Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

KONJUNGTIVITIS
A. KONSEP MEDIS
1. Anatomi dan Fisiologi
Organ eksternal oculi atau yang sering disebut dengan organ pada mata terdiri dari:
(Ilyas, 2009)
a. Palpebrae
b. Conjungtiva
c. Apparatus lacrimalis
d. Musculi eksternal bulbi
Dan yang akan dibahas pada makalah ini adalah tentang konjungtivitis, dan arti
konjungtivitis itu sendiri merupakan mukosa tipis, transparan, yang melapisi bulbi hingga
permukaan balakang palpebra.
Jenis dari conjungtiva adalah :
a.

conjungtiva palpebralis

b.

conjungtiva bulbi

c.

conjungtiva fornix

2. Definisi
Konjungtivitis adalah penyakit mata paling umum di dunia, penyakit ini bervariasi
dari ringan dengan berair mata sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen
kental. Penyebabnya umumnya eksogen, namun dapat endogen. Konjungtivitis adalah
inflamasi dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata
nampak, sehingga mata sering disebut mata merah (Ilyas, 2009).
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, biasanya terdiri dari hyperemia
konjungtiva disertai dengan pengeluaran secret. Konjungtivitis adalah peradangan selaput
bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. (Wijaya, 2010)
Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada
konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan
permukaan bagian dalam kelopak mata.Pink eye terkadang dapat ditandai dengan mata
berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak.
Jika anak anda terlihat mengalami gejala pink eye maka segera bawa dia ke dokter.
Beberapa jenis pink eye dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan

pengobatan. Jadi, kesimpulannya adalah konjungtivitis adalah radang konjungtiva akut dan
hebat yang disertai dengan sekret purulen yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur
clmida, alergi atau iritasi dimana konjungtiva merupakan selaput mukosa tipis dan
transparan yang melapisi permukaan belakang kelopak mata dan permukaan depan sklera
(Ilyas, 2009).
3. Etiologi
Penyebab konjungtivis tergantung dari jenis konjungtivis. Berikut ini etiolgi
berdasarkan klasifikasi konjungtivis yaitu (Ilyas, 2009):
a. Konjungtivis Alergi
Reaksi hipersensitivitas tipe cepat atau lambat atau reaksi antibodi humoral
terhadap alergen. Pada keadaan yang berat merupakan bagian dari Sindrom Steven
Johnson, suatu penyakit eritema multiforme berat akibat reaksi alergi pada orang
dengan presdiposisi alergi obat-obatan. Pada pemakaian mata palsu atau lensa kontak
juga dapat terjadi reaksi alergi.
b. Konjungtivis Infektif
Disebabkan oleh bakteri seperti:
1) Stafilokok
2) Streptokok
3) Corynebacterium diphtheriae
4) Pseudomonas aeruginosa
5) Neisseria gonorrhoea
6) Haemophilus influenza
c. Konjungtivis Viral
Disebabkan oleh virus seperti:
1) Adenovirus
2) Herpes simpleks
3) Herpes zoster
4) Klamidia
5) New castle
6) Pikorna
7) Enterovirus
4. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda konjungtivitis, yakni: (Wijaya, 2010)
a. Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.
b. Produksi air mata berlebihan (epifora).
c. Kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup
akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva bagian atas.
d. Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik
peradangan.
e. Pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.
f. Terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).
g. Dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah)

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran.
Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih.
Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata
bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.
Gejala lainnya adalah:
a. Mata berair
b. Mata terasa nyeri
c. Mata terasa gatal
d. Pandangan kabur
e. Peka terhadap cahaya
5. Patofisiologi
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan kelopak
mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna,
karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran
pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan
sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya secret mukopurulent (Ilyas, 2009).
Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu
mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi
sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis ditemukan
lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler
yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran
air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea
yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya
aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing. (Ilyas, 2009).
6. Penatalaksanaan Medik
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena
bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika
(Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang
sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah
terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin
(antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1
%). (Ilyas, 2009).
Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya adalah sebagai
berikut:
a. Konjungtivitis Bakteri
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotic
tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin selama 3-5 hari. kemudian bila

tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan. Bila
tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes mata disertai antibiotic
spectrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari.
b. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
1) Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topical dan
sistemik. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan
garam fisiologik setiap jam.
2) Kemudian diberi salep penisilin setiap jam.
Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi, medika
menstosa :
1) Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.00020.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.
2) Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul pemberiansalep
penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
3) Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.
4) Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap
hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negative.
c. Konjungtivitis Alergi
Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin dan menghindarkan
penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan obat antihistamin atau
bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen, sodium kromolin, steroid topical dosis
rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak dikelopak mata
dengan mengusap pelan-pelan dengan salin (gram fisiologi). Pemakaian pelindung
seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan memberikan lingkungan
yang baik bagi mikroorganisme.
d. Konjungtivitis Viral
Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian antihistamin/
dekongestan topical. Kompres hangat atau dingin dapat membantu memperbaiki
gejala.
e. Konjungtivitis blenore
Berupa pemberian penisilin topical mata dibersihkan dari secret. Pencegahan
merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan membersihkan mata bayi segera setelah
lahir dengan memberikan salep kloramfenikol. Pengobatan dokter biasnay disesuaikan
dengan diagnosis. Pengobatan konjungtivitis blenore :

1) Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat diberikan setiap
setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat tandatanda perbaikan.
2) Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena bila tidak
maka pemberian obat tidak akan efektif.
Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin infeksi
chlamdya yang banyak terjadi.
7. Prognosa
Konjungtivitis bakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme tertentu, seperti
Haemophilus influenzae, adalah penyakit swasirna. Bila tidak diobati akan sembuh sendiri
dalam waktu 2 minggu. Dengan pengobatan akan sembuh sendiri dalam 1-3 hari (Wijaya,
2010)
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata yang meliputi: Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK. Nama, umur,
jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, alamat,
penanggung jawab.
b. Keluhan Utama biasanya berupa keluhan yang dirasakan klien pada saat itu.
c. Riwayat penyakit sekarang biasanya berisi tentang penyakit yang dialami klien
d. Riwayat penyakit keluarga biasanya diambil dari penyakit yang pernah diderita oleh
keluarga pasien.
e. Riwayat penyakit dahulu ) diambil dari riwayat penyakit dahulu.
Sedangkan data dasar pengkajian pada klien dengan konjungtivitis adalah :
Aktivitas/Istirahat
Gejala : Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan

penglihatan.
Neurosensori
Gejala : Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), kehilangan bertahap penglihatan

perifer.
Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Ketidaknyamanan ringan/mata berair. Nyeri tiba-tiba/berat, menetap atau
tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala.
Pola kebutuhan dasar manusia meliputi :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)

Pola napas
Pola makan dan minum
Pola eliminasi (BAB dan BAK)
Pola istirahat dan tidur
Pola berpakaian
Pola rasa nyaman
Pola kebersihan diri
Pola rasa aman
Pola komunikasi
Pola beribadah
Pola produktivitas

12) Pola rekreasi


13) Pola kebutuhan belajar
2. Pemeriksaan Fisik Keperawatan
Pemeriksaan fisik (inspeksi) untuk mencari karakter/tanda konjungtivitis yang
meliputi :
a. Hiperemi konjungtiva yang tampak paling nyata pada fornix dan mengurang kearah
limbus.
b. Kemungkinan adanya secret :
c. Mukopurulen dan berlimpah pada infeksi bakteri, yang menyebabkan kelopak mata
d.
e.
f.
g.
h.
i.

lengket saat bangun tidur.


Berair/encer pada infeksi virus.
Edema konjungtiva
Blefarospasme
Lakrimasi
Konjungtiva palpebra (merah,kasar seperti beludru karena ada edema dan infiltrasi).
Konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva banyak, kemosis, dapat ditemukan pseudo
membrane pada infeksi pneumokok.Kadang-kadang disertai perdarahan
subkonjungtiva kecil-kecil baik di konjungtiva palpebral maupun bulbi yang biasanya

disebsbkan pneumokok atau virus.


3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan laboratorium
b. Pemeriksaan visus, kaji visus klien dan catat derajad pandangan perifer klien karena
jika terdapat secret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan kemunduran
visus/melihat halo.
C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan peradangan ditandai dengan rasa panas pada mata
2. Gangguan sensori perseptual berhubungan dengan ulkus kornea yang ditandai dengan
adanya sekret purulen.
3. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada
kelopak mata (bengkak /edema)
4. Resiko tinggi penularan penyakit pada mata yang lain atau pada orang lain yang
berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan klien tentang penyakit.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi prognosis
dan pengobatan proses penyakit.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN DAN RASIONAL
No
DX
1

Tujuan dan Kriteria Hasil


Setelah diberikan asuhan
keperawatan diharapkan nyeri klien
teratasi dengan Kriteria hasil:
Nyeri berkurang atau terkontrol.

Intervensi
a. Kaji tingkat nyeri yang
dialami oleh klien.
b. Ajarkan kepada klien
metode distraksi selama
nyeri, seperti nafas dalam
dan teratur.
c. Ciptakan lingkungan tidur
yang nyaman, aman dan

Rasional
a. Untuk mengetahui tingat nyeri
klien dan menentukan
intervensi selanjutnya
b. Untuk meminimalkan nyeri
klien
c. Merupakan suatu cara
pemenuhan rasa nyaman
kepada klien dengan

tenang.
d. Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian
analgesic.
2.

Setelah diberikan asuhan


a. Pastikan derajat/tipe
keperawatan diharapkan penglihatan
kehilangan penglihatan.
klien kembali normal dengan Kriteria b. Dorong mengekspresikan
hasil:
perasaan tentang kehilangan
atau kemungkinan
Mengenal gangguan sensori dan
kehilangan penglihatan
berkompensasi terhadap
c.
Tunjukkan pemberian tetes
perubahan
mata, contoh menghitung
Mengidentifikasi/memperbaiki
tetesan, mengikuti jadwa,
potensial bahaya dalam
tidak salah dosis
lingkungan
d. Lakukan tindakan untuk
membantu pasien
menangani keterbatasan
penglihatan.

3.

Setelah diberikan asuhan


keperawatan diharapkan tidak tejadi
gangguan konsep diri dengan Kriteria
hasil:
Mendemonstrasikan respon
adaptif perubahan konsep diri.
Mengekspresikan kesadaran
tentang perubahan dan
perkembangan ke arah
penerimaan.
Setelah diberikan asuhan
keperawatan diharapkan tidak tejadi
penyebaran infeksi dengan Kriteria
hasil:
Mempunyai pengetahuan yang
adekuat tentang tindakan
pencegahan penularan.
Melakukan tindakan pencegahan
penularan penyakit.
Tidak terjadi penularan penyakit
pada mata yang lain, atau orang
lain.

4.

mengurangi stressor yang


berupa kebisingan.
d. Menghilangkan nyeri, karena
memblokir syaraf penghantar
nyeri.
a. Mempengaruhi harapan masa
depan pasien dan pilihan
intervensi
b. Sementara intervensi dini
mencegah kebutaan, pasien
menghadapi kemungkinan atau
mengalami pengalaman
kehilangan penglihatan
sebagian atau total.
c. Mencegah penglihatan lebih
lanjut.
d. Menurunkan bahaya keamanan
sehubungan dengan perubahan
lapang pandang/kehilangan
penglihatan dan akomodasi
pupil terhadap sinar
lingkungan.
a. Membantu pasien untuk memulai
perubahan dan mengurangi rasa
malu.
b. Meningkatkan rasa aman,
mendorong verbalisasi.
c. Persepsi pasien mengenai
perubahan pada citra diri
mungkin terjadi secara tiba-tiba
atau kemudian.

a. Dorong pengungkapan
perasaan dan menerima apa
yang dikatakannya.
b. Berikan lingkungan yang
bisa menerima keadaan
dirinya
c. Diskusikan peradangan
terhadap citra diri dan efek
yang ditimbulkan dari
penyakit.
a. Beritahu klien untuk
a. Meminimalkan resiko
mencegah pertukaran sarung
penyebaran infeksi.
tangan, handuk dan bantal b. Menghindari penyebaran infeksi
dengan anggota keluarga
pada mata yang lain dan pada
yang lain. Klien sebaiknya
orang lain.
menggunakan tisu, bukan c. Prinsip higienis perlu ditekankan
saputangan dan tissue ini
pada klien untuk mencegah
harus dibuang setelah
replikasi kuman sehinnga
pemakaian satu kali saja
penyebaran infeksi dapat
b. Ingatkan klien untuk tidak
dicegah.
menggosok mata yang sakit d. Mencegah infeksi silang pada
atau kontak sembarangan
klien yang lain.
dengan mata
c. Beritahu klien tentang
tekhnik cuci tangan yang
tepat.Anjurkan klien untuk
mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan
pengobatan dan gunakan
saputangan atau handuk
bersih. Beritahu klien untuk
menggunakan tetes atau

d.
5.

Setelah diberikan asuhan


keperawatan diharapkan pemenuhan
informasi klien terpenuhi dengan
Kriteria hasil:
Klien menyatakan pemahaman
tentang kondisi, prognosis dan
pengobatan.
Klien dapat mengidentifikasi
hubungan tanda/gejala dengan
proses penyakit.

a.

b.

c.
d.

salep mata dengan benar


tanpa menyentuhkan ujung
botol pada mata/bulu mata
klien.
Bersihkan alat yang
digunakan untuk memeriksa
klien
Tunjukan teknik yang benar a. Meningkatkan keefektifan
untuk pemberian tetes mata,
pengobatan, memberikan
minta pasien untuk
kesempatan untuk pasien
mengulangi tindakan.
menunjukan kompetensi dan
Kaji pentingnya
menanyakan pertanyaan.
mempertahankan jadwal
b. Mempertahankan konsistensi
obat, contoh : tetes mata.
program obat adalah hal yang
Diskusikan obat-obatan tang
penting. Beberapa obat dapat
harus dihindari
menyebabkan dilatasi pupil,
Identifikasi efek samping
peningkatan TIO dan potensial
yang merugikan dari
kehilangan penglihatan
penggunaan obat.
tambahan.
Anjurkan untuk memeriksa c. Efek samping obat yang
secara rutin.
merugikan mempengaruhi
rentang dari ketidaknyamanan
sampai ancaman kesehatan
berat.
d. Mengawasi kemajuan
/pemeliharaan penyakit untuk
memungkinkan intervensi dini

DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 11. San Fransisco:
MD Association, 2005-2006
Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakata. 2009
James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005
PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta. 2002
Putz, R. & Pabst R. Sobotta. Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2000. hal 356.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruuner & Suddarth.Alih
Bahasa : Agung waluyo. Jakarta
Stanley mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik edisi 2. Jakarta : ECG
Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000
Wijaya N. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2010