Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN
BAB 4
JAR TEST

KELOMPOK 2 SELASA
Diza Rahmania Zawatki

1106001416

Afrizal Citra Pradana

1106001611

Nurjalila Hafita Budi Sari

1106012413

Tanggal Praktikum

: Rabu, 27 Februari 2013

Tanggal Disetujui

Asisten Praktikum

: Chihiya Fitria N

Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM TEKNIK PENYEHATAN LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2013

JAR TEST
I.

II.

Maksud dan Tujuan


Melakukan percobaan proses koagulasi dan flokulasi skala laboratorium
untuk menurunkan kekeruhan dengan menggunakan metoda Jar Test.
Mengamati ukuran flok yang terbentuk selama berlangsungnya proses
flokulasi.
Menentukan dosis optimum dan jenis koagulan tertentu untuk menurunkan
kekeruhan sehingga baku mutu tercapai, serta mengamati faktor faktor
yang mempengaruhinya (pH, temperatur).
Landasan Teori

A. Definisi
Jar Test adalah tes yang biasa dilakukan di laboratorium untuk
menentukan kondisi operasi optimum pada sistem pengolahan air bersih
atau air limbah. Selain itu, Jar Test juga berguna untuk menentukan
koagulan yang tepat dan koagulan pembantu, dan jika dibutuhkan dosis
kimia yang dibutuhkan untuk koagulasi pada air tertentu. Prinsip dari Jar
Test adalah proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi. Selama proses
berlangsung dilakukan penyesuaian pH, jenis dan dosis koagulan, serta
kecepatan pengadukan. Dengan Jar Test dapat ditentukan dosis optimum
dari bahan-bahan kimia yang dibubuhkan ke dalam air baku. Adapun yang
dimaksud dosis optimum adalah dosis terbaik suatu koagulan untuk
membentuk flok-flok sehingga tingkat kekeruhan suatu air baku
memenuhi standar peraturan pengolahan air. Jar Test pada umumnya
digunakan untuk mengurangi/menghilangkan koloid tersuspensi dan zat
organik penyebab kekeruhan, bau, rasa dan warna pada sistem pengolahan
air bersih maupun air limbah. Jar Test juga digunakan untuk mengetahui
proses koagulasi - flokulasi dalam sistem pengolahan air limbah dan
menentukan dosis zat kimia yang tepat untuk mengolah air limbah tersebut
sehingga dapat dikatakan layak dalam pengolahannya atau memenuhi
baku mutu yang berlaku dalam pengolahan air limbah.
B. Prinsip Jar Test
Koagulasi
Koagulasi adalah pengadukan cepat yang disertai dengan
penambahan koagulan. Tujuan pengadukan cepat adalah destabilisasi
material koloid dan padatan tersuspensi. Rentang pengadukan cepat adalah
ketika kecepatan gradien berkisar antara 700/s - 1000/s dan waktu tunggu
berkisar antara 20 detik 90 detik. Destabilisasi koloid adalah gaya yang
dikenakan kepada koloid secara repulsif sehingga mengurangi potensial
zeta elektrostatis pada partikel koloid. Resultan gaya dari potensial
elektrostatis dan gaya Van der Waals menimbulkan jarak antar partikel

koloid sehingga menghasilkan jarak x, jarak inilah yang menandakan


bahwa partikel koloid telah terdestabilisasi. Koloid yang telah
terdestabilisasi memberi kesempatan kepada koagulan bersama dengan
material koloid dan padatan tersuspensi untuk membentuk inti flok.

Tabel. Waktu tunggu dan Kecepatan Gradien pada Pengadukan Cepat


Flokulasi
Flokulasi adalah pengadukan lambat. Rentang pengadukan lambat
adalah ketika kecepatan gradien berkisar antara 5 fps/ft 10 fps/ft dan
waktu tunggu berkisar antara 15 menit 30 menit. Tujuan pengadukan
lambat adalah stabilisasi partikel inti flok agar dengan pengadukan lambat
inti flok saling bersentuhan sehingga membentuk flok yang memiliki
massa jenis lebih besar daripada air sehingga dapat mengendap.
Sedimentasi
Sedimentasi adalah pengendapan flok yang telah terbentuk secara
gravitasional. Tujuan dari pengenapan adalah mengurangi kekeruhan dan
materi tersuspensi yang ada pada air baku atau air limbah.
C. Jenis-jenis Koagulan
Aluminium Sulfat (Al2(SO4)3) / tawas
Dibutuhkan alkalinitas yang cukup untuk bereaksi dengan alumunium
sulphat untuk menghasilkan flok hidroksida. Reaksi untuk menghasilkan
flok tersebut adalah :
Al 2 SO4 3 14 2 3Ca C 3 2 2 Al 3 3CaSO4 14 2 6CO2

Meskipun demikian jika air baku tidak memiliki alkalinitas yang cukup
untuk direaksikan dengan alumunium, maka alkalinitas harus
ditambahkan. Biasanya alkalinitas yang ditambahkan berada dalam bentuk
ion hidroksida seperti calcium hidroksida. Reaksi koagulasi dengan
kalsium hidroksida adalah :
Al2 SO4 3 14 2 3Ca C 3 2 3Ca 2 2 Al 3 3CaSO4 14 2

Rentang pH optimum untuk alumunium sulphat adalah 4,58. Pada


rentang pH tersebut hidroksida relatif dapat larut.

Ferrous Sulfat (FeSO4)


Penggunaan ferrous sulphat sebagai koagulan memerlukan alkalinitas
dalam bentuk ion hidroksida dalam air baku untuk menghasilkan reaksi
yang cepat. Oleh sebab itu Ca(OH)2 biasanya ditambahkan untuk
meningkatkan pH sehingga ion besi dapat mengendap sebagai ferric
hidroksida dalam reaksi berikut:
1
2 FeSO4 7 2 2Ca 2
2 Fe 3 2CaSO4 13 2
2 2
Agar reaksi dapat berlangsung pH harus ditingkatkan hingga mencapai
9,5. Sebagai perbandingan penggunaan ferrous sulphate dan kapur sebagai
koagulan lebih mahal dibandingkan dengan penggunaan alumunium
sulphat.
Ferric Sulfate (Fe(SO)4)
Reaksi sederhana dari ferric sulphat dengan alkalinitas bikarbonat alami
untuk menjadi bentuk ferric hydroksida adalah :
Fe2 SO4 3 3Ca C 3 2 2 Fe 3 3CaSO4 6C 2

Reaksi ini menghasilkan flok yang besar dan cepat mengendap. Jika
alkalinitas alam tidak mencukupi untuk reaksi ini, maka dipergunakan
kapur sebagai tambahan.
Ferric Klorida (FeCl3)
Reaksi sederhana dari ferric chlorida dengan alkalinitas bikarbonat alami
untuk membentuk ferric hydroksida adalah :
2 FeCl3 3Ca C 3 2 2 Fe 3 3CaSO4 6C 2

Jika alkalinitas yang ada di alam tidak mencukupi, maka ditambahkan


kapur mati untuk membentuk hidroksida, sehingga berlangsung reaksi
berikut:

2 FeCl3 3Ca C 3

2 Fe 3 3CaCl2

Range pH optimum untuk ferric chlorida sama dengan ferric sulaphat,


yaitu sekitar 412. Bentuk flok yang dihasilkan biasanya tebal dan
merupakan pembentukan flok yang cepat.
D. Faktor yang Mempengaruhi Proses Koagulasi dan Flokulasi
Formasi dan Ukuran Flok
Semakin rapat formasi antar flok-flok, maka semakin besar pula ukuran
flok tersebut secara keseluruhan. Semakin besar flok yang terbentuk, maka
semakin banyak materi tersuspensi dan koloid yang mengendap.

Bentuk Bak Pengendapan


Diantara bentuk bak pengendapan persegi panjang, persegi, dan bundar,
bak pengendapan yang berbentuk bundar lebih baik daripada bentuk
persegi dan persegi panjang karena distribusi putaran paddle yang merata
pada setiap sisinya.
Presentase Penurunan Tingkat Kekeruhan
Presentase penurunan kekeruhan mempengaruhi dosis optimum suatu
koagulan. Semakin kecil tingkat kekeruhan maka semakin optimum dosis
koagulan tersebut.
pH
Derajat pH akhir setelah proses menentukan pH optimum suatu koagulan.
Temperatur
Faktor temperatur air mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi.
Temperatur mempengaruhi viskositas air, semakin rendah viskositas air
maka semakin cepat kecepatan gradien yang ditimbulkan pada proses
pengadukan.
E. Jenis jenis Pengadukan
Mekanik
Turbine Impeller

Kelebihan pengaduk ini adalah tegangan geser, turbuulensi, dan kecepatan


gradien yang dihasilkan lebih besar.
Propeller Impeller

Kelebihan pengaduk ini adalah daya yang digunakan lebih sedikit namun
dapat menghasilkan kecepatan gradien yang maksimal.
Pneumatik

Daya yang dibutuhkan cenderung lebih kecil.


Hidrolis

Kekurangan mixer jenis ini memiliki headloss yang cukup besar.


III.

Alat dan Bahan


Alat

Alat Jar Test


Gelas beaker 1000 ml
Pipet 25 mL
pH meter
Thermometer
Turbidimeter
Stopwatch

Bahan

IV.

Sampel air danau


Koagulan: FeCl3, Al2(SO4)3.18H2O, dan PAC (Poly Aluminium Chloride)

Cara Kerja
Cara Kerja dalam Gambar

Ambil sampel
500 ml untuk
5 beaker glass

Timbang
koagulan
sesuai dengan
deret yang

Masukkan
setiap
koagulan ke
beaker glass

Catat pH, kekeruhan, dan


temperrtur sampel setiap 10,
20, dan 30 menit
pengendapan.

Operasikan jar test


selama 60 dtk 100
rpm kemudian 20
min 40 rpm

Ulangi langkah diatas


untuk mencari dosis
koagulan spesifik.

Cara Kerja dalam Kalimat


Menentukan Rentang Dosis Koagulan
1
2
3
4
5.

Dikeluarkan sampel yang berasal dari praktikum modul sebelumnya


(pengambilan contoh air danau) dari lemari pendingin dan tunggu sampai
suhunya mencapai suhu ruang
Disiapkan 5 gelas beaker dan masukkan volume sampel uji yang sama
(1000 mL) kedalam masing-masing gelas beaker. Sampel uji harus
dipastikan homogen ketika dimasukkan ke gelas beaker
Diukur dan catat kekeruhan, pH dan temperatur awal. Sesuaikan pH
dengan kondisi optimal koagulan.
Ditentukan rentang koagulan berdasarkan jenis koagulan yang akan
dipakai berdasarkan literatur yang terdapat di Daftar Pustaka Bab 4.
Tentukan 5 variasi dosis koagulan dari rentang yang telah ditentukan
berdasarkan studi pustaka.
Koagulasi, Flokulas, dan Sedimentasi

1
2
3
4
5
6
7
8
9

V.

Ditimbang koagulan yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan data


pH dan kekeruhan sampel pada saat sampel diambil.
Dimasukkan koagulan pada masing-masing sampel.
Dioperasikan Jar Test pada pengadukan cepat dengan kecepatan 100 rpm
selama 60 detik.
Dikurangi kecepatan sampai pada kecepatan 40 rpm, pengadukan lambat
ini dilakukan selama 20 menit.
Diamati ukuran dan bentuk flok pada proses pengadukan.
Setelah proses pengadukan selesai, pindahkan gelas beaker dari alat Jar
Test
Diukur dan dicatat kekeruhan, pH, temperatur setiap 10 menit, 20 menit,
30 menit.
Dibuat grafik hubungan antara dosis penambahan koagulan dan nilai
kekeruhan untuk t pengendapan 10 menit, 20 menit, 30 menit (lihat hasil
pengamatan 6.1)
Diestimasi sampel mana yang paling jernih untuk waktu tertentu (t
menit), lalu buat variasi penambahan koagulan, lakukan poin 1-10
dengan jenis koagulan yang sama. Perhatikan penambahan dosis
koagulan (poin 3) tahap ke dua ini dengan variasi penambahan setiap 5
mg. Contoh: dosis koagulan dengan kekeruhan terkecil pada proses
pertama adalah 20 mg/L, maka penambahan koagulan pada proses kedua
adalah 10 mg, 15 mg, 20 mg, 25 mg, 30 mg (lihat hasil pengamatan tahap
2 pada bagian 6.3)
Data Pengamatan dan Pengolahan Data
Data Pengamatan
Tahap 1 Penentuan Rentang Dosis Koagulan PAC
Kekeruhan
: 134 NTU
pH
: 7,2
Temperatur : 29,6oC

Beaker Glass
No.
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

Waktu
Pengendapan
(menit ke-)
10

Dosis
Koagulan
(mg/L)
90
100
110
120
130

pH

Temperatur
(OC)

Kekeruhan
(NTU)

6,53
6,62
6,5
6,46
6,43

30
29,9
30
29,9
30,1

3,2
3,21
3,21
0,82
0,89

20

90
100
110
120
130

6,61
6,65
6,49
6,46
6,48

28,8
29
29,1
29,1
29,2

0,82
1,55
2,62
0,92
0,42

1
2
3
4
5

30

90
100
110
120
130

6,6
6,62
6,5
6,49
6,46

29
28,9
28,9
29
29

0,57
1,41
2,4
1,31
0,47

Tahap 2 Penentuan Rentang Dosis Koagulan Optimum PAC


Kekeruhan
: 113 NTU
pH
: 7,17
Temperatur : 28,9oC
Beaker
Glass
No.

Waktu
Pengendapan
(menit ke-)
10

Dosis
Koagulan
(mg/L)
120
125
130
135
140

6,39
6,36
6,35
6,33
6,34

28,5
28,6
28,7
28,6
28,6

1,72
0,89
0,83
0,5
0,62

1
2
3
4
5

20

120
125
130
135
140

6,53
6,5
6,5
6,39
6,43

28,9
28,8
28,8
28,7
28,6

0,54
0,71
0,49
0,52
0,47

1
2
3
4
5

30

120
125
130
135
140

6,53
6,48
6,44
6,42
6,44

28,5
28,5
28,5
28,5
28,5

0,43
0,85
0,46
0,42
0,44

1
2
3
4
5

pH

Temperatur Kekeruhan
(C)
(NTU)

Pengolahan Data
Koagulan PAC

Dosis Koagulan PAC Tahap I


3.5
3
2.5

Menit ke 10

Menit ke 20

Kekeruhan (NTU) 1.5

Menit ke 30

1
0.5
0
80

100 120 140

Dosis Koagulan (mg/L)

Dosis Koagulan PAC Tahap II


2
1.5
Menit ke 10
Kkeruhan (NTU)

Menit ke 20
Menit ke 30

0.5
0
110 120 130 140 150
Dosis Koagulan (mg/L

Koagulan FeCl3 (Kelompok 5B)


Kelompok 5B
Koagulan
Kekeruhan
pH
Temperatur

: FeCl3
: 113 NTU
: 7,5
: 28,5oC

Dosis Koagulan FeCl3 Tahap 1


4
3
Menit ke 10
Menit ke 20

Kekeruhan 2

Menit ke 30

1
0
50 55 60 65 70 75 80
Dosis Koagulan (mg/L)

Dosis Koagulan FeCl3 Tahap 2


3
2.5
2

Menit ke 10

Kekeruhan (NTU) 1.5


1

Menit ke 20
Menit ke 30

0.5
0
54 56 58 60 62 64 66
Dosis Koagulan (mg/L)

Koagulan Tawas (Kelompok 6B)


Kelompok 6B
Koagulan
: Tawas
Kekeruhan
: 113 NTU
pH
: 7,11
Temperatur : 27,4oC

Dosis Koagulan Tawas Tahap 1


2.5
2

kekeruhan

1.5

Menit ke 10

Menit ke 30

0.5
0
90 100 110 120 130 140 150
Dosis Koagulan (mg/L)

Menit ke 20

Dosis Koagulan Tawas Tahap 2


2
1.5
Menit ke 10
Kekeruhan NTU

Menit ke 20

Menit ke 30
0.5
0
100 110 120 130 140
Dosis Koagulan

VI.

Analisis
Analisis Percobaan
Tujuan praktikum laboratorium lingkungan Jar Test ini adalah
melakukan percobaan proses koagulasi dan flokulasi skala laboratorium
untuk menurunkan kekeruhan, mengamati ukuran flok yang terbentuk
selama berlangsungnya proses flokulasi, serta menentukan dosis optimum
dan jenis koagulan tertentu untuk menurunkan kekeruhan sehingga baku
mutu tercapai, serta mengamati faktor faktor yang mempengaruhinya (pH,
temperatur). Pada praktikum ini, dilakukan dua kali percobaan jar test.
Percobaan pertama adalah menentukan rentang dosis koagulan optimum
sedangkan percobaan kedua adalah menentukan rentang dosis koagulan
optimum yang lebih spesifik. Jumlah data yang didapatkan dari masingmasing percobaan adalah 15 data, sehingga apabila dijumlah dari dua
percobaan yang dilakukan jumlah data yang diperoleh sebanyak 30 data
yang terdiri dari nilai pH, temperatur (oC) dan kekeruhan (NTU). Datadata tersebut berpengaruh terhadap keakuratan pengolahan data.
Kegiatan pertama adalah menambahkan kaolin ke air sampel.
Perbandingan penambahan kaolin adalah 2,5 ml untuk setiap 8 liter air
sampel. Kaolin ditambahkan agar air sampel menjadi lebih keruh, hal ini
dikarenakan sampel air danau tidak terlalu keruh sehingga apabila tidak
ditambahkan kaolin tidak dapat diamati pembentukan flok-flok pada air

sampel percobaan jar test ini. Selain itu sifat kaolin sama seperti sifat
koloid pada suatu air baku.
Kegiatan selanjutnya adalah mengambil air sampel yang telah
dicampur kaolin masing-masing 500 ml ke lima buah beaker glass,
kemudian mencatat pH awal, temperatur awal, dan kekeruhan awal untuk
dibandingkan dengan hasil akhir. Kemudian percobaan dilanjutkan dengan
menambahkan koagulan PAC ke masing-masing beaker glass dengan dosis
ppm yang berbeda-beda. Pada percobaan pertama dosis koagulan yang
dibubuhi adalah 90, 100, 110, 120, dan 130 ppm untuk lima beaker glass
tersebut. Karena sampel yang digunakan pada masing-masing beaker glass
adalah sebanyak 500 ml, maka koagulan PAC yang dibubuhkan adalah 45,
50, 55, 60, 65 mg. Agar massa koagulan yang dibubuhkan sesuai/tepat,
maka digunakan timbangan digital. Pada saat membubuhkan koagulan
PAC ke beaker glass, sering ditemukan bubuk PAC yang sudah mencair
dan melekat pada permukaan kertas, oleh sebab itu diperlukan tindakan
menuangkan air sampel ke kertas bubuk PAC sehingga bubuk PAC yang
melekat dapat terbawa oleh air sampel.
Setelah menambahkan koagulan pada air sampel kemudian
menaruh lima beaker glass ke alat Jar Test, pertama alat jar test
dioperasikan pada kecepatan pengaduk 100 rpm selama 60 detik, proses
ini dinamakan koagulasi/pengadukan cepat. Tujuan dari pengadukan cepat
adalah mendestabilisasi partikel koloid dan materi padatan tersuspensi
sehingga memberi kesempatan kepada koagulan bersama dengan material
koloid dan padatan tersuspensi untuk membentuk inti flok. Setelah
pengadukan cepat, kemudian dilanjutkan dengan pengadukan lambat yaitu
dengan mengoperasikan alat jar test pada kecepatan pengaduk 40 rpm
selama 20 menit. Tujuan dari pengadukan lambat adalah stabilisasi partikel
inti flok agar inti flok saling bersentuhan sehingga membentuk flok yang
memiliki massa jenis lebih besar daripada air sehingga dapat mengendap.
Setelah proses flokulasi, selanjutnya adalah mencatat temperatur,
pH, dan kekeruhan air setiap sampel beaker glass pada waktu pengendapan
10, 20, dan 30 menit. Tujuan dari pengamatan indikator-indikator
khususnya indikator kekeruhan tersebut adalah untuk mengetahui rentang
koagulan pada dosis koagulan dan waktu pengendapan flok yang berbedabeda sehingga dapat diturunkan menjadi grafik hubungan antara waktu
pengendapan dengan tingkat kekeruhan air sampel. Hal yang perlu
diperhatikan adalah saat membawa beaker glass ke tempat pengendapan
yaitu menjaga agar beaker glass tidak bergejolak, beaker glass yang
bergejolak dapat mengganggu pengendapan dan pembentukan flok. Pada
saat pengukuran temperatur dan pH menggunakan termometer dan
pHmeter, kondisi air juga perlu diperhatikan agar tidak bergejolak. Pada
saat pengambilan air sampel untuk diperiksa tingkat kekeruhannya, ambil
air sampel di bagian tengah beaker glass secara melayang. Apabila terlalu
dasar maka flok-flok yang terbentuk akan terhisap sedangkan apabila
dipermukaan maka materi tersuspensi yang mengambang akan terhisap ke
pipet. Pada saat pengukuran kekeruhan menggunakan turbidimeter,
bersihkan permukaan luar turbidimeter agar pembacaan kekeruhan dapat
terukur akurat.

Setelah mendapatkan nilai tingkat kekeruhan pada masing-masing


variasi data. Tentukan dosis koagulan yang dianggap optimum dengan
melihat tingkat kekeruhan sampel terendah pada masing-masing waktu
pengendapan. Kemudian buat deret dengan selisih 5 ppm, pada percobaan
ini diperoleh dosis koagulan PAC optimum pada 130 ppm, maka
ditetapkan deret PAC berturut-turut 120, 125, 130, 135, dan 140 ppm.
Setelah menentukan deret dosis koagulan optimum ulangi langkahlangkah pengukuran rentang dosis koagulan.
Analisis Hasil
Praktikum Jar Test ini menggunakan alat Jar Test yang berfungsi
sebagai pengatur kecepatan pengadukan dan lama pengadukan. Kecepatan
pengadukan pada pengadukan pertama adalah 100 rpm selama 60 detik,
dan pengadukan yang kedua adalah 40 rpm selama 20 menit. Pengadukan
pertama dinamakan proses koagulasi (rapid mixing). Tujuan pengadukan
cepat adalah destabilisasi material koloid dan material padatan tersuspensi.
Destabilisasi koloid adalah gaya yang dikenakan mixer kepada air dalam
hal ini koloid secara repulsif sehingga mengurangi potensial zeta
elektrostatis pada partikel koloid. Resultan gaya dari potensial elektrostatis
dan gaya Van der Waals (gaya saling berikatan) menimbulkan jarak antar
partikel koloid sehingga menghasilkan jarak x, jarak inilah yang
menandakan bahwa partikel koloid telah terdestabilisasi. Pada saat setelah
tahap pengadukan cepat flok/koloid yang teramati memiliki bentuk lebih
kecil (fine aggregate). Proses ini berlanjut pada proses pengadukan lambat
(flokulasi). Tujuan pengadukan lambat adalah stabilisasi partikel inti flok
yang sebelumnya telah didestabilisasi agar dengan pengadukan lambat inti
flok saling bersentuhan sehingga membentuk flok yang memiliki massa
jenis lebih besar daripada air sehingga dapat mengendap. Kemudian disaat
pengadukan lambat (flokulasi), partikel koloid tersebut melakukan kontak
dengan ion-ion yang terdapat pada koagulan, ion-ion ini bertujuan untuk
menyatukan kembali koloid-koloid yang sebelumnya telah didestabilisasi,
bahkan membentuk partikel koloid yang berukuran lebih besar. Dengan
pengadukan yang lama pula kontak antara ion-ion koagulan dengan koloid
akan semakin lama sehingga mengasilkan koloid yang lebih besar. Flok
yang berukuran lebih besar ini biasa disebut dengan suprakoloid. Dengan
kata lain dapat disebutkan dimensi partikel koloid setelah pengadukan
cepat cenderung kecil dan halus (fine aggregate) sedangkan setelah
flokulasi cenderung lebih besar dan padat (suprakoloid).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya flok adalah dosis
optimum koagulan, kecepatan pengadukan, dan wakru pengendapan.
Dosis koagulan yang optimum mempercepat pembentukan flok-flok, pada
saat dosis koagulan optimum, ion-ion pada koagulan lebih mudah bereaksi
dengan koloid sehingga membentuk flok-flok yang berukuran lebih besar
dan dapat diendapkan dengan mudah. Selanjutnya adalah kecepatan
pengadukan, semakin lambat kecepatan pengadukan maka semakin
banyak inti-inti flok yang saling bersentuhan, sehingga semakin besar pula
flok yang terbentuk. Kemudian adalah waktu pengendapan, semakin

optimum waktu pengendapan maka jumlah flok yang terbentuk dan


diendapkan akan semakin optimum.
Diantara ketiga jenis koagulan yaitu Al2(SO4)3/tawas, FeCl3, dan
PAC, jenis koagulan yang terbaik ditinjau penurunan kekeruhan yang
dihasilkan dan dosis optimum adalah PAC.

Dosis Koagulan PAC Tahap II


2

Kkeruhan (NTU)

1.5

Menit ke 10

Menit ke 20

0.5

Menit ke 30

0
100120140160
Dosis Koagulan (mg/L

Rentang penurunan kekeruhan terbaik pada saat menggunakan koagulan


PAC berkisar antara 0,42 - 0,85 NTU pada menit ke-30, dengan rincian
dosis dan waktu tunggu terbaik yakni pada saat dosis koagulan 120 mg/L
yaitu 0,43 NTU, dimana kekeruhan awal adalah 113 NTU.

Dosis Koagulan Tawas Tahap 2


2

Kekeruhan NTU

1.5

Menit ke 10

Menit ke 20

0.5

Menit ke 30

0
100

120

140

Dosis Koagulan

Rentang penurunan kekeruhan terbaik pada saat menggunakan koagulan


tawas berkisar antara 0,59 1,05 NTU pada menit ke-30, dengan rincian
dosis dan waktu tunggu terbaik yakni pada saat dosis koagulan 120 mg/L
yaitu 0,59 NTU, dimana kekeruhan awal adalah 113 NTU.

Dosis Koagulan FeCl3 Tahap 2


3
2.5
2

Menit ke 10

Kekeruhan (NTU) 1.5


1

Menit ke 20
Menit ke 30

0.5
0
54 59 64 69
Dosis Koagulan (mg/L)

Rentang penurunan kekeruhan terbaik pada saat menggunakan koagulan


FeCl3 berkisar antara 1,22 2,88 NTU pada menit ke-10, dengan rincian
dosis dan waktu tunggu terbaik yakni pada saat dosis koagulan 60 mg/L
yaitu 1,22 NTU, dimana kekeruhan awal adalah 113 NTU.
Diketahui harga tawas Rp. 4.500,00-/kg, harga PAC Rp. 9.000,00-/kg,
sedangkan FeCl3 Rp. 9.500,00-/kg.
Sehingga dapat disimpulkan apabila ditinjau dari penurunan kekeruhan
yang dihasilkan dan dosis optimum koagulan jenis PAC yang terbaik
dibandingkan koagulan lainnya. Namun secara ekonomis koagulan tawas
lebih baik ketimbang koagulan lainnya, oleh karena itu untuk segi desain
penggunaan koagulan tawas lebih tepat. Selain itu temperatur dan pH
optimum yang dibutuhkan oleh tawas hampir mirip dengan air baku biasa
yaitu pada pH 6,25 6,5 dan temperatur air 28 29oC.
Praktikum Jar Test kali ini dapat dikatakan mewakili keadaan unit
operasi dan proses koagulasi dan flokulasi pada suatu sistem pengolahan
air bersih yang sebenarnya. Bentuk beaker glass yang berbentuk bundar
mewakili bentuk circular basin pada unit pengolahan koagulasi. Bentuk
bundar/circular pada bak koagulasi lebih baik ketimbang bentuk
ractangular dan persegi panjang, sebab pada bak bundar keberadaan death
zone atau permukaan air yang tidak teraerasi tidak ada karena persebaran
putaran yang merata. Waktu dan kecepatan impeller yang digunakan pada
percobaan jar test ini juga mewakili keadaan unit operasi dan proses
koagulasi dan flokulasi pada suatu sistem pengolahan air bersih yang
sebenarnya. Pada unit koagulasi yang sebenarnya waktu pengadukan cepat
berkisar antara 30 detik 90 detik dengan kecepatan gradien 700/s
1000/s , sedangkan pada jar test ini waktu pengadukan berdurasi 60 detik
dengan kecepatan pengadukan 100 rpm. Sedangkan pada unit flokulasi
waktu pengadukan yang sebenarnya berkisar antara 15 menit 30 menit
dan kecepatan pengadukan 5 fps/ft 10 fps/ft, sedangkan pada jar test ini
waktu pengadukan lambat berdurasi 20 menit dengan kecepatan
pengadukan 40 rpm.

Proses pemberian koagulan pada unit pengolahan bermacammacam. Koagulan yang berbentuk kering/bubuk, lump (berbentuk seperti
tanah liat), granular, cair, dan gas. Tawas cenderung lebih baik apabila
dalam bentuk granular, hal ini dikarenakan sifat dari bubuk tawas yang
mudah mencair apabila terkena udara bebas, bentuk granular lebih baik
karena dalam bentuk granular tawas memeiliki kandungan air, kurang
lebih 14%. Hal ini dapat mengurangi risiko mencairnya bubuk tawas
apabila terkena udara bebas. Proses pemberian koagulan (dosing) tawas
dapat melalui cara mekanis yaitu menuangkannya langsung ke basin atau
cara hidrolis yaitu dengan cara mencairkan granular tawas kemudian
menyalurkannya melalui pipa yang menuju basin. Potensi permasalahan
yang dapat terjadi yaitu mencairnya tawas apabila dalam bentuk bubuk
sehingga berdampak pada kerugian material, bubuk tawas yang
berterbangan dapat menimbulkan polusi udara, serta bocornya kantung
penyimpan padatan tawas sehingga berdampak pada kerugian material.
Pengaruh bentuk flok terhadap unit sedimentasi dan unit
pengolahan lumpur dari suatu pengolahan air bersih adalah semakin besar
ukuran flok maka semakin banyak flok-flok yang mengendap, semakin
banyak flok-flok yang pengendap maka semakin banyak jumlah flok yang
berbentuk lumpur yang dapat dikeringkan secara sentrifugal/pressure.
Semakin banyak lumpur yang dikeringkan semakin banyak lumpur yang
bisa dimanfaatkan kembali sebagai sanitary landfill dengan kata lain
efisiensi semakin tinggi.

Analisis Kesalahan
Kesalahan Praktikan:
- Praktikan tidak menjaga koagulan PAC agar tidak terkena udara secara
langsung.
- Praktikan tidak mencuci kuvet turbidimetri.
- Pengukuran pH menggunakan pHmeter dilakukan dengan cepat
sehingga nilai yang terukur tidak akurat.
- Pengukuran temperatur menggunakan termometer dilakukan dengan
cepat sehingga nilai yang terukur tidak akurat.
- Waktu pengadukan lambat melebihi 20 menit sehingga menyalahi
prosedur.
Kesalahan Pembacaan
- Kesalahan pembacaan air sampel 8 liter sebelum membubuhkan
kaolin.
- Kesalahan pada pembacaan pipet saat membubuhkan kaolin.
VII.

Kesimpulan

Pada saat pengadukan cepat, materi koloid terdestabilisasi dan


memberikan kesempatan koloid untuk bereaksi dengan ion-ion
koagulan menghasilkan inti flok.
Pada saat pengaduan lambat, materi flok-flok terstabilisasi dan saling
bersentuhan sehingga membentuk flok yang memiliki massa jenis
lebih besar daripada air sehingga dapat mengendap .
Koagulan yang paling tepat ditinjau dari penurunan kekeruhan dan
dosis optimum serta harga yang terjangkau adalah tawas.
Dosis optimum tawas adalah 120 mg/L pada temperatur 28 oC; pH 6,5 ;
dan pada pengendapan 30 menit.
Percobaan Jar Test dapat digunakan sebagai basis data penentuan
desain unit koagulasi dan flokulasi.

VIII. Referensi
Reynolds, Unit Operation and Process in Environmental Engineering,
Secon Edition, PWS Publishing.
Modul Laboratorium Lingkungan, PSTL UI
http://www.indonetwork.co.id/tradeoffers/Jakarta/all/all/0/tawas.html
(Harga Bahan Kimia Tawas, PAC, dan FeCl3)

Lampiran

Alat Jar Test

Pengambilan Sampel Air