Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

KARSINOMA SERVIKS

Oleh:
Octavina Sri Indra Handayani, S.Ked
1008012012

PEMBIMBING:
dr. Laurens David Paulus, Sp.OG (K)

BAGIAN/ SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus ini diajukan oleh:


Nama

: Octavina Sri Indra Handayani

Fakultas

: Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang

Bagian

: Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

Laporan kasus ini telah disusun dan dilaporkan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
Kepaniteraan Klinik di Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes
Kupang.

PEMBIMBING KLINIK

1. dr. Laurens David Paulus, Sp. OG (K)

Ditetapkan di

: Kupang

Tanggal

2015

Hal

DAFTAR ISI
Halaman Judul ....................................................................................................... i
Halaman Pengesahan

ii

Daftar Isi ...

iii

Daftar Tabel ..

iv

Daftar Skema . v
Daftar Singkatan ...

vi

BAB I REKAM MEDIK .

1.1 Identitas ...

1.2 Anamnesis ...

1.3 Pemeriksaan Fisik ...

1.4 Pemeriksaan Penunjang ..

1.5 Diagnosa Kerja 3


1.6 Penatalaksanaan ..

1.7 Prognosis . 4
1.8 Follow up ....

BAB II ANALISIS KASUS .

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .....

3.1 Epidemiologi .......

3.2 Etiologi 8
3.3 Patologi ...

3.4 Diagnosis . 10
3.5 Penatalaksanaan ..

11

3.6 Prognosis

12

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

Vii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.3.1 Stadium Kanker Serviks menurut FIGO 2000..... 10


Tabel 3.6.1 Angka ketahanan hidup (AKH) 5 tahun . 13

DAFTAR SKEMA

Skema 3.5 Algoritma penanganan kanker serviks ................ 12

DAFTAR SINGKATAN

HPV

Human papilloma virus

WHO

World Health Organization

MMP-9

Matrix Metalloproteinase-9

FIGO

The International Federation of Gynecology and Obstetrics

RT

Rectal Toucher

CFS

Cancer Free Space

AKH

Angka ketahanan hidup

BAB I
REKAM MEDIK

1.1

IDENTITAS
Nama

: Ny. Margaretha Bano Babu

Umur

: 64 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

1.2

Alamat

: Oebufu

Agama

: Kristen Protestan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status

: Menikah (syah)

Bangsa

: Indonesia

MRS

: 03 Maret 2015 melalui Triase (jam 15.02)

No. MR

: 383379

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis.
Anamnesis Umum
Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali
Riwayat Obstetri
Memiliki 9 orang anak, anak hidup 7 orang
Riwayat Haid
Menarche umur 13 tahun. Menopause umur 45 tahun
Nafsu Makan
Menurun, berat badan menurun.
Riwayat BAB dan BAK
BAK lancar. BAB tidak lancar
Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita
-

Riwayat keputihan tidak ada

Riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya tidak ada

Riwayat DM tidak ada

Riwayat hipertensi tidak terkontrol

Anamnesis Khusus
Keluhan Utama : perdarahan dari kemaluan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
Pasien wanita datang dengan keluar darah dari jalan lahir sejak 10 bulan lalu, yang
bertambah banyak sejak 1 minggu ini. Darah yang keluar cair disertai gumpalan. Ganti
pembalut 3-4 kali dalam 1 hari. Pusing ada, nyeri perut bagian bawah. Keputihan tidak
ada. Pasien susah untuk BAB tetapi riwayat BAB darah tidak ada. Riwayat nafsu
makan menurun ada, riwayat berat badan menurun ada. Pasien sudah pernah dirawat
di Flamboyan sebanyak 3x, sudah pernah melakukan pemeriksaan patologi anatomi
yang mengatakan karsinoma serviks. Pasien sudah direncanakan kemoterapi bulan
Desember 2013 tapi tidak ada persediaan obat.

1.3

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran

: Kompos mentis

Tekanan Darah

: 130/100 mmHg

Nadi

: 100 x/menit

Pernafasan

: 18 x/menit

Temperatur

: 36,2C.

Mata

: konjungtiva pucat +/+, sklera kuning -/-

Jantung

: S1 S2 tunggal reguler, murmur -, gallop -

Paru-paru

: Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Abdomen datar, supel dan simetris. Fundus uteri tak teraba,


massa (-), nyeri tekan suprasimfisis (+), ascites (-).

Edema

: -/-

Tipe badan

: Astenikus

VT Ginekologis
o Inspekulo :
Dinding vagina fluksus (+), flour (-)
Permukaan portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh, mudah
berdarah, ukuran 4 x 5 cm, infiltrasi 2/3 distal vagina.
o Pemeriksaan dalam:
Vagina

: teraba massa 2/3 distal vagina

Serviks

: Portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh,

mudah
berdarah, ukuran 4x5 cm, infiltrasi 2/3 distal vagina
Corpus Uteri : antefleksi, tidak membesar
Adneksa parametrium : tidak dinilai
Cavum douglasi

: tidak menonjol.

Rectal toucher
Tonus sfingter ani baik, mukosa licin, ampula rektum kosong, massa
intralumen (-), cavum uteri setara normal, penilaian terhadap cancer free space
tidak dilakukan.

1.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (tanggal 03 Maret 2015)
Hb

9.1 g/dL

RBC

4.580.000/L

HCT

30.4 %

WBC

8.470/L

PLT

255.000/L

Rencana pemeriksaan

Fungsi hati

Fungsi ginjal

USG

Rontgen Thoraks

1.5

DIAGNOSIS KERJA
Karsinoma Serviks IIIa + Anemia

1.6

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal:

1.7

IVFD RL 500 cc/8 jam

Kalnex 3 x 500 mg/IV

Asam mefenamat 3 x 500 mg

PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia
Quo ad fungsional : malam

1.8

FOLLOW UP
04 Maret 2015
Keluhan

Perdarahan dari kemaluan (+)

Status

Kesadaran: CM, TD: 140/80 mmHg, N: 80x/m, RR: 18 x/m,

present

St
ginekologi

T: 36,4oC.

PL: abdomen datar, supel, simetris, nyeri tekan (+) region


suprasimfisis, ascites (-), massa (-)
Genitalia : fluksus (+) , ganti pembalut 3 x dalam 1 hari

Diagnosis
P:

Karsinoma Serviks IIIa + anemia


o IVFD RL 500 cc/8jam
o Kalnex 3 x 500 mg/IV
o Asam mefenamat 3 x 500 mg
o SF 3 x 1 tab
o Vitamin C 3 x 1 tab

05 Maret 2015
Keluhan

Perdarahan dari kemaluan (+)

Status

Kesadaran: CM, TD: 140/90 mmHg, N: 80x/m, RR: 18 x/m,

present
St
ginekologi

T: 36,4oC.
PL: abdomen datar, lemas, simetris, fundus uteri tak teraba,
nyeri tekan (+) region suprasimfisis, ascites (-), massa (-)
Genitalia : fluksus (+) ganti pembalut 2-3x dalam 1 hari
Pemeriksaan Sp.OG
Dari hasil VT didapatkan kesan Karsinoma Serviks dengan
Stadium IIIB karena adanya perluasan sampai dinding panggul

Diagnosis Karsinoma Serviks Stadium III B


P:

o IVFD RL 500 cc/8jam


o Transfusi PRC sampai dengan target Hb 10 g/dL
o Kalnex 3 x 500 mg/IV
o Asam mefenamat 3 x 500 mg
o SF 3 x 1 tab
o Vitamin C 3 x 1 tab
o Rencana Kemoterapi

05 Maret 2015
Keluhan

Perdarahan dari kemaluan (+) berkurang

Status

Kesadaran: CM, TD: 130/90 mmHg, N: 80x/m, RR: 18 x/m,

present
St
ginekologi

T: 36,4oC.
PL: abdomen datar, lemas, simetris, fundus uteri tak teraba,
nyeri tekan (+) region suprasimfisis, ascites (-), massa (-)
Genitalia : fluksus (+) ganti pembalut 1x dalam 1 hari

Diagnosis
P:

Ca cervix Stadium III B


o IVFD RL 500 cc/8jam
o Transfusi PRC sampai dengan target Hb 10 g/dL
o Kalnex 3 x 500 mg/IV
o Asam mefenamat 3 x 500 mg
o SF 3 x 1 tab, Vitamin C 3 x 1 tab
o Kemoterapi

BAB II
ANALISIS KASUS

Penegakkan diagnosa pada kasus ini didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis diketahui bahwa penderita mempunyai keluhan
perdarahan dari kemaluan. Umumnya pada kanker serviks gejalanya adalah perdarahan
pervaginam yang terjadi terutama segera sehabis senggama (perdarahan kontak), namun pada
tingkat klinik yang lebih lanjut perdarahan spontan dapat terjadi. Pada kasus ini didapatkan
pendarahan dari kemaluan yang terjadi diluar senggama dan pasien sudah mengalami
menopause sejak umur 45 tahun yang menandakan gejala khas pada karsinoma serviks stadium
lanjut.
Faktor risiko mayor untuk kanker serviks adalah infeksi human pappiloma virus (HPV)
tipe 16 dan 18 namun pasien tidak pernah memeriksakan HPV DNA sehingga faktor risiko
minor pada kasus ini yang mendukungg perkembangan kanker serviks adalah multiparitas.
Pasien mempunyai riwayat persalinan 9 orang anak dan tidak pernah keguguran. Selain itu
faktor lain yang mendukung terjadinya kanker serviks adalah status sosioekonomi dimana pada
kasus ini pasien tidak memiliki riwayat skrining kanker serviks melalui PAP smear atau IVA
bisa dikarenakan tingkat pengetahuan yang kurang mengenai kanker serviks maupun
rendahnya pengetahuan tentang kebersihan diri.
Hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 3 Maret 2015, dari status ginekologis penderita
didapatkan hal menunjang diagnosa karsinoma serviks dimana pada stadium IIIa karena sudah
melibatkan 1/3 bawah vagina. Pada saat melakukan pemeriksaan ginekologis, inspekulo
didapati fluksus, permukaan portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh, mudah
berdarah, ukuran 4 x 5 cm, infiltrasi 2/3 distal vagina. Pada saat melakukan pemeriksaan dalam
vaginanya sudah terdapat massa 2/3 distal vagina, portio serviks berdungkul-dungkul, massa
eksofitik, rapuh, mudah berdarah dengan ukuran 4x5 cm, corpus uteri antefleksi, tidak
membesar, adneksa parametrium tidak dinilai, cavum doglasi tidak menonjol. Pada
pemeriksaan rectal toucher (RT) didapati tonus sfingter ani mencengkram, mukosa licin,
ampula rektum kosong, massa intralumen (-), cavum uteri setara normal, cancer free space
(CFS) tidak dinilai. Kelemahan pada pemeriksaan ginekologis adalah ketidaktelitian

pemeriksaan adneksa parametrium dan CFS pada pasien sehingga infiltrasi adneksa
parametrium tidak dapat dinilai.
Jenis kanker serviks yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa sebanyak 90%
yang dapat diidentifikasikan dengan pemeriksaan Patologi anatomi (PA). Pemeriksaan PA
pasien dinyatakan menderita kanker serviks namun pemeriksa tidak mendapat keterangan yang
lengkap mengenai hasil PA sehingga tidak dapat mengetahui jenis kanker serviks. Pemeriksaan
penunjang didapatkan hemoglobin berkisar 9.1 g/dl yang menunjukkan bahwa adanya
perdarahan. Selain pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, USG
dan foto thoraks harus direncanakan karena terkait dengan penentuan stadium dan
penangangan terapi. Bila pasien karsinoma serviks memiliki gangguan fungsi ginjal maka
stadiumnya menjadi IIIb dan bila ditemukan mestatase pada pemeriksaan USG dan foto thorax
maka stadiumnya menjadi lebih tinggi.
Kasus ini pasien didiagnosa masuk dengan karsinoma serviks stadium IIIa karena telah
melibatkan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul.
Namun dari hasil pemeriksaan dokter SpOG (K) didapati sudah terjadi perluasan sampai
dinding panggul sehingga pasien didiagnosa dengan karsinoma serviks stadium IIIb.
Penatalaksanaan yang harus diberikan bagi penderita karsinoma serviks stadium IIIb adalah
radiasi namun penatalaksanaan pada kasus ini adalah kemoterapi karena keterbatasan alat.
Five years survival rates pada penderita karsinoma serviks stadium IIIb adalah berkisar
antara 50% yang artinya dari 1000 orang pasien karsinoma serviks stadium IIIb yang dapat
bertahan selama 5 tahun hanya sebanyak 50 orang. Sehingga pada pasien ini prognosis baik
quo ad vitam maupun quo ad functionamnya adalah malam karena setelah tindakan yang telah
dilakukan tidak ada kemungkinan kembalinya fungsi organ seperti semula.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia, kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan dan

merupakan penyebab kematian utama pada perempuan.(1,2) Sekitar 50-80% wanita terinfeksi
oleh human papillomavirus (HPV) sepanjang masa hidupnya.(1) Berdasarkan data World
Health Organization (WHO) pada tahun 2008 diperkirakan setiap harinya ada 38 kasus baru
kanker serviks dan 21 orang perempuan yang meninggal karena kanker serviks di Indonesia.(2)
Kanker serviks di Indonesia, 60-70% ditemukan dalam stadium lanjut.(1) Hasil
penelitian di pusat pelayanan primer di lima wilayah DKI Jakarta didapatkan korelasi lemah
antara pengetahuan dan perilaku mengenai deteksi dini kanker serviks.(3) Penemuan dan terapi
pada fase lesi prakanker ternyata dapat mencegah kejadian kanker serviks dengan keberhasilan
mendekati 100%.(2) Namun setelah kanker terbentuk, prognosis tergantung pada stadium
sebagai berikut: stadium 0 (prainvasif), 100% ; stadium 1, 90%; stadium 2, 82% stadium 3,
35% ; dan stadium 4, 10%.(4)

3.2

ETIOLOGI
Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV.(5) Lebih dari 90% kanker

serviks jenis skuamosa mengandung DNA virus HPV dan 50% kanker serviks berhubungan
dengan HPV tipe 16. Penyebaran virus ini terutama melalui hubungan seksual. Dari banyak
tipe HPV, tipe 16 dan 18 mempunyai peranan yang penting melalui sekuensi gen E6 dan E7
dengan metode pembentukan protein-protein yang penting dalam replikasi virus. Onkoprotein
dari E6 akan mengikat dan menjadikan gen penekan tumor (p53) menjadi tidak aktif sedangkan
onkoprotein E7 akan berikatan dan menjadikan produk gen retinoblastoma (pRb) menjadi tidak
aktif.(6) Protein E6 dari HPV-16 dan 18 akan mengakibatkan inaktivasi gen p53 melalui
mekanisme pengikatan yang disebut ubiquitin-dependent proteolytic pathway (E6AP),
sehingga akan terjadi penurunan kadar protein p53 (wild type). Protein E7 (onco protein) akan
mengikat gen pRb, sehingga akan berakibat sama seperti pada protein p53. Ikatan E6 dengan
pRb tersebut menyebabkan tidak terikatnya gen E2F (faktor transkripsi) oleh protein pRb,

sehingga gen E2F menjadi aktif dan akan membantu c-myc untuk terjadinya replikasi DNA
dan menstimuli siklus sel.(7)
Penelitian juga mengatakan bahwa matrix metalloproteinase 9 (MMP-9) merupakan
enzim proteolitik yang diduga berperan penting dalam proses progresivitas lesi prakanker
menjadi kanker serviks.(8) Kadar MMP-9 yang tinggi akan menyebabkan proses degradasi
jaringan serviks menjadi lebih cepat dan mempermudah proses invasi sel kanker. Faktor-faktor
lain yang berkontribusi terhadap risiko terkena kanker serviks aktivitas seksual terlalu muda (<
16 tahun), paritas tinggi, jumlah pasangan seksual tinggi (> 4 orang), riwayat infeksi berpapil,
merokok dan sosio ekonomi rendah.(5,6,9)

3.3

PATOLOGI
Kanker servikal ini sebagian besar (90%) adalah karsinoma sel skuamosa dan sisanya

10% adalah adenokarsinoma.(5,6) Pada karsinoma sel skuamosa lesi pada dasarnya menyerupai
sel asal dan tersusun dalam lembran-lembaran serta genjel-genjel yang memperlihatkan semua
sumber keganasan. Kanker ini dibagi lagi menjadi tiga subtipe berdasarkan ukuran sel dan
adanya keratinisasi yaitu sel besar berkeratinisasi, sel besar tidak berkeratinisasi dan karsinoma
sel kecil. Sedangkan adenokarsinoma sel serviks berasal dari kelenjar endoserviks.(10) Secara
histologis kanker serviks dibagi berdasarkan asal selnya menjadi: (6)
1. Dari sel epitel
-

Sel besar tanpa pertandukan

Sel besar dengan pertandukan

Sel kecil

Karsinoma verukosa

Adenoma malignum

Musinosum

Papillaris

Endometrioid

Sel jernih

Kistik adenoid

Karsinoma sel stem (sel glassy)

2.

Dari jaringan mesenkhim


-

Karsinoma sarkoma

Rabdomiosarkoma embrional

3. Tumor duktus Gartner

Diagnosis kanker serviks ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi jaringan


biopsi dilanjutkan dengan penentuan stadium. Stadium kanker serviks hanya ditentukan
melalui pemeriksaan klinik.

Tabel 3.3.1 Stadium Kanker Serviks menurut FIGO 2000(6,11)


Stadium 0
Stadium I
Stadium Ia

Stadium Ia1
Stadium Ia2
Stadium Ib
Stadium Ib1
Stadium Ib2
Stadium II
Stadium IIa
Stadium IIb
Stadium III

Stadium IIIa
Stadium IIIb
Stadium IV
Stadium IVa
Stadium IVb

Karsinoma in situ, karsinoma intraepitelial


Karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)
Invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik, lesi yang
dapat dilihat secara langsung walau dengan invasi yang sangat superfisial
dikelompokkan sebagai stadium Ib. Kedalaman invasi stroma tidak lebih
dari 5 mm dan lebarnya tidak lebih dari 7 mm
Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm dan lebar tidak
lebih dari 7 mm
Invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm
dan lebar tidak lebih dari 7 mm
Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis lebih dari Ia
Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm
Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm
Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai 1/3 bawah atau infiltrasi ke
parametrium belum mencapai dinding panggul
Telah melibatkan vagina, tetapi belum melibatkan parametrium
Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai dinding panggul
Telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding
panggul. Kasus dengan hidronefrosis atau gangguan fungsi ginjal
dimasukkan dalam stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan oleh
sebab lain.
Keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai
dinding panggul
Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidronefrosis atau
gangguan fungsi ginjal
Perluasan ke luar organ reproduksi
Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rektum
Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

3.4

DIAGNOSIS
Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi.

Pada dasarnya bila dijumpai lesi seperti kanker yang kasat mata harus dilakukan biopsi
meskipun pemeriksaan Pap smear masih dalam batas normal. Biopsi dengan bantuan
kolposkopi dapat dilakukan pada lesi yang tidak kasat mata. Bila hasil biopsi dicurigai adanya
mikroinvasi, dilanjutkan dengan konisasi. Konisasi dapat dilakukan dengan pisau (cold knife)
atau dengan elektrokauter pada NIS dengan derajat 3.(6)

3.5

PENATALAKSANAAN
Secara umum jenis terapi yang diberikan tergantung usia dan keadaan umum penderita,

luas penyebaran dan komplikasi yang menyertai. Terapi tunggal berupa radiasi atau operasi
merupakan pilihan bila kanker serviks dapat didiagnosis pada stadium dini. Pada kasus
karsinoma serviks dengan stadium Ia1 dapat dilakukan tindakan histeroktomi simpel karena
belum invasi ke pembuluh darah dan limfe sehingga kemungkinan penyebaran ke kelenjar
getah bening regionalnya tidak lebih dari 1%. Pada stadium Ia2, yang kemungkinan invasi
pembuluh darah dan limfe sekitar 7% dapat dilakukan histerektomi radikal dengan
limfadenektomi kelenjar getah bening pelvis atau radiasi bila ada kontraindikasi tindakan
operasi.(6)
Pada kasus-kasus karsinoma serviks stadium lanjut meliputi stadium IIB, III, IVa tidak
dilakukan tindakan operatif karena tumor telah menyebar jauh ke luar dari serviks. Pengobatan
terpilih adalah radiasi atau variasi yang sering diberikan kemoradiasi. Kombinasi kemoradiasi
ini akan meningkatkan keberhasilan terapi sampai 30%. Pemberian siplastin tunggal sama
efektifnya dengan kombinasi ifosfamid dengan efek samping yang minimal.(6)
Pada kasus dengan stadium IVb prognosisnya lebih buruk daripada stadium
dibawahnya. Pada stadium terminal ini bila keadaan umum penderita memungkinkan dapat
diberikan kemoradiasi konkomitan tetapi hanya bersifat paliatif.(6)

Skema 3.5 Algoritma penanganan kanker serviks(6)


Sitologi
abnormal
Prainvasif

Biopsi konisasi

Terapi sebagai
prainvasif

Kanker serviks
prainvasif

Bukan kanker

Penentuan stadium
Foto Toraks
Sistoskopi
Rektoskopi
Operable
Masih ingin hamil
Std. Ia1

Unoperable
Tidak ingin hamil

Std. Ia2
Ib1 < 2 cm

Std. Ia1

Konisasi

LA

HT

Follow
up

KGB

TR

Std. Ia2
Ib1

Std. IIb-IIIb

Kemoradiasi

Std. IV

Paliatif

HR (+)
LA

KGB (+)
Faktor
rrisiko (-)

Faktor
rrisiko (+)

Follow up

Adjuvant
radiasi

HR

Keterangan: HR : histeroktomi radikal; HT : histeroktomi total


TR : trakhelektomi radikal; LA : limfadenektomi

3.6

PROGNOSIS
Penderita kanker serviks yang telah menjalani terapi primer masih mempunyai

kemungkinan kekambuhan. Kekambuhan umumnya terjadi dalam masa 2 tahun pertama.


Selama periode ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan rutin seperti perabaan pembesaran
kelenjar getah bening terutama pada daerah supraklavikula, pemeriksaan rektovaginal dan

sitology setiap 3-4 bulan. Setelah 2 tahun pemeriksaan dapat dilakukan setiap 6 bulan hingga
5 tahun stelah terapi primer untuk selanjutnya setahun sekali.(6)
Faktor risiko yang berhubungan dengan kekambuhan yaitu invasi kelenjar getah bening
pelvis, ukuran lesi besar, invasi limfe-vaskular, invasi parametrium, invasi sayatan tumor,
invasi endometrium, jenis histologi, diferensiasi ke dalam invasi stroma.(6)
Five years survival rates pada penderita karsinoma serviks bergantung pada stadium.
Semakin stadiumnya tinggi makan angka ketahanan hidupnya dalam 5 tahun akan semakin
menurun.
Tabel 3.6.1 Angka ketahanan hidup (AKH) 5 tahun(12)
Tingkat

AKH-5 Tahun

T1

90%

T2

60-80%

T3

50%

T4

< 30%

DAFTAR PUSTAKA
1. Goedadi A. Kebijakan dan Strategi Program Kesehatan Reproduksi. Indonesia: BKKBN;
2012: 80-90.
2. Ocviyanti Dwiana, Handoko Yohanes. Peran Dokter Umum dalam Pencegahan Kanker
Serviks di Indonesia. Jurnal Indonesia Medical Association, Volume: 63, Nomor: 1.
2013:1-3
3. Fauziah Rathi Manjari, Wirawan Jimmy Panji, Lorianto Rossalina, dkk. Deteksi Dini
Kanker Serviks pada Pusat Pelayanan Primer di Lima Wilayah DKI Jakarta. Jurnal
Indonesia Medical Association, Volume: 61, Nomor: 11. 2011:447-452
4. Tumor Serviks. Buku Ajar Patologi Robbins. Ed. 7. Jakarta: EGC, 2007:767-770
5. Price Sylvia, Wilson Lorraine. Karsinoma Serviks. Patofisiologi. Ed.6. Jakarta: EGC.
2006:1295-1297
6. Kanker Serviks. Onkologi Ginekologi. Ed.I. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2006:443-455
7. Hakim Lukman. Biologi dan Patogenesis Human Papiloma Virus. PKB New Perspective
of Sexually Transmitted Infection Problems. 2010:164-180. [cited: 2015 April 1].
Available

from:

http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/index.php/promosi-

kesehatan/majalah-rs/doc_download/62-biologi-a-patogenesis-human-papiloma-virus8. Chrestella Jessy, Lubis M Nadjib D, Wibisono Soekimin A.H. Gambaran Immunoekspresi
Matrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) pada Lesi-lesi Prakanker dan Karsinoma Serviks
Invasif. Majalah Patologi. Volume 9. No.2, 2010:1-7
9. Lumban Tobing Maringan Diapari, Sahiratmadja Edhyana, Dinda Mufti, Hernowo Bethy
Suryawathy, Susanto Herman. Human Papillomavirus Genotypes Profile in Cervical
Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia. Asian Pasific
Journal of Cancer Prevention, Volume 15, 2014: 5781-5785
10. Gant Norman F. Neoplasia Intraepitelial dan Kanker Serviks. Dasar-dasar Ginekologi &
Obstetri. Jakarta:EGC. 2010:266-273
11. Boardman Cecelia H, Harris Jules E. Cervical Cancer Staging. Medscape. Updated: Sep 6,
2013

[cited

on

April

2015].

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/2006486-overview
12. Boardman Cecelia H, Huh Warner K. Cervical Cancer. Medscape. Updated: Aug 15, 2014
[cited on 4 April 2015]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/253513overview