Anda di halaman 1dari 53

Exploration Geophysics

Magnetic Method

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Migas


Balikpapan
Name/ Student ID No.

Subject Name

Group 3
1. Rizky Teddy Audinno/1201239
2. Zakaria Yahya/1201237
3. Mahmudah/1201332
4. Agnes Ayu Wulandari/1201287
5. Daniel Abadi Sihotang/1201265
6. Karisma Prawinata/1201305
Exploration Geophysics

Assignment

Group Assignment
Assignment 1 : Magnetic Method

Due Date

11/10/2014

Lecturer

Probowati A.D. Putri

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Magnetic Method

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Overview
Pengertian

Sejarah

Konsep Dasar

Prinsip Fisika

Interpretasi
Data

Hasil Interpretasi
Data

Medan Magnet
Bumi

Koreksi Data

Magnetic Method

Variasi Medan
Magnetik

Pengukuran
GeoMagnetik

Kelebihan
&
Kekurangan

Visualisasi

Anomali Medan
Magnet Bumi

Peralatan

Kegunaan

Nilai Suseptibilitas
Magnetik Batuan

Sifat Magnetik
Batuan

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Pengertian
Metode magnetik adalah salah satu metode geofisika yang
digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan
memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan
oleh kerentanan magnet batuan.
Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas
magnetik di permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi
distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah
permukaan bumi (suseptibilitas).

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Sejarah

Sifat kemagnetan batuan telah dikenal oleh bangsa Cina pada tahun
2600 SM. Namun pemakaian sifat magnetik sebagai kompas di Cina
dimulai pada tahun 200 SM.
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Metode Geomagnetik pertama kali diteliti


oleh Sir William Gilbert (1540-1603) kurang
lebih 400 tahun yang lalu. Gilbert adalah
orang yang pertama kali melihat bahwa
medan magnet bumi ekivalen dengan arah
utaraselatan sumbu rotasi bumi. Beliau
menyimpulkan bahwa bumi merupakan
benda magnetik dalam bukunya De
Magnete.
Penemuan Gilbert kemudian diperdalam
oleh Van Wrede (1843) untuk melokalisir
endapan bijih besi dengan mengukur variasi
magnet di permukaan bumi.
Hasil penelitiannya kemudian dibukukan
oleh Thalen (1879) dengan judul: The
Examination Of Iron Ore Deposite By
Magnetic Measurement yang kemudian
menjadi pionir bagi pengukuran magnetisasi
bumi (Geomagnet).
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Sir William Gilbert (1540-1603)

Konsep Dasar
Pada prinsipnya didasarkan pada pengukuran variasi intensitas
medan magnet di permukaan bumi yang diakibatkan oleh
variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan
bumi.
Variasi sifat kemagnetan diindikasikan sebagai variasi besarnya
suseptibiltas mineral penyusun batuan terhadap batuan
sekitarnya.
Variasi intensitas magnetik yang terukur ditafsirkan sebagai
bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan
kemudian dijadikan dasar pendugaan keadaan geologi bawah
permukaan bumi.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Prinsip Fisika (I)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Prinsip Fisika (II)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Prinsip Fisika (III)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Prinsip Fisika (IV)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Prinsip Fisika (V)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Medan Magnet Bumi


11,5o

Bumi dapat dipandang sebagai benda magnet besar bersifat


dipole dengan sumbu magnetik tidak berimpit dengan sumbu
geografis bumi tapi membentuk sudut 11,5o dengan sumbu
rotasi bumi.
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Medan magnet bumi terkarakterisasi


oleh parameter fisis atau disebut juga
elemen medan magnet bumi yang
dapat diukur yaitu meliputi arah dan
intensitas kemagnetannya. Parameter
fisis tersebut meliputi :
Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara
magnetik dengan komponen horizontal
yang dihitung dari utara menuju timur
Inklinasi (I), yaitu sudut antara medan
magnetik
total
dengan
bidang
horizontal yang dihitung dari bidang
horizontal menuju bidang vertikal ke
bawah.
Intensitas Horizontal (H), yaitu besar
dari medan magnetik total pada bidang
horizontal.
Medan Magnetik Total (F), yaitu besar
dari vektor medan magnetik total.
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Medan magnet bumi terbagi menjadi 3 bagian,


yaitu:
Medan Magnet Utama (Main Field)
Medan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka waktu yang cukup
lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 106 km2.
Medan Magnet Luar (External Field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini
berhubungan dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan
terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap waktu
jauh lebih cepat.
Medan Magnet Anomali (Crustal Field)
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal
(crustal field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang
mengandung mineral bermagnet seperti magnetite (Fe7S8),
titanomagnetite (Fe2TiO4 ), dan lain-lain yang berada di kerak bumi.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Variasi Medan Magnetik

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Variasi Harian
Perubahan medan magnet dalam waktu yang singkat dengan
periode harian.
Dominan disebabkan oleh gangguan matahari yang berkaitan
dengan berubahnya besar dan arah sirkulasi arus listrik dalam
ionosfera (Milson, 1989).
Radiasi ultraviolet matahari menimbulkan ionosasi pada
ionosfer.
Ionisasi dan adanya elektron2 yang terlempar dari matahari
menimbulkan fluktuasi arus sebagai sumber medan magnet.
Sifat variasi ini acak dan periodik, dengan periode rata-rata 1030 gamma.
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Variasi Sekuler
Perubahan intensitas yang terjadi kecil dan sangat lamban.
Selain terjadi perubahan intensitas medan magnetik bumi juga
perubahan posisi kutub magnetik bumi.
Perubahan posisi kutub magnetik terjadi dalam waktu puluhan
atau ratusan tahun.
Perubahan posisi kutub magnetik bumi ini berpengaruh pada
besarnya intensitas medan magnetik bumi.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Variasi Badai Magnetik


Penyebabnya hampir sama dengan variasi harian, yakni
aktivitas matahari terutama pada saat bintik matahari muncul.
Perubahannya sangat cepat acak dan besar, sehingga secara
praktis mengaburkan hasil pengamatan.
Badai magnetik ini berlangsung beberapa jam bahkan sampai
beberapa hari.
Besarnya bisa mencapai ratusan sampai ribuan gamma dan
menurun kembali ke keadaan normal secara tidak menentu.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Anomali Medan Magnet Bumi


Secara garis besar anomali medan
magnetik disebabkan oleh medan
magnetik remanen dan medan magnetik
induksi.
Anomali yang diperoleh dari survei
merupakan hasil gabungan medan
magnetik remanen dan induksi, bila arah
medan magnet remanen sama dengan
arah medan magnet induksi maka
anomalinya bertambah besar.
Demikian pula sebaliknya. Dalam survei
magnetik, efek medan remanen akan
diabaikan apabila anomali medan
magnetik <25% medan magnet utama
bumi (Telford, 1976), sehingga dalam
pengukuran medan magnet berlaku:
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Sifat Magnetik Batuan

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Diamagnetik
Batuan diamgnetik memiliki atom pembentuk batuan yang
mempunyai kulit elektron yang telah jenuh yaitu tiap elektron
berpasangan dan spin yang berlawanan dalam tiap pasangan.
Jika mendapat medan magnet dari luar orbit, elektron akan
membuat putaran yang menghasilkan medan magnet lemah
yang melawan medan magnet luar tadi.
Suseptibilitas k negatif dan kecil.
Suseptibilitas k tidak bergantung pada medan luar H.
Contoh: bismuth, gipsum, marmer, kuarsa, garam, seng,
emas, tembaga.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Paramagnetik
Kulit elektron terluar belum jenuh, ada elektron yang spinnya
tidak berpasangan dan mengarah pada arah spin yang sama.
Jika ada medan magnet luar, spin membuat putaran
menghasilkan medan magnet yang mengarah searah dengan
medan magnet tersebut sehingga memperkuatnya.
Tetapi momen magnetik yang terbentuk terorientasi acak oleh
agitasi thermal.
Suseptibilitas k positif dan sedikit lebih besar dari 1.
Suseptibilitas k bergantung pada temperatur.
Contoh: piroksen, olivin, garnet, biotit, amfibiolit aluminium,
platina, kayu.
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Ferromagnetik
Banyak terdapat kulit elektron yang hanya diisi oleh satu
elektron sehingga mudah terinduksi oleh medan luar.
Diperkuat lagi oleh adanya kelompok-kelompok bahan berspin
searah yang membentuk dipole-dipole magnet (domain)
mempunyai arah searah, apabila jika di dalam medan magnet
luar.
Suseptibilitas positif dan jauh lebih besar 1
Suseptibilitas bergantung pada temperatur.
Contoh: besi, nikel, kobalt, baja

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Antiferromagnetik
Domain-domain menghasilkan dipole magnet yang saling
berlawanan arah sehingga momen magnetik secara
keseluruhan lebih kecil.
Bahan antiferromagnetik yang mengalami cacat kristal akan
menghasilkan medan magnet kecil.
Suseptibilitas k seperti pada bahan ferromagnetik.
Contoh: hematit (Fe2O4)

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Ferrimagnetik
Domain-domain juga saling antiparalel tetapi jumlah dipole
pada masing-masing arah tidak sama sehingga masih
mempunyai resultan magnet yang cukup besar.
Suseptibilitas tinggi dan bergantung pada temperatur.
Contoh: magnetit (Fe3O4), ilmenit (FeTiO4), pirhotit (FeS),
hematit (FeO2).

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Nilai Suseptibilitas Magnetik Batuan

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Kegunaan

Eksplorasi pendahuluan migas


Eksplorasi pendahuluan geotermal
Eksplorasi pendahuluan endapan mineral
Mengidentifikasi struktur lapisan bawah permukaan
Mengetahui nilai suseptibilitas magnetik lapisan tanah
Mengidentifikasi litologi bawah permukaan
Mengidentifikasi struktur sesar bawah permukaan
Investigasi situs arkeologi
Memetakan lokasi sumur tua yang telah ditinggalkan
Memetakan situs TPA tua untuk pencegahan pencemaran limbah
Mendeteksi ranjau bawah tanah dalam dunia militer

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Peralatan

Magnetometer Konvensional
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Flux Gate Magnetometer


STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Proton Magnetometer
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Pengukuran GeoMagnetik

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Darat
Biasanya untuk eksplorasi mineral juga
untuk penelitian geologi tinjau.
Selang antar titik ukur rapat (beberapa
meter sampai beberapa puluh meter)
Titik amat dan pengamat harus bebas
dari gangguan magnetik (listrik,
jembatan,barang
dari besi, jam
tangan, pisau lipat dll).
Pengukuran dapat dilakukan dengan
satu atau dua alat.
Pengukuran geomagnetik di darat
dilakukan
dengan
menggunakan
magnetometer jenis medan magnet
vertikal dan medan magnet total,
adapun medan magnet horisontal
jarang dilakukan
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Laut
Biasanya dilakukan bersama dengan survey
geofisika lainnya seperti gaya gravitasi dan
seismik.
Proton magnetometer dengan sensor
ditarik dibelakang kapal sejauh 200-400
meter, terendam sedalam 15-20 meter.
Pencatatan terekam secara otomotis.
Biasanya dilakukan untuk mendapatkan
data geologi bawah laut secara global.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Udara
Biasanya dilakukan dengan tujuan
penelitian ilmiah dan geologi tinjau
(rekonesen)
Alat
memiliki
sensitivitas
magnetometer besar (1-5 gamma)
lebih sensitif daripada magnetometer
darat.
Alat digantung pada pesawat (lintasan
dan ketinggian tergantung pada tujuan
survey), data terekam secara otomatis
pada kertas rekam
Pencatatan variasi harian diletakkan di
darat (untuk mengetahui adanya badai
magnetik)
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Koreksi Data

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan
nilai medan magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu
dan efek radiasi matahari dalam satu hari.
Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian
dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang
terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik
yang akan dikoreksi.
Apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang
terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik
yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan:

H = Htotal Hharian
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Koreksi IGRF
Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi
harian, maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan
dengan koreksi IGRF.
Koreksi IGRF dapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai
IGRF terhadap nilai medan magnetik total yang telah
terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi
geografis yang sesuai.
Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat
dituliskan sebagai berikut :

H = Htotal Hharian H0
Dimana H0 = IGRF
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam
survei megnetik sangat kuat.
Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah
dengan membangun suatu model topografi menggunakan
pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988).
Ketika melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k)
batuan topografi harus diketahui, sehingga model topografi
yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik
(Htop) sesuai dengan fakta.
Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski
harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai berikut:
H = Htotal Hharian H0 - Htop
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Interpretasi Data

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Interpretasi Kualitatif
Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali
medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda
termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi.
Selanjutnya pola anomali medan magnetik yang dihasilkan
ditafsirkan berdasarkan informasi geologi setempat dalam
bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi, yang
dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang
sebenarnya.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Interpretasi Kuantitatif
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk
atau model dan kedalaman benda anomali atau strukutr
geologi melalui pemodelan matematis.
Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara
dimana antara satu dengan lainnya mungkin berbeda,
tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang
dicapai dan ketelitian hasil pengukuran.
Beberapa pemodelan yang biasa digunakan yaitu pemodelan
dua setengah dimensi dan pemodelan tiga dimensi.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Hasil Interpretasi Data

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Magnetic Survey to Locate Pits Containing


Buried Metallic Containers
STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Magnetic Survey to Locate Abandoned Oil Wells


STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Peta Intenstias Magnet Total


STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Peta Anomali Magnet Total Daerah Panas Bumi


STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Peta Anomali Magnetik (Eksplorasi Mangan)


STT Migas Balikpapan
Jurusan Teknik Geologi, 2012

Kelebihan dan Kekurangan

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Kelebihan
Metode ini dapat dilakukan pada wilayah daratan, perairan,
bahkan udara.
Metode ini sensitive terhadap perubahan vertical, umumnya
digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat
hydrothermal yang kaya akan mineral ferromagnetic (Fe3O4,
Fe2O3), dan struktur geologi.
Mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat
kemagnetannya bila dipanasi mendekati temperatur Curie
oleh karena itu efektif digunakan untuk mempelajari daerah
yang dicurigai mempunyai potensi Geothermal.
Data acquitsition dan data proceding dilakukan tidak serumit
metoda gravitasi.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012

Kekurangan
Setiap jenis batuan di bumi walaupun dalam pengklasifikasian
atau penamaannya sama, dapat saja mempunyai sifat dan
karakteristik yang spesifik akibat peristiwa geologi yang
dialaminya. Sehingga bisa memberikan data yang didapat bisa
berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya di bawah
permukaan.

STT Migas Balikpapan


Jurusan Teknik Geologi, 2012