bersamedhi sekian lama menuruti aturan kaumnya.
Ketika itu ada kira2 jam tiga lewat sedikit.
Eng Jiauw sedang layap2 ketika ia dengar suara
berkelisik pelahan sekali. Ia terperanjat. Segera ia pasang
kuping. Tapi ia tidak dengar apa juga. Dalam keraguannya,
dengan hati2 ia berbangkit, dengan jari tangan yang
dibasahkan ludahnya, ia tusuk kertas jendela untuk
mengintai keluar.
Diluar, bulan sisir yang sudah mulai doyong, ada
bersinar terang. Malam ada sunyi. Melainkan angin halus
mendesir pelahan. Suara lainnya tidak ada. Eng Jiauw Ong
tertawa sendiri dalam hatinya. Ia anggap ia terlalu berhati2.
Ia lantas rebah pula.
Tanpa merasa, karena letihnya Eng Jiauw Ong tertidur.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah tidur, ia hanya tersedar
dengan terkejut. Kembali ia dengar suara, seperti dari
pembaringan didepannya. Ia berdiam tetapi ia buka
matanya.
Siapa? segera ia dengar suhengnya menegur.
Menyusul suara itu, terdengar satu suara dipintu,
menyamberlah suatu benda, yang mengenai tembok.
Jahanam, kau berani mengintai? demikian terdengar
Khu Heng menegur. Ia sudah lantas mengenakan sepatunya
dan samber goloknya, Kim pwse too, yang ia letaki dikepala
pembaringan, dengan ujung goloknya ia padamkan sumbu
pelita, sesudah mana, ia lompat kepintu.
Berbareng dengan itu, Eng Jiauw Ong pun telah
mencelat ke jendela, akan singkap kain penutupnya

bahagian atas, hingga diluar kamar ia lihat berkelebatannya


satu bayangan tubuh menuju kearah Timur. Ia lantas
menyusul, dengan ceploskan diri dilobang jendela. Ketika ia
sampai diluar, lantas ia menegur Penjahat, kau telah
datang untuk memberi pengajaran kepadaku, mari sini,
jangan kau main sembunyi2. Disini aku Eng Jiauw Ong
akan lakukan keharusanku sebagai tuan rumah.
Bayangan itu tidak menyahuti, malah terus berlompat
ketembok.
Khu Beng, yang telah muncul dipintu, lihat suteenya, ia
dengar teguran sutee itu, tapi iapun tampak orang
menyingkir kearah Timur utara, diatas genteng, ia segera
menyusul.
Rupanya Siang ciang Tin kwansee Sin Wie Pang juga
dengar suara berisik, dia sudah lantas muncul dengan
senjatanya ditangan. Ia keluar dari jendela.
Ong Loosu, mari kita kejar dia! dia kata dengan
nyaring pada Eng Jiauw Ong. Tikus itu bernyali terlalu
besar, tidak enak rasanya apabila kita biarkan dia pergi pula
dari Lek Tiok Tong ini!
Setelah mengucap demikian, piauwsu tua ini segera
loncat menyusul.
Eng Jiauw Ong dan Khu Beng pun tidak berayal lagi.
Diantara tiga jago itu, Eng Jiauw Ong adalah orang yang
ilmunya entengi tubuh paling lie hay, maka itu ia telah
lombai toasuheng dan tetamunya. Ia lihat orang didepan
lari pesat sekali, sebentar saja dia sudah lewati pekarangan
kongso, akan ikuti jalanan kecil dirimba bambu.
Sin Wie Pang loncat naik ditembok Timur, selagi ia
hendak loncat turun, ia tampak satu bayangan lewat

disebelah depannya, menuju ke Timur. Bayangan itu sudah


lantas menegur Siapa?
Oh, kau, Cie Po cu! Wie Pang sahuti. Aku Sin Wie
Pang!
Loo piauwsu dapat lihat penjahat itu? tanya Cie Too
Hoo, yalah bayangan itu, ketua muda dari Ceng hong po.
Kami sedang mengejarnya, sahut Wie Pang. Ong Po
cu sudah berada didepan sana. Penjahat ada sangat gesit.
Apakah po cu pun sudah ketahui tentang masuknya
penjahat itu?
Ya, baharu saja. Silahkan loo piauwsu pergi mengejar,
aku akan bunyikan tanda ada bahaya.
Lantas Cie Too Hoo berlalu.
Sin Wie Pang maju, untuk susul dua kawannya. Segera
ia lihat lentera pada padam atau rusak terbakar. Ia
mengerti, itu ada perbuatannya orang jahat. Ia maju terus,
ia tak lihat Eng Jiauw Ong dan Khu Beng. Di jalan cagak,
untuk kegudang pusat dan lapangan latihan, ada satu
bayangan berkelebat ke arah gudang pusat, lantas ia lari
menyusul. Bayangan itu ada sangat gesit. Ia menyusul
sampai disatu tempat dimana ada lentera tergantung, ia
lihat orang itu ayun tangannya, lantas lentera itu padam.
Dia benar liehay, pikir piauwsu tua ini, yang jadi
berlaku waspada. Ia cekal keras golok Kauw kong Houw
tauw too. Selagi mendekati gudang pusat, hatinya kebat
kebit, ia kuatir bayangan itu nyelusup kedalam rimba dan
lenyap
Justeru itu, mulailah terdengar suara kentongan
pertandaan, yang terus disambut diempat penjuru, disambut
juga oleh pihak penjaga gudang, antara siapa ada yang terus
muncul bersama obor dan lenteranya, untuk terus jaga

mulut jalanan, Sin Piauwsu tidak mau ketemui sekalian


penjaga itu, ia lihat orang tadi menuju ke ujung Barat utara,
ia menyusul terus. Jarak antara ia dan orang itu ada kira2
empat tumbak. Ia menguntit seraya umpatkan diri.
Kemana juga kau pergi, aku nanti membuntutinya,
kata ia dalam hatinya. Ia harap2 kumpul nya semua orang
Hoay Yang Pay, untuk kepung penjahat itu.
Sinar bulan membikin Sin Piauwsu bisa juga lihat
bayangan itu, seorang tua umur lima puluh kurang lebih,
rupanya berkumis pendek. Dibebokongnya ada tergendol
senjata, entah senjata apa. Dia itu merandek, untuk melihat
kesekitarnya, kemudian tiba2 dia tertawa nyaring dan kata
Ada tetamu agung, bukannya dia disambut dengan manis,
malah dia diuber2, apa itu tak akan bikin orang nanti
tertawai kau sekalian?
Mendengar demikian, Sin Wie Peng segera muncul,
untuk menghampirkan.
Sahabat, kau telah datang ke Ceng hong po, sudah
seharusnya kau perkenalkan diri! ia jawab. Kenapa kau
main sembunyi2? Apakah itu tidak menurunkan derajatnya
Hong Bwee Pang? Sebutkanlah namamu, sahabat!
Sahabat, tak usah kau tanya namaku! sahut orang itu
dengan sabar. Karena kau sudah ketahui aku ada sahabat
dari Hong Bwee Pang, itulah terlebih baik pula! Aku telah
memasuki Lek Tiok Tong, sudah selayaknya aku
beritahukan she dan namaku, supaya pihak Hoay Yang Pay
tidak katakan aku tidak tahu aturan, akan tetapi aku datang
untuk mengundang, bukannya untuk membikin kunjungan.
Sebab karcis namaku sudah diserahkan, tidak berani aku
terlalu menggelecok disini. Apabila kau, sahabat, ingin
mencari keputusan siapa lebih kuat dan lebih lemah,
silahkan kau sekalian datang ke pusat kami, disana Liong

Tauw pang cu sedang menantikan kau. Pasti sekali, dengan


cara yang hormat sekali kami akan nantikan kunjunganmu
sekalian. Sahabat, aku telah bicara, maaf kan aku yang
sudah mengganggu Lek Tiok Tong. Sampai kita bertemu
pula!
Sehabis mengucap demikian, yang secara merdeka
sekali, orang itu hendak putar tubuhnya untuk berlalu.
Sahabat, kau terkebur sekali! Sin Wie Pang
membentak. Jikalau kami di Lek Tiok Tong bisa antap
satu sahabat datang dan pergi dengan secara sesukanya
sendiri, tak usah lagi kami ini menaruh kaki dikalangan
kang ouw! Kau telah datang kemari, kau seharusnya
pertunjuki sesuatu kepada kami! Tak dapat kau pergi seperti
sekehendakmu
sendiri. Sahabat, kau berikanlah ajaran
padaku!
Orang tidak dikenal itu tertawa tawar.
Aku benar2 tidak percaya, ke tua dari Lek Tiok Tong
bisa perintahkan tetamunya secara demikian kata ia
dengan mengejek. Sahabat, maafkan mataku yang kurang
awas, aku belum ketahui she dan namamu.
Sin Wie Pang kena dipengaruhi oleh kejumawaannya
orang asing itu, hingga ia jadi mendongkol.
Kau tanya she dan namaku? tegasi ia. Aku ada Siang
ciang Tin kwan see Sin Wie Pang! Bu beng siauw cut, kau
telah datang ke Lek Tiok Tong, kau mesti tinggalkan tanda
mata!
Oh, kiranya Sin Loo piauw tauw! kata orang itu,
dengan suara mengejek. Didalam kalangan kang ouw,
sudah lama nama loo piauwsu ada sangat tersohor, tetapi
katanya loo piauwsu sudah undurkan diri, kenapa sekarang
loo piauwsu berada didalam air keruh ini? Loo piauwsu,

karena aku hargai kau, sukalah aku menerangkan padamu


bahwa kedatanganku kesini adalah atas titahnya Liong
Tauw Hio cu, untuk undang akhliwaris dari Hoay Yang
Pay mengunjungi pusat kami. Aku pun pernah dengar
kabar, tidak sembarang orang diizinkan memasuki Lek Tiok
Tong, siapa yang memasukinya, dia jangan harap bisa
keluar pula, karena itu, aku jadi bersangsi. Cap jie Lian
hoan ouw terjaga bukannya tidak sempurna, walaupun
demikian masih saja ada sahabat2 yang sudah datang
mengunjunginya, tapi cerita tentang Lek Tiok Tong ada
demikian hebat, bisa membikin orang menjadi jeri, dari itu
aku sengaja datang kemari untuk membuka mata. Lagipun
memang ada tabeatku sejak aku masuk dalam dunya kang
ouw, aku paling suka bertemu batunya, buat aku, jatuh
merek ada sebagai orang dahar nasi, maka itu aku merasa
beruntung yang aku telah bisa masuk kemari, untuk
menyampaikan surat undangan. Tidak apa yang tuan
rumah tidak sambut aku sebagaimana mesti nya, aku toh
telah dapat kesempatan akan me lihat2 disekitar sini, maka
sayang aku telah bikin kaget padamu. Loo piauwsu, kau
ada satu enghiong tua, kau tentunya mengarti, apabila aku
jeri, tak nanti aku datang kemari, tetapi pertemuan antara
Hong Bwee Pang dan Hoay Yang Pay sudah ada didepan
mata, karena itu, tak perlu kita bertempur disini, melulu
untuk merusak persahabatan. Jikalau loo piauwsu tidak
buat celaan, silahkan kau juga jalan2 ke Cap jie Lian hoan
ouw, disana kami pasti siap akan sambut kau secara
hormat. Bagaimana loo piauwsu pikir?
Selagi tetamu tak diundang ini bicara, suara kentongan
seperti bergemuruh disekitar Lek Tiok Tong, dekat dan
jauh, suaranya saling susul. Walaupun demikian, sama
sekali tidak tertampak kekalutan. Sang tetamu pun terus
bersikap tenang.

Sin Wie Pang menjadi sulit sendirinya. Ia percaya pasti,


orang ini ada salah satu pemimpin dari Hong Bwee Pang. Ia
adalah suteenya Liong Tauw Hio cu dari Hong Bwee Pang,
ia datang untuk mendatangkan keakuran bagi kedua pihak,
siapa tahu, ia sekarang hadapi utusan Liong Tauw Hio cu.
Bagaimana dia bisa turun tangan? Pun untuk ia, menang
atau kalah akan ada ruginya, tidak ada untungnya. Kalau ia
kalah, runtuhlah nama besar nya dan kalau ia menang, ia
jadi perbesar permusuhan, ia sendiri turut kelibat, hingga
akan gagallah cita2 nya. Maka akhirnya ia kata Sahabat,
aku bisa mengarti kau, tapi baiklah kaupun dapat mengarti
maksudku. Aku berada disini untuk persahabatan, dari itu,
pasti aku nanti pergi ke Cap jie Lian hoan ouw. Kau punya
Pang cu Bu Wie Yang dengan aku ada kenanya. Inilah hal
aku. Apabila aku tidak layani kau, orang bisa curiga bahwa
aku datang kemari untuk ber pura2. Aku telah bicara,
sahabat, sekarang mari kita mulai!
Itu waktu, dari rimba sebelah kiri sudah mulai terdengar
suara orang, tetapi orangnya tidak muncul.
Tidak tempo lagi, Sin Wie Pang sudah lantas mulai
menyelang dengan tipu pukulan Ciauw hu bun lou atau
Tukang kayu tanya jalan.
Orang Hong Bwee Pang itu bicara dengan bertangan
kosong, ketika diserang, ia lompat mundur jauhnya
setumbak lebih, ia tertawa tawar, setelah itu, baharu ia
hunus sepasang senjata nya yang berkilauan, sambil
pentang itu dalam sikap Thay peng tian cie atau Burung
garuda pentang sayap, ia kata Kau ada baik sekali,
baiklah, aku nanti melayani!
Senjatanya itu nyata ada sepasang Jit goat lun, mirip
roda bagaikan matahari atau rembulan. Itu ada senjata yang
langka, tidak sembarang orang pandai menggunainya.
Kapan ia telah rangkap pula kedua tangannya, ia lantas

lompat maju untuk mulai dengan penyerangannya, dengan


tusukan Hek houw sin yauw atau Harimau hitam
mengulet.
Sin Wie Pang berkelit kekiri, angan kirinya dipakai
menyampok, menyusul mana, goloknya di tangan kanan
membacok. Itu ada bacokan Uy liong kian bwee atau
Naga kuning melingkarkan ekor.
Orang Hong Bwee Pang itu menangkis dengan tangan
kanan, yang telah ditarik pulang dengan sebat sekali,
berbareng dengan itu, tangan kirinya menyamber kemuka.
Menampak orang punya kesempatan, Sin Piauwsu
terkeyut. Ia berdongko, goloknya dari bawah dipakai
membarengi menyerang nadi. Ini ada gerakan Pek wan tek
ko atau Orang hitam putih memetik buah.
Lawan itu segera tarik tangan nya karena mana, tusukan
golok jadi mengenai Jit goat lun, hingga kedua senjata
beradu dengan menerbitkan suara, sampai lelatu apinya
meletik.
Sampai disitu Sin Wie Pang lantas gunai ilmu silat
goloknya Ngo houw Toan bun too. Ia telah punyakan
latihan golok dua puluh tahun lebih, tidak heran, demikian
lanjut usianya, namun ia masih tetap gagah. Tapi disebelah
itu, orang Hong Bwee Pang itu pun hehay dengan
senjatanya yang istimewa, geraknya sangat gesit, dan
senjatanya saban2 mencoba akan bikin terlepas golok
lawannya. Maka itu, sesudah jurus2 dikasi lewat, Wie Pang
merasakan bahwa ia kalah gesit.
Selagi pertempuran itu berlangsung sampai disitu, tiba2
dari arah gudang pusat ada terdengar seruan Po cu, lekas
kemari! Disini ada orang jahat! Seruan ini disusul dengan
suara gembreng yang dipukul dengan nyaring dan seru.

Orang Hong Bwee Pang itu agaknya terperanjat.


Maaf, aku tak dapat melayani lebih lama di Cap jie
Lian hoan ouw saja nanti kita berjumpa pula!
Setelah mengucap demikian, tetamu tak diundang ini
loncat mundur tiga tumbak, sesudah mana, ia putar
tubuhnya untul terus lari kedalam pepohonan yang lebat.
XXXV
Sin Wie Pang tidak mau mengerti yang ia ditinggal pergi
secara demikian, ia segera loncat untuk mengejar.
Apa Sin Loo piauwsu disana? Harap tunggu! tiba2
terdengar pertanyaan dari arah belakang.
Piauwsu tua ini hentikan tindakannya, ia menoleh. Ia
lihat dua anak muda yang ia tidak kenal, tapi ia duga
mereka adalah orang Hoay Yang Pay.
Maaf, jiewie, aku tak kenali kau, kata ia. Aku hendak
kejar orang jahat, ada urusan apa jiewie cegah aku?
Loo piauwsu, kami adalah Kam Tiong dan Kam Hauw
yang ditugaskan menjaga gudang pusat ini, sahut salah
satu anak muda itu. Loo piauwsu sudah berusia lanjut,
pun loo piauwsu asing dengan tempat ini, maka baik
penjahat itu dibiarkan saja, dia toh tidak akan mampu
loloskan diri....
Baharu Wie Pang dengar sampai disitu, ia lihat lagi dua
orang mendatangi, hingga ia jadi curiga. Ia heran, kenapa
tadi, setelah berseru sekian lama, baharu dua pemuda itu
muncul. Syukur ia segera kenali, dari dua orang yang
belakangan ini, yang jalan dimuka adalah Hu pocu Cie Too
Hoo.

Penjahat itu bernyali besar, kata ketua muda dari Ceng


hong po, dia berani tempur loo piauwsu disini. Biarlah dia
nanti rasakan liehaynya Ceng hong po. Aku yang perintah
mereka ini berdua mencegah loo piauwsu, karena tempat
ini ada asing dan disini ada tempat2 dimana orang gampang
umpatkan diri, aku kuatir penjahat nanti membokong.
Bukankah loo piauwsu kenal penjahat itu?
Wie Pang tercengang atas pertanyaan itu.
Bagaimana po cu ketahui aku kenal dia? ia balik tanya.
Aku hanya dengar keterangan mereka ini bahwa loo
piauwsu kenal orang jahat itu, sahut Cie Too Hoo. Harap
loo piauwsu jangan curiga, kita justeru mengharap sangat
akan ketahui hal ikhwal si orang jahat, agar gampang kita
melayani mereka. Loo piauwsu tentu letih, silahkan
kembali kekongso untuk beristirahat. Ong Suheng sudah
ajak orang pergi mencari, umpama kata penjahat tidak kena
ditangkap, namun sedikitnya tidak nanti dia dapat berlaku
jumawa pula.
Sin Wie Pang tidak puas, tetapi ketua muda ini bicara
dengan manis, tak dapat ia menunjukkan ketidak
senangnya.
Sudah biasanya aku berlaku merdeka, hingga tak bisa
aku perbataskan diri, berkata dia. Jikalau bukannya orang
yang kenal baik padaku, memang gampang sekali orang
curigai aku. Aku yang dapat candak penjahat itu, apabila
aku biarkan dia lolos, tentu orang sangsikan aku.
Harap jangan mengucap demikian, loo piauwsu, kata
Cie Too Hoo dengan sabar sekali. Loo piauwsu demikian
jiatsim hendak bantu kami, kami malah sangat bersukur
karenanya. Mustahil kami akan bikin satu sahabat jadi
tawar hatinya? Nah, mari, silahkan loo piauwsu
beristirahat.

Wie Pang terpaksa bersenyum, terus ia ikut ketua muda


itu bertindak kearah gudang pusat. Penjagaan disini, ia lihat
ada luar biasa. Tengloleng dari obor ditambah banyak, tapi
semuanya digantung diatas galah atau di cabang2 pohon.
Disitu sama sekali tidak ada chungteng yang menjaga.
Hanya begitu lekas Cie Pocu sampai, dari tempat gelap
lantas muncul satu barisan chungteng bersenjatakan panah,
satu diantaranya segera melaporkan bahwa di gudang itu
tak ada penjahat.
Kau semua tetap menjaga dan jangan alpa, kata ketua
muda itu, yang pesannya ditaati, sesudah mana, barisan itu
undurkan diri pula.
Gudang itu memang tidak di jaga terang2an hanya
dilindungi barian sembunyi, penjagaannya dilakukan luar
biasa keras. Umpama ada musuh, dengan hujan panah,
musuh akan dicegah dapat menghampirkan gudang itu.
Setelah itu, Cie Too Hoo jalan terus menuju kekongso.
Selama itu, Sin Wie Pang lihat bagaimana penjagaan
telah diatur rapi. Ia jalan dengan tidak kata apa2. Ia diam
saja walaupun ia dapat kenyataan sikapnya Cie cu ada
dingin. Sampai kekongso, dia masih tidak banyak omong.
Sampai itu waktu Ong Too Liong dan Khu Beng masih
belum kembali. Ketika tadi mereka kejar musuh, saking
gesitnya penjahat, mereka sedikit terlambat. Pun merekatidak perduli mereka ada jago2 tua- sudah bisa dilagui
dengan tipu daya.
Bersuara di Timur, menyerang di Barat Penjahat gunai
batu hui hongsek untuk padamkan lentera yang tergantung,
selagi api padam, ia umpatkan diri, ia tunggu suheng dan
sutee itu lewat, ia ambil lain jurusan. Karena ini, ia terlihat
oleh Sin Wie Pang yang datang belakangan.

Eng Jiauw Ong dan Khu Beng menyusul sampai


dilapangan latihan ketika ia merandek dengan tiba2.
Suheng, kita terperdaya! kata ia. Tidak mungkin
penjahat
menyingkir kemari. Ini ada jalanan buntu.
Mesti dia lari mengarah gudang pusat. Dia benar cerdik,
tapi kalau dia sampai lolos, sungguh kita malu!
Khu Beng pun insyaf, ia jadi sangat gusar, hingga dalam
hati nya ia kata, kalau ia bertemu penjahat itu, ia akan kasi
rasa pada penjahat itu.
Eng Jiauw Ong sudah lantas balik akan menuju
kegudang pusat. Disebuah tikungan ia lihat satu orang
berlari2 dari arah Utara.
Siapa? ia lantas menegur. Orang itu berhenti dengan
tiba2.
Oh, po cu? orang itu menegasi. Aku adalah Cian
Giok yang menjaga dibelakang sini. Dibelakang sana ada
bekas orang jahat, silahkan po cu periksa.
Dengan berikan penyahutan Baik! Eng Jiauw Ong dan
Khu Beng lantas lari kearah yang ditunjuk, Cian Giok turut
bersama, ketika sampai, dia mendahului ambil sebuah
lentera Khong beng teng, buat dipakai menyuluhi ketempat
dimana ada disembunyikan kelenengan pertandaan, tapi
kelenengannya sudah putus.
Orang itu benar liehay, kata Khu Beng. Penjagaan
yang demikian rupa tapi dia masih bisa nyelusup masuk
dan bekerja.
Dia
memang
bukan
orang
sembarangan,
membenarkan Eng Jiauw Ong, yang menunjuk, ketanah
diluar pagar. Itu ada tempat sempit dimana orang yang tak
mempunyai kepandaian tidak akan bisa bergerak dengan
leluasa.

Kalau dia ada orang Hong Bwee Pang, dia mesti ada
salah satu pemimpin, Khu Beng kata pula. Cian Giok,
coba kau suluhi, aku ingin melihat.
Dan ia loncat keatas, akan periksa kawat kelenengan,
darimana ia dapat tahu, senjata musuh pun ada tajam luar
biasa. Pantas kelenengan ini disitu jadi lenyap
kegunaannya.
Sesudah melihat kesekitarnya Khu Beng loncat turun.
Caranya meloncat dan kegesitannya ada menerbitkan
kekaguman bagi End Jiauw Ong dan semua orang Ceng
hong po yang berada di situ. Ia sudah tua tapi tenaganya
masih besar, tubuhnya gesit.
Penjagaan kita kuat tapi penjahat toh bisa masuk
kemari kata Khu Beng kemudian. Aku anggap perlu
penjagaan disini ditambah. Sekarang mari kita periksa lebih
jauh, akan cari tahu bagaimana caranya dia molos keluar
Eng Jiauw Ong setuju, ia lantas titahkan Cian Giok
tambah orang kemudian bersama toasuhengnya ia menuju
ke Barat utara. Segera mereka dengar pertandaan dari
gudang pusat, yang disambut diempat penjuru. Mereka
lantas menuju kearah gudang. Belum jauh, mereka lihat
satu orang lari ke pagar Barat utara. Buat sedetik, mereka
berhenti lari, setelah dapat kenyataan orang itu mesti bukan
orang dalam, keduanya lantas mengejar.
Lagi beberapa jauh, mereka akan sampai dipagar
terakhir. Orang itu menuju ke Barat.
Mereka lantas perkeras larinya, akan akhirnya Eng Jiauw
Ong berseru . Sahabat, tahan! Disini Ong Too Liong, tuan
rumah.
Tak perdulikan teriakan, orang itu lari terus, sampai, ia
berada dikaki tembok pagar.

Khu Beng mendongkol melihat sikap orang yang


demikian itu.
Sahabat, kau tidak kenal aturan! dia berseru. Jikalau
kau tetap tidak mau berhenti dulu, jangan sesalkan aku!
Sambil mengucap demikian, Kim too souw berlompat
lari dengan gunai ilmunya ceng teng ciong sui atau
Capung loncati air Ilmu loncat ini terdiri dari tiga
loncatan beruntun selama setarikan napas. Maka itu, ia
segera dapat mendekati orang itu.
Orang itu, dengan Kauw yan coan lim, atau Burung
walet tembusi rimba, sudah loncat naik keatas tembok
pagar, berdiri diatas itu ia menoleh. Baharu sekarang ia
buka mulutnya.
Po cu, aku si orang she Bin telah menyaksikan Ceng
hong po, nah, sampai lain kali kita bertemu pula! demikian
ia berkata.
Sahabat, kembalilah! memanggil Khu Beng seraya
sebelah tangannya terayun, satu benda berkeredepan
menyamber.
Bagus! berseru orang she Bin itu, yang telah patahkan
sebatang pagar, untuk dipakai menangkis, hingga piauw
jatuh ketanah.
Khu Beng penasaran, ia menimpuk pula, dengan
beruntun.
Sambil berkelit berdongko, tetamu tidak diundang itu
luputkan bahunya sebagai saran, tetapi menyusul itu,
sebatang piauw menyamber kebawah sebelah kanan. Piauw
ini ditangkis, tapi serangan ada hebat luar biasa, bambu
yang dipakai menangkis itu terkena jitu dan tembus, maka
tak ampun lagi ujung piauw menyamber kebetis. Tidak
perduli dia liehay, orang itu toh keluarkan seruan tertahan,

tetapi dia masih kuat berdiri dan menahan sakit. Dengan


bantuan tangan kiri pada pagar, ia angkat kaki kanannya
akan cabut piauw itu, yang syukur tak dalam menancapnya.
Tadinya ia niat balas menyerang dengan piauw itu, tiba2 ia
ubah pikiran, maka ia berseru pula.
Po Cu, aku si orang she Bin sudah terima hadiahmu ini,
biar nanti saja di Cap jie Lian hoa ouw kita tukar piauw
dengan panah! Sampai ketemu pula !
Sehabis mengucap demikian, ia terus loncat keluar pagar.
Eng Jiauw Ong loncat naik keatas pagar, hingga ia bisa
saksikan bagaimana orang itu telah seberangi kali pelindung
dusun, hingga ia merasa tak ada guna nya untuk mengejar
terlebih jauh. Iapun heran cara bagaimana orang itu bisa
dengan gampang mematahkan pagar bambu. Maka ia
lantas hampirkan bagian pagar dimana orang tadi berdiri
untuk memeriksa. Segera ia mendapatkan buktinya, hingga
lenyap keheranannya. Sebab bambu disini pun ada bekas
babatan, seperti babatannya kawat kelenengan.
Segera juga hidung yang tajam dari ketua Ceng hong po
ini cium bau amis. Ia mengawasi. Ia lihat barang cair, ia
usap itu untuk dicium. Itulah darah. Sekarang ia tidak lagi
terlalu mendongkol.
Sutee, dia sudah kabur, tak usah dia disusul, Khu Beng
kata pada saudaranya. Dia tidak mau layani kita, itu
artinya dia tahu bahaya dan mundur teratur.
Ong Too Liong tidak menyahuti, tetapi ia loncat turun.
Ketika itu ada rombongan ronda yang lari
menghampirkan, obor dan lentera mereka mendatangkan
cahaya terang.
Dia mundur bukan karena dia insyaf bahaya tetapi dia
telah terluka, kemudian kata Eng Jiauw Ong pada

suhengnya. dia telah terkena piauw toa suheng dan karena


itu, dia jadi tak enak hatinya
Sutee ini lantas
berlepotan darah.

tunjukkan

jari tangannya, yang

Menampak itu, Kim to souw bersenyum. Tanpa bilang


apa2 ia pungut dua piauwnya yang jatuh ditanah.
Eng Jiauw Ong tinggalkan pesanan kepada orang2nya,
setelah mana ia ajak suhengnya kembali kekongso dengan
disepanjang jalan ia sekalian lakukan penilikan. Kongso
berada dalam kegelapan. Selagi mendekati, mereka lihat
satu orang loncat turun dari atas genteng.
Bagaimana, suheng? tanya orang itu.
Eng Jiauw Ong kenali sutee nya, Cie Too Hoo.
Dia telah undurkan diri. Bagaimana disini? kemudian
Too Liong balik tanya.
Kita telah bersiap, mana penjahat berani datang pula
kemari? jawab Too Hoo.
Sembari bicara mereka bertindak masuk. Cie Too Hoo
tepuk tangan, atas mana Su touw Kiam dan Kiang Cie Wan
keluar dari tempatnya sembunyi. Mereka diminta titahkan
orang nyalakan api.
Itu waktu Sin Wie Pang dan Ciong Gam sudah kembali
terlebih dahulu, melihat baliknya kedua suheng dan sutee
itu, Ciong Gam lantas beritahukan bahwa penjahat telah
tinggalkan undangan.
Mendengar perkataannya Tiong ciu Kiam kek, Siang
ciang Tin Kwan see kata pada Ong Too Liong Ong Loosu,
aku dan Ban Po cu adalah sahabat kekal, dengan kau
adalah sahabat2 dalam kenangan, maka itu perlu aku
memberi keterangan, dengan datang kemari, aku berlaku

lancang, aku bersikap tak tahu diri. Bagi siapa yang belum
kenal aku, sikapku gampang membangkitkan kecurigaan.
Tapi aku percaya, dengan pengalamanku tiga puluh tahun
lebih dalam dunya kang ouw, namaku akan mengunjuki
bahwa aku bukannya seorang licin. Maki itu loosu, apabila
kau tampak apa2 yang tak tepat padaku tolong kau
unjukkan, jikalau diam saja dan tak menerangkannya, itu
tandanya kau tidak sudi bersahabat dengan aku!
Eng Jiauw Ong bingung begitupun Khu Beng, hingga tak
dapat mereka menjawab. Tapi air mukanya Cie Too Hoo
berubah menjadi merah, segera ia berpaling, akan lihat
seantero ruangan.
Saking tak mengerti, Eng Jiauw Ong pun melihat
kesekitarnya. Memang benar, dengan Sin Wie Pang ia tidak
punya persahabatan, mereka cuma pernah saling dengar
nama masing2, tetapi karena piauwsu itu ada sahabatnya
Liu Tong, ia percaya habis piauwsu tua ini yang datangnya
pun justeru untuk berikan jasa baiknya. Ia lihat, dari air
mukanya, Wie Pang ada tidak senang.
Ah, loo piauwsu, kata ia kemudian sambil tertawa,
walaupun kita baharu bertemu akan tetapi sebenarnya
semangat kita telah lama bersahabat! Sudah lama aku Ong
Too Liong kagumi kau, maka bagaimana beruntung aku
dengan kunjunganmu ini, yang hendak membantu kami.
Loo piauwsu, aku ada sangat bersukur, dari itu, mana bisa
aku curigai kau? Malah aku harus malu sekali, sebagai
ketua Hoay Yang Pay aku berlaku tak kepantasan terhadap
sahabat2. Loo piauwsu datang bersama Ban Sutee, dari itu,
justeru adalah aku yang harus minta kau maafkan apabila
pelayananku tidak semestinya
Lantas Eng Jiauw Ong undang tetamunya duduk.

Ketua Hoay Yang Pay ini tidak bercuriga, tidak


demikian dengan Cie Too Hoo dan beberapa orang lain.
Ketua muda itu sudah ceritakan tentang pembicaraan dan
pertempurannya Sin Wie Pang dengan si orang jahat tak
dikenal, sampai penjahat itu singkirkan diri. Menurut ia
piauwsu tua ini pantas dicurigai. Ia dasarkan kecurigaan
aya itu terutama atas keterangannya Kam Tiong dan Kam
Mauw, yang telah pasang kuping selagi Wie Pang bicara
kepada tetamu tidak diundang itu.
Tapi Eng Jiauw Ong tetap tidak mau percaya, ia percaya
kejujurannya Wie Pang. Ia unjuk, tak perlu penjahat kirim
mata2 untuk bekerja didalam Ceng hong po, buktinya, asal
dia mau, penjahatpun bisa kirim orangnya yang pandai
akan memasuki Lek Tiok Tong. Sebalik nya pula mereka
toh bakal satroni Cap jie Lian hoan ouw juga.
Maka pesanlah Kam Tiong dan Kam Hauw untuk tidak
wawarkan pula kesangsian mereka, kata ketua ini
kemudian,
Kita tak perduli orang mencurigai atau tidak, kita ada
tuan rumah, kita mesti jadi tuan rumah, tak boleh kita
perlakukan ___ pada tetamu kita. Sutee, kita harus sabar,
kita mesti berhati hati
XXXVI
Cie Too Hoo tidak puas mendengar perkataannya
suhengnya itu.
Suheng, bukannya aku tidak hargai sahabat yang
datang dari tempat jauh, ia nyatakan, tetapi kejadian ada
demikian mencurigai. Aku ada ___walaupun dalam urusan
___ sikapku adalah satu, tapi kali ini ada mengenai
keselamatannya Ceng hong po dengan sebelas desanya, aku

tidak bisa ambil sikap lain. Kita tidak bisa korbankan jiwa
semua saudara kita melulu ka ]rena satu persahabatan saja.
Suheng tahu tabeatku, maka jikalau aku keliru, tolong kau
berikan pengajaran padaku
Kau ada jujur, Cie Sutee, begitulah memang sifatnya
seorang kang ouw Khu Beng turut bicara. Tetapi orang
bisa beda anggapan, orang tak selalu kenal baik sifat
masing2, inilah yang suka menerbitkan keliru mengerti.
Kita disini berada diantara orang sendiri, apa yang kita
bicarakan ada mengenai Ban Sutee, dari itu harus kita
memandang padanya. Bukankah Ban Sutee jujur dan ber
hati2 serta cerdik? Bukankah ia ada dihargai sekali oleh
para tetua kita? Maka selagi ia sendiri tidak bilang suatu
apa, kita harus bersikap seperti dia. Sin Loo piauwsu ada
sahabat kekalnya Ban Sutee, aku percaya ia tidak akan
salah faham. Adalah tidak baik bila kita bentrok pandangan
diantara orang sendiri. Tidakkah demikian, Sin Loo
piauwsu? Bukankah benar begitu, Cie Sutee?
Perkataannya toasuheng itu membikin Cie Too Hoo
berpikir, ia merasa bahwa ia telah bicara terlalu tajam.
Aku kurang pengalaman, aku bicara seadanya saja,
kata ia. Dengan inipun aku utarakan apa yang aku pikir,
lain tidak
Eng Jiauw Ong manggut.
Ketika itu Ban Liu Tong bertindak masuk, Cie Too Hoo
hendak undurkan diri, tapi Siok beng Sin Ie segera kata
padanya Suheng, tunggu dulu. Disini ada terjadi salah
faham. Sin Loopiauwsu berkeinginan demikian keras untuk
bantu kita, sampai ia bertindak tanpa di pikir2 lagi, hingga
kau jadi curigai pada nya. Bukankah suheng dan loo
piauwsu tidak punya persahabatan dan dari itu jadi tidak
ada ganjelan? Maka itu, dalam hal ini kau mesti lihat aku.

Loo piauwsu adalah sahabatku yang aku percaya habis.


Benar2 telah terbit salah mengarti, baharu saja aku telah
cari keterangan dan peroleh duduknya hal. Sin Loo
piauwsu dan Bu Wie Yang adalah suheng dan sutee satu
dengan lain, sejak beberapa puluh tahun mereka tidak
pernah ketemu satu sama lain. Loo piauwsu hidup di
Selatan dan Utara sungai besar, di Liauwtong dan
Liauwsse, belum pernah dia pergi ke Kanglam. Hal ini
diketahui orang banyak. Loo piauwsu berani serahkan harta
bendanya apabila ada yang bisa buktikan, sebelum dia
datang kemari, dia sudah bertemu lebih dahulu dengan
suhengnya itu. Jadi terang, Sin Loo piauwsu tidak pikir
untuk bantu atau lindungi suhengnya itu. Aku percaya pada
Sin Loo piauwsu, karena itu aku harap, tidak kau curiga
padanya lebih jauh.
Nyata Siok beng Sin Ie ketahui kesulitan itu dengan
cepat.
Aku suka dengar kau, sutee, sekarang aku tidak hendak
bilang apa2 lagi, jawab Cie Too Hoo. Harap sutee suka
memaafkan padaku
Eng Jiauw Ong tidak ingin urusan diperpanjang, ia
menyelak.
Cie Sutee, dengan ucapan mu ini, nyata kau mengarti
baik keterangannya Ban Sutee, kata ia. Kita ada diantara
saudara sendiri, harap urusan berhenti sampai disini. Kita
sekarang harus biytarakan kepergian kita ke Cap jie Lian
hoan ouw
Itu waktu orang lantas berempuk, sambil meminum teh
yang disuguhkan. Sampai fajar, orang tidak tidur pula. Cie
Too Hoo undurkan diri akan tarik pulang semua penjagaan.
Semua orang pada cuci muka.

Setelah beristirahat, Cie Too Hoo perintah orangnya


perbaiki kerusakan kelenengan dan lentera.
Kemudian, ketika orang mulai berkumpul pula, satu
chungteng. melaporkan kedatangannya seorang dari Kwie
in po, untuk bertemu kepada tuan rumah dan Ban Liu
Tong.
Pergi sambut dia, menitah Eng Jiauw Ong pada Su
touw Kiam, yang berada didampingnya.
Su touw Kiam menurut, ia keluar, kapan kemudian ia
kembali, ia ada bersama enam orang. Eng Jiauw. Ong
mengawasi. Ia kenali, yang satu adalah Ciok Bin Ciam si
pembawa surat undangan, dua ada persaudaraan-Sun Giok
Kun dan Giok Kong-, muridanya Tio Liong In dari Lim
shia, dua lagi ada sahabat sahabatnya dari Rimba Persilatan
yalah Ke Siauw Coan, guru silat dari Chong ciu dan Thay
kek chiu Liu Hong Cun dari bukit Sippat Poan Nia, dan
yang satu lagi adalah satu anak muda yang romannya
gagah, yang ia tidak kenal. Diam2 ia sesalkan cungtengnya,
yang sudah memberi laporan tidak jelas, hingga
kedatangannya sahabat2 itu ia telah tidak sambut secara
seharusnya. Segera ia berbangkit untuk menyambut dengan
tergesa gesa, akan kasi hormat kepada dua sahabatnya itu.
Oh, Liu Toako, Ke Ngo tee, harap maafkan aku! ia
minta.
Kami telah terlambat menyambut! Kau telah datang
dari tempat jauh dengan tak perdulikan capai lelah,
sungguh hatiku tidak tenteram.
Kedua tetamu itu lekas membalas hormat.
Malah bukannya soal kata mereka dengan merendah.
Lantas yang lainnya juga memberi hormat kepada dua
tetamu itu.

Siapa ini? kemudian Eng Jiauw Ong tanya Ciok Bin


___ sambil ia tunjuk si anak muda.
Tidak tunggu sampai Bin ___ menyahuti, pemuda itu
sudah maju akan memberi hormat berlutut dan manggut
pada tuan rumah seraya berkata Tee cu adalah cucu
muridnya Yan Tiauw Siang hiap, namaku Ciok Liong
Jiang, sebab senantiasa teecu mesti dampingi guruku dan su
couw, tak dipat tee cu datang siang2 untuk yumpai supe.
Harap su pe pimpin teecu menemui semua Cianpwee
Ah, benar2 aku tak kenali kau! kata Eng Jiauw Ong.
Liu Tong juga baharu tahu, inilah murid kesohor dari
Lie Hee Leng atau cucu murid dari Yan Tiauw Siang hiap.
Mereka tahu, Yan Tiauw Siang hiap cuma terima satu
murid, yalah Ciok Liong Jiang ini, karena sang guru larang
muridnya terima lain murid lagi. Liong Jiang ada sangat
disayang oleh kedua sucouwnya, hingga selain dari
gurunya, iapun terima pelajaran langsung dari dua jago tua
dari Hoay Yang Pay itu. Kalau Siang hiap pesiar, Hee Leng
diperintah tunggu rumah, Liong Jiang adalah yang biasa
diajak, dari itu muda usianya, cucu murid ini sudah
berpengalaman, hingga dalam tempo tiga empat tahun
nama nya sudah turut terkenal, hingga dia disebut Siauw
Hiap Ciok Liong Jiang si Jago Muda. Memang ia jarang
bertemu anggauta2 lainnya dari Hoay Yang Pay. Liu Tong
pun lihat, dari romannya, pemuda itu telah terlatih baik.
Kemudian Eng Jiauw Ong tanya kesehatan guru dan
sucouwnya.
Terima kasih, suhu dan su couw berdua ada baik sahut
Liong Jiang. Suhupun titahkan teecu sampaikan hormat
nya kepada supe. Sekarang ini su couw belum balik dari
Kauw pak, karena ada urusan mengenai kehormatannya
Hoay Yang Pay kita, suhu kirim aku untuk supe perintah.

Suhu sendiri telah berangkat ke Kauw pak untuk


menyampaikan kabar pada su couw, maka teecu percaya,
sucouw pun bakal lekas datang menyusul
Eng Jiauw Ong angguk2kan kepala, ia menyatakan
bagus.
Setelah itu, Liong Jiang di perkenalkan kepada semua
hadirin kepada siapa ia memberi hormat satu persatu.
Kemudian lagi, Eng Jiauw Ong undang kedua
tetamunya berduduk dan Cie Too Ho segera perintah
orangnya menyuguhi air teh.
Ke Siauw Coan dan Liu Hong Cun meminta keterangan
tentang duduknya persengketaan dengan Hong Bwee Pang,
dan Eng Jiauw Ong telah memberikan keterangannya
dengan jelas, tak lupa ia menyebut tersangkutnya See Gak
Pay.
Ong Loosu, tahukah kau dimana letaknya pusat Hong
Bwee Pang itu? kemudian Ke Siauw Coan tanya.
Sampai sebegitu jauh kami belum mengetahuinya
jawab Ong Too Liong. Kau, Ngo tee, apakah kau pernah
pergi ke Cap jie Lian hoan ouw?
Ke Siauw Coan hendak jawab pertanyaan itu tetapi
chungteng kebetulan datang dengan barang hidangan,
pembicaraan jadi tertunda.
Itu waktu pun Sin Wie Pang belum muncul, Eng Jiauw
Ong lirik Liu Tong, lantas ia gapekan Cie Too Hoo, ia
ucapkan beberapa perkataan dengari pelahan. Too Hoo
mengawasi Liu Tong, ia manggut, kemudian ia kata Ban
Suheng, apa Sin Loo enghiong sudah bangun? Nanti aku
undang ia bersantap sama.

Kau baik sekail, sutee, sahut Liu Tong. Sin Loo


piauwsu ada terlalu polos hingga ia tak bisa bicara dengan
ramah tarnah. Kalau sutee mau undang dia, pergilah.
Tetapi ini ada kewajibannya tuan rumah, suheng, kata
Too Hoo sambil bersenyum. sesudah mana, ia
mengundurkan diri dengan lekas, yang tidak lama
kemudian ia telah kembali bersama Siang ciang Tin
kwansee.
Ke Siauw Coan ada bersahabat kekal dengan piauwsu
tua itu, melihat orang she Sin ini, ia segera berbangkit untuk
menyambut.
Benar, manusia hidup dimana pun bisa bertemu! kata
ia. Aku tidak tahu lauwko sudah sampai terlebih dahulu
disini!
Sin Wie Pang girang sekali, ia cekal keras tangannya
sahabat itu.
Girang lihat kau disini, lauwtee! kata ia.
Siauw Coan perkenalkan sahabat ini pada Liu Hong
Cun.
Kemudian Eng Jiauw
tetamunya duduk bersantap.

Ong

mengundang

semua

Sehabis meminum tiga edaran. Ke Siauw Coan


menjawab pertanyaan nya Eng Jiauw Ong. Ia kata
perkenalannya dengan orang Kang lam ada sangat berbatas,
kecuali satu saudara angkat yang jadi tongtay barisan
pembasmi penyelundup garam di Ciatkang Selatan. Dia itu
pernah beberapa kali berbentrok dengan pihak Hong Bwee
Pang, tetapi pusatnya perkumpulan rahasia itu masih belum
diketahui, melainkan diduga terletak didekat Hun sui kwan.
Ia percaya, nama Cap jie Lian hoan ouw adalah nama baru,
buatan Hong Bwee Pang sendiri, hingga orang luar tak

mengetahui jelas. Maka itu aku pikir, untuk kita minta


bantuannya saudara angkatku itu, kata Siauw Coan
akhirnya. Dia ada punya mata2 yang bisa dipakai tenaga
nya.
Ban Liu Tong tidak berkeberatan atas pikiran ini, tetapi
beberapa orang tidak mupakat, sebagai orang kang ouw
mereka malu minta bantuan hamba negeri.
Eng Jiauw Ong tidak lantas mengambil putusan, ia
tanyakan pendapatnya Khu Beng dan Ciong Gam. Sutee,
kau ada ketua Hoay Yang Pay, segala hal kau boleh
putuskan sendiri, jawab Khu Beng. Aku dan Ciong Sutee
sudah lama meninggalkan Lek Tiok Tong, kami menjadi
asing. Kami turut segala pengaturan mu.
Suheng terlalu merendahkan diri, kata Eng Jiauw Ong,
yang lantas menanya pikiran Hauw Tay, piauwsu dari
Shoatang Selatan dan Sin Wie Pang.
Tetapi juga dua tetamu itu bersedia akan turut segala
pengaturan nya tuan rumah itu.
Dengan datangnya si orang she Bin, yang kirim
undangannya, aku percaya muridku In Hong dan murid See
Gak Pay, Siu Beng, sudah diculik sampai di Cap jie Lian
hoan ouw, nyatakan Eng Jiauw Ong, karena itu, aku
lihat tidak ada lain jalan daripada bersikap keras terhadap
Hong Bwee Pang. Cu In Am cu serta empat muridnya janji
akan bertemu disini, untuk kita berangkat sama2, akan
tetapi sampai sekarang ia masih belum sampai, aku percaya
ia sudah mendahului pergi langsung kesarang musuh. Maka
itu, lebih perlu pula kita perlekas keberangkatan kita.
Bagaimana tiu wie pikir apabila kita berangkat sehabisnya
dahar?
Kim too souw Khu Beng dan yang lain2 nyatakan akur.

Sampai sekarang ini, masih ada orang2 undangan yang


belum tiba, Eng Jiauw Ong kata pula, diantaranya, Kee
Pin, murid ketiga dari Ban Sutee, masih belum balik. Maka
aku pikir akan minta Ban Sutee ber sama2 Ke Ngotee dan
Liong Jiang menantikan untuk sementara disini, buat
tunggui mereka yang terbelakang. Tidak perduli berapa
jumlahnya yang datang belakangan, mereka boleh diminta
segera menyusul ke jalanan Auw hay too di Ciat kang
Selatan, untuk berkumpul di hotel terbesar di Tong peng pa
diluar kota Lok ceng sebelah Timur. Dihotel mana kita
singgah, disitu tentu kita akan memberi tanda daun bambu
dengan kapur. Dan kau, Cie Sutee, setiap kali ada datang
tetamu, aku meminta kau suka sambut dan layani mereka
dengan baik, terutama, tidak perduli mereka punyal bekal
cukup atau tidak, kau mesti berikan setiap orangnya seekor
kuda pilihan dan uang tiga puluh tail. Kau pesan untuk
mereka lekas menyusul ke Lok ceng.
Jangan kuatir, suheng, serahkan itu padaku, Cie Too
Hoo menjawab.
Bagus, sutee. Sekarane tolong kausiapkan belasan kuda,
tentang pelananya, tak usah yang mewah, asal yang kuat.
Kaupun harus bekalkan aku uang lima ratus tail perak, lebih
baik semua perak hancur, kau pecah itu dalam empat
bungkus, supaya gampang di bawanya. Dan jangan lupakan
bulu angsa.
Too Hoo memberikan penyahutan nya, lantas ia
mengundurkan diri.
Eng Jiauw Ong menghadapi orang banyak untuk kasi
tahu, perjalanan akan dilakukan didarat, karena jalanan air,
walaupun lebih aman tetapi ada sangat lambat. Ia minta
maaf, selagi orang baharu sampai dan perlu beristirahat, ia
mesti minta orang berangkat dengan segera, dengan
tunggang kuda. Ia hunjuk, tujuan pertama adalah kota

Hongtay. Karena bisa jadi mereka akan berpapasan dengan


tentera negeri atau pemberontak, ia usulkan untuk mereka
menyamar sebagai rombongan piauwsu saja. Untuk itu
mereka bisa pakal bendera Gie Seng Piauw Kiok dari
Hongyang hu. Ia tanya, orang akur atau tidak dengan usul
penyamaran itu.
Jangan loosu pikirkan kami, kata beberapa orang.
Kami memang datang untuk membantu.
Hauw Tay pun nyatakan, jangankan orang yang
diundang, walau yang tidak diundang pun, bersedia akan
memberikan tenaganya. Ia hanya tanya apa bukan lebih bak
memakai saja benderanya sendiri. Ia memang ada bawa
benderanya bendera dari Hoay Yang Piauw Kiok. Ia telah
tutup piauwkioknya, ia ingin undurkan diriy benderanya
itu, sedianya ia hendak simpan di Lek Tiok Tong.
Begitupun baik Eng Jiauw Ong nyatakan setuju.
Sekarang segala apa sudah selesai, hari ini kita berangkat
Tidak lama, Too Hoo balik bersama dua chungteng yang
bawa nenampan arak pocie dan cangkirnya. Too Hoo
nyatakan, karena ia tidak bisa ikut, ia hendak kasi selamat
jalan saja sambil mendoakan hasil mereka. Kemudian,
paling dulu ia haturkan secawan pada Sin Wie Pang.
Melihat sikap orang yang ramah tamah itu, piauwsu tua
ini keringkan cawan itu sambil menghaturkan terima kasih.
Diam2 ia telah janji akan gunakan sisa umurnya untuk
kebaikannya Hoay Yang Pay, supaya orang she Cie ini
saksikan akan kesungguhannya. Tak pernah ia menyangka,
ia sebenarnya sedang menghadapi ancaman bencana
hebat.
Kemudian Cie Too Hoo haturkan selamatnya pada yang
lain2, sedang mereka yang lebih muda usia dan

tingkatannya, menyambutnya sambil mendahulukan berdiri


siang2.
Dengan begitu, beberapa waktu telah dilewati, sampai
kira2 jam sembilan atau sepuluh siang baharu orang selesai
dan siap untuk berangkat. Eng Jiauw Ong masih tinggalkan
pesan pada orang tua dari sebelas desa, yang datang untuk
mengasi selamat jalan padanya.
Sama sekali telah disiapkan tujuh belas ekor kuda,
kecuali buntalan sendiri, setiap kuda di bekalkan bungkusan
rangsum kering dan air dan seikat rumput, untuk
perbekalan ditengah jalan. Melihat itu, Liu Hong Cun ___
keterlitiannya Cie Too Hoo, ia puji pengaturan sempurna
dari Eng Jiauw Ong.
Kepada suhengnya, Cie Too Hoo menyerahkan
segumpal bulu angsa, sedang kepada sesuatu orang, ia
kasikan dua batang, keperluannya yalah sebatang untuk
dipakai diwaktu malam, guna kenali kawan sendiri, dan
yang sebatang lagi untuk disimpan kuatir ada yang hilang.
Eng Jiauw Ong telah ajak Kam Tiong dan Kam Hauw
serta Tee lie touw Hee houw Eng, Congtauwbak dari
barisan rondaan Lek Tiok Tong. Dia ini, walaupun belum
berumur tiga puluh tahun tetapi sejak usia sembilan belas
sudah masuk kedalam dunya kang ouw, dalam perusahaan
piauw, hingga ia mendapat banyak pengalamannya. Ia
masuk dalam rombongan Lek Tiok Tong ___ ia tidak puas
terhadap sikap kawan2nya, yang tak mau pandang ia. Di
Lek Tiok Tong ia unjuk kepandaiannya ____ hingga dari
chungteng biasa Too Hoo angkat dia jadi Lauwbak kepala.
Sebagai bekas orang piauwkiok, ia kenal banyak tempat. Ini
sebabnya kenapa ia dapat gelarannya Tee lie ___ si Peta
bumi.

Diakhirnya, setelah berikan pesan terakhir pada Too


Hoo, yang antar ia sampai di jembatan gantung, Eng Jiauw
Ong dan rombongannya semuanya tujuh belas orang,
berangkat meninggalkan Ceng hong po.
XXXVII
Baharu melalui tiga puluh lie dari Ceng hong po, jalanan
sudah tak licin lagi. D imana mana ada kedapatan tentera
pemberontak. Hanyalah karena ada bendera piauw dari
Hauw Tay, tidak pernah mereka dapat rintangan. Adalah
setelah sampai didaerah perhentian Ang sim ek, mereka
mulai pusing kepala. Disini ada daerah tentera negeri,
saban2 menemui pos tentera mereka ditanya ini dan itu, ada
kalanya mereka menemui tentera yang melit. Eng Jiauw
Ong menjadi tidak puas, karena perjalanannya jadi
terlambat satu jam lebih.
Kenapa gusar, suheng? Ciong Gam memperingatkan.
Biar bagaimana, mereka ada tentera negeri. Jangan kita
melayani mereka. Bukankah urusan kita ada sangat
penting? Memang kita dalam rombongan belasan dan
semua bekal senjata, bisa mendatangkan kecurigaan orang.
Bagaimana bila kita memecah diri jadi dua atau tiga
rombongan?
Didepan ada Teng wan ek, mulai dari sana saja kita
pecah diri, Eng Jiauw Ong nyatakan akur.
Mereka melarikan kuda mereka, lewat lagi enam atau
tujuh lie, mereka sampai diperhentian Teng wan ek, suatu
tempat yang ramai, banyak penduduknya, ada banyak juga
kendaraan dan kuda. Disini Hee houw Eng jalan didepan,
ia lewati beberapa hotel, untuk cari rumah penginapan
dengan merek An Seng, yang ia kenal baik.

Ah, tuan Hee houw! menyambut satu jongos sambil


tertawa.
Kemana saja tuan pergi? Hampir satu tahun tuan tak
pernah datang kemari! Tuan bersendirian atau berkawan?
Dia lantas sambuti kudanya Hee houw Eng.
Aku berombongan sahut Tee lie touw. Apa masih
sedia banyak kamar? Jumlah kami semuanya tujuh belas
Ada, ada, tuan! Diruangan Timur ada lima kamar
kosong, jawab jongos itu, yang terus teriaki dua
kawannya, Thio Sam dan Thio A Sie, untuk menyambut
tamu.
Ketika itu, Eng Jiauw Ong beramaipun telah sampai.
Melihat tetamu ada demikian banyak, jongos minta
empat kacung yang suka membantunya untuk bantui
mereka menyambuti kuda.
Jaga baik kuda kami Hee houw Eng pesan, kalau ada
yang hilang, kau tidak akan mampu menggantinya! .
Jangan kuatir, tuan, anak2 ini dapat dipercaya
Meski demikian, Hee houw Eng masih mengancam juga
empat boca itu, sesudah mana, mereka masuk kedalam
diantar oleh A Sie, hingga mereka memenuhi ruangan
Timur.
Waktu itu
nyalakan api.
sengaja jalan
percaya, hotel
terawat baik.

sudah magerib, sebentar lagi orang akan


Selagi bertindak masuk, Eng Jiauw Ong
ayal2an, untuk perhatikan hotel itu. Ia
ini benar hotel tua. Ruangan ada besar dan

Jongos, kunci pintu! begitu Liu Tong dengar selagi ia


lewat. Ia lantas menoleh, hingga dari kamar nomor tiga
disebelah Barat ia lihat satu toosu atau imam muncul

dimuka pintu.Dia bertubuh tinggi dan besar, rambutnya


dikonde dan ditusuk dengan sebatang tusuk konde pualam,
mukanya merah, sepasang alisnya gomplok, dua biji
matanya bersinar tajam, hidungnya besar seperti hidung
singa, mulutnya lebar, romannya bengis. Dia pakai juba
biru dengan leher hijau, ikat ping gangnya kuning oranye.
Diatas sepatunya ada kaos kaki putih. Dan tangannya
memegang kebutan.
Sekelebatan saja Liu Tong melihat, ia percaya imam itu
bukan imam suci. Tentu saja, tak dapat ia perdulikan imam
itu. Ia hanya lihat imam itupun perhatikan padanya. Ia
diam saja.
Sesampainya diruangan Timur, rombongan ini memecah
diri, kaum tua dengan kaum tua, dan kaum muda seturunya
didua kamar, yang belakangan ini adalah Su touw Kiam,
Coh Heng, Hang Lim, dua saudara Phang-Yok Bun dan
Yok Siu- dua saudara Kam-Tiong dan Hauw- dan Hee
houw Eng.
Jongos sudah lantas menyuguhkan teh, kemudian merek
memasang api. Kam Tiong dan Kai Hauw bersama Hee
houw Eng pergi memeriksa kuda mereka, ketika mereka
kembali kekamar sudah waktunya bersantap malam,
bersantap sama2 dikamar utara. Sehabisnya dahar, Eng
Jiauw Ong timbulkan soal memecah rombongan menjadi
dua saja yang kemudian dapat kelompokan, rombongan
pertama sendiri Eng Jiauw Ong bersama Hauw Tay dan Sin
Wie Pang serta Su touw Kiam, Hang Lim, Hee houw Eng
dan Coh Heng, dan rombongan ke dua Ban Liu Tong
bersama Khu Beng, Ciong Gam, Wie Siu Bin dan Kam
Jiang serta Phang Yok Siu, Kam Tiong, Kam Tiong, Kam
Hauw dan Ciok Bin___.
Pada permulaan jam pertama, jongos datang untuk
tambah pembaringan darurat, maka ada kemudian orang

bisa merebahkan diri untuk beristirahat. Kemudian , lewat


jam dua hotel ini sepi kebanyakan tetamu ini sudah tidur.
Ban Liu Tong merasa hatinya sudah tenteram, ia teringat
kepada si imam roman bengis. Seorang diri ia keluar dari
kamar nya akan periksa ruangan luar, akan lihat kamarnya
anak2 muda. ____ semua sudah tidur kecuali dua saudara
Phang dan Su touw Kiam asyik pasang omong. LiuTong
pesan mereka akan awas terhadap api dan supaya tidur
siang2, karena besok mereka akan berangkat pagi2.
Ketiga anak muda itu menyawab akan perhatikan pesan
itu, setelah mana, Siok beng Sin Ie keluar pula. Ia pergi
kelain ruangan dimana ia tidak tertampak orang
pekaranganpun gelap. Ia jalan terus sampai kesebelah depan
dimana masih ada beberapa tetamu asyik bicara sambil
hadapi teh. Kemudian ia pergi keruangan Barat dimana
sengaja ia melewati jendela hingga ia tampak, dalam kamar
nomor tiga, masih ada cahaya api suram, hingga tak dapat
diketahui, si imam sudah balik atau belum. Ia hentikan
tindakannya, ia pasang kuping. Ia dengar suara gerakan
orang yang meniup api.
Dia tentu mau keluar, ia pikir, terus ia mengenjotkan
tubuhnya keatas payon genteng Utara di wuwungan mana
ia mendekam, akan sembunyikan diri sambil pasang mata.
Ia tidak berani sembrono, karena ia duga si imam tentunya
liehay.
Segera ia lihat berlompatnya satu bayangan, sangat
cepat, ke Timur, keatas rumah, akan menuju kesudut Utara.
Disini tentu ada kecampuran orang jahat, Liu Tong
men duga2. Mungkin mereka sedang menguntit
rombonganku. Baik aku lihat imam ini, apa dia mau
Ia lalu bergerak, untuk menguntit.

Dia bernyali besar, kata ia dalam hatinya, apabila ia


tampak bayangan itu -bayangan si imam- yang turun
kebawah.
Orang masih belum tidur semua, dia berani mengintai,
baik aku kasi rasa padanya
Liu Tong pergi ke Utara, kesudut Timur dari kamar,
akan menguntit terus.
Imam itu sedang mengintai di jendela kamar Timur, lalu
di jendela kamar Utara, diapun rabah pedangnya, akan
tetapi dia tidak mencabut itu.
Asal kau turun tangan.... pikir Siok beng Sin Ie.
Imam itu tidak berbuat apa2, ia loncat naik keluar hotel.
Liu Tong heran, tadinya ia niat kisiki suhengnya, tapi
segera ia ubah pikiran. Ia anggap, baik ia coba menguntit.
Maka itu la lantas menyusul. Ia lihat si imam naik
kegenteng rumah penduduk, jalan diatas itu ke Timur,
sampai dimulut desa. Disini, dia belok ke Timur utara.
Lompatan nya, jalannya, ada gesit dan cepat sekali.
Terus Liu Tong mengikuti sampai diluar Teng wan ek.
Disitu ada daerah rawa. Mengikuti jalan kecil imam itu
menuju terus ke Timur utara, sampai ditegalan sawah, yang
terseling pepohonan teh dan murbei. Disini tidak ada
tempat sembunyi, terpaksa Liu Tong mengikuti dari
kejauhan.
Jalan jauhnya tiga lie lebih, mereka sampai disebuah
dusun. Terang si imam kenal baik jalanan, tidak ia
hampirkan mulut desa, ia hanya loncat naik atas sebuah
rumah diarah Barat.

Jikalau dia bukan hendak kerja disini dia mesti ada


punya kawan, Liu Tong duga. Tanpa ada maksud, orang
mesti jalan kitari dusun itu.
Menunggu sampai si imam sudah lewati belasan rumah,
Liu Tong baharu loncat naik kegenteng untuk terus menjadi
bayangannya si imam. Dilihat dari genteng rumah, ia
percaya dusun ini ada dusun berbahagia. Justeru ia awasi
genteng, ia berlaku sedikit alpa, si imam lenyap dari
pengawasannya. Ia penasaran, ia maju dengan cepat.
Menghadapi jalan besar, hatinya lega. Disitu ia tampak pula
si imam yang sedang bertindak terus. Teranglah imam itu
ada kandung sesuatu maksud.
Berjalan dijalan besar, imam itu menuju ke Timur,
kemulut desa. Sekarang dia berjalan pelahan, matanya
senantiasa mengawasi kerumah2 sebelah utara. Rupanya ia
perdatai tembok. Tiba2 ia berhenti didepan sebuah rumah
besar, ia awasi tembok samping, setelah itu, ia loncat naik
keatas tembok itu.
Liu Tong mengerti, imam itu pasti cari tanda rahasia.
Ketika iapun loncat naik kegenteng untuk menguntit, ia
lihat si imam pergi kebelakang rumah itu, yang terdiri dari
beberapa undakan. Ia heran melihat orang seperti kenal
baik gedung itu.
Setelah lewat dua pekarangan dalam, si imam memasuki
yang ke tiga dimana ada tiga buah kamar, gang terpecah
empat, disaban gang ada pot kembang dan tanah berumput.
Untuk desa, jarang ada rumah dengan bahagian dalam
seperti itu.
Si imam hampirkan sebuah kamar, ia dekati jendela
Timur, untuk melobangi kertas jendela dan mengintai
kedalam.

Melihat duduknya kamar, Liu Tong percaya jendela itu


mesti ada jendela belakang, maka lekas2 ia memutar kekiri
akan mencari jendela belakang itu. Ia tidak perdulikan
lainnya, ia terus cari jendela itu. Selagi ia mengintai, ia
bercekat sendirinya. Itu mesti ada kamarnya satu nona.
Aku ada pemimpin Hoay Yang Pay, cara bagaimana
aku bisa intai orang punya gadis remaja. pikir ia dalam
kesangsian. Baik aku pancing saja si imam keluar dari sini,
untuk tanya maksudnya sebenar nya
Ia baharu memikir sampai disitu, atau ia lihat satu nona
umur delapan atau sembilan belas tahun diiring satu bujang
perempuan usia lima atau enam belas tahun. Nona itu
cantik tapi lesu, romannya seperti sedang sakit, rupanya dia
habis menangis. Sang bujangpun lesu dan berduka.
Nona itu masuk kedalam kamar untuk terus duduk atas
pembaringan, agaknya ia letih, hadapi tiga batang lilin
diatas meja didepan jendela, hingga kelihatan nyata
wajahnya, wajah dari satu nona toapan. Tiba2 si nona
merabah perutnya, alis dirapati pula, air matanya lantas
meleleh turun.
Satu budak sedang gunting sumbu lilin ketika ia menoleh
dan lihat nonanya menangis, ia perdengarkan suara
tertahan. Segera ia melepaskan guntingnya dan lari pada
nona itu.
Nona, kenapa kau tidak dapat legakan hati? kata ia.
Itulah berbahaya. Kenapa nona tidak sudi dengar aku?
Buat apa pergi kekamar nyonya besar? Baik diam saja
dalam kamar sambil sendiri, jangan perdulikan apa yang
dia bilang. Dasar nona malang, nona peroleh penyakit
semacam ini. Apa daya? Tapi nona tidak bersalah, tak
usah nona takut. Dibelakang hari rahasia tentu akan
terbuka. Aku ada satu budak, tetapi nona tak pandang hina

padaku, maka aku nanti berdaya akan cuci malu nona ini!
Oh, imam jahat itu, dialah si celaka! Dia rupanya ada
musuh nona dari penitisan yang lalu! Tentu dia telah bilang
suatu apa pada tuan dan nyonya besar. Sekarang sabar,
jangan nona keluar, kalau nanti tuan besar datang, aku
nanti membantui nona. Kita mesti minta tuan undang tabib
untuk periksa penyakit nona. Ia sebagai ayah, mustahil ia
tak sayangi nona? Nona, aku bersedia korbankan jiwa
untuk menolong bersihkan namamu. Belum pernah aku
tinggalkan nona, aku tahu nona ada putih bersih!
Nona itu menyeka air matanya.
Adik Kiok, kau baik sekali ia bilang. Bukannya aku
tidak suka mendengar kau. Tapi nyonya besar ada seperti
musuhku, dia sangat benci kepadaku, sekarang dia dapat
alasan, bagaimana dia tidak gunai itu? Tak dapat aku tak
menemui dia, dia pasti akan mengarang cerita yang bukan2.
Benarlah pembilangan ada punya ibu tiri seperti punyakan
ayah tiri. Aku bingung. Duluan telah diundangi tabib,
karena dia tidak sanggup mengobati, nyonya besar semakin
keras tuduh aku. Aku tak beruntung, biar dimuka Raja
Akherat saja aku minta keadilan. Aku ada satu nona
terhormat tetapi nasibku tak dapat membandingi si gemuk
gadisnya Heng Ah si bujang sawah, dia anak petani melarat
tapi dia bergembira dan hidup manis dengan orang
tuanya....
Mendengar kataanya itu, Liu Tong bisa duga si nona ada
korbannya ibu tiri. Ia hanya heran melihat perut si nona
yang besar. Melihat wajahnya, mustahil nona itu main gila.
Kalau dia main gila, mustahil dia jadi demikian berduka.
Tapi mukanya si nona ada kuning pucat.
Dia mesti dapat penyakit luar biasa dan orang sangka
dia hamil.... pikir ia. D isini ada mengenai jiwa, perlu aku
campur tahu....

Ia dengar si budak menghibur pula, katanya Sudah,


nona, kau bersabar saja. Sekarang ini kita tak dapat berbuat
suatu apa, cukup asal kita tahu diri kita putih bersih. Aku
ingat pepatah yang membilang, orang suruh orang mati,
Thian tidak memperkenankannya, Thian suruh orang mati,
apakah susah nya? Demikian dengan nona, kita baik
peserah kepada Thian saja. Halnya si imam, apabila dia
datang pula, tidak perduli nyonya besar sangat percaya dia,
nona sendiri jangan perdulikan padanya, umapama nyonya
besar paksa ajak dia datang, nona boleh kuncikan pintu,
jangan kasi dia masuk, pada nyonya besar bilang saja nona
takut, apabila dia memaksanya, nona pun tetap menolak!
Apa dia bisa bikin?
Budak itu sekai air mata nonanya.
Si nona hendak sahuti budak nya, atau tahu2 imam
diluar telah berdiri dimuka pintu kamar.
Bu liang hud! imam itu memuji. Pousat perempuan,
jangan takut, couwsuyamu datang untuk tolongi kau, untuk
membebaskan dirimu. Mustahil kau masih belum
menginsafi maksudku?
Dua2 perempuan itu kaget, tapi si budak membesarkan
hati.
Kau kau kau! ia membentak. Kau seorang suci,
kenapa tengah malam buta rata kau memasuki kamar satu
gadis remaja? Lekas pergi, atau aku nanti berteriak!
Imam itu tidak berlalu, dia malah tertawa besar.
Budak! kata ia. Kau cuma satu budak, mengapa kau
banyak omong? Couwsuya murah hati, tak mau aku bunuh
orang, tapi jikalau kau tetap banyak bacot, jangan kau nanti
sesalkan aku....

Liu Tong mengawasi, ia gusar melihat sikapnya imam


itu.
Justeru itu, si nona berbangkit, dia tolak budaknya, dia
awasi imam itu, sepasang alisnya berdiri, kedua biji
matanya terbuka lebar.
Tooya! kata ia, suaranya menyalakan kemarahannya.
Teranglah bahwa ia tak takut lagi. Kemarin ibuku paksa
ajak kau kemari, untuk periksa penyakitku, tetapi entah kau
ngoce apa kepada ibu, dia lantas tuduh aku! Ibu sangat
benci aku, dia seperti ingin aku segera binasa! Sekarang
malam kau datang kekamarku, nyata kau menghina sangat
padaku! Aku tidak perdulikan maksud kedatanganmu,
tetapi aku hendak tanya, apakah kamarku ada tempat yang
kau bisa masuki sesuka hatimu? Lekas kau keluar! Kau
ketahui rumah tanggaku, jikalau aku berteriak, apa kau bisa
keluar dengan baik dari sini?
Ah lie pousat, kata si imam dengan wajahnya yang
keren. Apakah kau hendak balas budi dengan kejahatan?
Bu liang hud, siancay, siancay! Lie pousat, di depanku
jangan kau gunai lidahmu yang tajam, couwsumu sudah
ketahui baik wujudnya penyakitmu ini. Aku ketahui itu
waktu pertama kali aku melihat nya! Aku berkasihan
kepadamu, aku tidak hendak membuka rahasia untuk
menolong dirimu, guna lindungi kehormatan keluargamu.
Aku ada seorang suci, aku hendak menolong kau. Jikalau
aku tidak menolong kau, kau selamanya terancam bahaya
ternoda, apabila sampai selang sepuluh bulan, rahasia akan
terbongkar dengan sendirinya. Apa yang kau bisa
sembunyikan lagi? Kau akan menyesal sesudah kasep!
Disini aku ada punya sebutir pil mustajab, asal kau makan
ini, cuma setengah jam kau bakal keguguran, nanti aku
bawa pergi daging dalam perutmu itu. Couwsuyamu ini

membutuhkan itu, kau tahu? Kau ini tertolong, juga nama


baik keluargamu!
Tapi si nona gusar hingga tubuhnya gemetaran.
Sayang, sebagai murid Sam Ceng, kau salah mata! ia
menegur. Kenapa kau ngaco belo? Aku ada satu
perempuan terhormat cara bagaimana kau anggap aku
sebagai binatang? Aku sudah cukup menderita, jangan
ganggu aku, atau kau bunuh saja aku dengan pedangmu!
Ia berbangkit, agaknya ia hendak tubruk imam itu.
Kau duduk! imam itu mem bentak, agaknya iapun
gusar.
Aku hendak tolong kau, kenapa kau tidak mau
mengarti? Baik aku terangkan padamu aku pandai membuat
obat pules, untuk itu aku membutuhkan cie hoo cia. Selama
banyak tahun ini, aku telah dapatkan dua puluh lebih, tak
pernah aku salah lihat. Aku hendak tolong kau, dengan
obat aku hendak keluarkan kandunganmu yang sudah tiga
bulan ini. Kenapa kau tolak maksud baik dari
couwsuyamu? Ia rabah pedang dibebokongnya. Lihat,
jikalau aku hendak bunuh kau, itu ada terlebih gampang
daripada ambil kandunganmu ini! Tapi aku ada murah hati,
maka jangan kau sia sia kebaikan ku....
Imam itu kelihatan bengis luar biasa, tetapi si nona tetap
tidak takut.
Kau ngaco belo! ia membentak. Aku ada putih
bersih, dari mana datangnya kandungan? Aku mengarti
surat, aku ada dari keluarga terhormat, bagaimana kau
berani cemarkan kehormatanku? Sebenarnya aku sedang
sakit! Kau seorang yang beribadat, jangan kau melupakan
karma!....

Tooya budak Siauw Kiok campur bicara, jangan


harap kau bisa ganggu nona! Kami berdua lemah tetapi
kami tak takut mati! Nona sedang sakit, orang cuma fitnah
dia, jangan kau turut menodainya! Baik kau jangan
mengganggunya, kami suka memberikan uang dan barang
perhiasan untuk kau. Kemudian ia tambahkan pada
nonanya Nona, mari anak kuncimu!
Matanya si imam bercahaya ketika ia lihat dua teromol
di ujung pembaringan, ia menyengir, kemudian ia hunus
pedangnya, yang bersinar berkeredupan.
Melihat senjata tajam itu, Liu Tong terkejut. Diluar
dugaannya, satu imam cabul, tukang ambil kandungan
muda cie hoo cia, ada punya pedang mustika. Pedang ini
nampaknya bisa menangi pedang Lui im kiam dari Tiat So
Toojin dan pedang Tin hay hok po kiam dari Cu In Am cu.
Tak dapat aku bikin dia lolos, pikir jago Hoay Yang
Pay ini, yang terus memasang mata, pikirannya sudah
tetap.
Aku tak membutuhkan uang dan barang permata, kata
si imam. Asal aku mau, dengan gampang aku bisa ambil
itu, tak perduli kau simpan rapi. Lihat!
Ia gunai pedangnya akan bacok kunci kuningan dari
teromol itu, kunci itu lantas putus dan rusak!
Si nona dan budaknya kaget.
Kau lihat, bukan? kata si imam. Sekarang, kau
hendak minum obatku atau kau hendak tunggu aku turun
tangan sendiri? Jangan kau ayala2n, nanti aku habis sabar!
Alisnya nona itu berdiri pula.
Kau benar kejam! kata ia. Kita rupanya ada musuh
turunan! Nah, mari obatmu itu!

Imam itu tertawa, tertawa iblis, bahna puas hatinya. Ia


masukkan pedangnya kedalam sarung, ia tertawa pula,
kemudian dari dalam cupu cupunya, yang tutupnya ia buka,
ia jemput sebutir pil merah. Ia sodorkan itu pada si nona,
tetapi Siauw Kiok yang sambuti.
Nona, aku nanti ambil air kata budak yang setia ini. Ia
lantas bertindak kemeja dimana ada thekoan teh.
Si nona, dengan air mata bercucuran, duduk atas
pembaringannya.
Ibu, aku tak berdaya akan lindungi lebih jauh
kehormatan mu.... ia mengeluh. Ia menangis sangat sedih.
Sebelah tangannya merabah kebawah kasur, dari mana ia
keluarkan satu gunting.
He, kau hendak bikin apa? menegur si imam, ia kaget.
Tapi cepat sekali, si nona sudah tikam tenggorokannya,
menyusul jeritannya yang tertahan, darah muncrat,
tubuhnya rubuh atas pembaringannya itu.
XXXVIII
Walaupun ia kaget, imam itu berlompat untuk samber
tubuhnya si nona, akan tetapi berbareng dengan itu, si
budak sudah jemput ciaktay dengan tiga batang tancapan
lilin nya, dengan itu, budak ini dengan berani, dengan
sekuat tenaganya, sudah menimpuk sambil membentak
Jahanam, aku adu jiwaku denganmu!
Siauw Kiok kaget melihat kenekatan nonanya, tetapi ia
lebih kaget menampak si imam bergerak, maka itu, untuk
tolong nonanya, ia samber ciaktay dan menimpuk.
Ternyata ia ada punya keberanyan dan ketabahan hati.

Mereka berada terlalu dekat satu dengan lain, si imam


juga tidak menyangka jelek pada budak ini, jitu sekali
ciaktay mengenai mukanya tanpa ia keburu menangkis atau
berkelit. Ia menoleh ketika Siauw Kiok damprat ia, justeru
ia menoleh, ciaktay samber matanya yang kanan.
Aduh! ia menjerit seraya bekap matanya.
Siauw Kiok tidak berhenti sampai disitu, ia samber
tehkoan dengan apa ia hajar alisnya si imam, tapi sekarang,
meskipun terluka, imam itu insaf, de ngan menahan sakit ia
mencaci Oh, budak celaka! Segera ia hunus pedangnya
akan tabas budak itu.
Siauw Kiok tahu bahaya, ia meramkan matanya.
Dalam detik yang berbahaya itu, Liu Tong sudah loncat
turun dari genteng dan lari menghampirkan. Ia sampai tepat
selagi pedang terhunus, dengan cepat ia cekal lengannya
imam itu.
Imam itu terkejut, apapula cekalan itu mendatangkan
rasa sakit yang hebat, ia lantas putar tubuh untuk membela
diri, akan tetapi ia kalah sebat, pundak kanannya kena
ditotok, atas mana, sakit dan kesemutan lengan kanannya
dia, pedangnya terlepas sendirinya. Menyusul itu, satu
totokan lagi pada jalan darahnya Khie jie hoat
menyebabkan dia rubuh, rubuh duduk ditanah tanpa bisa
kutik lagi.
Siauw Kiok kaget ketika la melihat kejadian itu, ia dapati
orang yang datang masuk secara tiba2 itu ada seorang tua,
ia sampai menjerit Ai!
Lekas! kata Liu Tong pada budak itu. Lihat nonamu,
Ia masih bisa ditolong atau tidak!

Karena ia mengetahui orang bermaksud baik, Siauw


Kiok tidak takut. Ia lari kepembaringan, air matanyaber
cucuran.
Siocia, siocia! ia berseru, kapan ia lihat darah
berhamburan. Ah....
Ambil api, Liu Tong menyuruh si budak, yang putus
asa itu. Kemudian ia suluhi si nona. Jangan kau
menangis ia kata.
Kau rabah dada nonamu, kalau napasnya masih ada,
aku bisa tolong padanya....
Siauw Kiok rabah dada nonanya itu.
Jantungnya masih memukul! ia berseru.
Air mukanya Liu Tong menjadi terang.
Pergi panggil majikanmu. aku hendak menolongi
nonamu, kata ia pada budak itu. Imam inipun perlu
diurus
Tuan dan nyonya ada, tetapi sulit.... sahut Siauw Kiok
yang bersangsi. Kecelakaannya nona pun bukan melulu
disebabkan imam jahat ini, umpama kata dia tidak datang,
jiwa nona memang sukar untuk ditolongi.
Aku tak tahu urusan rumah tanggamu, tetapi aku bisa
mengira ngira, kata Liu Tong. Sekarang lekas kaupanggil
tuan dan nyonyamu itu, aku kuatir nonamu tidak keburu
ditolong!
Siauw Kiok rupanya mengarti, maka ia lantas berlari
keluar.
Liu Tong loloskan pedangnya si imam, untuk diselipkan
dibebokongnya, kemudian ia duduk dijendela untuk
menantikan. Ia tidak usah menunggu lama akan dengar
suara berlari lari. Siauw Kiok yang muncul paling dulu.

Loosuhu, tuan datang, ia kasi tahu.


Dan tuan rumah segera muncul. Dia berumur kurang
lebih lima puluh tahun, mukanya merah, romannya agung,
pakaian nya pun rapi. Dibelakang dia ada satu nyonya
muda yang dandanan nya perlente dan romannya genit.
Dibelakang mereka ada beberapa bujang perempuan dan
lelaki, semuanya berdiam.
Tayhiap, aku telah dengar keterangannya Siauw Kiok,
berkata tuan rumah sambil terus kasi hormat pada Liu
Tong, nampaknya ia kaget dan heran. Imam ini telah
mengganas, terima kasih untuk pertolonganmu. Apakah
tayhiap suka perkenalkan dirimu kepadaku?
Aku Ban Liu Tong dari Kwie in po di Kian San, Liu
Tong jawab. Kebetulan aku lewat disini, aku pergoki
imam ini, aku lantas menawan padanya.
Tuan rumah itu manggut.
Aku sendiri ada Tan Hong Kie, ia perkenalkan
dirinya. Dulu pernah aku menjabat pangkat, tetapi
sekarang aku hidup bertani dikampung halamanku ini. Aku
menyesal atas buruknya nasib keluarga kami, aku telah
dapatkan anak put hauw ini yang menodai nama baikku.
Sebenarnya lebih baik anak ini mati saja....
Liu Tong tidak senang mendengar kata2 tuan rumah itu.
Harimau jahat tidak makan anaknya! kata ia.
Lauwhia, kau seorang terpelajar, kau pernah pangku
pangkat, kenapa pemandanganmu cupat seperti satu pit hu?
Jikalau begini sikapmu, baik, aku tidak sudi campur pula
urusanmu, dan imam ini, kau mau bebaskan atau serahkan
pada pembesar negeri, masa bodo kau! Aku hendak pergi
sekarang!
Liu Tong terus putar tubuhnya.

Tan Hong Kie kaget.


Tunggu, tayhiap! ia mencegah. Maafkan aku, karena
aku pusing, bicaraku tidak. keruan. Kejadian ada terlalu
hebat bagiku, hingga aku tak bisa berpikir. Harap tayhiap
tolong kami.
Melihat orang insyaf, Liu Tong urung berlalu.
Jikalau kau masih menyayangi puterimu, aku suka
berbuat apa yang aku bisa untuk tolong puterimu itu, ia
bilang. Dari sakunya ia ambil obat, bubuk, ia serahkan itu
pada Siauw Kiok seraya berkata Kau pakaikan obat ini
pada luka nonamu, lantas luka itu dibungkus biar rapi.
Kemudian kau sediakan gula pasir serta air matang.
Selagi Siauw Kiok sambuti obat, Tan Hong Kie perintah
lain budak ambil gula dan air yang diminta.
Sebenarnya, aku mengarti sedikit tentang ilmu tabib,
Liu Tong berkata pada tuan rumah. Kalau lauwhia tidak
hadir, aku sangsi tolongi si nona, tapi didepanmu aku nanti
mencobanya
Lantas Liu Tong ajarkan Siauw Kiok bagaimana mesti
obati lukanya si nona.
Budak itu bekerja menuruti ujarannya tabib ini.
Selagi si nona mulai sedar dari pingsannya, Liu Tong
periksa nadinya si nona.
Tidak apa, nyatakan ia. Lukanya enteng sekali. Dia
pingsan itu karena pepat pikiran disebabkan hawa amarah
yang meluap.
Gula pasir dan air telah disiapkan, maka Liu Tong lantas
aduk itu dalam satu cawan. yang mana ia minumkan pada
si nona. Kemudian, seraya keluarkan jarum
emasnya,

tabib ini berkata pada tuan rumah Tolong lauwhia jelaskan


padaku tentang sakit nya puterimu ini.
Mukanya Tan Hong Kie menjadi merah, ia tergugu.
Ban Tayhiap, sebagai seorang lelaki, tak dapat aku
tuturkan tentang penyakitnya anak ini, ia
jawab
dengan susah. Biar isteriku saja yang menceritakan nya.
Ia lantas menoleh pada si nyonya muda disampingnya dan
kata. Terangkanlah pada Ban tayhiap tentang penyakit
Siang Houw.
Nyonya cantik itu awasi Ban Liu Tong, lantas ia kata
Sebenarnya aku malu akan tuturkan keburukan rumah
tangga kami, tetapi karena terpaksa, biarlah aku
menerangkannya. Seyak bulan pertama, aku sudah
merasakan aneh tentang anak ini tapi sebagai ibu tiri aku
tidak berani banyak omong. Kemudian, ketika aku usulkan
mengundang tabib dia menampik. Seorang perempuan,
apapula satu nona, mesti putih bersih, akan tetapi dia
punyakan penyakit ini, apa aku tak ikut malu?
Penyakitnya si nona memang ada memalui keluarga,
kata Liu Tong. Memang benar tentang penyakit ini tidak
dapat diuwarkan. Tapi disebelah itu, orang perlu bukti. Si
nona nampaknya sebagai sedang mengandung, tetapi
sebagai orang luar, aku tidak berani memastikannya. Bukti
harus ditunggu sampai saatnya hamil cukup bulannya. Ada
hal yang menerbitkan penasaran, si nona bilang sekarang ia
disangka telah main gila. Dalam hal ini, aku ingin lauwhia
berdua suami isteri suka berlaku hati2.
Muka Hong Kie bersemu merah, saking jengah.
Ban Giesu, sekarang aku cuma bisa sesalkan diri, ia
akui. Sebenarnya anakku ini sejak masih kecil aku
pandang sebagai anak laki2 mulai umur sembilan tahun aku
suruh ia ikuti tukang uangku belajar surat, karena ia berotak

terang kemudian aku undang satu guru sendiri untuk didik


ia lebih jauh, selagi belajar, aku panggil dua anaknya dua
keluarga hartawan akan belajar sama2. Diantara dua anak
itu adalah anaknya tetanggaku, Liok Kian Tek yang paling
akur dengan anakku ini, hingga aku menyangka diantara
mereka ada janji suatu apa. Ada bujang2 perempuan yang
lihat, mereka berdua kadang2 suka bersikap tidak
sewajarnya, dan kemudian lagi, setelah berhenti sekolah,
mereka suka juga tempo bikin pertemuan. Semua bujang
tidak ada yang berani omong apa padaku. Aku tidak sangka
kejadiannya seperti ini, hingga cerita telah teruwar. Pasti
sekali aku jadi sangat malu. Ban Giesu, kau sekarang telah
menangkap si imam jahat, kau pun hendak coba obati
anakku, oh, Giesu tidak nanti aku melupai budimu ini.
Tentang anakku ini, Giesu, terserah pada dia sendiri! Liu
Tong manggut2 .
Tan lauwhia, aku mengarti harapanmu dari anakmu,
maka aku mengarti juga bila sekarang hatimu jadi tawar,
kata ia, tetapi mengenai puterimu ini, aku harap kau pikir
pula. Melihat tampangnya, tak mestinya ia ber batin buruk.
Aku sudah berpengalaman, aku telah lihat banyak orang.
Aku harap, puterimu benar2 ada punya penyakit.
Hong Kie ada sangat masgul, ia diam saja.
Ban Giesu, jikalau kau bisa mencuci kehormatan kami,
kami akan sangat bersyukur padamu, kata nyonya Tan
yang dandannya perlente itu.
Aku harap saja, nyonya, Liu Tong kata sambil
manggut.
Lantas, dengan
undurkan diri.

mengajak bujangya, nyonya Tan

Liu Tong lihat gerak geriknya si nyonya, dari situ ia bisa


mengarti keadaannya rumah tangga keluarga Tan ini. Tapi

ia diam saja. Ia hanya dekati pembaringan akan awasi


Siang Kouw. Ia percaya nona itu akan dapat ditolong.
Sekarang aku hendak mengurus dulu imam ini, segera
aku kembali, kata ia pada tuan rumah.
Dia belum sadar, apa Giesu bisa bawa dia pergi? tanya
Hong Kie.
Gampang! sahut Liu Tong sambil tertawa, terus ia
dekati si imam, yang lantas ia angkat dan kempit, buat
dibawa keluar dari kamar.
Diluar ada beberapa bujang lelaki, melihat tenaga besar
dari si tuan penolong, mereka kaget.
Liu Tong tidak perdulikan mereka, ia loncat naik keatas
genteng, untuk keluar dari pekarangan rumah, akan pergi
sampai diluar dusun itu, yang ada dusun Tiong hoo tin. Ia
baharu berhenti sesampainya ditempat banyak pepohonan
yang sunyi. Disitu ia turunkan si imam, yang ia segera
totok, hingga dia itu menjerit dan lantas sedar akan dirinya.
Segera imam ini insaf akan duduknya hal. Tetapi ia ada
kepala besar, ia diam saja tidak niat ia untuk mohon
ampun.
Kau ada murid dari Sam Ceng, kenapa kau begini
jahat? Liu Tong segera menegur. Apakah kau tidak insaf
bahwa perbuatanmu ada merusak peri kemanusiaan? Kau
telah ketemu aku, kau harus merasa beruntung.
Menghadapi lain orang, jiwamu pasti lenyap sekejab.
Apakah kau insaf sekarang? Maukah kau bertobat? Kau
harus ketahui, dengan mengganas terus, kalau kau tidak
terkutuk, mesti ada orang yang hukum padamu!
Imam itu berdiam, ia menunduk, karena mana, Liu Tong
tepuk pundaknya, hingga dengan cepat ia angkat kepalanya.

Segera matanya dapat lihat pedangnya sendiri dibebokong


musuh itu. Tiba2 jadi gusar, hingga ia bersenyun ewah.
Sahabat, jangan berjuma! kata ia dengan nyaring. Aku
tahu, siapa menang dia raya, siapa kalah dia pemberontak!
Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, terserah padamu,
maka itu, tak usah kau nasihat kan aku, jangan kau ber
pura2 murah hati! Jikalau kau merdekakan aku, kau
tunggulah hari nya yang kita nanti bertemu pula, jikalau
kau takut, kau bunuhlah aku sekarang! Aku me___kan ingin
ketahui namamu!
Sambil mengucap demikian, imam itu mengawsi, seperti
henda k kenali orang.
Aku bermaksud baik, kau tak sudi terima, Liu Tong
bilang. Kau pun memikir untuk mencari balas. Kalau
begitu, baik kau bawa dirimu sendiri, kematianmu.
Umpama kau niat car
I aku, seumur hidupku aku
bersedia menantikan kau di Kwie in po di gunung Kian
San. Aku adalah Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong dari Hoay
Yang Pay.
Imam itu tertawa dingin.
Ban Liu Tong, kau telah menanam bibit permusuhan,
pasti aku nanti menuntut balas! kata dia dengan berani.
Aku Hui In Too Hang Lie Pwee Kie dari kelenteng Hian
Touw Koan dari Hian Touw Pay, kau kenali aku! Tapi,
jikalau kau suka kembalikan pedangku, aku suka bikin
habis permusuhan ini! Kau pilihlah!
Jahanam, kau jadinya ada ___nya Hian Touw Pay!
kata Liu Tong. Tapi aku telah lepas kata, aku tetap akan
merdekakan kau. Kau baiklah bertobat, atau kalau tidak,
tiga bulan kemudian, aku bersedia akan nantikan
kedatanganmu. Pedangmu ini aku hendak pinjam, karena

inilah alat kejahatanmu. Untuk dapat pulang senjatamu ini,


itu bisa terjadi diharian kau mencari balas!
Setelah mengucap demikian, Liu Tong tinggalkan Imam
ini, akan kembali kerumahnya Tan Hong Kie, selagi ia
baharu bertindak, ia dengar tertawa mengejek dan
ancamannya imam itu Jikalau couwsuya tidak bakar ludas
pada Kwie in po, aku sumpah kecewa aku jadi kaum Hian
Touw Pay!
XXXIX
Walaupun Liu Tong dengar ancaman itu, namun ia tidak
perdulikan. Ia telah totok jalan darah orang, untuk sembuh
dari itu, ada butuhkan tempo seratus hari, dari itu,
sebelumnya tempo itu tidak nanti si imam dapat datangi
Kwie in po, ia pasti akan keburu pulang dari Cap jie Lian
hoan ouw. Ia berjalan terus, ia ber lari2, ketika ia sampai
didalam rumah, ia dapati Hong Kie sedang menanya Siauw
Kiok tentang kejadian yang sebenarnya, dan budak itu telah
menuturkan semua dengan jelas. Karena ini, tidak lagi
Hong Kie benci puteri nya itu, apalagi Liu Tong pun
hendak mengobatinya.
Melainkan nyonya Tan yang tidak puas dengan
perbuatannya Siok beng Sin Ie, tetapi tentang perasaannya
ini, ia sembunyikan.
Hong Kie sambut tuan penolong itu, ia minta supaya
anaknya ditolong.
Jangan kuatir lauwhia, Liu Tong beri kepastian. Aku
melainkan minta, selagi aku mengobati, supaya isterimu
suka turut menyaksikan. Nama puterimu telah tercemar, itu
harus dipulihkan. Disini, kecuali Siauw Kiok, tidak ada
yang percaya puterimu sebenarnya sakit. Setelah aku

mengobati, aku meminta semua anggota keluargamu nanti


bersihkan nama puterimu itu.
Mukanya Hong Kie merah tapi ia manggut.
Kalau nanti aku telah mengobati puterimu, dia harus
dapat rawatan teliti, sedikitnya satu bulan, Liu Tong kata
pula. Dia ada sangat lemah, dia perlu terus memakan obat
dan makanan yang menguatkan tubuh. Selama dirawat, dia
mesti dapat perlakuan baik, dan kau, sebagai ayah, kau
bertanggung jawab untuk keselamatannya. Aku hendak
kembalikan kebersihan diri si nona, tapi aku kuatir, selagi
aku telah sembuhkan dia, nanti ada orang jahat yang diam2
mencelakai pula padanya, kalau itu sampai terjadi, sia2
pertolonganku, pasti aku tak mau sudah, tentu aku akan
bunuh orang yang berbuat jahat itu!
Selagi mengucap demikian, Liu Tong memperlihatkan
sikap yang keren sekali.
Tan Hong Kie berjanji akan juga baik dan melindungi
puteri nya, untuk itu, ia segera kasi mengarti pada semua
orangnya, yang pun berbareng ia mengancam.
Sekarang, lauwhia, mari antar aku kekamar puterimu,
dia perlu lekas ditolong, berkata Liu Tong.
Silahkan, Giesu, kata tuan rumah. Aku ada bekas
orang militer yang kasar, dalam segala hal sukalah Giesu
maafkan aku.
Aku tahu, sahut Liu Tong sambil manggut.
Lalu, dengan ia sendiri yang tengteng tengloleng, Hong
Kie jalan dimuka, akan pimpin penolong itu masuk
kekamarnya Siang Kouw.
Siauw Kiok sambut majikan nya itu seraya sambuti juga
tenglolengnya.

Bagaimana dengan nonamu? Liu Tong menanya si


budak.
Ia ada baik, cuma ia letih, Siauw Kiok jawab.
Liu Tong ambil lilin, ia hampirkan pembaringan untuk
menyuluhi dan awasi muka si nona, setelah mana, ia
manggut2, hati nya lega karena ia menampak pipi si nona
mulai bersemu merah.
Kita tunggu sebentar, ia bilang pada Hong Kie, siapa
lalu mengangguk.
Keduanya duduk menantikan.
Tidak lama, nyonya Tan muncul.
Dengan tak banyak omong lagi, Liu Tong suruh Siauw
Kiok kasi bangun nonanya, untuk ia periksa nadinya,
sesudah mana ia beritahukan Hong Kie, sakitnya si nona
asal mulanya disebabkan hati jengkel, lalu datang bulan nya
tak cocok, hingga darah mengumpul dan menjadi besar.
Darah itu bisa dibikin hancur, tetapi dengan
mengandalkan obat makan saja, dia membutuhkan puluhan
bungkus, maka sekarang aku hendak coba dengan lain
daya, berkata tabib dari Kwie in po. Kita lihat saja nanti
peruntungannya si nona....
Hong Kie tidak bisa berkata apa2, ia turut saja tabib itu.
Liu Tong suruh Siauw Kiok minta nonanya rebah
celentang, agar pakaiannya dirapikan. Dalam keadaan
seperti itu, ia tidak perdulikan lagi pantangan lam ___ siu
put cin lelaki dan perempuan tak dapat berpegang tangan.
Ia lantas menyiapkan jarum emasnya. Pertama ia tusuk
yalan darah kwan goan hiat, lalu menyusul thay it hiat, dan
___ hay hiat. Kemudian dengan
batang jarum yang lebih

besar ia tusuk jalan darah ___ tay hiat, im kauw hiat, ___
ciong hiat dan hee wan hiat.
Sekarang aku minta nyonya sudi mengawasi, kata
tabib ini pada nyonya Tan atau ibu tiri yang dengki itu.
Kau juga, jagalah baik2, ia pesan Siauw Kiok. Dalam
tempo setengah jam asal perutnya perdengarkan suara, itu
artinya tusukan
sudah bekerja. Kalau nona ke___kan
darah, jangan kasi ia ___ tubuhnya. Kau, nyonya,
harap jaga jarumnya, supaya tidak copot!
Lantas tabib ini mengajak Hong ___ keluar, untuk duduk
menantikan dikamar tulis. Disini mereka pasang omong.
Didalam kamar, Siauw Kiok dan nyonya Tan
menantikan dengan diam saja, keduanya terus awasi Siang
Kouw.
Lama rasanya sang tempo berjalan. tetapi tak sampai
setengah jam perutnya si nona bergeriyukan dua kali, lalu
sepasang alisnya bergerak.
Bagaimana, nona? Siauw Kiok mendekati. Kau rasai
apa2 dalam perutmu?
Sambil diam terus, si nona manggut sedikit. Tetapi ia
segera lihat ibu tirinya.
Rupanya aku ingin buang air, minta nyonya keluar
dulu, ia kata pada budaknya itu.
Siauw Kiok percaya, nyonya itu memang tak betah
berdiam didalam kamar itu, tetapi pesannya Liu Tong
menahan padanya. Ia jawab nonanya itu Diam, nona
jangan bergerak, ini pesan Ban Giesu. Jarum di tubuhmu
masih belum dicabut. Biarnya nona buang air, tetap diam
saja. Untuk kesembuhan dirimu, nona mesti tahan segala
apa! Nyonya sedang taati pesannya Ban Giesu, dia tidak
boleh berlalu dari sini.....

Selagi sang budak bicara Siang Kouw merasakan


perutnya mulas, sakit sekali, hingga ia mengeluh, kemudian
ia menjerit karena hampir ia tak dapat bertahan, waktu ia
hendak pukai dua tangannya akan tekan perut, Siauw Kiok
mencegah, adalah bujang ini bersama si nyonya yang
tolongi merabah. Pucat mukanya si nona saking menahan
sakit. Keempat batang jarum telah ber gerak2 sendirinya.
Kiok, lihat, lihat itu dibawah, apa. kenapa ....
Cuma sebegitu suaranya Siang Kouw, ia terus pingsan.
Siauw Kiok memegangi terus nonanya, sampai tubuhnya
diam. Ketika ia melihat kebawah, ia terperanjat. Disitu
bertumpuk gumpalan darah, yang merah dan hitam
warnanya. Ia jadi melongo.
Nyonya Tan pun terkejut, tapi mukanya jadi merah
sendirinya bahna jengah, hatinya lantas berkedutan. Ia
tuduh si nona hamil, sekarang buktinya bukan. Maka ia pun
terbengong.
Siauw Kiok sedar paling dulu.
Thaythay, jangan diam saja, ia tegur nyonyanya. Aku
ada seorang perempuan muda, aku tidak tahu apa2.
Bagaimana kita mestinya bertindak?
Nyonya itu sedar, lalu dengan terpaksa ia tolongi Siang
Kouw. Sekarang, tak malu2 lagi ia minta Siauw Kiok nanti
bicara baik tentang dirinya.
Siauw Kiok terharu, hingga air matanya berlinang.
Thaythay, aku ada satu budak, bagaimana aku berani
banyak omong mengenai rumah tangga thaythay, sahut ia.
Tapi aku berkasihan terhadap nona, yang nama baiknya
dicemarkan, yang jiwanya terancam. Sekarang syukur ia
telah tertolong, kehormatannya telah dipulihkan. Thaythay

jangan kuatir. Siocia sendiri, meskipun ia telah dipersakiti,


tidak nanti ia mendendam dihatinya.
Nyonya Tan tak enak hati, sebab walaupun budak itu
berjanji, tetapi kata2nya ada mengandung sindiran.
Sementara itu Siang Kouw sudah sedar akan dirinya. Ia
merasa sangat lemah sekujur tubuhnya. Ia merasa perutnya
dirasakan kosong.
Siouw Kiok keluar akan memberi laporan pada
majikannya, terutama pada Liu Tong didepan siapa ia
berlutut Giesu, kau adalah penolong nona. Ia sekarang
sudah baik, cuma ia masih lemah. Coba giesu longok
padanya, ia kata.
Budak ini paykui sampai tiga kali.
Sudah, jangan pakai peradatan! kata Liu Tong sambil
tertawa. Untuk kau sudah cukup asal kemudian kau rawat
baik2 nonamu
Hong Kie, yang girang sekali, haturkan terima kasih
pada tabib itu.
Mari kita lihat, ia lalu mengajak.
Bukan kepalang malunya Nyonya Tan apabila ia melihat
suami nya bertindak masuk bersama sama Liu Tong, ia
menunduk terus.
Liu Tong bisa mengarti malunya si nyonya, sebagai
orang terhormat, ia membiarkan saja. Ia terus hampirkan
Siang Kouw untuk periksa nadinya, sesudah mana, ia cabut
semua jarum.
Aku tidak sangka aku dapat menolong begini cepat,
kata ia pada Hong Kie dan isterinya. Sekarang sudah
mendekati fajar, aku masih punya urusan, aku mesti lekas
kembali. Si nona tinggal membutuhkan perawatan, disini

aku tinggalkan surat obat, untuk ia makan sampai sepuluh


bungkus. Untuk selanjutnya, asal makannya dijaga dan
jangan bikin ia berduka atau gusar, ia akan lantas pulih
kesehatan nya seperti sediakala
Liu Tong terus minta kertas, pit dan bak, lalu ia tulis
resep nya.
Selagi Orang menulis resep, diam2 Hong Kie siapkan
seratus tail perak, kemudian dengan ke___ tangannya ia
haturkan itu, seraya ia kata Sekarang ada
tengah
malam, walaupun aku berniat menghadiahkan sesuatu
kepada giesu, tak dapat aku cari barangnya, dari itu tolong
giesu simpan ini saja. Sebenarnya aku berlaku kurang
hormat, maka harap giesu maafkan aku
Lauwhia, kau berlebihan kata Liu Tong sambil
bersenyum. Aku jadi tabib tidak untuk na___ dan uang.
Biarlah kita jadi sahabat saja, harap dibelakang hari kita
nanti bertemu pula. Harapanku yang utama adalah kau
serumah tangga hidup rukun dan berutung, supaya ada ibu
yang mencinta dan puteri yang berbakti, dengan begitu tak
sia2 pertolonganku ini
Mukanya Hong Kie dan isteri jadi merah pula, mereka
jengh sekali, tetapi mereka mengucap terima kasih.
Siang Kouw dengar orang mau pergi, dengan lemah ia
paksakan berkata Inkong, budimu ini ada sangat besar,
aku tak dapat balas, biar dilain penitisan saja aku balas
itu....
Jangan kau pikirkan itu, nona. Kau ada seorang sadar,
aku percaya kau mengarti dengan baik. Sayang ibumu telah
meninggal dunya, tetapi sekarang ada ibu tirimu, asal kau
berbakti terhadapnya, dia ada seperti ibu kandung. Semoga
kau semua akan hidup rukun dan manis.

Siang Kouw menangis,


Aku nanti ingat baik2 pesanmu ini inkong, kata ia.
Liu Tong memandang kejendela, ia lihat mendatangnya
sang fajar, maka ia tidak berayal pula.
Sampai ketemu pula! kata ia, yang lantas bertindak
keluar.
Hong Kie bertindak akan mengantar. Baharu sampai
didepan pintu Cukup, lauwhia, aku pergi!
Itulah suara Liu Tong, yang tubuhnya mencelat keatas
genteng dan lenyap.
Hong Kie kagum, ia tercengang.
Liu Tong berjalan pulang dengan hati lega dan girang,
pertama2 ia sudah tolong satu jiwa, kedua ia telah peroleh
pedang, yang barangkali ada gunanya nanti di Cap jie Lian
hoan ouw. Tidakkah itu ada sebuah pedang istimewa? Itu
waktu belum ada orang berlalu lintas, ia lantas gunai
ilmunya lari cepat, maka ketika matahari mulai muncul, ia
telah sampai dihotelnya. Pintu hotel sudah dibuka, jongos
sedang nyapu. Selagi ia bertindak kearah kamar, Ciong
Gam bersama Wie Siu Bin dan Kim Jiang justeru bertindak
keluar.
Kemana kau pergi, suheng? ia memapaki.
Ah, sutee! kata Tiongciu Kiam kek. Kenapa kau pergi
tanpa bilang2 lagi? Satu malam kau tidak kembali, kau
bikin, kami memikiri kau...
Maaf, suheng, kata Liu Tong. Aku telah peroleh
pengalaman, hingga aku jadi seperti si nelayan yang peroleh
untung Mari kita bicara didalam
Ia ajak tiga kawan itu kembali, akan masuk kedalam
kamar dimana yang lain2 pun asyik harap2 padanya,

hingga hati mereka itu jadi lega. Mereka ini heran lihat
kawan itu punyakan sebatang pedang lain serta air
mukanya terang sekali.
Aku percaya kau, sutee, kata Eng Jiauw Ong. Tapi,
di sebelah itu kita pun insyaf, pihak Hong Bwee Pang ada
sangat licin dan licik, mereka berbahaya sekali. Bukankah
panah gelap sukar dilawan? Apakah pengalamanmu, coba
tuturkan?
Liu Tong duduk dulu, baharu ia loloskan pedangnya.
Lihat, suheng, bukankah perjalananku tak sia2 belaka?
kata ia sambil sodorkan pedang itu. Aku telah dapatkan
senjata ini. Bisakah ini dipandang mustika?
Lalu ia pun tuturkan pengalamannya itu.
Ong Too Liong cabut pedang itu, diantara suara
nyereset, iapun lihat sinar berkilau, hingga ia kagum,
kemudian ia pandang adik seperguruannya, sesudah mana,
ia awasi lama pedang itu. Ia lihat guratan2 naga terbang
dengan dari mulutnya nyembur hawa bagaikan asap, yang
merupakan dua huruf Tee Sat
Sutee, sungguh tidak surup Hui In Tootiang Lie Pwee
Kie memiliki pedang ini! kata Su heng ini kemudian. Dia
adalah sisa Hian Touw Pay, dia suka ambil cie ho cia untuk
membuat obat pules, tetapi dia punyakan pedang ini, aku
rasa dia ada punya asal usul yang beriwayat. Aku anggap,
dengan mengasi ampun padanya, sekali Ini kau bertindak
keliru. Orang sebangsa dia mesti disingkirkan dari dunya.
Sekarang kau tanam tibit permusuhan, dibelakang hari dia
bisa jadi bencana besar
Mendengar perkataan suheng ini, Liu Tong insyaf. Ia
memang tahu, imam itu akan menuntut balas dan bisa jadi
ancaman di belakang hari. Tetapi ia tidak takut.

Kau benar, suheng, aku menyesal, ia akui.


Sekarang tak lain, kau harus berhati hati, sutee, Eng
Jiauw Ong kata pula. Biar bagaimana, dia tak boleh
dipandang ringan. Mengenai pedang ini, aku tidak tahu
pasti ini benar Tee sat kiam atau bukan! Apa sutee ketahui
riwayatnya?
Akupun asing mengenai pedang ini, sahut Liu Tong.
Pedang itu lantas pindah tangan silih berganti, untuk
sesuatu kawan melihatnya.
Aku ketahui sedikit tentang pedang ini, hanya ini ada
Tee sat kiam atau bukan, aku tak berani memastikannya,
kemudian kata Kim too souw Khu Beng sesudah ia periksa
pedang itu. Nama yang lengkap adalah Tee sat Cian liong
kiam, yang berarti pedang Naga Tersembunyi. Pemiliknya
ada Kim Sie Tootiang Thio Ham Ceng dari berhala Thian
Hong Koan di Bu Tong San. Ini ada pedang pelindung
berhalanya itu. Kim Sie Tootiang ada berilmu tinggi dan
jujur, ada aneh senjatanya bisa jatuh kedalam tangan orang
jahat. Syukur pedang ini didapat oleh Ban Sutee. Apa bisa
jadi didalam Thian Hong Koan ada murid yang murtad?
Apa yang aku tahu, orang disana semuanya sujut,
aturannya pun keras, didalam kalangan kang ouw sukar
untuk menemui imam itu atau murid2nya. Ya, mesti ada
sebabnya maka pedang ini tak berada dikuilnya
Mungkin sekali Lie Pwee Kie bukan murid Thian Hong
Koan, nyatakan Eng Jiauw Ong.
Baiklah pelahan saja kita selidiki halnya pedang ini
Khu Beng serahkan pedang itu pada Liu Tong.
Karena didapatnya pedang ini berarti keuntungan besar
bagi pihak Hoay Yang Pay, Khu Beng lantas meminta
jongos lekas menyajikan meja perjamuan, untuk memberi

selamat pada Ban Liu Tong. Orang telah bersantap dengan


gembira sekali. Habis dahar, sesudah lakukan pembayaran
rombongan ini lanjutkan perjalanan mereka, tetap terbagi
dua.
XL
Perjalanan kali ini dilakukan berhari hari, tanpa sesuatu
rintangan, maka pada suatu hari kedua rombongan sampai
di Tong peng pa, diluar kota Lok sebelah Timur, di Ciat __
Selatan. itu ada satu dusun besar, jalan besarnya dua ___
panjangnya dan ramai. Memang Tong peng pa jadi jalan
___ diantara belasan distrik disekitarnya, baik didarat mau
pun diair. Distrik Lok ceng sanggup mencukupi kesuburan
nya ibu kota propinsi.
Rombongannya Ban Liu Tong yang sampai lebih
dahulu, setelah berdamai dengan Khu Beng,mereka pilih
hotel Eng Hoo, untuk singgah. Satu orang disuruh
menantikan dimulut desa, akan tunggui rombongannya Eng
Jiauw Ong, maka rombongan inipun ambil sebuah hotel
bersama. Mereka ambil lima kamar tengah dan dua kamar
samping. Hotel itu besar dan pekarangan nya luas, bisa
muat banyak kereta dan kuda.
Selagi duduk beristirahat, Eng Jiauw Ong tanya jongos
yang melayani mereka kalau jongos ini tahu dimana
letaknya Cap jie Lian hoan ouw.
Jongos itu agaknya heran.
Nama tempat itu pernah aku dengar sahut ia dengan
ayal ayalan, aku hanya tidak tahu dimana letaknya.
Barangkali adanya disekitar Gan Tong San. Gunung ini
hias daerahnya

Karena orang tidak tahu, Eng Jiauw Ong tidak menanya


melit, sekeluarnya jongos itu, ia berunding kepada
kawan2nya. Ia anggap mereka harus bikin penyelidikan
sendiri, main tanya saja tidak akan ada hasilnya.
Ditetapkan, besok mereka akan mulai kerja, dari itu,
sebentar kemudian, sehabis bersantap, mereka masuk tidur
siang2.
Keesoknya pagi, begitu lekas terang tanah, Eng Jiauw
Ong bangun paling dulu. Segera ia dapat lihat selembar
kertas merah diatas meja. Itulah sepotong karcis nama
dengan bunyi nya Hormatnya Bu Wie Yang Ia lantas
periksa pintu dan jendela, ia tidak dapati bekas apa2.
Diam2 ia ada sangat gusar.
Liu Tong bangun sebagai orang ke dua, pada2 sutee ini
Eng Jiauw Ong serahkan karcis nama itu.
Yang lain2 pun bangun saling susul, sama2 mereka lalu
melihat karcis nama itu.
Kita tidak alpa, suheng, karcis nama ini aneh, Liu
Tong nyatakan. Apa mungkin ada orang Hong Bwee Pang
yang bisa datang tanpa bayangan dan pergi tanpa
bekas2nya bagaikan orang sakti? Aku anggap perlu kita
pasang mata terhadap orang hotel sendiri. Jangan lupa kita
sudah berada dalam daerah kaum itu, yang pasti kaki
tangannya tersebar luas
Kau benar, sutee, Eng Jiauw Ong manggut. Kemarin
sikapnya jongos yang layani kita ada mencurigai. Apa ini
bukan permainan sunglapnya?
Ciong Gam dan Khu Beng pun menduga si jongos yang
berbuatnya.

Memang kita harus waspada, nyatakan Loopiauwsu


Hauw Tay. Tidak cuma orang hotel, semua kereta dan
perahu juga mesti dicurigai
Eng Jiauw Ong anggap itu benar. Untuk mencari
keterangan, ia lalu pecah kawannya jadi empat rombongan.
Biarlah bersama muridku aku berangkat lebih dulu,
Sin Wie Pang kata pada ketua Hoay Yang Pay. Umpama
kata kami berhasil memasuki Cap jie Lian hoan ouw, sudah
pasti aku akan mengirim kabar padamu, Ong Suheng. Aku
telah berjanji untuk membantu, dari itu tak lagi aku
pikirkan akan keselamatan diriku
Kau baik sekali, lauwko, terima kasih, kata Eng Jiauw
Ong, begitupun Ban Liu Tong. Biar bagaimana, aku minta
lauwko jangan sembrono. Tiga kali Hong Bwee Pang kirim
undangannya, dia toh berlaku sangat licin, sampai kita
sudah datang sekarang, dia masih belum hendak tunjukkan
alamat nya, dia sengaja persulit kita dengan mengantap kita
yang mencari sendiri. Aku percaya, apabila kemudian
terbukti kita tidak mampu mencari Cap jie Lian hoan ouw
baharu Bu Wie Yang akan kirim wakilnya untuk papak
kita. Aku pikir baik lauwko tidak sembarangan utarakan
cita2mu, dengan demikian bisa dicegah Bu Wie Yang gusar
terhadapmu. Dengan Bu Wie Yang tidak ketahui hati
lauwko apabila nanti kita masuk ke Cap jie Lian hoan ouw,
lauwko bisa bantu kami secara diam2. Jagalah agar rahasia
lauwko tidak terbuka
Jangan kuatir, loosu, aku bisa bekerja dengan hati2,
Wie Pang berikan kepastian.
Sampai disitu, Sin Wie Pang bersama muridnya, Hui
thian Giok niauw Hang Lim, lantas pamitan, untuk
berangkat terlebih dahulu.

Eng Jiauw Ong tugaskan Su touw Kiam dan Coh Heng


buat menunggu dihotel, kemudian, dengan berpecahan
merekapun berangkat saling susul - pergi dengan
berpencaran. Eng Jiauw Ong pergi ber sama2 dua saudara
Kam, Tiong dan Hauw, dan Tee he touw Hee houw Eng.
Paling dulu mereka berpesiar dijalan besar umum, untuk
lihat keadaan atau kebiasaan penduduk. Kota Tong peng
pa ini ada ramai sekali. Kemudian mereka masuk dalam
rumah teh dengan merek Kun Cu Kie. Disini ruangan ada
lebar, segala apa ada bersih dan terawat baik. Eng Jiauw
Ong mengharap bisa melihat dan mendengar apa2 yang
penting ditempat umum ini.
Baharu Eng Jiauw Ong pilih meja, dari luar kelihatan
ada masuk satu tetamu umum kurang lebih tiga puluh
tahun, muka nya merah, alisnya gomplok, kuncirnya yang
besar yang berbenang wol hijau, dilibatkan dileher nya. Dia
pakai thungsha abu2, di bebokongnya tergendol pauwhok
kuning. Diatas sepatunya yang putih, pada libatan kaos
kaki, ada diselipkan masing2 sebatang cagak tajam, hingga
dapat diduga dia ada orang kaum kang ouw. Dia telah pilih
tempat dimeja kedua disampingnya Eng Jiauw Ong.
Jongos lantas sediakan tehkoan teh dan cawannya.
Tolong ambilkan aku satu cangkir lagi, kata orang itu
pada jongos, aku hendak cepat2 lanjutkan perjalananku,
perlu aku dinginkan air teh.
Baik, tuan, sahut jongos sambil bersenyum. Disini
ada rumah teh tetapi disinipun tuan bisa dapat barang
santapan dan singgah juga.
Tetamu itu bicara dengan lagu suara orang San co, Shoa
tang. Untuk Ciatkang, ia kelihatannya tolol, akan tetapi
jongos melayani ia dengan ramah tamah. Diam2 Eng Jiauw
Ong perhatikan orang ini, maka itu ia dapat lihat

bagaimana dia geser cangkir yang jongos letaki depannya


sekali. Tehkoanpun di ditolak kepojok. Kedua cangkir
digeser demikian rupa, hingga bersama tehkoan, merupakan
bintang tiga, Didepan jendela, ada duduk satu tetamu lain,
umur kira2 empat puluh tahun, dandannya rapi, romannya
sebagai satu sasterawan, gerak2annya halus. Setelah si
orang Shoatang geser tehkoan dan cangkirnya, ia lantas
berbangkit dan menghampirkan, ketika ia memberi hormat,
kelihatan tangan kanannya diangkat sedikit.
Apakah lauwhia hendak sewa perahu? dia tanya.
Sahabat, aku datang dari sungai, kesungai aku hendak
pergi, jawab si orang Shoatang itu. Tapi apa disini ada
perahu yang bisa turuti angin dan air?
Turuti angin dan air? Ada, tuan! Satu kali kau naik
perahuku, kau tidak akan ingin naik lagi perahu lain orang!
Berapa banyak kawan tuan dan barang tuan juga?
Hanya tiga orang serta barang dua belas potong.
Perjalanan tiga hari lamanya berarti kira2 sertus dua
puluh lie, bukan?
Benar, sahabat, manggut si orang Shoatang. Silahkan
duduk!
Dan ia menolak satu cangkirnya, cangkir yang pertama.
Dua saudara Kam dan Hee houw Eng dengar
pembicaraan kedua orang itu, yang tidak ketahuan
junterungannya, mereka menduga dua orang itu ada orang2
kang ouw. Karena tidak mengarti, mereka nampaknya
heran. Eng Jiauw Ong lihat sikap nya tiga anak muda itu
yang bisa mendatangkan kecurigaan orang, segera ia ketok
meja dengan pe lahan, atas mana tiga pemuda itu tunduk
atau menengok kelain arah, sambil bicara. Tapi diam2

mereka terus perhatikan si orang Shoatang dan sasterawan


itu, yang sekarang sudah duduk berhadapan.
Coba kau perkenalkan dirimu! terdengar si sasterawan,
walaupun suaranyaada pelahan sekali.
Si orang Shoatang menyahuti nya dengan terlebih
pelahan iagi, hingga tak terdengar tegas apa yang ia bilang.
Hanya dikuping nya Eng Jiauw Ong, samar2 orang itu
menyebut bahwa ia baharu untuk pertama kali datang
kepusat umum, untuk mengunjungi suatu Hio cu.
Keduanya pun sebut2 Gan Tong San Utara dan Selatan.
Selagi bicara, si orang mirip sasterawan, yang ada
penduduk setempat, memasang mata kesekelilingnya,
kemudian mereka memesan barang santapan pada jongos.
Sehabisnya minum, Eng Jiauw Ong juga memesan
beberapa rupa barang makanan, ia dahar bersama tiga
kawannya. Habis dahar, ia lantas membayar, ia lalu ajak
tiga kawannya keluar. Dua saudara Kam agaknya ogah
ogahan, mereka masih ingin pasang mata.
Tanpa sangsi Eng Jiauw Ong pergi keluar.
Po cu, dua orang itu mencurigai, kata Hee houw Eng.
Apa tidak baik kita kuntit mereka?
Eng Jiauw Ong berpaling, apabila ia metidak, lihat
orang, yang sikapnya mencurigai, ia jawab pemuda she Hee
houw itu Mereka berdua adalah orang Hong Bwee Pang.
Mereka itu, siang menggunai tanda gerakan tangan, dan
malam mereka nyalakan hio, yaitu hio tin. Orang Shoatang
itu ada orang baru, dia tak tahu dimana adanya pusat
umum, dari itu, dia tanya si orang mirip sasterawan itu,
yang ada penduduk sini. Tadi mereka berkenalan dengan
gerakan cangkir teh. Kita justeru belum tahu dimana
adanya sarang mereka, inilah kebetulan, kita jadi boleh

kuntit mereka. Hanya kau bertiga lain kali jangan suka


unjuk perhatian yang mencolok mata, itu bisa membikin
bocor rahasia kita tanpa diinginkan. Hati2lah, disini ada
tersebar orang2nya musuh!
Mereka berbicara sambil berjalan, mereka sudah lantas
melalui separuh dari jalan umum yang panjang itu. Ketika
mereka menoleh, mereka lihat si orang Shoatang dan
kawannya masih belum muncul.
Eng Jiauw Ong hampirkan seorang tua umur enam atau
tujuh puluh tahun, yang jual buah2an ditepi jalan, orang
mana berkumis putih dan nampaknya jujur, ia terus
memberi hormat seraya tanya Sahabat, kami adalah orang
pelancongan, numpang tanya, untuk pergi ke Gan Tong
San apakah mesti pakai perahu? Dimana letaknya
pelabuhan disini? Berapa kira nya uang sewa perahunya?
Orang tua itu lekas berbangkit.
Tuan mau pergi ke Gan Tong san Selatan atau Utara?
ia tegasi. Gan Tong San Selatan ada jauh sekali, enam
atau tuyuh ratus lie dari sini. Gan Tong San Utara tidak
jauh, tetapi ada hampir seratus lie. Leluasa apabila
menggunakan perahu. Jikalau kita menyewa perahu dari
sini kita bisa pergikan dua2 Gan Tong San itu
Apa benar Hun cui kwan itu letaknya di Gan Tong San
Utara? Sebenarnya kami mau pergi ke Hun cui kwan
Agaknya tukang buah itu terheran, tetapi lekas ia
menyahuti, katanya Dari sini tuan menuyu ke Timur, kira
kira setengah lie akan sampai dipelabuhan, disana ada
banyak perahu sewaan, yang memuat barang dan rang. Itu
adalah pelabuhan Tong peng pa. Mengenai tukang2 perahu
asal tuan bisa mengira ngira tidak nanti tuan dapat
gangguan....

Apakah mereka kurang ajar ? Eng Jiauw Ong tanya.


Tidak semuaya. Tetapi mereka ___ satu dengan lain,
kalau per mereka bisa mengeroyok. Tuan sudah ada umur,
tak usah tuan layani mereka. Disana, perahu2 nelayan pun
suka menambat. Baik tuan sewa perahu sendiri jadi
merdeka. Sewaan perahu cuma dua renceng chie satu
harinya
Eng Jiauw Ong mengucap terima kasi, ia mengajak tiga
kawannya berlalu Mereka dapat kenyataan, makin dekat
kepelabuhan, keadaan diyadi tambah ramai, ada lebih
banyak orang dagang. Sepanahan jauhnya dari pasar sudah
lantas tertampak banyak layar serta tihangnya. Disini
mereka bertindak pelahan, merekapun tidak langsung
menuju kesungai hanya berjalan dulu. Dengan demikian
mereka justeru dapat tunggui dua orang tadi dirumah teh
ketika kedua orang itu mendatangi, mereka sembunyi,
kemudian mereka menguntit orang menuju kepelabuhan.
Sesampainya ditepi sungai, dua orang itu naik sebuah
perahu, agaknya mereka tidak bicara harga lagi, karena itu
Eng Jiauw Ong lekas menyusul. Ia melihat dua tukang
perahu sudah siap untuk berangkat, perahunya ada cukup
besar untuk muat lima atau enam penumpang.
Apakah ini ada perahu sewaan? tanya ia, dengan
sebelah kakinya segera injak papan yang menjadi jembatan
perahu. Kami ingin turut!
Awas! kata tukang perahu, yang berlidah Keng pak
dan tubuhnya besar, romannya bengis. Jangan sembarang
injak papan, nanti terbalik! Orang sudah tua tetapi masih
belum tahu urusan! Untuk sewa perahu, pergi cari perahu
lain, perahu kami sudah diborong!
Eng Jiauw Ong tidak perdulikan tegoran itu, ia justeru
raenginjak dengan kedua kakinya.

Omong manis sedikit, sahabat! kata ia. Kalau aku


kecemplung, aku nanti sesalkan umurku yang pendek, tak
usah kau kuatirkan aku! Jikalau muatan kau sedikit, kami
hendak turut untuk serintasan saja, kebetulan kau hendak
berangkat! Apakah kita tak dapat berempuk?
Ah, kau jangan menggerecoki aku! kata tukang
perahu, yang kasar sikapnya itu. Aku sudah kasi tahu,
perahuku ini diborong! Jikalau kau menengil, nanti aku
ceburkan kau kesungai!
Eng Jiauw Ong tidak senang.
Tukang perahu, kenapa kau begini galak? ia tegur.
Kau memangnya punya kekuasaan apa disini?
Tukang perahu itu masih hendak melawan tetapi salah
seorang penumpangnya muncul.
Sabar, kata ia. Tuan, apa kau tak dapat cari lain
perahu?
Apakah kau pemilik perahu ini? Eng Jiauw Ong tanya.
Pegawairnu ini tidak pandai bicara, aku hendak ajar adat
padanya!
Tuan, seorang besar tak melayani orang kecil, kata
orang ini. Dengan sebenarnya perahu ini sudah diborong.
Tuan lihat, disana ada banyak perahu lang lainnya, baik
tuan sewa lain perahu saja
Hm Baik, aku mengampuni padanya! kata Eng Jiauw
Ong, yang lantas loncat kedarat.
Hee houw Eng bertiga mendongkol, mereka ingin hajar
tukang perahu itu, tapi karena ada Eng Jiauw Ong, mereka
terpaksa sabarkan diri, cuma mereka mendelik mengawas si
tukang perahu itu.

Po cu, binatang itu kurang ajar, apakah tak boleh kita


ajar adat padanya? tanya Kam Tiong selagi mereka
bertindak pergi.
Eng Jiauw Ong tidak menyahuti, ia hanya berjalan terus.
Tidak jauh dari situ, didarat ada beberapa tukang perahu,
dua tiga orang diantaranya lantas menghampiri.
Apa tuan hendak sewa perahu? tanya yang satu.
Pakailah perahu kami, perahunya bersih, kamipun bisa
segera berangkat
Aku tidak mau sewa perahu, aku sedang mencari
orang sahut Eng Jiauw Ong sambil goyangkan tangan, ia
jalan terus seraya ajak tiga kawannya.
Mereka jalan terus ditepi, sampai digubuknya satu
tukang arak, disini mereka mutar kebelakang gubuk, hingga
mereka dapat mengintai perahu tadi sedang mulai
berangkat.
Disebelah Utara ada belasan perahu nelayan, yang kecil
dan enteng, yang lajunya mesti pesat. Eng Jiauw Ong pikir
akan sewa sebuah perahu untuk kuntit perahu tadi, yang ia
percaya akan menuju kesarang Hong Bwee Pang. Ketika ia
nampak perahu tadi sudah mulai keluar dari mulut
pelabuhan, ia hampirkan sebuah perahu nelayan. Ia tanya,
apa perahu itu disewakan.
Ya, tuan, sahut tukang perahu. Apa tuan cuma
berempat?
Benar.
Tapi perahu kami adalah perahu nelayan, kami tak
dapat pergi jauh.
Kami pun hendak pakai cuma seharian saja, jawab
Eng Jiauw Ong. Kami memang mencari perahu yang laju.

Asal kau menggayu lebih cepat dari biasanya, kami akan


membayar padamu dua kali lipat. Kami mau ke Gan Tong
San Utara. Umpama kau kemalaman ditengah jalan,
terpaksa kami mesti menginap diperahumu ini. Perkara
persenan, kau jangan takut.
Nelayan itu akur, maka bersama seorang kawannya ia
lantas siap.
Kita perlu lekas, po cu, nanti bisa ketinggalan, Kam
Tiong membisiki Eng Jiauw Ong. Ia lihat perahu didepan
sudah meninggalkan pelabuhan.
Jangan kuatir, sahut ketua Hoay Yang Pay. Perahu
mereka besar dan berat, kita akan dapat candak padanya.
Mari kita naik.
Ketika itu tukang perahu tanya apa boleh lantas
berangkat.
Eng Jiauw Ong membenarkan
Aliran air disini begini rupa, apa kau bisa pakai layar?
Tuan tentu kurang mengerti tentang
perlayaran.
Jangan takut walaupun angin tak lurus dijurusannya, kami
dapat ja menyamping. Kita berduapun masih kuat
menggayuh, tidak kalah cepatnya dengan layar.
Baiklah kau boleh mulai berangkat !
Berdua tukang perahu lantas angkat jangkar, mereka
segera ___ menggayu akan keluar dari mulut pelabuhan.
Disini sungai lebih lebar, maka layar segera dipasang.
Angin meniup ke Tenggara, dan tujuan perahu adalah Barat
daya. Sebenarnya angin tidak lurus tetapi kedua tukang
perahu itu benar pandai.

Eng Jiauw Ong puas melihat anak buah itu, yang saban2
bikin perahunya melombai yang lain2 atau mengelak dari
tabrakan.
Jarak perahunya dan perahu didepan ada kira2 dua
panahan, karena masih terdapat beberapa tikungan, Eng
Jiauw Ong pasang mata. Ia percaya, asal orang menuju ke
Gan Tong San, ia akan berhasil menguntit. Perahu didepan
itupun tidak laju pesat.
Kam Tiong dan Kauw Hauw hendak pergi kekepala
perahu, tetapi Eng Jiauw Ong melarang mereka. Ia kuatir
orang curigai mereka. Karena itu, dua saudara ini hanya
mengintai dari muka perahu.
Eng Jiauw Ong merasa senang dengan pemandangan
alam disepanjang sungai.
Sesudah melalui kira2 empat puluh lie, hari sudah kira
jam lima lewat lohor. Disebelah depan ada pelabuhan,
disana banyak perahu berlabuh. Karena anggap boleh tak
usah jalan malam, kedua tukang perahu hendak singgah,
mereka menurunkan layar.
Eh, siapa suruh kau berhenti? tanya Eng Jiauw Ong.
Lihat itu perahu besar didepan yang jalan terus, mari kita
ikuti dia. Kami ada urusan dengan perahu itu, yang perlu
dibereskan. Kalau kau tidak bisa menyandak, uang sewanya
nanti aku kurangi!
Oh, kau salah mengarti, tuan, sahut tukang perahu
sambil tertawa. Kami tidak tahu urusan tuan. Kami pikir
akan berlabuh, agar kita tak kemalaman ditengah jalan.
Memang sulit untuk berlabuh bukan dipelabuhan. Bagi
kami berdua, ber hari2 boleh diam terus diatas perahu, tapi
bagaimana dengan tuan2? -Apakah tuan hendak kejar
perahu didepan itu?

Ah, sebenarnya bukan urusan terlalu penting, Eng


Jiauw Ong membaliki. Sebenarnya tadi kami hendak sewa
perahu itu, rupanya sebab kami ada seorang asing, kami
hendak diketok. Kami biasa pelesir di Cin Hoay Hoo, tapi
sewaannya tak semahal yang dimintanya. Aku tidak puas,
dari itu, aku pilih perahumu ini untuk melumbai padanya!
Tukang perahu itu agak ragu2.
Kami pasti dapat menyusul perahu itu, tuan, kata ia.
Tapi aku harap tuan sabar. Masih syukur tuan ketemu
mereka yang minta sewaan tinggi, kalau tuan naik perahu
yang anak buahnya nakal, tuan bisa diganggu ditengah
jalan. Harap tuan jangan ladeni segala tukang perahu.
Aku perhatikan apa katamu, tapi tolonglah kau susul
dia! jawab Eng Jiauw Ong.
Tukang perahu itu menyahuti Ya, ia jalankan terus
perahu nya, tapi sekarang ia mau percaya, penumpangnya
ini ada dari kalangan polisi.
Lagi tujuh lie sudah dilalui. Selewatnya pelabuhan tadi,
kendaraan air sudah jarang sekali.
Perahu didepan jalan terus, selagi mendekati satu
tikungan, dari situ muncul sebuah perahu cepat, yang cuma
bisa muat satu orang, kecuali anak buahnya. Perahu kecil
ini menyusul perahu didepan, sesudah itu, dia kembali
ketikungan tadi, terus lenyap.
Matahari sudah turun, tapi sinarnya yang merah masih
ber bayang dan memain dipermukaan air. Kecuali suara
angin, yang keras juga, suasana sungai sangat sunyi.
Selang lagi satu lie, lantas cuaca menjadi gelap. Disitu
tinggal dua perahu, yang besar didepan, yang kecil
dibelakang, keduanya laju cepat. Jarak mereka ada

sepanahan jauhnya. Diperahu kecil, Hee houw Eng dan


kawan2nya muncul dimuka perahu.
Po cu, kata Hee houw Eng kemudian, disini tidak ada
kendaraan air lain, aku percaya mereka itu curigai kita.
Karena mereka mestinya licin, kita mesti waspada untuk
kecurangannya.
Eng Jiauw Ong bersenyum tawar.
Jikalau aku takut, tak nanti aku kuntit padanya! dia
menjawab.
Sementara itu, permukaan sungai kelihatan jadi lebih
besar. Untuk jalan malam, tanda ancaman bahaya ada lebih
banyak.
Eng Jiauw Ong sedang mengawasi kesekitarnya, ketika
tahu2 dari ilir mendatangi sebuah perahu layar besar, sama
seperti yang didepan. Kendaraan itu muncul dengan se
konyong2 dijarak dua puluh tumbak lebih. Nyatalah,
walaupun menempuh air, perahu itu laju pesat.
Sudah malam begini masih ada perahu lain, inilah
aneh, po cu, kata Hee houw Eng, yang terlebih
berpengalaman daripada dua saudara Kam.
Sementara itu perahu
beberapa kali suara suitan.

didepan

memperdengarkan

Selagi Eng Jiauw Ong mengawasi perahu dibelakang


yang mendatangi semakin dekat, ia terperanjat. Nyatalah
perahu itu diarahkan keperahunya.
Dilain pihak, perahu didepan pula ke susul semakin
dekat.
Hei, awas! teriak tukang perahu, yang melihat
ancaman bahaya. Apakah kau buta, tidak melihat
perahuku?

Tukang perahu ini kuatir sebab perahunya ditabrak, ia


jadi gusar.
Jagan kau perdulikan dia! Eng Jiauw Ong kata pada
tukang perahunya.
Tetapi, tuan, sahut tukang perahu itu, dengan mata
melotot, Keluarga kami beberapa jiwa hanya mengandal
pada perahuku ini. Kalau perahuku ditubruk, berarti
hancurlah mangkuk nasi kami!
Tapi kitapun tidak boleh pertaruhkan jiwa kita! Eng
Jiauw menjawab.
Mendengar demikian, hatinya tukang perahu itu dua2nya- lega juga. Akan tetapi, meskipun demikian,
mereka masih tegasi k endaran air dibelakang itu supaya
mengubah haluan untuk mencegah tubrukan.
Kam Tiong, Kam Hauw dan Hee houw Eng pun
bingung, mereka tahu ketua Hoay Yang Pay pandai
berenang, akan tetapi apabila tabrakan terjadi ditengah
sungai yang lebar itu, makan ikanlah yang bakal berpesta
pora.
Eng Jiauw Ong sendiri, dengan tenang mengawasi
datang nya perahu dibelakang itu, yang tak gubris segala
teriakan untuk mengubah haluan. Tiba2 ia singkap
thungshanya, sebelah tangannya merabah kedalam saku,
kemudian ia maju setindak ke kepala perahu, sesudah
mana, tangan kanannya terayun beberapa kali, disusul oleh
suara angin yang halus.
Baharu dua kali ketua Ceng hong po geraki tangannya,
diperahu sana sudah lantas terdengar jeritan dari kesakitan,
disusul dengan tergulingnya satu tubuh, yang tercebur
dalam air.

Selagi begitu, perahu besar itu sudah datang demikian


dekatnya, hingga tubrukan tinggal tunggu detik2 terakhir
saja.
Dalam keadaan sebagai itu, Eng Jiauw Ong samber
sebatang galah kejen (?) dari tangannya tukang perahu,
sambil berbuat demikian, ia teriaki pengemudi perahu
Belokkanlan perahu kekiri! Jangan takut, tenang saja!
Kemudian, cepat luar biasa ia menggunahkan galahnya,
akan menolak perahu dibelakang itu tolakan itu
menyebabkan perahu berubah haluannya kekanan, hingga
tabrakan dapat dihindarkan.
Dengan matanya yang celi, Eng Jiauw Ong melihat dua
orang diatas perahu itu. Mereka berdua nampaknya gugup
atau tercengang.
Mereka jahat sekali, po cu, baik kita bereskan mereka !
kata Kam Tiong, yang gusar sekali.
Cukup mereka dikasih rasa kim chie piauw! sahutnya
Eng Jiauw Ong. Bukannya kebiasaan kita untuk
membasmi sebangsa mereka ini
Benar saja, setelah minggir perahu itu tak mutar balik,
akan mencoba menabrak pula.
Hee houw Eng bertiga kagum menyaksikan
ketangkasannya ketua mereka, tapi mereka tak setuju
dengan kemurahan hatinya ketua ini. Mereka kuatir, musuh
nanti tak mau berhenti. Maka diam2 mereka pasang mata.
Kedua tukang perahu, yang hatinya lega bukan main,
pun sangat kagum. Maka dengan tenang mereka jalankan
terus perahunya.
Lagi tiga empat lie, sang puteri malam muncul dilangit
yang luas. Bintang2pun mulai berkelak kelik, bulan sisir
cahayanya masih suram.

Perahu didepan terlihat menuju kesuatu tikungan.


Kejar! Eng Jiauw Ong menitah. Jangan kasih dia
lolos!
Jangan kuatir, tuan, dia tak akan lolos! sahut tukang
perahu, yang sekarang nampak nya siap akan mendengar
sesuatu perintah, rupanya ia percaya betul penumpangnya
ini adalah orang2 yang sedang bertugas.
Perahu didepan itu kelihatan jalan lebih pelahan.
Selagi Eng Jiauw Ong semua pasang mata, tiba tiba
muncul sebuah perahu lain, yang tahu dengan cepat melalui
perahu mereka sendiri. Dalam perahu itu tak dapat dilihat
penu pangnya, melainkan selagi lewat, ada terdengar suara
tertawa dingin yang pelahan. Ketua Hoay Yang Pay
menjadi curiga, tapi ia tidak beraksi.
Perahu didepan sekarang kelihatan menurunkan layar,
agaknya mau berlabuh.
Mungkin si penjahat hendak mendarat dan lari, Kam
Tiong membisiki Eng Jiauw Ong.
Tidak mungkin, sahut Engi Jiauw Ong sambil goyang
kepala. Disini kemana mereka hendak lari? Lagipun kita
bukan hendak tempur mereka, buat apa mereka
menyingkir? Bisa jadi mereka sudah lolos duluan....
Kam Tiong bertiga tidak percaya yang orang sudah
mendahului menyingkir.
Pelahan saja tapi jangan berhenti. Eng Jiauw Ong
perintahkan tukang perahu. Kita cuma hendak lewat
disamping nya.
Waktu itu perahu didepan sudah menempel ditepi,
hamipr berbareng penerangan menyala di kepala perahu,
ditengah dan belalakang, menyusul mana terdengar

suaranya satu orang Eh, Lauw Sam, kau lihat tidak,


malam ini kita diikuti segala setan mati kelaparan dan setan
mati kelelap! Biar bagaimana, mereka tak dapat diusir pergi!
Baik kita beristirahat disini saja untuk kita membeli kertas
dan gincu serta membakarnya sekali, supaya semua iblis itu
suka mabur.
Eng Jiauw Ong tahu pembicaraan itu ditujukan
kepadanya ia tidak ambil pusing, hanya yang menarik
perhatiannya, di dalam perahu itu sudah tak ada kedua
penumpangnya!
Oh, tikus2 itu! kata dia dengan sengit. Benar2 mereka
kabur dengan menggunakan tipu ____ emas meloloskan
kulit. Tapi tak nanti mereka dapat lolos terus menerus!
XLI
Lihat, benar atau tidaknya dugaanku ! jago Hoay
Yang Pay itu kemudian kata pada dua saudara Kam dan
Hee houw Eng. Mereka telah mengancam kita, mereka
mengganggu, lantas mereka angkat kaki. Tapi aku sangsi
lihat mereka! Sekarang kita putar perahu, kita susul perahu
kecil tadi!
Yalah yang dimaksudkan perahu yang tadi muncul
dengan tiba2, yang telah mendekati perahu besar di depan
kemudian sudah lantas berlalu pula.
Tukang perahu bingung akan perintah itu.
Bagaimana tuan? tanya ia. Bisa bolak balik tak
ke____ Juga - harap tuan tidak gusar- kelakuan kita ini
malah tak selayaknya. Disini memang ada merdeka, dari
itu, tak dapat mereka diperlakukan sembarangan. Kami
hanyalah nelayan kecil, kami tak berani mengganggu

tambangan, mereka tak dapat dibuat permainan, sedang


kami masih ingin hidup dimuka mereka.
Budak, jangan kau banyak omong ! Eng Jiauw Ong
memotong. Kau turuti perkataanku. Apabila ada teryadi
sesuatu, selain uang sewanya aku tambah,
segala
kerugianmu akan kuganti! Sekarang kau tidak berkuasa lagi,
jangan menggagalkan tugas kami, atau kau nanti tahu
sendiri
Tukang perahu itu bungkam, lantas saja mereka putar
kemudi, akan menyusul perahu cepat tadi.
Bisa jadi penjahat sudah kenali po cu dan mereka
sengaja lari balik, Kam Hau menyatakan dugaannya.
Kau barangkali benar, Eng Jiauw Ong jawab. Aku
percaya mereka tidak sudi menyerah kalah, mungkin
mereka atur lain daya. Karena kita hendak cari sarang
mereka, biar kita layani terus mereka itu.
Bertiga mereka masuk akan beristirahat, Hee houw Eng
duduk dimuka perahu. Tapi tidak lama Tee lie touw telah
memanggil .
Lihat disana! kata ia, setelah mereka berada diluar dan
mengawasi ke ilir, dari mana terlihat tiga buah perahu maju
menempuh air, dan angin membantu padanya.
Waspada, Eng Jiauw Ong memesan, seraya ia
mengawasi terus.
Selagi mendekati, tiga buah perahu itu kelihatan maju
berbaris tiga satu ditengah, dua dikiri dan kanan. Yang
ditengah terbelakang kira2 dua tumbak, jarak mereka
bertiga pun terpisah kira2 sama jauhnya.
Mereka kejam sekali! tiba2 Eng Jiauw Ong kata
dengan sengit. Jikalau aku biarkan kawanan tikus itu

berhasil percuma aku dijuluki Hoay siang Tay Hiap! Jago dari sungai Hoay.
-ooo0dw0oooJilid 5
Tukang perahu didepanpun kaget.
Hei, awas ! ia teriakkan tiga perahu yang sedang
mendatang itu. Tak dapat aku tahan perahuku ini! Eh, eh,
kenapa kau tak mampu pegang kemudi?
Sia sia tukang perahu ini ber kaok2, tiga perahu didepan
laju terus, mendekati.
Mau atau tidak, tukang perahu ini coba menggayuh
kekanan, tapi apa mau, perahu didepan pun bergerak kekiri
untuk menghadapi terus. Jadi teranglah, tiga perahu itu
hendak menabrak perahu nelayan ini.
Celaka tuan, mereka hendak tubruk kita! tukang
perahu itu mengeluh pada Eng Jiauw Ong. Kita bakal
ditubruk dan dicegat, kita tidak bisa meluputkan diri
Perahu kita kecil, kita bakal hancur....
Bahna ketakutan, pucatlah muka nya kedua tukang
perahu itu.
Tapi Hoay siang Tay Hiap tertawa ter gelak2.
Teranglah sudah kau kurang pengalaman! kata ia pada
kedua tukang perahu itu. Siapa ditakdirkan mati dikali, dia
mesti kelelap! Nasib ada ditangan Thian, buat apa kau
bingung? Kalau benar mereka niat hancurkan perahu kita,
belum tentu niat mereka tercapai!
Tukang perahu itu berdiam, tapi mereka sudah pikir,
kalau tubrukan terjadi, mereka akan tolong diri sendiri saja.

Eng Jiauw Ong maju kedepan sekali, akan melihat


letaknya ketiga perahu itu.
Siapa diantara kau yang bawa senjata rahasia? ia tanya
Kam Tiong dan Kam Kauw yang mengapit ia.
Kami sedia sam leng piaw dan panah tangan, sahut
Kam Tiong.
Mari kasi piauw berikut kantongnya padaku, Eng Jiaw
Ong minta.
Kam Tiong berikan piauwnya, itu kepada ketuanya,
yang lantas digantung dipinggangnya sebelah kiri.
Tukang perahu, tetap tenang! Jangan takut, kemudian
Eng Jiauw Ong menghiburkan anak buahnya Ada aku
disini, aku tanggung keselamatanmu berdua !
Kedua tukang perahu berdiam, mereka tidak mengarti
dan bingung. Tapi mereka lantas turunkan layar, Eng Jiauw
Ong mengawasi kedepan, kepada ketiga perahu yang tetap
mendatangi dengan cepat. Lalu dengan tiba2 ia ber lompat
kedepan. dalam gerakan Ceng teng sam ciauw soei atau
Capung menyamber air dan lompatan Yan coe hoei in
ciong atau Burung walet terbang keawan. Dapat
dikatakan sekejab saja ia sudah loncat naik keperahu yang
dikanan di mana ia mencelat ketihang layar, yang ia cekal
dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya membetot
putus tambang layar, hingga dengan jatuhnya layar itu,
lajunya perahu itupun jadi terhalang.
Beberapa anak buah perahu itu jadi kaget, hingga mereka
berteriak.
Eng Jiauw Ong masih tetap berdiam diatas tihang layar
itu, untuk melihat kedua perahu lain dan perahunya sendiri.
Ia dapat kenyataan, karena berisiknya anak2 perahhu itu,
disitu tidak ada yang jadi pemimpin. Ia lantas mengawasi

perahu satunya yang menyusul itu. Lalu ia menyerang


dengan sebatang piauw.
Jitu serangan itu, tambang layar kena telak dan putus
dengan segera, maka layarnyapun jatuh hingga perahu itu
jadi terhalang lajunya.
Segera Eng Jiauw Ong kasi dengar suara nyaring kepada
perahunya Lepas jangkar!
Kam Tiong bertiga dengar seruan itu, Hee houw Eng
lantas dului tukang perahu akan menjemput jangkar, untuk
dilempar kemuka air, hingga dengan begitu, juga perahu ini
lajunya jadi pelahan2.
Hee houw Eng dan kawan2nya bingung bukan main,
baharu sekarang mereka saksikan kepandaian yang luar
biasa dari ketua Ceng hong po.
Pihak sana sekarang tinggal perahu yang ketiga, yang
ditengah yang tadi laju belakangan, perahu itu dapat susul
dua kawannya yang terhalang, dengan begitu, dia jadi
datang dekat. Juateru itu, turun dari tihang layar Eng Jiauw
Ong gunai kepandaiannya entengi tubuh akan loncat
keperahu ketiga ini, untuk loncat naik dikepalanya perahu.
Menyusul menaiknya ketua Hoay Pang Pay keatas
perahu ketiga itu, dari dalam perahu loncat keluar satu
orang, tetapi dia bukannya menghampirkan musuh, dia
hanya terus terjun keair.
Dalam sekelebatan, Eng Jiauw Ong masih bisa lihat rupa
orang, ia seperti ingat pernah lihat orang itu, hanya ia lupa
entah dimana. Iapun tidak sempat bepikir. Dari dalam
perahu, kembali keluar dua orang, yang satu berusia lebih
kurang tiga puluh tahun, yang lain kira2 dua puluh tahun.
Pakaian mereka ini ringkas dan tangan mereka bersenjata,
Orang tua, kau ada sahabat dari mana? demikian yang

satu menegur. Kenapa kau bikin jatuh layar kami? Apakah


kau ada orang baharu, yang ingin berusaha didaerah ini?
Eng Jiauw Ong tertawa dingin.
Sahabat, jangan kau bersandiwara terhadap Ong Too
Liong! sahut ia dengan keren. Apa yang kau kerjakan,
itulah yang aku perbuat juga. Kalau benar sahabat kaum
kang ouw, walaupun sampai diujung langit, dia harus
perlihatkan mukanya. Kau harus ketahui, aku sedang
memenuhi undangan Hong Bwee Pang, maka kenapa aku
dirintangi ditengah jalan? Ini adalah perbuatan tidak manis!
Aku ingin sekali ketahui namamu, to coe?
Orang yang usia pertengahan menjawab Masing2 orang
toh urus jalannya sendiri! Diwaktu malam mengendarai
perahu, orang harus andalkan kepandaiannya sendiri.
Perahu masih belum bertabrakan, kau sudah hunjukkan
kepandaianmu, kau menghina kami orang2 dagang yang
jujur! Sahabat, kau tidak hendak undurkan diri, kau hendak
tunggu apa?....
Orang ini belum tutup mulut nya atau si anak muda
dului ia berlompat maju sambi berseru Turunlah kau!
Dan tangannya sampai, menyusul tubuhnya. Dia telah
menyerang dengan kedua tangan, dengan tipu pukulan
Hek houw sin yam! atau Harimau hitam mengulet
Gesit dan hebat adalah serangan itu .
Bagus! berseru Eng Jiauw Ong, yang tertawa
menghina. Ia tidak berkelit, hanya ia tunggu sampai kedua
tangan hampir mengenai tubuhnya, ia segera geraki kedua
tangannya dalam gerakan To hoan kim kauw cian atau
Membaliki gunting emas. Dengan tangannya itu ia tekan
kedua tangan musuh, lalu dengan dua jari telunjuk dan
tengah ia barengi mencari jalan darah sam lie hiat. Ia
berhasil, karena si anak muda tidak keburu tolong diri,

maka tidak tempo lagi pemuda itu berdiri diam dengan


kedua tangannya dikasi turun.
Oh, kau berani lukai orang? membentak orang yang
satunya, yang lantas lompat kesamping sambil menerjang.
Melihat ia diserang, Eng Jiauw Ong bikin dua gerakan
dengan berbareng, dengan tangan kanan ia tolak rubuh
tubuhnya si anak muda, dengan tangan kiri ia menangkis,
ujung jarinya dipakai mencari jalan darah leng tay hiat dari
musuh.
Penyerang itu mengerti ancaman bahaya hebat, lekas ia
tarik pulang tangannya sambil tubuhnya pun ditarik pulang,
lalu dengan satu kali jumpalitan, ia nyebur keair. Ini ada
jalan satu2nya untuk luputkan diri dari bahaya. Ia selulup
sebentar, lantas ia timbul dimuka air sambil menantang.
Sahabat, jikalau kau ada punya kepandaian, mari main2
diair dengan to coemu! Marilah turun untuk beradem!
Baik kau rasai ini dahulu! ada jawabannya Eng Jiauw
Ong seraya tangannya diayun.
Orang Hong Bwee Pang itu selam, untuk tidak muncul
pula.
Eng Jiauw Ong tidak mau berdiam lama diperahu
musuh, ia angkat tubuh si anak muda, yang ia kempit,
sesudah mana, ia lantas loncat keperahunya sendiri, yang
sudah datang dekat kepada nya.
Kedua perahu penjahat sudah lantas kembali, yang satu
terhanyut sendirinya, karena tidak ada yang kemudikan,
yang dua, digayu cepat, rupanya untuk pulang.
Lekas angkat jangkar, pasang layar! Kita mesti
lanjutkan perjaianan kita! begitu ada titahnya Eng Jiauw
Ong sesampainya ia diperahunya sendiri.

Kedua tukang perahu, yang kagum untuk keliehayannya


Eng Jiauw Ong jadi tunduk benar, tanpa banyak omong
mereka kerek layar untuk berangkat pula.
Kam Tiong dan Kam Hauw telah sambuti orang
tawanan mereka, untuk dibelenggu.
Bagaimana sekarang? kemudian mereka tanya.
Letaki dia dikepala perahu, menitah Eng Jiauw Ong.
Didalam Hong Bwee Pang, dia tentu tidak punya arti.
Sebentar di waktu kita berlabuh, dia boleh dipakai
sembahyangi Hay Liong Ong!
Anak muda itu, yang sadar gusar sekali karena dia
dianggap orang tak berarti.
Pit hoe picak! ia berseru.Kau anggap aku Heng kang
Hong Coei Loen orang macam apa? Yang harus disesalkan
adalah to coemu ini sudah memandang terlalu enteng
hingga dalam segebrak saja dia kena dirubuhkan! Sekarang
terserah padamu, aku hendak dibinasakan atau
bagaimana!
Eng Jiauw Ong puas mengetahui orang ini ada satu
pemimpin sedang tadinya ia sangka dia anggauta biasa saja.
Iapun dapat harapan.
Oh sahabat, kiranya kau ada satu to
Sekarang baiklah kau insaf, mati atau
bergantung pada kawan2mu sendiri! Syukur
tidak ganggu pula kami apabila sebaliknya,
akan bunuh kau!

coe! kata ia.


hidupmu ada
jikalau mereka
terpaksa kami

Eng Jiauw Ong perintah dua saudara Kam menjagai,


terutama untuk jaga orang she Coei ini yang punyakan
gelaran Naga Melintangi Sungai ( Heng __ liong), nanti
terjun keair.

Selama itu, perahu mereka laju dengan pesat. Sekali ini,


mereka tak dapat halangan suatu apa dan merekapun tidak
ketemukan lain2 kendaraan air lagi. Tiga perahu dibelakang
telah ketinggalan jauh, nampaknya sebuah titik hitam saja.
Disebelah depan ada sebuah selat yang dikiri kanannya
lebat dengan pohon gelaga. Menampak tempat demikian,
Eng Jiauw Ong pesan tiga kawannya untuk waspada.
Tidak antara lama, dari depan kelihatan dua buah
perahu, yang layarnya tidak dipasang. Kelihatan masing2
perahu mempunyai enam anak buah, yang terbagi dikiri
dan kanan dengan masing2 penggayunya. Kedua perahu itu
laju pesat, jalannya berendeng. Inilah hebat untuk
perahunya Eng Jiauw Ong. Ditempat demikian sempit, sulit
untuk tiga buah perahu lewat berbareng, tidak ada tempat
untuk yang satu mengalah dan minggir.
Selagi kedua pihak mendatangi semakin dekat satu
kepada lain, sedangnya kedua anak perahunya Eng Jiauw
Ong pikir kearah mana mereka harus mengalah, tiba2 dari
darat terdengar suitan dua kali beruntun.
Turunkan jangkar! Eng Jiauw Ong perintahkan
dengan mendadak, karena mana, perahunya pun jadi
berhenti dengan tiba2.
Segera dari tepian sebelah Timur, diantara gombolan
gelaga, muncul dua orang dengan pakaian malam, dengan
berlompat mereka ini naik keperahu didepan, kemudian
yang berdiri disebelah kiri, perdengarkan suara nya Kau
jangan pikir untuk maju lebih jauh! Disini kami bikin
perhitungan!
Menyusul itu, terdengar suara mencebur be runtun2,
seperti dua tiga orang terjun keair.

Sahabat, apa maksudmu dengan mencegat kami? Eng


Jiauw Ong menegur. Sahabat, disini aku si orang she Ong,
berilah pengajaran kepadaku!
Sahabat, kau terlalu jumawa! kata pula orang yang
didepan.
Kau telah andalkan kepandaian mu, kau telah rusaki
perahu dan tawan juga orangku! Sekarang merdekakanlah
orang itu, lantas kau akan hidup untuk beberapa waktu lagi,
jikalau tidak, jangan menyesal!
Aku Ong Too Liong datang untuk menemui orang2
gagah yang ada mukanya, maka kenapa kau, bangsa boe
beng siauw coet, berani banyak laga? Cuma2 kau sebaliknya
cari celaka sendiri!
Baharu Eng Jiauw Ong tutup mulutnya, lalu terdengar
suara air dikiri dan kanan perahunya, dimana timbul
masing satu orang tangan siapa lantas pegangi pinggiran
perahu, keduanya segera menantang. Tua bangka, jangan
bertingkah! Jikalau kau benar punyakan kepandaian, mari
turun akan main dengan kami! Disini adem!
Nyatalah benar dugaanku, pikir Ong Too Liong, yang
lantas membentak Kawanan tikus, karena pandai
berenang, kau berani menghina aku si orang tua! Hayo,
jikalau kau tidak mundur, jangan katakan aku tidak pakai
aturan!
Selagi ketuanya bicara, Kam Tiong dan Kam Hauw
berseru seraya masing2 menyerang dengan piauw dan
panah tangan mereka, atas mana, kedua orang didalam air
itu selam dengan cepat, kemudian mereka timbul pula,
ditempat enam kaki jauh nya.
Oh, boca, kau gunai senjata rahasia! mereka itu
menegor. Jikalau kami tidak berdaya akan bikin kau

tenggak sedikit air, kecewa kami telah tancap kaki


dikalangan kang ouw!
Keluarkanlah kepandaianrnu jikalau kau mampu! Eng
Jiauw Ong sambut tantangan itu. Ia membungkuk akan
angkat tubuh orang tawanannya, kemudian ia kata pula
pada dua orang itu Kawanan tikus, aku sudah ketahui akal
busukmu sekalian! Bukankah kau hendak rusaki dan
terbaliki perahuku? Asal kau berani rabah perahuku, lebih
dahulu aku nanti bikin habis jiwanya Coei To coemu ini!
Aku nanti tukar jiwanya dengan perahuku, jangan katakan
aku kejam!
Ancaman ini mempan, dua orang itu nampaknya
bersangsi.
Juga dua orang, yang berada diatas perahu, sudah lantas
berdamai satu dengan lain. Mereka dapat kecocokan akan
kurbankan Coei Loen. Heng kang liong dianggap ada
anggauta baru, sebenarnya dia belum berhak untuk menjadi
to coe, tetapi karena ada andalan didalam Pusat Umum,
Congto, ia diangkat jadi soen kang to coe bahagian Barat.
Memang biasanya dia kepala besar, hingga dia tak disukai
oleh sesama kawannya. Kedua orang diperahu itu hendak
gunai ketika ini akan lampiaskan dendaman mereka.
Mereka sudah lantas amibil putusan, setelah mana, yanyi
satu lantas serukan Para pundak rata, turun tangan! Coei
To coe ada enghiong kita, untuk dia kematian tak ada
harganya! Kita terbaliki perahu mereka itu, urusan
dibelakang! Kemudian ia tambahkan pada lain kawannya.
Siapa bisa berenang, semua mesti menyebur kesungai !
Atas ini, lima orang lantas loncat keair saling susul,
hingga air sungai muncrat dan perdengarkan suara nyaring
dan berisik.

Lekas bantui tukang perahu pinggirkan perahu kita!


Eng Jiauw Ong titahkan Kam Tiong dan Kam Hauw. Ia
lihat musuh sudah jadi nekat. Iapun beritahukan tukang
perahu untuk jangan berkuatir, dia akan ganti harga perahu
kalau sampai perahu itu karam dan hancur.
Celaka, mereka sudah bor perahu, mendadak tukang
perahu menjerit.
Eng Jiauw Ong sebaliknya malah tertawa besar.
Kawanan kurcaci ini sangat menghina aku! ia berseru.
Terus ia angkat tinggi tubuhnya Coei Loen pada siapa ia
kata Sahabat aku Ong Too Liong tidak mau bunuh kau,
tetapi kawan2mu itu tidak perdulikan kau mati atau hidup,
maka aku tidak bisa berbuat lain, tak dapat aku kasi kau
lolos lagi....
Adalah niatnya Eng Jiauw Ong akan banting musuh itu
di muka perahu, tetapi selagi ia hendak ayun tangannya,
dari hilir muncul sebuah perahu yang lajunya cepat
bagaikan ikan berenang, setelah datang dekat, dari perahu
ada seruan Orang Hoay Yang Pay tahan! Mari kita bicara
!
Suara itu disusul dengan loncatnya satu orang dari
perahu ___ itu, pindah keperahu yang ___ ke atas gubuk,
sambil dia terus berkata dengan nyaring,
Atas titahnya Pang coe, Soen kang to coe bahagian
Barat diharuskan membiarkan Ceng hong po Po coe, ketua
dari Hoay Yang Pay, datang untuk memenuhi undangan!
Semua pusat bay hok dilarang mencegat dan mengganggu,
siapa melanggar perintah dia akan dihukum!
Dua orang diatas perahu lantas menjura pada orang yang
baharu datang ini, sikapnya sangat menghormat.

Eng Jiauw Ong yang dapat dengar itu, ia batal


membanting Coei Loen, tubuh siapa ia turunkan pula.
Semua anggota Hong Bwee Pang, yang berada diair,
sudah lantas dikasi tanda dengan suitan, untuk
menghentikan aksi mereka, sedang kedua anak buahnya
Eng Jiauw Ong lantas cepat menambal perahunya.
Eng Jiauw Ong dengan sikap yang keren, mengawasi ke
arah musuh.
Orang yang baharu datang itu loncat turun dari gubuk
perahu ia hadapi ketua Ceng hong pay seraya rangkap
kedua tangan memberi hormat, terus berkata Hoaysiang
Ceng hong Po coe, aku yang rendah Giok Lan Sian Wan
Tam Eng Sioe. Atas titahnya Pang coe aku datang
menyambut. Silahkan Po Coe lekas berkunjung kepusat
kami, disana Pang coe kami sudah lama menantikan! Disini
ada sehelai karcis nama, silahkan Po coe tengok!
Selagi mengucap demikian , Tam Eng Sioe si Monyet
Muka Kumala, mundur setindak, lalu ia enjot tubuhnya
akan loncat mencelat kekepala perahunya ketua dari Hoay
Yang Pay.
Eng Jiauw Ong tidak undurkan diri, ia malah bersikap
hendak menyambuti karcis nama itu, sebelah tangan
diangsurkan ke depan, sebelah tangan lagi dipakai
melindungi diri.
Inilah karcis namanya Pang coe, harap po coe terima!
kata orang she Tam itu, begitu lekas kakinya menginjak
perahu nelayan dan tangannya sebelah lantas diulur
kedepan. Dipihak kami, Pang coe dan semua orang
sebawahannya telah siap sedia untuk menyambut Po coe.
Apakah Ong Tayhiap bersedia akan merdekakan orangku
yang tertawan itu. Mengenai ini, terserah pada tayhiap,
kami tidak akan minta secara paksa. Karena kami mesti

segera pulang untuk memberi laporan, tolong tayhiap lekas


membalas kabar.
Eng Jiauw Ong sambuti karcis nama itu, ia tidak
membaca teliti, lantas ia berikan jawabannya Aku si orang
she Ong tidak biasanya bertindak bengis, adalah karena
sangat terdesak dan terpaksa, aku telah ambil tindakanku
ini. Kau kenal aturan kang ouw, sahabat, maka itu cara
bagaimana akupun bisa tak menggunai aturan? Silahkan
kau bawa pulang saudara ini! Mengenai halku, yang mesti
bertentangan dengan Hong Bwee Pang, tentang siapa yang
salah dan siapa yang benar, silahkan kau tanya saudara ini,
nanti kau ketahui sendiri.
Eng Jiauw Ong tutup kata2 nya dengan ia sendiri
meloloskan belengguannya Coei Loen, siapa sudah lantas
geraki kaki tangan nya, untuk kasi darahnya jalan setelah
itu, ia pandang ketua Ceng hong po.
Tak akan aku lupa kejadian kita malam ini, ia kata.
Sekarang ada titahnya Pang coe, maka untuk sementara
kita menunda dahulu. Nah, sampai bertemu pula!
Lalu, dengan putar tubuhnya ia meloncat keperahu
kawannya.
Tam Eng Sioe memberi hormat pula pada Eng Jiauw
Ong seraya kata Cap jie Lian hoan ouw menantikan Po
coe dengan segala kehormatan, maka sekarang ijinkan aku
undurkan diri!
Dengan loncatan Koay bong hoan sin, Giok bin Sin
Wan pun loncat keperahunya sendiri. Selagi berloncat, ia
geraki kedua tangannya dengan bergantian.
Melihat aksinya orang itu, Eng Jiauw Ong tahu Tam
Eng Sioe gunai gerakan Liong heng coan chioe ciang
atau Seling tangan berupa naga. Itu adalah salah satu

gerakan liehay dari ilmu silat Pat kwa Yoe sin ciang.
Karena ini ia jadi dapat tahu, orang she Tam ini ada liehay.
Cuma ia agak asing dengan orang kang ouw ini, yang ia
tidak tahu ada dari golongan mana.
Diperahu kawannya sendiri, orang itu diperlakukan
dengan hormat sekali, rupanya mereka itu ada mengatakan
suatu apa, karena terdengar suaranya yang nyaring Sudah,
jangan banyak omong! Lekas kembali ke masing2
tempatmu! Setelah itu, Eng Sioe loncat keperahunya
sendiri, yang segera digayu pergi dengan cepat sekali,
perbuatan mana lantas dituruti oleh kedua perahu perintang
itu.
Maka diakhirnya, sungai itu menjadi sunyi pula.
XLII
Kedua tukang perahu menjadi sangat lega hatinya.
Tuan, terima kasih, kata mereka. Jikalau rejeki kita
tidak besar, tentu kita celaka. Apa disebelah depan masih
ada ancaman bencana lainnya?
Kau jangan kuatir, Eng Jiauw Ong jawab. Didepan
sudah tidak ada bahaya lagi. Aku tidak nanti sia2kan
kagetmu ini, malah aku akan perlipat harga sewa perahumu
ini, akupun akan memberi presen, aku akan kasi
penggantian untuk bocornya perahumu. Cukup bukan?
Terima kasih, tuan, kata kedua tukang perahu, yang
bersyukur sekali.
Lantas Eng Jiauw Ong masuk kedalam perahu, diikuti
oleh ke tiga anak muda. Hee houw Eng sudah lantas
menyalakan api, hing ketua Ceng hong po bisa lantas lihat

karcis nama musuh, yang berbunyi Hormatnya Boe Wie


Yang. Ia masukkan itu ke dalam sakunya.
Tuan, apa tuan bermusuh dengan kawanan tadi atau
kebetulan tuan ketahui mereka ada orang2 jahat? tanya
tukang perahu. Mereka gelap dalam hal ini.
Inilah hal yang sudah lewat, tidak usah kau tanyakan,
sahut Eng Jiauw Ong. Lagipun urusan ini tidak ada faedah
nya bagimu. Sekarang lekas gayu perahumu menuju Gan
Tong San!
Kedua tukang perahu itu lantas keluar.
Kam Tiong bertiga lantas tanya ketua itu, bagaimana
mereka harus bersikap bila nanti mereka sudah memasuki
sarang musuh.
Kau harus bersabar dan waspada, turut saja aku, Too
Liong bilang.
Tukang perahu telah masak air untuk seduh teh,
meminum mana, Eng Jiauw Ong berempat jadi merasa
segar sekali.
Sebentar kemudian, ketua ini pergi kemuka perahu, akan
memandang keseputarnya. Ia dapat kenyataan, sang fajar
telah mendatangi. Tanpa merasa, mereka telah melewatkan
sang malam dengan melek mata ditengah sungai sambil
hadapi ancaman bahaya elmaut.
Kira2 satu lie jauhnya mereka berlayar, matahari sudah
mulai muncul, memperlihatkan sinar nya yang indah.
Disini ada sejumlah nelayan yang sedang bekerja. Ditepian
Timur terlihat sawah ladang dan pohon murbei. Dikedua
tepi saban2 kelihatan rumah gubuk penduduk.
Tuan, itulah Gan Tong San Utara! kata tukang
perahu, yang menunjuk kedepan.

Eng Jiauw Ong berempat memandang kearah gunung


yang ditunjuk itu.
Tinggal belasan lie akan sampai disana, bukankah?
Hoay siang Tay Hiap tanya.
Masih kira2 tiga puluh lie, tuan! Inilah yang dibilang,
kuda mampus kalau kita berjalan dengan melihat gunung
saja.
Eng Jiauw Ong tidak menanya lebih jauh, perahu pun
berjalan terus. Kira2 jam Sin sie, jam tujuh atau delapan
pagi, sampailah mereka di sebuah pelabuhan dibagian
Timur dari Gan Tong San. Ramai disini dengan banyak
perahu, besar dan kecil, perahu saudagar dan nelayan.
Didaratpun banyak orang serta suaranya yang berisik.
Eng Jiauw Ong mengajak tiga kawannya mendarat, ia
bayar uang sewa perahu diberikuti presenan dan
penggantian bocor, hingga kedua nelayan itu jadi sangat
berterima kasih. Benar2 tak sia2 kekagetan dan ketakutan
mereka, akhimya mereka kegirangan.
Inilah pasti bukannya Hoen coei kwan. pikir Eng
Jiauw Ong yang berjalan dijalan yang ramai, akan melihat
keadaan dan suasana. Dari banyaknya toko, ia percaya
tempat ini ada subur sekali.
Mari kita dahar dahulu, sebentar baharu kita cari
keterangan, kata Eng Jiauw Ong kemudian.
Kam Tiong bertiga setuju, mereka manggut.
Disebelah Barat ada sebuah restoran dengan merek Bong
Kang Lauw, artinya Loteng Memandang Sungai, kesitu
mereka masuk, mereka naik keatas loteng, yang jendelanya
benar2 menghadapi sungai, memberi pemandangan yang
merawankan hati. Itu waktu, karena masih pagi, tetamu
belum banyak.

Sembari menyambut, jongos tanya tetamunya inginkan


teh atau arak.
Teh dan barang santapan juga, kami hendak dahar
disini, sahut Eng Jiauw Ong. Lebih dahulu bawakan
kami air teh.
Jongos itu segera melayani.
Dekat jendela sudah ada dua tetamu lain asyik minum
arak.
Eng Jiauw Ong pesan satu poci arak keluaran setempat
yang kesohor, ia ingin, dengan tenggak air kata2, ia bisa
lupai pengalamannya satu malam tadi.
Didepan sang ketua, Kam Tiong bertiga tidak berani
turut minum. Tee lie touw doyan sekali arak, ia ngiler,
maka dengan satu alasan, ia turun dari loteng, ia panggil
satu jongos kesamping.
Tolong ambilkan aku dua poci, mulutku kering sekali,
kata ia. Jaga supaya tuan tua di atas tidak dapat tahu. Dia
adalah guruku, dia larang aku minum arak....
Ah, jangan main2, tuan! kata sang jongos sambil
tertawa. Arak kami berbau keras, tuan tua toh bakal tahu
juga. Kalau sebentar kau ketahuan, jangan salahkan aku
sekongkol!
Cukup! Hee houw Eng memotong. Jangan takut,
paling juga aku ditegur. Sekarang ambillah arak!
Jongos itu tertawa melihat akan ketagihannya orang.
Baiklah, sahut ia, yang terus ambilkan dua poci.
Seorang diri Hee houw Eng duduk dibawah loteng
menenggak susu macan. Satu poci habis dengan cepat,
walaupun tidak ada teman sayurnya, ia minum dengan

napsu. Ketika ia telah habiskan poci yang ke dua, ia minta


pula dua poci lagi.
Hati2, tuan, si jongos peringatkan. Arak kami ada
arak simpanan lama, sekarang kau tidak merasakan suatu
apa, sebentar kau akan sinting. Awas, nanti kau ditegur
gurumu!
Untuk sesaat, Hee houw Eng lupai ketuanya, ia
mendesak meminta pula, hingga bahna kewalahan, jongos
itu mengambilkan satu poci. Tetapi pun poci ini kering
dengan sekali cegluk, sesudah mana, pemuda ini naik pula
keatas loteng.
Eng Jiauw Ong lihat Tee lie houw seperti habis minum
arak, memang tidak melarang, ia cuma mencegah karena ia
tahu, arak bisa bikin gagal urusan dan anak2 muda harus
bisa perbiasakan diri. Tetapi disitu ada dua saudara Kam, ia
kuatir mereka ini mengiri, maka terus ia kata Aku tahu
kau gemar akan arak, sekali ini aku mengecualikan, tetapi
lain kali, jangan kau minun diam2!
Mukanya Hee houw Eng merah, malu sendirinya. Ia
diam saja lantas tuangkan arak gurunya, buat ia sendiri ia
isi satu cawan, yang ia terus minum.
Itu waktu ditangga loteng terdengar tindakan, lantas
muncul satu tetamu yang diiring jongos siapa berkata2 pada
tetamunya Eh, sinshe, kenapa kau naik juga keloteng?
Bukankah mayikanku melarang kau selagi disini ada
tetamu, supaya kau tidak mengganggu?
Tetapi orang itu naik terus.
Eng Jiauw Ong lihat tetamu ini ada satu tukang tenung,
cuma sikapnya tidak seperti siang mia sinshe yang
kebanyakan. Orang itu berumur kurang lebih lima puluh
tahun, bajunya panjang. Sepasang matanya tajam sekali.

Dikain mereknya ada bertuliskan Pandai meramalkan dan


tepat! Dibawah itu ada tambahan lagi Aku telah wariskan
kepandaian orang sakti, tepat aku melihati peruntungan
orang atau nasib, yang sudah atau yang bakal datang. Aku
juga pandai mengobati pelbagai macam penyakit.
Ditangannya, diapun menyekal dua potong papan kan
poan.
Eng Jiauw Ong mengetahui, di Kanglam memang ada
banyak tukang tenung semacam dia ini. Kelihatan sinshe ini
tak puas dengan sikapnya jongos, sambil berdiri dan muka
muram, ia kata Apakah kau bukannya berusaha? Jangan
kau mata duitan! Kenapa kau bukannya layani aku? Apa
Bong Kang Lauw ada membeda2kan dan tidak jual barang
makanan kepada orang sebangsaku?
Jangan gusar, sinshe, karena kau bawa2 merekmu, aku
jadi menduga kau sedang berusaha, sahut si jongos.
Sekarang silahkan duduk. Sinshe mau minum teh atau
arak?
Tukang tenung merangkap tabib itu duduk dimeja dekat
jendela, mereknya disenderkan dijendela. Ketika ia pesan
arak dan makanan, ia bawa sikap bukannya sabagai seorang
miskin.
Ketarik perhatiannya Eng Jiauw Ong melihat orang
punya sikap dan mata yang tajam itu, ia merasa pasti orang
ada berkepandaian tinggi, bahwa orang berpelabi saja
menjadi tukang tenung.
Tiba2 tukang tenun itu tepuk meja, hingga cangkir pada
berlompatan.
Hee houw Eng sedang angkat cawarmya ketika ia
terkejut mendengar tepukan pada meja itu. Itu waktu
pengaruh arak sudah mulai bekerja. Araknya lantas saja

ngeplok, menyiram tangan bajunya. Pasti sekali ia jadi


gusar.
Eh, orang edan atau orang mau mampus? ia berseru.
Apa kau bikin? Hayo minum arakmu! Eng Jiauw Ong
segera menegur.
Kee houw Eng takut, ia berdiam.
Jongos sementara itu datang menghampirkan si tukang
tenung.
Kau minum terlalu banyak, sinshe, kata ia, karena
arak pun tumpah. Kau mabok....
Apa?
Mabok? membentak sinshe itu, matanya
melotot. Arak toh masuk kedalam perut orang, bukan
keperut anjing? Aku tidak tahu apa itu mabok!
Apa kalau bukannya mabok? kata jongos itu seraya
sekal meja.
Orang tua itu menghela napas.
Tidak apa, aku melainkan sesali segala boca, yang ada
matanya tetapi tidak ada bijinya. Dia lihat aku si orang tua
tetapi dia tidak memperdulikannya, dia tidak mau menegur
aku, hingga aku jadi mendongkol....
Ah, sinshe, siapakah sudah ganggu kau? Harap sinshe
tidak terbitkan onar Kami ada orang yang berusaha, kami
tidak berani bikin tetamu gusar.
Tidak apa2, aku tengah memikiri urusanku yang ruwet,
aku sampai lupa segala apa, kata si tukang tenung, yang
bicaranya putar balik. Dengan kau toh tak ada
sangkutannya, bukan? Kau jangan takuti lain2 tetamu. Aku
sedang pikiri dua anak muda dari pihakku, dia baharu
belajar sedikit, lantas dia bertingka, dia bikin rusak namaku.
Aku sekarang hendak tunjuki mereka supaya jangan

tersesat, tetapi mereka itu -anak2 itu- tidak mau mengarti!


Mereka sengaja hendak bentur tembok! Mereka tidak mau
terima ajaranku! Apa dengan begitu mereka tidak bikin aku
mendeluh?
Jongos itu menganggap orang ada sangat lucu.
Tak perlu kau mendeluh, sinshe, kata ia. Itu cuma
urusanmu sendiri. Tapi umpama kata kau bikin rusak meja
kami, apa kau tidak nanti bakal mengganti?
Apa, mengganti? tukang tenung itu membentak,
matanya melotot. Apakah kau hendak usil aku?
Dalam murkanya itu, tukang tenung ini menyamber
cawan arak dan seblok mukanya si jongos, hingga dia ini
menjerit Aduh! dan mundur dua tindak, tangannya repot
dipakai mengusap mukanya. Ia gelagapan. Tentu saja ia
jadi gusar.
Ha, kau berani serang orang, sinshe? ia berseru.
Si tukang tenung tetap tertawa.
Manusia tak berbudi! ia kata. Aku baik hati tawarkan
kau minum arak, kenapa kau menyerit? Eh, apakah bukan
dimukamu tambah daging?
Dengan sebenarnya, mukanya yongos menjadi bengap,
tidak heran kalau ia merasakan sakit. Ia tentu tidak
tahu bahwa ia telah diserang dengan satu macam pukulan
___ khie kang.
Eng Jiauw Ong tidak tahan sabar melihat perbuatannya
si tukang tenung itu. sedari tadi ia memang sudah mendeluh
tetapi ia kendalikan diri. Lantas saja ia menegor.
Sahabat, kau keterlaluan! Kenapa kau layani segala
jongos dengan kepandaianmu ini? Kau benar2 kurang
kesabaran! Kemudian ia lanjutkan pada si jongos He,

jongos, kau tidak tahu diri! Kenapa kau layani sin she ini?
Aku kuatir kau nanti mati dengan tak ada tempat untuk
kubur mayatmu! Hayolah kau mundur!
Sin she itu tertawa tawar.
Tuan, apa kau bilang? ia tegaskan. Aku tidak
mengerti kata2mu! Dia ini bangsa rendah, dia cuma tahu
duit, sekarang ada ketikanya yang baik untuk aku hajar adat
kepadanya, supaya dia tidak pandang orang secara ___!
Tuan, kau memandang terlalu tinggi kepadaku, cuma
dengan kepandaianku yang tidak berarti ini aku merantau
keempat penjuru lautan, dimana saja aku anggap sebagai
rumahku, kebetulan aku ada punya kepandaian yang
berarti, tidak nanti aku kesudian hidup sebagai sekarang
ini!
Eng Jiauw Ong sementara itu sudah hadapi jongos.
Sudah, sudah! kata ia. Pergi kau tambahkan arakku
satu poci lagi!
Melihat orang mencegah ia, jongos itu berlalu seraya
usap pula mukanya. Ia ada sangat mendongkol.
Lauw hia, kau she apa dan apa nama besarmu?
kemudian Eng Jiauw Ong tanya si tukang tenung. Aku
lihat lauwhia tidak melainkan mengerti ilmu meramalkan
teta