Anda di halaman 1dari 10

Abstract

Background. Drugs abuse is a common problem among teenagers in Indonesia that is still difficult to overcome. There
are many underlying causes of drug abuse is one of the causes of the difficulty of eradicating drugs. Among many factors,
the condition of the family and parenting style is one of the most important factor. According to Diana Baumrind (19711991), there are 4 kinds of parenting style, which are: authoritarian, authoritative, permissive, and uninvolved.
Case Report. A young man, DR, 16 years old, residing in South Jakarta is undergoing rehabilitation therapy and drug
abuse in UPT Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido for 10 months since January 6, 2012. History
of drug use began when patient was stil in the Elementary School (12 years old). The reason was lack of attention and love
from his parents because his parents were busy working (uninvolved parents).
Discussion. Teens whose parents do not set clear rules or do not monitor their children (non-authoritative parents) are
at greater risk for alcohol and drug abuse. While teens who grew up in a family of authoritative (authoritarian), spend more
time at home with the family so that lower risk of influence from peer groups outside. The influence of peer groups becomes
much more powerful when the relationship between parents and children of poor quality.
Conclusion. The concept of parenting by Diana Baumrind; authoritative, authoritarian, permissive, and uninvolved has
advantages and disadvantages of each. Regardless, the important thing is the balancing of support and control of the parents
to their children, and also the importance of the teachings of Islam inculcate in children since childhood.
Keywords : parenting style, Baumrind, drug abuse

Latar Belakang
Dewasa ini, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkotik, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(NAPZA) menjadi masalah yang umum terjadi pada kalangan remaja di Indonesia yang masih sulit
diatasi. Bahkan, untuk mencapai Indonesia bebas narkoba pada tahun 2015 pun masih terasa berat
untuk dicapai. Hal ini dapat kita lihat dari jumlah pengguna narkoba yang terus meningkat setiap
tahunnya. Pada tahun 1970 diperkirakan hanya 130.000 orang yang menggunakan narkoba dan pada
tahun 2009 terdeteksi 2% penduduk pernah bersentuhan dengan narkoba atau meningkat 0,5%
dibandingkan tahun sebelumnya, 2% tersebut terdiri dari 60% usia produktif dan 40% pelajar.1
Banyaknya faktor penyebab yang melatarbelakangi penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu
penyebab sulitnya pemberantasan narkoba. Di antara banyaknya faktor-faktor tersebut, kondisi keluarga
dan pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penyebab terpenting. Pola asuh orang tua adalah
suatu aktivitas kompleks yang mencakup banyak tingkah laku atau sikap orang tua yang mempengaruhi
perkembangan anak-anak mereka. Pola asuh inilah yang akan berdampak besar pada baik atau
buruknya kehidupan seorang remaja, terlepas dari keinginan diri mereka sendiri.
Banyak peneliti yang telah menciptakan banyak konsep mengenai pola asuh, namun, konsep pola asuh
yang umum digunakan adalah konsep pola asuh yang diciptakan oleh Diana Baumrind (1971-1991).
Psikolog Diana Baumrind mengidentifikasikan empat struktur pola asuh orang tua berdasarkan dua
aspek perilaku pengasuhan, yaitu kontrol (control) dan kehangatan (warmth). Parental control
mengacu pada sejauh mana orang tua mengelola perilaku-dari anak-anak mereka menjadi sangat
terkendali untuk menetapkan beberapa aturan dan tuntutan. Parental warmth mengacu pada sejauh
mana orang tua menerima dan responsif perilaku anak-anak mereka sebagai lawan yang tidak responsif
dan menolak. Ketika dua aspek perilaku pengasuhan tersebut digabungkan dengan cara yang berbeda,
empat gaya pengasuhan utama muncul: authoritative, authoritarian, permissive, dan uninvolved. Orang
tua tipe authoritative mengendalikan dan menuntut tapi juga hangat dan simpatik dalam berkomunikasi
pada anak. Orang tua authoritarian didefinisikan sebagai pengendali, kurang hangat dan sering
sewenang-wenang dalam menegakkan disiplin. Orang tua tipe permissive adalah tipe orang tua yang
tidak mengendalikan atau menuntut dan relatif hangat, dengan kata lain, mereka tidak berperan aktif
dalam membimbing atau membentuk perilaku anak. Orang tua tipe uninvolved memiliki karakter tidak
menuntut atau responsif, mereka tidak mendukung dan memonitor anak mereka.2
Para peneliti menunjukkan bahwa pola asuh orang tua adalah prediktor signifikan terhadap perilaku
mengganggu, kerentanan dan mengalah pada tekanan teman sebaya, dan penyalahgunaan zat oleh anak1

anak dan remaja. Penyalahgunaan zat berhubungan dengan pola asuh orang tua ini dikarenakan narkoba
memiliki efek menstimulasi sistem saraf sehingga dapat memberikan ketenangan atau perasaan bebas
dari tekanan orang tua atau merasa kesepian karena kekurangan perhatian dari orang tua Sebuah studi
menemukan bahwa gaya pengasuhan authoritative merupakan prediktor kebalikan kuat
penyalahgunaan zat pada anak.3 Dengan kata lain, anak-anak yang memandang orang tua mereka
sebagai orang tua authoritative lebih sedikit menggunakan narkoba dan alkohol dibanding tipe lainnya.
Berdasarkan kasus yang ada, penulis mencoba mengeksplorasi hubungan pola asuh orang tua dengan
penyalahgunaan narkoba dan bagaimana hubungannya jika dipandang dari sudut pandang ajaran agama
Islam.
Presentasi Kasus
Seorang remaja laki-laki, DR, 16 tahun, muslim bertempat tinggal di Jakarta Selatan sudah menjalani
program terapi dan rehabilitasi drug abuse di UPT Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional
Lido selama 10 bulan sejak 6 Januari 2012. Riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya pada pasien
dimulai ketika pasien masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD, usia 12 tahun), dengan alasan kurang
perhatian dari orang tua dikarenakan kedua orang tuanya sibuk bekerja (uninvolved parents). Ayahnya
bekerja di bisnis pertambangan dan ibunya merupakan seorang akuntan. Pasien tinggal bersama kedua
orang tuanya dan seorang adik laki-laki yang kini berusia 13 tahun. Pasien berasal dari golongan
keluarga menengah dengan keadaan ekonomi yang berkecukupan.
Pasien pertama kali mengenal narkoba dari teman-teman di sekitar rumahnya yang berusia lebih tua
darinya karena sejak kecil kedua orang tuanya membiarkan pasien mandiri dan melepas pasien tanpa
pengawasan yang cukup. Namun, jika pasien melakukan kesalahan, orang tua pasien akan
menggunakan pukulan sebagai hukuman. Pasien mulai mencoba-coba merokok, kemudian meminum
alkohol hingga akhirnya pasien mulai menghisap ganja yang mengakibatkan adiksi pada dirinya. Saat
pasien menginjak Sekolah Menengah Pertama, pasien mulai mencoba shabu-shabu dan bersama temantemannya mengadakan pesta shabu-shabu.
Pada tahun 2009, saat itu pasien berada di kelas satu SMP, kedua orang tua pasien mengetahui bahwa
pasien ternyata menggunakan narkoba, maka tidak segan-segan ayah pasien memukulinya. Setelah itu,
pasien dipindahkan ke pesantren oleh orang tuanya. Namun, pasien hanya bertahan sebentar di
pesantren, kemudian orang tuanya membawanya pulang kembali dan menyekolahkannya ke sebuah
SMP negeri dan orang tua pasien pun menyediakan supir untuk mengantar jemput pasien. Namun, hal
tersebut tidak membuat pasien berhenti untuk menggunakan narkoba. Kesibukan kedua orang tuanya
membuat pasien kembali menggunakan narkoba dan bahkan menjadi pengedar ganja. Suatu saat, kedua
orang tua pasien mengetahui bahwa pasien menyimpan satu ons ganja dan kemudian membawa pasien
ke rumah sakit untuk detoksifikasi. Setelah pasien keluar dari rumah sakit, kedua orang tuanya
memutuskan untuk mengurung pasien di rumah. Namun, suatu malam, pasien kabur dari rumah selama
seminggu. Pada akhirnya, pasien tertangkap oleh polisi saat sedang pesta shabu di rumah temannya dan
menyebabkan pasien disidang ke pengadilan. Pengadilan memutuskan pasien dipenjara dua bulan dan
mendapat masa rehabilitasi selama sepuluh bulan.
Selama menjalani masa rehabilitasi, pasien mengakui bahwa dia tidak pernah mengkonsumsi narkoba,
sehingga saat terjadi gejala putus zat (withdrawal symptoms) pasien merasa gelisah dan merasa seluruh
badannya gemetar dan nyeri otot. Tidak ada obat-obat khusus yang diberikan untuk mengurangi gejala
putus zat (withdrawal symptoms) pada pasien. Pada saat-saat inilah pasien merasa peranan orang tua
sangat penting dalam mendukungnya. Sikap kedua orang tuanya yang mulai memberikan perhatian
lebih saat pasien dalam masa rehabilitasi dan kunjungan orang tuanya setiap dua minggu sekali
membuatnya menyadari bahwa selama ini perhatian orang tuanya yang menjadi motivasi besarnya
untuk sembuh.
2

Akhirnya setelah waktu berjalan sekian lama, pada akhir November 2012, pasien akan menyelesaikan
masa rehabilitasinya dan akan kembali memulai hidup barunya dengan kegiatan positif yang bisa
membuat kedua orang tuanya bangga.
Diskusi
Dalam waktu yang relatif singkat beberapa tahun belakangan ini penyalahgunaan narkoba telah
menjadi momok yang begitu mengerikan.

Tabel 1. Data kasus pengguna narkoba di Indonesia tahun 2004-20081


Walaupun remaja bukanlah pengguna narkoba terbanyak di Indonesia, namun remaja merupakan
kelompok risiko tinggi terhadap penyalahgunaan obat. Berdasarkan data survey yang dilakukan Badan
Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan sebanyak 146.601 pelajar dan mahasiswa terlibat narkoba
pada tahun 2004-2008. Hal ini menunjukkan pada satu kelas sekolah atau kampus terdapat 1-3 Remaja
sebagai pengguna narkoba (tabel 1).1
Penelitian telah menunjukkan bahwa periode risiko untuk penyalahgunaan narkoba terjadi selama
transisi besar dalam kehidupan seseorang. Transisi besar pertama untuk anak-anak adalah ketika
mereka meninggalkan keamanan keluarga dan masuk sekolah. Kemudian, ketika mereka maju dari
sekolah dasar, mereka sering mengalami situasi akademik dan sosial yang baru, seperti belajar untuk
bergaul dengan kelompok yang lebih luas dari rekan-rekan. Hal ini berarti pada tahap awal remaja,
anak-anak cenderung untuk menghadapi obat untuk pertama kalinya.4
Narkotika (menurut UU RI no. 35 tahun 2009) adalah Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir
dalam Undang-Undang ini. Contoh narkotika yang terkenal adalah ganja, heroin, kokain, morfin, dan
amfetamin. Psikotropika, menurut Kepmenkes RI no. 996/MENKES/SK/VIII/2002, adalah zat atau
obat, baik alamiah maupun sintesis yang bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada mental dan perilaku, contohnya
adalah golongan stimulan seperti amfetamin (sering disebut speed, shabu-shabu, whiz, dan suph),
ektasy (metamfetamin), fenfluramin, halusinogen, serta sedatif dan hipnotika (barbiturat,
benzodiazepin). Zat adiktif lainnya adalah zat, bahan kimia, atau bahan biologi dalam bentuk tunggal
3

maupun campuran yang berpengaruh psikoaktif di luar narkotika dan psikotropika, meliputi minuman
alkohol, inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) yang mudah menguap, dan tembakau.5
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan, NAPZA atau narkoba dapat digolongkan
menjadi 3 golongan, yaitu (1) golongan depresan (downer) adalah jenis narkoba yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh, yang membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan tertidur
hingga tak sadarkan diri, seperti: opioid (morfin, heroin, kodein), sedatif, hipnotik, dan tranquilizer
(anticemas); (2) golongan stimulan (upper) adalah jenis narkoba yang merangsang fungsi tubuh dan
meningkatkan kegairahan kerja, yang membuat pemakainya menjadi aktif, segar, dan bersemangat,
seperti: amfetamin (shabu, ekstasi) dan kokain; (3) golongan halusinogen adalah jenis narkoba yang
dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran, menciptakan daya
pandang yang berbeda, sehingga seluruh perasaan dapat terganggu, seperti kanabis (ganja).1
Rentang respons gangguan pengguna narkoba ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai berat.
Indikator ini berdasarkan dari perilaku yang diperlihatkan oleh pengguna narkoba: (1) eksperimental:
kondisi pengguna taraf awal, yang disebabkan oleh rasa ingin tahu dari seorang remaja, ingin mencari
pengalaman yang baru atau sering dikatakan taraf coba-coba; (2) rekreasional: penggunaan zat adiktif
pada waktu berkumpul dengan teman sebaya, misalnya pada waktu pertemuan malam mingguan, acara
ulang tahun, dan sebagainya; (3) situasional: mempunyai tujuan secara individual, sudah merupakan
kebutuhan bagi dirinya sendiri dan seringkali penggunaan ini dijadikan untuk pelarian atau mengatasi
masalah yang dihadapi, misalnya pada saat stres atau frustasi; (4) penyalahgunaan (abuse):
penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, minimal 1 bulan, dan
sudah terjadi penyimpangan perilaku yang mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial,
pendidikan, dan pekerjaan; dan (5) ketergantungan (addicted): penggunaan zat yang sudah cukup
berat, dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan ketergantungan psikologis.5
Kondisi-kondisi seperti yang telah dijelaskan di atas yang membuat pecandu narkoba semakin
kehilangan arah dalam berperilaku. Pada pemakaian awal (coba-coba), pemakai memang merasakan
kesenangan sesaat; tapi semakin lama, semakin kecanduan, semakin besar risiko hilangnya daya gerak,
perubahan perilaku, serta gangguan hubungan psikososial dengan lingkungan sekitarnya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba di
kalangan remaja, antara lain:
a. Faktor individu
Dalam melihat individu, faktor risiko dapat mencakup: usia dini dari penggunaan pertama,
rendah diri, defisit keterampilan sosial dan faktor genetik. Sedangkan faktor pelindung dapat
mencakup: kompetensi pribadi dan sosial, optimisme tentang masa depan, baik keterampilan
pemecahan masalah dan keterlibatan dalam pro-kegiatan sosial. Seseorang mungkin memiliki
banyak faktor risiko dan masih tidak memiliki masalah penyalahgunaan zat karena faktor
pelindung dalam hidup mereka. Salah satu elemen penting lainnya bagi seorang individu adalah
ketahanan. Ketahanan adalah kemampuan untuk mengatasi kesulitan terlepas dari situasi yang
satu mungkin tidak dapat mengubah (misalnya, hidup dengan orang tua alkohol). Beberapa anak
yang mampu bertahan dan berkembang kemungkinan tidak mungkin terjerumus.
b. Faktor Interpersonal
Prediktor terbaik dari seorang pemuda menjadi tergantung pada obat-obatan adalah yang
memiliki anggota keluarga yang juga merupakan pengguna obat-obatn atau di mana ada riwayat
keluarga penyalahgunaan zat. Pola asuh dan fungsi keluarga juga pengaruh penting. Keluarga
dengan gangguan dalam "manajemen keluarga" seperti disorganisasi atau kekacauan, aturan dan
pola komunikasi yang buruk dapat menyebabkan masalah perilaku. Struktur dari sebuah
keluarga (yaitu, dua orang tua atau lead single parent) dapat memiliki efek pada tekanan (risiko)
yang mempengaruhi anggota keluarga, demikian juga kekuatan (pelindung) dari jaringan
keluarga dan keterlibatan mereka dalam kehidupan seorang remaja..
4

c. Faktor komunitas/sosial
misalnya berkawan dengan perokok, pengguna narkotika, dengan kelompok yang menganggap
bahwa penggunaan narkotika adalah hal biasa, berkawan dengan teman yang mempunyai
kepribadian dan perilaku buruk sehingga sering melakukan kekerasan dan melawan hukum.4

gambar 1. Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba pada remaja6


Faktor risiko penggunaan narkoba dapat mempengaruhi remaja pada tahap yang berbeda dari
kehidupan mereka. Pada setiap tahap, risiko terjadi yang dapat diubah melalui intervensi pencegahan.
Risiko anak usia dini, seperti perilaku agresif, dapat diubah atau dicegah dengan intervensi keluarga,
sekolah, dan masyarakat yang berfokus untuk membantu anak-anak mengembangkan tepat, perilaku
positif. Namun, jika sejak kecil pola asuh orang tua salah, dapat menimbulkan perilaku negatif yang
dapat menyebabkan risiko lebih, seperti kegagalan akademis dan kesulitan sosial, yang menempatkan
anak-anak pada risiko lebih lanjut untuk penyalahgunaan narkoba nantinya.
Pola asuh dapat diartikan sebagai gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam
berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Dalam kegiatan memberikan
pengasuhan ini, orang tua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah dan hukuman, serta
tanggapan terhadap keinginan anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai,
dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tidak sadar akan diresapi, kemudian
menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya.
Bentuk-bentuk pola asuh orang tua sangat erat hubungannya dengan kepribadian anak setelah menjadi
dewasa. Hal ini dikarenakan ciri-ciri dan unsur-unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah
diletakkan benih-benihnya ke dalam jiwa seorang individu sejak awal, yaitu pada masa ia masih kanak5

kanak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat
dominan dalam membentuk kepribadian dan perilaku kesehatan anak sejak dari kecil sampai anak
menjadi dewasa.
Menurut Diana Baumrind (1971-1991) terdapat 4 macam pola asuh orang tua antara lain: authoritative,
authoritarian, permissive, dan uninvolved.2
A. Pola asuh authoritarian, yaitu pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, dan tidak
ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu
mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap
realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui
kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih
dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Pola asuh
demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri,
mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat
terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.
B. Pola asuh authoritative, sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti,
biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa,
memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang
tua, maka orang tua tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal
kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak
memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. Pola asuh otoriter
akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar
menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
C. Pola asuh permissive atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar.
Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup
darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang
dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe
ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak. Pola asuh permisif akan
menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang
mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
D. Pola asuh uninvolved tidak memberikan kehangatan dan tuntutan pada anak. Orang tua dengan
pola asuh tipe ini meminimalisasi waktu interaksi mereka dengan anak mereka. Mereka
cenderung mengabaikan anak-anak mereka dan tidak peduli dengan kebutuhan anak-anak
remaja mereka, keberadaan, atau pengalaman di sekolah atau dengan teman sebaya. Orang tua
jarang mempertimbangkan masukan anak mereka dalam pengambilan keputusan dan mereka
umumnya tidak ingin diganggu oleh anak mereka. Para orangtua mungkin kewalahan oleh
keadaan anak mereka atau mereka mungkin egois. Orangtua mungkin juga terlibat dalam gaya
ini jika mereka lelah, frustrasi, atau telah cukup "menyerah" dalam mencoba untuk
mempertahankan otoritas orangtua. Akibatnya, remaja umumnya menunjukkan pola yang sama
perilaku sebagai remaja dibesarkan di keluarga dengan orang tua permisif dan mereka juga
dapat menunjukkan perilaku impulsif karena masalah dengan regulasi diri.2,7
Secara umum remaja mengadopsi nilai-nilai yang ditanamkan orang tua mereka. Namun, ada remaja
yang menolak nilai-nilai keluarga dan standar yang ditanamkan oleh orang tua dan mereka mendapat
dukungan dari kelompok sebayanya. Hal ini terjadi bagi remaja yang datang dari keluarga yang sangat
ketat atau sangat permisif. Hal ini yang sering menjerumuskan mereka ke dalam penyalahgunaan
alkohol dan obat-obatan. Sedangkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga authoritative, lebih
banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga sehingga pengaruh kelompok sebaya dari luar
kecil. Pengaruh kelompok sebaya menjadi sangat lebih kuat ketika hubungan orangtua dan anak
berkualitas buruk.8

Remaja yang rendah diri dan kurang pengendalian diri cenderung menyalahgunakan obat-obatan.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa remaja yang menahan diri dari minum alkohol memiliki
harga diri yang lebih tinggi daripada remaja yang minum. Remaja yang orang tuanya tidak menetapkan
aturan yang jelas atau tidak memantau anak-anaknya (univolved parents) berada pada risiko yang lebih
besar untuk penggunaan alkohol dan penyalahgunaan obat. Sebaliknya, umpan balik positif, dorongan,
dan kasih sayang secara fisik dari orang tua memprediksi risiko lebih rendah dari penggunaan alkohol
oleh remaja.8

Tabel 2. Odds Ratio antara remaja pengguna narkoba dan persepsi pola asuh maternal dan paternal di
Brazil pada tahun 20109
Dapat dilihat dari tabel di atas, bahwa penelitian di brazil menunjukkan bahwa konsep orang tua nonauthoritative (authoritarian, indulgent/permissive atau uninvolved) memiliki risiko lebih besar dalam
keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan narkoba. Anak yang dibesarkan dalam keluarga
authoritative memiliki kecenderungan bertanggung jawab dan kompeten karena terbiasa dengan aturan
dan hukuman yang diterapkan orang tuanya, sehingga memiliki risiko lebih sedikit untuk masuk ke
dalam penyalahgunaan narkoba. Namun, anak tersebut akan memiliki sifat rendah diri dibanding yang
lainnya.

Pada akhirnya, dari masing-masing konsep pola asuh ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dalam periode remaja yang belum stabil, dibutuhkan pengawasan seperti yang diberikan oleh orang tua
authoritative, namun adakalanya saat remaja membutuhkan kebebasan yang terkontrol oleh orang tua.
Pola orang tua uninvolved harus dihindari karena berisiko besar pada anak dalam penyalahgunaan
narkoba. Tidak adanya kepedulian dari orang tua akan membuat tingkat stress anak menjadi tinggi dan
berusaha mencari pelampiasan dan kebahagiaan melalui narkoba. Oleh karena itu, yang terpenting
adalah dukungan dan kontrol dari orang tua yang seimbang pada anak-anaknya.
Pola asuh orang tua bukan saja berperan penting dalam keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan
narkoba, namun saat dilakukan proses terapi maupun rehabilitasi ini akan berjalan sukses bila adanya
komitmen yang kuat dari pecandu untuk lepas dari narkoba, yang didukung oleh keluarga, kerabat, dan
lingkungan sekitar. Sarana dan fasilitas tempat proses terapi dan rehabilitasi ini berlangsung juga
memegang peranan yang cukup penting demi kesembuhan pasien dari kecanduan narkoba.
Menurut ajaran agama Islam, penggunaan narkoba sangat diharamkan karena narkoba memiliki
mudharat (daya rusak) yang sangat besar ketimbang manfaat yang didapatkan. Oleh karena itu, para
ulama memasukkan narkoba ke dalam golongan khamr yang dapat memabukan dan merusak pikiran.
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap yang memabukkan adalah Khamr dan
setiap Khamr adalah diharamkan." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).10
Adapun yang dapat mengambil manfaat dari narkoba adalah kalangan medis, yaitu untuk menunjang
upaya pengobatan pasien. Untuk kepentingan tersebut, Islam memperbolehkannya dengan alasan tidak
menimbulkan kemudharatan bagi pasien yang diobati, bahkan sebaliknya bisa mempercepat proses
penyembuhan.10
Allah berfirman dalam surat Al-maidah: 90-91

Gambar 2. QS Al-maidah ayat 90-9111


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi berkorban untuk berhala, mengundi
nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Maka jahuilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (minuman) khamar dan berjudi,11
Oleh karena itu, orang tua sangat berperan penting untuk menanamkan ajaran agama Islam pada
anaknya. Karena orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anaknya. Jika sejak kecil anak-anak
ditanamkan agama dengan baik, saat remaja ia akan mengerti apa hal yang benar dan dilarang dalam
agama. Sehingga, kemungkinan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba sangat kecil.
Sebagai orang tua hendaknya menyadari betapa besarnya tanggung-jawab mereka sebagai orang yang
mengasuh dan membentuk kepribadian anak-anak mereka di hadapan Allah SWT.
Tentang perkara ini, Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:
8

Gambar 3. Surat At-Tahrim ayat 612


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.12
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah
SAW bersabda:

Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban13


Dalam hadits yang diriwayatkan Shahih, HR. Al Bukhari dan Abu Daud, Rasulullah SAW pernah
bersabda:

Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-maazif (alat-alat
musik).13
Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan
diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka
kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya. Karena setiap perbuatan anak adalah tanggung
jawab dan cerminan dari orang tuanya. Seperti pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari
pohonnya.
Simpulan dan Saran
Pola asuh orang tua berperan penting dalam menentukan dari kepribadian anak-anak mereka. Konsep
pola asuh oleh Diana Baumrind; authoritarian (demokratis), authoritative (otoriter), permissive
(permisif), dan uninvolved memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta besar kecilnya
risiko keterlibatan remaja pada penyalahgunaan narkoba. Namun, yang terpenting adalah dukungan dan
kontrol dari orang tua yang seimbang pada anak-anaknya, serta pentingnya menanamkan ajaran agama
Islam pada anak-anak sejak kecil karena setiap perbuatan seorang anak adalah cerminan dari orang
tuanya yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan saran yang telah diberikan
oleh DR. drh. Hj. Titiek Djannatun (koordinator penyusun Blok Elektif), dr. Hj. RW. Susilowati, M.Kes
(koordinator pelaksana Blok Elektif), dr. Nasrudin Noor, SpKJ dan dr. Edward Syam (dosen pengampu
dan dosen tutor bidang kepeminatan Ketergantungan Obat/Drug Abuse), dr. Nadya A. beserta staf Unit
Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor, Jawa Barat. Juga kepada pasien
DR yang sudah bersedia diwawancarai dan teman-teman kelompok 6 drug abuse.

Daftar Pustaka
1. Badan Narkotika Nasional. Detail Artikel Litbang: Narkoba dan Remaja. 2009 May 14 [cited 2010
December
02].
Available
at
http://www.bnn.go.id/portalbaru/portal/konten.php?
nama=ArtikelLitbang&op=detail_artikel_litbang&id=79&mn=2&smn=e
2. Kopko K. Parenting Styles and Adolescents. Cornell University: Cornell Cooperative Extension
2007.p.1-4.
3. Javdan M, Mirzadeh M, Tadayon A, Hormozi SS. Exploring the Relationship between Parenting
Styles and Substance abuse among High-School Students in Minab. Journal of Basic and Applied
Scientific
Research
2011;
1(12):
2994-2995.
Available
at
http//
http://www.textroad.com/pdf/JBASR/J.%20Basic.%20Appl.%20Sci.%20Res.,
%201%2812%292994-2996,%202011.pdf
4. National Institute on Drug Abuse (NIDA). Preventing Drug Abuse Among Children and
Adolescents: A Research-Based Guide for Parents, Educators, and Community Leaders, Second
Edition. US department of health and human service: National Institute of Health 2003.p.6-9.
5. Badan Narkotika Nasional. Detail Artikel Litbang: Hasil Penelitian BNN dan Puslitkes UI tentang
Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. 2009 October 08 [cited 2010 December 02]. Available at
http://www.bnn.go.id/portalbaru/portal/konten.php?
nama=ArtikelLitbang&op=detail_artikel_litbang&id=91&mn=2&smn=e
6. Centre for Addiction and Mental Health. Educating Students About Drug Use and Mental Health Risk
and
Protective
Factors:
Youth
and
Substance
Abuse.
Available
at
http://www.camh.ca/en/education/teachers_school_programs/secondary_education/Pages/curricul u
m_riskprotect.aspx
7. Malik G. The Role of Parenting Style in Child substance Abuse [dissertation]. Ohio: Ohio State
University 2005..p. 2-7
8. Changalwa CN, Ndurumo MM, Barasa PL. The Relationship between Parenting Styles and Alcohol
Abuse among College Students in Kenya. Greener Journal of Educational Research 2012 Jan; 2(2):
14.
9. Benchaya MC, Bisch NK, Moreira TC, Ferigolo M, Barros HM. Non-Authoritative Parents and
Impact on Drug Use: The Perception of Adolescent Children. 2010. Available at
http://www.scielo.br/revistas/en_a10v87n03.htm.
10. Zuhroni M.Ag. Materi Kuliah Blok Elektif: Ketergantungan Obat (Drug Abuse). 2012
11. http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/5/89
12. http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/66
13. Pendidikan Anak dalam Islam. Available at http://anakmuslim.wordpress.com/pendidikan-anakdalam-islam/ (last update 7 Apr 2012)

10