Anda di halaman 1dari 7

40

VIII. RENCANA KEGIATAN (PLAN OF ACTION)


A Latar Belakang
Konsumsi makanan akan mempengaruhi status gizi. Status gizi yang
optimal diperoleh apabila terjadi kecukupan konsumsi zat-zat gizi yang
digunakan secara optimal, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,
perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada
tingkat setinggi mungkin (Almatsier, 2002). Kualitas dan kuantitas jenis
pangan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi status gizi seseorang.
Konsumsi makanan seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat dipengaruhi
oleh pendapatan keluarga dan pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan.
Pendapatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat dinilai dengan
adanya gaji, upah atau bayaran secara langsung dari pekerjaan yang
dilakukan. Besarnya pendapatan seseorang akan mempengaruhi keadaan
sosial ekonomi keluarga. Kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi membuat
seseorang akan bekerja keras agar memperoleh pendapatan (Rahma, 2011).
Pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan juga mempengaruhi
konsumsi makanan. Hal ini terjadi karena seorang ibu dalam keluarga
memiliki peran yang penting untuk mengendalikan arus makanan dan
pengelolaan makanan keluarga. Pengetahuan yang baik tentang gizi dan
kesehatan akan menimbulkan ketepatan dalam penyajian baik dari segi jenis,
jumlah dan waktu pemberian makanan. Ibu yang mengerti tentang gizi dan
kesehatan akan lebih mementingkan kualitas dari makanan yang disajikan
dan menghasilkan status gizi yang baik. Keluarga yang sadar gizi akan
memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan dengan keluarga yang
tidak sadar gizi (Syafly, 2011).
Setelah dilakukan Community Health Analysis di Desa Sokaraja
Wetan, Kecamatan Sokaraja, faktor paling utama yang menyebabkan
terjadinya gizi kurang adalah faktor konsumsi makanan yang dipengaruhi
oleh pendapatan keluarga dan pengetahuan ibu. Untuk menyikapi rendahnya
tingkat pengetahuan masyarakat tentang gizi kurang maka diperlukan suatu
upaya tertentu. Upaya yang dapat dilaksanakan sesuai dengan penentuan

41

prioritas pemecahan masalah adalah dengan memberikan konseling tentang


gizi kurang dimana harapan nantinya dapat mengubah pola pikir dan pola
perilaku keluarga mengenai gizi yang baik untuk anak.
B Tujuan
1

Tujuan Umum
Konseling

mengenai

gizi

kurang

dimana

diharapkan

dapat

meningkatkan pengetahuan keluarga dalam mencegah dan memperbaiki


keadaan gizi dalam keluarga.
2

Tujuan Khusus
Tujuan

dilakukannya

konseling

adalah

untuk

meningkatkan

pengetahuan ibu mengenai:


a

Penyebab gizi kurang

Akibat yang ditimbulkan oleh gizi kurang

Cara mengaratasi gizi kurang

Gizi yang baik untuk balita

C Bentuk Kegiatan (Termasuk Materi Kegiatan)


Konseling mengenai gizi kurang yang terdiri dari penyebab, akibat yang
ditimbulkan, cara mengatasi, dan gizi yang baik untuk balita serta pemberian
makanan tambahan.
D Sasaran
Ibu dari balita yang mengalami gizi kurang.
E Pelaksanaan (Waktu dan Tempat)
a

Waktu

: Jumat, 16 November 2012 jam 11.00 WIB

Tempat

: Rumah masing-masing informan.

F Anggaran
Pemberian makanan tambahan

= Rp 100.000,00

A. Evaluasi
1. Formatif
a. Mengevaluasi kesesuaian antara pemecahan masalah dengan masalah
yang ada. Berdasarkan hasil analisis masalah ternyata konsumsi
makanan baik dari kuantitas maupun kualitas yang dipengaruhi juga
oleh pendapatan dan pengetahuan ibu mempengaruhi keaadaan gizi

42

kurang pada balita di Desa Sokaraja Wetan. Oleh sebab itu metode
penyuluhan konseling kepada keluarga pasien yaitu warga Sokaraja
Wetan, merupakan metode yang cukup tepat.
b. Anggaran kegiatan
Anggaran kegiatan yang digunakan dan perinciannya dalam
pelaksanaan kegiatan adalah :
Pemberian Makanan Tambahan

= Rp. 55. 000,00

Dengan demikian terdapat sisa penggunaan anggaran dana. Terjadi


ketidaksesuaian rencana anggaran dengan saat pelaksanaan kegiatan
2. Promotif
Mengevaluasi pelaksanaan program yang meliputi :
a. Waktu pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa, 20 November
2012 pukul 10.00 WIB. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan tidak
tepat pada waktunya.
b. Jumlah peserta yang ditargetkan
Jumlah peserta yang ditargetkan sesuai, yaitu ibu-ibu dari pasien gizi
kurang

IX. LAPORAN HASIL PELAKSANAAN

43

Kegiatan konseling mengenai gizi kurang berupa pemberian informasi ibu


dari pasien yang mengalami gizi kurang yang diselenggarakan pada hari
Selasa, 20 November 2012 pukul 10.00-12.00 WIB di rumah masing-masing
informan di Desa Sokaraja Wetan Kecamatan Sokaraja.
Pelaksanaan konseling dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda.
Informan diberikan informasi mengenai penyebab gizi kurang, akibat yang
ditimbulkan oleh gizi kurang, cara mengatasi gizi kurang, gizi yang baik untuk
balita. Kedua informan menunjukkan antusiasmenya pada saat konseling. Hal
ini dapat terlihat pada saat informan diberi kesempatan untuk bertanya tentang
hal-hal yang belum dipahami. Informan sangat aktif untuk bertanya ketika
diberikan kesempatan untuk bertanya. Kegiatan konseling ini diakhiri dengan
tanya jawab antara pemberi konseling dan informan untuk mengetahui sejauh
mana informan memahami yang telah diberikan mengenai gizi kurang.
Pelaksanaan kegiatan konseling ini tidak terlepas dari beberapa
kendala. Kendala yang dihadapi diantaranya adalah kurang kondusifnya
suasana ketika konseling, dikarenakan balita rewel sehingga informan
terkdang teralihkan perhatiannya. Selain itu, konseling hanya dilakukan pada
informan saja sehingga cakupannya kurang luas.

X. KESIMPULAN DAN SARAN

44

1. Kesimpulan
a. Status gizi merupakan keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi yang terjadi secara seimbang sehingga apabila
terjadi ketidakseimbangan antara asupan makanan dengan kebutuhan dapat
mengakibatkan gizi lebih atau gizi kurang.
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi kurang yaitu konsumsi
makanan, infeksi penyakit, pola pengasuhan anak, ketersediaan pelayanan
kesehatan, dan kesehatan lingkungan.
c. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa konsumsi makanan
baik dari kuantitas maupun kualitas yang dipengaruhi juga oleh pendapatan
dan pengetahuan ibu mempengaruhi keaadaan gizi kurang pada balita di
Desa Sokaraja Wetan.
d. Konseling mengenai gizi kurang dan pembagian PMT (Pemberian Makanan
Tambahan) menjadi alternatif yang dilakukan.
e. Tujuan konseling dan pembagian PMT (Pemberian Makanan Tambahan)
adalah meningkatkan pengetahuan ibu mengenai Penyebab gizi kurang,
akibat yang ditimbulkan oleh gizi kurang, cara mengaratasi gizi kurang, gizi
yang baik untuk balita
2. Saran
Berkaitan dengan adanya balita gizi kurang menurut BB/TB dan gizi
buruk menurut BB/U pada wilayah kerja Puskesmas 1 Sokaraja maka
disarankan kepada para tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan promosi
kesehatan mengenai pentingnya gizi seimbang balita. Hal ini dapat
dititikberatkan pada bidan dan kader kesehatan desa. Bidan dan kader
kesehatan desa diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat dan
memantau balita yang masuk ke kategori gizi kurang atau gizi buruk.

DAFTAR PUSTAKA

45

Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Azwar, Azrul. 2004. Kecenderungan Masalah Gizi dan Tantangan di Masa
Datang. Makalah disampaikan pada Pertemuan Advokasi Perbaikan izi
Menuju Keluarga Sadar Gizi. Departemen Kesehatan. Jakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2010. Rencana Aksi Nasional
Pangan dan Gizi 2006 2010. Terdapat dalam: http://nttacademia.org/Pangantt/RAN-Pangan-Nutrisi-Bahasa.pdf.
[diakses
10
November 2012].
Buku Profil Kesehatan Kecamatan Puskesmas. 2008. Profil Kesehatan
Masyarakat Wilayah Kerja Puskesmas 1 Sokaraja Kabupaten Banyumas.
Diterbitkan oleh Puskesmas 1 Sokaraja
Cogill, B. 2003. Anthropometric Indicators Measurement Guide. Food and
Nutrition Technical Assistance Project Academy for Educational
Development: Washington D.C.
Gibney, Michael J.; Barrie, M. Margetts.; John, M. Kearney.; Lenore, Arab. 2008.
Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.
Martorell, Reynaldo. 2010. Physical growth and development of the malnourished
child: Contributions from 50 years of research at INCAP. Food and
Nutrition Bulletin. 31: 68- 82.
Minarto. 2011. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat (RAPGM) Tahun 2010
2014. Terdapat dalam: http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/658.
[diakses 10 November 2012].
Park, Hyun., et al. 2011. The Impact of Nutritional Status and Longitudinal
Recovery of Motor and Cognitive Milestones in Internationally Adopted
Children. Int. J. Environ. Res. Public Health. 8: 105-116.
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). 2009. Kamus Gizi Pelengkap
Kesehatan Keluarga. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Quigley & Watts, Ltd. 2005. A Rapid Review of the Literature on the Association
Between Nutrition and School Pupil Performance. Report. Wellington. 93
pages.
Rahma, Aulia. 2011. Studi Perbandingan Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan
Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar. Thesis. Fakultas
Ekonomi. Program Studi Ilmu Ekonomi. Universitas Hasanudin. Makasar.

46

Ramachandran, Prema & Hema, S. Gopalan. 2011. Assessment of Nutritional


Status in Indian Preschool Children Using WHO 2006 Growth Standards.
Indian J Med Res. 134: 47-53.
Sawadogo, S. Prosper.; Yvwe, M-P.; Gilles, C.; Alfred, T.; Francis, D. 2008.
Nutritional Status and Common Infections in Infants in Burkina Faso:
Interest of an Overall Morbidity Score. Tropical Medicine and
International Health. 13: 345-353.
Supariasa, I Dewa N.; Bachyar, B.; Ibnu, F. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta:
EGC.
Susilowati. 2008. Pengantar Penilaian Status Gizi (PSG). Disampaikan pada
Kuliah Tatap Muka. Sekolah Tinggu Ilmu Kesehatan Jenderal Ahmad Yani
Cimahi. Cimahi.
Syafly, Hilma. 2011. Hubungan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)
dengan Status Gizi Balita di Kota Jambi. Skripsi. Fakultas Ekologi Manusia.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.