Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP LANSIA
1.

Pengertian
a. Batasan lansia (lanjut usia) menurut WHO meliputi, usia pertengahan
(middle age) yaitu usia antara 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (eldery)
yaitu usia antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu usia antara
76 sampai 90 tahun, dan usia sangat tua (very old) yaitu usia diatas 90
tahun (Depkes, 2002).
b. Lansia adalah golongan penduduk yang mendapat perhatian atau
pengelompokan tersendiri adalah populasi berumur 60 tahun keatas
(Nugroho.W 2009).
c. Lansia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun keatas
(Hardiwanto Dan Setia Budi 1999).
d. Lansia adalah tahap akhir dari proses penuaan seseorang dimana terjadi
perubahan sel pada tubuhnya dan biasanya berusia 80 tahun keatas (Ratna
Suhartiana 2010).
e. Lansia adalah sesorang yang lazimnya menginjak usia 50 tahun atau 60
tahun keatas maupun normal sosialnya (Dr Yaunul A.A 2010).

2.

Proses Menua
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Contantinides,
1994 yang dikutip oleh Wahjudi Nugroho, 2000).
Proses menua merupakan suatu yang fisiologis, yang akan dialami oleh
setiap orang. Batasan orang dikatakan lanjut usia berdasarkan UU No 13
tahun 1998 adalah 60 tahun. Meskpun secara alamiah terjadi penurunan
fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh
karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:

1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,


2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,
3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat
(Rahardjo, 1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan
perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus
menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang
berhasil maka timbulah berbagai masalah.
Masalah-masalah pada lansia antara lain, mudah jatuh, mudah lelah,
kekacauan mental akut, nyeri dada, sesak nafas pada waktu melakukan kerja
fisik, berdeba-debar, pembengkakan kaki bagian bawah, nyeri punggung
bawah atau pinggang, nyeri pada sendi pinggul, berat badan menurun,
mengompol, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan tidur,
keluhan pusing, keluhan dingin dan kesemutan, serta mudah gatal. (Bandiyah,
2009)
3.

Teori Proses Menua


a.

Teori teori biologi


1)

Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)


Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan
biokimia yang diprogram oleh molekul molekul / DNA dan setiap sel
pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah
mutasi dari sel sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional
sel).

2)

Pemakaian dan rusak


Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel sel tubuh lelah
(rusak)

3)

Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)


Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu
zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat
tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.

4)

Teori immunology slow virus (immunology slow virus


theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ
tubuh.

5)

Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan
internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah
terpakai.

6)

Teori radikal bebas


Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat
menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

7)

Teori rantai silang


Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan
yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan
kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.

8)

Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang
membelah setelah sel-sel tersebut mati.

b.

Teori kejiwaan sosial


1)

Aktivitas atau kegiatan (activity theory)


Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan
secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses
adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut
usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar
tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

2)

Kepribadian berlanjut (continuity theory)


Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia.
Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini
menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut
usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.

3)

Teori pembebasan (disengagement theory)


Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang
secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan
ganda (triple loss), yakni :

4.

1.

kehilangan peran

2.

hambatan kontak sosial

3.

berkurangnya kontak komitmen

Faktor faktor yang Mempengaruhi Ketuaan


a.

Hereditas atau ketuaan genetik

b.

Nutrisi atau makanan

c.

Status kesehatan

d.

Pengalaman hidup

e.

Lingkungan

f.

Stres

B. KONSEP GANGGUAN TIDUR PADA LANSIA


1. Pengertian
Pola tidur adalah model, bentuk atau corak tidur dalam jangka waktu
yang relatif menetap dan meliputi (1) jadwal jatuh (masuk) tidur dan bangun,
(2) irama tidur, (3) frekuensi tidur dalam sehari, (4) mempertahankan kondisi
tidur, dan (5) kepuasan tidur. Tidur adalah kondisi organisme yang sedang
istirahat secara reguler, berulang dan reversibel dalam keadaan mana ambang
rangsang terhadap rangsangan dari luar lebih tinggi jika dibandingkan dengan
keadaan jaga.
10

Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disordersedisi ke empat


(DSM-IV) mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan kriteria diagnostik
klinik dan perkiraan etiologi. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam
DSM-IV adalah gangguan tidur primer, gangguan tidur yang berhubungan
dengan gangguan tidur mental lain, dan gangguan tidur lain, khususnya
gangguan tidur akibat kondisi medis umum atau yang disebabkan oleh zat.
Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia.
Dissomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur yang heterogen termasuk :
(i) insomnia primer, (ii) hipersomnia primer, (iii) narkolepsi, (iv) gangguan
tidur yang berhubungan dengan pernafasan, dan (v) gangguan tidur irama
sirkadian. Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur termasuk : (i)
angguan mimpi menakutkan (nightmare disorder), (ii) gangguan teror tidur,
dan (iii) gangguan tidur berjalan.
Dari gangguan tidur primer tersebut, yang berkaitan dengan usia
lanjut adalah insomnia dan hipersomnia primer. Kriteria diagnostik untuk
insomnia primer adalah kesulitan untuk memulai Prayitno Pola tidur usia
lanjut atau mempertahankan tidur, atau tidur yang tidak menyegarkan, selama
sekurangnya satu bulan.
Gangguan tidur yang disertai keletihan pada siang hari menyebabkan
penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lain. Kriteria diagnostik untuk hipersomnia
primer adalah mengantuk berlebihan di siang hari selama sekurangnya satu
bulan seperti yang ditunjukkan oleh episode tidur yang memanjang atau
episode tidur siang hari yang terjadi hampir setiap hari. Mengantuk
berlebihan di siang hari menyebabkan penderitaan yang bermakna secara
klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
Kriteria diagnostik untuk insomnia dan hipersomnia yang
berhubungan dengan gangguan Aksis I, Aksis II atau Aksis III pada dasarnya
sama dengan gangguan tidur primer.
2.

Pola Tidur Fisiologik Karena Proses Menua


Fisiologi tidur dapat diterapkan melalui gambaran aktivitas sel-sel
otak selama tidur, dan dapat direkam dengan elektroensefalograf (EEG).
11

Untuk merekam otak orang yang sedang tidur, digunakan poligrafi EEG.
a.

Dengan cara ini kita dapat merekam stadium tidur adalah sebagai berikut:
Stadium jaga (wake)
EEG : Pada keadaan rileks dan mata tertutup, gambaran didominasi oleh
gelombang alfa. Tidak ditemukan adanya kumparan tidur dan kompleks K.
Elektrookuloagraf (EOG) : Gerakan mata berkurang, kadang-kadang terdapat
artefak yang disebabkan oleh gerakan kelopak mata.
Elektromiograf (EMG) : Kadang-kadang tonus otot meninggi.
Struktur Tidur Pada Usia Lanjut Dibandingkan dengan Anak dan
Dewasa Muda

Sumber: Haponik EF. Disorder Sleep in the Elderly dalam Principles of Geriatric Medicine
and Gerontology. Mc Graw-Hill Inc (1990)

b.

Stadium I
EEG : Terdiri dari gelombang campuran alfa, beta dan kadang-kadang teta.

Tidak terdapat kumparan tidur, kompleks K atau gelombang delta


EOG : Tidak terlihat aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dibandingkan dengan stadium W.
c.
Stadium II

12

EEG : Terdiri atas gelombang campuran alfa, teta dan delta. Terlihat adanya
kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Tidak terdapat aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Kadang-kadang terlihat peningkatan tonus otot secara tiba-tiba,
menunjukkan bahwa otot-otot tonik belum seluruhnya dalam keadaan rileks.
Stadium III
EEG : Persentase gelombang delta antara 20-50 %. Tampak kumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Gambaran tonus otot yang jelas dari Stadium II.
e.
Stadium IV
EEG : Persentase gelombang delta mencapai lebih dari 50%. Tampak
d.

kumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dari pada stadium sebelumnya.
f.
Stadium REM (Rapid Eye Movement)
EEG : Terlihat gelombang campuran alfa, beta dan teta. Tidak tampak
gelombang delta, kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Terlihat gambaran REM yang lebar
EMG : Tonus otot sangat rendah. Frekuensi nadi tinggi dan ereksi.
Stadium I dan II disebut sebagai tidur ringan, sedangkan Stadium III
dan IV sebagai tidur dalam. Stadium I, II, III dan IV disebut Stadium non
REM (NREM). Stadium REM dikatakan sebagai tidur ringan, sehingga
stadium ini juga disebut sebagai paradoxical sleep. Pada stadium REM,
individu mengalami peristiwa mimpi dengan intensitas tinggi sehingga panca
indera ikut terangsang.
Terdapat perubahan tidur secara subjektif dan objektif pada usia
lanjut. Survei epidemiologik menunjukkan bahwa pada usia lanjut yang
tinggal di rumah atau panti werda menunjukkan bahwa 15-75 persen dari
mereka tidak puas dalam lamanya dan kualitas tidur malam. Pada usia lanjut
wanita sehat secara subjektif lebih merasakan kesulitan tidur dari pada pria.
Perubahan pola tidur pada usia lanjut dapat dilihat pada Tabel 1.
Yang paling mencolok pada karakteristik tidur pada usia lanjut ialah
konfirmasi poligrafik pada upaya setelah dimulai tidur. Perubahan dalam
struktur tidur pada usia lanjut dapat dilihat pada Tabel 2.
Struktur tidur pada usia lanjut berubah dengan meningkatnya stadium
I sehingga terjadi fragmentasi atau disrupsi dari struktur tidur. Berkurangnya
tidur mempunyai dampak pada pemulihan fungsi tidur. Gangguan tidur ini

13

dapat diakibatkan oleh penyakit-penyakit sistematik yang jelas (misalnya


gagal jantung kongestif), sedangkan yang lain tanpa adanya penyebab.
Deprivasi tidur pada usia lanjut berkaitan dengan keletihan, iritabilitas, fungsi
kognitif yang terganggu, koordinasi yang kurang dan halusinasi. Terdapat
peningkatan jaga dan penurunan stadium IV, serta berkurangnya jumlah
absolut tidur REM. Tidur REM terjadi lebih awal dan lebih lama dalam
durasinya. Berkurangnya tidur REM berhubungan dengan sindrom otak
organik dan aliran darah otak. Struktur tidur lebih terfragmentasi pada
demensia Alzheimer. Pada demensia terjadi berkurangnya jumlah waktu tidur,
stadium IV, tidur REM dan kecepatan gerakan mata.

Sumber: Haponik EF. Disorder Sleep in the Elderly dalam Principles of Geriatric Medicine
and Gerontology. Mc Graw-Hill Inc (1990)

Sumber: Haponik EF. Disorder Sleep in the Elderly dalam Principles of Geriatric Medicine
and Gerontology. Mc Graw-Hill Inc (1990)

3.

Jenis Gangguan Tidur


Jenis gangguan tidur Menurut Lumbantobing (2004), terdiri atas:
a.
Hipersomnia

14

Hipersomnia

adalah

sering

tertidur

(jatuh

tidur)

tanpa

dikehendakinya. Kecenderungan jatuh tidur tanpa dikehendaki dapat


dikuantifikasi

secara

subjektif

dan

obyektif.

Hipersomnia

mengakibatkan beberapa hal yaitu:


1) Cenderung jatuh tidur pada situasi yang

memalukan

dapat
dan

mengganggu pergaulan sosialnya


2) Paradoksikal, yaitu menjadi hiperaktif terutama pada anak-anak
3) Iritabilitas, mudah tersinggung, gugup, tindak kekerasan, depresi,

b.

dan harga diri yang rendah.


4) Gangguan perfusi dan kognisi juga dapat terjadi di siang hari
5) Pada anak sekolah prestasinya menjadi rendah
6) Samnolen
7) Apnea tidur dan narkolepsi
Apnea tidur (sleep apnea)
Apnea adalah terhentinya aliran udara ke paru sekurangnya selama
10 detik. Biasanya apnea disertai oleh frekmentasi tidur dan menurunnya
saturasi oksigen. Apnea tidur yang patologis dapat di bagi atas :
1) Apnea tidur sentral, dapat disebabkan oleh menurunya dorongan
untuk bernafas. Kelainan ini dijumpai pada pasien yang menderita
lesi di bagian otak bagian bawah.
2) Apnea tidur obstruksi (OSA, obstructive sleep apnea). Kelainan ini
sering berasosiasi dengan obesitas, penyakit neuromuskuler yang

c.

melemahkan otot faring posterior


3) Apnea tidur campuran
Narkolepsi
Narkolepsi merupakan gangguan tidur dan bangun yang relative
jarang di jumpai. Manifestasinya adalah:
1) Mengantuk yang hebat (serangan tidur) di siang hari, dengan
kecenderungan berkali-kali tidur sepanjang hari
2) Katapleesi hilangnya tonus otot dipicu oleh emosi, mengakibatkan
immobilitas selama beberapa detik atau menit.
3) Halusinasi hipnagonik merupakan halusinasi visual atau auditoar

d.

yang hidup yang di alami pada permulaan tidur


4) Paralisis tidur tidak mampu bergerak waktu mula-mula bangun.
Parasomnia
Parasomnia merupakan sekelompok gangguan tidur yang terdiri
dari fenomena fisik dan prilaku, yang terjadi terutama waktu tidur.

15

Klasifikasi parasomnia lazim di dasarkan atas stadium tidur terjadi


kelainanya kelainan, antara lain:
1) Gangguan waktu bangun
a) Confusional arousal (bangun kacau). Gangguan ini bersifat tidak
membutuhkan terapi. Dianjurkan menghindari kurang tidur
(deprevasi tidur), melakukan hygiene tidur yang baik, hal yang
harus dilakukan pada semua gangguan arousal.
b) Sleep walking (jalan waktu tidur), dikenal dengan sebutan
somnambulisme
mempunyai

individu

keadaan

dengan
berikut:

samnambulisme
Sulit

bangun

dapat
waktu

samnambulisme, tidak mengingat kejadianya, mau terbuka dan


ekspresi wajahnya kosong, bicara (yang jarang mempunyai
makna yang berat), kencing di tempat yang tidak biasanya
(biasanya pada anak), menggunakan kata yang tidak senonoh,
yang biasanya tidak di lakukannyadi luar episode
2) Gangguan waktu transisi tidur bangun merupakan kelompok kejadian
yang dapat terjadi sewaktu transisi bangun ke tidur, tidur ke bangun
atau jarang-jarang dari satu stadium tidur ke stadium lainya. Jenis
gangguan waktu transisi tidur bangun adalah: ganguan gerak ritmik,
mulai tidur, kram tungkai noktural
3) Parasomnia berasosiasi dengan REM antara lain, Nightmares (mimpi
menyeramkan, mimpi buruk) sleep paralysis (lumpuh waktu tidur)
Impared sleep related penis erecsions (ereksi penis terganggu
e.

berkaitan dengan tidur), REM sleep behavior disorder.


Insomnia
Insomnia adalah kesukaran dalam memulai dan mempertahankan
tidur. Periode singkat insomnia paling sering berhubungan dengan
kecemasan,

baik

secara

keseluruhan

terhadap

pengalaman

yang

mencemaskan atau dalam menghadapi pengalaman yang menimbulkan


kecemasan (Kaplan dan Sadock, 1997). Pada penderita depresi sering
timbul keluhan tidur tidak nyenyak pada malam hari dan telah terbangun
pada dini hari (early morning insomnia) (Soewadi, 1999).
Insomnia adalah gejala yang dialami oleh klien yang, mengalami
kesulitan kronis untuk tidur, sering terbangun dari tidur atau tidur singkat
16

atau tidur non restoratife. Penderita insomnia mengeluarkan rasa ngantuk


yang berlebihan di siang hari dan kuantitas dan kualitas tidurnya tidak
cukup. Insomnia dapat menandakan adanya gangguan fisik atau
psikologis.
Seseorang dapat mengalami insomnia transient akibat stress
situsional seperti masalah keluarga, kerja, sekolah, kehilangan orang yang
dicintai, Insomnia dapat terjadi berulang tetapi di antara episode tersebut
klien dapat tidur dengan baik. Namun, kasus insomnia temporer akibat
situasi stress dapat menyebabkan kesulitan kronik untuk mendapatkan
tidur yang cukup, mungkin disebabkan oleh kekhawatiran dan kecemasan
yang terjadi untuk mendapatkan tidur yang adekuat tersebut (Patriscia dan
Anne, 2005).
Klasifikasi oleh Association of Sleep Disorder Centerspada tahun
1999, gangguan tidur yang berat pada usia lanjut dibagi menjadi :
1)
Gangguan memulai dan mempertahankan tidur (disorders
of initiating and maintaining sleep = DIMS)
2)
Gangguan mengantuk berlebihan (disorders of excessive
3)

somnolence = DOES)
Gangguan siklus tidur jaga (disorders of the sleep wake
cycle)

4)

Perilaku tidur abnormal (abnormal sleep behaviour,


parasomnias)
Gangguan memulai dan mempertahankan tidur atau insomnia

berkaitan dengan gangguan klinik sebagai berikut :


1) Apnea tidur, terutama apnea tidur sentral
2) Mioklonus yang berhubungan dengan tidur berjalan, gerakan mendadak
pada tingkat yang berulang, stereotipik, unilateral atau bilateral,
keluhan berupa tungkai gelisah (restless leg), tungkai kaku waktu
malam, neuropatia atau miopatia dan defisiensi asam folat dan besi.
3) Berbagai konflik emosional dan stress merupakan penyebab
psikofisiologik dari insomnia.
4) Gangguan psikiatrik berat terutama depresi seringkali menimbulkan
bangun terlalu pagi dan dapat bermanifestasi sebagai insomnia dan
hipersomnia. Depresi endogen berkaitan dengan onset dini dari tidur
REM dan dapat diperbaiki secara dramatis dengan obat antidepresan.
17

5) Keluhan penyakit-penyakit organik, misalnya nyeri karena arthritis,


penyakit keganasan, nocturia, penyakit hati atau ginjal dan sesak napas
dapat mengakibatkan bangun berulang pada tidur malam.
6) Sindrom otak organik yang kronik seringkali menimbulkan insomnia.
Penyakit Parkinson terganggu tidurnya 2-3 jam. Pasien Alzheimer
sering terbangun tengah malam dan dapat menimbulkan eksitasi
paradoksikal.
7) Zat seperti alkhohol dan obat kortikosteroid, teofilin dan beta-blockers
dapat menginterupsi tidur. Pengobatan dengan stimulansia dan gejala
lepas zat hipnotika dan sedativa perlu diperhatikan untuk gangguan
tidur.
Gangguan

mengantuk

berlebihan

ditandai

dengan

mengantuk

patologis yang diselingi dengan kegiatan selama jaga. Beratnya mengantuk,


onsetnya yang tidak sesuai dengan waktu dan gangguan pada kegiatan
merupakan penilaian klinik yang penting. Apnea obstruktif dan mioklonus
pada waktu malam dapat menimbulkan hipersomnolensia. Efek obat,
terutama efek sisa obat hipnotika merupakan penyebab yang sering untuk
hipersomnolensia. Obat-obat lain yang mengakibatkan tidur berlebihan
adalah anthistamin, obat psikotropika, metildopa dan antidepresan jenis
trisikliik. Demikian pula kondisi-kondisi seperti post-infeksi, keletihan dan
sindrom otak kronik.
Gangguan siklus tidur jaga memendek dengan makin bertambahnya
usia. Bangun lebih pagi dan cepat mengantuk pada malam hari merupakan hal
yang wajar bagi usia lanjut. Pasien depresi mengeluh tidurnya kurang pulas
dan mudah sekali terbangun oleh adanya perubahan suhu pada dini hari, sinar
dan suara-suara hewan di pagi hari. Tidur REM lebih cepat datangnya
sehingga biasanya mengalami mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan.
Berbeda dengan pasien depresi, pasien dengan anxietas lebih lama masuk
tidur, sukar bangun pagi dan mimpi-mimpi menakutkan. Untuk jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 3.

18

Sumber: Haponik EF. Disorder Sleep in the Elderly dalam Principles of Geriatric Medicine
and Gerontology. Mc Graw-Hill Inc (1990)

Parasomnia merupakan perilaku tidur abnormal yang kadang-kadang


terjadi pada usia lanjut yaitu kebingungan pada malam hari (natural
confusion), jalan sambil tidur, gangguan kejang, dekompensasi penyakit
4.

kardiovaskuler, mengompol dan reflux gastro-esophagus.


Penatalaksanaan
Evaluasi klinik terhadap pasien usia lanjut dengan gangguan pola tidur
memerlukan pemeriksaan yang komprehensif dan upaya terintegrasi dari
semua tim pelayanan kesehatan. Unsur-unsur dari riwayat yang lebih rinci
memerlukan data dari pasien, pasien lain, keluarga dan petugas kesehatan.
Untuk lebih jelasnya, evaluasi tersebut terdapat pada Tabel 4.

19

Sumber: Haponik EF. Disorder Sleep in the Elderly dalam Principles of Geriatric Medicine and
Gerontology. Mc Graw-Hill Inc (1990)

Terapi untuk gangguan pola tidur pada usia lanjut sebaiknya secara
konservatif dengan penekanan pada meminimalkan penanganan terhadap
pasien. Setiap intervensi merupakan bahaya yang akan dikerjakan terhadap
pasien. Setiap intervensi merupakan bahaya yang potensial dan pemeliharaan
terhadap kondisi fungsional pasien merupakan tujuan dari terapi. Manipulasi
lingkungan dan penyebab eksternal yang potensial merupakan pendekatan

20

yang terbaik. Berbagai tindakan non-spesifik yang disebut higiene tidur dapat
memperbaiki pola tidur (lihat Tabel 5).

Sumber: Kaplan HI, Sadock BJ. Synopsis of Psychiatry. Williams & Wilkins (1996)

Konseling diperlukan untuk mewujudkan latihan higiene tidur yang


dapat mengurangi terapi menggunakan obat-obatan. Terapi menggunakan
obat dapat diberikan setelah menentukan diagnosis pasien usia lanjut. Untuk
insomnia jangka pendek (short term)dapat diberikan Triazolam 0,125 0,25
mg atau jenis benzodiazepin lainnya yang bekerja cepat dan hilang cepat dari
tubuh. Sedangkan untuk insomnia jangka panjang (long term) diberikan
neuroleptika dengan dosis kecil seperti klorpromazin, levomepromazin dan
tioridazin. Pada pasien usia lanjut dengan insomnia dan depresi, diberikan
antidepresan jenis tetrasiklik, serotonin selective receptor inhibitor(SSRI),
dan mono amino oxisidase inhibitor (MAOI), misalnya Maprotiline 10 25
mg, Fluxetine 20 mg pada pagi hari atau Moclobemide dua kali 150 mg.
Penyerapan, pengolahan dan ekskresi obat pada usia lanjut mengalami
perlambatan. Oleh karena itu perlu diperhatikan agar obat yang diberikan
selalu dimulai dengan dosis efektif terkecil sehingga tidak menimbulkan efek
kumulatif yang berbahaya.

C. KONSEP MEDIS TENTANG INSOMNIA PADA LANSIA


1.
Definisi
Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fourth
edition (DSM-IV), insomnia adalah gangguan tidur paling sering pada usia

21

lanjut, yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengawali tidur,


mempertahankan tidur, bangun terlalu dini atau tidur yang tidak
menyegarkan.
pemeriksaan

Kejadian ini berlangsung lebih dari 1 bulan. Melalui


polysomnography pada pasien insomnia didapatkan sleep

latency 30 menit, wake time after sleep onset 30 menit, sleep efficiency
< 85%, atau total sleep time (TST) < 6-6,5 jam. Menurut International
Classification of Sleep Disorder-2 (ICSD-2), insomnia adalah kesulitan
mengawali tidur, berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki
waktu yang cukup untuk melakukannya. Hai ini menyebabkan gangguan pada
aktivitas sehari-hari.
Pada studi epidemiologi prevalensi insomnia pada usia lanjut sekitar 6%48% pada populasi umum. Perbedaan ini bergantung pada definisi insomnia
yang digunakan dalam penelitian. Insomnia ini tidak bisa dianggap sebagai
gangguan yang sederhana karena secara umum tidak bisa sembuh spontan.
Kondisi ini juga menimbulkan berbagai dampak buruk antara lain stres,
gangguan mood, alkohol dan substance abuse yang nantinya akan berujung
pada penurunan kualitas hidup pada usia lanjut. Dampak terburuk dari
insomnia pada usia lanjut adalah adanya resiko bunuh diri
2.
Klasifikasi
Insomnia dapat diklasifikasikan berdasarkan durasi dan etiologinya.
Dilihat dari durasinya insomnia dibagi menjadi tiga yaitu: transient insomnia,
short-term insomnia, dan insomnia kronis sedangkan berdasarkan etiologinya
insomnia dibagi menjadi insomnia primer dan insomnia sekunder (Galimi R.
Insomnia in the elderly: an update and future challenges. 2010).
a. Insomnia Berdasarkan Durasi
1) Transient insomnia: insomnia yang dapat sembuh secara spontan,
berlangsung 7 hari. Insomnia akut juga sering disebut dengan
transient insomnia, berlangsung

4 minggu. Penyebab insomnia akut

adalah ketidaknyaman secara fisik maupun emosional. Insomnia akut


dapat berkembang menjadi insomnia kronis apabila tidak ditangani
dengan tepat.
2) Short-term insomnia: insomnia yang berlangsung dalam 1- 3 minggu.
3) Insomnia kronis: insomnia yang berlangsung > 3 minggu. Sesuai
dengan definisinya insomnia kronik berlangsung minimal selama 1
22

bulan, akan tetapi menurut beberapa dokter

insomnia kronis

berlangsung 3 bulan.
b. Insomnia Berdasarkan Etiologi
1) Insomnia primer : insomnia yang penyebabnya tidak diketahui dengan
jelas/ idiopatik. Pada pasien tidak ditemukan gangguan

medis,

gangguan psikiatri atau karena faktor lingkungan.


2) Insomnia sekunder : insomnia yang disebabkan oleh kondisi medis
tertentu dan juga oleh obat-obatan.

Ada beberapa faktor

yang

menyebababkan insomnia sekunder misalnya penyakit jantung dan


paru, nyeri, gangguan cemas dan depresi serta obat-obatan seperti
beta-bloker, bronkodilator dan nikotin.
3.
Penyebab Insomnia Pada Usia Lanjut
Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur. Hal ini
meningkatkan resiko terjadinya insomnia akan tetapi pertambahan umur tidak
menjadi faktor mutlak timbulnya insomnia pada usia lanjut. Perubahan pola
tidur yang terkait dengan usia terjadi pada Sleep Architecture dan Ritme
sirkadian.
a. Sleep Architecture
Tidur normal terdiri dari 5 tahap yaitu tahap 1 sampai 4 adalah
non-rapid eye movement (NREM) dan tahap yang terakhir adalah Rapid
eye movement (REM) Tahap 1 dan 2 disebut tidur ringan sedangkan
tahap 3 dan 4 disebut tidur dalam/slow wave sleep/delta sleep. Dari tahap
1-4 akan terjadi peningkatan kedalaman tidur. REM memiliki perbedaan
dengan NREM karena

pada REM terdapat peningkatan aktivitas

simpatetik, pergerakan mata yang cepat, bermimpi dan peningkatan


kedalaman serta frekuensi nafas. Tidur normal diawali dengan tidur
NREM dilanjutkan dengan tidur REM. Siklus NREM dan REM berulang
secara periodik setiap 90-120 menit. Pertambahan umur menyebabkan
terjadinya perubahan dalam tahapan tidur.
Pada kenyataanya, meskipun mereka mempunyai

waktu yang

cukup untuk tidur tetapi terjadi penurunan kualitas tidur. Pada usia lanjut
terjadi penurunan tidur tahap 3, tahap 4, tahap REM dan REM laten tetapi
mengalami peningkatan tidur tahap 1 dan 2. Perubahan ini menimbulkan

23

beberapa efek yaitu: kesulitan untuk mengawali tidur, menurunnya total


sleep time, sleep efficiency, transient arousal dan bangun terlalu dini.
b. Ritme sirkadian
Fungsi dari sistem organ makhluk hidup diatur oleh ritme sirkadian selama
24 jam. Ritme sirkadian mengatur siklus tidur, suhu tubuh, aktivitas saraf
otonum, aktivitas kardiovaskuler dan sekresi hormon. Pusat pengaturan
ritme sirkadian adalah suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus.
Faktor yang mempengaruhi kerja dari SCN adalah cahaya, aktivitas sosial
dan fisik. Pada saat cahaya masuk ke retina maka neuron fotoreseptor SCN
akan teraktivasi. SCN akan merangsang pineal gland untuk mensekresikan
melatonin, yang menimbulkan rasa lelah. Penurunan fungsi dari SCN
berkaitan dengan pertambahan umur. Pada usia lanjut yang mengalami
penurunan fungsi SCN akan

menyebabkan terjadinya gangguan pada

ritme sirkadian. Gejala akibat gangguan ritme sirkadian adalah


ketidakmampuan untuk tidur meskipun terdapat rangsangan. Hal ini
menyebabkan pasien bangun dan tidur pada waktu yang tidak tepat,
peningkatan resiko insomnia dan peningkatan frekuensi tidur. Penurunan
fungsi SCN diduga disebabkan oleh penurunan paparan cahaya, aktivitas
fisik dan sosial saat memasuki usia lanjut.
Insomnia pada usia lanjut bersifat multifaktorial, selain faktor biologik
diatas ada beberapa faktor komorbid yang dapat menyebabkan terjadinya
insomnia pada usia lanjut.
Insomnia sekunder pada usia lanjut dapat disebabkan oleh faktor
komorbid yang terdiri dari : nyeri kronis, sesak nafas pada penyakit paru
obstruktif kronis, gangguan psikiatri (gangguan cemas dan depresi), penyakit
neurologi (Parkinsons disease, Alzheimer disease), dan obat-obatan (betabloker, bronkodilator, kortikosteroid dan diuretik).
4.
Patofisiologi Insomnia
Patofisiologi insomnia belum bisa dijelaskan secara pasti tetapi insomnia
dihubungkan dengan hipotesis peningkatan
dengan struktur yang memicu kesiagaan

arousal. Arousal

dikaitkan

di ARAS ( ascending reticular

activating system), hipotalamus, basal forebrain yang berinteraksi dengan


pusat-pusat pemicu tidur pada otak di anterior hipotalamus dan thalamus.

24

Hyperarousal merupakan keadaan yang ditandai dengan tingginya tingkat


kesiagaan yang merupakan respon terhadap situasi spesifik seperti lingkungan
tidur. Data psikofisiologi dan metabolic dari

hyperarousal

pada pasien

insomnia meliputi peningkatan suhu tubuh, peningkatan denyut nadi dan


penurunan variasi periode jantung selama tidur. Kecepatan metabolik seluruh
tubuh dihitung melalui penggunaan O2 persatuan waktu ternyata lebih tinggi
pada pasien insomnia dibandingkan pada orang normal.
Data elektrofisiologi hyperarousal menunjukkan peningkatan frekuensi
gelombang beta pada EEG selama tidur NREM. Aktivitas gelombang beta
dikaitkan dengan aktivitas gelombang otak selam terjaga. Penurunan
dorongan tidur pada pasien insomnia dikaitkan dengan penurunan aktivitas
gelombang delta.
Data neuroendokrin tentang hyperarousal menunjukan peningkatan level
kortisol dan adrenokortikoid (ACTH) sebelum dan selama tidur, terutama
pada setengah bagian pertama tidur pada pasien insomnia. Penurunan level
melatonin tidak konsisten ditemukan.
Data menurut functional neuroanatomi studies
hyperarousal menunjukan

of arousal

tentang

pola-pola aktivitas metabolisme regional otak

selama tidur NREM melalui SPECT (single-photon emission computer


tomography) dan PET ( positron emission
tomography). Pada penelitian PET yang pertama pada insomnia p rimer
terjadi peningkatan kecepatan metabolisme glukosa baik pada waktu tidur
maupun terjaga. Selama terjaga, pada pasien insomnia primer ditemukan
penurunan aktivitas dorselateral prefrontal cortical. Dari hasil penelitianpenelitian tersebut menunjukkan hyperarousal pada tidur NREM dan
hypoarousal frontal selama terjaga, hal inilah yang menyebabkan keluhankeluhan yang dirasakan oleh pasien baik pada saat terjaga maupun tidur.
Pada pasien yang mengalami insomnia yang karena depresi berat terjadi
peningkatan gelombang beta yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas
metabolik di kortek orbita frontal dan mengelukan kualitas tidur yang buruk,
hal ini juga mendukung hipotesis mengenai hyperarousal. Pada pemeriksaan
SPECT pada pasien insomnia primer, selama tidur NREM terjadi hipoperfusi
diberbagai tempat yang paling jelas pada basal ganglia. Kesimpulan
25

penelitian imaging mulai menunjukkan perubahan fungsi neuroanatomi


selama tidur NREM yang berkaitan dengan insomnia primer maupun
sekunder.
5.

Penanganan Insomnia Pada Usia Lanjut


Setelah diagnosis ditegakkan, dilanjutkan dengan rencana penanganan.
Penanganan insomnia pada usia lanjut terdiri dari terapi nonfarmakologi dan
farmakologi. Tujuan terapi adalah menghilangkan gejala, meningkatkan
produktivitas dan

fungsi kognitif sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup pada pasien usia lanjut.


a. Terapi Nonfarmakologi
Terapi nonfarmakologi khususnya behavioral therapies efektif sebagai
farmakoterapi dan diharapkan menjadi pilihan pertama untuk insomnia
kronis pada pasien usia lanjut. Behavioral therapies terdiri dari beberapa
metode yang dapat diterapakan baik secara tunggal maupun kombinasi
yaitu :
1) Stimulus control
Melalui metode ini pasien diedukasi untuk mengunakan tempat
tidur hanya untuk tidur dan menghindari aktivitas lain seperti membaca
dan menonton tv di tempat tidur. Ketika mengantuk pasien datang ke
tempat tidur, akan tetapi jika selama 15- 20 menit berada disana
pasien tidak bisa tidur

maka pasien harus bangun dan melakukan

aktivitas lain sampai merasa mengantuk baru kembali ke tempat tidur.


Metode ini juga harus didukung oleh suasana kamar yang tenang
sehingga mempercepat pasien untuk tertidur. Dengan metode terapi ini,
pasien mengalami peningkatan durasi tidur sekitar 30-40 menit. Terapi
ini tidak hanya bermanfaat untuk insomnia primer tapi juga untuk
insomnia sekunder jika dikombinasi dengan sleep hygiene dan terapi
relaksasi.
2) Sleep restriction
Tujuan dari terapi ini adalah mengurangi frekuensi tidur dan
meningkatkan sleep efficiency. Pasien diedukasi agar tidak
terlalu lama

tidur

dengan mengurangi frekuensi berada di tempat tidur.

Terlalu lama di tempat tidur akan menyebabkan pola

tidur jadi

terpecah- pecah. Pada usia lanjut yang sudah tidak beraktivitas lebih

26

senang menghabiskan waktunya di tempat tidur namun, berdampak


buruk karena pola tidur menjadi tidak teratur. Melalui Sleep Restriction
ini diharapkan dapat menentukan waktu dan lamanya tidur yang
disesuaikan dengan kebutuhan.
3) Sleep higiene
Sleep Higiene bertujuan untuk mengubah pola hidup pasien dan
lingkungannya sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur. Hal-hal
yang dapat dilakukan pasien untuk meningkatkan Sleep Higiene yaitu:
olahraga secara teratur pada pagi hari, tidur secara teratur, melakukan
aktivitas yang merupakan hobi dari usia lanjut, mengurangi konsumsi
kafein, mengatur waktu bangun pagi,

menghindari merokok dan

minum alkohol 2 jam sebelum tidur dan tidak makan daging terlalu
banyak sekitar 2 jam sebelum tidur.
4) Terapi relaksasi
Tujuan terapi ini adalah mengatasi kebiasaan usia lanjut yang
mudah terjaga dimalam hari saat tidur. Pada beberapa usia lanjut
mengalami kesulitan untuk tertidur kembali setelah terjaga. Metode
terapi relaksasi meliputi: melakukan relaksasi otot, guided imagery,
latihan pernapasan dengan diafragma, yoga atau meditasi. Pada pasien
usia lanjut sangat sulit melakukan metode ini karena tingkat
kepatuhannya sangat rendah.
5) Cognitive behavioral therapy
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan psikoterapi
kombinasi yang terdiri dari: stimulus control, sleep retriction, terapi
kognitif dengan atau tanpa terapi relaksasi. Terapi ini bertujuan untuk
mengubah

maladaftive sleep belief menjadi

adaftive sleep belief.

Sebagai contoh: pasien memiliki kepercayaan harus tidur selama 8


jam setiap malam, jika pasien tidur kurang dari 8 jam maka pasien
merasa kualitas tidurnya menurun. Hal ini harus dirubah mengingat
yang menentukan kualitas tidur tidak hanya durasi tetapi kedalaman
tidur.

27

Dari penelitian yang dilakukan dengan metode


controlled studies oleh

randomized

NIH state-of-the-science Conference on

Chronic Insomnia menyimpulkan CBT efektif pada insomnia kronis.


Chesson et al mengindikasikan CBT sebagai terapi tunggal sedangkan
Morin et al mengemukakan bahwa CBT harus dikombinasikan dengan
terapi lain untuk mendapatkan hasil yang optimal. Randomized
placebo-controlled trial oleh Morin et al pada 78 sampel (CBT=18
sampel, Temazepam=20 sampel, kombinasi CBT dengan Temazepam=
20 sampel, placebo= 20 sampel) berumur rata-rata 65 tahun yang
membandingkan antara CBT, temazepam dan plasebo

disimpulkan

bahwa CBT lebih efektif dari temazepam. CBT dapat menurunkan


wake after sleep onset

sebesar 55% sedangkan temazepam hanya

46,5%.
b. Terapi Farmakologi
Seperti pada terapi nonfarmakologi, tujuan terapi farmakologi
adalah untuk menghilangkan keluhan pasien sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup pada usia lanjut. Ada lima prinsip dalam terapi farmakologi
yaitu: menggunakan dosis yang rendah tetapi efektif, dosis yang diberikan
bersifat intermiten (3-4 kali dalam seminggu), pengobatan jangka pendek
(3-4 mimggu) penghentian terapi tidak menimbulkan kekambuhan pada
gejala insomnia, memiliki efek sedasi yang rendah sehingga tidak
mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
Selain kelima prinsip diatas, dalam memberikan obat harus
memperhatikan perubahan farmakokinetik dan farmokodinamik pada usia
lanjut. Dengan pertambahan umur akan terjadi perubahan dalam distribusi,
metabolisme dan eliminasi obat yang berkaitan erat dengan timbulnya efek
samping obat. Terapi farmakologi yang paling efektif untuk insomnia
adalah golongan Benzodiazepine (BZDs) atau non-Benzodiazepine. Obat
golongan lain yang digunakan dalam terapi insomnia adalah golongan
sedating antidepressant, antihistamin, antipsikotik. Menurut The NIH
state-of-the-Science Conference obat hipnotik baru seperti eszopiclone,
ramelteon, zaleplon, zolpidem dan zolpidem MR lebih efektif dan aman

28

untuk usia lanjut. Beberapa obat hipnotik yang aman untuk usia lanjut
yaitu:
1) Benzodiazepine
Benzodiazepine

(BZDs)

adalah obat yang paling sering

digunakan untuk mengobati insomnia pada usia lanjut. BZDs


menimbulkan efek sedasi karena bekerja secara langsung pada reseptor
benzodiazepine. Efek yang ditimbulkan oleh BZDs adalah menurunkan
frekuensi

tidur

pada fase REM, menurunkan sleep latency, dan

mencegah pasien terjaga di malam hari. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pemberian BZDs pada usia lanjut mengingat
terjadinya perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik terkait
pertambahan umur. Absorpsi dari BZDs tidak dipengaruhi oleh penuaan
akan tetapi peningkatan masa lemak pada lanjut usia akan
meningkatkan drug-elimination half life, disamping itu pada usia lanjut
lebih sensitif terhadap

BZDs meskipun memiliki konsentrasi yang

sama jika dibandingkan dengan pasien usia muda. Pilihan pertama


adalah short-acting

BZDs serta dihindari pemakaian long acting

BZDs.
BZDs digunakan untuk transient insomnia karena tidak dianjurkan
untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan lebih dari 4 minggu
akan menyebabkan tolerance dan ketergantungan. Golongan BZDs
yang paling sering dipakai adalah temazepam, termasuk intermediate
acting BZDs karena memiliki waktu paruh 8-20 jam. Dosis temazepam
adalah 15-30 mg setiap malam. Efek samping BZDs meliputi:
gangguan psikomotor dan memori pada pasien yang diterapi shortacting BZDs sedangkan residual sedation muncul pada pasien yang
mendapat terapi long acting BZDs. Pada pasien yang menggunakan
BZDs jangka panjang akan menimbulkan resiko ketergantungan,
daytime sedation, jatuh, kecelakaan dan fraktur.
2) Non-Benzodiazepine
Memiliki efek pada reseptor GABA dan berikatan secara selektif
pada reseptor benzodiazepine subtife 1 di otak. Obat ini efektif pada
usia lanjut karena dapat diberikan dalam dosis yang rendah. Obat
29

golongan ini juga mengurangi efek hipotoni otot, gangguan prilaku,


kekambuhan insomnia jika dibandingkan dengan obat golongan BZDs.
Zaleplon, zolpidem dan Eszopiclone berfungsi untuk mengurangi sleep
latency sedangkan ramelteon (melatonin receptor agonist) digunakan
pada pasien yang mengalami kesulitan untuk mengawali tidur.
Obat golongan non-benzodiazepine yang aman pada usia lanjut
yaitu:
a) Zaleplon
Ancoli- Israel menemukan keefektifan dan keamanan dari zaleplon
pada usia lanjut. Zaleplon dapat digunakan jangka pendek maupun
jangka panjang, tidak ditemukan terjadinya kekambuhan atau
withdrawal symptom setelah obat dihentikan. Dosis dari zaleplon 510 mg, akan tetapi waktu paruhnya hanya 1 jam.
b) Zolpidem
Zolpidem merupakan obat hipnotik yang berikatan secara selektif
pada reseptor benzodiazepine subtife 1 di otak. Efektif pada usia
lanjut karena tidak mempengaruhi sleep architecture. Zolpidem
memiliki waktu paruh 2,5-2,9 jam dengan dosis 5-10 mg. Zolpidem
merupakan kontraindikasi pada sleep related breathing disorder dan
gangguan hati. Efek samping dari zolpidem adalah mual, dizziness,
dan efek ketergantungan jika digunakan lebih dari 4 minggu.
c) Eszopiclone
Golongan non-benzodiazepine yang mempunyai waktu paruh paling
lama adalah eszopiclone yaitu selama 5 jam pada pasien usia lanjut.
Scharf et al dalam penelitiannya menyimpulkan eszopiclone 2 mg
dapat menurunkan sleep latency, meningkatkan kualitas dan
kedalaman tidur, meningkatkan TST pada pasien usia lanjut dengan
insomnia

primer.

Krystal

AD

et

al

dalam

penelitiannya

menyimpulkan bahwa eszopiclone 3 mg setiap malam dapat


membantu mempertahankan tidur dan meningkatkan kualitas tidur
pada pasien usia lanjut dengan insomnia kronik.
d) Melatonin reseptor agonist
Melatonin Reseptor Agonist (Ramelteon) obat

baru

yang

direkomendasikan oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk

30

terapi insomnia kronis pada usia lanjut. Ramelteon bekerja secara


selektif pada reseptor melatonin MT1 dan MT2. Dalam penelitian
yang dilakukan dengan metode A randomized, double blind study
selama 5 minggu pada 829 sampel berumur rata-rata 72,4 tahun
dengan chronic primary insomnia disimpulkan terjadi penurunan
sleep latency dan peningkatan TST pada minggu pertama.
Ramelteon tidak menimbulkan withdrawal effect.
e) Sedating Antidepressant
Sedating antidepressant hanya diberikan pada pasien insomnia yang
diakibatkan oleh depresi. Amitriptiline adalah salah satu sedating
antidepressant yang digunakan sebagai obat insomnia, akan tetapi
pada usia lanjut menimbulkan beberapa efek samping yaitu
takikardi, retensi urin, konstipasi, gangguan fungsi kognitif dan
delirium. Pada pasien usia lanjut juga dihindari penggunaan trisiklik
antidepresan. Obat yang paling sering digunakan adalah trazodone.
Walsh dan Schweitzer menemukan bahwa trazodone dosis rendah
efektif pada pasien yang mengalami insomnia oleh karena obat
psikotik atau monoamnie oxidase inhibitor dan pada pasien yang
memiliki kontraindikasi terhadap BZDs. Dosis trazodone adalah
25-50 mg perhari, efek samping dari trazodone adalah: kelelahan,
gangguan sistem pencernaan, dizziness, mulut kering, sakit kepala
dan hipotensi.

31

D. KONSEP KEPERAWATAN
1.
a. Pemeriksaan head to toe

Pengkajian

Sumber: dr. S. Tamher, M.Ph dan Dra. Noorkasiani, AMK., M.Kes. Kesehatan Usia
Lanjut Dengan Pendekatan Asuhan Keperwatan(2009)

b. Riwayat Tidur
Untuk memulai perawat perlu terlebih dahulu memahami sifat dari masalah
tidur, tnda dan gejalanya, awitan dan durasinya, keparahannya, dan adanya
faktor pencetus atau penyebab-penyebabnya, serta efeknya secara umum pada
klien. Pertanyaan-pertanyaan pengkajian antara lain mencakup:
1) Sifat dari masalah : beritahu saya jenis masalah tidur apa yng anda alami.
Beritahu saya mengapa anda beranggapan bahwa tidur anda tidak adekuat.
Jelaskan pada saya tentang karakteristik tidur malam anda. Seberapa jauh
perbedaan tidur anda sat ini dari tidur anda yng dulu ?

32

2) Tanda dan gejala : apakah anda mengalami kesulitan untuk tidur, tetap
tidur atau untuk bangun ?
3) Awitan dan durasi : kapan pertama kali anda menyadari masalah ini ?
4) Keparahan : berapa lama waktu yng anda butuhkan untuk tertidur?
5) Faktor pencetus : beritahu saya apa yang and lakukan sesaat sebelum
tidur?
6) Efek pada klien : bagaimana pengaruh tidur ini bagi anda ?
Selain itu, yang perlu dikaji dalam riwayat tidur adalah:
1) Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya;
2) Kebiasaan tidur siang;
3) Lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur apakah
kondisinva bising, gelap, atau suhunya dingin? dan lain lain;
4) Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat mempelajari
apakah peristiwa, yang dialami klien, yang menyebabkan klien mengalami
gangguan tidur?;
5) Status emosi dan mental klien. Status emosi dan mental memengaruhi
terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu
mengkaji mengenai status emosional dan mental klien, misalnya apakah
klien mengalami stres emosional atau ansietas?, juga dikaji sumber stres
yang dialami klien.
6) Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul
sebagai akibat gangguan istirahat tidur, seperti:
Penampilan wajah, misalnya adakah area gelap di sekitar mata,
bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan, atau mata yang
terlihat cekung;
Perilaku yang terkait dengan gangguan istirahat tidur, misalnya
apakah klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi,
atau terlihat bingung;
Kelelahan, misalnya apakah klien tampak lelah, letih, atau lesu.
c. Pengkajian Pola Tidur
Pengkajian rinci pada pasien yang mengalami masalah tidur meliputi
pengamatan langsung, mengajukan pertanyaan pada pasien dan anggota
keluarganya mengenal pola tidurnya dan kemungkinan meminta pasien
menyimpan catatan tidur selama 3 sampai 4 minggu. Laboratorium gangguan
tidur dapat memberikan analisi eksplisit mengenai pola gangguan.
33

Anda dapat mempelajari pengamatan seksama dan pertanyaan langsung


berikut ini:
Seberapa baik orang tersebut tidur di rumah.
Waktu tidur dan waktu terbangun.
Ritual waktu tidur dan lingkungan yang diinginkan pada waktu tidur
malam (jumlah cahaya dan ventilasi, suhu ruangan, pintu terbuka atau
tertutup musik, jenis baju tidur).
Frekuensi dan durasi waktu terbangun.
Aktivitas yang biasanya dilakukan pada jam-jam awal menjelang
malam.
Makanan atau cairan yang dikonsumsi tepat sebelum waktu tidur.
Aktivitas dan waktu luang dan hobi.
Obat yang diminum, termasuk obat yang membantu tidur.
Kecenderungan tidur sendiri atau dengan pasangan.
Persepsi mengenai status kesehatan dan kepuasan terhadap hidup.
Berapa kali pergi ke kamar mandi pada waktu malam hari.
Jika pasien akan membuat catatan tidur, minta pasien mencatat hal-hal berikut
ini:

Jam pasien terbangun.


Waktu dan jumlah obat tidur yang diminum (termasuk dosis ulangan).
Episode disorientasi atau konfusi.
Frekuensi kebutuhan akan obat pereda nyeri atau bantuan untuk pergi

ke toilet.
Waktu tidak tidur.
d. Pertimbangan Khusus
Setelah mengetahui pola tidur pasien, anda dapat menyusun rencana asuhan
tersendiri yang menyeimbangkan kebutuhan pasien dengan kebutuhan
fasilitas tempat anda bekerja.
Jaga agar staf tidak membuat keributan (berbicara di luar kamar pasien) ke
tingkat minimum dan atur pencahayaan dengan tepat.
Terlambat bangun dapat mengacaukan jadwal di pagi hari tetapi dengan
memberi kesempatan duduk di antara waktu makan dapat memecahkan
masalah.
Tindakan keperawatan seperti posisi nyaman untuk pasien yang
memerlukan bantuan mobilitas atau aktivitas harian, menggosok atau
masase punggung dan musik lembut dapat membantu memicu tidur.

34

Jika diindikasikan berikan analgesik untuk pasien yang sedang mengalami


nyeri.
Ajarkan teknik nafas dalam latihan relaksasi progresif dan imajinasi
terbimbing untuk meningkatkan relaksasi dan tidur pada pasien.
Jadwalkan semua terapi dan prosedur selama waktu terbangun, serta
hilangkan pangkajian tanda-tanda vital di malam hari secepat kondisi
pasien memungkinkan.
Pertimbangkan pemberian alat bantu tidur sementara jika metode lain
gagal. Obat yang biasa diresepkan yang digunakan untuk memicu tidur
meliputi antihistamin, difenhidramin, dan benzodiazepine temazepam.
Melatonin juga dapat memperbaiki kualitas tidur pada pasien lansia.
Pantau pasien apakah mengalami reaksi merugikan terhadap obat ini
(seperti rebound insomnia, mimpi buruk, dan konfusi).
Tanpa memperhatikan lingkungan, anda dapat mengajarkan pasien anda
2.

tindakan yang dapat membantu meningkatkan tidur yang sehat.


Diagnosa Keperawatan
Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,
terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan
fungsi.

3.

Intervensi
Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,
terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan
fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 224 jam pasien
diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria :
1.
Mengatur jumlah jam tidurnya
2.
Tidur secara rutin
3.
Miningkatkan pola tidur
4.
Meningkatkan kualitas tidur
5.
Tidak ada gangguan tidur
NIC : Peningkatan Tidur
1. Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien
2. Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
3. Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik
4. Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam
tidurnya

4.

Evaluasi

35

S: Pasien mengatakan dapat tidur dalam jangka waktu 20-30 menit, pada
waktu tidur tidak sering terbangun, jika terbangun akan mudah tidur
kembali, meningkatnya waktu tidur sesuai yang diharapkan, mengingat
kembali mimpi yang dialaminya, menyatakan perasaannya tenang sesudah
tidur, bebas dari kecemasan dan depresi, dapat bekerja dengan baik dan
penuh konsentrasi, Klien dan keluarga mampu menjelaskan faktor2 yang
dapat meningkatkan tidur
O: klien tampak tenang saat di wawancarai setelah bangun tidur
A: masalah teratasi
P: intervensi dihentikan

36