Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDA


Sediaan Sirup Curcuma xanthorrhiza rhizome

Disusun oleh:
SYIFA FAUZIYYAH

P17335114040
IA
KELOMPOK 5

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN D3 FARMASI
2015

Sedian Sirup Curcuma xanthorrhiza rhizome


I.

TUJUAN PERCOBAAN

II.

Menentukan formulasi yang tepat dengan bahan aktif Curcuma


xanthorrhiza rhizome
Mampu mengevaluasi hasil sediaan yang dibuat

LATAR BELAKANG
Perkembangan pengobatan saat ini terus berkembang. Bentuk sediaan obat
pun bermacam-macam yaitu liquid,solid dan semi solid yang telah dikembangkan
oleh ahli farmasi juga industri. Seorang ahli farmasi mengembangkan obat untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang memberikan efek terapi obat dan juga
dosis yang diberikan harus sesuai. Dalam pembuatan sediaan, tentunya terdapat
kekurangannya. Oleh karena itu, seorang farmasis harus dapat membuat formula
juga membuat suatu sediaan secara aman, efektif, stabil dan akseptabel. Maka
seorang farmasis dituntut untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam
memformulasi suatu sediaan, mulai dari bahanbahan yang digunakan, efek
farmakologi, karakteristik dan hal detail lainnya. Hal itu perlu dikuasai supaya
dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.
Dalam praktikum ini, sediaan yang dibuat adalah larutan sediaan bahan alam
(sirup). Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia
terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur (FI
Ed IV). Sedangkan sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula
lain dengan kadar tinggi. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai
Sirup atau Sirupus Simpleks (FI Ed IV).
Sediaan ini dibuat untuk mengetahui seperti apa sediaan sirup itu juga
komposisi dari sediaan yang dibuat. Sediaan ini diharapkan dapat mebantu anakanak yang kurang memiliki nafsu makan karena bahan aktif dari sediaan ini
memiliki efek farmakologi sebagai penambah nafsu makan. Dosis yang diberikan
pada anak usia 6-12 tahun ialah 17-25 ml.

III.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Bahan aktif (Curcuma xanthorrhiza rhizome )
Zat Aktif

Curcuma xanthorrhiza rhizome (Farmakope Herbal Edisi I hal


150)

Struktur

Xantorizol (Farmakope Herbal Edisi I hal 152)


Rumus molekul

Xanthorrhizol (C15H22O)

Titik lebur

Tidak ditemukan di pustaka manapun (Farmakope Herbal


Indonesia Edisi 1, FI IV, FI V, OOP edisi 6, PDR For Herbal
Medicines 4th ed, Jurnal Internasional : WHO monographs on
Selected Medical Plants Volume 1-4, NCBI. Handbook of
Medicinal Herbs 2nd ed, European Pharmacope, British

Pemerian

National Formulary, USP, JP 15th ed)


Berupa keping tipis, bentuk bundar atau jorong, ringan keras,
rapuh, garis tengah hingga 6cm, tebal 2 5 mm; permukaan
luar berkerut, warna coklat kekuningan, hingga coklat; bidang
irisan berwarna coklat kuning buram, melengkung tidak
beraturan, tidak rata, sering dengan tonjolan melingkar pada
batas antara silinder pusat dengan korteks, korteks sempit,
tebal 3 4 mm. Bekas patahan berdebu, warna kuning jingga
hingga coklat jingga terang. Bau khas, rasa tajam dan agak
pahit. (Farmakope Herbal Indonesia edisi I hal 150)

Kelarutan

Sari larut air tidak kurang dari 9,1%


Sari larut etanol tidak kurang dari 3,6% (Farmakope Herbal
Indonesia edisi I hal 153)

Stabilitas

Tidak boleh terkena paparan cahaya (PDR for Herbal


Medicines 4th hal 239)

Inkompatibilitas

Tidak ditemukan di pustaka manapun (Farmakope Herbal


Indonesia Edisi 1, FI IV, FI V, OOP edisi 6, PDR For Herbal
Medicines 4th ed, Jurnal Internasional : WHO monographs on
Selected Medical Plants Volume 1-4, NCBI. Handbook of
Medicinal Herbs 2nd ed, European Pharmacope, British
National Formulary, USP, JP 15th ed)
Curcuma digunakan untuk dispepsia , terutama

Keterangan lain

perasaan kenyang setelah makan dan meteorism (perut


kembung) , serta menambah nafsu makan.
Di Indonesia telah lama digunakan untuk keluhan hati dan
kantong empedu. (PDR for Herbal Medicines 4th hal 239)
Disimpan pada botol coklat karena bahan aktif tidak stabil

Penyimpanan

apabila terkena paparan cahaya. (PDR for Herbal Medicines


4th hal 239)
4 bagian dalam 100 bagian infusa. (FI IV hal 9)

Kadar penggunaan

2. Natrium Benzoat
Zat

Natrium Benzoat/ Sodium Benzoate (HOPE 6th page 627)

Sinonim

Benzoic acid sodium salt; benzoate of soda; E211; natrii


benzoas; natrium benzoicum; sobenate; sodii benzoas;
sodium benzoic acid. (HOPE 6th page 627)

Struktur
( HOPE 6th page 627 )

Rumus molekul

C7H5NaO2 (HOPE 6th page 627)

Titik lebur

410oC

Pemerian

Natrium Benzoat berbentuk granul putih atau kristal, serbuk


sedikit higroskopis, tidak berbau, atau praktis tidak berbau,
memiliki rasa manis dan sedikit asin. (HOPE 6th page 627)

Dalam suhu 20oC kelarutan ethanol 95% adalah 1:75, dalam

Kelarutan

ethanol 90% adalah 1:50, dalam air 1:1,8. Dalam air 100 oC
kelarutannya adalah 1:1,4 (HOPE 6th page 628)
Stabilitas

Larutan dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi.


(HOPE 6th page 627)

Inkompabilitas

Inkompatibel dengan senyawa kuartener, gelatin, garam


besi, garam kalsium dan logam berat, termasuk perak, timah,
dan air raksa. Pengawetan dapat dikurangi dengan interaksi
dengan kaolin atau surfaktan non ionik. (HOPE 6th page
627)

Keterangan lain

Natrium Benzoat terutama digunakan sebagai pengawet anti


mikroba dalam kosmetik, makanan dan obat-obatan.
Digunakan sebagai prefensi untuk asam benzoat dalam
beberapa keadaan. Karena kelarutannya lebih besar, juga
sebagai pelumas tablet. (HOPE 6th page 627)

Penyimpanan

Bahan berjumlah banyak harus disimpan dalam wadah


tertutup, ditempat yang sejuk dan kering. (HOPE 6th page
628)

Kadar

Digunakan pada konsentrasi 0.020.5% pada obat oral,

penggunaan

0.5% pada sediaan parenteral, dan 0.10.5% pada kosmetik.


(HOPE 6th page 627)

Perhitungan ADI :
ADI

= 5 mg/kg BB

Rata-rata BB anak

= 30 kg

5 mg/kg BB x 30 kg

= 150 mg

Natrium benzoate yang digunakan per botol = 0,1 g


Dosis sehari
75 ml
100 ml

x 0,1 g

= 50 ml 75 ml
= 0,075 g

Jadi penggunaan natrium benzoat tidak melampaui kadar ADI


3. Sukrosa
Zat

Sukrosa / Sucrose (FI IV hal 762)

Sinonim

Beet

sugar;

cane

sugar;

a-D-glucopyranosyl-b-D-

fructofuranoside; refined sugar; saccharose; saccharum; sugar


(HOPE 6th hal 703)
Struktur

(HOPE 6th hal 703)

Rumus molekul

C12H22O11 (HOPE 6th hal 703)

Titik lebur

160186oC (HOPE 6th hal 703)

Pemerian

Hablur putih atau tidak berwarna; massa hablur atau berbentuk


kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis,
stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus. (FI IV hal
762)

Kelarutan

Sangat mudah larut dalam air; lebih mudah larut dalam air
mendidih; sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam

Stabilita

kloroform dan dalam eter. (FI IV hal 762)


Sukrosa memiliki stabilitas yang baik pada suhu kamar dan
kelembaban. Menyerap hingga kelembaban 1% (HOPE 6th

Inkompabilitas

page 703)
Sukrosa bisa mengandung logam ringan, yang mana dapat
menjadi inkompatibel dengan bahan lain. Sukrosa juga dapat
mengandung sulfit dari proses penyulingan. Dengan kadar
sulfit yang tinggi akan mengakibatkan prubahan warna pada
larutan (HOPE 6th page 703)

Keterangan lain

Sukrosa digunakan sebagai coating agent, membantu proses


granulasi, suspending agent, pemanis, pengikat tablet,
pengecer tablet dan kapsul, tablet filler, pengental, therapeutic

agent. (HOPE 6th hal 703). ADI tidak ditemukan di HOPE 6 th,
Penyimpanan

2009)
Dalam wadah tertutup, sejuk dan kering (HOPE 6 th edition

Kadar

page 628)
Formulasi sirup oral : 67%

penggunaan

Sweetening agent : 67%


Tablet binder (dry granulation) : 220 %
Tablet binder (wet granulation) : 5067%
Tablet coating (syrup) : 5067% (HOPE 6th hal 704)

4. Sorbitol
Zat
Sinonim

Sorbitol (HOPE 6th page 179)


NC; Liponic 76-NC; Meritol; Neosorb; Sorbitab; sorbite;
Dsorbitol; Sorbitol Instant; sorbitolum; Sorbogem . (HOPE 6th
page 679)
(HOPE 6th page 679)

Struktur

Rumus molekul

C6H14O6 (HOPE 6th page 679)

Titik lebur

Anhydrous form: 110112oC;


Gamma polymorph: 97.7oC;
Metastable form: 93oC. (HOPE 6th page 680)

Pemerian

Sorbitol tidak berbau, putih atau tidak berwarna, kristal, serbuk


higroskopik. Sorbitol memiliki rasa yang enak, dingin, rasa
yang manis dan mengandung sekitar 50-60% pemanis sukrosa.

Kelarutan

(HOPE 6th page 679)


Kelartan sorbitol pada suhu 20o C dalam ethanol 95% 1:25;
dalam ethanol 82% 1:8,3; ethanol 62% 1:2,1; ethanol 41%
1:4,1; ethanol 20% 1:2; ethanol 11% 1:1,4; praktis tidak larut
dalam eter, sedikit larut dalam ethanol dan pada air 1:0,5.

Stabilitas

(HOPE 6th page 680)


Sorbitol kimiawi relatif lembab dan kompatibel dengan
kebanyakan eksipien. Ini stabil di udara. Meskipun sorbitol
tahan pada fermentasi oleh banyak mikroorganisme pengawet
harui ditambahkan ke larutan sorbitol. (HOPE 6th page 680)

Inkompabilitas

Trivalen

ion

dalam

kondisi

sangat

asam

dan

basa.

Penambahan glycols polyethilen untuk larutan sorbitol dengan


agitasi yang akurat menghasilkan sebuah lilin, gel lartut air
dengan titik didih 35- 40o C. Larutan sorbitol akan bereaksi
dengan besi oksida sehingga menjadi berwarna hitam. Sorbitol
mempercepat degrasi penisilin poada larutan yang netral.
Keterangan lain

(HOPE 6th page 679)


Sorbitol berfungsi sebagai pembasah, plastilizer, penstabil,
pemanis, pengencer tablet dan kapsul, anticaplocking agent

Penyimpanan
Kadar
penggunaan

dalam sirup eliksir. (HOPE 6th page 680)


Larutan dapat disimpan dalam kaca, plastik, alumunium dan
wadah stainless steel. (HOPE 6th page 680)
Humectant 315%
IM injections 1025%
Moisture control agent in tablets 310%
Oral solutions 2035%
Oral suspensions 70%
Plasticizer for gelatin and cellulose 520%
Prevention of cap locking in syrups and elixirs 1530%
Substitute for glycerin and propylene glycol 2590%
Tablet binder and filler 2590%
Toothpastes 2060%
Topical emulsions 218% (HOPE 6 th page 679)

5. Aquadest
Zat

Aquadest (HOPE 6th page 766)

Sinonim

Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide (HOPE 6th page 766)

Struktur

(HOPE 6th ed, page 766)


Rumus molekul

H2O (HOPE 6th page 766)

Titik lebur

0oC (HOPE 6th page 766)

Pemerian

Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

berasa

Kelarutan

(HOPE 6th page 766)


Larut dengan sebagian besar pelarut polar. (HOPE 6 th page

Stabilita

766)
Seara kimia, air stabil di semua bentuk fisikanya yait (uap, air,

Inkompabilitas

cairan ukrosa (HOPE 6th page 766)


Dalam formulasi farmasi , air dapat bereaksi dengan obatobatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis
( dekomposisi dalam keberadaan air atau uap air ) pada saat
suhu ditinggikan. Air dapat bereaksi dengan logam alkali dan
bereaksi cepat dengan alkali tanah dan oksida nya , seperti
kalsium oksida dan magnesium oksida . Air juga bereaksi
dengan garam anhidrat untuk membentuk garam hidrat dengan
berbagai komposisi , dan dengan beberapa organik bahan dan

Keterangan lain

kalsium karbida . (HOPE 6th pagel 768)


Air banyak digunakan sebagai bahan baku , bahan dan pelarut
dalam proses , formula dan pembuatan produk kefarmasian,
bahan aktif farmasi perantara , dan bahan reaksi analisis.

Penyimpanan

(HOPE 6th page 766)


Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat. (HOPE 6th page
768)

Kadar

Nilai khusus air yang digunakan untuk aplikasi tertentu dalam

penggunaan

konsentrasi hingga 100%. (HOPE 6 th page 766)

6. Tinjauan Pustaka dari Sediaan yang Dibuat


Sediaan yang dibuat merupakan sediaan sirup dengan bahan aktif Curcuma
xanthorrhiza rhizome. Dalam sediaan ini terkandung 50% infusa.
Menurut FI IV, infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi
simplisia nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit. Cara pembuatan infusa :
Campur simplisia yang memiliki derajat halus sesuai dalam panci dengan air
secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulau suhu
mencapai 90oC sambil sesekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flannel,
tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang
dikehendaki. Infus Daun Sena dan infus yang mengandung minyak atsiri diserkai

setelah dingin. Infus Daun Sena, Infus Asam Jawa, dan infus simplisia lain yang
mengandung lendir tidak boleh diperas.
Kecuali dinyatakan lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini,
infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras, dibuat dengan menggunakan
10% simplisia. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut, digunakan sejumlah yang
tertera pada tabel di bawah ini :
Bahan-bahan
Kulit kina
Daun digitalis
Akar ipeka
Daun kumis kucing
Sekale komutum
Daun sena
Temulawak

Jumlah
6 bagian
0,5 bagian
0,5 bagian
0,5 bagian
3 bagian
4 bagian
4 bagian

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat sediaan infus :


1. Jumlah simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bahan tidak berkhasiat keras
dibuat dengan menggunakan 10 % simplisia.
2. Derajat halus simplisia
Serbuk
Serbuk (5/8)
Serbuk (8/10)
Serbuk (10/22)
Serbuk (22/60)
Serbuk (85/120)

Bahan-bahan
Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, daun sena
Dringo, kelembak
Laos, akar valerian, temulawak, jahe
Kulit kina, akar ipeka, sekale komutum
Daun digitalis

3. Banyaknya air ekstra


4. Cara menyerkai
5. Penambahan bahan-bahan lain ( Syamsuni, A. 2005)
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut,
misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur (FI Ed IV)
Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral mengandung
satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang
larut dalam air atau campuran kosolven air. ( FI Ed V)

Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gila lain dengan kadar
tinggi. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup atau sirupus
simpleks ( FI Ed IV)

Pembuatan Sirup
Kecuali dinyatakan lain, sirup dibuat sebagai berikut :
Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut.
Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki,
buang busa yang terjadi, serkai.
Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antarkinon,
ditambahkan natrium karbonat sejumlah 10% dari bobot simplisia. Kecuali
dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metal
paraben 0,25% b/v atau pengawet lain yang cocok. (FI Ed III)
Spesifikasi
Bentuk sediaan

: Sirup

Warna

: Kuning jerami

Rasa

: Manis dengan aroma temulawak

pH

:4

Kadar

: 50 %

Volume

: 100 ml/ botol

Viskositas

: 0,89 mPa s (o,89 cP) pada suhu 25oC (mengikuti viskositas


air) (HOPE 6th Ed, page 766 )

IV.

PENDEKATAN FORMULA
No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

.
1.

Infusa Curcuma

50% v/v

Bahan aktif

2.
3.
4.

xantorrhiza rhizome
Sirupus simplex
Natrium benzoate
Sorbitol

20 % b/v
0,1 % b/v
15 % b/v

Pemanis dan pengental


Pengawet
Anticaplocking, pemanis,

5.

NaOH

qs

pengental
Adjust pH

6.
7.

V.

HCl 2 N
Aquadest

PENIMBANGAN
Penimbangan
Dibuat sediaan 4 botol (@ 100 ml)
Tiap botol dilebihkan 2%
Total 4 botol
Total 4 botol dilebihkan 10%

Adjust pH
Pelarut

= 400 ml
= 100 ml + (2% x 100 ml)
= 102 ml
= 4 x 102 ml = 408 ml
= 408 ml + ( 10% x 408 ml )
= 448,8 ml 450 ml

No

Nama Bahan

Jumlah yang Ditimbang

.
1.

Curcuma xanthorrhiza

16 g

rhizome
Sirupus simplex :
Sukrosa
Aquadest
Natrium Benzoat
Sorbitol
Aquadest

150 g
97,5 g
52,5 g
0,45 g
67,5 g
Ad 450 ml

2.
3.
4.
5.

VI.

qs
Ad 100 %

PROSEDUR PEMBUATAN

A. Pembuatan air bebas CO2 (FI IV hal 1124)


1. Ambil air sebanyak 1 liter menggunakan beaker glass 1 liter
2. Air tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer 1 liter, lalu dipanaskan diatas
hotplate
3. Setelah air mendidih kemudian ditunggu selama 5 menit atau lebih
4. Setelah mencapai waktu yang ditentukan, erlenmeyer ditutup menggunakan
gumpalan kapas, jika sudah tertutup rapat, api dimatikan, dinginkan
B. Kalibrasi
Kalibrasi botol coklat (4 botol)
1. Ambil air menggunakan beaker glass 500 ml
2. Masukan ke dalam gelas ukur 250 ml sebanyak 102 ml
3. Tuangkan air tersebut ke dalam botol coklat 100 ml
4. Tandai batas kalibrasi, air yang ada dalam botol dibuang, kemudian botol dibilas

dengan aquadest, keringkan. Botol siap digunakan.


5. Lakukan langkah 2 sampai 4 pada 3 botol lainnya.
Kalibrasi beaker glass untuk infusa
1. Ambil air menggunakan beaker glass 500 ml
2. Masukan ke dalam gelas ukur 500 ml sebanyak 400 ml

3. Tuangkan air tersebut ke dalam beaker glass 500 ml


4. Tandai batas kalibrasi, air yang ada pada beaker glass dibuang, kemudian beaker

glass dibilas dengan aquadest, keringkan. Beaker glass siap digunakan.


Kalibrasi beaker glass untuk sediaan sirup (utama)
1. Ambil air menggunakan beaker glass 500 ml
2. Masukan kedalam gelas ukur 500 ml sebanyak 450 ml
3. Tuangkan air tersebut ke dalam beaker glass 500 ml
4. Tandai batas kalibrasi, air yang ada pada beaker glass dibuang, kemudian beaker

glass dibilas dengan aquadest, keringkan. Beaker glass siap digunakan.


C. Penimbangan bahan
1. Simplisia Curcuma xanthorriza rhizome ditimbang sebanyak 16,00 g dengan
kertas perkamen besar di neraca analitik.
2. Sukrosa ditimbang sebanyak 97,50 g menggunakan beaker glass dengan cara
penimbangan tidak langsung di neraca analitik, kemudian diberi label nama zat
pada beaker glass.
3. Natrium Benzoat ditimbang sebanyak 0,45 g dengan menggunakan kertas
perkamen di neraca analitik, kemudian kertas perkamen dilipat dan diberi nama
zat.
4. Sorbitol ditimbang sebanyak 67,50 g dengan menggunakan beaker glass 100 ml
di neraca analitik dengan cara penimbangan tidak langsung. Kemudian diberi
label nama zat.
D. Pembuatan sirupus simpleks
1. Sukrosa yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml, lalu
ditambahkan aquadest sebanyak 53 ml
2. Campuran tersebut dipanaskan hingga seluruh sukrosa melarut dengan sempurna
3. Larutan tersebut kemudian disaring menggunakan kain baltis ke dalam beaker
glass 250 ml yang telah dikalibrasi 150 ml. Air panas ditambahkan sampai larutan
mencapai tanda batas kalibrasi.
4. Larutan yang telah disaring, ditimbang seberat 90,00 g menggunakan beaker glass
100 ml. Kemudian diberi label nama zat.
E. Pembuatan infusa Curcuma xanthorriza rhizome
1. Simplisia Curcuma xanthorriza rhizome yang telah ditimbang dengan derajat
halus yang sesuai dimasukkan ke dalam panci infusa dan ditambahkan air
secukupnya
2. Panci tersebut kemudian dipanaskan di atas penangas air selama 15 menit
terhitung mulai suhu mencapai 90o C sambil sesekali diaduk, kemudian
didinginkan sambil ditutup.
3. Larutan insufa tersebut diserkai selagi dingin menggunakan kain flanel. Air
ditambahkan secukupnya melalui ampas ke dalam beaker glass 500 ml hingga
tanda batas kalibrasi (400 ml).

F. Pembuatan sediaan sirup Curcuma xathorrhiza rhizome


1. Masukan infusa Curcuma xathorrhiza rhizome kedalam gelas ukur 250 ml
sebanyak 225 ml, kemudian masukkan ke dalam beaker glass utama yang telah
dikalibrasi (450ml). Bilas gelas ukur dengan 2 ml aquadest sebanyak 2 kali. Hasil
bilasan dimasukan kedalam beaker glass utama. Aduk menggunakan batang
pengaduk.
2. Masukan Natrium Benzoat yang telah ditimbang ke dalam beaker glass 50 ml,
tambahkan 1 ml aquadest, aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut.
Setelah natrium benzoat larut dengan sempurna, masukkan kedalam beaker glass
utama. Bilas beaker glass dengan 2 ml aquadest sebanyak 2 kali. Hasil bilasan
dimasukan kedalam beaker glass utama. Aduk menggunakan batang pengaduk
hingga homogen.
3. Encerkan sorbitol yang telah ditimbang

dengan 15 ml aquadest, masukkan

kedalam beaker glass utama. Bilas beaker glass dengan 2 ml aquadest sebanyak 2
kali. Hasil bilasan dimasukan ke dalam beaker glass utama. Aduk menggunakan
batang pengaduk hingga homogen.
4. Encerkan sirupus simplex yang telah ditimbang dengan 20 ml aquadest,
masukkan ke dalam beaker glass utama. Bilas beaker glass dengan 2 ml aquadest
sebanyak 2 kali. Hasil bilasan dimasukan ke dalam beaker glass utama. Aduk
menggunakan batang pengaduk hingga homogen.
5. Tambahkan aquadest hingga 360 ml (80% dari 450 ml), lalu cek pH. Jika belum
mencapai pH target, tambahkan adjust pH (NaOH 0,1 N atau HCl 0,1 N)
secukupnya, sampai mencapai pH target.
6. Tambahkan aquadest sampai tanda batas kalibrasi ke dalam beaker glass utama.
Aduk menggunakan batang pengaduk hingga larutan tercampur sempurna
(homogen).
7. Sediaan yang telah homogen tersebut kemudian dimasukkan ke dalam masingmasing botol yang telah dikalibrasi sampai tanda batas kalibrasi (102 ml).
Gunakan corong saat memasukan sediaan kedalam botol agar tidak tumpah. Lalu
botol ditutup dan diberi etiket
VII.
No

DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN


Jenis
evaluasi

Prinsip evaluasi

Jumla
h
sampel

1.

Evaluasi

Hasil
pengamatan

Syarat

Fisika
Sediaan
berbau khas
aromatic, rasa

1.1

Organoleptik

Evaluasi meliputi uji


bau,rasa dan warna

manis dengan
3 botol

aroma khas
temulawak,
larutan
berwarna

Kondisi
organoleptik
sebelum dan
sesudah
penyimpanan
harus sama

kuning jernih.
Volume rata-rata
tidak kurang
dari 100% dan

Tuang isi perlahan-

tidak ada satu

lahan dari tiap


Volume
1.2

terpindahkan

wadah pun

wadah ke dalam
gelas ukur kering

volumenya

3 botol

kurang dari 95%

dan telah dikalibrasi

dari volume

secara hati-hati

yang tertera

(FI V halaman 1614)

pada etiket ( FI
V halaman
1615)
Suatu cairan

1.3

Kejernihan

Bandingkan larutan

larutan

uji dengan larutan

(FI V hal

suspensi padanan

154)

yang dibuat segar.

dinyatakan
jernih jika
3 botol

kejernihannya
sama dengan air
atau pelarut
yang digunakan

1.4

Pengukuran
pH

Pengukuran

pH yang

dilakukan

didapat saat

menggunakan pH

3 botol

indikator
1.5

Viskositas (FI

Pengujian dilakukan

sediaan sudah
jadi adalah 4

3 botol

pH 4 (perubahan
rentang pH
0,5)
Viskositas

menggunakan
viscometer kapiler.
Pengukuran
kekentalan meliputi

sediaan

penetapan waktu
V hal 1562)

mendekati

yang dibutuhkan

viskositas air

oleh sejumlah

(0,89 mPa s )

volume tertentu
untuk mengalir
melalui kapiler.
(FI V hal 1562)
Gunakan piknometer
yang bersih dan

Bobot jenis

kering, timbang

suatu zat adalah

piknometer kosong

hasil yang

(W1) lalu isi dengan

diperoleh

air suling dan


timbang (W2).

3 botol

Buang air suling


1.6

Bobot jenis

bobot air dalam

piknometer lalu isi

piknometer.

dengan cairan yang

(FI V hal 1553)

akan diukur BJ nya


dan timbang (W3).
Hitung dengan
rumus :
W 3W 1
dt = W 2W 1

1.7

2.
2.1

Dengan menyimpan

stabilitas

retained sample pada

sediaan
Evaluasi

temperature kamar

Kimia
Identifikasi

Menggunakan

membagi bobot
zat dengan

tersebut, keringkan

Penentuan

dengan

3 botol

3 botol

HPLC, titrasi,

sediaan

2.2

3.

sprektofotometer
Dilakukan dengan

Tidak kurang

Penetapan

cara kromatografi

dari 6,60%

kadar zat

lapis tipis

aktif sediaan

densitometri

zat aktif (FHI

(FHI Edisi 1 hal 79)

Edisi 1 hal 79)

3 botol

dihitung sebagai

Evaluasi
Biologi
Pengujian dilakukan

3.1

dengan metode

Kurang dari 10

Jumlah

penyaringan

mikroba per

cemaran

membran atau salah

mikroba

satu metode

specimen (FI V

lempeng yang sesuai

hal 1343)

3 botol

gram atau ml

(FI V hal 1343)


Koloni tidak

Uji

Pengujian dilakukan

efektivitas
3.2

dengan

pengawet

menggunakan

(FI V hal

mengikat dari
jumlah hitung

3 botol

awal sampai

mikroba uji

1355)

hari ke-4 dan


ke-28

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, dibuat formula sediaan sirup dengan bahan aktif Curcuma
xanthorrhiza rhizome juga sirupus simplex, natrium benzoat, sorbitol, aquadest juga
adjust pH sebagai eksipien (bahan tambahan).
Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dengan kadar
tinggi. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai Sirup atau Sirupus
Simpleks (FI Ed IV)
Pada percobaan larutan ini, dibuat sediaan sirup dengan formula sebagai berikut :
No
.

Nama Bahan

Jumlah

1.

Infusa Curcuma

50% v/v

2.
3.
4.
5.
6.
7.

xantorrhiza rhizome
Sirupus simplex
Natrium benzoate
Sorbitol
NaOH
HCl 2 N
Aquadest

20 % b/v
0,1 % b/v
15 % b/v
qs
qs
Ad 100 %

Sediaan ini mengandung bahan aktif yang larut dalam air oleh karena itu sediaan
dibuat dengan pelarut air. Air yang digunakan merupakan air bebas CO 2. Jika tidak
menggunakan air bebas CO2, CO2 dapat mempengaruhi pH sediaan karena melarut dalam
air dan membentuk ion H+ sehingga mengubah pH sediaan. (FI Ed V)
Dalam pembuatan, kemungkinan terjadinya kehilangan volume seperti terjadinya
penguapan ataupun sediaan yang mungkin tumpah oleh karena itu volume total sediaan
dilebihkan 10%.
Dalam sediaan ini, mengandung infusum temulawak sebanyak 50% dari jumlah
sediaan. Pembuatan infusum temulawak ialah dengan cara merendam dan memanaskan
simplisia temulawak sebanyak 16 g ke dalam 400 ml air selama 15 menit terhitung saat
suhu mencapai 90oC. Infusa mengandung minyak atsiri yang mudah menguap bila
diserkai selagi panas oleh karena itu infusa harus diserkai dalam keadaan dingin. Infusa
temulawak memiliki rasa tajam dan pahit sehingga itu dapat mengurangi akseptabilitas
pasien, oleh karena itu ditambahkanlah sweetening agent yaitu sirupus simpleks dan
sorbitol (Rowe, 2009 ). Sirupus simpeks yang digunakan ialah sebanyak 20 %. Sorbitol
tidak hanya berperan sebagai sweetening agent, namun sorbitol juga berperan sebagai
anticaplocking. Anticaplocking berfungsi untuk pencegahan pembentukan kembali
kristal-kristal gula dari larutan gula. Caplocking dapat terjadi jika penggunaan sukrosa
lebih dari 30% dikarenakan pelarut yang menguap. Sebenarnya untuk menghindari
anticaplocking dapat juga digunakan gliserin. Namun perpaduan sirupus simpleks dengan
sorbitol dapat memperbaiki viskositas sediaan menjadi lebih baik agar larutan senantiasa
homogen oleh karena itu dipilihlah sorbitol sebagai anticaplocking agent. Dalam sediaan,
terkandung sukrosa dan air sebagai nutrisi dalam pertumbuhan mikroba, sediaan disimpan
dalam jangka waktu lama sebagai multiple dose, dengan demikian, rentan terkontaminasi
mikroba oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet yaitu natrium benzoat.Natrium

benzoat yang ditambahkan sebanyak 0,1 % atau 0,45 g dalam 450 ml sediaan. Ketika
sediaan telah jadi, maka akan dilakukan pengujian pH. Karena kemungkinan pH sediaan
tidak sesuai dengan pH target maka ditambahkan adjust pH (NaCl dan HCl).
Setelah sediaan jadi, maka dilakukan evaluasi organoleptik dan pH. Sebelum
melakukan formulasi, infusa temulawak memiliki rasa yang tajam dan pahit juga bau
khas aromatik. Karena sediaan ini ditujukan untuk anak-anak, tentu saja dibutuhkan rasa
yang enak dan dapat diterima oleh anak-anak. Setelah dilakukan formulasi, diperoleh
sediaan sirup yang berwarna kuning jerami, memiliki bau khas aromatik juga rasa yang
manis. Bagi dewasa, sediaan yang kami buat memiliki rasa manis yang agak berlebih
namun karena sediaan ini ditujukan untuk anak-anak maka rasa manis yang diberikan
cukup. Saat jumlah sediaan mencapai 80% ( 360 ml dalam 450 ml) dilakukan pengujian
pH sediaan dengan menggunakan kertas lakmus. pH target yang digunakan ialah pH 4
(mengacu pada pH natrium benzoat). Pada saat pengujian pertama, pH yang didapatkan
ialah 7, oleh karena itu perlu ditambahkan adjust pH yaitu HCl 2 N 8 tetes. Setelah
diberikan adjust pH beberapa tetes, maka sediaan telah mencapai pH target yaitu 4 maka
sediaan ditambahkan aquadest sampai tanda batas kalibrasi dalam beaker glass. Sediaan
diaduk menggunakan batang pengaduk hingga larutan tercampur merata sempurna
(homogen).
Setelah dilakukan uji organoleptis, maka sediaan dimasukkan ke dalam botol yang
telah dikalibrasi. Karena bahan aktif tidak stabil apabila terkena paparan cahaya langsung
maka digunakan lah botol coklat. Sediaan dimasukkan sebanyak 102 ml atau dilebihkan
2% dari 100 ml larutan karena kemungkinan terjadinya kehilangan volume saat uji
volume terpindahkan. Sehingga saat dilakukan evaluasi volume terpindahkan, volume
sediaan tidak kurang dari 100% volume yang telah tertera pada etiket.

IX.

KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

.
1.

Infusa Curcuma

50 % v/v

Bahan aktif

2.
3.

xanthorrhiza rhizome
Sirupus simplex
Natrium Benzoat

20 % b/v
0,1 % b/v

Pemanis dan pengental


Pengawet

4.

Sorbitol

15 % b/v

Anticaplocking,pemanis,

5.
7.

HCl 2N
Aquadest

8 tetes
Ad 100 %

pengental
Adjust pH
Pelarut

Efek utama dari xantorizol yang merupakan bahan aktif dari Curcuma xanthorrhiza
rhizome ialah sebagai penambah nafsu makan. Dari hasil sediaan berdasarkan formulasi
yang dibuat, rasa dari sirup Curcuma xanthorrhiza rhizome ialah manis yang cocok untuk
anak-anak dengan bau khas aromatik temulawak. Ketika melakukan uji pH, pH yang
dihasilkan tidak mencapai pH target, oleh karena itu diberikan adjust pH berupa HCl 2 N
8 tetes.

X.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta:
Departemen Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia edisi V, Jakarta:
Departemen Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Farmakope Herbal Indonesia edisi I,
Jakarta: Departemen Kesehatan
Medical Economics Company, Inc. 2000. PDR for Herbal Medicines 4th edition.
Montvale, USA : Medical Economics Company, Inc
Rowe, Raymond C.2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed.,London:
Pharmaceutical Press.
Wulandari, Merindry Eka Ayu. 2013. Pengaruh Pemberian Kombinasi Emulsi Dan
Minyak Atsiri Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Berat Badan, Asupan
Makanan Dan Minuman Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Ditekan Nafsu
Makannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Badan POM RI. 2005. Gerakan Nasional Minum Temulawak. Jakarta Pusat : Pusat
informasi obat dan makanan Badan POM

Husniati dan Eva Oktarina. 2012. The Effect of Chitosan Addition in Pinneapple Juice
Toward Shelf Life. Bandar lampung : Balai Riset dan Standardisasi Industri Bandar
Lampung
Tirta, Handoko. 2012. Kapasitas Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza roxb)
Sebagai Anti Streptococcus mutans Dalam Menghambat Demineralisasi Email (In Vitro).
Tesis. FKG UI

KEMASAN

ETIKET

RIZOLA
SIRUP TEMULAWAK
KOMPOSISI
Tiap 10 ml mengandung :
Infusa Curcuma xanthorriza rhizome 5 mg

FARMAKOLOGI
Rhizola mengandung infusa Curcuma xanthorrhiza rhizome
(Temulawak) yang mengandung minyak atsiri yang
bertanggung jawab meningkatkan nafsu makan karena
bersifat Choloretic, yaitu dapat menghasilkan cairan
empedu lebih banyak sehingga mempercepat pencernaan
dan absorpsi lemak di usus sehingga proses pengosongan
lambung terjadi lebih cepat

INDIKASI
Menambah nafsu makan

CARA PAKAI
Untuk Anak usia 6-12 tahun
Sehari 3 x 1 sendok takar @15-25 mL

EFEK SAMPING
Pada dosis berlebih dapat menimbulkan kolik pada pasien
penderita batu empedu.

HINDARKAN DARI CAHAYA MATAHARI LANGSUNG.


TUTUP BOTOL RAPAT-RAPAT DAN
JAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK.
No. Reg. DTR1515000537A1
PT. PHARAFAM FARMA
BANDUNG - INDONESIA

BROSUR