Anda di halaman 1dari 36

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti
opium, yang berasal dari getah Papaver somniferum. Mengandung sekitar 20 jenis
alkaloid diantaranya yaitu morfin, kodein, tebain dan papverin. Analgesik
terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, meskipun
juga menimbulkan efek farmakodinamik yang lainnya ( Farmakologi UI, 2007).
Morfin adalah analgesik yang digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai
berat, terutama yang terkait dengan penyakit neoplastik (tumor), infark miokard
(kematian otot jantung) dan bedah. Selain menghilangkan rasa sakit, morfin juga
meredakan kecemasan yang berhubungan dengan nyeri yang parah. Morfin masih
merupakan salah satu obat yang paling penting dalam penatalaksanaan nyeri.
Heroin juga telah digunakan dalam hal pengobatan. Kematian disebabkan oleh
beberapa hal, yakni penyebab kematian utama adalah overdosis narkoba, trauma
(termasuk bunuh diri dan pembunuhan), serta somatic (infeksi melalui darah)
(Clausen at al, 2009). Usia mempunyai pengaruh langsung terhadap kematian dan
jenis kematian. Ketergantungan obat juga terkait dengan proses penuaan, namun
sampai saat ini bukti nyata hubungan antara usia dengan risiko kematian akibat
ketergantungan opioid belum ditemukan secara nyata. Rata-rata usia pada saat
kematian di kalangan pengguna opioid adalah usia 30 tahun. Studi dari Inggris
telah melaporkan tingginya tingkat fatal-overdosis di antara pengguna heroin
muda, dan mereka memiliki ilmu pengetahuan yang kurang tentang faktor risiko
overdosis dibandingkan dengan pengguna yang lebih tua. Sebaliknya, usia yang
lebih tua juga telah dilaporkan sebagai factor kematian di antara pengguna heroin
( dengan penelitian kohort). Di Australia umur rata-rata kematian di antara lakilaki pengguna opioid yang overdosis meningkat dari 24,5 pada 1979 menjadi 30,6
pada tahun 1995.

1.2 Epidemiologi

Jumlah kejadian overdosis analgesik opioid sebanding dengan jumlah


opioid yang beredar dan diresepkan dimasyarakat. Sejak tahun 1997 hingga
2007 peresepan obat analgesik opioid di Amerika Serikat meningkat 700%,
dan pada kurun waktu yang sama tersebut peresepan metadon meningkat
hingga 1200%. Pada tahun 2010 National Poison Data System yang
menerima dan mencatat kasus-kasus yang berhubungan dengan keracunan
obat melaporkan bahwa lebih dari 107.000 kasus paparan analgesik opioid,
dimana lebih dari 27.500 kasus diantaranya menerima analgesik opioid dari
fasilitas kesehatan. Ada tumpang tindih antara penyakit psikiatri dan sindrom
nyeri kronis. Pasien dengan gangguan kecemasan dan depresi lebih beresiko
mengalami overdosis opioid dibandingkan dengan pasien lain yang tidak
mengalami kondisi tersebut, karena pasien dengan gangguan kecemasan dan
depresi umumnya menerima dosis opioid yang lebih tinggi. Pasien tersebut
juga kemungkinan menerima agen hipnotif-sedatif (penenang), misal
benzodiazepin yang sering beresiko mengalami overdosis dan kemungkinan
lebih jauh menyebabkan kematian. Berdasarkan data yang dihimpun Badan
Narkotika Nasional, jumlah kasus narkoba meningkat dari sebanyak 3.478
kasus pada tahun 2000 menjadi 8.401 pada tahun 2004, atau meningkat ratarata 28,9% pertahun. Jumlah tersangka tindak kejahatan Narkoba pun
meningkat dari 4.955 orang pada tahun 2000 menjadi 11.315 kasus pada
tahun 2004, atau meningkat rata-rata 28,6% pertahun. Hasil penelitian yang
telah

dilakukan

oleh

Puslitbang

Info

BNN,

menyebutkan

jumlah

penyalahguna narkoba yang teratur pakai dan pecandu di Indonesia tahun


2004 sekitar 3,2 juta orang dengan kisaran 2,9 sampai 3,6 juta orang. Data
dari Rumah Sakit ketergantungan obat tahun 1999, 80% pasien berusia antara
16-24 tahun. Angka kematian pecandu 1,5% per tahun.

BAB II. KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1 Pengertian
Opioid adalah obat kimia yang bekerja dengan mengikat reseptor opioid ,
yang ditemukan terutama dalam sistem saraf pusat dan saluran pencernaan. Jadi,
toksisitas Reseptor ini dalam sistem organ mempunyai efek yang menguntungkan
dan juga memiliki efek samping. Efek analgesik opioid disebabkan oleh
penurunan persepsi nyeri, penurunan reaksi terhadap rasa sakit serta
meningkatkan toleransi nyeri. Efek samping opioid termasuk sedasi , depresi
pernafasan , dan sembelit. Opioid dapat menyebabkan supresi batuk, yang dapat
menjadi indikasi untuk administrasi opioid atau efek samping yang tidak
disengaja.

Ketergantungan fisik dapat berkembang dengan administrasi yang

terus menerus opioid, yang mengarah sindrom putus obat.

Opioid dapat

menghasilkan perasaan euforia, dan efek ini, ditambah dengan ketergantungan


fisik, dapat menyebabkan penyalahgunaan opioid oleh banyak orang. Keracunan
akut opioid menyebabkan sindrom yang ditandai dengan koma, bradypnea dan
miosis. Central depresi pernafasan adalah penyebab kematian prinsip yang terkait
dengan keracunan ini.

2.2 Etiologi
Penyebab dari keracunan opium akibat dosis fatal yang dikonsumsi,berikut
tabel dosis opium dan dosis fatal :
Jenis Obat
Kodein
Dekstrometorphan
Heroin
Loperamid (Imodium)
Meperidin (petidin)
Morfin
Naloxone
Opium
(Papaver
somniferum)
Pentazocaine (Talwin)

Dosis Fatal (g)


0,8
0,5
0,2
0,5
1
0,2
0,3
0,3

Dosis Pengobatan (mg)


60
60-120/hari
4
100
10

Faktor resiko yang dapat menyebabkan toksikasi opioid yaitu penyalahgunaan


alkohol, hiperkalkemia, meningitis, strok hemoragik, keracunan obat obatan
lain.
2.3 Patofisiologi
A. Farmakodinamik
1. Sistem saraf
a) Narkosis
Morfin dosis kecil (5-10 mg) menimbulkan euphoria pada
pasien yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah.
Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal sering kali
menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai
mual dan muntah. Morfin menimbulkan pula rasa kantuk, tidak
dapat berkonsentrasi, sukar berpikir, apatis, aktivitas motorik
berkurang, ketajaman penglihatan berkurang dan letargi,
ekstremitas terasa berat, badan terasa panas, muka gatal dan
mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Dalam lingkungan
yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15- 20 mg)
morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas
lambat dan miosis.
b) Analgesia
Opioid menimbulkan analgesia dengan cara berikatan
dengan reseptor opioid yang terutama didapatkan di SSP dan
medulla spinalis yang berperan pada transmisi dan modulasi
nyeri.
c) Eksitasi
Morfin dan opioid lain sering menimbulkan mual dan
muntah, sedangkan delirium dan konvulsi lebih jarang timbul.
d) Miosis
Morfin dan kebanyakan agonis opioid yang bekerja pada
reseptor dan menyebabkan miosis. Miosis ditimbulkan oleh
perangsangan pada segmen otonom inti saraf okulomotor. Pada

intoksikasi morfin, pin point pupils merupakan gejala yang khas.


Dilatasi berlebihan hanya timbul pada stadium akhir intoksikasi
morfin, yaitu jika sudah ada asfiksia. Morfin dalam dosis terapi
mempertinggi daya akomodasi dan menurunkan tekanan
intraokuler, baik pada orang normal maupun pada pasien
glaukoma.
e) Depresi nafas
Morfin menimbulkan

depresi

napas

secara

primer

dan

bersinambung berdasarkan efek langsung terhadap pusat nafas


dibatang otak. Pada dosis kecil morfin sudah menimbulkan
depresi nafas tanpa menyebabkan tidur atau kehilangan
kesadaran. Dosis toksik dapat menyebabkan frekuensi nafas 3-4
kali/menit dan kematian pada keracunan morfin hampir selalu
disebabkan oleh depresi nafas.
f) Mual muntah
Efek emetic morfin terjadi berdasarkan stimulasi langsung
pada emetic trigger zone di area postrema medulla oblongata,
bukan oleh stimulasi pusat emetic sendiri. Dengan dosis terapi
(15 mg morfin sub kutan) pada pasien yang berbaring, jarang
terjadi mual dan muntah, tetapi 40% pasien berobat jalan
mengalami mual dan 15 % pasien mengalami muntah.

2. Saluran Cerna
a) Lambung
Morfin menghambat sekresi HCl, tetapi efek ini lemah.
Selanjutnya

morfin

menyebabkan

pergerakan

lambung

berkurang, tonus bagian antrum meninggi dan motilitasnya


berkurang sedangkan sfingter pylorus berkontraksi. Akibatnya
pergerakan isi lambung ke duodenum diperlambat.
b) Usus halus
Mengurangi sekresi empedu dan pankreas,

dan

memperlambat pencernaan makanan di usus halus. Pada

manusia, morfin mengurangi kontraksi propulsive, meninggikan


tonus dan spasme periodic usus halus.
c) Usus besar
Morfin mengurangi atau menghilangkan gerakan propulsi
usus besar, meninggikan tonus dan menyebabkan spasme usus
besar, akibatnya penerusan isi kolon diperlambat dan tinja
menjadi lebih keras. Daya persepsi korteks telah dipengaruhi
morfin sehingga pasien tidak merasakan kebutuhan untuk
defekasi.
d) Duktus koledokus
Dosis terapi

morfin,

kodein,

dihidromorfinon

dan

metildihidromorfinon menimbulkan peninggian tekanan dalam


duktus koledokus; dan efek ini menetap selama 2 jam atau lebih.
3. Sistem kardiovaskular
Pemberian morfin dosis terapi tidak mempengaruhi tekanan
darah, frekuensi maupun irama denyut jantung. Perubahan yang
terjadi adalah akibat efek depresi pada pusat vagus dan pusat
vasomotor yang baru terjadi pada dosis toksik. Tekanan darah turun
akibat hipoksia pada stadium akhir intoksikasi morfin. Morfin dan
opioid lain melepaskan histamine yang merupakan factor penting
dalam timbulnya hipotensi.
4. Otot polos
Morfin menimbulkan peninggian tonus, amplitudo serta
kontraksi ureter dan kandung kemih.
5. Kulit
Dalam dosis terapi, morfin menyebabkan pelebaran pembuluh
darah kulit, sehingga kulit tampak merah dan terasa panas terutama
di flush area (muka, leher, dan dada bagian atas). Keadaan tersebut
mungkin sebagian disebabkan oleh terjadinya penglepasan histamin
oleh morfin dan seringkali disertai kulit yang berkeringat.
6. Metabolisme
Morfin menyebabkan suhu badan turun akibat aktivitas otot
yang menurun, vasodilatasi perifer dan penghambatan mekanisme
neural di SSP. Kecepatan metabolisme dikurangi oleh morfin.

Hiperglikemia timbul tidak tetap akibat penglepasan adrenalin yang


menyebabkan glikogenolisis. Setelah pemberian morfin volume urin
berkurang, disebabkan merendahnya laju filtrasi glomerulus, alir
darah ginjal, dan penglepasan ADH.3
B. Farmakodinamik
Morfin tidak menembus kulit utuh, tetapi dapat diabsorbsi melalui
kulit luka. Morfin juga dapat menembus mukosa. Dengan kedua cara
pemberian ini absorbs morfin kecil sekali. Morfin dapat diabsorbsi usus,
tetapi efek analgetik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada
efek analgetik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis
yang sama. Mula kerja semua alkaloid opioid setelah suntikan IV sama
cepat, sedangkan setelah suntikan subkutan, absorbsi berbagai alkaloid
opioid berbeda beda. Morfin dapat melintasi sawar uri dan
mempengaruhi janin. Ekresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian
kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. Morfin yang
terkonjugasi ditemukan dalam empedu. Sebagian

sangat kecil

dikeluarkan bersama cairan lambung.


2.4 Tanda & gejala (Manifestasi Klinis)
Tanda dan gejala yang muncul pada pasien yaitu :
1. Penurunan kesadaran (stupor sampai koma)
2. Pupil pinpoint (dilatasi pupil karena anoksia akibat over dosis)
3. Pernapasan kurang dari12x/menit sampai henti napas
4. Ada riwayat pemakaian opioida(needle track sign)
5. Bicara cadel
6. Gangguan atensi atau daya ingat.
7. Perilaku mal adaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara
klinis misalnya euforia awal yang diikuti oleh apatis, disforia,agitasi atau
retardasi psikomotor atau gangguan fungsi sosial dan fungsi pekerjaan
selama atau segera setelah pemakaian opioid.
Gejala putus obat dari ketergantungan opioid adalah:
1.

Kram otot parah dan nyeri tulang

2.

Diare berat,

3.

Kram perut,
7

4.

Rinorea lakrimasipiloereksi,

5.

Menguap,

6.

Demam,

7.

Dilatasi pupil,

8.

hipertensi takikardia

9.

disregulasi temperatur, termasuk pipotermia dan hipertermia.

2.5 Prosedur diagnostik


A. Urine (drug screening)
Untuk mengetahui zat yang dipakai oleh penderita. Urine harus
diperoleh tidak lebih dari 24 jam setelah pemakaian zat terakhir.
Metode pemeriksaan antara lain dengan cara paper chromatography,
Thin Layer Chromatography, Enzym Immunoassay.
B. Rambut
Dengan metode Liquid chromatography menggunakan ultraviolet
dapat dideterminasi adanya opiat pada rambut pecandu heroin (opiat).
Seseorang dikatakan pecandu heroin, bila pada rambutnya ditemukan
kandungan 10 ng heroin/mg rambut.( Japardi I, 1979).
Menurut KEPMENKES RI nomor 350/Menkes/SK/ IV/2008 kriteria
diagnostik untuk ketergantungan zat dan intoksikasi opioida mengacu pada
kriteria yang ada di ICD-X.
2.6 Penatalaksanaan medis
A. Penatalaksanaan medis
Mengingat kecepaatan diagnosis sangat bervariasi dan disisi lain
bahaya keracunan dapat mengancam nyawa maka upaya penatalaksanaan
kasus keracunan ditujukan kepada hal berikut:
1) Penatalaksanaan Kegawatan
Penilaian terhadap tanda vital seperti jalan napas/pernapasan,
sirkulasi dan prnurunan kesadaran harus dilakukan secara cepat dan

tepat sehingga tindakan resusitasi tidak terlambat dimulai. Urutan


resusutasi:
a. A (airways), bebaskan jalan napas dari sumbatan bahan muntahan,
lender, gigi palsu, bila perlu dengan perubahan posisi dan
oropharyngeal airway dan alat penghisap lender.
b. B (breathing), jaga agar pernapasan sestabil mungkin dan bila
memang diperlukan dapat diberikan alat bantu respiratory.
c. C (circulation), tekanan darah dan volume cairan harus dipertahankan
secukupnya dengan pemberian cairan. Dalam keadaan tertentu dapat
diberikan cairan koloid.
Bila terdapat henti jantung lakukan RJP (resusitasi jantung paru).
2) Dekontaminasi
Umumnya zat atau bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap
melalui kulit sehingga dekontaminasi permukaan sangat diperlukan,
sedang dekontaminasi saluran cerna ditujukan agar bahan yang tertelan
akan sedikit diabsorbsi. Biasanya dapat diberikan arang aktif, pencahar,
pemberian obat perangsang muntah dan kumbah lambung.
Beberapa upaya lain untuk mengeluarkan bahan/obat dpat dilakukan
dengan dialisis, akan tetapi kadang-kadang peralatan tersebut tidak
tersedia di rumah sakit (hanya RS tertentu) sehingga pemberian
diuretikum dapat dicoba sebagai tindakan pengganti.
3) Pemberian Antidotum
Tidak semua keracunan ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah
mengatasi sesuai dengan besar masalah. Tetapi antidotum untuk keracunan
opiat baik untuk dewasa maupun anak-anak adalah naloxone.
4) Suportif, Konsultasi dan Rehabilitasi
Terapi suportif, konsultasi dan rehabilitasi medik harus dilihat secara
holistik dan cost effectiveness disesuaikan dengan kondisi masing-masing
pelayanan kesehatan.
1.7 Pengobatan
1. Naloxone : naloxone adalah antidotum dari intoksikasi opiat baik kasus
dewasa maupun anak-anak. Dosis dewasa: 0,4-2,0 mg , dosis dapat
diulang pada kasus berat dengan pemnaduan perbaikan gejala klinis. Dapat

dipertimbangkan naloxone drip bila ada kecurigaan intoksikasi dengan


obat narkotik kerja panjang. Efek naloxone sekitar 2-3 jam.
Bila dalam observasi tidak ada respon setelah pemakaian total 10 mg
(naloxone) diagnosis intoksikasi opiat perlu diulang.
2. Edema paru diobati sesuai dengan antidotumnya yaitu pemberian naloxone
di samoing oksigen dan respirator bila diperlukan
3. Hipotensi diberikan cairan IV yang adekuat, dapat dipertimbangkan
pemberian dopamine dengan dosis 2-5 mcg/KgBB/menit dan dapat
dititrasi bila diperlukan
4. Pasien jangan dicoba untuk muntah (pada intoksikasi oral)
5. Kumbah lambung. Dapat dilakukan segera setelah intoksikasi dengan
opiat oral, awasi jalan napas dengan baik
6. Activated Charcoal dapat diberikan pada intoksikasi peroral dengan
memberikan 240 ml cairan dengan 30 g charcoal. Dapat diberikan sampai:
100 gram
7. Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam IV 5-10 mg dan dapat
diulang bila diperlukan. Monitor tekanan darah dan depresi napas dan bila
ada indikasi dapat dilakukan intubas

BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN


3.1 Pengkajian
3.1.1

Riwayat kesehatan

10

1. Identitas klien
Nama
Tempat/ tgl lahir
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Status perkawinan
Agama
Suku
Pendidikan
Pekerjaan
Tanggal masuk RS
Sumber informasi

: Tn. R
: Jember/ 10 September 1990
: 25 tahun
: Laki-laki
: Jl. Kalimantan 4 Blok C no. 45 RT/RW
01/02 kecamatan Sumbersari
: belum kawin
: Islam
: Jawa
: SMA
: Pengangguran
: 11 Januari 2015
: Keluarga

2. Keluhan Utama
Klien datang keruma sakit dalam keadaan sesak dan kesadaran somnolen.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke rumah sakit dengan temannya. Saat itu pasien ditemukan
dikamar kost an dalam keadaan sesak, dan kesadaran menurun.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keracunan sebelumnya, namun pasien
sempat dibawa kerumah sakit Demam Berdarah sekitar 6 bulan yang lalu.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit menular maupun
penyakit bawaan, namun pasien berasal dari keluarga yang broken home
(bukan riwayat penyakit keluarga, namun salah satu faktor pencetus).

3.1.2

Pengkajian pola gordon


1) Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Pada klien dengan kasus keracuanan NAPZA atau zat adiktif, klien
biasanya berobat ke tempat pelayana terdekat atau puskesmas. klien
biasanya mengkonsumsi obat yang dibeli di warung dekat rumah
apabila mengalami sesak nafas setelah mengkonsumi opiate.

11

2) Pola Nutrisi/metabolik
Pola nutris pada klien dengan kasus keracunan zat adiktif, ditemukan
gangguan metabolik, gejalanya dapat berupa kehilangan nafsu makan,
merasa mual bahkan muntah.
3) Pola eliminasi
Pola eliminasi pada klien dengan kasus keracunan zat adiktif pola BAB
dan BAK akan mengalami gangguan
4) Pola aktivitas dan latihan
Pada klien dengan keracunan zat adiktif akan mengalami kelemahan
otot saat melakukan aktivitas
5) Pola kognitif perseptual
Pada pasien dengan kasus keracunan gas CO, terjadi gejala yang dapat
berupa gangguan pada penglihatan serta ikut serta mengkaji mengenai
perasaan dan penanganan nyeri yang dialaminya dengan menilai skala
nyeri 0-10.
6) Pola istirahat tidur
Pada klien denagn kasus keracunan zat adiktif, istirahat/tidurnya akn
terganggu karena pasien sering kali mengalami nyeri dibagian dada.
7) Pola konsep diri persepsi diri
Bagaimana persepsi keluarga dan klien terhadap pengobatan dan
perawatan yang akan dilakukan.
8) Pola peran dan hubungan
Pada klien dengan kasus keracunan zat adiktif, keluarga dapat selalu
memberi dorongan serta dukungan terhadap kesembuhan klien.
9) Pola seksual dan reproduksi
12

Pada klien dengan keracunan zat adiktif biasanya akan ditemukan


gangguan pada sistem reproduksi seperti kemandulan
10) Pola pertahanan diri
Pada klien dengan kasus keracunan zat adiktif, pola pertahanan dirinya
untuk menangani stress bisa cukup baik sebab ada keluarga dan teman
yang senantiasa mendukungnya.
11) Keyakinan dan nilai
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh, tidak
menghambat

penderita

dalam

melaksanakan

ibadah

tetapi

mempengaruhi pola ibadah penderita.

3.1.3

Pemeriksaan fisik
1. Kepala dan rambut
a. Inspeksi

: kepala dan rambut tampak bersih, rambut

berwarna hitam, tidak ada perdarahan atau peradangan


b. Palpasi

: Tidak ada benjolan pada kepala, rambut kuat dan

tidak mudah rontok dan tidak ada nyeri tekan


2. Mata
a. Inpeksi

: reaksi terhadap cahaya tidak ada, dilatasi pupil,

tidak ada peradangan atau perdarahan


3. Telinga
a. Inspeksi

: bentuk simetris, tidak ada perdarahan atau

peradangan, tidak ada cairan, tidak memakai alat bantu


pendengaran
4. Hidung
a. Inspeksi

: hidung simetris kanan dan kiri, perdarahan dan

peradangan tidak ada, polip tidak ada


5. Mulut dan Gigi

13

a. Inspeksi

: mulut berisi busa/ mucus, mukosa bibir kering,

tampak sianosis, tidak ada perdarahan atau peradangan


6. Leher
a. Inspeksi

: tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada

pembengkakan kelenjar tiroid, kaku kuduk tidak ada


7. Dada
a. Inspeksi

: bentuk simetris, tampak penggunaan otot-

otot bantu dalam bernapas


b. Palpasi

: pernapasan dangkal (32x/ menit)

c. Perkusi

: sonor, tidak ada bunyi abnormal

d. Auskultasi : bunyi napas stridor


8. Abdomen
a. Inspeksi

: Bentuk perut normal, tidak ada lesi atau

benjolan
b. Palpasi

: tidak nyeri tekan, turgor kulit normal

c. Perkusi

: tidak ada pembesaran hepar

d. Auskultasi : peristaltic usus 15x/ mnt


9. Ekstremitas atas dan bawah
a. Inspeksi

: bentuk simetris

b. Palpasi

: tonus otot baik

10. Kulit atau integumen


a. Inspeksi

: kulit tampak sianosis, tidak ada lesi, tidak ada

peradangan
b. Palpasi

: Turgor kulit baik

11. Kuku
a. Inspeksi

: tampak sianosis, kuku pendek, bersih dan rapi

14

3.1.4

Analisa data dan masalah

No
1.

Analisa Data
DS:

teman

Etiologi

pasien

mengatakan,

Vasodilatasi

saya

pembuluh darah

menemukan Tn. R dalam


-

mukosa

n perfusi

TD menurun

bibir

kering
-

Keperawatan
Ganggua
jaringan

keadaan pucat, dan sesak.


DO:

Masalah

Suplai O2 ke otak
Tampak

sianosis

tidak adekuat

pada kuku
-

Tekanan darah 90/

Anoxia/ Hipoksia

30 mmHg
-

Nadi

104x/

Gangguan perfusi
jaringan serebral

pasien

Penyempitan jalan

Pola nafas tidak

nafas

efektif

menit

DS:

teman

mengatakan,

saya

menemukan Tn. R dalam


keadaan sesak.
DO: klien tampak sesak
-

RR 32x/ menit

Tampak

Ketidakseimbangan
O2 dan CO2

Sesak

penggunaan

otot

bantu pernafasan
-

Tampak

Pola nafas tidak

sianosis

efektif

pada kuku

15

Mukosa

bibir

kering

dan

sianosis
3

DS : -

Suplai O2 menurun

DO :
-

Gangguan perfusi
Klien mengalami

jaringan

penurunan
kesadaran
-

Klien

Gangguan

Gangguan proses
berfikir

neurologis di otak

tampak

sering
Gangguan proses

berhalusinasi
4

DS : - pasien terlihat

berfikir
Gangguan

menutup

neurologis

diri

dengan

lingkungan, terlihat saat


dijenguk temannya Tn R

Gangguan persepsi/

menolak

sensori

DO :
-

Abnormal fungsi
Klien

tampak

murung

sistem pada tubuh

dan

cenderung

Harga diri rendah

menarik diri

kronis
Suplai O2 menurun

DS : DO:
-

Harga diri rendah


kronis

Gangguan perfusi
Klien mengalami

jaringan

penurunan
kesadaran karena
kadar

Gangguan

oksigen

neurologis di otak

16

Gangguan
persepsi sensori

menurun
Gangguan proses
6

berfikir
Intoksikasi zat

DS : pasien

adiktif

DO:
-

Berat badan klien

Gangguan saluran

menurun, 46 kg

pencernaan

sebelumnya 50

TD 90/ 30 mmHG

Nadi 104x/ menit

Kekurangan
volume cairan

Mual dan muntah


Kekurangan volume
cairan
Suplai O2 tidak

DS: DO: -Kesadaran menurun

adekuat
Anoxia/ Hipoksia

Risiko cidera

Kesadaran menurun

Risiko cidera
Suplai O2 tidak

DS: DO: Klien tampak lemah

adekuat
Frekuensi
pernafasan
meningkat
Kontraksi otot
pernafasan
Intoleran aktivitas
17

Intoleran
aktivitas

3.1.5

Pathway
Zat Adiktif
Intoksikasi
zat adiktif

Saluran pencernaan

Vasodilatasi
pembuluh darah

Mual /muntah
Tekanan darah
menurun

Kekurangan
volume cairan

Penurunan
kesadaran

Risiko

Suplai O2 tidak
adekuat

Suplai O2 ke otak
tidak adekuat

Gangguan perfusi
jaringan serebral

Suplai O2 ke
jaringan tidak
adekuat
Intoleransi

Gangguan neurologis di
otak

Gangguan
pusat nafas
dibatang otak

Gangguan
proses pikir

Depresi Nafas

disforia

Ketidakefektif
an pola nafas

Ansietas

Gangguan
persepsi/sensori
Abnormal
fungsi sistem
pada tubuh

Harga diri
rendah
18

3.2 Diagnosa Keperawatan (NANDA)


1

Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan suplai O2 ke otak


tidak adekuat

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan depresi nafas

Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan neurologis di otak

Ansietas berhubungan dengan disforia akibat obat

Harga diri rendah kronis berhubungan dengan abnormal fungsi sistem


pada tubuh

Gangguan persepsi/sensori berhubungan dengan gangguan neurologis di


otak

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat


muntah

Risiko cidera berhubungan dengan penurunan kesadaran

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara


suplai dan kebutuhan oksigen

3.3 Perencanaan Keperawatan (NOC)


Diagnosa
Gangguan perfusi jaringan NOC

NOC

serebral berhubungan dengan

Circulation status

suplai O2 ke otak tidak

Tissue prefussion : cerebral

adekuat

Kriteria hasil:
a

Mendeonstrasikan status sirkulasi yang


ditandai dengan

Tekanan sistole dan diastole dalam


renang yang diharapkan

Tidak ada ortostatikhihipertensi

Tidak ada tanda-tanda peningkatan


intrakranial (tidak lebih dari 15

19

mmHg)
b

Mendemonstrasikan

kemampuan

kognitif yang ditandai dengan

Berkomunikasi dengan jelas dan


sesuai kemampuannya

Menunjukan perhatian, konsentrasi


dan orientasi

Membuat keputusan dengan benar

Menunjukan fungsi sensori motori


creanial

yang

utuh

tingkat

kesadaran membaik

Tidak ada gerakan involunter

Ketidakefektifan pola nafas NOC


berhubungan dengan depresi

Resprastory status : Ventilation

nafas

Resprastory status : Airway Patency

Vital sign status

Kriteria hasil:
a

Menunjukan jalan nafas yang paten


(klien tidak merasa tercekik, irama
nafas,

frekuensi

pernafasan

dalam

rentang normal tidak ada suara nafas


abnormal )
b

Tanda-tanda vital dalam rentang norma


(tekanan darah, nadi, pernafasan )

Gangguan
berhubungan

proses

pikir NOC
dengan

gangguan neurologis di otak

Knowledge : disease process

Knowledge : Health behaviour

Kriteria hasil:
a

Mampu melaksanakan proses mental


yang kompleks

20

Mampu berfokus pada suatu stimulus


tertentu

Tidak menunjukan halusianasi atau


waham

Ansietas

berhubungan NOC

dengan disforia akibat obat

Anxiety self-Control

Anxiety level

Coping

Kriteria hasil:
a

Klien mampu mengidentifikasi dan


mengungkapkan gejala cemas

Mengidentifikasi, mengungkapkan dan


menunjukan teknik untuk mengontrol
cemas

Vital sign dalam batas normal

Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa


tubuh dan tingkat aktivitas menunjukan
berkurangnya kecemasan

Harga diri rendah kronis NOC


berhubungan

dengan

Coping

abnormal fungsi sistem pada

Anxiety level

tubuh

Kriteria hasil:
a

Tingkat persepsi positif tentang situasi


hidup saat ini

Penilaian

diri

tentang

penghargaan

terhadap diri
c

Melatih prilaku untuk meningkatkan


persepsi diri

Gangguan
berhubungan

persepsi/sensori NOC
dengan

gangguan neurologis di otak

Body image

Self eestem
21

Kriteria hasil:
a Memperlihatkan

pengaturan

pikiran

yang logis
b

Mengompensasi defisit sensori dengan


mengoptimalkan

indera

yang

tidak

rusak
Kekurangan volume cairan NOC
berhubungan
kehilangan

cairan

dengan

Fluid balance

akibat

Hydraction

Nutrional Status : food and flid intake

muntah

Kriteria Hasil
a

Mempertahankan urine output sesuai


dengan usia dan BB, BJ urien normal,
HT normal

Tekanan sarah, nadi, suhutubuh dalam


batas normal

Tidak

ada

tanda-tanda

dehidrasi

elastisitas turgor kulit baik, membran


mukosa lembab, tidak ada rasa haus
yang berlebihan
Risiko cidera berhubungan NOC
dengan penurunan kesadaran

Risk Control

Kriteria Hasil
a

Klien terbebas dari cidera

Klien

mampu

menjelasskan

cara/matode untk mencegah cedera


c

Klien mampu menjlaskan faktor risiko


dari lingkungan/perilaku personal

Mampu memodifikasi gaya hidup untuk


mencegah injury

Mampu mengenali perubahan status


kesehatan
22

Intoleransi

aktivitas NOC

berhubungan dengan ketidak

Energy conservation

seimbangan antara suplai dan

Activity tolerance

kebutuhan oksigen

Self Care :ADLs

Kriteria Hasil
a

Berpartisipasi dalam aktifitaas fisik


tanpa

disertai

peningkatan

tekanan

darah, nadi dan RR


b

Mampu melakukan aktivitas sehari-hari


(ADLs) secara mandiri

Tanda-tanda vital normal

Mampu berpindah dengan atau tanpa


bantuan alat

Status kardiopulmonari adekuat

Sirkulasi status baik

Status respirasi, pertukaran gas dan


ventilasi adekuat

23

3.4 Intervensi keperwatan (NIC)

24

No
1

Diagnosa
NIC
Gangguan
perfusi a Pertahankan tirah baring dengan
jaringan

serebral

posisi kepala datar dan pantau tanda

berhubungan

dengan

vital sesuai indikasi setelah

suplai O2 ke otak tidak


adekuat

dilakukan pungsi lumbal.


Pantau/catat status neurologis,

seperti GCS.
Pantau frekuensi/irama jantung dan

denyut jantung.
Pantau pernapasan, catat pola,

irama pernapasan dan frekuensi


pernapsan.
e

Pantau GDA.

Berikan terapi oksigen sesuai


kebutuhan.
Berikan obat sesuai indikasi seperti :

Steroid; deksametason,
2

Ketidakefektifan pola

metilprednison (medrol).
a Buka jalan nafas, gunakan teknik

nafas berhubungan
dengan depresi nafas

chin lift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan

pasien

untuk

memaksimalkan ventilasi
Identifikasi

pasien

perlunya

pemasangan alat nafas buatan


Atur

intake

untuk

cairan

mengoptimalkan keseimbangan

Gangguan proses pikir

Monitor respirasi dan status O2

Pertahankan alat nafas yang paten

Pertahankan posisi pasien

Monitor TD, nadi, suhu dan RR

Identifikasi penyebab dari perubahan

vital sign
a Minimalkan ketakutan kekhawatiran

berhubungan dengan
gangguan neurologis di

dan ketidaknyamanan
b

otak

Sediakan lingkungan terapeutik


secra aman

Beri informasi dan dukungan


kepada pasien

25

Ansietas berhubungan
dengan

Bantu pasien meningkatkan

penilaian pribadi tentang harha diri


a Persiapkan pasien mengahadapi
kemungkinan krisis perkembangan

1.5 Evaluasi Keperawatan (SOAP)


No
1

Gangguan

Diagnosa
perfusi

Evaluasi
jaringan S: -

serebral berhubungan dengan O:- GCS: E1V1M3


suplai

O2

ke

otak

tidak

Terpasang

adekuat

Oksigen

L/menit
-

RR:

24x/menit,

irama

normal
-

Nadi: 80x/menit

A: Masalah belum teratasi


2

P:Intervensi dilanjutkan.
Ketidakefektifan pola nafas S: Klien mengatakan sesaknya
berhubungan dengan depresi

sudah mulai berkurang.

nafas

O: - RR: 24x/menit
-

Terpasang O2 3 L/menit

A: Masalah teratasi.
3

Gangguan proses pikir

P:Intervensi dihentikan.
S: klien menyatakan nyeri

berhubungan dengan

berkurang.

gangguan neurologis di otak

O:
-

Skala

nyeri

berkurang

menjadi 3 dari skala nyeri


(1-5)
-

TTV:
TD: 130/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
Suhu: 37,5oC
RR: 24x/menit

A: Masalah belum teratasi


4

P: Intervensi dilanjutkan
S: pasien mengatakaniya sus,

Ansietas berhubungan dengan


disforia akibat obat

saya faham bahaya


26

menyalahgunakan obatobat. Saya tidak akan


mengulanginya
O: pasien tampak tidak
cemas
A: Masalah teratasi
sepenuhnya
5

P: Intervensi dihentikan
S: keluarga pasien

Harga diri rendah kronis


berhubungan

dengan

mengatakan akhir-akhir

abnormal fungsi sistem pada

ini banyak merubah

tubuh

sikapnya menjadi lebih baik

O: pasien kadang-kadang
menujukan
penyesuaian psikologis
A: Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan
S: keluarga pasien terkadang

Gangguan persepsi/sensori
berhubungan

dengan

gangguan neurologis di otak

saya tidak mngerti apa yang


dikatakannya sus
O: pasien masih kesulitan
berbicara (cadel)
A: Masalah teratasi sebagian

Kekurangan

volume

berhubungan
kehilangan

P: Intervensi dilanjutkan
cairan S: keluarga pasien pasien
dengan

cairan

akibat

muntah

sudah tidak muntah lagi


sus
O: sataus volume cairan
pasien adekuat atau
volume cairan
seimbang dengan

27

kebutuhan tubuh
A: Masalah teratasi
8

Risiko

cidera

P: Intervensi dihentikan
berhubungan S: keluarga pasien pasien

dengan penurunan kesadaran

sudah sadar dan bisa


berespon normal sus
O: kesadaran pasien
meningkat
A: Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan
aktivitas S: keluarga pasien pasien

Intoleransi

berhubungan dengan ketidak

masih belum bisa

seimbangan antara suplai dan

beraktivitas seperti biasa

kebutuhan oksigen

sus
O: pasien masih
meggunakan bantuan
aktivitas seperti kursi
roda , krek
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan

BAB IV. PEMBAHASAN


4.1 Algoritma

Sebelum gawat darurat


(ED)

28

Mengamati selama 1 4 jam sebelum keluar dari ED


Menilai
untukdengan
tandaalkohol,
- tanda
overdosis
opioid
Intoksikasi
opioid
berhubungan
Ulangi
penggunaa
naloxone
sampai
pasien merespon
Respon yang
baikyang
untuk
dosis
awal
naloxone
Saat
gawat darurat
Memulai
, 4 mg IV, IM atau SC oleh para medis
opioidada
dengan
durasinaloxone
lama (metadon)
Tidak
komplikasi
pernapasan

Tanda-tanda edema paru-paru,


hypoventilation, aspirasi
radang paru-paru dan mengantuk

Mengamati hingga 12-24 jam


Penerimaan rawat inap atau ICU
untuk lebih lanjut evaluasi dan
dukungan pernafasan

Sumber : (A. Fareed dkk, 2011)


4.2 Pembahasan terkait isi jurnal
Jurnal yang berjudul Illicit Opioid Intoxication: Diagnosis and Treatment
menjelaskan tentang penyalahgunaan narkoba jenis opoid dan pengobatan akibat
overdosis opioid. Opioid adalah obat kimia yang bekerja dengan mengikat
reseptor opioid , yang ditemukan terutama dalam sistem saraf pusat dan saluran
pencernaan. Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan
dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri paska

29

pembedahan. Namun pada saat ini penggunaan opioid disalahgunakan yaitu


dengan pemalsuan resep dokter. The Drug Abuse Warning Network (DAWN)
melaporkan terjadi peningkatan gawat darurat (ED) penggunaan opioid analgesik
sebesar 111% dari 144.600 pada tahun 2004 menjadi 305.900 pada tahun 2008.
Mekanisme aksi, Metabolisme dan profil farmakokinamik
Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf
pusat dan jaringan lain. Terdapat empat tipe reseptor opioid yaitu Mu() ,
Kappa(), Delta(), Sigma(). Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung
pada ikatan dengan reseptor, afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif. Aktivasi
reseptor opiat menghambat presinaptik dan respon postsinaptik terhadap
neurotransmitter ekstatori (seperti asetilkolin) dari neuron nosiseptif. Reseptor
reseptor opioid ini normalnya distimulasi oleh peptida endogen (endorphins,
enkephalins, dan dynorphins) yang berperan penting dalam merespon rangsangan
terhadap nyeri, pengaturan suhu tubuh, respirasi, aktivitas endokrin dan
gastointestinal, suasana hati, dan motivasi. Opioid dapat diklasifikasikan menjadi
tiga yaitu agonis, parsial agonis dan antagonis. Sebagian besar opioid dengan
potensi kecanduan itu terjadi pada klasifikasi agonis pada reseptor Mu() seperti
morfin, meferidin,dan fentanil.

Obat-obatan tersebut mengaktifkan sistem

dopaminergik mesocorticolimbic melalui Mu() agonis, reseptor Mu()

ini

dapat menyebabkan euforia, penguatan positif dan menjadikan penggunanya


kecanduan. Interaksi antara lingkungan dan individu menjadi peran penting untuk
penyalahgunaan opioid dan mendatangkan pemicu untuk penggunaan narkoba.
Dengan kata lain, neurobiologic mekanisme tindakan opioid dapat mewakili
interaksi antara lingkungan sebagai pemicu untuk penggunaan narkoba dan
individu sebagai subjek yang akan mengalami ketergantungan dalam menanggapi
isyarat lingkungan.
Opioid diklasifikasikan ke dalam subkelas yaitu alami dan sintetik. Morfin
adalah salah satu dari opioid sintetis yang dapat terdeteksi dalam urin dengan tes
skrening immunoassay. Morfin adalah opioid jenis sintetis yang penggunaannya
terlarang kecuali untuk pengobatan (resep dokter). Durasi heroin biasanya pendek,
tapi penghapusan metaboliknya (morfin) tergantung pada rute penggunaannya,

30

dosis obat, berat badan, waktu berlalu sejak terakhir dosis, dan farmakokinetik
antar individu. Metabolisme opioid yang durasinya singkat seperti oxycodone dan
xanax itu berbeda dari heroin . Tidak seperti morfin dan hydromorphone,
oxycodone dimetabolisme oleh sitokrom P450 sistem enzim di dalam hati,
membuatnya rentan terhadap interaksi obat. Beberapa orang yang metabolismenya
cepat mengakibatkan efek analgesik berkurang tetapi efek samping yang
meningkat,

sementara

yang

metabolisme

lambat

dapat

mengakibatkan

peningkatan toksisitas tanpa peningkatan analgesia. Oxycodone dan metabolit nya


terutama diekskresikan dalam urin dan keringat. Metadon adalah opioid jenis
sintetis dengan durasi panjang. Metadon secara ekstensif dimetabolisme oleh
sitokrom P450 3A4 sistem enzim didalam tubuh terutama di hati tetapi juga oleh
usus. Metadon ini diidentifikasi dalam urin dan tinja.
Heroin

merupakan

jenis

opioid

yang

sudah

jelas

dilarang

pengonsumsiannya. Mengendus, merokok dan IV menjadi rute umum untuk


penggunaan heroin. Baru-baru ini epidemi muncul di Amerika Serikat
penggunaan opioid diresepkan secara non medis. Telah dilaporkan rute baru
penggunaan opioid, hal ini untuk mencapai euforia oleh penggunanya. Rute ini
termasuk mengunyah, menghancurkan dan penggunaan oxycodone lepas
terkendali (oxycontin) melalui IV, menjilati serbuknya dan konsumsi oral yang
diresepkan secara non medis.

Tanda dan gejala overdosis


Tanda tanda keracunan dan overdosis opioid adalah penurunan tingkat
kesadaran yang bisa berkisar dari mengantuk ke keadaan stuporous ke koma.
Tanda tanda lainnya penekanan sistem pernapasan (seperti tercekik), Sianosis,
hipotensi, bradikardia, dan hipotermia. Kematian dapat terjadi biasanya dengan
tanda penekanan (depresi) pernapasan. Tanda dan gejala yang sering dilaporan
dari overdosis opioid adalah kondisi paru seperti edema paru, radang paru dan

31

komplikasi seperti rhadomyolysis akibat dari berkepanjangan tekanan pada otototot selama koma dan gagal ginjal dari lisis jaringan otot. Selain kerusakan pada
paru paru juga ada laporan mengenai gangguan kardiovaskuler dan gangguan
kognitif akibat overdosis opioid. Tanda dan gejala untuk jenis opioid yang
durasinya pendek seperti heroin biasanya menunjukkan tanda-tanda dan gejala
penarikan (withdrawal) dalam 8 12 jam setelah dosis terakhir. Jika tidak diobati,
mencapai puncaknya dalam 36-72 jam dan biasanya substansial reda dalam 5 hari.
Jenis durasi yang lama seperti metadon, penarikan (withdrawal) dapat mencapai
puncak antara 5-6 hari, dan sindrom akan tidak biasanya mereda untuk 14-21 hari.
Warner Smith et al juga melaporkan overdosis yang terkait termasuk dapat
menyebabka neuropati periferal, muntah, kelumpuhan tungkai, infeksi dada dan
kejang. Pemakaian morfin jangka panjang dapat menimbulkan ketergantungan
baik secara fisik maupun psikis. Dalam kedaan ketergantungan tersebut apabila
tidak diberikan morfin maka akan menimbulkan gejala gejala (withdrawal) (putus
obat). Gejala ini juga akan muncul apabila diberikan antagonis reseptor dimana
morfin berikatan, seperti nalokson, nalorfin, naltrekson atau levalorfan. Tandatanda terjadinya withdrawal

meliputi demam hebat, peningkatan sekret

hidung dan air mata, kedinginan, tegaknya bulu roma dan nyeri otot,
penurunan nafsu makan, daya tahan tubuh dan berat badan. Pada keadaan
yang parah hilangnya cairan tubuh dalam jumlah yang cukup besar mungkin
terjadi akibat hipertermia, hiperventilasi, emesis dan diare. Sedangkan gejala
psikologis bisa meliputi gangguan tidur, cemas, gemetar, berkeringat dan
halusinasi.
Diagnosis intoksikasi dan overdosis
Obat obatan jenis opioid memiliki distribusi yang luas dan dapat
diidentifikasi di hampir semua bagian tubuh dan semua cairan tubuh. Obat ini
biasanya di metabolisme oleh hati, memproduksi metabolit yang sering dan lebih
tahan lama. Beberapa tes laboratorium dapat mengidentifikasi adanya opioid atau
metabolit obat tersebut dalam darah, kencing, rambut atau air liur. Tes skrining
immunoassay yang lebih murah biasanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan

32

opiat (turunan dari opium poppy) atau metabolit opioid dalam darah, kencing,
rambut atau air liur. Adanya opioid atau metabolit opioid dapat dideteksi dalam
darah hingga 3 12 jam, dalam urin hingga 1 3 hari, rambut hingga 7 90 hari,
dan di air liur hingga 3-24 jam. Kromatografi gas atau spektrometri massa adalah
tes laboratorium lebih mahal yang tersedia untuk konfirmasi hasil atau deteksi
sintetis opioid.
Pengobatan dan pencegahan intoksikasi dan overdosis
1. Naloxone adalah pengobatan standar untuk seseorang yang mengalami
overdosis opioid. Metabolit nya aktif, 6-alpha-naloxol memiliki umur paruh
lebih banyak daripada naloxone. Itu biasanya diberikan intravena (IV),
subkutan (SC) atau injeksi intramuskular (IM). Beberapa laporan menunjukkan
bahwa administrasi IM dapat memperpanjang efek naloxone. Hal ini biasanya
dikelola oleh paramedis sebelum pasien ke gawat darurat. Terdapat bukti
bahwa efek antagonis depresan pernapasan morfin selama enam jam. Dosis
awal ini biasanya 0.4 mg IV/SC/IM. Dapat diulang sampai pasien merespon.
Beberapa studi melaporkan total dosis berkisar antara 2 6 mg tergantung pada
dosis opioid dikonsumsi . Faktor-faktor lain juga dapat dikaitkan dengan
kebutuhan untuk dosis yang lebih tinggi dari naloxone untuk resusitasi pasien
overdosis seperti seiring penggunaan alkohol dengan opioid. Namun perlu
dilakukan pertimbangan dalam pemberian naloxone ini. Hal itu tergantung
pada janis opoid yang dikonsumsi, contohnya terjadinya perbedaan pemberian
naloxone kepada orang yang mengonsumsi opioid jenis heroin (singkat) dan
metadon (lama). Pertimbangan dalam hal menjadi faktor penting perlu tidaknya
dilakukan rawat inap di rumah sakit. Tanda-tanda edema paru, hipoventilasi,
pneumonia dan mengantuk mungkin memerlukan waktu yang cukup lama
sekita 12-24 jam dan dalam beberapa kasus rawat inap maupun unit perawatan
intensif (ICU). Boy et al melaporkan kasus baru bahwa pasien dengan overdosi
heroin dapat rawat jalan setelah perawatan di rumah sakit dengan
mengonsumsi obat naloxone.

33

2. Mengonsumsi naltrexone juga dapat mengurangi ketergantungan opioid.


Naltrexone adalah antagonis reseptor opioid yang diresepkan untuk mengobati
ketergantungan opiat. Ini juga telah berhasil digunakan dalam pengobatan
ketergantungan alkohol. Seorang pengguna narkoba tidak akan merasakan efek
euforia, kenyamanan atau kesejahteraan yang terkait dengan obat ini dan
diantisipasi bahwa pengguna tidak akan memiliki keinginan untuk mengambil
obat opiat. Naltrexone mengganggu jalur di otak yang melepaskan bahan kimia
seperti endorfin dan telah terbukti efektif dalam mengurangi frekuensi dan
tingkat keparahan kambuh.
3. Beberapa negara mengembangkan program anti-narkoba untuk mengurangi
peningkatan jumlah mortalitas akibat narkoba. Program ini sudah terbukti di
Chicago dengan mendistribusikan naloxone kit. Program ini telah membantu
setidaknya 1.000 pecandu opioid sejak tahun 2001.

BAB V. PENUTUP
Kesimpulan
Napza dapat dikelompokkan dalam golongan Opiat dan Non Opiat. Pada
tahun 2003 dari seluruh pengguna napza berjenis kelamin laki-laki, hampir
separuhnya (40,6 %) adalah pengguna jenis opiat, begitu pula dengan wanita yaitu
45,2 persen, sisanya adalah golongan non opiat lainnya seperti kokain dan

34

kannabis. Dengan melihat prevalensi yang cukup tinggi pada penyalahgunaan


opiat, maka penting untuk dibahas lebih mendalam mengenai penyalahgunaan
opiat sehingga dapat menimbulkan adiksi. Adiksi opiat adalah gangguan sistem
syaraf pusat yang disebabkan oleh penggunaan opiat yang berkelanjutan. Opioid
atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum,
yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin. Ada banyak
alasan mengapa orang menggunakan Napza; pada awalnya ada yang hanya
mencoba-coba

atau

sekedar

ingin

tahu;

lama-kelamaan

mengalami

ketergantungan;sehingga akan muncul berbagai masalah dan persoalan. Persoalan


yang dapat muncul antara lain : Kepribadian adiksi, terinfeksi berbagai penyakit
(HIV/AIDS, Hepatitis B, C); reaksi putus obat (sakaw), pengobatan yang mahal,
overdosis (OD), dan lain - lain.
Saran
Sebagai petugas layanan kesehatan, perawat berperan sebagai mata rantai
akhir dalam terapi atau pemberian obat kepada klien. Pengetahuan tentang obatobatan tidak hanya dipelajari oleh bidang farmasi saja, perawat juga diharuskan
mempelajarinya karena mengingat peran pentingnya dalam pemberian terapi obat
pada klien. Dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan, perawat harus
mampu memberi terapi atau obat-obatan dengan dosis dan indikasi yang sesuai
dengan pasien. Oleh karena itu, perawat harus memahami dan mampu
mengidentifikasi kefektifan kerja obat serta efek-efek yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
A. Fareed,dkk. 2011.Illicit Opioid Intoxication: Diagnosis and Treatment.Emory
University School of Medice. USA [Jurnal Utama]
Gono, Joyo Nur Suryanto.(Tanpa Tahun) Narkoba: Bahaya Penyalahgunaan Dan
Pencegahannya. [Artikel]

35

Gunawan, Sulistia G dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Departemen


Farmakologi dan Terapeutik. Fakultas

Kedokteran Universitas

Indonesia. Jakarta : UI Fakultas Kedokteran


Japardi, Iskandar. (Tanpa Tahun). Efek Neurologis Pada Penggunaan Heroin
(Putauw). Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. [Jurnal
Pendukung]
Junaidi Khotib,dkk.(Tanpa Tahun) . Prospek Tipikal Antagonis Dopamin Sebagai
Penanggulangan

Ketergantungan

Morfin.

Fakultas

Farmasi

Universitas Airlangga. Surabaya [Jurnal Pendukung]


Katzung, Betram G. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 10, Bagian
Farmakologi. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta :
EGC
Mulyono I dkk. 2000. Opiat reseptor, efek klinis dan toleransi, Aneastesiologi
Indonesia vol 1 No.1. Jakarta.
Nurarif, Amin Huda & Kusuma , Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta :
Mediaction Publishing
Santoso, Topo dkk. 2000. Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja : Suatu
Perspektif. [Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1]
Internet
http://alcoholrehab.com/drug-addiction-treatment/naltrexone-implant-for-opiatedependence/ (diakses pada tanggal 18 Maret 2015 pukul 20.00)
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi9.pdf (diakses pada
tanggal 18 Maret 2015 pukul 16.00).
http://www.dexamedica.com/sites/default/files/publication_upload07120393771300
1196646105okt-nov2007%20new.pdf
Maret 2015 pukul 14.00).

36

(diakses pada tanggal 18