Anda di halaman 1dari 7

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sanitasi dan Tempat umum


2.1.Sanitasi
2.1.1. Pengertian Sanitasi
Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan
kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati, 2002).
Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi
kebersihan lingkungan dari subyeknya. Misalnya menyediakan air yang bersih
untuk keperluan mencuci tangan, menyediakan tempat sampah untuk mewadahi
sampah agar tidak dibuang sembarangan (Depkes RI, 2004).
Menurut WHO, sanitasi lingkungan adalah mengatur semua factor
lingkungan, baik lingkungan fisik, biologi, social maupun ekonomi manusia yang
mempunyai pengaruh yang merugikan perkembangan fisik dan daya hidup
manusia. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang
mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyedian air bersih dan sebagainya
(Notoadmodjo,2003).
Sedangkan menurut Chandra (2007), sanitasi adalah bagian dari ilmu
kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat
untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya
bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.
Kesehatan lingkungan merupakan ilmu kesehatan masyarakat yang
menitik beratkan usaha preventif dengan usaha perbaikan semua faktor
lingkungan agar manusia terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan.
Kesehatan lingkungan adalah karakteristik lingkungan yang mempengaruhi
derajat kesehatan. Untuk itu, kesehatan lingkungan salah satu dari enam usaha
dasar kesehatan masyarakat.
Menurut Kusnoputranto (1986) ruang lingkup dari kesehatan lingkungan
meliputi :
1. Penyediaan air minum

2. Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air


3. Pengelolaan sampah padat
4. Pengendalian vektor penyakit
5. Pencegahan / pengendalian pencemaran tanah
6. Hygiene makanan
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja, terutama pengendalian dari bahaya-bahaya fisik,
kimia, dan biologis.
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman, terutama aspek kesehatan masyarakat
dari perumahan penduduk, bangunan-bangunan umum dan institusi.
12. Perencanaan daerah dan perkotaan
13. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, laut dan darat.
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata.
16. Tindakan sanitasi yang berhubungan keadaan epidemi, bencana
alam, perpindahan penduduk dan keadaan darurat.
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin agar
lingkungan pada umumnya bebas dari resiko gangguan kesehatan.
Dari ruang lingkup sanitasi lingkungan di atas, tempat-tempat umum
merupakan bagian dari sanitasi yang perlu mendapat perhatian dalam
pengawasannya (Kosnoputranto,1986).

2.2. Sanitasi Tempat-Tempat Umum


2.2.1 Pengertian Tempat-Tempat Umum
Tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat terjadinya
penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan
lainnya. Pengawasan atau pemeriksaan sanitasi terhadap tempat-tempat umum
dilakukan untuk mewujudkan lingkungan tempat-tempat umum yang bersih guna
melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan penularan penyakit dan
gangguan kesehatan lainnya (Chandra, 2007).

Tempat-tempat umum adalah sarana yang dimanfaatkan oleh masyarakat


umum seperti : hotel, terminal, pelabuhan, pasar, pertokoan, bioskop, tempat
wisata, kolam renang, restoran, tempat ibadah, jasa boga, tempat jajanan, depot air
minum, dll (Dinkes Jatim, 2004).
Menurut keputusan menteri kesehatan nomor 288/ MENKES/ SK/ III/
2003, sarana dan bangunan umum tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh
masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. Oleh karena itu, perlu dikelola
demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan penggunanya hidup
dan bekerja dnegan produktif secara sosial ekonomis.
Tempat umum adalah suatu tempat dimana banyak orang

berkumpul

untuk melakukan kegiatan secara insidentil maupun terus menerus, secara


membayar ataupun tidak membayar (Suparlan, 1988). Kriteria suatu tempat
umum adalah terpenuhinya beberapa syarat sebagai berikut :
1. Diperuntukkan bagi masyarakat umum
2. Harus ada gedung / tempat yang permanen
3. Harus ada aktifitas (pengusaha, pegawai, dan pengunjung)
4. Harus ada fasilitas (saluran air bersih, WC, urinoir, tempat sampah, dll)

2.2.2 Pengertian Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Sanitasi tempat-tempat umum, merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan tempat bertemunya
segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat.
Oleh sebab itu tempat umum merupakan tempat menyebarnya segala penyakit
terutama penyakit yang medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan
demikian sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi persyaratan kesehatan
dalam arti melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat(Mukono, 2005).
Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan sanitasi
lingkungan antara lain, tempat umum atau sarana umum yang dikelola secara
komersial, tempat yang memfasilitasi terjadinya penularan penyakit, atau tempat

layanan umum yang intensitas jumlah dan waktu kunjungannya tinggi. Tempat
umum semacam itu meliputi hotel, terminal angkutan umum, pasar tradisional
atau swalayan pertokoan, bioskop, salon kecantikan atau tempat pangkas rambut,
panti pijat, taman hiburan, gedung pertemuan, pondok pesantren, tempat ibadah,
objek wisata, dan lain-lain (Chandra, 2007).

2.3 Pondok Pesantren


Pondok pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para
siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih
dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap
santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid
untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks
ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya
para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.Pondok Pesantren merupakan
dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian
dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau
tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok
mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di
Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan
pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau
menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau. Pesantren juga dapat
dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan
cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada
santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama
Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam
pesantren tersebut.

2.4 Bentuk Pondok Pesantren menurut Peraturan Menteri Agama No.3


tahun 1979
1. Pondok Pesantren tipe A ciri2 :
a. Para santri belajar dan menetap di pesantren

b. Kurikulum tertulis secara eksplisit, tetapi berupa hidden kurikulum


(kurikulum tersembunyi yang ada pada benak kyai)
c. Pola pembelajaran menggunakan metede sorogan, bandongan dan
Lainya
d. Tidak meyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah
2.

Pondok Pesantren tipe B Ciri2 :


a. Para santri tinggal dalam pondok/mahad
b. Pemaduan antara pola pembelajaran asli pesantren dengan system
madrasah/sistem sekolah
c. Terdapat kurikulum yang jelas
d. Memiliki tempat khusus yang berfungsi sebagai sekolah/madrasah

3. Pondok peantren tipe C ciri2 :


a. Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal (mahad) bagi para
Santri
b. Para santri belajar atau sekolah yang letaknya di luar dan bukan milik
pesantren
c. Waktu belajar di pesantren biasanya malam atau siang hari pada saat
santri tidak belajar disekolah/madrasah (ketika mereka berada di
pondok/mahad)
d. Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan
baku
4. Pondok pesantren tipe D pondok pesantren yang menyelenggarakan
sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah

2.5 Persyaratan Sanitasi Pondok Pesantren


a) Konstruksi Bangunan
a) Lantai bangunan terbuat dari bahan yang kuat, kedap air,
permukaan rata, tidak licin dan mudah dibersihkan.
b) Lantai yang selalu kontak dengan air mempunyai kemiringan yang
cukup (2%-3%) kearah saluran pembuangan air limbah.

c) Dinding Ponpes, dipersyaratkan adanya permukaan dinding yang


harus rata, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.
d) Dinding yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang
kuat dan kedap air.
e) Atap kuat, tidak bocor dan tidak menjadi tempat perindukan
serangga dan tikus.
f) Langit-langit, kuat, berwarna terang , mudah dibersihkan, tinggi
minimal 2.50 meter dari lantai. Sementara konstruksi pintu harus
kuat, serta dapat mencegah masuknya serangga, tikus dan binatang
pengganggu lainnya.
b) Ventilasi dan Kelembaban Udara
a) Luas lubang penghawaan yang dipersyaratkan antara 5% - 15% dari
luas lantai
b) berada pada ketringgian minimal 2.10 meter dari lantai
c) bila ventilasi tidak menjamin pergantian udara dengan baik
mnggunakan ventilasi mekanik
d) Ruangan mempunyai tingkat kelembaban udara dengan kriteria
buruk jika tingkat kelembaban > 90%, kelembaban Baik (65-90%)
c) Dapur dan Fasilitas Pengelolaan Makanan
a) harus menggunakan pintu yang dapat membuka dan menutup sendiri
b) Pintu dilengkapi dengan pegangan yang mudah dibersihkan
c) Ruang dapur harus terbuka
d) Dinding kedap air
e) Ada ventilasi udara yang baik
f) Tidak lembab
d) Kepadatan Penghuni
Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai minimal 3 m2/tempat
tidur (1.5 m x 2 m)
e) Fasilitas Sanitasi
a) Kriteria Persyaratan :
1. Kualitas : Tersedianya air bersih yang memenuhi syarat
kesehatan

2. Kuantitas : Tersedia air bersih minimal 60 lt/tt/hr


3. Kontinuitas : Air minum dan air bersih tersedia pada setiap
tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan
6. Pengelolaan Sampah
a) Berbahan kuat
b) Tahan karat
c) Permukaan dalam rata/licin
d) Dikosngkan setiap 1x 24 jam / 2/3 bagian telah terisi penuh
e) Jumlah dan volume tempat sampah disesuaikan dengan volume
sampah yang dihasilkan oleh setiap kegiatan
f) isediakan min. 1 buah untuk setiap radius 10 m dan setiap jarak 20 m
g) Tersedia TPS yang mudah dikosngkan, terbuat dari beton, dan
mudah dijangkau
h) TPS di kosongkan sekurangnya 3 X 24 jam
7. Pengelolaan Air Limbah
Harus memiliki SPAL sendiri yang memenuhi persyaratan teknis apabila
belum ada atau tidak terjangkau oleh sistem pengolahan air limbah perkotaan.
Syarat Pembuangan Air Limbah antara lain :
a) Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum.
b) Tidak mengakibatkan pencemaran terhadap permukaan tanah.
c) Tidak menyebabkan pencemaran untuk mandi, perikanan, air sungai, atau
tempat-tempat rekreasi.
d) Tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat
berkembang biaknya bebrbagai bibit penyakit dan vektor.
e) Tidak terbuka kena udara luar serta tidak dapat dicapai oleh anak-anak.
Baunya tidak mengganggu.