Anda di halaman 1dari 4

Narita Ajeng Loviana (141610101031)

Tipe Resin Akrilik


1. Heat Cured Acrylic Resin
Kebanyakan sistem resin poli (metil metakrilat) terdiri atas komponen bubuk dan
cairan. Bubuk terdiri atas butir-butir poli (metil metakrilat) pra-polimerisasi dan sejumlah
kecil benzoil peroksida sebagai pemulai/inisiator. Cairan didominasi oleh metil metakrilat
tidak terpolimerisasi degan sejumlah kecil hidroquinon. Hidroquinon ditambahkan
sebagai suatu penghambat. Bahan tersebut mencegah polimerisasi yang tidak diharapkan,
atau pengerasan cairan selama penyimpanan. Suatu bahan ikatan silang juga
ditambahkan pada cairan. Glikol dimetakrilat biasanya digunakan sebagai bahan ikatan
silang yang akan memberikan peningkatan ketahanan terhadap deformasi.
Bahan-bahan teraktivasi dengan panas digunakan dalam pembuatan hampir semua
basis protesa. Energi termal yang diperlukan untuk polimerisasi bahan-bahan tersebut
dapat diperoleh dengan menggunakan perendaman air atau oven gelombang mikro
(microwave). Karena prevalensi dari resin-resin ini, sistem teraktivasi dengan panas lebih
ditekankan.
Bila dipanaskan di atas 60oC, molekul-molekul benzoil peroksida terpisah-pisah
menghasilkan spesies dengan muatan listrik netral dan mengandung elektron tidak
berpasangan. Spesies molekul ini dinamakan radikal bebas. Masing-masing radikal bebas
dengan cepat bereaksi dengan molekul monomer yang ada untuk merangsang
polimerisasi rantai bertumbuh.
Pada sistem ini, panas diperlukan untuk menyebabkan pemisahan molekul benzoil
peroksida. Oleh karena itu, panas dinamakan sebagai aktivator. Selama pembuatan basis
protesa, panas diaplikasikan pada resin dengan merendam kuvet protesa dan alat
pembawa kuvet dalam bak air. Kemudian air dipanaskan sampai temperatur yang
dianjurkan dan dipertahankan pada temperatur tersebut untuk suatu periode waktu yang
dianjurkan.
Resin akrilik juga dapat dipolimerisasi menggunakan energi gelombang mikro.
Gelombang mikro membuat molekul bergerak secara merata dan seimbang ke segala arah
sehingga hasil akhir dari resin akrilik ini lebih sempurna. Hal tersebut disebabkan karena
hampir semua monomer bereaksi sehingga proses polimerisasinya sempurna. Teknik ini
menggunakan resin dengan rumus khusus serta kuvet yang tidak mengandung logam.

Oven gelombang mikro konvensional digunakan untuk memasok energi termal yang
diperlukan untuk polimerisasi.
2. Self Cured Acrylic Resin
Aktivator kimia mungkin juga digunakan untuk melangsungkan polimerisasi resin
akrilik. Aktivasi kimia tidak memerlukan penggunaan energi termal dan karenanya dapat
dilakukan pada temperatur ruang.
Pada kebanyakan keadaan, aktivasi kimia dicapai melalui penambahan amin
tersier, seperti dimetil para toluidin, terhadap cairannya yaitu monomer. Bila komponen
bubuk dan cairan diaduk, amin tersier menyebabkan terpisahnya benzoil peroksida.
Sebagai akibatnya dihasilkan radikal bebas dan polimerisasi dimulai. Polimerisasi
berlangsung dengan cara yang serupa dengan pada sistem aktivasi termal.
Perbedaan dasar antara resin akrilik yang terkativasi dengan panas dan kimia
adalah cara benzoil peroksida terpisah untuk memisahkan radikal bebas. Semua faktor
lain dalam proses tetap sama, misalnya, inisiator dan reaktor. Umumnya derajat
polimerisasi yang dicapai dengan menggunakan resin teraktivasi kimia tidaklah
sesempurna seperti yang dicapai oleh resin yang teraktivasi panas. Ini menunjukkan ada
monomer dalam jumlah lebih besar yang tidak bereaksi yang dibuat melalui proses
aktivasi kimia. Monomer yang tidak teraktivasi ini menciptakan 2 kesulitan utama.
Pertama, monomer residu bertindak sebagai iritan jaringan yang potensial sehingga
membatasi biokompatibilitas dari resin akrilik tipe ini. Kedua, bahan tersebut bertindak
sebagai bahan plastis yang menyebabkan penurunan kekuatan tranversal dari resin akrilik
ini.
Namun dari sudut pandang fisik, resin yang teraktivasi secara kimia menunjukkan
pengerutan yang lebih sedikit dibandingkan dengan resin akrilik yang teraktivasi oleh
panas karena polimerisasi yang kurang sempurna. Ini memberikan keakuratan dimensi
yang lebih besar pada resin yang teraktivasi secara kimia.
3. Light Cured Acrylic Resin
Resin akrilik yang diaktifkan dengan sinar yang terlihat oleh mata digambarkan
sebagai suatu komposit yang memiliki matriks uretan dimetakrilat, silika ukuran mikro,
dan monomer resin akrilik berberat molekul tinggi. Butir-butir resin akrilik dimasukkan
sebagai bahan pengisi organik. Sinar yang terlihat oleh mata adalah aktivator, sementara

camphoroquinone bertindak sebagai pemulai polimerisasi. Sinar yang digunakan sebagai


aktivator adalah sinar tampak dengan panjang gelombang antara 400-500 nm atau sinar
UV dengan panjang gelombang 240 nm. Namun, sinar UV sudah tidak digunakan karena
sifatnya yang dapat merusak jaringan.
Resin dipasok dalam bentuk lembaran dan benang serta dibungkus dalam kantung
kedap cahaya untuk mencegah polimerisasi yang tidak diinginkan. Media penanam yang
opak mencegah masuknya sinar, jadi resin akrilik yang diaktifkan dengan sinar tidak
dapat dimasukkan dalam kuvet seperti cara konvensional.

Yona anindita (141610101027)


Kekurangan dan Kelebihan Resin Akrilik
A. Heat Cured Acrylic (Resin akrilik teraktivasi)
a). Kelebihan:
- nilai estetis yang unggul dimana warna hasil akhir akrilik sama dengan
warna jaringan lunak rongga mulut.
- Selain itu resin akrilik ini tergolong mudah dimanipulasi.
- dan harga terjangkau.
b). Kekurangan:
- daya tahan abrasi atau benturan masih tergolong rendah.
- fleksibilitas juga masih rendah.
- dan hasil akhir dari manipulasi akrilik akan terjadi penyusutan volume
(Combe, 1992).

B. Self Cured Acrylic (Resin akrilik Teraktivasi Kimia)


a). Kelebihan:
-

mudah dilepaskan dari kuvet.


fleksibilitas lebih tinggi dari tipe1.
pengerutan volume akhir tergolong rendah karena proses polimerisasi dari
tipe ini tergolong kurang sempurna.

b). Kekurangan:

elastisitas dari tipe initergolong kurang dari tipe I, kemudian karena


digunakan bahan kimia hal tersebut dapat mengiritasi jaringan rongga

mulut.
dari segi ekonomis lebih mahal (Combe, 1992).

C. Light Cured Acrylic (Resin Akrilik teraktivasi Cahaya)


a). Kelebihan:
- penyusutan saat polimerisasi rendah.
- hasil akhir manipulasi dapat dibentuk dengan baik.
- resin ini dapat dimanipulasi dengan peralatan sederhana.
b). Kekurangan:
-

elastisitas dari resin akrilik ini kecil dan penggunaan sinar UV pada resin
ini dapat merusak jaringan rongga mulut (Combe, 1992).

Anusavice, Kenneth J. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Alih bahsa, Johan
Arief Budiman, Susi Purwoko ; editor edisi bahasa Indonesia, Lilian Juwono.
Ed. 10. Jakarta : EGC, 2003.