Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN PERAWATAN DIRI

MAKALAH

Oleh
Kelompok 10

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN PERAWATAN DIRI

MAKALAH

diajukan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan Klinik VIII


dengan dosen: Ns. Erti Ikhtiarini Dewi, M.Kep., Sp.Kep.J

Oleh:
Afiq Zulfikar Zulmi

122310101049

Raditya Putra Yuwana

122310101052

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan
keperawatan jiwa mempelajari berbagai macam kasus yang berhubungan dengan
gangguan jiwa sesorang. Salah satunya adalah Defisit Perawatan Diri (Personal
Hygiene). Kurang perawatan diri pada klien dengan gangguan jiwa merupakan : Suatu
keadaan dimana seseorang mengalami kerusakan kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan (kegiatan hidup sendiri). Defisit Perawatan Diri merupakan akibat dari
ketidak mampuan seseorang dalam perawatan dirinya karena lupa akan caranya maupun
ketidak tahuan dalam perawatan diri. Kurang perawatan diri tampak dari ketidak
mampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri secara mandiri,
dan toileting Buang Air Besar (BAB) atau Buang Air Kecil(BAK) secara mandiri.
Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat
adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri tampak dari ketidak mampuan merawat
kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias secara mandiri, dan toileting, buang air
besar atau buang air kecil. Personal Hygiene merupakan perawatan diri sendiri yang
dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis.
Pemenuhan perawatan diri di pengaruhi berbagai faktor diantaranya: budaya, nilai sosial
pada individu, atau kelurga, pengetahuan terhadap perawatan diri, serta persepsi
terhadap perawatan diri (Nurjannah, 2004).
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu,
keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapat memenuhi kebutuhan personal
hygienenya sendiri. Cara perawatan diri menjadi rumit dikarenakan kondisi fisik atau
keadaan emosional klien tidak stabil. Selain itu, beragam faktor pribadi dan sosial
budaya mempengaruhi praktik hygiene klien. Karena perawatan hygiene seringkali
memerlukan kontak yang dekat dengan klien maka perawat menggunakan ketrampilan
komunikasi untuk meningkatkan hubungan terapeutik dan belajar tentang kebutuhan
emosional klien.
1.2 Tujuan
1.2.1 mengetahui pengertian defisit perawatan diri dan karakteristiknya
1.2.2 mengetahui psikodinamika dari defisit perawatan diri

1.2.3 mengetahui diagnosa medis maupun diagnosa keperawatan yang muncul dari klien
defisit perawatan diri
1.2.4 mengetahui terapi medis maupun terapi keperawatan defisit perawatan diri

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Contoh Kasus
Seorang kakek 72 tahun bernama Tn. C mengalami depresi sejak 2 bulan yang
lalu. Depresi Tn. C disebabkan karena kehilangan istri tercintanya. Semenjak kejadian
tersebut Tn. C selalu mengurung diri di kamar dan terlihat penampilan Tn. C yang kotor
hal ini terlihat dari baju Tn. C yang kusut, bau mulut Tn. C yang tidak nyaman, rambut
Tn. C berminyak dan kotor dikarenakan Tn. C tidak mau mandi, menggosok gigi dan
menata rambut. Keluarga mengatakan bahwa Tn. C selalu marah saat di ajak dan di
bantu untuk mandi. Keluarga Tn. C telah putus asa terhadap keadaan Tn. C yang selalu
seperti ini. Keluarga selalu menemani Tn. C dan selalu membujuknya untuk mau mandi.
2.2 Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya
jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah
gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias,
makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah
kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya
(Tarwoto dan Wartonah 2000).
Defisit Perawatan Diri gangguan kemampuan melakukan aktivitas yang terdiri
dari mandi, berpakaian, berhias, makan, toileting atau kebersihan diri secara mandiri
(Nanda, 2006). Keadaan individu mengalami kerusakan fungsi motorik atau fungsi
kognitif, yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing
dari kelima aktivitas perawatan diri (makan, mandi atau higiene, berpakaian atau
berhias, toileting, instrumental) (Carpenito, 2007).
Defisit perawatan diri adalah Salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan hidupnya, kesehatannya

dan

kesejaterannya, sesuaia dengan kondisi kesehtannya. Klien dinyatakan terganggu


perawtaan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan dirinya (Keliat, 2006).
Adapun jenis dan karakteristik kurang perawatan diri tanda dan gejala menurut
(Nanda 2006) meliputi :
a. Kurang perawatan diri mandi atau hygiene
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas mandi atau kebersihan diri secara
mandiri, dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam memperoleh atau
mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan
perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi.
b. Rambut dan kulit kotor
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas kebersihan diri secara mandiri,
dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam memperoleh motivasi untuk
melakukan perawatan diri.
c. Kuku panjang dan kotor
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas kebersihan kukunya secara mandiri,
dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam memperoleh motivasi untuk
melakukan perawatan diri.
d. Kurang perawatan diri berpakaian atau berhias
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas berpakaian dan berhias
untuk diri sendiri, dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam
mengenakan pakaian dalam, memilih pakaian, menggunakan alat tambahan,
menggunakan

kancing

tarik,

melepaskan

pakaian,

menggunakan

kaos

kaki,

mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan


mengenakan sepatu.
e. Kurang perawatan diri toileting
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas toileting, dengan batasan
karakteristik ketidakmampuan klien dalam pergi ke toilet atau menggunakan pispot,
duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan
diri setelah BAB atau BAK dengan menyiram toilet atau kamar kecil.
Menurut Mukhripah (2008) kurang perawatan diri sering ditemukan adanya
tanda dan gejala sebagai berikut :
a. gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki
dan bau, kuku panjang dan kotor.
b. ketidakmampuan berhias atau berdandan, ditandai dengan rambut acakacakan,
pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak
bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.

c. ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai dengan ketidakmampuan


mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada tempatnya.
d. ketidakmampuan BAB atau BAK secara mandiri, ditandai dengan BAB atau
BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB
atau BAK.
Rentang Respon
Respon adaptif

Respon mal adaptif

Pola Perawatan Diri

Kadang Perawatan Diri

Tidak Melakukan

Seimbang

Kadang tidak melakukan

saat stres

2.3 Psikopatologi
Psikopatologi terjadinya defisit perawatan diri di jelaskan dengan menggunakan
model stress adaptasi stuart secara khusus pada pengkajian untuk menjelaskan faktor
predisposisi, factor prespitasi, penilaian stressor, mekanisme koping, dan sumber
koping. Menurut Depkes (2000) penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Faktor Predisposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu untuk melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa menyebabkan kemampuan realitas yang kurang
sehingga terjadi ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan
diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Menurut (Nanda 2006), yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri
adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi

atau

perseptual, hambatan

lingkungan, cemas, depresi, lelah atau lemah yang dialami individu sehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri (Nanda, 2006).

Menurut (Keliat 2006) ada beberapa faktor persipitasi yang dapat menyebabkan
seseorang kurang perawatan diri.
Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari berbagai stressor antara lain:
a. Gambaran Diri
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
terhadap kebersihannya.
b. Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status sosioekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus dia harus menjaga kebersihan kakinya.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah
kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya
(Tarwoto dan Wartonah 2000).
Defisit Perawatan Diri gangguan kemampuan melakukan aktivitas yang terdiri
dari mandi, berpakaian, berhias, makan, toileting atau kebersihan diri secara mandiri
(Nanda, 2006). Keadaan individu mengalami kerusakan fungsi motorik atau fungsi
kognitif, yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing
dari kelima aktivitas perawatan diri (makan, mandi atau higiene, berpakaian atau
berhias, toileting, instrumental) (Carpenito, 2007).
3.2 Saran
Penulis membuat makalah ini, agar pembaca dapat mengetahui tentang Laporan
Pendahuluan dan Strategi Penatalaksanaan pada pasien dengan gangguan jiwa defisit

perawatan diri, salah satunya asuhan keperawatan jiwa. Mahasiswa harus mampu
memahami konsep dasar gangguan perawatan diri dan mampu melakukan praktik
asuhan keperawatan yang sesuai, sehingga mereka akan berkompeten dalam
memberikan asuhan keperawatan jiwa gangguan perawatan diri pada saat terjun ke
dunia kerja nanti.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Jual. 2007. Rencana Asuhan dan Pendokumentasian Keperawatan.
Alih Bahasa Monika Ester. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Damaiyanti, Mukhripah 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan.
Bandung : PT. Refika Aditama.
Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.
Kaplan H.I, Sadok B.J. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Cetakan I. Jakarta: Widya
Medika
Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Nanda. 2006. Panduan Diagnosa NANDA 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi, editor :
Budi Santosa. Jakarta: EGC
Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa.
Yogyakarta : Momedia
Potter and Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik.Edisi 4.Volume 2. Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk. Jakarta :
EGC.
Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.
Wilkinson, J. M. et al. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wilkinson, J. M. et al. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9: Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria NOC. Jakarta: ECG.