Anda di halaman 1dari 86

Daftar Modul HSE

01. Isolasi Energi Berbahaya

01. Isolasi Energi Berbahaya

02. Memasuki Ruang Tertutup

02. Memasuki Ruang Tertutup

03. Klasifikasi Area Berbahaya

03. Klasifikasi Area Berbahaya

04. Penanganan Bahan Berbahaya

04. Penanganan Bahan Berbahaya

05. Identifikasi Bahaya

05. Identifikasi Bahaya

06. Keselamatan Kerja Radiasi

06. Keselamatan Kerja Radiasi

07. Keselamatan Kerja H 2 S

07. Keselamatan Kerja H 2 S

08. Pengujian & Deteksi Gas

08. Pengujian & Deteksi Gas

09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya Dengan Dokumentasi

09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya Dengan Dokumentasi

010. Tabung Gas Bertekanan

010. Tabung Gas Bertekanan

011. Aspek Kebakaran

011. Aspek Kebakaran

012. Scaffolding

012. Scaffolding

013. Alat Pelindung Diri

013. Alat Pelindung Diri

014. Surat Ijin Kerja

014. Surat Ijin Kerja

015. Keselamatan Penggalian

015. Keselamatan Penggalian

016. Operasi Pengangkatan

016. Operasi Pengangkatan

017. Accident Incident Investigation

017. Accident Incident Investigation

018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja

018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja

019. Tanggap Darurat

019. Tanggap Darurat

020. Keselamatan Operasi Gas Purging

020. Keselamatan Operasi Gas Purging

021. Pengamatan Keselamatan Kerja

021. Pengamatan Keselamatan Kerja

022. Bekerja di Ketinggian

022. Bekerja di Ketinggian

023. Lingkungan Kerja Aman

023. Lingkungan Kerja Aman
022. Bekerja di Ketinggian 023. Lingkungan Kerja Aman Modul Sertifikasi SI, GSI & A T PT.

Modul Sertifikasi SI, GSI & AT PT. PERTAMINA PERSERO HSE Corporate

Aspek Kebakaran

Tujuan Modul

2

1. Pendahuluan

3

2. Pengenalan Terjadinya Api

9

3. Pencegahan Kebakaran

19

4. Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

29

Daftar Pustaka

83

Lampiran : Matriks Kompetensi SIKA

84

2

Tujuan Modul

Tujuan Modul

Memahami unsur-unsur terbentuknya api

Memahami usaha-usaha pencegahan kebakaran.

Memahami sistim pengendalian kebakaran

Memahami teknik-teknik aplikasi alat pemadam kebakaran

• Memahami teknik-teknik aplikasi alat pemadam kebakaran Melalui modul ini diharapkan pekerja memahami usaha

Melalui modul ini diharapkan pekerja memahami usaha pencegahan kebakaran sehingga diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam mencegah terjadinya kebakaran. Namun demikian modul ini juga diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap sistim pengendalian kebakaran dan teknik-teknik pemakaian alat pemadam kebakaran.

dapat memberikan pemahaman terhadap sistim pengendalian kebakaran dan teknik-teknik pemakaian alat pemadam kebakaran.
dapat memberikan pemahaman terhadap sistim pengendalian kebakaran dan teknik-teknik pemakaian alat pemadam kebakaran.
dapat memberikan pemahaman terhadap sistim pengendalian kebakaran dan teknik-teknik pemakaian alat pemadam kebakaran.

3

1 Pendahuluan

4

Pendahuluan

A pi merupakan suatu yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia sejak awal

kehidupan manusia. Namun demikian, api yang tidak terkendali merupakan salah satu bencana besar yang mengancam manusia. Bencana api yang tidak terkendali telah menelan banyak jiwa dan menyebabkan kerugian finansial yang besar, seperti yang ditampilkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.1 Beberapa bencana api sepanjang sejarah Tahun Lokasi Kematian 1871 Peshtigo, Wisconsin (kebakaran hutan)
Tabel 1.1 Beberapa bencana api sepanjang sejarah
Tahun
Lokasi
Kematian
1871
Peshtigo, Wisconsin (kebakaran hutan)
1.152
1904
Pelabuhan New York (kebakaran kapal uap)
1.021
1922
Izmir, Turki
1.000
1930
Chicago (Teater Iroquois)
600
1949
Chungking, Cina
1.700
1956
Marcinelle, Belgia
(kebakaran tambang batu bara)
262
1988
Kebakaran dan Ledakan Piper Alpha
167
Pengukuran nyata dari masalah kebakaran adalah
kerugian yang dihasilkannya. Kerugian tersebut dapat
dikelompokkan sebagai berikut:

Pendahuluan

5

1. Tingkat Kematian

2. Tingkat Keparahan (cedera)

3. Kematian petugas pemadam kebakaran

4. Petugas pemadam kebakaran yang cedera

5. Kerugian langsung

6. Kerugian tidak langsung

7. Biaya perlindungan terhadap kebakaran

tidak langsung 7. Biaya perlindungan terhadap kebakaran Kadang kerusakan tak langsung tidak dapat diperbaiki.
tidak langsung 7. Biaya perlindungan terhadap kebakaran Kadang kerusakan tak langsung tidak dapat diperbaiki.

Kadang kerusakan tak langsung tidak dapat diperbaiki. Kehilangan pelanggan selama shut down akibat kebakaran tak pernah dapat diperoleh kembali. Faktanya, banyak perusahaan bangkrut setelah kebakaran besar, meskipun perusahaan tersebut memiliki asuransi yang cukup untuk menutupi kerugiannya karena perusahaan tak mampu memperoleh kembali pangsa pasar yang hilang saat pabrik shut down.

kembali pangsa pasar yang hilang saat pabrik shut down . Keamanan Terhadap Kebakaran Ketika terjadi kebakaran,
kembali pangsa pasar yang hilang saat pabrik shut down . Keamanan Terhadap Kebakaran Ketika terjadi kebakaran,

Keamanan Terhadap Kebakaran

Ketika terjadi kebakaran, pertimbangan pertama adalah keamanan untuk jiwa manusia. Banyak penelitian yang dilakukan untuk menemukan cara

6

Pendahuluan

yang paling efektif untuk evakuasi yang aman dan cepat dari segala jenis kebakaran.

Mayoritas kerugian materi dan kehilangan nyawa dari kebakaran terjadi di gedung, terlepas dari kebakaran di industri. Banyak nyawa yang terenggut dalam kebakaran di gedung karena perancang, pembangun, dan/atau operator dari properti tersebut tidak memperhatikan keamanan orang-orang saat terjadi kebakaran. Berikut ini beberapa fakta umum yang harus dipikirkan ketika memperhatikan keamanan terhadap kebakaran:

1. 2.
1.
2.

Tak ada fasilitas yang benar-benar tahan api. Hampir semua fasilitas dapat terbakar.

Panas ditransmisikan dengan konveksi, konduksi, dan radiasi.

3.
3.
ditransmisikan dengan konveksi, konduksi, dan radiasi. 3. Api akan menyebar di gedung secara horizontal dan vertikal.

Api akan menyebar di gedung secara horizontal dan vertikal.

4. 5.
4.
5.

Penyebaran panas, asap, dan gas beracun merupakan bahaya tunggal terbesar terhadap nyawa dan selalu menyertai penyebaran api.

Isi dari fasilitas lebih sering menjadi sumber kebakaran dibandingkan struktur fisik fasilitasnya.

Pendahuluan

7

6. Waktu yang dibutuhkan dari awal pembakaran hingga menjadi kebakaran yang merusak sangatlah singkat.

7. Perencanaan untuk tindakan perlindungan dan pencegahan terhadap kebakaran sangat penting.

8. Sistem keamanan nyawa total tak akan dapat dicapai.

9. Setiap fasilitas harus memiliki prosedur yang jelas untuk memastikan tindakan yang tepat dari seluruh staf saat terjadi kebakaran.

harus memiliki prosedur yang jelas untuk memastikan tindakan yang tepat dari seluruh staf saat terjadi kebakaran.
harus memiliki prosedur yang jelas untuk memastikan tindakan yang tepat dari seluruh staf saat terjadi kebakaran.

8

Pendahuluan

8 Pendahuluan
8 Pendahuluan
8 Pendahuluan

9

2 Pengenalan Terjadinya Api

10 Pengenalan Terjadinya Api

2.1. Api

Api merupakan reaksi kimia yang cepat dan awet yang melepaskan panas, cahaya, dan produk kimia. Reaksi kimia dari bahan yang dapat terbakar dan oksigen atau yang lebih dikenal sebagai oksidasi ini bersifat eksotermis.

Proses pembakaran dapat dijelaskan dengan model SEGITIGA API. Setiap sisi dari segitiga tersebut mewakili salah satu elemen dasar yang dibutuhkan dalam proses pembakaran, yaitu bahan bakar, panas, dan oksigen. Model ini kemudian dikembangkan lagi menjadi model tetrahedron, yang terdiri dari bahan bakar, panas, oksigen, dan reaksi rantai. Reaksi rantai adalah proses yang menjaga api tetap ada.

bakar, panas, oksigen, dan reaksi rantai. Reaksi rantai adalah proses yang menjaga api tetap ada. Gambar
Gambar 2.1 Segi Tiga Api
Gambar 2.1 Segi Tiga Api

Pengenalan Terjadinya Api 11

Pengenalan Terjadinya Api 11 Gambar 2.2 Model Api Tetahedron 2.2. Bahan Bakar Bahan bakar dapat berupa
Pengenalan Terjadinya Api 11 Gambar 2.2 Model Api Tetahedron 2.2. Bahan Bakar Bahan bakar dapat berupa
Pengenalan Terjadinya Api 11 Gambar 2.2 Model Api Tetahedron 2.2. Bahan Bakar Bahan bakar dapat berupa

Gambar 2.2 Model Api Tetahedron

2.2. Bahan Bakar

Bahan bakar dapat berupa padatan, cairan maupun gas. Dengan pengecualian terhadap logam yang dapat terbakar, hanya gas yang akan langsung terbakar, sedangkan padatan dan cairan harus terkonversi menjadi gas terlebih dahulu sebelum terbakar.

Pada umumnya di industri kimia, minyak dan gas, bahan bakar jenis cairan dan gas merupakan yang paling banyak menimbulkan kebakaran. Bahan yang dapat terbakar adalah bahan yang pada rentang kondisi atmosferik normal akan menguap dan membentuk campuran dengan udara yang

terbakar adalah bahan yang pada rentang kondisi atmosferik normal akan menguap dan membentuk campuran dengan udara
terbakar adalah bahan yang pada rentang kondisi atmosferik normal akan menguap dan membentuk campuran dengan udara

12 Pengenalan Terjadinya Api

akan terbakar jika dipantik. Ada batas atas dan batas bawah konsentrasi di udara untuk setiap uap yang dapat terbakar. Batas atas adalah konsentrasi maksimum di udara dari uap yang dapat terbakar untuk masih bisa dipantik. Peningkatan gas inert di campuran yang dapat terbakar akan mengurangi proporsi oksigen di campuran tersebut sehingga akan menurunkan batas yang dapat terbakar.

Karakter lain yang mempengaruhi bahaya kebakaran dari bahan-bahan yang dapat terbakar adalah:

1. Tekanan uap (vapour pressure) - tekanan yang diberikan oleh uap pada kondisi setimbang di suatu campuran. Semakin besar tekanan uap berarti semakin banyak uap yang dapat terbakar di campuran dan hal ini akan meningkatkan bahaya kebakaran.

tekanan uap berarti semakin banyak uap yang dapat terbakar di campuran dan hal ini akan meningkatkan

2. Titik nyala (ignition point) - temperatur terendah dari suatu bahan untuk menghasilkan uap yang dapat dipantik. Semakin rendah titik nyala berarti semakin banyak uap yang dapat dihasilkan pada temperatur tertentu dan tentunya akan meningkatkan bahaya kebakaran.

berarti semakin banyak uap yang dapat dihasilkan pada temperatur tertentu dan tentunya akan meningkatkan bahaya kebakaran.
berarti semakin banyak uap yang dapat dihasilkan pada temperatur tertentu dan tentunya akan meningkatkan bahaya kebakaran.
berarti semakin banyak uap yang dapat dihasilkan pada temperatur tertentu dan tentunya akan meningkatkan bahaya kebakaran.

Pengenalan Terjadinya Api 13

3. Titik pengapian otomatis (auto ignition point) - temperatur terendah dari suatu bahan untuk terpantik tanpa adanya api.

4. Densitas uap (vapour density) - perbandingan relatif unit berat dari campuran yang dapat terbakar dengan unit berat dari udara. Jika densitas uap lebih besar dari 1 berarti uap lebih berat dari udara dan akan bergerak di permukaan tanah. Jika nilai perbandingannya kurang dari 1 maka uap lebih ringan dari udara dan akan melayang di udara.

Biasanya sumber dari campuran yang dapat meledak di industri adalah ruangan tertutup, bejana kosong, dasar tangki, tabung gas, relief valve, vent, drain, pipa terbuka, thermal relief valve, tumpahan, dan debu.

, pipa terbuka, thermal relief valve , tumpahan, dan debu. 2.3. Panas Sumber pengapian dengan energi
, pipa terbuka, thermal relief valve , tumpahan, dan debu. 2.3. Panas Sumber pengapian dengan energi
, pipa terbuka, thermal relief valve , tumpahan, dan debu. 2.3. Panas Sumber pengapian dengan energi

2.3. Panas

thermal relief valve , tumpahan, dan debu. 2.3. Panas Sumber pengapian dengan energi yang cukup dibutuhkan

Sumber pengapian dengan energi yang cukup dibutuhkan untuk dapat memulai suatu kebakaran, kecuali untuk bahan dan logam yang terpantik secara spontan. Ada empat sumber utama energi panas, yaitu:

14 Pengenalan Terjadinya Api

1. Kimia – beberapa reaksi kimia bersifat eksotermis (melepaskan panas). Energi panas dapat menimbulkan kebakaran. Yang termasuk dalam kategori ini adalah bahan yang dapat terpantik secara spontan, logam, asetilida, dan lain-lain.

– energi yang dibutuhkan untuk

menggerakkan arus listrik melalui suatu media, muncul dalam bentuk energi panas. Bentuk dasar api dari energi panas elektrik adalah tahanan, percikan api, nyalaan, listrik statis, dan kilatan.

2. Elektrik

api, nyalaan, listrik statis, dan kilatan. 2. Elektrik 3. Mekanik – energi mekanik secara normal ditimbulkan
api, nyalaan, listrik statis, dan kilatan. 2. Elektrik 3. Mekanik – energi mekanik secara normal ditimbulkan

3. Mekanik – energi mekanik secara normal ditimbulkan oleh friksi atau pengaruh dari suatu aksi. Contoh untuk sumber api jenis ini adalah perkakas tangan, gerinda, gas buang dari kendaraan, mesin yang berputar, permukaan yang panas, dan udara tekan.

ini adalah perkakas tangan, gerinda, gas buang dari kendaraan, mesin yang berputar, permukaan yang panas, dan

4. Nuklir – energi nuklir adalah energi panas yang dilepaskan dari inti atom melalui proses fisi nuklir. Pada beberapa elemen, energi ini sangat intens. Energi nuklir dapat jutaan kali lebih besar dari energi yang dilepaskan dari reaksi kimia biasa.

energi ini sangat intens. Energi nuklir dapat jutaan kali lebih besar dari energi yang dilepaskan dari

Pengenalan Terjadinya Api 15

2.4. Oksigen

Oksigen harus ada di setiap bentuk pembakaran. Pada kebakaran yang umumnya terjadi, kandungan oksigen didalam udara, umumnya berkisar 21% dari volum udara sedangkan, batas minimum oksigen di atmosfer yang dapat menimbulkan pembakaran adalah 15-16%. Jika jumlah oksigen meningkat, intensitas dari kebakaran juga akan meningkat. Oksigen yang berlebih dapat menghasilkan pembakaran sempurna yang lebih banyak dari bahan bakar sehingga mengurangi jumlah asap, gas, dan arang yang dihasilkan.

mengurangi jumlah asap, gas, dan arang yang dihasilkan. Oksigen tidak selalu berasal dari udara. Senyawa kimia
mengurangi jumlah asap, gas, dan arang yang dihasilkan. Oksigen tidak selalu berasal dari udara. Senyawa kimia

Oksigen tidak selalu berasal dari udara. Senyawa kimia tertentu yang dikategorikan sebagai oksidator (oxidizer) dapat menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran atau meningkatkan intensitas kebakaran.

Bahan yang terbakar mengalami perubahan fisik dan kimia yang kompleks. Selama perubahan tersebut, bahan bertransformasi menjadi bentuk atau kondisi lain, misalnya gas, jilatan api, asap panas, arang, dan tekanan. Sebagian besar produk pembakaran itu sangat berbahaya bagi manusia.

gas, jilatan api, asap panas, arang, dan tekanan. Sebagian besar produk pembakaran itu sangat berbahaya bagi
gas, jilatan api, asap panas, arang, dan tekanan. Sebagian besar produk pembakaran itu sangat berbahaya bagi

16 Pengenalan Terjadinya Api

2.5. Tahapan Kebakaran / Terjadinya Api

Sebagian besar kebakaran berlangsung dalam empat tahap, yaitu:

Tahap awal untuk ada – tak ada asap, jilatan api, atau panas yang signifikan, namun sejumlah partikel pembakaran terbentuk dalam periode tertentu. Partikel tersebut dihasilkan dari dekomposisi kimia, memiliki massa, namun sangat kecil untuk dapat dilihat. Kelakuan partikel ini mengikuti hukum gas dan secara cepat bergerak ke atas. Tahap ini dapat berkembang dengan cepat atau lambat dalam periode menit, jam, atau bahkan hari.

1.

atau lambat dalam periode menit, jam, atau bahkan hari. 1. 2. Tahap terbakar tanpa jilatan api
2.
2.

Tahap terbakar tanpa jilatan api – seiring dengan berkembangnya kebakaran, jumlah partikel pembakaran meningkat hingga ke level yang membuat partikel tersebut dapat dilihat atau yang disebut dengan asap. Namun, masih belum nampak jilatan api atau panas yang signifikan.

masih belum nampak jilatan api atau panas yang signifikan. 3. Tahap jilatan api – kebakaran semakin
3.
3.

Tahap jilatan api – kebakaran semakin berkembang lebih jauh, titik pengapian tercapai dan muncul

Pengenalan Terjadinya Api 17

jilatan api. Tingkatan asap yang terlihat berkurang dan tingkatan panas meningkat.

4. Tahap panas – pada titik ini, panas, jilatan api, asap, dan gas beracun yang seluruhnya dalam jumlah besar dihasilkan. Transisi dari tahap jilatan api ke tahap panas biasanya berkembang sangat cepat sebagaimana tahap panas itu sendiri.

Transisi dari tahap jilatan api ke tahap panas biasanya berkembang sangat cepat sebagaimana tahap panas itu

18 Pengenalan Terjadinya Api

18 Pengenalan Terjadinya Api
18 Pengenalan Terjadinya Api
18 Pengenalan Terjadinya Api

19

3

Pencegahan

Kebakaran

20 Pencegahan Kebakaran

P encegahan kebakaran atau timbulnya api adalah usaha yang paling utama dalam manajemen risiko kebakaran.

Pencegahan timbulnya api dapat dilakukan dengan mencegah kombinasi bahan bakar, sumber panas / sumber pemantik, dan oksigen dengan menghilangkan salah satu unsur dari ke tiga unsur segi tiga api tersebut.

salah satu unsur dari ke tiga unsur segi tiga api tersebut. Penghilangan Sumber Oksigen. Bejana, kontainer,

Penghilangan Sumber Oksigen.

Bejana, kontainer, perpipaan, atau tangki bahan bakar sebelum diisi oleh bahan bakar (gas hidrokarbon) dibersihkan dari kadar oksigennya dengan cara mendorongnya dengan gas inert (gas yang tidak bisa bereaksi) yang disebut “ purging ”.

yang tidak bisa bereaksi) yang disebut “ purging ”. Purging menghindari terjadinya kontak antara hidrokarbon

Purging menghindari terjadinya kontak antara hidrokarbon dengan udara. Gas inert yang digunakan adalah gas nitrogen (N 2 ) atau karbondioksida (CO 2 ). Gas inert ini mendorong gas oksigen (sekitar 20% bagian dari udara) keluar dari bejana, kontainer, atau perpipaan sehingga diperoleh unsur oksigen yang tidak cukup untuk terjadinya reaksi pembakaran yang disebut kadar minimum oksigen untuk pembakaran.

unsur oksigen yang tidak cukup untuk terjadinya reaksi pembakaran yang disebut kadar minimum oksigen untuk pembakaran.
unsur oksigen yang tidak cukup untuk terjadinya reaksi pembakaran yang disebut kadar minimum oksigen untuk pembakaran.

Pencegahan Kebakaran 21

Lebih lanjut mengenai purging akan dibahas secara mendalam pada modul “ Purging ”. Dengan dihilangkannya unsur oksigen, maka api tidak akan timbul sekalipun terjadi titik nyala atau pemantikan.

3.1. Peghilangan Sumber Api.

Sumber api dihilangkan dengan melarang merokok, penggunaan alat yang dapat menimbulkan api terbuka seperti las, atau alat yang berpotensi menimbulkan percikan api seperti gerinda, mesin bor, chipping gun, blasting, alat pemotong (power saw), instrumen yang dapat menimbulkan percikan api (Non Explosion Proof, non IS / non Intrinsically Safe type) pada daerah berklasifikasi bahaya bahan bakar (Classified area/combustible area).

bahaya bahan bakar ( Classified area/combustible area ). API ( American Petroleum Institute ) RP 500,
bahaya bahan bakar ( Classified area/combustible area ). API ( American Petroleum Institute ) RP 500,

API (American Petroleum Institute) RP 500, RP 505, IP 15, dan NFPA 70 merekomendasikan cara-cara menentukan daerah berklasifikasi bahaya kebakaran. Pembahasan tentang klasifikasi area berbahaya dapat dilihat lebih mendalam pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya”.

lebih mendalam pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya”. Dengan adanya klasifikasi area berbahaya ini di lingkungan
lebih mendalam pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya”. Dengan adanya klasifikasi area berbahaya ini di lingkungan

Dengan adanya klasifikasi area berbahaya ini di lingkungan pabrik dan pematuhan atas ketentuan

22 Pencegahan Kebakaran

atau persyaratan bekerja dengan peralatan listrik, pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan api (hot work) diharapkan dapat memisahkan antara unsur pemantikan (sumber api) dan sumber bahan bakar. Berikut ini adalah beberapa usaha pencegahan atau mengurangi kemungkinan kontaknya sumber bahan bakar dengan api:

kemungkinan kontaknya sumber bahan bakar dengan api: • Pencegahan kebakaran dari pekerjaan las Pada pekerjaan

Pencegahan kebakaran dari pekerjaan las Pada pekerjaan las, pencegahan kebakaran atau ledakan dilakukan dengan penggunaan alat “flash- back” arrestor yang berfungsi menghindari arus balik termasuk arus api balik dari ujung las ke tabung gas.

balik termasuk arus api balik dari ujung las ke tabung gas. Gambar 3.1 Las Oksigen-Asetilena Cara
Gambar 3.1 Las Oksigen-Asetilena
Gambar 3.1 Las Oksigen-Asetilena

Cara lain pencegahannya adalah pekerjaan las atau pemotongan dengan api dilakukan di dalam ruangan khusus yang dirancang mempunyai tekanan

Pencegahan Kebakaran 23

positif (welding habitat) untuk mencegah (mengurangi kemungkinan) masuknya gas hidrokarbon ke titik api (nyala).

kemungkinan) masuknya gas hidrokarbon ke titik api (nyala). Gambar 3.2 Pekerjaan las dengan sistim tekanan positif
kemungkinan) masuknya gas hidrokarbon ke titik api (nyala). Gambar 3.2 Pekerjaan las dengan sistim tekanan positif

Gambar 3.2 Pekerjaan las dengan sistim tekanan positif

Penggunaan “hot work shelter” yakni selimut api yang menutupi pekerjaan las tanpa adanya sistim

24 Pencegahan Kebakaran

tekanan positif di dalamnya hanya mencegah partikel menyala (spark) hasil las atau pemotongan dengan api berterbangan tak terkendali. Penggunaan shelter ini mencegah spark yang berterbangan tersebut berkontak dengan bahan mudah terbakar termasuk (jika ada) gas yang bocor ketika pekerjaan las berlangsung. Penurunan risiko dengan shelter ini tidak sebaik habitat seperti yang disebutkan di atas. Namun, penggunaan hot work shelter di daerah yang tidak mengandung titik kebocoran bahan bakar yang tinggi dapat dipertimbangkan.

Penggunaan Alat Listrik

Alat listrik yang digunakan di daerah yang telah ditentukan sebagai area berklasifikasi bahaya (classified area) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: alat listrik teruji untuk area berbahaya (Approved for Classified Area), bertipe explosion proof, Intrinsically Safe-IS, dan lain sebagainya). Pembahasan tentang atau Peralatan listrik dan klasifikasi area berbahaya terdapat pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya ”.

atau Peralatan listrik dan klasifikasi area berbahaya terdapat pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya ”. •
•
atau Peralatan listrik dan klasifikasi area berbahaya terdapat pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya ”. •
atau Peralatan listrik dan klasifikasi area berbahaya terdapat pada modul “Klasifikasi Area Berbahaya ”. •

Pencegahan Kebakaran 25

Penggunaan alat listrik yang tidak memenuhi kriteria alat listrik untuk digunakan pada area berklasifikasi berbahaya hanya dapat dilakukan melalui pengendalian pekerjaan panas (hot work). Sambungan-sambungan instalasi listrik di area berbahaya ditempatkan di dalam kotak sambungan (junction box) yang kedap api atau kedap gas yang disebut dengan “explosion proof” junction box. Pembukaan explosion proof junction box yang masih dialiri listrik di dalamnya yang berada di area berklasifikasi berbahaya harus mengikuti prosedur kerja panas.

Pencegahan kebakaran karena petir.

Pencegahan kebakaran karena petir adalah dengan menangkap arus listrik dari petir ke pembumian. Pencegahan ini melalui pemasangan alat penangkal petir (lightning arrestor) sehingga petir tidak menyambar daerah / tempat yang dapat terbakar.

pemasangan alat penangkal petir ( lightning arrestor ) sehingga petir tidak menyambar daerah / tempat yang
pemasangan alat penangkal petir ( lightning arrestor ) sehingga petir tidak menyambar daerah / tempat yang
pemasangan alat penangkal petir ( lightning arrestor ) sehingga petir tidak menyambar daerah / tempat yang
pemasangan alat penangkal petir ( lightning arrestor ) sehingga petir tidak menyambar daerah / tempat yang

26 Pencegahan Kebakaran

3.2. Penghilangan / Penahanan Sumber Bahan Bakar

Sebaik-baiknya pencegahan kebakaran adalah dengan menghilangkan sumber bahan bakar. Namun, hal ini sering tidak sesuai dengan kondisi bisnis perusahaan minyak dan gas bumi yang memang berinteraksi dengan bahan bakar. Namun ada saat-saat dimana bahan bakar harus atau dapat ditiadakan atau dikurangi dalam keadaan- keadaan tertentu seperti:

atau dikurangi dalam keadaan- keadaan tertentu seperti: • Mengosongkan tangki atau perpipaan yang mengandung
atau dikurangi dalam keadaan- keadaan tertentu seperti: • Mengosongkan tangki atau perpipaan yang mengandung

Mengosongkan tangki atau perpipaan yang mengandung bahan bakar pada waktu dilakukan pekerjaan yang dapat menimbulkan api (disebut pekerjaan panas / Hot Work) pada tangki atau pipa tersebut. Sebelum melakukan pekerjaan hot work, terlebih dahulu dilakukan pengetesan gas bahan bakar (combustible gas test) untuk mengetahui campuran LEL di udara. Jika LEL nol maka pekerjaan panas tersebut baru boleh dilaksanakan.

LEL nol maka pekerjaan panas tersebut baru boleh dilaksanakan. • Pencegahan kebakaran melalui kerapihan dan penataan.
•

Pencegahan kebakaran melalui kerapihan dan penataan.

Pencegahan Kebakaran 27

Pencegahan ini termasuk penataan dan penyimpanan bahan mudah terbakar, jauh dari sumber panas termasuk peralatan
Pencegahan ini termasuk penataan dan
penyimpanan bahan mudah terbakar, jauh dari
sumber panas termasuk peralatan listrik atau
sumber api dari kompor di dapur. Bahan-bahan
mudah terbakar banyak dijumpai dalam bangunan
seperti kertas, bahan katun, kayu, karton, dan lain
sebagainya. Meminimalkan jumlah bahan mudah
terbakar ini juga mengurangi risiko terjadinya
kebakaran. Tidak meletakkan bahan kertas di atas
alat listrik yang mempunyai permukaan panas
seperti transformer tegangan tinggi atau kertas di
dekat sumber api.
Pencegahan
kebakaran
melalui
pencegahan
kebocoran (loss of containment).
Pabrik yang memproses fluida (gas atau cairan)
yang mudah terbakar harus mempunyai integritas
sistem proses (process system integrity) yang
handal. Integritas Sistem Proses tersebut meliputi
kehandalan sistem perpipaan, sistem bejana
tekan, sistem pompa, sistem kompresor dan wadah
proses (process containment) lainnya.
Program integritas sistem proses meliputi inspeksi,
pengujian / testing, dan pemeliharan terhadap

28 Pencegahan Kebakaran

kehandalan integritas proses tersebut seperti ketebalan, korosi, sambungan perpipaan (flange to flange), dan lain sebagainya. Usaha pencegahan kebocoran di pabrik menjadi bagian terpenting belakangan ini mengingat sudah banyak aset yang dioperasikan melebihi umur rancangannya (design life) sehingga diperlukan suatu program

integritas proses yang handal.

dioperasikan melebihi umur rancangannya ( design life ) sehingga diperlukan suatu program integritas proses yang handal.
dioperasikan melebihi umur rancangannya ( design life ) sehingga diperlukan suatu program integritas proses yang handal.

29

4 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

30 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

S istem pengendalian dan perlindungan dari kebakaran dibutuhkan ketika usaha pencegahan

kebakaran tidak tercapai. Tujuan dari sistem pengendalian dan perlindungan kebakaran adalah untuk meminimalisasi akibat dari kebakaran sehingga kerugian (jiwa manusia, aset perusahaan, dan lingkungan hidup) tidak menjadi besar dimulai dari pengendalian api sehingga tidak menjalar lebih jauh hingga ke pemadaman kebakaran.

tidak menjalar lebih jauh hingga ke pemadaman kebakaran. Sistem ini terdiri dari beberapa tingkatan yang menunjukkan
tidak menjalar lebih jauh hingga ke pemadaman kebakaran. Sistem ini terdiri dari beberapa tingkatan yang menunjukkan

Sistem ini terdiri dari beberapa tingkatan yang menunjukkan tingkat kesulitan pengendalian kebakaran tersebut. Salah satu model pengendalian yang digunakan secara umum adalah seperti yang ditampilkan pada Gambar 4.1. Setiap tingkatan dalam pohon keputusan pengendalian kebakaran menyediakan pilihan yang dapat digunakan untuk mengendalikan kebakaran di suatu kondisi.

digunakan untuk mengendalikan kebakaran di suatu kondisi. Level 1 – Pengendalian Bahan Bakar Jika bahan bakar
Level 1 – Pengendalian Bahan Bakar
Level 1 – Pengendalian Bahan Bakar

Jika bahan bakar terkendali, serta proses pembakaran terkendali pula maka potensi terjadinya kebakaran akan dapat diminimalisasi. Misalnya dengan pengendalian sifat bahan bakar, mengendalikan

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 31

jumlah

distribusinya.

bahan

bakar

yang

ada

dan

mengatur

Level 2 – Pengendalian Lingkungan

Level ini ditargetkan untuk mengendalikan proses pembakaran dari lingkungan tempat bahan bakar berada, seperti mengendalikan sifat fisik lingkungan dan mengendalikan komposisi kimiawi lingkungan. Contohnya adalah pemilihan pelapis interior dari suatu bangunan dan menjadikan tangki penyimpanan tidak reaktif.

bangunan dan menjadikan tangki penyimpanan tidak reaktif. Level 3 – Penghentian api secara otomatis Penghentian api
bangunan dan menjadikan tangki penyimpanan tidak reaktif. Level 3 – Penghentian api secara otomatis Penghentian api

Level 3 – Penghentian api secara otomatis

Penghentian api secara otomatis merupakan cara yang paling dapat dihandalkan dari level-level pengendalian kebakaran lainnya. Agar efektif, sistem ini harus dirancang dan dipasang dengan benar, selalu dilakukan inspeksi dan dirawat, serta dites secara berkala.

dilakukan inspeksi dan dirawat, serta dites secara berkala. Level 4 – Konstruksi dengan deteksi otomatis Pengendalian
dilakukan inspeksi dan dirawat, serta dites secara berkala. Level 4 – Konstruksi dengan deteksi otomatis Pengendalian

Level 4 – Konstruksi dengan deteksi otomatis

Pengendalian kebakaran dapat juga dilakukan dengan penggunaan bahan dan teknik konstruksi yang sesuai. Intinya adalah menjaga api berada

32 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

dalam ruang yang tertutup. Jika terdapat deteksi otomatis, api akan terdeteksi pada tahap awalnya. Cara ini meliputi pula pemilihan bahan konstruksi yang tidak akan meningkatkan beban api (fire load) pada konstruksi, penggunaan bahan yang tahan api, membatasi penyebaran api, mengurung api, pemisahan, dinding api (firewall) dan penghalang (barrier), membatasi bukaan atau penetrasi dan venting.

Level 5 – Konstruksi tanpa deteksi otomatis

Pada level tanpa deteksi api otomatis ini, api menjadi terus semakin besar sampai ada orang yang berada di dalam atau dari luar fasilitas yang menyadarinya. Tentunya ini akan membiarkan api untuk menjadi sangat besar sebelum akhirnya terdeteksi sehingga akan membutuhkan upaya penghentian yang lebih.

api untuk menjadi sangat besar sebelum akhirnya terdeteksi sehingga akan membutuhkan upaya penghentian yang lebih.

Level 6 – Penghentian kebakaran secara manual dengan regu pemadam kebakaran

kebakaran secara manual dengan regu pemadam kebakaran Jika kebakaran ditemukan sedini mungkin, orang yang berada
kebakaran secara manual dengan regu pemadam kebakaran Jika kebakaran ditemukan sedini mungkin, orang yang berada
kebakaran secara manual dengan regu pemadam kebakaran Jika kebakaran ditemukan sedini mungkin, orang yang berada

Jika kebakaran ditemukan sedini mungkin, orang yang berada di fasilitas tersebut dapat menggunakan alat pemadam kebakaran atau cara lain yang tersedia untuk mengendalikan api. Kemampuan orang itu untuk

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 33

mengendalikan api secara alamiah bergantung pada kemampuan individu, pelatihan tentang prosedur pemadaman yang benar, dan ketersediaan peralatan pemadam kebakaran. Legislasi mensyaratkan pengadaan pelatihan untuk regu pemadam dan/atau pekerja yang diharapkan dapat turut memadamkan api di tempat kerja mereka. Pada beberapa fasilitas, perusahaan mengharapkan seluruh pekerja di dalam fasilitas tersebut mampu menggunakan alat pemadam kebakaran untuk mengendalikan api pada tahap awal. OSHA mensyaratkan bahwa pekerja tersebut harus terdidik dengan baik sehingga memenuhi persyaratan.

harus terdidik dengan baik sehingga memenuhi persyaratan. Level 7 – Penghentian kebakaran manual dengan bantuan

Level 7 – Penghentian kebakaran manual dengan bantuan dinas pemadam kebakaran

kebakaran manual dengan bantuan dinas pemadam kebakaran Level ini merupakan level terakhir dari sistem pengendalian
kebakaran manual dengan bantuan dinas pemadam kebakaran Level ini merupakan level terakhir dari sistem pengendalian

Level ini merupakan level terakhir dari sistem pengendalian kebakaran. Penghentian kebakaran secara manual sama halnya dengan bertaruh dan penuh resiko. Pada waktu api mencapai level ini, seluruh level sistem pengendalian kebakaran telah gagal. Oleh karena itu, tidaklah pada tempatnya untuk mengharapkan tim dari dinas pemadam kebakaran dengan pengetahuan dan kemampuan

karena itu, tidaklah pada tempatnya untuk mengharapkan tim dari dinas pemadam kebakaran dengan pengetahuan dan kemampuan

34 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

yang belum tentu sesuai untuk dapat dengan segera untuk memadamkan kebakaran industri.

Tabel 4.1 Pohon Keputusan Pengendalian Kebakaran

Tingkatan Pengendalian

Pengendalian Bahan Bakar

Pengendalian Lingkungan

Pengendalian Bahan Bakar Pengendalian Lingkungan Api Awal Awal Padam pada ukuran tertentu

Api

Awal

Awal

Padam

pada ukuran

tertentu

Terkurung

Bisa menjalar

Bisa padam

Bisa padam

padam

Kerugian

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada, kerusakan Bisa ada korban, Kerusakan cukup besar
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada,
kerusakan
Bisa ada
korban,
Kerusakan cukup
besar
Bisa ada
korban,
kerusakan besar
Bisa ada
korban,
dan hilang
seluruhnya.
kerusakan besar Bisa ada korban, dan hilang seluruhnya. Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi

Penghentian Api Secara Otomatis

Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Penghentian Api Secara Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi
Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis
Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis

Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis

Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi dan Deteksi Otomatis Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran

Pengendalian Dengan Konstruksi

Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Dengan Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran
Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran

Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran

Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian
Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian
Konstruksi Pengendalian Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran

Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran

Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami

Pengendalian Kebakaran Alami

Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami
Manual dengan Brigade Kebakaran Penghentian dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pengendalian Kebakaran Alami

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 35

4.1. Kelas Api

Berdasarkan jenis pemadamannya atau penyebab timbulnya api, api dikelompokkan menjadi 5 kelas:

1. Kelas A: Kebakaran / Api yang ditimbulkan oleh bahan bakar padat yang umumnya mengandung unsur karbon seperti kayu, kertas plastik, kain, karet, dlsb. Pemadaman untuk api kelas A ini dapat dengan menggunakan pemadam api kelas A yakni air, foam, dry powder / dry chemical, CO 2 . Api kelas A diperuntukkan untuk bahan-bahan yang jika terbakar menghasilkan sisa pembakaran berupa abu.

yang jika terbakar menghasilkan sisa pembakaran berupa abu. 2. Kelas B: Kebakaran / Api yang ditimbulkan
yang jika terbakar menghasilkan sisa pembakaran berupa abu. 2. Kelas B: Kebakaran / Api yang ditimbulkan
yang jika terbakar menghasilkan sisa pembakaran berupa abu. 2. Kelas B: Kebakaran / Api yang ditimbulkan

2. Kelas B: Kebakaran / Api yang ditimbulkan oleh bahan bakar cair. Pemadaman api kelas B ini dapat dengan menggunakan foam, dry chemical / powder.

yang ditimbulkan oleh bahan bakar cair. Pemadaman api kelas B ini dapat dengan menggunakan foam, dry
yang ditimbulkan oleh bahan bakar cair. Pemadaman api kelas B ini dapat dengan menggunakan foam, dry
yang ditimbulkan oleh bahan bakar cair. Pemadaman api kelas B ini dapat dengan menggunakan foam, dry

36 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

3. Kelas C: kebakaran yang ditimbulkan oleh peralatan listrik. Pemadaman ini dapat dilakukan dengan CO 2 atau dry chemical. Foam meskipun bisa digunakan tetapi tidak disarankan karena dapat merusak peralatan listrik.

tidak disarankan karena dapat merusak peralatan listrik. 4. Kelas D: Kebakaran / api yang ditimbulkan oleh

4. Kelas D: Kebakaran / api yang ditimbulkan oleh bahan logam / metal seperti Magnesium, Sodium, Potasium dan Aluminium. Pemadaman api kelas D ini dapat dengan menggunakan bahan kimia kering khusus (seperti bahan berbasis Sodium Klorida), lemak dan pasir.

(seperti bahan berbasis Sodium Klorida), lemak dan pasir. Ada pemadam api ringan yang dapat digunakan untuk
(seperti bahan berbasis Sodium Klorida), lemak dan pasir. Ada pemadam api ringan yang dapat digunakan untuk
(seperti bahan berbasis Sodium Klorida), lemak dan pasir. Ada pemadam api ringan yang dapat digunakan untuk
(seperti bahan berbasis Sodium Klorida), lemak dan pasir. Ada pemadam api ringan yang dapat digunakan untuk

Ada pemadam api ringan yang dapat digunakan untuk beberapa kelas seperti kelas A,B, dan C.

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 37

Diluar kelas tersebut di atas, ada tambahan kelas untuk kebakaran yang diakibatkan oleh bahan-bahan dapur yakni api kelas K (untuk mudah mengingat K adalah “Kitchen”). Kebakaran khusus dari dapur karena minyak goreng atau lemak (“cooking oil” atau “fats”) yang jika dalam keadaan terlalu panas akan mencapai titik nyala sendiri (auto ignition).

panas akan mencapai titik nyala sendiri ( auto ignition ). 4.2. Siklus Api Seringkali pola pemikiran
panas akan mencapai titik nyala sendiri ( auto ignition ). 4.2. Siklus Api Seringkali pola pemikiran

4.2. Siklus Api

titik nyala sendiri ( auto ignition ). 4.2. Siklus Api Seringkali pola pemikiran yang ada adalah

Seringkali pola pemikiran yang ada adalah mengaplikasikan bahan pemadam kebakaran sesegera mungkin bahkan tanpa memperhitungkan jumlah yang ada. Jika jumlahnya tidak cukup untuk mengendalikan kebakaran, bahan pemadam kebakaran akan terbuang sia-sia. Untuk memiliki

Jika jumlahnya tidak cukup untuk mengendalikan kebakaran, bahan pemadam kebakaran akan terbuang sia-sia. Untuk memiliki

38 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

pengertian mengenai hal ini, orang yang diharapkan untuk memadamkan kebakaran harus memiliki pengertian yang cukup mengenai apa yang terjadi dalam siklus kebakaran.

Grafik dari siklus api sejak pengapian (muncul) hingga padam membentuk kurva yang menyerupai lonceng (lihat
Grafik dari siklus api sejak pengapian (muncul) hingga
padam membentuk kurva yang menyerupai lonceng
(lihat Gambar 4.2.). Api akan padam pada akhirnya
meskipun tak ada pengendalian sama sekali.
Puncak Api
Api mengecil
Api membersar
Api padam
Api menyala
Waktu
Keparahan
Gambar 4.2. Siklus Api
Gambar 4.2. Siklus Api
padam Api menyala Waktu Keparahan Gambar 4.2. Siklus Api Pengendalian api paling baik dilakukan sebelum api

Pengendalian api paling baik dilakukan sebelum api mencapai puncak dari siklusnya. Pada situasi yang mengalami keterlambatan pemadaman, kebakaran biasanya tak dapat dikendalikan sebelum puncaknya.

kebakaran biasanya tak dapat dikendalikan sebelum puncaknya. Pengapian dapat memiliki periode yang bervariasi untuk

Pengapian dapat memiliki periode yang bervariasi untuk mulai. Korek api yang menyala dan jatuh di bensin tak membutuhkan waktu yang lama untuk

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 39

memantik uap bensin tersebut. Sedangkan, bila rokok yang masih menyala dan jatuh di kursi maka baru terjadi pengapian dalam beberapa jam. Saat pengapian terjadi, api akan mulai membesar dan meningkat keparahannya. Pada umumnya, kebakaran yang melibatkan bahan-bahan kelas A berkembang lebih lambat dibandingkan kebakaran yang melibatkan bahan-bahan kelas B.

4.3. Pengendalian Api

Air menjadi bahan pemadam kebakaran dalam bahasan berikut. Bagaimanapun, prinsipnya dapat digunakanuntukkebanyakankelasapi.Sederhananya, untuk mengendalikan kebakaran adalah dengan mendinginkannya, laju penyerapan panas oleh air harus sama atau lebih besar dari laju produksi panas oleh api. Ketika jumlah panas yang diserap per menit sama dengan jumlah panas yang diproduksi per menit, kesetimbangan tercapai dan kebakaran akan terkendali. Begitu pula untuk penyerapan panas yang lebih besar.

Begitu pula untuk penyerapan panas yang lebih besar. Ketika laju penyerapan panas lebih kecil dari laju
Begitu pula untuk penyerapan panas yang lebih besar. Ketika laju penyerapan panas lebih kecil dari laju
Begitu pula untuk penyerapan panas yang lebih besar. Ketika laju penyerapan panas lebih kecil dari laju
Begitu pula untuk penyerapan panas yang lebih besar. Ketika laju penyerapan panas lebih kecil dari laju

Ketika laju penyerapan panas lebih kecil dari laju produksi panas, maka kebakaran tak akan dapat

40 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

dikendalikan hingga jumlah bahan bakar yang tersisa menyebabkan laju produksi panas turun pada titik yang sama atau lebih rendah dari laju penyerapan panas.

Ada empat pilihan dasar yang biasanya digunakan untuk melawan kebakaran, yaitu:

Pilihan pertama adalah tidak melakukan apapun secara langsung untuk mengendalikan api. Pada kasus ini, kebakaran akan padam dengan sendirinya karena kehabisan bahan bakar. Pengendalian yang dilakukan hanya sebatas mencegah penyebaran kebakaran.

a)

b)
b)
dilakukan hanya sebatas mencegah penyebaran kebakaran. a) b) Pilihan kedua adalah menyerang api dengan laju aplikasi

Pilihan kedua adalah menyerang api dengan laju aplikasi yang lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk mengendalikan api. Pada kasus ini, upaya penghentian kebakaran tak akan memiliki pengaruh hingga kebakaran turun pada tingkat yang dapat dipadamkan.

hingga kebakaran turun pada tingkat yang dapat dipadamkan. c) Pilihan ketiga adalah ketika laju aplikasi tidak
c)
c)

Pilihan ketiga adalah ketika laju aplikasi tidak mencukupi, namun laju tersebut ditingkatkan sedikit demi sedikit. Biasanya pada saat laju aplikasi sudah cukup, kebakaran sudah terjadi

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 41

cukup lama sehingga hanya sedikit yang dapat diselamatkan. Pilihan ini adalah ketika petugas pemadam kebakaran adu cepat dengan api tanpa ada kemungkinan menang sehingga keberhasilan pengendalian kebakaran adalah setelah api telah mencapai puncak dan turun ke tingkat pengendalian penghentian kebakaran.

d) Pilihan keempat adalah untuk memberikan laju aplikasi bahan pemadam kebakaran yang cukup untuk mengendalikan kebakaran dalam waktu yang relatif singkat. Pilihan ini tak hanya menimbulkan hasil yang dramatis, namun meminimalkan keparahan kebakaran dan kerusakan. Tidak semua fasilitas mempunyai sumber daya yang cukup, namun pilihan ini dapat memberikan yang terbaik. Berdasarkan pencapaiannya, pilihan keempat merupakan satu- satunya cara untuk mengendalikan kebakaran.

merupakan satu- satunya cara untuk mengendalikan kebakaran. pemadam kebakaran yang paling 4.4. Bahan-Bahan Pemadam
merupakan satu- satunya cara untuk mengendalikan kebakaran. pemadam kebakaran yang paling 4.4. Bahan-Bahan Pemadam
merupakan satu- satunya cara untuk mengendalikan kebakaran. pemadam kebakaran yang paling 4.4. Bahan-Bahan Pemadam
pemadam kebakaran yang paling
pemadam
kebakaran
yang
paling

4.4. Bahan-Bahan Pemadam Kebakaran

Bahan-bahan umum adalah:

42 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

1. Air

2. Zat kimia kering (dry chemical)

3. Karbon Dioksida

4. Bahan-bahan berhalogen

5. Bahan-bahan pembusa (foam)

6. Bubuk kering (dry powder)

Setiap bahan tersebut memiliki ciri khas yang membuatnya lebih atau kurang sesuai untuk situasi kebakaran atau bahan bakar tertentu. Pada beberapa kasus, satu bahan sama baiknya dengan yang lain sehingga pilihan dapat bersifat subjektif.

Untuk memadamkan kebakaran, yang harus dilakukan adalah menghilangkan salah satu elemen dari segitiga api. Metode untuk memadamkan api dapat dilakukan dengan cara menghilangkan panas, menghilangkan oksigen, menghilangkan bahan bakar, memutus reaksi rantai, atau kombinasi dari keseluruhannya.

memutus reaksi rantai, atau kombinasi dari keseluruhannya. 4.4.1. Air Pada intinya, air memadamkan api dengan menyerap
memutus reaksi rantai, atau kombinasi dari keseluruhannya. 4.4.1. Air Pada intinya, air memadamkan api dengan menyerap
memutus reaksi rantai, atau kombinasi dari keseluruhannya. 4.4.1. Air Pada intinya, air memadamkan api dengan menyerap
4.4.1. Air
4.4.1. Air

Pada intinya, air memadamkan api dengan menyerap panas dari bahan bakar dan mendinginkannya. Ketika air mengenai permukaan panas atau atmosfir

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 43

yang panas, air akan menyerap panas tersebut. Perpindahan panas terjadi dari suhu yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Oleh karena itu, suhu air meningkat dan secara bersamaan suhu permukaan atau atmosfir yang panas menjadi turun.

Dalam kebakaran, air biasanya mengambil banyak panas dari bahan bakar sehingga bahan bakar berhenti menguap dan menghentikan proses pembakaran. Ketika air dipanaskan cukup tinggi, air akan berubah menjadi uap. Ketika hal tersebut terjadi, uap memaksa udara keluar dari sekitar api yang berarti oksigen di sekitar api pun berkurang, sekaligus menjadi pendingin untuk membantu pemadaman api.

Air seringkali diasosiasikan dengan kebakaran kelas A, namun air dapat digunakan secara efektif pada banyak kebakaran kelas B untuk mendinginkan cairan yang dapat terbakar hingga dibawah titik nyalanya. Efektivitas dari suatu bahan pemadam ditentukan oleh cara pengaplikasiannya.

suatu bahan pemadam ditentukan oleh cara pengaplikasiannya. Air secara umum tidak dipertimbangkan untuk menangani
suatu bahan pemadam ditentukan oleh cara pengaplikasiannya. Air secara umum tidak dipertimbangkan untuk menangani
suatu bahan pemadam ditentukan oleh cara pengaplikasiannya. Air secara umum tidak dipertimbangkan untuk menangani
suatu bahan pemadam ditentukan oleh cara pengaplikasiannya. Air secara umum tidak dipertimbangkan untuk menangani

Air secara umum tidak dipertimbangkan untuk menangani kebakaran kelas C karena air mengonduksikan listrik. Hal ini disebabkan oleh

44 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

fakta bahwa orang-orang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan yang yang dibutuhkan. Padahal, air dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas C dengan teknik khusus dengan syarat:

1. Aliran air ini dipecah sedemikian rupa sehingga meniadakan konduktivitas elektriknya.

2. Drainase yang memadai disediakan sehingga muatan listrik yang terbawa tidak membahayakan orang.

Berbagai jenis zat tambahan telah dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas dari air sebagai bahan pemadam dalam aplikasi tertentu. Zat tambahan tersebut dalam bentuk:

Bahan pembasah – ketika dicampurkan dengan air secara benar akan mengurangi tegangan permukaan dari air itu sendiri dan akan membuat larutan itu dengan mudah masuk ke bahan bakar padat.

membuat larutan itu dengan mudah masuk ke bahan bakar padat. 1. 2. Bahan penebal – ketika
membuat larutan itu dengan mudah masuk ke bahan bakar padat. 1. 2. Bahan penebal – ketika

1.

larutan itu dengan mudah masuk ke bahan bakar padat. 1. 2. Bahan penebal – ketika dicampurkan
2.
2.

Bahan penebal – ketika dicampurkan dengan air akan membentuk larutan yang melekat pada permukaan. Bahan ini secara khusus sangat berguna untuk memadamkan kebakaran hutan.

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 45

3. Bahan pendingin – ketika dicampurkan dengan air akan membentuk larutan yang akan meningkatkan karakteristik pendinginan.

4. Bahan pembusa – ketika dicampurkan dengan air akan membentuk larutan berbusa yang memiliki specific gravity yang rendah yang akan menyebabkan bahan tersebut akan berada diatas cairan yang dapat terbakar. Bahan ini merupakan

diatas cairan yang dapat terbakar. Bahan ini merupakan yang paling banyak digunakan. 4.4.2. Zat Kimia Kering
diatas cairan yang dapat terbakar. Bahan ini merupakan yang paling banyak digunakan. 4.4.2. Zat Kimia Kering

yang paling banyak digunakan.

4.4.2. Zat Kimia Kering

Zat kimia kering tak lebih hanyalah campuran bubuk- bubuk kimia yang menyerang proses reaksi rantai dari proses pembakaran yang menyebabkan proses tersebut terputus. Ada beberapa jenis zat kimia kering untuk memadamkan kebakaran, yang dikategorikan sebagai BC untuk kebakaran kelas B dan C, serta kategori ABC untuk kebakaran kelas A, B, dan C.

dan C, serta kategori ABC untuk kebakaran kelas A, B, dan C. Bahan kimia kering awalnya
dan C, serta kategori ABC untuk kebakaran kelas A, B, dan C. Bahan kimia kering awalnya

Bahan kimia kering awalnya dikembangkan untuk pemadaman kebakaran kelas B. Campurannya pada intinya adalah Sodium Bikarbonat yang dicampur dengan bahan-bahan lain untuk meningkatkan karakteristik penyimpanan dan alirannya. Saat ini

46 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

bahan tersebut dikenal sebagai zat kimia kering umum.

Selain zat kimia kering umum,terdapat juga zat kimia berbasis Kalium Bikarbonat atau yang dikenal dengan Purple K yang dikembangan oleh Angkatan Laut Amerika pada tahun 1950-an. Bahan ini sekitar 2,5 kali lipat lebih efektif dibandingkan zat kimia kering umum. Selanjutnya zat kimia kering Kalium Bikarbonat yang berbasis urea dan dikenal sebagai Monex, dikembangkan pada akhir 1960-an. Zat kimia kering ini jauh lebih efektif dari zat kimia kering berbasis Kalium Bikarbonat. Hal ini disebabkan karena setiap partikel dari bubuk terpecah menjadi banyak partikel yang lebih kecil ketika kontak dengan jilatan api.

partikel yang lebih kecil ketika kontak dengan jilatan api. Sementara itu, zat kimia kering kategori BC
partikel yang lebih kecil ketika kontak dengan jilatan api. Sementara itu, zat kimia kering kategori BC

Sementara itu, zat kimia kering kategori BC ditujukan untuk digunakan pada kebakaran cairan yang dapat terbakar dan kebakaran yang melibatkan peralatan listrik. Zat kimia kering kategori ini dapat digunakan pada kebakaran kelas A jika bahan pemadam lainnya tidak ada. Namun, api dapat muncul kembali karena zat kering ini tidak memiliki kemampuan untuk mendinginkan.

lainnya tidak ada. Namun, api dapat muncul kembali karena zat kering ini tidak memiliki kemampuan untuk
lainnya tidak ada. Namun, api dapat muncul kembali karena zat kering ini tidak memiliki kemampuan untuk

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 47

Pada tahun 1950-an zat kimia kering berbasis Monoamonium Fosfat diperkenalkan di Amerika. Zat multifungsi ini ditujukan untuk menangani kebakaran kelas A, B, dan C.

Zat kimia kering kategori ABC mirip dengan zat kimia kering kategori BC dalam memadamkan kebakaran dengan memutus reaksi rantai kimiawi. Pada zat kimia kategori ABC terdapat zat yang ketika digunakan pada kebakaran kelas A, akan melapisi bahan yang terbakar dengan residu yang mirip plastik yang nantinya akan memutus suplai oksigen ke api. Namun, jika lapisan tersebut rusak dan udara mencapai bahan bakar sebelum temperaturnya turun hingga dibawah titik uapnya, api dapat timbul lagi.

turun hingga dibawah titik uapnya, api dapat timbul lagi. Dalam berapa hal, zat kimia kering bersifat
turun hingga dibawah titik uapnya, api dapat timbul lagi. Dalam berapa hal, zat kimia kering bersifat

Dalam berapa hal, zat kimia kering bersifat korosif. Oleh karena itu, zat tersebut tidak cocok untuk perlidungan peralatan listrik yang mahal dan rentan.

untuk perlidungan peralatan listrik yang mahal dan rentan. Ide dibelakang pemadaman dengan bahan kimia kering adalah

Ide dibelakang pemadaman dengan bahan kimia kering adalah membungkus bahan bakar dengan padatan “inert” mirip dengan penggunaan pasir. Sebagai contoh bubuk yang sangat halus dari Sodium Bikarbonat (NaHCO 3 , baking soda) atau monoamonium fosfat ((NH 4 )H 2 PO 4 ). Membungkus

dari Sodium Bikarbonat (NaHCO 3 , baking soda) atau monoamonium fosfat ((NH 4 )H 2 PO

48 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

bahan bakar sehingga memperlemah atau memadamkan kobaran api karena terhalangnya kontak dengan bahan bakar tersebut.

4.4.3. Karbon Dioksida

Karbon Dioksida (CO 2 ) adalah gas inert yang disimpan dalam bentuk cairan di tabung atau tangki yang didinginkan. Ketika dilepaskan ke atmosfir, karbon dioksida akan menguap dan kembali ke fasa gas. Sebagai gas, karbon dioksida lebih berat dibandingkan udara, dan kecepatan penguapannnya cukup untuk membuatnya efektif memadamkan api melalui pengurangan kadar oksigen dengan pengenceran hingga ke suatu titik oksigen tak lagi mampu mendukung pembakaran.

ke suatu titik oksigen tak lagi mampu mendukung pembakaran. Meskipun cairan CO 2 mempunyai temperatur yang
ke suatu titik oksigen tak lagi mampu mendukung pembakaran. Meskipun cairan CO 2 mempunyai temperatur yang

Meskipun cairan CO 2 mempunyai temperatur yang rendah (-110 F), cairan ini bukanlah bahan pendingin yang efektif. Faktanya, kapasitas pendinginan karbon dioksida hanya 10% dari kapasitas pendinginan air. Selain itu, CO 2 juga tidak membasahi bahan bakar yang terbakar. Karbon dioksida hanya efektif selama dilakukan pada ruangan tertutup untuk mempertahankan kondisi pemadaman. Untuk pemadaman yang sempurna, pengenceran kadar

dilakukan pada ruangan tertutup untuk mempertahankan kondisi pemadaman. Untuk pemadaman yang sempurna, pengenceran kadar
dilakukan pada ruangan tertutup untuk mempertahankan kondisi pemadaman. Untuk pemadaman yang sempurna, pengenceran kadar

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 49

oksigen harus berlangsung cukup lama agar seluruh bahan bakar mendingin hingga ke titik yang tak akan menguap.

Karbon dioksida pada umumnya digunakan untuk perlindungan ruang komputer, ruang pengendalian elektrik atau peralatan listrik. Untuk memadamkan api dengan cepat dan efektif, konsentrasi karbon dioksida di ruang yang tertutup dibuat tinggi. Tingkat konsentrasi tersebut dapat menyebabkan penipisan oksigen di ruangan yang tentunya membahayakan keselamatan manusia.

di ruangan yang tentunya membahayakan keselamatan manusia. 4.4.4. Bahan Berhalogen Bahan berhalogen atau halon
di ruangan yang tentunya membahayakan keselamatan manusia. 4.4.4. Bahan Berhalogen Bahan berhalogen atau halon

4.4.4. Bahan Berhalogen

Bahan berhalogen atau halon merupakan kelompok cairan yang mudah menguap dan terbuat dari sejumlah tertentu Karbon, Fluorin, Bromine dan Iodine. Bahan ini tetap sebagai cairan di tempat tertutup, namun menguap secara cepat ketika terekspos ke pembakaran yang menyebabkan reaksi rantai terputus.

ke pembakaran yang menyebabkan reaksi rantai terputus. Halon sangat efektif untuk pemadaman kebakaran dengan cepat.
ke pembakaran yang menyebabkan reaksi rantai terputus. Halon sangat efektif untuk pemadaman kebakaran dengan cepat.

Halon sangat efektif untuk pemadaman kebakaran dengan cepat. Bahan ini juga tidak menyebabkan korosi dan sangat efektif pada konsentrasi rendah.

50 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Halon aman untuk peralatan dan manusia. Namun, penelitian menemukan bahwa bahan ini menyebabkan penipisan lapisan ozon. Saat ini halon tidak digunakan lagi, tetapi penggantinya yang sama efektif dengan halon namun lebih aman terhadap lingkungan, masih dalam pengembangan.

4.4.5. Foam

terhadap lingkungan, masih dalam pengembangan. 4.4.5. Foam Foam / Busa pemadam kebakaran tak lebih dari campuran
terhadap lingkungan, masih dalam pengembangan. 4.4.5. Foam Foam / Busa pemadam kebakaran tak lebih dari campuran

Foam / Busa pemadam kebakaran tak lebih dari campuran air dan zat kimia lain, yang ketika dicampurkan menghasilkan kumpulan gelembung yang berisi udara atau gas dan memiliki specific gravity yang lebih kecil dibandingkan dengan cairan yang dapat terbakar. Zat ini membuat campuran terserbut mengapung di cairan yang dapat terbakar dan meningkatkan kemampuan air untuk mengendalikan kebakaran untuk jenis ini.

mengapung di cairan yang dapat terbakar dan meningkatkan kemampuan air untuk mengendalikan kebakaran untuk jenis ini.

Seperti yang ditampilkan pada Gambar 7, busa memadamkan api dengan:

2. Mengurangi uap yang permukaan bahan bakar.
2. Mengurangi
uap
yang
permukaan bahan bakar.

1. Mencekik api, mencegah udara dan uap yang dapat terbakar untuk bercampur.

dapat terbakar pada

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 51

3. Memisahkan jilatan api dari permukaan bahan bakar.

4. Mendinginkan permukaan bahan bakar atau api dan benda yang berdekatan.

5. Menyelimuti bahan bakar untuk menutup kontak dengan udara.

Konsentrasi surfaktan (bubuk pembuat busa) kurang dari 1%. Komponen lainnya. Pembentuk busa adalah larutan organik seperti trimethyl-trimethylene glycol dan hexylene glycol, foam stabilizers seperti lauryl alcohol, dan bahan penghambat korosi (corrosion inhibitor).

Dari daya pengembangan busanya, busa terbagi atas:

). Dari daya pengembangan busanya, busa terbagi atas: a. Daya mengembang rendah ( low expansion foam
). Dari daya pengembangan busanya, busa terbagi atas: a. Daya mengembang rendah ( low expansion foam
). Dari daya pengembangan busanya, busa terbagi atas: a. Daya mengembang rendah ( low expansion foam

a. Daya mengembang rendah (low expansion foam)

atas: a. Daya mengembang rendah ( low expansion foam ) Low expansion foam mempunyai daya mengembang

Low expansion foam mempunyai daya mengembang kurang dari 20 kalinya. Busa dengan daya mengembang rendah seperti AFFF (Aqueous Film Forming Foam) yakni busa pembentuk lapisan film berbasis air mempunyai

52 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

viskositas yang rendah, bersifat mobile (dengan mudah menyebar atau memiliki daya sebar yang baik) yang menjadikannya mampu untuk menutupi permukaan yang luas secara cepat. AFFF seringkali juga mengandung surfaktan berbasis hidrokarbon seperti sodium alkyl sulfat dan fluorosurfactant seperti fluorotelomers, perfluorooctanoic acid (PFOA), atau perfluorooctanesulfonic acid (PFOS).

b. c.
b.
c.

Daya mengembang menengah (medium expansion foam)

Medium expansion foam, mempunyai daya mengembang antara 20-200 kali.

Daya mengembang tinggi (high expansion foam)

20-200 kali. Daya mengembang tinggi ( high expansion foam ) High expansion foam mempunyai daya mengembang

High expansion foam mempunyai daya mengembang di atas 200 kali. Busa ini cocok untuk ruang tertutup / terbatas seperti hanggar ketika dibutuhkan pengisian ruang dengan busa dengan cepat.

Busa ini cocok untuk ruang tertutup / terbatas seperti hanggar ketika dibutuhkan pengisian ruang dengan busa
Busa ini cocok untuk ruang tertutup / terbatas seperti hanggar ketika dibutuhkan pengisian ruang dengan busa

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 53

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 53 Gambar 4.3 Mekanisme Pemadaman oleh Busa Pada pemadaman kebakaran yang

Gambar 4.3 Mekanisme Pemadaman oleh Busa

Pada pemadaman kebakaran yang melibatkan cairan dapat terbakar, busa juga memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai penekan uap yang ketika bekerja pada permukaan tumpahan dapat mencegah pelepasan uap. Oleh karena itu, pemadam kebakaran busa dapat digunakan dengan efektif untuk mencegah pengapian.

Pemadam kebakaran busa, dalam berbagai bentuk, telah ada sejak pertama kali bahan berbusa dipatenkan di Inggris tahun 1870-an. Penggunaan busa meningkat secara cepat seiring dengan perkembangan teknologi, terutama di industri perminyakan dan turunannya. Sama halnya dengan penemuan kendaraan yang secara signifikan meningkatkan permintaan akan bensin.

dan turunannya. Sama halnya dengan penemuan kendaraan yang secara signifikan meningkatkan permintaan akan bensin.
dan turunannya. Sama halnya dengan penemuan kendaraan yang secara signifikan meningkatkan permintaan akan bensin.
dan turunannya. Sama halnya dengan penemuan kendaraan yang secara signifikan meningkatkan permintaan akan bensin.
dan turunannya. Sama halnya dengan penemuan kendaraan yang secara signifikan meningkatkan permintaan akan bensin.

54 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Pemadam kebakaran busa berdasarkan pembentukan busanya dapat dibagi menjadi dua kategori:

Busa kimia – Ini adalah jenis pertama dari busa pemadam kebakaran. Busa ini diproduksi dalam bentuk bubuk kimiawi yang kemudian dicampur dengan air untuk menjadi busa. Busa ini memperoleh namanya dari cara pembuatannya. Ketika larutan ini bersentuhan, sebuah reaksi kimia terjadi, menghasilkan Karbon Dioksida (CO 2 ). Kemudian, terbentuk gelembung berisi CO 2 dalam jumlah yang sangat banyak sehingga tekanan di dalam kontainer (tempat larutan dicampur) meningkat dan membuat busa kimiawi mengalir melalui perangkat pelepasan. Busa kimiawi pada dasarnya terdiri dari dua jenis:

Busa kimiawi pada dasarnya terdiri dari dua jenis: 1. 2. Busa untuk penggunaan pada cairan yang

1.

2.
2.

Busa untuk penggunaan pada cairan yang dapat terbakar jenis hidrokarbon.

Busa untuk penggunaan pada cairan yang dapat terbakar jenis hidrokarbon.

Busa untuk penggunaan pada cairan yang dapat terbakar jenis alkohol atau larutan polar.

cairan yang dapat terbakar jenis alkohol atau larutan polar. Karena batasan penggunaannya, busa pemadam kebakaran jenis

Karena batasan penggunaannya, busa pemadam kebakaran jenis ini sangat jarang digunakan saat ini.

Busa mekanis – Pengenalan busa mekanis membuat produksi sejumlah besar busa pada laju aplikasi yang

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 55

tinggi. Pengembangan busa mekanis disebabkan oleh tingginya permintaan untuk menghentikan kebakaran secara manual untuk fasilitas angkatan udara.

Busa mekanis membuat gelembung berisi udara yang dihasilkan dari cara mekanis, biasanya agitasi atau turbulensi, untuk mencapai hasil dasar yang sama dengan busa kimia. Karena pembentuk busa mekanis berada dalam bentuk cairan, hal itu membuat operasi dan peralatan jauh lebih handal dibandingkan busa kimia. Tiga komponen (air, konsentrat busa, dan udara) dibutuhkan untuk menghasilkan busa pemadam kebakaran. Saat ini terdapat berbagai jenis busa mekanis:

a) Busa protein – konsentrat busa mekanis pertama yang dikembangkan. Busa ini terbuat dari protein alami yang tidak larut dalam hidrokarbon. Penggunaannya harus dengan perlahan jika tidak busa akan berada di bawah permukaan cairan dan menyebabkan gelembung dilapisi permukaan bahan bakar yang dapat menghancurkan gelembung. Busa ini juga tidak efektif untuk larutan polar karena dapat larut dengannya.

juga tidak efektif untuk larutan polar karena dapat larut dengannya. b) Busa fluoroprotein – pengembangan busa
juga tidak efektif untuk larutan polar karena dapat larut dengannya. b) Busa fluoroprotein – pengembangan busa
juga tidak efektif untuk larutan polar karena dapat larut dengannya. b) Busa fluoroprotein – pengembangan busa
juga tidak efektif untuk larutan polar karena dapat larut dengannya. b) Busa fluoroprotein – pengembangan busa

b) Busa fluoroprotein – pengembangan busa protein

56 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

dengan penambahan larutan yang berfluorin. Busa ini ditujukan untuk penggunaan pada bahan bakar hidrokarbon, memberikan kemampuan untuk membuka lapisan bahan bakar ketika tercelup. Hal ini membuat busa dapat masuk ke tangki penyimpanan melalui injeksi di bawah permukaan.

Busa alkohol – busa protein tidak efektif untuk larutan polar karena larutan polar dapat bercampur dengan air dan busa pada dasarnya tidak larut dalam bahan bakar. Oleh karena itu, konsentrat busa tahan alkohol dikembangkan. Busa jenis ini harus diaplikasikan dengan penuh kehati-hatian dan jenis serta susunan peralatan aplikasi busa sangatlah penting.

c)

serta susunan peralatan aplikasi busa sangatlah penting. c) d) Busa sintetik – busa ini dibuat dari

d)

susunan peralatan aplikasi busa sangatlah penting. c) d) Busa sintetik – busa ini dibuat dari sintesis

Busa sintetik – busa ini dibuat dari sintesis kimiawi. Dua jenis utama busa sintetik adalah busa berbasis deterjen dan busa yang membentuk film (lapisan tipis).

deterjen dan busa yang membentuk film (lapisan tipis). e) Busa deterjen – terbuat dari senyawa yang
e)
e)

Busa deterjen – terbuat dari senyawa yang biasa digunakan untuk membuat deterjen komersial. Jenis busa ini yang paling sering digunakan untuk mengendalikan kebakaran kelas A.

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 57

f)

Busa yang membentuk film – diformulasi secara sintetis untuk membuat air membentuk lapisan tipis (film) yang mengapung di atas permukaan bahan bakar tanpa memerlukan selimut kohesif dari gelembung busa. Konsentrat ini menggunakan surfaktan Fluorocarbon yang mengubah sifat dari air dan konsentrat dan biasanya disebut sebagai busa pembentuk film permukaan atau busa pembentuk film air (bahan AFFF). Jenis busa ini dikembangkan lebih jauh untuk memiliki karakteristik busa pembentuk film air dan busa Fluoroprotein sehingga busa itu dapat digunakan pada hidrokarbon maupun larutan polar. Namun, diperlukan kehati-hatian dalam penggunaan busa ini pada kebakaran akibat larutan polar karena metode aplikasinya sangat kritis.

larutan polar karena metode aplikasinya sangat kritis. Tabel 4.1 Lembar Fakta Busa Jenis Busa Aplikasi
larutan polar karena metode aplikasinya sangat kritis. Tabel 4.1 Lembar Fakta Busa Jenis Busa Aplikasi

Tabel 4.1 Lembar Fakta Busa

aplikasinya sangat kritis. Tabel 4.1 Lembar Fakta Busa Jenis Busa Aplikasi Keuntungan / Kerugian • Kebakaran
Jenis Busa Aplikasi Keuntungan / Kerugian • Kebakaran + Kualitas busa baik hidrokarbon - Sulit
Jenis Busa
Aplikasi
Keuntungan / Kerugian
• Kebakaran
+ Kualitas busa baik
hidrokarbon
- Sulit digunakan
• Penggunaan di
Busa Kimia
- Solidifikasi bubuk
sistem
- Tidak praktis untuk skala
• Penggunaan
besar
personal

58 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Jenis Busa Aplikasi Keuntungan / Kerugian Busa Mekanis • Kebakaran hidrokarbon + Mencegah tak terbakar
Jenis Busa
Aplikasi
Keuntungan / Kerugian
Busa Mekanis
• Kebakaran
hidrokarbon
+ Mencegah tak terbakar
kembali
• Penggunaan di
+ Pendinginan baik
Busa Protein
sistem
+ Kualitas busa baik
• Penggunaan
personal
- Perlu aplikasi perlahan /
mulut selang khusus
Kebakaran
+ Sangat baik untuk sistem
hidrokarbon
tangki
Penggunaan di
+ Kualitas lebih baik dari
Busa
sistem
busa protein biasa
Fluoroprotein
Penggunaan
+ Aplikasi tak perlu
personal
perlahan
Injeksi bawah
- Butuh mulut selang khusus
permukaan
+ Tidak pecah saat
• Kebakaran larutan
diaplikasikan di larutan
polar
polar seperti halnya busa
Busa tahan
• Penggunaan di
lain
Alkohol
sistem
-
Perlu aplikasi perlahan /
• Penggunaan
mulut selang khusus
personal
-
Perlu proporsi tinggi

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 59

Jenis Busa Aplikasi Keuntungan / Kerugian Busa Sintetik + Minim air / ekspansi tinggi +
Jenis Busa
Aplikasi
Keuntungan / Kerugian
Busa Sintetik
+
Minim air / ekspansi
tinggi
+
Baik untuk kebakaran
• Kebakaran kelas A
kelas A
Busa
Berbasis
• Beberapa kebakaran
kelas B
-
Aplikasi terbatas pada
kebakaran kelas B
Deterjen
• Penggunaan di sistem
-
Perlu foam generator
• Penggunaan personal
khusus
-
Perlu mulut selang khusus
pada aplikasi ekspansi
rendah
+
Mudah digunakan
Busa
• Kebakaran
hidrokarbon
+
Pelatihan sederhana
Pembentuk
-
Belum tentu dapat
• Penggunaan di sistem
Film
mencegah terbakar
• Penggunaan personal
kembali
Busa
+ Dapat digunakan pada
semua cairan
Pembentuk
• Kebakaran
hidrokarbon dan
larutan polar
+ Mudah digunakan
Film Tahan
- Perlu proporsi yang tinggi
Penggunaan di sistem
Alkohol
Penggunaan personal
- Efektivitas bervariasi pada
cairan

60 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Karakteristik penting lainnya dari busa pemadam kebakaran adalah rasio ekspansi. Larutan busa terdiri dari persentase konsentrat busa dalam air, serta diperlukan penambahan udara untuk membentuk busa. Rasio volum busa yang sudah jadi terhadap volum awal larutan busa disebut rasio ekspansi. Busa dipisahkan menjadi tiga klasifikasi berdasarkan rasio ekspansi:

• Rasio ekspansi rendah = di bawah 20:1 • Rasio ekspansi menengah = antara 20:1
Rasio ekspansi rendah = di bawah 20:1
Rasio ekspansi menengah = antara 20:1 dan
200:1
Rasio ekspansi tinggi = antara 200:1 dan 1.000:1
4.4.6. Bubuk Kering (dry powder / DP)

Bubuk kering (dry powder / DP) adalah nama yang diberikan kepada bahan yang ditujukan untuk penggunaan pada kebakaran kelas D (yang melibatkan logam yang dapat terbakar, seperti Magnesium, Sodium dan Titanium).

dapat terbakar, seperti Magnesium, Sodium dan Titanium). Beberapa DP yang tersedia secara komersial terdiri dari
dapat terbakar, seperti Magnesium, Sodium dan Titanium). Beberapa DP yang tersedia secara komersial terdiri dari
dapat terbakar, seperti Magnesium, Sodium dan Titanium). Beberapa DP yang tersedia secara komersial terdiri dari

Beberapa DP yang tersedia secara komersial terdiri dari senyawa yang diformulasikan khusus, sisanya adalah pasir kering atau grafit yang dijadikan bubuk.

Pemilihan DP yang tepat adalah berdasarkan jenis

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 61

logam tertentu yang terlibat dalam kebakaran. Karakteristik yang paling penting adalah bahwa bahan ini harus kering dan sesuai dengan logam tersebut. Mekanisme pemadamannya adalah dengan cara mengisolasi sisa bagian logam yang belum terbakar. Ketika DP digunakan pada kebakaran logam, bubuknya akan membentuk lapisan seperti kerak disekitar logam yang terbakar untuk mengisolasinya dan menjaga logam yang berdekatan agar tidak ikut terbakar, sementara api lama kelamaan akan padam dengan sendirinya.

4.4.7. Bahan Kombinasi

Meskipun pada dasarnya bahan pemadam kebakaran digunakan secara individual, namun jika diperlukan berbagai bahan pemadam dapat pula digunakan secara kombinasi seperti misalnya menggunakan zat kimia kering dan busa, baik secara individual, simultan, atau berurutan.

dan busa, baik secara individual, simultan, atau berurutan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh militer beberapa
dan busa, baik secara individual, simultan, atau berurutan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh militer beberapa
dan busa, baik secara individual, simultan, atau berurutan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh militer beberapa
dan busa, baik secara individual, simultan, atau berurutan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh militer beberapa

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh militer beberapa tahun yang lalu, ketika CO 2 dan busa digunakan pada pemadaman kebakaran kecelakaan pesawat. Untuk pemadaman yang cepat terhadap

62 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

kebakaran akibat cairan yang dapat terbakar, CO 2 diaplikasikan oleh truk yang dirancang khusus. Busa protein dari truk tipe lain digunakan untuk menutup cairan yang dapat terbakar yang terekspos untuk menghentikan uap dan mencegah api menyala kembali.

Kombinasi lain yang dikembangkan adalah zat kimia kering dan busa pembentuk film air (bahan AFFF) dialirkan melalui dua mulut selang yang berasal dari satu kendaraan. Zat kimia kering digunakan yang pertama untuk menghentikan api secara cepat dan kemudian diikuti dengan segera oleh penggunaan bahan AFFF yang secara cepat mengalir di permukaan cairan untuk mencegah timbulnya uap dan mencegah api menyala kembali.

mencegah timbulnya uap dan mencegah api menyala kembali. 4.5. Alat Pemadam Api Ringan Uji coba kebakaran
mencegah timbulnya uap dan mencegah api menyala kembali. 4.5. Alat Pemadam Api Ringan Uji coba kebakaran
mencegah timbulnya uap dan mencegah api menyala kembali. 4.5. Alat Pemadam Api Ringan Uji coba kebakaran

4.5. Alat Pemadam Api Ringan

Uji coba kebakaran menunjukkan bahwa sejak api berkembang dari pengapian hingga menjadi api yang menyala-nyala hanya membutuhkan waktu dua menit. Pengendalian kebakaran kecil dapat mencegah dari perkembangan kebakaran ke proporsi yang membahayakan. Kebakaran pada tahap awal

kebakaran kecil dapat mencegah dari perkembangan kebakaran ke proporsi yang membahayakan. Kebakaran pada tahap awal

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 63

dapat dengan aman ditangani dan secara sukses dikendalikan oleh personil yang terlatih dengan baik dalam menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, perlu diingat bahwa APAR bukanlah pengganti yang tepat dari perlindungan otomatis yang dirancang sesuai dengan potensi kebakarannya.

Alat pemadam kebakaran telah digunakan dalam berbagai bentuk sejak akhir tahun 1800-an. Alat ini tersedia dalam berbagai ukuran dan desain serta tersedia dalam berbagai kelas kebakaran. Isi dari alat ini adalah bahan pemadam kebakaran yang telah disetujui dan telah dirancang untuk memadamkan kebakaran sampai pada batas tertentu. Faktor penting dari alat pemadam kebakaran adalah tipe / desain, perawatan, inspeksi serta distribusinya. Mekanisme pemadaman dengan APAR mirip dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya.

mirip dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya. Tingkatan alat pemadam kebakaran digunakan untuk kelas A
mirip dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya. Tingkatan alat pemadam kebakaran digunakan untuk kelas A
mirip dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya. Tingkatan alat pemadam kebakaran digunakan untuk kelas A

Tingkatan alat pemadam kebakaran digunakan untuk kelas A dan kelas B dan berdasarkan tes fisik yang dapat dilakukan berulang kali dan dilakukan oleh pihak resmi yang telah ditunjuk oleh pemerintah setempat. Tes ini membantu menentukan potensi pemadam untuk setiap ukuran dan jenis alat pemadam

ditunjuk oleh pemerintah setempat. Tes ini membantu menentukan potensi pemadam untuk setiap ukuran dan jenis alat

64 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

kebakaran. Tingkatan yang ada dari 1-A hingga 40-A untuk alat pemadam kebakaran kelas A dan dari 1-B hingga 64-B untuk alat pemadam kebakaran kelas B.

Tabel 4.2. dan tabel 4.3. memberikan syarat tingkatan alat pemadam kebakaran kelas A dan kelas B. Alat pemadam kebakaran kelas C tidak memiliki tingkatan numerik karena diklasifikasikan berdasarkan sifat kondutif elektriknya. Alat pemadam kebakaran kelas D juga tidak memiliki tingkatan numerik karena jumlah dan jenis bahan pemadam bervariasi bergantung pada logam yang dapat terbakar yang terlibat.

bergantung pada logam yang dapat terbakar yang terlibat. Jenis dari alat pemadam kebakaran berdasarkan bahan pemadam
bergantung pada logam yang dapat terbakar yang terlibat. Jenis dari alat pemadam kebakaran berdasarkan bahan pemadam

Jenis dari alat pemadam kebakaran berdasarkan bahan pemadam yang digunakan dan mekanisme pelepasannya. Lihat gambar 4.4. yang menunjukkan berbagai jenis alat pemadam kebakaran. Tabel 4.4. memberikan ukuran yang tersedia untuk alat pemadam kebakaran.

berbagai jenis alat pemadam kebakaran. Tabel 4.4. memberikan ukuran yang tersedia untuk alat pemadam kebakaran.
berbagai jenis alat pemadam kebakaran. Tabel 4.4. memberikan ukuran yang tersedia untuk alat pemadam kebakaran.

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 65

Tabel 4.2 Alat Pemadam Kebakaran Kelas A

(sumber: NFPA 10, Tabel 3-2.1)

Area yang Harus Dilindungi Per Alat Pemadam Tingkatan Jarak Minimum Beban Beban Beban Maksimum Dasar
Area yang Harus Dilindungi Per Alat Pemadam
Tingkatan
Jarak
Minimum
Beban
Beban
Beban
Maksimum
Dasar
Bahaya
Bahaya
Bahaya
ke Alat
dari Alat
Ringan
Biasa
Tambahan
Pemadam
Pemadam
1A
75
ft
3.000
ft 2
2A
75
ft
6.000
ft 2
3.000
ft 2
3A
75
ft
9.000
ft 2
4.500
ft 2
3.000
ft 2
4A
75
ft
11.250
ft 2
6.000
ft 2
6.000
ft 2
6A
75
ft
11.250
ft 2
9.000
ft 2
6.000
ft 2
10A
75
ft
11.250
ft 2
11.250
ft 2
9.000
ft 2
20A
75
ft
11.250
ft 2
11.250
ft 2
11.250
ft 2
40A
75
ft
11.250
ft 2
11.250
ft 2
11.250
ft 2
Catatan :

* 11.250 ft 2 adalah batas praktis area yang dapat dilindungi oleh alat pemadam kebakaran yang ditempatkan pada jarak 28 m dengan 75 ft (28 m) dari alat pemadam kebakaran dalam lingkaran

alat pemadam kebakaran yang ditempatkan pada jarak 28 m dengan 75 ft (28 m) dari alat

66 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Tabel 4.3 Alat Pemadam Kebakaran Kelas B, untuk Kebakaran Cairan Yang Dapat Terbakar pada Kedalaman Kurang dari ¼ inch.

(sumber: NFPA10, Tabel 3-3.1.1)

Jenis Bahaya Tingkatan Minimum Dasar dari Alat Pemadam Jarak Maksimum ke Alat Pemadam Ringan 5B
Jenis
Bahaya
Tingkatan Minimum
Dasar dari Alat
Pemadam
Jarak Maksimum
ke Alat Pemadam
Ringan
5B
30
ft (9 m)
10B
50
ft (15 m)
Biasa
10B
30
ft
20B
30
ft
Tambahan
20B
50
ft
40B
50
ft

Catatan: untuk bahaya cairan yang dapat terbakar lebih dalam dari ¼ inch (6 mm), alat pemadam kebakaran kelas B perlu disediakan pada basis salah satu unit numerik dari pemadam kelas B potensial per ft 2 dari permukaan cairan tersebut dari bahaya tangki terbesar di suatu area.

dari pemadam kelas B potensial per ft 2 dari permukaan cairan tersebut dari bahaya tangki terbesar
dari pemadam kelas B potensial per ft 2 dari permukaan cairan tersebut dari bahaya tangki terbesar
dari pemadam kelas B potensial per ft 2 dari permukaan cairan tersebut dari bahaya tangki terbesar

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 67

Tabel 4.4 Ukuran yang Tersedia untuk Alat Pemadam Kebakaran

Ukuran Rentang Waktu yang Horizontal Pelepasan Tersedia Disimpan dengan 2 ½ gal 30-40 ft 1
Ukuran
Rentang
Waktu
yang
Horizontal
Pelepasan
Tersedia
Disimpan
dengan
2
½ gal
30-40 ft
1 min
tekanan
Jenis air
Tangki
2
½ dan
30-40 ft
1-3 min
pompa
5 gal
Disimpan
2
½-30 lb
10-15 ft
dengan
(beroda
(beroda
8-25 s (beroda
30-60 s)
Zat kimia
tekanan
50-350 lb)
15-45 ft)
kering
Kelas A
multifungsi
5-30 lb
10-20 ft
Cartridge
(beroda
(beroda
8-25 s (beroda
20-60 s)
50-350 lb)
15-45 ft)
Disimpan
Busa AFFF
dengan
2
½ gal
20-25 ft
50
s
tekanan
Disimpan
Halon 1211
dengan
9-22 lb
14-16 ft
10-18 s
tekanan
Disimpan
Kelas
Busa AFFF
dengan
2
½ gal
20-25 ft
50
s
A/B
tekanan
5-20 lb
3-8 ft
Karbon
Pelepasan
(beroda
(beroda
dioksida
sendiri
8-15 s (beroda
8-30 s)
50-100 lb)
10 ft)
Disimpan
2
½-30 lb
10-15 ft
dengan
(beroda
(beroda
8-25 s (beroda
30-60 s)
tekanan
50-350 lb)
15-45 ft)
Kelas
Jenis zat
B/C
kimia kering
4-30 lb
10-20 ft
Cartridge
(beroda
(beroda
8-25 s (beroda
20-60 s)
50-350 lb)
15-45 ft)
Disimpan
Halon 1211
dengan
2-22 lb
10-16 ft
8-18 s
tekanan
Disimpan
2
½-20 lb
10-15 ft
dengan
(beroda
(beroda
8-25 s (beroda
30-60 s)
Zat kimia
tekanan
50-350 lb)
15-45 ft)
kering
multifungsi
5-30 lb
10-20 ft
Kelas
Cartridge
(beroda
(beroda
A/B/C
8-25 s (beroda
20-60 s)
50-350 lb)
15-45 ft)
Disimpan
Halon 1211
dengan
9-22 lb
14-16 ft
10-18 s
tekanan
30 lb
20 s (beroda
(beroda
5 ft (beroda
15 ft)
150
lb 70 s;
Kelas D
Bubuk kering
Cartridge
150-350
350
lb)
lb 1 ¾
min)

68 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Kode tingkatan (Rating) 1-A: 10-B: C juga berarti: 1-A: Kemampuan kesetaraan 1 gallon air utk
Kode tingkatan (Rating) 1-A: 10-B: C juga
berarti:
1-A:
Kemampuan kesetaraan 1 gallon air utk
memadamkan api.
10-B:
Kemampuan rata-rata orang dalam
memadamkan api dari cairan seluas
10 ft2 jika menggunakan APAR dengan
tingkat ini.
C:
tidak ada nomor berarti “non-conducting”
(tidak bersifat menghantarkan panas).

APAR dengan air bertekanan

bersifat menghantarkan panas). APAR dengan air bertekanan Alat pemadam kebakaran ini berisi air dengan zat tambahan

Alat pemadam kebakaran ini berisi air dengan zat tambahan dan udara bertekanan untuk meningkatkan kemampuannya. Air dan zat tersebut disimpan dalam tekanan dan gas pelepasnya adalah udara. Sebuah alat pengukur tekanan (gauge) dihubungkan di atas alat ini untuk mempermudah inspeksi dari operasional alat pemadam. Sebuah tuas dihubungkan dengan katup di atas alat pemadam. Dengan mengoperasikan

inspeksi dari operasional alat pemadam. Sebuah tuas dihubungkan dengan katup di atas alat pemadam. Dengan mengoperasikan
inspeksi dari operasional alat pemadam. Sebuah tuas dihubungkan dengan katup di atas alat pemadam. Dengan mengoperasikan

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 69

pegangan dan tuas secara bersamaan, katup akan terbuka dan air akan keluar. Nozzle dan pipa fleksibel memungkinkan pengguna untuk mengarahkan aliran air pada sumber kebakaran.

Versi lain dari jenis alat pemadam ini adalah tangki berpompa. Konstruksinya mirip dengan alat pemadam bertekanan, namun mekanisme pelepasannya dengan pompa yang dioperasikan dengan tangan. Tabung APAR dengan air bertekanan biasanya diwarnai perak dengan ukuran ketinggian 2 feet dan berat 25 lb ketika penuh. Biasanya ditandakan dengan APW “Air Pressurized Water”, dilengkapi dengan ujung yang melebar (“large squirt guns”)

Pressurized Water”, dilengkapi dengan ujung yang melebar (“ large squirt guns ”) Gambar 4.4 APAR Air
Pressurized Water”, dilengkapi dengan ujung yang melebar (“ large squirt guns ”) Gambar 4.4 APAR Air
Pressurized Water”, dilengkapi dengan ujung yang melebar (“ large squirt guns ”) Gambar 4.4 APAR Air

Gambar 4.4 APAR Air Bertekanan

70 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

APAR dengan karbon dioksida

Alat pemadam ini disetujui untuk digunakan pada kebakaran kelas B dan kelas C. Bahan pemadam tersimpan dalam tekanan tinggi sehingga dapat keluar dengan sendirinya pada temperatur operasi normal. Pemasangan katup dilakukan pada leher tabung. Sebuah tuas pengeluaran diatas katup digunakan untuk mengendalikan keluaran dari tabung. Dengan menekan tuas dan memegang pegangan secara bersamaan, CO 2 cair keluar dari tabung melalui lubang kecil pada nozzle pengeluaran. Susunan ini untuk mencegah tercipratnya CO 2 cair sehingga dapat meminimalisasi turbulensi dan masuknya udara.

mencegah tercipratnya CO 2 cair sehingga dapat meminimalisasi turbulensi dan masuknya udara. Gambar 4.5 APAR CO
Gambar 4.5 APAR CO 2
Gambar 4.5 APAR CO 2

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 71

Alat pemadam kebakaran dengan zat kimia kering

Alat pemadam bubuk kimia kering tersedia dalam tipe tabung bertekanan dan yang menggunakan cartridge nitrogen.

a. APAR bubuk kimia kering bertekanan.

Jenis APAR bubuk kimia kering yang tersimpan dalam keadaan bertekanan menyimpan bahan pemadam bubuk kimia dan gas pelepas bertekanan (udara kering, karbon dioksida, atau nitrogen) dalam ruang penyimpan (shell) yang sama. Gas pelepas bertekanan tersebut dipakai sebagai pendorong bubuk kimia kering didalamnya ketika tuas yang berada di atas tabung diaktifkan. Tuas pengaktif tersebut berhubungan dengan katup keluaran sehingga bubuk kimia kering dapat keluar terdorong oleh tekanan gas pelepas tersebut. Sebuah cincin pin tarik dipasang pada tuas keluaran untuk mencegah pelepasan secara tak sengaja selama penyimpanan dan transportasi. Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.

Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.
Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.
Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.
Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.
Sebuah alat pengukur tekanan dihubungkan dengan ruang penyimpan tadi untuk menunjukkan tekanan di dalam unit tersebut.

72 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Unit ini dioperasikan dengan melepaskan pin dan menekan tuas keluaran dan pegangan. Diperlukan kehati-hatian dalam membawa unit pada posisi vertical untuk mencegah lepasnya udara tekan atau nitrogen.

vertical untuk mencegah lepasnya udara tekan atau nitrogen. b. Gambar 4.6 APAR Bubuk Kimia Kering Bertekanan
vertical untuk mencegah lepasnya udara tekan atau nitrogen. b. Gambar 4.6 APAR Bubuk Kimia Kering Bertekanan
b.
b.
untuk mencegah lepasnya udara tekan atau nitrogen. b. Gambar 4.6 APAR Bubuk Kimia Kering Bertekanan APAR

Gambar 4.6 APAR Bubuk Kimia Kering Bertekanan

APAR bubuk kimia kering dengan cartridge.

Jenis APAR bubuk kimia kering dengan cartridge ini menyimpan bahan pemadam bubuk kimia kering di ruang penyimpan (shell) dalam kondisi tidak bertekanan dan gas pelepas bertekanan (biasanya CO 2 atau N 2 ) di cartridge terpisah.

(biasanya CO 2 atau N 2 ) di cartridge terpisah. Cartridge untuk APAR bubuk kimia kering
(biasanya CO 2 atau N 2 ) di cartridge terpisah. Cartridge untuk APAR bubuk kimia kering

Cartridge untuk APAR bubuk kimia kering ini tersedia dalam ukuran kecil yang dapat langsung dibuang setelah pemakaian. Di atas Cartridge ini

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 73

terdapat tuas penusuk membuat gas pelepas dari cartridge masuk ke shell dan memberi tekanan di dalamnya. Pelepasan bahan pemadam dikendalikan melalui penekanan tuas operasi dari mulut selang pengeluaran.

penekanan tuas operasi dari mulut selang pengeluaran. Gambar 4.7 APAR Bubuk Kimia Kering Alat pemadam kebakaran

Gambar 4.7 APAR Bubuk Kimia Kering

Alat pemadam kebakaran dengan halon

APAR Bubuk Kimia Kering Alat pemadam kebakaran dengan halon Unit ini disetujui untuk kebakaran kelas B
APAR Bubuk Kimia Kering Alat pemadam kebakaran dengan halon Unit ini disetujui untuk kebakaran kelas B
APAR Bubuk Kimia Kering Alat pemadam kebakaran dengan halon Unit ini disetujui untuk kebakaran kelas B

Unit ini disetujui untuk kebakaran kelas B dan kelas C. Kemiripan unit ini dengan alat pemadam kebakaran tipe karbon dioksida adalah bahan pemadam disimpan dalam tekanan tinggi, sehingga pelepasannya terjadi ketika terbuka kontak dengan atmosfir melalui penekanan pada tuas operasi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, alat pemadam ini digantikan dengan bahan pemadam yang lebih ramah terhadap lingkungan.

yang telah dibahas sebelumnya, alat pemadam ini digantikan dengan bahan pemadam yang lebih ramah terhadap lingkungan.
yang telah dibahas sebelumnya, alat pemadam ini digantikan dengan bahan pemadam yang lebih ramah terhadap lingkungan.

74 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

74 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran Gambar 4.8 APAR Halon Alat pemadam kebakaran dengan busa Alat

Gambar 4.8 APAR Halon

dan Perlindungan dari Kebakaran Gambar 4.8 APAR Halon Alat pemadam kebakaran dengan busa Alat pemadam kebakaran
dan Perlindungan dari Kebakaran Gambar 4.8 APAR Halon Alat pemadam kebakaran dengan busa Alat pemadam kebakaran

Alat pemadam kebakaran dengan busa

Alat pemadam kebakaran ini biasanya digunakan ketika kebakaran atau tumpahan cairan yang dapat terbakar dapat diperkirakan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahan pemadam jenis busa yang paling efektif adalah AFFF. Unit ini memiliki shell yang berisi larutan (yang belum mencampur sepenuhnya) yang ditekan dengan udara. Jenis alat pemadam ini juga dilengkapi dengan pegangan, tuas operasi, dan tabung penyedot yang sama. Selain itu, terdapat selang dan nozzle yang dirancang khusus yang memungkinkan udara masuk ke larutan busa melalui celah khusus sehingga proses agitasi yang terjadi menghasilkan busa yang siap digunakan. Bentuk-bentuknya ada yang menggunakan selang dan

proses agitasi yang terjadi menghasilkan busa yang siap digunakan. Bentuk-bentuknya ada yang menggunakan selang dan
proses agitasi yang terjadi menghasilkan busa yang siap digunakan. Bentuk-bentuknya ada yang menggunakan selang dan

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 75

tidak serta ada yang menggunakan bahan stainless

steel untuk beberapa jenis dari AFFF.

bahan stainless steel untuk beberapa jenis dari AFFF. Gambar 4.9 APAR Busa 4.6. Penggunaan Alat Pemadam
bahan stainless steel untuk beberapa jenis dari AFFF. Gambar 4.9 APAR Busa 4.6. Penggunaan Alat Pemadam

Gambar 4.9 APAR Busa

4.6. Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan

4.9 APAR Busa 4.6. Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan Alat pemadam kebakaran dapat bermanfaat jika digunakan

Alat pemadam kebakaran dapat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Hal ini berarti orang yang diharapkan akan menggunakan alat tersebut harus menerima pelatihan yang memadai.

alat tersebut harus menerima pelatihan yang memadai. Secara umum, orang tersebut harus mengetahui: 1. Lokasi alat
alat tersebut harus menerima pelatihan yang memadai. Secara umum, orang tersebut harus mengetahui: 1. Lokasi alat

Secara umum, orang tersebut harus mengetahui:

1. Lokasi alat pemadam kebaran di tempat kerja.

2. Tingkatan

kecocokannya untuk jenis kebakaran.

3. Bagaimana mengoperasikan alat

alat pemadam kebakaran dan pemadam
alat
pemadam
kebakaran
dan
pemadam

kebakaran dan secara efektif menangani

kebakaran sambil tetap menjaga diri.

76 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

Satu hal yang penting untuk diingat adalah MENGHUBUNGI REGU PEMADAM KEBAKARAN TERLEBIH DAHULU, BARULAH MENANGANI KEBAKARAN sehingga ketika kebakaran tak dapat dikendalikan lagi, tak ada jeda untuk meminta bantuan.

1.
1.

Sebagian besar jenis APAR bekerja dalam cara sebagai berikut :

Tarik cincin pin pada APAR.

dalam cara sebagai berikut : Tarik cincin pin pada APAR. 2. 3. Dekati api dari arah
2. 3. Dekati api dari arah angin berhembus. 4.
2.
3.
Dekati api dari arah angin berhembus.
4.

Untuk jenis cartridge tekan tuas penusuk agar alat pemadam siap digunakan.

Arahkan nozzle ke sumber kebakaran dari jarak yang aman.

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 77

5. Tekan tuas operasi. Beberapa alat pemadam kebakaran menyemprot pada kecepatan tinggi. Hindari semprotan langsung ke arah bahan bakar cair karena dapat menimbulkan percikan yang dapat menyebarkan dan memperbesar kebakaran.

percikan yang dapat menyebarkan dan memperbesar kebakaran. 6. Arahkan semprotan dari nozzle dari satu ke sisi
percikan yang dapat menyebarkan dan memperbesar kebakaran. 6. Arahkan semprotan dari nozzle dari satu ke sisi

6. Arahkan semprotan dari nozzle dari satu ke sisi lain secara horizontal hingga semua area tertangani dengan menggunakan lengan (bukan pergelangan tangan).

dengan menggunakan lengan (bukan pergelangan tangan). 7. Lanjutkan hingga seluruh bahan pemadam habis dan api
dengan menggunakan lengan (bukan pergelangan tangan). 7. Lanjutkan hingga seluruh bahan pemadam habis dan api
dengan menggunakan lengan (bukan pergelangan tangan). 7. Lanjutkan hingga seluruh bahan pemadam habis dan api

7. Lanjutkan hingga seluruh bahan pemadam habis dan api dapat dipadamkan.

78 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

8. Pastikan kebakaran telah padam dan mundur perlahan, namun jangan pernah membelakangi api. Ingat, selalu ada resiko api menyala kembali. Pastikan juga anda selalu pada posisi yang bebas untuk menyelamatkan diri (escaping) dengan selalu membelakangi jalan keluar.

diri ( escaping ) dengan selalu membelakangi jalan keluar. 9. Cari bantuan ketika kebakaran sudah di

9. Cari bantuan ketika kebakaran sudah di luar kendali.

10. Setelah dipakai, alat pemadam kebakaran harus diperbaiki dan isi kembali.

alat pemadam kebakaran harus diperbaiki dan isi kembali. 4.7. Pemadaman Api Besar Ketika api kecil tidak

4.7. Pemadaman Api Besar

harus diperbaiki dan isi kembali. 4.7. Pemadaman Api Besar Ketika api kecil tidak bisa dipadamkan, maka
harus diperbaiki dan isi kembali. 4.7. Pemadaman Api Besar Ketika api kecil tidak bisa dipadamkan, maka
harus diperbaiki dan isi kembali. 4.7. Pemadaman Api Besar Ketika api kecil tidak bisa dipadamkan, maka

Ketika api kecil tidak bisa dipadamkan, maka diperlukan pemadaman api besar yang dilakukan oleh tim yang telah terlatih untuk pemadaman api dengan menggunakan selang, hydrant, monitor pemadam api (fire monitor). Pemadaman kebakaran

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 79

dilakukan dengan teknik-teknik:

1. Pendinginan (Cooling) yakni pendinginan bahan bakar sampai kepada temperatur dimana uap bahan bakar tidak lagi dapat dihasilkan oleh bahan bakar tersebut sehingga akhirnya api padam. Teknik pendinginan ini dilakukan dengan menyemprotkan air.

2. Menutupi (Smothering): memisahkan udara atau oksigen sehingga tidak ada lagi pasokan oksigen untuk menunjang kebakaran. Cara ini dilakukan dengan menyemprotkan agen dry chemical atau dry powder dari alat pemadam api ringan (APAR) kepada sumber api, penyemprotan busa (foam), CO 2 , Halon, atau menggunakan selimut basah atau pasir (untuk api kecil dan kompor). Halon karena alasan lingkungan hidup (merusak lapisan ozon) dilarang penggunaannya.

hidup (merusak lapisan ozon) dilarang penggunaannya. 3. Starving (mematikan sumber bahan bakar) yakni dengan
hidup (merusak lapisan ozon) dilarang penggunaannya. 3. Starving (mematikan sumber bahan bakar) yakni dengan
hidup (merusak lapisan ozon) dilarang penggunaannya. 3. Starving (mematikan sumber bahan bakar) yakni dengan

3. Starving (mematikan sumber bahan bakar) yakni dengan menutup katup aliran bahan bakar gas atau cairan.

dengan menutup katup aliran bahan bakar gas atau cairan. 4. Memutuskan reaksi kimia berantai dengan mengaplikasikan

4. Memutuskan reaksi kimia berantai dengan mengaplikasikan bahan kimia tertentu untuk

80 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

menyingkirkan rangkaian reaksi kimia di daerah nyala api dengan demikian proses pembakaran akan terhenti.

Selain itu, pemadaman api aktif ini juga perlu didukung dengan sistem pemadaman api otomatis (Fixed fire fighting system) seperti misalnya adanya sistem air pemadam (fire water sistem) yang dapat meliputi Sprinkler, sistem Deluge, fusible plug.

yang dapat meliputi Sprinkler, sistem Deluge, fusible plug. 4.8. Pre Fire Plan Konsep manajemen penanggulangan
yang dapat meliputi Sprinkler, sistem Deluge, fusible plug. 4.8. Pre Fire Plan Konsep manajemen penanggulangan

4.8. Pre Fire Plan

Konsep manajemen penanggulangan pra-kebakaran (Pre-Fire Plan) diperlukan bagi area atau lokasi kerja yang memiliki bahaya kebakaran tinggi. Penanggulangan kebakaran dalam fasilitas produksi minyak dan gas misalnya harus dapat dilakukan dalam hitungan detik, karena memang tingkat bahaya kebakaran dari fasilitas tersebut yang cukup tinggi sehingga dituntut penanggulangan yang cepat dan efektif dalam pemadaman kebakaran.

yang cepat dan efektif dalam pemadaman kebakaran. Fasilitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi harus
yang cepat dan efektif dalam pemadaman kebakaran. Fasilitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi harus

Fasilitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi harus memiliki Pre-Fire Planning yang dijalankan secara konsisten yang dibantu dengan adanya komitmen dari Top Management selaku pengelola

Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran 81

fasilitas tersebut untuk menyediakan fasilitas pemadam kebakaran yang diperlukan.

Pre-Fire Planning adalah suatu cara untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat terkait dengan bahaya kebakaran yang mungkin terjadi di suatu tempat yang memiliki potensi bahaya kebakaran. Pre-Fire Planning ditujukan untuk tempat- tempat seperti pabrik, kilang, gedung bertingkat, mal, gudang, pasar, rumah sakit dan tempat lainnya yang berpotensi terjadinya kebakaran.

Adanya Pre-Fire Planning ini akan membuat pihak Regu Tanggap Darurat (emergency response team) lebih siap dalam menghadapi bahaya kebakaran. Dengan Pre-Fire Planning ini dapat diperkirakan kondisi terburuk yang mungkin terjadi dan bagaimana langkah-langkah penanggulangannya. Waktu penanganan kebakaran (Response Time) akan lebih efektif lagi, sehingga dapat meminimalisir atau bahkan mencegah terjadinya korban dan kerugian.

atau bahkan mencegah terjadinya korban dan kerugian. Setiap fasilitas produksi maupun penyimpanan minyak dan gas
atau bahkan mencegah terjadinya korban dan kerugian. Setiap fasilitas produksi maupun penyimpanan minyak dan gas
atau bahkan mencegah terjadinya korban dan kerugian. Setiap fasilitas produksi maupun penyimpanan minyak dan gas
atau bahkan mencegah terjadinya korban dan kerugian. Setiap fasilitas produksi maupun penyimpanan minyak dan gas

Setiap fasilitas produksi maupun penyimpanan minyak dan gas bumi ataupun bahan berbahaya lainnya harus mengukur kebutuhan yang diperlukan untuk

82 Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran

penanggulangan keadaan darurat dilokasi tersebut.

Setiap Pre Fire Plan harus dapat mengidentifikasi potensi dan skenario kebakaran dan juga dapat mengevaluasi tujuan dan strategi dari pemadaman kebakaran tersebut. Pre-Fire Plan seharusnya dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang diperlukan selama proses pemadaman antara lain peralatan pemadaman yang diperlukan (selang, fire monitor, sambungan, dll), lokasi hidrant, jumlah agen dan air yang digunakan dan persyaratan personil.

jumlah agen dan air yang digunakan dan persyaratan personil. Pre-Fire Plan ini harus tersedia bagi semua
jumlah agen dan air yang digunakan dan persyaratan personil. Pre-Fire Plan ini harus tersedia bagi semua

Pre-Fire Plan ini harus tersedia bagi semua regu pemadam kebakaran dan juga digunakan sebagai dasar untuk pelatihan. Pelaksanaan pelatihan harus dimonitor secara seksama, didokumentasikan dan dievaluasi sehingga hasilnya dapat digunakan untuk menyempurnakan setiap rencana jika perlu. Dari segi prosedur keselamatan, pre-fire plan harus disosialisasikan kepada seluruh entitas di dalam perusahaan. Sementara dari sisi peralatan harus

kepada seluruh entitas di dalam perusahaan. Sementara dari sisi peralatan harus selalu tersedia dan harus sesuai
selalu tersedia dan harus sesuai standar.
selalu tersedia dan harus sesuai standar.

Daftar Pustaka 83

Daftar Pustaka

1. Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan, PerMenaker 04/1980.

2. Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, PerMenaker

02/1983.

2. Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, PerMenaker 02/1983. 3. Fire Protection Handbook, 16th Edition, National Fire

3. Fire Protection Handbook, 16th Edition, National Fire Protection Association

4. Standard for Portable Fire Extinguisher, NFPA 10, 2002 Edition.

5. Standard for Low, Medium, and High Expansion Foam, NFPA 11, 2002 Edition.

6. Standard for CO2 Extinguishing System, NFPA 12, 2002 Edition

7. Fire Fighting Training Manual, Education and Culture Leonardo Da Vinci.

Extinguishing System, NFPA 12, 2002 Edition 7. Fire Fighting Training Manual, Education and Culture Leonardo Da
Extinguishing System, NFPA 12, 2002 Edition 7. Fire Fighting Training Manual, Education and Culture Leonardo Da
Extinguishing System, NFPA 12, 2002 Edition 7. Fire Fighting Training Manual, Education and Culture Leonardo Da

84 Lampiran

Lampiran Matriks Kompetensi SIKA

No SUBJECT OF TRAINING TRAINING MATRIX I Pengetahuan Dasar 1 Identifikasi Bahaya Y Y Y
No SUBJECT OF
TRAINING
TRAINING MATRIX
I Pengetahuan Dasar
1 Identifikasi Bahaya
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
2 Alat Pelindung Diri
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Pengendalian Pekerjaan Berbahaya
Y
Y
Y
Y
Y
3 dengan Dokumentasi
4
Surat Ijin Kerja
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
5
Pengamatan Keselamatan Kerja
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
6
Aspek Kebakaran
Y
Y
Y
Y
Y
AR
AR
II
Manajemen K3 Praktis
1
Accident Incident Investigation
Y
AR
AR
Y
2
Isolasi Energi Berbahaya
Y
AR
Y
Y
3
Lingkungan Kerja Aman
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
4
Tanggap Darurat
III
Keselamatan Khusus
1
Penanganan Bahan Berbahaya
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
2
Keselamatan Kerja Radiasi
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
3
Keselamatan Kerja H2S
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
4 Memasuki Ruang Tertutup
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
5 Keselamatan Penggalian
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
6 Bekerja di Ketinggian
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
7 Scaffolding
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
8 Pengujian dan Deteksi Gas
Y
AR
Y
Y
AR
AR
9
Operasi Pengangkatan
Y
AR
Y
Y
AR
AR
10
Keselamatan Operasi Gas Purging
Y
AR
AR
Y
AR
11
Bahaya terhadap Kesehatan Kerja
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
12
Tabung Gas Bertekanan
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
13
Klasifikasi Area Berbahaya
Y
AR
Y
Y
Y
Y
: Modul Wajib
: As Required
AR
(Sesuai kebutuhan)
:
Modul Tidak Wajib
Frequency
Provider
Duration
Standard
GAS SAFETY INSPECTOR
AHLI TEKNIK
GAS TESTER
SAFETY INSPECTOR
PENGAWAS JAGA
PEKERJA
CONTRACTOR