Anda di halaman 1dari 8

SLIDE 2

Dokumen lingkungan hidup terdiri atas:


1. Dokumen AMDAL yaitu dokumen tentang kajian mengenai dampak penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
2. UKL-UPL atau upaya pengelolaan lingkingan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau
kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan
3. SPPL atau surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup adalah pernyataan kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas
dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya diluar usaha dan/atau
kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL

SLIDE 3
Sebelum penyusunan dokumen AMDAl, diperlukan yang namanya penapisan terhadap
kegiatan yang wajib AMDAL, hal ini diatur dalam permen lingkungan hidup nomor 05 tahun
2012. Tujuan penapisan yaitu untuk menentukan usaha atau kegiatan wajib amdal atau tidak.
Jika wajib AMDAL maka pemrakarsa harus menyusun dokumen AMDAL sesuai dengan
Peraturan pemerintah longkungan hidup nomor 16 tahun 2012, baik secara sendiri ataupun
meminta jasa konsultan. Jika kegiatan atau usaha tidak wajib AMDAL atau tidak memerlukan
AMDAL maka pemrakarsa diwajibkan menyusun dokumen UKL-UPL sesuai dengan permen
lingkungan hidup nomor 16 tahun 2012.

SLIDE 5
1. Dokumen

Kerangka

Acuan

Analisis

Dampak

Lingkungan

Hidup

(KA-ANDAL), KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang


lingkup serta kedalaman kajian ANDAL. Ruang lingkup kajian ANDAL
meliputi penentuan dampak-dampak penting yang akan dikaji secara lebih
mendalam dalam ANDAL dan batas-batas studi ANDAL. Sedangkan
kedalaman studi berkaitan dengan penentuan metodologiyang akan digunakan
untuk mengkaji dampak. Penentuan ruang lingkup dan kedalaman kajian ini
merupakan kesepakatan antara Pemrakarsa Kegiatan dan Komisi Penilai
AMDAL melalui proses yang disebut dengan proses pelingkupan. Beberapa
contoh isi dari KA antara lain izin tata ruang, izin prinsip lokasi, peta-peta
terkait, dan lain-lain. Selain itu juga harus ada sosialisasi dengan masyarakat
sekitar berupa papan pengumuman.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), ANDAL merupakan
komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat
tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan, yaitu: teknis, ekonomis
dan lingkungan (TEL). biaya rencana kegiatan sebagaimana tercantum dalam
studi kelayakan rencana kegiatan tersebut meliputi pula biaya penanggulangan
dampak negatif dan pengembangan dampak positifnya.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan, RKL adalah dokumen yang
memuat upaya-upaya untuk mencegah, mengendalikan dan menanggulangi
dampak penting lingkungan hidup yang bersifat negatif serta memaksimalkan
dampak positif yang terjadi akibat rencana suatu kegiatan. Upaya-upaya
tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan dasar-dasar pengelolaan dampak
yang dihasilkan dari kajian ANDAL. Jadi, RKL ini berisikan upaya dari si
pemrakarsa untuk meminimalisir dampak lingkungan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL), RPL adalah
dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk melihat perubahan
lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang berasal dari rencana
kegiatan. Hasil pemantauan ini digunakan untuk mengevaluasi efektifitas
upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan, ketaatan pemrakarsa
terhadap peraturan lingkungan hidup dan dapat digunakan untuk mengevaluasi
akurasi prediksi dampak yang digunakan dalam kajian ANDAL.
SLIDE 6

Dalam menyusun dokumen Amdal, Pemrakarsa wajib


menggunakan pendekatan studi:
a. tunggal;
b. terpadu; atau
c. kawasan.
1. Pendekatan studi tunggal dilakukan apabila Pemrakarsa merencanakan untuk
melakukan 1 (satu) jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang kewenangan pembinaan
dan/atau pengawasannya berada di bawah 1 (satu) kementerian, lembaga pemerintah
nonkementerian, satuan kerja pemerintah provinsi, atau satuan kerja pemerintah
kabupaten/kota.
2. Pendekatan studi terpadu dilakukan apabila Pemrakarsa merencanakan untuk
melakukan lebih dari 1 (satu) jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang perencanaan dan
pengelolaannya saling terkait dalam satu kesatuan hamparan ekosistem serta
pembinaan dan/atau pengawasannya berada di bawah lebih dari 1 (satu) kementerian,
lembaga pemerintah nonkementerian, satuan kerja pemerintah provinsi, atau satuan
kerja pemerintah kabupaten/kota.
3. Pendekatan studi kawasan dilakukan apabila Pemrakarsa merencanakan untuk
melakukan lebih dari 1 (satu) Usaha dan/atau Kegiatan yang perencanaan dan
pengelolaannya saling terkait, terletak dalam satu kesatuan zona rencana
pengembangan kawasan, yang pengelolaannya dilakukan oleh pengelola kawasan.

SLIDE 7

Pemrakarsa, dalam menyusun dokumen Amdal wajib mengikutsertakan masyarakat:


a. yang terkena dampak;
b. pemerhati lingkungan hidup; dan/atau
c. yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses Amdal.
Pengikutsertaan masyarakat dilakukan melalui:
a. pengumuman rencana Usaha dan/atau Kegiatan; dan
b. konsultasi publik.
Pengikutsertaan masyarakat dilakukan sebelum penyusunan dokumen Kerangka Acuan.
Masyarakat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak pengumuman berhak
mengajukan saran, pendapat, dan tanggapan terhadap rencana Usaha dan/atau Kegiatan.
Saran, pendapat, dan tanggapan disampaikan secara tertulis kepada
Pemrakarsa dan Menteri, gubernur, atau bupati/walikota.

SLIDE 8

Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup


disusun oleh pemrakarsa. Kerangka acuan disusun berdasarkan pedoman yang
ditetapkan (peraturan menteri Lingkungan hidup nomor 16 tahun 2012 lampiran 1)
Kerangka acuan disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab
melalui Komisi penilai AMDAL baik tingkat pusat, provinsi atau kabuapten/kota.,
Kerangka acuan dinilai oleh komisi penilai amdal melalui tim teknis bersama
dengan pemrakarsa untuk menyepakati KA-ANDAL layak atau masih perlu diperbaiki.
Jika masih perlu diperbaiki maka akan dikembalikan ke pemrakarsa. Keputusan atas
penilaian kerangka acuan oleh Tim teknis wajib diberikan oleh Komisi penilai AMDAL
dalam jangka waktu

selambat-lambatnya 30 hari kerja terhitung sejak tanggal

diterimanya kerangka acuan.


Apabila Komisi penilai AMDAL tidak menerbitkan keputusan dalam jangka
waktu maka Komisi penilai AMDAL dianggap menerima kerangka acuan dimaksud.
Komisi penilai AMDAL wajib menolak kerangka acuan apabila rencana lokasi
dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai
dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan.
Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup, berdasarkan kerangka
acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab.
Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup, berpedoman pada pedoman pada
permen LH no. 16 tahun 2012 lampiran 2 dan 3),
Analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan
rencana pemantauan lingkungan hidup, diajukan oleh

pemrakarsa kepada Komisi

penilai AMDAL
Analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan
rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai oleh Tim Teknis
Komisi penilai AMDAL bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan
lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis
dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dalam
keputusan kelayakan lingkungan

hidup

Wajib dicantumkan dasar pertimbangan

dikeluarkannya keputusan itu, dan pertimbangan terhadap saran, pendapat, dan


tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat
Komisi penilai AMDAL menerbitkan keputusan kelayakan Lingkungan hidup
suatu usaha dan/atau kegiatan, dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh
lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak

lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan


lingkungan hidup. Apabila Komisi penilai AMDAL tidak menerbitkan keputusan dalam
jangka waktu, maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap
layak lingkungan.
Komisi penilai AMDAL mengembalikan ANDAL, RKL, dan RPL kepada
pemrakarsa untuk diperbaiki apabila ANDAL, RKL, dan RPL tidak sesuai dengan
pedoman

penyusunan

mengembalikan

ANDAL,

RKL,

dan

RPL Perbaikan

mengembalikan ANDAL, RKL, dan RPL diajukan kembali kepada Komisi penilai
AMDAL .
Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan
kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini, apabila rencana usaha dan/atau
kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya
keputusan kelayakan tersebut.
Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa, maka
untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya, pemrakarasa wajib
mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup,
rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup
kepada instansi yang bertanggung jawab.
Komisi Penilai Amdal menyampaikan rekomendasi hasil penilaian Andal dan
RKL-RPL kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya.
Rekomendasi hasil penilaian Andal dan RKL-RPL dapat berupa:
a. rekomendasi kelayakan lingkungan; atau
b. rekomendasi ketidaklayakan lingkungan.
Rekomendasi ditetapkan berdasarkan pertimbangan paling sedikit meliputi:
a. prakiraan secara cermat mengenai besaran dan sifat penting dampak dari aspek biogeofisik
kimia, sosial, ekonomi, budaya, tata ruang, dan kesehatan masyarakat pada tahap
prakonstruksi, konstruksi, operasi, dan pascaoperasi Usaha dan/atau Kegiatan;
b. hasil evaluasi secara holistik terhadap seluruh Dampak Penting hipotetik sebagai sebuah
kesatuan yang saling terkait dan saling memengaruhi, sehingga diketahui perimbangan
Dampak Penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif; dan
c. kemampuan Pemrakarsa dan/atau pihak terkait yang bertanggung jawab dalam
menanggulangi Dampak Penting yang bersifat negatif yang akan ditimbulkan dari Usaha
dan/atau Kegiatan yang direncanakan, dengan pendekatan teknologi, sosial, dan
kelembagaan.

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berdasarkan rekomendasi penilaian atau penilaian


akhir dari Komisi Penilai Amdal menetapkan keputusan kelayakan atau
ketidaklayakan lingkungan hidup.Jangka waktu penetapan keputusan kelayakan atau
ketidaklayakan lingkungan hidup dilakukan paling lama 10 (sepuluh) hari
kerja terhitung sejak diterimanya rekomendasi hasil penilaian atau penilaian akhir dari
Komisi Penilai Amdal.