Anda di halaman 1dari 6

Pengaruh Variasi Beban dan Lama Rendaman Air Laut Terhadap

Perubahan Defleksi Material Pipa Baja ASTM A53 dengan Metode


Uji C-Ring
Hairul Arsyada
a
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea Makassar, Indonesia

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar perubahan defleksi yang terjadi pada material jenis
pipa baja ASTM A53 yang mengalami variasi pembebanan dan waktu rendaman pada lingkungan air laut.
Pengujian pada material jenis pipa baja ASTM A53 dilakukan dengan menggunakan metode pengujian C-Ring.
Besarnya variasi beban yang diberikan adalah 20 kg, 40 kg, 60 kg, dan 80 kg dengan variasi waktu rendaman
adalah 3 hari, 6 hari, 9 hari, 12 hari, 15 hari, 18 hari, 21 hari, 24 hari, 27 hari dan 30 hari. Adapun spesimen uji
menggunakan standar ASTM G38-01 jenis C-Ring yang digunakan untuk korosi tegangan. Pengukuran defleksi
dilakukan dengan menggunakan mikrometer sekrup setelah diberikan pembebanan sebelum perendaman dan
kemudian dilakukan pengukuran ulang pada spesimen setelah mengalami perendaman. Dari hasil pengujian
diperoleh bahwa dengan variasi perendaman air laut yang diberikan pada spesimen uji tidak memberikan
dampak signifikan terhadap perubahan defleksi yang terjadi tetapi lebih dipengaruhi oleh peningkatan beban
yang diberikan. Besar defleksi maksimal terjadi pada kondisi pembebanan 80 kg dengan lama perendaman 15
hari yaitu sebesar 5,9 mm sedangkan perubahan defleksi minimal terjadi pada kondisi pembebanan 20 kg
dengan lama perendaman 15 dan 18 hari sebesar 0,2 mm.
Katakunci: Beban, Waktu rendam, perubahan defleksi
Abstract
The aim of this research is to measure deflection change in ASTM A53 steel pipe under variation of
load and immersion time in sea water atmosphere. The test was conducted by using C-Ring method with ASTM
G38-01 standart test speciment for stress corrosion. Variation of load that applied to speciment was 20 kg, 40 kg,
60 kg and 80 kg with variation of immersion time was 3 days, 6 days, 9 days, 12 days, 15 days, 18 days, 21 days,
24 days, 27 days and 30 days. Deflection of speciment was measured by using micrometer after given
load/before immerse and then after immerse in sea water. The result show that deflection change after variation
of time immersion in sea water give little effect to the deflection but more because of increasing the load.
Maksimum of change deflection is 5.9 mm at 80 kg load after 15 days immersion time and minimum deflection of
change is 0.2 mm at 20 kg load after 15 and 18 days immersion time.
Keywords: load, immersion time, deflection change.

1. PENDAHULUAN (10 pt, bold)


Baja ASTM A53 adalah jenis baja karbon
rendah yang sesuai standar American Standar
Testing Material adalah untuk pembuatan pipa,
steel black and hot-dipped, Zinc-Coated,
Welded-Seamless. Baja ASTM A53 merupakan
baja karbon rendah dengan kadar C = 0,25%.
Berdasarkan ASTM A53, pipa baja digunakan di
daerah steam, air, gas dan air lines [1]
Adapun spesifikasi tipe dan grade ASTM A53
sebagai berikut :
a. Type F Furnace-butt welded, continuous
welded, Grade A
b. Type E Electric-resistance welded, Grade
A and B
c. Type S Seamless, Grade A and B

Sebagai material pipa yang juga


diaplikasikan dalam lingkungan air laut maka
material ini juga akan mengalami kombinasi
tegangan pada dinding pipa yang disebabkan
oleh tekanan fluida dari dalam maupun tekanan
fluida dari luar yaitu oleh air laut. Selain itu
material tersebut juga mengalami proses korosi
yang disebabkan oleh air laut. Kombinasi ini
sangat mempengaruhi usia pakai dari material
baja ASTM A53 tersebut [2]
Pipa baja dalam pemakaiannya akan
mengalami deformasi akibat tekanan baik dari
dalam pipa maupun dari luar pipa, deformasi
yang terjadi dapat berupa defleksi yang sifatnya
elastis atau permanen yang bergantung pada
karakteristik beban dan jenis pipa baja yang
digunakan.

Gambar 1. Sampling Procedure for Testing


Various Products [3]
Tinjauan Pustaka:
Deformasi defleksi
Apabila sebuah elemen mengalami
pembebanan maka elemen tersebut akan
mengalami deformasi berupa perubahan bentuk
pada elemen sebagai efek terhadap beban yang
diberikan. Dalam beberapa bentuk, deformasi
yang terjadi dapat dijumpai diantaranya dengan
pertambahan dimensi dari elemen, sebagai
contoh adalah pertambahan panjang pada
peristiwa pemberian beban uniaksial pada sebuah
elemen berbentuk silinder pejal yang dapat
diperoleh dari persamaan [4]:
= L/E........................................... (1)
Dimana:
= deformasi pada bahan.
= tegangan yang bekerja
L = panjang total awal dari bahan
E = Modulus elastisitas bahan.
Pada contoh lainnya adalah adanya
reduksi ketebalan penampang yang terjadi yang
merupakan gambaran deformasi pada sebuah
proses pengerolan pelat atau balok baja.
Jenis deformasi lain yang dapat
digambarkan adalah terjadinya penipisan pada
dinding mangkuk pada proses penarikan dalam.
Pada contoh-contoh diatas, deformasi
yang terjadi umumnya deformasi atau perubahan
bentuk
permanen
dari
elemen
akibat
pembebanan yang melebihi kekuatan luluh dari
bahan. Jenis deformasi permanen tersebut juga
disebut deformasi plastis karena perubahan
bentuk elemen tersebut terjadi pada daerah
plastis dari bahan sehingga elemen tidak akan

kembali kebentuk semula apabila beban


dihilangkan.
Defleksi pada sebuah elemen juga
menggambarkan terjadinya deformasi akibat
adanya pembebanan yang diberikan. Sebagai
contoh besar defleksi pada balok yang ditumpu
dan diberi beban pada bagian tengah tumpuan
dapat ditentukan dari persamaan [4]:
= -PL3/48EI..................................(2)
P = Besar beban yang bekerja.
Besar defleksi pada balok baja dari
persamaan diatas tergantung pada parameterparameter yaitu: beban, besar momen lengkung,
modulus elastisitas bahan (E), jarak tumpuan
terhadap beban dan nilai momen inersia (I) dari
penampang balok.
Korosi
Korosi adalah proses perusakan
material, dimana material akan mengalami
penurunan mutu (degradation) karena bereaksi
dengan lingkungan baik itu secara kimia atau
elektrokimia pada waktu pemakaiannya.
Penurunan mutu material akibat korosi dapat
ditinjau dari perubahan kekuatan material.
Penurunan kekuatan akibat korosi
tersebut dapat terjadi melalui banyak mekanisme
seperti misalnya penipisan ketebalan, terjadinya
konsentrasi tegangan akibat serangan setempat
oleh korosi, perubahan dimensi dan komposisi
material dan penurunan berat yang dialami oleh
material. Salah satu parameter penting yang
dapat dihitung pada persitiwa korosi adalah besar
laju korosi yang terjadi, adapun persamaan yang
untuk menghitung laju korosi yang terjadi adalah
[5]:
Laju korosi rata-rata = 87,6 x 104 W

DAT ...

(3).
W = selisih antara berat awal dengan berat
akhir (gram)
D = massa jenis specimen (gram/cm3)
A = luas permukaan specimen (cm2)
T = waktu perendaman (jam)
Semakin tinggi laju korosi yang terjadi
maka semakin tinggi pula penurunan kekuatan
material. Perubahan defleksi sebagai indikator
penurunan kekuatan material dari material yang
mengalami
kombinasi
pembebanan
dan
lingkungan korosif air laut belum banyak
dilaporkan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
besar perubahan defleksi yang terjadi pada
material jenis pipa baja ASTM A53 yang
mengalami variasi pembebanan dan waktu

rendaman pada lingkungan air laut. Pengujian


pada material jenis pipa baja ASTM A53
dilakukan dengan menggunakan metode
pengujian C-Ring. Besarnya variasi beban yang
diberikan adalah 20 kg, 40 kg, 60 kg, dan 80 kg
dengan variasi waktu rendaman adalah 3 hari, 6
hari, 9 hari, 12 hari, 15 hari, 18 hari, 21 hari, 24
hari, 27 hari dan 30 hari.
2. METODE
Bahan yang digunakan pada penelitian
ini adalah jenis Baja ASTM A53 Grade A dengan
Komposisi Kimia sebagai berikut:
Kadar C: 0.25%, Mn : 0.95%, P : 0.05%, S :
0.045%, Cu : 0.40%, Ni : 0.40 %, dan Cr :
0.40%.

Gambar 2. Material Uji Baja Pipa ASTM A53


Grade A.
Bentuk dari spesimen menggunakan standar
ASTM G38-01 Standard Practice of Making and
Using C-Ring Stress-Corrosion Test Specimens

pengencangan C-ring oleh baut sebelum


perendaman. Setelah mengalami pembebanan,
spesimen uji kemudian direndam kedalam air
laut selama 3 hari, 6 hari, 9 hari, 12 hari, 15 hari,
18 hari, 21 hari, 24 hari, 27 hari dan 30 hari.
Setelah mengalami perendaman kemudian
dilakukan pengukuran ulang terhadap defleksi
yang terjadi. Pengukuran defleksi setelah
perendaman dilakukan dengan mengukur jarak
celah pada spesimen uji sebelum dan setelah
melepaskan baut pengencang (jarak celah x).

Gambar 4 . Jarak x sebagai besar defleksi yang


diukur

Gambar 5 Proses perendaman benda uji kedalam


air laut.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 3. Bentuk Spesimen Uji.
Pengujian
dilakukan
dengan
memberikan variasi pembebanan pada spesimen
uji yaitu 20 kg, 40 kg, 60 kg, dan 80

kg
Besar defleksi yang terjadi sebelum
rendaman diukur dari celah C-ring yang
mengecil setelah diberikan pembebanan (lihat
gambar... tanda X). Besarnya nilai X diukur
sebagai
defleksi
yang
terjadi
akibat

Hasil pengujian yang dilakukan dengan


menggunakan material baja ASTM A53 grade A
dengan memberikan variasi beban dan lama
rendaman terlihat pada tabel 1. Dari tabel 1
dibawah diperoleh hasil pengukuran jarak celah
(defleksi) baik sebelum dan setelah perendaman
dengan berbagai variasi pembebanan dan lama
rendaman air laut. Besar defleksi maksimum
yang diperoleh sebelum perendaman adalah pada
spesimen uji untuk perendaman 9 hari dengan
besar beban yang diberikan 80 kg yaitu sebesar
7.8 mm. sedangkan defleksi minimumnya adalah

1.6 mm pada spesimen uji untuk perendaman 3


hari dengan pembebanan 20 kg.
Sedangkan besar defleksi maksimum
setelah perendaman yang diperoleh dari hasil
pengujian adalah 3 mm yaitu pada beban 60 kg
dengan lama perendaman 21 hari dan pada beban
40 kg dengan lama perendaman 28 hari.
Sementara untuk defleksi minimum setelah
perendaman diperoleh sebesar 0.3 mm pada
spesimen 80 kg dan lama perendaman 15 hari.
Tabel 1. Hasil Pengukuran Perubahan Defleksi
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Hari

15

21

27

Nilai rata-rata defleksi untuk beban


maksimum (80 kg) sebelum perendaman
diperoleh sebesar 7.04 mm dan nilai rata-rata
defleksi untuk beban minimum (20 kg) sebelum
perendaman diperoleh sebesar 2.3 mm. Nilai
rata-rata defleksi untuk beban maksimum (80kg)
setelah perendaman diperoleh sebesar 2.2 mm
dan nilai rata-rata defleksi
untuk beban
minimum (20kg) setelah perendaman diperoleh
sebesar 1.98 mm.

Beban
Kg

X1
mm

X2
Mm

X1-X2
mm

Y1
mm

Y2
Mm

Y1-Y2
mm

20
40
60
80
20
40
60
80
20
40
60
80
20
40
60
80
20
40
60
80

31.4
32
32
32
31.6
31.4
31.8
31.4
31.8
31.9
32
31.7
31.6
31.8
31.4
32.2
32
32.1
31.8
32

29.8
28.3
26.6
25.3
29.6
27.7
26.4
23.6
29
27.8
26.2
25.5
29.6
28.4
26.1
25.1
28.9
28.1
26.6
24.6

1.6
3.7
5.4
6.7
2
3.7
5.4
7.8
2.8
4.1
5.8
6.2
2
3.4
5.3
7.1
3.1
4
5.2
7.4

29.8
28.3
26.6
25.3
29.6
27.7
26.4
23.6
29
27.8
26.2
25.5
29.6
28.4
26.1
25.1
28.9
28.1
26.6
24.6

31
30.7
28.3
27.8
31.3
30.4
28.9
26.3
31.6
30.5
28.8
25.8
31.3
30
29.1
27.8
31.6
31.1
29.4
27.4

1.2
2.4
1.7
2.5
1.7
2.7
2.5
2.7
2.6
2.7
2.6
0.3
1.7
1.6
3
2.7
2.7
3
2.8
2.8

D
mm
0.4
1.3
3.7
4.2
0.3
1
2.9
5.1
0.2
1.4
3.2
5.9
0.3
1.8
2.3
4.4
0.4
1
2.4
4.6

Keterangan:
X1: Jarak celah sebelum pembebanan dan sebelum perendaman.
X2: Jarak celah setelah pembebanan dan sebelum perendaman.
Y1: Jarak celah sebelum melepaskan baut pengencang setelah perendaman.
Y2: Jarak celah setelah melepaskan baut pengencang setelah perendaman.
D : Perubahan defleksi (mm)
Pada tabel diatas juga terlihat bahwa
besarnya defleksi yang terjadi setelah
dilakukan perendaman air laut dengan variasi
lama rendaman menunjukkan kecenderungan
yang konstan seperti terlihat pada gambar 6.
Adanya proses korosi yang terjadi pada
spesimen uji serta pemberian beban dengan
waktu yang lama membuat spesimen uji
terdeformasi secara permanen sehingga tidak
dapat kembali ke ukuran jarak celah (defleksi)
sebelum pembebanan dan perendaman.
Gambar 6. Grafik hubungan beban dan
defleksi spesimen uji setelah perendaman .

Dari hasil pengujian yang dilakukan


terlihat adanya kecenderungan peningkatan
perubahan defleksi yang terjadi dengan
naiknya pembebanan yang diberikan untuk
setiap lama perendaman hal ini terlihat pada
gambar 7.
Besar perubahan defleksi
maksimum terjadi pada spesimen uji
perendaman 15 hari dengan beban 80 kg yaitu
sebesar 5.9 mm.

Pada gambar 8 memperlihatkan besar


perubahan defleksi yang terjadi terhadap
lama rendaman air laut. Dari gambar terlihat
bahwa semakin kecil beban yang diberikan
maka besar besar perubahan defleksi yang
terjadi tidak terlalu besar untuk setiap waktu
rendaman sebaliknya dengan semakin besar
beban yang diberikan maka semakin besar
pula perubahan defleksi yang terjadi untuk
setiap waktu rendaman.
Dari penelitian yang dilakukan
terlihat bahwa dampak waktu rendaman air
laut terhadap besar perubahan defleksi tidak
terlalu besar tetapi lebih dipengaruhi oleh
besarnya beban yang diberikan akan tetapi
dari tabel 1 juga diperoleh bahwa besar
defleksi setelah direndam cenderung
berkurang dibandingkan dengan besar
defleksi sebelum direndam sehingga dapat
disimpulkan
bahwa
ada
pengaruh
perendaman terhadap defleksi yang terjadi
pada material uji baja ASTM A53 grade A.
Penelitian ini masih berpotensi untuk
dilanjutkan untuk mencari lebih jauh dan
lebih spesifik pengaruh lingkungan air laut
terhadap perubahan defleksi dari material uji
tanpa memperhitungkan defleksi akibat
pembebanan.
4.
KESIMPULAN

Gambar 7. Grafik hubungan antara


perubahan defleksi terhadap beban sebelum
dan setelah perendaman.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan:


1. Pengukuran defleksi yang dilakukan
sebelum rendaman memperlihatkan nilai
yang
lebih
besar
dibandingkan
pengukuran defleksi setelah proses
perendaman.
2. Besarnya defleksi yang terjadi pada setiap
benda uji lebih dominan dipengaruhi oleh
besar beban yang diberikan.
3. Besar perubahan defleksi maksimum
sebelum
dan setelah
perendaman
diperoleh sebesar 5.9 mm pada kondisi
beban 80 kg dengan waktu rendaman 15
hari.
4. Besar perubahan defleksi minimum
sebelum dan sesudah perendaman
diperoleh sebesar 0.2 mm pada kondisi
pembebanan 20 kg dengan waktu
rendaman 15 dan 18 hari.
Daftar pustaka:

Gambar 8. Grafik Hubungan antara


perubahan defleksi terhadap lama rendaman
pada pembebanan yang berbeda-beda.

[1] Suhardi, Analisis Perubahan

Laju
Korosi Pada Baja ASTM A53 Akibat
Tegangan Dalam Dengan Metode C-

RING, 2010 Skripsi Teknik Mesin


UNHAS..

[2] Annual Book of ASTM Standards, A53,


Standard Specification for pipe, Steel,
Black and Hot-Dipped, Zinc-Coated,
welded and Seamless, American Society
for Testing and Material, Philadelphia,
PA (1990).
[3] ASTM G38-01 (2007) Standard Practice
for Making and Using C-ring Stress
Corrosion Test Specimens
[4] Robert L Mott, P.E, 2004, Elemenelemen Mesin dalam Perancanga
Mekanis, Penerbit Andi, Yogyakarta.
[5] Fontana, M.G., 1986, Corrosion
Engineering, 3rd edition, McGraw-Hill
Book Company, New York.