Anda di halaman 1dari 23

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM RESPIRASI PADA ANAK

MAKALAH

Oleh
Kelompok 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM RESPIRASI PADA ANAK

MAKALAH
disusungunamelengkapitugasmatakuliah Keperawatan Klinik II B dengan dosen
pengampuNs. Ratna Sari Hardiani,M.Kep

Oleh:
Kelompok 1
Chairun Nisak

NIM 132310101014

Nurwahidah

NIM 132310101026

Rizky Bella Mulyaningsasi NIM 132310101043


Talitha Zhafirah

NIM 132310101055

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas seyang telah melimpahkan berkah,
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Pemeriksaan Fisik Sisem Respirasi Pada Anak. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik II B. Kami berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya dalam
pembelajaran Keperawatan Klinik II B mengenai pemriksaan fisik sistem respirasi
pada anak.

Jember, September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Prakata ......................................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................... ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2
1.4 Implikasi Keperawatan ........................................................................... 2
BAB 2. PENDAHULUAN
2.1 Pengertian Pemeriksaan Fisik ................................................................. 3
2.2 Tujuan Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 4
2.3 Manfaat Pemeriksaan .............................................................................. 5
2.4 Macam-macam Pemeriksaan Fisik ......................................................... 5
2.5 Teknik Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 7
2.6 Analisa Hasil Pemeriksaan Fisik ...........................................................13
BAB 3. PENUTUP
1. Kesimpulan ........................................................................................... 19
2. Saran ..................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. iii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem pernapasan berfungsi untuk mempertahankan pertukaran oksigen (O 2)
dan karbondioksida (CO2) dalam paru-paru dan jaringan juga untuk mengatur
keseimbangan asam dan basa. Setiap perubahan dalam sistem pernapasan akan
mempengaruhi sistem tubuh yang lainnya. Pada kasus penyakit pernapasan
kronis, perubahan status pulmonal terjadi secara lambat sehingga memungkinkan
tubuh klien untuk beradaptasi terhadap hipoksia. Tetapi pada perubahan
pernapasan akut seperti pneumotoraks atau pneumonia aspirasi, hipoksia terjadi
secara mendadak dan tubuh tidak mempunyai waktu beradaptasi, hal ini dapat
menyebabkan kematian.
Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan pernapasan, perawat perlu
melakukan intepretasi dan pemeriksaan dengan berbagai prosedur. Status
kesehatan klien dengan gangguan pernapasan perlu dilakukan wawancara,
pemeriksaan fisik dan tindakan kolaboratif dalam pemeriksaan penunjang untuk
memaksimalkan data yang dikumpulkan tanpa

harus menambah

distress

pernapasan klien. Kemudian pemeriksaan yang sesuai dengan tingkat distress


pernapasan yang klien alami.
Dalam pengkajian riwayat sehat sakit klien diperlukan kumpulan data-data
klien. Apabila data-data yang telah kita kaji dari hasil pemeriksaan fisik telah
didapatkan, maka kita dapat mengetahui apakah keadaan klien sedang dalam
keadaan normal atau abnormal. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan

membahas mengenai berbagai prosedur pelaksanaan pemeriksaan fisik agar


pembaca dapat memahami dan mengetahui lebih lanjut mengenai pemeriksaan
fisik pada sistem gangguan pernafasan anak.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian pemeriksaan fisik?
1.2.2 Apa tujuan pemeriksaan fisik?
1.2.3 Apa saja macam-macam pemeriksaan fisik?
1.2.4 Bagaimana tekhnik pemeriksaan fisik yang tepat pada sistem respirasi anak?
1.2.5 Bagaimana analisa hasil pemeriksaaan fisik pada sistem respirasi anak?
1.3 Tujuan
1.3.1 Memahami dengan benar definisi pemeriksaan fisik.
1.3.2 Mengetahui tujuan dilakukan pemeriksaan fisik.
1.3.3 Mengetahui macam-macam pemeriksaan fisik.
1.3.4 Mengetahui tekhnik yang tepat saat melakukan pemeriksaan fisik.
1.3.5 Memahami keadaan normal dan tidak dari analisa hasil pemeriksaan fisik
pada sistem respirasi anak.

1.4 Implikasi keperawatan


Perlu adanya tindakan perawat memperbanyak dalam pemberian asupan
cairan ketika klien mengalami gangguan pernapasan, sehingga akan kesulitan
dalam pembentukan sputum atau sangat banyak dalam pembentukan sputum, hal
ini menyebabkan pklien dapat mengalami dehidrasi. Untuk latihan pernapasan
ajarkan individu untuk menggunakan botol tiup atau spidometer intensif setiap
jam saat bangun pada neuromuskular berat, ada baiknya individu dibangunkan
selama malam hari. Bantu untuk reposisi, mengubah posisi tubuh dengan sering
dari satu sisi ke sisi yang lainnya, hal ini untuk mempermudah sirkulasi
pernapasan pada klien.

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang tenaga kesehatan
dalam memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit.
Selain itu, Pemeriksaan fisik merupakan peninjauan dari ujung rambut sampai
ujung kaki pada setiap sistem tubuh yang memberikan informasi objektif
tentang klien dan memungkinkan perawat untuk membuat penilaian klinis.
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau
hanya bagian tertentu yang dianggap perlu untuk memperoleh data yang
sistematis dan komprehensif, memastikan atau membuktikan hasil anamnesa,
menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat
bagi klien (Dewi Sartika, 2010).
Pemeriksaan fisik pada sistem pernapasan merupakan salah satu usaha
yang dilakukan perawat dalam menggali permasalahan sistem pernapasan
dari klien. Pemeriksaan fisik dalam keperawatan menggunakan pendekatan
inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi. Pada umumnya, pemeriksaan fisik
dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada kaki.
Pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosa fisik yang secara
umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya.
Untuk mendapatkan data yang akurat, sebelum pemeriksaan fisik dilakukan
pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosial ekonomi, dan lainlain. Dengan hal ini, dimungkinkan pengkajian yang dilakukan bersifat fokus,
sehingga tidak menimbulkan masalah dalam mengambil kesimpulan terhadap
masalah yang ditemukan. Fokus pengkajian pemeriksaan fisik keperawatan
adalah pada kemampuan fungsional klien. Tahap pengumpulan data adalah
pada pemeriksaan fisik klien. Pemeriksaan fisik dalam keperawatan
digunakan untuk mendapatkan data yang objektif dari riwayat keperawatan
klien. Hal tersebut sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara.Hasil
pemeriksaan fisik biasanya akan dicatat dalamrekam medis. Rekam medis
dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan
perencanaan perawatan pasien.Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri

dari penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik.
Dalam prakteknya, tanda-tanda vital ataupemeriksaan suhu, denyut nadi dan
tekanan darah selalu dilakukan pertama kali. Dalam keakuratannya,
pemeriksaan fisik dapat mempengaruhi pilihan maupun respon terhadap
terapi yang diterima klien.
2.2 Tujuan Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik, antara lain :
1. Sebagai skrinning rutin untuk meningkatkan perilaku sejahtera
2. Sebagai tindakan kesehatan preventif
3. Penerimaan di Rumah Sakit da fasilitas perawatan jangka panjang
Tenaga medis dalam tujuannya, perawat melakukan pemeriksaan fisik
memiliki tujuan-tujuan tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan
klien. Tujuan tersebut meliputi hal-hal berikut ini:
1.
2.
3.
4.

Mengetahui kondisi sistem respirasi normal atau tidak


Mengetahui adanya gangguan pada sistem respirasi
Menentukan rencana yindakan keperawatan yang tepat
Sebagai skrining rutin untuk meningkatkan perilaku

sejahtera
5. Sebagai tindakan kesehatan preventif
Tujuan dari pemeriksaan fisik dalam keperawatan antara lain :
1. Untuk menentukan status kesehatan klien
2. Mengidentifikasi masalah klien
3. Mengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan
Tujuan pemeriksaan fisik bagi perawat, anatara lain :
1. Mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien
2. Menambah, menginformasikan atau menyangkal data yang diperolah
dalam riwayat keperawatan
3. Mengonfirmasi dan mengdentifikasi diagnosa keperawatan
4. Membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaannya
5. Mengevaluasi hasil fisiologi dari asuhan
2.3 Manfaat Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik banyak memiliki manfaat bagi perawat itu sendiri maupun
bagi profesi kesehatan lainnya, antara lain :
1. Sebagai
data
untuk
membantu

perawat

dalam

menegakkan diagnose keperawatan.


2. Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang
tepat
4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan
keperawatan
2.4 Macam-macam Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Proses observasi dengan menggunakan indera penglihatan, yaitu
mata untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda tertentu dari bagian
tubuh atau fungsi tubuh pasien. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi tandatanda fisik yang berhubungan dengan status fisik klien. Saat melakukan
tindakan ini amati secara cermat mengenai tingkah laku dan keadaan tubuh
klien.

Pemeriksa

melatih

dirinya

untuk

melihat

tubuh

dengan

menggunakan pendekatan sistematik.


2. Palpasi
Dilakukan menggunakan indera peraba dengan cara sentuhan dan
penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Palpasi
merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukkan dengan menggunakan
tangan untuk meraba struktur di bawah permukaan tubuh. Misalnya:
meraba arteri radialis untuk pemeriksaan tekanan darah, atau menghitung
denyut nadi. Palpasi dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan
dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan
mengetahui vocal atau tactilepremitus (vibrasi). Selama palpasi perawat
harus mengkaji adanya krepitus (udara dalam jaringan subkutan), nyeri
tekan dinding dada, tonus otot edema, dan fremitus taktil atau vibrasi
gerakan udara melalui dinding dada ketika klien sedang bicara.
3. Perkusi
Dilakukan dengan cara mengetuk dan mengetahui bunyi getaran atau
gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh
yang diperiksa. Tujuan perkusi adalah untuk menentukan batas-batas organ

atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat
adanya gerakan yang diberikan ke bawah jaringan. Metode perkusi dapat
membedakan apa yang ada di bawah jaringan seperti udara, cairan atau zat
padat. Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah :
a. Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
b. Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah
paru-paru pada pneumonia.
c. Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah
jantung, perkusi daerah hepar.
d. Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga
kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asma kronik.
4. Auskultasi
Pengkajian dengan mendengarkan suara napas normal dan suara
tambahan

(abnormal)

dengan

menggunakan

stetoskop.

Perawat

menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara napas di dada dan di


abdomen mendengarkan suara bising usus. Suara napas normal dihasilkan
dari getaran udara ketika melalui jalan napas dari laring ke alveoli dan
bersifat bersih. Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas,
diantaranya:
a. Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluransaluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
b. Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi
maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien
batuk. Misalnya pada edema paru.
c. Wheezing : bunyi yang terdengar ngiii.k. bisa dijumpai pada
fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut,
asma.
d. Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar kering seperti suara
gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan
pleura.

2.5 Teknik Pemeriksaan Fisik


1. Inspeksi torak
a. Atur posisi klien dan perawat berada di sebelah kanan klien. Mulai
pemeriksaan pada klien dengan posisi duduk dengan semua pakaian di buka
sampai pinggang guna mempermudah perawat melakukan inspeksi.
b. Atur pencahayaan yang cukup.
c. Atur suhu dan suasana ruangan nyaman pada anak
Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa takut dengan apa yang akan kita
lakukan
d. Perhatikan kesan pertama pasien: perilaku, ekspresi, penanmpilan umum,
pakainan, postur tubuh, dan gerakan dengan waktu cukup.
e. Hitung pernafasan selama satu menit penuh.
1. Jika menghitung pernafasan, observasi laju pernafasan, ritme dan
kedalam siklus pernafasan.
2. Observasi pergerakan dada pada tiga bagian otak (anterior, posterior dan
lateral).
3. Konfirmasi bahwa pernafasan tenang, simetris dan tanpa usaha.
4. Sebelum dilanjutkan pada langkah selanjutnya, minta klien untuk
menarik napas dalam dan observasi keterlibatan otot-otot bantu napas.
f. Inspeksi warna kulit.
Konfirmasi diameter transfersal dengan diameter anteroposterior seharusnya
ratio diameter ini lebih kurang ratio 2 : 1 pada orang dewasa. Bayi yang baru
lahir memiliki dada yang lebih bulat daripada orang dewasa, dan diameternya
sama, ratio kurang lebih 1 : 1.
g. Inspeksi struktur skeletal.
Pemeriksa berdiri di belakan klien dan gambarkan garis imaginer sepanjang
batar superior skapula dari akromion kanan sampai akromion kiri. Garis ini
harus tegak lurus dengan garis vertebral.
2. Palpasi torak posterior
a. Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi.
b. Cuci tangan.
c. Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya.
d. Yakinkan tangan hangat tidak dingin.
e. Palpasi secara dangkal bagian posterior torak.

1. Kaji besar otot daerah tepat di bawah kulit.


2. Palpasi secara teratur dengan telapak tangan .
3. Harus diingat untuk mengkaji daerah superior scapula, sampai dengan
tulang rusuk ke 12 dan dilanjutkan sejauh mungkin pada garis midaksila
pada kedua sisi.
f. Palpasi dan hitung jumlah tulang rusuk dan sela interkostal.
1. Minta klien untuk fleksi leher, maka processus spinalis cervikal ke-7
akan terlihat.
2. Bila pemeriksa memindakan sedikit tangan ke kiri dan ke kanan dari
processus, pemeriksa akan merasakan tulang rusuk pertama. Hitung
tulang rusuk dan sela interkostal, dan tetap didekat pada garis vertebral.
3. Palpasi tiap-tiap processus spinal dengan gerakan kearah bawah.
g. Palpasi torak posterior untuk mengukur ekspansi pernafasan.
1. Letakkan tangan dengan setingkat dengan tulang rusuk ke 8-10 letakkan
kedua ibu jari dekan dengan garis vertebral dan dengan kulit secara
lembut diantara kedua ibu jari. Pastikan telapak tangan bersentuhan
dengan punggung klien.
2. Mintalah klien untuk menarik napas dalam. Perawat seharusnya
merasakan tekanan yang sama di kedua tangan, dan tangan bergerak
menjauhi garis vertebral.
h. Palpasi untuk menilai taktil fremitus.
1. Gunakan daerah sendi metacarpophalangeal atau permukaan luar tangan
pada saat memeriksa fremitus.
2. Mintalah klien untuk mengulangi kata ninety-nine atau tujuh-tujuh
saat perawat melakukan palpasi.
3. Palpasi torak anterior.
a. Atur posisi klien. Klien biasanya berada pada posisi supine untuk
melakukan palpasi torak anterior, tetapi beberapa ahli lebih menyukai
posisi duduk.
b. Tentuka lokasi landmark daerah torak posterior.
1. Tentukan lokasi suprasternal notch dengan jari tangan. Palpasi
turun kebawah dan identifikasi batas-batas bawah manubrium pada
Angel of Louis.
2. Palpasi secara lateral dan temukan tulang rusuk kedua dan ics
kedua. Hitung tulang rusuk dengan batas sternum.
3. Palpasi jaringan otot dan jaringan tepat dibawah kulit
c. Palpasi torak anterior untuk mengukur ekspansi pernafasan.

1. Letakkan tangan pada dinding anterior dada tepat dibawah batas


kosta dengan ibu jari sedikit terpisah pada garis midsternum.
2. Tekan kulit diantara ibu jari seperti pada waktu melakukan palpasi
dinding posterior.
3. Mintalah klien untuk menarik napas dalam. Observasi pergerakan
ibu jari dan tekanan yang dikeluarkan terhadap tangan pemeriksa.
d. Palpasi untuk mengetahui taktil fremitus pada dinding dada anterior.
1. Teknik yang digunakan sama dengan palpasi posterior.
2. Gunakan sendi metakarpophalangeal atau permukaan unlar tangan.
Mintalah klien untuk mengucapkan tujuh-tujuh saat pemeriksa
melakukan palpasi dinding dada anterior.
4. Perkusi torak posterior.
a. Visualisasi petunjuk daerah torak.
Sebelum melakukan perkusi pada

torak

posterior,

visualisasikan garis horisontal, garis ventrikal, tingkat diafragma


dan fisura paru-paru untuk mengidentifikasi lobus paru.
b. Atur posisi klien.
Bantu klien untuk membungkuk kedepan sedikit

dan

melebarkan bahu.
c. Perkusi daerah paru.
1. Mulailah perkusi pada daerah apeks paru-paru dan bergerak
ke daerah apeks kanan.
2. Gerakkan kedalam setiap sela interkostal dengan cara
sistemik. Perkusi sampai ke tulang rusuk paling bawah dan
pastikan untuk melakukannya sampai ke garis midaksila kiri
dan kanan.
d. Perkusi untuk menentukan pergerakan atau ekskursi diafragma.
1. Mulailah dengan melakukan perkusi pada celah interkosta
ketujuh kearah bawah sepanjang garis scapula sampai batas
diafragma. Resonan akan berubah menjadi dullness.
2. Beri tanda pada kulit.
3. Mintalah klien untuk menarik napas dalam dan menahannya.
4. Perkusi kembali kearah bawah dari kulit yang berada sampai
terdengar lagi suara dullness.
5. Sekarang mintalah klien untuk bernapas normal dan
keluarkan napas sebanyak-banyaknya kemudian tahan napas.
6. Perkusi kearah atas sampai pemeriksa mendengar suara
resonan, beri tanda dan anjurkan klien untuk bernapas secara

normal. Pemeriksa akan mendapatkan tiga tanda sepanjang


garis skapula.
7. Ulangi prosedur untuk sisi yang lain.
8. Jarak antara tanda nomer 2 dan 3 berkisar antara 3-6 cm pada
orang dewasa yang sehat.
9. Kembalikan klien pada posisi duduk yang nyaman.
5. Perkusi toraks anterior.
a. Visualisasikan landmark daerah torak anterior. Sebelum
melakukan perkusi dinding dada anterior, visualisasi garis
vertikel dan horisontal. Identifikasi lokasi diafragma dan lobus
paru.
b. Perkusi daerah paru dengan pola yang teratur. Mulailah perkusi
pada daerah apeks dan lanjutkan sampai setinggi diafragma.
Lanjutkan perkusi sampai garis midaksila pada masing-masing
sisi. Hindari perkusi diatas sternum, klafikula, tulang rusuk dan
jantung.
c. Pastikan jari-jari dan tangan yang tidak dominan berada pada
celah interkosta sejajar dengan tulang rusuk.
d. Jika pada klien wanita memiliki payudara besar, mintalah klien
untuk mengatur posisi agar payudaranya ke arah samping
selama prosedur ini. Perkusi diatas jaringan payudara wanita
akan menghasilkan suara dull.
6. Auskultasi torak posterior.
a. Sebelum

auskultasi

posterior

daerah

toraks

dilakukan,

visualisasikan landmark daerah tersebut seperti sebelum


perkusi.
b. Auskultasi trakea.
1. Menggunakan tekanan yang tegas, letakkan diafragma
stetoskop sejalan dengan bernafasnya klien secara perlahan
dengan mulut terbuka.
2. Mulailah pada garis vertebral C7 dan turun kebawah sampai
T3. Disini pemeriksa akan melakukan auskultasi trakea, dan
suara yang terdengar adalah bronkial.
c. Auskultasi bronkus.

Pindahkan stetoslop kekiri dan kekanan vertebral setinggi T3T5. Tepat berada pada bronkus kiri dan kanan dan suara yang
terdengar adalah bronkovesikuler.
d. Auskultasi paru-paru.
1. Auskultasi dilakukan dengan pola yang sama separti pada
yang dilakukan pada perkusi paru-paru.
2. Mulai auskultasi pada bagian apeks kiri dan dilanjutkan
seperti pola perkusi. Pemeriksa akan mendengar suara
vesikuler.
3. Dengarkan pula suara-suara tambahan yang mendahului pada
saat siklus inspirasi dan ekspirasi. Bila mendengar adanya
suara tambahan, catat lokasi, kualitas, lama dan waktu
terjadinya selama siklus pernapasan.
7. Auskultasi torak anterior
a. Visualisasi petunjuk torak anterior.
b. Auskultasi diatas trakea. Suara akan jelas berada diatas
jugular (suprastenal) notch. Suara diatas trakea adalah
suara bronkial.
c. Auskultasi diatas bronkus kiri dan kanan.
Daerah ini berada pada batas sternum sebelah kiri dan
kanan pada sela interkosta ke-2 dan ke-3. Suara yang
terdengar adalah bronkovesikuler.
d. Auskultasi paru-paru.
1. Dengarkan suara vesikuler. Biasanya terdengar pada
daerah parenkim paru-paru.
2. Dengarkan bunyi suara napas tambahan. Suara ini
mendahului

inspirasi

dan

ekspirasi

dari

siklus

pernapasan. Bila pemeriksa mendengar suara tambahan


catat lokasi, kualitas dan waktu terjadinya selama siklus
pernapasan.
2.6 Analisa Hasil Pemeriksaan Fisik
Hal pertama yang dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan fisik
pada anak, usahakan terlebih dahulu memberikan atau mengatur kondisi pada
anak senyaman mungkin. Jika seandainya anak masih menangis atau takut,
perawat dapat menyuruh ibunya untuk menemani anaknya disampingnya.

2.6.1 Inspeksi
Pemeriksaan fisik pada inspeksi difokuskan pada setiap bagian tubuh
meliputi: warna kulit, frekuensi pernafasan, bentuk dada, gerakan
pernafasan, dan efektivitas dan frekuensi batuk pada pasien.

Perlu

dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian
tubuh lainnya. Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit
kebiruan (sianosis), dan lain-lain.
Penilaian warna kulit secara inspeksi dapat dilihat secara langsung.
Jika warna kulit atau membran mukosa kebiruan maka pasien mengalami
sianosis. Sianosis dapat dibedakan menjadi 2, yaitu antara sianosis perifer
dengan sianosis sentral. Sianosis perifer terjadi pada ekstremitas atau pada
ujung hidung atau telinga, meskipun dengan tekanan oksigen normal, atau
bila ada penurunan aliran darah pada area ini, khususnya bila area ini dingin
atau sakit. Sianosis sentral terlihat pada lidah dan bibir, berarti pasien secara
nyata mengalami penurunan tekanan oksigen.
Penilaian frekuensi pernafasan juga penting sebagai parameter atau
tolak ukur dalam pemeriksaan, yaitu:
a. Normal
: 16-24 kali/menit
b. Bradypnneu/olygopneu : <16 kali/menit
c. Tachypneu/polypneu
: >24 kai/menit
d. Apneu
: henti nafas / tidak bernafas
Jika frekuensi pernafasan tidak teratur, maka:
a. Pada kelainan otak
b. Asidosis
c. Nyeri waktu bernafas
Penilaian bentuk dada secara inspeksi diperlukan untuk melihat
seberapa jauh kelainan yang terjadi pada klien bentuk dada normal pada
dewasa ditentukan berdasarkan perbandingan diameter anteroposterior
dalam proporsi tehadap diameter lateral (1:2).
a. Bentuk dada yang biasa didapatkan seperti: bentuk dada toraks (panjang
dan gepeng)
b. Bentuk dada toraks enbateau(toraks dada burung)

c. Bentuk dada toraks enfisematous, didapatkan apabila diameter


anteroposterior melebihi proporsi terhadap diameter lateral (1:1) atau
lebih dikenal dengan bentunk dada tong
d. Bentuk dada toraks pektusekskavatus (dada cekung ke dalam).
Penilaian lain yang mendukung pemeriksaan system pernafasan
adalah dengan menilai gerakan pernafasan klien. Dengan selintas pandang,
seharusnya perawat dapat menilai kesimetrisan dada klien. Adanya satu
sisi cembung pada pemeriksaan inspeksi dapat mengindikasikan ada suatu
proses di dalam rongga thoraks karena penimbunan air, pus, udara di
rongga pleura, aneurisme aorta, cairan dalam rongga pericardium, tumor
paru atau mediastinum, dan pembesaran jantung atau abses hati.
Perhatian adanya asimetris gerakan dinding dada anterior dan
posterior. Penilaian terhadap ekspansi lobus atas paling baik dilakukan
dengan inspeksi dari belakang klien, dengan memerhatikan kedua
klavikula

selama

pernafasan

sedang.

Gerakan

yang

berkurang

menunjukkan penyakit paru yang mendasarinya. Sisi yang terkena akan


memperlihatkan gerakan yang terlambat dan menurun. Untuk penilaian
ekspansi lobus bawah diperlukan inspeksi dan palpasi anterior dan
posterior. Gerakan dinding dada unilateral yang berkurang dapat
disebabkan oleh fibrosis paru yang terlokalisasi, konsolidasi, kolaps, efusi
pleura, atau pneumothoraks. Berkurangnya gerakan dinding dada bilateral
menunjukkan adanya kelainan difus seperti hambatan jalan nafas kronis
atau fibrosis paru difus. Ekskrusi diafragmatik yang menurun mungkin
tampak pada klien dengan efusi pleural dan emfisema. Peningkatan dalam
tekanan intra-abdomen seperti yang terjadi pada kehamilan atau asites,
dapat menyebabkan letak diafragma menjadi tinggi.

2.6.2

Palpasi
Palpasi dada dilakukan dengan meletakan turnit tangan mendatar di
atas dada pasien. Seringkali kita menentukan apakah fremitus taktil ada.
Kita melakukan ini dengan meminta pasien mengatakan sembilansembilan. Secara normal, bila pasien mengikuti instruksi itu, vibrasi

terasa pada luar dada di tangan pemeriksa. Ini mirip dengan vibrasi yang
terasa pada peletakan tangan di dada kucing bila ia sedang mendengkur.
Pada pasien normal fremitus taktil ada. Ini dapat menurun atau takada bila
terdapat sesuatu dintara tangan pemeriksa dan paru pasien serta dinding
dada. Sebagai contoh, bila ada efusi pleural, penebalan pleural atau
pnemotorak akan tidak mungkin merasakan vibrasi ini atau vibrasi
menurun. Bila pasien mengalami atelektasis karena sumbatan jalan napas,
vibrasi juga takdapat dirasakan. Fremitus taktil agak meningkat pada
kondisi konsolidasi, tetapi deteksi terhadap ini sulit. Hanya dengan palpasi
pada dada pasien dengan napas perlahan, seseorang dapat merasakan ronki
yang dapat diraba yang berhubungan dengan gerakan mukus padajalan
napas besar.

2.6.3 Perkusi
Pemeriksaan

fisik

dengan

cara

perkusi,

perawat

biasanya melakukan tindakan ini untuk mengkaji resonansi


pulmoner,

kondisi

pengembangan

organ

(ekskursi)

yang

berhubungan

diafragma.

Jika

dari

dan
hasil

pemeriksaan ini, pada jaringan paru-paru didapat suara


perkusi bergaung dan bersuara rendah (sonor) merupakan
keadaan yang normal. Sebaliknya apabila didapatkan suara

yang lebih rendah dibandingkan dengan resonan dan


timbul pada bagian paru-paru yang abnormal berisi udara,
kondisi ini dikatakan terjadi suara perkusi abnormal yang
disebut

Hiperresonan.

Suara

perkusi

normal

lainnya,

diantaranya terdapat Dullness dan Tympany. Dullness


dihasilkan

di

atas

bagian

jantung

atau

paru-paru

sedangkan Tympany dihasilkan di atas perut yang berisi


udara umumnya bersifat musical. Apabila nadanya lebih
tinggi dari dullness dan dapat didengar pada perkusi
daerah paha, dimana seluruh areanya berisi jaringan
disebut Flatness, suara ini termasuk suara perkusi yang
abnormal.

2.6.4 Auskultasi
Dilakukan untuk mengkaji suara nafas normal dan suara tambahan
(abnormal). Suara napas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui
jalan napas dari laring ke alveoli dan bersifat bersih. Bronchial merupakan
tubular sound yang suaranya dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube
(pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut.
Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi dan tidak ada jeda di
antara kedua fase tersebut. Suara normal akan terdengar di atas trachea atau

daerah lekuk suprasternal. Bronkovesikular merupakan gabungan dari suara


napas bronkhial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dengan intensitas
sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di
daerah dada dimana bronkus tertutup oleh dinding dada.
Keadaan normal lainnya yaitu, Vesikular dimana terdengar lembut,
halus seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi,
ekspirasi terdengar seperti tiupan. Sedangkan keadaan suara yang abnormal
terdapat Wheezing, Ronchi, Pleural Fiction Rub dan Crackles. Wheezing
terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring,
musical, suara terus-menerus yang disebabkan aliran udara melalui jalan
napas yang menyempit. Ronchi terdengar selama fase inspirasi dan
ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, dan suara mengorok
terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan
produksi sputum. Pleural fiction rub terdengar saat inspirasi dan ekspirasi.
Karakter suara kasar, berciut, dan suara seperti gesekan akibat dari inflamasi
pada daerah pleura. Sering kali pasien mengalami nyeri saat bernapas
dalam. Crackles, dibagi menjadi dua jenis yaitu Fine crackles danCoarse
crackles. Setiap fase pada Fine crackles lebih sering terdengar saat inspirasi.
Karakter suara meletup, terpatah-patah akibat udara melewati daerah yang
lembab di alveoli atau bronkhiolus, suara seperti rambut yang digesekkan.
Sedangkan Coarse crackles lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara
lemah, kasar, suara gesekan terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi
pada jalan napas yang besar. Mungkin akan berubah ketika pasien batuk.
Prubahan dalam bunyi napas yang dapat menandakan keadaan
patologi termasuk penurunan atau tidak terdengar bunyi napas, peningkatan
bunyi napas, dan bunyi napas saling mendahului atau yang dikenal dengan
bunyi adventiosa. Peningkatan bunyi napas akan terdengar bila kondisi
seperti atelektasis dan pneumonia meningkatkan densitas (ketebalan)
jaringan paru. Penurunan atau tidak terdengarnya bunyi napas terjadi bila
transmisi gelombang bunyi yang melewati jaringan paru atau dinding dada
berkurang.

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau
hanya bagian tertentu yang dianggap perlu untuk memperoleh data yang
sistematis dan komprehensif, memastikan atau membuktikan hasil anamnesa,
menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi
klien (Dewi Sartika, 2010).Pelayan kesehatan dalam hal ini perawat melakukan
pemeriksaan fisik memiliki tujuan-tujuan tertentu yang berhubungan dengan
status kesehatan klien. Macam-macam teknik pemeriksaan fisik ada 4 yaitu:
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Juga terdapat pemeriksaan penunjang
yang digunakan untuk lebih dalam untuk mengetahui status sehat-sakit klien.

3.2 Saran
Ketika melakukan pemeriksaan fisik pada pasien, seharusnya seorang
perawat lebih teliti dalam melakukan tindakan dan dapat mengkondisikan atau
memberikan kenyamanan pada pasien, sehingga pemeriksaan dapat berjalan
lancar dan optimal. Saat melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien, perlu
menanyakan terlebih dahulu mengenai keadaan pasien untuk mengetahui tindakan
selanjutnya yang perlu dilakukan diperbolehkan atau tidak, sehingga ada
persetujuan dari pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan kepadanya, hal
ini dilakukan untuk meminimaisir komplain yang dilakukan oleh pasien mengenai
tindakan yang dilakukan perawat.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Somantri, iman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

Manurung, Santa dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan


Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Internet
Dewi sartika. 2010. [serial online]. www.makalahkeperawatan.html diakses 29
Agustus 2014
Doures, Fertica. Pemeriksaan fisik sistem respirasi. [serial online]
http://www.scribd.com/doc/197334099/Pemeriksaan-Fisik-SistemRespirasi. diakses pada 30 Agustus 2014
Pemeriksaan
Fisik
Sistem
Pernafasan.
[seroal
online].
http://www.scribd.com/doc/59754870/Pemeriksaan-Fisik-SistemPernafasan. diakses pada 30 Agustus 2014