Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN PAKAN PEMBESARAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei)

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA


Oleh: SUMINO (0310060911)
1. Prasarana dan Sarana Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
Prasarana budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
a. Jalan dan Transportasi
Jalan menuju lokasi pertambakan berupa jalan beraspal dengan kondisi yang bagus. Lokasi
tambak dapat dijangkau karena berada ditepi jalan penghubung desa sehingga pengadaan benih,
peralatan, pakan, tenaga kerja, dan pemasaran hasil produksi berjalan lancar.
Transportasi merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi
usaha sebab kelancaran transportasi akan memudahkan pengangkutan barang, baik barang yang
dibutuhkan untuk operasional maupun yang akan dijual. Hal ini juga akan mempengaruhi
keberhasilan dalam usaha budidaya udang vannamei.
b. Rumah Jaga Tambak
Untuk memperlancar proses pengawasan tambak secara 24 jam, maka dibutuhkan sebuah
rumah jaga tambak. Selain berfungsi sebagai tempat beristirahat para pekerja tambak, bangunan
ini juga difungsikan sebagai tempat kesekretariatan tambak F BBPBAP Jepara. Bangunan rumah
jaga tambak sudah bertembok sehingga bangunan relatif kuat dan nyaman untuk dihuni.
c. Rumah Penyimpanan Pakan
Bangunan rumah penyimpanan pakan difungsikan untuk menyimpan pakan udang
vannamei agar terhindar dari cuaca yang tidak baik, seperti hujan dan sinar matahari langsung.
Pakan pellet atau crumble yang terkena air hujan dapat memicu ditumbuhi jamur, sedangkan bila
pakan yang terkena sinar matahari langsung dapat merusak kandungan nutrisi didalamnya.
d. Sistem Penerangan dan Komunikasi
Dilokasi praktek ini terdapat lampu dibeberapa sisi tambak yang digunakan untuk
membantu para pekerja melakukan pengawasan terhadap kondisi udang, dan untuk pengawasan
terhadap pencurian karena lokasi tambak yang cukup dekat dengan pemukiman penduduk.
Sumber listrik yang digunakan pada lokasi tambak F Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara berasal dari PLN, gensets dan sel surya. Gensets berfungsi sebagai sumber
listrik cadangan saat terjadi pemadaman listrik. Sedangkan sel surya jarang digunakan karena
listrik yang dihasilkan relatif kecil dari PLN dan gensets, selain itu penggunaan sel surya juga
dipengaruhi oleh ada atau tidaknya cahaya matahari. Alat komunikasi yang digunakan untuk
kelangsungan aktifitas tambak adalah handphone untuk para petugas tambak.
Sarana budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
a. Tambak

Tambak yang digunakan pada kegiatan Praktek ini adalah tambak F Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dan terbagi menjadi enam petak. Dari enam petak
dilokasi ini, dua petak digunakan sebagai pembesaran udang vannamei, satu petak digunakan
sebagai tendon, dan tiga petak sedang dalam tahap renovasi menjadi tambak intensif. Konstruksi
tepi petak tambak menggunakan plastik jenis HDPE dan dasarnya berupa tanah liat berpasir
dengan lebar pematang antara dua sampai tiga meter. Pada bagian tengah setiap tambak
dipasang pipa dengan diameter enam inchi sampai kearah monik yang berfungsi sebagai central
drain dan pintu pengeluaran ditempatkan pada bagian pematang yang berbatasan langsung
dengan sungai untuk mempermudah proses panen.
b. Sumber Air Budidaya
Faktor yang perlu diperhatikan dalam usaha budidaya pembesaran udang vannamei adalah
tersedianya sumber air, baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang baik sepanjang tahun.
Sumber air yang digunakan dalam pembesaran udang vannamei berasal langsung dari aliran laut
yang tepat berada dibatas selatan lokasi tambak dengan salinitas antara 25 35 ppt dan pH 7,5
9.
c. Sistem Tata Air
Sistem pengairan di tambak F Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP)
Jepara melalui beberapa tahapan. Air laut masuk ke petakan F-1, petakan F-1 ini berfungsi
sebagai petakan penampungan dan pengendapan air laut atau biasa disebut dengan tandon.
Selanjutnya air diberikan perlakuan berupa pemberian kaporit (Ca (ClO) 2) dengan dosis 30 ppm
untuk menghindari masuknya penyakit dari air laut ke tambak pembesaran udang vannamei.
Kaporit memilki fungsi sebagai penjernih dan sterilisasi air. Secara umum fungsi kaporit adalah
membunuh bakteri, virus dan kuman dalam air.
Air yang sudah dijernihkan dan disterilkan dengan kaporit kemudian dialirkan kepetakan F2 dan F-6 melalaui pipa paralon dengan diameter delapan inchi. Air laut dipindahkan
menggunakan pompa dan diujung pipa inlet (saluran pemasukan) dipasang saringan agar
kotoran yang terbawa tidak masuk dalam petakan pembesaran udang vannamei.
Sistem tata air yang baik akan menunjang kelancaran sistem resirkulasi dalam tambak.
Sistem resirkulasi yang digunakan pada tambak F adalah resirkulasi terbuka. Pergantian air
(sebagian) dilakukan pada saat kadar flok dalam perairan tinggi dan terdapat indikasi udang
terkena penyakit jamur atau parasit. Kadar flok di perairan yang terlalu tinggi ditandai oleh
perilaku udang yang tampak memakan flok pada bagian tepi tambak.
d. Sistem Aerasi
Sistem aerasi di tambak F Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara
yaitu dengan menggunakan kincir air. Tujuan pemberian kincir air adalah untuk meningkatkan

kandungan oksigen terlarut (DO) dalam perairan, sehingga kebutuhan DO bagi udang vannamei,
phytoplankton, zooplankton maupun bakteri pengurai dapat tercukupi. Kincir air yang
digunakan disesuaikan dengan kebutuhan. Penambahan kincir air dilakukan hingga diperoleh
kandungan DO optimal bagi udang vannamei. Udang vannamei memiliki kelangsungan hidup
dan pertumbuhan yang baik pada kandungan DO 5,3 8 mg/ l (Anonimus dalam Budiardi,
2005).
e. Jaringan Listrik
Jaringan listrik yang digunakan pada tambak F Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara berasal dari beberapa sumber yakni PLN, gensets (generator sets) dan sel
surya. Apabila listrik PLN hidup maka yang sering digunakan adalah listrik dari PLN. Namun
apabila terjadi kematian listrik atau padam dari PLN, maka untuk menggantikannya dapat
digunakan gensets ataupun sel surya. Jaringan listrik digunakan untuk menghidupkan sistem
aerasi, lampu penerangan dan kebutuhan listrik lainnya.
f. Peralatan Uji Kualitas Air
Untuk mengetahui fluktuasi kualitas air pada budidaya udang vannamei, pada tambak F
Balai Besar Perikanan Budididaya Air Payau (BBPBAP) Jepara juga dilengkapi dengan berbagai
peralatan uji kualitas air yang digunakan setiap harinya. Peralatan uji kualitas air meliputi DO
meter yang dikombinasikan dengan thermometer. Alat ini digunakan untuk mengetahui kadar
DO dan suhu dalam perairan. Selain itu juga digunakan pH meter untuk mengukur kadar pH
perairan dan refraktometer untuk mengukur salinitas perairan. Untuk pengukuran kandungan
alkalinitas, ammonia, nitrit dan nitrat dilakukan seminggu sekali melalui laboratorium fisika dan
kimia.
2. Manajemen Pakan Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Balai
Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara
a. Pemberian Pakan
Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya udang vannamei karena
menyerap 60 70% dari total biaya operasional (Nuhman, 2008). Nur (2011) menyatakan,
perpaduan antara penggunaan pakan berkualitas tinggi serta tingkat pengelolaan yang lebih baik
telah terbukti memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, penurunan biaya pengadaan pakan serta
mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Produk pakan buatan yang digunakan dalam praktek
adalah pakan jenis crumble, starter dan pellet dengan kadar protein 36%. Sedangkan untuk
pengelolaan kualitas airnya digunakan sistem semi-biofloc yang dapat membentuk flok bakteri
dan bahan organic dengan kandungan protein lebih kurang 25%. Selain dapat menggantikan
peran plankton sebagai penyeimbang lingkungan, flok juga dapat menjadi pakan alami bagi
udang.

Pakan yang diberikan pada udang vannamei merupakan pakan buatan dalam bentuk
crumble, starter dan pellet. Perbedaan pakan tersebut terdapat pada bentuk dan ukurannya.
Crumble ukurannya kecil dan berbentuk seperti serbuk, starter berukuran sedikit lebih besar dari
crumble sedangkan pellet bentuk dan ukurannya lebih besar. Hal bertujuan untuk agar pakan
yang diberikan bisa sesuai dengan bukaan mulut udang. Pemberian pakan jenis crumble
dilakukan pada DOC ke 1 14, sedangkan untuk jenis starter untuk DOC ke 15 43 dan pellet
diberikan pada DOC ke 74 100 dapat. Pemberian jenis pakan terhadap umur udang vannamei
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pemberian Jenis Pakan Terhadap Umur Udang Vannamei
DOC
Nomor Pakan
(Day of Culture)
17
Gold Forte 932 C
8 14
Gold Forte 933 C
15 30
Gold Forte 932 S
31 73
Gold Forte 933 S
74 100
Gold Forte 932 933 P
Sumber: Magang BBPBAP Jepara, 2015

Jenis Pakan
Crumble
Crumble
Starter
Starter
Pellet

Pemberian pakan dilakukan pada bulan pertama pemeliharaan mulai dari DOC ke 1
sampai mencapai DOC Ke 100. Pakan pertama kali diberikan untuk 300.000 ribu ekor benih
adalah 1 kg dengan penambahan pakan 1 - 2 kg/ hari salama 30 hari, dan pada DOC ke 31 100
pakan diberikan dengan penambahan 2 3 kg/ hari.
Tabel 2. Program Pemberian Pakan pada Budidaya Udang Vannamei Pola Semi Intensif
Berat rata-rata
Dosis Pakan
Frekuensi
Cek Anco
Udang (gr)
(%)
Pakan/ hari
(jam)
1 15
0,005 1,0
50 25
2
2,5 3,0
16 30
1,1 2,5
20 15
3
2,5 3,0
31 45
2,6 5,0
12 10
4
2,0 3,0
46 60
5,1 8,0
97
4
2,0 2,5
61 75
8,1 11,0
75
4
1,5 2,0
76 90
11,1 13,0
53
5
1,5 2,0
91 105
13,1 15,0
53
5
1,0 1,5
106 120
15,1 18,0
42
5
1,0 1,5
Sumber: Adiwidjaya et al., 2005
Frekuensi pemberian pakan dilakukan mulai dari 2 4 kali/ hari. Pemberian pakan
DOC

dilakukan selang 5 jam kemudian yaitu pada pagi hari pukul 07.00 WIB, siang pukul 11.00
WIB, sore pukul 16.00 WIB, dan malam pukul 21.00 WIB. Frekuensi pemberian pakan dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Frekuensi Pemberian Pakan
DOC

Waktu Pemberian Pakan (Kg)


07.00
11.00
16.00
21.00

Pakan
Harian

Pakan
Kumulatif

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51

4
3
4
4
4
4
5
5
5
6
6
6
7
7
7
8
8
8
8
8
9
9
9
9
9
10
10
10
10
10
11
11
11
12
12
12
12
13
13
13
13
14
14
14
14
13
13
13
12
14
14

4
4
5
5
6
6
6
6
7
7
8
9
9
9
9
10
10
10
10
10
11
11
11
12
12
12
12
13
13
13
13
13
14
14
14
14
14
15
15
15
15
13
13
13
13
12
12
12
12
12

4
4
4
4
5
5
6
6
6
6
7
7
7
7
8
8
9
9
10
10
10
10
11
11
11
11
12
12
13
13
13
13
13
14
14
14
14
15
15
15
15
14
14
14
13
13
13
12
12
12
12

2
2
2
2
2
3
3
3
3
4
4
4
4
5
5
5
5
6
6
6
6
7
7
7
7
8
8
8
8
8
9
9
9
10
10
10
10
11
11
11
11
12
12
12
10
10
10
11
11
11

10
11
14
15
16
17
20
20
20
22
24
25
27
27
29
30
32
32
34
34
35
36
38
38
39
40
42
42
44
44
45
46
46
49
49
45
46
47
46
45
46
47
49
52
52
49
46
47
47
49
49

10
21
35
50
66
83
103
123
143
165
189
214
241
268
297
327
359
391
425
459
494
530
568
606
645
685
727
769
813
857
902
948
994
1043
1092
1137
1183
1230
1276
1321
1367
1414
1463
1515
1567
1616
1662
1709
1756
1805
1854

52
14
12
12
11
49
1903
53
14
12
12
11
49
1952
54
14
12
12
11
49
2001
55
15
13
13
12
53
2054
56
15
13
13
12
53
2107
57
15
13
13
12
53
2160
58
16
14
14
12
56
2216
59
16
14
14
13
57
2273
60
16
15
14
13
58
2331
61
16
15
14
13
58
2389
62
17
15
14
13
59
2448
63
17
15
15
14
61
2509
64
17
15
15
14
61
2570
65
17
15
15
14
61
2631
66
17
15
15
14
58
2689
67
17
15
15
14
58
2747
68
14
12
12
11
49
2796
69
14
12
12
11
49
2845
70
14
12
12
11
49
2894
Sumber: Magang BBPBAP Jepara, 2015
Pemberian pakan dilakukan sesuai dengan kebutuhan konsumsi udang yang dipantau
dengan pemeriksaan pakan yang ditebar kedalam anco. Apabila pakan didalam anco habis, pada
pemberian pakan berikutnya prosentase pakan harus ditambah. Sebaliknya, apabila pakan
didalam anco tidak habis pada pemberian berikutnya pakan harus dikurangi. Pemberian pakan
berdasarkan kontrol anco dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Kontrol Anco
Berat Udang/ ekor
Jumlah Pakan di
Waktu Pengecekan (jam)
(gr)
Anco (%)
3,0 5,0
0,5
2
5,0 8,0
0,8
2
8,0 12,0
1,0
1,5
> 12,0
1,5
1
Sisa di Anco
Skor
Naik/ Turun (pakan)
Habis
0
+ 5%
< 10%
1
Tetap
10 25%
2
- 10%
25 50 %
3
- 20%
> 50%
4
- 50%
Sumber: BBPBAP Jepara, 2013
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), anco merupakan alat untuk memantau dan menduga
kebutuhan pakan secara akurat. Anco berbentuk bujur sangkar atau lingkaran dengan bahan jala
dan panjang sisi atau diameter anco bervariasi.
Selama kegiatan pemberian pakan, untuk menunjang pertumbuhan serta kelangsungan
hidup udang pakan dicampurkan dengan berbagai macam vitamin dan bahan-bahan lain buatan
pabrik dengan dosis 1 gram dalam 1 kg pakan. Adapun jenisnya terdiri dari prothevit, pro-1,
molase, dan ekstrak bawang putih (kekebalan tubuh).

Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar secara merata diseluruh permukaan tambak
melalui sekeliling pematang tambak dengan areal daerah pakan berkisar 3 meter dari tepi
tambak. Pakan diberikan menggunakan ember sebagai tempat pakan dan skop kecil yang dibuat
dari botol plastik bekas sebagai alat penebar pakan.
3. Pendugaan Populasi
Pengamatan udang vannamei selama masa pemeliharaan merupakan suatu kegiatan untuk
mengetahui kesehatan kondisi udang, berat rata-rata udang (Average Body Weight/ ABW),
pertambahan berat harian (Average Daily Gain/ ADG), tingkat kelangsungan hidup (Survival
Rate/ SR) serta Biomassa.
Menurut Erlangga (2012), sampling udang merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk menduga populasi udang yang hidup di perairan tambak selama pemeliharaan.
Hasil praktek di BBPBAP Jepara, sampling dilakukan seminggu sekali pada DOC ke-57
dan 64. Sampling dilakukan dengan menggunakan jala untuk mengambil beberapa ekor sampel
udang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Erlangga (2012), bahwa penyamplingan udang dapat
dilakukan dengan penjalaan udang.
Tabel 5. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Udang
ABW
ADG
SR
Biomassa
FR
(gr/ ekor)
(gr/ ekor)
(%)
(kg)
(kg)
I
II
II
I
II
I
II
I
II
F2
3,4
4,0
0,09
96,9 88,4
988
1.061 69,16 74,27
F5
4,5
5,3
0,11
90,0 82,7 1.215 1.315 85,05 92,05
F6
3,3
3,8
0,07
91,7 84,0
908
957
63,56 66,99
Sumber: Magang BBPBAP Jepara, 2015
Keterangan: I Pengambilan sampel pada DOC ke-57
II Pengambilan sampel pada DOC ke-64
Setelah dilakukan penjalaan udang, selanjutnya dilakukan penghitungan terhadap jumlah
Tambak

udang yang berada dalam jala. Jumlah udang tersebut ditimbang untuk mengetahui berat ratarata udang/ ekor. Adapun teknik perhitungan sampling udang yang dilakukan yaitu dengan
formula sebagai berikut (contoh perhitungan pada tambak F5 pengambilan sampel DOC ke-57):
Tebaran 1
= 749 ekor, yang diambil 70 ekor
Tebaran 2
= 776 ekor, yang diambil 73 ekor
Tebaran 3
= 770 ekor, yang diambil 72 ekor
2295 ekor
215 ekor (978,88 gr)
2
Luas jala
=3m
Luas tambak = 3720 m2
Padat tebar/ m2
= Rata-rata udang dalam jala yang tertangkap
Luas jala
= 215 ekor
3 m2
= 72 ekor/ m2

Populasi
= Jumlah udang x Luas area tambak
= 72 ekor x 3720 m2
= 270.000 ekor
Average Body Weight (ABW)
Average Body Weight (ABW) adalah berat rata-rata udang dari hasil pengambilan
sampel yang dianggap mewakili keseluruhan populasi udang. Menurut Adiwidjaya dkk
(2004a), ABW dihitung dengan rumus:
ABW = Berat udang sampling
Jumlah udang sampling
= 978,88 gr
215 ekor
= 4,55 gr/ ekor
Hasil pengambilan sampel ABW (Tabel 5) menunjukkan berat rata-rata pada tiap
kelompok (petakan tambak). Tambak F5 mempunyai pertumbuhan yang paling baik.
Pada tambak yang mempunyai ABW rendah jika dikarenakan kekurangan pakan (under
feeding) maka tindakan yang dilakukan adalah dengan melakukan pengecekan ulang
program pemberian pakan apakah telah sesuai dengan kebutuhan pakan udang. Namun
bila ABW rendah akibat pengelolaan kualitas air yang kurang optimal maka tindakan
yang dilakukan adalah memperbaiki sistem pengelolaan kualitas air tambak seperti
pemberian kapur untuk menstabilkan pH, mengingat hampir setiap hari hujan yang
menyebabkan pH air tidak optimal.
Average Daily Gain (ADG)
Average Daily Gain (ADG) adalah pertambahan berat harian rata-rata dalam suatu
periode tertentu, misalnya selama 7 hari yang berguna untuk mengetahui kecepatan
pertumbuhan udang. Cara menghitung ADG menurut Adiwidjaya dkk (2004a), adalah
sebagai berikut:
ADG = ABW II (gram) ABW I (gram)
T (hari)
= 5,3 gr 4,5 gr
7
= 0,11 gram
Selama masa pemeliharaan udang berlangsung didapat hasil ADG harian yang
diambil pada DOC ke-64 adalah tambak F2 = 0.09 gr/ hari, tambak F5 = 0,11 gr/ hari,
dan tambak F6 = 0,07 gr/ hari. Pertambahan berat harian rata-rata udang pada tiap
tambak berbeda karena tingkat konsumsi pakan yang berbeda-beda.
Survival Rate (SR)
Survival Rate (SR) adalah tingkat kelangsungan hidup dibandingkan pada saat tebar.
Cara menghitung SR menurut Adiwidjaya dkk (2004a), adalah sebagai berikut:
SR
= Jumlah udang yang hidup x 100%
Jumlah tebar
= 270.000 x 100%

300.000
= 90%
Biomassa
Biomassa adalah perkiraan jumlah berat udang yang ada dalam tambak. Penentuan

estimasi biomassa udang menurut Adiwidjaya dkk (2004a), adalah sebagai berikut:
Biomassa = Padat tebar awal x SR x ABW
1.000
= 3000.000 x 90% x 4,5 gr
1.000
= 1.215 kg
Selama DOC ke-57 64 diperoleh hasil estimasi biomassa yaitu pada pengambilan
sampel yang dilakukan (Tabel 5) terlihat peningkatan yang relatif tinggi, hal tersebut
karena makin meningkatnya nafsu makan udang.
Feeding Rate (FR)
Feeding Rate (FR) adalah presentase kebutuhan pakan udang perhari berdasarkan
ABW dan dihitung dari biomassa udang yang ada. Penentuan FR udang menurut
Adiwidjaya dkk (2004a), adalah sebagai berikut:
FR
= Biomassa x FR (Tabel 2)
= 1.215 kg x 7%
= 85,05 kg
4. Pengamatan Pertumbuhan Udang
Pertumbuhan udang dalam hal ini meliputi pertumbuhan berat dapat diketahui melalui
kegiatan pengambilan sampel pertumbuhan udang yang dilakukan dengan cara dijala. Data yang
diperoleh dari hasil pengambilan sampel yaitu berat rata-rata udang (Average Body Weight/
ABW), tingkat pertumbuhan udang (Average Daily Gain/ ADG), jumlah udang tiap jalaan. Data
hasil pengambilan sampel ini dipergunakan untuk memperkirakan Biomassa, Populasi,
kelangsungan hidup udang (Survival Rate/ SR), dan kebutuhan pakan (Feeding Rate/ FR) (dapat
dilihat pada Tabel 5).
Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan kontrol dan pemeriksaan pada anco,
pengamatan dilakukan di anco setiap saat untuk melihat populasi dan abnormalitas udang. Untuk
mengamati respon udang terhadap pakan serta kesehatan udang dapat diamati dengan anco.
Berdasarkan hasil pengecekan anco diputuskan apakah pakan yang diberikan akan ditambah,
dikurangi atau tetap seperti sebelumnya. Pedoman penambahan dan pengurangan pemberian
pakan pada udang dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengaturan Pakan Setelah Melihat Respon Udang di Anco
Kondisi Pakan di Anco
Habis
Sisa < 10%

Perlakuan
Tambah pakan berikutnya 5%
Pakan berikutnya tetap

Sisa 10 25%
Sisa 25 30%
Sisa 50%
Sumber: Adiwidjaya dkk, 2004a

Kurangi pakan berikutnya 10%


Kurangi pakan berikutnya 30%
Kuramgi pakan berikutnya 50%

5. Pengelolaan Kualitas Air Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)


Kualitas air merupakan faktor penting, karena air merupakan media hidup udang. Kualitas
air tambak yang baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan udang vannamei secara
optimal. Oleh karena itu, kualitas air tambak perlu diperiksa dengan seksama (Haliman dan
Adijaya, 2005).
Beberapa parameter kualitas air yang diukur selama kegiatan praktek di BBPBAP Jepara
antara lain dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kualitas Air Budidaya Udang Vannamei
DO
Suhu
Salinitas
pH
0
(mg/ l)
( C)
(ppm)
DOC
Keterangan
P
S
P
S
P
S
P
S
50
6,50 5,71 28,8 27,7 7,3 7,4
21
22 Kisaran
51
7,08 7,72 28,8 27,6 7,2 7,5
22
21 optimum
52
6,67 5,41 28,8 27,5 7,1 7,3
21
22 menurut
53
7,38 6,16 27,7 28,8 7,3 7,5
20
20
Adiwidjaya
54
7,73 7,54 27,5 28,7 7,3 7,9
20
20
55
4,42 7,38 27,6 28,7 7,2 7,9
22
21 (2004a),
56
5,54 6,56 27,3 29,4 7,5 7,7
21
20 - Suhu 0 28,5
31,5 C;
57
5,86 6,94 27,4 29,1 7,4 7,8
21
20
58
5,23 6,34 27,4 29,1 7,3 8,1
20
20 - DO 3,5 7,5
mg/ l;
59
6,77 6,46 27,8 29,7 7,5 7,9
21
23
60
7,23 6,83 27,8 29,8 7,5
8
22
20 - pH 7,5 8,3
61
6,94 4,45 27,8 29,6 7,4
8
21
20 - Salinitas 15
62
7,27 6,93 27,2 30,1 7,5 7,7
20
20
25 ppt.
63
6,93 6,27
27
30,1 7,5 7,6
20
21
64
6,57 5,83
27
30
7,3 8,4
22
23
65
7,27 5,74 27,8 29,3 7,5 7,8
21
20
66
6,58 6,75 27,6
29
7,4 7,6
20
21
67
5,44 4,98 27,4 28,8 7,4 7,4
21
21
68
8,17 5,26 27,2 29,8 7,5 7,8
19
23
69
6,16 7,35 26,8 29,3 7,6 7,7
20
20
70
5,35 4,75 26,8
29
7,4 7,5
22
22
Sumber: Magang BBPBAP Jepara, 2015
Keterangan : P Pagi (pukul 05.30 WIB)
S Sore (pukul 16.30 WIB)
Berdasarkan hasil pengukuran selama kegiatan di lapangan, angka kualitas air yang didapat
diatas tersebut dapat dikatakan norma untuk menunjang kelangsungan hidup udang vannamei.
Hal ini sesuai dengan penyataan Haliman dan Adijaya (2005), bahwa kualitas air tambak yang
baik untuk menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vannamei yaitu Suhu 26
320C, Oksigen terlarut (DO) 4 7 mg/ l, pH 7,5 8,5 dan Salinitas 5 30 ppt.

Menurut Suyanto dan Takarina (2009), pada petak pembesaran udang, semakin besar padat
tebar udang dalam tambak maka semakin besar bahan organik seperti sisa pakan, kotoran udang,
dan ini akan mempengaruhi kualitas air tambak. Untuk mengatasi bahaya tersebut diterapkan
aplikasi probiotik. Probiotik adalah suatu sediaan hasil kultur murni beberapa jenis bakteri
pengurai seperti Nitrobacter spp dan Bacillus spp yang berfungsi untuk mempercepat proses
penguraian bahan-bahan kotoran udang, plankton yang mati dan sisa-sisa pakan yang
menumpuk di dasar tambak. Selama kegiatan praktek aplikasi probiotik tersebut diberikan
dengan frekuensi pemberian 2 kali dalam seminggu yaitu setiap hari senin dan kamis.
a. Salinitas
Pada umumnya udang vannamei hidup di laut. Udang vannamei mempunyai toleransi
salinitas yang cukup tinggi yaitu dari 2 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang
lebih rendah (Wyban et. al,. 1991). Namun demikian salinitas optimal untuk budidaya udang
vannamei adalah 15 25 ppt (Adiwidjaya dkk, 2004a).
Angka salinitas yang diperoleh selama kegiatan praktek berkisar antara 18 38 ppt. Adanya
kondisi salinitas tersebut maka dapat menghambat pertumbuhan udang vannamei karena energi
akan lebih banyak terserap oleh proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan. Salinitas
yang masuk dalam tambak sebelumnya telah optimal karena telah disesuaikan saat pengisian air
tambak. Terjadi fluktuasi dalam tambak dipengaruhi oleh penguapan air (evaporasi) akibat cuaca
panas dan pemasukan air tawar karena hujan maupun karena penambahan air baru (Adiwidjaya,
2004a).
Kondisi salinitas air di tambak setiap hari mengalami perubahan karena kondisi cuaca dan
musim, selama kegiatan praktek berlangsung hampir setiap hari terjadi hujan dengan tingkat
curah hujan sedang sampai tinggi. Sehingga kondisi lingkungan air terus berubah terutama
salinitas, namun demikian dengan kondisi salinitas yang tidak terlalu tinggi justru baik untuk
pertumbuhkan udang vannamei.
Meskipun udang vannamei merupakan biota euryhaline namun pertumbuhannyaakan
terhambat apabila dipelihara pada salinitas lebih rendah atau lebih tinggi daei kadar optimla
dalam jangka waktu yang lama. Pengelolaan parameter salinitas tersebut dilakukan dengan
mempertahankan salinitas air tambak pada kisaran optimal untuk pertumbuhan.
b. Suhu
Suhu perairan bergantung pada musim dan sangat berpengaruh terhadap aktivitas
metabolisme udang yaitu laju konsumsi pakan. Standar suhu yang telah ditetapkan oleh Badan
Standarisasi Nasional (BSN) dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu 28 30 0C, dan suhu
optimum bagi pertumbuhan udang vannamei adalah 26 320C. Suhu air berpengaruh terhadap
cepat atau lambatnya reaksi kimiawi air. Suhu air diukur dengan menggunakan thermometer air
raksa dan diukur dua kali sehari bersamaan dengan pengukuran oksigen terlarut (Sulistyo,
2006).

Data suhu yang diperoleh selama kegiatan praktek berlangsung berkisar antara 26 32 0C,
sehingga dalam kisaran suhu yang telah diukur masih dalam kisaran yang dapat ditolerir oleh
udang karena kisaran suhu tersebut tidak terlalu jauh dari kisaran suhu yang ditetapkan oleh SNI
dan sesuai dengan kisaran suhu optimum pertumbuhan udang vannamei. Pada kondisi suhu
kurang dari 260C maka laju konsumsi pakan udang vannamei terhadap pakan akan menurun
hingga 50%.
Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia dan evaporasi.
Selain itu peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti gas
oksigen, karbondioksida dan nitrogen (Haslam, 1995). Menurut Effendi (2000), kecepatan
metabolisme dan respirasi organisme air juga memperlihatkan peningkatan dengan naiknya suhu
yang mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.
Untuk dapat mempertahankan kestabilan suhu di tambak dapat dilakukan dengan cara
mengatur kedalaman air sekitar 100 120 cm dan mempertahankan kepadatan plankton. Pada
saat kepadatan plankton tinggi (kecerahan kurang dari 30 cm) pada siang hari dapat dilakukan
penurunan ketinggian air hingga 60 70 cm, dan dinaikkan kembali pada malam hari pada
kondisi semula. Pengaturan kedalaman air berdasarkan nilai kecerahan dengan tujuan agar
terjadi penetrasi cahaya dalam air untuk meningkatkan suhu air bagian dasar .
Cahaya matahari yang masuk kedalam tambak mengalami penyerapan dan berubah menjadi
energi panas. Proses penyerapan cahaya tersebut berlangsung lebih intensif pada lapisan bagian
atas tambak sehingga lapisan bagian atas perairan lebih panas (suhu lebih tinggi) dan
densitasnya lebih kecil pada lapisan pada lapisan bagian bawah. Kondisi tersebut mengakibatkan
stratifikasi panas (thermal stratification) pada permukaan air. Suhu sangat berperan dalam
pengendalian kondisi ekosistem tambak (Effendi, 2000). Kelarutan gas-gas hydrogen, nitrogen,
karbondioksida dan oksigen menurun seiring dengan meningkatnya suhu tambak, sehingga
pemberian kincir pada tambak sangat diperlukan agar suhu yang ada dalam tambak lebih stabil.
c. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut merupakan parameter utama kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap
efektivitas penggunaan pakan serta proses-proses metabolisme udang vannamei. Perairan yang
diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memiliki kadar oksigen tidak kurang dari
5 mg/ l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/ l mengakibatkan efek yang kurang
menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik (Effendi, 2000). Kadar oksigen kurang
dari 2 mg/ l dapat mengakibatkan kematian udang (UNESCO/ WHO/ UNEP, 1992).
Oksigen terlarut merupakan faktor utama pada pembesaran udang vannamei di tambak.
Pengamatan oksigen terlarut terutama dilakukan pada pagi dan sore hari, adapun konsentrasi
oksigen terlarut selama kegiatan praktek pembesaran udang vannamei yang telah terukur
berkisar antara 5 9 mg/ l. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kandungan oksigen yang terdapat

di tambak masih optimal dan cukup baik dalam mendukung pertumbuhan udang vannamei. Hal
ini diperkuat oleh pernyataan Supito (2006) yang menyatakan bahwa oksigen terlarut untuk
mendukung pertumbuhan udang vannamei dipertahankan diatas 3 mg/ l.
Kandungan oksigen terlarut sangat mempengaruhi proses metabolisme udang vannamei.
Pada siang hari, kondisi perairan di dalam tambak akan memiliki DO cenderung tinggi karena
adanya proses fotosintesis plankton yang menghasilkan oksigen. Keadaan sebaliknya terjadi
pada malam hari, plankton tidak melakukan proses fotosintesis bahkan membutuhkan oksigen
sehingga menjadi kompetitor bagi udang dalam mengambil oksigen.
Upaya untuk meningkatkan angka DO dilakukan dengan pemakaian kincir air dihidupkan
setiap hari selama masa pemeliharaan. Kincir air selain berfungsi untuk mempertahankan
kondisi DO pada angka optimal, juga berfungsi mengumpulkan kotoran ke tengah tambak agar
mudah pada saat pengurangan air tambak.
d. pH Air (Derajat Keasaman)
Kisaran pH yang optimum untuk budidaya udang adalah 7,5 8,3 (Adiwidjaya dkk, 2004).
Nilai pH air menunjukkan derajat keasaman air, dikatakan normal apabila nilai pH 7, dikatakan
basa apabila lebih dari 7 dan dikatakan asam apabila kurang dari 7. Air laut memiliki pH diatas
7,8, sedangkan air payau biasanya berkisar antara 6,5 8,5 dan jarang ditemui dibawah 6,5
kecuali pada tambak yang dibuat diatas tanah asam (Sulistyo, 2006), sedangkan toleransi
perbedaan pH yang baik antara pagi dengan sore hari tidak lebih dari 1,0.
Pengamatan pH air pada budidaya udang vannamei dapat dilakukan pada pagi, siang, sore
maupun malam hari. Namun pengamatan pH yang dilakukan selama kegiatan praktek dilakukan
pada pagi dang sore hari. Nilai pH air yang diamati selama masa pemeliharaan udang vannamei
di tambak berada pada kisaran 7 8. Adanya kondisi pH tersebut dapat memacu pertumbuhan
udang vannamei yang dipelihara. Hal ini dikarenakan nilai pH mempunyai pengaruh terhadap
proses dan kecepatan reaksi kimia dalam air. Nilai pH air tambak sangat berpengaruh pada
kisaran yang optimal yaitu 7,5 8,5 dengan fluktuasi harian pagi dan sore hari dari 0,2 0,5
(Rubiyanto dan Dian Adijaya, 2007).
Selama masa pemeliharaan didapatkan kondisi pH yang selalu optimal ini disebabkan
aplikasi kapur yang rutin. Kondisi optimal pH akan menyebabkan udang tidak mudah stress
sehingga udang tidak mudah untuk terserang penyakit.
Bila pH air turun dari 7,8 dilakukan penambahan kapur pertanian dengan dosis 3 5 ppm.
Sebaliknya bila pH air tinggi diatas 9 dilakukan aplikasi molase (tetes tebu) dengan dosis 2 3
ppm. Fluktuasi pH harian dengan nilai kurang dari 0,2 menunjukkan siang hari terjadi proses
fotosintesis rendah yang dapat disebabkan oleh jumlah phytoplankton yang kurang. Solusi yang
dilakukan adalah penumbuhan phytoplankton dengan pemupukan susulan. Sebaliknya nilai
fluktuasi pH harian yang tinggi lebih dari 0,5 menunjukkan bahwa kurangnya penyangga

(buffer) dalam air yang dapat diukur dari nilai alkalinitas. Solusinya adalah penambahan
karbonat, dengan penambahan kapur dolomite dosis 3 5 ppm.