Anda di halaman 1dari 3

HEMATOKEL SKROTUM

1. Anamnesis
Anamnesis pada kasus-kasus hematokel biasanya ditanyakan apakah mempunyai
riwayat trauma pada bagian skrotum atau tidak, karena penyebab hematokel biasanya
adalah trauma. Pada anamnesis juga dapat ditanyakan riwayat operasi, penyakit-penyakit
generative karena bisa juga merupakan fase lanjutan dari diabetes atau penyakit
aterosklerotik.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik kasus-kasus Hematokel Skrotum sering didapatkan:
- Pada inspeksi dapat terlihat adanya pembesaran seperti massa yang terlihat berasal
dari dalam skrotum
- Ketika dipalpasi adanya konsistensi yang keras
- Tidak nyeri
- Tidak bertransluminasi jika menggunakan bantuan transluminasi
- Testis pasien tidak teraba oleh karena tertutup oleh hematokel pada skrotum
3. Pemeriksaan Penunjang
- Pem. Laboratorium untuk memastikan hematokel sekunder dari penyakit primer
seperti infeksi seperti urinalisis, dll
- Ultrasonografi skrotum dengan studi Doppler (dilakukan oleh ultrasonographer
berpengalaman atau ahli radiologi) yang berharga untuk mendiagnosis dan
pementasan cedera testis. Sebuah parenkim pola gema normal, dengan aliran darah
normal dalam kasus-kasus trauma tumpul, aman dapat mengecualikan cedera yang
signifikan. Perdarahan akut atau memar dari parenkim testis biasanya muncul sebagai
daerah hyperechoic, sedangkan darah tua muncul sebagai lesi hypoechoic.
Hematoceles akut dan kronis yang diamati sebagai daerah hypoechoic dan
hyperechoic campuran dibatasi oleh tunika vaginalis. Temuan yang paling spesifik
untuk pecah testis adalah pesawat fraktur diskrit, tapi ini terlihat hanya 17% kasus.
Karakterisasi tampaknya lebih ditingkatkan dengan penggunaan USG kontras
ditingkatkan, yang memungkinkan untuk lebih banyak informasi dalam pengambilan
keputusan bedah.
Melakukan studi Doppler ultrasonografi skrotum selama. Studi Doppler
memberikan informasi tentang status vaskular testis. Aliran darah ke testis
menunjukkan bahwa pedikel vaskular utuh. Tidak adanya aliran menyiratkan bahwa
torsi atau devascularizing cedera telah terjadi pada kabel spermatika.
Studi pencitraan lain, seperti pencitraan nuklir atau MRI, telah digunakan untuk
memperoleh informasi tambahan dalam kasus samar-samar. Sebuah studi berbasis
hewan Srinivas et al menunjukkan bahwa MRI setelah trauma testis tumpul bisa
membantu dalam stratifikasi sejauh mana cedera dan memberikan informasi
mengenai prognosis.
4. Etiologi & Faktor Resiko
Etiologi & Faktor resiko dari hematokel skrotum antara lain:

- Riwayat trauma
- Diabetes
- Neoplasma
- Torsio, atau
- Penyakit aterosklerotik
5. Patofisiologi
Hematokel merupakan penumpukan darah pada rongga tubuh. Hal ini biasanya
terjadi karena adanya pukulan langsung atau benturan keras pada testis, yang mengenai
lapisan pelindung dan menyebabkan darah mengumpul pada lapisan tersebut. Pada kasus
hematokel skrotum, penimbunan darah terjadi pada skrotum tepatnya penimbunan darah
pada tunika vaginalis yang biasanya terjadi setelah skrotum mengalami cedera.
Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang
cukup tebal disebut : Tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum Tunika vaginalis
viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa
darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan
permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginera sebaliknya kaya
akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya
vaskularisasi.
Testis yang diselimuti oleh lapisan jaringan ikat fibrosa putih yang disebut tunika
vaginalis dan tunika albuginea. Tunika albuginea adalah lapisan visceral yang menutupi
testis, dan tunika vaginalis adalah lapisan parietal yang melapisi kantung hidrokel.
Gambar di bawah menggambarkan testis yang sehat. Tunika albuginea adalah lapisan
yang dilanggar selama pecahnya testis. Sekitar 50 kg gaya diperlukan pecah testis. Air
mata di tunika albuginea menyebabkan ekstrusi tubulus seminiferus dan memungkinkan
perdarahan intratesticular untuk melarikan diri ke dalam tunika vaginalis. Hal ini disebut
sebagai hematocele a. Gangguan tunika vaginalis atau perluasan ke epididimis
menyebabkan perdarahan ke dalam dinding skrotum, sehingga hematoma skrotum.
Dua faktor melindungi testis trauma eksternal ringan. Pertama, lapisan tipis cairan
serosa (yaitu, hidrokel fisiologis) memisahkan tunika albuginea tunika vaginalis dari dan
memungkinkan testis untuk meluncur bebas di dalam kantung skrotum. Kedua, testis
ditangguhkan dalam skrotum oleh korda spermatika, yang memungkinkan mereka untuk
bergerak bebas di dalam area genital. Dalam kasus trauma tembus atau trauma tumpul
berat, fitur ini pelindung tidak cukup untuk mencegah cedera pada testis yang tepat.
6. Penatalaksanaan
Jika hanya sedikit, biasanya darah akan kembali diserap sehingga penatalaksanaan
awal yang ditegakan biasanya dengan beristirahat dan bersantai serta meminimalisir
gerakan testis/skrotum yang berlebihan. Tetapi pada kasus perdarahan yang banyak, perlu
dilakukan pembedahan untuk membuangnya.
7. Komplikasi

Dalam kasus-kasus yang tidak tertangani dengan baik, terutama kasus yang memiliki
perdarahan hematokel skrotum yang tidak dikeluarkan sering menimbulkan komplikasi
seperti:
- Kompresi testis
- Nekrosis
- Infeksi
- Pembentukan abses
8. Edukasi & Pencegahan
- Mengedukasi pasien untuk meminimalisir gerakan skrotum saat fase penyembuhan
- Mencegah terjadinya hematokel skrotum dengan melindungi bagian skrotum/testis
dari trauma luar yang dapat terjadi
- Mengontrol penyakit primer apabila hematokel skrotum yang terjadi merupakan
bagian sekunder
- Segera berkonsultasi dengan dokter apabila hematokel belum sembuh lama atau
memiliki penimbunan darah yang semakin bertambah sebagai indikasi tindakan
medis selanjutnya berupa pembedahan.
9. Epidemiologi
Trauma testis relatif jarang. Trauma tumpul menyumbang sekitar 85% dari kasus,
dan menembus account trauma untuk 15%. Sebanyak 80% dari hematoceles (darah dalam
tunika vaginalis) berhubungan dengan pecahnya testis. Gambar di bawah
menggambarkan hematoma pada fraktur testis.
Cedera testis tumpul dapat dikelola baik secara medis atau pembedahan,
tergantung pada presentasi klinis. Intervensi bedah awal untuk trauma tumpul dikaitkan
dengan tingkat yang lebih tinggi penyelamatan (94% vs 79%).
Dislokasi testis terlihat dalam kurang dari 0,5% dari kasus trauma abdomen. Satu
review retrospektif dari catatan departemen darurat menemukan bahwa semua contoh
yang tidak terjawab awalnya, bahkan dengan CT scan menunjukkan sebuah skrotum
kosong dan terlantar testis. Penundaan rata-rata di diagnosis adalah 19 hari
10. Prognosis
Pada dasarnya prognosis hematokel skrotum bonam. Mengingat proses
penyembuhan hanya dengan mengistirahatkan pasien.
Sumber:
At a Glance Ilmu Bedah edisi 3 Hal. 64-65
emedicine.medscape.com