Anda di halaman 1dari 9

DI SUSUN OEH :

1. DEWI YULIANINGSIH
2. IRNAYANTI
3. SUCI FEBRIANI

(PO.71.3.251.11.1.014)
(PO.71.3.251.11.1.024)
(PO.71.3.251.11.1.044)

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR


JURUSAN FARMASI
2013

A. Pengertian Laksativ

Obat Pencahar (laksansia) adalah Obat yang dapat mempercepat gerakan


peristaltik usus, sehingga terjadi defekasi dan digunakan pada konstipasi yaitu keadaan
susah buang air besar.
B. Penggunaan utama obat pencahar
1. Konstipasi
Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik
dinding usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan sembelit.
Tujuannya adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan defikasi menjadi
normal. Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan
akhirnya menuju usus besar/ kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan
pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah
cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering
sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu
kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot
polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995)
yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu. Frekuensi
defekasi/ buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu.
Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB
kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi feses yang keras, kesulitan
mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan
refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB (McQuaid,
2006). Orang yang frekuensi defekasi/ BAB-nya kurang dari normal belum tentu
menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi
juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan.
Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala
yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh (Dipiro, et al,
2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome),
gangguan

metabolisme

(diabetes),

(hipertiroidisme).
C. Pengertian Obat Pencahar

maupun

gangguan

pada

sistem

endokrin

Sasaran terapi konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltic dinding
kolon. Tujuan terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya Pasien tidak lagi
mengalami konstipasi atau proses defekasi/ BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi
feses) kembali normal. Strategi terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun
non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi
BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram
per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas
fisik/ olahraga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan
gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan
manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu
mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/ BAB meningkat (Dipiro,
et al,2005).
Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/ pencahar digunakan untuk
meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan
keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air
dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan
hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan
organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan
elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 3
golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar
bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses
yang lunak atau semicair dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat
antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair
dalam waktu 1-6 jam (saline cathartics, minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol).
Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang tidak
diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume padatan
feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-forming
meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu hidrogel sehingga
terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak peristaltik. Penggunaan
obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi,
jika tidah bahaya terjadi dehidrasi.

Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein.


Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang
mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam
waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal.
Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini
tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan
harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk
mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan.
Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion seperti
Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam saluran cerna
sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian merangsang pergerakan
usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi kolesitokinin, suatu hormon
yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi cairan. Senyawa ini dapat diminum
ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline ini juga dapat digunakan untuk
mengosongkan kolon dengan cepat sebagai persiapan sebelum pemeriksaan radiologi,
endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut (Gangarosa & Seibertin, 2003).
Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya
dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan kondisi
pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani pembedahan perut,
penggunaan obat pencahar sangat diperlukan. Berikut adalah obat yang dipilih untuk
digunakan mengatasi konstipasi yang tidak cukup jika diatasi hanya dengan fiber:
NAMA GENERIK : Bisacodyl
NAMA DAGANG DI INDONESIA : Dulcolax, Bicolax, Codylax, Laxacod,
Laxamex, Melaxan, Prolaxan, Stolax, Toilax.
Obat golongan laksatif atau pencahar sering dipakai untuk mengurangi berat
badan dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif
terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang diindikasikan
untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi
diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga
akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak
terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai

sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak
disarankan karena usus akan menjadi malas, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal
ini akan menjadikan semacam ketergantungan.
D. Dampak Negatif Obat Pencahar
Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak negative seperti:
gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung dan perih, keletihan terus
menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah, dan tubuh gemetar.
Ada juga yang menggangu kesuburan dan sikulasi menstruasi .Penggunaan obat
pelangsing yang bersifat pencahan atau laksatif dapat menyebabkan usus bereaksi lebih
aktif menyerap makanan, sehingga membuat makanan yang dikonsumsi cepat dibuang
sebelum diserap. Akibatnya bila konsumsi obat dihentikan maka tubuh akan semakin
gemuk karena usus jadi lebih efisien dalam menyerap makanan.
Penggunaan laksatif yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan
mengabaikan keinginan BAB refleks pada proses defekasi yang alami dihambat.
Kebiasaan pengguna laksatif bahkan memerlukan dosis yang lebih besar dan kuat, sejak
mereka mengalami efek yang semakin berkurang dengan penggunaan yang terusmenerus (toleransi obat).
Obat obat pelangsing lainnya
1) Orlistat (Xenical)
Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim
lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini
bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB
terganggu. Tetapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di
kurangi.
2) Sibutramin (meridia, reductil)
Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur
ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan
norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat

meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan
insomnia.
Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing,
sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk jamu pelangsing
oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu
pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali
tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Jamu ini berisiko bagi yang memiliki
gangguan penyakit kardiovaskuler karena dapat meningkatkan tekanan darah dan
mungkin risiko terjadinya stroke.
Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan
turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan
menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada
komposisi obat flu. Di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis
jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan
ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak
lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.
3) Diuretik
Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing.
Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru
penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan
elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa
melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik
memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak
akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam
yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

4) Obat Obat Herbal Pelangsing


Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim
memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau

mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai
pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian
daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa
protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk
lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap
makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati
belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.
E. Penggolongan Obat Pencahar (Laksansia)
Pada masa lalu obat pencahar digolongkan berdasarkan intensitas dari efeknya
sesuai dengan urutan daya kerjanya yang meningkat sbb : Laksansia, katartika, purgative
dan drastika. Ketiga kelompok obat terakhir bekerja sangat drastis dan sekarang sudah
tidak digunakan lagi (obsolete). Lebih tepat dan rasional bila penggolongan obat
pencahar didasarkan atas farmakologi dan sifat kimiawinya yakni :
1. Laksansia kontak

(zat perangsang) : derivat antrakinon (Rhamnus = Cascara

sagrada, senna, Rhei), derivat derivat difenilmetan (bisakodil, pikosulfat,


feloftalein) dan minyak kastor. Zat zat ini merangsang secara langsung dinding usus
dengan akibat peningkatan peristaltik dan pengeluaran isi usus dengan cepat.
2. Laksansia osmotik : Magnesium sulfat/ sitrat dan natriumsulfat, glliserol, manitol dan
sorbitol, juga laktulosa dan laktitol. Garam garam anorganik dari ion ion divalen,
senyawa polialkohol dan disakarida ini berkhasiat mencahar berdasarkan lambat
absorpsinya oleh usus, sehingga menarik air dari luar usus melalui dinding ke
dalam usus via proses osmosa. Tinja menjadi lebih lunak dan voumenya diperbesar
yang merupakan suatu rangsangan mekanis atas dinding usus. Peristaltik diperkuat
yang mempermudah pengeluaran isi usus.
3. Zat zat pembesar volume : zat zat lendir, (agar agar, metilselulosa, CMC) dan
zat zat nabati Psyllium, gom sterculia dan katul. Semua senyawa polisakarida ini
sukar dipecah dalam usus dan tidak diserap (dicernakan). Serat serat alamiah :
selulosa, hemiselulosa, pektin, lignin, gom gom dan zat lendir. Zat zat ini berdaya
menahan air sambil mengembang.
4. Zat zat pelicin dan emollientia (pelembut) : natrium docusat, natrium laurel sulfa
asetat dan paraffin cair. Kedua zat pertama memiliki aktivitas permukaan

(detergensia) dan mempermudah defekasi, karena melunakkan tinja dengan jalan


meningkatkan penetrasi air kedalamnya. Parafin melicinkan penerusan tinja dan
bekerja sebagai bahan pelumas
F. Tabel Laksatif dan Katartik
Obat
Mekanisme/Kerja
Zat Pembentuk Massa
Psillium
Dinding sel tanaman
(mis. Metamucil)
yg
tdk
dicerna

Efek Tak Diinginan


Ditoleransi

baik,

Flatulensi,

menyerap air ke dalam

(jika

feses, jadi melunakkan

menyumbat)

Farmakokinetik
PO.

Melunakkan

impaksi

feses

dalam

bolus

hari.

1-3

feses

Metilselulosa
(mis. Cologel)
Kalsium

Penggunaan terus

PO.

menerus

dapat

feses dalam 6-8 jam

menyebabkan

diare

polikarbofil
(mis.mitrolan)
Stimulan Laksatif dan Katartik
Bisakodil
Menambah air dan
(mis. Dulcolax)
elektrolit dalam feses
dan
Fenolftalein
(mis. Ex Lax)
Danthron
(mis. Goldline)
Senna (Senokot)
Minyak Kastor
(Neoloid)

menambah

motilitas usus.

berat.

Dimetabolisme dalam

melanotik

Kram,

usus

Penggunaan

risinoleat,
yang
absorpsi

menjadi
surfaktan
menurunkan
air

elektrolit

juga,

harus
Dehidrasi,

tinja

mual.

PO. Ekskresi cair

kronik

isi usus dalam 1 3

dihindari.

jam

ketidak

dan

seimbangan elektrolit

dan

dan kerusakan saraf

meningkatkan

Melunakkan

dapat terjadi.

motilitas.
Lain lain
Larutan Salin
(mis. Susu magnesia)

Garam Mg++ atau Na++

Presipitasi

kurang

eksaserbasi

diabsorpsi

atau

PO. Ekskresi cair

kelainan

isi usus dalam 1-3

sehingga menarik air

jantung, ginjal, kejang,

ke dalam lumen. Dosis

atau hipokalsemia

tinggi

jam

membersihkan

usus dari parasit dan


mengosongkan
Gliserin

Laktulosa
(mis. Chronulac)

usus

praoperasi
Hiperosmolaritas

PR. Mengosongkan

menarik air ke dalam

kolon

kolon

menit

dalam

15

Kram, flatulen, mual,

PO. Dimetabolisme

muntah.

dalam usus menjadi


laktat

yang

bertindak

sbagai

laksatif osmotic dan


dng
Minyak mineral

Melubrikasi feses dan

Kebocoran

mencegah absorpsi air

anus

dari feses

mengurangi

dan

vitamin.

Pneumonitas

aspirasi

timbul

pd

Memperbaiki penetrasi

pemberian oral
Diare, kram perut.

air dan lemak ke dalam

Meningkatkan

feses.

absorpsi

minyak

mineral

(jangan

digunakan dng minyak


mineral

pH
PQ/PR

iritasi,

penyerapan
dpt
Dokusat
(mis. Colace)

melalui

PQ/PR

menurunkan