Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

PEMBAHASAN
Stroke adalah penyebab kematian yang utama. Pola penyebab kematian di rumah sakit
yang utama dari data Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang menyebutkan bahwa
stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di RS. Stroke merupakan
penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker secara global.
Bab ini kelompok akan membahas proses keperawatan pada Asuhan Keperawatan yang
dilakukan pada tanggal 16 19 Maret 2015 di ruang HCU Lantai 6 Selatan Gedung Teratai
RSUP Fatmawati. Prinsip dari pembahasan ini dengan memfokuskan pada aspek kehidupan
proses keperawatan yang terdiri tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan tindakan keperawatan, dan evaluasi keperawatan serta proses rehabilitasi
keperawatan pada pasien stroke iskemik.
Pengkajian pada Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik dengan Stroke Iskemik,
pengkajian dilakukan dengan cara alloanamnese, mulai dari biodata, riwayat kesehatan,
pengkajian pola kesehatan, pengkajian fisik, dan didukung dengan hasil pemeriksaan penunjang.
Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan anggota gerak atas dan bawah terdapat
kelemahan dan tidak bisa digerakkan atau duplex. Sekitar 50 % dari penderita stroke yang
mengalami kelumpuhan separuh badan dan gejala berat lainnya, bisa kembali memenuhi
kebutuhan dasarnya sendiri. Mereka bisa berpikir dengan jernih dan berjalan dengan baik,
meskipun pengguanaan lengan atau tungkai yang terkena agak terbatas. Sekitar 20% penderita
stroke meninggal di rumah sakit (Dewi, 2011). Gejala-gejala serangan stroke pada seseorang
dapat dikenali antara lain seperti tiba-tiba lemah (lumpuh) pada satu sisi tubuh, rasa baal dan
kesemutan pada satu sisi tubuh, pandangan gelap, bila melihat ada bayangan, tiba-tiba tidak
dapat berbicara, pelo/mulut miring, tiba-tiba perasaan mau jatuh saat berjalan, kadang-kadang
disertai pusing terasa berputar, mual-mual dan muntah, sakit kepala, atau kesadaran tiba-tiba
menurun (Virzara, 2007).
Lesi-lesi neuron motorik atas dapat melibatkan korteks motor, kapsul internal, medulla
spinalis dan struktur-struktur lain pada otak dimana sistem kortikospinal menuruninya, jika
neuron atas rusak atau hancur sering menyebabkan stroke, paralisis (kehilangan gerakan yang

disadari). Pengaruh hambatan dari neuron motorik atas utuh pada keadaan ini mengalami
kerusakan, gerakan reflex (tidak disadari) tidak dihambat, akibatnya otot tidak atrofi atau
menjadi lumpuh, tetapi sebaliknya, tetap lebih tegang secara permanen dari pada normal dan
menunjukkan paralisis spastik. Paralisis dihubungkan dengan lesi-lesi neuron motorik atas dan
biasanya mempengaruhi seluruh ekstremitas, kedua ekstremitas, atau separuh bagian tubuh
(Smeltzer, 2002).
Ketidakmampuan dalam mobilisasi merupakan penyebab utama klien tidak mampu
melakukan aktivitas seperti biasanya contoh aktivitas sehari-hari (ADL). Imobilitas merupakan
suatu kondisi yang relative. Individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total,
tetapi juga mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya. Mobilisasi diperlukan
untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesadaran, memperlambat proses penyakit
khususnya penyakit degenerative, dan untuk aktualisasi diri (Wahit, 2007).
Hasil pemeriksaan ditemukan adanya kehilangan komunikasi, fungsi otak lain yang
dipengaruhi oleh stroke adalah Bahasa dan komunikasi. Gangguan tersebut disebabkan oleh
paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara (Smeltzer, 2002).
Riwayat penyakit dahulu ditemukan sudah lebih dari 10 tahun klien merokok dan
mengkonsumsi kopi. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food)
yang mengandung kadar lemak tinggi, kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol, kerja
berlebihan, kurang berolahraga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di
perkotaan. Semua perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit berbahaya
seperti jantung dan stroke (Virzara, 2007).
Pemeriksaan penunjang yang mendukung tegaknya diagnose adalah pada pemeriksaan
radiologi CT Scan karena untuk memperlihatkan adanya edema,hematoma, iskemia, dan adanya
infark (Ratna, 2011). Hasil ditemukan adanya infark di basal ganglia bilateral yang dapat
memperkuat penegakan diagnosis. Hasil pemeriksaan pengkajian saraf kranial terdapat kelainan
pada Nervus Cranial III (okulomotorius) dibuktikan dengan adanya tidak adanya pergerakan bola
mata ke arah lateral. Kelainan pada Nervus Cranial XII (hipoglosus) dibuktikan dengan lidah
klien jatuh ke belakang.

Kelompok melakukan tahap pengkajian antara lain : Identitas klien, riwayat keperawatan,
keluhan utama, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang untuk menegakkan suatu
diagnosa. Setelah mendapatkan data dari pengkajian, selanjutnya data tersebut diinterpretasikan
dan dianalisa untuk mengetahui masalah keperawatan yang muncul. Kemudian kelompok
menentukan dan menegakkan diagnosa keperawatan utama yaitu : Penurunan kapasitas adaptif
intracranial berhubungan dengan penurunan perfusi serebral, Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, Hambatan komunikasi verbal berhubungan
dengan penurunan sirkulasi ke otak.
Sedangkan pada teoritis diagnosa keperawatan yang mungkin muncul Ketidakefektifan
pembersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi skret sekunder adanya kelemahan
neuromuskuler, Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengangangguan aliran
arteri atau vena, Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit: kurang dari yang dibutuhkan
berhubungan dengan intake yang tidak adequate, Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan dan mengunyah, Intoleransi aktifvitas
berhubungan denganketidakseimbangan antara suplay oksigen dengan kebutuhan, Gangguan
komunikasi verbal berhubungn dengan gangguan pada N. Fasialis, Defisit perawatan diri
berhubungan dengan intoleransi aktivitas
Salah satu diagnosa keperawatan yang diangkat kelompok adalah hambatan mobilitas
fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular. Pengertian dari mobilitas fisik adalah
keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri da
terarah (NANDA, 2009). Pengangkatan diagnosa ini juga didasarkan pada pemenuhan kebutuhan
dasar klien tentang mobilitas fisik. Imobilitas merupakan suatu kondisi yang relative. Individu
tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan
aktivitas dari kebiasaan normalnya. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan
ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan (Wahit, 2007).
Pada tahap perencanaan di dalam tindakan yang nyata yang diharapkan dari tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan dengan intervensi yang disusun, walaupun ada sebagian
yang tidak bisa dilaksanakan karena kondisi pasien gelisah dan mengalami kesulitan karena
kesadaran pasien menurun. Walaupun demikian dalam melaksanakan asuhan keperawatan
penulis mendapat hambatan dan kesulitan yang berupa intervensi yang diberikan hanya tiga hari

saja. Perencanaan keperawatan sesuai dengan manajemen penatalaksanaan hambatan mobilitas


fisik, yaitu: kaji kekuatan otot untuk mengidentifikasi kekuatan otot agar dapat memberikan
informasi mengenai pemulihan, kaji kemampuan aktivitas untuk mengetahui tingkat kemandirian
aktivitas klien, penatalaksanaan alogaritma dengan medikamentosa head up 300 untuk
menurunkan tekanan arteri dan meningkatkan drainase serta meningkatkan sirkulasi atau perfusi
serebral, ajarkan ROM pasif atau aktif untuk meminimalkan atrofi otot dan meningkatkan
sirkulasi,berkolaborasi dengan fisioterapi untuk membantu memulihkan kekuatan otot, dan
berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian program terapi untuk menghilangkan spastisitas
pada ekstremitas yang terganggu (Wilkinson, 2006).
Tindakan keperawatan yang dilakukan kelompok adalah mengkaji kekuatan otot,
kekuatan otot ekstremitas didefinisikan sebagai kekuatan otot ekstremitas penderita stroke
iskemik yang telah melewati penyakitnya, pengukuran dilakukan pada awal (sebelum dilakukan
fisioterapi) dan pada akhir (sesudah dilakukan fisioterapi). Selisih kekuatan otot (K) dinilai
dengan skor 0 sampai dengan 5. Skor 0-5 merupakan skor penilaian kekuatan otot ekstremitas
yaitu: 0 jika tidak timbul kontraksi otot, lumpuh total, 1 jika timbul sedikit kontraksi otot, 2 jika
terdapat gerakan, tetapi gerakan tidak mampu melawan gaya berat (gravitasi), 3 jika dapat
melakukan gerak melawan gaya berat (gravitasi) tanpa mampu melawan tahanan, 4 jika dapat
melawan gravitasi dan melawan tahanan sedang, 5 jika dapat melawan gravitasi dan tahanan
penuh, tidak ada kelumpuhan (Muhammad, et. al, 2010). Memberikan terapi injeksi sesuai
program dokter, jika pada menit pertama sampai beberapa jam setelah terjadi iskemik pada
stroke akut, sel-sel neuron otak segera mengalami kerusakan. Bila tidak mendapatkan
pengobatan yang optimal, maka kerusakan sel-sel neuron otak tersebut akan berlangsung terus
sehingga mengakibatkan kerusakan permanen pada sel-sel neuron otak yang disebut sebagai
infark (Marwatal, 2005).
Mengajarkan Range of Motion (ROM), latihan ROM berpengaruh terhadap peningkatan
kekuatan otot dan kemampuan fungsional, namun tidak berpengaruh terhadap luas gerak sendi.
Pada kasus Tn. N.K dilakukan pelaksanaan ROM dapat diaplikasikan minimal 2 kali sehari, hal
ini sesuai dengan jurnal Sri Puguh Kristiyawati dan Febrina Sukmaningrum (2011) dengan judul
Efektivitas Range Of Motion (ROM) Aktif-Asistif : Spherical Grip terhadap Peningkatan
Kekuatan Otot Ekstrimitas Atas pada Pasien Stroke di RSUD Tugurejo Semarang. Berdasarkan

penelitian, latihan ROM dapat dilakukan karena sangat efektif bagi pemulihan pasien stroke
yang mengalami hemipharesis. Latihan gerak secara berulang membuat konsentrasi untuk
melakukan gerakan berulang dengan kualitas sebaik mungkin. Dalam analisis multivariat,
ditemukan bahwa variable perancu: umur, frekuensi dan jenis stroke tidak berhubungan dengan
kemampuan fungsional. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa baik itu latihan ROM yang
dilakukan 4 kali sehari maupun latihan ROM yang diberikan hanya 1 kali sehari sama-sama
berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan fungsional (Maria, et.al, 2011).
Memberikan posisi yang nyaman (head up 300) dan rileks untuk meningkatkan
kenyamanan, menurunkan tekanan arteri dan meningkatkan drainase serta meningkatkan sirkulasi
atau perfusi serebral, memberikan kesempatan beristirahat klien (Potter, 2005). Memonitor
tanda-tanda vital, penderita stroke tekanan darahnya harus diturunkan dan dipertahankan secara
konsisten pada tekanan yang dapat diterima penderita dan tidak sampai menyebabkan terjadinya
iskemik otak, yaitu antara 120-140/80-85 mmHg (Iskandar, 2009).
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah
membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang
diharapkan dalam perencanaan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
diperoleh hasil evaluasi kekuatan otot ekstremitas atas ., ekstremitas bawah klien
masih sedikit lemah, tingkat kemandirian aktifitas 1, dengan masalah belum teratasi.
Terapi Obat-obatan pada Tn. NK:
Nama
Ketosteril

Indikasi
Terapi insufiensi ginjal kronik
pada retensi yg terkompensasi/
dekompensasi

Kontraindikasi

Efek Samping

Hiperkalsemia, gangguan Hiperkalsemia


metabolisme asam amino,
hamil, anak

Sukralfat

Saluran cerna, ulkus lambung & Hipersensitif


terhadap Konstipasi, mual, muntah,
duodenum, gastritis
produk sukralfat
kembung, mulut kering,
gatal-gatal, sakit kepala,
insomnia, diare

Cardace

Hipertensi,
gagal
jantung
kongestif sesudah infark miokard
akut, terapi tambahan pada
diuretik dengan atau tanpa
glikosida
jantung.
Untuk
menurunkan
risiko
infark

Hamil
dan
laktasi.
Riwayat
edema
angioneurotik,
stenosis
arteri ginjal bilateral atau
unilateral, obstruksi inflow
atau outflow ventrikel kiri

Hipotensi
awal,
mual,
pusing,
sakit
kepala,
mengantuk, batuk. Jarang:
edema angioneurotik

miokard, stroke, kematian KV


atau kebutuhan akan prosedur
revaskularisasi
pada
pasien
diabetes melitus dan usia lanjut,
perokok,
diketahui
mikroalbuminuria atau adanya
penyakit vaskular sebelumnya.

yang berhubungan secara


hemodinamic,
hipotensi
atau kondisi sirkulasi yang
tidak stabil, penggunaan
bersama membran dialisis
fluktuasi
tinggi
atau
afaresis
LDL
degan
dekstran
sulfat.
Hipersensitif
terhadap
penghambat ACE.

Diovan

Pengobatan hipertensi, terapi


gagal jantung pada pasien yang
intoleransi
terhadap
ACE
inhibitor. Pasca infark miokard.

Hamil, laktasi, kerusakan


hati yang berat, sirosis,
obstruksi bilier

Amplodipin

Amlodipine digunakan untuk


pengobatan hipertensi, angina
stabil kronik, angina vasospastik
(angina prinzmetal atau variant
angina).
Amlodipine
dapat
diberikan sebagai terapi tunggal
ataupun dikombinasikan dengan
obat antihipertensi dan antiangina
lain.

Amlodipine tidak boleh Edema,


diberikan pada pasien
yang hipersensitif terhadap
amlodipine dan golongan
dihidropiridin lainnya.

Retaphyl

Asma bronchial

Tukak lambung, diabetes

Ambroxol
syrup

Kelainan saluran pernafasan akut Kehamilan, menyusui


& kronik yang berhubungan
dengan sekresi bronkhial yang
abnormal,
terutama
pada
bronkhitis
kronik
yang
memburuk, bronkhitis asmatik,
asma bronkial.

Fenitoin

Antiepilepsi dan antikonvulsi

Hipersensitif
terhadap
fenitoin atau hidantoin
lain, komponen sediaan
obat, kehamilan.

Sakit kepala, diare, infeksi


saluran panas,
pusing,
lemah,
batuk,
mual,
sinusitis, infeksi virus, nyeri
perut,
rinitis,
sakit
pinggang,
faringitis,
artralgia.
sakit

kepala.

Mual, muntah, sakit kepala,


diare, palpitasi, insomnia.
Pada anak: hematemesis,
perangsangan
SSP,
diaforesis, demam.
Gangguan pada saluran
pencernaan yang bersifata
ringan, reaksi alergi.

Gangguan saluran cerna,


pusing,
nyeri
kepala,
tremor, insomnia, neuropati
perifer, hipertrofi gingiva,
ataksia, bicara tak jelas,
nistagmus,
penglihatan
kabur,
ruam,
akne,
hirsutisme,
demam,

hepatitis,
lupus
eritematosus,
eritema
multiform,
;efek
hematologik (leukopenia,
trombositopenia,
agranulositosis).
Ranitidine

Pengobatan jangka pendek tukak


usus 12 jari aktif, tukak lambung
aktif, mengurangi gejala refluks
esofagitis. Terapi pemeliharaan
setelah penyembuhan tukak usus
12 jari, tukak lambung.

Hipersentivitas
ranitidine

Ceftriaxone

Infeksi saluran napas,


THT, infeksi saluran
sepsis, meningitis, infeksi
sendi dan jaringan lunak,
intra abdominal dll.

Hipersensitif
terhadap Gastrointestinal:
faeces
antibiotik cephalosporin.
encer / diare, mual, muntah,
Dan Neonatus.
stomatitis dan glositis..
Kulit: pruritus, urtikaria,
dermatitis alergi, udema,
eksantem,
eritema
multiforma.

Piracetam

Kemunduran daya piker, astenia,


gangguan
adaptasi,
reaksi
psikomotorik yang terganggu,
alkoholisme kronik dan adiksi,
pre-delirium, delerium trements,
gangguan fungsi dan kemunduran
intelegensia yang diakibatkan
oleh
alkoholisme
kronik
(gangguan ingatan, konsentrasi
pikiran,
perhatian
dan

infeksi
kemih,
tulang,
infeksi

pada Sakit kepala, Susunan saraf


pusat,
jarang
terjadi:
malaise,
pusing,
mengantuk,
insomnia,
vertigo, agitasi, depresi,
halusinasi. Kardiovaskular,
jarang dilaporkan: aritmia
seperti
takikardia,
bradikardia, atrioventricular
block,
premature
ventricular
beats.
Gastrointestinal: konstipasi,
diare, mual, muntah, nyeri
perut. Jarang dilaporkan:
pankreatitis.
Muskuloskeletal,
jarang
dilaporkan : artralgia dan
mialgia.
Hematologik:
leukopenia,
granulositopenia,
pansitopenia,
trombositopenia
(pada
beberapa penderita).

Hipersensitif terhadap
Piracetam. Gangguan
ginjal berat (bersihan
kreatinin < 20
ml/menit).

Rasa gugup, agitasi,


iritabilitas, rasa lelah dan
gangguan
tidur.
Gangguan saluran cerna
misalnya nausea, muntah,
diare, dan gastralgia.
Kegelisahan yang ringan
dan akan hilang bila
pemberian dihentikan.

intelegensia).

OMZ

Terapi jangka pendekulkus Hipersensitivitas


duodenal
dan
lambung. terhadap OMZ
Refluks esofagitis, sindroma
Zollinger-Ellison.

Jarang,
gangguan
gastritis, sakit kepala,
ruam kulit.

Perdipine

Terapi darurat untuk hipertensi Peningkatan TIK pada


akut
selama
operasi. stadium akut stroke
Kedaruratan hipertensi.
serebral.
Dugaan
hemostatis
inkomplit
sesudah
terjadi
perdarahan intrakranial.

Sakit kepala, rasa hangat


dan kemerahan pada
wajah, palpitasi, mual, ,
ileus
paralitik,
hipoksemia,
angina,
dispnea, trombositopenia,
gangguan fungsi hati,
ikterus, takikardi, rasa
tidak
nyaman
yang
menyeluruh, peningkatan
BUN atau kreatinin,
muntah,
demam,
penurunan volume urin,
ketakutan,
nyeri
punggung, peningkatan
kadar K serum.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah kelompok melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn. N.K, maka
kelompok menyimpulkan berdasarkan studi kasus sebagai berikut :
1. Hasil pengkajian pada klien stroke iskemik adalah anggota gerak atas dan
bawah tidak dapat digerakkan atau terjadi kelemahan.
2. Perumusah diagnose keperawatan pada klien stroke iskemik yaitu penurunan
kapasitas adaptif intracranial, hambatan mobilitas fisik, dan gangguan
komunikasi verbal.
3. Perencanaan asuhan keperawatan yang dapat dibuat pada klien antara lain:
kaji kekuatan otot, kaji tingkat kemandirian aktivitas, berikan posisi nyaman
(head up 300), lakukan ROM aktif atau pasif, kolaborasi dengan fisoterapi,
dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.
4. Implementasi keperawatan yang dapat dilakukan pada klien adalah mengkaji
kekuatan otot, mengkaji tingkat kemandirian aktifitas, memberikan terapi
injeksi sesuai program, mengajarkan ROM, memberikan posisi yang nyaman
(head up 300), berkolaborasi dengan fisioterapi, memonitor tanda-tanda vital.
5. Evaluasi keperawatan belum teratasi.
Berdasarkan tujuan keperawatan yang telah ditetapkan, tiga diagnosa masalah
keperawatan belum teratasi sepenuhnya, dikarenakan keterbatasan waktu sehingga
mahasiswa hanya mengobservasi klien selama 3 hari, dari tanggal 16 Maret
19 Maret 2015.

B. SARAN
Dalam kesimpulan di atas maka penulis dapat mengemukakan saran saran sebagai
berikut :
1. Bagi Mahasiswa
Hendaknya lebih proaktif, cepat dan tanggap dalam menghadapi segala situasi dan
kondisi yang dihadapi baik dalam teori atau kasus lapangan.
2. Lahan Praktek
Diharapkan pada lahan lebih meningkat pelayanan.
a. Dalam melakukan asuhan keperawatan klien dengan stroke, perawat dapat
mengimplementasikan ROM, minimal 2 kali dalam sehari.
b. Dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan stroke, perawat
dapat mengimplementasikan merubah posisi pasien secara berkala, dengan
minimal 2 jam sekali.
3. Institusi Pendidikan
Dapat membimbing dalam proses pembuatan asuhan keperawatan dengan sabar dan
teliti serta memotivasi para mahasiswa dalam segi mental dan spiritual.

Anda mungkin juga menyukai