Anda di halaman 1dari 3

Kode Etik Dokter

Hewan

Drh. Dodik Prasetyo, M.Vet


Mukhadimah

lmu Kedokteran
Hewan:

keilmuan yang menunjang


kesejahteraan manusia dan
lingkungannya
(perlindungan
dan
pengamanan dari penyakit
zoonosis
dan
keamanan
pangan asal hewan)
Memastikan
kesehatan
hewan (assurance),
Memastikan
kemampuan reproduksi hewan
populasi meningkat
bahan pangan hewani.
termasuk
rumpun
ilmu
kesehatan
dan
medis
dengan
obyek
hewan,
memenuhi ciri-ciri profesi
medis

Ciri-Ciri Profesi Medik:


1. Mengikuti pendidikan sesuai standar
nasional
2.
Pekerjaaannya berlandaskan etik
profesi.
3. Mengutamakan
panggilan
kemanusiaan dari pada keuntungan
4. Pekerjaannya legal melalui perizinan
5. Anggota anggotanya belajar
sepanjang hayat.
6. Anggota anggotanya bergabung
dalam sebuah organisasi profesi
Mukhadimah 2

Ilmu Kedokteran Hewan yang


melekat pada gelar profesi
dokter
hewan
digunakan
untuk fungsi pelayanan praktik
kedokteran

Bukan merupakan pekerjaan


yang boleh dilakukan oleh siapa
saja, melainkan hanya boleh
dilakukan
oleh
kelompok
profesional kedokteran

memiliki kompetensi yang


memenuhi standar tertentu,
diberi kewenangan oleh
institusi yang berwenang di
bidang itu
bekerja sesuai dengan
etik,
standar
dan
profesionalisme
yang
ditetapkan oleh organisasi
profesinya

UU no.12/2012 Paragraf 3 Program Profesi


dan Program Spesialis, Pasal 24
(1) Program profesi merupakan pendidikan
keahlian khusus yang diperuntukkan bagi
lulusan program sarjana atau sederajad untuk
mengembangkan bakat dan kemampuan
memperoleh kecakapan yang diperlukan dalam
dunia kerja.
(2) Program profesi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh
Perguruan Tinggi bekerjasama dengan
kementerian, kementerian lain, LPNK dan/atau
organisasi profesi yang bertanggungjawab
atas mutu layanan profesi.
(4) Program profesi wajib memiliki Dosen
yang berkualifkasi akademik minimum lulusan
program profesi dan/atau lulusan program
magister atau yang sederajat dengan
pengalaman kerja paling singkat 2 tahun.
UU no.12/2012 Paragraf 7 Program Profesi
dan Program Spesialis, Pasal 43
1) Sertifikat profesi merupakan pengakuan
untuk melakukan praktik profesi yang
diperoleh lulusan pendidikan profesi (PPDH)
yang diselenggarakan oleh Perguruan
Tinggi bekerjasama dengan Kementerian,
Kementerian lain, LPNK, dan/atau organisasi
profesi yang bertanggung jawab atas mutu
layanan profesi,dan/atau badan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan
Catatan : FKH-FKH (Asosiasi FKH
Indonesia/AFKHI)
bersama
PBPDHI
membentuk Komite Bersama Ujian Nasional
Kompetensi Dokter Hewan Indonesia dan juga
melakukan Revitalisasi Program Pendidikan
Kedokteran Hewan Indonesia atas dukungan
DitJen Dikti Kemendikbud.

(2) Sertifikat profesi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) diterbitkan oleh Perguruan
Tinggi bekerjasama dengan Kementerian,
Kementerian lain, LPNK, dan/atau organisasi
profesi yang bertanggung jawab atas mutu
layanan profesi,dan/atau badan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan
(3) Perseorangan, organisasi , dan atau
penyelenggara Pendidikan Tinggi yang tanpa
hak dilarang memberikan sertifikat profesi

UU no.12/2012 Paragraf 7 Program Profesi


dan Program Spesialis, Pasal 44
(1)
Sertifikat
kompetensi
merupakan
pengakuan kompetensi atas prestasi lulusan
sesuai dengan keahlian dalam cabang
ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar
program studinya
(2) Sertifikat kompetensi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh
perguruan tinggi bekerjasama dengan
organisasi profesi, lembaga pelatihan, atau
lembaga sertifikasi yang terakreditasi kepada
lulusan yang lulus uji kompetensi
(3) Sertifikat kompetensi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat dipergunakan
sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan
tertentu
(4)
Perseorangan,
organisasi,
atau
penyelenggara pendidikan tinggi yang tanpa
hak
dilarang
memberikan
sertifikat
kompetensi

UU no.12/2012 Bab IX Ketentuan Pidana


Pasal 93
Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara
Pendidikan Tinggi yang melanggar pasal 42
ayat 1) (ijazah), pasal 43 ayat 3 dan pasal 44
ayat 4) (yaitu perseorangan,organisasi,atau
penyelenggara Pendidikan Tinggi yang tanpa
hak
dilarang
memberikan
sertifikat
kompetensi) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau
pidana denda paling banyak satu miliar
rupiah.

Mukhadimah 3
Dalam pergaulan masyarakat yang
berbudaya tinggi berlaku standar-standar
etika, yang berisi norma-norma yang
mengatur dan memelihara hubungan manusia
dengan lingkungannya

Untuk
memelihara
penghormatan,
penghargaan dan kepercayaan masyarakat
terhadap profesi Dokter Hewan, maka Dokter
Hewan harus berpegang pada standarstandar nilai luhur yang hidup didalam
pergaulan
masyarakat
Indonesia
dan
bersumber dari dalam falsafah Pancasila
sebagai landasan ideal dan Undang-Undang
Dasar 1945 sebagai landasan struktural dan
juga kepadatata nilai etika dokter hewan
(veteriner) universal.
Dokter Hewan Indonesia, menyusun nilainilai luhur etika dokter hewan itu sebagai
pijakan tatakrama dalam menjalankan tugas
dan kewajiban kami, yang tersurat dan
tersirat di dalam butir-butir (pasal), yang
dinamakan KODE ETIK DOKTER
HEWAN INDONESIA

SUMPAH / JANJI DOKTER HEWAN


1. Akan mengabdikan diri saya, ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang
saya miliki kepada perbaikan mutu,
peringanan
penderitaan
serta
perlindungan
hewan
demi
kesejahteraan masyarakat.
2. Akan menggunakan ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang saya miliki
berlandaskan perikemanusiaan dan
kasih sayang kepada hewan
3. Akan memberikan pertimbangan
utama untuk kesembuhan, kesehatan
dan kesejahteraan pasien saya,
kepentingan tertinggi klien dengan
mempertaruhkan kehormatan profesi
dan diri saya.
4. Saya tidak akan menggunakan
pengetahuan yang berlawanan dengan
hukum
perikemanuasiaan
atau
menyimpang dari Kode Etik profesi
saya.

5. Sumpah/janji ini saya ucapkan di


hadapan Tuhan Yang Maha Esa
KODE ETIK DOKTER HEWAN
Bab I : Kewajiban Umum (pasal 1 8)
Bab II : Kewajiban Terhadap Profesi
(pasal 9 -17)
Bab III : Kewajiban Terhadap Pasien
(pasal 18 -22)
Bab IV : Kewajiban Terhadap Klien (pasal
23 27)
Bab V : Kewajiban Terhadap Sejawat
Dokter Hewan (pasal 28 33)
Bab VI : Kewajiban Terhadap Diri Sendiri
(pasal 34 36)
Bab VII : Penutup (pasal 37)