Anda di halaman 1dari 12

1.

Judul Praktikum
Hapusan Darah Tepi, Evaluasi Hapusan Darah Tepi, Hitung Jenis Leukosit dan
Hitung Jumlah Leukosit

2. Waktu dan Tempat


Selasa, 26 Maret 2013 Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

3. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengevaluasi hapusan darah tepi untuk menghitung
jenis dan jumlah leukosit sehingga mampu menentukan aplikasi klinis dari
hapusan darah tersebut.

4. Tinjauan Pustaka
A. Darah
Darah merupakan cairan yang mengalir satu arah secara teratur di dalam
sirkulasi tertutup. Darah membawa berbagai kebutuhan hidup bagi semua sel-sel
tubuh dan menerima produk buangan hasil metabolisme untuk disekresikan
melalui organ ekskresi. Darah tersusun atas sel darah (eritrosit, leukosit dan
trombosit) yang bersirkulasi dalam cairan yang disebut plasma. Jika darah diberi
antikoagulan dan dilakukan sentrifugasi, maka dapat terlihat darah terdiri dari
plasma 55% dan sel 45% yang terdiri dari leukosit, eritrosit dan trombosit. Jumlah
leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit dan trombosit.
Sumsum tulang merupakan organ tempat dihasilkannya sel darah. Di dalam
sumsum tulang terdapat sel yang disebut stem hemopoietik pluripoten yang akan
berdiferensiasi menjadi sel induk khusus.Selanjutnya sel ini akanberdiferensiasi
menjadi berbagai jenis sel darah tertentu.

B. Leukosit
Leukosit berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan kytos
yang berarti sel. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh
yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Leukosit adalah
sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih, yang mampu
bergerak

bebas

secara

ameboid,

berfungsi

melawan

kuman

secara

fagositosis, dibentuk oleh jaringan retikulo endothelium disumsum tulang untuk


granulosit dan kelenjar limpha untuk agranulosit. Setelah dibentuk, sel-sel ini
diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan.
Fungsi leukosit adalah sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda asing
yang masuk ke dalam tubuh.Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap
organisme penyerang terutama dengan cara mencernanya, yaitu melalui
fagositosis. Fungsi utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem
imun yaitu produksi antibodi.
Kondisi yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan fisiologis
yang akan berakibat juga pada perubahan nilai hematologi. Sebagai contoh jika
seseorang terkena infeksi bakteri secara akut akan memperlihatkan perubahan suhu
tubuh.

Perubahan ini akibat aktivitas sistem kekebalan tubuh yang bekerja

melawan agen penyakit. Jikadilihat dari nilai hematologi, jumlah leukosit dalam
darah akan mengalami peningkatan. Manifestasi respon leukosit berupa penurunan
atau peningkatan salah satu atau beberapa jenis sel leukosit mampu memberikan
petunjuk terhadap kehadiran suatu penyakit dan membantu dalam diagnosa
penyakit yang diakibatkan oleh agen tertentu.
C. Diferensiasi Leukosit
Diferensiasi leukosit sangat bermanfaat, tidak hanya untuk mengetahui
persentase leukosit tetapi juga memberikan informasi patogenesa suatu
abnormalitas. Pemeriksaan preparat apus darah memberikan informasi lebih lanjut
mengenai morfologi sel eritrosit, leukosit, dan trombosit. Nilai rujukan untuk sel
normal adalah :

eosinofil :

1-4 %

basofil :

0-1%

stab :

2-5 %

segmen :

36-66%
2

limfosit :

22-40%

monosit :

4-8%

Berdasarkan ada atau tidaknya granul

dalam sitoplasma hasil pewarnaan,

leukosit dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu granulosit dan agranulosit.
Leukosit granulosit memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma, sedangkan
agranulosit tidak memiliki butir khas dalam sitoplasma.
D. Neutrofil
Neutrofil disebut juga sebagai polimorfonuklear (PMN), karena inti memiliki
berbagai jenis bentuk dan bersegmen. Neutrofil berupa sel bundar dengan diameter
12 m, memiliki sitoplasma yang bergranula halus dan di tengah terdapat nukleus
bersegmen. Neutrofil matang/dewasa yang berada dalam peredaran darah perifer
memiliki bentuk inti yang terdiri dari dua sampai lima segmen, sedangkan neutrofil
yang belum matang (neutrofil band) akan memiliki bentuk inti seperti ladam kuda.
Neutrofil dikenal sebagai garis pertahanan pertama (first line of defense).
Neutrofil bersama dengan makrofag memiliki kemampuan fagositosis untuk
menelan organisme patogen dan sel debris neutrofil akan mengejar organisme
patogen dengan gerakan kemotaksis. Kemampuan neutrofil untuk membunuh
bakteri berasal dari enzim yang terkandung dalam granul yang dapat
menghancurkan bakteri maupun virus yang sedang difagosit. Granul neutrofil
tersebut sering disebut dengan lisosom.
Neutrofil segera akan mati setelah melakukan fagosit terhadap agen penyakit
dan akan dicerna oleh enzim lisosom, kemudian neutrofil akan mengalami autolisis
yang akan melepaskan zat-zat degradasi yang masuk ke dalam jaringan limfe.
Jaringan limfe akan merespon dengan mensekresikan histamin dan faktor
leukopoietik yang akan merangsang sumsum tulang untuk melepaskan neutrofil
muda untuk melawan infeksi.
Penyakit yang disebabkan oleh agen bakteri, pada umumnya menyebabkan
peningkatan jumlah neutrofil dan akan tampak neutrofil muda. Jumlah neutrofil di
dalam darah dipengaruhi oleh tingkat granulopoiesis, laju aliran sel darah dari
sumsum tulang, pertukaran antar sel di dalam sirkulasi dan depo marginal, masa
hidup dalam sirkulasi dan laju aliran sirkulasi darah menuju jaringan.
E. Eosinofil
3

Eosinofil

memiliki

parasit cacing.

kemampuan

melawan

Eosinofil berdiameter 10-15

m, inti bergelambir dua, sitoplasma dikelilingi


butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran
0.5-1.0 m, dengan jangka waktu hidup
berkisar antara tiga sampai lima hari. Eosinofil berperan aktif dalam mengatur
alergi akut dan proses perbarahan, investasi parasit, memfagosit bakteri,
memfagosit antigen-antibodi kompleks, memfagosit mikoplasma dan memfagosit
ragi.
F. Basofil
Basofil berdiameter 10-12 m, dengan inti dua
gelambir atau bentuk inti tidak beraturan.Granul
basofil mengandung heparin, histamin, asam
hialuron,

kondroitin

sulfat,

seroton,

dan

beberapa faktor kemotaktik. Sel mast dan basofil


berperan pada beberapa tipe reaksi alergi, karena tipe antibodi yang menyebabkan
reaksi alergi, yaitu Immunoglobulin E (IgE) mempunyai kecenderungan khusus
untuk melekat pada sel mast dan basofil. Bukti keterlibatan basofil dalam reaksi
alergi yaitu timbulnya kondisi rinitis, urtikaria, asma, alergi, konjungtivitis,
gastritis akibat alergi, dan anafilaksis akibat induksi obat atau induksi gigitan
serangga.
G. Monosit
Monosit adalah leukosit berukuran terbesar,
berdiameter 15-20 m dengan populasi berkisar
antara

3-9%

dari

jumlah

leukosit

total.

Sitoplasma monosit berwarna biru abu-abu pucat


dan berinti

lonjong seperti ginjal atau tapal

kuda. Monosit dibentuk di sumsum tulang, dan


setelah dewasa akan bermigrasi dari darah ke jaringan perifer. Monosit akan

berdiferensiasi menjadi berbagai subtipe jaringan tergantung dari proses inflamasi


yang terjadi. Makrofag di jaringan antara lain sel Kupfer, makrofag alveolar, sel
mikroglia, dan osteoklas.
H. Limfosit
Limfosit adalah leukosit jenis agranulosit yang
mempunyai

ukuran

dan

bentuk

yang

bervariasi.Limfosit merupakan satu-satunya jenis


leukosit

yang

tidak

memiliki

kemampuan

fagositik.Pengamatan pada sediaan ulas yang


diwarnai, dapat dibedakan terhadap adanya limfosit
besar dan limfosit kecil.Limfosit kecil berdiameter 6-9 m, inti besar dan kuat
mengambil zat warna, dikelilingi sedikit sitoplasma yang berwarna biru
pucat.Limfosit besar berdiameter 12-15 m, memiliki lebih banyak sitoplasma, inti
lebih besar dan sedikit lebih pucat dibandingkan dengan limfosit kecil.
Limfosit dapat digolongkan menjadi dua yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel
limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang berperan dalam respon
imunitas humoral untuk memproduksi antibodi, sedangkan limfosit T akan
berperan dalam respon imunitas seluler.
I. Stab/Batang

J. Segmen

K. Variasi Abnormal Sel Darah


Gambaran sel darah merah yang hipokrom dapat
ditemukan pada anemia kurang besi (defisiensi fe),
sickle cells anemia, thalassemia, atau anemia karena
penyakit kronis.
Gambaran makrositik berarti volume eritrosit
lebih besar dari normal. Dapat ditemukan pada
penyakit anemia megaloblastik karena kurang
vit.B12

atau

asam

folat,

anemia

setelah

perdarahan akut, atau anemia karena penyakit


hati kronik.

Sel sabit

Sferosit

Skistosit

Gametosit biasanya ditemukan pada pasien


malaria.

Gambaran

ini dinamakan

sel target

karena

bentukannya mirip dengan sasaran tembak. Dapat


ditemukan pada Thalassemia disertai gambaran
aniso-poikilositosis,

polikromasi,

hipokrom-

mikrositik, dan bintik basofil.

Bintik Basofil

5. Cara Kerja
A. Teteskan 1 tetes sampel darah pada salah satu ujung objek glass.
B. Dengan tangan kanan letakkan gelas penghapus disebelah kiri dari tetesan darah
sehingga menyentuh tetesan darah tersebut, dari tetes darah akan menyebar pada
sisi gelas penghapus tersebut.
C. Segeralah geser gelas penghapus ke kiri sambil memegangnya miring dengan
sudut antara 30-45 derajat, dengan demikian tetesan darah tadi akan merata diatas
gelas objek.
D. Keringkan sediaan dengan menggerak gerakkan nya di udara, jangan ditiup dengan
hembusan nafas.
E. Tebal tipisnya hapusan tergantung dari: besarnya tetesan darah, kecepatan
menggerakkannya, sudut antara gelas penghapus dengan gelas obyek. Gerakan
yang pelan dan sudut yang <30 derajat akan menghasilkan lapisan darah yang tipis,
dan gerakan yang cepat dan sudut yang lebih besar akan menghasilkan lapisan
yang tebal.
F. Leukosit-leukosit tidak boleh menggerombol di bagian akhir dari hapusan. Bila ini
terjadi maka distribusi dari macam-macam leukosit tidak representative. Gerakan
yang terlalu pelan atau gelas penghapus yang kotor dapat menyebabkan kesalahan
ini.
7

6. Evaluasi Hapusan Darah Tepi


A. Prinsip
Untuk dapat melakukan evaluasi HDT dengan baik, maka ciri-ciri jenis sel
darah harus diketahui dahulu dengan baik.
B. Prosedur Kerja
HDT yang telah memenuhi syarat mula-mula diperiksa dengan:
1) Perbesaran objektif 10x
Penentuan kesan jumlah leukosit.
Melakukan hal ini didaerah perhitungan (counting area), bila didapatkan:
20 30 leukosit/Lp = 5000 leukosit/cmm
40-50 leukosit/Lp = 10.000leukosit/ cmm
Bila menjumpai sel-sel muda berinti (normoblast) maka kemudian
menghitung beberapa sel muda berinti setiap 100 leukosit. Hal ini
diperlikan umtuk membuat koreksi terhadap jumlah leukosit yang didapat
dengan pemeriksaan dengan memakai kamar hitung.
Cara koreksi:
Jumlah leukosit yang benar = 100/(100=N) L
N= jumlah normoblast
L= jumlah leukosit yang dihitung dengan kamar hitung.
2) Perbesaran objektif 100x + oil imersi
Eritrosit
Besarnya (Cyter)
Warnanya (Chromasi)
Sel-sel muda dan sel abnormal

Leukosit

Kesan jumlah leukosit


Hitung jenis leukosit
Sel-sel muda dan abnormal

Trombosit
Jumlah trombosit bisa dikira-kira dari HDT.

Jumlah normal pada tiap lapangan panda nada beberapa trombosit: 24/lp

Jumlah dikatakan meningkat, apabila pada tiap lapangan pandang


jumlahnya banyak (>15 /lp) atau dalam bentuk menggerombol-

gerombol.
Jumlah dikatakan menurun, apabila agak sulit menemukan trombosit
per lapangan pandang.

Pada regenerasi yang aktif dari darah sering dijumpai trombosit yang besar-besar
yang disebut giant trombosit.

7. Hasil
A. Preparat 1 (kode: 10)
Jenis
Leukosit
Basofil
Eosinofil
Stab
Segmen
Limfosit
Monosit
Jml total

1
5
2
3
10

2
7
3
10

3
1
2
6
1
10

4
4
3
3
10

Kolom
5
6
1
1
3
5
2
2
4
1
1
10
10

4
3
6
1
10

Kolom
5
6
1
5
5
2
4
3
10
10

Jm
7
1
4
1
4
10

8
2
3
2
1
2
10

9
1
1
7
1
10

10
1
4
3
2
10

Total
0
5
14
33
30
18
100

B. Preparat 2
Jenis
Leukosit
Basofil
Eosinofil
Stab
Segmen
Limfosit
Monosit
Jml total

1
2
6
1
1
10

2
5
2
3
10

3
9
1
10

Jm
7
6
4
10

8
1
2
7
10

9
1
4
5
10

10
1
5
4
10

Total
0
4
5
53
40
8
100

8. Pembahasan
A. Preparat 1 (kode: 10)
Pada preparat ini, ditemukan jumlah sel-sel darah merah yang normal. Namun
juga ditemukan beberapa bentuk eritrosit yang tidak normal, yaitu bentuk
hipokrom. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal seperti kehilangan besi

(pendarahan menahun), absorbsi yang tidak adekuat, dan kebutuhan besi yang
meningkat seperti saat kehamilan.
B. Preparat 2
Dari hasil perhitungan jenis leukosit pada preparat banyak ditemukan segmen,
karena memang nilai normal segmen lebih tinggi dibandingkan yang lain. Hitung
jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relative dari masing-masing jenis sel.
Dari preparat apusan darah tidak ditemukan adanya peningkatan dari masingmasing sel sehingga dapat disimpulkan sel masih dalam batas normal.
Kisaran normal leukosit di dalam tubuh sekitar 5000 10.000/cmm.
Perhitungan jumlah leukosit pada preparat didapatkan 33 leukosit/Lp sama dengan
5000 leukosit/cmm. Sehingga dapat disimpulkan juga sel masih dalam kisaran
batas normal. Tidak ditemukan adanya adanya leukopenia ataupun leukositosis.
C. Evaluasi Hapusan Darah Tepi
Pada pemeriksaan HDT dengan perbesaran kuat (objektif 100x+ oil emersi)
tidak ditemukan adanya sel-sel eritrosi maupun leukosit yang abnormal.

9. Aplikasi Klinik
Setelah menghitung jumlah leukosit dari hapusan darah tepi kita dapat mengetahui
beberapa hal sesuai dengan jumlah leukosit tersebut. Jika jumlah leukosit kurang dari
normal (pada keadaan normal jumlah leukosit sekitar 5.000 10.000/mm 3) maka
kemungkinan orang tersebut mengalamai penurunan sistem imun. Hal ini dikarenakan sel
darah putih merupakan komponen seluler yang memiliki peran penting dalam sistem imun
tubuh (kebanyakan berperan sebagai sel fagosit), apabila sistem imun tubuh menurun
maka kemungkinan orang tersebut akan lebih rentan untuk terkena infeksi, karena sel
darah putih sangat berperan dalam melawan benda asing (termasuk agen infeksius, seperti
bakteri dan virus) yang masuk ke dalam tubuh. Kondisi kurangnya sel darah putih dalam
tubuh disebut leukopenia.
Apabila didapatkan jumlah seldarah putih (leukosit) lebih dari jumlah normal,
maka kemungkinan orang tersebut mengalami leukemia (kanker darah putih). Leukemia
ditandai dengan jumlah leukosit yang lebih dari normal, leukosit-leukosit tersebut
kebanyakan yang belum matang atau masih Immature. Sel sel yang belum matang ini
10

belum mampu memberikan respon imun yang maksimal, jadi pada penderita leukemia
juga megalami penurunan sistem imun.
Sel darah putih terdiri dari eosinofil, basofil, neutrofil, limfosit, dan monosit.
Jumlah normal masing-masing komponen tersebut ditunjukan oleh tabel berikut :
Tipe sel
Neutrofil

Rata-rata, sel per mikroliter


3650

95% Konfidensi interval, sel per mikroliter


1830 7250

Limfosit

2500

1500 4000

Monosit

430

200 950

Eusinofil

150

0 700

Basofil

30

0 150

A. Neutrofil
Jumlah neutrofil dalam darah dapat mengindikasikan terjadinya inflamasi. Hal
ini dikarenakan neutrofil merupakan line pertahanan pertama terhadap inflamasi.
Apabila jumlah neutrofil meningkat (melibihi jumlah normal) kemungkinan orang
tersebut sedang mengalami inflamasi.
B. Limfosit
Limfosit berperan dalam respon imun adaptif, yakni limfosit T (seluler) dan
limfosit B (humoral). Jika jumlah limfosit T atau B meningkat, kemungkinan
terjadi infeksi, karena sel T dan B berperan dalam melawan infeksi. Apabila
jumlah sel T dan B menurun, pasien dicurigai mengalami imunodefisiensi
(penurunan kekebalan tubuh). Penurunan ini bisa disebabkan oleh infeksi virus,
seperti virus HIV.

C. Monosit
Monosit akan berdiferensiasi menjadi makrofag dalam jaringan, yang berfunsi
menelan (fagosit) benda benda asing dalam tubuh. Peningkatan jumlah monosit
juga bisa dijadikan indikasi terjadinya inflamasi, karena monosit (makrofag)
mempunyai peran penting dalam proses inflamasi.
D. Eosinofil
11

Eosinofil berperan dalam reaksi hipersensitivitas. Peningkatan jumlah eusinofil


dalam darah berarti pasien sedang mengalami reaksi hipersensitivitas (alergi).
E. Basofil
Sama dengan Eusinofil, basofil juga berperan dalam reaksi hipersensitivitas,
jadi peningkatan jumlah basofil bisa dijadikan indikasi terjadinya reaksi
hipersensitivitas (alergi).

10. Kesimpulan

11. Daftar Pustaka


Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Klien. Jakarta : Salemba Medika
Braunwald, dkk. ND. Harrison : Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam volume 1, Ed 13.
Jakarta : EGC
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill
Companies

12