Anda di halaman 1dari 63

Skenario 2

Kelumpuhan Wajah
Perempuan berusia 50 tahun saat sedang berbelanja di pusat perbelanjaan tiba-tiba berbicara
cadel dan setelah di perhatikan oleh suaminya wajah pasien terlihat tidak simetris. Pasien juga
mengeluh anggota gerak sisi kiri lebih lemah disbanding kanan. Suami langsung membawa
istrinya ke IGD RS terdekat. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan hipertensi. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan wajah tidak simetris. Sulkus nasolibialis kiri tampak mendatar, namun kerutan
dahi simetris. Pada saat menjulurkan lidah, mencong ke sisi kiri tanpa adanya atrofi papli dan
fasikulasi. Terdapat hemiparesis sinistra. Dokter mengakatakn pasien mengalami stroke. Sebagai
seorang suami, ia berkewajiab untuk menyatuni dan merawat istrinya dengan baik sesuai dengan
ajaran islam.

Kata-Kata Sulit
1. Sulkus Nasolabialis
Alur Antara sudut bibir atas dan hidung
2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah di atas normal (normal:120/80 mmHg)
3. Fasikulasi
Kerutan otot setempat yang spontan dan cepat, kedutan.
4. Hemiparesis
Kelumpahan otot skelet
5. Atrofi Papil
Pengecilan papil-papil lidah
6. Stroke
Kondisi saat pasokan darah ke bagian otak terganggu, gejala-gejala defisit fungsi susunan
saraf akibat penyakit pembuluh darah otak.

Pertanyaan-pertanyaan

1. Kenapa hemiparesisnya yang terkena hanya bagian sinistra saja ?


Karena pembuluh darah yang terganggu hanya bagian dekstra
2. Kenapa sulkus nasolabialisnya mendatar tapi kerutan pada dahi simetris?
Karena nervus facialis yang terganggu masig ada percabangannya lagi dan nervus pada
bagian dahi masih bisa terkompensasi
3. Apa hubungan hipertensi dan stroke?
Hipertensi sebagai factor resiko penyebab hipertensi
4. Kenapa bisa terjadi fasikulasi?
Karena nervus hypoglossus tidak mendapat pendarahan
5. Apa kaitannya stroke dengan umur?
Umur sebagai factor resiko penyebab stroke
6. Kenapa dokter mendiagnosis stroke?
Karena terdapat gejala-gejalanya, dilihat dari factor resikonya dan penurunan fungsi syaraf.
7. Apa kewajiban suami terhadap istri?
Menyantuni dan merawat istri sesuai ajaran islam (salah satunya)
8. Kenapa ada pemeriksaan atrofi papil?
Untuk mengetahui kelainannya bukan pada lidahnya tetapi pada syaraf yang
mempersyarafinya.
9. Apa hubungannya stroke dengan aktivitas?
Karena dalam aktivitas butuh pasokan oksigen yang tinggi. Jika kurang oksigen, kebutuhan
pada bagian otak tidak terpenuhi dan fungsi otak jadi berkurang.

Hipotesis
Factor resiko (hipertensi, stress, gaya hidup, usia dll)
ke otak yang dipicu aktivitas
defisit fungsi otak

gangguan aliran darah


Stroke

Sasaran Belajar
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi dan Fisiologi Syaraf Cranialis, Traktus
Ekstrapiramidalis dan Capsula Interna

LI 2 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Saraf Sensorik dan Motorik serta Kelainannya
LI 3 Memahami dan Menjelaskan Stroke
3.1 Definisi
3.2 Epidemiologi
3.3 Etiologi
3.4 Klasifikasi
3.5 Patofisiologi
3.6 Manifestasi
3.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.8 Penatalaksanaan
3.9 Komplikasi
3.10 Prognosis
3.11 Pencegahan
LI 4 Memahani dan Menjelaskan Kewajiab Suami dan Istri

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi dan Fisiologi Syaraf Cranialis, Traktus


Ekstrapiramidalis dan Capsula Interna
JARAS MOTORIK OTAK

Pengertian:
Jalan raya motorik secara tradisional terbagi atas dua jalan :
Systema pyramidalis s. Tractus corticospinalis
Jalan motorik yang berasal dari area Brodmann 4 di samping area 6,3,2,1 cortex cerebri menuju
medulla spinalis.
Bertolak dari tempat asal dan tujuannya, jalan motorik ini dikenal juga sebagai : tractus
corticospinalis.
Ada dua alasan kenapa jalan motorik ini disebut sebagai systema pyramidalis:
1. Karena dia berasal dari sel pyramid (lapis ketiga) cortex cerebri khususnya dari area
Brodmann 4
2.Karena pada medulla oblongata, jalan motorik tsb menimbulkan benjolan di bagian depan
medulla oblongata yang disebut sebagai : pyramid
Tractus corticospinalis berakhir pada cornu anterior medulla spinalis
Systema Extrapyramidalis
Semua jalan motorik selain tractus corticospinalis :
1.) yang datang dari batang otak menuju medulla spinalis:

Tractus reticulospinalis
Tractus tectospinalis
Tractus rubrospinalis
Tractus vestibulospinalis
Tractus olivospinalis

2.) yang datang dari cortex cerebri menuju batang otak disebut sebagai tractus
corticobulbaris:

Tractus corticostriata
Tractus corticothalamicus
Tractus corticohypothalamicus
Tractus corticonigra
Serabut serabut yang berasal dari area Brodmann 4 dan 6 tapi khusus menuju ke :
Tegmentum,Nuclei pontis, Nucleus olivarius inferius

Pusat: jalan raya motorik punya 2 pusat:


1.)Neuron motorik atas atau pusat supraspinal
Letak: cortex cerebri

Neuron yang di cortex cerebri disebut sebagai : Neuron orde pertama(berupa sel
pyramidalis: sel lapis ketiga cortex cerebri). Axon neuron orde pertama turun ke
bawah melalui corona radiata kemudian masuk ke crus posterior capsula interna, terus ke
mes-encephalon,pons, medullad oblongata dan medula spinalis untuk bersinapsis dengan
neuron orde kedua yang terletak pada cornu anterius substansia grissea medulla
spinalis
2.)Neuron motorik bawah atau pusat spinal
Letak: Columna anterius substansia grissea medulla spinalis
Disini terdapat 2 kelompok neuron:
a. Neuron orde kedua (neuron antara) yang terletak pada pangkal columna anterius
substansia grissea.Punya axon yang sangat pendek untuk bersinapsis dengan neuron orde
ketiga
b. Neuron orde ketiga yang terletak juga pada columna anterius substansia grissea medulla
spinalis.Axon neuron ketiga keluar dari medulla spinalis sebagai radix anterior n.spinalis
untuk bergabung dengan radix posterior membentuk n.spinalis dan akhirnya pergi ke efektor
sadar: otot seran lintang atau otot lurik (otot skelet). Sebagian kecil serabut penghubung
dari neuron orde pertama bersinapsis langsung dengan neuron orde ketiga yang penting
dalam fungsi arcus reflex.
Fungsi: menerima perintah dari pusat supraspinal dan neuron orde kedua yang terletak pada
columna anterius substansia grissea medulla spinalis dan setelah bersinapsis pada neuron pusat
spinal, perintah tadi diteruskan ke efektor : otot skelet
Yang termasuk systema pyramidalis hanya ada satu yaitu:
Tractus Corticospinalis
Asal: Neuron orde pertama :
a. 1/3 berasal dari area 4 Brodmann (pusat motorik primer) pada gyrus precentralis
b. 1/3 berasal dari area 6 Brodmann (pusat motorik sekunder) pada gyrus precentralus
c. 1/3 berasal dari area 3,2,1 Brodmann (pusat somastesi) pada gyrus postcentralis
Pusat yang mengontrol otot muka terletak di sebelah bawah, sedang yang mengontrol otot
anggota bawah justru terletak di bagian atas dari dataran medial hemisphaerum cerebri.
Jalan:
Dalam hemisphaerum cerebri:
Mula-mula turun memasuki corona radiata, kemudian memasuki crus posterius capsula
interna yang serabutnya tersusun sbb.:
1. Serabut yang dekat genu akan mensarafi otot bagian atas leher

2. Serabut yang terletak lebih kebelakang akan mensarafi otot badan bawah
Dalam mesencephalon:
Dia berjalan pada 3/5 tengah crus cerebri mesencephalon dengan susunan sbb.:
1. Yang mensarafi bagian atas leher terletak di sebelah medial
2. Yang mensarafi otot kaki terletak di sebelah lateral
Dalam Pons:
Disini tractus akan terpecah dalam beberapa berkas saraf oleh Fibra pontocerebellaris transversa
Dalam Medulla oblongata:
Berkas saraf yang tadinya terpeceah-pecah kini bergabung menjadi satu berkas lagi dan akan
menonjolkan medulla oblongata membentuk : pyramid. Itulah sebabnya tractus tsb sering juga
disebut sebagai : Tractus pyramidalis. Pada perbatasan medulla oblongata dengan medulla
spinalis serabut sarafnya akan mengalami 2 hal :
a. Mayoritas serabut akan saling bersilangan membentuk : Decussatio pyramidalis
b. Minoritas serabut tidak bersilangan dan langsung memasuki medulla spinalis
Dalam medulla Spinalis
1. Serabut yang bersilangan memasuki columna lateralis substansia alba medulla spinalis
disebut sebagai: Tractus corticospinalis lateralis. Dia jalan sepanjang columna lateralis dan
kemudian akan bersinapsis dengan Neuron orde kedua pada columna anterius setiap
segmen medulla spinalis
2. Serabut yang tidak bersilangan memasuki columna anterius substansia alba medulla
spinalis disebut sebagai : Tractus cortispinalis anterius. Selanjutnya dia akan menyilang
garis tengah dan akan berakhir pada neuron orde kedua pada columna anterius segmen
medulla spinalis cervicalis dan bagian atas thoracal. Axon dari neuron orde kedua akan
bersinapsis dengan neuron orde ketiga yang juga ada di columna anterius.
Fungsi:
a. Umum: Bersama-sama dengan tractus lainnya mengantarkan perintah untuk
menggerakkan otot seran lintang (otot sadar)
b. Khusus: untuk jalan motorik yang berkaitan dengan ketepatan, ketrampilan
terutama gerakan ujung-ujung anggota badan
Yang termasuk systema extrapyramidalis:
Datang dari Batang Otak menuju Medulla Spinalis
1. Tractus reticulospinalis
Asal : Formatio reticulare yang terletak sepanjang mes-encephalon, pons dan medulla
oblongata (neuron orde pertama).
Jalan :
Dari neuron yang ada di pons, dikirmkan axon lurus kebawah : traktus
reticulospinlis pontinus

Dari neuron di medulla oblongata, menyilang garis tengah baru turun ke medulla
spinalis : traktus reticulospinalis medulla spinalis
Tujuan : cornu anterius medulla spinalis (pusat spinal: neuron orde kedua dan ketiga)
Fungsi : mengontrol neuron orde kedua dan ketiga dalam bentuk fasilitasi dan inhibisi
kontraksi otot skelet berkaitan dengan fungsi kseimbangan tubuh.

2. Tractus Tectospinalis
Asal : colliculus superior mes-encephalon (neuron orde pertama)
Jalan : menyilang garis tengah dan turun melalui pons, medulla oblongata. Jalannya
dekat sekali dengan fasciculus longitudinale medialis
Tujuan : cornu anterius medulla spinalis (pusat spinal) dan bersinaps dengan neuron
orde kedua dan ketiga
Fungsi :
1) terjadinya reflex pupilodilatasi sbg. respon kalau lagi berada dalam ruang gelap
2) terjadinya reflex gerakan tubuh sbg. respon terhadap ransang penglihatan

3. Tractus Rubrospinalis

Asal

: nucleus ruber (neuron orde pertama) pada tegmentum mes-encephalon setinggi


coliculus superior.
Jalan : axon neuron orde pertama menyilang garis tengah turun kebawah melewati
pns, medulla oblongata menuju cornu anterior meulla spinalis subt. grisea (pusat
spinal)
Fungsi : memacu kontraksi otot fleksor dan menghambat kontraksi otot ekstensor
berkaitan dengan fungsi keseimbangan tubuh

4. Tractus vestibulospinalis
Asal : nuclei vestibularis = neuron orde pertama (dalam pons dan med. oblongata),
menerima akson dari auris interna melalui N.vestibularis dan cerebelum
Tujuan : cornu anterius medulla spinalis (pusat spinal)
Fungsi
: memacu kontraksi otot ekstensor dan menghambat kontraksi otot
fleksor berkaitan dengan fungsi keseimbangan tubuh

5. Tractus olivospinalis
Asal : nucleus olivarius inferius (neuron orde pertama), menerima axon dari : cortex
cerebrii, corpus striatum, nuceu ruber
Tujuan : cornu anterius med. spinalis (pusat spinal)
Fungsi : mempengaruhi kontraksi otot skelet berkaitan dengan fungsi keseimbangan
tubuh

Datang dari Cortex Cerebri menuju Batang Otak


a. Tractus Corticothalamus
Asal
: area brodmann 10, 11, 12
Tujuan : nucleus medialis thalami
Asal
: area brodmann 9 dan 11
Tujuan : nuclei septi thalami
Asal
: area brodmann 9
Tujuan : nucleus medialis et lateralis thalami
Asal
: area brodmann 6
Tujuan : nuclei septi thalami, nucleus medualis et lateralis thalami

b.
c.
d.
e.

Asal
: area brodmann 4
Tujuan : nuclei lateralis thalami
Tractus corticohypothalamicus
Asal
: cortec hypocampi
Tujuan
: hypothalamus
Tractus corticosubthalamicus
Asal
: area brodman 6
Tujuan
: subthalamus
Tractus Corticonigra
Asal
: area brodmann 4, 6 dan 8
Tujuan
: substantia nigra
Tractus yang berasal dari area brodmann 4 dan 6
Tujuan
: tegmentum (mes-encephalon), nuclei pontis (pons), nucleus olivarius
inferius (medulla oblongata)

NERVUS CRANIALIS

Nomo
r
I

Nama

Jenis

Fungsi

Olfaktori

Sensori

II

Optik

Sensori

III
IV
V

Okulomotor
Troklear
Trigeminal

Motorik
Motorik
Gabunga
n

VI
VII

Abdusen
Fasial

Motorik
Gabunga
n

VIII

Vestibulokoklea
r

Sensori

IX

Glosofaringeal

Gabunga
n

Vagus

XI
XII

Aksesori
Hipoglosal

Gabunga
n
Motorik
Motorik

Menerima rangsang dari hidung dan


menghantarkannya ke otak untuk diproses sebagai
sensasi bau
Menerima rangsang dari mata dan menghantarkannya
ke otak untuk diproses sebagai persepsi visual
Menggerakkan sebagian besar otot mata
Menggerakkan beberapa otot mata
Sensori: Menerima rangsangan dari wajah untuk
diproses di otak sebagai sentuhan
Motorik: Menggerakkan rahang
Abduksi mata
Sensorik: Menerima rangsang dari bagian anterior
lidah untuk diproses di otak sebagai sensasi rasa
Motorik: Mengendalikan otot wajah untuk
menciptakan ekspresi wajah
Sensori sistem vestibular: Mengendalikan
keseimbangan
Sensori koklea: Menerima rangsang untuk diproses di
otak sebagai suara
Sensori: Menerima rangsang dari bagian posterior
lidah untuk diproses di otak sebagai sensasi rasa
Motorik: Mengendalikan organ-organ dalam
Sensori: Menerima rangsang dari organ dalam
Motorik: Mengendalikan organ-organ dalam
Mengendalikan pergerakan kepala
Mengendalikan pergerakan lidah

SARAF OLFAKTORIUS (N.I)


Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang
menerima rangsangan olfaktorius. Sistem ini
terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius
pada bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria,
bulbus subkalosal pada sisi medial lobus
orbitalis.
Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang
serabut-serabutnya berasal dari membran

mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus
olfaktorius, dari sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus
temporal bagian medial sisi yang sama.
Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks
tanpa dirilei di talamus. Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan
induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan
bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. Serabut utama yang menghubungkan sistem
penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis talamus.
Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat yang berhubungan
dengan talamus, hipotalamus dan sistem limbik.
SARAF OPTIKUS (N. II)
Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. Serabut-serabut saraf ini,
ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi
lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. Orientasi spasial serabut-serabut dari
berbagai bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan
pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya.
Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh
bagian nasal retina) menyilang kiasma, sedangkan yang
berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang.
Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari
kiasma optikum berakhir di kolikulus superior, dimana
terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf
okulomotorius. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma
berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam
traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis. Dari
sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika
melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di
korteks visual lobus oksipital.
Dalam
perjalanannya
serabut-serabut
tersebut
memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran
bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran
atas melalui lobus temporal. Akibat dari dekusasio
serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabutserabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri
berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya.

SARAF
III)

OKULOMOTORIUS (N.

Nukleus saraf okulomotorius


substansia
grisea
motorik) dan sebagian lagi di
(Nukleus otonom).

terletak sebagian di depan


periakuaduktal (Nukleus
dalam substansia grisea

Nukleus motorik bertanggung


jawab untuk persarafan
otot-otot rektus medialis,
superior, dan inferior, otot
oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus otonom atau nukleus Edingerwesthpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil
dan otot siliaris.
SARAF TROKLEARIS (N. IV)
Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli
inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan
berada di bawah Nukleus okulomotorius. Saraf ini
merupakan satu-satunya saraf kranialis yang keluar
dari sisi dorsal batang otak. Saraf troklearis
mempersarafi
otot
oblikus
superior
untuk
menggerakkan mata bawah, kedalam dan abduksi
dalam derajat kecil.

SARAF TRIGEMINUS (N. V)


Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut
motorik dan serabut-serabut sensorik. Serabut motorik
mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Serabutserabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang
utama yatu saraf oftalmikus, maksilaris, dan mandibularis.
Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit, dahi, wajah,
mukosa mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula,
dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior
telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran
timpani.
SARAF ABDUSENS (N. VI)

Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi


pons bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak
dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens mempersarafi
otot rektus lateralis.

SARAF FASIALIS (N. VII)


Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik
fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak
pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat
medula oblongata. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus
sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf
vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis
akustikus interna. Serabut motorik saraf fasialis
mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot
orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot frontal,
otot stapedius, otot stilohioideus, otot digastriktus posterior
serta otot platisma. Serabut sensorik menghantar persepsi
pengecapan bagian anterior lidah.
SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N. VIII)
Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu
serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan
vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen yang
mengurusi
keseimbangan.
Serabut-serabut
untuk
pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti
koklea di pons, dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan kemudian
menuju girus superior lobus temporalis. Serabut-serabut untuk keseimbangan mulai dari
utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam
kanalis fasialis. Serabut-serabut ini kemudian memasuki pons, serabut vestibutor berjalan
menyebar melewati batang dan serebelum.
SARAF GLOSOFARINGEUS (N. IX)
Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan
asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut,
saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion, yaitu ganglion
intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. Setelah melewati
foramen, saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis
interna ke otot stilofaringeus. Di antara otot ini dan otot stiloglosal,
saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring, tonsil
dan sepertiga posterior lidah.

SARAF VAGUS (N. X)


Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau
jugulare dan ganglion inferior atau nodosum, keduanya terletak pada
daerah foramen jugularis, saraf vagus mempersarafi semua visera
toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus,
jantung dan paru-paru.
SARAF ASESORIUS (N. XI)
Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. Radiks kranial
adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat
neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang
mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot
trapezius, otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke
samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke
atas.

SARAF HIPOGLOSUS (N. XII)


Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap
sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua
menghasilkan trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan
saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot
stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.

JARAS SENSORIK OTAK


Fungsi : membawa informasi sensorik (exteroseptif dan proprioseptif) dari receptor ke pusat
sensorik sadar di otak.
Informasi exteroseptif meliputi :
Sakit

Suhu (panas atau dingin)


Sentuhan
Tekanan

Informasi proprioseptif meliputi :


Keadaan otot sadar/otot lurik
Keadaan sendi
Keadaan ligamentum
Tiga stasion jalan sensorik :
Untuk bisa mencapai pusat sadar pada gyrus postcentralis (area Brodmann 3,2,1) maka semua
informasi sensorik harus melewati sedikitnya 3 neuron :
1

Neuron orde pertama


Letak : Pada ganglion radix posterior s. Ganglion spinale (ganglion adalah sel saraf
yang terletak di luar susunan saraf pusat, sedang yang berada di dalam SSP disebut
sebagai nucleus atau neuron) dimana dendrit dari sel saraf tsb. datang dari receptor,
sedang axon-nya pergi memasuki medulla spinalis untuk bersinapsis pada neuron orde
kedua

Neuron orde kedua


Letak : Pada cornu posterius medulla spinalis, axon-nya dapat menyilang garis tengah
atau langsung berjalan dalam columna lateralis pada sisi yang sama, selanjutnya naik
keatas untuk bersinapsis pada neuron orde ketiga

Neuron orde ketiga


Letak : Pada thalamus dimana axon-nya akan menuju pusat sensorik sadar pada gyrus
postcentralis ( area Bromann 3,2,1)

Jalan raya sensasi sakit dan suhu


Nama jalan : Tractus spinothalamicus lateralis
Jalan pada medulla spinalis :
Axon dari neuron orde pertama (Ganglion spinale)
memasuki ujung cornu posterius substansia grissea medulla spinalis dan segera bercabang
dua:
Serabut yang naik
Serabut yang turun
Sesudah memasuki satu atau dua segment medulla spinalis membentuk Tractus
Posterolateral (Lissaueri). Dia segera bersinapsis dengan neuron orde kedua yang
terletak pada kelompok sel substansia gelatinosa pada cornu posterius.
Axon dari neuron orde kedua

jalan menyilang garis tengah pada commissura anterior substansia grissea dan substansia
alba, kemudian naik keatas pada sisi kontralateral sebagai tractus spinothalamicus
lateralis. Tractus tsb. berjalan medialis dari tractus spinocerebellaris anterius. Sewaktu
jalan keatas, serabut saraf baru terus bertambah sesuai dengan banyaknya segmen
medulla spinalis, demikian rupa sehingga pada bagian atas cervical :
Serabut saraf yang datang dari sacral terletak posterolateral
Serabut saraf yang datang dari cervical terletak anteromedial(serabut
saraf yang mengantar informasi sakit terletak sedikit di depan dari serabut
saraf yang mengantar suhu
Jalan pada medulla oblongata
Pada medulla oblongata tractus tsb. Terletak pada dataran lateral antara nuclues
olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N. Trigeminus. Disini dia bergabung
dengan :
Tractus spinothalamicus anterius
Tractus spinotectalis
Ketiga tractus tersebut bersama-sama disebut sebagai : Lemniscus spinalis
Jalan pada pons
Lemniscus spinalis naik ke atas di bagian belakang pons
Jalan pada mesencephalon
Lemniscus spinalis jalan pada tegmentum, lateralis dari lemniscus medialis
Jalan pada diencephalon
Serabut saraf tractus spinothalamicus lateralis akan bersinapsis dengan neuron orde
ketiga yaitu : nucleus posterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian dari
nucleus lateralis thalamus).
Disini terjadi penilaian kasar sensasi sakit dan suhu dan reaksi emosi mulai timbul.
Jalan ke cortex cerebri
Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna dan
corona radiata untuk berakhir pada gyrus postcentralis (area brodmann 3,2,1). Dari
sini informasi sakit dan suhu akan diteruskan ke area motorik dan area asosiasi di cortex
lobus parietale. Fungsi utama cortex cerebri gyrus postcentralis :
Menafsirkan sensasi suhu dan sakit sehingga timbul kesadaraan akan sensasi tsb.
Jalan raya sensasi sentuhan ringan dan tekanan

Nama jalan : tractus spinothalamicus anterius


Jalan pada medulla spinalis
Axon dari neuron orde pertama : ganglion spinale memasuki ujung cornu posterius
medulla spinalis dimana dia segera bercabang dua :
Serabut yang naik
Serabut yang turun
Serabut saraf tsb.jalan melalui 1 & 2 segment medulla spinalis untuk membentuk tractus
posterolateral (LISSAUERI). Kemudian dia akan bersinapsis pada neuron orde kedua
yang terletak pada substansia gelatinosa cornu posterius substansia grissea.
Axon dari neuron orde kedua jalan menyilang garis tengah untuk berada pada sisi
kontralateral pada commissura anterior substansia alba dan grissea untuk kemuadian naik
ke atas pada bagian anterolateral substansia alba sebagai tractus spinothalamicus
anterior.
Sebagaimana halnya dengan tractus spinothalamicus lateralis, serabut saraf juga
bertambah dari caudal ke cranial. Disini juga di bagian cervical serabut saraf sacralis
terletak lebih ke lateral dan berasal dari cervical lebih ke medial.
Jalan pada medulla oblongata
Jalan beriringan dengan tractus spinothalamicus lateralis dan tractus spinotectalis,
semuanya disebut sebagai Lemniscus spinalis
Jalan pada pons, mesencephalon dan diencephalon
Beriringan dengan lemniscus medialis untuk akhirnya bersinapsis pada neuron orde
ketiga pada neuron yang sama dengan lemniscus medialis yaitu nuclei posterolateral
dari kelompok ventral thalamus(bagian dari kelompok nuclei lateralis thalamus).
Disini sensasi kasar dari sentuhan dan tekanan mulai diinterpretasi.
Jalan ke cortex cerebri
Axon neuron orde ketiga jalan dalam crus posterius capsula interna dan corona
radiata untuk berakhir pada cortex gyrus postcentralis (area Brodmann 3,2,1) dimana
sensasi sentuhan dan tekanan disadari.
Jalan raya pembedaan sensai diskriminasi sentuhan, getaran sendi/otot sadar
Nama jalan : fasciculus gracilis dan fasciculus cuneatus
Jalan dalam medulla spinalis

Axon dari neuron order pertama (ganglion spinale) memasuki cornu posterius
substansia alba sisi yang sama untuk segera bercabang 2 :
Cabang turun
Jalan melewati beberapa segmen medulla spinalis sambil memberikan beberapa cabang
collateral dan bersinapsis dengan neuron pada cornu posterius dan neuron pada cornu
anterius pada segmen yang dilewati. Hubungan intersegmental ini berfungsi dalam
reflex intersegmental.
Cabang naik
Serabut sarafnya lebih panjang dan sebagian akan bersinaps dengan neuron orde kedua
pada cornu posterius dan anterius substansia grissea. Hubungan ini berperan dalam
reflex intersegmental. Sebagian besar serabut saraf yang naik berjalan dalam columna
posterius substansia alba sebagai:
Fasciculus Gracilis
Dapat ditemukan sepanjang segmen medulla spinalis lumbalis, dan 6 segmen
bawah thoracal
Fasciculus Cuneatus
Terletak lateralis dari fasciculus gracilis, dan mengandung serabut saraf dari
segmen medulla spinalis 6 buah bagian atas thoracal dan semua segmen cervical.
Jalan dalam medulla oblongata
Axon dari neuron orde pertama jalan ke atas secara ipsilateral (tidak menyilang garis
tengah) dan akan bersinapsis dengan neuron orde kedua : nuclei gracilis dan nuclei
cuneatus.
Axon dari neuron orde kedua membentuk berkas serabut saraf disebut sebagai : fibra
arcuata interna. Dia kemudian berjalan menyilang garis tengah membentuk decussatio
sensorik. Selanjutnya pergi kedua tempat:
Pertama: Ke cerebellum melalui pendunculus cerebelli inferior pada sisi yang sama dan
membentuk tractus cuneocerebellaris. Serabutnya sendiri mengelompok membentuk fibra
arcuata externa. Fungsinya untuk mengirimkan informasi sensasi otot skelet dan sendi ke
cerebellum
Kedua: Ke pons
Jalan dalam pons, mesencephalon dan diencephalon
Setelah decussatio dia jalan ketas sebagai lemniscus medialis untuk berakhir pada
neuron orde ketiga: nuclei posterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian
dari kelompok nuclei lateralis thalamus)
Jalan ke cortex cerebri

Axon dari neuron orde ketiga kemudian jalan dalam crus posterius capsula interna dan
corona radiata menuju gyrus postcentralis (area Brodmann 3,2,1). Disini baru kita
mnyadari adanya pembedaan sensasi diskriminasi sentuhan dan getaran dari sendi/otot
sadar.
Jalan raya sensasi otot sadar(otot lurik) dan sendi ke cerebellum
Ada 3 jalan :
1.tractus spinocerebellaris posterius
Jalan dalam medulla spinalis
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki medulla spinalis pada columna
posterius substansia grissea untuk bersinapsis dengan neuron orde kedua: nucleus dorsalis
(Clarki) yang terletak pada bassis cornu posterius substansia grissea.
Axon dari neuron orde kedua memasuki bagian posterolateral substansia alba pada sisi yang
sama untuk naik ke atas sebagai: tractus spinocerebellaris posterius.
Jalam dalam medulla oblongata
Tractus spinocerebellaris posterius jalan memasuki Pedunculus cerebellaris inferior untuk
menuju cortex cerebellum. Karena Nucleus dorsalis paling bawah hanya ada mulai segmen
medulla spinalis lumbalis III atau IV, maka axon dibawah segmen tsb. harus naik langsung
dalam columna posterius substansia alba, sampai dia mencapai segmen medulla spinalis lumbal
III atau IV disana dia baru bersinapsis dengan neuron orde kedua.
Fungsi: membawa informasi dari otot sadar dan sendi, terutama dari receptor Muscle spindle
dan receptor yang ada di tendo, ligamentum dan capsula articulare dari tubuh dan anggota
badan
2.tractus spinocerebellaris anterius
Jalan dalam medulla spinalis
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki medulla spinalis untuk bersinapsis
pada neuron orde kedua: nucleus dorsalis (Clarki).
Bagian terbesar dari axon orde kedua jalan menyilang garis tengah dan naik ke atas pada
bagian depan substansia alba sisi kontralateral.
Bagian kecil dari axon neuron orde kedua jalan pada sisi yang sama.

Jalan dalam medulla oblongata

Tractus spinocerebellaris anterius memasuki medulla oblongata dan pons untuk kemudian
memasuki cerebellum melalui pedunculus cerebelli superior untuk berakhir pada cortex
cerebelli.
Berbeda dengan tractus spinocerebellaris posterius yang tidak terdapat pada semua segmen
medulla spinalis, justru tractus spinocerebellaris anterius terdapat sepanjang segmen medulla
spinalis.
Fungsi: membawa informasi dari receptor muscle spindle dan tendo dari anggota badan atas dan
bawah. Diduga juga membawa informasi dari kulit dan fascia superficialis
3.tractus cuneocerebellaris
Pusat:nulceus cuneatus
Jalan: memasuki pedunculus cerebelli inferior menuju cortex cerebelli sisi yang sama, sebagai
fibra arcuata externa posterius
Fungsi: meneruskan informasi dari muscle spindle dan tendo ke cerebellum
Jalan raya naik lainya
1.tractus spinotectalis
Jalan dalam medulla spinalis:
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki cornu posterius untuk bersinapsis
dengan neuron orde kedua yang letaknya pada cornu posterius tak persis diketahui.
Axon neuron orde kedua jalan menyilang garis tengah kemudian naik ke atas pada anterolateral
substansia alba sebagai tractus spinotectalis.
Jalan dalam medulla oblongata, pons dan mes-encephalon:
a. Beriringan dengan tractus spinothalamicus lateralis et anterius
b. Membentuk lemniscus spinalis bersama-sama dengan tractus spinothalamicus lateralis et
anterius
c. Sinaps akan terjadi pada colliculus superior
Fungsi: membawa informasi untuk reflex spinovisual dan akan menimbulkan gerakan bola mata
dan kepala yang menunjuk ke arah datangnya sumber stimuli
2. tractus spinoreticularis
Jalan dalam medulla spinalis:
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki cormu posterius dan bersinapsis
dengan neuron orde kedua yan letaknya pada cornu posterius tidak jelas.

Axon dari neuron orde kedua naik ke atas pada sisi lateral substansia alba pada sisi yang sama
dan bercampur dengan tractus spinothalamicus
Jalan dalam medulla oblongata, pons dan mesencephalon:
Tractus spinoreticularis jalan pada sisi yang sama dan akan bersinapsis dengan neuron orde
ketiga:formatio reticulare di medulla oblongata, pons dan mesencephalon
Fungsi: membawa informasi tentang tingkat-tingkat kesadaran
3.Tractus spinoolivarius
Jalan dalam medulla spinalis:
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki cormu posterius dan bersinapsis
dengan neuron orde kedua yan letaknya pada cornu posterius tidak jelas.
Axon neuron orde kedua jalan menyilang garis tengah kemudian naik ke atas antara cornu
anterius dengan cornu latelare substansia alba sebagai tractus spinoolivarius.
Jalan dalam medulla oblongata:
Tractus spinoolivarius akan bersinaps dengan neuron orde ketiga: nuclei olivarius inferius
Axon neuron orde ketiga jalan menyilang garis tengah dan memasuki cerebellum melalui
pedunculus cerebelli inferius untuk pergi ke cortex cerebellum.
Fungsi: membawa informasi exteroseptif dan proprioseptif ke cerebellum
Jalan raya sensasi visceral
Axon neuron orde pertama (ganglion spinale) dari daerah thorax dan abdomen memasuki
cornu posterius untuk bersinaps dengan neuron orde kedua dalam substansia grissea
mungkin pada cornu posterius atau cornu lateral.
Axon neuron orde kedua diduga bergabung dengan tractus spinothalamicus untuk berakhir
pada neuron orde ketiga: Nuclei posterolateral dari kelompok ventral thalami (bagian dari
kelompok nuclei lateralis thalamus).
Axon neuron orde ketiga diduga pergi ke gyrus postcentralis (area Brodmann 3,2,1).
Fungsi: informasi pressoreceptor dari tunica mucosa rectum dan vesica urinaria untuk
keperluan defaecatio dan mixtio
VASKULARISASI OTAK
Pembuluh Nadi
Darah mengalir ke otak melalui dua arteri carotis dan dua arteri vertebralis :

Arteri Carotis Interna

Arteri carotis interna, setelah memisahkan diri dari arteri carotis comunis, naik dan masuk
ke rongga tengkorak melalui canalis carotikus os.temporalis, berjalan dalam sinus cavernosus
menembus duramater dan muncul di medial processus clinoideus setelah itu menembus
arachnoidea untuk berada di dalam subarachnoidea ,kemudian membelok ke belakang dekat area
perforata ujung media sulcus laterali Sylvii, akhirnya bercabang dua : arteri cerebri anterior dan
arteri cerebri media :
1. A.Ophtalmica
a. Jalan : muncul dari sinus cavernosus memasuki canalis opticus lateralis
b. Supply : bola mata serta alat-alat orbita lain,bagian frontal scalp,sinus
ethmoidalis et frontalis,dorsum nasi
2. A.Comunicans Posterior
a. Jalan: dibelaca N.III beranastomosis dg A.cerebri posterior membentuk circulus
Wilisi
3. A.Chorioidea
a. Jalan: belakang tractus opticusmasuk cornu inferior ventriculus
lateralispleus choroideus
b. Supply: crus cerebri,corpus geniculatum laterale,tractus opticus,capsula interna
4. A.Cerebri anterior
a. Jalan: di depan medial N.II fisura longitudinalis superiorke belakang diatas
corpus callosum beranastomisis A.cerebri posterior
b. Cabang: Rr.Corticales dan Rr.Centrales
c. Supply : memberikan vaskularisasi pada korteks frontalis, parietalis bagian
tengah, corpus calosum dan nukleus caudatus
5. A.Cerebri Media
a. Jalan: lateral di sulcus lateralis Sylvii
b. Cabang : Rr.corticales dan Rr.Centrales
c. Supply: vaskularisasi pada korteks lobus frontalis, parietalis dan temporalis
A. Vertebralis
Sistem vertebral dibentuk oleh arteri vertebralis kanan dan kiri yang berpangkal di arteri
subclavia, menuju dasar tengkorak melalui canalis transversalis di kolumna vertebralis cervikalis
II s/d VI, masuk rongga kranium melalui foramen magnum,menembus duramater dan
arachnoideamater ke cavum subarachnoid lalu mempercabangkan masing-masing sepasang arteri
cerebelli inferior. Pada batas medulla oblongata dan pons, keduanya bersatu menjadi arteri
basilaris dan setelah mengeluarkan 3 kelompok cabang arteri, pada tingkat mesencephalon, arteri
basilaris berakhir sebagai sepasang cabang arteri cerebri posterior.
1. Rr.Meningea
a. Supply:tulang dan duramater di didalam fossa cranii posterior
2. A.Spinalis Posterior
a. Supply: bagian belakang medula spinalis dan alat sekitarnya
3. A.Spinalis anterior
a. Supply : bagian depan medula spinalis dan alat sekitarnya
4. A. Cerebellaris Posteroinferior

a. Supply: dataran bawah vermis,nuclei centralis cerebelli dataran bawah


hemisphaerum cerebelli,medula oblongata dan plexus choroideus ventriculus
quartus
5. Aa.Medulares
a. Supply: medula oblongata
A. Basilaris
Terbentuk dari Aa.vertebralis kiri dan kanan naik keats di sulcus mediana pons pada
akhirnya bercabang jadi Aa.Cerebri Posterior
1. Aa.Pontin
a. Supply: Pons
2. A.Labyrinthis
a. Supply: meatus acusticus dan alat dalamnya
3. A. Cerbelaris inferior anterior
a. Supply: bagian bawah dan depan pons dan bagian atas medula oblongata
4. A. Cerebelaris superior
a. Supply: bagian atas cerebellum,pons,corpus pinelalis dan velum medulare
superior
5. A. Cerebri Posterior
a. Cabang: Rr.corticales,rr.centrales,R.chorioidea
Circulus Arteriosus Willisi
Merupakan anastomose yang penting antara 4 arteri (a.vertebralis & a.carotis interna) yang
memasok darah ke otak. Dibentuk oleh 2 a.carotis interna dan 2 a.vertebralis beserta 2
a.communicans posterior, 2 a.cerebri anterior, 2 a.basilaris dan a.comunicans anterior.

Pembuluh nadi untuk daerah otak khusus


1. Corpus striatum dan capsula interna (Rr.Centrales A.cerebri media)
2. Thalamus (cabang-cabang a.comunicans posterior,a.basilaris,a.cerebri posterior)
3. Mesencephalon (a.cerebri posterior,a.cerebelaris superior dan a.basilaris)
4. Pons (a.basilaris dan Aa.cerebelaris anterior,inferior dan superior)
5. Medula oblongata (a.vertebralis,aa.spinales anterio et posterior,a.cerebelaris
inferoposterior dan a.basilaris
6. Cerebellum (a.cerbelaris supeior,anteroinferior dan posteroinferior)

Pembuluh Balik
Ada 2 kelompok pembuluh balik :
1. Vv.cerebrales superficialis (v.cerebri externa)

2. Vv.cerebrales profunda (v.cerebri interna)


Cabang v.cerebri externa : v.cerebri superior, v.cerebri media, v.cerebri anterior dan
v.basilaris v. cerebri externa terdapat dirongga subarachnoid.
Cabang v.cerebri interna : v. terminalis & v. choroidea v. terminalis & v. choroidea
bergabung membentuk v. cerebri magna.
CAPSULA INTERNA
Letak:
Merupakan berkas serabut saraf berbentuk pita lebar substansi alba yang memisahkan nukleus
lenticularis dengan nucleus caudatus dan thalamus. Mengandung serabut saraf penghubung
bolak-balik antara cortex cerebri dengan thalamus dan medula spinalis

Bentuk:
Membentuk huruf V dengan titik sudut yang disebt genu,mengahadap ke medial dan kakikakinya disebut crus anterior dan crus posterior
1.

Crus anterior capsula interna


a.Letak :antara nucleus caudatus dan nucleus lenciculatis yang terdapat
Serabut corticopetal (serabut aferen)
Serabut corticofugal (serabut eferen)
2. Crus posterior capsula interna
a.
Letak : antara thalamus dengan nuclei lenticularis,terdapat
Pars lenticulothalamicus (tractus corticobulbaris,corticospinalis dan
corticorubralis)
Pars retrolenticularis (radiatio thalamicus posterior)
Pars sublenticularis (tractus temporopontin,geniculocalcarina dan radiatio
auditorius)

LI 2 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Saraf Sensorik dan Motorik serta Kelainannya
Saraf otak I (nervus olfaktorius)
PEMERIKSAAN
Tujuan pemeriksaan
Untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu. Selain itu, untuk mengetahui apakah gangguan
tersebut disebabkan oleh gangguan syaraf atau penyakit hidung lokal.
Kesulitan pemeriksaan
Tes menghidu merupakan tes yang subyektif. Kita bergantung pada laporan yang dialami pasien.
Cara pemeriksaan
Periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat, misalnya ingus atau polip.
Hal ini dapat mengurangi ketajaman penciuman. Zat pengetes yang digunakan sebaiknya zat
yang dikenal sehari-hari, misalnya teh, kopi, tembakau, jeruk.
Jangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung (nervus V) seperti menthol,
amoniak, alkohol dan cuka. Zat pengetes didekatkan ke hidung pasien dan disuruh ia
menciumnya. Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung
yang lainnya dengan tangan.
Saraf otak II (nervus optikus)
PEMERIKSAN
Tujuan pemeriksaan

a) Mengukur ketajaman penglihatan (visus) dan menetukan apakah kelainan pada visus
disebabkan oleh keadaan okuler lokal atau oleh kelainan saraf.
b) Mempelajari lapangan pandang
c) Memeriksa keadaan papil optik
Cara pemeriksaan
jika pasien tidak mempunyai keluhan yang berhubungan dengan nervus II dan pemeriksa juga
tidak mencurigai adanya gangguan,maka biasanya dilakukan pemeriksaan nervus II (ketajaman
penglihatan dan lapangan pandang) secara kasar. Akan tetapi, bila ditemukan kelainan, harus
dilakukan pemeriksaan yang lebih teliti. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan oftalmoskopik
sebagai pemeriksaan rutin dan neurologi.
Pemeriksaan kasar
Ketajaman penglihatan, diperiksa dengan membandingkan ketajaman penglihatan pasien dengan
pemeriksa. Pasien disuruh mengenali benda yang letaknya jauh (misalnya jam dinding) dan
membaca huruf-huruf yang ada dibuku atau koran. Bila ketajaman mata pasien sama dengan
pemeriksa, maka hal ini dianggap normal.
Pemeriksaan yang teliti.
Ketajaman penglihatan. Pemeriksaanketajaman penglihatan visus yang diteliti dapat dilakukan
dengan menggunakan gambar snellen (huruf-huruf atau gambar yang disusun makin ke bawah
makin kecil yang oleh mata normal dapat dibaca dari jarak 6 meter).bila ia dapat membaca
sampai barisan paling bawah, maka ketajaman penglihatannya ialah normal (6/6), jika tidak
visusnya tidak normal dan hal ini dinyatakan dengan menggunakan pecahan, misalnya 6/20. Ini
berarti bahwa huruf yang seharusnya dapat dibaca dari jarak 20 meter ia hanya dapat
membacanya dari jarak 6 meter
Saraf otak III (nervus okulomotorius); Saraf otak IV (nervus trokhlearis); Saraf otak VI
(nervus abdusen)
Pemeriksaan NIII, NIV dan NIV
Selagi berwawancara perhatikan celah mata pasien apakah ada ptosis, eksoftalmus, enoftalmus
dan apakah ada strabismus (jereng). Setelah itu lakukan pemeriksaan yang lebih teliti mengenai
ptosis, besar pupil, reaksi cahaya pupil, reaksi akomodasi, kedudukan bola mata, gerakan bola
mata dan nistagmus.
Pupil. Perhatikan besarnya pupil pada mata kiri dan kanan, apakah sama (isokor) atau tidak sama
(anisokor). Juga perhatikan bentuk pupil, apakah bundar dan rata tepinya(normal) atau tidak.
Refleks pupil (reaksi cahaya pupil). Reaksi cahaya pupil terdiri dari reaksi cahaya langsung dan
tidak langsung (konsensual). Pada pemeriksaan ini pasien disuruh melihat jauh(memfiksasi
benda yang jauh letaknya) setelah itu mata kita senter (beri cahaya) dan dilihat apakah ada reaksi
pada pupil.pada keadaan normal pupil mengecil maka disebut reaksi cahaya langsung positif.
Kemudian perhatikan pula pupil mata yang satu lagi. Apakah pupilnya ikut mengecil oleh
penyinaran mata yang lainnya. Bila iya, disebut reaksi cahaya tidak langsung positif.

Bila visus mata 0 (buta), maka refleks cahaya pada mata tersebut negatif. Bila mata yang lainnya
baik ini akan menyebabkan mengecilnya pupil pada mata yang buta tersebut (reaksi cahaya tak
langsung positif). Jadi bila reaksi cahaya langsung negatif sedangkan reaksi cahaya tak langsung
positif, maka kerusakannya pada nervus II. Sebaliknya, pada kelumpuhan nervus III, reaksi
cahaya langsung dan tidak langsung negatif.
Kedudukan (posisi) bola mata. Perhatikan kedudukan bola mata, apakah mata menonjol
(eksoftalmus) atau seolah-olah masuk kedalam (enoftalmus). Pada eksoftalmus celah mata lebih
besar sedangkan pada enoftalmus lebih kecil. Selain itu perhatikan posisi bola mata ketika
istirahat. Bila satu otot mata lumpuh, hal ini mengakibatkan kontraksi atau tarikan yang
berlebihan dari otot antagonisnya dan menyebabkan strabismus (juling).
Gerakan bola mata. Untuk memeriksa gerakan bola mata, penderita disuruh mengikuti jari-jari
pemeriksa yang digerakkan ke arah lateral medial atas, bawah dan ke arah yang miring.
Perhatikan apakah mata pasien dapat mengikutinya dan perhatikan bagaimana gerakan bola
mata, apakah kaku, mulus atau lancar.
Saraf otak V (nervus trigeminus)
Pemeriksaan
Pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin dan kemudian kita raba m.masseter dan
m.temporalis. perhatikan besarnya, tonus serta kontur (bentuknya). Kemudian pasien disuruh
membuka mulut dan perhatikanlah apakah ada deviasi. Dalam hal ini dapat digunakan garis
antara dua gigi insisivus ( gigi seri) sebagai patokan. Perhatikan kedudukan gigi insisivus atas
dan bawah waktu mulut tertutup. Dan perhatikan kedudukannya ketika terbuka, apakah ada
deviasi.
Kekuatan otot saat menutup mulut dapat dinilai dengan jalan menyuruh pasien menggigit suatu
benda, misalnya tong spatel dan dinilai tenaga gigitannya. Kemudian pasien disuruh
menggerakkan rahang bawahnya ke samping (untuk menilai m.pterigoideus lateralis) kiri dan
kanan., bila terdapat parese disebelah kanan, rahangbawah tidak dapat digerakkan kesamping
kiri. Bagian sensorik nervus V diperiksa dengan menyelidiki rasa raba, rasa nyeri dan suhu
daerah-daerah yang disyarafinya.
Saraf otak VII

(nervus fasialis)

Pemeriksaan
Fungsi motorik

Perhatikan muka penderita, apakah simetris atau tidak. Perhatikan kerutan pada dahi,
pejaman mata, plika nasolabialis dan sudut mulut.
Suruh penderita mengangkat alis dan mengerutkan dahi. Perhatikan apakah hal ini dapat
dilakukan dan apakah simetri.
Suruh penderita memejamkan mata. Bila lumpuhnya berat, maka penderitatidak dapat
memejamkan mata, bila lumpuhnya ringan maka tenaga pejaman kurang kuat. Hal ini
dapat dinilai dengan mengangkat kelopak mata pasien dengan tangan pemeriksa.

Fungsi pengecapan
kerusakan nervus VII dapat menyebabkan hi;angnya pengecapan (ageusi) pada 2/3 lidah bagian
depan. Untuk memeriksanya pasien disuruh menjulurkan lidah, kemudian kita taruh bubuk gula,
kina, asam sitrat atau garam. Bila bubuk ditaruh, pasien tidak boleh menarik lidahnya ke dalam
mulut sebab bila ditarik, bubuk akan tersebar melalui ludah ke bagian lainnya yang
persyarafannya diurus oleh saraf lain. Penderita disuruh menyatakan pengecapan yang
dirasakannya dengan isyarat misalnya 1. Untuk manis, 2. Untuk pahit, 3. Untuk rasa asin, dan 4.
Untuk rasa asam.
Saraf otak VIII (nervus stato-akustikus atau vestibulo-kokhlearis)
Pemeriksaan saraf kokhlearis
Ketajaman pendengaran. Secara kasar ditentukan dengan menyuruh penderita mendengarkan
suara bisikan pada jarak tertentu dan membandingkannya dengan orang yang normal. Perhatikan
apakah ada perbedaan ketajaman telinga kanan dan kiri. Bila ketajaman pendenganran
berkurang, kita lakukan pemeriksaan Schwabach, rinne, weber dan audiogram.
Tes Schwabach. Pada tes ini pendengaran penderita dibandingkan dengan pendengaran
pemeriksa (yang dianggap normal). Garpu tala dibunyikan kemudian didekatkan dengan telinga
penderita, setelah garpu tala tidak berbunyi lagi, garpu tala ditempatkan dekat telinga pemeriksa.
Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek
(untuk konduksi udara). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada
tulang mastoid penderita. Disuruh ia mendengarkan bunyinya. Bila sudah tidak tedengar lagi,
maka garpu tala ditempatkan pada tulanag mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa masih
mendengarkan bunyinya maka dikatakan bahwa Schwabach (untuk konduksi tulang) lebih
pendek.
Tes Rinne. Padapemeriksaan ini dibandingkan konduksi tulang dengan konduksi udara. Pada
telinga yang normal, konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang. Biasanya digunakan
garpu tala yang berfrekuensi 128, 256 atau 512 Hz. Garpu tala dibunyikan dan pangkalnya
ditekankan pada tulang mastoid penderita. Ia disuruh mendengarkan bunyinya. Bila tidak
terdengar lagi, garpu tala segera diletakkan pada telinga. Jika masih terdengar bunyi, maka
konduksi udara lebih baik dari pada konduksi tulang,hal ini dikatakan Rinne positif. Bila tidak
terdengar lagi bunyi, segera setelah garpu tala dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat telinga,
dikatakan Rinne negatif.
Pemeriksaan saraf vestibularis
Elektronistagmografi. Pada pemeriksaan dengan alat ini diberikan stimulus kalori ke telinga dan
lamanya serta cepatnya nistagmus timbul dapat dicatat pada kertas, menggunakan taknik yang
mirip dengan elektrokardiografi.
Saraf otak IX (nervus glosofaringeus ); Saraf otak X (nervus vagus).
Pemeriksaan

Fungsi motorik. Perhatikan kualitas suara pasien. Apakah suaranya normal? Apakah suaranya
berkurang, serak (disfonia) atau tidak ada sama sekali (Afonia). Untuk ini pasien disuruh
menyebutkan aaaa,pada kelumpuhan nervus X didapatkan disfonia. Kemudian disuruh
mengucapkan kata-kata, misalnya ari lari di lorong-lorong lurus. Perhatikan apakah
pengucapan dilakukan dengan baik. Kelumpuhan saraf otot-otot ini ( Nervus V,VII,IX,X dan
XII ) mengakibatkan penderita tidak mampu mengucapkan kata dengan baik disebut disartria.
Penderita disuruh memakan makanan padat, lunak dan menelan air. Perhatikan apakah ada salah
telan (keselek, disfagia). Kelumpuhan Nervus IX dan X dapat menyebabkan disfagia.
Penderita disuruh membuka mulut. perhatikan palatum molle dan faring. Bagaimana sikap
palatum molle, arkus faring dan uvula dalam keadaan istirahat, dan bagaimana pula bila bergerak
misalnya waktu bernafas atau bersuara.
Fungsi autonom. Nervus Vagus merupakan inhibitor dari jantung; paralisis menyebabkan
takikardia sedang iritasi menyebabkan bradikardia. Oleh karena itu pemeriksaan N X diperiksa
frekuensi nadi pasien
Saraf otak XI ( Nervus Aksesorius )
Pemeriksaan
Pemeriksaan otot sternokleidomastoideus. Perhatikan keadaan otot sternokleidomastoideus
dalam keadaan istirahat dan bergerak. Dalam keadaan istirahat kita dapat melihat kontur otot ini,
bila terdapat pareses perifer kita akan melihat adanya atrifi, adanya nyeri tekan dan atoni dapat
ditentukan dengan mempalpasi otot tersebut. Untuk menentukan dan mengukur kekuatan otot
dapat dilakukan 2 cara, yaitu:
1. Pasien disuruh menggerakkan bagian badan (persediaan) yang digerakkan oleh otot yang
ingin kita periksa, dan kita tahan gerakan ini.
2. Kita gerakkan bagian badan pasien dan disuruh ia menahannya. Dengan demikian kita
mendapat kesan mengenai kekuatan otot.
Didalam klinik cara 1 sering dilakukan. Untuk mengukur kekuatan tenaga otot
sternokleidomastoideus dapat dilakukan hal berikut : pasien disuruh menoleh misalnya ke kanan.
Gerakan ini kita tahan dengan tangan kita ditempatkan di dagu. Dengan demikian dapat dinilai
kekuatan otot sternokleidomastoideus kiri.
Pemeriksaan otot trapezius. Perhatikan keadaan otot trapezius dalam keadaan istirahat dan
bergerak. Apakah ada atrofi atau fasikulasi? Bagaimana kontur otot? Bagaimana posisi bahu,
apakah lebih rendah? Pada kelumpuhan otot trapezius bahu sisi yang sakit lebih rendah daripada
bahu yang sehat. Skapula juga beranjak ke lateral dan tampak agak menonjol. Selain itu otot
trapezius ini perlu di palpasi untuk mengetahui konsistensinya, adanya nyeri tekan serta adanya
hipotoni.
Tenaga otot ini diperiksa sbb : tempatkan tangan kita diatas bahu penderita. Kemuadian penderita
disuruh mengangkat bahunya dan kita tahan. Dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot. Pada
saat ini juga dapat dilihat kontur otot dan perkembangan otot. Untuk memeriksa kedua otot
trapezius, penderita disuruh mengekstensikan kepalanya dan gerakan ini kita tahan. Jika terdapat
kelumpuhan otot trapezius satu sisi, kepala tidak dapat ditarik ke posisi tersebut, bahutidak dapat

diangkat dan lengan tidak dapat dielevasi ke atas dari posisi horisontal. Keda kelumpuhan kedua
otot ini kepala cenderung jatuh ke depan, dan penderita tidak dapat mengangkat dagunya.
Saraf otak XII (nervus hipoglosus)
Pemeriksan
Inspeksi : suruh penderita membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istirahat dan
bergerak. Dalam keadaan istirahat kita perhatikan besarnya lidah, kesamaan bagian kiri dan
kanan, dan adanya atrofi. Apakah lidah berkerut? Pada lesi perifer didapatkan atrofi dan lidah
berkerut. Selain itu apakah sikap lidah mencong?bila lidah digerakkan atau dijulurkan,
perhatikan apakah julurannya mencong. Pada parese satu sisi, lidah dijulurkan mencong kesisi
yang lumpuh. Pada lesi nervus VII kita dapat menemukan kesukaran dalam menetukan apakah
lidah dijulurkan secara mencong. Hal ini disebabkan karena posisi mulut yang mencong pada
kelumpuhan nervus VII. Untuk memepermudah, sudut mulut perlu diangkat, kemuadian baru
disuruh menjulurkan lidah.
Jika terdapat kelumpuhan dua sisi, lidah tidak dapat digerakkan atau dijulurkan. Terdapat
disartria (cadel, pelo) dan kesukaran menelan. Juga didapatkan kesukaran bernafas, karena lidah
dapat terjatuh dibelakang sehingga menghalangi jalan nafas. Untuk menilai tenaga lidah, kita
suruh penderita menggerakkan lidahnya ke segala jurusan dan perhatikan kekuatan geraknya.
Kemudian penderita disuruh menekankan lidahnya ke pipinya. Kita nilai daya letaknya ini
dengan jalan menekankan jari kita pada pipi sebelah luar. Jika terdapat parese bagian lidah
sebelah kiri, lidah tidak dapat ditekankan ke pipi sebelah kanan, tetapi kesebelah kiri dapat.
LI 3 Memahami dan Menjelaskan Stroke
3.1 Definisi
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab
lain selain vaskuler.

3.2 Epidemiologi
Stroke merupakan masalah kesehatan mayor di dunia, menjadi penyebab kematian ketiga setelah
penyakit jantung dan kanker, serta menjadi penyebab kecacatan utama.Belum ada data pasti
stroke di Indonesia, namun riset kesehatan dasar(Riskesdas). Departemen Kesehatan Indonesia
tahun 2007 menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian utama di rumah-rumah
sakit di Indonesia.Prevalensi stroke di India diperkirakan 203 pasien per 100.000 penduduk,
sedangkan di China insidennya 219 per 100.000 penduduk. Kemajuan teknologi kedokteran
berhasil menurunkan angka kematian akibat stroke, namun angka
kecacatan akibat stroke cenderung tetap bahkan meningkat. Diperkirakan terdapat 2 juta
penderita pasca stroke di Amerika dengan biaya perawatan 65,5 miliar dolar pada tahun
2008.Kurang lebih 83% dari seluruh kejadian stroke berupa stroke iskemik, dan kurang lebih

51% stroke disebabkan oleh trombosis arteri, yaitu pembentukan bekuan darah dalam arteri
serebral akibat proses aterosklerosis.
Pada 1053 kasus stroke di 5 rumah sakit di Yogya-karta angka kematian tercatat sebesar 28.3%;
sedangkan pada 780 kasus stroke iskemik adalah 20,4%, lebih banyak pada laki-laki. Mortalitas
pasien stroke di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta men-duduki peringkat ketiga setelah penyakit
jantung koroner dan kanker, 51,58% akibat stroke hemo-ragik, 47,37% akibat stroke iskemik,
dan 1,05% akibat perdarahan subaraknoid (Lamsudin, 1998).
Penelitian prospektif tahun 1996/1997 mendapatkan 2.065 pasien stroke dari 28 rumah sakit di
Indonesia (Misbach, 2000). Survei Departemen Kesehatan RI pada 987.205 subjek dari 258.366
rumah tangga di 33 propinsi mendapatkan bahwa stroke merupa-kan penyebab kematian utama
pada usia > 45 tahun (15,4% dari seluruh kematian). Prevalensi stroke rata-rata adalah 0,8%,
tertinggi 1,66% di Nangroe Aceh Darussalam dan terendah 0,38% di Papua (RISKESDAS,
2007).
Di Unit Stroke RSUP Dr Sardjito, sejak berdirinya pada tahun 2004, terlihat peningkatan jumlah
kasus terutama stroke iskemik akut (Tabel 1). (Laporan Tahunan Unit Stroke, 2009).

No

Tahun
Iskemik

Jenis patologi stroke


%
Perdarahan

Jumlah
%

2004

229

78,97

61

21,03

290

2005

291

78,44

80

21,56

371

2006

307

72,38

117

27,59

424

2007

305

74,93

102

25,07

407

2008

358

70,61

149

29,39

507

2009

355

70,00

152

30,00

507

3.3 Etiologi
1.Non modifiable risk factors :
Usia
Jenis kelamin

Berat badan lahir rendah


Ras/etnis
genetik
2.Modifiable risk factors

Well-documented and modifiable risk factors


1.Hipertensi
2.Paparan asap rokok
3.Diabetes
4.Atrial fibrilasi dan beberapa kondisi jantung tertentu
5.Dislipidemia
6.Stenosis arteri karotis
7.Sickle cell disease
8.Terapi hormonal pasca menopause
9.Diet yang buruk
10.Inaktivitas fisik
11.Obesitas

Less well-documented and modifiable risk factors


1.Sindroma metabolik
2.Penyalahgunaan alkohol
3.Penggunaan kontrasepsi oral
4.Sleep-disordered breathing
5.Nyeri kepala migren

6.Hiperhomosisteinemia
7.Peningkatan lipoprotein (a)
8.Peningkatan lipoprotein-associated phospholipase
9.Hypercoagulability
10.Inflamasi
11.Infeksi

3.4 Klasifikasi
Stroke diklasifikasikan sebagai berikut :
2. Berdasarkan kelainan patologis
a. Stroke hemoragik
1. Perdarahan intra serebral
2. Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid)
b. Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan)
1. Stroke akibat trombosis serebri
2. Emboli serebri
3. Hipoperfusi sistemik
3. Berdasarkan waktu terjadinya
a. Transient Ischemic Attack (TIA)
b. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
c. Stroke In Evolution (SIE) / Progressing Stroke
d. Completed stroke
4. Berdasarkan lokasi lesi vaskuler

a. Sistem karotis

Motorik : hemiparese kontralateral, disartria

Sensorik : hemihipestesi kontralateral, parestesia

Gangguan visual : hemianopsia homonim kontralateral, amaurosis fugaks

Gangguan fungsi luhur : afasia, agnosia

b. Sistem vertebrobasiler

Motorik : hemiparese alternans, disartria

Sensorik : hemihipestesi alternans, parestesia

Gangguan lain : gangguan keseimbangan, vertigo, diplopia

3.5 Patofisiologi
Patofisiologi stroke dapat dibedakan atas
1. Patofisiologi Stroke Ischemic
Stroke iskemik terjadi oleh karena adanya perubahan aliran darah di otak, dimana terjadi
penurunan aliran darah secara signifikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aliran
darah di otak, antara lain :
a. Keadaan pembuluh darah, dapat menyempit akibat aterosklerosis atau tersumbat oleh
trombus atau embolus.
b. Keadaan darah : viskositas darah yang meningkat dan hematokrit yang meningkat
menyebabkan aliran darah ke otak lebih lambat, anemia yang berat menyebabkan
oksigenasi otak menurun.
c. Tekanan darah sistemik memegang peranan terhadap tekanan perfusi otak.
d. Kelainan jantung : menyebabkan menurunnya curah jantung serta lepasnya embolus yang
menimbulkan iskemia otak. Sebagai akibat dari menurunnya aliran darah ke sebagian
otak tertentu, maka akan terjadi serangkaian proses patologik pada daerah iskemik.
Perubahan ini dimulai ditingkat seluler, berupa perubahan fungsi dan struktur sel yang
diikuti dengan kerusakan pada fungsi utama serta integritas fisik dari susunan sel,
selanjutnya akan berakhir dengankematian neuron

Mekanisme Atherosklerosis

Deposit lemak (atheroma) atau plak akan merusak dinding arteri sehingga terjadi
penyempitan dan pengerasan yang menyebabkan berkurangnya fungsi pada
jaringan yang disuplai oleh arteri tersebut. Berulangnya kerusakan dinding arteri
akan membentuk bekuan darah yang disebut thrombus. Pada proses ini akan
terjadi penurunan aliran darah lebih lanjut. Pada beberapa kasus thrombus akan
membesar dan menutup lumen arteri, atau thrombus dapat lepas dan membentuk
emboli yang akan mengikuti aliran darah dan menyumbat arteri di daerah
lain.Ateroma sering ditemukan pada arang tua, akan tetapi proses
pembentukannya telah terjadi sejak masa kanak-kanak hingga dewasa
muda.Proses tersebut terus berlangsung tanpa menimbulkan gejala selama 20-30
tahun. Ateroma biasanya terjadi pada arteri yang berukuran besar (arkus aorta)
dan arteri yang berlekuk-lekuk (karotis), serta arteri basilaris. Proses tersebut
dimulai dengan adanya kerusakan jaringan. Penyebab kerusakan pada endotel,
baik perubahan struktural ataupun perubahanfungsional, akibat adanya faktorfaktor seperti hiperkolesterolemia kronis,atau adanyadisfungsi akibat toksin atau
zat-zat lain. Kerusakan endotel tersebut menyebabkan perubahan permeabilitas
endotel, perubahan sel-sel endotel atau perubahan hubungan antara sel endotel
dan jaringan ikat dibawahnya, sehingga daya aliran darah didalamnya dapat
menyebabkan pelepasan sel endotel.Proses terjadinya plak atherosclerosis:
-

Akumulasi Lipoprotein Pada Tunika IntimaLipoprotein yang tertimbun


terutama adalah LDL dan VLDL. Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan
merokok, makan dengan kolesterol tinggi dan jarang berolahraga.Lipid
akan masuk kedalam pembuluh darah melalui transport aktif dan pasif.

Stress OksidatifTimbunan VLDL dan LDL akan dioksidasi karena


pembuluh darahnya mengalami jejas akibat hipertensi kronis atau pajanan
dengan zat toksin lainnya.

Aktivasi SitokinStress aksidatif akan menimbulkan reaksi inflamasi. Selsel radang melepaskan mediator proinflamasi berupa sitokin, misalnya IL2, TNF (Tumor Necrosis Factor).

Penetrasi Monosit Sel-sel radang juga akan menghasilkan Monocyte


Chemotactic Factor sehingga monosit akan masuk sampai dasar tunika
intima dan kemudian berubah menjadi makrofag.

Migrasi Makrofag dan Pembentukan Foam Cell. Makrofag bermigrasi


sambil memfagosit LDL yang tertimbun dan terbentuklah sel foam/sel
sabun.

Migrasi Smooth Muscle Cells(SMCs)Beberapa tahun kemudian proses


tersebut berlanjut dengan terjadinya sel-sel otot polos arteri dari tunika
adventisia ke tunika intima yang meimbulkan akumulasi matriks akibat

adanya pelepasan Platelet Derived Growth Factor (PDGF) oleh makrofag,


sel endotel, dan trombosit.
-

Akumulasi Matriks Ekstra SelMatriks ekstra sel misalnya serabut-serabut


hialin, kolagen, elastin, dan fibrosa. Matriks ini diprosuksi oleh SMCs.

Kalsifikasi dan Fibrosissel-sel otot polos tersebut yang kontraktifakan


berproliferasi dan akan berubah menjadi fibrosis. Makrofag,sel endotel,
sel otot polos maupun limfosit T (terdapat pada stadium awal
plakaterosklerosis) akan mengeluarkan sitokines yang
memperkuatinteraksi antara sel-sel tersebut. Adanya penimbunan
kolesterol intra dan eksta seluler disertaiadanya fibrosis maka akan
terbentuk plak fibrolipid. Pada inti dariplak tersebut,sel-sel lemak dan
lainnya akan menjadi nekrosis dan terjadi kalsifikasi. Plak ini akan
menginvasi dan menyebar kedalam tunika media dinding pembuluh
darah,Degenerasi dan perdarahan pada pembuluh darah yang mengalami
sklerosis (akibat pecahnya pembuluh darah vasa vasorum) akan
menyebabkankerusakan endotel pembuluh darah. Hal ini akan terjadi
perangsangan adhesi,aktifasi dan agregasi trombosit, yang mengawali
koagulasi darah dan trombosis.Trombosit akan terangsang dan menempel
pada endotel yang rusak, sehinggaterbentuk plak aterotrombotik yang
akan menyebabkan penyempitan (oklusi) arteri yang menyebabkan
stenosis arteri dan diameter menjadi berkurang dan menimbulkan
ischemic.

2. Patofisiologi Stroke Hemorhragic


Gambaran patologik pada otak menunjukkan ekstravasasi darah karena robeknya pembuluh
darah otak diikuti pembentukan edema dalam jaringan otak disekitar hematom. Akibatnya
terjadi diskontuinitas jaringan dan kompresi oleh hematom dan edema pada struktur sekitar
(termasuk pembuluh darah otak) dan menyempitkannya, sehingga terjadi pula iskemi pada
jaringan yang dilayaninya. Gejala klinis yang timbul bersumber dari destruksi jaringan otak,
kompresi pembuluh darah otak dan akibat kompresi pada jaringan otak lainnya
3.6 Manifestasi
Stroke Iskemik
Berikut ini adalah manifestasi klinis stroke berdasarkan lokasi penyumbatan
1 Pembuluh besar dalam sirkulasi anterior
a Arteri cerebri media
Sumbatan total :

Contralateral hemiplegia, hemianasthesia, homonymous hemianopia, pandangan


cenderung pada sisi ipsilateral. Dapat pula terjadi global aphasia pada hemisphere
yang dominan dan ansognosia, constructional aphasia, dysarthria pada hemisphere
non dominan.
Sumbatan partial :
Lemah tangan / lengan atau lemah wajah dengan aphasia broca dengan atau tanpa
kelemahan lengan. Ataupun dapat terjadi aphasia wernicke tanpa kelemahan.
b Arteri cerebri anterior
Respons motorik dan verbal menurun, paraparesis, dan inkontinensia urin.
c Arteri choroid anterior
Hemiplegia contralateral, hemianasthesia, homonymous hemianopia.
d Arteri carotis interna
Gejala mirip dengan gejala pada arteri cerebri media, namun juga terdapat transient
monocular blindness.
e. Arteri carotis communis
Gejala sama dengan pada carotis interna.
2

Pembuluh darah besar dalam sirkulasi posterior


a Arteri cerebri posterior
Infark pada lesi lateral subthalamus, thalamus medial, ipsilateral pedunculus cerebral, dan
midbrain. Dapat pula terjadi palsy N. III dengan ataxia contralateral atau hemiplegia
contralateral.
Penyumbatan pada bagian distal arteri ini mengakibatkan infark pada temporal medial
dan occipital, yang kemudian menyebabkan contralateral homonymous hemianopia,
gangguan ingatan apabila hippocampus terlibat. Infark pada splenium corpus callosum
menyebabkan alexia tanpa agraphia.
b Arteri vertebral dan cerebri posterior inferior
Vertigo, kaku wajah ipsilateral dan badan kontralateral, diplopia, hoarseness, dysarthria,
dysphagia, Wallenbergs syndrome.
Infark cerebral dan edema dapat mengakibatkan respiratory arrest.
c Arteri basilaris
Gejala pusing (dizziness), diplopia, dysarthria, kaku wajah, gejala hemisensorik.
d Arteri cerebelli superior
Ataxia cerebellar ipsilateral, mual muntah, dysarthria, rasa kebal kontralateral, tidak
merasakan sensasi suhu pada ekstremitas, badan, dan wajah.
e Arteri cerebelli anterior inferior
Penurunan pendengaran ipsilateral, lemah wajah, vertigo, mual muntah, nystagmus,
tinnitus, cerebellar ataxia, kebal contralateral.

Pembuluh kecil (lacunar stroke)


Gejala dapat berupa hemiparesis motorik, ataxic hemiparesis, dysarthria, dan aphasia broca.

Stroke Hemoragik
1) Perdarahan intraserebral
Perdarahan intraserebral ditemukan pada 10% dari seluruh kasus stroke, terdiri dari 80% di
hemisfer otak dan sisanya di batang otak dan serebelum.3

Gejala klinis :
Onset perdarahan bersifat mendadak, terutama sewaktu melakukan aktivitas dan dapat
didahului oleh gejala prodromal berupa peningkatan tekanan darah yaitu nyeri kepala,
mual,muntah, gangguan memori, bingung, perdarhan retina, dan epistaksis.
Penurunan kesadaran yang berat sampai koma disertai hemiplegia/hemiparese dan dapat
disertai kejang fokal / umum.
Tanda-tanda penekanan batang otak, gejala pupil unilateral, refleks pergerakan bola mata
menghilang dan deserebrasi
Dapat dijumpai tanda-tanda tekanan tinggi intrakranial (TTIK), misalnya papiledema dan
perdarahan subhialoid.
2) Perdarahan subarakhnoid
Perdarahan subarakhnoid adalah suatu keadaan dimana terjadi perdarahan di ruang
subarakhnoid yang timbul secara primer.
Gejala klinis :
Onset penyakit berupa nyeri kepala mendadak seperti meledak, dramatis, berlangsung
dalam 1 2 detik sampai 1 menit.
Vertigo, mual, muntah, banyak keringat, mengigil, mudah terangsang, gelisah dan kejang.
Dapat ditemukan penurunan kesadaran dan kemudian sadar dalam beberapa menit sampai
beberapa jam.
Dijumpai gejala-gejala rangsang meningen
Perdarahan retina berupa perdarahan subhialid merupakan gejala karakteristik perdarahan
subarakhnoid.
Gangguan fungsi otonom berupa bradikardi atau takikardi, hipotensi atau hipertensi,
banyak keringat, suhu badan meningkat, atau gangguan pernafasan
Gejala klinis

PIS

PSA

Non hemoragik

Defisit fokal
Onset

Berat
Menit/jam

Ringan
1-2 menit

Berat ringan
Pelan (jam/hari)

Nyeri kepala

Hebat

Sangat hebat

Ringan

Muntah pada
awalnya
Hipertensi

Sering

Sering

Hampir selalu

Biasanya tidak

Tidak, kec lesi di batang


otak
Sering kali

Ada

Ada

Tidak ada

Jarang

Ada

Tidak ada

Sering dari
awal
Bisa ada

Permulaan tidak
ada
Jarang

Sering dari awal

Likuor

Berdarah

Berdarah

Jernih

Paresis/gangguan
N III

Tidak ada

Bisa ada

Tidak ada

Penurunan
kesadaran
Kaku kuduk
Hemiparesis
Gangguan bicara

Sering

3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding


Sebagian besar pasien stroke dan TIA dating pertama kali ke klinik umum atau dokter umum.
Dari 79% pasien dan 88% pasien stroke, dapat dievaluasi serangan stroke secara tepat pada saat
gejala muncul, tetapi hanya 6% dari pasientersebut yang dirujuk ke rumah sakit untuk evaluasi
(rawat inap) dan penangan lainnya. Keadaan klinis pasien, gejala dan riwayat perkembangan
geala dan deficit yang terjadi merupakan hal penting dan dapat menuntun dokter untuk
menentukan kausa yang paling mungkin dari stroke.
Anamnesis
Anamnesa yang cermat sangat membantu untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Beberapa hal
yang perlu ditanyakan pada penderita stroke adalah :
1. Harus ditanyakan bagaimana permulaan, apakah sangat akut (mendadak) sehingga dalam
beberapa detik penderita jatuh tidak sadar, atau terjadi subakut dalam beberapa jam. Yang
terakhir biasanya suatu infak.
2. Harus ditanya apakah pada permulaan serangan penderita baru bangun, ataukah serangan
pertama terjadi sewaktu penderita baru marah, baru makan, atau melakukan aktivitas lain.
Yang terakhir biasanya suatu perdarahan atau emboli.
3. Bagaimana selanjutnya perjalanan gejala ; apakah gejala bertambah buruk, ataukah
gejala-gejala semakin berkurang.
4. Berapa kali serangan telah dialami penderita. Pada infark, kadang-kadang sebelumnya
telah terjadi serangan, yang setelah jam sembuh (TIA), kemudian terjadi lagi serangan
baru, yang sembuh lagi, dst. Tiap serangan bertambah berat.
5. Harus ditanya apakah terjadi nyeri kepala sebelum atau selama serangan.
6. Juga harus ditanya apakah penderita mual dan muntah (sering pada suatu perdarahan).
7. Juga harus ditanya kejang (sering pada suatu perdarahan).
8. Apakah intelek penderita akhir-akhir ini mundur.
9. Apakah kesadaran penderita berkurang.
10. Apakah penderita dapat berbicara dan menulis.
11. Apakah ia lumpuh.
12. Apakah separuh dari badan geringgingan.
13. Apakah terdapat gangguan penglihatan.
14. Apakah perderita sering pusing hingga ia jatuh.
15. Apakah terdapat penyakit sebelumnya seperti diabetes, hipertensi, atau anemi.
16. Apakah sebelum timbul gejala penderita minus obat-obatan (antidiabetes, antihipertensi).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Penunjang
a

CT-scan
CT-scan merupakan alat pencitraan yang dipakai pada kasus-kasus emergensi seperti
emboli paru, diseksi aorta, akut abdomen, semua jenis trauma dan menentukan tingkatan
dalam stroke. Pada kasus stroke, CT-scan dapat menentukan dan memisahkan antara jaringan
otak yang infark dan daerah penumbra. Selain itu, alat ini bagus juga untuk menilai
kalsifikasi jaringan. Berdasarkan beberapa studi terakhir, CT-scan dapat mendeteksi lebih
dari 90 % kasus stroke iskemik, dan menjadi baku emas dalam diagnosis stroke.
Pemeriksaan CT Imaging -- Infark pada stroke akut
Infarc : area hypodense focal, pada cortical, sub cortical.
Hemoragik : bayangan hyperdense pada gray / white matter, hematoma yang solid.
Bayangan hyperdense pada arteri intrakanial mayor ; material emboli vaskular. (lihat
pada lampiran )
Resiko CT scan
Pemeriksaan ini memiliki efek samping yang kecil dan tidak menyebabkan nyeri. CT scan
menggunakan radiasi sinar-X yang sedikit. Jika menerima zat kontras akan menimbulkan
reaksi alergi. Reaksi alergi ini bisa serius dan membutuhkan tindakan medikasi segera.

Normal

stroke(tanda-tanda perdarahan (warna


putih/hiperdens)
atau tanda iskemia/infark
(warna menurun/hipodens)

khas pada strok non-hemoragik


b Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI menggunakan medan magnet untuk mendeteksi perubahan isi jaringan otak. Stroke dapat
mengakibatkan penumpukan cairan pada sel jaringan otak segera 30 menit setelah terjadi
serangan. Dengan efek visualisasi (MRI angiogram ) dapat pula memperlihatkan aliran darah di
otak dengan jelas.
Pemeriksaan MRI -- Infark pada stroke akut
akut : Low signal ( hypointense ) pada area T1, high signal ( hyperintense ) pada spin
density dan/atau T2. Biasanya diikuti distribusi vascular. Massa parenkim berubah.
sub akut : Low signal pada T1 , high signal pada T2 . Diikuti distribusi vascular.
Revaskularisasi dan rusaknya blood-brain barrier .
Old : Low signal pada T1 , high signal pada T2, kehilangan jaringan dengan infark yang luas.
c

Computerized tomography dengan angiography: Menggunakan dye yang disuntikan


kedalam suatu vena di tangan, gambar-gambar dari pembuluh-pembukuh darah didalam otak
dapat memberikan informasi tentang aneurysms atau arteriovenous malformations. Begitu
juga, kelainan-kelainan lain dari aliran darah otak mungkin dievaluasi. Dengan peningkatan
teknologi yang canggih, CT angiography telah menggantikan angiogram-angiogram
konvensional.
Angiogram Konvensional: Suatu angiogram adalah tes lain yang adakalanya digunakan
untuk melihat pembuluh-pembuluh darah. Suatu tabung kateter yang panjang dimasukkan
kedalam suatu arteri (biasanya di area pangkal paha) dan dye disuntikan ketika x-rays secara
simultan diambil. Dimana suatu angiogram memberikan beberapa dari gambar-gambar yang
paling detil dari anatomi pembuluh darah, ia juga adalah suatu prosedur invasif dan
digunakan hanya ketika diperlukan secara mutlak. Contohnya, suatu angiogram dilakukan
setelah suatu hemorrhage ketika sumber perdarahan yang tepat perlu diidentifikasi. Ia juga
adakalanya dilaksanakan untuk secara akurat mengevaluasi kondisi dari suatu arteri karotid
ketika operasi untuk membuka halangan pembuluh darah itu direnungkan.
Carotid Doppler ultrasound: Suatu carotid Doppler ultrasound adalah suatu metode noninvasif yang menggunakan gelombang-gelombang suara untuk menyaring/melihat
penyempitan-penyempitan dan pengurangan aliran darah pada arteri karotid (arteri utama
pada leher yang mensuplai darah ke otak).
Tes-Tes Jantung: Tes-tes tertentu untuk mengevaluasi fungsi jantung seringkali dilaksanakan
pada pasien-pasien stroke untk mencari sumber dari suatu embolism. Suatu echocardiogram

adalah suatu tes gelombang suara yang dilakukan dengan meletakkan alat microphone pada
dada atau menuruni kerongkongan (transesophageal echocardiogram) dalam rangka untuk
melihat kamar-kamar jantung. Suatu monitor Holter adalah serupa dengan suatu
electrocardiogram (EKG) reguler, namun penempel-penempel electrode tetap pada dada
untuk 24 jam atau lebih lama dalam rangka untuk mengidentifikasi suatu irama jantung
yang salah/cacat.
Tes-Tes Darah: Tes-tes darah seperti suatu angka pengendapan (sedimentation rate) dan Creactive protein dilakukan untuk mencari tanda-tanda dari peradangan yang dapat
menyarankan arteri-arteri yang meradang. Protein-protein darah tertentu yang dapat
meningkatkan kesempatan stroke dengan menebalkan atau mengentalkan darah diukur. Testes ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab stroke yang dapat dirawat
atau untuk membantu mencegah luka yang lebih jauh. Tes-tes penyaringan darah yang
mencari infeksi yang potensial, anemia, fungsi ginjal, dan kelainan-kelainan elektrolit
mungkin juga dipertimbangkan.

Diagnosis
Stroke didiagnosis berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologis. Diagnosis
baku emas (gold standard) adalah dengan menggunakan CT scan untuk membedakan infark
dengan perdarahan dan MRI lebih sensitive dari CT scan dalam mendeteksi infark serebri dan
infark batang otak, namun tidak semua rumah sakit memiliki alat tersebut di Indonesia sendiri
alat tersebut masih jarang. Untuk itu ada suatu Algoritma Gadjah Mada yang dapat dipakai untuk
membedakan Stroke Hemorrhagic Intraserebral dengan Stroke Ischemic/Infark. Sensitivitas
algoritma tersebut sebesar 95% dan dapat dipakai sebagai tes diagnostic alternative bila CT scan
atau MRI tidak terdapat di rumah sakit.
Diagnosis Banding
Gejala neurologis fokal yang terjadi mendadak seperti pada stroke memiliki diagnosisbanding
yang luas, seperti:
3. Penyakit sistemik atau kejang, yang menyebabkan perburukan stroke yang pernahdialami
4. Kejang epileptik atau kejang non konvulsif
5. Lesi struktural intracranial: hematoma subdural, tumor otak, MAV4) Ensefalopati
metabolic/toksik: hipoglikemia, hiperglikemia non-ketotik, hiponatremia, WernickeKorsakoff syndrome, ensefalopati hepatic, intoksikasi obat dan alkohol,septikemia.
6. Fungsional/non-neurologis
7. Migren hemiplegik
8. Ensefalitis atau abses otak
9. Cedera kepala
10. Lesi saraf perifer
11. Hypertensive encephalophaty
12. Multiple sclerosis
13. Penyakit Creutzfeldt-Jakob
14. Penyakit Wilsons

3.7 Penatalaksanaan
Pengobatan Umum
Untuk pengobatan umum ini dipakai patokan 5 B yaitu:
1 Breathing
Harus dijaga agar jalan nafas bebas dan fungsi paru-paru baik. Pengobatan dengan oksigen
hanya perlu bila kadar oksigen darah berkurang.
2 Brain
Udem otak dan kejang-kejang harus dicegah dan diatasi. Bila terjadi udem otak, dapat dilihat
dari keadaan pasien yang mengantuk, adanya bradikardi atau dengan pemeriksaan
funduskopi, dapat diberikan manitol. Untuk mengatasi kejang-kejang yang timbul dapat
diberikan Diphenylhydantoin atau Carbamazepin.
3 Blood
Tekanan darah dijaga agar tetap cukup tinggi untuk mengalirkan darah ke otak. Pengobatan
hipertensi pada fase akut dapat mengurangi tekanan perfusi yang justru akan menambah
iskemik lagi.
Kadar Hb dan glukosa harus dijaga cukup baik untuk metabolisme otak. Pemberian infus
glukosa harus dicegah karena akan menambah terjadinya asidosis di daerah infark yang akan
mempermudah terjadinya udem. Keseimbangan elektrolit harus dijaga.
4 Bowel
Defekasi dan nutrisi harus diperhatikan. Hindari terjadinya obstipasi karena akan membuat
pasien gelisah. Nutrisi harus cukup. Bila perlu diberikan nasogastric tube (NGT).
5 Bladder
Miksi dan balance cairan harus diperhatikan. Jangan sampai terjadi retentio urin.
Pemasangan kateter jika terjadi inkontinensia.
Perawatan suportif
1. Pelihara oksigenasi jaringan secara adekuat; membutuhkan bantuan saluran napas dan
ventilasi. Cek aspirasi pneumonia yang mungkin terjadi.
2. Tekanan darah; pada kebanyakan kasus, tekanan darah tidak boleh diturunkan secara
cepat. Jika terlalu tinggi, menurunkan tekanan darah secara berhati-hati, karena status
neurologis dapat bertambah buruk ketika tekanan darah diturunkan.
3. Status volume darah; koreksi hipovolemia dan elektrolit-elektrolit tetap pada batas
normal.
4. Demam; harus dicari sumber dari demam dan diturunkan dengan anti piretik yang sesuai.
5. Hypoglycemia/dan atau hyperglycemia; harus dijaga dengan kontrol yang ketat.
Hiperglikemia dapat bertambah buruk pada cedera iskemik.
6. Profilaksis DVT; stroke dengan pasien yang mempunyai risiko tinggi untuk DVT.
Penting untuk menggunakan heparin subcutan 5,000 IU q. 8 atau 12 jam atau subkutan
enoksaparin 30 mg q. 12 jam pada ambulasi awal.
a Penatalaksanaan Stroke Hemoragik
1. Singkirkan kemungkinan koagulopati. Pastikan hasil masa protrombin dan masa
tromboplastin parsial adalah normal. Jika masa protrombin memanjang, berikan plasma
beku segar (FFP) 4-8 unit intravena setiap 4 jam dan vitamin K 15 mg intravena bolus,
kemudian 3 kali sehari 15 mg subkutan sampai masa protrombin normal. Koreksi

2.

3.

4.
5.
6.
7.
8.

antikoagulasi heparin dengan protamin sulfat 10-50 mg bolus lambat (1 mg mengoreksi


100 unit heparin).
Kendalikan HT. Tekanan yang tinggi bisa menyebabkan perburukan perihematom.
Tekanan darah sisitolik >180mmHg dengan labetalol (20 mg intravena dalam 2 menit
ulangi 40-80 mg intravena dalam interval 10 menit sampai tekanan yang diinginkan
kemudian infus 2 mg/menit dan dirasi atau penghambat ACE 12,5 mg-25 mg, 2-3 kali
sehari atau antagonis kalsium (nifedipin oral 4x 10 mg).
Pertimbangkan bedah saraf apabila perdarahan serebelum diameter lebih dari 3 cm atau
volum lebih dari 50 ml. Pemasangan ventrikulo-peritoneal bila ada hidroefalus obstruktif
akut atau kliping aneurisma.
Pertimbangkan angiografi untuk menyingkirkan aneurisma/malformasi arteriovenosa.
Berikan manitol 20% (1 mg/kg BB intravena dalan 20-30 menit). Steroid tidak terbukti
efektif pada perdarahan intraserebral.
Pertimbangkan fenitoin (10-20 mg/kg BB intravena atau peroral). Pada umumnya anti
konvulsan diberikan bila terdapat kejang.
Pertimbangkan terapi hipervolemik dan nimodipin untuk mencegah vasospasme.
Untuk mengatasi perdarahan intracerebral : obati penyebabnya, turunkan TIK, beri
neuroprotektor, tindakan bedah dengan pertimbangan GCS >4 dilakukan pada pasien
dengan perdarahan serebelum > 3cm, hidrosefalus akibat perdarahan intraventrikel atau
serebelum, perdarahan lobar diatas 60 cc dengan tanda peningkatan TIK akut dan
encaman herniasi.

Pada TIK yang meninggi :


a. Manitol bolus, 1 gr/kgBB dalam 20-30 menit lanjutkan dengan 0,25-0,5g/kgBB tiap 6
jam smpai maksimal 48 jam.
b. Gliserol 50% oral, 0,25-1 gr/kgBB setiap 4-6 jam atau gliserol 10% intravena 10
ml/kgBB dalam 3-4 jam (untuk edema serebri ringan-sedang).
c. Furosemid 1mg/ kg BB intravena.
d. Intubasi dan hiperventilasi terkontrol sampai pCO2 29-35 mmHg
e. Penggunaan steroid masih kontroversial.
f. Kraniotomi dekompresif.
Perdarahan subaraknoid
o Nimodipin digunakan untuk mencegah vasospasme.
o Tindakan operasi dapat dilakukan pada perdarahan subaraknoid stadium I dan II
akibat pecahnya aneurisma sakular berry dan adanya komplikasi hidrosefalus
obstruktif.
b

Penatalaksanaan Stroke Non-Hemoragik

Tujuan terapi:
1 Pencegahan stroke melalui reduksi faktor risiko.
2 Pencegahan sejak awal atau pada stroke yang rekuren dengan memodifikasi proses patologik
mendasar.

Mereduksi kerusakan otak sekunder dengan pemeliharaan perfusi yang adekuat pada daerah
yang secara garis besar mengalami iskemik dengan mengurangi dan atau menurunkan edema.

Penanganan dari Serangan Iskemia Akut


1 Mengeleminasi atau mengontrol faktor-faktor risiko.
2 Memberi edukasi pada pasien mengenai pengurangan faktor risiko dan tanda serta gejalagejala dari TIA dan stroke ringan.
3 Intervensi-Bedah
Endarterektomi karotis ( Cea)
Pengeluaran plak ateromatosa dengan cara bedah.
Pasien yang direservasi untuk pengeluaran bekuan atau lesi berulserasi yang mengoklusi
> 70% dari aliran darah pada arteri karotis.
Dapat menurunkan risiko dari strok > 60% selama tahun keduanya setelah dioperasi dan
wajib mengikuti mengikuti prosedur.
Endarterektomi vertebra umumnya tidak lagi digunakan.
a

Angioplasti balon
Menempatkan suatu balon kecil yang dideflasikan pada pembuluh darah yang yang
mengalami stenose Balon kemudian dipompakan menekan plak ateromatosa ke arah
dinding. Mempunyai risiko melepasnya emboli kecil yang dapat berpindah ke retina atau
otak.
Penempatan Sten
Prosedur eksperimental; > 50-60% mengalami kekambuhan. Menempatkan suatu coil
baja tahan-karat kedalam pembuluh darah yang kemudian difiksasi pada salah satu
dinding dari arteri; saat ini coil ditambahkan dengan obat-obatan slow-release.

Agen-agen antiplatelet

Aspirin
Mekanisme kerja: a) Menghambat agregasi platelet. b) Menurunkan atau mengurangi pelepasan
substansi vasoaktif dari platelet. c) Menginaktivasi secara irreversibel siklooksigenase-platelet;
dan efeknya cukup berlangsung selama hidup dari platelet; 5-7 hari.
Efikasi
a
b

ASA telah menunjukkan pengurangan yang bermakna secara klinis (22-24%) pada risiko
stroke dan kematian, pada uji-uji klinis acak pasien-pasien yang telah mengalami suatu TIA
sebelumnya atau strok sebagai pencegahan sekunder.
Dosis berkisar dari 50 -1500 mg perhari.
Pada uji klinis terakhir; evaluasi dosis rendah (30-325 mg perhari); hasilnya
mengindikasikan bahwa dosis rendah mungkin lebih bermanfaat dengan berkurangnya
efek-efek tidak diinginkan dari asam salisilat pada lambung.
Pada beberapa studi menyatakan; bahwa ASA lebih efektif pada laki-laki dibanding
sejumlah kecil perempuan pada studi lain.
Peran pada pencegahan primer belum jelas.

Dipiridamol (Persantine)
Mekanisme kerja: a) Inhibitor lemah dari agregasi platelet. b) Sebagai inhibit fosfodiesterase
platelet.
Efikasi: a) Pada uji klinis belum mempunyai bukti yang kuat dalam penggunaan dipiridamol
pada iskemia otak. b) Tidak ada efek aditif yang ditemukan bersama dengan aspirin.
Sulfinpirazon (Anturane)
Mekanisme kerja: Innhibisi reversibel dari siklooksigenase.
Efikasi: Uji klinis belum mempunyai dukungan rekomendasi penggunaan.
Tiklopidin (Ticlid)
Mekanisme Kerja: a) Inhibisi agregasi platelet dan menginduksi ADP. b) Inhibisi agregasi
platelet yang diinduksi oleh kolagen, PAF, epinefrin dan thrombin. c) Waktu perdarahan
diperpanjang. d) Berefek minimal pada siklooksigenase.
Efikasi:
a
b
c
d

Telah menunjukkan dapat mereduksi insidens stroke, kira-kira 22% pada pasien-pasien yang
telah mengalami TIAs sebelumnya atau stroke.
Lebih efektif dibanding aspirin dengan kurangnya efek gastrointestinal.
Tidak ada perbedaan gender yang memperlihatkan tiklopidin bereaksi sama; seperti halnya
dengan ASA.
Dosis 500 mg perhari dibagi menjadi dua dosis (250 mg peroral-bid)

Efek samping: diare, ruam pada kulit, total kolesterol serum yang meningkat.

Antikoagulasi (warfarin)
a
b
c
d

Belum ada studi-studi yang membuktikan superioritas dari antikoagulan ini sebagai agen
antiplatelet.
Dapat mereduksi risiko dari stroke pada pasien dengan infark miokard sebelumnya.
Bermanfaat pada pasien yang menderita keluhan simptomatik pada terapi antiplatelet.
Eksepsi mayor adalah pada pasien dengan embolisme otak yang berasal kardiac;
1 Antikoagulasi kronik dengan warfarin telah dibuktikan untuk mencegah keadaan
gangguan serebrovaskuler pada pasien dengan AF (atrial fibrilasi).
2 Penanganan terhadap stroke infarction /dan atau ischemic serebral akut.

Obat Antihipertensi Pada Stroke

Golongan/Obat
Tiazid
Diazoksid

ACEI
Enalaprit

Mekanisme

Esmolol

Alfa Blocker
Fentolamin

<

Efek Samping

IV bolus: 50100 mg; IV


infus; 15-30
mg/menit

Awitan
menit

ACE inhibitor

0,625-1,25 mg
IV selama 15
menit.

Awitan < 15
menit.

Durasi lama (6
jam), disfungsi
renal.

5 mg/jam IV,
2.5 mg/jam tiap
15 menit,
sampai 15
mg/jam.

Awitan cepat
(1-5 menit),
tidak terjadi
rebound.
Eliminasi tidak
dipengaruhi
oleh disfungsi
hati/ renal,
potensi
interaksi obat
rendah.

Bradikardia,
hipotensi, durasi
lama (4-6 jam).

Antagonis
reseptor 1, 1,
2

10-80 mg IV
tiap 10 menit
sampai 300
mg/hari; infus
0,5-2 mg/menit.

Awitan cepat
(5-10 menit).

Antagonis
selektif reseptor
1.

0,25-0,5 mg/kg
IV bolus disusul
dosis
pemeliharaan.

Antagonis
reseptor 1, 2.

5-20 mg IV.

Vasodilator Langsung
Hidralasin
NO terkait
dengan
mobilisasi
kalsium dalam
otot polos.

Thiopental

Interaksi Obat

Aktivasi ATP
sensitive Kchannels

Calcium Channel Blocker


Nikardipin
Penyekat kanal
Clevidipin
kalsium
Verapamil
Diltiazem

Beta Blocker
Labetalol

Dosis

5 Retensi cairan
dan garam,
hiperglikemia
berat, durasi
lama (1-12 jam).

Bradikardia,
hipoglikemia,
durasi lama (212 jam). Gagal
jantung
kongestif,
Awitan segera, bronkospasme.
durasi singkat < Bradikardia,
gagal jantung
15 menit.
kongestif.
Awitan cepat (2
menit), durasi
singkat (10-15
menit)

2,5-10 mg IV
bolus (sampai
40 mg).

Aktivasi reseptor 30-60 mg IV.


GABA

Awitan cepat (2
menit), durasi
singkat (5-10

Takikardia,
aritmia.

Serum sicknesslike, druginduced lupus,


durasi jam (3-4
jam), awitan
lambat (15-30
menit)
Depresi
miokardial

Pengobatan Tumor Otak


Pasien dengan tumor otak memiliki beberapa pilihan pengobatan. Tergantung pada jenis
dan stadium tumor, pasien dapat diobati dengan operasi pembedahan, radioterapi, atau
kemoterapi.
Selain itu, pada setiap tahapan penyakit, pasien harus menjalani pengobatan untuk
mengendalikan rasa nyeri dari kanker, untuk meringankan efek samping dari terapi, dan untuk
meringankan masalah emosional. Jenis pengobatan ini disebut perawatan paliatif.
a. Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya adalah
untuk mengangkat tumornya dan meminimalisir sebisa mungkin peluang kehilangan fungsi
otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan
anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat
sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat sepotong tulang
dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali
bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian
menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang
ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk
meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit
kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat
diberikan obat sakit kepala.
Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi adalah menumpuknya cairan
cerebrospinal di otak yang mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien
diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan
untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung, panjang dan tipis
(shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh,
biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan ke perut. Kadang kadang cairan dialirkan ke
jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan
antibiotic).
Operasi otak dapat merusak jaringan normal. Pasien akan mengalami masalah berpikir,
melihat, atau berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang.
Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang
kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi
kerja.
b. Radiosurgery stereotactic
Merupakan "knifeless" yang lebih baru untuk menghancurkan tumor otak tanpa membuka
tengkorak. CT scan atau MRI digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak.
Energi radiasi tingkat tinggi diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan
tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau akselerator linier
dengan foton, ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan komplikasi pada
pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample

jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta pembengkakan otak yang
dapat terjadi setelah radioterapi.
Jika tumor terjadi di batang otak (brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah
tidak mungkin dapat mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini
pasien dapat menerima radioterapi atau perawatan lainnya.
c. Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin besar
diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Terkadang radiasi diarahkan ke seluruh otak atau
ke syaraf tulang belakang.
Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel sisa tumor yang
mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai terapi
pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan ukuran tumor serta usia pasien.
Setiap sesi radioterapi biasanya hanya berlangsung beberapa menit.

Beberapa bentuk terapi radiasi


Fraksinasi. Radioterapi biasanya diberikan 5x seminggu selama beberapa minggu. Memberikan
dosis total radiasi secara periodik membantu melindungi jaringan di daerah tumor.
Hyperfractionation. Pasien mendapat dosis kecil radiasi 2/3x kali sehari, bukan jumlah yang
lebih besar sekali sehari.
Efek samping dari radioterapi: perasaan lelah berkepanjangan, mual, muntah, kerontokan
rambut, perubahan warna kulit di tempat radiasi, sakit kepala dan kejang.
Kemoterapi
Kemoterapi merupakan penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau dengan infus intravena ke seluruh tubuh. Obat
obatan biasanya diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode pengobatan dan periode
pemulihan.
Dua jenis obat kemoterapi, yaitu: temozolomide (Temodar) dan bevacizumab (Avastin Lebih
efektif, dan memiliki efek samping lebih sedikit jika dibandingkan dengan obat-obatan kemo
versi lama. Temozolomide memiliki keunggulan lain, yaitu bisa secara oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli bedah biasanya melakukan
operasi pengangkatan tumor dan kemudian melakukan implantasi wafer yang mengandung obat
kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut, melepaskan obat ke otak. Obat tersebut
kemudian membunuh sel kankernya.
Efek samping dari kemoterapi: mual dan muntah, sariawan, kehilangan nafsu makan, rambut
rontok.
3.9 Komplikasi
1

Komplikasi Akut
a. Kenaikan tekanan darah. Keadaan ini biasanya merupakan mekanisme kompensasi
sebagai upaya mengejar kekurangan pasokan darah di tempat lesi. Oleh karena itu kecuali
bila menunjukkan nilai yang sangat tinggi (sistolik > 220/ diastolik >130) tekanan darah
tidak perlu diturunkan, karena akan turun sendiri setelah 48 jam. Pada pasien hipertensi
kronis tekanan darah juga tidak perlu diturunkan segera.

b. Kadar gula darah. Pasien stroke seringkali merupakan pasein DM sehingga kadar glukosa
darah pasca stroke tinggi. Akan tetapi seringkali terjadi kenaikan glukosa darah pasein
sebagai reaksi kompensasi atau akibat mekanisme stress.
c. Gangguan jantung. Baik sebagai penyebab maupun sebagai komplikasi. Keadaan ini
memerlukan perhatian khusus, karena seringkali memperburuk keadaan stroke bahkan
sering merupakan penyebab kematian.
d. Gangguan respirasi. Baik akibat infeksi maupun akibat penekanan di pusat napas.
e. Infeksi dan sepsis. Merupakan komplikasi stroke yang serius pada ginjal dan hati.
f. Gangguan cairan, elektrolit, asam dan basa.
g. Ulcer stres. Yang dapat menyebabkan terjadinya hematemesis dan melena.
2

Komplikasi Kronik
a. Akibat tirah baring lama di tempat tidur bias terjadi pneumonia, dekubitus, inkontinensia
serta berbagai akibat imobilisasi lain.
b. Rekurensi stroke.
c. Gangguan sosial-ekonomi.
d. Gangguan psikologis.

3.10 Prognosis
Indikator prognosis adalah: tipe dan luasnya serangan, age of onset, dan tingkat kesadaran.
Hanya 1/3 pasien bisa kembali pulih setelah serangan stroke iskemik. Umumnya, 1/3-nya lagi
adalah fatal, dan 1/3- nya mengalami kecacatan jangka panjang. Jika pasien mendapat terapi
dengan tepat dalam waktu 3 jam setelah serangan, 33% diantaranya mungkin akan pulih dalam
waktu 3 bulan.
Prognosis pasien dengan stroke hemoragik (perdarahan intrakranial) tergantung pada ukuran
hematoma hematoma > 3 cm umumnya mortalitas tinggi, hematoma yang massive biasanya
bersifat lethal.
Jika infark terjadi pada spinal cord prognosis bervariasi tergantung keparahan gangguan
neurologis jika kontrol motorik dan sensasi nyeri terganggu prognosis buruk.
3.11 Pencegahan
Rekomendasi American Stroke Association (ASA) tentang pencegahan stroke adalah sebagai
berikut:
1

Pencegahan Primer Stroke


Pendekatan pada pencegahan primer adalah mencegah dan mengobati faktor-faktor risiko
yang dapat dimodifikasi.
Hipertensi
Hipertensi harus diobati, untuk mencegah stroke ulang maupun mencegah penyakit
vaskular lainnya. Pengendalian hipertensi ini sangat penting artinya bagi para penderita
stroke iskemik dan TIA. Target absolut dalam hal penurunan tekanan darah belum dapat
ditetapkan, yang penting adalah bahwa tekanan darah < 120 / 80 mm Hg. Modifikasi
berbagai macam gaya hidup berpengaruh terhadap upaya penurunan tekanan darah secara
komprehensif.

Obatobat yang dianjurkan adalah diuretika dan ACE inhibitor; namun demikian
pilihan obat disesuaikan dengan kondisi / karakteristik masingmasing individu.
Diabetes melitus
Pada penderita diabetes melitus maka penurunan tekanan darah dan lipid darah perlu
memperoleh perhatian yang lebih serius. Dalam kasus demikian ini maka obat
antihipertensi dapat lebih dari 1 macam. ACE inhibitor merupakan obat pilihan untuk
kasus gangguan ginjal dan diabetes melitus
Pada penderita stroke iskemik dan TIA, pengendalian kadar gula direkomendasikan
sampai dengan mendekati kadar gula plasma normal (normoglycemic), untuk mengurangi
komplikasi mikrovaskular dan kemungkinan timbulnya komplikasi makrovaskular.
Sementara itu kadar HbA1c harus lebih rendah dari 7%.
Lipid
Penderita stroke iskemik atau TIA dengan kadar kolesterol yang tinggi, penyakit
arteri koroner, atau adanya bukti aterosklerosis, maka pasien harus dikelola secara
komprehensif meliputi modifikasi gaya hidup, diet secara tepat, dan pengobatan. Target
penurunan kadar kolesterol adalah sebagai berikut: LDL < 100 mg% dan kadar LDL < 70
mg% bagi penderita dengan faktor risiko multipel.
Penderita stroke iskemik atau TIA yang dicurigai mengalami aterosklerosis tetapi
tanpa indikasi pemberian statis (kadar kolesterol normal, tanpa penyakit arteri koroner,
atau tidak ada bukti aterosklerosis) dianjurkan untuk diberi statin untuk mengurangi
risiko gangguan vaskular.
Penderita stroke iskemik atau TIA dengan kadar HDL kolesterol rendah dapat
dipertimbangkan untuk diberi niasin atau gemfibrozil.
Merokok
Setiap pasien stroke atau TIA harus segera menghentikan kebiasaan merokok.
Penghentian merokok dapat diupayakan dengan cara penyuluhan dan mengurangi jumlah
rokok yang dihisap / hari secara bertahap.
Obesitas
Bagi setiap penderita stroke iskemik atau TIA dengan obesitas/overweight sangat
dianjurkan untuk mempertahankan bodymass index (BMI) antara 18,524,9 kg/m2 dan
lingkat panggul kurang dari 35 inci (perempuan) dan kurang dari 40 inci (lakilaki).
Penyesuaian berat badan diupayakan melalui keseimbangan antara asupan kalori,
aktivitas fisik dan penyuluhan kebiasaan hidup sehat
Aktivitas fisik
Setiap pasien stroke iskemik atau TIA yang mampu untuk melakukan aktivitas fisik
sangat dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik ringan selama 30 menit/hari. Untuk
pasien yang tidak mampu melakukan aktivitas fisik maka dianjurkan untuk melakukan
latihan dengan bantuan orang yang sudah terlatih.

Pencegahan Sekunder Stroke


Pencegahan sekunder stroke mengacu pada kepada strategi untuk mencegah kekambuhan
stroke. Pendekatan utama adalah mengendalikan hipertensi, CEA, dan memakai obat
antiagregat antitrombosit. Aggrenox adalah satu-satunya kombinasi aspirin dan dipiridamol
yang telah terbukti efektif untuk mencegah stroke sekunder.

LI 4 Memahani dan Menjelaskan Kewajiab Suami dan Istri


Pertama: Bergaul dengan istri dengan cara yang maruf (baik)
Yang dimaksud di sini adalah bergaul dengan baik, tidak menyakiti, tidak
menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan
ceria di hadapan istri.
Allah Taala berfirman,

Dan bergaullah dengan mereka dengan baik. (QS. An Nisa: 19).

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang maruf. (QS. Al Baqarah: 228).
Dari Aisyah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku
adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku (HR. Tirmidzi no. 3895,
Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa ayat 19 di atas,
Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku
kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah
laku demikian. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 3: 400)
Berbuat maruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh
hak istri. Nah, setelah ini akan kami utarakan berbagai bentuk berbuat baik kepada
istri. Penjelasan ini diperinci satu demi satu agar lebih diperhatikan para suami.

Kedua: Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal dengan baik


Yang dimaksud nafkah adalah harta yang dikeluarkan oleh suami untuk istri dan
anak-anaknya berupa makanana, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya. Nafkah
seperti ini adalah kewajiban suami berdasarkan dalil Al Quran, hadits, ijma dan
logika.

Dalil Al Quran, Allah Taala berfirman,



Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan
orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya (QS. Ath Tholaq: 7).

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara
maruf (QS. Al Baqarah: 233).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Bapak dari si anak punya kewajiban dengan cara
yang maruf (baik) memberi nafkah pada ibu si anak, termasuk pula dalam hal
pakaian. Yang dimaksud dengan cara yang maruf adalah dengan memperhatikan
kebiasaan masyarakatnya tanpa bersikap berlebih-lebihan dan tidak pula pelit.
Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya,
serta bersikap pertengahan dan hemat (Tafsir Al Quran Al Azhim, 2: 375).
Dari Jabir, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada,

.



Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian
sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian
menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian
adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak
sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang
tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah
dan pakaian dengan cara yang maruf (HR. Muslim no. 1218).
Dari Muawiyah Al Qusyairi radhiyallahu anhu, ia bertanya pada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallammengenai kewajiban suami pada istri, lantas
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,






Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya
pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau
tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta
tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah (HR. Abu Daud no.
2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti Utbah berkata kepada


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu
Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anakanakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa
sepengetahuannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu
dengan kadar sepatutnya (HR. Bukhari no. 5364).
Lalu berapa besar nafkah yang menjadi kewajiban suami?
Disebutkan dalam ayat,

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan
orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. (QS. Ath Tholaq: 7).

Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut
kemampuannya (pula) (QS. Al Baqarah: 236).
Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Hindun,

Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu
dengan kadar sepatutnya (HR. Bukhari no. 5364).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:
1. Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan,
tempat dan zaman.
2. Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan
dalam rizki ataukah tidak.
Termasuk dalam hal nafkah adalah untuk urusan pakaian dan tempat tinggal bagi
istri. Patokannya adalah dua hal yang disebutkan di atas.

Mencari nafkah bagi suami adalah suatu kewajiban dan jalan meraih pahala. Oleh
karena itu, bersungguh-sungguhlah menunaikan tugas yang mulia ini.
Ketiga: Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri tercinta
Inilah yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana
yang diceritakan oleh istri beliau, Aisyahradhiyallahu anha,
- -
.
Ia pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam safar. Aisyah lantas
berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Tatkala Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama
Rasulshallallahu alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda, Ini balasan untuk kekalahanku dahulu. (HR. Abu Daud
no. 2578 dan Ahmad 6: 264. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Nabishallallahu alaihi wa sallam masih menyempatkan diri untuk bermain dan
bersenda gurau dengan istrinya tercinta.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,



Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam menutup-nutupi pandanganku
dengan pakaiannya, sementara aku melihat ke arah orang-orang Habasyah yang
sedang bermain di dalam Masjid sampai aku sendirilah yang merasa puas.
Karenanya, sebisa mungkin kalian bisa seperti gadis belia yang suka bercanda (HR.
Bukhari no. 5236 dan Muslim no. 892).

Keempat: Menyempatkan waktu untuk mendengar curhatan istri


Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa duduk dan menyimak curhatan dan cerita
Aisyah radhiyallahu anha, sampai pun kisah itu panjang. Di antara cerita Aisyah
pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dikisahkan dalam hadits yang lumayan
panjang berikut ini.


Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak
menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka.

Kelima: Mengajarkan istri masalah agama


Sebagian suami kurang mempedulikan hal ini. Mereka hanya tahu bahwa
kewajibannya hanyalah memberi nafkah, pakaian, tempat tinggal atau kesenangan
dunia. Kewajiban kali ini sebenarnya terbilang penting bahkan teramat penting
karena berkaitan dengan akhirat.
Coba bayangkan jika suami melihat istrinya enggan berjilbab, malas shalat fardhu,
sering bermaksiat, atau tidak bisa membaca Al Quran, apakah ia rela istrinya
seperti itu? Semua itu tentu saja perlu didikan. Selain dibini, yah harus dibina pula.
Bukan hanya biologis saja yang ia nikmati dari istri. Seharusnya ada simbiosis
mutualisme. Istri bisa membahagiakan suami, begitu pula sebaliknya. Dan
kebahagiaan rohani ini lebih dari segalanya, lebih pula dari kebahagiaan dunia.
Semoga menjadi renungan bagi kita para suami- firman Allah Taala,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka (QS. At Tahrim: 6). Lihatlah tafsiran para salaf mengenai ayat tersebut.
Lihatlah apa yang dikatakan oleh sahabat Ali radhiyallahu anhu,
.
Ajarilah adab dan agama kepada mereka.
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma juga berkata,
.
Lakukanlah ketaatan pada Allah dan hindarilah maksiat. Perintahkanlah
keluargamu untuk mengingat Allah (berdzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan
kalian dari jilatan neraka.
Mujahid berkata,
. .
Bertakwalah pada Allah dan nasehatilah keluargamu untuk bertakwa pada-Nya.
Adh Dhohak dan Maqotil berkata,

Ketujuh: Tidak mempersoalkan kesalahan kecil istri


Inilah petunjuk Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits
Abu Hurairah, Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak
menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia
ridhoi (HR. Muslim no. 1469). Karena istri tentu saja dalam bersikap dan kelakuan
tidak bisa seratus persen perfect sebagaimana yang suami inginkan. Bersabarlah
dan tetap terus menasehati istri dengan cara yang baik.
Kedelapan: Tidak memukul istri di wajah dan tidak menjelek-jelekkan istri
Dari Muawiyah Al Qusyairi radhiyallahu anhu, ia bertanya pada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallammengenai kewajiban suami pada istri, lantas
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,






Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya
pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau
tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta
tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah (HR. Abu Daud no.
2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Kesembilan: Tidak meng-hajr (pisah ranjang) dalam rangka mendidik
selain di dalam rumah
Hal ini sebagaimana diterangkan dalam ayat dan hadits sebelumnya di atas.
Mengenai makna hajr di ranjang pada ayat,


Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, Syaikh Abdurrahman bin Nashir
As Sadi rahimahullahmengatakan bahwa maknanya adalah tidak satu ranjang
dengannya dan tidak berhubungan intim dengan istri sampai ia sadar dari
kesalahannya (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 177).
Ibnul Jauzi menerangkan mengenai makna hajr di ranjang ada beberapa pendapat
di kalangan pakar tafsir:
1. Tidak berhubungan intim
2. Tidak mengajak berbicara, namun masih tetap berhubungan intim
3. Mengeluarkan kata-kata yang menyakiti istri ketika diranjang
4. Pisah ranjang (Lihat Zaadul Masiir, 2: 76).

Dan hajr boleh dilakukan di luar rumah jika ada maslahat sebagaimana
Nabi shallallahu alaihi wa sallampernah meng-hajr istri-istrinya selama sebulan di
luar rumah mereka.
Kesepuluh: Memberikan hak istri dalam hubungan intim
Hal ini dapat kita ambil pelajaran dari hadits Abu Darda berikut ini.
.
. .
. .
.

. . . . . .

.


Nabi shallallahu alaihi wa sallam- telah mempersaudarakan Salman dan Abu
Darda. Suatu saat Salman mengunjungi saudaranya- Abu Darda. Ketika itu
Salman melihat istrinya, Ummu Darda, dalam keadaan tidak mengenakkan. Salman
pun berkata kepada Ummu Darda, Kenapa keadaanmu seperti ini? Saudaramu,
Abu Darda, seakan-akan ia tidak lagi mempedulikan dunia, jawab wanita tersebut.
Abu Darda kemudian datang. Salman pun membuatkan makanan untuk Abu
Darda. Salman berkata, Makanlah. Maaf, saya sedang puasa, jawab Abu
Darda. Salman pun berkata, Aku pun tidak akan makan sampai engkau makan.
Lantas Abu Darda menyantap makanan tersebut.
Ketika malam hari tiba, Abu Darda pergi melaksanakan shalat malam. Salman
malah berkata pada Abu Darda, Tidurlah. Abu Darda pun tidur. Namun kemudian
ia pergi lagi untuk shalat. Kemudian Salman berkata lagi yang sama, Tidurlah.
Ketika sudah sampai akhir malam, Salman berkata, Mari kita berdua shalat.
Lantas Salman berkata lagi pada Abu Darda, Sesungguhnya engkau memiliki
kewajiban kepada Rabbmu. Engkau juga memiliki kewajiban terhadap dirimu
sendiri (yaitu memberi supply makanan dan mengistirahatkan badan, pen),
dan engkau pun punya kewajiban pada keluargamu (yaitu melayani istri,
pen). Maka berilah porsi yang pas untuk masing-masing kewajiban tadi.
Abu Darda lantas mengadukan Salman pada Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, lantas beliau bersabda, Salman itu benar (HR. Bukhari no. 968).
Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, suami itu wajib menyetubuhi istrinya sesuai dengan kemampuan suami
dan kecukupan istri. Inilah pendapat yang tepat, berbeda dengan pendapat
sebagian ulama yang mengharuskan suami harus menyetubuhi istrinya minimal
empat bulan sekali. Namun yang tepat adalah pendapat pertama.
Kesebelas: Memberikan istri kesempatan untuk menghadiri shalat jamaah
selama keluar dengan hijab yang sempurna dan juga memberi izin bagi istri
untuk mengunjungi kerabatnya, sebagaimana hal ini telah diterangkan dalam kisah
Ummu Zar dan Abu Zar sebelumnya.
Keduabelas: Tidak menyebar rahasia dan aib istri, sebagaimana pernah
diterangkan dalam kewajiban istri.

Ketigabelas: Berhias diri di hadapan istri sebagaimana suami menginginkan


demikian pada istri
Allah Taala berfirman,

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang maruf. (QS. Al Baqarah: 228).
Keempatbelas: Selalu berprasangka baik dengan istri
Inilah mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan agar suami
tidak terlalu penuh curiga ketika ia meninggalkan istrinya lalu datang dan ingin
mengungkap aib-aibnya. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Anda mungkin juga menyukai