Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

IMAM HADI KURNIANTO


09.06.0021
KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT
RSUD DR. R.SOEDJONO SELONG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AL AZHAR MATARAM
2014

Pendahuluan
Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang
paling sering terjadi dari seluruh radang
tenggorok yang berulang.
Berdasarkan data epidemiologi penyakit
THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun
1994-1996, prevalensi Tonsilitis Kronis
4,6% tertinggi setelah Nasofaringitis Akut
(3,8%).

Identitas Pasien

Nama
: An N
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 11 tahun
Alamat
: Selong Lombok Timur
Agama
: Islam
Suku
: Sasak
Pekerjaan
: Pelajar
Status
: Belum Kawin
No. CM
: 273726
Tanggal Masuk
: 10 Juli 2014
Tanggal Pemeriksaan : 10 Juli 2014

ANAMNESA

Keluhan utama

Sering nyeri menelan

RPS

Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh sering


nyeri menelan yang hilang timbul. Nyeri
menelan dirasakan terutama saat menelan
makanan. Pasien juga mengeluh perasaan tidak
enak di tenggorokan dan bau mulut. Sebelumnya
pasien juga mengeluh nyeri menelan disertai
dengan sering demam, batuk, pilek dengan
lendir putih yang kumat-kumatan dan hidung
tersumbat. Ibu pasien mengatakan pasien
ngorok saat tidur. Pasien tidak mengeluh nyeri
pada
kedua
telinga,
tidak
ada
kurang

RPD
Pasien memiliki riwayat pilek yang cukup lama dan
hilang timbul sejak 1 bulan terakhir. Pasien telah
berobat ke puskesmas dan diberi obat. 2 minggu SMRS,
pasien pergi berobat ke dokter. Setelah diperiksa,
pasien diberitahukan bahwa amandelnya membesar
dan disarankan untuk dilakukan operasi pengangkatan
amandel. Namun pasien belum mau dioperasi dan lebih
memilih untuk diberi pengobatan mengurangi gejala.
Seminggu yang lalu obatnya habis dan keluhan muncul
lagi.

RPK

Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti ini.

Riwayat Alergi

Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan


maupun obat-obatan

Pemeriksaan fisik

Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 24 kg
Tinggi Badan : 125 cm
Status Gizi : Cukup

Vital

Tanda vital
Tensi : 110/70
Nadi : 89 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu : 36,5 C

Pemeriksaan lokalis

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: Darah lengkap, bleeding time,
cloting Time, ureum, creatinine, SGOT, SGPT,
urin lengkap

Diagnosis
Tonsilitis kronis eksaserbasi akut t3-t4

Terapi
Obat-obatan
Cefadroxil 2x 500mg
Asam mefenamat 3x 500mg
Daxametason 3x 1mg

Pembedahan
Tonsilektomi

KIE pasien
Untuk sementara hindari makanan yang
berminyak, manis, pedas, dan lainnya yang
dapat mengiritasi tenggorokan. Begitu pula
dengan minuman dingin.
Menjaga higiene mulut.
Sarankan keluarga untuk menjaga kesehatan
pasien dan mempertimbangkan untuk
melakukan operasi pengangkatan amandel
atau tonsilektomi jelaskan indikasi, dan
komplikasinya.

Tinjauan pustaka

Anatomi

Definisi
Tonsilitis kronis merupakan radang pada
tonsila palatina yang sifatnya menahun.
Yang dimaksud kronis adalah apabila
terjadi perubahan histologis pada tonsil,
yaitu didapatkannya mikroabses yang
diselimuti oleh dinding jaringan fibrotik dan
dikelilingi oleh zona sel sel radang yang
dapat menjadi fokal infeksi bagi organ
organ lain

Etiologi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh para ahli, bakteri yang paling banyak
ditemukan pada jaringan tonsil adalah
Streptococcus hemolyticus. Beberapa
jenis bakteri lain yang dapat ditemukan
adalah Staphylococcus, Pneumococcus,
Haemophylus influenza, virus, jamur dan
bakteri anaerob.

Patofisiologi

Kuman masuk
dari
mulut/hidung

Berada dalm
tonsil

inflamasi

Fokal infeksi

bakterimia
atau toksemia

Gejala
Pasien dengan tonsillitis kronis akan
mengeluh ada penghalang/rasa mengganjal
di tenggorokan, tenggorokan terasa kering
dan pernafasan berbau. Pada pemeriksaan
tampak
tonsil
membesar
dengan
permukaan yang tidak rata, kriptus
membesar, dan kriptus berisi detritus.

Perbesaran tonsil
TO : tonsil masuk di dalam
fossa atau sudah diangkat
T1 : <25% volume tonsil
dibandingkan dengan volume
orofaring
T2 : 25-50% volume tonsil
dibandingkan dengan volume
orofaring
T3 : 50-75% volume tonsil
dibandingkan dengan volume
orofaring
T4 : > 75% volume tonsil
dibandingkan dengan volume
orofaring

Bila tonsillitis kronis tersebut dalam


keadaan eksaserbasi akut maka aka nada
tanda-tanda infeksi seperti demam, infeksi
saluran nafas, nyeri menelan, lesu, tidak
nafsu makan, pada pemeriksaan tonsil
terlihat hiperemi, membengkak, ada kripte
melebar, dan detritus.

Penatalaksanaan
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of
Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators
Compendium tahun 1995 menetapkan : Indikasi tonsilektomi
menurut The American Academy of Otolaryngology,Head and
Neck Surgery:2,9
Indikasi absolut:
Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, disfagia
menetap, gangguan tidur atau komplokasi kardiopulmunar.
Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofacial
Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak
hilang dengan pengobatan. Otitis media efusi atau otitis media supuratif.
Tonsilitis yang menimbulkan febris dan konvulsi
Biopsi untuk menentukan jaringan yang patologis (dicurigai keganasan)

Indikasi relatif :
Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali
atau lebih dalam setahun meskipun dengan terapi
yang adekuat
Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang
menandakan tonsilitis kronis tidak responsif
terhadap terapi media
Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan
kuman streptococus yang resisten terhadap
antibiotik betalaktamase
Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan
neoplasma

Kontra indikasi :
Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli
hematologi
Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli
bedah fasilitasnya tidak mempunyai pengalaman
khusus terhadap bayi
Infeksi saluran nafas atas yang berulang
Perdarahan atau penderita dengan penyakit
sistemik yang tidak terkontrol.
Celah pada palatum

Kesimpulan
Pasien datang dengan keluhan nyeri dan sulit menelan
yang sebelumnya diawali oleh demam, batuk, dan pilek.
Ketika dimintai keterangan lebih lanjut, pasien mengaku
sejak dulu sudah sering merasa sulit menelan. Saat
dilakukan pemeriksaan pada daerah tenggorok, terlihat
tonsil membesar T3 (dextra) dan T3 (sinistra) dengan
tampilan hiperemis, bengkak, kripte melebar, dan terlihat
detritus. Keterangan tersebut dapat digunakan sebagai
acuan untuk mendiagnosa pasien dengan tonsillitis kronis
eksaserbasi akut. Hal ini diperkuat dengan riwayat infeksi
yang sedang diderita pasien saat ini yaitu demam, batuk,
dan pilek yang menandakan adanya eksaserbasi akut.

Thank you
Wassalamualaikm