Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Laut merupakan suatu tempat hidup bagi segala jenis makhluk hidup
avertebrata kelas rendah hingga tinggi dan makhluk vertebrata. Laut terbagi menjadi
laut intertidal,subtidal,interstial dan laut dalam yang tiap bagian tersebut akan dihuni
oleh berbagai makhluk laut. Namun,tidak hanya makhluk vertebrata dari kelas pisces
dan mamalia saja yang mendiami lautan tetapi juga terdapat reptil laut yang
menjadikan laut sebagai tempat mencari makan, sebagai jalur migrasi dan tempat
yang harus diseberangi oleh para reptil untuk sampa di daratan pada dataran yang
lain.
Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi
pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali
seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi
tungkai umumnya memiliki 5 jari atauPentadactylus dan setiap jarinya bercakar.
Rangka pada Reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan reptil?


Bagaimana ciri-ciri umum reptil?
Bagaimana sistematika kehidupan reptil?
Bagaimana klasifikasi reptil?

1.3 Tujuan
Penyusunan tugas makalah ini bertujuan :
1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Biologi Laut

2. Sebagai diktat kuliah materi reptiles : sea snake and sea turtle
3. Memberi gambaran singkat mengenai perikehidupan dari penyu dan ular laut

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Reptil


Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia
merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan
paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah
seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh
permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat
mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total maupun sebagian. Kulit
pada Reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit. Reptilia termasuk dalam vertebrata
yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya
mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian
lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari
atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada Reptilia mengalami
osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.

2.2 Ciri-ciri Umum Reptil


Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik
atau kuku, dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit;
Memiliki dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang
pada bagian ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan untuk berlari,
merayap atau memanjat;
Kerangka terdiri dari tulang keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital;
Jantung terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi
dan vertikel yang sebagian saling terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah
merah oval bikonkaf dengan inti;

Respirasi dengan paru-paru, pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi


kloaka;
Terdapat 12 pasang saraf cranial.
Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu lingkungan (poikilothermis);
Fertilisasi internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung
kuning telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur
ditetaskan tetapi pada beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang
didalam tubuh betina.
2.3 Morfologi Reptil
Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher, tubuh, dan ekor,
angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari yang pada bagian ujungnya
dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian subordo yang lain yang tidak
memiliki jari. Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Semua Reptilia
memiliki kulit yang kering yang terdiri dari epidermis berlapis dan dermis kompleks.
Epidermis menghasilkan beberapa lapisan sel yang tumbuh kearah luar. Mengalami
kornifikasi dan menutup seluruh bagian tubuh. Sel-sel epidermis saling melekat
dengan kuat sehingga tahan terhadap gangguan mekanik. Lapisan dermis terdiri dari
jaringan ikat dan mengandung pigmen, pembuluh darah dan saraf, pada jenis tertentu
dilengkapi dengan tulang dermal Struktur dermis dan epidermis seperti ini
memberikan kekuatan mekanis yang sifatnya elastis sehingga kulit dapat meregang,
seperti yang diperlukan ular jika menelan mangsa yang besar. Pola sisik dermal pada
satu spesies selalu sama, sehingga bentuk dan susunannya digunakan untuk
melakukan klasifikasi.

2.4 Sistem Respirasi


Secara umum reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Pada reptilia
umumnya udara luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan akhirnya ke
paru-paru. Lubang hidung terdapat di ujung kepala atau moncong. Udara keluar dan
masuk ke dalam paru-paru karena gerakan tulang rusuk. Sistem pernafasan pada

reptilia lebih maju dari Amphibi. Dinding laring dibentuk oleh tulang rawan
kriterokoidea dan tulang rawan krikodea. Trakhea dan bronkhus berbentuk panjang
dan dibentuk oleh cincin-cincin tulang rawan. Tempat percabangan trakhea menjadi
bronkhus disebut bifurkatio trakhea. Bronkhus masuk ke dalam paru-paru dan tidak
bercabang-cabang lagi. Alur pernapasan pada reptil:
Otot tulang rusuk berkontraksi rongga dada membesar paru-paru
mengembang O2 masuk melalui lubang hidung rongga mulut anak tekak
trakea yang panjang bronkiolus dalam paru-paru O2 diangkut darah
menuju seluruh tubuh.
Otot tulang rusuk berelaksasi rongga dada mengecil paru-paru mengecil
CO2 dari jaringan tubuh menuju jantung melalui darah paru-paru
bronkiolus trakea yang panjang anak tekak rongga mulut lubang
hidung.
Pada kadal, kura-kura, dan buaya, struktur paru-parunya lebih kompleks,
dengan tekstur seperti spons.
Pada kura-kura dan penyu, mekanisme pernapasannya dibantu oleh
permukaan epitelium lembab di sekitar kloaka.
2.5 Sistem Pencernaan
Sebagaimana pada ikan dan amfibi, sistem pencernaan makanan pada reptil
meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptil umumnya karnivora
(pemakan daging). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada reptil meliputi:
1. rongga mulut: bagian rongga mulut disokong oleh rahang atas dan bawah,
masing-masing memiliki deretan gigi yang berbentuk kerucut, gigi
menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah rongga mulut. Pada
rongga mulut juga terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung
bercabang dua;
2. esofagus (kerongkongan),
3. ventrikulus(lambung);
4. intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus.

Kelenjar pencernaan pada reptil meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas.
Hati

pada

kemerahan.

reptilia
Kantung

memiliki
empedu

dua
terletak

lobus
pada

(gelambirf
tepi

dan

sebelah

berwarna

kanan

hati.

Pankreas berada di antara lambung dan duodenum, berbentuk pipih kekuningkuningan.


2.6 Sistem Ekskresi
Alat ekskresi pada reptil berupa ginjal (metanefros) yang sudah berkembang
sejak masa fase embrio. Ginjal ini dihubungkan oleh saluran ke kantung kemih dan
langsung bermuara ke kloaka. Selain ginjal, pada reptil memiliki kelenjar kulit yang
menghasilkan

asam

urat

tertentu

yang

berguna

untuk

mengusir

musuh.

Pada jenis kura-kura tertentu terdapat sepasang vesika urinaria tambahan yang juga
bermuara langsung ke kloaka, dan berfungsi pula sebagai organ respirasi.
Pada kura-kura betina, alat respirasi tersebut juga berperan membasahi tanah
yang dipersiapkan untuk pembuatan sarang sehingga menjadikan tanah lebih lunak
dan mudah digali. Hasil ekskresi reptil adalah asam urat.
2.7 Sistem Reproduksi
Reproduksi seksual pada Reptil diawali dengan perkawinan yang diikuti
dengan terjadinya fertilisasi. Fertilisasi tersebut kemudian menghasilkan zigot yang
akan berkembang menjadi embrio. Fertilisasi pada reptil dapat terjadi secara eksternal
atau secara internal. Fertilisasi eksternal merupakan penyatuan sperma dan ovum di
luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya air.
Contohnya pada Amfibi (katak).
Fertilisasi internal merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di
dalam tubuh hewan betina. Hal ini dapat terjadi karena adanya peristiwa kopulasi,
yaitu masuknya alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Kelompok reptil
seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi
di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga

reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau
kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh
dari cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di
dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil
jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran
yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma
bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua
penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada
sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya
satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada
saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang
tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan
basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan
ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang
berlimpah.
2.8 Habitat
Habitat dari kelas reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan
akuatik sepetri penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu ordo Crocodilia dan
beberapa anggota ordo Chelonia, beberapa sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada
kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, beberapa anggota ordo Testudinata,
sub terran pada sebagian kecil anggota sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian
kecil sub-ordo Ophidia dan Lacertilia. Reptilia hidup di rawa atau di sungai, atau di
tapi laut. Untuk tempat perlindungan, misalnya buaya menggali lubang di tepi sungai.
Makanan terdiri dari berbagai hewan. Reptilia mencakup empat ordo besar yaitu
Chelonia atau Testudines, Squamata atau Lepidosauria, Rhynchocephalia, dan
Crocodilia.
2.9 Klasifikasi

Ordo Chelonia
Chelonia adalah reptilia yang memiliki cangkang. Cangkang bagian atas
disebut karapaks, sedangkan bagian bawahnya disebut plastron. Cangkang
merupakan bagian dari tulang belakang dan modifikasi tulang rusuk yang
berfungsi sebagai pelindung dari pemangsanya. Chelonia yang hidup di laut
adalah penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys
coriacea) yang memiliki kaki berbentuk dayung untuk berenang.
Ordo Squamata
Squamata adalah reptilia yang umumnya memiliki kulit bersisik. Reptil
yang termasuk golongan ini adalah kadal dan ular. Kadal memiliki sisik yang licin
dan berbentuk membulat, tubuhnya kebanyakan berkaki empat, bertubuh kecil,
dan memiliki ekor.
Ordo Rhynchocephalia
Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe tengkorak diapsid. Morfologinya
mirip dengan anggota lacertilia dan panjang dewasanya mencapai 30 cm. Anggota
ordo ini semuanya karnivora dan mencari makan di malam hari. Habitat hidupnya
di air atau di daratan. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan
fertilisasi internal.
Ordo Crocodylia
Ordo Crocodylia mencakup hewan reptil yang berukuran paling besar di
antara reptil lain. Kulit mengandung sisik dari bahan tanduk. Di daerah punggung
sisik-sisik itu tersusun teratur berderat ke arah ternversal dan mengalami
penulangan membentuk perisai dermal. Sisik pada bagian dorsal berlunas, pada
bagian lateral bulat dan pada bagian ventral berbentuk segi empat. Kepala
berbentuk piramida, keras dan kuat, dilengkapi dengan gigi-gigi runcing bertipe
gigi tecodont. Crocodilia memiliki sisik tebal dari keratin dan diperkuat dengan

lempengan tulang yang disebut skuta sebagai pelindung, sisik rontok satu persatu
tidak seperti ular. Contoh spesies dari ordo ini adalah buaya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari hasil pemaparan seluruh pada bagian bab-bab sebelumnya,dapat
disimpulkan bahwa kehidupan di laut tidak hanya diisi oleh biota dari avertebrata
kelas rendah hingga biota vertebrata dari kelas pisces, kelas mamalia saja,tetapi juga
terdapat kelas reptilia dari biota vertebrata yang mendiami wilayah perairan
laut,meski tidak menetap yaitu hanya untuk tempat mencari makan.