Anda di halaman 1dari 21

[:]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah


mereka yang bila disebut nama Allah gementarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Sifat-Sifat Orang
Beriman
Berdasarkan Surah al-Anfaal

Tadabbur
Apabila Allah menyebut kalimah

dalam al-Quran, Allah merujuk kepada


orang Islam yang telah tetap, teguh dan
mantap imannya.
Apabila Allah menyebut kalimah

dalam al-Quran, Allah merujuk

kepada Orang Islam yang hatinya masih


perlu dididik dan dibentuk untuk tetap dan
teguh.

Sirah Nuzul Ayat



[:]

Dalam Tafsir Ibnu Katsir; Imam Abu Dawud, An-Nasai


Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih, Ibnu Hibban, dan Hakim
meriwayatkan daripada Daud bin Abi Hind, dari
Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahawa ia berkata, Pada
ketika Perang Badr, Rasulullah SAW bersabda
Barangsiapa berbuat begini dan begini, maka ia akan
mendapat ini dan ini

Sirah Nuzul Ayat


Maka para pemuda bergegas turut berperang

dan tinggal orang-orang tua yang bernaung di


bawah bendera. Setelah mendapatkan harta
rampasan, maka datanglah mereka untuk
meminta harta rampasan perang yang disebut
rasulullah

Lalu orang-orang tua berkata, jangan abaikan


kami, kerana kami adalah pelindung kepada
kalian. Kalau kalian terdesak, pasti kalian akan
berpatah kepada kami. Lalu mereka bertengkar,
maka Allah turunkan ayat ini Mereka
menanyakan kepadamu tentang (pembagian)
harta rampasan perang. dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orangorang yang beriman".

Sirah Nuzul Ayat


Ats-Tsauri meriwayatkan dari al-Kalbi, dari

Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahawa ia


berkata, Pada waktu Perang Badr, Rasulullah
bersabda, Barangsiapa membunuh seorang
(musuh), maka ia mendapatkan begini dan
begini; dan barangsiapa yang berhasil
membawa seorang tawanan, maka dia
mendapatkan ini dan ini.

Maka, datanglah Abul Yasiir dengan

membawa dua orang tawanan, lantas dia


berkata, Wahai Rasulullah mudah-mudahan
Allah memberi rahmat kepadamu. Engkau
telah berjanji kepada kami.

Sirah Nuzul Ayat


Lalu, Saad ibnu Ubadah berdiri dan berkata,

Wahai Rasulullah, kalau engkau berikan


kepada mereka itu, nescaya sahabatsahabatmu tidak mendapatkan apa-apa lagi.

Sesungguhnya yang menghalangi kami

melakukan hal ini bukan kerana kami tidak


menginginkan pahala atau takut kepada
musuh. Tetapi, kami berada di tempat ini
hanya untuk menjagamu kerana kami takut
musuh akan menyerang engkau dari
belakang. Kemudian mereka bertengkar,
lalu turun firman Allah.

Sirah Nuzul Ayat


Kenapa harta rampasan?
Harta rampasan ketika itu berkait dengan

prestasi yang baik dalam peperangan.

Umat Islam berusaha untuk mendapatkan

bukti/kesaksian daripada rasulullah.

Mengubat hati mereka daripada sakit hati

terhadap orang musyrik.

Cita-cita ini telah menutup dan

mengalahkan persoalan lain dari orang


yang membicarakan surah al-Anfaal lalu
Allah mengingatkan dan mengembalikan
mereka kepada Allah.

Sirah Nuzul Ayat


Ketika hati manusia berkecamuk mahukan

harta rampasan, maka Allah tarik nikmat


harta rampasan tadi. Kata Ubadah ibnShomit r.a. ketika kami peserta Perang Badr
berselisih tentang harta rampasan perang,
dan akhlak kami menjadi buruk, turunlah
surah ini. Maka, Allah telah melepaskan
harta rampasan daripada tangan kami dan
menyerahkannya kepada rasulullah.

Allah telah memberikan tarbiyyah

rabbaniyyah kepada mereka dengan


perkataan dan perbuatan. Harta rampasan
bukan hak mereka, tetapi kurniaan Allah.

Sirah Nuzul Ayat


Allah tidak memalingkan hati mereka

daripada kepekaan terhadap kekayaan


kehidupan dunia dan tidak melepaskannya.

Allah fokuskan perasaan mereka untuk

bertaqwa kepada-Nya dan mencari redhaNya dalam urusan dunia dan akhirat.

Taqwa merupakan pengikat hati yang

dapat memimpinnya untuk tunduk dan


patuh kepada Allah dengan mudah.

Ketaatan ialah ketaatan kepada hukum

Allah yang telah ditetapkan berkenaan


harta rampasan perang dan

Sirah Nuzul Ayat


pemilikannya secara asasnya kembali

kepada Allah dan rasul-Nya.

Tidak ada sikap lain bagi orang-orang

yang beriman selain menyerah kepada


hukum Allah dan pembahagian Rasulullah
dalam hal harta rampasan perang, dengan
hati yang ikhlas dan jiwa yang rela.

Oleh kerana itu, iman harus memiliki

bentuk amaliah yang praktikal dan


tampak jelas. Tujuannya untuk
memantapkan keberadaannya dan
menterjemahkan hakikatnya.

Tadabbur


Iman itu bukan angan-angan (khayalan)

dan bermanis mulut. Akan tetapi, iman


adalah sesuatu (keyakinan) yang mantap
dalam hati dan dibukti dengan amal. (HR
ad-Dailami dari Anas).

Setelah itu dilanjutkan dengan penetapan

karakteristik iman yang sebenarnya


sebagaimana yang dikehendaki oleh Rabb
bagi agama Islam ini.

[:]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah
mereka yang bila disebut nama Allah gementarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Syarah
Ungkapan ini merupakan ungkapan yang

membatasi serta halus dan lembut


petunjuknya, bahawa orang-orang yang
demikian sifat-sifatnya, amalannya, dan
perasaannya adalah orang-orang mukmin,
orang-orang yang beriman.

Orang-orang yang tidak sedemikian sifat-

sifatnya secara keseluruhan bukanlah orang


mukmin.

Taukid (penegasan) pada akhir ayat mereka

itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya,


merupakan penegasan terhadap hakikat ini.
Maka, orang-orang yang bukan mukmin
sebenarnya sama sekali bukan seorang
mukmin.

Syarah
Tidak dapat diterima pemahaman yang

mengatakan bahawa antonim (lawan) kepada


sifat orang-orang mukmin sebenarnya adalah
orang-orang mukmin yang tidak sempurna
imannya. Ungkapan al-Quran yang lembut dan
cermat tidak boleh ditentang dengan takwiltakwil yang mudah meleleh dengan segala
ilustrasi dan pernyataannya.

Oleh kerana itu, para salah faham bahawa

orang yang pada dirinya tidak terdapat sifatsifat dan amalan-amalan seperti yang
disebutkan ini, bererti tidak terdapat keimanan
dalam hatinya dan dia sama sekali bukan
orang yang beriman.

Tadabbur
Sesungguhnya orang-orang yang telah

tetap keimanan mereka ialah mereka


yang bila disebut nama Allah
gementarlah hati mereka.

Orang yang beriman ialah orang yang tinggi

taqwanya (takutnya) kepada Allah, kerana


keagungan dan kemuliaan-Nya.

Kerana itu apabila disebut-sebut ayat Allah,

dalam keadaan apa sekalipun dirinya, dia


akan merasa takut, gementar, seolah-olah
mendengar Allah berkata-kata kepadanya.

Tadabbur
Sesungguhnya orang-orang yang telah

tetap keimanan mereka ialah mereka


yang bila disebut nama Allah
gementarlah hati mereka.

Ali bin Talhah berkata dari Ibnu Abbas,

Orang-orang munafik itu dalam hatinya


tidak terdetik sedikitpun ingat kepada Allah
ketika menunaikan suatu kewajiban.

Mereka tidak beriman kepada ayat-ayat

Allah, tidak bertawakkal kepada-Nya, tidak


menunaikan solat apabila jauh daripada
pandangan orang lain, tidak mengeluarkan
zakat harta.

Tadabbur
Lalu Allah memberitahu bahawa mereka

bukan orang yang beriman.

Kemudian Dia menyifati orang-orang mukmin

dengan firman-Nya, Sesungguhnya orangorang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gementarlah hati
mereka.

Kemudian, mereka menunaikan kewajiban

mereka, , dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka


(karenanya), yakni bertambah keyakinan
mereka. dan hanya kepada Tuhanlah
mereka bertawakkal, yakni tidak berharap
kepada selain-Nya.

Tadabbur
Kita akan lihat daripada sifat-sifat ini bahawa tidak

mungkin ada iman tanpa sifat-sifat ini.


Persoalannya bukanlah kesempurnaan atau
kekurangan iman. Persoalannya adalah ada
ataupun tidak iman.

Sesungguhnya orang-orang yang telah tetap

keimanan ialah mereka yang bila disebut


nama Allah gementarlah hati mereka.

Inilah getaran perasaan yang menyentuh kalbu

orang mukmin ketika disebut nama Allah dalam


suatu perintah atau larangan. Maka, ia merasa
tertutup oleh keagungan-Nya, meluaplah rasa
takutnya kepada-Nya, dan terbayang olehnya
keagungan Allah dan kehebatan-Nya. Di samping
itu, terbayang pula kekurangan dirinya dan dosadosanya. Lantar termotivasi untuk melakukan amal
dan ketaatan.

Tadabbur
Atau, seperti yang disebut Ummud Darda

r.ma. yang diriwayatkan oleh ats-Tsauri, dari


Abdullah bin Utsman bin Kahtsyam, dari
Syahr bin Hausyab. Ummud Darda berkata:

Gementar dalam hati seperti bisul yang

panas (hendak pecah), apakah engkau


merasa gementar waktu itu? yang ditanya
menjawab, benar. Ummud Darda berkata,
Apabila engkau merasakan hal itu, maka
berdoalah kepada allah, kerana doa itu
dapat menghilangkan hal itu.

Tadabbur

Itulah keadaan hati yang memerlukan doa untuk


menenangkan dan mententeramkannya. Dan
begitulah keadaan hati orang mukmin ketika disebut
nama Allah dalam suatu perintah atau larangan,
sehingga ia terus melaksanakan perintah itu dan
menjauhi larangan tersebut.

Hati yang beriman itu dapat menemukan dalam alQuran sesuatu yang mampu menambah keiman dan
menghantarnya kepada ketenteraman. Sesungguhnya
al-Quran dapat berinteraksi dengan hati manusia
tanpa perantaraan sesiapapun, dan tidak dapat
dihalangi oleh sesuatu pun kecuali kekufuran.

Sebagaimana kesan-kesan al-Quran di dalam hati


yang beriman dapat menambah keimanan, maka hati
yang beriman inilah yang mengetahui adanya kesankesan yang dapat menambah keimanan itu.