Anda di halaman 1dari 22

I.

PENDAHULUAN
PT INCO. Tbk merupakan perusahaan tambang nikel yang memiliki

daerah operasi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sistem


penambangan batubara yang dilakukan adalah sistem tambang terbuka
(open pit mining).
Dalam perencanaan tambang terbuka, disamping faktor cadangan,
ekonomi dan lingkungan, faktor kestabilan lereng juga faktor terpenting
yang harus diperhatikan secara seksama karena hal ini menyangkut
tentang kelancaran produksi yang akan dilakukan. Desain lereng yang
stabil

dan

tepat

dapat

meningkatkan

efisiensi

dan

efektifitas

pertambangan yang maksimal, Mining recovery yang optimal dan


terjaminnya perlindungan lingkungan serta keselamatan dan kesehatan
kerja tambang. Bentuk dan dimensi lereng harus dibuat sesuai dengan
hasil kajian geoteknik dan geohidrologi yang telah dilakukan dalam rangka
perencanaan tambang agar dapat dicapai tingkat produksi yang optimal
serta untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan bagi karyawan,
peralatan, bangunan dan infrastruktur.
Tambang terbuka yang terdiri atas beberapa jenjang (Bench)
sangat berpotensi untuk mengalami kelongsoran, oleh karena itulah perlu
dilakukan suatu kajian teknis mengenai analisis kestabilan lereng pada
saat penambangan dan pada saat akhir penambangan, baik terhadap
lereng individu/tunggal maupun terhadap lereng keseluruhan.

II.

RUMUSAN MASALAH

2.1

Identifikasi Masalah
Untuk mengetahui sejauh mana kestabilan lereng yang ada pada

front penambangan, baik menyangkut tentang faktor keamanannya


maupun indikasi timbulnya longsoran maka perlu diidentifikasi beberapa
masalah sebagai berikut :

Adanya pengaruh air yang ada didalam tanah serta air permukaan
yang mempercepat proses pelapukan sehingga dapat menyebabkan
erosi dan kelongsoran pada permukaan lereng.

Adanya struktur atau bidang-bidang lemah yang mempengaruhi


kekuatan tanah/batuan.

Adanya pengaruh gaya-gaya dari luar misalnya faktor manusia dan


getaran daripada kendaraan (alat mekanis) yang mempengaruhi
kestabilan lereng.

2.2

Masalah Penelitian
PT INCO. Tbk, dalam melakukan aktivitasnya masih banyak

mengalami

kendala

baik

dari

segi

penambangan.

Salah

satu

permasalahan yang sering timbul pada kegiatan penambangan adalah


kelongsoran sering terjadi akibat lereng penambangan kurang mantap
baik dalam kondisi kering maupun dalam kondisi basah.

2.3.

Batasan Masalah
Lokasi kegiatan penelitian perlu dibatasi pada PT INCO. Tbk, dan

pembahasan hanya pada penentuan nilai faktor keamanan lereng, baik


lereng individu maupun lereng keseluruhan, serta penentuan bidang
gelincir lereng yang kemungkinan akan terjadi kelongsoran.

III.

TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah

Untuk menentukan nilai faktor keamanan dari lokasi penambangan,


baik lereng dalam kondisi kering, kondisi peralihan kering kejenuh,
maupun dalam kondisi jenuh air.

Untuk melihat pengaruh kondisi air tanah terhadap nilai faktor


kemanan dari suatu lereng.

IV.

METODE PENELITIAN

4.1

Teknik Pengambilan Data

1. Studi literatur, yaitu membandingkan data yang diperoleh dari literatur


pustaka.
2. Penelitian lapangan, meliputi :

Observasi lapangan

Penentuan lokasi

3. Pengambilan data meliputi :


a.

Data geologi yang dapat memberikan gambaran,


letak dan kondisi dari bench.

b.

Data daerah penyelidikan meliputi : iklim dan curah


hujan

c.

Data lereng meliputi :

Berat isi tanah ( )

Kohesi ( C )

Sudut Geser Dalam ( )

Tinggi Bench

Lebar Bench

Elevasi Muka Air Tanah

d.

Data sekunder lainnya, yang dianggap perlu untuk


melakukan suatu analisis data.

4.2 Teknik Pengolahan Data


Teknik pengolahan data dilakukan dengan cara melakukan suatu
proses analisis data yang didapatkan selama penelitian melalui hasil
perhitungan berdasarkan teori-teori dan persamaan yang telah ada.
4.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengecek kelengkapan
data serta pengisian data itu sendiri, kemudian mengolahnya dengan
menggunakan rumus-rumus yang telah ada sehingga dapat dilakukan
suatu studi komperatif dengan kondisi sebenarnya sesuai data tersebut.
4

V.

LANDASAN TEORI

5.1 Tipe-Tipe Lereng


5.1.1. Lereng Alam
Lereng Alam adalah lereng yang terbentuk karena adanya prosesproses alam, misalnya lereng suatu bukit.
5.1.2. Lereng Buatan
Lereng buatan adalah lereng yang dibuat oleh manusia untuk
kepentingan tertentu baik dibuat dalam tanah asli seperti tanah yang
dipotong untuk pembuatan jalan atau saluran irigasi maupun dibuat dari
tanah yang dipadatkan misalnya tanggul untuk keperluan jalan.
Bench ( Jenjang ) adalah undakan yang sengaja dibuat dalam
pekerjaan penggalian atau penambangan bahan galian, sehingga bench
termasuk lereng buatan.
Dengan demikian penentuan dimensi Bench menjadi sangat
penting, karena mempengaruhi kestabilan lereng.
Adapun hal-hal yang berhubungan dengan dimensi Bench adalah
sebagai berikut :
1. Lebar Jenjang
Lebar jenjang sangat dipengaruhi oleh alat-alat mekanis yang
digunakan, dimana dapat ditentukan dengan persamaan menurut
US Army Engineers (1967), seperti yang ditunjukkan pada (rumus 1.2).

2. Tinggi Jenjang
Tinggi jenjang adalah jarak vertikal antara bidang-bidang horizontal
pada suatu level tambang. Bagian-bagian dari suatu jenjang dapat
ditunjukkan pada (gambar 1.1). Ketinggian jenjang tergantung
daripada sifat fisik suatu endapan, dan ketinggian jenjang juga harus
disesuaikan dengan tinggi peralatan yang digunakan dan berapa besar

Sudut
Kemiringan
Lereng

Tinggi Jenjang

produksi yang diinginkan.

Lebar Bench

Gambar 1.1
Bagian Dari Jenjang
Untuk

menghitung

tinggi

kritis

jenjang

dengan

pertimbangan

keamanan, maka digunakan rumus Taylor sesuai dengan (rumus 1.1).


3. Kemiringan Lereng

Lereng suatu tambang merupakan bagian yang perlu diperhatikan


terutama dalam hubungannya dengan keamanan kerja. Kemiringan
lereng biasanya dinyatakan dalam besar sudut dari bidang horizontal.
Kemantapan dinding tambang harus dianalisa secara cermat. Sifat
fisik, kekuatan batuan, kekar, resapan air, dan data geologi lainnya
merupakan faktor penting dalam mengevaluasi arah kemiringan
lereng.
Kemiringan lereng dianalisa melalui berbagai sudut, mulai dari
kemiringan landai sampai kemiringan terjal.

5.2.

Faktor Yang Memengaruhi Kemantapan Lereng


Faktor-faktor yang memengaruhi kemantapan lereng adalah

geometri lereng, struktur geologi, sifat fisik tanah, sifat mekanik tanah,
kondisi air tanah dan gaya dari luar.
5.2.1. Geometri Lereng
Geometri lereng mencakup seluruh aspek yang berhubungan
dengan kenampakan visual lereng, yaitu : orientasi lereng, kemiringan
lereng, tinggi lereng dan lebar bench. Orientasi lereng menentukan tipe
longsoran yang mungkin terjadi.
Sehubungan dengan hal tersebut, penambahan tinggi lereng
memerlukan kemiringan lereng yang lebih kecil untuk menjaga agar lereng
tetap mantap. Lebar jenjang (bench) akan menentukan besarnya sudut
(kemiringan) lereng pada saat analisis kemantapan untuk lereng

keseluruhan. Semakin besar lebar jenjang, semakin kecil sudut lereng


keseluruhan.
Adapun untuk menghitung tinggi kritis jenjang dengan pertimbangan
keamanan, maka salah satu ahli mekanika yaitu Taylor merumuskan
sebagai berikut:
Hc

4C
Sin 2

.. (1.1)

dimana :
Hc = Ketinggian kritis
c

= Kohesive Shearing Strength (gr/cm 2)

= Sudut kemiringan lereng

= Berat Jenis Material

sedangkan untuk perhitungan lebar jenjang yang sangat dipengaruhi oleh


alat-alat mekanis yang digunakan, maka US Army Engineers (1967)
memberikan rumusan, dengan asumsi bahwa lebar suatu jenjang setidaktidaknya sama dengan penjumlahan jumlah alat yang digunakan.
Persamaannya adalah :
Wminimum

= PG + PM + LTD (1.2)

dimana :
PG

Panjang Alat Gali

PM

Panjang Alat Muat

LTD

Lebar Alat Angkut

5.2.2. Struktur Geologi

Struktur geologi batuan yang memengaruhi kemantapan lereng


dapat berupa bidang perlapisan (Bedding Plane), sesar (Fault), perlipatan
(Fold) dan kekar (Joints). Struktur ini sangat mempengaruhi kekuatan
batuan karena

bidang perlapisan dapat menjadi bidang luncur suatu

longsoran.
5.2.3. Sifat Fisik Tanah
Sifat fisik tanah dapat diperoleh dari hasil pengujian laboratorium,
penentuan sifat fisik tanah merupakan pengujian tanpa merusak (non
destruktif test). Sifat fisik tanah yang berpengaruh terhadap kemantapan
lereng adalah :
-

Berat isi tanah ( )

Kekuatan geser tanah ( S )

Porositas

Sudut geser dalam ( )

Permeabilitas

Elevasi muka air tanah

Kadar air

5.2.4. Kondisi Air Tanah


Pengaruh air tanah terhadap kekuatan tanah dapat mengurangi
kemantapan lereng. Air tanah akan menjadikan ikatan antar molekul tanah
menjadi semakin kecil sehingga akan menimbulkan adanya bidang
gelincir pada lereng, disamping akan memperbesar berat lereng. Suatu
lereng yang mengandung air tanah memiliki kemantapan lereng yang kecil

dibandingkan lereng yang tidak mengandung air tanah, pada geometri


lereng yang sama.
5.2.5. Gaya-gaya dari Luar
Gaya-gaya ini adalah semua gaya yang datang dari luar lereng
umumnya berasal dari :
a. Gaya Akibat Alat Berat
b. Gaya Akibat Gempa dan Peledakan

5.3.

Klasifikasi Longsoran
Longsoran biasanya terjadi dengan beberapa bentuk atau cara,

dan ternyata hal ini sangat penting untuk membuat analisa kemantapan
lereng. Longsoran yang terjadi pada tanah mempunyai mempunyai
mekanisme dan bentuk geometri yang berbeda dengan batuan keras.
Longsoran pada tanah diasumsikan terjadi pada suatu massa
tanah yang homogen dan kontinue, sehingga bentuk geometri dari
longsoran tersebut berupa busur lingkaran. Dalam hal ini parameterparameter sifat fisik maupun sifat mekanik tanah dianggap sama dan
merata disemua bagian tubuh tanah tersebut.
Adapun jenis-jenis longsoran yang dikenal dalam tambang terbuka
adalah (lihat gambar 1.1).
a. Longsoran Bidang (Plane Failure)
b. Longsoran Baji (Wedge Failure)
c. Longsoran Busur (Circular Failure)

10

d. Longsoran Guling (Toppling Failure)

Sumber : Hoek & J. W. Bray, 1981

Gambar 1.1

11

Jenis-jenis Longsoran

5.4.

Analisis Kemantapan Lereng

5.4.1. Metode Analisis Kementapan Lereng


Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan untuk
menganalisis kemantapan lereng antara lain :

Metode Bishop
Cara ini berdasarkan prinsip keseimbangan batas yaitu menghitung
besarnya kekuatan geser yang akan mempertahankan kemantapan,
dibandingkan dengan besarnya tegangan geser yang bekerja. Harga
perbandingan ini adalah faktor keamanan atau Safety factor.

Metode Janbu
Cara ini digunakan untuk menganalisa lereng yang bidang longsornya
tidak berbentuk busur lingkaran. Dalam hal ini bidang longsornya
ditentukan berdasarkan zona lemah yang terdapat pada massa
batuan atau tanah.

Metode Morgenstern And Price


Cara ini digunakan untuk perbandingan antara resintance force
dengan shearing force. Agar bench dapat lebih stabil harus lebih
besar daripada satu, berarti resistance force harus lebih besar
daripada shearing force.

Metode Hoek and Bray

12

Cara ini digunakan untuk menganalisa lereng berbentuk longsoran


baji dengan membuat lima buah diagram untuk tiap kondisi air tanah
mulai dari kondisi jenuh sampai pada kondisi kering.
Analisis stabilitas lereng umumnya dilakukan berdasarkan teori
kesetimbangan

terbatas menggunakan kriteria keruntuhan Mohr-

Coulomb. Salah satu cara yang biasa digunakan adalah metode Bishop
karena metode ini dikenal denga metode konvensional untuk menghitung
harga faktor keamanan lereng secara cepat dan lebih sederhana.

5.4.2. Analisis Stabilitas Lereng Dengan Metode Keseimbangan


Batas.
Metode keseimbangan batas (limit equilibrium method) yaitu
perbandingan

antara

kekuatan

geser

yang

diperlukan

untuk

mempertahankan kemantapan dengan kekuatan geser yang ada (faktor


keamanan).
Selanjutnya dicoba suatu bidang gelincirdan dianggap terjadi suatu
kelongsoran :

Hitung

gaya

atau

momen

yang

menyebabkan kelongsoran akibat berat tanah.(momen penggerak)

Hitung gaya atau momen yang melawan


kelongsoran akibat kekuatan geser tanah.(momen melawan)

13

Perbandingan kedua gaya atau momen ini


adalah faktor keamanan terhadap kelongsoran pada bidang geser.
(lihat gambar 1.2)

14

(Gambar 1.2)
Dimana : W = Berat segmen
Momen penggerak segmen = W . x
Jumlah momen penggerak = W . x
= W . R Sin

15

= R. W Sin
Kekuatan geser yang ada
F=
Kekuatan geser yang diperlukan untuk menentukan kemantapan
Jika S = kekuatan geser yang ada, maka kekuatan geser untuk

menentukan kemantapan =

S
F

Bila : S = gaya pada dasar segmen


Maka : S

S.l
S .l
, sehingga momen melawan segmen :
.R
F
F

Momen melawan seluruhnya

S.l
.R
F

R
S.l
F

Sehingga Momen penggerak = Momen melawan


R WSin

Nilai F terkecil

R
S.l
F

S.l

................( 1 )

W.Sin

1 Lingkaran kritis (Critical circle)

Cara tegangan efekti dimana nilai S pada persamaan ( 1 ) diganti dengan:


S = C' tan ' sehingga persamaan 1 menjadi :
F

C'.l .L .l tan '


WSin
1
C'.l P .l tan ' ......................( 2 )
WSin

Dimana : P

= gaya normal pada dasar segmen

16

Nilai W, dan l dapat diperoleh pada setiap segmen


C dan ditentukan di lab.
S = Kekuatan geser tanah
= Tegangan normal pada bidang geser
= Tegangan air pori
C = Faktor kohesi pada tegangan efektif
`

= Sudut geser dalam

P belum diketahui
Ada dua cara untuk menentukan P

Cara biasa dan

Car bishop

Dengan cara bishop besarnya P diperoleh dengan menguraikan gayagaya ini dalam arah vertikal :

P .l tan ' Sin P .l Cos W Xn Xn 1 C'.l Sin .lCos


F

P .l

C' Sin

Cos
F

tan '
Cos
Sin
F

W Xn Xn 1 l

Dimana cara bishop ini, nilai Xn Xn 1 dianggap = 0


C' Sin

cos
F

tan '.Sin
Cos
F

W l
P l

Jadi :

1
WSin

C ' b W .b tan '

17

Sec
tan '. tan
1
F

5.4.3. Analisis Stabilitas Lereng Berdasarkan Metode Bishop


Cara ini berdasarkan prinsip keseimbangan batas yaitu menghitung
besarnya kekuatan geser yang akan mempertahankan kemantapan,
dibandingkan dengan besarnya tegangan geser yang bekerja. Harga
perbandingan ini adalah faktor keamanan atau Safety factor.
Faktor keamanan F menurut definisi yang sering dipakai orang
adalah perbandingan kekuatan geser batuan yang ada dengan kekuatan
geser yang diperlukan untuk mempertahankan kemantapan. Besarnya
kekuatan geser yang diperlukan untuk mempertahankan kemantapan
adalah sama dengan tegangan yang mendorong terjadinya kelongsoran
berupa beban akibat gaya berat.
Untuk perhitungan dengan cara Bishop digunakan langkah-langkah
sebagai berikut :

Lereng dibagi menjadi sejumlah segmen/pias dengan


batasan-batasan vertikal

Ukur lebar (b), tinggi (h), tinggi air (z), dan sudut pada
setiap pias.

Besar tegangan air pori pada setiap pias ; u = z.w

Dengan menggunakan harga-harga; W = b.h setiap pias


dianggap mempunyai tebal satuan pada arah melintang terhadap
lereng (tiap meter).
Harga-harga : sin

, c`b, ub dihitung agar : c`b + (W - ub) tan dapat

dihitung/ditentukan pada setiap pias.

18

Diambil suatu harga Fk sebagai coba-coba, kemudian


menghitung harga :
sec
tan tan
1
Fk

Angka-angka pada kolom 16 dan 17 dikalikan dan


dimasukkan pada kolom 18

Harga W sin
sin

dijumlahkan untuk mendapatkan W

. Demikian juga angka pada kolom 18 dijumlahkan untuk

mendapatkan harga :
sec
{ c`b + (W - ub) tan } 1 tan tan
Fk

Perbandingan kedua jumlah ini menghasilkan harga Fk


yang dicari

Harga Fk yang didapat dipakai untuk mengulangi


perhitungan. Ulangan ini hanya perlu pada kolom 17 dan 18.
Untuk

menyelesaikan

perhitungan

ini

kita

harus

meneruskan

perhitungan dengan cara di atas pada pada lingkaran-lingkaran lain,


sehingga akhirnya diperoleh lingkaran dengan harga Fk yang terkecil.
Harga Fk terkecil ini adalah faktor keamanan yang dicari.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.1
Tabel 1.1
Analisis Perhitungan Kemantapan Lereng dengan Metode Bishop

19

Pias
1

(m)

(m)

(t/cm)

(t)

()

Sin

W
Sin
(t)

c`

c`b

(t/m)

10

(m)

(t/m)

11

12

ub

13

W-ub

14

(W-ub)
tan

10+15

(t)

(t)

15

16

sec
tg tg16x 17
1
Fk
Fk

Fk

Fk

F1

17

Fk
F1

18

1
2

3
4

5
6

Muka Air Tanah

7
W
Sin

Sumber : Dr. L. D. Wesley, Mekanika Tanah, 1977

Sumber : Dr. L. D. Wesley, Mekanika Tanah, 1977

Gambar 1.3

20

16x17
W Sin

16x17
W Sin

F1

Model Pendekatan Bidang Gelincir


VI.

RENCANA KEGIATAN
Kegiatan penelitian ini diusulkan pada PT INCO. Tbk di Kabupaten

Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan

VII.

PERALATAN DAN FASILITAS


Untuk kelancaran penelitian ini maka penulis meminta kesediaan

perusahaan untuk menyediakan kelengkapan seperti peralatan penelitian,


peralatan lapangan, konsumsi, akomodasi dan transportasi.
VIII.

No

RENCANA JADWAL PENELITIAN

Kegiatan

Orientasi Lapangan

Study Pustaka

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Penyusunan Laporan

Konsultasi Laporan
Persiapan Meninggalkan
Lokasi

April
II III

IX.

RENCANA DAFTAR ISI (lampiran A)

X.

RENCANA DAFTAR PUSTAKA (lampiran B)

XI.

PENUTUP

IV

Mei
II III

IV

Demikian proposal ini dibuat,untuk menjadi bahan pertimbangan


bagi Bapak/Ibu,atas perhatiannya, sebelumnya diucapkan terima kasih.

21

22