Anda di halaman 1dari 9

Artikel

Oleh

: Perilaku hewan
: Ahmad Ilham Habibi ( 123224024)/FR D 12

CONTOH BENTUK ADAPTASI TINGKAH LAKU


(BEHAVIORAL) PADA MAKHLUK HIDUP - ILMU
BIOLOGI

Makhluk hidup melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan di sekitar habitat tempat
hidupnya tidak terkecuali manusia. Adaptasi yang dilakukan makhluk hidup bertujuan untuk
dapat bertahan hidup dari kondisi lingkungan yang mungkin kurang menguntungkan. Di bawah
ini adalah merupakan beberapa bentuk adaptasi tingkah laku (behavioral adaptation) pada
binatang / hewan di sekitar kita disertai pengertian dan arti definisi :
1. Mimikri
Mimikri adalah teknik manipulasi warna kulit pada binatang seperti misalnya bunglon yang
dapat berubah-ubah sesuai warna benda di sekitarnya agar dapat mengelabuhi binatang
predator / pemangsa sehingga sulit mendeteksi keberadaan bunglon untuk dimangsa. Jika
bunglon dekat dengan dedaunan hijau maka dia akan berubah warna kulit menjadi hijau, jika
dekat batang pohon warna coklat, dia juga ikut ganti warna menjadi coklat, dan lain
sebagainya.
2. Hibernasi
Hibernasi adalah teknik bertahan hidup pada lingkungan yang keras dengan cara tidur
menonaktifkan dirinya (dorman). Hibernasi bisa berlangsung lama secara berbulan-bulan
seperti beruang pada musim dingin. Hibernasi biasanya membutuhkan energi yang sedikit,
karena selama masa itu biantang yang berhibernasi akan memiliki suhu tubuh yang rendah,
detak jantung yang lambat, pernapasan yang lambat, dan lain-lain. Binatang tersebut akan
kembali aktif atau bangun setelah masa sulit terlewati. Contoh hewan yang berhibernasi yaitu
seperti ular, ikan, beruang, kura-kura, bengkarung, dan lain-lain.
3. Autotomi
Autotomi adalah teknik bertahan hidup dengan cara mengorbankan salah satu bagian
tubuh. Contoh autotomi yaitu pada cicak/cecak yang biasa hidup di dinding rumah, pohon, dll.
Cicak jika merasa terancam ia akan tega memutuskan ekornya sendiri untuk kabur dari
sergapan musuh. Ekor yang putus akan melakukan gerakan-gerakan yang cukup menarik
perhatian sehingga perhatian pemangsa akan fokus ke ekor yang putus, sehingga cicak pun bisa
kabur dengan lebih leluasa.

4. Estivasi
Estivasi adalah menonaktivkan diri (dorman) pada saat kondisi lingkungan tidak
bersahabat. Bedanya dengan hibernasi adalah di mana pada estivasi dilakukan pada musim
panas dengan suhu udara yang panas dan kering. Hewan-hewan seperti kelelawar, tupai, lemur
kerdil, dll akan mengestivasi diri di tempat yang aman dan terlindung. Pada tumbuhan estivasi
juga dilakukan oleh oleh pohon jati dengna meranggas atau menggugurkan daun.
5. Simbiosis Rayap dan Flagellata
Rayap membutuhkan bantuan makhluk hidup lainnya yaitu flagelata untuk mencerna kayu
yang ada di dalam usus rayap. Tanpa flagellata rayap tidak akan mampu mencerna kayu yang
masuk ke dalam tubuhnya. Rayap-rayap kecil yang baru menetas mendapatkan flagellata
dengan jalan menjilat dubur rayap dewasa. Rayap secara periodik melakukan aktivitas ganti
kulit dan meninggalkan bagian usus lama, sehingga rayap akan memakan kulit yang
mengelupas untuk memasukkan kembali flagellata ke dalam usus pencernaannya.
6. Pernapasan Ikan Paus
Ikan paus adalah mamalia yang mirip ikan dan hidup di air. Paus memiliki paru-paru yang
harus diisi dengan oksigen dari permukaan laut minimal setiap setangah jam sekali. Ikan paus
ketika muncuk ke permukaan akan membuang udara kotor lewat hidung mirip seperti air
mancur yang berisi karbon dioksida bercampur uap air jenuh yang terkondensasi.
http://krazaknusadua.blogspot.com/2012/04/bentuk-adaptasi-tingkah-laku-behavioral.html

Artikel
Oleh

: Penyakit Genetis
: Ahmad Ilham Habibi ( 123224024)/FR D 12

PENYAKIT THALASEMIA PADA ANAK


April 14, 2012 By nursewian Leave a Comment

Definisi
Penyakit Thalasemia merupakan penyakit anemis hemolitik herediter yang diturunkan secara
resesif sehingga timbul anemia, mulai dari anemia ringan sampai berat. Anemia adalah kondisi
di mana kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah dalam darah menurun.
Penyakit thalasemia juga sering diartikan penyakit kelainan darah yang ditandai dengan
kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120
hari).

Secara klinis penyakit thalasemia dibagi menjadi 2 golongan:


1. Thalasemia mayor : Thalasemia jenis ini jika kedua orang tuanya membawa gen
pembawa sifat thalassemia.Gejala penyakit muncul sejak awal masa kanak-kanak dan
biasanya penderitahanya bertahan hingga umur sekitar 2 tahun. Penderita penyakit
thalasemia mayor ditandai dengan keadaan penderita lemah, pucat, perkembangan fisik
tidak sesuai dengan umur, berat badan kurang, tidak dapat hidup tanpa transfusi
transfusi darah seumur hidupnya
2. Thalasemia minor : Gejala yang muncul pada penderita Thalasemia minor bersifat
ringan, biasanyahanya sebagai pembawa sifat. Istilah Thalasemia trait digunakan untuk
orangnormal namun dapat mewariskan gen thalassemia pada anakanaknya:ditandaioleh splenomegali, anemia berat, bentuk homozigot.Pada anak yang
besar sering dijumpai adanya Gizi buruk, perut buncit karena pembesaran limpa dan
hati yang mudah diraba, aktivitas tidak aktif karena pembesaran limpa dan
hati(Hepatomegali ), Limpa yang besar ini mudah ruptur karena trauma ringan saja.
Gejala khas adalah:

Bentuk muka mongoloid yaitu hidung pesek, tanpa pangkal hidung, jarak antara kedua
mata lebar dan tulang dahi juga lebar.
Keadaan kuning pucat pada kulit, jika sering ditransfusi, kulitnya menjadi kelabu

Penatalaksanaan penyakit thalasemia

Transfuse untuk mempertahankan kadar hebogloin dalam batas normal


Therapy chelation besi
Transplantasi sumsum tulang
Imunisasi hepatitis B dan C untuk mencegah infeksi virus tersebut melalui transfuse
darah.

Phatofisiologi penyakit thalasemia


Penyebab penyakit thalasemia bersifat primer dan sekunder. Penyebab primer adalah
berkuragnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel
eritrosit intramedular.
Sedangkat penyebab sekundernya adalah terjadinya defisiensi asam folat, bertambahnya
volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusidan destruksi eritrosit oleh
system retikuloendotelial dalam limpa dan hati. Menurut penelitian biomolekular menunjukan
adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksirantai alfa atau beta dari hemoglobin
berkurang.
Suber :
http://medicastore.com/penyakit/167/Thalassemia.html

Artikel
Oleh

: Pencemaran Air
: Ahmad Ilham Habibi ( 123224024)/FR D 12

PENCEMARAN LAUT INDONESIA


MEMPRIHATINKAN

Tingkat pencemaran lingkungan laut Indonesia masih tinggi, ditandai antar lain dengan
terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi disebabkan oleh polutan. Nutrisi yang
berlebihan tersebut, umumnya berasal dari limbah industri, limbah domestik seperti deterjen,
maupun aktivitas budidaya pertanian di daerah aliran sungai yang masuk ke laut, kata
Soen`an H. Poernomo mantan Kapusdatin KKP
Pencemaran di laut bisa pula ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton atau
algae yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk. Kasus-kasus pencemaran di
lingkungan laut, yang disebut red tide itu, antara lain terjadi di muara-muara sungai, seperti di
Teluk Jakarta tahun 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006.
Di Ambon terjadi pada tahun 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu tahun 2006 dan
2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994, 1998, 2003, 2007,
dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989.
Meski kerap terjadi, inventarisasi terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum
terdata dengan baik, termasuk kerugian yang dialami. Mungkin kurangnya pendataan red tide
ini disebabkan oleh kejadiannya yang hanya dalam waktu singkat, katanya.
Karena itu untuk menanggulangi red tide sebagai bencana, beberapa lembaga Pemerintah dan
institusi pendidikan telah melakukan penelitian meskipun masih dilakukan secara sporadis.
Secara umum, kerugian secara ekonomi akibat dari red tide ini, adalah tangkapan nelayan yang
menurun drastis, gagal panen para petambak udang dan bandeng, serta berkurangnya
wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan.
Efek terjadinya red tide juga ditunjukkan penurunan kadar oksigen serta meningkatnya kadar
toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya
menganggu kestabilan populasi organisme laut.

Akibat lautan tertutup dengan algae pada saat berlimpah, maka matahari sulit untuk
menempuh ke dasar laut dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam
laut, katanya.
Selain itu, sebagian algae juga mengandung toksin atau racun yang dapat menyebabkan
matinya ikan dan mengancam kesehatan manusia bahkan menyebabkan kematian apabila
mengkonsumsi ikan yang mati tersebut. Tanpa adanya limbah, sebagai fenomena alam
sesungguhnya meningkatnya pertumbuhan algae ini sangat jarang terjadi, katanya.
Sementara Slamet Daryoni dari Walhi Jakarta mengatakan bahwa pencemaran berat terutama
di kawasan laut dekat muara sungai dan kota-kota besar. Selain karena polusi yang berasal dari
limbah industri yang berlebihan, pencemaran laut juga disebabkan oleh ekploitasi minyak dan
gas bumi di lautan. Namun yang paling penting adalah akibat kebijakan dan perhatian
pemerintah yang sangat kurang terhadap kelautan di Indonesia.
Selanjutnya Slamet Daryoni menjelaskan bahwa di sisi lain, tingkat pencemaran di beberapa
kota termasuk di Jakarta sudah sangat memprihatinkan, sebagai contoh, adalah karena ada
kaitan dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada lingkungan. Di perairan Teluk Jakarta
saja, kondisi cemar beratnya sudah mencapai 62 pesen. Padahal ini terjadi di Jakarta, pusat
pemerintahan, pusat kebijakan. Terlebih lagi ketika pemerintah membuat kebijakan mengenai
hal ini di tahun 2007. Lalu mengenai sungai. DKI Jakarta memiliki tiga sungai. Pencemaran
dalam konteks cemar beratnya kini mencapai 94 persen.
Slamet Daryoni juga menjelaskan mengenai kegiatan ekplorasi gas dan minyak yang
berdekatan dengan laut. Sisa pembuangannya dibuang di lautan. Misalnya kita lihat kembali
kasus Minahasa yang mengakibatkan warga mengalami sakit yang luar biasa akibat arsen,
mercuri dan zat kimia lainnya.

Sumber :
http://indomaritimeinstitute.org/?p=888

Artikel
Oleh

: Eksploitasi Laut
: Ahmad Ilham Habibi ( 123224024)/FR D 12

EKSPLOITASI LAUT

Selama bertahun-tahun manusia menyalahgunakan laut, menjarah ikannya,


meracuni dengan limbah dan sampah, serta merusak pantainya. Padahal, berbagai ekosistem
laut, misalnya laut tropik yang dangkal dan hangat memberikan kondisi ideal bagi kehidupan
karang. Bakau pun tumbuh subur di daerah pantai tropik. Berjuta-juta ikan berkembangbiak di
antara akar-akaran yang terletak di permukaan air. Di pantai dekat daratan beriklim sedang,
tumbuh hutan kelp, yaitu ganggang besar yang tumbuh subur di tempat-tempat yang kaya zat
hara.
Tetapi, dari waktu ke waktu, perilaku manusia terus merusak laut. Lalu, apa yang kita lakukan
untuk menyelamatkan laut yang begitu memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia
itu? Tidak banyak. Sebaliknya, kita cenderung melakukan tindakan yang merusak ekosistem
laut. Nelayan mengambil ikan secara berlebihan dengan cara yang tidak bertanggung jawab.
Misalnya, denganpukat harimau atau bahan peledak. Menurut data FAO (Food and Agriculture
Organization), laut mampumenghasilkan 100 juta ton ikan setiap tahun. Pada 1988, nelayan
telah menangkap ikan 97,4 ton. Jumlah tersebut menurun tiap tahun. Bukan karena manusia
mengurangi kegiatannya, melainkan persediaan ikan yang menipis. Pemburu-pemburu ikan
membinasakan spesies ikan paus besar. Anjing laut dan penyu ditangkapi serampangan.
Terumbu karang dirusak untuk dibuat cenderamata. Nelayan bahkan sering menangkap ikan
yang berharga mahal, seperti kerapu.
Padahal, ikan tersebut merupakan predator yang sangat dibutuhkan agar rantai makanan tetap
berlangsung. Bila predator menghilang, rantai makanan akan terganggu. Kapal tanker minyak
juga selalu seenaknya membuang limbah yang dapat mencemari lingkungan laut. Minyak
dapat menghilangkan daya apung ikan-ikan dan binatang laut sehingga mereka akan mati.
Namun, pencemaran akibat minyak bukanlah ancaman paling serius bagi laut kita. Tindakan
lain, seperti penangkapan ikan secara berlebihan dan cara menangkap ikan yang merusak,jauh
lebih berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.
Di beberapa bagian dunia, nelayan menggunakan cara yang merusak untuk meningkatkan
pendapatan mereka. Penangkapan ikan dengan bahan peledak dapat menghancurkan terumbu
karang. Di Kepulauan Bahama, karang dan rumput laut rusak ketika para pengeruk mengaduk
endapan lumpur laut sehingga mengurangi persediaan oksigen dalam laut. Akibatnya, tindakan

itu dapat membunuh sebagian besar ekosistem laut.


Dua pertiga penduduk dunia hidup di pantai. Dengan tumbuhnya populasi pantai, aktivitas
pembangunan akan meningkat, namun juga merusak habitat yang dapat mengurangi
produktivitas laut. Pariwisata menjadi penyebab utama kerusakan pantai. Mengapa? Sebab,
pembangunan hotel-hotel dan sarana wisata di pantai-pantai yang buruk perencanaannya dapat
merusak pantai. Misalnya,mengurangi tempat bertelur kura-kura.
Selain itu, limbah itu menjadi ancaman bagi perenang dan penyelam karena dapat
menimbulkan gangguan kesehatan pada pencernaan. Kegiatan lain yang merusak pantai adalah
budidaya air, seperti tambak udang atau ikan untuk ekspor, yang dilakukan Thailand dan
Filipina. Tambak ikan tersebut menggusur hutan bakau yang merupakan tempat ikan liar
mencari makan dan bertelur. Nelayan juga menggunakan pestisida, antibiotik, dan obat-obatan
lain untuk menyehatkan ikan-ikan di tambaknya. Zat-zat itu dapat berpengaruh buruk terhadap
binatang dan tumbuh-tumbuhan lain.
SOLUSI MENANGGULANGI EKSPLOITASI LAUT
Solusi untuk menaggulangi eksploitasi laut ada berbagai macam. Misalnya, memberikan
peringatan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran dan eksploitasi laut secara
berlebihan, mengusulkan perubahan kebijakan perdagangan dan pembangunan, pengelolaan
hutan secara baik, pengenalan metode penangkapan ikan yang aman dan berkelanjutan, serta
membantu memasarkan hasil tangkapan nelayan melalui koperasi. Pemerintah negara-negara
di dunia juga harus mematuhi Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang memberikan
perlindungan dan yurisdiksi zona ekonomi eksklusif sampai 322 kilometer dari lepas pantai.
Salah satu alternatift erbaik adalah pengelolaan pantai terpadu yang memandang pantai sebagai
satu kesatuan dengan laut dan memperhitungkan dampak-dampak dari segala aktivitas di
daerah tersebut.
MANFAAT LAUT
Tak seorang pun menyangkal bahwa laut itu penting. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak
orang menggantungkan hidupnya dari laut. Laut menjadi medan sebagian (besar) orang
mengadu nasib dan menyandarkan harapan hidupnya. Banyak pula harta benda diperoleh
manusia dari laut. Makanan, bahkan kesehatan manusia pun diperoleh dari dan melalui laut.
Sekali lagi, laut itu penting bagi siapapun, di mana saja dan kapan pun juga. Euripides, seorang
penulis sandiwara dari Athena, pernah mengatakan bahwa laut itu membersihkan semua
penyakit yang diderita manusia. Penyakit-penyakit itu antara lain : tekanan darah tinggi,
pembekuan darah, sakit tenggorokan, kegemukan, asam lambung, gangguan pencernaan
(indigesi), sukar membuang air besar (konstipasi), reumatik, diabetes, sakit mata, flu dan sakit
saraf.
Sejalan dengan itu, hasil penelitian Howard H. Hirschhorn menunjukkan bahwa (air) laut itu
memperbaiki seluruh kesehatan manusia. Manfaat ini bertolak dari kenyataan bahwa laut itu
mengandung banyak mineral yang merembes ke seluruh badan saat terendam dalam air laut.
Mineral inilah yan berdaya mengurangi atau menghalang sebaran penyakit dalam tubuh
manusia. Dengan demikian, air laut dapat menormalisir fungsi-fungsi tubuh. Karena itu,
banyak orang menganjurkan untuk mandi dan mencelup badan di air laut secara teratur, bahkan
minum air laut dalam takaran terbatas (Howard H, 1980).
Di samping itu laut menyediakan berbagai bahan makanan yang mudah dijangkau dengan gizi
bermutu tinggi.Ada pun bahan yang sudah dikenal luas adalah ikan, siput, tiram dan garam.
Umum diketahui bahwa ikan menyediakan protein bernilai tinggi dan mudah dicerna meski

dalam jumlah yang sangat banyak. Secara khusus, lemak ikan seperti disinyalir Howard
mengandung sejenis zat asam yang menyediakan energi untuk mencegah atheros clerosin yang
menyebabkan kolesterol darah. Telur ikan dapat membangkitkan selera makan. Sementara
organ-organ dalamnya terutama hati merupakan sumber terkaya dari vitamin A dan D. Tulang
ikan menyediakan kalsium, phosphor dan zat besi yang berguna untuk pertumbuhan gigi dan
tulang anak manusia. Sedangkan siput, tiram dan berbagai binatang tak bertulang belakang
lainnya merupakan sumber vitamin B12. Berbagai zat dan vitamin yag terkandung dalam laut
dan pelbagai produknya itu menjadi sumber serta penambah tenaga dan semangat manusia
penggunanya. Terlepas dari air (laut) dan persediaan bahan makanan di atas, masih terdapat
banyak potensi kelautan yang dapat dikembangkan. Panorama bawah laut dengan karang dan
berbagai jenis tumbuhan kiranya menjadi aset pariwisata yang tak ternilai harganya sekaligus
bahan baku pakan ternak dan kosmetik.Arus laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik
tenaga arus laut.
Sumber : http://kkl07.blogspot.com/2010/03/eksploitasi-laut.html