Anda di halaman 1dari 9

BISNIS EKONOMI INDONESIA

PERANAN OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM INDUSTRI KEUANGAN

Dharmawan S Pinandito (1306482653)

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014
Statement of Authorship

Saya/kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan
dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan menggunakannya.

Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama

: Dharmawan S Pinandito

NPM

: 1306482653

Tandatangan

Mata ajaran

: Bisnis Ekonomi Indonesia

Judul makalah/tugas

: Peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam Industri


Keuangan

Tanggal

: 28 Desember 2014

Dosen

: Rahmat Aryo Baskoro

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Industri keuangan Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan sejak terjadinya


krisis moneter pada tahun 1998. Menurut DFID (Department For International Development)
sektor keuangan adalah seluruh perusahaan besar atau kecil, lembaga formal atau informal di
dalam perekonomian yang memberikan pelayanan keuangan kepada konsumen, para pelaku
bisnis dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Dalam pengertian yang lebih luas, meliputi
segala hal mengenai perbankan, bursa saham (stock exchanges), asuransi, credit unions, lembaga
keuangan mikro dan pemberi pinjaman (money lender). Contoh dari industri keuangan adalah
sebuah bank Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, bank dengan cepat mengurangi
jumlah staf yang dibutuhkan. Banyak komunitas bank dan bangunan telah bergabung untuk
membentuk bisnis yang lebih ramping yang mampu menghasilkan lebih banyak keuntungan dari
basis pengguna luas. Kunci proses ini adalah memperoleh informasi mengenai pengguna jasa
dan memberikan mereka produk-produk baru. Karena industri keuangan yang mengalami
perkembangan secara signifikan, maka pemerintah membentuk Otoritas Jasa Keuangan.
Pembentukan Otoritas Jasa keuangan ini diharapkan agar dapat membuat regulasi baru dan
merevisi regulasi lama yang terkait dengan industri keuangan. Selain itu Otoritas Jasa Keuangan
diharapkan mampu mengawasi seluruh kegiatan industri keuangan.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Dari latar belakang yang dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
Apakah peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam industri keuangan?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam industri keuangan.

1.4 Landasan Teori


Terkait dengan peranan Otoritas Jasa Keuangan
Undang-undang nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan
bahwa OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap seluruh kegiatan didalam sektor jasa keuangan.OJK melaksanakan tugas pengaturan
dan pengawasan terhadap kegiatasan jasa di sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, dana
pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Studi Kasus

Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan enam peraturan di bidang Perbankan. Kebijakan


OJK ini diterbitkan sebagai bagian dari rangkaian kebijakan yang dikeluarkan OJK dalam rangka
memperkuat pengawasan sektor jasa keuangan, pendalaman pasar keuangan dan perluasan akses
keuangan masyarakat. Semua ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya sektor jasa keuangan
yang kokoh, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, merata dan berkesinambungan.
Muliaman Hadad menyampaikan bahwa sejak beberapa tahun belakangan, kita
menyaksikan perkembangan sektor keuangan yang semakin cepat. Sektor keuangan menjadi
semakin kompleks dan dinamis, dengan keterkaitan antar sektor yang semakin erat, baik dalam
hal produk maupun kelembagaan.
Selain itu, kita juga menyaksikan pertumbuhan konglomerasi keuangan, yang menambah
kompleksitas transaksi dan interaksi antar lembaga jasa keuangan di dalam sistem keuangan.
Krisis ekonomi global, yang bersumber dari perilaku risk taking yang agresif memberi pelajaran
penting bagi regulator untuk memperkuat rambu-rambu pengaturan.
Penguatan pengaturan ini, pada dasarnya ditujukan untuk memperbaiki struktur pasar agar
menjadi semakin kokoh, efisien, dan lebih transparan sehingga memberikan kemanfaatan bagi
perekonomian yang berkelanjutan. Regulasi tersebut yaitu:
1. POJK tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan
2. POJK tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan
3. POJK tentang Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku
Pandai)

4. POJK tentang Bank Perkreditan Rakyat (BPR)


5. POJK tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Perbankan Syariah
6. POJK tentang Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
(http://www.ojk.go.id/ojk-rilis-enam-kebijakan-perbankan)
2.2 Pembahasan
Peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam pengawasan industri keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan sebuah lembaga baru yang dirancang untuk
melakukan pengawasan secara ketat lembaga keuangan seperti perbankan, pasar modal,
reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi. Adapun tujuan utama pendirian
OJK adalah: Pertama, meningkatkan dan memelihara kepercayaan publik di bidang jasa
keuangan. Kedua, menegakkan peraturan perundang-undangan di bidang jasa keuangan. Ketiga,
meningkatkan pemahaman publik mengenai bidang jasa keuangan. Keempat, melindungi
kepentingan konsumen jasa keuangan. Adapun sasaran akhirnya adalah agar krisis keuangan
seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang lalu tidak terulang kembali.
Menurut UU No 21 tahun 2011 Bab I pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan OJK "adalah
lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi,
tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang ini. Pada dasarnya UU mengenai OJK hanya mengatur
mengenai pengorganisasian dan tata pelaksanaan kegiatan keuangan dari lembaga yang memiliki
otoritas pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan. Diharapkan dengan
dibentuknya OJK ini dapat dicapai mekanisme koordinasi yang lebih efektif di dalam menangani
permasalahan yang timbul dalam sistem keuangan sehingga dapat lebih menjamin tercapainya
stabilitas sistem keuangan dan agar adanya pengaturan juga pengawasan yang lebih terintegrasi.
Sistem keuangan dan seluruh kegiatan jasa keuangan yang menjalankan fungsi
intermediasi bagi berbagai kegiatan produktif di dalam perekonomian nasional merupakan salah
satu komponen penting dalam sistem perekonomian nasional.Terjadinya proses globalisasi dalam
sistem keuangan dan pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi serta inovasi finansial

telah menciptakan sistem keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait antarsubsektor keuangan baik dalam hal produk maupun kelembagaan.
Adanya lembaga jasa keuangan yang memiliki hubungan kepemilikan di berbagai
subsektor keuangan (konglomerasi) telah menambah kompleksitas transaksi dan interaksi
antarlembaga jasa keuangan di dalam sistem keuangan. Banyaknya permasalahan lintas sektoral
di sektor jasa keuangan, yang meliputi tindakan moral hazard, belum optimalnya perlindungan
konsumen jasa keuangan, dan terganggunya stabilitas sistem keuangan.
Harapan penataan melalui UU No.21 Tentang Otoritas Jasa Keuangan,Penataan dimaksud
dilakukan agar dapat dicapai mekanisme koordinasi yang lebih efektif di dalam menangani
permasalahan yang timbul dalam sistem keuangan sehingga dapat lebih menjamin tercapainya
stabilitas sistem keuangan. Agar pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan kegiatan jasa
keuangan tersebut harus dilakukan secara terintegrasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hal tersebut diatas disimpulkan bahwa peranan Otoritas Jasa Keuangan dalam
industri keuangan adalah melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan kegiatan
industri keuangan secara terintegrasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://erman-at.blogspot.com/2014/07/makalah-otoritas-jasa-keuangan-ojk.html
http://www.academia.edu/8106699/PENGERTIAN_SEKTOR_INDUSTRI_JASA
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan